Anda di halaman 1dari 18

Psikiatri Budaya

Oleh: Agus Eka Swanjaya NIM. 05.06.005

Fakultas Kedokteran

Universitas Islam Al- Azhar


Mataram
2008

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena berkat karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makala dengan tema Psikiatri Budaya. Makalah ini disusun oleh penulis sebagai tugas mata kuliah Ilmu Kesehatan Jiwa II pada semester VII disamping untuk menambah wawasan mahasiswa tentang Psikiatri Budaya itu sendiri. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan makalah ini. Penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karenanya penulis mengharapkan kritik yang sifatnya membangun. Akhir kata Penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi yang membaca atau yang membutuhkannya. Mataram, November 2008

Agus Eka Swanjaya

Daftar Isi
Halaman Judul i Kata Pengantar ii Daftar Isi iii BAB I Pendahuluan 1 BAB II Isi 3 2. 1. Definisi 3 2.2. Analisis Psikiatri 5 2.3. Aspek Budaya dari penyakit 6 2.4. Perubahan Kultural 6 ...................................................................... ...................................................................... ...................................................................... ...................................................................... ...................................................................... ...................................................................... ...................................................................... ...................................................................... ......................................................................

2.5. Sindroma Berikatan dengan Budaya.................................................................. 7 2.5.1. Kesurupan 9 2.5.2. Nevios 10 BAB III Penutup 13 ...................................................................... ...................................................................... ......................................................................

BA B I PEN D A HU LU A N Kesehatan jiwa saat ini telah menjadi masalah kesehatan global bagi setiap negara, dimana proses globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi informasi memberi dampak terhadap nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat. Sementara tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama untuk menyesuaikan dengan berbagai perubahan tersebut. Sayangnya, banyak orang yang tidak menyadari jika mereka mungkin mengalami masalah kesehatan jiwa. A da kurang lebih 6.5 milyar manus ia yang hidup di muka bumi ini. D alam jumlah ters ebut, s aat ini lebih banyak orang yang hidup di luar negaranya s endiri. M enurut s tatis tic, 3% dari populas i global adalah imigran internas ional. J ika kita mengamat i dunia s ekarang, tidak ada suatu budaya, ras , atau agama yang 100% hanya terdapat dalam s atu negara s aja. S ecara mengejutkan, kita mungkin s aja menemukan adanya perbedaan bahas a, budaya, hubungan keluarga dan nilai- nilai, dan s ekaligus juga pandangan dari penanganan kes ehatan, s endiri. Budaya dapat mempengaruhi banyak as pek dari kes ehatan jiw a itu s endiri, termas uk bagaimana cara individu cara ters ebut mereka menyampa ikan dan menunjukkan gejala- gejalanya; kemanapun kita pergi, termas uk dalam negara kita

mengatas i kes ulitannya, dukungan keluarga dan mas yarakat, s erta kemauan mereka untuk mencari pengobatan. S ebaliknya, kebudayaan dari dokter atau profes ional lainnya s erta s is tem pelayanan kes ehatan akan mempengaruhi diagnos is , penanganan dan pemberian pelayanan kepada klien. M emang pengaruh s os ial dan budaya bukanlah hanya

s ebagai satu- s atunya determinan (penentu) pada gangguan jiw a maupun pola-pola yang digunakan oleh pelayanan kes ehatan itu s endiri, namun hal itu mempunyai peran yang kuat.

BA B II I SI 2.1. D efin is i

Psikiatri adalah suatu cabang ilmu kedokteran yang mempelajari aspek kesehatan jiwa serta pengaruhnya timbal balik terdapat fungsi-fungsi fisiologis organo-biologis tubuh manusia. Sebagai suatu cabang ilmu kedokteran, ilmu psikiatri tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berkolaborasi dan segala aspeknya selalu berkaitan dengan cabang-cabang ilmu kedokteran lainnya, misalnya dengan cabang ilmu saraf (Neurologi) dan ilmu penyakit dalam.(Wikipedia, 2008 ) Ilmu psikiatri dibangun atas 4 pilar dasar, yaitu ( Wikipedia, 2008 ): 1. Dimensi Organo-biologis yaitu aspek pengetahuan tentang organ-organ tubuh serta fungsi fisiologis tubuh manusia khususnya yang berkaitan langsung dengan aspek kesehatan jiwa (seperti Sistem Susunan Saraf Pusat) 2. Dimensi Psiko-edukatif yaitu aspek pengetahuan tentang perkembangan psikologis manusia serta pengaruh pendidikan-pengajaran terhadap seorang manusia sejak lahir hingga lanjut usia. 3. Dimensi Sosial-Lingkungan yaitu aspek pengetahuan tentang pengaruh kondisi sosial-budaya serta kondisi lingkungan kehidupan terhadap derajat kesehatan jiwa manusia. 4. Dimensi Spiritual-Religius yaitu aspek pengetahuan tentang pengaruh taraf penghayatan dan pengamalan nilai-nilai spiritual-religius terhadap derajat kesehatan jiwa manusia

Budaya dapat diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. (Wikipedia, 2008 ). P s ikiatri Lintas Budaya adalah ilmu mengenai konteks budaya dan konteks etnis /kes ukuan dari pelayanan gangguan mental dan ps ikiatrik. Is tilah ini muncul s ebagai bidang yang berikatan s ecara logis dari beberapa rangkaian kerja ps ikiatri, termas uk diantaranya : s urvey terhadap prevalens i (tingkat rata-rata) dan bentuk gangguan dalam berbagai kebudayaan atau negara yang berbeda; s tudi tentang populas i migran dan perbedaan budaya dalam suatu negara; dan analis is ps ikiatrik itu s endiri juga merupakan produk budaya. ( A nonim, 2008 ) P erpindahan penduduk, adanya urbanis as i menyebabkan adanya pros es akulturas i. A kulturas i merupakan modifikas i budaya pada s uatu kelompok atau individu s ebagai akibat dari kontak dengan budaya yang berbeda atau dapat pula diartikan s ebagai s uatu pros es dimana s ebuah budaya dalam mas yarakat tertentu berangs ur-angs ur mengala mi D ictionary) Indones ia s ebagai salah satu contoh merupakan bangs a yang multi cultural yaitu dimana terpelihar anya tradis i dari kebudayaan yang berbeda- beda atau identitas budaya dalam ragam mas yarakat yang bers atu s ebagai suatu negara atau bangs a. perubahan s eperti halnya mas a pertumbuhan pada manus ia dari mas a kanak- kanak s ampai dew as a. (A merican H eritage

2.2.

A n alis is Ps ik iatri

Konsep kepribadian-kebudayaan (personality culture) timbul sebagai dampak interaksi antara psikologi dan antropologi. Tiga kelompok besar masalah hubungan antara culture and personality seperti human nature, typical personality, dan individual personality berkaitan erat dengan munculnya hubungan antara perubahan kebudayaan dengan perubahan kepribadian dan hubungan kebudayaan dengan kepribadian abnormal. Selama ini banyak teori yang diambil dari Perspektif Barat. Melalui pengkajian secara kritis, analitis, dan berkelanjutan tentang cross culture studies dapat dimungkinkan diperoleh sebuah konsep, model, pendekatan, paradigma dan teori psikologi berbasis budaya Indonesia. Niels Mulder (2001) telah memulai kajian tentang variasi budaya dalam kepribadian suatu masyarakat seperti benturan antarkultur, antarkebudayaan, dan antarnilai pada masyarakat berbasis budaya timur khususnya Asia Tenggara, Indonesia, Thailand, Philipina dan Jawa. Hal ini sangat mungkin dapat dikembangkan lebih lanjut mengingat pandangan hidup dan kebudayaan bukan merupakan hal yang statis melainkan kebudayaan dapat dipandang sebagai petunjuk mental dalam kehidupan maupun sesuatu yang baru. (Wurianto, 2007) Erik Eriks on terkenal atas biografi ps ikokulturalny a S ociety tahun 1950, dimana ia berus aha dengan timbul tipe tentang

M ohandas G andhi dan M artin Luther untuk bukunya Childhood and mengintegras ikan pengaruh dalam kultural. perkembangan pandangannya P atterns if ps ikos eks ual tentang culture individu yang

G eorge D evereux mempelaj ari Indian P lain A merika dan memberikan mas alah menghadapi dapat pas ien dari latar belakang etnik yang berbeda.Ruth Benedict dalam menulis kan bahw a kepribadian

mencerm inkan suatu konfiguras i kultur. Bronis law Malinow s ki dan M argaret Mead meneli ti kons ep bahw a kepribadian dew as a dan fungs i mental s angat ditentukan s elama mas a anak- anak.( K aplan dan S adock, 1997 ). 2.3. A sp ek Bu d aya d ari Pen yak it

P s ikiatri budaya merupakan cabang khus us dari etnomedis in yaitu pandangan mas yarakat tradis ional terhadap mas alah ps ikiatri dan cara mereka menanganiny a( A nonim,2008 ) D alam penanganan kas us ps ikiatri harus diperhatikan kelas dan identit as etnik karena mempengaruh i pengalaman ps ikiatrik. P as ien harus dimengerti dalam hal kultur atau kelompok etnik s pes ifik dimana pas ien berada.( K aplan dan S adock, 1997 ) D alam s etting penanganan kes ehatan jiw a, budaya akan

mempengaruh i bagaimana orang ( A nonim, 2008 ): 1. M enyebutkan dan mengkomunikas ik an mas alahnya. 2. M enjelas kan penyebab mas alahnya 3. M empers eps ikan pelayanan kes ehatan jiw a 4. M enggunakan atau meres pon penanganan kes ehatan jiw a

2.4.

Peru b ah an Ku ltu ral

O rang beres pon terhadap perubahan cultural dengan pindah ke kultur yang berbeda atau tinggal menetap s aat perubahan cultural terjadi di s ekelilingnya. S yok Kultur ditandai dengan kecemas an dan depres i, ras a is olas i, derealis as i, dan depers onalis as i.S yok kultur

dapat diminimal is ir jika orang adalah bagian dari unit keluarga yang utuh dan jika orang adalah bagian dari unit keluarga yang utuh dan jika mereka dipers iapkan untuk menerima kultur yang baru. C ontohnya pengungs i dikelompokkan di lokas i s entral, ketimbang dis ebar luas di kes eluruhan negara. ( K aplan dan S adock, 1997 ) P eneliti an telah menemukan tingginya angka peraw atan di rumah s akit ps ikiatrik di A merika S erikat bagi imigran, khus us nya laki- laki muda, dibandingkan dengan mas yarakat as li. J uga terliha t tingginya ins idens i gejala paranoid di antara kelompok imigran, yang mungkin dihubungkan dengan perbedaan mereka ( w arna kulit, bahas a, kebias aan ) dari mas yarakat yang lebih luas . ( Kaplan dan S adock, 1997 ) 2.5. S in d roma Berik atan d en gan Bud aya

Beberapa gangguan ditemukan hanya pada budaya tertentu atau diantara kelompok tertentu. G angguan ters ebut s ering kali terjadi dengan s edikit peringatan, perjalananny a s ingkat, dan prognos is nya bias anya baik. Dugaan s indroma terkait budaya s ecara pengertiannya adalah s ederhana tetapi s ecara operas ionalnya adalah kompleks . K arena budaya adalah matriks dimana s emua fungs i biologis , ps ikologis , dan s ocial bekerja, maka s emua s indroma s indroma ps ikiatrik, hingga s uatu tingkat tertentu, adalah berikatan dengan budaya.M is alnya Bulimia N ervos a di budaya Barat s erupa dengan K oro di budaya Timur. N amun J ika penyembuh dari Afrika dengan kontak Barat yang terbatas didatangkan ke N egara Barat , mereka akan s ama terkejutny a oleh gejala aneh dari pas ien di negara ini. K emudian s elain itu terdapat pula gejala anoreks ia nervos a yang berhubungan dengan harapan budaya tentang berat badan dan citra tubuh di mas yarakat indus try Barat yang modern. S indroma yang

berikatan dengan budaya s ecara s ingkat ditulis pada tabel berikut ini, (K aplan dan S adock, 1997 )

T ab el 1 . S ind roma Terik at Ku ltu r


Diagnosis
Amuk

Negara atau Budaya


Asia Tenggara, Malaysia

Karakteristik
Amukan mendadak,termasuk membunuh atau bunuh diri;terjadi pada laki-laki;berakhir dalam keadaan lelah dan amnesia

Bouffee delirante

Perancis

Psikosis transien dengan elemen trance atau keadaan mimpi

Brain Fog

Afrika Sub-Sahara

Nyeri kepala, agnosia, kelelahan kronis, gangguan visual, kecemasan;terlihat pada pelajar laki-laki Pesta makan, muntah yang diinduksi sendiri;dapat terjadi bersama depresi, anoreksia nervosa, atau penyalahgunaan zat Temper tantrum, ledakan kekerasan, terengah-engah, stupor, halusinasi, waham. Tidak mampu mencerna dan mengekskresikan makanan yang baru ditelan Nyeri kepala, kecemasan, kemarahan, lari tidak bertujuan

Bulimia Nervosa Kolera

Amerika Utara

India Mayan (Guatemala ) Meksiko dan amerika Kuba Miskito di Nikaragua India Mohave Amerika Spanyol, Jerman

Empako

Grisi Siknis

Hi-Wa itck

Anoreksia nervosa, insomnia, depresi, bunuh diri yang disertai perpisahan yang tidak diharapkan dari orang yang dicintai. Gangguan paranoid yang terjadi pada pertengahan kehidupan;berbeda dari skizofrenia tetapi mungkin memiliki elemen skizofrenia maupun paranoia Takut bahwa penisnya akan masuk kedalam perut, yang menyebabkan kematian Reaksi kepatuhan otomatis dengan ekopraksia dan ekolalia yang dicetuskan oleh stimulasi minimal yang tiba-tiba; terjadi pada laki-laki; juga dinamakan reaksi mengejutkan ( startle

Parafrenia Involusional Koro

Asia

Latah

Asia Tenggara, malaysia,Bantu di Afrika, Ainu di

Jepang

reaction )

Mal de ojo

Mediterania

Muntah, demam, tidur gelisah; disebabkan oleh mata jahat

Nervios

Costa Rica dan Amerika Latin Eskimo di Greenland Utara Skandinavia

Nyeri kepala, insomnia,anoreksia,ketakutan, kemarahan, diare, putus asa Campuran kecemasan dan depresi, konfusi, depersonalisasi, derealisasi, terjadi terutama pada wanita; berakhir dalam tidur stupor dan amnesia Psikosis disebabkan oleh stress psikososial; onset tiba-tiba dengan prognosis baik, kepribadian pramorbid adalah utuh; dalam DSM-IV dikenal sebagai gangguan skizofreniform Kecemasan parah, gelisah, takut akan ilmu hitam dan mata jahat Depresi pada laki-laki karena ditelantarkan istrinya;resiko bunuh diri yang tinggi Kecemasan, takut akan penolakan, mudah sedih, takut akan kontak mata, ketakutan tentang bau tubuh Ketakutan diubah menjadi kanibal oleh monster supernatural, yaitu windigo.

Piblokto (Histeria Artik) Psikosis Reaktif Susto

Amerika Latin

Tabanka

Trinidad

Taijinkyofusho Windigo

jepang

India Asli Amerika ( Algonkian )

2.5.1.

Kes u ru p an

F enomena kes urupan pernah menggeja la kes eluruh pelos ok negeri. Media memberitakan, selain sensasional dan dramatis, kesurupan yang sebenarnya tak lebih dari gangguan kesehatan mental tersebut sangat lekat dengan budaya kita. Suatu hal yang punya kedekatan emosional dengan publik merupakan daya tarik yang tentunya tak akan dilewatkan media untuk memberitakannya. Tak pelak, dalam waktu singkat, fenomena serupa menggejala di seluruh pelosok negeri. Beberapa anak sekolah atau buruh pabrik, terutama perempuan muda, tiba-tiba mengalami kesurupan masal yang seolah-olah telah terjadi fenomena mistikbudaya yang membuat merinding bulu kuduk. Tak ayal, cara mengatasinya pun lebih
banyak memakai pendekatan budaya-mistik-agama yang dari kacamata ilmiah menimbulkan

kekonyolan masal dan memperparah keadaan. Terjadi proses pembelajaran berupa imitasi yang luas oleh sekelompok masyarakat yang memang rentan dan sebetulnya sudah menggendong potensi kecemasan serta ketidakstabilan emosi.

Satu hal menarik yang dapat dikaji dari beberapa peristiwa kesurupan di Indonesia, kejadian itu merupakan suatu jenis gangguan disosiatif yang bentuknya berupa gangguan trans kesurupan atau suatu fenomena budaya? Karena masyarakat Indonesia tidak sepenuhnya dapat melepaskan diri dari aspek budaya tradisional dan pandangan sosio-kultural yang telah tertanam sejalan dengan perkembangan individu itu menuju suatu pendewasaan. Kejadian kesurupan yang kemudian menginduksi banyak orang tidak dapat dilepaskan dari peranan budaya setempat. Paparan melalui tayangan visual dari ritual keagamaan dan budaya daerah seperti pertunjukan kuda lumping, sintren kesurupan, kuda kepang dan masih banyak lagi di berbagai daerah Indonesia secara tidak langsung kemudian terimitasikan dalam bentuk gangguan disosiatif di masyarakat. Kesurupan merupakan gangguan disosiatif ( konversi ) dengan gejala utama adalah kehilangan ( sebagian atau seluruh ) dari integrasi normal ( dibawah kendali kesadaran) antara ingatan masa lalu, kesadaran identitas dan penginderaan segera dan kontrol terhadap gerakan tubuh. Dalam beberapa kejadian individu berperilaku seakan-akan dikuasai oleh kepribadian lain, kekuatan gaib atau malaikat. Individu dikatakan mengalami gangguan ini bila tidak terdapat penyebab organik dan bukan dari gangguan jiwa tertentu. (Maslim, 2002 ) Hal lain yang menarik, peristiwa kesurupan massal yang terjadi di Indonesia (pada pelajar sekolah dan pekerja pabrik) perlu diicermati terdapat kemungkinan ini sebagai bentuk penumpahan dari beban stressor yang sudah terakumulasi begitu pada dua sosok individu tersebut. Mungkin saja beban tugas, pelajaran atau pekerjaan dan ketatnya aturan baik di sekolah maupun di pabrik sebagai stresor psikososil telah melahirkan suatu fenomena kesurupan.

2.5.2.

Nervios

Penggunaan istilah Puerto Rican Syndrom atau PRS telah memberikan pemahaman lebih lanjut di kalangan peneliti dan profesional kesehatan untuk meneliti tentang sindrom tersebut dimana terdapat perbedaan dalam mengekspresikan stres antara masyarakat Puerto Rico dengan masyarakat Latin lainnya. Pada awalnya istilah Puerto Rican Syndrome ini digunakan dalam konteks untuk memaksa para pemuda Puerto Rico untuk bergabung dalam militer Amerika Serikat, dan untuk selanjutnya disebut dengan nervios. Nervios muncul sebagai respon terhadap peristiwa-peristiwa stres sosial, merupakan pengalaman yang mengekspresikan idiom, melibatkan banyak kelas pekerja dan masyarakat miskin, juga merupakan bentuk pengekspresian masyarakat Puerto Rico yang hidup dalam masa transisi dari masyarakat agraris ke masyarakat industri. Adanya perbedaan pengekspresian dari nervios ini biasanya merupakan respon dari rasa sakit yang signifikan, penderitaan dan kehilangan secara sosial.
Menjadi seseorang yang nervios biasanya dimulai sejak kanakkanak, merupakan hasil dari penderitaan yang mengakibatkan pengalaman traumatik, atau merupakan bawaan atau warisan. Nervios dapat diwariskan dalam sebuah keluarga dan mempengaruhi anak sehingga si anak dapat dengan mudah dipengaruhi oleh stres yang dianggap normal oleh orang lain. Ini terjadinya misalnya ketika seorang ibu sedang hamil menderita tekanan fisik dan mental secara hebat, minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan serta kekurangan gizi. Salah seorang informan mengatakan adanya trauma dalam keluarga, seperti kematian keluarga atau kekasaran/siksaan orang tua dapat menyebabkan seseorang menjadi nervios Orang yang menderita nervios mempunyai lebih banyak masalah hidup dibandingkan orang lain, dan biasanya menemukan kesulitan dalam menyelesaikan masalahnya. Mereka lebih cemas, menggerutu dan menangis lebih sering dibandingkan orang lain, berbicara dan berjalan

dengan satu tangan terayun lebih cepat, sering sekali menggigit kuku tangan dan sering terkena sakit kepala serta sakit perut. Namun di satu sisi mereka juga lebih mudah atau lebih cepat menurunkan amarahnya. Terkait dengan jenis kelamin, perang biasanya pria menderita menderita nervios nervios dikarenakan trauma sementara wanita

dikarenakan masalah keluarga dan ekonomi. Nervous attack ini sangat akut, merupakan dramatik episode yang muncul sebagai hasil dari kejadian-kejadian pemicu utama stres, khususnya dalam lingkungan keluarga. Serangan nervous dapat terjadi pada siapa saja yang mengalami kejadian pemicu stres yang berlebihan. Wanita lebih sering mendapat serangan nervous, sementara pria mengalaminya ketika harus berhadapan dengan situasi yang menakutkan bagi mereka. Serangan muncul langsung sebagai respon dari situasi yang tidak kondusif, dimulai dengan tangisan dan teriakan, orang-orang mulai menjadi histerik. Penderita dapat melemparkan barang-barang yang ada atau menyerang orang lain dan terlihat lepas kontrol baik secara sikap dan aksi. Selama proses serangan ini, penderita dapat menjatuhkan diri mereka dan berbaring seolah-olah mereka telah mati atau menggucangkan tubuh mereka seolah-olah mereka menggigil. Setelah proses serangan nervous berhenti, penderita biasanya tidak begitu ingat apa saja yang telah mereka lakukan selama serangan. Bahkan dalam beberapa kasus penderita mempunyai kecenderungan untuk melakukan aksi bunuh diri selama serangan terjadi. ( Guarnaccia, 2008 )

BAB III PENUTUP Psikiatri budaya merupakan cabang dari ilmu kedokteran dimana tidak berdiri sendiri dan salah satunya berkaitan erat dengan budaya dimana dimensi budaya merupakan salah satu dari 4 pilar atau pondasi dasar dari ilmu psikiatri yang mempengaruhi kondisi kesehatan jiwa manusia. Respon individu terhadap perubahan budaya berbeda satu sama lainnya. Syok kultur akan terjadi pada individu yang tidak siap dan tidak mampu beradaptasi terhadap adanya perubahan budaya. Gangguan jiwa pada dasarnya disebabkan oleh 3 faktor yaitu biologis, psychoeducational, dan sosial-budaya. Beberapa gangguan kesehatan jiwa hanya ditemukan pada budaya tertentu atau kelompok tertentu misalnya saja pada imigran atau populasi terlantar. Gangguan mental ini dapat diatasi dengan memperhatikan dan memahami secara cermat identitas etnik spesifik dan budaya dimana pasien berada, sebagai seorang psikiater harus mampu mengatasi rintangan bahasa, perbedaan budaya, dan pandangan masyarakat setempat tentang sakit jiwa. Dengan kata lain gangguan kesehatan jiwa dapat diatasi melalui pendekatan terhadap budaya dan kepercayaan.

DAFTAR PUSTAKA

Kaplan dan Sadock. 1997. Sinopsis Psikiatri Edisi 7. Binarupa Aksara. Jakarta. Maslim, Rusdi Dr. 2002. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa . Jakarta. Anonim. 2008. Budaya . Available from :

http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya. (diakses pada 29 November 2008) Anonim. 2008. Hari Kesehatan Sedunia .Available from :

http://rsjlawang.com/artikel_080510a.html 2008).

(diakses pada 28 November

Anonim. 2008. Pandangan Ilmu Sosial dan Budaya Lainnya tentang kesehatan. Available from : http://pustaka.ut.ac.id/puslata/online.php? menu=bmpshort_detail2&ID=406. (diakses pada 28 November 2008) Anonim. 2008. Psikiatri . Available from : http://id.wikipedia.org/wiki/Psikiatri. (diakses pada 28 November 2008 ). Guarnaccia, Peter J et al. 2008. Puerto Rican Nosology Nevios AnthPsi . Available from : http://itha.wordpress.com/2008/01/06/perto-rican-nosologynervios-anthpsi/ . (diakses tanggal 29 November 2008) Isa. 2007. Trans Kesurupan Disosiatif. Suatu Fenomena Budaya atau gangguan from : http://isa-

Available

multazam.blogspot.com/2007/08/trans-kesurupan-suatu-fenomenabudaya.html . ( diakses pada 30 November 2008 ).

Wurianto, DR.Arif Budi. Memahami Psikologi Masyarakat Indonesia melalui Pengkajian Folklor Nusantara sebagai Dasar Pemahaman Psikologi Berbasis Budaya Indonesia. Available from : http://elka.umm.ac.id/artikel2.htm. ( diakses pada 28 November 2008 ).