Anda di halaman 1dari 14

KONSEP KELUARGA DEFINISI KELUARGA 1.

Duvall dan Logan ( 1986 ) : Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga. 2. WHO, 1969 : Keluarga adalah anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian darah, adopsi, atau perkawinan. 3. Bailon dan Maglaya ( 1978 ) : Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya. 4. Departemen Kesehatan RI ( 1988 ) : Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan. 5. Menurut friedman (1998), keluarga adalah dua atau lebih individu yang tergabung karena ikatan tertentu untuk saling membagi pengalaman dan melakukan pendekatan emosional, serta mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari keluarga. 6. Menurut BKKBN (1999), keluarga adalah dua oranfg atau lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materiil yang layak, bertakwa kepada tuhan, memiliki hubungan yang selaras dan seimbang antara anggota keluarga dan masyarakat serta lingkungannya. 7. Pakar konseling keluarga dari Yogyakarta, Sayekti (1994), mendefinisikan keluarga adalah suatu ikatan/persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian, dengan atau tanpa anak, baik anaknya sendiri atau adopsi, dan tinggal dalam sebuah rumah tangga. 8. Menurut UU No. 10 tahun 1992, tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami-isteri, atau suami-isteri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya. Struktur Keluarga Macam-macam struktur keluarga Struktur keluarga terdiri atas bermacam-macam, diantaranya : 1. Patrilineal : adalah keluarga sedarah yang terdiri atas sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan ini disusun melalui jalur garis ayah 2. matrilineal :adalah keluarga sedarah yang terdiri atas sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibi 3. matrilokal : adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri 4. patrilokal : adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami 5. keluarga kawinan : adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami istri. Ciri-ciri struktur keluarga terorganisasi, yaitu saling berhubungan, saling ketergantungan antara anggota keluarga. Ada keterbatasan, dimana setiap anggota memiliki kebebasan tetapi mereka juga mempunyai keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya masing-masing. Ada perbedaan dan kekhususan, yaitu setiap anggota keluarga mempunyai peranan dan fungsinya masing-masing. Struktur keluarga menggambarkan bagaimana keluarga melaksanakan fungsi keluarga di masyarakat sekitarny. Parad dan Kaplan (1965) yang diadopsi oleh friedman mengatakan ada elemen struktur keluarga, yaitu : 1. struktur peran keluarga, menggambarkan peran masing-masing anggota keluarga dalam keluarga sendiri dan perannya di lingkungan masyarakat atau peran formal dan informal. 2. nilai atau norma keluarga, menggambarkan nilai dan norma yang dipelajari dan diyakini oleh keluarga, khususnya yang berhubungan dengan kesehatan. Nilai adalah sistem ide-ide, sikap keyakinan yang mengikat anggota keluarga dalam budaya tertentu. Sedangkan norma adalah pola perilaku yang diterima pada lingkungan social tertentu, lingkungan, dan lingkungan masyarakat sekitar keluarga. 3. pola komunikasi keluarga, komunikasi dalam keluarga dikatakan berfungsi apabila dilakukan secara jujur, terbuka, melibatkan emosi, konflik selesai, dan ada hierarki kekuatan. komunikasi dalam keluarga dikatakan tidak berfungsi apabila tertutup, adanya isu atau berita negative, tidak berfokus pada satu hal, dan selalu mengulang isu dan pendapat sendiri. Menggambarkan bagaimana cara dan pola komunikasi ayah-ibu, (orang tua), orang tua dengan anak, anak dengan anak, dan anggota keluarga lain (pada keluarga besar) dengan keluarga inti. 4. struktur kekuatan keluarga, adalah kemampuan dari individu untuk mengontrol, memengaruhi atau mengubah perilaku orang lain. Hak, ditiru, keahlian, hadiah, paksa dan affektif power. Menggambarkan kemampuan anggota keluarga untuk memengaruhi dan mengendalikan orang lain untuk mengubah perilaku keluarga yang mendukung kesehatan. TUGAS TUGAS KELUARGA Dalam sebuah kelurga ada beberapa tugas dasar di dalamnya terdapat 8 tugas pokok sebagai berikut : 1. Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya 2. Memelihara sumber- sumber daya yang ada dalam keluarga. 3. Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukan masing masing 4. Sosialisasi antar anggota keluarga 5. Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga

6. Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas. 7. Membangkitkan dorongan dan semangat para anggpta keluarga Tahap dan Tugas Perkembangan Keluarga Adapun tahap-tahap perkembangan menurut Duvall dan Miller dalam Friedman (1998) adalah : 1) Tahap I : keluarga pemula Keluarga baru menikah Perkawinan dari sepasang insan menandai bermulanya sebuah keluarga baru dan perpindahan dari keluarga asal atau status lajang ke hubungan baru yang intim. Tugas perkembangan (utama) o Membina hubungan intim yang memuaskan o Membina hubungan dengan keluarga lain, teman, dan kelompok sosial o Mendiskusikan rencana memiliki anak 2) Tahap II : Keluarga dengan anak baru lahir Dimulai dengan kelahiran anak pertama hingga bayi berusia 30 bulan. Tugas perkembangan (utama) o Mempersiapkan menjadi orang tua o Adaptasi dengan perubahan adanya anggota keluarga, interaksi keluarga, hubungan seksual dan kegiatan o Mempertahankan hubungan dalam rangka memuaskan pasangan o Membagi waktu untuk individu, pasangan, dan keluarga. 3 ) Tahap III : keluarga dengan anak usia pra sekolah Dimulai ketika anak pertama berusia dua setengah tahun, dan berakhir ketika anak berusia lima tahun. 2.5-6 tahun (menurut Duval 1997) Tugas perkembangan Memenuhi kebutuhan anggota keluarga mis : tempat tinggal, privacy dan rasa aman Membantu anak untuk bersosialisasi Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak yang lain (tua) juga harus terpenuhi Mempertahankan hub yang sehat baik di dalam ataupun luar keluarga Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak Pembagian tanggung jawab anggota keluarga Merencanakan kegiatan dan waktu untuk menstimulasi tumbang anak 4).Tahap IV : keluarga dengan anak usia sekolah Dimulai ketika anak pertama telah berusia enam tahun dan mulai masuk sekolah dasar dan berakhir pada usia 13 tahun, awal dari masa remaja. Tugas perkembangan Membantu sosialisasi anak terhadap lingkungan luar rumah, sekolah, dan lingkungan lebih luas Mempertahankan keintiman pasangan Memenuhi kebutuhan yang meningkat, termasuk biaya kehidupan, dan kesehatan anggota keluarga Sedangkan tugas-tugas perkembangan keluarga dengan anak usia sekolah menurut Duvall dan Miller, Carter dan McGoldrik dalam Friedman (1998) yaitu : 1. Mensosialisasikan anak-anak, termasuk meningkatkan prestasi sekolah dan mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sehat. 2. Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan . 3. Memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga. 5) Tahap V : keluarga dengan anak remaja Dimulai ketika anak pertama melewati umur 13 tahun, berlangsung selama enam hingga tujuh tahun. Tahap ini dapat lebih singkat jika anak meninggalkan keluarga lebih awal atau lebih lama jika anak masih tinggal di rumah hingga berumur 19 atau 20 tahun. Tugas perkembangan Memberikan kebebasan yang seimbang dan bertanggung jawab mengingat remaja adalah seorang dewasa muda dan mulai memiliki otonomi Mempertahankan hubungan intim dalam keluarga Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan org tua Mempersiapkan perubahan sistem peran dan peraturan (anggota)keluarga untuk memenuhi keb tumbang keluarga 6) Tahap VI : keluarga yang melepas anak usia dewasa muda Ditandai oleh anak pertama meninggalkan rumah orang tua dan berakhir dengan rumah kosong, ketika anak terakhir meninggalkan rumah. Tahap ini dapat singkat atau agak panjang, tergantung pada berapa banyak anak yang belum menikah yang masih tinggal di rumah. Fase ini ditandai oleh tahun-tahun puncak persiapan dari dan oleh anak -anak untuk kehidupan dewasa yang mandiri. Tugas perkembangan Memperluas jaringan keluarga dari keluarga inti menjadi keluarga besar Mempertahankan keintiman pasangan Membantu anak untuk mandiri sebagai keluarga baru di masyarakat Penataan kembali peran ortu dan kegiatan rumah

7) Tahap VII : orangtua usia pertengahan Dimulai ketika anak terakhir meninggalkan rumah dan berakhir pada saa t pensiun atau kematian salah satu pasangan. Tugas perkembangan Mempertahankan kesehatan individu dan pasangan Mempertahankan hub yang serasi dan memuaskan dengan anak-anaknya dan sebaya Meningkatkan keakraban pasangan 8) Tahap VIII : keluarga dalam masa pensiun dan lansia Dimulai dengan salah satu atau kedua pasangan memasuki masa pensiun, hingga salah satu pasangan meninggal dan berakhir dengan pasangan lainnya meninggal. Tugas perkembangan Mempertahankan suasana kehidupan rumah tangga yang saling menyenangkan pasangannya Adaptasi dengan perubahan yang akan terjadi : kehilangan pasangan, kekuatan fisik dan penghasilan keluarga Mempertahankan keakraban pasangan, kekuatan fisik dan penghasilan keluarga Mempertahankan keakraban pasangan dan saling merawat Melakukan life review masa lalu Tahap Keluarga Sejahtera Berdasarkan kemampuan keluarga untuk pemenuhan kebutuhan dasar, kebutuhan psikososial, kemampuan memenuhi ekonominya, dan aktualisasi keluarga di masyarakat, serta memperhatikan perkembangan Negara Indonesia menuju Negara industri, Indonesia menginginkan terwujudnya keluarga Sejahtera. Di Indonesia keluarga dikelompokkan menjadi 5 tahap: 1. Keluarga Prasejahtera adalah keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan secara minimal, yaitu kebutuhan pengajaran agama, pangan, sandang, papan, kesehatan, atau keluarga belum dapat memenuhi salah satu atau lebih indicator Keluarga Sejahtera Tahap I. 2. Keluarga Sejahtera Tahap I (KS I) adalah keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasar secara minimal, tetapi belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan social psikologisnya, yaitu kebutuhan pendidikan , keluarga berencana, interaksi dalam keluarga, interaksi dengan lingkungan tempat tinggal, dan transportasi.(memenuhi1-5 indikator) 3. Keluarga Sejahtera Tahap II (KS II) adalah keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasar secara minimal serta telah memenuhi seluruh kebutuhan sosial psikologisnya, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan pengembangan, yaitu kebutuhan untuk menabung dan memperoleh informasi.(memenuhi 1-14 Indikator) 4. Keluarga Sejahtera Tahap III (KS III) adalah keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar, kebutuhan social psikologis, dan kebutuhan pengembangan, tetapi belum dapat memberikan sumbangan (kontribusi) yang maksimal terhadap masyarakat secara teratur (dalam waktu tertentu) dalam bentuk material dan keuangan untuk social kemasyarakatan, juga berperan serta secara aktif dengan menjadi pengurus lembaga kemasyarakatan atau yayasan social, keagamaan, kesenian, olahraga, pendidikan, dan lain sebagainya. (memenuhi 1-21 Indikator) 5. Keluarga Sejahtera Tahap III Plus (KS III Plus)/ Sejahtera adalah keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhannya, baik yang bersifat dasar , social, psikologis, maupun pengembangan, serta telah mampu memberikan sumbangan yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.(memenuhi 1-23 Indikator) Indikator Keluarga Sejahtera 1. Melaksanakan ibadah menurut agama masing-masing yang dianut 2. Makan 2 kali sehari atau lebih 3. Pakaian yang berbeda untuk berbagai keperluan 4. Lantai rumah bukan dari tanah 5. Kesehatan (anak sakit atau pasangan usia subur (PUS) ingin ber-KB dibawa ke sarana/petugas kesehatan) 6. Anggota Keluarga melaksanakan ibadah secara teratur menurut agama masing-masing yang dianut. 7. Makan daging/ikan/telur sebagai lauk pauk paling kurang sekali dalam seminggu 8. memperoleh pakaian baru dalam satu tahun terakhir 9. Luas lantai tiap penghuni rumah 8 m per orang 10. Anggota keluarga sehat dalam 3 bulan terakhir sehingga dapat melaksanakan fungsi masing-masing 11. Keluarga yang berumur 15 tahun keatas mempunyai penghasilan tetap 12. bisa baca tulis latin bagi seluruh anggota keluarga dewasa yang berumur 10 sampai dengan 60 tahun 13. Anak usia sekolah (7-15 tahun) bersekolah 14. Anak hidup 2 atau lebih, keluarga masih PUS, saat ini memakai kontrasepsi 15. Upaya Keluarga untuk meningkatkan/menambah pengetahuan agama 16. Keluarga mempunya tabungan 17. Makan bersa paling kurang sekali sehari 18. Ikut serta dalam kegiatan masyarakat 19. Rekreasi bersama/penyegaran paling kurang dalam 6 bulan 20. Memperoleh berita dari surat kabar, radio, televisi, dan majalah 21. Anggota keluarga mampu menggunakan sarana transportasi 22. Memberikan sumbangan secara teratur (waktu tertentu) dan sukarela dalam bentuk material kepada masyarakat 23. Aktif sebagai pengurus yayasan/panti. Tipe Keluarga Tipe keluarga bermacam-macam, diantaranya: (sumber buku Community Health Nursing) Married Family (Keluarga yang terikat dalam tali pernikahan)

1. Traditional Nuclear Family, keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang tinggal dalam satu rumah ditetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam satu ikatan perkawinan, satu atau keduanya dapat bekerja di luar rumah. 2. Dual Career Family, keluarga yang kedua orangtuanya bekerja untuk menjalankan fungsi ekonomi keluarga. a. Spouses reside in same household, suami istri merupakan orang karier dan tinggal di tempat yang sama. b. Commuter marriage, suami istri orang karier dan tertinggal terpisah pada jarak tertentu, keduanya saling mencari pada waktu-waktu tertentu. 3. Husband or Father Away, suami merupakan orang karier dan terpisah jauh. 4. Step Family, keluarga yang memiliki orang tua tiri. a. Step mother family, keluarga dengan ibu tiri. b. Step father family, keluarga dengan ayah tiri. 5. Adoptive Family, keluarga yang mengadopsi anak 6. Foster Family 7. Voluntary Childlessness, keluarga tak berketurunan. Single Parent Family (Keluarga yang memiliki salah satu orang tua: ayah atau ibu saja) 1. Never Married a. Voluntary singlehood (with children biological or adopted) b. Involuntary singlehood (with children) 2. Formerly Married a. Widow (with children) b. Divorced (with children) i. Custodial parent ii. Joint custody of children iii. Binuclear family Multi-Adult Household: with or without children 1. Cohabitating Couple, pasangan yang tinggal bersama tanpa adanya pernikahan. 2. Communes, dalam satu rumah terdiri atas dua atau lebih pasangan yang monogami dengan anak-anaknya dan bersama-sama dalam penyediaan fasilitas. 3. Affiliated Family, dua atau lebih keluarga yang bergabung, tinggal di satu rumah. 4. Extended Family, keluarga inti ditambah dengan sanak saudara misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi, dan sebagainya. 5. Nex Extended Family, 6. Home Sharing Individuals, dua atau lebih orang dewasa yang tinggal bersama di satu rumah. 7. Same Sex Partners, 8. Fictive Kin A. Tipe keluarga tradisional 1. The Nuclear family (Keluarga inti) yaitu keluarga yang terdiri dari suami istri dan anak (kandung atau angkat). 2. The dyad family , suatu rumah tangga yang terdiri dari suami istri tanpa anak. 3. Keluarga usila, Keluarga terdiri dari suami dan istri yang sudah usia lanjut, sedangkan anak sudah memisahkan diri. 4. The childless, Keluarga tanpa anak karena telambat menikah, bisa disebabkan karena mengejar karir atau pendidikan. 5. The Extended family , keluarga yang terdiri dari keluarga inti ditambah keluarga lain, seperti paman, bibi, kakek, nenek dan lain-lain. 6. Single parent yaitu keluarga yang terdiri dari satu orang tua dengan anak(kandung atau angkat). Kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian atau kematian). 7. Commuter family, kedua orang tua bekerja diluar kota, dan bisa berkumpul pada hari minggu atau libur saja. 8. Multigeneration family, Beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu rumah. 9. Kin-network family, beberapa keluarga yang tinggal bersama atau saling berdekatan dan menggunakan barang-barang pelayanan seperti dapur, sumur yang sama. 10. Blended family, keluarga yang dibentuk dari janda atau duda dan membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya. 11. Single adult living alone yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari satu orang dewasa. B. Tipe keluarga non tradisional 1. The unmarried teenage mother, Keluarga yang terdiri dari satu orang dewasa terutama ibu dengan anak dari hubungan tanpa nikah. 2. The Step parent family, keluarga dengan orang tua tiri. 3. Commune family, yaitu lebih satu keluarga tanpa pertalian darah yang hidup serumah. 4. The non marrital heterosexual cohabiting family, keluarga yang hidup bersama, berganti-ganti pasangan tanpa nikah. 5. Gay and lesbian family, seorang yang mempunyai persamaan sex tinggal dalam satu rumah sebagaimana pasangan suami istri. 6. Cohabitating couple, orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan karena alasan tertentu.

Group marriage family, beberapa orang dewasa yang telah merasa saling menikah, berbagi sesuatu termasuk sex dan membesarkan anak. 8. Group network family, beberapa keluarga inti yang dibatasi oleh norma dan aturan, hidup berdekatan dan saling menggunakan barang yang sama dan bertanggung jawab membesarkan anak. 9. Foster family, keluarga yang menerima anak yang tidak ada hubungan saudara untuk waktu sementara. 10. Homeless family, keluarga yang terbentuk tanpa perlindungan yang permanen karena keadaan ekonomi atau problem kesehatan mental. 11. Gang, Keluarga yang destruktif dari orang-orang muda yang mencari ikatan emosional, berkembang dalam kekerasan dan kriminal.3 Fungsi Keluarga Ada lima fungsi yang dapat dijlankan keluarga menurut Effendi ( 1998), yaitu : 1. Fungsi Biologis (reproduksi) a) Untuk meneruskan keturunan. b) Memelihara dan membesarkan anak . c) Memenuhi kebutuhan gizi keluarga. d) Memelihara dan merawat anggota keluarga . 2. Fungsi Psikologis a) Memberikan kasih sayang dan rasa aman . b) Memberikan perhatian diantara anggota keluarga . c) Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga . d) Memberikan identitas keluarga. 3. Fungsi Sosialisasi a) Membina sosialisi pada anak. b) Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak. c) Meneruskan nilai-nilai budaya. 4. Fungsi Ekonomi a) Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. b) Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga. c) Menabung untuk memenuhi kebutuhan -kebutuhan keluarga dimasa yang akan datang, misalnya pendidikan anak-anak, jaminan hari tua dan sebagainya. 5. Fungsi Pendidikan a) Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya. b) Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi peranannya sebagai orang dewasa. c) Mendidik anak sesuai dengan tingkat -tingkat perkembangannya. Friedman, 1988 mengidentifikasi lima fungsi dasar keluarga, diantaranya: 1. Fungsi Afektif (The Affective Function) Fungsi afektif berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan fungsi ini tampak melalui anggota keluarga yang dapat mengembangkan gambaran diri yang positif, perasaan yang dimiliki, perasaan yang berarti. Fungsi afektif merupakan suber energy yang menentukan kebahagiaan keluarga. Adanya perceraian, kenakalan anak, atau masalah lain yang sering timbul dalam keluarga dikarenakan fungsi sfektif yang tidak terpenuhi. Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga untuk fungsi afektif antara lain: a. Memelihara saling asuh (mutual nurturance) b. Keseimbangan saling menghargai c. Pertalian dan identifikasi d. Keterpisahan dan kepaduan 2. Fungsi Sosialisasi (The Socialization Function) Sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu, yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam lingkungan sosial (Friedman, 1986). Sosialisasi dimulai sejak lahir. Keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi. Keberhasilan perkembangan individu dan keluarga dicapai melalui interaksi atau hubungan antar anggota keluarga yang diwujudkan dalam sosialisasi. Anggota keluarga belajar disiplin, belajar norma-norma, budaya dan perilaku melalui hubungan dan interaksi dengan keluarga. 3. Fungsi Reproduksi (The Reproductive Function) Keluarga berfungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia. Dengan adanya program KB (Keluarga Berencana), maka fungsi ini sedikit terkontrol. 4. Fungsi Ekonomi (The Economic Function) Untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti: sandang, pangan, dan papan, maka keluarga memerlukan sumber keuangan. Fungsi ini sulit dipenuhi oleh keluarga yang berada di bawah garis kemiskinan. Perawat bertanggung jawab untuk mencari sumber-sumber di masyarakat yang dapat digunakan oleh keluarga dalam meningkatkan status kesehatan. 5. Fungsi Perawatan Keluarga/Pemeliharaan Kesehatan Keluarga

7.

Keluarga juga berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan kesehatan, yaitu mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan/atau merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga. Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan. Keluarga dapat melaksanakan tugas kesehatan berarti sanggup menyelesaikan masalah kesehatan keluarga. Peran Keluarga Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seseorang pada situasi social tertentu. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial, baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran dibagi menjadi dua, yaitu : peran formal keluarga dan peran informal keluarga. Peran Formal Keluarga Peran formal yang standar terdapat dalam keluarga : Pencari nafkah Ibu rumah tangga Tukang perbaikan rumah Sopir Pengasuh anak Manager keuangan Tukang masak Peran dasar yang membentuk posisi social budaya sebagai suami-ayah dan ibu-istri, yaitu: Peran sebagai provide/penyedia Sebagai pengatur rumah tangga Perawatan anak baik yang sehat maupun sakit Sosialisasi anak Rekreasi Persaudaraan (kinship) Peran terapeutik (berhubungan dengan kebutuhan affektif) Peran seksual

Peran Informal Keluarga Peran-peran informal bersifat implicit, biasanya tidak tampak, dimainkan hanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan emosional individu dan atau untuk menjaga keseimbangan dalam keluarga. Peran informal tidak terlalu didasarkan pada usia, atauoun jenis kelamin, tapi lebih didasarkan pada atribut personalitas/kepribadian anggota keluarga individual. Peran informal keluarga dibagi menjadi dua, yaitu: peran yang adaptif dan juga peran yang dapat merusak kesejahteraan keluarga. Peran adaptif Pendorong Dalam keluarga terjadi kegiatan mendorong, memuji satu sama lain, setuju dengan, dan menerima kontribusi dari orang lain (reward). Pengharmonis Berperan menengahi perbedaan yang terdapat di antara para anggota. Inisiator-kontributor Mengemukakan dan mengajukan ide0ide baru atau cara-cara mengingat masalah-m,asalah atau tujuan-tujuan kelompok. Pendamai Jika di keluarga terjadi konflik, maka dapat diselesaikan dengan jalan musyawarah. Pencari nafkah (orang tua) Perawatan keluarga Peran yang dijalankan terkait merawat anggota keluarga jika ada yang sakit. Pionor keluarga Membawa keluarga pindah ke suatu wilayah asing dan mendapatkan pengalaman baru. Sahabat, penghibur, dan coordinator Pengikut dan saksi Peran yang merusak kesejahteraan keluarga Penghalang

Dominator Kecenderungan memaksakan kekuasaan atau superioritas dengan memanipulasi anggota kelomook tertentu, membanggakan kekuasaannya, bertindak seakan-akan ia mengetahui segala-galanya, dan tampil sempurna. Penyalah (suka menyalahkan anggota keluarga yang lain) Martir Tidak menginginkan apa-apa untuk dirinya, ia hanya berkorban untuk anggota keluarganya. Keras hati Kambing hitam dalam keluarga Distraktor dan orang yang tidak relevan PERANAN KELUARGA Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan, yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat. Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut : 1. Peranan ayah : Ayah sebagai suami dari istri, berperanan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung, dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya, serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya 2. Peranan ibu : Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya, serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya. 3. Peranan anak : Anak-anak melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan tingkat perkembangannya, baik fisik, mental, sosial dan spiritual. KELUARGA SEHAT Menurut seorang pengusaha yang juga pendiri Sekolah Pelita Harapan, James T Ryadi, terdapat 15 rahasia untuk membentuk keluarga yang sehat, yakni: 1. Memiliki nilai-nilai kuat yang dianut oleh seluruh anggota keluarga. Nilai-nilai ini merupakan dasar atau fondasi yang kuat dalam terbentuknya sebuah keluarga sehat. Apabila semua anggota keluarga mampu menganut nilai-nilai yang telah disepakati, maka akan semakin mempermudah terbentuknya keluarga sehat. Dalam kasus ini, selain sudah memiliki nilai-nilai kuat yang dianut oleh seluruh anggota keluarga, keluarga Tn.L juga sudah dapat berperan seuai dengan tata nilai yang berlaku di Indonesia dan daerah setempat. 2. Mengetahui bagaimana berkomunikasi satu terhadap yang lain. Manusia adalah makhluk social yang memerlukan interaksi dengan orang lain. Dalam sebuah komunitas yang besar seperti lingkungan masyarakat, atau bahkan bernegara pun manusia memerlukan interaksi. Apalagi dalam suatu system kecil, yaitu keluarga, dimana sekumpulan orang berkumpul daqlam waktu yang sangat lama dan dalam satu atap. Tidak mungkin sebuah keluarga hidup tanpa komunikasi. Oleh karena itu, untuk membentuk suatu kelularga sehat setiap anggota kelyuarga perlu mengetahui bagaimana cara berkomunikasi antara satu dengan yang lain. Dalam kasus ini, kelurga Tn.L sudah mampu menerapkan komunikasi yang baik dan lancar antaranggota keluarga 3. Mempunyai orangtua yang tidak takut untuk mengatakan "saya salah". Orang tua juga manusia yang tak luput dari kesalahan. Setiap perkataan atau perbuatan yang dilakukan orang tua tidak selalu benar sehingga adakalanya mereka melakukan kesalahan. Oleh karena itu, perlu kebesaran hati orang tua untuk mengakui kesalahannya dan berani untuk mengatakan bahwa saya salah 4. Mempunyai anak yang bersedia menerima jawaban "tidak". Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang berjalan tidak satu arah, tetapi dua arah. Setiap anak memiliki hak untuk berbicara. Sudah bukan zamannya lagi anak harus mengikuti semua keinginan orang tuanya. Anak juga memiliki kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri sesuai dengan keinginan, bakat, dan minatnya. Dalam kasus ini Tn.L sudah memberikan hak kepada setiap anggota keluarga, termasuk anaknya untuk berbicara. Terbukti dengan anak-anaknya yang selalu terbuka untuk menyampaikan segala kesedihan dan kebahagiaanya kepada orang tua dan anggota keluarga 5. Mempunyai orang tua yang bisa diajak bicara untuk membahas kesalahan mereka sendiri.. 6. Menjaga perkawinan sebagai prioritas yang diakui untuk kelangsungan keluarga sehat. 7. Menyediakan waktu yang satu terhadap yang lain dan mau menghadiri acara kegiatan anggota keluarga yang lain. Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Tidak akan terbentuk keharmonisan keluarga jika setiap anggota keluarga tidak memiliki cukup waktu untuk bersama-sama. Ayah sibuk dengan pekerjaannya sendiri, ibu sibuk dengan arisanarisannya, dan anak-anak sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Jika keadaannya seperti ini, sangatlah sulit unutk membentuk keluarga yang sehat.

Dalam kasus ini, keluarga Tn.L sudah meluangkan waktu secara rutin untuk berkumpul bersama keluarga, yaitu dengan rekreasi dan berolah raga secara rutin bersama keluarga minimal 3x per minggu 8. Mempunyai orang tua yang tidak takut menghadapi anaknya. 9. Mempunyai anak yang yakin bahwa orang tuanya percaya terhadap mereka. Dalam kasus ini, keluarga Tn.L berada pada tahap keluarga dengan anak remaja. Masa remaja adalah masa yang paling rawan. Pada tahap ini, seorang anak harus diberi kepercayaan oleh orang tuanya karena menganggap bahwa dirinya bukan anak kecil lagi. Orang tua juga perlu memberikan kebebasan yang bertanggung jawab kepada anak remaja mereka. 10. Mempunyai anggota keluarga yang setia terhadap yang lain. 11. Mempunyai rencana untuk acara-acara keluarga. Dalam kasus ini, keluarga Tn.L sudah memiliki kegiatan atau acara-acara rutin keluarga, yaitu rekreasi dan berolah raga secara rutin bersama keluarga minimal 3x per minggu 12. Lebih mementingkan penyelesaian masalah daripada menghindari konflik. Penghindaran tidak akan menyelesaikan masalah. Dalam kasusu ini keluarga Tn.L sudah mampu menerapkan system musyawarah untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi dalam keluarga 13. Mempunyai rasa tanggung jawab yang kuat terhadap semua anggota keluarga. 14. Mengganti atau menukarkan aturan-aturan keluarga dengan sopan santun keluarga ketika anak-anak beranjak dewasa. 15. Mendasari tindakan pada keyakinan bahwa kesatuan keluarga lebih penting daripada individual. Untuk mencapai taraf kesehatan keluarga, maka paling sedikit harus tercakup dalam pelayanan kesehatan dasar dan mengacu pada dasa-dasar pembangunan kesehatan, yaitu: Pendidikan tentang kesehatan umum, cara pencegahan dan pemberantasannya Keluarga sehat harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang kesehatan umum, cara pencegahan, dan pemberantasannya. Misalnya dengan mengetahui penyakit-penyakit endemic di lingkungan tempat tinggalnya dan memiliki pengetahuan tentang cara pencegahan dan pemberantasannya Peningkatan persediaan pangan dan kecukupan gizi Keluarga sehat harus mampu memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarganya dengan menyediakan makanan sehat dan gizi seimbang Penyediaan air minum dan sanitasi dasar Air merupakan kebutuhan utama makhluk hidup. Namun, dewasa ini sulit sekali mendapatkan air yang bersih karena banyaknya terjadi pencemaran lingkungan. Kelurga sehat adalah keluarga yang mampu menyediakan air bersih bagi keperluan sehari-hari. Selain itu, sanitasi yang baik juga penting untuk menjaga kesehatan dan mengurangi risiko anggota keluarga terpapar penyakit. Pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana. Imunisasi Pengobatan dan pengadaan obat Selain itu, keluarga sehat adalah keluarga yang mampu menerapkan pola hidup bersih dan Sehat (PHBS) dalam kehidupannya Tujuan Perawatan Kesehatan Keluarga 1. Tujuan umum : Meningkatkan kemampuan keluarga dalam memelihara kesehatan keluarga mereka, sehingga dapat meningkatkan status kesehatan keluarganya 2. Tujuan khusus : a. Meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengidentifikasi masalah kesehatan yang dihadapi oleh keluarga b. Meningkatkan kemampuan keluarga dalam menanggulangi masalah-masalah kesehatan dasar dalam keluarga c. Meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan yang tepat dalam mengatasi masalah kesehatan para anggotanya d. Meningkatkan kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap anggota keluarga yang sakit dan dalam mengatasi masalah kesehatan anggota keluarganya e. Meningkatkan produktivitas keluarga dalam meningkatkan mutu hidupnya Tugas-tugas Keluarga dalam Bidang Kesehatan Untuk dapat mencapai tujuan asuhan keperawatan kesehatan keluarga, keluarga mempunyai tugas dalam pemeliharaan kesehatan para anggotanya dan saling memelihara. Freeman (1981) : 1. Mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap anggota keluarga 2. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat 3. Memberikan keperawatan kepada anggota keluarganya yang sakit, dan yang tidak dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usaianya yang terlalu muda 4. Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga 5. Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga-lembaga kesehatan, yang menunjukkan pemanfaatan dengan baik fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada. Prinsip-prinsip Perawatan Keluarga :

1. 2. 3. 4.

Keluarga sebagai unit atau satu kesatuan dalam pelayanan kesehatan Dalam memberikan asuhan perawatan kesehatan keluarga, sehat sebagai tujuan utama Asuhan keperawatan yang diberikan sebagai sarana dalam mencapai peningkatan kesehatan keluarga Dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga, perawat melibatkan peran serta keluarga dalam mengatasi masalah kesehatannya 5. Lebih mengutamakan kegiatan-kegiatan yang bersifat promotif dan preventif dengan tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif 6. Dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga memanfaatkan sumber daya keluarga semaksimal mungkin untuk kepentingan kesehatan keluarga 7. Sasaran asuhan perawatan kesehatan keluarga adalah keluarga secara keseluruhan 8. Pendekatan yang digunakan dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga adalah pendekatan pemecahan masalah dengan menggunakan proses keperawatan 9. Kegiatan utama dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga adalah penyuluhan kesehatan dan asuhan perawatan kesehatan dasar/perawatan di rumah 10. Diutamakan terhadap keluarga yang termasuk resiko tinggi. PENGKAJIAN A. Data demografi 1. DATA UMUM KELUARGA 1.Nama Kepala keluarga ( KK ) : 2.Usia 3.Pendidikan 4.Pekerjaan 5.Alamat dan no. tlp 6.Komposisi Keluarga Nama JK

: : : : : Hubungan dengan Keluarga Status Kesehatan Pekerjaan Pendidikan

7. Genogram : Menggambarkan struktur anggota keluarga a. Tipe Keluarga : ( bisa diperoleh dari data di atas ) b. Suku : ( bisa diliat dari bahasa yang digunakan)

c. Agama : kegiatan keagamaan apa yang ibu/ bapak lakukan untuk membantu diri dan keluarga ( misalnya : berdoa, menghadiri kelompok pendukung atau bagaimana ? d. Status sosial ekonomi keluarga 1. 2. 3. e. 2. Ibu/ bapak, apakah bekerja keduanya? Pekerjaannya apa ? Mencukupi ga buat memenuhi kebutuhan sehrai-hari, seperti makan, listrik, air, dan sekolah anak ? Biasanya penghasilan yang didapatkan digunakan untuk apa aja ? ( bisa diliat apakah ada menonton TV atau dengar radio )

Aktivitas rekreasi keluarga :

RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN -

Tahap perkembangan keluarga saat ini ( bisa diperoleh dari data di atas ) Riwayat keluarga inti 1. Penyakit yang sering diderita keluarga apa, seperti demam, diare, atau yang lainnya ? ( tanyakan penyakit yangs erring diderita masing-masing keluarga: ayah, ibu, anak, kel yg lain yang tinggal di rumah itu ) 2. Anak anak ibu sebelumnya pernah di imunisasi ? imuniasi apa? 3. Ibu dan keluarga sering ga memeriksakan kesehatan ke puskesmas ? - Riwayat keluarga sebelumnya - Tugas perkembangan keluarga yg belum terpenuhi B. Data lingkungan 1. Karakteristik rumah

Ibu / bapak kira-kira berapa luas rumahnya ? 2. Karakteristik tetangga dan komunitas setempat Bagaimana kondisi lingkungan disekitar rumah bu? Apakah nyaman dengan tetangga nya? Lingkungannya? 3. Mobilitas geografis keluarga Sudah Berapa lama keluarga tinggal disini bu? 4. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat ada ga perkumpulan2 di desa? apa ada anggota keluarga yang ikut terlibat ? C. Struktur dan fungsi keluarga Struktur keluarga Pola komunikasi keluarga Bagaimana komunikasi dalam keluarga? Lancar ? Apakah anak sering cerita bu tentang sekolahnya atau curhat? Biasanya keluarga sering kumpul-kumpul ketika kapan bu? Makan malam atau kapan ? Struktur kekuatan keluarga Struktur peran Nilai atau norma keluarga Fungsi keluarga Fungsi afektif ( Bisa diliat dari pertanyaan pola komunikasi diatas ) Fungsi sosialisasi Bagaimana interaksi atau hubungan dalam keluarga bu ? sejauhmana anggota keluarga belajar disiplin, norma, budaya dan perilaku ? Fungsi perawatan kesehatan 1). Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan, yang perlu dikaji adalah ( bisa diperoleh ketika menanyakan riw. Kel inti di atas ) 2). Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan yang tepat, hal yang perlu dikaji adalah : - Apakah masalah kesehatan yang dirasakan oleh keluarga? - Apakah keluarga merasa menyerah terhadap masalah yang dialami ? - Apakah keluarga merasa takut akan akibat dari tindakan penyakit? - Apakah keluarga dapat menjangkau fasilitas kesehatan yang ada ? - Apakah keluarga kurang percaya terhadap tenaga kesehatan? 3). Untuk mengetahui sejauhmana kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit. Yang perlu dikaji adalah : - Sejauhmana keluarga mengetahui keadaan penyakitnya (sifat, penyebaran, komplikasi, prognosa, dan cara perawatannya) - Sejauhmana keluarga mengetahui tentang sifat dan perkembangan perawatan yang dibutuhkan - Sejauhmana keluarga mengetahui keberadaan fasilitas yang diperlukan untuk perawatan - Sejauhmana keluarga mengetahui sumber-sumber yang ada dalam keluarga (anggota keluarga yang bertanggung jawab, sumber keuangan/finansial, fasilitas fisik, psikososial) - Bagaimana sikap keluarga terhadap yang sakit 4). Untuk mengetahui sejauhmana kemampuan keluarga memelihara lingkungan rumah yang sehat. Hal yang perlu dikaji adalah : - biasanya ada kebiasaan bersih-bersih rumah ga Bu? Seperti kerja bakti ? - biasanya menu makanan sehari apa saja bu? - bagaiman upaya ibu untuk mencegah biar keluarga ga sakit ? 5). Untuk mengetahui sejauhmana kemampuan keluarga menggunakan fasilitas/pelayanan kesehatan di masyarakat. Hal yang perlu dikaji adalah : - pelayanan kesehatan terdekat disini apa bu?? - apa ibu sering memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada? Fungsi reproduksi bagaimana keluarga merencanakan jumlah anggota keluarga bu? metode apa yang digunakan keluarga dalam upaya mengendalikan jumlah anggota keluarga? Apakah ikut KB ? Fungsi ekonomi ( bisa dilihat dari status pekerjan, dan social ekonomi ) D. Stress dan strategi koping yang digunakan keluarga a. Stressor jangka pendek dan panjang - masalah apa yang sering terjadi dalam keluarga ? seperti anak malas belajar atau apa ?

b. Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/stressor - bagaiman biasanya keluarga menyelesaikan masalah itu ? c. Strategi koping yang digunakan ( bisa diperoleh dari pertanyaan point b ) d. Strategi adaptasi disfungsional E. Perkembangan keluarga Pengkajian Individu - Pemeriksaan fisik ASKEP INTERVENSI KEPERAWATAN KELUARGA 1. Pengertian intervensi keperawatan keluarga Ada beberapa intervensi keperawatan dalam literature, diantaranya : Menurut ANAs Social Policy Statement (1995) intervensi keperawatan keluarga adalahtindakan perawat untuk kepentingan pasien, keluarga, atau komunitas dengan tujuan untuk membantu pasien, serta keluarga dan komunitas dengan tujuan untuk meningkatkan dan memperbaiki kondisi fisik , emosional, psikososial, spiritual, budaya, serta lingkungan tempat mereka mencari bantuan. Bulechek dan McCloskey (1994) intervensi keperawatan adalah penanganan perawatan langsung yang perawat lakukan untuk kepentingan klien. Tujuan jangka panjang dalam asuhan keperawatan keluarga merupakan arah untuk menghilangkan penyebab atau etiologi. Tujuan jangka pendek ditetapkan melalui pelaksanaan lima tugas keluarga dalam bidang kesehatan, yaitu : 1. Mengenai masalah kesehatan keluarga 2. Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga 3. Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan 4. Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga 5. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di masyarakat Setelah menyusun rencana keperawatan , perawat mencoba untuk mengaplikasikannya dalam bentuk tindakan secara nyata di dalam keluarga untuk mendapatkan perubahan kondisi kesehatan keluarga yang lebih baik dari sebelumnya. 2. Indikasi untuk intervensi keperawatan keluarga Wright dan Leahey dalam Friedman (1998) menganjurkan untuk melakukan intervensi keperawatan keluarga pada kondisikondisi berikut : 1. Adanya keluarga dengan suatu masalah yang berhubungan diantara anggota keluarga yang dipengaruhi. 2. Adanya anggota keluarga dengan penyakit yang memiliki dampak yang merugikan secara nyata terhadap anggota keluarga yang lain. 3. Anggota keluarga mendukung permasalahan atau gejala pada individu. 4. Salah satu anggota keluarga menunjukan perbaikan dari gejala, sedangkan anggota keluarga yang lain mengalami kemunduran. 5. Seorang anggota keluarga didiagnosis penyakitnya untuk pertama kali. 6. Perkembangan anak atau remaja secara emosional, tingkah laku, atau fisik dalam konteks anggota keluarga yang sakit 7. Salah satu anggota keluarga yang menderita penyakit kronis pulang atau pindah dari suatu institusi ke komunitas. 8. Anggota keluarga mengalami penyakit yang mematikan. 3. Tingkatan intervensi keperawatan keluarga Wright dan Leahey dalam Friedman (1998) menggambarkan adanya dua tingkat keahlian dalam keperawatan keluarga, yaitu generalis dan spesialis. Menurut Wright dan Leahey, konsep keahlian generalis memandang keluarga dalam konteks pasien secara individual. Konsep keahlian spesialis memandang keluarga sebagai unit asuhan dengan kompetensi wawancara klinik dan pengetahuan system teori keluarga, penelitian keluarga dan model pengkajian serta intervensi keluarga. 4. Klasifikasi intervensi keperawatan Menurut Freeman dalam Freedman (1998), secara umum, intervensi keperawatan dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 1. Supplemental. Perawat secara langsung memberikan pelayanan keperawatan yang tidak dapat dilakukan oleh keluarga 2. Facilitative. Perawat membantu mengatasi hambatan dari keluarga dalam memperoleh pelayanan medis, kesejahteraan social, transportasi, atau pelayanan perawatan kesehatan di rumah. 3. Developmental. Perawat membantu keluarga untuk menolong diri sendiri sesuai kemampuannya(misalnya, meningkatkan kemampuan merawat diri dalam keluarga dan tanggung jawab diri sendiri). 5. Hambatan-hambatan dalam intervensi keperawatan keluarga Menurut Bailon & Maglaya (1978), ada beberapa hambatan yang sering dihadapi perawat dalam melakukan intervensi keperawatn keluarga. Hambatan-hambatan ini dapat disebabkan oleh beberapa factor berikut : 1. Informasi yang didapatkan keluarga mungkin kurang atau keliru 2. Informasi yang diperoleh oleh keluarga tidak menyeluruh sehingga keluarga hanya melihat sebagian dari masalah 3. Keluarga memperoleh informasi yang diperluakan , tetapi mereka tidak dapat mengaitkannya dengan situasi mereka 4. Keluarga tidak mau menghadapi situasi 5. Keluarga ingin mempertahankan suatu pola tingkah laku 6. Kegagalan dalam mengaitkan antara tindakan dan sasaran keluarga 7. Keluarga kurang percaya terhadap tindakan yang diusulkan Kesulitan-kesulitan pada tahap implementasi dapat juga diakibatkan oleh tindakan-tindakan perawat yang tidak tepat. Hal tersebut

merupakan akibat dari hal-hal berikut : 1. Perawat cenderung menggunakan suatu pola pendekatan yang tepat (perawat kaku, kurang luwes) 2. Perawat kurang memberikan penghargaan dan perhatian terhadap faktor-faktor social budaya 3. Perawat kurang ahli dalam mengambil tindakan serta menggunakan berbagai macam teknik, mengingat rumitnya masalah yang berhubungan dengan tingkah laku dalam kehidupan keluarga, seperti menanggulangi kesulitan-kesulitan antara suami dan istri Peran Perawat KeluargaPerawatan kesehatan keluarga adalah pelayanan kesehatan yang ditujukan pada keluarga sebagai unit pelayanan untuk mewujudkan keluarga yang sehat. Fungsi perawat membantu keluarga untuk menyelesaikan masalah kesehatan dengan cara meningkatkan kesanggupan keluarga melakukan fungsi dan tugas perawatan kesehatan keluarga. Dalam melakukan asuhan keperawatan keluarga, perawat keluarga perlu memerhatikan prinsip-prinsi berikut : (a) melakukan kerja bersama keluarga secara kolektif, (b) memulai pekerjaan dari hal yang sesuai dengan kemampuan keluarga, (c) menyesuaikan rencana asuhan keperawatan dengan tahap perkembangan keluarga, (d) menerima dan mengakui struktur keluarga, dan (e) menekankan pada kemampuan keluarga. Peran perawat keluarga adalah sebagai berikut: o Sebagai pendidik, perawat bertanggung jawab memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga, terutama untuk memandirikan keluarga dalam merawat angota keluarga yang memiliki masalah kesehatan. o Sebagai koordinator pelakasana pelayanan keperawatan, perawat bertanggung jawab memberikan pelayanan keperawatan yang komprehensif. Pelayanan keperawatan yang bersinambungan diberikan untuk menghindari kesenjangan antara keluarga dan unit pelayanan kesehatan (Puskesmas dan Rumah Sakit). o Sebagai pelaksana pelayanan perawatan, Perawat dapat memberikan perawatan langsung kepada klien dan keluarga dengan menggunakan metode keperawatan.Pelayanan keperawatan dapat diberikan kepada keluarga melalui kontak pertama dengan anggota keluarga yang sakit yang memiliki masalah kesehatan. Dengan demikian anggota keluarga yang sakit dapat menjadi entry point bagi perawat untuk memberikan asuhan keperawatan keluarga secara komprehensif. Kegiatan yang dilakukanbersifat "promotif', `preventif', "curatif' serta "rehabilitatif' melalui proses keperawatan yaitumetodologi pendekatan pemecahan masalah secara ilmiah dan terdiri dari langkah-langkahsebagai subproses. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara profesional, artinya tindakan,pelayanan, tingkah laku serta penampilan dilakukan secara sungguh-sungguh dan bertanggungawab atas pekerjaan, jabatan, bekerja keras dalam penampilan dan mendemontrasikan "SENCE OF ETHICS ". o Sebagai supervisor pelayanan keperawatan, perawat melakukan supervise ataupun pembinaan terhadap keluarga melalui kunjungan rumah secara teratur, baik terhadap keluarga berisiko tinggi maupun yang tidak. Kunjungan rumah tersebut dapat direncanakan terlebih dahulu atau secara mendadak dilakuikan secara teratur untuk mengidentifikasi dan melakukan pengkajian tentang kesehatan keluarga. o Sebagai pembela (advokat), perawat berperan sebagai advokat keluarga untuk melindungi hak-hak keluarga sebagai klien. Perawat diharapkan mampu mengetahui harapan serta memodifikasi sistem pada perawatan yang diberikan untuk memenuhi hak dan kebutuhan keluarga. Pemahaman yang baik oleh keluarga terhadap hak dan kewajiban mereka sebagai klien mempermudah perawat untuk memandirikan keluarga. o Sebagai fasilitator, perawat dapat menjadi tempat bertanya individu, keluarga, dan masyarakat untuk memecahkan masalah kesehatan dan keperwatan yang mereka hadapi sehari-hari serta dapat membantu memberikan jalan keluar dalam mengatasi masalah. Selain itu pearwat dapat membantu keluarga dengan mengenal kekuatan mereka dan menggunakan kekuatan mereka untuk memenuhi kebutuhan kesehatannya o Sebagai peneliti, perawat keluarga melatih keluarga untuk dapat memahami masalah-masalah kesehatan yang dialami oleh anggota keluarga. Masalah kesehatan yang muncul di dalam keluarga biasanya terhadi menurut siklus atau budaya yang dipraktikkan keluarga. Misalnya, diare pada balita terjadi karena budaya menjaga kebersihan makanan dan minuman kurang diperhatikan. Peran sebagai peneliti difokuskan kepada kemampuan keluarga untuk mengidentifikasi penyebab, menanggulangi, dan melakukan promosi kepada anggota keluarganya. Selain itu, perawat perlu mengembangkan asuhan keperwatan keluarga terhadap binaannya. o Sebagai Konsultan, Perawat sebagai nara sumber bagi keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan. Agar keluarga mau meminta nasehat kepada perawat, hubungan perawat dan klien harus terbina dengan baik, kemampuan perawat dalam menyampaikan informasi dan kialitas dari informasi yang disampaikan secara terbuka dan dapat dipercaya. o Sebagai Motivator, Apabila keluarga telah mengetahui, dan mencoba melaksanakan perilaku positif dalam kesehatan, harus terus didorong agar konsisten dan lebih berkembang. Dalam hal inilah perawat berperan sebagai motivator. o Sebagai Kolabolator, Bekerja sama dengan pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan anggota tim kesehatan lain untuk mencapai kesehatan keluarga yang optimal. o Sebagai Fasilitator, Membantu keluarga dalam menghadapi kendala seperti masalah sosial ekonomi, sehingga perawat harus mengetahui sistem pelayanan kesehatan seperti rujukan dan penggunaan dana sehat. Pearawt juga dapat menjadi penghubung keluarga dengan sarana pelayanan kesehatan, perawat wajib untuk memperkenalkan sarana pelayanan kesehatan kepada keluarga khususnya untuk yang belum pernah menggunakan sarana pelayanan kesehatan dan pada keadaan salah satu/lebih anggota keluarga perlu dirujuk ke sarana pelayanan kesehatan. o Penemu kasus, Menemukan dan mengidentifikasi masalah secara dini di masyarakat sehingga menghindarkan dari ledakan kasus atau wabah. o Pemodifikasi lingkungan, Mampu memodifikasi lingkungan baik lingkungan rumah maupun masyarakat agar tercipta lingkungan yang sehat. Peran perawat keluarga dalam asuhan keperawatan berpusat pada keluarga sebagai unit fungsional terkecil dan bertujuan memenuhi kebutuhan dasar manusia pada tingkat keluarga sehingga tercapai kesehatan yang optimal untuk setiap anggota

keluarga. Melalui asuhan keperawatan keluarga, fungsi keluarga menjadi optimal. Bila keluarga dapat menjalankan fungsinya secara optimal, setiap individu di dalam keluarga tersebut memiliki karakter yang kuat, tidak mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang sifatnya negative sehingga memiliki kemampuan berpikir yang cerdas, dan pada akhirnya memiliki daya saing yang tinggi terutama di era kompetisi yang semakin sengit. Prinsip-prinsip Perawatan Keluarga : 1. Keluarga sebagai unit atau satu kesatuan dalam pelayanan kesehatan 2. Dalam memberikan asuhan perawatan kesehatan keluarga, sehat sebagai tujuan utama 3. Asuhan keperawatan yang diberikan sebagai sarana dalam mencapai peningkatan kesehatan keluarga 4. Dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga, perawat melibatkan peran serta keluarga dalam mengatasi masalah kesehatannya 5. Lebih mengutamakan kegiatan-kegiatan yang bersifat promotif dan preventif dengan tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif 6. Dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga memanfaatkan sumber daya keluarga semaksimal mungkin untuk kepentingan kesehatan keluarga 7. Sasaran asuhan perawatan kesehatan keluarga adalah keluarga secara keseluruhan 8. Pendekatan yang digunakan dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga adalah pendekatan pemecahan masalah dengan menggunakan proses keperawatan 9. Kegiatan utama dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga adalah penyuluhan kesehatan dan asuhan perawatan kesehatan dasar/perawatan di rumah Diutamakan terhadap keluarga yang termasuk resiko tinggi. No 1 Diagnosis Keperawatan Ketdaksanggupan keluarga memilih tindakan diantara beberapa pilihan. bd keinginan keluarga untuk menambah anggota baru (memiliki anak atau tidak) ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Implementasi dan ASKEP Keluarga S : An I mengatakan ingin sekali mempunyai saudara perempuan, dia selalu membujuk sang ibu untuk tetap menjalankan fungsi reproduksi dalam keluarga. O : Umur Ny N 35 th, umur Tn L 40 th, sudah memiliki 3 orang anak. An G (18 th), An I (14 th), An Z (7 th) A : - Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat untuk memilki anak atau tidak. - Keluarga belum mengetahui dampak kehamilan diatas 30 tahun. - Faktor ekonomi perlu diperhatikan karena Ny I sudah memiliki 3 orang anak. P : - Diskusikan dengan anggota keluarga mengenai perencanaan memiliki anggota baru keluarga dalam hal ini memiliki anak atau tidak - Berikan informasi kesehatan mengenai perencanaan kehamilan dan resiko hamil di atas usia 30 tahun - Diskusikan dengan anggota keluarga mengenai masalah ekonomi yang akan terjadi dengan adanya anggota baru di keluarga.

Tupan : Keluarga dapat memutuskan tindakan yang tepat dalam pengambilan keputusan perencanaan kehamilan atau tidak. Tupen : Keluarga mendapatkan informasi mengenai perencanaan kehamilan sesuai dengan standar kesehatan

PROMOSI KESEHATAN KELUARGA Dalam kasus keluarga Ny N memiliki kendala untuk mengambil tidak ingin memiliki anak atau tidak. Dalam hal ini perat bisa berperan sebagai edukator. Ibu harus mempertimbangkan kembali keinginannya memiliki anak. Karena apabila merencanakan kehamilan di atas usia 30 tahun, ada beberapa tantangan dan resiko yang akan dihadapi. - Kesuburan menurun Secara alamiah setiap perempuan terlahir dengan jumlah sel telur terbatas. Begitu menginjak usia 30 tahun, kualitas dan kuantitas sel telur akan berkurang, meski Anda masih datang bulan secara teratur. Sel telur wanita di akhir usia 30-an juga tak mudah dibuahi seperti halnya pada wanita yang lebih muda. Apakah ini berarti wanita di usia matang tak bisa hamil? Tentu saja bisa, namun butuh waktu yang lebih lama. Karena itu bisa usia Anda lebih dari 35 tahun dan belum berhasil hamil dalam waktu 6 bulan, segeralah berkonsultasi ke dokter kandungan. - Kesempatan punya anak kembar Kesempatan untuk memiliki anak kembar meningkat seiring dengan usia ibu. Terapi kesuburan atau program bayi tabung yang dilakukan calon ibu juga meningkatkan kemungkinan hamil bayi kembar. - Berisiko diabetes gestational Diabetes tipe ini biasanya hanya terjadi pada masa kehamilan dan sering diderita wanita berusia matang. Kontrol gula darah yang ketat lewat pola makan, olahraga, dan gaya hidup sehat lain sangat penting dilakukan. Diabetes gestasional yang tak dikendalikan bisa menyebabkan bayi lahir terlalu besar dan meningkatkan risiko dalam persalinan. - Persalinan dilakukan dengan caesar Sebagian besar persalinan pada calon ibu di usia rawan dilakukan lewat operasi caesar. Masalah-masalah dalam persalinan

biasanya terjadi pada perempuan yang pertama kali melahirkan di usia 35 tahun. - Kelainan kromosom Kualitas kromosom perempuan di usia menjelang 40 tahun tidak sebaik di usia muda. Akibatnya risiko melahirkan anak dengan cacat fisik atau mental akan lebih besar. - Risiko keguguran lebih besar Risiko terjadinya keguguran pada ibu berusia matang juga lebih besar. Hal ini mungkin terjadi karena menurunnya kualitas kromosom ibu. Usia calon ayah juga berpengaruh pada kesehatan bayi. Beberapa penelitian menyebutkan bayi yang lahir dari calon ayah berusia 40 tahunan memiliki risiko autisme lebih tinggi dibanding dengan anak dari pria yang berusia 30-an. Pria yang berusia 50 tahunan juga cenderung memiliki bayi dengan berbagai cacat lahir karena mutasi dalam gen mereka. Bayi yang lahir juga cenderung memiliki kecerdasan yang lebih rendah. Studi terbaru menunjukkan bayi yang lahir dari ayah berusia tua memiliki skor yang lebih rendah dalam hal konsentrasi dan kemampuan logikal saat mereka duduk di sekolah dasar.