Anda di halaman 1dari 24

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG
Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Oleh karena itu, setiap pemuda

Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa yang akan datang. The founding leaders Indonesia telah meletakkan dasar-dasar dan tujuan kebangsaan sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945. Kita mendirikan negara Republik Indonesia untuk maksud melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Untuk mencapai cita-cita tersebut, bangsa kita telah pula bersepakat membangun kemerdekaan kebangsaan dalam susunan organisasi Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Negara Hukum yang bersifat demokratis (democratische rechtsstaat) dan sebagai Negara Demokrasi konstitutional (constitutional democracy) berdasarkan Pancasila. Dalam upaya mewujudkan cita-cita itu, tentu banyak permasalahan, tantangan, hambatan, rintangan, dan bahkan ancaman yang harus dihadapi. Masalah-masalah yang harus kita hadapi itu beraneka ragam corak dan dimensinya. Banyak masalah yang timbul sebagai warisan masa lalu, banyak pula masalah-masalah baru yang terjadi sekarang ataupun yang akan datang dari masa depan kita. Dalam makalah Kontribusi Praksis Pelajar (Mahasiswa) dalam Mengembangkan Sikap Positif terhadap NKRI ini, pada dasarnya pengertian praksis adalah proses di mana suatu teori, pelajaran, atau keterampilan yang berlaku atau dipraktekkan, diwujudkan dan disadari. Atau dengan kata lain, kita melakukan suatu tindakan yang kemudian direfleksikan dan setelah itu kita melakukan tindakan tersebut secara berulang-ulang. Praksis juga dapat mengacu pada tindakan menarik, penerapan, latihan, menyadari, atau
1

berlatih ide. Praksis merupakan pengetahuan praktis dan dapat diterapkan pada perbuatan seseorang. Maka dari itu, kita sebagai mahasiswa harus pandai mereformasi keadaan Bangsa dan Negara menjadi lebih baik lagi dengan menentukan sikap dan perbuatan yang arif dan bijaksana dan tepat mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

1.2

RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut, 1. Apakah yang dimaksud dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi? 2. Bagaimana peranan Mahasiswa sebagai Agent of Change? 3. Apa pedoman mahasiswa dalam melakukan kontribusi praksis dalam mengembangkan sikap positif terhadap NKRI? 4. Apa saja kontribusi yang telah diberikan pelajar atau mahasiswa sebagai kontribusi penerus bangsa terhadap NKRI?

1.3

TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas dapat diperoleh tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut, 1. 2. 3. Untuk mengetahui arti dari Tri Dharma Perguruan Tinggi Untuk mengetahui peranan Mahasiswa sebagai Agent of Change Untuk mengetahui pedoman mahasiswa dalam melakukan kontribusi praksis dalam mengembangkan sikap positif terhadap NKRI 4. Untuk mengetahui kontribusi yang telah diberikan pelajar atau mahasiswa sebagai kontribusi penerus bangsa terhadap NKRI.
2

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1

Tri Dharma Perguruan Tinggi


Salah satu visi dan misi perguruan tinggi Indonesia (kedinasan maupun bukan) adalah mewujudkan TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI. Hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat indonesia. Dengan memperhatikan perkembangan dunia yang begitu pesat, maka pembentukan masyarakat Indonesia yang modernmenjadi tujuan utama dari pembangunan nasional Indonesia. Pembangunan masyarakat modern ini akan menyangkut perubahan-perubahan nilai-nilai Pancasila. Manusia modern tersebut mempunyai ciri-ciri antara lain: lebih mudah meneriam dan menyesuaikan diri kepada perubahan-perubahan, lebih ahli dalam menyatakn pendapatnya, memiliki rasa tanggungb jawab, lebih berorientasi kemasa depan, lebih mepunyai kesadaran mengenai waktu,organisasi, teknologi, dan ilmu pengetahuan. Dalam kaitan pembentukan manusia modern itulah kita melihat betapa pentingnya peranan perguruan tinggi sebagai jenjang tertinggi dalam system pendidikan formal dinegara kita yang hendaknya dapat mengahsilkan tenag-tenaga ahli dan dapat pula mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut PP. No. 60 Th. 1999, tugas pokok perguruan tinggi yaitu, 1. Pendidikan 2. Penelitian 3. Pengabdian Pendidikan merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas intelektual kita sebagai insan akademis, pendidikan tidaklah hanya duduk di kelas, absensi, mendengarkan dosen, mengerjakan tugas-pulang, dan begitu seterusnya, kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang, mahasiswa haruslah menjadi (memiliki) pemikiran selaiknya maha-nya Siswa, bukanlah dosen sentris, melainkan kita harus bergerak
4

sendiri menurut peraturan-peraturan yang ada tentunya, pendidikan pulalah yang membentuk karakter kita, kualitas kita kelak berada di masyarakat tidak sedikit yang dipengaruhi oleh cara kita dalam menempuh pendidikan, skill, attitude, character, moral adalah add value dalam menempuh pendidikan, maka bersiaplah wahai Mahasiswa untuk perbenturan kualitas bangsa dunia Penelitian adalah kegiatan telaah akan suatu hal, baik teknologi, sains, art dan bersifat objektif. Dalam melakukan penelitian dibutuhkan keaktifan, skill, dan intelektualitas terutama dalam menyusun teori, hipotesis maupun metode untuk penelitian tersebut. Wawasan, penetahuan, aktualisai dalam bentuk proposal penelitian juga tidak sederhana, butuh waktu dan juga pemikiran yang bagus. Seorang peneliti harus bersikap jujur dan berpegang teguh pada moral dan sikap ketuhanan mereka, jika tidak, hasil penelitian tersebut dapat di jadikan sebagai ajang kontes percobaan yang dapat berakibat buruk untuk umat. Menurut mahatma gandhi ada 7 dosa solial, sains tanpa humanity (penyalahguaan fungsi utama ex atom/nuklir), kaya raya tanpa kerja keras (korupsi), peribadatan tanpa pengorbanan (hanya ritual) perniagaan tanpa moralitas (curang), politik tanpa prinsip (berdasar kepentingan sejati), dan pendidikan tanpa karakter (essensi pendidikan terabaikan). Pengabdian kepada masyarakat merupakan tridarma akhir dari perguruan tinggi, setelah kita belajar dan mengerti essensi pendidikan, kita harus menjadikan ilmu yang kita miliki berguna bagi masyarakat sekitar terutama bangsa dan negara, kita sebagai mahasiswa haru mengembangkan kemampuan kita berdasar karakteristik ilmu pengetahuan yang kita pelajari, kita mesti kembangkan, karena ketika kita berbicara sistem, inovasi dan gagasan-gagasan kreatif akan selalu bisa dimunculkan

2.2 Mahasiswa sebagai Agent of Change


Definisi mahasiswa diambil dari suku kata pembentuknya. Maha dan Siswa, atau pelajar yang paling tinggi levelnya. Sebagai seorang pelajar tertinggi,

tentu mahasiswa sudah terpelajar, sebab mereka tinggal menyempurnakan pembelajarannya hingga menjadi manusia terpelajar yang paripurna. Apakah yang diharapkan dari seorang mahasiswa? Memang harapan ini terbagi pada stratanya, yaitu untuk strata S1, seorang mahasiswa diharapkan mampu memahami suatu konsep, dapat memetakan permasalahan dan memilih solusi terbaik untuk permasalahan tersebut sesuai pemahaman mendalam konsep yang telah dipelajari. Untuk strata S2, mahasiswa diharapkan mampu merumuskan sesuatu yang berguna atau bernilai lebih untuk bidangnya. Sedangkan S3 diharapkan mampu menyumbang ilmu baru bagi bidangnya. Dari semua strata ada hal yang harus terus secara konsisten diperlihatkan oleh mahasiswa, yaitu dalam menghadapi permasalahan, seorang mahasiswa harus melakukan analisa terhadap masalah itu. Mencari bahan pendukung untuk lebih memahami permasalahan tersebut. Kemudian memunculkan alternatif solusi dan memilih satu solusi dengan pertimbangan yang matang. Dan pada akhirnya harus mampu mempresentasikan solusi yang dipilih kepada orang lain untuk mempertanggungjawabkan pemilihan solusi tersebut. Mahasiswa adalah agen of chance dan agen of control, jelasnya, Mahasiswa adalah ujung tombak masyarakat, sekaligus pemuda yang seharusnya memiliki karakter dan idealisme yang bagus, kita belumlah masuk ke dalam lingkaraan birokrasi pemerintah, kita masih bisa mengkritisi pemerintah sekaligus memberi solusi yang menurut kita benar, dan bisa di pertanggung jawabkan. Pemuda dan mahasiswa sama-sama diidentikkan dengan agent of change. Kata-kata perubahan selalu menempel sebagai identitas para mahasiswa yang juga dikenal sebagai kaum intelektualitas muda. Dari mahasiswalah ditumpukan besarnya harapan, harapan untuk perubahan dan pembaharuan dalam berbagai bidang yang ada di negeri ini. Tugasnya melaksanakan dan merealisasikan perubahan positif, sehingga kemajuan di dalam sebuah negeri bisa tercapai dengan membanggakan. Peran sentral perjuanganya sebagai kaum intelektualitas muda memberi secercah sinar harapan untuk bisa memperbaiki dan memberi perubahan-perubahan positif di negeri ini. Tidak dipungkiri, bahwa perubahan memang tidak bisa
6

dipisahkan dan telah menjadi sinkronisasi yang mendarah daging dari tubuh dan jiwa para mahasiswa. Dari mahasiswa dan pemudalah selaku pewaris peradaban munculnya berbagai gerakan-gerakan perubahan positif yang luar biasa dalam lembar sejarah kemajuan sebuah bangsa dan negara. Sejarah telah menorehkan dengan tinta emas, bahwa pemuda khususnya mahasiswa selalu berperan dalam perubahan di negeri kita, berbagai peristiwa besar di dunia selalu identik dengan peran mahasiswa didalamnya. Berawal dari gerakan organisasi mahasiswa Indonesia di tahun 1908, Boedi Oetomo. Gerakan yang telah menetapkan tujuannya yaitu kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa ini telah lahir dan mampu memberikan warna perubahan yang luar biasa positif terhadap perkembangan gerakan kemahasiswaan untuk kemajuan bangsa Indonesia.Gerakan kemahasiswaan lainnya pun terbentuk, Mohammad Hatta mempelopori terbentuknya organisasi kemahasiwaan yang beranggotakan mahasiswa-mahasiswa yang sedang belajar di Belanda yaitu Indische Vereeninging (yang selanjutnya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia). Kelahiran organisasi tersebut membuka lembaran sejarah baru kaum terpelajar dan mahasiswa di garda depan sebuah bangsa dengan misi utamanya menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan. Gerakan mahasiswa tidak berhenti sampai disitu, gerakannya

berkembang semakin subur, angkatan 1928 yang dimotori oleh beberapa tokoh mahasiswa diantaranya Soetomo (Indonesische Studie-club),Soekarno (Algemeene Studie-club), hingga terbentuknya juga Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) yang merupakan prototipe organisasi telah menghimpun seluruh gerakan mahasiswa ditahun 1928, gerakan mahasiswa angkatan 1928 memunculkan sebuah idieologi dan semangat persatuan dan kesatuan diseluruh pelosok Indonesia untuk meneriakkan dengan lantang dan menyimpannya didalam jiwa seluruh komponen bangsa, kami putra putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu yaitu tumpah darah Indonesia, berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa satu yaitu bahasa Indonesia dan hingga kini kita kenal sebagai sumpah pemuda.
7

Gerakan perjuangan mahasiswa sebagai kontrol pemerintahan dan kontrol sosial terus tumbuh dan berkembang, hingga gerakan perjuangan mahasiswa sampai pada terjadinya peristiwa 10 tahun yang lalu yaitu tragedi trisakti mei 1998. Lagi-lagi mahasiswa menjadi garda terdepan didalam perubahan terhadap negeri ini, gerakan perjuangan ini menuntut reformasi perubahan untuk mengganti rezim orde baru yang korupsi, kolusi, dan nepotisme serta tidak berpihak kepada rakyat dan memaksa turun presiden soeharto dari kursi kekuasaannya yang telah digenggamnya selama hampir 32 tahun. Gerakan perjuangan mahasiswa tidak semudah yang kita bayangkan, perubahan ini harus dibayar mahal dengan meninggalnya empat mahasiswa universitas trisakti oleh timah petugas aparat yang tidak mengharapkan perubahan itu terjadi. Sejarah panjang gerakan mahasiswa merupakan salah satu bukti, kontribusinya, eksistensinya, dan peran serta tanggung jawabnya mahasiswa dalam memberikan perubahan dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Peran mahasiswa terhadap bangsa dan negeri ini bukan hanya duduk di depan meja dan dengarkan dosen berbicara, akan tetapi mahasiswa juga mempunyai berbagai perannya dalam melaksanakan perubahan untuk bangsa Indonesia, peran tersebut adalah sebagai generasi penerus yang melanjutkan dan menyampaikan nilainilai kebaikan pada suatu kaum, sebagai generasi pengganti yang menggantikan kaum yang sudah rusak moral dan perilakunya, dan juga sebagai generasi pembaharu yang memperbaiki dan memperbaharui kerusakan dan penyimpangan negatif yang ada pada suatu kaum. Peran ini senantiasa harus terus terjaga dan terpartri di dalam dada mahasiswa Indonesia baik yang ada di dalam negeri maupun mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri. Apabila peran ini bisa dijadikan sebagai pegangan bagi seluruh mahasiswa Indonesia, ruh perubahan itu tetap akan bisa terus bersemayam dalam diri seluruh mahasiswa Indonesia. Gerakan perjuangan Mahasiswa Indonesia tidak boleh berhenti sampai kapanpun, gerakan perjuangan mahasiswa saat ini tidak hanya dengan bergerak bersama-sama untuk berdemonstrasi dan berorasi dijalan-jalan saja, akan tetapi
8

wahai para agent of change, cobalah untuk bertindak bijak dengan intelektualisme, idealisme, dan keberanian mu untuk bisa senantiasa menanamkan ruh perubahan yang ada dalam dirimu untuk bisa memberi kebaikan dan berperan besar serta bertanggung jawab untuk memberikan kemajuan bangsa dan Negara Indonesia, sehingga seperti Hasan al Banna katakan goreskanlah catatan membanggakan bagi umat manusia.

2.3 Pedoman Mahasiswa dalam Melakukan Kontribusi Praksis dalam Mengembangkan Sikap Positif terhadap NKRI
Mahasiswa merupakan generasi kelas menengah yang selalu hadir dalam garda terdepan setiap perubahan penting dan mendasar di negeri ini. Mulai tahun 1908, lahirnya Boedi Oetomo telah melahirkan semangat perjuangan melawan kolonialisme dengan cara yang cerdas. Lahirnya Sumpah Pemuda 1928 juga tidak lepas dari peran penting mahasiswa, berlanjut pada Proklamasi Kemerdekaan 1945. Hingga berturut-turut sejak tahun 1965 dengan aksi Tritura (tiga tuntutan rakyat) yang meruntuhkan kekuasaan Orde Lama. Pada tahun 1997 dengan gerakan reformasinya, mahasiswa telah mendobrak ketidakadilan sistem politik dan ekonomi. Kesemua hal tersebut, membuktikan bahwa terdapat gerakan penting yang sesunggungnya dimotori oleh peran penting mahasiswa. Belajar dari rentetan sejarah ini, tentunya menjadi suatu fakta bahwa peran penting mahasiswa tidak pernah bisa dipandang sebelah mata. Mahasiswa jelas merupakan generasi terdepan yang mendapatkan pendidikan (tingi) secara baik dibandingkan dengan kelompok generasi muda lainnya. Karena mendapat tempaan pendidikan inilah maka kita senyatanya banyak berharap bahwa stok sumberdaya masa depan yang berkarakter baik (good character) dan kuat banyak diisi oleh kaum muda ini. Di samping yang tidak boleh dilupakan adalah juga hight competency harus dikuasai. Masa depan kebangsaan Indonesia sangatlah ditentukan oleh generasi muda terdidik ini, apalagi mereka adalah generasi yang banyak mendapatkan berbagai pengetahuan teoritik maupun praktis di Perguruan Tinggi tentang tema-tema
9

pembangunan bangsa sesuai pada kompetensinya masing-masing. Sebagai generasi masa depan, kiranya penting pula mempersiapkan mereka dengan berbagai pola pendidikan yang mampu membangun karakter bangsa positif di kalangan mahasiswa, apalagi di era globalisasi ini. Di tengah percaturan global, maka fungsi karakter menjadi elan vital (daya hidup) bagi kemampuan kita berkompetesi dengan negara lain. Tanpa karakter, niscaya generasi masa depan bangsa ini tidak hanya akan terpuruk dalam persaingan global, melainkan akan kian melemahkan masa depan kebangsaan Indonesia.

2.4 Kontribusi yang Telah Diberikan Pelajar (Mahasiswa) sebagai Generasi Penerus Bangsa terhadap NKRI
Hal-hal yang menjadikan Mahasiswa partisipan Aktif untuk Bangsa dan Negara antara lain, 1. Pemberantasan Korupsi Untuk memerangi Korupsi bukanlah hal yang mudah seperti yang hanya kita lihat di televisi, dengan gampangnya satu per satu pejabat yang korupsi tertangkap. Dari pengalaman Negara-negara lain yang dinilai sukses memerangi korupsi, segenap elemen Bangsa dan Masyarakat harus dilibatkan dalam upaya memerangi korupsi melalui cara-cara yang simultan. Tapi ada pihak-pihak dari Mahasiswa yang turut campur tangan untuk mengembalikan kesejahteraan seluruh warga Negara. Seperti kita lihat di zaman era SOEHARTO, Alm. Soeharto melakukan korupsi yang bahkan menjadi bahan guncingan hingga 7 Keturunan tak akan habis, yang menjadi pertanyaannya apakah itu benar?. Aktivis Mahasiswa hampir diseluruh pelosok Negeri memaksa Alm. Soeharto untuk Mundur dari kursi Kepresidenan. Disini sudah jelas bahwa Mahasiswa mempunyai Kewajiban dan Tanggung Jawab dalam hal menyeimbangkan kestabilan Negara. Mahasiswa merupakan bagian dari Masyarakat yang merupakan faktor pendorong dan pemberi semangat sekaligus memberikan contoh dalam menerapkan perilaku terpuji. Untuk dapat berperan secara optimal dalam pemberantasan korupsi adalah pembenahan diri dan kampusnya. Dengan
10

kata lain, Mahasiswa harus mendemonstrasikan bahwa diri dan kampusnya harus bersih dan jauh dari perbuatan korupsi. Sebagai pengontrol sosial, Mahasiswa dapat melakukan peran Preventif terhadap korupsi dengan membantu masyarakat dalam mewujudkan ketentuan dan peraturan yang adil dan berpihak pada rakyat banyak, sekaligus mengkritisi peraturan yang tidak adil dan tidak berpihak pada masyarakat. Kontrol terhadap kebijakan pemerintah tersebut perlu dilakukan karena banyak sekali peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang hanya berpihak pada golongan tertentu saja, kontrol tersebut bisa berupa tekanan berupa demonstrasi ataupun dialog dengan pemerintah maupun pihak legislatif. Mahasiswa juga dapat berperan edukatif dengan memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat baik pada saat melakukan kuliah kerja lapangan atau kesempatan yang lain mengenai masalah korupsi dan mendorong masyarakat berani melaporkan adanya korupsi yang ditemuinya pada pihak yang berwenang.

2.

Perubahan Sistem Pemerintahan yang diprakarsai Mahasiswa Dalam Sejarah Orde Baru lahir sebagai sumbangan protes Mahasiswa pada tahun 1966 namun berakhir tumbang oleh Mahasiswa pada tahun 1998. Kekuatan gerakan Mahasiswa Soeharto sebagai presiden yang fobiyah terhadap gerakan (aksi) Mahasiswa. Ketakutan soeharto menghadapi gerakan Mahasiswa ketika gerakan memprotes pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, sehingga Soeharto memerintahkan kepada Pangkopkamtib jenderal Soemitro untuk mengambil langkah keras untuk menghentikan gerakan deminstrasi Mahasiswa. Namun Istri soeharto tidak tinggal diam melihat suaminya yang dirundung demonstrasi sehingga Ibu Tien Soeharto sebagai penggagas proyek TMII mengadakan pertemuan dengan beberapa pengusaha, pemuda, dan Mahasiswa di gedung Kartika Chandra, dijalan Gatot Subroto. Mahasiswa yang hadir pada pertemuan tersebut yaitu Surdjadi dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Akbar Tanjung dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ibu Tien yang memanfaatkan pertemuan tersebut dan mengeluarkan statemen bahwa pembangunan Taman Miniature Indonesia adalah tidak ada yang ditutup-tutupi.
11

Gerakan protes Mahasiswa tahun 1977-1978 bisa disebut sebagai gerakan protes Mahasiswa Indonesia yang paling lengkap mengkritik atas berbagai penyimpangan selama pemerintahan Orde Baru. Gerakan Mahasiswa yang dipelopori oleh organisasi intra kampus yang illegal, Dewan Mahasiswa yang mampu merumuskan berbagai penyimpangan pemerintahan Orde Baru dengan sistematis dan lengkap. Lagi-lagi sejarah memiliki hukum besi sendiri ketika kritik Mahasiswa dibungkam, Oposisi dilarang, memenjarakan lawan-lawan politik menjadi kebiasaan. Kelemahan gerakan Mahasiswa: kekuasaan begitu lama dapat

menyingkirkan kekuatan anak muda (lebih 20 tahun) antara periode 1977-1978 tumbangnya Soeharto. Hal ini dapat terjadi karna kelemahan kelemahan yang ada dalam garakan Mahasiswa itu sendiri. Gerakan 1970-an suatu periode dimana Mahasiswa begitu dekat dengan mitos gerakan moral sehingga tidak lagi memikirkan imbas politik dari tekanan yang mereka lakukan. Hal ini mengidentikasikan pola garakan moral kepada kecedrungan garakan politik disinilah aparat keamanan lihai memanfaatkan internal Mahasiswa. Sumbangan gerakan Mahasiswa 1977-1978 itu perlunya lembaga legislative yang kuat untuk mengontrol eksekutif ; pemisahan ketua MPR dan DPR karena keduanya lembaga yang berbeda (MPR lembaga tertinggi Negara sedangkan DPR lembaga tinggi setara dengan presiden) perlu pelaksanaan pemiliham umum yang benar-benar mencerminkan asas langsung, umum, bebas dan rahasia Sumbangan pemikiran Mahasiswa masih sangat relevan dengan kondisi reformasi saat ini.

3.

Peranan Mahasiswa Dalam Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara Seseorang dapat dikatakan sebagai seorang mahasiswa apabila ia tercatat sebagai mahasiswa secara administrasi sebuah perguruan tinggi yang tentunya mengikuti kegiatan belajar dan mengajar serta kegiatan lainnya. Status ini menjadi mutlak apabila kita berbicara dalam konteks pendidikan formal.
12

Ternyata dbalik statusnya itu, masih banyak sekali peranan seorang yang menyandang status mahasiswa untuk menunjukkan peranannya pada kehidupan masyarakat terlebih lagi pada tingkat kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejarah membuktikan bagaimana kekuatan mahasiswa dalam pergantian rezim yang diktator menuju perubahan kearah lebih baik, sebagai contoh gerakan mahasiswa bersama komponen bangsa lainnya yang ketika itu masyarakat, parpol dan ABRI dalam menyuarakan TriTura (Tiga Tuntutan Rakyat) yang berhasil menggantikan rezim kekuasaan saat itu yang dinilai cenderung terlau berpihak pada haluan kiri. Kemudian bagaimana peristiwa Malari (Petaka Lima Belas Januari) yang dimotori oleh Hariman Siregar yang notabene sebagai mahasiswa kedokteran Universitas Indonesia, dan masih membekas diingatan kita ketika kekuatan mahasiswa untuk menggulingkan rezim orde baru yang otoriter yang telah berkuasa selama 32 tahun. Itu merupakan bukti-bukti nyata dimana mahasiswa menunjukkan peranannya dikancah perpolitikan nasional yang tentunya untuk menciptakan keselarasan menuju masyarakat yang makmur sentosa, meskipun sampai sekarang buah tangan dari perjuangan mahsiswa tersebut masih jauh panggang dari api. Sehinnga dapat disimpulkan bahwa kekuatan mahasiswa dalam kancah perpolitikan nasional menjadi patut diperhitungkan sebagai gerakan yang murni membela kepentingan rakyat semata. Sekarang mari kita tengok aktivitas mahasiswa zaman sekarang, Amien Rais pernah mengutarakan intensitas dan kualitas dari gerakan kemahasiswaan cenderung mengalami penurunan seiring datangya era globalisasi ke negeri kita tercinta ini, kebanyakan dari mahasiswa lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kegiatan yang kurang jelas manfaatnya, forum-forum diskusi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kenegaraan tidak pernah dijejali oleh mahasiswa sebaliknya tempat-tempat hiburan malah disesaki para mahasiswa. Penulis tidak melarang tentunya sebatas itu tidak melanggar syariat, karena sebagai manusia tentunya kita juga butuh yang namanya hiburan. Tetapi hal itu juga harus disaring dengan kekuatan iman kita. Kembali kepada kualitas gerakan kemahsiswaan masa sekarang yang cenderung menurun, maka sadar atupun tidak itu merupakan efek dari masuknya era globalisasi ke indonesia tanpa
13

diharmonisasi dengan manajemen waktu dan diri yang baik. Untuk membangun citra mahasiswa sebagai agen pembaharu ataupun kaum intelektual yang mana dipundaknya ada masa depan bangsa ini yang akan dilabuhkan dimana, maka kita harus memupuk rasa persaudaraan dan senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita. Selain itu tentunya kita perlu membangun konsep intelektual dalam gerakan yang sinergi dan terarah menuju masyarakat yang adil dan makmur. Sehingga kedepan mahasiswa tidak hanya dikenal lewat aktivitasnya ketika menjalani perkuliahan saja,tetapi sebagai elemen bangsa yang peka terhadap kondisi permasalahan disekitarnya .Semoga. 4. Peranan Dan Fungsi Mahasiswa Dalam Era Reformasi Pemikiran kritis, demokratis, dan konstruktif selalu lahir dari pola pikir para mahasiswa. Suara-suara mahasiswa kerap kali merepresentasikan dan mengangkat realita sosial yang terjadi di masyarakat. Sikap idealisme mendorong mahasiswa untuk memperjuangkan sebuah aspirasi pada penguasa, dengan cara mereka sendiri. Dalam hal ini, secara umum mahasiswa menyandang tiga fungsi strategis, yaitu : sebagai penyampai kebenaran (agent of social control) sebagai agen perubahan (agent of change) sebagai generasi penerus masa depan (iron stock) Mahasiswa dituntut untuk berperan lebih, tidak hanya bertanggung jawab sebagai kaum akademis, tetapi diluar itu wajib memikirkan dan mengembang tujuan bangsa. Dalam hal ini keterpaduan nilai-nilai moralitas dan intelektualitas sangat diperlukan demi berjalannya peran mahasiswa dalam dunia kampusnya untuk dapat menciptakan sebuah kondisi kehidupan kampus yang harmonis serta juga kehidupan diluar kampus. Peran dan fungsi mahasiswa dapat ditunjukkan : Secara santun tanpa mengurangi esensi dan agenda yang diperjuangkan. Semangat mengawal dan mengawasi jalannya reformasi, harus tetap tertanam dalam jiwa setiap mahasiswa.

14

Sikap kritis harus tetap ada dalam diri mahasiswa, sebagai agen pengendali untuk mencegah berbagai penyelewengan yang terjadi terhadap perubahan yang telah mereka perjuangkan. Dengan begitu, mahasiswa tetap menebarkan bau harum keadilan sosial dan solidaritas kerakyatan. Menurut Arbi Sanit ada empat faktor pendorong bagi peningkatan peranan mahasiswa dalam kehidupan politik. 1. sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai horison yang luas diantara masyarakat. 2. sebagai kelompok masyarakat yang paling lama menduduki bangku sekolah, sampai di universitas mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik yang terpanjang diantara angkatan muda. 3. kehidupan kampus membentuk gaya hidup yang unik di kalangan mahasiswa. Di Universitas, mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah, suku, bahasa dan agama terjalin dalam kegiatan kampus sehari-hari. 4. mahasiswa sebagai kelompok yang akan memasuki lapisan atas dari susunan kekuasaan, struktur perekonomian dan prestise dalam masyarakat dengan sendirinya merupakan elit di dalam kalangan angkatan muda. Pada saat generasi yang memipin bangsa ini sudah mulai berguguran pada saat itulah kita yang akan melanjutkan tongkat estafet perjuangan bangsa ini. Namun apabila hari ini ternyata kita tidak berusaha mambangun diri kita sendiri apakah mungkin kita akan membangun bangsa ini suatu saat nanti

5. Peranan Mahasiswa mempertahankan Posisi Bangsa dan Negara Dunia memasuki abad ke-21 atau Milenium III ditandai dengan perubahan fundamental pada berbagai sisi kehidupan manusia, terlebih kemajuan di bidang transportasi, telekomunikasi, ilmu pengetahuan dan informasi yang membuat hubungan antar-manusia menjadi lebih dekat.

15

Mahasiswa berperan aktif dalam memperkuat posisi Negara baik dalam Hukum, Ketahanan Negara, Budaya, dan sebagainya. Ketahanan Nasional adalah tergantung dari bagaimana keadaan sebuah sistem militer Negara tersebut. Hal itu juga berlaku di Indonesia ini. Pada pasal 31 UUD 45 berbunyi bahwa pembelaan Negara adalah hak dan kewajiban setiap warga Negara. Tetapi jika kita lihat selama ini, sudah jelas militer dan kepolisian yang menjadi poros utamanya. Saat Negara berada dalam gangguan atau ancaman dari pihak lain, kekuatan militer adalah jalan untuk melindungi diri suatu Negara. Ambil saja contoh, ketika kasus penggrebegan M. Noordin Top, para warga justru tidak disarankan untuk mendekat, apalagi membantu, karena hal tersebut justru akan menjadikan gangguan bagi pihak militer dan kepolisian dalam menjalankan aksinya. Dalam UUD bahwa setiap warga Negara mempunyai hak dan kewajiban untuk melindungi NKRI. Tetapi, untuk kelas Mahasiswa, bukan lalu menjadi seorang tentara untuk melindungi Negara ini. Tidak dapat disangkal, bahwa Ketahanan militer akan semakin baik seiring dengan semakin canggih-nya sistem dan persenjataannya. Disinilah peran Mahasiswa dibutuhkan, terutama Mahasiswa teknik. Seorang ahli teknik yang handal dalam pengembangan dan perawatan sistem pertahanan Negara akan sangat dibutuhkan demi Ketahanan militer yang baik.Dengan didasarkan pada moral yang baik dan tujuan yang benar-benar untuk melindungi NKRI, maka Ketahanan militer yang kuat akan terecapai. Sehingga Indonesia dapat terbebas dari ancaman dan gangguan dari pihak-pihak yang inign mengganggu ketentraman Republik Indonesia. Mahasiswa dituntut untuk selalu siaga dan terus mengembangkan diri guna menjawab tantangan Bangsa dan era globalisasi, demi terciptanya kehidupan yang lebih baik untuk Indonesia di masa yang akan datang. Ketahanan Nasional adalah suatu kondisi dinamis suatu Bangsa yang terdiri atas ketangguhan serta keuletan dan kemampuan untuk mengembangkan kekuatan Nasional dalam menghadapi segala macam dan bentuk ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan baik yang datang dari dalam maupun luar, secara langsung maupun yang tidak langsung yang mengancam dan membahayakan

16

integritas, identitas, kelangsungan hidup Bangsa dan Negara serta perjuangan dalam mewujudkan tujuan perjuangan Nasional: 1. Ancaman di dalam negeri, misalnya pemberontakan dan subversi yang berasal atau terbentuk dari masyarakat Indonesia. 2. Ancaman dari luar negeri, seperti infiltrasi, subversi dan intervensi dari kekuatan kolonialisme dan imperialisme serta invasi dari darat, udara dan laut oleh musuh dari luar negeri. Melihat berbagai tantangan tersebut, seluruh elemen Bangsa seperti pemerintah, masyarakat, generasi tua, wanita, pemuda dan sebagainya, memiliki peranan vital di masing-masing bidangnya. Namun, pemuda yang memiliki batasan produktif dalam berkarya, memiliki posisi yang penting. Dalam konstruksi pemuda, posisi generasi muda lebih sebagai subjek dibanding sebagai obyek dan pada tingkat tertentu berperan secara lebih aktif, produktif dalam membangun jati diri secara bertanggung jawab dan efektif. Kemampuan menyelesaikan problem obyektif yang ada diharapkan mampu mengantarkan pemuda untuk tampil menghadapi tantangan yang lebih luas lagi. Potensi yang dimiliki oleh generasi muda diharapkan mampu meningkatkan peran dan memberikan kontribusi dalam mengatasi persoalan Bangsa. Berbagai gejala sosial dengan mudah dapat dilihat, mulai dari rapuhnya sendi-sendi kehidupan masyarakat, rendahnya sensitivitas sosial, memudarnya etika, lemahnya penghargaan nilai-nilai kemanusiaan, kedudukan dan jabatan bukan lagi sebagai amanah penederitaan rakyat, tak ada lagi jaminan rasa aman, mahalnya menegakan keadilan dan masih banyak lagi problem sosial yang kita harus selesaikan. Hal ini harus menjadi catatan agar pemuda lebih memiliki daya sensitivitas, karena Bangsa ini sesungguhnya sedang menghadapi problem multidimensi yang serius, dan harus dituntaskan secara simultan tidak fragmentasi. Oleh karena itu, rekonstruksi nilai-nilai dasar Bangsa ke depan perlu bberapa langkah strategis dalam mengatasi persoalan Bangsa ;

17

1.

Meningkatkan kemandirian dan martabat Bangsa. Terpompanya harga diri Bangsa. Seluruh aktivitas pembangunan sejauh mungkin dijalankan berdasar kemampuan sendiri, misalnya dengan menegakkan semangat berdikari.

2.

Harmonisasi kehidupan dan meningkatkan ekspektasi masyarakat sehingga berkembang mutual social trust yang berawal dari komitmen seluruh komponen Bangsa.

3.

Penyelenggara Negara dan segenap elemen Bangsa harus terjalin dalam satu kesatuan jiwa Kata kucinya adalah segera terwujudnya sistem kepemimpinan Nasional yang kuat dan berwibawa di mata rakyat yang memiliki integritas tinggi (terpercaya, jujur dan adil), adanya kejelasan visi pemimpin yang jelas dan implementatif, pemimpin yang mampu memberi inspirasi dan mengarahkan semangat rakyat secara kolektif, komunikatif terhadap rakyat, mampu membangkitkan semangat solidaritas. Dan untuk pemuda, mereka harus mempu memperjuangkan sistem nilai-nilai yang merepresentasikan aspirasi, sensitivitas dan integritas para generasi muda terhadap gejala ketidakadilan yang terjadi di masyarakat. Peranan Mahasiswa Dalam Penegakan Hukum, terbagi menjadi 2 (dua)

bagian, yaitu peran Mahasiswa dalam lingkungan kampus dan lingkungan masyarakat. Di dalam lingkungan kampus, Mahasiswa dapat melakukan, seperti jujur dalam setiap proses perkuliahan, melakukan kajian kritis terhadap setiap laporan pertanggung jawaban kegiatan, kontrol terhadap pelaksanaan proyek kegiatan kampus, dan lain sebagainya. Sejak Indonesia mengandalkan peranan hukum dalam menunjang pembangunan, maka kaitan antara hukum dan politik juga menjadi relevan. Dalam GBHN terbaru bahkan kedudukan pembangunan hukum telah dinaikkan dari subsektor menjadi sector yang dengan demikian menjadi berdiri sendiri. Mengaitkan secara otomatis antara hukum dan pembangunan berarti meningkatkan pula intensitas pertukaran antara hukum dan politik. Posisi hukum sebagai sarana untuk melakukan rekayasa sosial menjadi makin besar. Dalam keadaan demikian, maka hubungan ketegangan antara kemandirian asas, doktrin, dan institusi hukum berhadapan dengan politik menjadi lebih intensif.
18

Hukum dan rekayasa sosial sebenarnya merupakan Politik Sosial yakni hal yang harus dirubah oleh Mahasiswa. Politik sosial adalah keadaan yang ingin dicapai dalam kehidupan bersama sebagai suatu masyarakat, Bangsa, dan Negara. Bagi Bangsa dan Negara Indonesia, keadaan yang ingin dicapai dalam kehidupan bersama sebagai suatu masyarakat, Bangsa, dan Negara ini tertuang di dalam alinea keempat pembukaan UUD 1945; yaitu suatu keadaan terlindunginya segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, keadaan termajukannya kesejahteraan umum, keadaan tercedaskannya kehidupan Bangsa, serta terwujudnya perdamaian abadi. Singkatnya adalah keadaan terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Politik dan hukum harus bekerja sama dan saling menguatkan. Hukum tanpa kekuasaan anganangan, kekuasaan tanpa hukum kelaliman. Sedangkan mengenai hubungan antara hukum dan politik dapat dilihat dari 3 asumsi di bawah ini: a. Hukum determinasi atas politik, hukum sebagai das sollen. b. Politik determinasi atas hukum, hukum sebagai das sein. c. 6. Politik dan hukum dalam hubungan seimbang.

Peranan Mahasiswa dalam Hal Peningkatan Budaya Bangsa dan Negara. Apabila hukum dilihat sebagai suatu proses, maka ia tak mungkin berjalan bagaikan menarik garis dari satu titik ke titik yang lain. Kebudayaan, aspirasi, cita-cita, dan nilai-nilai tetap merupakan variable bebas yang turut menentukan penampilan akhir dari hukum. Itu berarti hukum itu tidak berdiri sendiri, dan tidak sepenuhnya absolut. Pemahaman yang tidak lengkap itu pulalah yang membuat orang pernah berpolemik mempersoalkan rekomendasi kongres kebudayaan tahun 1991 tentang perlunya pendekatan budaya dalam penyelenggaraan hukum. Rumusan rekomendasi yang demikian dipersoalkan, karena dinilai bakal merusak usaha penegakkan hukum, terutama dalam usaha menumbuhkan kepastian hukum. Dalam hal ini harus dipahami sungguhsungguh bahwa budaya itu adalah perilaku substantif dan ia muncul dalam sekalian sektor kehidupan, termasuk kehidupan Mahasiswa. Hukum dan kebudayaan itu sama-sama melakukan kontrol terhadap Mahasiswa dalam
19

kehidupan bermasyarakat kendatipun kekuatannya berbeda. Hukum modern itu memiliki kualitas yang kuat untuk disebut sebagai teknologi dan mesin, sementara kebudayaan adalah jauh lebih lanjut karena ia bekerja dengan persuasi atau melalui sosialisasi. Oleh karena itu, Mahasiswa harus bisa memahami kalau terjadi benturan antara keduanya, maka budayalah yang akan banyak mengalami kekalahan. Tapi itu tidak berarti bahwa dalam jangka panjang kebudayaan sebagai perilaku substantif tidak akan melakukan pembalasan. Dalam kerangka pemahaman yang demikian itu dapatlah kita mengatakan bahwa undang-undang itu bukan hanya barisan pasal-pasal, melainkan mempunyai spirit atau semangat juga. Namun dimensi semangat tersebut hampir selalu terbenam dalam setiap diskusi dan debat mengenai hukum langsung oleh Mahasiswa. Mahasiswa memiliki kedudukan dan peranan penting dalam pelestarian seni dan budaya daerah. Hal ini didasari oleh asumsi bahwa Mahasiswa merupakan anak bangsa yang menjadi penerus kelangsungan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Indonesia. Sebagai intelektual muda yang kelak menjadi pemimpin-pemimpin bangsa, pada mereka harus bersemayam suatu kesadaran kultural sehingga keberlanjutan negara bangsa Indonesia dapat dipertahankan. Pembentukan kesadaran kultural Mahasiswa antara lain dapat dilakukan dengan pengoptimalan peran mereka dalam pelestarian seni dan budaya daerah. Optimalisasi peran Mahasiswa dalam pelestarian seni dan budaya daerah dapat dilakukan melalui dua jalur, yaitu intrakurikuler dan ekstrakulikuler. Jalur Intrakurikuler dilakukan dengan menjadikan seni dan budaya daerah sebagai substansi mata kuliah; sedangkan jalur ekstrakurikuler dapat dilakukan melalui pemanfaatan unit kegiatan Mahasiswa (UKM) kesenian dan keikutsertaan Mahasiswa dalam kegiatan-kegiatan seni dan budaya yang diselenggarakan oleh berbagai pihak untuk pelestarian seni dan budaya daerah. Mahasiswa dapat melakukan membantu masyarakat untuk mewujudkan ketentuan aturan yang diperlukan masyarakat, membimbing dan membantu masyarakat mengkritisi aturan yang ada dan lain sebagainya. Politik, Ketahanan

20

Nasional, Hukum, dan Budaya merupakan hal yang patut di pertimbangkan dalam meningkatkan posisi Negara dan hal ini dilakukan oleh Mahasiswa.

21

BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Peran mahasiswa terhadap bangsa dan negeri ini bukan hanya duduk di depan meja dan dengarkan dosen berbicara, akan tetapi mahasiswa juga mempunyai berbagai perannya dalam melaksanakan perubahan untuk bangsa Indonesia, peran tersebut adalah sebagai generasi penerus yang melanjutkan dan menyampaikan nilainilai kebaikan pada suatu kaum, sebagai generasi pengganti yang menggantikan kaum yang sudah rusak moral dan perilakunya, dan juga sebagai generasi pembaharu yang memperbaiki dan memperbaharui kerusakan dan penyimpangan negatif yang ada pada suatu kaum. Peran ini senantiasa harus terus terjaga dan terpartri di dalam dada mahasiswa Indonesia baik yang ada di dalam negeri maupun mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri. Apabila peran ini bisa dijadikan sebagai pegangan bagi seluruh mahasiswa Indonesia, ruh perubahan itu tetap akan bisa terus bersemayam dalam diri seluruh mahasiswa Indonesia.

3.2 Saran
Pada bagian ini kami ingin mengajak yang dalam hal ini ditujukan kepada para generasi muda pelajar dan mahasiswa, para Dosen dan Guru, seluruh elemen pemerintah baik yang ada di daerah maupun yang ada di pusat serta seluruh lapisan masyarakt Indonesia secara luas agar tetap bersatu demi mempertahankan keutuhan NKRI. Terkadang masalah sepele akan menjadi kompleks jika tidak ada solidaritas di antara sesama kita. Kami berharap tak akan ada lagi perselisihan di negeri kita tercinta sehingga cita-cita bangsa Indonesia akan tercapai. Pepatah dalam bahasa Inggris mengatakan Student Today, Leader Tomorrow. Kami meyakini bahwa kunci tercapainya cita-cita itu ada di tangan para
22

generasi muda. Oleh karena itu, tetaplah semangat dalam meraih apa yang telah menjadi tujuan hidup kita

23

DAFTAR RUJUKAN

_______,2012. Peranan Mahasiswa dalam kehidupan, (Online), (http://ojanjan.blogspot.com/2012/10/peranan-mahasiswa-dalam-kehidupan.html), diakses 14 Maret 2012. _______,2011. Peranan mahasiswa Mempertahankan negara, (Online), (http://hansseba.blogspot.com/2011/09/peranan-mahasiswa-mempertahankannegara.html) _______,2011. Definisi Tridharma perguruan Tinggi, (Online), (http://www.alchemyst.co.cc/2011/06/definisi-tri-dharma-perguruantinggi.html#ixzz1sXjzKQBS) _______,2010. Peran Penting Mahasiswa Indonesia, (Online), (http://madib.blog.unair.ac.id/jatidiri-and-characters/peran-penting-mahasiswaindonesia)

24