Anda di halaman 1dari 13

Ilmu Sosial Budaya Dasar

Krisis Ekonomi dan Krisis Moneter Dampaknya Bagi Kehidupan Manusia


Nama Nim Kelas Dosen Pembimbing Tanggal Ujian Tanda Tangan : Agum Bayu Gumelar : 125080101111072 : T05 : Dr. Uun Yanuhar, S.Pi, MSi : :

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

BAB I PENDAHULUAN
Seperti yang terjadi pada tahun 1998-1999 di Indonesia, krisis ekonomi terjadi dan terkenal disebut krisis moneter alias krismon. Krisis yang melanda bangsa Indonesia, menjadi awal terpuruknya sebuah negara dengan kekayaan alam yang melimpah ini. Dari awal 1998, sejak era orde baru mulai terlihat bahwa Indonesia terus mengalami kemerosotan, terutama dalam bidang ekonomi. Nilai tukar semakin melemah, inflasi tak terkendali, juga pertumbuhan ekonomi yang kurang berkembang di negara ini. Pada masa itu terjadi kehancuran dalam bidang ekonomi secara serentak di seluruh Indonesia.. Krisis ekonomi ini berdampak pada banyak segi kehidupan. Banyak terjadi kerusuhan dimana mana yang mengakibatkan terjadinya penjarahan. Kondisi ini makin memburuk dengan adanya sweaping dari pribumi kepada warga keturunan Cina, pemerintah pun tidak bisa bertindak banyak untuk meredam kemarahan masyarakat yang terkena dampak krisis moneter ini. Perekonomian di Indonesia pun mati total tidak ada transaksi mata uang sementara waktu. Sampai sekarang pun dampaknya masih terasa dengan harga dolar yang melambung tinggi. Kondisi ekonomi Indonesia menjelang tahun 1998 merupakan faktor penting yang mempengaruhi kondisi sosial dan politik di Indonesia. Walaupun hal itu bukanlah faktor tunggal yang mempengaruhi situasi tersebut. Pengaruh praktek ekonomi rente sebagai akibat praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dengan cepat mempengaruhi jatuhnya mata uang rupiah dan bangunan perbankan Indonesia. Sejak Oktober 1997 pemerintah sudah tidak mampu lagi mempertahankan sistem kurs devisa mengambang terkendali yang telah dipraktekkan sejak lama, yaitu selama masa pemerintahan Orde Baru. Ketergantungan pemerintah terhadap utang luar negeri semakin membuat nilai rupiah jatuh. Efek selanjutnya membuat semakin parah dan merembet ke berbagai sektor. Berbagai pabrik terpaksa tutup akibat mahalnya bahan dan suku cadang impor, sehingga banyak dilakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Akibatnya pengangguran jumlahnya bertambah dengan cepat dan tersebar di berbagai wilayah, khususnya di pulau Jawa. Penggangguran yang kebanyakan pulang kampung bertemu dengan petani- petani yang gagal panen. Akibat kenaikan harga dimana-mana dan terganggunya jalur dan proses perdagangan, barang kebutuhan khususnya sembilan bahan pokok (sembako) menjadi semakin langka di pasaran. Masyarakat pun mulai resah dan panik akan kelangkaan barang-barang kebutuhan. Pemerintah melalui Bulog kemudian memberikan reaksi dengan melakukan operasi pasar dan penjualan minyak goreng dan beras murah, yang kesemuanya ternyata tetap tidak banyak menolong. Sementara itu nilai rupiah semakin anjlok memasuki angka Rp. 10.000/USD. Situasi panik semakin menjadi dan

masyarakat khususnya orang-orang kaya mulai melakukan aksi borong barang khususnya sembako ( Chandrawati, 2005 ). Situasi semakin bertambah parah. Perkembangan ekonomi masyarakat semakin kompleks, sementara di sisi lain jumlah barang dan jasa yang tersedia relatif terbatas dan bahkan makin langka. Hal ini menyebabkan kehadiran pranata ekonomi yang makin rinci tak lagi bisa dihindari. Salah satu faktor yang membedakan keragaman masyarakat adalah pranata ekonomi yang berlaku di masyarakat itu, semakin kompleks perkembangan masyarakat, semakin rumit dan lengkap pranata yang berlaku. Di dalam masyarakat yang pola hubungannya kontraktual dan impersonal, hubungan ekonomi atau perdagangan sering harus diatur secara formal melalui pranata ekonomi untuk menghindari kemungkinan munculnya perselisihan yang tidak diinginkan. Namun, kehadiran pranata ekonomi di dalam kehidupan masyarakat tidak selalu menjamin bagi terciptanya ketertiban dalam berbagai kegiatan usaha yang dilakukan antar pelaku ekonomi ( Chandrawati, 2005 ).

BAB II PEMBAHASAN

1. Dampak Krisis Ekonomi dan Moneter Terhadap Kondisi Sosial Masyarakat


Sejak krisis moneter yang melanda pada pertengahan tahgun 1997, perusahaan perusahaan swasta mengalami kerugaian yang tidak sedikit, bahkan pihak perusahaan mengalami kesulitan memenuhi kewajibannya untuk membayar gaji dan upah pekerjanya. Keadaan seperti ini menjadi masalah yang cukup berat karena disatu sisi perusahaan mengalami kerugaian yang cukup besar dan disisi lain para pekerja menuntut kenaikan gaji. Tuntutan para pekerja untuk menaikkan gaji sangat sulit dipenuhi oleh pihak perusahaan, akhirnya banyak perusahaan yang mengambil tindakan untuk mengurangi tenaga kerja dan terjadilah PHK. Para pekerja yang diberhentikan itu menambah jumlah pengangguran, sehingga jumlah pengangguran diperkirakan mencapai 40 juta orang. Pengangguran dalam jumlah yang sangat besar ini akan menimbulkan terjadinya masalah masalah social dalam kehidupan masyarakat. Dampak susulan dari pengangguran adalah makin maraknya tindakan tindakan criminal yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Kebanggaan akan gerakan mahasiswa yang akhirnya berhasil menumbangkan pada kekuasaan orde baru yang ternodai oleh adanya kekacauan social yang menyangkut pengrusakan harta benda, pembakaran, perampkan, pemerkosaan yang sangat biadab dan tidak bermoral itu.

2. Dampak Krisis Ekonomi dan Moneter Terhadap Pelayanan Kesehatan Masyarakat dan kesehatan Masyarakat
A. Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Untuk dapat memahami pengaruh krisis moneter atau krisis ekonomi terhadap pelayanan kesehatan masyarakat, perlulah dipahami dahulu apa yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan masyarakat (public health service). Secara sederhana yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan masyarakat adalah bagian dari pelayanan kesehatan yang lebih mengutamakan kegiatannya pada upaya peningkatan kesehatan serta pencegahan penyakit serta lebih memusatkan perhatiannya pada pelbagai masalah kesehatan yang ditemukan di masyarakat secara keseluruhan.

Sarana kesehatan yang bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat disebut dengan nama sarana kesehatan masyarakat. Untuk Indonesia sarana kesehatan masyarakat ini adalah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang berada pada lini depan serta dibantu oleh Dinas Kesehatan Tingkat II yang berada di Kabupaten/kotamadya serta Dinas Kesehatan tingkat I yang berada di Propinsi, sebagai sarana rujukan. Untuk memperluas cakupan pelayanan Puskesmas, maka pada beberapa wilayah kerja yang dinilai strategis didirikan Pusat Kesehatan Masyarakat Pembantu (Puskesmas Pembantu) serta pada setiap desa ditempatkan Bidan di Desa. Secara umum dapat dikatakan krisis ekonomi menyebabkan penurunan kinerja pelayanan kesehatan masyarakat khususnya Puskesmas, BDD dan Posyandu. A.I. Puskesmas Pengaruh krisis ekonomi terhadap kinerja Puskesmas secara umum dapat dibedakan atas dua macam yakni : a.Penurunan kemampuan Puskesmas Penurunan kemampuan puskesmas ini disebabkan antara lain oleh : Menurunnya penyediaan obat Sebagian besar bahan baku obat masih diimport. Dengan kenaikan nilai mata uang asing sebesar 3 kali lipat berarti menurunnya penyediaan obat sebanyak 1/3 kali. Menurunnya penyediaan alat kesehatan dan reagensia Walaupun sebagian besar alat kesehatan dan reagensia sudah diproduksi di dalam negeri, tetapi akibat inflasi, menyebabkan kenaikan harga alat kesehatan/reagensia sulit dihindari. Menurunnya kemampuan pembiayaan program / pelayanan kesehatan Inflasi mengakibatkan kenaikan harga barang dan jasa yang diperlukan untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat. Misalnya: transportasi, bahan habis pakai, alat tulis kantor, dan lain-lain. Akibatnya kemampuan pelayanan, misalnya: pelayanan luar gedung, kunjungan rurnah, dan surveilans menurun dengan tajam. ! Menurunnya poduktivitas kerja Perhatian clan kegiatan petugas yang terpecah untuk mengatasi kesulitan hidup menyebabkan: menurunnya disiplin, motivasi dan dedikasi sehingga produktivitas menurun. b. Meningkatnya beban kerja Puskesmas Meningkatnya beban kerja Puskesmas antara lain disebabkan oleh: Meningkatnya jumlah sasaran programlpelayanan Krisis ekonomi menyebabkan bertambahnya jumlah keluarga miskin yang merupakan sasaran prioritas program/pelayanan kesehatan. misalnya : bayi, balita, bumil, buras, usila, serta penderita penyakit kronis.

Meningkatnya kegiatan programlpelayanan kesehatan Dalam rangka mengatasi masalah kesehatan yang banyak dihadapi keluarga miskin. Puskesmas harus mengaktitkan kembali beberapa kegiatan program yang sebelumnya tidak dilaksanakan secara intensif, misalnya : Penimbangan balita, pemberian PMf, SKPG, Surveilans gizi, penyakit menular. Di samping itu I Puskesmas harus melaksanakan kegiatan baru dari program yang sudah ada misalnya identifikasi keluarga miskin. JPKM. Meningkatnya masalah kesehatan secara umum di wilayah kerja Krisis ekonomi menyebabkan meningkatnya masalah kesehatan baik yang berakibat langsung misalnya: penurunan status gizi, kemampuan mengaksesi pelayanan. maupun tidak langsung misalnya: cidera akibat tindak kriminal, keluhan kejiwaan, sanitasi lingkungan, perilaku sehat. Hal ini menyebabkan

meningkatnya pelaksanaan berbagai program kesehatan lain. Menurunnya kemampuan serta meningkatnya beban kerja Puskesmas membawa konsekwensi pada menurunnya mutu pelayanan Puskesmas serta kondisi kesehatan masyarakat secara keseluruhan. A.2. Bidan di Desa Keadaan yang dihadapi oleh Puskesmas hampir serupa dengan yang dihadapi oleh Bidan di Desa. Kinerja Bidan di Desa akan menurun, karena beban kerja bertambah dan kemampuan pelayanan menurun. Hal ini akan berakibat pada penurunan hasil pelayanan kesehatan Ibu dan Anak, keluarga berencana, pelayanan perbaikan gizi dan pengembangan Posyandu sesuai dengan tugas dan fungsi bidan di desa. A.3. Posyandu Akibat krisis ekonomi kinerja Posyandu akan menurun terutama karena dukungan/perhatian tokoh masyarakat berkurang, aktifitas kader menurun, partisipasi/sumbangan masyarakat terhambat, peran serta masyarakat sasaran teralihkan/istirahat. Menurunnya kinerja Posyandu sangat merugikan pembangunan kesehatan masyarakat di masa krisis ekonomi. Karena Posyandu diharapkan dapat berperan dalam : a. Meningkatkan kesadaran keluarga miskin akan masalah kesehatan yang dihadapi dan segala konsekuensinya melalui Penyuluhan Kesehatan Masyarakat. b. Memonitor dampak krisis ekonomi terhadap status gizi balita, status kesehatan lbu dan anak melalui penimbangan balita dan pemeriksaan kesehatan ibu dan anak. c. Mengatasi masalah kesehatan yang timbul, misalnya melalui : kegiatan PMT pemulihan. d. Memonitor dan mengatasi masalah kesehatan lain sebagai akibat langsung tidak langsung krisis ekonomi, misalnya : diare, dan lain-lain. Sedangkan untuk menggalang peran serta masyarakat yang merupakan salah satu ciri utama pelayanan kesehatan masyarakat, didirikan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di setiap RW atau

desa. Pada saat ini tercatat tidak kurang dari sekitar 240.000 Posyandu telah didirikan di seluruh Indonesia.

B. Kesehatan Masyarakat
Pengaruh krisis ekonomi terhadap kesehatan masyarakat banyak macamnya. Beberapa diantaranya yang dinilai mempunyai makna yang penting adalah : B.I. Menurunnya status gizi masyarakat Krisis ekonomi menyebabkan harga barang dan jasa termasuk bahan makanan meningkat. Selanjutnya penurunan daya beli menyebabkan konsumsi makanan berkurang sehingga status gizi menurun. Penelitian di berbagai daerah telah membuktikan hal tersebut. Pengamatan Posyandu di Sulsel menemukan KEP nyata balita daTi 5,7 % pada tabun 1997 meningkat menjadi 14,9 % tabun 1999. Penurunan status gizi balita tersebut nyata sebagai akibat kekurangan kalori/protein sesaat, terbukti dari hasil penelitian : angka malnutrisi akut anak di bawah 2 tahun meningkat dari 9,9 % tabun 1997 menjadi 14,4 % tabun 1999. Penurunan status gizi akan mendatangkan berbagai masalah ikutan sebagai berikut : Menghambat pertumbuhan dan perkembangan fisik serta intelektual janin dan anak terutama anak balita. Kekurangan gizi pada janin dan balita dapat menimbulkan loss generation. Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin. Kekurangan gizi pada ibu nifas menghambat produksi ASI. Kekurangan gizi pada masyarakat dapat menurunkan daya tahan tubuh, memudahkan yang sehat menjadi sakit serta menghambat kesembuhan bagi yang sakit. B.2. Menurunnya akses terhadap fasilitas pelayanan Mengingat prioritas pendapatan keluarga untuk membeli makanan, maka penyediaan biaya untuk pelayanan kesehatan mengalami penurunan. Hal ini perbesar dengan meningkatnya tarif jasa pelayanan kesehatan khususnya pada silitas swasta. Akibatnya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan menurun dengan tajam. B.3. Menurunnya perhatian terhadap lingkungan Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status kesehatan. Dengan adanya krisis menyebabkan perhatian masyarakat terpusat pada kegiatan untuk mempertahankan

hidup, sehingga perhatian terhadap lingkungan menurun. Akibatnya sanitasi rumah, lingkungan pemukiman, penyediaan air bersih mengalami penurunan yang tajam. B.4. Menurunnya partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan yang mendukung kesehatan Mengurangnya perhatian masyarakat tidak terbatas hanya pada lingkungan, tapi juga terhadap berbagai kegiatan yang mendukung kesehatan, misalnya :Posyandu, Pos KB, Pos Obat dan lain-lain. B.5. Mengabaikan perilaku sehat Keadaan krisis ekonomi dapat menimbulkan kondisi pengabaian perilaku hidup sehat, misalnya : meningkatnya merokok, kebebasan seksual, makan tidak teratur dan lain-lain. B.6. Munculnya masalah kesehatan lain Krisis ekonomi dapat menimbulkan secara tak langsung masalah kesehatan lain, misalnya: meningkatnya stress, cidera akibat tindak kekerasan, penyakit hubungan seksual dan lain-lain.

3. Dampak Krisis Ekonomi dan Moneter Terhadap Pendidikan


A. Kegiatan Pendidikan
Krisis moneter yang terjadi sejak Juli tahun 1997 sampai sekarang telah membawa akibat yang serius terhadap sendi-sendi perekonomian nasional. Pendapatan masyarakat menurun drastis, harga-harga barang juga naik tajam sehingga mencapai tingkat yang sebagian warga masyarakat sulit menjangkaunya. Bahkan menurut para ahli, jika krisis ekonomi ini dibiarkan, akan terjadi proses pembodohan bangsa secara massal. Pasalnya akibat krisis ekonomi, banyak masyarakat yang tidak bisa menjangkau harga layanan pendidikan. Secara khsus dampak krisis ekonomi yang terjadi pada masyarakat dapat dikelompokan menjadi beberapa kemungkinan, diantaranya : a) kemampuan ekonomi rendah dengan aspirasi pendidikan rendah; b) kemampuan ekonomi rendah dengan aspirasi pendidikan tinggi; c) kemampuan ekomomi tinggi dengan aspirasi pendidikan rendah; dan d) kemampuan ekonomi tinggi dengan aspirasi pendidikan tinggi. Kemampuan menyekolahkan anak bagi yang kemampuan ekonominya rendah sangat rentan atas dampak krisis moneter. Keadaan ini bisa dipahami karena struktur pengeluaran mereka sebagian besar adalah untuk memenuhi kebutuhan primer. Hanya sebagian kecil pengeluaran mereka yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan sekunder, seperti untuk membiayai pendidikan. Oleh karena itu begitu penghasilan mereka menurun atau bahkan hilang, maka untuk pembiayaan pendidikan akan dikurangi atau bahkan dihentikan. Lebih dari itu, bagi kelompok ini, penurunan dan

hilangnya pendapatan keluarga akan menggerakan mereka untuk mengarahkan kegiatan anak kepada sesuatu kegiatan produktif bagi keluarga, daripada merngirim mereka ke sekolah. Kecendrungan ini terjadi apabila angka putus sekolah atau drop out (DO) sebagian dari kelompok ini meningkat. Bagi kelompok yang kemampuan ekonominya rendah tetapi aspirasi pendidikan tinggi, dapak krisis ekonomi mirip sebagaimana kelompok pertama. Kelompok ini akan mengalami penurunan pendapatan atau bahkan hilang, yang menyebabkan mereka tidak lagi memiliki uang untuk membiayai anak-anaknya sekolah. Hanya dikarenakan memiliki aspirasi pendidikan yang tinggi, mereka tidak langsung drop out, melainkan mempertahankan anak-anak mereka tetap bersekolah. Tetapi, upaya mempertahankan anak-anak mereka untuk tetap bersekolah ada batasnya, karena itu ancaman drop out membayangi kelompok ini. Jika mereka dihadapkan pada pilihan antara anak meneruskan sekolah ke jenjang sekolah yang lebih tinggi atau tidak sekolah dulu, mereka akan cenderung memilih yang kedua karena ketidakmampuan menyediakan biaya. Bagi kelompok yang mempunyai kemampuan ekonomi tinggi tetapi aspirasi pendidikan rendah, dampak krisis ekonomi relatif tidak terlalu terasa. Pendapatan kelompok ini juga akan menurun atau bahkan hilang, tetapi apa yang dimiliki masih dapat menopang kehidupannya dengan baik dalam waktu yang relatif lama. Demikian pula konsumtif, primer dan sekunder, bukan merupakan masalah bagi kelompok ini. Namun, karena aspirasi pendidikan mereka ini rendah, kenaikan biaya pendidikan bagi mereka akan menekankan kemauan dan semangat menyekolahkan anak-anaknya. Terutama, biaya pada jenjang pendidikan menengah dan tinggi. Kebijakan yang diperlukan agar kelompok ini tetap mempertahankan anak-anaknya melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi adalah menunda kenaikan uang sekolah dari iuaran sekolah yang lain. Sampai batas waktu tertentu yang diperkirakan gejolak ekonomi dapat dikendalikan, maka segala kebijakan untuk menaikan biaya sekolah perlu dipertimbangkan masak-masak. Bagi kelompok yang kemampuan ekonominya tinggi tetapi aspirasi pendidikan tinggi, dampak krisis ekonomi tidak nampak. Artinya kemauan dan kemampuan mereka menyekolahkan anak-anaknya tidak akan terganggu. Kemampuan ekonomi mereka bahkan harus bisa dimanfaatkan bagi kebutuhan yang lain. Oleh karena itu, kebijakan yang diperlukan untuk kelompok ini adalah mendorong mereka agar aktif membantu siswa yang tidak mampu, terutama yang ada di sekolah masing-masing seperti Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GN-OTA).

B. Peningkatan Mutu Pendidikan


Krisis ekonomi sangat besar pengaruhnya terhadap mutu pendidikan, seperti diungkapkan oleh Budiono dalam Mimbar Pendidikan No. 4 tahun XVII, 1999:11) bahwa : Mutu pendidikan ditentukan antara lain oleh kualitas guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, kualitas kepala sekolah dalam memimpin dan menciptakan kultur sekolah yang kondusif, kualitas staf administrasi

dalam menjalankan tugasnya dengan baik, benar, tertib dan cepat serta kualitas siswa dalam arti memiliki motivasi belajar yang tinggi serta kualitas dukungan lingkungan khususnya dari orang tua siswa. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis berpendapat bahwa mutu pendidikan akan berhasil jika semua komponen sekolah seperti kepala sekolah, guru, siswa dan orang tua murid dapat bekerja sama dengan baik, antara lain guru yang berkualitas dan siswa yang memiliki motivasi untuk belajar serhingga proses belajar mengajar akan berhasil. Krisis moneter menyebabkan pendapatan sktor riil yang diterima guru semakin kecil, dikarenakan dengan menerima pendapatan yang tetap sama harus digunakan membeli kebutuhan dengan harga yang sudah naik. Menyusutnya pendapatan riil guru tersebut akan berpengaruh terhadap proses belajar mengajar yang mereka laksanakan. Salah satu contohnya banyak guru yang berdemonterasi menuntut kenaikan gaji. Kehidupan guru sekarang ini termasuk dalam kelompok marginal atau pas-pasan, itupun sebagian besar guru bersedia kerja ekstra, mengajar tidak hanya disatu sekolah. Semakin mahalnya harga-harga barang kebutuhan sehari-hari merupakan tambahan persoalan yang harus dihadapi guru. Tidak pelak lagi, semangat kerja guru dapat merosot dan konsentrasi mereka mengajar akan terganggu karena persoalan hidup sehari-hari yang meningkat, kalau dalam kondisi normal saja, kualitas guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar masih perlu untuk ditingkatkan, apalagi dalam kondisi krisis moneter dewasa ini. Oleh karena itu, merosotnya semangat kerja dan konsentrasi kerja guru merupakan ancaman langsung terhadap peningkatan mutu pendidikan. Krisis ekonomi dan moneter mengharuskan pengkajian ulang atau reorientasi kebijaksanaan pembiayaan lama disusun berdasarkan keadaan sebelum krisis. Pelaksanaan harus secara sadar berpihak kepada lapisan masyarakat miskin. Upaya tersebut mencakup untuk siswa, guru, kepala sekolah, orang tua siswa dan masyarakat. 1. Siswa. Sasaran beasiswa harus ditingkatkan dan diperluas. Beasiswa ini ditujukan bagi mereka yang putus sekolah dan mereka yang akan melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Pengembangan beasiswa ini sangat mendesak, untuk itu perlu dukungan birokrasi, yang memberikan kemudahan di bidang administrasi keuangan. Pembebasan pembayaran yang seharusnya dibayar siswa secara bulanan, caturwulan, maupun tahunan dapat diberikan dalam jangka waktu tertentu, misalnya satu atau dua tahun terutama dalam tahun-tahun keadaan ekonomi sulit. Pebebasan biaya sekolah ini bisa juga diberikan secara multi years seperti beasiswa. Pembebasan biaya sekolah ini tidak selalu di darah terpencil tetapi juga dialami oleh orang tua siswa yang orang tuanya di PHK (putus Hubungan Kerja). 2. Guru. Program peningkatan mutu guru melalui pelatihan perlu ditingkatkan sehingga guru mampu mengelola kelas dengan baik, meskipun kondisi siswa kurang memadai. Kegiatan MGMP

(Musyawarah Guru Mata Pelajaran) yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan guru diperkaya dengan pemberian insentif transport dan sebagainya yang dapat meringankan bukan hanya pekerjaan tetapi juga kehidupan guru. 3. Kepala Sekolah. Kualitas manajemen kepala sekolah harus ditingkatkan. Sasaran pada komponen ini adalah mengembangkan sekolah menjadi suatu unit mandiri yang bercorak sistem organik bukannya bercorak sistem mekanik. Pada sistem mekanik kerusakan pada suatu alat dapat segera diganti dengan alat lain dan sistem akan berfungsi kembali. Tetapi tidak demikian pada sistem organik. Kalau sekolah tidak berfungsi dengan baik tidak hanya dapat diperbaiki dengan mengganti onderdil yang tidak baik, misalnya guru dilatih agar kualitanya semakin tinggi. Melainkan fungsi sekolah harus didukung oleh semua orang yang ada pada sekolah. Inti dari sistem organik adalah semua komponen sekolah, mulai dari kepala sampai siswa dan bahkan orang tua siswa harus terlibat dan bertanggung jawab utuk terlaksananya program pendidikan yang baik di sekolah. 4. Orang tua siswa. Bertambahnya orang tua siswa dengan penghasilan semakin rendah dan bahkan tidak berpenghasilan karena PHK dan terjadinya krisis moneter. Oleh karena itu, pembangunan sekolah atau ruang kelas baru serta kegiatan tehabilitasi gedung sekolah, baik di kota maupun di desa akan menambah lapangan kerja bagi para penganggur tersebut. 5. Masyarakat. Peran BP3 atau yang sekarang telah berubah nama menjadi Dewan Sekolah untuk menunjang kegiatan sekolah harus ditingkatkan sesuai dengan kemampuan masyarakat setempat. Hal ini dimungkinkan kalau terjadi kerjasama yang baik antara masyarakat dengan sekolah. Dari uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa usaha mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya akan mengalami hambatan yang cukup berarti, sehingga tujuan membentuk pribadi-pribadi yang mantap, mandiri dan bertanggung jawab dalam segi yang dilakukan oleh anak meningkat. Untuk mengatasi persoalan itu, maka prioritas program pendidikan harus diarahkan pada pemerataan pendidikan. Pendidikan harus diarahkan pada pembentukan mental yang kuat serta pembentukan jiwa kewirausahaan, supaya ketergantungan kepada orang lain menjadi berkurang.

BAB III KESIMPULAN

Krisis Ekonomi dan Krisis Moneter memiliki dampak yang sangat banyak bagi kehidupan masyarakat.Adapun beberapa sektor yang terkena dampak dari krisis ekonomi dan krisis moneter yang berpengaruh langsung bagi kehidupan masyarakat diantaranya: 1. Kehidupan sosial masyarakat Adapun dampak krisis ekonomi dan krisis moneter pada kehidaupan sosial masyarakat yaitu: meningkatnya jumlah pengangguran di masyarakat makin maraknya tindakan tindakan criminal yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. adanya kekacauan social yang menyangkut pengrusakan harta benda, pembakaran, perampkan, pemerkosaan yang sangat biadab dan tidak bermoral 2. Pelayanan kesehatan masyarakat dan kesehatan masyarakat Krisis ekonomi dan krisis moneter memiliki dampak yang besar dalam dunia kesehatan diantaranya sebagai berikut: Penurunan kemampuan Puskesmas Meningkatnya beban kerja Puskesmas Kinerja Bidan di Desa akan menurun Menurunnya kinerja Posyandu Menurunnya status gizi masyarakat Menurunnya akses terhadap fasilitas pelayanan Menurunnya perhatian terhadap lingkungan Menurunnya partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan yang mendukung kesehatan Mengabaikan perilaku sehat Munculnya masalah kesehatan lain 3. Dunia pendidikan Angka putus sekolah dan Drop Out (DO) meningkkat pendapatan sktor riil yang diterima guru semakin kecil banyak guru yang berdemonterasi menuntut kenaikan gaji. semangat kerja guru dapat merosot dan konsentrasi mereka mengajar akan terganggu karena persoalan hidup sehari-hari yang meningkat Pengajaran yang diterima siswa kurang maksimal

DAFTAR PUSTAKA
http://id.scribd.com/doc/71567443/Dampak-Krisis-Moneter-pada-Kehidupan-Sosial-Masyarakatterhadap-Pranata-Ekonomi-Agama-dan-Politik http://sahabatrhysayku.blogspot.com/2011/12/kondisi-sosial-dan-ekonomi-masyarakat.html http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3757/1/fkm-juanita6.pdf https://hendraprijatna68.files.wordpress.com/2012/06/mak-dampak-krisis-eko-kpd-pendidikan.doc