Anda di halaman 1dari 25

KEMITRAAN AGRIBISNIS ANTARA PETANI JERUK PAMELO DENGAN PERUSAHAAN MITRA UNTUK MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI

Oleh: Azizah Rahmawati 125040100111125

ABSTRAK Jeruk pamelo merupakan suatu komoditas pertanian yang memiliki prospek cerah baik dalam pasar domestik maupun pasar ekspor. Tetapi petani jeruk pamelo belum menyadari potensi ini. Oleh karena itu diperlukan suatu sistem agar petani mengetahui tentang prospek jeruk pamelo tersebut sehingga petani dapat ber-usaha tani jeruk pamelo dan berbisnis produk olahan jeruk pamelo ataupun penjualan buah secara segar. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah kemitraan. Kemitraan adalah suatu kerjasama antara usaha kecil/menengah dengan usaha besar dengan tujuan mendapatkan keuntungan dan saling menguatkan disertai pembinaan. Kemitraan yang akan dilakukan oleh petani jeruk pamelo dengan perusahaan agribisnis jeruk pamelo dapat menggunakan berbagai bentuk pola kemitraan yang telah dipaparkan sebelumnya, yaitu: inti-plasma, sub kontrak, dagang umum, keagenan, KOA (Kerjasama Operasional Agribisnis), dan pola kemitraan saham. Manfaat dari kemitraan antara petani jeruk pamelo dengan perusahaan mitra adalah sebagai berikut: a. Manfaat ekonomi yang diperoleh petani dari pola kemitraan adalah pendapatan yang lebih tinggi, harga yang lebih pasti, produktivitas lahan lebih tinggi, penyerapan tenaga kerja dan modal yang lebih tinggi, dan risiko usaha ditanggung bersama. b. Manfaat teknis yang diperoleh petani yaitu penggunaan teknologi yang lebih baik sehingga mutu produk menjadi lebih baik. c. Manfaat sosial yang diperoleh petani adalah ada kesinambungan kerjasama antara petani dan perusahaan, koperasi maupun

pedagang pengumpul, serta pola kemitraan mempunyai kontribusi terhadap kelestarian lingkungan. Dalam menjalankan kemitraan tersebut diperlukan suatu manajemen yang baik didalamnya karena masalah yang dihadap dalam menjalankan kemitraan adalah masalah manajemennya. Petani mitra membentuk suatu kesepakatan bersama untuk saling membantu apabila ada anggota kelompok tani yang terlambat mengembalikan pinjaman beserta bunganya kepada perusahaan mitra melalui perantara ketua kelompok tani. Kerjasama antara perusahaan mitra dengan petugas penyuluh lapang sebagai jembatan informasi perlu ditingkatkan dengan cara meningkatkan komunikasi yang intens dalam memberikan informasi mengenai kemitraan, bimbingan teknis, dan pelatihan teknologi pertanian yang baru kepada petani mitra. Selain itu penambahan jumlah petugas penyuluh lapang juga diperlukan terkait dengan jumlah petani yang sangat banyak di Indonesia.

ABSTRACT Pamelo is an agricultural commodity that has bright prospects in both domestic and export markets. But farmers of pamelo not realize this potential. Therefore we need a system that farmers know about the prospects pamelo these areas so that farmers can farm and do business pamelo as pamelo processed products or the sale of fresh fruit. One solution offered is a partnership. Partnership is a collaboration between small / medium large businesses with the aim to benefit and encourage one another along with coaching. Partnership will be done by pamelo farmers with agribusiness companies of pamelo .Pamelo farmers and agribusiness companies of pamelo can use various forms of partnership which has been described previously, namely: core-plasma, sub-contracts, general trading, agency, KOA (Operational Cooperation

Agribusiness), and a partnership stake. The benefits of a partnership between farmers pamelo with partner companies is as follows: a. The economic benefits derived from the partnership of farmers is higher income, more price certainty, higher land productivity, absorption of labor and capital more higher and business risks are shared b. The technical benefits that farmers gained is use of technology so that the quality of the product is more better than did not use technology. c.

Social benefits derived from farmer is continuity of cooperation between farmers and companies, cooperatives and traders and partnerships have contributed to environmental sustainability. In carrying out such partnerships need a good management in it because of the problems faced in implementing the partnership is a management problem. Farmers partners developed a mutual agreement to help each other if there are members of farmer groups who are late to repay the loan with interest to the company's head of intermediary partners through farmer groups. Cooperation between companies partner with field extension workers as a bridge of information needs to be improved by increasing the intense communication in providing information on partnerships, technical assistance, and training of new agricultural technologies to farmers partners. Besides increasing the number of field extension workers are also needed related to the number of farmers who are very much in Indonesia.

PENDAHULUAN Menurut data BPS 2007 pertanian merupakan sektor yang menyumbang pada PDB nasional sangat besar yaitu 87,03% dibandingkan dengan sektor lainnya. Oleh sebab itu, pemerintah menetapkan kebijakan yang menjadikan sektor pertanian sebagai bagian dari pembangunan nasional. Tujuan pembangunan pertanian pada lima tahun mendatang (jangka menengah) adalah meningkatkan produksi pangan bagi pemenuhan kebutuhan pangan dalam rangka mencapai ketahanan dan keamanan pangan nasional. Kondisi pertanian Indonesia dihadapkan pada permasalahan pengusahaan skala ekonomi kecil dengan penguasaan lahan yang kecil dan teknologi budidaya yang sederhana, serta permodalan yang terbatas. Pertanian dengan skala kecil masih dipengaruhi oleh faktor alam dan dihadapkan pada permasalahan pasar yang tidak sempurna seperti biaya transaksi yang tinggi dan ketidakjelasan informasi pasar. Selain itu, pertanian skala kecil menghadapi masalah lain seperti ketersediaan bahan baku pertanian (saprodi) seperti pupuk, benih, pestisida, dan obat-obatan. Buah-buahan merupakan komoditas pertanian yang termasuk kedalam sasaran RAKERNAS Departemen Pertanian tahun 2012 dengan sasaran sebesar 18,67 juta

ton. Tentu saja, data ini memperlihatkan bahwa buah-buahan merupakan komoditas yang diperhitungkan dalam sektor pertanian Indonesia. Berdasarkan data BPS tahun 2011 produksi jeruk pamelo masih berfluktuasi dari tahun 2004 sampai tahun 2009 dengan produksinya masing masing sebesar 76.324 ton, 63.801 ton, 85.691 ton, 74.249 ton, 76.621 ton dan 105.928 ton. Terjadinya fluktuasi ini terkait dengan sifat jeruk pamelo yang berbuah musiman, dimana berbuah banyak pada suatu musim dan akan berbuah sedikit pada musim berikutnya. Maka dari itu diperlukan suatu solusi untuk mencapai target tersebut, melihat bahwa prosentase produksi jeruk pamelo masih kecil sekali dibandingkan dengan prosentase total sasaran DEPTAN pada komoditas buah-buahan yang mencapi 18,67 ton. Kemitraan antara petani jeruk pamelo dan perusahaan agribisnis jeruk pamelo merupakan salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Pada dasarnya kemitraan merupakan suatu kerjasama antara usaha kecil/menengah dengan usaha besar dengan tujuan mendapatkan keuntungan dan saling menguatkan disertai pembinaan. Proses bermitra antara petani dengan petani, petani dengan tengkulak dan petani dengan pedagang sprodi maupun petani dengan kios pedagang buah merupakan hal yang sudah lazim. Tetapi, pola kemitraan masih jarang dilakukan oleh petani-petani jeruk pamelo didaeraha karena kurangnya pengetahuan akan hal tersebut. Maka dari itu diperlukan suatu arahan dari pemerintah melalui badan penyuluh yang terdapat di masing-masing daerah untuk mensosialisasikan hal tersebut dan juga mengarahakan para pengusaha agribisnis buah untuk mengembangkan bisnisnya melalui beragribisnis jeruk pamelo. Berdasarakan latar belakang yang telah dipaparkan maka tujuan dari artikel ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui arti dan tujuan dari kemitraan. 2. Untuk mengetahui manfaat kemitraan antara petani jeruk pamelo dengan perusahaan mitra. 3. Untuk mengetahui pola kemitraan yang sesuai (win-win solution) bagi petani jeruk pamelo dan perusahaan mitra. Berdasarkan tujuan yang telah dipaparkan maka diharapkan arikel ini dapat berguna bagi:

1. Petani jeruk pamelo dan perusahaan mitra sebagai acuan untuk mengadakan kemitraan agribisnis. 2. Pihak-pihak terkait seperti dinas pertanian dan atau pemerintah yang akan melakukan penyuluhan, study ataupun pengembangan dalam rangka meningkatkan pendapatan petani dan menjalankan program kemandirian pangan. 3. Penulis sebgai sarana mengasah kemampuan dalam menganalisis berbagai masalah pertanian dan mencarikan solusinya. 4. Masyarakat dan pembaca, dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan jeuruk pamelo dan proses atau pola kemitraan yang terdapat di dalamnya.

METODOLOGI Metode yang digunakan dalam pembuatan artikel ini adalah dengan study pustaka atau study literature. Oleh karena itu maka analisis data yang digunakan adalah ploratory dan metode confirmatory. Metode exploratory digunakan untuk menentukan apakah sederhana data yang ada dapat disajikan melalui angka aritmetika

dan mudah dimuat dengan grafis sebagai ringkasan data. Metode menjawab

confirmatory memanfaatkan ide teori probabilitas sebagai upaya pertanyaan-pertanyaan khusus diluar ringkasan yang mudah diperoleh.

HASIL DAN PEMBAHASAN Secara astronomis Indonesia terletak antara 6 0 LU sampai 110 LS dan 95 BT0 1410 BT dan secara geografis Indonesia terletak antara Samudra India dan Samudra Indonesia merupakan sebuah negara tropis yang terletak di kawasan equator atau khatulistiwa yang mengalami pergantian dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau sepanjang tahun. Keadan ini mempunyai konsekuensi yang mengantarkan Indonesia pada sebuah negara yang memilki sumber daya alam yang banyak dan konsekuensi yang lain adalah negara Indonesia merupakan negara agraris dimana sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Sektor pertanian di negara Indonesia memegang peranan penting bagi pendapatan negara karena sektor pertanian merupakan sektor yang

menyumbangkan bahan bakunya pada industri pengolahan hasil pertanian atau industri makanan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Mei 2012 tenaga kerja di sektor pertanian mencapai 41,20 Juta jiwa atau sekitar 43,4% dari jumlah total penduduk Indonesia. Angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 4,76% atau sebesar 1,9 juta dibandingkan Agustus 2011. Indonesia menempati urutan ke 3 dunia setelah China (66% ) dan India (53,2%). Sejalan dengan visi pemerintah utamanya Kementrian Pertanian sampai pada tahun 2014 yaitu pembangunan pertanian yang akan dicapai adalah terwujudnya pertanian industrial unggul berkelanjutan yang berbasis sumberdaya lokal untuk meningkatkan kemandirian pangan, nilai tambah, ekspor, dan kesejahteraan petani maka diperlukan suatu usaha untuk meningkatkan produktivitas petani. Tujuan pembangunan pertanian pada lima tahun mendatang (jangka menengah) adalah meningkatkan produksi pangan bagi pemenuhan kebutuhan pangan dalam rangka mencapai ketahanan dan keamanan pangan nasional. Kondisi pertanian Indonesia dihadapkan pada permasalahan

pengusahaan skala ekonomi kecil dengan penguasaan lahan yang kecil dan teknologi budidaya yang sederhana, serta permodalan yang terbatas. Pertanian dengan skala kecil masih dipengaruhi oleh faktor alam dan dihadapkan pada permasalahan pasar yang tidak sempurna seperti biaya transaksi yang tinggi dan ketidakjelasan informasi pasar. Selain itu, pertanian skala kecil menghadapi masalah lain seperti ketersediaan bahan baku pertanian (saprodi) seperti pupuk, benih, pestisida, dan obat-obatan. Buah-buahan merupakan komoditas pertanian yang termasuk kedalam sasaran RAKERNAS Departemen Pertanian tahun 2012 dengan sasaran sebesar 18,67 juta ton. Tentu saja, data ini memperlihatkan bahwa buah-buahan merupakan komoditas yang diperhitungkan dalam sektor pertanian Indonesia. Berdasarkan data BPS tahun 2011 produksi jeruk pamelo masih berfluktuasi dari tahun 2004 sampai tahun 2009 dengan produksinya masing masing sebesar 76.324 ton, 63.801 ton, 85.691 ton, 74.249 ton, 76.621 ton dan 105.928 ton. Terjadinya fluktuasi ini terkait dengan sifat jeruk pamelo yang berbuah musiman, dimana berbuah banyak pada suatu musim dan akan berbuah sedikit pada musim berikutnya. Maka dari itu diperlukan suatu solusi untuk mencapai target tersebut,

melihat bahwa prosentase produksi jeruk pamelo masih kecil sekali dibandingkan dengan prosentase total sasaran DEPTAN pada komoditas buah-buahan yang mencapi 18,67 ton. Kemitraan antara petani jeruk pamelo dan perusahaan agribisnis jeruk pamelo merupakan salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Pada dasarnya kemitraan merupakan suatu kerjasama antara usaha kecil/menengah dengan usaha besar dengan tujuan mendapatkan keuntungan dan saling menguatkan disertai pembinaan. Proses bermitra antara petani dengan petani, petani dengan tengkulak dan petani dengan pedagang sprodi maupun petani dengan kios pedagang buah merupakan hal yang sudah lazim. Tetapi, pola kemitraan masih jarang dilakukan oleh petani-petani jeruk pamelo didaeraha karena kurangnya pengetahuan akan hal tersebut. Maka dari itu diperlukan suatu arahan dari pemerintah melalui badan penyuluh yang terdapat di masing-masing daerah untuk mensosialisasikan hal tersebut dan juga mengarahakan para pengusaha agribisnis buah untuk mengembangkan bisnisnya melalui beragribisnis jeruk pamelo.

JERUK PAMELO Jeruk bali, jeruk besar, atau pamelo (bahasa Inggris: pomelo,

ilmiah: Citrus grandis, C. maxima) merupakan jeruk penghasil buah terbesar. Nama "pomelo" sekarang disarankan oleh Departemen Pertanian karena jeruk ini tidak ada kaitannya dengan Bali. Jeruk ini termasuk jenis yang mampu beradaptasi dengan baik pada daerah kering dan relatif tahan penyakit, terutama CVPD yang pernah menghancurkan pertanaman jeruk di Indonesia. Beberapa kultivar unggulan Indonesia: Nambangan, Srinyonya, Magetan,

Madu/Bageng (tanpa biji). Tiga kultivar yang pertama ditanam di sentra produksi jeruk bali di daerah Kabupaten Magetan dan Kabupaten Madiun, sedangkan yang terakhir ditanam di daerah Bageng, Kabupaten Pati. Perbanyakan jeruk pamelo dapat dilakukan dengan biji (tidak dianjurkan untuk budidaya) atau

dengan pencangkokan.

PROSPEK

Pada tahun 1999 hingga tahun 2000 volume ekspor jeruk dalam bentuk segar mengalami peningkatan cukup tajam yaitu sekitar 83 % dari 901.650 kg menjadi 1.079.981 kg di tahun 2000. Pada tahun 2001 tetap mengalami penaikan hanya saja tidak terlalu tajam di tahun sebelumnya, yaitu sekitar 56,3 % (1.919.703 kg. Kondisi ini mengakibatkan para petani yang selama ini tidak mengusahakan tanaman jeruk secara baik menjadi berminat memeliharanya. Pemacu akan hal tersebut akarena adanya permintaan pasar yang cukup besar dan harga yang memadai. Buah jeruk merupakan salah satu jenis buah tropis yang masuk di pasaran Jepang, dimana negara tersebut mempunyai persyaratan khusus dalam hal hama penyakit dan residu pestisida. Buah jeruk yang berasal dari Inondesia juga merupakan salah satu yang diawasi sangat ketat untuk masuk ke pasar Jepang. Dalam mengahadapi pasar bebas (ekonomi pasar global) sesuai dengan kesepakatan bersama dalam world trade organization (WTO) yang berlaku mulai tahun 2003, maka otomatis buah-buahan Indonesai salah satunya jeruk juga akan menghadapi banyak persaingan yang tidak ringan. Pasar ekspor menghendaki buah dengan kriteria sebagai berikut : a. Bermutu tinggi sesuai standar mutu dan bebas residu pestisida, b. Volume buah bermutu harus memenuhi kebutuhan pasar, c. Buah yang dikirim harus tiba tetap waktunya, d. Ketersediaan buah harus kontinyu. Setiap ha kebun bisa ditanami 400 pohon jeruk dengan produksi rata-rata 100 buah per pohon. Dengan asumsi harga jeruk Rp 3.000 per buah, untuk hasil panen 40.000 buah dihasilkan uang Rp 120 juta. Kadang harga jeruk bisa menembus Rp 4.000 perbuah di tingkat petani dan Rp 10.000 perbuah di tingkat konsumen. Setelah dikurangi biaya perawatan tanaman sekitar Rp 25 juta per tahun per hektar, penghasilan bersih yang diterima petani Rp 95 juta. Dengan asumsi setahun ada 365 hari, petani jeruk Pamelo meraih pendapatan rata-rata Rp 260.273 per hari. Bandingkan dengan budidaya tanaman padi. Produksi padi di Magetan rata-rata 6,4 ton per hektar. Dengan asumsi harga gabah kering panen Rp

4.000 per kilogram, petani mendapatkan hasil Rp 25,6 setiap kali panen. Setahun, terkumpul Rp 76 juta dengan asumsi tiga kali panen. Biaya produksi padi lebih besar karena petani harus menanam tanaman baru setiap kali usai panen. Sementara usia produktif jeruk Pamelo bisa mencapai 60 tahun per pohon. Biaya produksi padi selama tiga kali musim tanam bisa mencapai Rp 30 juta. Alhasil, ketika hasil panen dikurangi biaya produksi, keuntungan petani tinggal Rp 46 juta. Dengan asumsi setahun 365 hari, pendapatan petani padi hanya Rp 126.027 per hari atau Rp 36 juta per bulan. Agribisnis jeruk masih memberikan peluang yang cukup cerah mengingat jeruk merupakan komoditas unggulan. Selama ini investasi pada tanaman jeruk masih relatif sedikit terbukti dari belum banyaknya investor investor yang menanamkan modalnya pada komoditi ini. Demikian halnya dengan kebun jeruk yang masih relatif sedikit di bandingkan dengan potensi wilayah yang ada di Indonesia yang sesuia dengan agroklimat jeruk. Disamping itu dalam hal pertanaman jeruk rakyat yang umumnya

dilakukan di lahan-lahan sempit dengan penanganan yang masih tradisional dan belum menerapkan teknologi budidaya dari prapanen sampai pasca panen secara optimum. Usaha ini belum bisa menghasilkan buah dengan kualitas yang baik dengan kuantitas yang cukup banyak secara berkesinambungan. Dengan demikian produksi jeruk petani kurang memiliki daya saing yang cukup kuat auntuk agribisnis jeruk baik untuk pasar lokal maupun ekspor. Untuk meningkatkan produksi dan mutu buah jeruk agar memiliki daya saing yang cukup baik perlu masukan teknologi pada seluruh aspek mulai prapanen sampai pasca panen untuk memperoleh produksi jeruk yang berkualitas perlu diterapkan total quality control dan total quality management , sehingga produksi jeruk dapat dievaluasi setiap tahapan kegiatan.

SEJARAH DAN DEFINISI KEMITRAAN Secara formal kemitraan di bidang pertanian yang ditumbuhkembangkan oleh pemerintah dimulai tahun 1970-an dengan model Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan (PIR-Bun) sebagai terjemahan dari Nucleus Estate Smallholder Scheme (NESS). Konsep dari model PIR-Bun dibangun atas respon dari Bank

Dunia yang menghendaki percepatan pembangunan pada sub sektor perkebunan terutama yang menyangkut komoditas ekspor, dan sekaligus dapat menciptakan kesempatan kerja baru bagi petani yang menetap di sekitar perkebunan dan mengelola kebun milik pribadi (Puspitawati, 2004). Pola kemitraan seperti PIR tidak hanya dikembangkan pada tanaman perkebunan, tetapi juga diterapkan pada komoditas lain seperti persawahan. Maka bermunculanlah Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI) yang menggunakan pola intiplasma. Tambak Inti Rakyat (TIR) untuk komoditas pertambakan/udang, dan model-model kemitraan lain seperti PIR-Susu, PIR-Unggas, Intensifikasi Kapas Rakyat (IKR), dan Intensifikasi Tembakau Rakyat (ITR) yang tidak terlepas dari peran pemerintah untuk mendorong penerapan model kemitraan usaha. Pemerintah memperkenalkan model ini dengan macam-macam istilah antara lain pola inti plasma, pola kemitraan, pola bapak angkat-anak angkat, dan pola kerjasama. Kesemua istilah tersebut secara garis besar merupakan pola kemitaan. Secara tradisional petani dan pengusaha di bidang pertanian juga sudah banyak melaksanakan kemitraan usaha. Bentuk gaduhan ternak, sewa-sakap lahan, sistem bagi hasil usaha tani tanaman semusim dan nelayan, serta sistemyarnen merupakan contoh-contoh kemitraan tradisional yang banyak dilaksanakan sampai saat ini. Rustiani et. al (1997) dalam Puspitawati (2004) menyimpulkan bahwa pemerintah Indonesia sangat terdorong untuk menerapkan model kemitraan karena bebarapa alasan strategis. Pertama, model kemitraan dapat meningkatkan kapasitas produksi pertanian Indonesia, terutama komoditas ekspor, sehingga menunjang program pembangunan berorientasi ekspor. Kedua, model ini dianggap sebagai koreksi terhadap sistem pengembangan pertanian yang berorientasi perkebunan besar (estate) dan cenderung bersifat tertutup. Pada kemitraan petani kecil dianggap memiliki peran aktif khususnya dalam produksi. Ketiga, melalui model ini pemerintah menganggap telah melakukan landreform yang mencoba menata kembali struktur pemilikan penguasaan, dan

pendistribusian tanah kepada penduduk yang memerlukan. Keempat, dalam hal teknis produksi model kemitraan dapat menjadi perantara penyaluran kredit dan alih teknologi, sehingga tercipta modernisasi di sektor pertanian.

Arahan pemerintah yang cukup disertai dengan fasilitas-fasilitas fisik maupun kemudahan yang disediakan oleh pemerintah seperti kemudahan mendapatkan kredit bank, telah merangsang swasta untuk mengembangkan usaha melalui hubungan kemitraan atau kontrak. Faktor lain yang mendorong swasta yaitu sulitnya memperoleh tanah untuk berproduksi, sehingga efisien untuk mengontrak petani daripada harus menginvestasikan sejumlah dana untuk penyediaan tanah. Secara ekonomi, kemitraan dapat dijelaskan sebagai berikut (Haeruman, 2001): 1. Esensi kemitraan terletak pada kontribusi bersama, baik berupa tenaga (labour) maupun benda (property) atau keduanya untuk tujuan kegiatan ekonomi. Pengendalian kegiatan dilakukan bersama dan pembagian keuntungan dan kerugian didistribusikan diantara mitra. 2. Partnership / alliance adalah suatu asosiasi yang terdiri dari dua orang/usaha atau yang sama-sama memiliki sebuah peran dengan tujuan untuk mencari laba. 3. Kemitraan adalah suatu persekutuan dari dua orang atau lebih sebagai pemilik bersama yang menjalankan suatu bisnis mencari keuntungan. 4. Suatu kemitraan adalah suatu perusahaan dengan sejumlah pemilik yang menikmati bersama keuntungan-keuntungan dari perusahaan dan masing masing menanggung liabilitas yang tidak terbatas atas hutanghutang perusahaan. Definisi dan kebijaksanaan kemitraan usaha resmi telah diatur dalam Undang-undang No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil, yang kemudian dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 44 Tahun 1997 tentang kemitraan. Menurut Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995, kemitraan adalah kerjasama usaha kecil dengan usaha menengah atau dengan usaha besar disertai pembinaan dan pengembangan oleh usaha menengah atau usaha besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan serta dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dalam kemitraan beberapa hal baik yang berkaitan dengan produksi maupun pemasaran sudah ditentukan di depan.

Penentuan dalam aspek produksi serta penggunaan input produksi antara lain terkait dengan jenis komoditas, kuantitas dan kualitas komoditas, teknologi produksi, serta penggunaan input produksi. Pemasaran dalam lingkup kemitraan menyangkut harga dan jaminan pihak perusahaan mitra dalam pembelian output produksi yang dihasilkan kelompok mitra. Selain jaminan dibelinya produk yang dihasilkan, pihak perusahaan mitra umumnya menyediakan fasilitas supervisi, kredit, input produksi, peminjaman atau penyewaan mesin, dan bantuan/nasehat teknis lainnya.

MANFAAT KEMITRAAN Manfaat ekonomi yang diperoleh petani dari pola kemitraan adalah pendapatan yang lebih tinggi, harga yang lebih pasti, produktivitas lahan lebih tinggi, penyerapan tenaga kerja dan modal yang lebih tinggi, dan risiko usaha ditanggung bersama. Manfaat teknis yang diperoleh petani yaitu penggunaan teknologi yang lebih baik sehingga mutu produk menjadi lebih baik. Manfaat sosial yang diperoleh petani adalah ada kesinambungan kerjasama antara petani dan perusahaan, koperasi maupun pedagang pengumpul, serta pola kemitraan mempunyai kontribusi terhadap kelestarian lingkungan.

PRINSIP KEMITRAAN Prinsip kemitraan memerlukan syarat-syarat sebagai berikut : a. Saling pengertian (common understanding) Prinsip meningkatkan saling pengertian yang ini dikembangkan sama mengenai dengan cara

pemahaman

lingkungan,

permasalahan lingkungan, serta peranan masing-masing komponen. Selain aspek lingkungan yang mungkin sangat baru bagi para pelaku pembangunan, juga pemahaman diri mengenai fungsi dan peranan masingmasing aktor penting. Artinya masing-masing aktor harus dapat memahami kondisi dan posisi komponen yang lain, baik pemerintah, pengusaha, maupun masyarakat.

b. Kesepakatan bersama (mutual agreement) Kesepakatan adalah aspek yang penting sebagai tahap awal dari suatu kerjasama yang baik antara pihak-pihak yang bersangkutan. Kesepakatan ini hanya dapat diraih dengan adanya saling pengertian seperti yang disebutkan di atas. Hal ini merupakan dasar-dasar untuk dapat saling mempercayai dan saling memberi diantara para pihak yang bersangkutan. c. Tindakan bersama (collective action) Tindakan bersama ini adalah tekad bersama-sama untuk

mengembangkan kepedulian lingkungan. Cara yang dilakukan tentu berbeda antara pihak yang satu dengan pihak yang lain tetapi tujuannya sama yaitu melindungi lingkungan dari kerusakan. Hal ini merupakan tujuan dari penggunaan prinsip-prinsip kemitraan.

TUJUAN KEMITRAAN Pada dasarnya maksud dan tujuan kemitraan yaitu untuk membantu para pelaku kemitraan dan pihak-pihak tertentu dalam mengadakan kerjasama kemitraan yang saling menguntungkan (win-win solution1) dan bertanggung jawab. Ciri dari kemitraan usaha terhadap hubungan timbal balik bukan sebagai buruh-majikan atau atasan-bawahan sebagai adanya pembagian risiko dan keuntungan yang proporsional, di sinilah kekuatan dan karakter kemitraan usaha. Menurut Hafsah (1999), tujuan ideal kemitraan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan kemitraan secara lebih konkret yaitu (1) meningkatkan pendapatan usaha kecil dan masyarakat, (2) meningkatkan perolehan nilai tambah bagi pelaku kemitraan, (3) meningkatkan pemerataan dan pemberdayaan masyarakat dan usaha kecil, (4) meningkatkan pertumbuhan ekonomi perdesaan, wilayah dan nasional, (5) memperluas kesempatan kerja dan (6) meningkatkan ketahanan ekonomi nasional.
3

Win-win solution (solusi menang-menang): Proses negosiasi yang mendorong prospek keuntungan bagi kedua belah pihak; dikenal juga sebagai proses integratif (Stoner et al., 1995).

KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN KEMITRAAN AGRIBISNIS Pada pelaksanaan kemitraan di bidang agribisnis terdapat banyak faktorfaktor yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan pengembangan kemitraan usaha. Faktor-faktor tersebut terkait dengan prinsip dasar pengembangan etikabisnis, antara lain mencakup: sumberdaya manusia, manajemen dan teknis pelaksanaan kemitraan, mental dan sikap pelaksana kemitraan, keterlibatan pelaksana kemitraan, masalah lingkungan dan keamanan, fasilitas/sarana dan prasarana, serta peraturan daerah dan pusat. Faktor keberhasilan dalam kemitraan agribisnis diantaranya: 1. Masing-masing perusahaan mitra dapat berlaku sebagai mitra yang baik sesuai dengan prinsip kemitraan yaitu saling menguntungkan, saling memerlukan dan saling memperkuat dengan cara: (a) mengadakan bimbingan teknis mengenai komoditi yang dimitrakan, (b) mengadakan bimbingan manajerial kepada petani dan kelompok tani sebagai kelompok mitra, (c) mengusahakan pendanaan dari lembaga pembiayaan bagi kelompok mitra, (d) memenuhi komitmen sesuai dengan perjanjian

kerjasama seperti pembelian produksi dari kelompok mitra sekaligus memasarkan hasil produksi. 2. Kelompok mitra melaksanakan poin-poin perjanjian secara disiplin serta memenuhi kriteria kualitas dan kuantitas produk. 3. Mentaati asas kemitraan dan tidak menyalahi isi perjanjian walaupun ada pihak lain yang berusaha menawarkan harga yang lebih baik. Faktor kegagalan dalam kemitraan agribisnis diantaranya: 1. Adanya kesenjangan komunikasi antara kelompok mitra dengan perusahaan mitra, seperti masalah harga komoditi /produk yang sedang berlaku, informasi pasar, dan lain-lain. 2. Kelompok mitra tidak dapat memenuhi poin perjanjian seperti kualitas dan kuantitas produksi. 3. Kelompok mitra tergoda oleh penawaran dari pihak lain untuk membeli komoditi yang diusahakan petani, karena harga yang lebih baik. 4. Salah satu pihak tidak dapat memenuhi perjanjian kemitraan usaha karena beberapa sebab, antara lain: (a) Kelompok mitra tidak dapat menjual hasil produksi sesuai dengan ketentuan karena kualitas tidak sesuai dengan kualifikasi yang ditetapkan, hasil panen dijual kepada pihak lain, atau kontinuitas tidak terpenuhi, (b) Perubahan manajemen perusahaan mitra, (c) Suatu kejadian di luar kemampuan manusia (force majeure) seperti kebakaran, banjir, gempa bumi, dan lain-lain. 5. Banyak perusahaan mitra yang menghindar dari kebijaksanaan pemerintah. Program bantuan dari pemerintah yang kurang sinergis dengan kondisi di lapangan sehingga penerima bantuan/pelaku kemitraan tidak dapat memanfaatkan secara optimal. Kemitraan bisnis merupakan suatu alternatif yang prospektif bagi pengembangan bisnis di masa depan untuk menghubungkan kesenjangan antar subsistem dalam sistem bisnis hulu-hilir (produsen-industri

pengolahanpemasaran) maupun hulu-hulu (sesama produsen). Pada masa lalu kesenjangan dalam sistem bisnis hulu-hilir diantaranya berupa informasi tentang mutu, harga, teknologi dan akses permodalan. Kondisi ini menyebabkan pemodal

kuat, yang umumnya lebih berwawasan luas, lebih berpendidikan dan telah berperan di subsistem hilir menjadi lebih diuntungkan oleh berbagai kelemahan yang ada pada usaha kecil yang berfungsi di pihak produsen atau hulu. Pada tingkat makro peranan usaha kecil tersebut diantaranya: penyerapan tenaga kerja, penyedia bahan baku bagi usaha besar, perolehan devisa, pembangunan wilayah desentralisasi/otonomi, alat distribusi retail, mitra kerja pelayanan bagi usaha besar, pereduksi tegangan dan kecemburuan sosial atas kesenjangan usaha kecil-besar. Pada tingkat mikro usaha kecil berperan sebagai: sumber penghasilan, wadah bagi bakat wirausaha, pengembangan daya saing individu, dan tempat magang atau sosialisasi bagi kelangsungan usaha kecil dan rumah tangga. Pola kemitraan merupakan suatu benang penghubung antara usaha ekonomi makro dengan usaha ekonomi mikro. Kemitraan agribisnis menurut Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1997 dinyatakan bahwa bentuk kemitraan yang ideal adalah saling memperkuat, saling menguntungkan dan saling menghidupi. Pada konsepsi bentuk kemitraan tersebut, pengusaha

menengah/besar punya komitmen atau tanggung jawab moral membimbing dan mengembangkan pengusaha kecil mitranya agar mampu mengembangkan usahanya, sehingga dapat menjadi mitra yang handal untuk meraih keuntungan bersama. Keuntungan yang dapat diperoleh dari kemitraan usaha kecil dengan perusahaan menengah dan besar, dibanding dengan berusaha sendiri, antara lain melalui (Haeruman, 2001): 1. Kerjasama pemasaran/penampungan produk usaha dapat lebih jelas, pasti, dan periodik, 2. Kerjasama dalam bentuk bantuan dana, teknologi atau sarana lain dapat disediakan oleh perusahaan besar, 3. Kerjasama untuk dapat menghindar dari proses persaingan terhadap produk yang sama antara pengusaha kecil dan pengusaha menengah/besar, dan 4. Kerjasama dengan berbagi tugas antara masing-masing pengusaha sesuai dengan spesialisasi dan tugas masing-masing dalam sistem agribisnis yang berkesinambungan.

Peluang pola kemitraan usaha antara pengusaha kecil (petani, nelayan, koperasi) dan pengusaha menengah atau besar antara lain dapat berbentuk Mangkuprawira et al (1996) dalam Zaelani (2008) : 1) Kontak bisnis. Interaksi pasif antara dua unit usaha tanpa harus ada perjanjian formal yang mengikat, bebas tanpa sanksi hukum, misalnya saling tukar informasi, 2) Kontrak bisnis. Hubungan usaha kecil bersifat aktif dan sudah mencirikan adanya hubungan (transaksi dagang) antara dua mitra usaha, 3) Kerjasama bisnis. Hubungan bisnis di samping bersifat aktif juga bervariasi sampai pada penanganan manajemen (pemasaran, keuangan, produksi dan lain-lain), 4) Keterkaitan bisnis (linkages). Pihak bisnis yang terlibat tetap memiliki kebebasan usaha, tetapi bersepakat untuk melakukan engineering subcontract, bukan sub-kontrak yang bersifat komersial dalam proses produksi. Terdapat beberapa kelemahan dari pengembangan kemitraan agribisnis apabila dikembangkan ke wilayah lainnya, antara lain: 1. Posisi petani yang lemah karena masih lemahnya kemampuan menajerial dan wawasan serta kemampuan kewirausahaan telah menyebabkan petani kurang mampu mengelola usahatani secara efisien dan komersial, 2. Keterbatasan petani dalam bidang permodalan, teknologi, informasi dan akses pasar telah menyebabkan petani kurang mampu mengelola usahatani secara mandiri sehingga mudah tersubordinasi oleh kepentingan pihak lain yang lebih kuat dalam sistem agribisnis, 3. Kesadaran perusahaan (pihak pelaku agribisnis yang lebih kuat) untuk mendukung permodalan petani yang lemah telah menyebabkan petani mengalami kesulitan mengembangkan produk usahatani sesuai dengan kebutuhan pasar, 4. Informasi tentang potensi pengembangan komoditi belum sampai pada pengusaha untuk menanamkan investasinya di bidang agribisnis dan masih lemahnya jaminan (insurance) atas tingginya risiko bila berusaha dalam bidang agribisnis,

5. Masih belum berkembangnya etika bisnis pada sebagian besar investor agribisnis di daerah yang sesuai dengan dunia agribisnis, yaitu kemitraan bisnis yang berprinsip win-win solution, 6. Pada umumnya petani masih mempunyai kesadaran dan komitmen yang lemah tentang pengendalian mutu yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Hal ini perlu menjadi perhatian yang serius dalam kesinambungan hubungan kemitraan tersebut. Pengembangan pemberdayaan petani melalui peningkatan kualitas SDM petani, yang ditempuh dengan pendekatan konvergen antar berbagai pihak yang menjadi pelaku dalam sistem agribisnis merupakan salah satu cara untuk mencegah terjadinya sub-ordinasi pemodal kuat (pengusaha besar) terhadap petani (usaha kecil) melalui lembaga arbitrasi yang efektif.

BENTUK-BENTUK POLA KEMITRAAN Hubungan yang ingin dicapai dalam pembinaan kemitraan yakni: (1) Saling membutuhkan dalam arti para pengusaha memerlukan pasokan bahan baku dan petani memerlukan penampungan hasil dan bimbingan, (2) Saling menguntungkan yaitu baik petani maupun pengusaha memperoleh peningkatan pendapatan/keuntungan disamping adanya kesinambungan usaha, (3) Saling memperkuat dalam arti baik petani maupun pengusaha sama-sama melaksanakan etika bisnis, sama-sama mempunyai persamaan hak dan saling membina, sehingga memperkuat kesinambungan bermitra. Bentuk-bentuk pola kemitraan yang banyak dilaksanakan (Departemen Pertanian, 2002), yakni: 1. Inti-Plasma Merupakan hubungan kemitraan antara kelompok mitra dengan perusahaan mitra, yang di dalamnya perusahaan mitra bertindak sebagai inti dan kelompok mitra sebagai plasma. Syarat-syarat untuk kelompok mitra: (1) berperan sebagai plasma, (2) mengelola seluruh usaha budidaya sampai dengan panen, (3) menjual hasil produksi kepada perusahaan

mitra, (4) memenuhi kebutuhan perusahan sesuai dengan persyaratan yang telah disepakati. Di sisi lain syarat-syarat perusahaan mitra, yaitu: (1) berperan sebagai perusahaan inti, (2) menampung hasil produksi, (3) membeli hasil produksi, (4) memberi bimbingan teknis dan pembinaan manajemen kepada kelompok mitra, (5) memberi pelayanan kepada kelompok mitra berupa permodalan/kredit, saprodi, dan teknologi, (6) mempunyai usaha budidaya pertanian/memproduksi kebutuhan

perusahaan, (7) menyediakan lahan.

2. Subkontrak Merupakan hubungan kemitraan antara kelompok mitra dengan perusahaan mitra, yang di dalamnya kelompok mitra memproduksi komponen yang diperlukan perusahaan mitra sebagai bagian dari prduksinya. Syarat-syarat kelompok mitra dintaranya: (1) memproduksi kebutuhan yang diperlukan perusahaan mitra sebagai bagian dari komponen produksinya, (2) menyediakan tenaga kerja, (3) membuat kontrak bersama yang mencantumkan volume, harga, dan waktu. Di sisi

lain syarat-syarat perusahaan mitra yaitu: (1) menampung dan membeli komponen produksi perusahaan yang dihasilkan oleh kelompok mitra, (2) menyediakan bahan baku/modal kerja, (3) melakukan kontrol kualitas

produksi.

3. Dagang Umum Merupakan hubungan kemitraan antara kelompok mitra dengan perusahaan mitra dengan perusahaan mitra memasarkan hasil produksi kelompok mitra atau kelompok mitra memasok kebutuhan yang diperlukan perusahaan mitra. Syarat-syarat kelompok mitra yaitu memasok kebutuhan yang diperlukan perusahaan mitra. Syarat-syarat perusahaan mitra yakni memasarkan hasil produksi kelompok mitra.

4. Keagenan Merupakan hubungan kemitraan antara kelompok mitra dengan perusahaan mitra, yang di dalamnya kelompok mitra diberi hak khusus

untuk memasarkan barang atau jasa usaha perusahaan mitra. Syarat-syarat kelompok mitra yaitu mendapatkan hak khusus untuk memasarkan barang

dan jasa usaha perusahaan mitra. Namun, perusahaan mitra tidak mempunyai syarat. 5. Kerjasama Operasional Agribisnis (KOA) Merupakan hubungan kemitraan antara kelompok mitra dengan perusahaan mitra, yang di dalamnya kelompok mitra menyediakan lahan, sarana dan tenaga. Perusahaan mitra menyediakan biaya atau modal dan atau sarana untuk mengusahakan atau membudidayakan suatu komoditi pertanian. Syarat kelompok mitra pada pola ini yakni menyediakan lahan, sarana dan tenaga kerja, sedangkan syarat perusahaan mitra yaitu menyediakan biaya, modal, dan teknologi untuk

mengusahakan/membudidayakan pertanian.

6. Pola Lainnya Seperti Pola Kemitraan (Penyertaan) Saham

Merupakan kemitraan usaha agribisnis yang dilakukan dengan penandatanganan perjanjian. Perjanjian kemitraan pola ini mencakup jangka waktu, hak, dan kewajiban dalam melaporkan risiko pelaksanaan kemitraan kepada Instansi Pembina Teknis di daerah, pembagian risiko penyelesaian apabila terjadi perselisihan, serta klausul lainnya yang memberikan kepastian hukum bagi kedua belah pihak. Hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan menengah dan usaha besar dilaksanakan dengan disertai pembinaan dan pengembangan dalam salah satu atau lebih bidang produksi dan pengolahan, pemasaran, permodalan, sumberdaya manusia, dan teknologi. Dari uraian tentang berbagai pola kemitraan yang ditawarkan maka penyuluh atau dinas pertanian setempat maupun petani jeruk pamelo dan perusahaan agribisnis jeruk pamelo dapat menentukan bentuk apa saja yang akan diadopsi sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi dan budaya daerah masingmasing. Program kemitraan yang akan dijalankan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

KESIMPULAN Kemitraan adalah suatu kerjasama antara usaha kecil/menengah dengan usaha besar dengan tujuan mendapatkan keuntungan dan saling menguatkan disertai pembinaan. Kemitraan yang akan dilakukan oleh petani jeruk pamelo dengan perusahaan agribisnis jeruk pamelo dapat menggunakan berbagai bentuk pola kemitraan yang telah dipaparkan sebelumnya, yaitu: inti-plasma, sub kontrak, dagang umum, keagenan, KOA (Kerjasama Operasional Agribisnis), dan pola kemitraan saham. Manfaat yang dapat diambil dari kemitraan yang dilakukan diantaranya adalah sebagai berikut: a. Manfaat ekonomi yang diperoleh petani dari pola kemitraan adalah pendapatan yang lebih tinggi, harga yang lebih pasti, produktivitas lahan lebih tinggi, penyerapan tenaga kerja dan modal yang lebih tinggi, dan risiko usaha ditanggung bersama. b. Manfaat teknis yang diperoleh petani yaitu penggunaan teknologi yang lebih baik sehingga mutu produk menjadi lebih baik. c. Manfaat sosial yang diperoleh petani adalah ada kesinambungan

kerjasama antara petani dan perusahaan, koperasi maupun pedagang pengumpul, serta pola kemitraan mempunyai kontribusi terhadap kelestarian lingkungan.

SARAN Dalam menjalankan kemitraan tersebut diperlukan suatu manajemen yang baik didalamnya karena masalah yang dihadap dalam menjalankan kemitraan adalah masalah manajemennya. Petani mitra membentuk suatu kesepakatan bersama untuk saling membantu apabila ada anggota kelompok tani yang terlambat mengembalikan pinjaman beserta bunganya kepada perusahaan mitra melalui perantara ketua kelompok tani. Kerjasama antara perusahaan mitra dengan petugas penyuluh lapang sebagai jembatan informasi perlu ditingkatkan dengan cara meningkatkan komunikasi yang intens dalam memberikan informasi mengenai kemitraan, bimbingan teknis, dan pelatihan teknologi pertanian yang baru kepada petani mitra. Selain itu penambahan jumlah petugas penyuluh lapang juga diperlukan terkait dengan jumlah petani yang sangat banyak di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA Anonymous. . Analisis Data Untuk Riset dan Manajemen (Online). http://usupress.usu.ac.id/files/Analisis%20Data%20untuk%20Riset%20d an%20Manajemen%20-%20Final%20Cetak_bab%201.pdf. Diakses pada tanggal 31 Maret 2013. Anonymous. . Jeruk Bali (Online). http://id.wikipedia.org/wiki/Jeruk_bali. Diakses pada tanggal 31 Maret 2013. Anonymous. 2012. Laporan Kinerja KEMENTAN 2011 (Online). http://www.deptan.go.id/pengumuman/berita/2012/Laporan-kinerjakementan2011.pdf. Diakses pada tanggal 31 Maret 2013. Anonymous. .Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Jeruk (Online). http://www.litbang.deptan.go.id/special/komoditas/b3jeruk. Diakses pada tanggal 31 Maret 2013. Astuti, Runik Sri. 2012. Jeruk Pamelo Pemutar Ekonomi Magetan (Online). http://www.otonomidaerah.org/jeruk-pamelo-pemutar-ekonomimagetan/. Diakses pada tanggal 31 Maret 2013. Haeruman, Herman. 2001. Kemitraan dalam Pengembangan Ekonomi lokal: Bunga Rampai. Jakarta: Yayasan Mitra Pembangunan Desa-Kota. Hafsah, Mohammad Jafar. 1999. Kemitraan Usaha: Konsepsi dan Strategi. Jakarta: Departemen Pertanian. Nugrayasa, Oktavio. 2013. Tantangan dan Peluang Pertanian 2013(Online) .http://www.setkab.go.id/artikel-6907-.html. Diakses pada tanggal 31 Maret 2013. Purnaningsih, Ninuk. 2007. Strategi Kemitraan Agribisnis Berkelanjutan. Jurnal Transdisiplin, Sosiologi, Komunikasi dan Ekologi Manusia (Online). http://journal.ipb.ac.id/index.php/sodality/article/viewArticle/5838. Diakses pada tanggal 21 Maret 2013. Puspitawati, Eka. 2004. Analisis Kemitraan Antara PT Pertani (Persero) dengan Petani Penangkar Benih Padi di Kabupaten Karawang. Tesis. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Rumusan Sementara Rapat Kerja Nasional Pembangunan Pertanian Tahun 2012 Jakarta, 11-12 Januari 2012 (Online). http://www.deptan.go.id/Rakernas2012/RUMUSANRAKERNAS2012.pdf . Diakses pada tanggal 31 Maret 2013.

Sungakawa, Dadang. . Iklim Indonesia (Online). http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/19550210 1980021-DADANG_SUNGKAWA/IKLIM_INDONESIA.pdf. Diakses pada tanggal 31 Maret 2013. Zaelani, Achmad. 2008. PROGRAM MANFAAT KEMITRAAN AGRIBISNIS BAGI PETANI MITRA (Kasus: Kemitraan PT Pupuk Kujang dengan Kelompok Tani Sri Mandiri Desa Majalaya Kecamatan Majalaya Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat). Skripsi tidak diterbitkan. Bogor: Program Studi Komunikasi Dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Program Studi Komunikasi Dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.