Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM PENGELOLAAN AIR UNTUK PERTANIAN ACARA IV PENGUKURAN ETO DENGAN RUMUS EMPIRIS

Disusun oleh: 1. Lini Syahrial 2. Rika Widharatna Sari 3. Efriandi 4. Lilies Setyowati 5. Muhammad Imam Ma'ruf (09659) (09666) (09683) (09757) (09758)

Golongan A4/Kelompok 2 Asisten : Setya Prabawa

JURUSAN ILMU TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2006

ACARA IV PENGUKURAN ETO DENGAN RUMUS EMPIRIS ABSTRAKSI


Evapotranspirasi (ET) adalah jumlah air total yang dikembalikan lagi ke atmosfer dari permukaan tanah, badan air, dan vegetasi oleh adanya pengaruh faktorfaktor iklim dan fisiologis vegetasi. Evapotranspirasi terdiri atas evaporasi dan transpirasi. Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 24 Maret 2006, dan bertujuan untuk menghitung kebutuhan air konsumtif suatu tanaman berdasarkan keadaan iklim suatu wilayah. Bahan yang digunakan ialah data iklim lengkap wilayah DIY selama kurun waktu 2003 dan 2004 yang diperoleh dari badan meteorologi, sedangkan alat yang digunakan adalah kalkulator fx3600. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa Eto umum dari metode Penman sebesar 4,85, sedangkan untuk metode radiasi Eto umum yang terhitung adalah 4,70 dan untuk metode Blaney-Criddle sebesar 4,39. Dari ketiga metode yang digunakan dalam menghitung Eto (metode Blaney-Criddle, metode Penman, dan metode Radiasi), yang lebih baik untuk digunakan adalah Metode Blaney Criddle karena walaupun semua faktorfaktor meteorologi/iklim (lama penyinaran/radiasi, kecepatan angin dan kelembaban udara) tidak diperoleh, masih tetap dapat dihitung Eto asalkan data temperatur udara tersedia.

I. PENDAHULUAN 3 Evapotranspirasi adalah keseluruhan jumlah air yang berasal dari permukaan tanah, air dan vegetasi yang diuapkan kembali ke atmosfer. Dengan kata lain, besarnya evapotranspirasi adalah jumlah antara evaporasi (penguapan air berasal dari permukaan badan air) dan transpirasi (penguapan air tanah ke atmosfer melalui vegetasi). Intersepsi juga merupakan proses penguapan air ke atmosfer melalui tajuk vegetasi, bedanya dengan transpirasi adalah bahwa pada proses intersepsi air yang diuapkan kembali ke atmosfer tersebut adalah air hujan yang tertampung sementara pada permukaan tajuk dan bagian lain dari suatu vegetasi. Dengan kata lain, pada proses transpirasi, air yang diuapkan kembali ke atmosfer berasal dari dalam tanah. Pada proses intersepsi, air yang diuapkan adalah air yang berasal dari curah hujan yang berada pada permukaan daun, ranting dan cabang dan belum sempat masuk ke dalam tanah (Asdak, 1995). Air dalam tanah akan mengalami kehilangan yang berupa evapotranspirasi. Evapotranspirasi merupakan jumlah konsumsi air bagi tanaman melalui seluruh bagian tanaman dan oleh penguapan air dari permukaan tanah dan air. Konsumsi air pada intinya merupakan kehilangan air dari tanah dan air. Evapotranspirasi menunjukkan jumlah konsumtif air tanaman (Arsyad, 1975). 4 Dalam pendugaan evapotranspirasi ada beberapa tahap yaitu penentuan Eto; menentukan koefisien tanaman; dan menghitung evapotranspirasi tanaman (Et-

Crop). Evapotranspirasi pada daerah-daerah yang bervegetasi, mekanisme kehilangan air yang paling penting bukanlah melalui evaporasi tanah melainkan proses transpirasi. Selain faktor tanaman juga memainkan peranan yang penting dalam transpirasi, yaitu: warna permukaan tanaman, perkembangan akar, struktur tegakan, dan struktur fisiologi tanaman (Seyhan, 1995). Salah satu hal yang utama dalam irigasi adalah menentukan kebutuhan air konsumtif tanaman (consumtive use atau crop water requirement). Kebutuhan air konsumtif tanaman secara umum ditentukan berdasarkan umur tanaman. Cara perhitungan ini secara analogi bertentangan dengan kebutuhan konsumsi sebagai dasar kehidupan yang dipengaruhi oleh aktivitas kehidupan konsumsi sebagai dasar kehidupan yang dipengaruhi oleh aktivitas fase perkembangannya (development phase atau development stage), yang untuk suatu jenis kehidupan tertentu adalah tetap (awal kehidupan berkembang, dewasa, berbiak dan mati). Umur untuk mencapai suatu fase perkembangan dapat berbeda-beda, tergantung pada keadaan lingkungan yang terjadi saat kehidupan berlangsung (Pusposutardjo, 2001). 6 Sepanjang tahun tanaman menyerap air dari berbagai lapisan tanah untuk mendukung proses transpirasi pada permukaan daun. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah serapan air oleh pohon adalah fenologi pohon, distribusi akar dan respon fisiologi pohon terhadap cekaman parsial air tersedia. Serapan air oleh pohon diantara kejadian hujan akan mempengaruhi jumlah air yang dapat disimpan dari kejadian hujan berikutnya, sehingga selanjutnya akan mempengaruhi proses infiltrasi dan aliran permukaan. Serapan air pada musim kemarau, khususnya dari lapisan tanah bawah akan mempengaruhi jumlah air tersedia untuk aliran lambat (slow flow) (Noorwidjk et al., 2004). 5 Pada peristiwa evapotranspirasi suatu vegetasi sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim, seperti intensitas cahaya, lama penyinaran, suhu, kelembaban udara, kecepatan angin, tekanan udara serta faktor tanaman sendiri (koefisien tanaman). Koefisien tanaman menunjukkan karakteristik dari suatu tanaman dalam menentukan kebutuhan air (Singh et al., 1980). Pada perubahan penutupan lahan (land coverage) mempengaruhi keseimbangan daur hidrologi pada lahan. Daur hidrologi adalah suatu siklus air melalui tahapantahapan dalam suatu ekosistem yang diangggap sebagai sistem terbuka yang

mempunyai peluang mekanisme masukan (curah hujan) dan keluaran (evapotrasnpirasi, hasil air, dan perubahan kadar air). Dalam siklus hidrologi, masukan sumber air berupa curah hujan (CH). Curah hujan sebelum sampai lahan akan diintersepsi (I) oleh vegetasi di atasnya, selanjutnya air hujan meresap ke dalam tanah atau infiltrasi (Inf), perkolasi (Perc) dan mengalir berupa run off (Ro). Air yang ada di dalam tanah mengalami pergerakan perkolasi dan kapilaritas (Cap) dari dan ke air tanah, serta menuju ke sungai. Air tanah mengalir ke sungai atau air diatuskan (Qo) dan sebagian menerima aliran dari sungai (Qi) yang tertampung pada sungai. Air dalam perjalanan ke laut seperti di permukaan lahan, tanah, sungai dan laut mengalami kehilangan air berupa evaporasi serta transpirasi (Mahmud, 1997). Untuk mengetahui faktor-faktor yang dianggap berpengaruh terhadap besarnya evapotranpirasi, maka dalam hal ini evapotranspirasi perlu dibedakan menjadi evapotranspirasi potensial (PET) dan evapotranspirasi aktual (AET). PET lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor meteorologi, sementara AET lebih dipengaruhi oleh faktor fisiologi tanaman dan unsur tanah. Faktor-faktor dominan yang mempengaruhi PET adalah radiasi panas matahari dan suhu, kelembaban atmosfer dan angin dan secara umum besarnya PET akan meningkat ketika suhu, radiasi panas matahari, kelembaban dan kecepatan angin bertambah besar (Asdak, 1995). Pada waktu pengukuran evaporasi, maka kondisi/keadaan ketika itu harus diperhatikan, mengingat faktor itu sangat dipengaruhi oleh perubahan lingkungan. Kondisi-kondisi itu tidak merata di seluruh daerah, umpamanya di bagian yang satu disinari matahari dan di bagian yang lain berawan (Sosrodarsono dan Takeda, 1993). 7 Metode perhitungan untuk menentukan kebutuhan air bagi tanaman yang berdasarkan rumus-rumus pendekatan seringkali dipakai. Rumus-rumus pendekatan umumnya berupa rumus-rumus empiris yang dikembangkan berdasarkan kondisi yang ada di lapangan. Rumus-rumus tersebut antara lain: Blaney Criddle, Hergreaves, Penman, Penman Modifikasi, Penman Mounteith, Radiasi, Panci Evaporasi, Thornthwaite, Wickman, IRRI, Lowry Johnson, Christiansen, dll (Radjulaini, 2003). Tujuan praktikum ini, yaitu menghitung kebutuhan air konsumtif suatu tanaman berdasarkan keadaan iklim suatu wilayah.

II. METODOLOGI Praktikum Pengelolaan Air untuk Pertanian Acara IV Perhitungan Evapotranspirasi dengan Rumus-rumus Empiris Menggunakan Data Iklim dilaksanakan pada hari Jumat, 24 Maret 2006 di Laboratorium Agrohidrologi, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pada praktikum kali ini digunakan alat yaitu kalkulator fx3600 sedangkan bahan yang digunakan berupa data iklim lengkap dari stasiun iklim yang mewakili, selama 2 tahun pengamatan, yaitu tahun 2003 dan 2004. Selanjutnya data iklim tersebut dianalisis sesuai masukan yang diperlukan untuk rumus Et0 (metode Blanney-Criddle, metode Radiasi dan metode Penman). Dari rerata data iklim dihitung secara dasarian sesuai kebutuhan, kemudian Et0 dihitung sesuai yang diacu dari FAO (1974) dan dibandingkan hasil perhitungan dari ketiga rumus tersebut. Setelah itu dihitung Etc untuk suatu tanaman tertentu pada setiap fase pertumbuhannya. Tanaman yang dipilih adalah Beans Green ( Vigna vulgaris), Sweet Corn (Zea mays), dan Peanuts (Arachis hypogeae).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


Tanaman 1. Jenis tanaman Beans Green Ditanam pada dasarian ke III Bulan Januari Tahun 2003
Dasarian (thd tan) P CH 75% Etc Irigasi I 7,72 1,54 6,18 II 63,48 1,54 III 40,52 2,02 IV 24,94 2,9 V 29,86 3,78 VI 0 4,17 4,17 VII 4,17 4,17 VIII 3,73 3,73 IX X XI -

Tanaman 2. Jenis tanaman Sweet Corn Ditanam pada dasarian ke I Bulan Maret Tahun 2004
Dasarian (thd tan) P CH 75% Etc Irigasi I 62,41 1,54 II 41,18 1,54 III 23,79 2,33 IV 29,7 3,82 V 0 4,61 4,61 VI 0 4,61 4,61 VII 0 4,61 4,61 VIII 0 4,17 4,17 IX X XI -

Tanaman 3. Jenis tanaman Peanuts Ditanam pada dasarian ke II Bulan November Tahun 2003
Dasarian (thd tan) P CH 75% Etc Irigasi I 63,48 1,54 II 75,78 1,54 III 186,5 1,76 IV 0 2,28 2,28 V 77,42 3,03 VI 0 3,78 3,78 VII 5,26 4,17 VIII 67,58 4,17 IX 22,15 4,17 X 43,96 4,17 XI 0 3,29 3,29

Kebutuhan air tanaman diartikan sebagai banyaknya air yang hilang dari areal pertanaman setiap satuan luas dan waktu yang digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman dan dievaporasikan dari permukaan tanah dan tanaman. Kebutuhan air tanaman dapat terpenuhi dari air yang terdapat dalam tanah, hal ini disebabkan karena dalam penyerapan, tanaman menggunakan akar-akarnya sehingga air yang dapat diserap oleh tanaman hanya air yang terdapat di dalam tanah dalam bentuk air kapiler. Dengan mengetahui kebutuhan air tanaman berdasarkan perhitungan evapotranspirasi dan faktor iklim, dapat diketahui tanaman atau komoditas yang cocok untuk ditanam di suatu daerah. Selain itu dapat dapat diketahui apakah tanaman memerlukan penambahan air atau tidak sehingga pengelolaan air pada lahan pertanian dapat lebih efektif dan efisien. Pengairan merupakan langkah dalam pengelolaan air yang tergolong dalam gatra substitusi. Tanaman dapat memperoleh air untuk memenuhi kebutuhannya dari curah hujan, rembesan air tanah ataupun dari irigasi. Dalam pelaksanaannya, sebagian besar air untuk memenuhi kebutuhan air tanaman berasal dari curah hujan dan kekurangannya disubstitusi dengan air irigasi. Untuk memberikan irigasi yang efisien, diperlukan perpaduan dengan gatra penyesuaian. Penyesuaian ini dilakukan dengan memilih jenis tanaman yang kebutuhan airnya sesuai dengan besarnya curah hujan agar irigasi minimum dan kebutuhan air tanaman tetap terpenuhi. Penentuan waktu tanam yang tepat akan menyebabkan tanaman dapat tumbuh pada musim yang sesuai dengan karakternya. Agar tanaman dapat tumbuh dengan baik, air yang tersedia sebaiknya sesuai dengan kebutuhannya, tidak kurang dan tidak lebih. Air yang dibutuhkan tanaman dinyatakan dengan jumlah air evapotranspirasi. Evapotranspirasi tanaman (Etc) diperoleh dengan menentukan evapotranspirasi umum (Eto) dikalikan dengan suatu koefisien tanaman (Kc). Eto diperoleh dengan data iklim yang diukur pada suatu stasium meteorologi. Metode pendekatan yang digunakan pada praktikum ini ada 3 yaitu metode Blaney Criddle, metode radiasi, dan metode Penman. Anasir iklim yang dibutuhkan oleh masing-masing metode adalah untuk metode Blaney Criddle adalah panjang penyinaran matahari dan temperatur udara; untuk metode Penman adalah temperatu udara, kelembaban udara, kecepatan angin, dan lama penyinaran matahari atau radiasi

matahari; dan untuk metode radiasi adalah temperatur udara, dan lama penyinaran matahari terukur, keawanan atau radiasi. Dari ketiga metode tersebut, digunakan Eto dari hasil perhitungan dengan metode Blaney Criddle yang merupakan metode yang terbaik karena pada metode Blanney-Criddle anasir-anasir iklim yang diperlukan tidak terlalu banyak karena metode ini hanya membutuhkan data dari temperatur udara saja seperti metode lainnya (Metode Penman dan Metode Radiasi). Dari perhitungan diketahui bahwa Eto umum dari metode Blanney-Criddle yaitu 4,39, sedangkan dari metode Radiasi adalah 4,70 serta dari metode Penman Eto umum yang dihasilkan adalah 4, 85. Kemudian dipilih tiga tanaman yang menjadi sampel untuk mengetahui pengelolaan air irigasi dalam kaitannya dengan kebutuhan air tanaman. Ketiga tanaman tersebut adalah buncis (Vigna vulgaris), jagung manis (Zea mays), dan kacang tanah (Arachis hypogeae).

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Buncis 2003 Sep Okt Nov Des Dari histogram ini dapat diketahui bahwa tanaman buncis ditanam pada dasarian ketiga bulan Januari sampai April tahun 2003, sedangkan tanaman kacang tanah ditanam pada dasarian kedua pada bulan November tahun 2003 sampai bulan Februari tahun 2004 serta tanaman jagung manis ditanam pada dasarian kesatu bulan Maret tahun 2004. Kebutuhan air tanaman berbeda pada setiap jenis tanaman dan setiap fase pertumbuhannya. Kebutuhan air tanaman meningkat pada development stage, kemudian menurun lagi pada late season. Selain itu untuk mengetahui perlu atau tidaknya suatu jenis tanaman diberikan air irigasi yaitu apabila CH 75% > Etc (tidak diperlukan irgasi) dan apabila CH 75% < Etc (diperlukan irigasi). Dalam hal ini tanaman yang paling banyak membutuhkan irigasi adalah tanaman jagung manis karena jagung manis merupakan tanaman tipe C4 dimana laju fotosintesisnya optimal dalam penyinaran cahaya penuh. Kc. Tanah Jgg manis 2004

Secara garis besar untuk penanaman tiga tanaman, yaitu buncis, kacang tanah dan jagung manis kebutuhan air sebagian besar telah tercukupi dari curah hujan dimana tanaman jagung yang paling banyak membutuhkan air dibandingkan dua komoditas lainnya. Namun adanya pengairan dari sumber lain (irigasi) tetap diperlukan dalam mengantisipasi kemungkinan drainase yang buruk dari tanah. IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN 1. Evapotranspirasi adalah penguapan total baik dari permukaan air daratan maupun dari tumbuhan. 2. Proses evapotranspirasi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu suhu udara, kelembaban udara, kecepatan angin, tekanan udara, sinar matahari dan ketinggian tempat. 3. Besarnya laju evapotranspirasi terkait dengan ketersediaan air yang perlu diberikan kepada tanaman dalam bentuk kegiatan irigasi. 4. Tanaman buncis ditanam pada dasarian ketiga bulan Januari sampai dasarian pertama bulan April tahun 2003, sedangkan tanaman kacang tanah ditanam pada dasarian kedua pada bulan November tahun 2003 sampai dasarian ketiga bulan Februari tahun 2004 serta tanaman jagung manis ditanam pada dasarian kesatu bulan Maret tahun 2004 sampai dasarian kedua bulan Mei 2004. 5. Kebutuhan air tanaman berdasarkan perhitungan evapotranspirasi dan faktor iklim dapat menentukan tanaman yang cocok untuk ditanam di suatu daerah. 6. Kebutuhan air tanaman berbeda pada setiap jenis tanaman dan setiap fase pertumbuhannya. B. SARAN Dalam praktikum ini sebaiknya juga diajarkan mengenai perhitungan Eto dengan metode Thornwaite, panci evaporasi, dan analisis neraca kelembaban tanah agar semua metode dapat dibandingkan kekurangan dan kelebihan antara satu metode dengan metode yang lainnya.

DAFTAR PUSTAKA Arsyad. 1975. Pemulihan Lahan Kritis. Symposium Pencegahan dan Pemulihan Tanah Kritis dalam rangka Pengembangan Wilayah. Jakarta. Asdak, S. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Mahmud. 1997. Penaksiran Masalah Pengatusan di Lahan Perkebunan (Studi Kasus di PT PG Rajawali II, PG jati Tujuh Cirebon). Pasca sarjana UGM. Yogyakarta. Noordwijk, M. V., A. Fahmuddin, D. Suprayogo, K. Hairiah, G. I. Pasya, V. Farida dan Bruno. 2004. Peranan Agroforestri Dalam Mempertahankan Fungsi Hidrologi Daerah Aliran Sungai (DAS). Agrivita XXVI (1) : 1-9. Pusposutardjo, S. 2001. Pengembangan Irigasi, Usahatani Berkelanjutan dan Gerakan Hemat Air. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Yogyakarta. Radjulaini. 2003. Pemakaian Tiga Metode Water Requirement untuk Memprediksi Luas Sawah Maksimum yang dapat Diairi (Studi Kasus DAS Cikaduen-Jabar). Intoductory Science Philosophy (PPS702) : 4-12. Seyhan, E. 1995. Dasar-dasar Hidrologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Singh, R. P., J. F. parr, dan B. A. Stewart. 1980. Advances in Dryland Agriculture, strategies for Sustainability. Sringer Verlag. Soil Science vol. 13. Sosrodarsono, S dan K. Takeda. 1993 Hidrologi untuk Pengairan. Pradnya Paramitha. Jakarta.

LAMPIRAN a.
Eto

Metode Penman
JAN FEB 4,72 MAR 5,43 APR 5,36 MEI 4,72 JUN 4,5 JUL 4,35 AGS 4,83 SEP 4,6 OKT 4,62 NOV 4,56 DES 4,89

Eto

5,57

Eto Umum =

Eto 58,15 = = 4,85 12 12

Metode Radiasi
JAN FEB 4,43 MAR 5,06 APR 5,09 MEI 4,65 JUN 4,56 JUL 4,55 AGS 4,95 SEP 4,58 OKT 4,35 NOV 4,48 DES 4,48

Eto

5,21

Eto Umum =

Eto 56,39 = = 4,70 12 12

Metode Blaney Criddle


JAN FEB 4,58 MAR 4,98 APR 4,42 MEI 4,34 JUN 4,20 JUL 3,89 AGS 3,92 SEP 3,95 OKT 4,58 NOV 4,53 DES 4,59

Eto

4,64

Eto Umum =

Eto 52,62 = = 4,39 12 12

b. Kc (Koefisien tanaman) Periode Tumbuh (dasarian)


Jenis Tanaman Beans Peanuts Sweet Corn

I 0,35 0,35 0,35

II 0,35 0,35 0,35

III 0,46 0,40 0,53

IV 0,66 0,52 0,87

V 0,86 0,69 1,05

VI 0,95 0,86 1,05

VII 0,95 0,95 1,05

VIII 0,85 0,95 0,95

IX 0,95 -

X 0,95 -

XI 0,75 -

XII -

c. Etc = Kc x Eto umum Periode Tumbuh (dasarian)


Jenis Tanaman Beans Peanuts Sweet Corn

I 1,54 1,54 1,54

II 1,54 1,54 1,54

III 2,02 1,76 2,33

IV 2,90 2,28 3,82

V 3,78 3,03 4,61

VI 4,17 3,78 4,61

VII 4,17 4,17 4,61

VIII 3,73 4,17 4,17

IX 4,17 -

X 4,17 -

XI 3,29 -

XII -

d. Curah Hujan Tahun 2003

BULAN JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOV DES

NILAI CH DASARIAN II III 2 86 0 11 0 0 0 0 0 0 114 34 46 67 0 10 0 0 0 0 1 34 129 131

NILAI CH PELUANG 75% I II III 98,74 63,48 29,86 0 20,84 0 0 0 0 0 0 186,48 0 40,52 0 0 0 0 0 0 0 0 63,48 0 7,72 24,94 0 0 0 0 0 0 0 0 75,78 77,42

157 114 73 18 62 0 0 0 0 13 8 264

Tahun 2004
BULAN JAN 31 43 119 0 FEB 63,6 90,2 23,8 22,15 MAR 112,7 8,8 65,6 62,41 APR 72,8 0 0,4 29,7 MEI 21 10 122,9 0 JUN 0 0 1,5 0 JUL 0 30,3 0 0 AGS 0 0 0 0 SEP 0 0 9,4 0 OKT 0 0 34,2 0 NOV 15,7 26,4 186,4 0 DES 205 64 209 138,1 Keterangan: Peluang CH 75% dihitung dengan rumus (0,82 x CH) 30 I NILAI CH DASARIAN II III NILAI CH PELUANG 75% I II III 5,26 43,96 41,18 0 0 0 0 0 0 0 0 22,48 67,58 23,79 0 70,78 0 0 0 0 0 122,85 141,38