Anda di halaman 1dari 3

BAB V PEMBAHASAN

Dalam melakukan penelitian ini menggunakan simplisia kering daun sirsak (Annona muricata Linn). Digunakan simplisia kering pada penelitian ini, karena bertujuan untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Selain itu pengeringan akan mencegah agar simplisia tidak berjamur. Daun sirsak (Annona muricata Linn) tersebut kemudian dilakukan penyarian dengan cara maserasi. Pemilihan penyarian simplisia dengan metode maserasi dipilih karena proses pengerjaannya yang mudah dan alat yang digunakan sederhana. Serbuk daun sirsak sebanyak 100 gram direndam etanol 70% sebanyak 600 ml selama 3 hari untuk melarutkan zat aktif, setelah itu diserkai kemudian ampas serbuk dimasukkan kembali kedalam bejana lalu ditambahkan etanol 70% lagi sebanyak 600 ml. Hasil penyarian pertama ditambahkan dengan hasil penyarian yang kedua dengan tujuan agar hasil penyarian menjadi homogen. Kemudian hasil penyarian dienapkan selama 1 hari untuk mengendapkan zat-zat yang tidak diperlukan. Sehingga dapat dipastikan bahwa zat-zat yang berkhasiat saja yang bekerja sebagai antimikroba. Untuk mendapatkan ekstrak pekat daun sirsak dilakukan destilasi, ini dilakukan dengan tujuan untuk memisahkan cairan penyari dengan zat yang berkhasiat. Proses ini terus berlangsung sampai cairan penyari tidak menetes lagi. Setelah itu ekstrak diuapkan diatas penangas 24

25

air hingga kental dan bau etanol tidak tercium lagi. Setelah mendapatkan ekstrak kental kemudian diencerkan dengan konsentrasi sebesar 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100% menggunakan CMC. Kemudian ditanamkan pada media yang sudah diberi suspensi bakteri Staphylococcus aureus sesuai dengan konsentrasinya masing-masing, kemudian diinkubasikan selama 24 jam pada suhu 37c yang merupakan suhu optimum bagi pertumbuhan Staphylococcus aureus. CMC digunakan karena tidak mempunyai aktivitas antimikroba selain itu CMC digunakan sebagai suspending agent untuk melarutkan zat aktif yang ada di dalam ekstrak. Etanol 70% dipertimbangkan sebagai penyari karena lebih selektif, kuman dan kapang tidak mudah tumbuh dalam etanol 20% keatas, tidak beracun, netral, absorpsinya baik, etanol dapat bercampur dengan air pada segala perbandingan, panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih sedikit. Untuk meningkatkan penyarian biasanya menggunakan campuran etanol dan air. Etanol 70% sangat efektif dalam menghasilkan jumlah bahan aktif yang optimal, dimana bahan pengganggu hanya skala kecil yang turun kedalam cairan. Media yang digunakan untuk penanaman bakteri Staphylococcus aereus adalah media NA (Nutrien Agar), karena media NA merupakan media umum yang cukup baik untuk bakteri Staphylococcus aureus. Berdasarkan hasil percobaan terhadap ekstrak daun sirsak terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus didapatkan bahwa ekstrak etanol daun sirsak dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus yaitu ditandai dengan adanya

26

daerah bening yang terjadi di sekitar lubang sumur yang diberi ekstrak etanol daun sirsak. Pada beberapa konsentrasi ekstrak etanol daun sirsak yang dibuat yaitu 20%; 40%; 60%; 80%; 100% pada penelitian didapatkan hasil berbeda, yaitu semakin tinggi konsentrasi ekstrak maka semakin besar daerah hambatnya. Data yang diperoleh kemudian diolah menggunakan uji anova untuk mengetahui perbedaan antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan, dari perhitungan tersebut maka diperoleh hasil sebagai berikut : 1. Terdapat perbedaan daya hambat yang signifikan antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan pada taraf kepercayaan 95%. 2. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kontrol dengan kelompok perlakuan ekstrak etanol daun sirsak pada konsentrasi 20% dan 40%.