Anda di halaman 1dari 2

Menyulap Anak Jalanan Jadi Pintar Ditulis oleh Asti Wulansariningsih Selasa, 22 May 2012 10:04 Di ruangan 3 x 6 meter

yang terletak di sudut Terminal Depok, Jawa Barat, beberapa kelompok anak muda mengajarkan anak-anak jalanan membaca, menulis, dan bahasa asing. Kegiatan mulia yang dikelola serius ini diharapkan mengurangi jumlah anak jalanan di Depok. MENYULAP TERMINAL Rumah Baca Panter didirikan seorang pria bernama Agus Kurnia. Ide membangun rumah baca ini tercetus pada tahun 1997. Niatnya sederhana, ia ingin ada tempat baca di sekitar Terminal Depok yang nantinya bertujuan untuk menumbuhkan minat baca di kalangan sopir, kondektur, pedagang, hingga pengamen. Agus yang bisa dibilang sesepuh Terminal Depok ini ingin menciptakan terminal yang santun dan cerdas. Bapak empat anak ini ingin mengubah anggapan bahwa terminal adalah tempat angker, sarang preman, sarang penjudi dan pemabuk. Saya dulu datang ke terminal ini tahun 1990-an, segala macam kejahatan ada di sini, tapi alhamdulillah, pelan-pelan kita ubah perilaku negatif itu jadi positif dengan cara turun ke jalan, ikut merasakan susahnya mereka. Toh mereka juga berbuat kejahatan karena terpaksa oleh keadaan. Setelah itu, kita beri mereka pekerjaan walaupun tidak besar hasilnya. Yang penting halal, ujarnya. Perbedaan SARA (Suku Ras dan Agama) yang sempat jadi pemicu perkelahian pun kini hampir tidak pernah terjadi di sini. Boleh dibandingkan dengan terminal lainnya, bagaimaan suasana di sini begitu penuh santun, ramah serta kekeluargaan, tambah pria berkumis ini. Maka, setelah berhasil menjadikan para penghuni Terminal Depok, ramah serta santun, ia pun mulai berpikir bagaimana caranya membuat para penghuni terminal juga cerdas. Ide itu pun dilontarkan lewat obrolan-obrolan ringan dengan beberapa pemuda, diantaranya adalah sosok bernama Andi Akmal Sera, yang kini didaulat sebagai koordinator Rumah Baca Panter. Setelah melalui pemikiran yang panjang, dengan bantuan rekan-rekannya, Andi mulai mensosialisasikan rumah baca lewat media sosial seperti, Facebook dan Twitter yang menurutnya sangat membantu terwujudnya program ini. Dengan merogoh kantong Rp500 ribu per bulan untuk membayar uang sewa, ruangan yang dulu kumuh, berdebu, karena lama tak terpakai pun disulap menjadi sebuah ruangan gudang ilmu. Tepat tanggal 18 November 2011, Rumah Baca Panter pun resmi berdiri dengan dihadiri oleh aktivis sosial: Yessi Gusman, Wanda Hamidah, Buddi Ace dan lain-lain. Andi membuktikan bahwa keterbatasan dana tidak jadi penghalang untuk membangun rumah baca ini. Jika kita telah bertekad berbuat kebaikan, hanya bermodalkan ruangan dan buku seadanya, sebuah rumah baca gratis untuk umum dan khususnya para anak jalanan di terminal pun telah berwujud, ucapnya antusias. SANGAT ANTUSIAS Kini Rumah Baca Panter banyak didatangi oleh anak-anak sekolah, anak jalanan, anak pedagang maupun sopir yang tinggal di lingkungan Terminal Depok. Menurut Andi, rumah baca ini terbuka 24 jam untuk umum. Siapa saja boleh masuk ke sini asalkan tujuannya positif. Semisal, para sopir angkutan perkotaan, calo, maupun pedagang yang tidak bisa baca tulis. Mereka bisa datang pada
1

malam hari. Mungkin, mereka malu untuk datang pada siang hari karena banyak anak-anak, jelas Andi. Tak heran bila pada malam hari ada saja sopir dan kondektur yang minta diajarkan baca dan tulis. Berjalannya waktu, melihat antusiasme penghuni Terminal Depok dengan kehadiran rumah baca ini, terlintas dalam benak Andi dan kawan-kawan untuk membuat program baru, yaitu membuka kelas belajar. Awalnya, mereka bertanya pada para anak-anak yang selalu datang untuk membaca di tempat tersebut apakah mereka tertarik jika diadakan kelas belajar, tak disangka sambutan positif berdatangan. Akhirnya, beberapa bulan lalu mereka pun membuka kelas belajar dengan materi pembelajaran bahasa Inggris, bahasa Jerman, matematika, baca tulis, dasar-dasar komputer, bahkan membaca Al Quran. Andi mengaku sangat serius mengelola rumah baca ini. Meski gelar Sarjana Teknik telah didapatkan, Andi bertekad untuk mengabdikan ilmu yang didapatkan untuk lingkungan di terminal. Bahkan, seminggu lalu ada yang menghubungi saya dari Cianjur, mereka bilang ingin juga punya terminal yang ramah, nyaman serta cerdas. Dan bila ada waktu saya diminta datang ke Cianjur untuk berbagi ilmu dengan mereka. Ya, mudah-mudahan semakin banyak orang termotivasi dengan kami untuk menciptakan suasana terminal yang kondusif di daerah lain. Semoga terminal Depok bisa jadi terminal percontohtan untuk terminal lain, cerita Andi. Andi juga berharap, ke depan bukan hanya anak-anak yang bisa menikmati rumah baca ini, namun juga warga sekitar terminal. Kami tidak ingin menjadi generasi yang hanya berteori, namun generasi praktisi yang menyingsingkan lengan dan terjun secara langsung untuk memberi kontribusi secara langsung kepada masyarakat sekitar, tutupnya sambil tersenyum.