Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

Banyak obat-obatan yang dapat meransang SISTEM SARAF PUSAT (ssp), tetapi yang pemakaiannya disetujui secara medis terbatas hanya pada pengobatan narkolepsi, gangguan penuruna perhatian ( gpp) pada anak anak. Obesitas , dan pemulihan distress pernapasan , kelompok utama dari meransang SPP adalah amfetamin dan kafein yang meransang korteks serebri dari otak , analeptic dan kafein yang bekerja pada batang otak dan medulla untuk meransang pernapasan , dan obat-obat yang menimbulkan anoreksia yang bekrja pada tingkat tertentu pada korteksserebri dan hipotalamus untuk menekan napsu makan ,.anfetamin dan obat obatan yang menimbulkan anoreksia yang berkaitan telah banyak di salah gunakan . pemakaian anfetamin jangka panjang dapat menimbulkan ketergantungan

pswikologis dan toleransi , suatu keadaan dimana semakin tinggi dosis obat yang diperlukan untuk menhasilkan respons awal . peningkatan dosis obat yang bertahap dan kemudian tiba-tiba dihentikan dapat menimbulakn depressi dan gejala gejala putus obat. Parkinsonisme ( penyakit Parkinson ) , suatu kelainan neurologis kronis yang mempengaruhi truktus motor piramidalis ( yang mengendalikan postur,

keseimbangan , dan kemampuan untuk bergerak ), dianggap mmerupakan suatu sindroma ( kombinasi gejala-gejala) karena ada tiga cirri utamanya : rigiditas , bradikinesia , ( pergerakan yang lamban ) , dan tremor . regiditas ( meningkatnya tonus otot) akan bertambah dengan adanya pergerakan . perubhan postur kibat rigidetas dan bradikinesia meliputi dan kepala yang menjulur kedepan dengan lutut dan paha yang fleksi , langkah yang terseret-seret , dan hilangnya ayunan lengan . gejala khas lainnya adalah wajah yang seperti topeng ( tidak ada ekspressi wajah ) , tremor involunter dari kepala dan leher , dan gerakan tangan yang seperti membuat pil . tremor dapat lebih jelas pada keadaan istirahat.

Miastenia grafis , tidak adanya impuls saraf dan respons otot pada persambungan (mioneural (ujung syaraf pada otot), menyebabkan rasa letih dan kelemahan otot system pernapasan , otot wajah , dan ekstremirtas . dengan terlibatnya saraf cranial , maka terjadi ptosis ( jatuhnya kelopak mata) dan kesulitan mengunyah dan menelan . henti pernapasan henti pernapasan dapat terjadi akibat kelumpuhan otot pernapasan miastenia gravis disebabkan oleh tidak memadainya sekresi asetilkolin atau hilangnya asetilkolin karena bertambahnya enzim

asetilkolinesterase, yang merusak asetilkolin pada persambungan mioneural.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. PERANSANG SISTEM SYARAF PUSAT 1. Amfetamin

Amfetamin meransang pelepasan neurotransmitter, norepinefrin dan dopamine, dari otak dan system syaraf simpatis (terminal saraf tepi ). Amfetamin menyebabkan euphoria dan kesiagaan : tetapi , juga menyebabkan tidak dapat tidur , gelisah , tremor , dan iritabilitas. Masalah-masalah kardiovaskular , seperti meningkatnya denyut jantung , palpitasi , aritmia jantung , dan meningkatnya tekanan darah , dapat timbul pada pada pemakaian yang terus menerus dan amfetamin. Waktu paruh dari amfitamin berfariasi dari 4-30 jam. Amfetamin di eksresikan lebih cepat pada urin yang asam dari pada urin yang basa . jika dicurigai terjadi toksisitas SPP atau toksisitas jantung , maka dengan menurunkan PH urin akan membantu eksresi obat. Urin yang asam akan mengurangi waktu paruh dari amfitamin . 1. Efek samping dan reaksi yang merugikan Amfetamin dapat menimbulkan efek-efek yang buruk pada system syaraf pusat , kardiovaskuler, gastroinstestinal dan endokrin.

Efek samping dan reaksi yang merugiknnya adalah gelisah , insomnia, takikardia, hipertensi, palpitasi jantung , mulut terasa kering , anoreksia, berat badan turun , diare atau konstipasi, dan impotensi.

Amfitamin dan obat-obat yang seperti amfitamin Obat Dosis Pemakaian dan pertimbangan Amfetamin D : 5-20 mg,q.d samapai t.i.d A>6 th :2,5-5 mg, sehari untuk GPP ; naikkan dosis jika perlu Untuk narkolepsi, gangguan penurunan perhatian (GPP). Dosis harus minimal untuk mengendalikan gejalagejala pada GGP. Toksisitas SSP dan jantung dapat terjadi. Obat obat yang seperti amfetamin Metilfenidat( ritalin ) A: 5 mg, b.i.d, naikkan jika perlu, tidak > 60 mg Untuk GPP pada anakanak. Dosis dinaikkan setiap minggu sampai gejalanya berkurang. Absorbsi di pengaruhi oleh makanan . D: 10-60 mg, sehari Pemolin ( cylert) A > 6 thn : 37,5 mg, sehari dan dinaikkan tiap minggu, rata-rata : Untuk narkolepsi Untuk GGP pada anakanak . kurang kuat dan efek samping lebih sedikit

Amfetamin sulfat (bendzedrine)

50-75 mg/hari

di bandingkan dengan desoxyn dan retalin.

2. Farmakokinetik Metilfenidat dan pemolin diabsorpsi dengan baik melalui mukosa gastrointestinal .meskipun pemolin mempunyai waktu paruh yang lebih panjang dari pada metilfenidat,obat-obat ini biasa di beri kepada anakanak sekali sehari sebelum sarapan pagi.tetapi metilfenidat dapat di berikan dua kali sehari,sebelum sarapan pagi dan makan siang .karena makanan mempengaruhi laju absorpsi ,maka obat harus di berikan 30-45 menit sebelum makan .obat-obat ini tidak boleh di berikan dalam 6 jam sebelum tidur karenadapat menimbulkan insomnia .kedua obat ini di eskresikan kedalam urin; 40 persen dari metil fenidat dieksresikan tanpa mengalami perubahan .

3. Farmakodinamik Metilfenidat dan pemolin membantu memperbaiki GPP dengan mengurangi hiperaktivitas dan memperbaiki lamanya perhatian.obat-obat seperti amfetamin ini di anggap lebih afektif dari pada pemolin untuk GPP ,tetapi efek samping dan reaksi yang merugikan dari pemolin juga tidak seberat metilfenidat . Obat-obat simpatomimetik ,seperti dekongenstan ,menambah kerja metilfenidat dan pemolin .antihipertensi dan barbiturat dapat menurunkan kerja obat-obat ini .makanan yang mengandung kafein harus di hindari karena menambah keja otak. Obesitas telah di obati dengan amfetamin yang di resepkan atau dengan obat-obat seperti amfetamin yang di jual bebas.amfetamin pernah dianjurkan sebagai obat-obat yang menimbulkan anoreksia (penekan

napsu makan) untuk pemakaian jangka pendek (4-12 minggu). Karena dapat timbulnya toleransi,ketergantungan,dan penyalahgunaan, anfetamin kini tidak dianjurkan lagi pemakaiannya untuk penekan napsu makan.obat bebas pilihan untuk penekan napsu makan untuk pemakaian jangka pendek adalah fenilpropanolamin (Dexatrim) karena efek samping

sistemik yang ditimbulkanya lebih sedikit dan kurang dapat menimbulkan penyalahgunaan.

a) Obat-Obatan Yang Menimbulkan Anoreksia Amfetamin tidak direkomendasikan sebagai obat-obat yang menimbulkan anoreksia dalam pengobatan obesitas karene banyak reaksi yang merugikan dan efek sampingnya ,toleransi terhadap obat,dan

ketergantungan psikologis terhadap amfetamin. Kebanyakan obat-obat yang menimbulkan anoreksia yang dipakai untuk menekan napsu makan (tabel 11-2) tidak mempunyai efek samping yang serius seperti yang ditimbulkan oleh amfetamin. Untuk menurunkan berat badan ,penekan harus ditunjukan pada diet yang tepat, latihan ,dan perubahan perilaku

.tidak dianjurkan untuk hanya bergantung pada penekan napsu makan. Bagi mereka yang memakai obat-obat yang menimbulkan anoreksia harus berada di bawa pengawasan dokter .

b) Efek Samping Dan Reaksi Yang Merugikan Anak-anak di bawah usia 12 tahun tidak boleh memakai obat-obat yang menimbulkan anoreksia ,dan tidak boleh melakukan pengobotan diri sendiri dengan memakai obat-obat yang menimbulkan anoreksia .

pemakai jangka panjang dari obat-obat ini seringkali menimbulkan efek samping yang berat seperti gugup ,gelisah ,iritabilitasi,insomnia ,palpitasi jantung ,dan hipertensi .

c) Analeptik Analeptik,yang merupakan perangsang SSP, terutama mempengarui batang otak dan mendulla spinalis ,tetapi juga mampengaruhi korteks serebbri .pengunaan utama dari analeptik adalah untuk merangsang pernapasan .salah satu kelompok bagian dari analeptik adalah santin (metilsantin),di mana obat utamanya adalah kafein dan teofilin .tergantung dari dosisnya .kafein merangsang SSP , dan dosis tinggi merangsang pernapasan .bayi baru lahir dengan distres pernafasan dapat diberikan kafein untuk meningkatkan pernafasan .Teofilin terutama dipakai untuk merelaksasi bronkiolus ,tetapi perna dipakai untuk meningkatkan pernafasan pada bayi baru lahir .

d) Efek Samping Dan Reaksi Yang Merugikan Efek samping dari kafein adalah mirip dengan obat-obat yang menimbulkan anoreksia:gugup,gelisa ,tromor, kedutan ,palpitas dan insomnia. Efek samping lainnya adalah dieresis (bertambahnya buang air kecil ), iritasi gastrointestinal (mual ,diare ),dan kadang kadang tinitus (berdenging pada telinga ).kafen dalam jumlah yang lebih dari 500 mg akan mempengaruhi SSP dan jantung .kaafein dosis tingngi dalam kopi ,coklat ,dan obat pelega geja-gejala flu dapat menimbulkan

ketergantungan psikologis .waktu peru dari kafein adalah 3,5 jam; tetapi metabolismenya diperlambat dan waktu peruhnya diperpanjang pada penyakit hati dan pada kehamilan kafein merupakan kontraindikasi selama kehamilan karena efeknya pada janin tidak diketahui .

e) Proses Keperawatan I. Pengkajian Tentukan apakah ada riwayat penyakit jantung, hipertiroidisme ,atau glaucoma. Pada kasus kasu demikian biasanya perangsang SSP

merupakan kontraindikasi. periksa tanda-tanda vital. Tanda -Tanda vital dasar dapat dipakai untuk perbandingan perubahan pada masa akan datang.

II.

Perencanaan Klien akan memakkai perangsang SSP yang diresepkan dan titak akan mengalami efek sampimping yang tidak diinginkan .

III.

Inter vensi keperawatan Pantau denyut jantung dan tekanan darah.laporan jikaterdapat takikardia ,danyut jantung yang iregular, atau peningkatan tekanan daraah berikan amfetamin dan obat obat yang seperti amfetamin ,dan obat -obat yang menimbulkan anoreksia sekuurang kurangnya 6-8 jam sebelum tidur karena jika diberikan terlalu dekat dengan waktu tidur obatobat ini dapat menimbulkan inson nia .Efeknya akan lebih berat pada populasi geriatrit . amati klien untuk efek samping dari perangsang SSP seperti

insomnia,gelisah ,gugup ,tromor ,iritabel ,meningkatnya denyut jsnyung atau meningkatnya demikian . IV. penyuluhan kepada klien Jelaskan kepada klien bahwa amfetamin ,kafein ,dan obat-obat yang menimbulkan anoroksia dapat menimbulkankn penylahgunaan jika dipakai untuk jangka panjang Beritahu klien mengenai efek samping perangsang sspdan kapan obat harus diminum .beritahu klien untuk melaporkan denyut jantung yang cepat dan palpitasi jantung dan gejala-gejala lainya. tekanandarah .laporan hasil peneemuan yang

Beritahu klien utuk menghindari prmakaian peralatan yang berbahaya atau mengendarai kendaraan jikamengalsami tremor ,gugup, atau mening katnya denyut jantung .

anjurkan klien untuk berkunsultasi kepada dokter sebelum memakai obat-obat seperti amfetamin . Jelaskan kepada klien bahwa kebanyakan dari amfitamin , obat obat seprti amfitamin , dan obat obat yang meninmbulkan aneroksia harus diminum sebelum makan .

Beritahu klien untuk menghentikan pemakaian peransang spp setelah memakainya dalam jangka waktu lama , dosis harus diturungkan perlahan-lahan untuk menghindari gejala-gejala putus obat. Jangan menghentikan obat secara tiba-tiba.

Dorong klien untuk membaca label pada obat bebas karena kafein banyak dikombinasikan pada obat-obat bebas, khususnya obat

pelega gejala-gejala flu. Kadar kafein plasma yang tinggi dapat berakibat fatal. Beritahu ibu yang menyusui untuk menghindari pemakaian semua peransang spp selama menyusui bayi. Obat-obat ini dapat terdapat di dalam air susu dan dan dapat menyebabkan bayi gelisah.

f)

Obat- Obat Seperti Amfitamin Anjurkan keluarga untuk mendapat konseling pada anak-anak dengan GPP . dengan hanya bergantung pada obat saja bukan merupakan penanganan yang tepat.

g) OBAT OBAT YANG MENIMBULKAN ANOREKSIA Beritahu klien yang mengeluh mulut terasa kering untuk menghisap permen keras tanpa gula, mengunyah perme karet, atau menghisap es batu.

h) Kafein Beritahu kepada klien untuk tidak meminum lebih dari dua atau tiga cangkir kopi yang mengandung kafein setiap harinya . kopi yang digiling mempunyaikandungan kafein lebih tinggi dari pada kopi instan . Evaluasi Evaluasi aktivitas dari peransang SPP , laporkan setiap efek sampingnya.

B. PENEKAN SISTEM SYARAF PUSAT 1. Sedative hipnotik Bentuk yang paling ringan dari SSP adalah sedasi, dimana penekanan Dimana penekanan SPP tertentu dalam dosis yang lebih rendah . a. Penyakit parkinson Definisi Parkinson adalah gangguan otak progresif yang

menimbulkan gangguan neurologik gerakan otot, dengan tanda2 tremor, kaku otot, bradikinesia (lambat dalam memulai dan melakukan gerakan) kelainan posisi tubuh dan cara berjalan. Etiologi Penyebab penyakit parkinson tidak diketahui, tetapi ada hubungannya dengan penurunan aktivitas inhibitor neuron dopaminergik dalam substansi nigra dan korpus stratum dari sistem ganglia basalis otak yang berfungsi mengatur gerakan. Substansi nigra, merupakan sumber neuron dopaminergik yang berakhir dalam striatum. Setiap neuron dopaminergik akan membuat ribuan kontaks dalam striatum dan memodulasi sebagian aktivitas sel.

Striatum, striatum dan substansi nigra dihubungkan oleh neuron yang mengeluarkan transmitter inhibitor GABA diterminal dalam substansi nigra. Sebaliknya sel2 substansi nigra mengirim neuron ke striatum dengan transmitter dopamin di ujung terminalnya

10

Mekanisme terjadinya gangguan neurotransmitter yang menyebabkan penyakit parinson ; 1. Dopamin bekerja sebagai neurotransmiter inhibisi, Acetilkolin bekerja neurotransmiter eksitasi. Dan bekerja saling

menyeimbangkan. 2. Pada penyakit parkinson terjadi penurunan dopamin karena neuron pada substansi nigra berkurang sehingga sekresi dopamin dalam neostriatum pun menurun. (lihat gambar 7.1) 3. Tanpa dopamin neuron akan distimulasi berlebihan oleh Ach menyebabkan tonus (ketegangan) otot berlebihan yang ditandai oleh tremor dan rigiditas (kaku). Parkinson sekunder : disebabkan oleh ensefalitis virus atau lesi caskuler kecil yang multifel. Obat2 seperti fenotiazin dan haloperidol yang berfungsi menghambat reseptor dopamin di otak dapat menyebabkan parkinson sehingga tidak boleh digunakan untuk penderita parkinson. Golongan Obat Pada Penyakit Parkinson 1. Levodopa 2. Bromokriptin 3. Amantadin 4. Deprenil 5. Triheksifenidil, Antimuskarinik) Tujuan terapi pada Penyakit Parkinson adalah : 1. Mengembalikan dopamin dalam ganglia basalis (ganglion yang ada di neostriatum)\ 2. Melawan eksitasi neuron kolinergik 3. Sehingga terjadi keseimbangan kembali dopamin/Ach. Benzotropin, Biperidin (Golongan

11

a. Levodopa Levodopa adalah prekursor metabolik dopamin. Mekanisme kerja Levodopa adalah mengendalikan kadar dopamin substansia nigra, di dalam neuron tsb levodopa akan berkonversi menjadi dopamin, tetapi pada pengobatan yang terlambat dimana jumlah neuron dan sel2 yang mampu mengambil levodopa berkurang akibat penyakit. Kesembuhan bersifat simptomatik dan berlangsung selama obat berada dalam tubuh. Parkinson diakibatkan dopamin yang tidak mencukupi pada daerah tertentu di otak. Dopamin tidak dapat melewati sawar darah otak, sementara levodopa dapat, sehingga lebih mudah levodopa lebih mudah diubah menjadi dopamin di otak.

Efek kerja dari levodopa yaitu mengurangi kekakuan, tremor dan gejala parkinson lainnya. b. Karbidopa Karbidopa dipakai untuk memperkuat efek levodopa , suatu inhibitordekarboksilase dopamin yang tidak menembus sawar darah otak. Mekanisme kerja Karbidopa adalah mengurangi metabolisme levodopa pada saluran cerna dan jaringan perifer, shg meningkatkan ketersediaan levodopa di SSP dan selain itu karena karbidopa membantu memperkuat efek levodopa secara tidak langsung, jadi keuntungannya dapat merendahkan dosis pemakaian levodopa sehingga menurunkan efek samping. c. Bromokriptin Bromokriptin suatu derivat ergotamin (alkaloid ergot yang terdapat pada gantum hitam yang terkontaminasi jamur rye) dan mempunyai sifat vasokontriktor merupakan agonis reseptor dopamin (atau dapat berikatan dengan reseptor dopamin). Tetapi karena Respon yang ditimbulkan bromokriptin kecil maka sering diberikan bersama dengan levodopa. Penggunaan Bromokriptin harus diwaspadai pada pasien

12

dengan infark miokard karena akan menimbulkan masalah jantung, dan penggunaan pada pasien dengan tukak lambung akan semakin parah. d. Amantadin Amantadin merupakan obat anti virus influensa yang berpengaruh sebagai antiparkinson. Mekanisme kerjanya adalah meningkatkan sintesa, pengeluaran atau ambilan dopamin dari neuron yang sehat. (shg bila pelepasan dopamin sudah maksimum, amantadin tidak bermanfaat) Efek samping yang ditimbulkan yaitu, gelisah, halusinasi, agitasi, dan bingung. Pada dosis tinggi akan menyebabkan psikosis toksik akut. Dibanding levodopaefek kerja amantadin kecil dan dapat menimbulkan toleransi, namun efek samping lebih kecil. e. Deprenil Deprenil disebut juga selegilin bekerja secara selektif menghambat MAO B (yang memetabolisme dopamin) (lihat gambar 7.2) tapi tidak menghambat MAO A(metabolisatorNEdanSerotonin) Fungsi deprenil, menurunkan metabolisme dopamin, meningkatkan kadar dopamin di otak, meningkatkan kerja levodopa (sehingga mengurangi pengguanaan dosis levodopa)

Harus diwaspadai bila penggunaan dosis besar karena dapat menghilangkan selektifitas (menjadi tidak selektif lagi) dan menimbulkan hipertensi . f.

Antimuskarinik Antimuskarinik kurang efektif bila dibandingkan dengan levodopa dan

dalam terapi parkinson berfungsi sebagai tambahan terapi. Mekanisme kerjanya yaitu menghambat transmisi kolinergik, sehingga meningkatkan transmisi adrenergik (karena pembentukan yang tidak seimbang antara rasio

dopamin/asetilkolin).

13

Antimuskarinik yang sering digunakan untuk pengobatan parkinson yaitu, benzotropin, triheksifenidil, biperidin. Efek lain yang menyertai penggunaan obat antimuskarinik adala memacu perubahan pikiran, serostomia (mulut kering), masalah visualisasi. Efek sampingnya, antara lain dilatasi pupil, bingung dan halusinasi.

C. GOLONGAN OBAT PADA GANGGUAN DEPRESI Keadaan yang tidak sesuai dengan kehidupan yang bersangkutan disertai hambatan emosi menyeluruh. Depresi berbeda denga skizoprenia yang menggangu dalam pemikiran. Penyakit depresi mayor dan bipolar adalah penyakit alam perasan yang menyimpang, mengganggu energi, pola tidur, napsu makan, libido dan kemampuan bekerja. Gejala depresi yaitu, emosi yang jatuh, tanpa harapan, tiada nafsu makan, dan tidak bisa tidur. Cara berfikir pasien itu2 aja berkisar hanya pada diri sendiri. Disertai gejala bandaniah rasa penat, nyeri lambung, nyeri jantung. Bila ditutupi oleh keluhan2 organis disebut depresi terselubung. Depresi berbahaya akan menyebabkan bunuhdiri. Depresi disebabkan karena defisiensi monoamin seperti norepinefrin dan serotonin otak pada tempat2 penting di otak. Sementara manik (bipolar) disebabkan karena peningkatan neurotransmiter diatas pada otak.

Kerja Semua golongan antidepresi bekerja dengan memperkuat langsung atau tidak langsung kerja norepinefrin, dopamin dan atau serotonin otak.

a. Golongan Obat Antidepresan Terdapat 3 (tiga) golongan obat antidepresan yaitu, Antidepresan Trisiklik (TCA), Selektif Serotonin Re-Uptake Inhibitor (SSRI) dan Mono Amin Oksidase Inhibitor (MAOI).

14

1. Antidepresan Trisiklik (TCA) Yang termasuk obat golongan TCA adalah Amitriptilin, Amoksapin, Desipramin, Trimipramin Mekanisme kerja TCA ;Menghambat ambilan neurotransmiter, TCA menghambat ambilan norepinefrin dan serotonin neuron masuk ke terminal saraf pra sinaps, dengan menghambat jalan utama pengeluaran neurotransmiter , TCA akan meningkatkan konsentrasi monoamin dalam celah sinaps, menimbulkan efek antidepresan. Efek TCA adalah meningkatkan pikiran, memperbaiki kewaspadaan mental, meningkatkan aktifitas fisik, mengurangi angka kesakitan pada depresi. Efek timbul memerlukan waktu 2 minggu atau lebih. Indikasi untuk Depresi, gangguan panik, dan dapat digunakan untuk mengontrol ngompol bagi anak diatas 6 tahun. Doksepin, Imipramin, Maprotilin, Nortriptilin,

2. Selektif Serotonin Re-Uptake Inhibitor (SSRI) Yang termasuk obat golongan SSRI adalah Fluoksetin, Fluvoksamin, Nefazodon, Paroksetin, Sertralin, Trazodon, Venlafaksin.

SSRI merupakan Antidepresan baru, sehingga penggunaannya harus hati hati, karena efek jangka panjangnya belum diketahui. Mekanisme kerjanya sama seperti TCA tetapi lebih selektif menghambat ambilan neurotransmitter serotonin dibanding yang lain (dopamin). Indikasi SSRI Untuk depresi (lebih unggul dari golongan TCA), penderita Bulimia nevrosa, anoreksia nevrosa, gangguan panik, nyeri neuropati diabetik, dan sindrom premenstrual.

15

3. Mono Amin Oksidase Inhibitor (MAOI) Yang termasuk golongan MAOI yaitu, Isokarboksazid, Feneizin dan Tranilsipromin. Monoamin oksidase adalah suatu enzim mitokondria yang ditemukan dalam jaringan saraf dan jaringan lain, seperti usus dan hati. Dalam neuron, MAO berfungsi sebagai katup penyelamat (menonaktifkan neurotransmiter monoamin ( NE, dopamin, serotonin).

Mekanisme kerja MAOI (lihat gambar dibawah) a). MAO menginaktifasi monoamin (NE,serotonin,dopamin) yang keluar dari vesikel shg monoamin dalam neuron berkurang. b). Obat MAOI menghambat inaktivasi monoamin oleh MAO, sehingga monoamin tetap aktif dan berdifusi kedalam ruang sinaps. Indikasi MAOI yaitu : 1. Untuk depresi pada pasien yang tidak responsif atau alergi oleh antidepresan trisiklik. 2. Ansietas hebat 3. Pasien Aktivitas psikomotorik lemah 4. Pengobatan fobia 5. Depresi atipikal (pikiran labil, menolak kebenaran, gangguan napsu makan)

b. Golongan Obat pada Gangguan Bipolar Pasien dengan gangguan bipolar, mengalami dua situasi yang sangat berbeda, pada saat tertentu pasien mengalami fase depresi, kemudian mengalami fase manik, dimana perubahan yang terjadi sangat ekstrim. Bila pasien berada dalam fase manik maka gejala gejalanya adalah bahagia, berharap dan gembira berlebihan, Perubahan mendadak dari merasa gembira ke lekas marah atau permusuhan, Keresahan.Tutur kata cepat dan kurang

16

konsentrasi, Dorongan seksual tinggi, Cenderung membuat rencana besar dan sulit dicapai. 1. Golongan obat anti bipolar Garam litium seperti Litium asetat, litium karbonat, litium sulfat dan antipsikotik seperti asam Valproat. 2. Golongan Obat pada Skizoprenia Skozoprenia adalah jenis psikosis dengan berbagai gangguan

kepribadiaan disertai perubahan cara berfikir, perasaannya dan hubungannya dengan lingkungannya. Biasanya gangguan mental ini terjadi disebabkan disfungsi otak yang diwariskan.

Gejala dasar pada gangguan skizoprenia adalah berfikir (kacau, lupa tiba2, perubahan urutan berfikir), acuh tak acuh, mudah terangsang, hilangnya kontak dengan lingkungan, merasa asing sendiri, terpecahnya kepribadiaan. Selain gejala dasar adapula gejala tambahan yaitu, halusinasi, gila (rasa diikuti, rasa seperti keracunan, gila seks), tidak mau melakukan aktivitas, ungkapan2 aneh, pembentukan istilah2 baru, pengulangan terus menerus. Setiap gangguan kejiwaan diamati dari gejala2 yang ditimbulkan dan dialami oleh penderita, sehingga dapat membedakan gangguan kejiwaan satu dengan gangguang kejiwaan yang lainnya. Penyebab skizoprenia secara farmakologis adalah peningkatan aktivitas neuron dopaminergik pada otak (SSP), sehingga golongan obat yang digunakan untuk pengobatan skizoprenia adalah menurunkan aktivitas neuron dopamin. 3. Golongan Obat antiskizoprenia (neuroleptik, antipsikotik, transkuilizer mayor) Terdapat 5 (lima) golongan obat antiskizoprenia yaitu : 1. Golongan Fenotiazin yaitu, Klorpromazin, Flupenazin, Proklorperazin, Promazin, Prometazin, Tioridazin.

17

2. Golongan Butirofenon yaitu, haloperidol. 3. Golongan Benzisoksazol yaitu, Risperidon. 4. Golongan Tioxanti yaitu, Tiotiksen. 5. Golongan Dibenzodiazepin yaitu, Klozapin. Mekanisme Kerja Obat Neuroleptika (Antiskizoprenia) secara umum adalah menghambat reseptor dopamin dalam otak dan perifer dan serotonin dalam otak.

Indikasi neuroleptika (antiskizorenia) adalah, a. Sebagai antipsikotik/antiskizoprenia : mengurangi halusinasi dan agitasi dengan cara menghambat reseptor dopamin di otak. Efek menenangkan dan mengurangi gerakan spontan. Berbeda dengan depresan SSP lain, golongan neuroleptik tidak menekan fungsi intelektual. b. Sebagai pencegahan mual dan muntah (pada peristiwa mual muntah juga terjadi peningkatan pelepasan dopamin)

Telah dikatakan bahwa mual muntah juga diakibatkan karena peningkatan dopamin, maka penggunaan neuroleptika dapat juga diberikan untuk kasus mual muntah selain sebagai

antiskizoprenia, dibawah ini penggunaan neuroleptika untuk gejala mual muntah sesuai penyebabnya (lebih spesifik). - Obat Meklizin, dimenhidrinat digunakan untuk antiemetik karena vertigo. Obat Skopolamin, Prometazin, digunakan sebagai

antiemetik pada mabuk jalan. - Obat Domperidon,metoklorpramid, digunakan untuk antiEmetik pada kemoterapi kanker

18

- Obat Tietilperazin,domperidon adalah antiemetik pada terapi radiasi Kerja obat neuroleptik menghambat dopamin dan atau serotonin, selain itu banyak obat2 neuroleptik yang menghambat reseptor kolinergik, adrenergik, histamin dengan berbagai efek samping, diantaranya efek antimuskarinik seperti kabur, mulut kering, sedasi, bingung, kontipasi, retensi urin. Efek anti ? adrenergik seperti hipotensi, pusing Semua obat neuroleptika bekerja menghambat dopamin sehingga hampir semuan mempunyai efek antiemetik (seperti diterangkan diatas) 4. Golongan Obat pada Ansietas (Cemas) 5. Ansietas adalah gangguan mental berupa suatu ketegangan yang tidak menyenangkan, rasa takut,gelisah dan penyebabkannya tidak diketahui. Ansietas ringan tidak perlu diobati, ansietas berat diobati. Gejala ansietas adalah Takhikardi, berkeringat, gemetar, palpitasi dan aktivitas simpatik Secara farmakologi penyebab ansietas karena terjadinya letupan neuritansmitter di otak, sehingga obat obat yang digunakan untuk menurunkan gejala ansietas adalah menormalkan letupan

neurotransmitter yang terjadi di otak. 6. Golongan Obat Antiansietas (Ansiolitik) Obat yang digunakan untuk mengobati cemas, dari golongan benzodiazepin, golongan ini dibedakan berdasarkan sifat ada tidaknya efek hipnotik, dengan pembagian sebagai berikut :

Pertama, golongan benzodiazepin Bersifat ansiolitik dan tidak mempunyai efek hipnotik adalah Alprazolam, Klordiazepoksid, Klonazepam, Klorazepat, Diazepam dan Lorazepam . Kedua Golongan

19

benzodiazepine Bersifat Hipnotik adalah Quazepam, Midazolam, Estazolam, Flurazepam, Temazepam dan Triazolam. Mekanisme Kerja benzodiazepine sebagai anti cemas , a. Letupan neuron (cemas) dapat terjadi karena tertutupnya saluran Cl, karena tidak ada ikatan pada GABA sehingga reseptor kosong. Pengikatan GABA menyebabkan saluran ion Cl membuka. b. Bila pengikatan GABA diperkuat oleh benzodiazepin (obat ansiolitik), yang menyebabkan masuknya Cl lebih banyak. c. Masuknya Cl membuat hiperpolarisasi yang dapat menghambat letupan neuron. (lihat gambar 8.3) 7. Indikasi obat golongan Ansiolitik a. Untuk gangguan ansietas digunakan diazepam, untuk pasien yang memerlukan pengobatan lama. Alprazolam untuk pengobatan lama atau pendek. Obat ini menimbulkan adiksi sehingga hanya untuk ansietas kronik. b. Untuk gangguan otot digunakan diazepam, bisa juga digunakan untuk kaku otot. c. Untuk penanganan kejang dengan obat klonazepam untuk kejang karena epilepsi. epilepsi Klorazepat, diazepam dan oksazepam untuk pengobatan akut putus alkohol.

4. Untuk gangguan tidur, tidak semua benzodiazepam dapat digunakan sebagai obat tidur, meskipun semua mempunyai efek sedatif dan penenang. Yang digunakan untuk gangguan tidur (obat tidur) adalah Flurazepam, Temazepam, Triazolam

20

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul OBAT SUSUNAN SYARAF PUSAT(SSP). Makalah ini berisikan tentang informasi mengenai penyakit dan pengobatan sistem syaraf pusat dan peranan perawat dalam proses pengobatan, atau yang lebih khususnya mengenai kelainan yang biasanya timbul pada SSP , yang memungkinkan seseorang sadar bahwa penyakit itu biasanya lahir di antara kita. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Makassar,

Juli 2012

penulis

21

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi BAB I Pendahuluan BAB II Tinjauan Pustaka BAB III Penutup Daftar Pustaka

22