Anda di halaman 1dari 21

ASKEP DIARE

OLEH : 1. BACHTIAR WIDI ALIS 2. CHANDRA KHARISMAN 3. DINA IRHAMNI

DEFINISI
Diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari, kadang-kadang disertai dengan darah atau lendir. (Anik Maryunani.2010) Diare adalah pengeluaran tinja yang tidak normal dan cair. Buang air besar yang tidak normal dan bentuk tinja yang cair dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya (Bag. Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM) (Weni Kristiyanasari. 2009)

ETIOLOGI
1. Faktor infeksi a) Infeksi enteral, merupakan infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. Rotavirus merupakan penyebab utama infeksi (70%-80%), sedangkan bakteri dan parasit ditemukan 10%20% pada anak. Berikut ini nama-nama bakteri, virus dan parasit penyebab diare : Golongan bakteri : Aeromonas hidrophilia Escherichia coli dll. Golongan virus Rotavirus Astrovirus dll. Golongan parasit Balantidium coli Entamoeba histolytica dll.

LANJUTAN . . .

b) Infeksi parenteral, merupakan infeksi diluar saluran pencernaan makanan, seperti otitis media akut (OMA), bronkopneumonia, tonsillitis, ensefalitis, keadaan ini terutama pada bayi dan anak berusia dibawah 2 tahun. 2. Faktor malabsorbsi Seperti gangguan absorbs karbohidrat (pada bayi dan anak yang tersering adalah intoleransi laktosa), malabsorbsi lemak, malabsorbsi protein. 3. Faktor makanan Seperti alergi makanan, makanan basi, beracun. 4. Faktor Psikologis Seperti rasa takut dan cemas.

KLASIFIKASI
a. Diare akut Merupakan penyebab utama keadaan sakit pada anak-anak balita. Diare akut didefinisikan sebagai keadaan peningkatan dan perubahan tiba-tiba frekuensi defekasi yang sering disebabkan oleh agens infeksius dalam traktus GI. Diare akut biasanya sembuh sendiri (lamanya kurang dari 14 hari) dan akan mereda tanpa terapi yang spesifik jika dehidrasi tidak terjadi.

b. Diare Infeksius Akut (gastroenteritis infeksiosa) Dapat disebabkan oleh virus, bakteri dan parasit yang pathogen.
c. Diare kronik Didefinisikan sebagai keadaan menigkatnya frekuensi defekasi dan kandungan air dalam feses dengan lamanya (durasi) sakit lebih dari 14 hari. Kerap kali diare kronis terjadi karena keadaan kronis seperti sindrom malabsorpsi, penyakit infeksi usus, difisiensi kekebalan, alergi makanan, intoleransi laktosa atau diare nonspesifik yang kronis, atau sebagai akibat dari pelatalaksanaan diare akut yan tidak memadai.

LANJUTAN . . .

d. Diare yang membandel (intraktabel) pada bayi Merupakan sindrom yang terajadi pada bayi dalam usia beberapa minggu pertama serta berlangsung lebih lama dari 2 minggu tanpa ditemukannya mikroorganisme pathogen sebagai penyebabnya dan bersifat resisten atau membandel terhadap terapi. Penyebabnya yang paling sering adalah diare infeksius akut yang tidak ditangani secara memadai. e. Diare kronik nonspesifik Diare kronik nonspesifik yang juga dikenal dengan istilah kolon intable pada anak atau diare toddler, merupakan peyebab diare kronik yang sering dijumpai pada anak-anak yang berusia 6 hingga 54 minggu. Anak-anak ini memperlihatkan feses yang lembek yang sering disertai partikel makanan yang tidak tercerna, dan lamanya diare lebih dari dua minggu. Anak-anak yang mederita diare kronis nonspesifik ini akan tumbuh secara normal dan pada anak-anak ini tidak terjadi gejala malnutrisi. Tidak ada darah pada fesesnya serin tidak tampak infeksi enterik (Huffman, 1999). Kesalahan makanan dan sensitivitas terhadap makanan pernah dikaitkan dengan diare kronis, khususnya konsumsi jus dan pemanis buatan yang banyak dijumpai pada produk makan dan minuman kemasan mungkin menjadi factor pemicunya.

MANIFESTASI
Gambaran klinis penyakit diare sesuai dengan derajat dehidrasinya. Derajat dehidrasi menurut WHO, adalah sebagai berikut :
Kategori 1. Menyatakan: Diare Muntah Tanpa Dehidrasi <4 x sehari Tidak ada/sedikit Haus Tidak ada Banyak atau tidak minum Sedikit, warna kuning tua Anuria selama 6 jam Lemah,gelisah Tidak ada Cekung Kering cepat tidak lunglai, sadar tidak ada sangat cekung sangat kering sangat cepat atau kussmaul Dehidrasi Ringan-Sedang 4-10x sehari Dehidrasi berat

>10x sehari Ada hanya beberapa kali Sering

Buang air kecil 2. Melihat Keadaan umum Air mata Mata Bibir dan lidah nafas

normal Baik Ada Normal Ada Normal

LANJUTAN . . .
Buang air kecil 2. Melihat Keadaan umum Air mata Mata Bibir dan lidah nafas 3. Palpasi kulit nadi

Haus

Tidak ada

normal Baik Ada Normal Ada Normal

Banyak atau tidak minum Sedikit, warna kuning tua Anuria selama 6 jam Lemah,gelisah Tidak ada Cekung Kering cepat tidak lunglai, sadar tidak ada sangat cekung sangat kering sangat cepat atau kussmaul Kekenyalan sangat kurang Sangat cepat, lemah/tidak teraba >140/menit Sangat cekung Turun >100gr/kgBB 100-110ml/kgBB

Kekenyalan normal Normal, <120/menit

Kekenyalan kurang Cepat 120-140/menit

ubun-ubun 4.Menimbang badan 5.taksiran cairan

Normal berat Tetap Tidak ada

Cekung Turun 25-100gr/kgBB 40-90ml/kgBB

kehilangan

PATOFISIOLOGI
Bakteri masuk kedalam saluran cerna melalui makanan atau minuman, kemudian berkembang biak didalam saluran cerna dan mengeluarkan toksin. Toksin merangsang epitel usus dan menyebabkan peningkatan enzim yang mempunyai kemampuan merangsang sekresi klorida, natrium dan air dari dalam sel kelumen usus serta menghambat absorbsi natrium, klorida dan air dari lumen usus kedalam sel. Hal ini akan menyebabkan peningkatan tekanan osmotic didalam lumen usus. Akibatnya terjadi hiperperistaltik usus yang sifatnya mengeluarkan cairan yang berlebihan dalam lumen usus, sehingga cairan dialirkan dari lumen usus halus ke lumen usus besar. Bila kemampuan penyerapan kolon (usus besar) berkurang atau sekresi cairan melebihi kapasitas penyerapan kolon, maka akan terjadi diare.

KOMPLIKASI
1. Dehidrasi Ringan ( 5% BB) Sedang (5 10% BB) Berat (10 15% BB) 2. Renjatan hipovolemik (volume darah menurun, bila 15 25% BB akan menyebabkan TD menurun). 3. Syok Hipovolemik 4. Hipoglikemia 5. Kejang 6. Malnutrisi

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan medis Dasar pengobatan diare adalah : 1. Pemberian cairan: jenis caran, cara memberikan cairan, jumlah pemberiannya. 2. Dietetik (cara pemberian makanan) 3. Obat-obatan Tujuan pengobatan Mencegah dehidrasi Mengatasi dehidrasi yang telah ada Mencegah kekurangan nutrisi dengan memberikan makanan selama dan setelah diare Mengurangi lama dan beratnya diare, serta berulangnya episode diare, dengan memberikan suplemen Zinc.

LANJUTAN . . .

Cara memberikan cairan dalam terapi rehidrasi :

Belum ada dehidrasi Per oral sebanyak anak mau minum (ad libitum)atau 1 gelas tiap defekasi. Dehidrasi ringan 1 jam pertama: 50-100 ml/kg BB per oral (intra gastric) Selanjutnya: 125 ml/kg BB/hari ad libitum Dehidrasi sedang 1 jam pertama: 50-100 ml/kg BB per oral/intragastrik (sonde) Selanjutnya: 125 ml/kg BB/hari ad libitum

LANJUTAN . . .
Dehidrasi berat

Untuk anak usia 1 bulan-2 tahun berat badan 3-10 kg 1 jam pertama: 40 ml/kg BB/jam=10 tetes /kg BB/menit (set infuse berukuran 1 ml=15 tetes) atau 13 tetes/kg BB/menit (set infuse 1ml=20 tetes) 7 jam berikutnya: 12 ml/kg BB/jam=3 tetes/kg BB/menit (set infuse 1 ml=15 tetes) atau4 tetes/kg BB/menit (set infuse 1 ml=20 tetes) 16 jam berikutnya: 125 ml/kg BB oralit per oral atau integastrik. Bila anak tidak mau minum, teruskan DG aa intravena 2 tetes/kg BB/menit (set infuse 1ml=15 tetes) Untuk anak usia 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg 1 jam pertama: 30 ml/kg BB/jam atau 8 tetes/kg BB/menit (1ml=15 tetes) 7 jam berikutnya: 10 ml/kg BB/jam atau 3 tetes/kg BB/menit (1ml=15 tetes) atau 4 tetes/kg BB/menit (1ml=20 tetes) 16 jam berikutnya: 125 ml/kg BB oralit per oral atau intragastrik. Bila anak tidak mau minum dapat diteruskan dengan DG aa intravena 2 tetes/kg BB/menit (1 ml=15 tetes). Untuk anak lebih 5-10 tahun dengan BB 15-25 kg 1 jam pertama: 20 ml/kg BB/jam atau 5 tetes/kg BB/menit (1 ml=15 tetes) atau 7 tetes/kg BB/menit (1ml=20 tetes) 7 jam berikut: 10 ml/kg BB/jam atau 2 tetes/kg BB/menit (1 ml=15 tetes) atau 3 tetes/kg BB/menit (1 ml=20 tetes) 16 jam berikutnya: 105 ml/kg oralit per oral atau bila anak tidak mau minum dapat diberikan DG aa intravena 1 tetes/kg BB/menit (1 ml=15 tetes) atau 1 tetes/kg BB/menit (set 1 ml=20 tetes).

PENCEGAHAN
Secara umum diare dapat dicegah penularanya dengan cara meningkatkan higienis perorangan dan lingkungan . membiasakan hidup sehat sehari-hari dalam lingkungan yang juga terjaga kebersihanya. Air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari harus bersih, buang hajat di tempat yang tidak dijangkau lalat, dan mengkonsumsi makanan bergizi yang higienis ,tentu akan dapat mengusir jauh diare perenggut banyak bayi itu. Diare juga dapat dijegah dengan cara meningkatkan daya tahan tubuh melalui peningkatan gizi.

ASUHAN KEPERAWATAN
a. Pengkajian Anamnesa Kepada penderita atau keluarganya perlu ditanyakan mengenai riwayat perjalanan penyakit, antara lain : Lamanya sakit / diare / sudah berapa jam, hari. Frekuensinya (berapa kali sehari) Banyaknya / volumenya (berapa banyak setiap kali BAB, misalnya berapa ml / popok penuh) Warnanya (biasa, kuning, berlendir, berdarah, seperti air cucian berah) Baunya (amis, busuk) Buang air kecil (banyaknya, warnanya, kapan terakhir buang air kecil) Ada tidaknya batuk, panas, pilek dan kejang (sebelum, selama, atau setelah diare) Jenis, bentuk dan banyaknya makanan dan minuman sebelum dan sesudah sakit. Adakah penderita diare disekitar rumah Berat badan sebelum sakit (bila diketahui)

LANJUTAN . . .

Pemeriksaan fisik Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan tinja Pemeriksaan darah Pemeriksaan urine

LANJUTAN . . .

b. Diagnosa Keperawatan Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan dari traktus GI kedalam feses atau muntahan. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan kehilangan cairan akibat diare dan asupan cairan yang tidak adekuat. Kerusakan integritas kulit yan berhubungan dengan iritasi karena defekasi yang sering dan feses yang cair. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi

c.

Intervensi Diagnosa 1 : Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan dari traktus GI kedalam feses atau muntahan. Tujuan :

pasien melihatkan tanda rehidrasi dan mempertahankan hidrasi yang adekuat.


Hasil Yang Diharapkan : Anak memperlihatkan tanda hidrasi yang adekuat. Intervensi Keperawatan/rasional :
INTERVENSI RASIONAL Berikan larutan oralit untuk rehidrasi maupun pergantian Berikan oralit sedikit demi sedikit tetapi sering cairan yang hilang lewat feses. khususnya jika anak muntah bukan merupakan kontra indikasi pemberian oralit kecuali pada muntah yang hebat. Berikan dan pantau pemberian infuse sesuai program. Berikan preparat antimikroba sesuai program. Untuk mengatasi dehidrasi dan vomitus yang hebat. Untuk mengatasi mikroorganisme pathogen spesifik yang menyebabkan kehilanan cairan berlebihan lewat traktus GI. Untuk terapi cairan rumatan.

Beriakan oralit secara bergantian dengan cairan rendah natrium seperti air ASI atau susu formula.

Pertahankan catatan asupan dan haluaran cairan (urine, Untuk mengevaluasi keefektifan intervensi. feses dan muntahan) secara ketat. Pantau berat jenis urine setiap 8 jam sekali atau sesuai Untuk menilai status hidrasi. indikasi.

LANJUTAN . . .

Diagnosa 2 : Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan kehilangan cairan akibat diare dan asupan cairan yang tidak adekuat. Tujuan : Pasien mengkonsumsi nutrisi yang adekuat untuk mempertahankan yang tepat menurut usianya. Hasil Yang Diharapkan : Anak mendapatkan nutrien sesuai program dan memperlihatkan peningkatan berat badan yang memuaskan. Intervensi Keperawatan/rasional :
INTERVENSI RASIONAL Hindari diet (pisang, nasi, apel dan roti kering karena diet ini memiliki kandungan energi dan atau teh) protein yang rendah, kandunan hidrat aran yang terlalu tinggi serta kadar elektrolit yan rendah.

Amati dan catat respons pemberian makanan

anak

terhadap untuk menilai toleransi anak terhadap makanan/susu formula yang diberikan.

LANJUTAN . . .
Diagnosa 3: kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan iritasi karena defekasi yang sering dan feses yang cair. Tujuan : Kulit pasien tetap utuh. Hasil Yang Diharapkan : Anak tidak melihatkan rupture kulit.

Intervensi Keperawatan/rasional :
INTERVENSI Ganti popok dengan sering Oleskan salep (zink) RASIONAL Menjaga agar kulit selalu bersih dan kering. Melindungi kulit terhadap iritasi.

Hindari membersihkan dengan tissue yang Penggunaan tissue akan menimbulkan rasa perih. mengandung alcohol(tissue basah)

Oleskan preparat antifungus

Untuk mengobati infeksi jamur.

LANJUTAN . . .
Diagnosa 4 : Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi peningkatan suhu tubuh. Kriteria hasil : suhu tubuh dalam batas normal (36-37C) Intervensi Keperawatan/Rasional :

INTERVENSI Monitor suhu tubuh

RASIONAL Deteksi dini terjadinya perubahan abnormal fungsi tubuh Merangsang pusat pengatur panas untuk menurunkan produksi panas tubuh. merangsang pusat pengatur panas di otak.

Berikan kompres hangat

Kolaborasi : Pemberian antipiretik