Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA BAHAN HAYATI LAUT

MATA ACARA PRAKTIKUM I : PEMBUATAN EKSTRAK BAHAN HAYATI

DISUSUN OLEH: SHERLY INTAN AMALIA 230210100010

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN JATINANGOR

2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Ekstraksi adalah pengambilan atau pemisahan suatu campuran dengan

memberi pelarut yang sesuai sehingga zat lain tidak ikut larut (S, Syukri:1999). Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Proses ekstraksi bahan dapat dilakukan berdasarkan teori tentang penyarian. Penyarian merupakan peristiwa pemindahan massa. Bila suatu bahan padatan larut dalam cairan lainnya, dapat dibayangkan bahwa molekul-molekul atau zat aktif yang berada di dalam sel, ditarik oleh cairan penyari sehingga terjadi larutan zat aktif dalam cairan penyari tersebut. Oleh karena hal tersebut, pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Dalam suatu pemisahan yang ideal oleh ekstraksi pelarut, seluruh zat yang diinginkan akan berakhir dalam suatu pelarut dan semua zat-zat pengganggu dalam pelarut yang lain. Berdasarkan kegiatan praktikum yang telah dilakukan sebelumnya mengenai Pengujian komponen fitokimia bahan hayati, telah diketahui kandungan metabolit sekunder yang terdapat dalam biji buah keben (Barringtonia asiatica) dan daging buah lamun (Enhalus acoroides) sehingga pada kegiatan praktikum kali ini mengenai Pembuatan ekstrak bahan hayati dari sampel yang sama Barringtonia asiatica dan Enhalus acoroides, dapat diperoleh ekstrak bahan tersebut dengan proses penyarian menggunakan pelarut dengan prinsip maserasi. Prinsip maserasi yaitu prinsiip penyarian yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simpiisia dalam cairan penyari yang sesuai selama + tiga hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya. Pada kegiatan praktikum kali ini, digunakan pelarut metanol, etil asetat, dan n-heksan yang masing-masing pelarut mewakili sifat polar, semi polar, dan non polar. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui sifat kandungan metabolit sekunder yang dapat tertarik oleh pelarut-pelarut tersebut. Selain itu, dari kegiatan

praktikum ini juga dapat diketahui volume filtrat (ml), warna filtrat, dan berat ekstrak (gr) sehingga dapat dihitung persentase rendemen. Dari analisa tersebut, dengan melakukan pembuatan ekstrak bahan hayati laut dapat diketahui kebenaran sifat pelarut dan senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam kedua tanaman tersebut, yaitu Barringtonia asiatica dan Enhalus acoroides, serta untuk mengetahui rendemen (%) yang dihasilkan oleh kedua tersebut berdasarkan sifat ketiga pelarut yaitu metanol, etil asetat, dan nheksan maka dilakukanlah kegiatan praktikum menganai Pembuatan Ekstrak Bahan Hayati ini. Dengan tujuan untuk menambah informasi, pengetahuan dan wawasan mengenai segala hal yang bersinggungan dengan bahan ekstrak.

1.2

Tujuan Tujuan dilakukannya kegiatan praktikum menganai Pembuatan Ekstrak

Bahan Hayati ini, yaitu untuk memperoleh ekstrak bahan hayati dengan memperhatikan volume filtrat (ml), warna filtrat, dan berat ekstrak (gr) sehingga dapat dihitung persentase rendemen. Selain itu, dapat diketahui pula mengenai kebenaran sifat pelarut dan senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam kedua tanaman tersebut, yaitu Barringtonia asiatica dan Enhalus acoroides sehingga dapat dibuktikan pula kebenaran mengenai prinsip pada kegiatan praktikum kali ini.

1.3

Prinsip Prinsip pembuatan ekstrak bahan hayati dengan proses penyarian

menggunakan pelarut dengan prinsip maserasi dimana cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding sle kemudian isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan di luar sel sehingga larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah (proses difusi). Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi kesetimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Keben (Barringtonia asiatica)

Gambar 1. Buah Keben Sumber: http://buahkeben.blogspot.com/2010_05_01_archive.html Berdasarkan andri (2009), klasifikasi buah biji keben adalah sebagai berikut: Divisi Kelas Subkelas Ordo Famili Genus Spesies Sinonim : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Dilleniidae : Lecythidales : Barringtoniaceae Rudolph (-Lecythidaceae) : Barringtonia : Barringtonia asiatica Kurz : Barringtonia spedosa J.R. Forster

Senyawa aktif dalam biji buah ini, yang diduga kuat memiliki efek penyembuhan dalam pengobatan adalah dari golongan saponin. Beberapa jenis saponin telah berhasil diidentifikasi. saponin yang berasal dari buah keben merupakan saponin jenis baru. Dengan kandungan senyawa tersebut buah keben telah dilaporkan memiliki banyak aktivitas farmakologis seperti anti bakteri, anti jamur, analgesik, dan anti tumor. Dari penelitian-penelitian lain diketahui bahwa selain saponin, buah dan biji keben juga mengandung asam galat; asam

hidrosianat yang terdiri dari monosakarida; serta triterpenoid yang terdiri dari asam bartogenat, asam 19-epibartogenat, dan asam anhidro-bartogenat.

2.2

Lamun (Enhalus acoroides) Klasifikasi lamun berdasarkan Phillips dan Menez (1988) adalah sebagai

berikut : Divisi Kelas Subkelas Ordo Famili Genus Species : Anthophyta : Angiospermae : Monocotyledonae : Helobiae : Hydrocharitaceae : Enhalus : Enhalus acoroides

Gambar 2. Lamun Sumber: Jacobs et al 2010 2.2.1 Kandungan Lamun Hasil analisis menunjukkan bahwa buah lamun Enhalus acoroides memiliki kandungan nutrisi karbohidrat yang relatif lebih tinggi yaitu 59,26%, kandungan protein sebesar 5,65% dan kandungan lemak sebesar 0,76. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap lamun (Enhalus acoroides) yang merupakan jenis lamun yang paling banyak terdapat di Indonesia (Rifqi, 2008), telah berhasil diisolasi beberapa senyawa metabolit sekunder seperti terpenoid, steroid, dan flavanoid. Namun, kebanyakan senyawa-senyawa tersebut masih belum diketahui.

2.3

Pelarut Pelarut adalah benda cair atau gas yang melarutkan benda padat, cair atau

gas, yang menghasilkan sebuah larutan. Pelarut umum yang biasa digunakan adalah bahan kimia organik (mengandung karbon) yang juga disebut pelarut organik. Macam-macam pelarut diantaranya adalah:

2.3.1

Metanol

Gambar 3. Struktur Umum Metanol Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Metanol Metanol adalah senyawa kimia dengan rumus kimia CH3OH yang merupakan bentuk alkohol paling sederhana. Pada "keadaan atmosfer" berbentuk cairan yang ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun dengan bau yang khas (berbau lebih ringan daripada etanol). Metanol merupakan cairan polar yang dapat bercampur dengan air, alkohol-alkohol lain, ester, keton, eter, dan sebagian besar pelarut organik. Metanol sedikit larut dalam lemak dan minyak. Secara fisika metanol mempunyai afinitas khusus terhadap karbon dioksida dan hidrogen sulfida. Titik didih metanol berada pada 64,7 oC dengan panas pembentukan (cairan) 239,03 kJ/mol pada suhu 25 oC .

2.3.2

n-Heksan Heksana adalah sebuah senyawa hidrokarbon alkana dengan rumus kimia

C6H14 (isomer utama n-heksana memiliki rumus CH3(CH2)4CH3). Awalan heksmerujuk pada enam karbon atom yang terdapat pada heksana dan akhiran -ana berasal dari alkana, yang merujuk pada ikatan tunggal yang menghubungkan

atom-atom karbon tersebut. Seluruh isomer heksana amat tidak reaktif, dan sering digunakan sebagai pelarut organik yang inert. Dalam keadaan standar senyawa ini merupakan cairan tak berwarna yang tidak larut dalam air.

Gambar 4. n-Heksan Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/n-Heksan 2.3.3 Etil Asetat Etil asetat adalah senyawa organik dengan rumus CH3CH2OC(O)CH3. Senyawa ini merupakan ester dari etanol dan asam asetat. Senyawa ini berwujud cairan tak berwarna, memiliki aroma khas. Senyawa ini sering disingkat EtOAc, dengan Et mewakili gugus etil dan OAc mewakili asetat. Etil asetat diproduksi dalam skala besar sebagai pelarut.

Gambar 5. Etil Asetat Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Etilasetat Etil asetat adalah pelarut polar menengah yang volatil (mudah menguap), tidak beracun, dan tidak higroskopis. Etil asetat merupakan penerima ikatan hidrogen yang lemah, dan bukan suatu donor ikatan hidrogen karena tidak adanya proton yang bersifat asam (yaitu hidrogen yang terikat pada atom elektronegatif seperti flor, oksigen, dan nitrogen. Etil asetat dapat melarutkan air hingga 3%, dan larut dalam air hingga kelarutan 8% pada suhu kamar. Kelarutannya meningkat

pada suhu yang lebih tinggi. Namun demikian, senyawa ini tidak stabil dalam air yang mengandung basa atau asam.

2.4

Ekstraksi Ekstraksi adalah pengambilan atau pemisahan suatu campuran dengan

memberi pelarut yang sesuai sehingga zat lain tidak ikut larut (S, Syukri:1999). Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Ekstraksi padat cair atau leaching adalah transfer difusi komponen terlarut dari padatan inert ke dalam pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik karena komponen terlarut kemudian dikembalikan lagi ke keadaan semula tanpa mengalami perubahan kimiawi. Ekstraksi dari bahan padat dapat dilakukan jika bahan yang diinginkan dapat larut dalam solven pengekstraksi. Ekstraksi berkelanjutan diperlukan apabila padatan hanya sedikit larut dalam pelarut. Namun sering juga digunakan pada padatan yang larut karena efektivitasnya. (Lucas, Howard J, David Pressman. Principles and Practice In Organic Chemistry) Proses ekstraksi bahan dapat dilakukan berdasarkan teori tentang penyarian. Penyarian merupakan peristiwa pemindahan massa. Zat aktif yang semula berada di dalam sel, ditarik oleh cairan penyari sehingga terjadi larutan zat aktif dalam cairan penyari tersebut. Ada beberapa macam metode penyarian yang dapat digunakan, yaitu : 1. Maserasi 2. Perkolasi 3. Ekstraksi dengan menggunakan Soxhlet 4. Ekstraksi dengan menggunakan gas superkritis

Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, stirak, dan bahan sejenis yang mudah mengembang.

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1

Waktu dan Tempat Pelaksanaan praktikum mengenai Pembuatan Ekstrak Bahan Hayati ini

dilakukan di lantai III Gedung 4 Laboratorium Bioteknologi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan pada hari Senin 15 April 2013 pada pukul 10.00 dan Rabu 17 April 2013 pada pukul 08.00 WIB sampai 10.00 WIB.

3.2 3.2.1
No 1 2 3

Alat dan Bahan Alat


Nama Alat Batang Pengaduk Botol Vial Corong Saring Fungsi Mengaduk atau menghomogenkan pelarut dengan bahan Wadah untuk menyimpan hasil ekstrak dari proses evaporasi Membantu kertas saring dalam memisahkan filtrat dengan residunya untuk menghindari agar campuran pelarut dan bahan tidak tumpah Mengukur volume air atau pelarut yang akan digunakan juga sebagai wadah tempat menyaring hasil filtrat dari proses maserasi Memisahkan filtrat dengan residunya Wadah sebagai tempat untuk mencampurkan bahan dan pelarut Menimbang sampel atau bahan yang berwujud serbuk atau padatan Mengambil pelarut dengan takaran tertentu (biasanya beberapa tetes) Menguapkan filtrat hasil rendaman Mengaduk sampel dengan pelarut dan mengambil ekstrak hasil evaporasi

Tabel 1. Alat-alat Praktikum yang Digunakan

Gelas Ukur

5 6 7 8 9 10

Kertas Saring Medium Botol/Erlenmeyer Neraca Analitis Pipet Tetes Rotary Evaporator Spatula

3.2.2
No 1 2 3 3 4

Bahan
Bahan Buah Keben (Barringtonia asiatica) Lamun (Enhalus acoroides) n-Heksan Etil Asetat Metanol Fungsi Sampel Sampel Pelarut Pelarut Pelarut

Tabel 2. Bahan-bahan Praktikum yang Digunakan

3.3 3.3.1

Prosedur Kerja Ekstraksi n-Heksan

1. Sampel seberat 5 gram ditimbang 2. Dimasukkan ke dalam medium botol atau Erlenmeyer 3. Dimasukkan pelarut n-heksan 50 ml sampai sampel terendam lalu tutup botol atau erlenmeyer tersebut dengan menggunakan alumunium foil 4. Direndam hingga 24 jam 5. Disaring untuk memisahkan filtrat dan residunya 6. Filtrat hasil rendaman diuapkan dengan menggunakan Rotary Evaporator 7. Botol vial ditimbang untuk mengetahui beratnya sembari menunggu prosese evaporasi selesai 8. Ekstrak hasil evaporasi diambil dari labu dengan menggunakan spatula kemudian masukkan ke dalam botol vial 9. Hasil ekstrak n-heksan ditimbang 10. Dihitung nilai rendemennya

3.3.2

Ekstraksi Etil Asetat

1. Sampel seberat 5 gram ditimbang 2. Dimasukkan ke dalam medium botol atau Erlenmeyer 3. Dimasukkan pelarut etil asetat 50 ml sampai sampel terendam lalu tutup botol atau erlenmeyer tersebut dengan menggunakan alumunium foil 4. Direndam hingga 24 jam 5. Disaring untuk memisahkan filtrat dan residunya 6. Filtrat hasil rendaman diuapkan dengan menggunakan Rotary Evaporator 7. Botol vial ditimbang untuk mengetahui beratnya sembari menunggu prosese evaporasi selesai 8. Ekstrak hasil evaporasi diambil dari labu dengan menggunakan spatula kemudian masukkan ke dalam botol vial 9. Hasil ekstrak etil asetat ditimbang 10. Dihitung nilai rendemennya

3.3.3

Ekstraksi Metanol

1. Sampel seberat 5 gram ditimbang 2. Dimasukkan ke dalam medium botol atau Erlenmeyer 3. Dimasukkan pelarut metanol 50 ml sampai sampel terendam lalu tutup botol atau erlenmeyer tersebut dengan menggunakan alumunium foil 4. Direndam hingga 24 jam 5. Disaring untuk memisahkan filtrat dan residunya 6. Filtrat hasil rendaman diuapkan dengan menggunakan Rotary Evaporator 7. Botol vial ditimbang untuk mengetahui beratnya sembari menunggu prosese evaporasi selesai 8. Ekstrak hasil evaporasi diambil dari labu dengan menggunakan spatula kemudian masukkan ke dalam botol vial 9. Hasil ekstrak metanol ditimbang 10. Dihitung nilai rendemennya

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Tabel 3. Data Hasil Pengamatan Praktikum 2
Sampel Kelompok 1-2 Barringtonia asiatica 3-4 5-6 7-8 Enhalus acoroides 9-11 12-13 Pelarut N-heksan Etil asetat Metanol N-heksan Etil asetat Metanol Shift 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 Volume Filtrat (ml) 38 38 35 38 42 38 34,5 37 38 38 38 34 Berat Ekstrak (gr) 0,0256 0,8585 0,0031 0,0163 2,01 Rendemen (%) 0,256 0 8,58 0,031 0,163 20,1 Warna Filtrat Bening Bening Kuning Bening Kuning Bening Hijau Muda Hijau Tua

4.2

Pembahasan Dari kegiatan praktikum mengenai Pembuatan Ekstrak Bahan Hayati

yang telah dilakukan pada hari Senin 15 April 2013 dan hari Rabu 17 April 2013, diperoleh sejumlah data seperti yang dicantumkan pada tabel 3 di atas. Kegiatan praktikum ini bermula pada hari Senin yaitu pembuatan ekstraksi dengan teori mengenai penyarian. Penyarian merupakan peristiwa pemindahan massa. Zat aktif yang semula berada di dalam sel, ditarik oleh cairan penyari sehingga terjadi larutan zat aktif dalam cairan penyari tersebut. Penyarian dapat dilakukan melalui proses maserasi. Metode maserasi digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, stirak dan lilin. Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan Proses maserasi atau perendaman dalam kegiatan praktikum yang dilakukan yaitu selama 3 hari. Langkah pertama yang dilakukan yaitu menimbang sampel Enhalus acoroides dan Barringtonia asiatica masing-masing seberat 5 gr dengan menggunakan timbangan analitis. Sampel yang digunakan berbentuk

serbuk, hal ini dimaksudkan untuk memperbesar luas permukaan sehingga pelarut lebih mudah larut dan masuk ke dalam sel-sel sampel dan menarik zat aktif yang terkandung dalam sampel secara optimal. Selanjutnya pengukuran pelarut sebanyak 50 ml dengan menggunakan gelas ukur. Digunakan pelarut sebanyak 50 ml dengan tujuan agar seluruh sampel terendam oleh pelarut dengan perbandingan 1 : 10 untuk memberikan hasil yang optimal. Selain volume pelarut, pelarut yang digunakan pun harus diperhatikan. Pemilihan pelarut yang digunakan yaitu nheksan yang bersifat non polar, etil asetat yang bersifat semi polar, dan metanol yang bersifat universal dalam arti dapat melarutkan senyawa polar dan non polar namun pelarut metanol lebih bersifat polar. Pemilihan ketiga pelarut tersebut bertujuan agar pelarut memiliki tingkat selektifitas masing-masing. Kemudian masukkan sampel dan pelarut ke dalam tabung erlenmeyer dan tutup mulut tabung erlenmeyer dengan menggunakan alumunium foil untuk menghindari perubahan reaksi yang terjadi. Selanjutnya simpan botol erlemneyer di dalam suhu ruang dan hindari dengan paparan cahaya matahari secara langsung untuk menghindari perubahan reaksi yang terjadi dan rusaknya bahan serta kandungan zat aktif. Penyimpanan dilakukan selama 3 hari terhitung dari hari senin sampai rabu, sampai akhirnya sampel diberi perlakuan lebih lanjut. Ekstraksi dengan menggunakan proses maserasi atau perendaman yang dilakukan selama + 3 hari bertujuan untuk memperoleh hasil yang optimal karena lamanya perendaman juga berpengaruh terhadap kandungan zat aktif yang ingin diperoleh. Pada initinya, prinsip maserasi penyarian zat aktif yang dilakukan dalam kegiatan praktikum ini yaitu dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama tiga hari pada temperatur kamar, terlindung dari cahaya, sehingga cairan penyari diduga akan masuk ke dalam sel melewati dinding sel dan Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan di luar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah (proses difusi). Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel.

Setelah melakukan maserasi atau perendaman selama 3 hari tersebut, diduga telah memberikan hasil yang optimal sehingga selanjutnya dilakukan perlakuan lebih lanjut terhadap ekstrak yang telah direndam oleh pelarut tertentu. Hasil ekstrak disaring untuk dipisahkan antara filtrat dan residunya dengan menggunakan corong dan kertas saring. Hasil filtrat kemudian dihitung volume nya kemudian diamati warna yang terbentuk. Filtrat dari sampel Barringtonia asiatica yang direndam dengan menggunakan n-heksan dan etil asetat berwarna bening, sedangkan filtrat yang direndam dengan menggunakan metanol berwarna kuning bening. Sementara itu, filtrat dari sampel Enhalus acoroides yang direndam dengan menggunakan n-heksan berwarna kuning muda, filtrat yang direndam dengan menggunakan etil asetat menunjukkan warna hijau muda, dan filtrat yang direndam dengan menggunakan metanol berwana hijau tua. Perbedaan warna pada hasil penyaringan diduga karena penggunaan pelarut yang berbeda meskipun menggunakan sampel yang sama. Selain itu, diduga pula karena keselektifan penggunaan pelarut yang dicampurkan dengan simplisia. Dari Penelitian yang dilakukan oleh Irman (2012), diketahui bahwa selain saponin, buah dan biji keben (Barringtonia asiatica) juga mengandung asam galat; asam hidrosianat yang terdiri dari monosakarida; serta triterpenoid yang terdiri dari asam bartogenat, asam 19-epibartogenat, dan asam anhidro-bartogenat.

Berdasarkan Sastroamidjojo dalam Nurhayati et al. (2006), saponin bersifat polar. Sementara struktur triterpenoid dalam bentuk bebas kepolarannya bersifat menengah dan struktur triterpenoid dalam bentuk glikosida, kepolarnnya dikatakan polar. Oleh karena hal tersebut, perendaman biji buah keben dengan menggunakan pelarut metanol diduga lebih menghasilkan banyak kandungan zat aktif berupa saponin dan triterpenoid yang lebih banyak karena metanol yang bersifat polar juga. Karena prinsip dari ekstraksi menggunakan pelarut ini yaitu like dissolve like yang mana pelarut yang bersifat polar akan menarik senyawa yang bersifat polar dan pelarut yang bersifat non polar akan menarik senyawa yang bersifat non polar. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap lamun (Enhalus acoroides) yang merupakan jenis lamun yang paling banyak terdapat di Indonesia

(Rifqi, 2008), telah berhasil diisolasi beberapa senyawa metabolit sekunder seperti terpenoid, steroid, dan flavanoid. Namun, kebanyakan senyawa-senyawa tersebut masih belum diketahui. Menurut Mifta (2010) Flavonoid merupakan senyawa polifenol sehingga bersifat kimia senyawa fenol yaitu agak asam dan dapat larut dalam basa, dan karena merupakan senyawa polihidroksi (gugus hidroksil) maka juga bersifat polar sehingga dapat larut dalan pelarut polar seperti metanol, etanol, aseton, air, butanol, dimetil sulfoksida, dimetil formamida. Berdasarkan Sastroamidjojo dalam Nurhayati et al. (2006), terpenoid dan steroid bersifat non polar. Oleh karena itu, diduga metanol dapat menarik senyawa aktif flavanoid lebih optimal dibandingkan senyawa yang lainnya karena sifatnya yang samasama polar, sementara itu n-heksan yang bersifat non polar bisa lebih kuat menarik senyawa aktif yang bersifat polar juga dalam kandungan Enhalus acoroides yaitu berupa senyawa aktif steroid dan terpenoid. Sedangkan etil asetat yang berisfat semi polar bisa menarik senyawa polar dan non polar sehingga kandungan senyawa aktif flavanoid, steroid, dan terpenoid dalam Enhalus acoroides dapat ditarik pula oleh etil asetat. Dari hasil filtrat dapat disimpulkan bahwa semakin pekat warna filtrat, makan semakin optimal senyawa aktif yang diperoleh. Warna hijau tua pada sampel Enhalus acoroides menunjukkan bahwa kandungan flavanoid yang tertarik oleh pelarut lebih besar daripada kandungan steroid dan terpenoid yang dapat ditarik oleh pelarut n-heksan yang ditunjukkan oleh kuning bening, dan warna hijau tua menunjukkan bahwa senyawa flavanoid, steroid, dan triterpenoid yang ditarik oleoh pelarut etil asetat tidak lebih banyak jika dibandingkan dengan hasil filtrat yang direndam menggunakan pelarut metanol. Sementara pada Barringtonia asiatica, menunjukkan bahwa perendaman yang menggunakan pelarut metanol menghasilkan warna kuning bening yang menunjukkan warna lebih pekat daripada perendaman yang mneggunakan pelarut n-heksan dan etil asetat yang hanya menunjukkan warna bening. Selain warna, volume hasil filtrat juga menunjang keoptimalisasian dan keselektifan pelarut dalam penyarian senyawa aktif yang terkandung dalam sampel. Selain warna yang lebih pekat, hasil filtrat juga menunjukkan volume yang lebih banyak atau hampir sebanding dengan volume hasil filtrat yang yang

menggunakan pelarut lain. Sampel Enhalus acoroides yang sebelumnya direndam dengan menggunakan pelarut metanol menghasilkan volume filtrat sebanyak 38 ml, sama dengan volume filtrat yang sebelumnya direndam dengan menggunakan etil asetat, sementara volume filtrat yang sebelumnya direndam oleh pelarut nheksan hanya menghasilkan 34,5 ml. Sampel Barringtonia asiatica yang sebelumnya direndam dengan menggunakan pelarut metanol menghasilkan volume filtrat sebanyak 42 ml, sampel yang sebelumnya direndam dengan menggunakan pelarut n-heksan menghasilkan volume filtrat sebanyak 38 ml, dan sampel yang sebelumnya direndam dengan menggunakan pelarut etil asetat hanya menghasilkan volume filtrat sebanyak 35 ml. Setelah dilakukan penguapan dengan menggunakan Rotary Evaporator dan menghasilkan berat ekstrak sehingga dapat dihitung persentase rendemen, semakin terlihat hasil yang memuaskan terhadap hipotesa hasil kegiatan praktikum ini. Menurut Pangestu et al. (2011), Rotary evaporator ialah alat yang biasa digunakan di laboratorium kimia untuk mengefisienkan dan mempercepat pemisahan pelarut dari suatu larutan. Alat ini menggunakan prinsip vakum destilasi, sehingga tekanan akan menurun dan pelarut akan menguap dibawah titik didhnya. Rotary evaporator bekerja seperti alat destilasi. Pemansan pada rotary evaporator menggunakan penangas air yang dibantu dengan rotavapor akan memutar labu yang berisi sampel oleh rotavapor sehingga pemanasan akan lebih merata. Selain itu, penurunan tekanan diberikan ketika labu yang berisi sampel diputar menyebabkan penguapan lebih cepat. Dengan adanya pemutaran labu maka penguapan pun menjadi lebih cepat terjadi. Pompa vakum digunakan untuk menguapkan larutan agar naik ke kondensor yang selanjutnya akan diubah kembali ke dalam bentuk cair. Labu disimpan dalam labu alas bulat dengan volume 2/3 bagian dari volume labu alas bulat yang digunakan, kemudian waterbath dipanaskan sesuai dengan suhu pelarut yang digunakan. Setelah suhu tercapai, labu alas bulat dipasang dengan kuat pada ujung rotor yang menghubungkan dengan kondensor. Aliran air pendingin dan pompa vakum dijalankan, kemudian tombol rotar diputar dengan kecepatan yang diinginkan.

Pelarut metanol mempunyai titik didih 64,7 0C; etil asetat mempunyai titik didih 77,1 0C; dan n-heksan mempunyai titik didih 69 0C. Penguapan menggunakan Rotary Evaporator berdasarkan titik didih dari pelarutnya. Dari hasil penguapan menggunakan Rotary Evaporator tersebut, diperoleh berat ekstrak dari sampel Barringtonia asiatica dengan menggunakan pelarut n-heksan sebanyak 0,0256 gr, ketika menggunakan pelarut etil asetat tidak menggunakan berat ekstrak karena pada saat selesai penguapan hasil ekstrak tidak terdapat pada labu Rotary Evaporator, sementara hasil ekstrak dengan menggunakan pelarut metanol menghasilkan berat 0,8585 gr. Pada sampel Enhalus asiatica hasil ekstrak dengan menggunakan pelarut metanol sebanyak 2,01 gr, hasil ekstrak dengan menggunakan pelarut etil asetat sebanyak 0,0163 gr, dan hasil ekstrak dengan menggunakan pelarut nheksan sebanyak 0,0031 gr. Dari hasil berat ekstrak tersebut, dapat dihitung persentase rendemen dengan menggunakan rumus:

Sehingga dari rumus tersebut, persentase masing-masing rendemen untuk sampel Barringtonia asiatica dengan menggunakan pelarut n-heksan sebesar 0,256%, dengan menggunakan pelarut etil asetat sebesar 0%, dengan menggunakan pelarut metanol sebesar 8,58%. Sementara itu, untuk sampel Enhalus acoroides dengan menggunakan pelarut n-heksan sebesar 0,031%, dengan menggunakan pelarut etil asetat sebesar 0,163%, dan dengan menggunakan pelarut metanol sebesar 20,1%.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

Kesimpulan Dari seluruh data hasil pengamatan tersebut, dapat disimpulkan bahwa

sampel Baringtonia asiatica yang mengandung senyawa metabolit sekunder saponin dan triterpenoid yang bersifat polar, kemudian direndam dengan menggunakan pelarut metanol yang juga bersifat polar memberikan hasil yang lebih optimal berupa warna filtrat lebih pekat yaitu kuning bening, menghasilkan volume filtrat lebih banyak yaitu 42 ml dan menghasilkan berat ekstrak lebih banyak yaitu 0,8585 gr sehingga menghasilkan rendemen lebih besar pula, yaitu 8,58%. Sedangkan sampel Enhalus acoroides yang mengandung senyawa metabolit sekunder berupa steroid, terenoid, dan flavanoid. Oleh karena itu, metanol yang bersifat polar dapat menarik senyawa aktif flavanoid lebih optimal dibandingkan senyawa yang lainnya karena sifatnya yang sama-sama polar, sementara itu n-heksan yang bersifat non polar bisa lebih kuat menarik senyawa aktif yang bersifat polar juga yaitu berupa senyawa aktif steroid dan terpenoid. Sedangkan etil asetat yang berisfat semi polar bisa menarik senyawa polar dan non polar sehingga kandungan senyawa aktif flavanoid, steroid, dan terpenoid dalam Enhalus acoroides dapat ditarik pula oleh etil asetat. Karena prinsip dari ekstraksi menggunakan pelarut ini yaitu like dissolve like yang mana pelarut yang bersifat polar akan menarik senyawa yang bersifat polar dan pelarut yang bersifat non polar akan menarik senyawa yang bersifat non polar. Sehingga hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa perendaman dengan menggunakan pelarut metanol memberikan hasil yang optimum yaitu berupa warna filtrat lebih pekat yaitu hijau tua, menghasilkan volume filtrat lebih banyak yaitu 38 ml dan menghasilkan berat ekstrak lebih banyak yaitu 2,01 gr sehingga menghasilkan rendemen lebih besar pula, yaitu 20,1%.

5.2

Saran Pada saat kegiatan praktikum berlangsung, sebaiknya praktikan dan

asisten benar-benar memperhatikan kegiatan dan waktu kerja di Laboratorium sehingga kegiatan praktikum menjadi lebih efektif. Hal ini dikarenakan ketika beberapa kelompok praktikan dan asisten sedang melakukan penguapan filtrat hasil ekstrak, kelompok praktikan lainnya tidak ada pekerjaan sehingga praktikan mengobrol. Disarankan asdos memberi kegiatan lain disela-sela waktu tunggu. Selain itu, diperhatikan pula estimasi waktu penguapan menggunakan Rotary Evaporator tersebut agar semua kelompok praktikan bisa melakukan penguapan filtrat hasil ekstraksi sehingga bisa lebih mengerti prosedur dan prinsip kerja Rotary Evaporator.

DAFTAR PUSTAKA

Amiruddin, Achmad.1965.Kimia inti & radio kimia. Bandung: Jajasan Karjawan Kimia Andri. 2009. Khasiat Tanaman Keben. http://andrie86eternal.blogspot.com/ 2009/12/khasiat-tanaman-keben-untuk-mata.html [Diakses pada hari Jumat 19 April 2013 pada pukul 02.00 WIB] Anonim. 2010. Buah Keben. http://buahkeben.blogspot.com/2010_05_01_ archive.html [Diakses pada hari Jumat 19 April 2013 pada pukul 02.00 WIB] 2012. Proposal Isolasi Senyawa Metabolit dari Lamun. http://www.scribd.com/doc/106122427/Proposal-Isolasi-SenyawaMetabolit-dari-Lamun [Diakses pada hari Jumat 19 April 2013 pada pukul 02.00 WIB]

Anonim.

Asyhar. 2010. Pemisahan Senyawa Organik. http://asyharstf08.wordpress.com/ 2010/02/01/pemisahan-senyawa-organik/ [Diakses pada hari Jumat 19 April 2013 pada pukul 02.00 WIB] Badui, Dahlia. 2010. Analisis Kadar Gizi Buah Lamun (Enhalus acoroides) dan Hubungan antara Pengetahuan, Persepsi dengan Pemanfaatan Buah Lamun sebagai Sumber Makanan Alternatif Masyarakat Desa Waai Kec. Salahutu Kab. Maluku Tengah. http://karyailmiah.um.ac.id/index.php/disertasi/article/ view/8025 [Diakses pada hari Jumat 19 April 2013 pada pukul 02.00 WIB] Brady, James E.1999.Kimia untuk Universitas Asas dan Struktur.Jakarta: Binaupa Aksara Kartikasari, Fransischa Galuh. 2012. Uji Toksisitas Fraksi Dari Spongs Laut Xestospongia dengan Metode Brine Shrimp Test (BST). ITS Kholis, Ahmad Nur. 2012. Fermentasi Buah Keben. 7lebah.blogspot.com/2012/ 12/fermentasi-buah-bakau-keben-mangrove.html [Diakses pada hari Jumat 19 April 2013 pada pukul 02.00 WIB] Khairun, Ahmad. 2011. Prinsip Ekstraksi Maserasi. http://ahmadkhairun. blogspot.com/2011/09/prinsipekstraksimaceration.html [Diakses pada hari Jumat 19 April 2013 pada pukul 02.00 WIB] Liddini, Mar'atus Sholehah. 2012. Pemisahan Campuran Melalui Proses Ekstraksi. Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan Pendidikan Ilmu

Pengetahuan Alam Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Mifta. 2010. Senyawa Flavanoid. http://miftachemistry.blogspot.com/2010 /11/senyawa-flavonoid.html [Diakses pada hari Jumat 19 April 2013 pada pukul 02.00 WIB]

Nurfadilah. 2013. Uji Bioaktifitas Antibakteri Ekstrak Dan Fraksi Lamun Dari Kepulauan Spermonde, Kota Makassar. Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan Universitas Hasanuddin Makassar. Oxtoby, dkk.2001.Kimia Modern edisi keempat jilid 1.Jakarta: Erlangga S, Syukri.1999.Kimia Muda 2.Bandung: ITB