Anda di halaman 1dari 12

Tugas Tutorial

April 2013

BLEED AND BROKE

Disusun Oleh : Rangga Duo Ramadan G 501 09 008

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS TADULAKO PALU 2013

Learning Objective 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Penanganan farmakologis Penanganan hemodinamik dan penanganan luka Proses penyembuhan luka DD kasus di skenario SKDI Penanganan fraktur Jenis cedera otot dan penanganannya Penanganan pertama pada fraktur Penanganan syok

Jawaban 1. Penanganan farmakologis dari kasus di skenario adalah - Bila terjadi hipovolemia yang berat dan berkepanjangan, dukungan inotropik dengan dopamin, vasopresin atau dobutamin dapat dipertimbangkan untuk mendapatkan kekuatan ventrikel yang cukup setelah volume darah dicukupi. Pemberian nalokson bolus 30mcg/kg dalam 3-5 menit dilanjutkan 60 mcg/kg dalam 1 jam dalam dekstros 5% dapat membantu meningkatkan mean arterial pressure (MAP) 2. Terapi cairan merupakan salah satu aspek terpenting dari perawatan pasien. Pemilihan cairan sebaiknya berdasarkan atas status hidrasi pasien, konsentrasi elektrolit dan kelainan metabolik yang ada. Secara sederhana tujuan terapi cairan dibagi atas resusitasi atau pengganti yaitu untuk mengganti kehilangan cairan akut dan rumatan untuk mengganti kehilangan harian. Kebutuhan air dan elektrolot sebagai terapi dapat dibagi atas 3 kategori: a. Terapi pemeliharaan atau rumatan Sebagai pengganti cairan yang hilang melalui pernafasan, kulit, urin dan tinja ( Normal Water Losses = NWL). Kehilangan cairan melalui pernafasan dan kulit disebut Insesible Water Losses (IWL). Kebutuhan cairan pengganti rumatan ini dihitung berdasarkan kg BB. Kebutuhan cairan untuk terapi rumatan dipengaruhi oleh suhu lingkungan dan C diatasaktifitas terutama IWL oleh karena itu setiap kenaikan suhu 1 C kebutuhan cairan ditambah 12%. Sebaliknya IWL akansuhu tubuh 37 menurun pada keadaan menurunnya aktivitas seperti dalam keadaan koma dan keadaan hipotermi maka kebutuhan cairan rumatan harus dikurangi 12% C dibawah suhu tubuh normal. Cairanpada setiap penurunan suhu 1 intravena untuk terapi rumatan ini biasanya campuran Dextrosa 5% atau 10% dengan larutan NaCl 0,9% 4:1 , 3:1, atau 1:1 yang disesuaikan dengan kebutuhan dengan menambahkan larutan KCl 2 mEq/kgBB. b. Terapi defisit Sebagai pengganti air dan elektrolit yang hilang secara abnormal (Previous Water Losses=PWL) yang menyebabkan dehidrasi. Jumlahnya berkisar antara 5-15% BB. Biasanya kehilangan cairan yang menyebabkan dehidrasi ini disebabkan oleh diare, muntah-muntah akibat stenosis pilorus, kesulitan pemasukan oral dan asidosis karena diabetes. Berdasarkan PWL ini derajat dehidrasi dibagi atas ringan yaitu kehilangan

cairan sekitar 3-5% BB, dehidrasi sedang kehilangan cairan sekitar 6-9% BB dan dehidrasi berat kehilangan cairan berkisar 10% atau lebih BB. c. Terapi pengganti kehilangan cairan yang masih tetap berlangsung ( Concomitant water losses=CWL). Kehilangan cairan ini bisa terjadi melalui muntah dan diare yang masih tetap berlangsung, pengisapan lendir, parasentesis dan lainnya. Jumlah kehilangan CWL ini diperkirakan 25 ml/kgBB/24 jam untuk semua umur. Untuk mengatasi keadaan diatas diperlukan terapi cairan. Bila pemberian cairan peroral tidak memungkinkan, maka dicoba dengan pemberian cairan personde atau gastrostomi, tapi bila juga tidak memungkinkan, tidak mencukupi atau membahayakan keadan penderita, terapi cairan secara intra vena dapat diberikan Umumnya terapi cairan yang dapat diberikan berupa cairan kristaloid dan koloid atau kombinasi keduanya. Cairan kristaloid adalah cairan yang mengandung air, elektrolit dan atau gula dengan berbagai campuran. Cairan ini bisa isotonik, hipotonik, dan hipertonik terhadap cairan plasma. Sedangkan cairan koloid yaitu cairan yang BM nya tinggi 7,8. Cairan kristaloid terdiri dari: a. Cairan Hipotonik Cairan ini didistribusikan ke ekstraseluler dan intraseluluer. Oleh karena itu penggunaannya ditujukan kepada kehilangan cairan intraseluler seperti pada dehidrasi kronik dan pada kelainan keseimbangan elektrolit terutama pada keadaan hipernatremi yang disebabkan oleh kehilangan cairan pada diabetes insipidus. Cairan ini tidak dapat digunakan sebagai cairan resusitasi pada kegawatan. Contohnya dextrosa 5% b. Cairan Isotonik Cairan isotonik terdiri dari cairan garam faali (NaCl 0,9%), ringer laktat dan plasmalyte. Ketiga jenis cairan ini efektif untuk meningkatkan isi intravaskuler yang adekuat dan diperlukan jumlah cairan ini 4x lebih besar dari kehilangannya. Cairan ini cukup efektif sebagai cairan resusitasi dan waktu yang diperlukanpun relatif lebih pendek dibanding dengan cairan koloid. c. Cairan Hipertonik Cairan ini mengandung natrium yang merupakan ion ekstraseluler utama. Oleh karena itu pemberian natrium hipertonik akan menarik cairan intraseluler ke dalam ekstra seluler. Peristiwa ini dikenal dengan infus internal. Disamping itu cairan natrium hipertonik mempunyai efek inotropik positif antara lain mevasodilatasi pembuluh darah paru dan sistemik. Cairan ini bermanfaat untuk luka bakar karena dapat mengurangi edema pada luka bakar, edema perifer dan mengurangi jumlah cairan yang dibutuhkan, contohnya NaCl 3% Beberapa contoh cairan kristaloid : a. Ringer Laktat (RL) Larutan yang mengandung konsentrasi Natrium 130 mEq/L, Kalium 4 mEq/l, Klorida 109 mEq/l, Kalsium 3 mEq/l dan Laktat 28 mEq/L. Laktat pada larutan ini dimetabolisme di dalam hati dan sebagian kecil metabolisme juga terjadi dalam

ginjal. Metabolisme ini akan terganggu pada penyakit yang menyebabkan gangguan fungsi hati. Laktat dimetabolisme menjadi piruvat kemudian dikonversi menjadi CO2 dan H2O (80% dikatalisis oleh enzim piruvat dehidrogenase) atau glukosa (20% dikatalisis oleh piruvat karboksilase). Kedua proses ini akan membentuk HCO3. Sejauh ini Ringer Laktat masih merupakan terapi pilihan karena komposisi elektrolitnya lebih mendekati komposisi elektrolit plasma. Cairan ini digunakan untuk mengatasi kehilangan cairan ekstra seluler yang akut. Cairan ini diberikan pada dehidrasi berat karena diare murni dan demam berdarah dengue. Pada keadaan syok, dehidrasi atau DSS pemberiannya bisa diguyur. b. Ringer Asetat Cairan ini mengandung Natrium 130 mEq/l, Klorida 109 mEq/l, Kalium 4 mEq/l, Kalsium 3 mEq/l dan Asetat 28 mEq/l. Cairan ini lebih cepat mengoreksi keadaan asidosis metabolik dibandingkan Ringer Laktat, karena asetat dimetabolisir di dalam otot, sedangkan laktat di dalam hati. Laju metabolisme asetat 250 400 mEq/jam, sedangkan laktat 100 mEq/jam. Asetat akan dimetabolisme menjadi bikarbonat dengan cara asetat bergabung dengan ko-enzim A untuk membentuk asetil ko-A., reaksi ini dikatalisis oleh asetil ko-A sintetase dan mengkonsumsi ion hidrogen dalam prosesnya. Cairan ini bisa mengganti pemakaian Ringer Laktat. c. Glukosa 5%, 10% dan 20% Larutan yang berisi Dextrosa 50 gr/liter , 100 gr/liter , 200 gr/liter.9 Glukosa 5% digunakan pada keadaan gagal jantung sedangkan Glukosa 10% dan 20% digunakan pada keadaan hipoglikemi , gagal ginjal akut dengan anuria dan gagal ginjal akut dengan oliguria . d. NaCl 0,9% Cairan fisiologis ini terdiri dari 154 mEq/L Natrium dan 154 mEq/L Klorida, yang digunakan sebagai cairan pengganti dan dianjurkan sebagai awal untuk penatalaksanaan hipovolemia yang disertai dengan hiponatremia, hipokloremia atau alkalosis metabolik. Cairan ini digunakan pada demam berdarah dengue dan renjatan kardiogenik juga pada sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium seperti asidosis diabetikum, insufisiensi adrenokortikal dan luka bakar. Pada anak dan bayi sakit penggunaan NaCl biasanya dikombinasikan dengan cairan lain, seperti NaCl 0,9% dengan Glukosa 5 %. Cairan Koloid Jenis-jenis cairan koloid adalah : a. Albumin Terdiri dari 2 jenis yaitu: 1) Albumin endogen. Albumin endogen merupakan protein utama yang dihasilkan dihasilkan di hati dengan BM antara 66.000 sampai dengan 69.000, terdiri dari 584 asam amino. Albumin merupakan protein serum utama dan berperan 80% terhadap tekanan onkotik plasma. Penurunan kadar Albumin 50 % akan menurunkan tekanan onkotik plasmanya 1/3nya. 2) Albumin eksogen

Albumin eksogen ada 2 jenis yaitu human serum albumin, albumin eksogen yang diproduksi berasal dari serum manusia dan albumin eksogen yang dimurnikan (Purified protein fraction) dibuat dari plasma manusia yang dimurnikan. Albumin ini tersedia dengan kadar 5% atau 25% dalam garam fisiologis. Albumin 25% bila diberikan intravaskuler akan meningkatkan isi intravaskuler mendekati 5x jumlah yang diberikan.Hal ini disebabkan karena peningkatan tekanan onkotik plasma. Peningkatan ini menyebabkan translokasi cairan intersisial ke intravaskuler sepanjang jumlah cairan intersisial mencukupi. Komplikasi albumin adalah hipokalsemia yang dapat menyebabkan depresi fungsi miokardium, reaksi alegi terutama pada jenis yang dibuat dari fraksi protein yang dimurnikan. Hal ini karena faktor aktivator prekalkrein yang cukup tinggi dan disamping itu harganya pun lebih mahal dibanding dengan kristaloid.8 Larutan ini digunakan pada sindroma nefrotik dan dengue syok sindrom 3) HES (Hidroxy Ethyl Starch) Senyawa kimia sintetis yang menyerupai glikogen. Cairan ini mengandung partikel dengan BM beragam dan merupakan campuran yang sangat heterogen.Tersedia dalam bentuk larutan 6% dalam garam fisiologis. Tekanan onkotiknya adalah 30 mmHg dan osmolaritasnya 310 mosm/l. HES dibentuk dari hidroksilasi aminopektin, salah satu cabang polimer glukosa.8 Pada penelitian klinis dilaporkan bahwa HES merupakan volume ekspander yang cukup efektif. Efek intarvaskulernya dapat berlangsung 3-24 jam. Pengikatan cairan intravasuler melebihi jumlah cairan yang diberikan oleh karena tekanan onkotiknya yang lebih tinggi. Komplikasi yang dijumpai adalah adanya gangguan mekanisme pembekuan darah. Hal ini terjadi bila dosisnya melebihi 20 ml/ kgBB/ hari. 4) Dextran Campuran dari polimer glukosa dengan berbagai macam ukuran dan berat molekul. Dihasilkan oleh bakteri Leucomostoc mesenteriodes yang dikembang biakkan di media sucrose. BM bervariasi dari beberapa ribu sampai jutaan Dalton. Ada 2 jenis dextran yaitu dextran 40 dan 70. dextran 70 mempunyai BM 70.000 (25.000-125.000). sediaannya terdapat dalam konsentrasi 6% dalam garam fisiologis. Dextran ini lebih lambat dieksresikan dibandingkan dextran 40. Oleh karena itu dextran 70 lebih efektif sebagai volume ekspander dan merupakan pilihan terbaik dibadingkan dengan dextran 40. Dextran 40 mempunyai BM 40.000 tersedia dalam konsentrasi 10% dalam garam fisiologis atau glukosa 5%. Molekul kecil ini difiltrasi cepat oleh ginjal dan dapat memberikan efek diuretik ringan. Sebagian kecil dapat menembus membran kapiler dan masuk ke ruang intersisial dan sebagian lagi melalui sistim limfatik kembali ke intravaskuler. Pemberian dextran untuk resusitasi cairan pada syok dan kegawatan menghasilkan perubahan hemodinamik berupa peningkatan transpor oksigen. Cairan ini digunakan pad penyakit sindroma nefrotik dan dengue syok sindrom.

Komplikasi antara lain payah ginjal akut, reaksi anafilaktik dan gangguan pembekuan darah. 5) Gelatin Cairan ini banyak digunakan sebagai cairan resusitasi terutama pada orang dewasa dan pada bencana alam. Terdapat 2 bentuk sediaan yaitu: Modified Fluid Gelatin (MFG) dan Urea Bridged Gelatin (UBG) Kedua cairan ini punya BM 35.000. Kedua jenis gelatin ini punya efek volume expander yang baik pada kegawatan. Komplikasi yang sering terjadi adalah reaksi anafilaksis. Cairan Kombinasi a. KaEn 1 B (GZ 3 : 1) Larutan yang mengandung Natrium 38,5 mEq/L, Klorida 38,5 mEq/L. Dextrose 37,5 gr/L. Cairan ini digunakan sebagai cairan rumatan pada penyakit bronkopneumonia, status asmatikus dan bronkiolitis. b. Cairan 2a Larutan yang terdiri dari glukosa 5% dan NaCl 0,9 % dengan perbandingan 1 : 1 yang terdiri dari dextrosa monohidrat 55gr/L, dextrosa anhidrat 50 gr/L, Natrium 150 mmol/L dan klorida 150 mmol/L. Cairan ini digunakan pada diare dengan komplikasi dan bronkopneumoni dengan komplikasi. Sedangkan campuran glukosa 10% dan NaCl 0,9 % dengan perbandingan 1:1 digunakan pada bronkopneumoni dengan dehidrasi oleh karena intake kurang. c. Cairan G:B 4:1 Larutan yang terdiri dari glukosa 5% dan Natrium Bikarbonat 1,5 % yang merupakan campuran dari 500 cc Glukosa 5% dan 25 cc Natriun Bikarbonat 8,4%. Cairan ini digunakan pada neonatus yang sakit d. Cairan DG Cairan ini terdiri dari Natriun 61 mEq/L, Kalium 18mEq/L serta Laktat 27 mEq/L dan Klorida 52 mEq/L serta Dextrosa 25 g/L.9 Cairan ini digunakan pada diare dengan komplikasi. e. Cairan Natrium Bicarbonat (Meylon) Cairan ini mengandung natrium 25 mEq/25ml dan bicarbonat 25 mEq/25ml. Cairan ini digunakan pada keadaan asidosis akibat defisit bicarbonat.9 Sediaan dalam bentuk flakon sebanyak 25 ml dengan konsentrasi 8,4% ( 84 mg/ml) f. Cairan RLD Cairan yang terdiri dari I bagian Ringer laktat dan 1 bagian Glikosa 5% yang bisa digunakan pada demam berdarah dengue . g. Cairan G:Z 4:1 Cairan yang terdiri dari 4 bagian glukosa 5-10% dan 1 bagian NaCL 0,9% yang bisa digunakan pada dehidrasi berat karena diare murni. Pemilihan cairan sebaiknya didasarkan atas status hidrasi pasien, konsentrasi elektrolit, dan kelainan metabolik yang ada. Berbagai larutan parenteral telah dikembangkan menurut kebutuhan fisiologis berbagai kondisi medis. Terapi cairan intravena atau infus

merupakan salah satu aspek terpenting yang menentukan dalam penanganan dan perawatan pasien. Terapi awal pasien hipotensif adalah cairan resusitasi dengan memakai 2 liter larutan isotonis Ringer Laktat. Namun, Ringer Laktat tidak selalu merupakan cairan terbaik untuk resusitasi. Resusitasi cairan yang adekuat dapat menormalisasikan tekanan darah pada pasien kombustio 1824 jam sesudah cedera luka bakar. Larutan parenteral pada syok hipovolemik diklasifikasi berupa cairan kristaloid, koloid, dan darah. Cairan kristaloid cukup baik untuk terapi syok hipovolemik. Keuntungan cairan kristaloid antara lain mudah tersedia, murah, mudah dipakai, tidak menyebabkan reaksi alergi, dan sedikit efek samping. Kelebihan cairan kristaloid pada pemberian dapat berlanjut dengan edema seluruh tubuh sehingga pemakaian berlebih perlu dicegah. Larutan NaCl isotonis dianjurkan untuk penanganan awal syok hipovolemik dengan hiponatremik, hipokhloremia atau alkalosis metabolik. Larutan RL adalah larutan isotonis yang paling mirip dengan cairan ekstraseluler. RL dapat diberikan dengan aman dalam jumlah besar kepada pasien dengan kondisi seperti hipovolemia dengan asidosis metabolik, kombustio, dan sindroma syok. NaCl 0,45% dalam larutan Dextrose 5% digunakan sebagai cairan sementara untuk mengganti kehilangan cairan insensibel. Ringer asetat memiliki profil serupa dengan Ringer Laktat. Tempat metabolisme laktat terutama adalah hati dan sebagian kecil pada ginjal, sedangkan asetat dimetabolisme pada hampir seluruh jaringan tubuh dengan otot sebagai tempat terpenting. Penggunaan Ringer Asetat sebagai cairan resusitasi patut diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi hati berat seperti sirosis hati dan asidosis laktat. Adanya laktat dalam larutan Ringer Laktat membahayakan pasien sakit berat karena dikonversi dalam hati menjadi bikarbonat. Managemen luka a. Anestesi luka menggunakan lidocain/bupivacain b. Mencuci luka menggunakan saline atau irigasi luka dengan tekanan Tidak boleh dilakukan pada: Luka yang luas Luka yang sangat kotor (lakukan debridement terlebih dahulu) Luka dengan perdarahan arteri dan vena Luka yang mengancam jiwa Luka yang berada pada area yang mengandung areolar longgar bervaskular tinggi c. Debridement luka (surgical, mechanical, chemical, dan biological) Pisahkan jaringan nekrotik dan jaringan sehat. Jaringan sehat ditandai dengan erjadinya perdarahan bila terluka d. Perawatan luka yang ditutup primer Salep antibiotik Tutup dengan kassa steril dan plester Kassa digandi setiap 24 jam Luka dijaga tetap bersih dan kering. e. Menutup luka

Kontraindikasi: infeksi, luka dengan janringan nekrotik, waktu terjadinya luka>6 jam, masih terdapat benda asing dalam luka, perdarahan dari luka. f. Membalut luka g. Rumatan luka (Re-Assessetment) Nilai status kesehatan pasien secara umum dan memastikan status kesehatan tetap optimal untuk penyembuhan luka Memastikan vaskualrisasi ke area luka tetap baik Nilai perubahan ukuran luka, keadaan dasar luka, tepi luka, jaringan sekitar luka, produksi discharge Dokumentasi perubahan setiap kali pergantian perban 3. Proses penyembuhan luka melalui tahap berikut: a. Induksi respon peradangan akut oleh jejas awal b. Regenerasi sel parenkim c. Migrasi dan proliferasi sel parenkim dan sel jaringan ikat d. Sintesis protein ECM e. Remodeling unsur parenkim untuk mengembalikan fungsi jaringan f. Remodeling jaringan ikat untuk memperoleh kekuatan luka Dalam waktu 24 jam neutrofil akan muncul pada tepi luka dan bermigrasi menuju bekuan fibrin. Sel basal mulai meningkatkan aktivitas mitosis. Dalam waktu 24 48 jam sel epitel pada tepi luka akan bermigrasi dan berproliferasi di sepanjang dermis dan mendepositkan komponene membran basalis saat dalam perjalanan. Sel tersebut bertemu di garis tengah bawah keropeng permukaan menghasilkan suatu lapisan epitel tipis. Hari ke 3 neutrofil telah digantikan makrofag dan jaringan granulasi secara progresif menginvasi ruang insisi. Serat kolagen pada tepi insisi timbul. Proliferasi sel epitel berlanjut menghasilkan epidermis penutup tebal. Hari ke 5 neovaskularisasi mencapai puncakkarena jaringan granulasi mengisi ruang insisi. Serabut kolagen berlimpah dan mulai menjebatani insisi. Epidermis mengembalikan ketebalan normalnya karena diferensiasi sel permukaaan menghasilkan epidermis matur yang disertai keratin di permukaannya. Selama minggu ke 2, penumpukan kolagen dan proliferasi fibroblas berlanjut. Infiltrat leukosit, edema dan peningkatan vaskularisasi berkurang. Pada akhir bulan pertama jaringan parut terdiri dari suatu jaringan ikat sel tidak disertai sel radang dan ditutupi epidermis normal. Kekuatan regang pada luka meningkat dan tambahan dermis yang hancur pada garis insisi akan menghilang permanen. 4. Diagnosis banding; - Fraktur femur - Vulnus scissum - Laserasi arteri 5. SKDI Vulnus laseratum, punctum: 4A (mendiagnosis dan melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas). Vulnus perforatum, penetratum: 3B (membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau

mencegah keparahan dan kecacatan. Menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. Menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan). Fraktur terbuka, tertutup: 3B Syok (septik, hipovolemik, kardiogenik, neurogenik): 3B 6. Penanganan fraktur: a. Recognition Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan anamnesis,pemeriksaan klinik dan radiologis. Paa awal pengobatan perlu diperhatikan lokalisasi,bentuk dan menentukan teknik yang sesuai untuk fraktur b. Reduction Restorasi fragen fraktur dilakukan untuk mendapatkan posisi yang dapat diterima. Pada fraktur intra atiular diperlukan reduksi anatomis dan sedapat mungkin mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti kekakuan dan deformitas. Posisi yang baik adalah aligment yang sempurna dan aposisi yang sempurna. Angulasi < 5o pada tulang panjang anggota gerak bawah dan lengan atas dan angulasi sampai 10o pada humerus dapat diterima. Adanya rotasi tidak dapat diterima dimanapun lokalisasi fraktur c. Retention : Immobilisasi d. Rehabilitation : mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin Penatalaksanaan awal fraktur meliputi reposisi dan imobilisasi fraktur dengan splint. Status neurologis dan vaskuler di bagian distal harus diperiksa baik sebelum maupun sesudah reposisi dan imobilisasi. Pada pasien dengan multiple trauma, sebaiknya dilakukan stabilisasi awal fraktur tulang panjang setelah hemodinamis pasien stabil. Sedangkan penatalaksanaan definitif fraktur adalah dengan menggunakan gips atau dilakukan operasi dengan ORIF maupun OREF. 7. Ada nama-nama yang berbeda untuk cedera otot. Namun, mereka secara umum dapat disebut sebagai kontusio, strain, atau tendonitis. a. Kontusio /memar otot Memar otot adalah salah satu cedera otot yang paling umum dialami oleh atlet, terutama yang berpartisipasi dalam olahraga kontak. Kontusio otot juga disebut bruise otot. Meskipun cukup umum, sebagian besar kasus kontusio sembuh dengan cepat bahkan tanpa perawatan medis khusus. Memar otot sering disebabkan oleh trauma langsung atau pukulan berulang pada otot. Dalam beberapa kasus, kondisi dapat disebabkan oleh jatuh pada permukaan yang keras. Gejala mungkin yakni nyeri pada lokasi cedera. Memar otot yang parah dapat menyebabkan pembengkakan jaringan di bawahnya dan lainnya mungkin mengalami kerusakan. b. Strain otot Strain otot terjadi ketika otot mengalami overstretched atau ditarik, dengan atau tanpa robeknya otot. Hal ini dapat disebabkan oleh kontraksi mendadak dan kuat dari otot seperti mengangkat beban berat atau gerakan berulang (cedera berlebihan). Tergantung pada beratnya ketegangan otot, gejala mungkin termasuk rasa sakit, pembengkakan dan, kadang-kadang, memar. c. Cendonitis

Tendonitis adalah peradangan pada tendon - jaringan ikat fibrosa yang kuat yang menghubungkan otot ke tulang. Kadang-kadang, tendonitis juga dapat disertai dengan ketegangan otot. Tendonitis terjadi ketika tendon teriritasi dan meradang. Kondisi ini dapat disebabkan oleh tarikan tiba-tiba pada tendon dan penggunaan berlebihan atau gerakan berulang-ulang. Gejala mungkin termasuk nyeri, pembengkakan, nyeri, dan bengkak Pengobatan untuk Cedera Otot Cedera otot ringan dapat diobati dengan pengobatan rumah sederhana, seperti istirahat, menerapkan es, menggunakan perban kompresi, dan mengangkat anggota tubuh yang cedera Anda. Memakai obat anti-inflamasi juga dapat membantu. Fisioterapi juga mungkin dapat membantu Anda mengelola gejala. Cedera otot yang parah harus diperiksa oleh penyedia layanan kesehatan yang berkualitas. Sebuah robek otot atau tendon mungkin perlu perbaikan melalui pembedahan Pengobatan terbaik untuk cedera otot belum jelas didefinisikan. Akibatnya, direkomendasikan pengobatan konservatif sangat bervariasi tergantung pada tingkat keparahan cedera. Selain perawatan konservatif, pengobatan operatif dapat digunakan, terutama untuk cedera akut seperti strain yang serius yang mengarah pada pengembangan intramuscular hematoma besar. Meskipun semua perawatan di atas telah digunakan dalam pengaturan klinis dengan hasil yang baik, pemulihan fungsional pemulihan otot rangka terluka tetap limited. Akibatnya, penelitian dasar mencari cara tambahan untuk meningkatkan penyembuhan otot. Kesadaran bahwa cedera otot rangka segera dapat memulai regenerasi tetapi kemungkinan terhalang oleh fibrosis sangat penting untuk pengembangan pendekatan biologis untuk meningkatkan penyembuhan otot pasca-cedera. Pengiriman protein rekombinan manusia untuk otot rangka terluka baik dengan injeksi langsung atau melalui penggunaan gen. 8. Penatalaksanaan awal Sebelum dilakukan pengobatan defenitif pada satu fraktur maka diperlukan: a. Pertolongan pertama Pada penderita fraktur yang penting dilakukan adalah membersihkan jalan nafas, menutup luka dengan verban yang bersih, dan imobilisasi fraktur pada anggota gerak yang terkena agar penderia merasa nyaan dan mengurangi nyeri sebelum diangkut dengan ambulans. b. Penilaian klinis Sebelum menilai fraktur itu sendiri perlu dilakukan penilaian klinis, apaka luka itu tembus tulang, adakah trauma pembuluh darah/saraf ataukah ada trauma alat alat dalam yang lain c. Resusitasi

Kebanyakan penderita dengan fraktur multiple tiba di rumah sakit dengan syok, sehinga diperlukan resusitasi sebelum diberikan terapi pada frakturnya sendiri berupa pemberian transfusi darah dan cairan lainnya serta obat obat anti nyeri 9. Tujuan penanganan syok tahap awal adalah mengembalikan perfusi dan oksigenasi jaringan dengan mengembalikan volume dan tekanan darah. Pada syok tahap lebih lanjut, pengembalian perfusi jaringan saja biasanya tidak cukup untuk menghentikan perkembangan peradangan sehingga perlu dilakukan upaya menghilangkan faktor toksik yang terutama disebabkan oleh bakteri. Pemberian oksigen merupakan penanganan yang sangat umum, tanpa memperhatikan penyebab syok. Terapi lainnya tergantung pada penyebab syok. Terapi cairan merupakan terapi yang paling penting terhadap pasien yang mengalami syok hipovolemik dan distributif. Pemberian cairan secara IV akan memperbaiki volume darah yang bersirkulai, menurunkan viskositas darah, dan meningkatkan aliran darah vena, sehingga membantu memperbaiki curah jantung. Akibat selanjutnya adalah meningkatkan perfusi jaringan dan memberikan pasokan oksigen kepada sel. Terapi awal dapat berupa pemberian cairan kristaloid atau koloid. Dosis yang direkomendasikan untuk syok adalah 90 ml/kg IV untuk anjing dan 60 ml/kg IV untuk kucing. Seperempat dari jumlah tersebut diberikan selama 5-15 menit pertama dan bersamaan dengan itu dilakukan evaluasi terhadap respon kardiovaskular (kecepatan denyut jantung, warna membrana mukosa, kualitas pulsus, dan CRT). Koloid atau plasma pada dosis 22 ml/kg pada anjing dan 10-15 ml/kg pada kucing digunakan untuk resusitasi syok. Kecepatan dan volume terapi cairan harus dapat ditoleransi oleh individu pasien. Kecepatan dan jumlah pemberian cairan dimonitor pada tekanan vena sentral dan pengeluaran urin. Apabila perfusi jaringan berkurang karena kehilangan banyak darah, secara ideal harus dilakukan transfusi darah dengan kecepatan tidak melebihi 22 ml/kg secara IV dan kontrol perdarahan harus dilakukan dengan baik. Bila PCV menurun secara akut menjadi di bawah 20%, transfusi padatan sel darah merah (packed red blood cells) atau darah total secara nyata memperbaiki tekanan darah dan penghantaran oksigen ke jaringan. Pada syok kardiogenik, terapi cairan yang terlalu cepat dapat berakibat fatal karena akan meningkatkan beban kerja jantung dan selanjutnya membahayakan sirkulasi. Terapi syok kardiogenik tergantung pada penyebabnya. Jika syok disebabkan oleh kontraktilitas miokardium yang jelek, disarankan penanganan dengan beta-agonist. Dobutamin merupakan betaagonist yang mampu meningkatkan curah jantung dan penghantaran oksigen, tanpa menyebabkan vasokonstriksi, merupakan obat yang paling umum digunakan untuk meningkatkan fungsi jantung. Jika hewan sedang diberikan obat yang menekan miokardium (misalnya anestesia), maka pemberian obat tersebut harus dihentikan. Perikardiosentesis harus dilakukan jika efusi perikardium cukup banyak dan menyebabkan tamponad. Pada syok distributif apabila hipotensi tetap terjadi walaupun telah dilakukan terapi cairan yang cukup maka dibutuhkan pemberian vasopresor. Oleh karena curah jantung dan tahanan pembuluh darah sistemik mempengaruhi penghantaran oksigen ke jaringan, maka pada pasien hipotensi harus dilakukan terapi untuk memaksimalkan fungsi jantung dengan terapi cairan dan obat inotropik, dan/atau memodifikasi tonus pembuluh darah

dengan agen vasopresor. Penggunaan glukokortikoid untuk menangani syok masih kontroversial. Namun apabila digunakan, glukokortikoid harus digunakan pada penanganan awal dan tidak diulang penggunaannya. Prednisolon direkomendasikan pada dosis 22-24 mg/kg secara IV. Glukokortikoid kerja cepat (rapid-acting glucocorticoid) yang lain yang tersedia dalam bentuk parenteral adalah deksametason sodium fosfat, direkomendasikan pada dosis 2-4 mg/kg secara IV. Syok septik sering kali berkaitan dengan bakteri gram negatif, dan antibiotik yang cocok untuk itu misalnya sepalosporin atau aminoglikosida dan penisilin. Dua faktor yang sangat penting untuk dimonitor adalah tekanan dan volume darah. Sebagai petunjuk dalam pemberian terapi dapat digunakan parameter kardiovaskuler (kecepatan denyut jantung, warna membrana mukosa, kualitas pulsus, CRT, tekanan vena sentral), kecepatan pernapasan, temperatur, hematokrit, dan pengeluaran urin. Untuk mengevaluasi terapi cairan pada syok karena perdarahan sangat penting dilakukan pengukuran PCV (packed cell volume) dan TS (total solid). Tekanan gas dalam darah sangat penting dalam penentuan dan memonitor keseimbangan asam-basa.