Anda di halaman 1dari 14

I-1 BAB I Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang Pada tahun 1811 Rudolf Diesel mulai mengembangkan sebuah mesin yang kemudian terkenal dengan nama mesin diesel, bahan bakarnya ialah minyak nabati. Pada tahun 1900 dia memamerkan mesinnya yang menggunakan minyak kacang tanah 100% sebagai bahan bakarnya di world exhibition di Paris. Pada tahun 1912 Diesel menyatakan, bahwa temuannya itu tampaknya tidak penting, tetapi di hari depan penggunaan bahan bakar hayati akan menjadi sama pentingnya seperti Bahan Bakar Minyak (BBM). Ironisnya, setelah meninggalnya Diesel pada tahun 1913 mesin dieselnya diubah menjadi sebuah mesin yang menggunakan BBM. Kini tampaklah kebenaran pernyataan Diesel. Dengan makin menipisnya cadangan BBM di dunia dan konflik yang berkepanjangan di wilayah produsen utama BBM pada satu pihak dan makin melambungnya kebutuhan minyak dunia pada pihak lain, menyebabkan melonjaknya harga minyak. Era minyak murah telah lampau, kini bangkitlah kembali minat biodiesel untuk penggunaan biodiesel tidak perlu dilakukan modifikasi pada mesin diesel yang ada. Rudolf Diesel ternyata memang seorang visioner (http://en.wikipedia.org/wiki/Biodiesel). Gagasan awal dari perkembangan biodiesel adalah dari suatu kenyataan yang terjadi di Amerika pada pertengahan tahun 80-an ketika petani kedelai kebingungan memasarkan kelebihan produk kedelainnya serta anjloknya harga di pasar. Dengan bantuan pengetahuan yang berkembang saat itu serta dukungan pemerintah setempat, mereka/petani mampu membuat bahan bakar sendiri dari kandungan minyak kedelai menjadi bahan bakar diesel yang lebih dikenal dengan biodiesel. Produk biodiesel dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk alat-alat pertanian dan transportasi mereka. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, para ahli telah menyimpulkan bahwa bahan bakar biodiesel memiliki sifat fisikaa dan kimia yang hampir sama dengan bahan bakar diesel
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Minyak Jelantah (Waste Cooking Oil) Dengan Proses Transesterifikasi Dua Tahap

I-2 BAB I Pendahuluan konvensional dan juga memiliki nilai energi yang hampir setara tanpa melakukan modifikasi pada mesin diesel. Pengunaan biodiesel di Eropa dilakukan dengan mencampur bahan bakar biodiesel dengan diesel konvensional dengan perbandingan tertentu yang lebih dikarenakan menjaga faktor teknis pada mesin terhadap produk baru serta menjaga kualitas bilangan setana biodiesel yang harus sama atau lebih besar 40. Keunggulan lain dari bahan bakar ini adalah dalam melakukan kendali kontrol polusi, dimana biodisel lebih mudah dari pada bahan bakar diesel fosil karena tidak mengandung sulfur bebas dan memiliki gas buangan dengan kadar pengotor yang rendah dan dapat didegredasi. Di sisi lain, secara ekonomi menguntungkan bagi negara barat dan Eropa karena sumbernya tidak perlu di impor seperti bahan bakar konvensional. Sumber minyak nabati lainnya yang diolah menjadi biodiesel yaitu dari rapeseed (canola), bunga matahari dan safflower. Sementara itu beberapa negara sudah memproduksi biodiesel secara pabrik, seperti ditulis pada Pollution Control Drives New Interest In Biodisel, Livorno Italia telah dibangun pabrik dengan kapasitas 60.000 metrik ton per tahun akhir tahun 1992 dan di Kansas city pabrik ester oil (biodiesel) memproduksi 2,1 juta galon per tahun dan juga dibangun di St.Louis. Kementrian Jerman awal tahun 1992 mengeluarkan dana sebesar 5,3 juta DM untuk peneliti rapeseed biodiesel di Bonn dan menyimpulkan bahwa rapeseed biodisel dapat melayani pasokkan cadangan bahan bakar diesel (Haryanto, Bode, 2002). Menipisnya cadangan minyak bumi serta pencemaran lingkungan merupakan isu global yang meresahkan manusia dalam kurun waktu beberapa dekade terakhir, hal ini berakibat naiknya harga minyak dunia yang memberikan dampak yang besar terhadap perekonomian dunia saat ini tak terkecuali negara berkembang seperti Indonesia. Kenaikan harga BBM secara langsung berakibat pada naiknya biaya transportasi, biaya produksi industri dan pembangkitan tenaga listrik. Pertambahan jumlah penduduk yang disertai dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat berdampak pada makin meningkatnya kebutuhan
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Minyak Jelantah (Waste Cooking Oil) Dengan Proses Transesterifikasi Dua Tahap

I-3 BAB I Pendahuluan akan sarana transportasi dan aktivitas industri. Hal ini tentu saja menyebabkan kebutuhan akan bahan bakar cair juga akan semakin meningkat. Pada tahun 2007, menteri Energi Pada tahun 2007, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan persediaan minyak bumi Indonesia bisa bertahan 11 tahun, gas bumi 30 tahun, dan batu bara 50 tahun lagi. Artinya perlu ada sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar tersebut atau paling tidak mengantisipasi masa kehabisannya. Minyak jelantah (waste cooking oil) banyak dihasilkan dari restoran siap saji, salah satu restoran siap saji yang terkenal di Indonesia adalah KFC (Kentucky Fried Chiken). Dalam satu hari, dapat menghasilkan minyak goreng bekas sebanyak 33.750 liter. Apabila hal ini tidak ditangani atau tidak dicarikan upaya penanggulangannya, maka minyak goreng bekas akan menjadi permasalahan yang serius, akan mengakibatkan keracunan dalam tubuh dan berbagai macam penyakit, misalnya diarhea, pengendapan lemak dalam pembuluh darah, kanker dan menurunkan nilai cerna lemak (Ketaren, 1986). Minyak solar sebagai salah satu komponen BBM terbesar mengalami kecendrungan yang sama. Konsumsi solar terus meningkat dengan laju 5% per tahun. Di sisi lain, produksi dalam negeri hanya dapat memenuhi 75% dari kebutuhan tersebut atau sekitar 18,75 juta kiloliter. Defisit tersebut diperkirakan akan terus meningkat sama seperti defisit yang dialami total minyak mentah Indonesia. Sesuai dengan sasaran bauran energi yang menetapkan biofuel mempunyai pangsa sebesar 5%, maka kebutuhan biodiesel per tahun adalah sekitar 1,3 juta kiloliter. Untuk memproduksi biodiesel sejumlah tersebut, diperlukan pabrik biodiesel sebanyak 11 37 unit, dengan kapasitas antara 30 100 ribu ton per tahun (http://www.ipard.com/art_perkebun/May24-06_wrs.asp) . Produksi biodiesel tercatat di tahun 2008 mencapai 1,8 juta Kl, pada 2009 meningkat menjadi 2,9 juta Kl dan pada tahun ini kapasitas produksi biodiesel nasional telah mencapai 3,9 juta Kl, diperkirakan kapasitas produksi di 2011 mencapai 4,4 juta Kl. Bila dibandingkan dengan kebutuhan biodiesel nasional, berada
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Minyak Jelantah (Waste Cooking Oil) Dengan Proses Transesterifikasi Dua Tahap

I-4 BAB I Pendahuluan dibawah kapasitas produksi industri biodiesel nasional, misalkan di tahun 2008 tercatat kebutuhan mencapai 25.157 Kl, lantas di 2009 mencapai 1 juta Kl dan di 2010 mencapai 1,2 juta Kl dan di 2011 diperkirakan permintaan bias mencapai 1,7 juta Kl. Dengan mengambil asumsi data dari jumlah rumah makan yang terdapat di daerah surabaya dan gresik, serta data yang menyebutkan bahwa salah satu restoran fast food dari daerah surabaya dan gresik dapat menghasilkan sebanyak 33.000 liter minyak jelantah sehari, dan persen konversi sebesar 96 %. Dengan demikian kami menentukan kapasitas pabrik sebesar 8.000 ton per tahun. Pemilihan lokasi adalah hal yang sangat penting dalam perancangan pabrik, karena hal ini berhubungan langsung dengan nilai ekonomis pabrik yang akan didirikan. Berdasarkan beberapa pertimbangan maka pabrik biodisel ini didirikan di Kawasan Industri Gresik, kabupaten Gresik Pertimbangan-pertimbangan tersebut meliputi dua faktor yaitu, faktor utama dan faktor pendukung. a. Faktor utama Faktor utama dalam pemilihan lokasi pabrik adalah sebagai berikut : 1. Sumber bahan baku Bahan baku pembuatan Biodisel adalah minyak jelantah. Kabupaten Gresik berbatasan dengan kota Surabaya, dimana di Surabaya banyak terdapat restoran fast food yang dapat menghasilkan limbah berupa minyak jelantah dalam jumlah yang cukup besar sehingga kebutuhan akan pasokan bahan baku dapat terpenuhi. 2. Tenaga kerja Kabupaten Gresik merupakan salah satu daerah pusat perindustrian di Jawa Timur, sehingga penyediaan tenaga kerja dapat diperoleh dari daerah di sekitarnya, baik tenaga kasar maupun tenaga terdidik.
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Minyak Jelantah (Waste Cooking Oil) Dengan Proses Transesterifikasi Dua Tahap

I-5 BAB I Pendahuluan 3. Utilitas Fasilitas utilitas yang meliputi penyediaan air, bahan bakar, dan listrik. Kebutuhan listrik dapat memanfaatkan PLN. Sedangkan untuk penyediaan air diambil dari danau. b. Faktor pendukung Faktor pendukung juga perlu mendapatkan perhatian di dalam pemilihan lokasi pabrik karena faktor-faktor yang ada di dalamnya selalu menjadi pertimbangan agar proses produksi dapat berjalan lancar. Faktor pendukung ini meliputi: 1. Harga tanah dan gedung dikaitkan dengan rencana pengembangan di masa yang akan datang 2. Kemungkinan perluasan area pabrik 3. Tersedianya fasilitas servis, misalnya di sekitar lokasi pabrik tersebut atau jarak yang relatif dekat dari bengkel besar dan semacamnya I.2. Dasar Teori Biodiesel merupakan salah satu sumber energi alternatif pengganti bahan bakar mesin diesel yang bersifat renewable, biodegradeble serta mempunyai beberapa keunggulan dari segi lingkungan apabila dibandingkan dengan petroleum diesel. Sebagai bahan bakar alternatif, biodiesel dapat digunakan dalam bentuk murni atau dicampur dengan minyak diesel pada perbandingan tertentu. Biodiesel dapat dibuat dari bermacam sumber, seperti minyak nabati, lemak hewani dan sisa dari minyak atau lemak (misalnya sisa minyak penggorengan). Biodiesel memiliki beberapa kelebihan dibanding bahan bakar diesel petroleum. Kelebihan tersebut antara lain : 1. Merupakan bahan bakar yang tidak beracun dan dapat dibiodegradasi. 2. Mempunyai bilangan setana yang tinggi. 3. Mengurangi emisi karbon monoksida, hidrokarbon dan NOx. 4. Terdapat dalam fase cair (Haryanto, Bode, 2002)
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Minyak Jelantah (Waste Cooking Oil) Dengan Proses Transesterifikasi Dua Tahap

I-6 BAB I Pendahuluan Tabel I.2.1. Perbandingan emisi kendaraan yang menggunakan biodiesel dan petrosolar Kriteria Biodiesel Solar 78 SO2 (ppm) 0 40 CO (ppm) 10 64 NO (ppm) 37 1 NO2 (ppm) 1 5,6 0,25 Total Partikulat (mg/Nm3) 5,01 0,3 Benzen (mg/Nm3) 2,31 0,57 Toluen (mg/Nm3) 1,57 0,73 Xyelen (mg/Nm3) 0,73 0,3 Etilbenzen (mg/Nm3)
(Soerawidjaja, 2001)

Biodiesel dapat digunakan tanpa modifikasi ulang mesin diesel. Karena bahan bakunya berasal dari minyak tumbuhan atau lemak hewan, biodiesel digolongkan sebagai bahan bakar yang dapat diperbarui (Knothe 2005). Pada umumnya biodiesel (methyl ester) diproduksi melalui reaksi transesterifikasi atau alkoholisis. Reaksi transesterifikasi adalah reaksi penempatan suatu alkohol dalam ester dengan gugus alkohol lainnya. Secara umum reaksi transesterifikasi dapat ditulis sebagai berikut :

(Utomo, Johan et al., 2004)

Reaksi transesterifikasi merupakan reaksi kesetimbangan, oleh karena itu adanya katalis dapat mempercepat tercapainya keadaan kesetimbangan dari reaksi. Sedangkan untuk memperoleh kelimpahan yang besar dari senyawa ester produk, salah satu pereaksi yang digunakan harus dalam jumlah berlebih.
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Minyak Jelantah (Waste Cooking Oil) Dengan Proses Transesterifikasi Dua Tahap

I-7 BAB I Pendahuluan Katalis yang biasa digunakan dapat berupa asam kuat ataupun basa kuat. Pada umumnya katalis basa lebih sering digunakan dibandingkan katalis asam, hal ini dikarenakan penggunaan katalis basa menyebabkan reaksi berjalan secara irreversible sehingga akan memberikan kelimpahan yang besar dengan waktu reaksi yang sebentar (30-60 menit). Sedangkan penggunaan katalis asam membutuhkan waktu reaksi yang cenderung lama agar reaksi berlangsung sempurna karena reaksi berlangsung secara reversible. Katalis basa yang biasa digunakan untuk reaksi transesterifikasi adalah NaOH maupun KOH (P.R. Muniyappa, 1996 : 19). Berbagai asam kuat dapat digunakan sebagai katalis dalam reaski pembuatan biodiesel. Rekasi pembuatan ini biasanya yang berjenis esterifikasi. Beberapa contoh katalis asam adalah Asam klorida (HCl) dan asam sulfat (H2SO4) dan asam posphat (H3PO4). Beberapa ion exchange resin yang bertipe asam juga dapat digunakan sebagai katalis padat antara lain Amberlyst. Kalsium karbonat padat dapat juga digunakan dalam proses homogen katalitik. Katalis asam ini akan dinetralkan setelah reaksi berjalan sempurna. Penetralan dapat dilakukan dengan penambahan katalis basa sekaligus mereaksikan sisa trigliserida. Penggunaan katalis asam dalam suatu reaksi transesterifikasi, walaupun membutuhkan waktu reaksi yang lebih lama dibandingkan penggunaan katalis basa, tetapi tidak memerlukan perlakuan awal terlebih dahulu pada sampel minyak agar kandungan FFA-nya kecil. Minyak dengan kandungan FFA sebesar 10%-w dapat langsung digunakan sebagai reaktan karena asam lemak bebas akan mengalami esterifikasi. Hal tersebut menyederhanakan proses pembuatan biodiesel sehingga mengurangi biaya produksi (G.M. Tashtoush, 2004 : 2697). Saat ini juga tengah berkembang penelitian tentang penggunaan enzym lipase sebagai katalis dalam produksi biodiesel. Bahkan di beberapa negara jepang dan Korea sudah sampai pada tahap aplikasi. Beberapa enzym bisa bekerja pada bahan baku trigliserida dan beberapa bekerja pada asam lemak. Jepang memilih mengembangkan katalis enzim karena biaya
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Minyak Jelantah (Waste Cooking Oil) Dengan Proses Transesterifikasi Dua Tahap

I-8 BAB I Pendahuluan untuk energy yang relatif mahal. Akan tetapi penggunaan enzim untuk skala komersial terbatas karena biaya yang tinggi. Reaksi menggunakan enzim berjalan sangat lambat dan biodiselnya kurang dari 99,7%. Jenis alkohol yang selalu dipakai pada proses transesterifikasi adalah methanol dan ethanol. Metanol merupakan jenis alkohol yang paling disukai dalam pembuatan biodiesel karena methanol (CH3OH) mempunyai keuntungan lebih mudah bereaksi atau lebih stabil dibandingkan dengan ethanol (C2H5OH) karena metanol memiliki satu ikatan carbon sedangkan etanol memiliki dua ikatan karbon, sehingga lebih mudah memperoleh pemisahan gliserol dibanding dengan ethanol. Proses transesterifikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor penting antara lain : a. Lama Reaksi Semakin lama waktu reaksi semakin banyak produk yang dihasilkan karena keadaan ini akan memberikan kesempatan terhadap molekul-molekul reaktan untuk bertumbukan satu sama lain. Namun setelah kesetimbangan tercapai tambahan waktu reaksi tidak mempengaruhi reaksi. b. Rasio perbandingan alkohol dengan minyak Rasio molar antara alkohol dengan minyak nabati sangat mempengaruhi dengan metil ester yang dihasilkan. Semakin banyak jumlah alkohol yang dugunakan maka konversi ester yang dihasilkan akan bertambah banyak. Perbandingan molar antara alkohol dan minyak nabati yang biasa digunakan dalam proses industri untuk mendapatkan produksi metil ester yang lebih besar dari 98% berat adalah 6 : 1 (Freedman, B. 1984). c. Jenis katalis Katalis berfungsi untuk memepercepat reaksi dan menurunkan energi aktivasi sehingga reaksi dapat berlangsung pada suhu kamar sedangkan tanpa katalis reaksi dapat berlangsung pada suhu 250 C, katalis yang biasa digunakan dalam reaksi transesterifikasi adalah katalis basa seperti kalium hidroksida (KOH) dan natrium hidroksida (NaOH). Reaksi transesterifikasi dengan katalis basa akan
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Minyak Jelantah (Waste Cooking Oil) Dengan Proses Transesterifikasi Dua Tahap

I-9 BAB I Pendahuluan menghasilkan konversi minyak nabati menjadi metil ester yang optimum (94% - 99%) dengan jumlah katalis 0,5% 1,5% bb minyak nabati. Jumlah katalis KOH yang efektif untuk menghasilkan konversi yang optimum pada reaksi transesterifikasi adalah 1% bb minyak nabati (Darnoko, D., 2000). Tabel I.2.2. Standar mutu Biodiesel BSN (SNI04-7182-2006) No. Parameter Satuan Nilai Metode Massa jenis 850 1. kg/m3 ASTM D 1298 (40C) 890 Viskositas 2. cSt 2,3 6,0 ASTM D 445 (40C) 3. 4. 5. Bilangan cetan Titik nyala Air dan sedimen Bilangan asam C %-vol. min. 51 min. 100 maks. 0,05 maks.0,8 ASTM D 613 ASTM D 93 ASTM D 2709 atau ASTM D 1796 AOCS Cd 3-63 atau ASTM D 664 AOCS Ca 14-56 atau ASTM D 6584 AOCS Ca 14-56 atau ASTM D 6584 Dihitung AOCS Cd 1-25

6.

mg-KOH/g

7.

Gliserol bebas

%-massa

maks. 0,02

8.

Gliserin total Kadar ester alkil Angka iodium

%-massa

maks. 0,24 min. 96,5 maks. 115

9. 10.

%-massa g-I2/100 g

TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Minyak Jelantah (Waste Cooking Oil) Dengan Proses Transesterifikasi Dua Tahap

I-10 BAB I Pendahuluan Minyak jelantah (waste cooking oil) adalah minyak limbah yang bisa berasal dari jenis-jenis minyak goreng seperti halnya minyak jagung, minyak sayur, minyak samin dan sebagainya, minyak ini merupakan minyak bekas pemakaian kebutuhan rumah tangga umumnya, dapat di gunakan kembali untuk keperluaran kuliner akan tetapi bila ditinjau dari komposisi kimianya, minyak jelantah mengandung senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik, yang terjadi selama proses penggorengan. Untuk itu perlu penanganan yang tepat agar limbah minyak jelantah ini dapat bermanfaat dan tidak menimbulkan kerugian dari aspek kesehatan manusia dan lingkungan, kegunaan lain dari minyak jelantah adalah bahan bakar biodisel (http://id.wikipedia.org/wiki/Minyak_jelantah) . Tabel I.2.3. Analisis Laboratorium Sifat - sifat Biodiesel dari Minyak Jelantah (Firdaus, Ihwan Ulul) Sifat fisika Flash point Viskositas (40C) Bilangan cetan Cloud point Sulfur content Calorific value Density (15C) Gliserin bebas Unit C cSt. C Hasil 170 4,9 49 3,3 ASTM Standar (Solar) Min.100 1,9-6,5 Min.40 0.05 max 45.343 0,84 Maks.0,02

% m/m << 0.01 kJ/kg Kg/l Wt.% 38.542 0,93 0,00

I.3. Kegunaan Biodiesel (Methyl ester) sebagai bahan bakar alternatif pada dasarnya mampu menggantikan solar 100 persen tanpa harus memodifikasi mesin diesel. Hal ini karena sifat biodiesel sendiri yang hampir sama dengan solar, baik kekentalan, berat jenis,
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Minyak Jelantah (Waste Cooking Oil) Dengan Proses Transesterifikasi Dua Tahap

I-11 BAB I Pendahuluan bilangan asam, kadar air maupun angka centananya sehingga tidak merusak mesin. I.4. Sifat Fisika Dan Kimia I.4.1. Bahan Baku Utama Minyak goreng bekas - Sifat fisika: Warna minyak gelap, terbentuk busa, bau tengik, serta peningkatan viskositas dan massa jenis minyak. - Sifat kimia: Minyak goreng bekas memiliki kandungan asam lemak bebas yang tinggi akibat proses oksidasi dan hidrolisis komponen minyak goreng. Proses hidrolisis minyak goreng terjadi bila sejumlah air terkandung di dalam bahan pangan. Reaksi hidrolisis dari minyak goreng akan menghasilkan asam lemak bebas dan gliserol. Tingginya asam lemak bebas tersebut akan meningkatkan bilangan asam minyak goreng. I.4.2. Bahan Baku Pembantu Methanol (CH3OH) - Sifat fisika : + Freezing point/melting point : -98C + Boiling point (760 mmHg) : 64,7C + Flash point : 11C + Viscocity (20C) : 0,55 Cp - Sifat kimia : + Rumus molekul : CH3OH + Berat molekul : 32,04 g mol-1 Sodium Hydroxide (NaOH) Sifat fisika : + Bentuk : padatan + Warna : tidak berwarna + Bau : tidak berbau + Density (20C) : 2,13 gr/cm3 Pabrik Biodiesel Dari Minyak Jelantah (Waste Cooking Oil) Dengan Proses Transesterifikasi Dua Tahap

TUGAS AKHIR

I-12 BAB I Pendahuluan + Melting point : 323C + Boiling point : 1390C + Kelarutan (20C) : 1090 g/l Sifat kimia : + Berat molekul : 40 g/mol + Merupakan basa kuat + Sangat larut dalam air Asam Sulfat (H2SO4) Sifat fisika : + Bentuk : Liquid + Boiling Point : 270 C + Specific Gravity : 1,84 (air = 1) + Vapor Density : 3,4 (udara = 1) + Warna : Tidak berwarna Sifat kimia : + Larut dalam air + Berat molekul : 98,08 g/mol + Solubility : Soluble dalam ethil alkohol

I.4.3. Produk I.4.3.1. Produk Utama Biodiesel (Methyl ester) - Sifat fisika : + Flash point : 170 C + Viskositas (40C) : 4,9 cSt + Angka cetan : 49 + Cloud point : 3,3 C + Densitas (15C) : 0,93 kg/l - Sifat kimia : + Kelarutan dalam air : Insoluble I.4.3.2. Produk Samping
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Minyak Jelantah (Waste Cooking Oil) Dengan Proses Transesterifikasi Dua Tahap

I-13 BAB I Pendahuluan Glycerine (C3H8O3) - Sifat fisika : + Boiling point (760mmHg) : 290 C + Densitas : 1,1 g/mL + Fire point : 204C + Flash point : 199 C + Viscosity (20 C) : 1499 mPa s - Sifat kimia : + Larut dalam air ethil alkohol & phenol + Tidak larut dalam senyawa hidrokarbon + Bersifat higroskopis

(Knothe, Gerhard. 2004)

TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Minyak Jelantah (Waste Cooking Oil) Dengan Proses Transesterifikasi Dua Tahap

I-14 BAB I Pendahuluan

Halaman ini sengaja dikosongkan

TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Minyak Jelantah (Waste Cooking Oil) Dengan Proses Transesterifikasi Dua Tahap

Anda mungkin juga menyukai