Asal Mula Danau Toba dan Pulau Samosir

Alkisah pada jaman dulu di sebuah desa di Sumatra Utara hiduplah seorang pemuda bernama Toba. Ia hidup sebatang kara. Kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Para penduduk di desa itu adalah petani. Demikian juga dengan Toba. Walaupun hanya memiliki sepetak sawah berukuran kecil peninggalan orang tuanya, Toba tidak pernah kekurangan. Ia selalu bersyukur atas hal itu meski hidupnya tergolong sangat sederhana. Pada suatu ketika, desa tempat tinggal Toba dilanda kemarau panjang. Para penduduk kesulitan air. Sawah merekapun mengering. Persediaan di lumbung sudah hampir habis tapi hujan belum juga turun. Kekeringan yang melanda desanya tidak membuat Toba patah semangat. Ia memutuskan untuk ganti haluan sementara. Toba berencana mencari ikan ke laut. Diajaknya para penduduk desa untuk bersama sama melaut. Pagi itu Toba dan para pemuda lainnya mulai mengumpulkan jala ikan yang mereka punya. Mereka juga menyiapkan perahu yang akan mereka pakai melaut. Setelah semua persiapan lengkap, berangkatlah Toba dan teman temannya sore itu. Setelah bergantian mendayung beberapa lama, sampailah Toba dan teman temannya di tengah laut. Mereka mulai menebar jaring dan menunggu hasilnya. Angin dingin yang berhembus tak mereka rasakan. Toba dan teman temannya menghabiskan waktu dengan berbincang sambil bersenda gurau. Setelah menunggu dan menunggu, tak satupun jaring yang mereka tebar bergerak. Hari mendekati pagi. Akhirnya Toba dan teman temannya memutuskan untuk pulang. Dengan rasa lelah dan kecewa yang mendalam, mereka mengangkat jaring dan mendayung ke pantai. Rasa heran menghinggapi sebagian besar benak mereka termasuk Toba. “Heran..mengapa di laut juga paceklik ? kemana ikan ikan di laut ini pergi ?”, tanya Toba dalam hati. Beberapa hari setelah kejadian itu, mereka mencoba peruntungan lagi mencari ikan di laut. Tapi sungguh mengherankan, lagi lagi mereka pulang dengan tangan hampa. Bahkan beberapa kali setelahnyapun mereka tetap gagal walau telah berpindah pindah tempat. Ikan ikan itu seolah lenyap ditelan bumi. Para penduduk mulai putus asa. Mereka terancam kelaparan. Satu persatu keluarga mulai pergi meninggalkan desa. Mereka ingin mengadu nasib di kota. Toba tetap bertahan di desanya. Ia merasa sedih jika harus meninggalkan rumah dan kampung tempat ia dibesarkan. Kenangan indah bersama orang tuanya membuatnya enggan untuk pergi. Ia berpendapat Tuhan akan memberi rejeki dimanapun mahluknya berada asalkan mereka mau berusaha. Toba mencoba lagi mencari ikan di laut. Kali ini ia seorang diri karena tak seorangpun yang mau diajak serta. Sore hari Toba berangkat. Ia mendayung perahunya pelan pelan. Ia berpikir harus punya persediaan tenaga yang cukup karena ia harus mendayung sendiri. Begitu tiba di tengah laut, Toba segera menebar jaring yang dibawanya. Ia menunggu hasil sambil menatap bintang bintang di langit. Malam itu ia merindukan kembali masa kanak kanaknya. Toba terkenang akan kedua orang tuanya yang telah tiada. Tiba tiba jaringnya bergerak gerak. Toba terkejut. Ia segera menarik jaringnya dengan tergesa gesa. “Berat sekali”, gumamnya. “Kelihatannya aku mendapat ikan yang sangat besar”, pikirnya lagi. Toba tersenyum senang sambil terus berusaha menaikkan hasil tangkapannya ke dalam perahu. Toba tertegun melihat seekor ikan besar yang berada di jalanya. Seekor ikan besar berwarna keemasan yang sangat cantik. “Ikan apa ini ?”, tanyanya dalam hati. Toba merasa heran karena ia belum pernah melihat ikan seperti itu sebelumnya. Karena hari sudah menjelang pagi, Toba memutuskan untuk mendayung perahunya ke pantai. Rasa lelah dan kantuk membuatnya ingin cepat cepat sampai di rumah. Sambil mendayung, sesekali Toba memperhatikan ikan yang didapatnya. Sungguh aneh, ikan itu kelihatan sangat tenang. Bahkan Toba merasa ikan itu balas menatapnya. Begitu sampai di rumah, ternyata ikan itu masih hidup. Karena tak tega melihatnya sangat lemas, Toba memasukkannya ke dalam sebuah tempayan besar yang berada di dapur. Ikan itu bergerak perlahan. Terlihat ikan itu sangat senang karena Toba memasukkannya ke dalam air. Toba meninggalkannya dan beranjak ke kamarnya untuk beristirahat. Matahari sudah tinggi ketika Toba terbangun. Perutnya terasa sangat lapar karena ia belum makan apapun sejak kemarin sore. Toba segera berjalan ke dapur guna mencari sisa sisa padi simpanannya. Iapun teringat akan ikan yang dibawanya pulang tadi pagi.

Hari berganti hari. Toba tidak putus asa. “Bagaimana kau bisa sampai di rumahku… ?”. “Namaku Jelita Bang. Tak berapa lama Toba kembali. Gadis itu terdiam sejenak. “Tapi sekarang kemampuan itu sudah hilang karena kau sudah tahu jati diriku”. Toba pulang dengan tangan hampa. Sambil menunduk ia berkata “Akulah ikan yang kau temukan di laut tempo hari. Toba berjalan mengendap endap menuju pintu dapur dari halaman belakang rumahnya. kata sang gadis sambil menatap Toba. “Aku adalah seorang putri yang dikutuk”. Kemampuan itu semata mata untuk tanda terima kasih kepada siapapun yang bersedia memeliharaku”. kejadian yang sama terulang lagi. Ia segera mengambil piring dan mulai makan. Jelita langsung menerima ketika Toba melamarnya. Ia mulai terpukau akan kecantikan Jelita. Ia berpikir jika manusia mau berusaha. tanya Toba. Toba terkesima mendengar semua ceritanya. pikirnya lagi. Ia minta agar Toba berjanji untuk tidak menceritakan kepada siapapun asal usul dirinya. kata Toba. “Kutukan itu hilang jika ada manusia yang mau memeliharaku”. Para penduduk tidak curiga ketika Toba mengakui Jelita sebagai seorang gadis yatim piatu yang berasal dari desa yang sangat jauh. Sungguh makanan yang sangat lezat. Dari jauh Toba mencium bau masakan. Rasa lapar yang sedari tadi ditahannya membuatnya memutuskan untuk makan. “Apa maksudmu ?”. pikirnya heran. “Aku memang dibekali kemampuan menyediakan bahan makanan untuk kumasak. Toba bersiap siap untuk berangkat. suara Toba agak meninggi. Akhirnya sang gadis menceritakan asal dirinya dan mengapa sampai ia dikutuk. Nasib sial rupanya belum mau meninggalkan dirinya. Para penduduk desa yang lain akhirnya kembali mau melaut bersamanya. hujan turun dengan derasnya. “Bagaimana mungkin ikan bisa berubah menjadi manusia seperti dirimu ?”. Siang hari ketika bangun tidur. ka ta sang gadis pelan. Ia ingin sekali menemukan siapa gerangan yang menyajikan makanan untuknya. Tuhan pasti memberi rejeki. Sungguh aneh. Keesokan harinya Toba meninggalkan rumah pagi pagi. Belum pernah Toba merasakan makanan selezat itu. tanyanya heran. “Mungkin Tuhan mengirim seseorang untuk mengantar makanan ini untukku”.”. Kali ini ia tidak langsung masuk ke dalam rumah. Toba berkata ia akan memegang teguh janjinya. Ikan itu tidak ada. lanjutnya lagi. “Makanan dari mana ini ?”. gumam Toba penuh rasa heran. Tidak juga kepada anak mereka kelak. ia tidak menemukan seorangpun. Ia pergi ke pantai hendak memeriksa kondisi perahunya. Toba sangat heran.. Ia tak mendapat ikan seekorpun.. pikirnya sambil ter us berjalan. Sang gadis sungguh senang. “Apa kau tidak keberatan kupanggil abang ?”. Toba segera berjalan melihat ikan yang ditaruhnya di tempayan. kata sang gadis. Tiba di pintu dapur. Toba merasa iba pada gadis itu. tanya Toba. Siapakah dia ? Apa maksudnya ?”. Tapi lagi lagi Toba melupakan rasa herannya. tanyanya lagi. Toba masih belum percaya. “Tapi darimana kau mendapatkan bahan makanan untuk kau masak ?”. Toba kembali terkejut melihat aneka makanan tersaji di meja kecilnya di sudut dapur. ia selalu mendapat banyak ikan jika melaut. “Sudah tiga hari ini seseorang menyediakan makanan lezat untukku. jawab Toba. Hanya ada satu syarat yang diajukan Jelita. Sejak Toba bertemu Jelita. ia berniat melaut lagi nanti malam. Tak sabar Toba segera membuka pintu dan melangkah masuk. Toba dan Jelita hidup satu atap. Sang gadis terperanjat. Tak lama setelah pesta usai. “Dari tadi aku belum tahu namamu”. Ia tertegun menatap semua itu. “Aneh sekali”. Ia sekedar pergi menengok sawahnya yang kering. “Siapa kau ?”. tanyanya. Sore hari tiba. Ia membalik tubuhnya dan menatap Toba dengan mimik sangat terkejut. Toba makan sambil menyusun suatu rencana. gu mamnya.. “Oh tak mengapa. Ketika pulang ke rumah siang harinya. Keesokan paginya Toba pura pura meninggalkan rumah. Pesta perkawinan mereka digelar sangat sederhana. Ia mempersilahkan sang gadis untuk tetap tinggal di rumahnya jika ia mau. Toba memeriksa seluruh rumah sampai ke halaman belakang. Toba mengintip lewat celah celah papan pintu. Toba dan Jelita rupanya saling mencintai. “Siapa yang memasak semua ini ?”. Ia melihat aneka masakan terhidang di meja kecil yang terletak di sudut dapur. “Ada seseorang yang sedang memasak”. “Siapa yang mengirim semua makanan ini untukku ?”.Toba sangat terkejut begitu tiba di dapur. Para .”.”. Sungguh tidak masuk akal mengingat desanya yang sedang dilanda paceklik. Ia melihat seorang gadis cantik sedang sibuk memasak. Rasa lapar yang menderanya membuat Toba melupakan sejenak keheranannya.

Tanpa kenal lelah Samosir berlari menuju ke sawah. ayah dan anak berjalan pulang dalam kesunyian. Pak…”. Aku asyik bermain dengan teman temanku”. Emosinya tak terkontrol lagi. Mereka terus berjalan. “Memang kau anak ikan. “Jangan kau ulangi lagi perbuatanmu ini. Sampai disana dilihatnya ayahnya sedang terduduk lemas di pinggir sawah. Desa tempat tinggal Toba tenggelam dibuatnya. Samosir kini telah berusia 10 tahun. Aku lupa. Toba berteriak teriak memanggil istri dan anaknya. Hujan turun dengan derasnya. Wajahnya pucat. Sehari hari Toba bertanam padi di sawah.!!”. sergah Toga. Samosir adalah seorang anak laki laki yang tampan. Matahari bersinar begitu teriknya.!!”. “Jawab !!”. Ia belum kuat untuk mengantar makanan buat suaminya. tanyanya dengan nada kecewa yang mendalam. Belum pernah ia melihat ayahnya semarah itu. Pasangan ini dikaruniai seorang anak laki laki yang mereka beri nama Samosir. Kesempatan itu mereka gunakan untuk bercengkrama. Tiap siang. Jelita dan Samosir telah tiba di sebuah dataran yang tinggi.. Sore itu. Toba telah menceritakan kealpaan Samosir kemarin kepadanya. Sungguh aneh. Ia sangat lapar. Siang itu udara sangat panas. bentak Toba marah. Toba dan Jelita hidup rukun. “samosir tak mampu menatap ayahnya. suara Toba terdengar menggelegar. Terkadang Samosir dibawanya serta. Badannya tegap seperti ayahnya. Itulah yang dikenal sebagai Danau Toba sekarang..!! Ibumu itu dulunya seekor ikan. Samosir bertemu dengan teman temannya yang mengajaknya bermain. Ia terus berlari sambil menangis. Samosir takut sekali. “Kenapa bapak bilang aku anak ikan ?”. Genangan air makin lama makin melebar.. “Rupanya kebersamaan kita ditakdirkan hanya sampai disini. Jelita minta tolong Samosir sambil berpesan agar jangan terlambat. Mereka adalah sepasang suami istri yang serasi. Ia bahkan sangat senang bisa berjalan jalan sendiri tanpa ibunya. Ia memutuskan untuk beristirahat sejenak dibawah pohon. Hari yang panas membuatnya sangat lelah. Ia merasa dirinya sudah besar.penduduk sangat senang karena musim paceklik akan segera usai. Dari jauh ia melihat ayahnya sedang duduk sendirian di pinggir sawah. Toba segera berlari menyusul sambil memanggil manggil anaknya. ujarnya lagi. Jelita yang menyadari kedatangan suaminya segera berkata “Mengapa abang melanggar janji… ??”. Jantungnya berdegub kencang. Samosir lupa akan tugas yang diberikan ibunya. Pekerjaan yang telah dilakoni keluarganya turun temurun. Ia menuntun Samosir berjalan keluar rumah. kata Jelita pelan. Hampir pingsan bapakmu ini kau buat. Suaranya mulai melunak. Alangkah terkejutnya Samosir ketika menyadari dirinya kembali terlambat membawakan makanan untuk ayahnya. Jelita selalu membawakan makanan untuk suaminya. Apalagi berkata kata. tanyanya dengan berurai air mata. jawab Toba dengan nada tinggi. Marahnya belum reda. Mereka memilih untuk diam Keesokan harinya Jelita belum sehat. “Dari mana saja kau ? mana ibumu ?”. Samosir terkejut mendengar makian ayahnya. Hari sudah menjelang sore ketika Samosir teringat akan makanan ayahnya. Ia hanya diam menunduk. Kilat menyambar nyambar menyilaukan mata. Samosir berbalik arah dan berlari meninggalkan ayahnya. Ketika banjir melanda. suara Samosir bergetar menahan tangis. . Toba yang baru tiba di depan pintu rumahnya tak mampu berbuat apa apa melihat istri dan anaknya yang berpelukan sambil menangis. Jelita dan Samosir tak bergeming. Toba terkesiap. Jelita merasa tidak enak badan. Tanpa pikir panjang ia langsung bergabung dengan mereka. Bawa kemari makanan itu”. Hujan deras tak jua mau berhenti. Pada suatu ketika... “Dasar anak ikan. Samosir merasa dirinya lelah. “Maafkan aku Pak. Hari sudah menjelang sore ketika ia terbangun.”. Tangannya sampai gemetar menahan marah. Samosir tidak keberatan. “Ibu minta tolong aku untuk mengantar makanan ini”. Dalam perjalanan. Ia meminta Samosir untuk membawakan makanan untuk ayahnya. Mereka tidak ikut tenggelam. Dengan setengah berlari. “Ibu sakit. Samosir tak mendengar. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Bagai tersambar petir Jelita mendengar penuturan anaknya.”. “Kenapa kau lama sekali…?”. kata Toba. kata Samosir sambil menunduk. Dataran itu sekarang dikenal sebagai Pulau Samosir yang berada ditengah tengah Danau Toba. Samosir bergegas ke sawah. Seketika itu juga ia sadar telah melanggar janji. Angin semilir membuatnya tertidur. Tak berapa lama kemudian langit gelap gulita. Lebih terlambat dari kemarin bahkan. “Ya sudah. Dengan penuh amarah ia meraih bungkusan makanan yang dibawa anaknya dan melemparnya ke sawah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful