Anda di halaman 1dari 9

Filsafat Ilmu

Di manakah letak filsafat ilmu? Pertanyakan lagi bagaimana gravitasi bisa ada dan apakah gravitasi itu adalah sesuatu yang exist sebagaimana atom hidrogen (H) sebagai atom yang sendiri. Kita tahu hidrogen disimbolkan H, tidak seperti air yang disimbolkan dengan H2O oleh karenanya di sini disebut atom yang sendiri. Pertanyaannya apakah gravitasi itu demikian? Apakah memang gravitasi yang bisa membuat kita jatuh ke tanah? Tidak usah jauh-jauh, apakah hidrogen (H) itu benar-benar sebagai atom yang sendiri? Atau sebenarnya disusun oleh unsur lain? Bodohkah mempertanyakan hal ini? Tidak, karena zaman dahulu air juga diidentifikasi sebagai unsur sendiri dan nyatanya sekarang manusia mengenal air tersusun dan disimbolkan dengan H2O. Memperhatikan paparan di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa kerja penyelidikan terhadap ilmu yang sedemikian rupa itu merupakan aktivitas filsafat ilmu. Berbagai pertanyaan mendasar atau pertanyaan yang menurut orang adalah pertanyaan bodoh boleh diajukan dalam filsafat ilmu. Jadi, jangan ragu untuk berpikir dan selamat berpetualang dalam pikiran! Dalam Islam ilmu merupakan hal yang sangat dianjurkan. Dalam Al Quran kata al-ilm dan kata-kata jadiannya digunakan lebih 780 kali. Hadis juga menyatakan mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Dalam pandangan Allamah Faydh Kasyani dalam bukunya Al Wafi: ilmu yang diwajibkan kepada setiap muslim adalah ilmu yang mengangkat posisi manusia pada hari akhirat, dan mengantarkannya pada pengetahuan tentang dirinya, penciptanya, para nabinya, utusan Allah, pemimpin Islam, sifat Tuhan, hari akhirat, dan hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah. Dalam pandangan keilmuan Islam, fenomena alam tidaklah berdiri tanpa relasi dan relevansinya dengan kuasa ilahi. Mempelajari alam berarti akan mempelajari dan mengenal dari dekat cara kerja Tuhan. Dengan demikian penelitian alam semesta (jejak-jejak ilahi) akan mendorong kita untuk mengenal Tuhan dan menambah keyakinan terhadapnya. Fenomena alam bukanlah realitas-realitas independen melainkan tanda-tanda Allah SWT. Fenomena alam adalah ayat-ayat yang bersifat qauniyyah, sedangkan kitab suci ayat-ayat yang besifat qauliyah. Oleh karena itu ilmu-ilmu agama dan umum menempati posisi yang mulia sebagai obyek ilmu. Ketika kita mendengar kata Filsafat, maka kita akan berpikir tentang sebuah pemikiran yang mendalam dalam mencari sesuatu hakikat. Serta juga kita akan berpikir bahwa kita akan sama cara berpikir kita seperti para pemikir Yunani. Serta pemikiran tersebut hampir bisa dikatakan benar, akan tetapi hal tersebut masilah hal yang umum dan belum tentu jelas serta benar.

Adapun kajian kata Filsafat secara bahasa, terdiri dari dua suku kata. Yaitu kata Philo dan Sophos, Philo yang berarti cinta dan kata Sophos yang berarti hikmah atau ilmu atau bijaksana. Dengan demikian kata Filsafat dapat diartikan sebagai cinta terhadap ilmu atau hikmah, (Abbudin Nata, Hal: 254). Sedangkan menurut Hasbullah Bakry (1986, Hal: 9) mengatakan bahwa Filsafat berarti suka pada kebijaksanaan atau teman bijaksana, maksudnya setiap orang yang berFilsafat akan menjadi bijaksana. Akan tetapi lain lagi dengan Al-Syaibani yang mengatakan bahwa Filsafat berarti mencari hakikat sesautu, berusaha menautkan sebab akibat, dan berusaha menafsirkan pengalamanpengalaman manusia. Hal ini dapat terlihat bahwa kajian Filsafat bukan hanya berpikir keras tanpa ada hasil, melainkan sebuah usaha manusia dalam mencari sebuah hubungan pemikiran dengan pemikiran lainnya untuk menemukan jawaban dalam hidup ini. Adapun dalam Islam kajian ini biasa disebut sebagai Ijtihad.

Pornografi: Soal Etika, Bukan Estetika


BENARKAH penerbitan foto-foto pamer aurat sejumlah artis model yang dikritik dan diprotes masyarakat itu pornografi? Tidak benar, bantah yang diprotes dan para pendukungnya. Para artis model yang menyediakan tubuhnya dipotret, juru fotonya, yang menerbitkan foto-foto itu, yang mendukung penerbitannya, semua mengklaim, gambargambar itu karya seni. Apa Anda tidak menangkap keindahan pada tubuh terbuka dengan pose mana-suka itu berkat kreativitas pencahayaan dan pencetakan yang canggih? Para pornokrat itu juga membela dari sudut kebebasan pers. Perintah instansi kepolisian menarik peredaran majalah yang memuat foto-foto yang dipersoalkan masyarakat dianggap sebagai pelanggaran langsung atas prinsip kebebasan pers. Sejumlah orang pers sendiri mendukung anggapan terakhir ini. Argumen-argumen membela penerbitan pornografi itu umumnya lemah, namun prinsipial karena menggunakan alasan estetika dan kebebasan pers. Estetika modernis Sebenarnya tak ada yang baru dalam kontroversi sekitar pornografi - dari kata Yunani porne artinya 'wanita jalang' dan graphos artinya gambar atau tulisan. Sudah dapat diduga bahwa masyarakat dari berbagai kalangan akan bereaksi terhadap penerbitan gambar-gambar yang dianggap melampaui ambang rasa kesenonohan mereka. Seperti biasanya pula, menghadapi reaksi masyarakat itu, para pornokrat membela dengan menuntut definisi, apa yang seni dan apa yang pornografi? Akan tetapi apa yang membedakan foto-foto buka aurat para artis model itu dengan lukisan perempuan telanjang. Affandi misalnya? Mengapa lukisan Affandi (misalnya Telanjang/ 1947 dan Telanjang dan Dua Kucing/1952) dianggap karya seni, sedang foto-foto pose panas Sophia Latjuba dan kawan-kawan dianggap pornografi? Padahal dibandingkan lukisan perempuan telanjang Affandi yang tubuhnya tampak depan tanpa terlindung sehelai benang pun, foto-foto menantang para artis itu tidak secara langsung memperlihatkan lokasi-lokasi vital-strategisnya! Dari dalam teori estetika, teori tradisional "standar" akan menjawab, perbedaannya terletak dalam cara bagaimana sosok perempuan dengan ketelanjangannya itu diperlakukan atau ditangkap. Kata kuncinya di sini adalah apa yang disebut "pengalaman estetik" yang dirumuskan dalam 3-D: disinterestedness (tak berpamrih), detachment (tak terserap), distance (berjarak - secara emosional). Melihat keindahan, misalnya karya Affandi contoh kita atau ciptaan alam, orang akan mendapat pengalaman estetik, pengalaman yang tak berpamrih apaapa, tak terserap oleh obyek yang dihadapi, dan secara emosional tetap berjarak. Yang sebaliknya terjadi apabila orang melihat gambar-gambar erotis atau pornografi. Foto-foto erotik dan pornografi itu mengundang pamrih, membuat orang terlibat dan terserap. Dalam bahasa teori, lukisan perempuan telanjang Affandi menampilkan nilai intrinsik, dan merupakan tujuan pada dirinya sendiri, lukisan Affandi membangun situasi kontemplatif pada peminatnya. Sebaliknya foto-foto panas pada artis model itu menampilkan nilai ekstrinsik, bertujuan lain di luar dirinya (promosi, meningkatkan penjualan, membangkitkan syahwat, kekerasan seksual); foto-foto panas para artis model itu membangun situasi pragmatik untuk bertindak "strategis" (menguasai, merayu, memaksa, dan seterusnya).

Pernyataan pengasuh salah satu penerbitan itu "Kami punya segmen pasar sendiri", sudah menjelaskan ini. Apakah lukisan perempuan telanjang Affandi tidak mungkin membangkitkan birahi yang melihatnya? Tentu saja mungkin dan bisa. Apabila itu terjadi, atau lukisan Affandi itu gagal sebagai karya seni, atau penonton itu sendiri belum cukup memiliki kesiapan, pengalaman, apresiasi, dan seterusnya untuk memperoleh pengalaman estetik dari melihat lukisan tersebut. Disamping itu, sebagai karya representasional, seni lukis itu unik, sedang foto-foto perempuan model itu tidak unik. Orang dapat mencetak foto-foto para model itu seberapa pun banyaknya dengan mutu persis sama, tetapi mustahil menduplikasi lukisan telanjang Affandi tanpa kehilangan segala kualitas yang ada pada lukisan aslinya. Pada yang kedua perbanyakan bisa tetap dengan produksi, tetapi pada yang pertama perbanyakan hanya pada tingkat reproduksi. Namun seperti sudah disebutkan, itu adalah faham teori estetika standar dominan, yang kini disebut juga teori modernis. Sejak awal 1970-an faham estetika modernis itu sudah mendapat tantangan kuat dari aliran yang disebut post-modern (posmo) yang menolak pandangan estetika modernis itu. Teori modernis, sebagai bagian dari pandangan filsafat kemajuan (progress) abad 19 yang menganggap sejarah sebagai proses kemajuan yang berlangsung linier, percaya pada peran besar seni dan seniman dalam yang disebutnya kemajuan sosial. Teori modernis dapat dianggap mencakup seni borjuis dan estetisme, dua tipologi terakhir dari empat tipologi Peter Burger yang dimulai dari Seni Sakral dan Seni Istana. Seni modern telah melepaskan diri dari institusi (gereja maupun istana), membangun wilayahnya sendiri dengan kedudukan seniman yang dianggap otonom. Bagi estetika modernis perempuan tanpa baju (nude female) tidaklah sama dengan wanita bugil (naked woman). Lukisan Affandi adalah lukisan perempuan tanpa baju, perempuan dalam keadaan alamiah; tetapi pornografi adalah foto-foto wanita bugil atau setengah bugil, wanita yang mempertontonkan auratnya. Ketelanjangan yang diekspresikan lukisan Affandi bukan aspek seksual perempuan itu melainkan apa yang disimbolkannya (kesuburan, kelembutan, dan sebagainya); ketelanjangan yang diekspresikan pornografi adalah keperempuanan yang telah mendapat makna sosial sehari-hari (pembangkit gairah seks, komoditas yang bisa dijual, dan seterusnya). Estetika modernis membuat pagar pemisah antara yang disebut seni murni (high art) dari yang biasa-biasa atau sekadar seni pop. Tantangan posmodern Posmodern menolak pandangan estetika modernis itu. Posmo membongkar pagar pemisah seni tinggi dan seni pop, dan menganggap seni tidak bisa dipisahkan dari bidang-bidang kehidupan lain, ekonomi, politik, dan sosial. Apakah seni tinggi atau seni rendah, sama-sama merupakan bagian dari kecenderungan yang mendominasi kehidupan sosial. Bagi posmodern tak masuk akal membedakan dua perempuan sama-sama terbuka auratnya, yang satu disebut perempuan dalam keadaan alamiah yang lainnya disebut wanita bugil, keduanya adalah perempuan telanjang sebagai obyek. Masalahnya bukan bahwa yang satu karya seniman yang lain bukan, melainkan bahwa perempuan-perempuan telanjang itu, sejak zaman klasik sampai ke mutakhir, ditampilkan sebagaimana lelaki ingin melihatnya. Gambargambar perempuan telanjang, apakah lukisan, patung, foto-foto, bagi posmo hanya menegaskan struktur masyarakat yang patriarkis. Taruhlah perempuan telanjang lukisan

Affandi hendak menampilkan perempuan sebagai simbol kesuburan, tetapi siapa yang menentukan makna itu? Karena itu bagi posmo, tak ada gunanya definisi seni, karena masalahnya bukan mendefinisikan apa itu seni, apa itu indah, melainkan siapa yang mengendalikan dan mendominasi kehidupan sosial kita. Yang terjadi selama ini adalah ideologisasi seni, dan dalam soal kontroversi pornografi masalahnya adalah eksploitasi dan marginalisasi perempuan. Ironisnya, para perempuan model itu ikut ambil bagian dalam proses penistaan martabatnya sendiri. Seni atau bukan, bermutu atau tidaknya suatu karya, bagi posmo tidak ditentukan oleh suatu kriteria obyektif, melainkan oleh ideologi politik yang dominan. Kaum Marxis atau komunis akan membuat kriteria yang disebutnya realisme sosialis dengan semboyan seni untuk rakyat, yang lain barangkali memperjuangkan yang disebutnya humanisme universal dengan semboyan seni untuk seni. Semua aliran itu mengklaim kriterianya obyektif, tetapi sebenarnya tujuannya menyeragamkan ukuran saja. Posmodern menolak penyeragaman. Bagi modernis kriteria estetik lebih diletakkan pada seniman, pada posmodern kriteria ada pada siapa saja. Memang kritik utama terhadap posmodern adalah relativismenya yang bahkan menjurus ke anarkisme. Rambu etika dan justisia Namun jelas sudah, baik estetika modernis maupun posmodern, sama-sama menolak pornografi, meski dengan alasan berbeda. Estetika modernis tegas menganggap pornografi bukan seni dan merekomendasikan agar pornografi ditiadakan atau dikontrol ketat karena secara sosial berbahaya. Estetika posmodern juga merekomendasikan pornografi dienyahkan, bukan karena pertimbangan seni atau bukan seni, melainkan karena mengeksploitasi keperempuanan sebagai komoditas, dan merendahkan martabat perempuan. Jadi pornografi tidak dapat dibela dari dalam teori estetika, lama maupun baru. Pornografi memang bukan masalah estetika, melainkan masalah etika. Setiap masyarakat memiliki standar moralitas yang tanpa itu eksistensi masyarakat itu sendiri goyah atau bahkan berakhir. Moralitas pada dasarnya berfungsi melindungi baik dunia sosial bersama maupun dunia subyektif masing-masing individu. Tentu standar moralitas itu juga berkembang bersama perkembangan masyarakat pendukungnya. Potensi-potensi kreatif dalam masyarakat sewaktu-waktu akan tampil menawarkan alternatif, juga unsur-unsur luar akan ikut bertarung mendapatkan tempat berpijak dalam masyarakat. Akan tetapi di pihak lain, masyarakat dan setiap anggotanya, berhak melindungi diri dan eksistensinya dari apa-apa yang dianggap immoral, baik yang sifatnya sekadar bertentangan dengan standar moralitas yang ada (seperti mempublikasikan gambar-gambar erotik dan pornografi), maupun yang dikhawatirkan dapat membawa konsekuensi fundamental terhadap tata-nilai dan tata-hubungan-sosial yang masih diakui (misalnya tuntutan melegalkan homoseksual, perkawinan sesama jenis). Realisasi hak itu adalah penggunaan institusi perangkat hukum yang ada oleh masyarakat. Inilah landasan moral pelarangan pornografi berikut ancaman sanksi hukumnya. Dan justru karena merupakan masalah etika, pornografi tidak dapat berlindung di belakang kebebasan pers. Apa yang disebut kebebasan pers bukan kebebasan subyektif yang berkaitan

dengan etika privat, melainkan kebebasan yang sifatnya politik berkaitan dengan etika sosial. Artinya, kebebasan pers tidak dapat dilepaskan dari keterikatannya pada ruang sosial bersama. Kebebasan pers merupakan hak yang sifatnya korelatif, hak untuk terealisasinya hak lain, yaitu hak warga untuk mendapat informasi serta hak menyatakan pendapat dan mengontrol kekuasaan, kekuasaan negara atau pemerintah, tetapi juga kekuasaan masyarakat, termasuk kekuasaan pers sendiri. Jadi dasar legitimasi kebebasan pers konstruktif, tidak bisa destruktif. Adalah konstruktif, dan karenanya absah, apabila kebebasan pers digunakan membongkar kasus perkosaan, tetapi adalah destruktif apabila kebebasan pers itu digunakan menggambarkan secara sensasional bagaimana perkosaan itu berlangsung. Kata seorang pemikir, dalam diri setiap kita bertemu konflik kehendak dan hierarki kehendak, dan moralitas dapat memberi petunjuk menentukan prioritas kehendak yang tidak konflik dengan tata-nilai yang masih diakui absah dalam dunia sosial bersama. Tetapi di tangan yang tak kompeten, kebebasan pers memang rawan penyalahgunaan. Karena itu, di samping rambu etik, yang prinsip positifnya sudah dirumuskan sendiri dalam yang disebut kode etik pers, kebebasan pers memerlukan juga kawalan rambu-rambu yustisia.

Salah satu ciri khas dari manusia adalah sifatnya yang selalu ingin tahu tentang berbagai hal. Rasa ingin tahu ini tidak terbatas yang ada pada dirinya, tetapi juga ingin tahu tentang lingkungan sekitarnya, bahkan sekarang ini rasa ingin tahu berkembang ke arah dunia luar. Rasa ingin tahu ini tidak dibatasi oleh peradaban dan muncul sejak manusia lahir di muka bumi ini. Semua umat manusia yang hidup di dunia mempunyai rasa ingin tahu walaupun variasi dan takaran keingintahuannya berbeda-beda. Orang tinggal di tempat peradaban yang masih terbelakang memiliki rasa ingin yang berbeda dibandingkan dengan orang yang tinggal di tempat maju (Soeparto, 2000). Rasa ingin tahu tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam sekitar terkadang bersifat sederhana dan juga kompleks. Rasa ingin tahu yang bersifat sederhana didasari dengan rasa ingin tahu tentang apa (Ontologis), sedangkan rasa ingin tahu yang bersifat kompleks meliputi kelanjutan pemikiran tentang bagaimana peristiwa tersebut dapat terjadi dan mengapa peristiwa itu terjadi (Epistemologis), serta manfaat apa yang didapat dari mempelajari peristiwa tersebut (Aksiologis) (Suriasumantri, 1982). Ketiga landasan utama filsafat ilmu di atas, yaitu Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis merupakan ciri spesifik dalam penyusunan pengetahuan yang menjelaskan keilmiahan ilmu tersebut. Ketiga landasan ini saling terkait satu sama lain dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Berbagai usaha spekulatif yang bersistem, mendasar dan menyeluruh dilaksanakan untuk mencapai atau memecahkan peristiwa yang terjadi di alam dan di lingkungan sekitar. Bila usaha tersebut berhasil dicapai, maka diperoleh apa yang kita katakan sebagai ilmu dan pengetahuan (Suriasumantri, 1982). Sama halnya ketika meninjau Ilmu Kedokteran Reproduksi sebagai sebuah ilmu yang ilmiah dan membedakannya dengan pengetahuan-pengetahuan yang didapatkan melalui cara lain. Beberapa akademisi dan masyarakat awam di Indonesia memang masih kurang familiar terhadap eksistensi ilmu kedokteran reproduksi terutama karena kajian dan wacana akademis yang sangat terbatas dan kurang terintegrasi. Namun sebagai suatu ilmu yang telah diakui secara luas, ilmu kedokteran reproduksi berkembang seiring kompleksitas permasalahan yang ada dengan ketertarikan-ketertarikan ilmiah yang mulai bergairah dan perlahan menunjukkan eksistensi ilmu ini ke arah kemapanan. Secara garis besar, pengertian reproduksi lebih berkaitan dengan aktifitas manusia untuk mendapatkan keturunan, tetapi untuk itu tentu saja diperlukan organ kelamin dan dorongan seksual juga. Sedangkan seksualitas atau seks berarti jenis kelamin yang merupakan dimensi lain dari reproduksi manusia yang jauh lebih luas karena meliputi semua aspek nilai, sikap, orientasi dan perilaku yang bersifat pribadi dan tidaklah sama dengan kemampuan seseorang untuk sekedar memberikan reaksi erotik (Pangkahila, 2001). Perkembangan Ilmu Kedokteran sendiri sebagai induk Ilmu Kedokteran Reproduksi tidak lepas dari sosok Hippocrates yang dikenal sebagai Bapak Ilmu Kedokteran Modern. Hippocrates menjadi sangat berjasa karena Sumpah-nya yang sampai saat ini menjadi dasar Sumpah Kedokteran di seluruh dunia. Hippocrates adalah gambaran sosok filsuf yang mengabdikan seluruh hidupnya bagi usaha kemanusiaan, berkelana menuntut ilmu sambil melakukan pengabdian kepada sesamanya di bidang pengobatan. Karya-karya ilmiah Hippocrates dalam bidang kesehatan masih menjadi rujukan saat ini. Hippocrates mengubah paradigma ilmu pengobatan yang dahulu berbasis supranatural (tradisional) menjadi ilmu yang berbasis ilmiah (evidence based medicine). Hippocrates

berhasil menggabungkan ilmu filsafat dengan ilmu kedokteran, dan Hippocrates pula yang mengatakan bahwa ilmu kedokteran adalah suatu seni (Wikipedia, 2007). Ontologis Ilmu Kedokteran Reproduksi Kajian ontologis spesifik menjawab hakekat suatu ilmu dan membahas tentang apa itu yang ingin diketahui. Ontologis berperan dalam perbincangan mengenai pengembangan ilmu, asumsi dasar ilmu dan konsekuensi penerapan ilmu. Ontologis merupakan sarana ilmiah untuk menemukan jalan penanganan masalah secara ilmiah. Ontologis berperan dalam proses konsistensi ekstensif dan intensif dalam pengembangan ilmu (Van Peursen, 1985). Ontologis merupakan salah satu obyek lapangan penelitian kefilsafatan yang paling kuno. Dasar ontologis dari ilmu berhubungan dengan materi yang menjadi obyek penelaahan ilmu, ciri esensial obyek yang berlaku umum. Ontologis ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh indera manusia. Jadi kajian ontologis masih dalam jangkauan pengalaman manusia atau obyeknya bersifat empiris dapat berupa material, seperti ide-ide, nilai, tumbuhan, binatang, batu-batuan dan manusia itu sendiri (Supriyanto, 2003). Ilmu Kedokteran Reproduksi berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari aspek reproduksi dan seksualitas manusia ditinjau dari sisi kedokteran. Ilmu ini menjadikan organ reproduksi dan seksual manusia sebagai obyek utama dalam pembelajarannya. Secara empiris, berbagai gejala yang dapat diamati indera, kondisi klinis yang normal maupun abnormal (penyakit) dan pengalaman pada fungsi organ reproduksi dan seksual manusia, semuanya akan ditelaah seutuhnya dalam ilmu kedokteran reproduksim, baik yang terlihat jelas (organ kelamin), berukuran mikros (sel sperma dan telur) dan psikososial (gangguan psikis), dan bukan mengkaji benda jasmani saja. Bagaimana tatanan dan struktur dari obyek yang dipelajari ilmu kedokteran reproduksi sebagai doktrin berpendekatan holistik, hendaknya terlebih dahulu memandang aspek reproduksi manusia sebagai suatu sistem keseluruhan yang membentuk manusia selaku obyek sekaligus juga subyek. Tidak lupa untuk tetap memperhatikan keadaan lingkungan sebagai variabel bebas yang secara tidak langsung turut serta mempengaruhi kondisi kejiwaan manusia sebagai obyek. (Pangkahila, 2001) Wujud hakiki dari obyek yang ditelaah ilmu kedokteran reproduksi adalah berbagai kondisi pada organ reproduksi dan seksual manusia terutama permasalahan-permasalahan yang dapat diamati dan dirasakan indera, dan penyakit ataupun gangguan yang mempengaruhi status kesehatan umum. Abstraksi wujud dari obyek tersebut haruslah dapat dinilai, apakah dalam keadaan normal atau sakit, dan bagaimana pengaruhnya pada produktifitas individu manusia secara keseluruhan. Gangguan apa yang terjadi pada sistem reproduksi maupun seksual. Solusi kongkrit apa saja, guna menanggulangi kemungkinan turunnya produktifitas manusia yang bersangkutan. Sedangkan hubungan wujud obyek telaah ilmu kedokteran reproduksi dengan daya tangkap manusia adalah bersifat sebab-akibat dan linear. Suatu kondisi bisa memperburuk fungsi organ reproduksi dan seksual, seperti terjadinya proses penuaan, perilaku yang beresiko, munculnya keganasan sel, kriminalitas biologi, ketimpangan gender, buruknya higienis pribadi dan rendahnya sanitasi lingkungan dan lainnya. Sebaliknya dengan menerapkan pola hidup yang bersih dan sehat, menghindari penyebaran infeksi, menjaga kebugaran tubuh,

memperbaiki higienis dan sanitasi, serta menghormati hak asasi bisa menjadi pilihan ampuh untuk kondisi kesehatan yang lebih baik Telaah epistemologis merupakan cabang dari filsafat ilmu yang berurusan dengan hakikat, teori dan ruang lingkup bagaimana proses menjadi ilmu. Meliputi pengandaianpengandaian dan dasar-dasar serta pertanggungjawaban atas pertanyaan mengenai ilmu pengetahuan yang dimiliki. Epistemologis membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk memperoleh ilmu pengetahuan terutama yang berkaitan dengan metode keilmiahan dan sistematika isi dari berbagai ilmu termasuk ilmu kedokteran reproduksi. Metode keilmuan merupakan suatu prosedur wajib yang mencakup berbagai tindakan, pemikiran, pola kerja, cara teknis, dan tata langkah untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang baru atau sebaliknya mengembangkan wawasan yang telah ada. Sedangkan sistematisasi isi ilmu dalam hal ini berkaitan dengan batang tubuh dari ilmu pengetahuan, letak peta dasar, pengembangan ilmu pokok dan cabang ilmu yang akan dibahas di sini (Purnomo, 2007). Salah satu ciri yang patut mendapat perhatian dalam epistemologis dari perkembangan ilmu pada masa modern adalah munculnya pandangan baru mengenai ilmu pengetahuan. Pandangan itu merupakan kritik terhadap pandangan Aristoteles, yaitu bahwa ilmu pengetahuan yang sempurna tidak boleh mencari keuntungan, namun haruslah bersikap kontemplatif. Diganti dengan pandangan bahwa ilmu pengetahuan justru harus mencari untung yang artinya dipakai untuk memperkuat kemampuan manusia di bumi ini (Bakhtiar, 2005). Guna menjawab bagaimana proses umum menimba ilmu pengetahuan khususnya ilmu kedokteran reproduksi, maka selayaknya didahului dengan pemikiran sederhana yang bersumber dari pengalaman empiris manusia. Berbagai fenomena yang terjadi, faktual di seputar organ reproduksi dan seksual, seperti gangguan fungsi seksual, sikap pro-kontra terhadap kontrasepsi, epidemi IMS dan lainnya. Kemudian akan dirangkum, dibuatkan suatu karya penelitian dengan metode tertentu yang rasional untuk mencari dan menjawab teori secara ilmiah, apakah ilmu tersebut dapat diterima atau tidak.