Anda di halaman 1dari 2

APA ITU PUASA?

Bismillahirrahmaanirrahiim,

PUASA telah lama dikenal oleh umat manusia. Namun ia bukan berarti telah usang atau ketinggalan
zaman. Karena generasi abad kedua puluh ini masih melakukannya dengan berbagai motif dan dorongan.
Puasa dalam arti "mengendalikan dan menahan diri untuk tidak makan dan tidak minum dalam waktu-waktu
tertentu" dilakukan antara lain dengan tujuan menjaga kesehatan atau merampingkan tubuh, atau dalam
bentuk mogok makan sebagai pertanda protes atas perlakuan pihak lain atau dilakukan sebagai tanda
solidaritas atas malapetaka yang menimpa teman atau saudara, seperti yang terdapat di antara suku-suku
di India dan lainnya yang hingga kini masih berlaku. Puasa dengan aneka ragam tujuan dan bentuk tersebut
dihimpun oleh satu esensi, yaitu "pengendalian diri".

Puasa yang dilakukan umat Islam digarisbawahi oleh Alquran sebagai "bertujuan untuk memperoleh takwa".
Tujuan tersebut tercapai dengan menghayati arti puasa itu sendiri. Memahami dan menghayati arti puasa
memerlukan pemahaman terhadap dua hal pokok menyangkut hakikat manusia dan kewajibannya di bumi
ini.

Pertama, manusia diciptakan oleh Allah dari tanah, kemudian dihembuskan ruh dan diberikan potensi untuk
mengembangkan dirinya hingga mencapai satu tingkat yang menjadikannya wajar untuk menjadi khalifah
[pengganti] Allah dalam memakmurkan bumi ini. Dalam Kitab Perjanjian Lama, demikian pula dalam kitab-
kitab Hadis, ditemukan bahwa Allah menciptakan manusia menurut "petanya", dalam arti diberi potensi
untuk memiliki sifat-sifat Allah sesuai dengan kemampuannya sebagai makhluk. Kedua, dalam perjalanan
manusia menuju ke bumi, ia [Adam] melewati ["transit" di] surga, agar pengalaman yang diperolehnya di
sana dapat dijadikan bekal dalam menyukseskan tugas pokoknya di bumi ini. Pengalaman tersebut antara
lain adalah persentuhannya dengan keadaan di surga itu sendiri.

Di sana telah tersedia segala macam kebutuhan manusia, antara lain, sandang, pangan, serta
ketenteraman lahir dan batin [lihat QS.20, Thaha:118-119] dan (QS.56, Al-Waqi'ah:25). Hal ini
mendorongnya untuk menciptakan bayangan surga di bumi, sebagaimana pengalamannya dengan setan
mendorongnya untuk berhati-hati agar tidak terpedaya lagi sehingga mengalami kepahitan yang dirasakan
ketika terusir dari surga. Di dalam kehidupannya, manusia mempunyai banyak kebutuhan yang secara garis
besarnya dapat dikelompokkan pada lima kebutuhan pokok, yaitu: 1]. Kebutuhan fa'ali [makan, minum, dan
hubungan seksual]. 2]. Kebutuhan akan ketenteraman dan keamanan. 3]. Kebutuhan akan keterikatan pada
kelompok. 4]. Kebutuhan akan rasa penghormatan, dan 5]. Kebutuhan akan pencapaian cita-cita.

Kebutuhan kedua tidak akan mendesaknya sebelum kebutuhan pertama terpenuhi. Bahkan seseorang
dapat mengorbankan kebutuhan berikutnya bila kebutuhan sebelumnya belum terpenuhi. Sebaliknya,
seseorang yang mampu mengendalikan dirinya dalam kebutuhan pertama, akan dengan mudah
mengendalikan kebutuhan-kebutuhannya yang berada pada posisi berikutnya.

Dalam berpuasa, dari segi hukum, seseorang berkewajiban mengendalikan dirinya berkaitan dengan
kebutuhan-kebutuhan fa'ali tersebut dalam waktu-waktu tertentu. Dalam berpuasa, yang bersangkutan juga
sekaligus berusaha mengembangkan potensinya agar mampu membentuk dirinya agar sesuai dengan
"peta" Allah dengan jalan mencontoh Allah dalam sifat-sifat-Nya. Dan karena itu, Rasulullah Saw bersabda:
"Berakhlaklah [bersifatlah] kamu sekalian dengan sifat-sifat Allah". (HR. Bukhari dan Muslim). Kalau ditinjau
dari segi hukum puasa, maka sifat Allah yang diusahakan untuk diteladani oleh yang berpuasa adalah: 1].
Bahwa Dia [Allah] memberi makan dan tidak [diberi] makan (QS.6, Al-An'am:14). 2]. Dia [Allah] tidak
memiliki teman wanita [istri] (QS.6, Al-An'am:101). Kedua hal tersebut terpilih untuk diteladani karena
keduanya merupakan kebutuhan fa'ali manusia yang terpenting, dan keberhasilan dalam pengendaliannya
mengantar kepada kesuksesan mengendalikan kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Namun seperti yang dijelaskan oleh Nabi Saw, bahwa rasa lapar dan haus bukan merupakan tujuan puasa.
"Sekian banyak orang yang berpuasa yang tidak memperoleh hasil dari puasanya kecuali lapar dan haus.",
demikian sabda Nabi Saw. Hal ini karena yang bersangkutan tidak menghayati tujuan puasa yang
sebenarnya, yaitu meneladani Allah dalam sifat-sifat-Nya yang berjumlah sembilan puluh sembilan itu, atau
yang oleh sementara ulama dikatakan 127. Sifat "Maha Pengampun" dan "Maha Pemaaf", misalnya,
haruslah diteladani. Ini pulalah sebabnya mengapa dalam berpuasa agama menganjurkan agar kita banyak
membaca doa yang intinya menyebut-nyebut sifat Allah tersebut, agar ia berkesan di dalam hati, sehingga
kita pun memberi maaf kepada orang lain. Demikian pula dengan sifat "Rahman" [Maha Pengasih] dan
"Rahim" [Maha Penyayang]. Sfat-sifat ini dituntut pula diteladani sehingga rahmat dan kasih sayang tadi
terasa bagi seluruh makhluk Allah. Sifat Allah sebagai "Kaliq" [Maha Berkreasi], dan bahwa "Dia setiap saat
dalam pekerjaan" (QS.55, Al-Rahman:29), menuntut pula peneladanan. Demikian pula dengan "Maha
Hidup", dituntut meneladaninya dengan menghidupkan "nama" baik yang berkesinambungan setelah
seseorang meninggalkan dunia yang fana ini sekalipun. Demikian seterusnya dengan sifat-sifat Allah
lainnya, yang harus dihayati esensinya untuk diteladani sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia.
Dengan demikian, dengan mencontoh sifat-sifat Allah berarti membangun dan memakmurkan bumi ini
menjadi "bayang-bayang" surga yang penuh dengan keamanan dan kedamaian, serta pemenuhan segala
kebutuhan hidup manusia, seperti sandang, pangan, dan papan.

Seseoramg yang berusaha dalam meneladani Allah dalam sifat-sifat-Nya, digambarkan oleh filosof Muslim
Ibnu Sina sebagai berikut: "Seorang yang bebas dari ikatan raganya, dalam dirinya terdapat sesuatu yang
tersembunyi, namun dari dirinya tampak sesuatu yang nyata. Ia akan selalu gembira dan banyak
tersenyum. Betapa tidak, karena hatinya telah dipenuhi oleh kegembiraan sejak ia mengenal-Nya. Di mana-
mana ia hanya melihat satu saja: melihat kebenaran, melihat Yang Maha Suci itu. "Semua dianggapnya
sama, karena memang semua sama: semua makhluk Allah yang wajar mendapatkan rahmat, baik mereka
yang taat maupun mereka yang bergelimang dosa, ia tidak akan mengintip-ngintip kelemahan orang, tidak
pula mencari kesalahannya. Ia tidak akan marah dan tersinggung walaupun melihat yang munkar sekalipun,
karena jiwanya selalu diliputi rahmat kasih sayang, dan karena ia memandang sirr Allah [rahasia Allah]
terbentang di dalam kodrat-Nya.

"Apabila ia mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mengajak dengan lemah lembut, tidak akan dengan
kekerasan, dan tidak pula dengan kecaman atau kritik. Ia akan selalu menjadi dermawan. Betapa tidak,
sedangkan cintanya kepada benda tidak berbekas lagi. Ia akan selalu pemaaf. Betapa tidak, karena
dadanya demikian lapang, sehingga mampu menampung segala kesalahan orang. Ia tidak akan
mendendam. Betapa tidak, karena seluruh ingatannya hanya tertuju kepada Yang Satu itu [Allah SWT]."

Hasan Al-Basri menggambarkan keadaan orang yang meneladani Allah sehingga mencapai tingkat takwa
yang sebenarnya dengan ungkapan: "Anda akan menjumpai orang tersebut: teguh dalam keyakinan, teguh
tapi bijaksana, tekun dalam menuntut ilmu, semakin berilmu semakin merendah, semakin berkuasa
semakin bijaksana, tampak wibawanya di depan umum, jelas syukurnya dikala beruntung, menonjol
qana'ah [kepuasan]-nya dalam pembagian rezeki, senantiasa berhias walaupun miskin, selalu cermat, tidak
boros walau kaya. "Murah hati dan murah tangan, tidak menghina, tidak mengejek, tidak menghabiskan
waktu dalam permainan, dan tidak berjalan membawa fitnah, disiplin dalam tugasnya, tinggi dedikasinya,
serta terpelihara identitasnya, tidak menuntut yang bukan haknya dan tidak menahan hak orang lain. "Kalau
ditegur ia menyesal, kalau bersalah ia istighfar, bila dimaki ia tersenyum sambil berkata: "Jika makian Anda
benar, maka aku bermohon semoga Allah mengampuniku. Dan jika makian Anda keliru, maka aku
bermohon semoga Allah mengampunimu."

Rasulullah Saw atas nama Allah, menggambarkan bahwa: "Seorang hamba akan mendekatkan diri kepada-
Ku [Allah], hingga Aku mencintainya. Dan bila Aku [Allah] mencintainya, menjadilah pendengaran-Ku yang
digunakannya untuk mendengar, penglihatan-Ku yang digunakannya untuk melihat, tangan-Ku yang
digunakannya untuk bertindak, serta kaki-Ku yang digunakannya untuk berjalan." (Hadis Qudsi).

Hamba yang digambarkan dalam hadis di atas, memperoleh hal tersebut karena ia berusaha dan berhasil
mendekati Allah di dalam sifatnya. Langkah utama untuk itu dilakukan dengan berpuasa, yang
mengantarkannya kepada takwa, dan mempunyai ciri yang sangat luas: sama halnya dengan al-Shirat al-
Mustaqim [jalan yang luas lagi lurus], sehingga karena keluasan dan kelurusannya ia dapat menampung
banyak jalan yang berbeda-beda selama jalan-jalan tersebut penuh dengan kedamaian. Allah berfirman:
"Allah memimpin [dengan kitab suci Alquran] orang yang mengikuti keridhaan-Nya menuju jalan-jalan
kedamaian, mengeluarkan mereka dari gelap gulita menuju cahaya yang terang benderang dan [akhirnya]
mengantar mereka ke Jalan luas lagi lurus." (QS.6, Al-An'am:16).

Ini berarti bahwa perbedaan-perbedaan jalan selalu dapat ditampung oleh al-Shirat al-Mustaqim, selama
jalan-jalan tersebut bercirikan kedamaian, keamanan, dan keselamatan. Sekian, selamat berpuasa. [Edisi
Juli '05]