Anda di halaman 1dari 28

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA Tn.

R DENGAN ASMA

Disusun oleh:

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PAYUNG NEGERI PROGRAM KHUSUS DIII KEPERAWATAN PEKANBARU TA: 2013
5

BAB I KONSEP DASAR A PENGERTIAN Asma adalah penyakit pernapasan obstruktif yang ditandai oleh spasme otot polos bronkiolus. (Corwin E.J., 2001 : 430) Asma adalah obstruksi akut pada bronkus yang disebabkan oleh penyempitan yang intermiten pada saluran napas di banyak tingkat mengakibatkan terhalangnya aliran udara. (Stein J.H., 2001 : 126) Asma merupakan gangguan inflamasi kronik jalan napas yang mengakibatkan berbagai sel inflamasi. Dasar penyakit ini adalah hiperaktivitas bronkus dalam berbagai tingkat, obstruksi jalan nafas dan gejala pernafasan (mengi atau sesak). (Mansjoer A., 1999 : 476-477) Asma adalah gangguan pernapasan pada bronkus yang menyebabkan penyempitan intermiten pada saluran pernafasan. B 1 ETIOLOGI Secara etiologis asma dibagi dalam 3 tipe : Asma tipe non atopik (intrinsik) Pada golongan ini, keluhan tidak adanya hubungan dengan paparan (exposure) terhadap alergen dan sifat-sifatnya adalah : a b c d e f 2 Serangan timbul setelah dewasa. Pada keluarga tidak ada yang menderita asma. Penyakit infeksi sering menimbulkan serangan. Ada hubungan dengan pekerjaan dan beban fisik. Rangsangan / stimuli psikis mempunyai peran untuk menimbulkan serangan reaksi asma. Perubahan-perubahan cuaca atau lingkungan yang non spesifik merupakan keadaan yang peka bagi penderita. Asma tipe atopik (ekstrinsik) Pada golongan ini, keluhan ada hubungannya dengan paparan (exposure) terhadap alergen yang spesifik. Kepekaan ini biasaanya

ditimbulkan dengan uji kulit atau provokasi bronkial. Pada tipe ini mempunyai sifat-sifat : a b c d e 3 Timbul sejak kanak-kanak Pada famili ada yang mengidap asma Ada eksim waktu bayi Sering menderita rinitis Di Inggris penyebabnya house dust mite, di USA tepung sari bunga rumput Asma Campuran (mixed) Pada golongan ini, keluhan diperberat oleh faktor-faktor intrinsik maupun ekstrinsik. (Alsagaff, H. dkk.1993 : 2) C MANIFESTASI KLINIS Gejala yang timbul biasanya berhubungan dengan beratnya derajat hiperaktivitas bronkus. Obstruksi jalan nafas dapat reversibel secara spontan, maupun dengan pengobatan. Gejala-gejala asma antara lain : 1 2 3 D Bising mengi (Wheezing) yang terdengar dengan atau tanpa stetoskop. Batuk produktif, sering pada malam hari. Napas atau dada seperti tertekan. (Mansjoer A., 1999 : 477) PATOFISIOLOGI Asma adalah obstruksi jalan napas difus reversibel. Obstruksi disebabkan oleh satu atau lebih dari yang berikut ini : 1 2 3 Kontraksi otot yang mengelilingi bronki, yang menyempitkan jalan napas. Pembengkakan membran yang melapisi bronki. Pengisian bronki dengan mukus yang kental. Selain itu otot otot bronkial dan kelenjar mukosa membesar; sputum yang kental, banyak dihasilkan dan alveoli menjadi hiperinflasi, dengan udara terperangkap di dalam jaringan paru. Mekanisme yang pasti dari perubahan ini tidak diketahui, tetapi apa yang paling diketahui adalah keterlibatan sistem imunologis dan sistem saraf otonom. Beberapa individu dengan asma mengalami respon imun yang buruk terhadap lingkungan mereka. Antibodi yang dihasilkan (IgE) kemudian

menyerang sel-sel mast dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen mengakibatkan ikatan antigen dengan antibodi, menyebabkan pelepasan selsel mast (disebut mediator) seperti histamin, bradikinin, dan prostaglandin serta anafilaksis dari substansi yang bereaksi lambat (SRS A). Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan napas, menyebabkan bronkospasme, pembengkakan membran mukosa, dan pembentukan mukus yang sangat banyak. Sistem saraf otonom mempersarafi paru. Tonus otot bronkial diatur oleh impuls saraf vagal melalui sistem parasimpatis. Pada asma idiopatik atau nonalergi, ketika ujung saraf pada jalan napas dirangsang oleh faktor seperti infeksi, latihan, dingin, merokok, emosi dan polutan, jumlah asetilkolin yang dilepaskan meningkat. Pelepasan asetilkolin ini secara langsung menyebabkan bronkokonstriksi juga merangsang pembentukan mediator kimiawi yang dibahas di atas. Individu dengan asma dapat mempunyai toleransi rendah terhadap respon parasimpatis. Selain itu reseptor dan - adrenergik dari sistem saraf simpatis terletak dalam bronki. Ketika reseptor -adrenergik dirangsang, terjadi bronkokonstriksi, bronkodilatasi terjadi ketika reseptor -adrenergik yang dirangsang. Keseimbangan antara reseptor dan -adrenergik dikendalikan terutama oleh siklik adenosin monofosfat (cAMP). Stimulasi reseptor-alfa mengakibatkan penurunan cAMP, yang mengarah pada peningkatan mediator kimiawi yang dilepaskan oleh selsel mast bronkokonstriksi. Stimulasi reseptor-beta mengakibatkan peningkatan tingkat cAMP, yang menghambat pelepasan mediator kimiawi dan menyebabkan bronkodilatasi. Teori yang diajukan ialah bahwa penyekatan -adrenergik terjadi pada individu dengan asma. Akibatnya, asmatik rentan terhadap peningkatan pelepasan mediator kimiawi dan konstriksi otot polos. (Smeltzer, S.C., 2001 : 611-612) E PEMERIKSAAN LABORATORIUM Unsur-unsur yang harus dinilai adalah obstruksi aliran udara dan pertukaran gas :

Spirometri di tempat tidur atau pengukuran laju ekspirasi puncak (PEFR) Spirometri akan memberikan volume ekspirasi paksa dalam 1 detik (FEV 1.0) tetapi pasien yang menderita bronkospasme akut mungkin tidak dapat melakukan manuver ekspirasi paksa secara lengkap. Karena usaha ini akan memperberat gejala.

Analisa gas darah arteri Bila PaCO2 normal (30-40 mmHg) atau meningkat dapat segera mengalami kegagalan. Pernapasan akut dan harus dirawat di rumah sakit tanpa ditunda lagi.

Pulasan sputum dengan gram atau wright dapat mematikan adanya infeksi saluran napas bagian bawah kalau terdapat banyak leukosit dan patogen yang terutama terdiri atas bakteri. (Stein, J.H., 1998 : 128-129)

F 1

PENATALAKSANAAN Pengobatan medikamentosa : Waktu serangan a 1 2 3 b c d e 2 a b 1 Bronkodilator Golongan adrenergik Golongan methylxanthine Golongan antikolinergik Antihistamin Kortikosteroid Antibiotika Ekspektoransia Disodium chromoglycate (DSCG) Ketotiten Pengobatan nonmedikamentosa : Waktu serangan a b c Pemberian oksigen (O2) Pemberian cairan Drainase postural

Di Luar serangan

d 2 a b c adalah: 1 2 3 4 5 6

Menghindari alergen Pendidikan Imunoterapi / desensifikasi Pelayanan / kontrol emosi. (Alsagaff H.,1993:5) Menurut Mansjoer A. dkk (1999 : 477-479) tujuan dari terapi asma

Di Luar serangan

Menyembuhkan dan mengobati gejala asma. Mencegah kekambuhan. Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta mempertahankannya. Mengupayakan aktifitas harian pada tingkat normal termasuk melakukan exercise. Menghindari efek samping obat asma. Mencegah obstruksi jalan nafas yang irreversibel. Terapi awal yaitu :

1 2

Oksigenasi 4-6 liter/menit Agonis -2 (salbutamol 5 mg atau feneterol 2.5 mg atau terbutalin 10 mg) inhalasi nebulasi dan pemberian dapat diulang setiap 20 menit sampai 1 jam. Pemberian agonis -2 dapat secara subcutan atau IV dengan dosis salbutamol 0,25 mg atau terbutalin 0,25 mg dalam larutan dekstrosa 5 % dan diberikan berlahan.

3 4

Aminofilin bolus IV 5-6 mg/kg BB, jika sudah menggunakan obat ini dalam 12 jam sebelumnya maka cukup diberikan setengahnya saja. Kortikosteroid hidrokortison 100-200 mg IV jika tidak ada respon segera atau pasien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat berat.

PATHWAY

H 1

KONSEP KEPERAWATAN Pengkajian a Aktivitas / Istirahat Pada pasien asma akan ditemukan gejala letih, lelah, malaise, ketidak mampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit bernapas, ketidak mampuan tidur, perlu tidur dalam posisi duduk

tinggi, dispnea pada saat istirahat, atau respons terhadap aktivitas atau latihan. b Sirkulasi Pembengkakan pada ekstremitas bawah, peningkatan TD, tachycardia berat, warna kulit / membran mukosa : normal/ cyanosis. c Integritas Ego Pasien ini akan terdapat gejala peningkatan faktor risiko, perubahan pola hidup, ansietas, ketakutan dan peka rangsang. d Makanan / Cairan Mual / muntah, ketidak mampuan untuk makan karena distress pernapasan, turgor kulit buruk, berkeringat, oedema dependent. e Pernapasan Napas pendek khususnya pada kerja, cuaca atau episode berulangnya sulit napas, rasa tertekan di dada, ketidak mampuan untuk bernapas, ronkhi, mengi sepanjang area paru atau pada ekspirasi dan kemungkinan. Selama inspirasi berlanjut sampai penurunan atau tak adanya bunyi napas, bunyi pekak pada area paru dan kesulitan bicara kalimat atau lebih dari 4 atau 5 kata sekaligus. f Hygiene Penurunan kemampuan / peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari, kebersihan buruk, bau badan. g Keamanan Riwayat alergi terhadap zat / faktor lingkungan, adanya / berulangnya infeksi, kemerahan / berkeringat. h i Seksualitas Penurunan libido. Interaksi sosial Hubungan ketergantungan, kurang sistem pendukung, penyakit lama atau ketidak mampuan membaik, ketidak mampuan untuk membuat / mempertahankan suara karena distress pernapasan, keterbatasan mobilitas fisik.

Penyuluhan / Pembelajaran Penggunaan / penyalah gunaan obat pernapasan, kesulitan menghentikan merokok, kegagalan untuk membaik.

Diagnosa Keperawatan a 1 Inefektif kebersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi mukus, kekentalan sekresi, dan bronkospasme. Kriteria hasil : a b c 2 a (1 (2 (3 Mendemonstrasikan batuk efektif. Mencari posisi yang nyaman untuk memudahkan peningkatan pertukaran udara. Menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi. Instruksikan klien pada metode yang tepat dalam mengontrol batuk; Napas dalam dan perlahan sambil duduk setegak mungkin. Gunakan napas diafragmatik. Tahan napas selama 3-5 detik dan kemudian hembusan sebanyak mungkin melalui mulut (sangkar iga bawah dan abdomen harus turun). (4 Ambil napas kedua, tahan dan batuk dari dada (bukan dari belakang mulut / tenggorokan) dan menggunakan napas pendek, batuk kuat. (5 b Demonstrasikan pernapasan pursed-lip. Pertahankan hidrasi adekuat : meningkatkan masukan cairan 2 sampai 4 liter per hari bila tidak dikontra indikasi penurunan curah jantung/gagal ginjal. c d 3 a Auskultasi paru-paru sebelum dan sesudah tindakan. Dorong / berikan perawatan mulut. Batuk yang tidak terkontrol melelahkan dan inefektif, menimbulkan frustasi. Intervensi :

Rasional :

(1 (2 (3 (5 b

Duduk tegak menggeser organ abdominal menjauhi paru memungkinkan ekspansi lebih besar Pernapasan diafragmatik menurunkan frekuensi pernapasan dan meningkatkan ventilasi alveolar. & (4) Peningkatan volume udara dalam paru meningkatkan pengeluaran sekret. Pernapasan pursed-lip memanjangkan ekshalasi untuk menurunkan udara yang terperangkap Sekresi kental sulit untuk dikeluarkan dan dapat

menyebabkan sumbatan mukus yang dapat menimbulkan atelektasis. c d Pengkajian ini membantu mengevaluasi keberhasilan tindakan Hygiene mulut yang baik meningkatkan rasa sehat dan mencegah bau mulut. (Carpenito, L.J., 1999 : 131, Doenges, 1999 :166) b Kerusakan pertukaran gas berhubungkan dengan gangguan suplai oksigen (obstruksi jalan napas oleh sekresi, spasme broncus), kerusakan alveoli. 1 Hasil yang diharapkan : a Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigen jaringan adekuat dengan AGD (Analisa Gas Darah) dalam rentang normal dan bebas gejala distres pernafasan. b 2 Berpartisipasi dalam program pengobatan dalam tingkat kemampuan atau situasi Intervensi keperawatan : a b c d Kaji frekwensi kedalaman pernafasan Tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernafas. Batasi aktivitas pasien atau dorong untuk istirahat tidur Awasi tanda-tanda vital.

Rasional a b Manifestasi distres pernapasan tergantung pada/indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum. Tindakan ini meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan pengeluaran sekret untuk memperbaiki ventilasi (rujuk pada DK : bersihan jalan nafas tak efektif). c Mencegah infeksi. d Demam tinggi sangat meningkatkan kebutuhan metabolik dan kebutuhan oksigen dan mengganggu oksigenasi seluler. (Doenges E., 2000 : 168) terlalu lelah dan menurunkan kebutuhan/konsumsi oksigen untuk memudahkan perbaikan

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dispnea, kelemahan, efek samping obat, produksi sputum, anoreksia / mual-muntah. 1 Kriteria hasil : a b 2 Menunjukkan peningkatan berat badan menuju tujuan yang tepat. Menunjukkan perilaku / perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan/atau mempertahankan berat badan yang tepat. Intervensi : a b c d 3 a b Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini Berikan perawatan oral sering, buang sekret, berikan tempat khusus untuk sekali pakai dan tisu Berikan makanan porsi kecil tapi sering Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat Sering anoreksia karena dispnea, produksi sputum dan obat. Rasa tidak enak, bau dan penampilan adalah pencegahan utama terhadap nafsu makan dan dapat membuat mual dan muntah dengan peningkatan kesulitan napas.

Rasional :

c d

Membantu untuk meningkatkan kalori total Dapat menghasilkan distensi abdomen yang mengganggu nafas abdomen dan gerak diafragma, dan dapat meningkatkan dispnea. (Doenges M.E., 2000 : 159)

Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan utama (penurunan kerja silia, menetapnya sekret), tidak adekuatnya imunitas (kerusakan jaringan, peningkatan pemajanan pada lingkungan, proses penyakit kronis, malnutrisi).

Kriteria hasil : Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi.

Intervensi : a b c d Awasi suhu Tunjukkan dan bantu pasien tentang pembuangan tisu dan sputum. Diskusikan kebutuhan masukan nutrisi adekuat. Kolaborasi : Berikan antimikrobial sesuai indikasi Demam dapat terjadi karena infeksi / dehidrasi Mencegah penyebaran patogen melalui cairan Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi. d Dapat diberikan untuk organisme khusus yang teridentifikasi dengan kultur dan sensitivitas atau diberikan secara profilaktik karena resiko tinggi. (Doenges M.E., 2000 : 162)

Rasional : a b c

Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, tindakan berhubungan dengan kurang informasi / tak mengenal sumber

informasi, salah mengerti tentang informasi, kurang mengingat / keterbatasan kognitif. 1 Kriteria hasil : a b 2 Menyatakan pemahaman kondisi / proses penyakit dan tindakan. Mengidentifkasi hubungan tanda / gejala yang ada dari proses penyakit dan menghubungkan dengan faktor penyebab. Intervensi : a b c Jelaskan / kuatkan penjelasan proses penyakit individu. Instruksikan / kuatkan rasional untuk latihan napas, batuk efektif dan latihan kondisi umum. Anjurkan menghindari agen sedatif antiansietas kecuali diresepkan / diberikan oleh dokter mengobatai kondisi pernapasan. d e Tekankan pentingnya perawatan oral / kebersihan gigi. Diskusikan faktor individu yang meningkatkan kondisi, misal : udara terlalu kering, angin, lingkungan dengan suhu ekstrim, serbuk, asap tembakau, sprei aerosol, polusi udara, dorong klien / orang terdekat untuk mencari cara mengontrol faktor ini dan faktor di rumah. (Doenges M.E., 2000 : 162) Asuhan Keperawatan Pada Sdr. R Dengan Gangguan Pola Pernafasan sehubungan dengan Asma di Gedung Zamrud RSU dr Slamet Garut A 1 a
Pengkajian Biodata Biodata klien Nama Umur Jenis kelamin Alamat : Tn. R : 77 tahun : Pria : Kp. Nangela Kec. Bayongbong Garut

Agama Pendidikan Pekerjaan Suku bangsa Status Tanggal masuk Tanggal pengkajian No. CM

: Islam : SD : buruh : Sunda : Menikah : 27-09-2010 : 27-09-2010 : 01321592 Biodata penanggung jawab

b
Nama Umur

: Ny. O : 65 tahun : wanita : Kp. Nangela Kec. Bayongbong Garut : Islam : SR/SD : buruh : Istri klien

Jenis kelamin Alamat Agama Pendidikan Pekerjaan Hubungan dengan klien

Riwayat kesehatan

a b

Keluhan utama

Klien mengeluh sesak nafas


Riwayat kesehatan sekarang

Klien mengeluh sesak dikarenakan ada benda asing yang masuk (debu). Kualitas sesak sedang, nafas terengah-engah dan merasakan sesaknya di bagian dada sebelah kanan.sakit hanya terasa di dada kanan saja dan tidak mengalami penyebaran. Sesak itu juga terasa saat beraktivitas banyak dan pada cuaca / udara dingin. c
Riwayat kesehatan dahulu

Menurut penuturan klien , klien sebelumnya pernah mengalami atau menderita penyakit yang dideritanya sekarang . tetapi klien hanya meminum obat warung dan sesakpun berkurang. Tetapi sesak nafas yang dirasakan sekarang lebih berat, karena khawatir dengan keadaannya, lalu keluarga membawa klien ke RS.

Riwayat kesehatan keluarga

Menurut penuturan klien dan keluarga, diantara anggota kleuarganya ada yang pernah mengalami penyakit yang diderita klien tapi tidak mempunyai penyakit menular lainnya. 3
Pemeriksaan fisik Waktu : 27-09-2010

Keadaan umum Kesadaran umum Penampilan umum Tanda vital : CM : lemah : T = 110 / 70 mmHg P = 88x / menit R= 30x / menit S= 370 C

b ; ; c

Antropometri BB awal/sebelum sakit = 65 kg BB setelah sakit = 55 kg Integumen

Tekstur kulit halus, warna sawo matang, turgor baik dan tidak tampak ada oedema.warna rambut hitam, tidak tampak adanya kotoran, dan tidak tampak adanya kelainan lainnya. Kuku transparan tidak ada sianosis, crt baik dan tidak tampak ada kotoran. d
Sistem penglihatan Kesimetrisan simetris antara kiri dan kanan. Sklera tampak kekuningkuningan, Konjungtiva kemerahan serta Pergerakan baik (dapat digerakan ke segala arah)

Sistem pendengaran Kesimetrisan & warna simetris kiri dan kanan. Warna sama dengan kulit wajah.Kebersihan bersih tidak terlihat kotoran. Serta fungsi pendengaran baik.

System respirasi

Frekuensi nafas 30x / menit, lubang hidung simetris kiri dan kanan,fungsi penciuman baik,terbukti dapat membedakan wangi parfum dengan kayu putih. Nafas klien dangkal dan nyeri pada dada.

g h ; ; 4
No. 1.

Genetalia Tidak terkaji karena klien tidak bersedia. System muskoloskeletal E. atas E. bawah : tangan kiri dapat digerakan ke segala arah, tangan : kaki kiri dan kanan dapat digerakan ke segala arah.

kanan terbatas pergerakannya dikarenakan terpasang infuse

Pola aktifitas Jenis aktifitas Pola nutrisi Sebelum sakit Setelah sakit

Makan Jenis Porsi Frekuensi Cara Nasi, sayuran,lauk pauk

Bubur saring porsi 3x / hari Dibantu Air putih,susu

Satu porsi Tidak tentu mandiri

Minum Jenis Vol cara

air putih, teh dan susu 1200 ml mandiri

1500 ml Mandiri

2.

Pola eliminasi

BAB Frekuensi Warna Bau Konsistensi Cara 2x / hari Kuning kecoklata(khas) Khas feses Padat Mandiri 2-3x / hari Kuning jernih Khas urine mandiri 2x / hari Kuning kecoklatan Khas feses Padat Mandiri

BAK Frekuensi Warna Bau cara

2-3x / hari Kuning jernih Khas urine mandiri

3.

Pola istirahat tidur

Tidur siang Frekuensi Kualitas 2-3 jam / hari Nyenyak jam / hari Tidak nyenyak

Tidur malam Frekuensi 6-8 jam / hari nyenyak 4-5 jam / hari Tidak nyenyak

4.

kualitas Personal hygine Mandi Gosok gigi Ganti pakaian Cara 2x / hari 2x / hari 2x / hari Mandiri 1x / hari 1x / hari 1x / hari

Dibantu

5 a b

Data psikososial dan spiritual Data psikologis

Klien tampak sabar dalam menghadapi penyakitnya.


Data sosial

Klien dapat berkomunkasi dan bersosialisasi sangat baik dengan perawat,keluarga dan pasien lainnya. Selain itu juga klien dapat bekerjasama ketika perawat maupun dokter memeriksanya. Hubungan klien dan keluarganya pun sangat baik. Hal itu terbukti dengan banyaknya anggota keluarga yang menengok dan menemaninya. c
Data spiritual

Klien beragama islam, hal itu terbukti meskipun klien sedang sakit, klien melaksanakan ibadah shlat 5 waktu dan selalu berdoa demi kesembuhannya. Klien pun juga menganggap bahwa penyakit yang dideritanya adalah ujian dari Allah SWT.

6
No.

Data penunjang Jenis data Hasil Normal

hematologi

a b c d

hb leukosit trombosit hematokrit

17,3 gr/dl 5600 190.000/mm3 28 %

12-16 gr/dl 5000-1000000 150.000-450.000/mm3 36-48%

Dx Therapy

: asma bronkhiale : Inf RL 20 tetes/menit


Cefotaxim ranitidin 1x1 3x1 dexametason 1x1

7
No.

Analisa data symptom Ds : klien mengeluh sesak Do : klien tampak lemah, 30x/menit, allergen bronkus selaput Etiologi otot polos di (bronkhi) paru kejang bronco sesak Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur, gg nyaman nyeri mengalami Problem Gangguan jalan nafas efektif / gg pemenuhan kebutuhan O2

1.

respirasi pembengkakan bunyi kontriksi

2.

nafas whezzing Ds : klien mengeluh susah tidur nyeri dada dan sesak Do : klien tidak tidur lemas, kemerahan, sclera

Rangsangan sesak merangsang sehingga tidur mengaktifkan RAS sehingga klien terjaga

karena impuls

siang, klien tampak terganggu

3.

konjungtiva pucat. Ds : klien mengeluh mual , muntah dan tidak nafsu makan Do : pola makan porsi

anorekia

hcl meningkat

Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi

mual makan berkurang

nafsu

8 a

Diagnose keperawatan Gangguan jalan nafas efektif / gg pemenuhan kebutuhan O2 sehubungna dengan rasa sesak . Di tandai dengan :

Ds : klien mengeluh mual dan muntah serta sakit dada Do : klien tampak lemah, respirasi 30x/menit, bunyi nafas whezzing b
Gangguan pemenuhan kebutuhan Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi yang ditandai dengan : Ds : klien mengeluh mual , muntah dan tidak nafsu makan Do : pola makan porsi

No
1

Diagnosa keperawatan Inefektif kebersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi mukus, kekentalan sekresi, dan bronkospasme

Tujuan & kriteria hasil Setelah dilakukan a asuhan selama jalan a b diharapkan nafas keperawatan 1x60 menit membaik (2 (3 efektifitas

Intervensi Instruksikan klien pada metode yang tepat dalam mengontrol batuk; (1 Napas dalam dan perlahan sambil duduk setegak mungkin. Gunakan diafragmatik. Tahan kemudian sebanyak napas hembusan mungkin selama 3-5 detik dan napas

dengan kriteria hasil: Mendemonstrasik an batuk efektif. Mencari memudahkan peningkatan pertukaran udara. c Menyatakan strategi menurunkan kekentalan sekresi. untuk (4 posisi yang nyaman untuk

melalui mulut (sangkar iga bawah dan abdomen harus turun). Ambil napas kedua, tahan dan batuk dari dada (bukan dari belakang tenggorokan) menggunakan pendek, batuk kuat. (5 b Demonstrasikan pernapasan pursed-lip. Pertahankan adekuat : hidrasi meningkatkan mulut / dan napas

masukan cairan 2 sampai 4 liter per hari bila tidak

dikontra indikasi penurunan curah jantung/gagal ginjal. c Auskultasi sebelum tindakan. d Dorong / berikan perawatan mulut. dan paru-paru sesudah

Perubahan dari dispnea,


2

nutrisi

kurang tubuh dengan efek Setelah dilakukan asuhan b produksi keperawatan selama 1x60 efektifitas jalan nafas membaik dengan kriteria hasil: a Menunjukkan peningkatan yang tepat. b Menunjukkan perilaku / perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan/atau mempertahankan berat d badan menuju tujuan c a Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini Berikan perawatan oral sering, buang sekret, berikan tempat khusus untuk sekali pakai dan tisu Berikan makanan porsi kecil tapi sering Hindari karbonat makanan penghasil gas dan minuman

kebutuhan kelemahan, obat,

berhubungan samping muntah.

sputum, anoreksia / mual- menit diharapkan

berat tepat.

badan

yang berat

Menunjukkan

peningkatan yang tepat.

badan menuju tujuan

CATATAN PERKEMBANGAN Tgl/jam Diagnosa keperawatan Inefektif kebersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi mukus, kekentalan sekresi, dan bronkospasme (2 (3 3-5 a Implementasi Menginstruksikan klien metode (1 yang Napas mungkin. Menggunakan diafragmatik. Menahan napas selama detik dan kemudian hembusan sebanyak mungkin melalui mulut (sangkar iga bawah dan abdomen harus turun). (4 mengambil napas kedua, tahan dan batuk dari napas tepat dalam mengontrol batuk; dan perlahan sambil duduk setegak Tanda tangan pada dalam

dada (bukan dari belakang mulut / tenggorokan) dan menggunakan napas pendek, batuk kuat. (5 b Demonstrasikan pernapasan pursed-lip. Pertahankan hidrasi adekuat : meningkatkan masukan cairan 2 sampai 4 liter per hari bila tidak dikontra indikasi penurunan curah jantung/gagal ginjal. c d Auskultasi paru-paru sebelum dan sesudah tindakan. Dorong / berikan perawatan mulut. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh a dengan Mengkaji kebiasaan diet, berhubungan masukan makanan saat ini

dispnea, kelemahan, efek b samping obat, produksi sputum, anoreksia / mualmuntah. c d

Memberikan perawatan oral sering, dan tisu Memberikan makanan porsi kecil tapi sering Menghindari penghasil karbonat gas dan makanan minuman buang sekret, berikan tempat khusus untuk sekali pakai

9
No . 1.

Catatan perkembangan Tanggal 01/1010 dx 1 Catatan perkembangan pelaksana

S : klien sudah tidak mengeluh sesak O : klien tampak segar


A : Gangguan jalan nafas efektif / gg pemenuhan P kebutuhan O2 sehubungna memberikan dengan rasa sesak : observasi TTV 3x/hari, mungkin I : pukul 16.00 mengobservasi TTV, pukul 16.15 memberi therapy obat E : :masalah klien teratasidengan criteria : - klien tidak mengeluh sesak dan nyeri dada - nafas klien normal dan teratur therapy obat atur posisi klien senyaman

2.

01/10/10

2 S

: klien mengatakan tidak lemas lagi

O A

: klien tampak segar : gangguan pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit sehubungan dengab peningkatan frekuensi BAB

P I E

: member input cairan melalui infuse : pukul 10.35 memberikan input cairan melalui infus kepada klien : masalah klien teratasi dengan kriteri : - klien tampak segar - Turgor kulit normal

DAFTAR PUSTAKA
Doenges, e. Marilynn. 2000. Rencana asuhan keperawatan. Jakarta: EGC Elizabet J Corwin. 2001. Keperawatan Medikal Bedah II. Bandung. EGC Mansjoer. 2000. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC M. Amin, Hood Alsagar, Ilmu Penyakit Paru, Penerbit Air Langga University Press 1993. Smeltzer, Suzanne C., Bare, Brenda G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Volume 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Stein J.H. (2001). Medical Surgical Nursing, Clinical Management for Continuity of Care. JB. Lipincott.co