Anda di halaman 1dari 84

KEBUDAYAAN BUGIS, MAKASSAR, TORAJA, DAN MANDAR

Kelompok 1. Gigeh Hari Prastowo (15) 2. Maria Olivia Tiara Asi Br. Tambunan (20) 3. Yusuf Bahtiar Kuncoroningrat (35) 4. Yusuf Wilman (36)

BAB I IDENTIFIKASI A. Propinsi Sulawesi Selatan Sulawesi Selatan adalah sebuah provinsi di Indonesia, yanng terletak di bagian selatan Pulau Sulawesi. Ibukotanya adalah Makassar, dahulu disebut Ujungpandang. Alasan untuk mengganti nama Makassar menjadi Ujungpandang adalah alasan politik. Antara lain karena Makassar adalah nama sebuah suku bangsa padahal tidak semua penduduk kota Makassar adalah anggota dari etnik Makassar. Alasan lainnya yang sering diajukan tetapi dirasa kurang masuk akal ialah konon karena kata Makassar mengandung kata "kasar" sehingga orang Makassar sering diejek. Padahal nama Makasar berasal dari bahasa Makassar "MANGKASARA" yang berarti yang menampakkan diri atau yang bersifat terbuka Provinsi Sulawesi Selatan terletak di 012' - 8 Lintang Selatan dan 11648' - 12236' Bujur Timur. Luas wilayahnya 62.482,54 km. Provinsi ini berbatasan dengan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat di utara, Teluk Bone dan Sulawesi Tenggara di timur, Selat Makassar di barat, dan Laut Flores di selatan Suku Bangsa Makassar, Bugis, Mandar, Luwu dan Toraja. Bahasa Bahasa yang umum digunakan adalah Makassar, Bugis, Luwu, Toraja, Mandar dan Konjo. Agama Mayoritas beragama Islam, kecuali di Kabupaten Tana Toraja dan sebagian wilayah lainnya beragama Kristen. Jumlah Penduduk Sampai dengan Juni 2006, jumlah penduduk di Sulawesi Selatan terdaftar sebanyak 7.520.204 jiwa, dengan pembagian 3.602.000 laki-laki dan 3.918.204 orang perempuan Pemerintahan

5 tahun setelah kemerdekaan, pemerintah mengeluarkan UU Nomor 21 Tahun 1950, yang menjadi dasar hukum berdirinya Propinsi Administratif Sulawesi. 10 tahun kemudian, pemerintah mengeluarkan UU Nomor 47 Tahun 1960 yang mengesahkan terbentuknya Sulawesi Selatan dan Tenggara. 4 tahun kemudian, melalui UU Nomor 13 Tahun 1964 pemerintah memisahkan Sulawesi Tenggara dari Sulawesi Selatan. Terakhir, pemerintah memecah Sulawesi Selatan menjadi dua, berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2004. Kabupaten Majene, Mamasa, Mamuju, Mamuju Utara dan Polewali Mandar yang tadinya merupakan kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan resmi menjadi kabupaten di provinsi Sulawesi Barat seiring dengan berdirinya provinsi tersebut pada tanggal 5 Oktober 2004 berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2004. Kabupaten dan Kota 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. Kabupaten Bantaeng Kabupaten Barru Kabupaten Bone Kabupaten Bulukumba Kabupaten Enrekang Kabupaten Gowa Kabupaten Jeneponto Kabupaten Luwu Kabupaten Luwu Timur Kabupaten Luwu Utara Kabupaten Maros Kabupaten Pangkajene Kepulauan Kabupaten Pinrang Kabupaten Selayar Kabupaten Sinjai Kabupaten Sidenreng Rappang Kabupaten Soppeng Kabupaten Takalar Kabupaten Tana Toraja Kabupaten Wajo Kota Makassar Kota Palopo Kota Pare-Pare

Pada tahun 2008 Kabupaten Toraja Utara dijadwalkan terbentuk, menyusul terbitnya Amanat Presiden Yudhoyono, bernomor R.68/Pres/12/2007, pada tanggal 10 Desember 2007, mengenai pemekaran 12 kabupaten/kota B. Kota Makassar Kota Makassar (dahulu daerah tingkat II berstatus kotamadya; dari 1971 hingga 1999 secara resmi dikenal sebagai Ujungpandang atau Ujung Pandang) adalah sebuah kotamadya dan sekaligus ibu kota provinsi Sulawesi Selatan. Kotamadya ini adalah kota terbesar di pada 58 LS 11925 BT, di pesisir barat daya pulau Sulawesi, menghadap Selat Makassar. Makassar dikenal mempunyai Pantai Losari yang indah. Makassar berbatasan Selat Makassar di sebelah barat, Kabupaten Pangkajene Kepulauan di sebelah utara, Kabupaten Maros di sebelah timur dan Kabupaten Gowa di sebelah selatan. Kota ini termasuk kota kosmopolis, banyak suku bangsa tinggal di sini. Di kota ini ada suku Makassar,Bugis,Toraja dan Mandar.Di kota ini ada pula komunitas Tionghoa yang cukup besar. Makanan khas Makassar adalah coto Makassar,Roti Maros,Kue Tori',Palabutubg,Pisang Ijo dan sop konro. Makassar memiliki wilayah seluas 175,77 km dan penduduk sebesar kurang lebih 1,25 juta jiwa. Sejarah kota makassar Sejak abad ke-16, Makassar merupakan pusat perdagangan yang dominan di Indonesia Timur, dan kemudian menjadi salah satu kota terbesar di Asia Tenggara. Raja-raja Makassar menerapkan kebijakan perdagangan bebas yang ketat, di mana seluruh pengunjung ke Makassar berhak melakukan perniagaan di sana, dan menolak upaya VOC (Belanda) untuk memperoleh hak monopoli di kota tersebut. Selain itu, sikap yang toleran terhadap agama berarti bahwa meskipun Islam semakin menjadi agama yang utama di wilayah tersebut, pemeluk agama Kristen dan kepercayaan lainnya masih tetap dapat berdagang di Makassar. Hal ini menyebabkan Makassar menjadi pusat yang penting bagi orang-orang Melayu yang bekerja dalam perdagangan di kepulauan Maluku, dan juga menjadi markas yang penting bagi pedagangpedagang dari Eropa dan Arab. Kepentingan Makassar menurun seiring semakin kuatnya Belanda di wilayah tersebut, dan semakin mampunya mereka menerapkan monopoli perdagangan rempah-rempah seperi keinginan mereka. Pada tahun 1667, Belanda, bersama dengan pangeran Bugis Arung Palakka, menginvasi dan merebut Makassar, sehingga menghapus statusnya sebagai pusat perdagangan

yang independen. Peristiwa serangan itu menandai berdirinya Kota Makassar. Kota ini akan merayakan ulang tahunnya yang ke-400 pada 9 November 2007. Pemerintahan Kota Makassar dibagi kepada 14 kecamatan dan 143 kelurahan. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah:

Biring Kanaya Bontoala Makassar Mamajang Manggala Mariso Panakkukang Rappocini Tallo Tamalate Tamalanrea Ujung Pandang Ujung Tanah Wajo

Transportasi Transportasi Udara Kota Makassar mempunyai sebuah bandara internasional, Bandara Hasanuddin. Transportasi Darat

Pete-pete

Di kota Makassar terdapat sekitar 6000 bus mini atau juga dikenal dengan sebutan pete-pete yang menjadi komuter utama di kota ini. Jumlah pete-pete di kota ini seringkali dianggap terlalu banyak mengingat kota ini hanya membutuhkan sekitar 3000 pete-pete. Hal ini berarti terdapat 2 pete-pete untuk seorang komuter. Biaya Rp.1500,- untuk orang dewasa dan Rp.1100,- untuk pelajar.

Bus

Pada umumnya bus hanya digunakan untuk transportasi dalam skala besar dan bus tidak bersifat publik di dalam kota. Pada umumnya untuk skala antar kota.Kini Angkutan tersebut dikonfersi menjadi Bus Way. Pemerintah akan membangun Infrasturktur tersebut 2008 mendatang.

Taksi

Taksi adalah komuter paling eksklusif di kota ini.

Becak

Makassar terkenal dengan angkutan tradisional becak. Jumlahnya sendiri mencapai 1.500 unit. Pemerintah setempat memberlakukan becak untuk pariwisata. Khusus beroperasi disekitar kawasan wisata saja. Tarifnya tergantung kesepakatan dengan penggayung. C. Suku Toraja Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 600.000 jiwa. Mereka juga menetap di sebagian dataran Luwu dan Sulawesi Barat. Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu. Orang Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti "Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan", sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah "orang yang berdiam di sebelah barat". Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja. Wilayah Tana Toraja juga digelar Tondok Lili'na Lapongan Bulan Tana Matari'allo arti harfiahnya adalah "Negri yang bulat seperti bulan dan matahari". Wilayah ini dihuni oleh satu etnis (Etnis Toraja). Menurut mitos, leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari nirwana, mitos yang tetap melegenda turun temurun hingga kini secara lisan dikalangan masyarakat Toraja ini menceritakan bahwa nenek moyang masyarakat Toraja yang pertama menggunakan "tangga dari langit" untuk turun dari nirwana, yang kemudian berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa - dalam bahasa Toraja).

Lain lagi versi dari DR. C. CYRUT seorang anthtropolog, dalam penelitiannya menuturkan bahwa masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara penduduk lokal yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dengan pendatang yang notabene adalah imigran dari Teluk Tongkin (daratan Tiongkok). Proses akulturasi antara kedua masyarakat tersebut, berawal dari berlabuhnya Imigran Indochina dengan jumlah yang cukup banyak di sekitar hulu sungai yang diperkirakan lokasinya di daerah Enrekang, kemudian para imigran ini, membangun pemukimannya di daerah tersebut. ALUK Aluk adalah merupakan budaya/aturan hidup yang dibawa oleh kaum imigran dari dataran Indochina pada sekitar 3000 tahun sampai 500 tahun sebelum masehi. Aluk Sanda Saratu Tokoh penting dalam penyebaran aluk ini antara lain: Tomanurun Tamboro Langi' yang merupakan pembawa aluk Sanda Saratu yang mengikat penganutnya dalam daerah terbatas yakni wilayah Tallu Lembangna. Aluk Sanda Pitunna Wilayah barat Tokoh penting dalam penyebaran aluk ini di wilayah barat Tana Toraja yaitu : Pongkapadang bersama Burake Tattiu' yang menyebarkan ke daerah Bonggakaradeng, sebagian Saluputti, Simbuang sampai pada Pitu Ulunna Salu Karua Ba'bana Minanga, dengan memperkenalkan kepada masyarakat setempat suatu pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja "to unnirui' suke pa'pa, to ungkandei kandian saratu yakni pranata sosial yang tidak mengenal strata. Wilayah timur Di wilayah timur Tana Toraja, Pasontik bersama Burake Tambolang menyebarkannya ke daerah Pitung Pananaian, Rantebua, Tangdu, Ranteballa, Ta'bi, Tabang, Maindo sampai ke Luwu Selatan dan Utara dengan memperkenalkan pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja : "To Unnirui' suke dibonga, To unkandei kandean pindan", yaitu pranata sosial yang menyusun tata kehidupan masyarakat dalam tiga strata sosial.

Wilayah tengah Tangdilino bersama Burake Tangngana menyebarkan aluk ke wilayah tengah Tana Toraja dengan membawa pranata sosial "To unniru'i suke dibonga, To ungkandei kandean pindan". Kesatuan adat Seluruh Tondok Lepongan Bulan Tana Matari' Allo ( wilayah Tana Toraja) diikat oleh salah satu aturan yang dikenal dengan nama Tondok Lepongan Bulan Tana Matari' Allo yang secara harafiahnya berarti "Negri yang bulat seperti bulan dan Matahari". Nama ini mempunyai latar belakang yang bermakna, persekutuan negeri sebagai satu kesatuan yang bulat dari berbagai daerah adat. Ini dikarenakan Tana Toraja tidak pernah diperintah oleh seorang penguasa tunggal, tetapi wilayah daerahnya terdiri dari kelompok adat yang diperintah oleh masing-masing pemangku adat dan ada sekitar 32 pemangku adat di Toraja. Karena perserikatan dan kesatuan kelompok adat tersebut, maka diberilah nama perserikatan bundar atau bulat yang terikat dalam satu pandangan hidup dan keyakinan sebagai pengikat seluruh daerah dan kelompok adat tersebut. Upacara adat Di wilayah Kab. Tana Toraja terdapat dua upacara adat yang amat terkenal , yaitu upacara adat Rambu Solo' (upacara untuk pemakaman) dengan acara Sapu Randanan, dan Tombi Saratu', serta Ma'nene', dan upacara adat Rambu Tuka. Upacara-upacara adat tersebut di atas baik Rambu Tuka' maupun Rambu Solo' diikuti oleh seni tari dan seni musik khas Toraja yang bermacam-macam ragamnya. Rambu Solo Adalah sebuah upacara pemakaman secara adat yang mewajibkan keluarga yang almarhum membuat sebuah pesta sebagai tanda penghormatan terakhir pada mendiang yang telah pergi. Tingkatan upacara Rambu Solo Upacara Rambu Solo terbagi dalam beberapa tingkatan yang mengacu pada strata sosial masyarakat Toraja, yakni:

Dipasang Bongi: Upacara pemakaman yang hanya dilaksanakan dalam satu malam saja. Dipatallung Bongi: Upacara pemakaman yang berlangsung selama tiga malam dan dilaksanakan dirumah almarhum serta dilakukan pemotongan hewan. Dipalimang Bongi: Upacara pemakaman yang berlangsung selama lima malam dan dilaksanakan disekitar rumah almarhum serta dilakukan pemotongan hewan. Dipapitung Bongi:Upacara pemakaman yang berlangsung selama tujuh malam yang pada setiap harinya dilakukan pemotongan hewan.

Upacara tertinggi Biasanya upacara tertinggi dilaksanakan dua kali dengan rentang waktu sekurang kurangnya setahun, upacara yang pertama disebut Aluk Pia biasanya dalam pelaksanaannya bertempat disekitar Tongkonan keluarga yang berduka, sedangkan Upacara kedua yakni upacara Rante biasanya dilaksanakan disebuah lapangan khusus karena upacara yang menjadi puncak dari prosesi pemakaman ini biasanya ditemui berbagai ritual adat yang harus dijalani, seperti : Ma'tundan, Ma'balun (membungkus jenazah), Ma'roto (membubuhkan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah), Ma'Parokko Alang (menurunkan jenazah kelumbung untuk disemayamkan), dan yang terkahir Ma'Palao (yakni mengusung jenazah ketempat peristirahatan yang terakhir). Berbagai kegiatan budaya yang menarik dipertontonkan pula dalam upacara ini, antara lain :

Ma'pasilaga tedong (Adu kerbau), kerbau yang diadu adalah kerbau khas Tana Toraja yang memiliki ciri khas yaitu memiliki tanduk bengkok kebawah ataupun [balukku', sokko] yang berkulit belang (tedang bonga), tedong bonga di Toraja sangat bernilai tinggi harganya sampai ratusan juta; Sisemba' (Adu kaki)

Tari tarian yang berkaitan dengan ritus rambu solo' seperti : Pa'Badong, Pa'Dondi, Pa'Randing, Pa'Katia, Pa'papanggan, Passailo dan Pa'pasilaga Tedong; Selanjutnya untuk seni musiknya: Pa'pompang, Pa'dali-dali dan Unnosong.;

Ma'tinggoro tedong (Pemotongan kerbau dengan ciri khas masyarkat Toraja, yaitu dengan menebas kerbau dengan parang dan hanya dengan sekali tebas), biasanya kerbau yang akan disembelih ditambatkan pada sebuah batu yang diberi nama Simbuang Batu. Kerbau Tedong Bonga adalah termasuk kelompok kerbau lumpur (Bubalus bubalis)

merupakan endemik spesies yang hanya terdapat di Tana Toraja. Ke-sulitan pembiakan dan

kecenderungan untuk dipotong sebanyak-banyaknya pada upacara adat membuat plasma nutfah (sumber daya genetika) asli itu terancam kelestariannya. Menjelang usainya Upacara Rambu Solo', keluarga mendiang diwajibkan mengucapkan syukur pada Sang Pencipta yang sekaligus menandakan selesainya upacara pemakaman Rambu Solo'. Upacara adat Rambu Tuka' adalah acara yang berhungan dengan acara syukuran misalnya acara pernikahan, syukuran panen dan peresmian rumah adat/tongkonan yang baru, atau yang selesai direnovasi; menghadirkan semua rumpun keluarga, dari acara ini membuat ikatan kekeluargaan di Tana Toraja sangat kuat semua Upacara tersebut dikenal dengan nama Ma'Bua', Meroek, atau Mangrara Banua Sura'. Untuk upacara adat Rambu Tuka' diikuti oleh seni tari : Pa' Gellu, Pa' Boneballa, Gellu Tungga', Ondo Samalele, Pa'Dao Bulan, Pa'Burake, Memanna, Maluya, Pa'Tirra', Panimbong dan lain-lain. Untuk seni musik yaitu Pa'pompang, pa'Barrung, Pa'pelle'. Musik dan seni tari yang ditampilkan pada upacara Rambu Solo' tidak boleh (tabu) ditampilkan pada upacara Rambu Tuka'. Nilai Tradisi Vs Keagamaan Dalam kepercayaan asli masyarakat Tana Toraja yang disebut Aluk Todolo, kesadaran bahwa manusia hidup di Bumi ini hanya untuk sementara, begitu kuat. Prinsipnya, selama tidak ada orang yang bisa menahan Matahari terbenam di ufuk barat, kematian pun tak mungkin bisa ditunda. Sesuai mitos yang hidup di kalangan pemeluk kepercayaan Aluk Todolo, seseorang yang telah meninggal dunia pada akhirnya akan menuju ke suatu tempat yang disebut puyo; dunia arwah, tempat berkumpulnya semua roh. Letaknya di bagian selatan tempat tinggal manusia. Hanya saja tidak setiap arwah atau roh orang yang meninggal itu dengan sendirinya bisa langsung masuk ke puyo. Untuk sampai ke sana perlu didahului upacara penguburan sesuai status sosial semasa ia hidup. Jika tidak diupacarakan atau upacara yang dilangsungkan tidak sempurna sesuai aluk (baca: ajaran dan tata cara peribadatan), yang bersangkutan tidak dapat mencapai puyo. Jiwanya akan tersesat. Agar jiwa orang yang bepergian itu tidak tersesat, tetapi sampai ke tujuan, upacara yang dilakukan harus sesuai aluk dan mengingat pamali. Ini yang disebut sangka atau darma, yakni mengikuti aturan yang sebenarnya. Kalau ada yang salah atau biasa dikatakan salah aluk

10

(tomma liong-liong), jiwa orang yang bepergian itu akan tersendat menuju siruga (surga)," kata Tato Denna, salah satu tokoh adat setempat, yang dalam stratifikasi penganut kepercayaan Aluk Todolo mendapat sebutan Ne Sando. Selama orang yang meninggal dunia itu belum diupacarakan, ia akan menjadi arwah dalam wujud setengah dewa. Roh yang merupakan penjelmaan dari jiwa manusia yang telah meninggal dunia ini mereka sebut tomebali puang. Sambil menunggu korban persembahan untuknya dari keluarga dan kerabatnya lewat upacara pemakaman, arwah tadi dipercaya tetap akan memperhatikan dari dekat kehidupan keturunannya. Oleh karena itu, upacara kematian menjadi penting dan semua aluk yang berkaitan dengan kematian sedapat mungkin harus dijalankan sesuai ketentuan. Sebelum menetapkan kapan dan di mana jenazah dimakamkan, pihak keluarga harus berkumpul semua, hewan korban pun harus disiapkan sesuai ketentuan. Pelaksanaannya pun harus dilangsungkan sebaik mungkin agar kegiatan tersebut dapat diterima sebagai upacara persembahan bagi tomebali puang mereka agar bisa mencapai puyo alias surga Jika ada bagian-bagian yang dilanggar, katakanlah bila yang meninggal dunia itu dari kaum bangsawan namun diupacarakan tidak sesuai dengan tingkatannya, yang bersangkutan dipercaya tidak akan sampai ke puyo. Rohnya akan tersesat. Sementara bagi yang diupacarakan sesuai aluk dan berhasil mencapai puyo, dikatakan pula bahwa keberadaannya di sana juga sangat ditentukan oleh kualitas upacara pemakamannya. Dengan kata lain, semakin sempurna upacara pemakaman seseorang, maka semakin sempurnalah hidupnya di dunia keabadian yang mereka sebut puyo tadi. To na indanriki lino To na pake sangattu Kunbai lau ri puyo Pa Tondokkan marendeng Kita ini hanyalah pinjaman dunia yang dipakai untuk sesaat. Sebab, di puyo-lah negeri kita yang kekal. Di sana pula akhir dari perjalanan hidup yang sesungguhnya. Bisa dimaklumi bila dalam setiap upacara kematian di Tana Toraja pihak keluarga dan kerabat almarhum berusaha untuk memberikan yang terbaik. Caranya adalah dengan membekali jiwa yang akan bepergian itu dengan pemotongan hewan-biasanya berupa kerbau dan babi-sebanyak mungkin. Para penganut kepercayaan Aluk Todolo percaya bahwa roh

11

binatang yang ikut dikorbankan dalam upacara kematian tersebut akan mengikuti arwah orang yang meninggal dunia tadi menuju ke puyo. Kepercayaan pada Aluk Todolo pada hakikatnya berintikan pada dua hal, yaitu padangan terhadap kosmos dan kesetiaan pada leluhur. Masing-masing memiliki fungsi dan pengaturannya dalam kehidupan bermasyarakat. Jika terjadi kesalahan dalam pelaksanaannya, sebutlah seperti dalam hal "mengurus dan merawat" arwah para leluhur, bencana pun tak dapat dihindari. Berbagai bentuk tradisi yang dilakukan secara turun-temurun oleh para penganut kepercayaan Aluk Todolo-termasuk ritus upacara kematian adat Tana Toraja yang sangat dikenal luas itu-kini pun masih bisa disaksikan. Meski terjadi perubahan di sana-sini, kebiasaan itu kini tak hanya dijalankan oleh para pemeluk Aluk Todolo, masyarakat Tana Toraja yang sudah beragama Kristen dan Katolik pun umumnya masih melaksanakannya. Bahkan, dalam tradisi penyimpanan mayat dan upacara kematian, terjadi semacam "penambahan" dari yang semula lebih sederhana menjadi kompleks dan terkadang berlebihan. Sebagai contoh, ajaran Aluk Todolo menghendaki agar orang yang meninggal dunia harus segera diupacarakan dan secepatnya dikuburkan. Maksud dari ajaran ini, seperti dikutip oleh M Ghozali Badrie dalam penelitiannya tentang "Penyimpanan Mayat di Tana Toraja", supaya keluarga yang ditinggalkan dapat melaksanakan upacara-upacara lain yang bersifat kegembiraan. Sebab, adalah pamali atau melanggar ketentuan aluk bila upacara kegembiraan (rambu tuka) dilaksanakan bila ada orang mati (to mate). Untuk mengatasi hal yang berlawanan ini, masyarakat Tana Toraja lalu mengatakan, mayat tersebut belum mati, tetapi dianggap sebagai orang yang masih sakit (to makula). Dengan begitu, mereka yang ingin melaksanakan upacara rambu tuka tidak terhalang hanya karena ada mayat di kampung tersebut. Pemakaman Peti mati yang digunakan dalam pemakaman dipahat menyerupai hewan (Erong). Adat masyarakat Toraja adalah menyimpan jenazah pada tebing/liang gua, atau dibuatkan sebuah rumah (Pa'tane). Beberapa kawasan pemakaman yang saat ini telah menjadi obyek wisata, seperti di :

Londa, yang merupakan suatu pemakaman purbakala yang berada dalam sebuah gua, dapat dijumpai puluhan erong yang berderet dalam bebatuan yang telah dilubangi, tengkorak berserak di sisi batu menandakan petinya telah rusak akibat di makan usia.

12

Londa terletak di desa Sandan Uai Kecamatan Sanggalai' dengan jarak 7 km dari kota Rantepao, arah ke Selatan, Gua-gua alam ini penuh dengan panorama yang menakjubkan 1000 meter jauh ke dalam, dapat dinikmati dengan petunjuk guide yang telah terlatih dan profesional.

Lemo adalah salah satu kuburan leluhur Toraja, yang merupakan kuburan alam yang dipahat pada abad XVI atau setempat disebut dengan Liang Paa'. Jumlah liang batu kuno ada 75 buah dan tau-tau yang tegak berdiri sejumlah 40 buah sebagai lambang-lambang prestise, status, peran dan kedudukan para bangsawan di Desa Lemo. Diberi nama Lemo oleh karena model liang batu ini ada yang menyerupai jeruk bundar dan berbintikbintik.

Tampang Allo yang merupakan sebuah kuburan goa alam yang terletak di Kelurahan Sangalla' dan berisikan puluhan Erong, puluhan Tau-tau dan ratusan tengkorak serta tulang belulang manusia. Pada sekitar abad XVI oleh penguasa Sangalla' dalam hal ini Sang Puang Manturino bersama istrinya Rangga Bualaan memilih goa Tampang Allo sebagai tempat pemakamannya kelak jika mereka meninggal dunia, sebagai perwujudan dari janji dan sumpah suami istri yakni "sehidup semati satu kubur kita berdua". Goa Tampang Alllo berjarak 19 km dari Rantepao dan 12 km dari Makale.

Liang Tondon lokasi tempat pemakaman para Ningrat atau para bangsawan di wilayah Balusu disemayamkan yang terdiri dari 12 liang. To'Doyan adalah pohon besar yang digunakan sebagai makam bayi (anak yang belum tumbuh giginya). Pohon ini secara alamiah memberi akar-akar tunggang yang secara teratur tumbuh membentuk rongga-rongga. Rongga inilah yang digunakan sebagai tempat menyimpan mayat bayi.

Patane Pong Massangka (kuburan dari kayu berbentuk rumah Toraja) yang dibangun pada tahun 1930 untuk seorang janda bernama Palindatu yang meninggal dunia pada tahun 1920 dan diupacarakan secara adat Toraja tertinggi yang disebut Rapasan Sapu Randanan. Pong Massangka diberi gelar Ne'Babu' disemayamkan dalam Patane ini. tautaunya yang terbuat dari batu yang dipahat . Jaraknya 9 km dari Rantepao arah utara.

Ta'pan Langkan yang berarti istana burung elang. Dalam abad XVII Ta'pan Langkan digunakan sebagai makam oleh 5 rumpun suku Toraja antara lain Pasang dan Belolangi'. Makam purbakala ini terletak di desa Rinding Batu dan memiliki sekian banyak tau-tau sebagai lambang prestise dan kejayaan masa lalu para bangsawan Toraja di Desa Rinding Batut. Dalam adat masyarakat Toraja, setiap rumpun mempunyai dua jenis tongkonan tang merambu untuk manusia yang telah meninggal. Ta'pan Langkan termasuk kategori tongkonan tang merambu yang jaraknya 1,5 km dari poros jalan Makale-Rantepao dan juga dilengkapi dengan panorama alam yang mempesona.

13

Sipore' yang artinya "bertemu" adalah salah satu tempat pekuburan yang merupakan situs purbakala, dimana masyarakat membuat liang kubur dengan cara digantung pada tebing atau batu cadas. Lokasinya 2 km dari poros jalan Makale-Rantepao.

Tempat upacara pemakaman adat Rante Rante yaitu tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan 100 buah menhir/megalit yang dalam Bahasa toraja disebut Simbuang Batu. 102 bilah batu menhir yang berdiri dengan megah terdiri dari 24 buah ukuran besar, 24 buah ukuran sedang dan 54 buah ukuran kecil. Ukuran menhir ini mempunyai nilai adat yang sama, perbedaan tersebut hanyalah faktor perbedaan situasi dan kondisi pada saat pembuatan/pengambilan batu. Megalit/Simbuang Batu hanya diadakan bila pemuka masyarakat yang meninggal dunia dan upacaranya diadakan dalam tingkat Rapasan Sapurandanan (kerbau yang dipotong sekurang-kurangnya 24 ekor). Tau-tau Tau-tau adalah patung yang menggambarkan almarhum. Pada pemakaman golongan bangsawan atau penguasa/pemimpin masyarakat salah satu unsur Rapasan (pelengkap upacara acara adat), ialah pembuatann Tau-tau. Tau-tau dibuat dari kayu nangka yang kuat dan pada saat penebangannya dilakukan secara adat. Mata dari Tau-tau terbuat dari tulang dan tanduk kerbau. Pada jaman dahulu kala, Tau-tau dipahat tidak persis menggambarkan roman muka almarhum namun akhir-akhir ini keahlian pengrajin pahat semakin berkembang hingga mampu membuat persis roman muka almarhum

D.

Suku makasar Suku Makassar adalah nama Melayu untuk sebuah etnis yang mendiami pesisir selatan

pulau Sulawesi. Lidah Makassar menyebutnya Mangkassara' berarti Mereka yang Bersifat Terbuka. Etnis Makassar ini adalah etnis yang berjiwa penakluk namun demokratis dalam memerintah, gemar berperang dan jaya di laut. Tak heran pada abad ke-14-17, dengan simbol Kerajaan Gowa, mereka berhasil membentuk satu wilayah kerajaan yang luas dengan kekuatan armada laut yang besar berhasil membentuk suatu Imperium bernafaskan Islam, mulai dari

14

keseluruhan pulau Sulawesi, kalimantan bagian Timur, NTT, NTB, Maluku, Brunei, Papua dan Australia bagian utara. Mereka menjalin Traktat dengan Bali, kerjasama dengan Malaka dan Banten dan seluruh kerajaan lainnya dalam lingkup Nusantara maupun Internasional (khususnya Portugis). Kerajaan ini juga menghadapi perang yang dahsyat dengan Belanda hingga kejatuhannya akibat adudomba Belanda terhadap Kerajaan taklukannya. Berbicara tentang Makassar maka adalah identik pula dengan suku Bugis yang serumpun. Istilah Bugis dan Makassar adalah istilah yang diciptakan oleh Belanda untuk memecah belah kedua etnis ini. Hingga pada akhirnya kejatuhan Kerajaan Makassar pada Belanda, segala potensi dimatikan, mengingat Suku ini terkenal sangat keras menentang Belanda. Dimanapun mereka bertemu Belanda, pasti diperanginya. Beberapa tokoh sentral Gowa yang menolak menyerah seperti Karaeng Galesong, hijrah ke Tanah Jawa memerangi Belanda disana. Bersama armada lautnya yang perkasa, memerangi setiap kapal Belanda yang mereka temui. Sejarah Makassar masih sangat panjang. Generasi demi generasi yang terampas harga diri dan kepercayaan dirinya sedang bangkit bertahap demi bertahap sambil berusaha menyambung kebesaran nama Makassar, "Le'ba Kusoronna Biseangku, Kucampa'na Sombalakku. Tamammelokka Punna Teai Labuang F. Suku bugis Suku Bugis adalah suku terbesar ketiga di Indonesia setelah suku Jawa dan Sunda. Berasal dari Sulawesi Selatan dan menyebar pula di propinsi-propinsi Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, Irian Jaya Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Riau dan Riau Kepulauan, dan bahkan sampai ke Malaysia dan Brunei Darussalam. Sejarah Suku Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku suku Deutero-Melayu, atau Melayu muda. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata 'Bugis' berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Tiongkok (bukan negara Tiongkok, tapi yang terdapat di jazirah Sulawesi Selatan tepatnya Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo saat ini) yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang/pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan

15

beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar didunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk Banggai, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.. Perkembangan Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan lain. Masyarakat Bugis ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik dan besar antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa dan sawitto (Kabupaten Pinrang), Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk etnik Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Sinjai, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang.

16

BAB II MATA PENCAHARIAN Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan. Hubungan Aspek Sejarah dengan Perantauan Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad 16, 17, 18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama di daerah pesisir. Komunitas Bugis hampir selalu dapat ditemui didaerah pesisir di nusantara bahkan sampai ke Malaysia, Filipina, Brunei dan Thailand. Budaya perantau yang dimiliki orang Bugis didorong oleh keinginan akan kemerdekaan. Kebahagiaan dalam tradisi Bugis hanya dapat diraih melalui kemerdekaan.(Rahmat Munawar) Kepiawaian suku Bugis-Makasar dalam mengarungi samudra cukup dikenal luas, dan wilayah perantauan mereka pun hingga Australia, Madagaskar dan Afrika Selatan. Bahkan, di pinggiran kota Cape Town, Afrika Selatan terdapat sebuah suburb atau setingkat Kecamatan, yang bernama Maccassar, sebagai tanda tangan penduduk setempat mengingat tanah asal nenek moyang mereka Adat dan kebudayaan bugis Suku Bugis atau to Ugi adalah salah satu suku di antara sekian banyak suku di Indonesia. Mereka bermukim di Pulau Sulawesi bagian selatan. Namun dalam perkembangannya, saat ini komunitas Bugis telah menyebar luas ke seluruh Nusantara. Penyebaran Suku Bugis di seluruh Tanah Air disebabkan mata pencaharian orangorang bugis umumnya adalah nelayan dan pedagang. Sebagian dari mereka yang lebih suka merantau adalah berdagang dan berusaha (massompe) di negeri orang lain. Hal lain juga disebabkan adanya faktor historis orang-orang Bugis itu sendiri di masa lalu. Orang Bugis zaman dulu menganggap nenek moyang mereka adalah pribumi yang telah didatangi titisan langsung dari dunia atas yang turun (manurung) atau dari dunia bawah yang naik (tompo) untuk membawa norma dan aturan sosial ke bumi (Pelras, The Bugis, 2006).

17

Umumnya orang-orang Bugis sangat meyakini akan hal to manurung, tidak terjadi banyak perbedaan pendapat tentang sejarah ini. Sehingga setiap orang yang merupakan etnis Bugis, tentu mengetahui asal-usul keberadaan komunitasnya. Kata Bugis berasal dari kata to ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina (bukan negara Cina, tapi yang terdapat di jazirah Sulawesi Selatan tepatnya Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo saat ini) yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang/pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak, termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar. Sawerigading Opunna Ware (Yang Dipertuan Di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk Banggai, Kaili, Gorontalo, dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton (Sumber : id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bugis). Peradaban awal orangorang Bugis banyak dipengaruhi juga oleh kehidupan tokohtokohnya yang hidup di masa itu, dan diceritakan dalam karya sastra terbesar di dunia yang termuat di dalam La Galigo atau sure galigo dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio dan juga tulisan yang berkaitan dengan silsilah keluarga bangsawan, daerah kerajaan, catatan harian, dan catatan lain baik yang berhubungan adat (ade) dan kebudayaankebudayaan di masa itu yang tertuang dalam Lontara. Tokohtokoh yang diceritakan dalam La Galigo, di antaranya ialah Sawerigading, We Opu Sengngeng (Ibu Sawerigading), We Tenriabeng (Ibu We Cudai), We Cudai (Istri Sawerigading), dan La Galigo(Anak Sawerigading dan We Cudai). Tokohtokoh inilah yang diceritakan dalam Sure Galigo sebagai pembentukan awal peradaban Bugis pada umumnya. Sedangkan di dalam Lontara itu berisi silsilah keluarga bangsawan dan keturunanketurunannya, serta nasihatnasihat bijak sebagai penuntun orangorang bugis dalam mengarungi kehidupan ini. Isinya lebih cenderung pada pesan yang mengatur norma sosial, bagaimana berhubungan dengan sesama baik yang berlaku pada masyarakat setempat maupun bila orang Bugis pergi merantau di negeri orang. Konsep Ade (Adat) dan Spiritualitas (Agama) Konsep ade (adat) merupakan tema sentral dalam teksteks hukum dan sejarah orang Bugis. Namun, istilah ade itu hanyalah pengganti istilahistilah lama yang terdapat di dalam teks-teks zaman pra-Islam, kontrak-kontrak sosial, serta perjanjian yang berasal dari zaman itu.

18

Masyarakat tradisional Bugis mengacu kepada konsep pangadereng atau adat istiadat, berupa serangkaian norma yang terkait satu sama lain. Selain konsep ade secara umum yang terdapat di dalam konsep pangadereng, terdapat pula bicara (norma hukum), rapang (norma keteladanan dalam kehidupan bermasyarakat), wari (norma yang mengatur stratifikasi masyarakat), dan sara (syariat Islam) (Mattulada, Kebudayaan Bugis Makassar : 275-7; La Toa). Tokoh-tokoh yang dikenal oleh masyarakat Bugis seperti Sawerigading, We Cudai, La Galigo, We Tenriabeng, We Opu Sengngeng, dan lain-lain merupakan tokohtokoh yang hidup di zaman pra-Islam. Tokohtokoh tersebut diyakini memiliki hubungan yang sangat erat dengan dewadewa di kahyangan. Bahkan diceritakan dalam La Galigo bahwa saudara kembar dari Sawerigading yaitu We Tenriabeng menjadi penguasa di kahyangan. Sehingga konsep ade (adat) serta kontrak-kontrak sosial, serta spiritualitas yang terjadi di kala itu mengacu kepada kehidupan dewa-dewa yang diyakini. Adanya upacara-upacara penyajian kepada leluhur, sesaji pada penguasa laut, sesaji pada pohon yang dianggap keramat, dan kepada roh-roh setempat menunjukkan bahwa apa yang diyakini oleh masyarakat tradisional Bugis di masa itu memang masih menganut kepercayaan pendahulu-pendahulu mereka. Namun, setelah diterimanya Islam dalam masyarakat Bugis, banyak terjadi perubahan perubahan terutama pada tingkat ade (adat) dan spiritualitas. Upacaraupacara penyajian, kepercayaan akan roh-roh, pohon yang dikeramatkan hampir sebagian besar tidak lagi melaksanakannya karena bertentangan dengan pengamalan hukum Islam. Pengaruh Islam ini sangat kuat dalam budaya masyarakat bugis, bahkan turun-temurun orangorang bugis hingga saat ini semua menganut agama Islam. Pengamalan ajaran Islam oleh mayoritas masyarakat Bugis menganut pada paham mazhab Syafii, serta adat istiadat yang berlaku dan tidak bertentangan dengan syariat Islam itu sendiri. Budaya dan adat istiadat yang banyak dipengaruhi oleh budaya Islam tampak pada acara-acara pernikahan, ritual bayi yang baru lahir (aqiqah), pembacaan surat yasin dan tahlil kepada orang yang meninggal, serta menunaikan kewajiban haji bagi mereka yang berkemampuan untuk melaksanakannya. Faktor-faktor yang menyebabkan masuknya Islam pada masyarakat Bugis kala itu juga melalui jalur perdagangan dan pertarungan kekuasaan kerajaan-kerajaan besar kala itu. Setelah kalangan bangsawan Bugis banyak yang memeluk agama Islam, maka seiring dengan waktu akhirnya agama Islam bisa diterima seluruh masyarakat Bugis. Penerapan syariat Islam ini juga dilakukan oleh raja-raja Bone, di antaranya napatau matanna tikka Sultan Alimuddin Idris Matindroe Ri Naga Ulng, La Madaremmeng, dan Andi Mappanyukki.

19

Konsepkonsep ajaran Islam ini banyak ditemukan persamaannya dalam tulisan-tulisan Lontara. Konsep norma dan aturan yang mengatur hubungan sesama manusia, kasih sayang, dan saling menghargai, serta saling mengingatkan juga terdapat dalam Lontara. Hal ini juga memiliki kesamaan dalam prinsip hubungan sesama manusia pada ajaran agama Islam. Budayabudaya Bugis sesungguhnya yang diterapkan dalam kehidupan seharihari mengajarkan halhal yang berhubungan dengan akhlak sesama, seperti mengucapkan tabe (permisi) sambil berbungkuk setengah badan bila lewat di depan sekumpulan orang-orang tua yang sedang bercerita, mengucapkan iy (dalam bahasa Jawa nggih), jika menjawab pertanyaan sebelum mengutarakan alasan, ramah, dan menghargai orang yang lebih tua serta menyayangi yang muda. Inilah di antaranya ajaranajaran suku Bugis sesungguhnya yang termuat dalam Lontara yang harus direalisasikan dalam kehidupan seharihari oleh masyarakat Bugis. Manusia Bugis Sejarah orangorang Bugis memang sangat panjang, di dalam teksteks sejarah seperti karya sastra La Galigo dan Lontara diceritakan baik awal mula peradaban orangorang Bugis, masa kerajaankerajaan, budaya dan spritualitas, adat istiadat, serta silsilah keluarga bangsawan. Hal ini menunjukkan bahwa budaya dan adat istiadat ini harus selalu dipertahankan sebagai bentuk warisan dari nenek moyang orangorang Bugis yang tentunya sarat nilai-nilai positif. Namun saat ini ditemukan juga banyak pergeseran nilai yang terjadi baik dalam memahami maupun melaksanakan konsep dan prinsip-prinsip ade (adat) dan budaya masyarakat Bugis yang sesungguhnya. Budaya siri yang seharusnya dipegang teguh dan ditegakkan dalam nilainilai positif, kini sudah pudar. Dalam kehidupan manusia Bugis Makassar, siri merupakan unsur yang prinsipil dalam diri mereka. Tidak ada satu nilai pun yang paling berharga untuk dibela dan dipertahankan di muka bumi selain siri. Bagi Manusia Bugis-Makassar, siri adalah jiwa mereka, harga diri mereka, dan martabat mereka. Sebab itu, untuk menegakkan dan membela siri yang dianggap tercemar atau dicemarkan oleh orang lain, maka manusia Bugis-Makassar bersedia mengorbankan apa saja, termasuk jiwanya yang paling berharga demi tegaknya siri dalam kehidupan mereka.(Hamid Abdullah, Manusia Bugis-Makassar .37). Di zaman ini, siri tidak lagi diartikan sebagai sesuatu yang berharga dan harus dipertahankan. Pada prakteknya siri dijadikan suatu legitimasi dalam melakukan tindakan tindakan yang anarkis, kekerasan, dan tidak bertanggung jawab. Padahal nilai siri adalah nilai sakral masyarakat bugis, budaya siri harus dipertahankan pada koridor ade (adat) dan ajaran agama Islam dalam mengamalkannya.

20

Karena itulah merupakan interpretasi manusia Bugis yang sesungguhnya. Sehingga jika dilihat secara utuh, sesungguhnya seorang manusia bugis ialah manusia yang sarat akan prinsip dan nilainilai ade (adat) dan ajaran agama Islam di dalam menjalankan kehidupannya, serta sifat pangadereng (adat istiadat) melekat pada pribadi mereka. Mereka yang mampu memegang teguh prinsipprinsip tersebut adalah cerminan dari seorang manusia Bugis yang turun dari dunia atas (to manurung) untuk memberikan keteladan dalam membawa norma dan aturan sosial di bumi. Bissu budaya Bugis mengenal empat jenis gender dan satu para-gender; laki-laki (oroane), perempuan ( makunrai), perempuan yang berpenampilan seperti layaknya laki-laki ( calalai), laki-laki yang berpenampilan seperti layaknya perempuan (calabai) dan para-gender bissu (Lihat juga Manusia Bugis, C Pelras, hal 191). Jenis yang terakhir ini lebih banyak disalah artikan dan dianggap identik dengan jenis calabai, walau secara peran dan kedudukannya dalam budaya Bugis tidak demikian. Juga, tidak sedikit yang mempertautkan keunikan para-gender Bissu ini dengan kepercayaan lokal yang disebut Tolotang, hal yang mana dibantah secara nyata oleh komunitas Amparita Sidrap yang menjadi representasi penganut Tolotang dalam suku Bugis. Kehadiran dan Peranannya Gambaran pergeseran struktur nilai dalam kebudayaan Bugis selayaknya bisa kita sematkan pada salah satu realitas budaya bugis yang mulai terpinggirkan; Bissu. Peran Bissu di awal pembentukan masyarakat Bugis sangatlah kuat. Keberadaan Bissu dalam sejarah manusia Bugis dianggap sezaman dengan kelahiran suku Bugis itu sendiri. Ketika Batara Guru sebagai cikal bakal manusia Bugis dalam sureLa Galigo, turun ke bumi dari dunia atas ( botinglangik) dan bertemu dengan permaisurinya We Nyili Timo yang berasal dari dunia bawah (borikliung), bersamaan dengan itu turun pula seorang Bissu pertama bernama Lae-lae sebagai penyempurna kehadiran leluhur orang Bugis tersebut. Menurut tutur lisan Hajji Baco, seorang Bissu , Batara Guru yang ditugasi oleh Dewata mengatur bumi rupanya tidak punya kemampuan management yang handal, karenanya diperlukan bissu dari botinglangik untuk mengatur segala sesuatu mengenai kehidupan. Ketika Bissu ini turun ke bumi, maka terciptalah pranata-pranata masyarakat Bugis melalui daya kreasi mereka, menciptakan bahasa, budaya, adat istiadat dan semua hal yang diperlukan untuk menjalankan kehidupan di bumi. Melalui perantara bissu inilah, para manusia biasa dapat berkomunikasi dengan para dewata yang bersemayam di langit. Bissu adalah pendeta agama Bugis kuno pra-Islam. Bissu dianggap menampung dua elemen gender manusia, lelaki dan perempuan ( hermaphroditic

21

beings who embody female and male elements), juga mampu mengalami dua alam; alam makhluk dan alam roh (Spirit). Ketua para bissu adalah seorang yang bergelar Puang Matowa atau Puang Towa. Secara biologis, sekarang, bissu kebanyakan diperankan oleh laki-laki yang memiliki sifatsifat perempuan (wadam) walau ada juga yang asli perempuan, yang biasanya dari kalangan bangsawan tinggi, walau tidak mudah membedakan mana bissu yang laki-laki dan mana bissu yang perempuan. Dalam kesehariannya, bissu berpenampilan layaknya perempuan dengan pakaian dan tata rias feminim, namun juga tetap membawa atribut maskulin, dengan membawa badik misalnya. Dalam pengertian bahasa, bissu berasal dari kata bugis; bessi, yang bermakna bersih. Mereka disebut Bissu karena tidak berdarah, suci (tidak kotor), dan tidak haid. Ada juga yang menyatakan bahwa kata Bissu berasal dari kata Bhiksu atau Pendeta Buddha, sebagaimana diungkapkan oleh C Pelras dalam Manusia Bugis, hal 68, sebagai salah satu bentuk pengaruh bahasa Sansekerta dalam bahasa Bugis. Tentang agama Buddha sendiri, beberapa sanak-saudara saya yang tinggal di Sengkang mengaku masih menganut agama Buddha ini, yang dikatakan sebagai agama mula-mula orang Bugis. Mereka masih melakukan ritual keagamaan tersendiri, walau saya belum melakukan perbandingan dengan ritual agama Buddha yang dilakukan oleh umumnya masyarakat Buddha di Indonesia. Juga ada bukti sejarah yang memperkuat fenomena ini, misalnya penemuan Arca Buddha bercorak Amarawati di Sempaga di pantai Sulawesi Selatan yang berasal dari abad II Masehi. Ditengarai bahwa para pendeta Buddha, Biksu ini menumpang kapal-kapal dagang India menuju perairan Nusantara. Dalam struktur budaya bugis, peran Bissu tergolong istimewa karena dalam kehidupan sehari-hari dianggap sebagai satu-satunya operator komunikasi antara manusia dan dewa melalui upacara ritual tradisionalnya dengan menggunakan bahasa dewa/langit ( basa Torilangi), karenanya Bissu juga berperan sebagai penjaga tradisi tutur lisan sastra Bugis Kuno sure La Galigo. Apabila sure ini hendak dibacakan, maka sebelum dikeluarkan dari tempat penyimpanannya, orang menabuh gendang dengan irama tertentu dan membakar kemenyan. Setelah tabuhan gendang berhenti, tampillah Bissu mengucapkan pujaan dan meminta ampunan kepada dewa-dewa yang namanya akan disebut dalam pembacaan sure itu. Bissu juga berperan mengatur semua pelaksanaan upacara tradisional, seperti upacara kehamilan, kelahiran, perkawinan ( indo botting), kematian, pelepasan nazar, persembahan, tolak bala, dan lain-lain. Dari surek La Galigo sendiri sebagai referensi utama sejarah purba suku Bugis, membuktikan bahwa justru kehadiran Bissu dianggap sebagai pengiring lestarinya tradisi keilahian/religiusitas nenek moyang. Di masa lalu berdasarkan sastra klasik Bugis epos La Galigo, sejak zaman Sawerigading, peran Bissu sangat sentral, bahkan dikatakan sebagai mahluk suci yang memberi stimulus perahu cinta bagi Sawerigading dalam upayanya mencari pasangan jiwanya; We Cudai. Di tengah kegundahan Sawerigading yang walau sakti mandraguna

22

tapi tak mampu menebang satu pohon pun untuk membuat kapal raksasa Wellerrengge, Bissu We Sawwammegga tampil dengan kekuatan sucinya yang diperoleh karena ambivalensinya; lelaki sekaligus perempuan, manusia sekaligus Dewa (Sharyn Graham, 2002). Kisah kesaktian Bissu ini dapat juga kita temukan dalam kisah Arung Palakka ketika pada tahun 1667 melakukan penyerbuan bersama tentara Soppeng terhadap Lamatti, sebuah distrik di Bone Selatan, sebanyak seratus Bissu Lamatti tampil dengan senjata walida (pemukul tenun) sambil mendendangkan memmang (nyanyian). Anehnya, tak satupun senjata prajurit Bone dan Soppeng yang mampu melukai para bissu sakti tersebut (LY Andaya, 2006, hal 106). Dalam ritual yang masih bisa ditemui sampai sekarang, tradisi maggiri merupakan salah satu pameran kesaktian Bissu. Tradisi menusuk diri dengan badik ini dimaksudkan untuk menguji apakah roh leluhur/dewata yang sakti sudah merasuk ke dalam diri bissu dalam sebuah upacara, sehingga apabila sang Bissu kebal dari tusukan badik itu, ia dan roh yang merasukinya dipercaya dapat memberikan berkat kepada yang meminta nya. Namun, apabila badik tersebut menembus dan melukai sang Bissu, maka yang merasukinya adalah roh lemah atau bahkan tidak ada roh leluhur sama sekali yang menghinggapi (Sharyn Graham). Menjadi Bissu Menjadi Bissu dipercaya merupakan anugerah dari dewata. Tidak semua orang, bahkan jenis calabai, bisa menjadi bissu atas kehendak sendiri. Walaupun sebahagian besar Bissu pada mulanya memiliki kecenderungan sebagai calabai. Metamorfosis menjadi seorang Bissu biasanya dimulai sejak kanak-kanak, ketika seorang anak mengidap ambiguitas orientasi seksual dan di saat yang sama menampakkan keterkaitan dengan dunia gaib. Anak-anak dengan keunikan ganda ini kemudian akan dipersiapkan menjadi bissu. Untuk menjadi bissu diperlukan banyak persyaratan untuk membuktikan bahwa dia menerima berkat itu diantaranya berbaring dalam sebuah rakit bambu di tengah danau selama tiga hari tiga malam tanpa makan, minum dan bergerak. Jika berhasil, maka dia kemudian akan ditahbiskan menjadi Bissu sejati (Sharyn Graham). Konflik dengan Islam? Namun di saat yang bersamaan, karena proses konstruksi politik dan agama, Bissu dianggap sebagai satu celah yang tercela dalam masyarakat Bugis modern yang Islami karena dianggap menentang sunnatullah yang hanya mengenal jenis gender laki-laki dan perempuan, selain peran sinkretisme yang dibawanya. Bahkan salah satu doktrin yang memojokkan status mereka adalah adanya pemeo bahwa bila menyentuh Bissu atau calabai maka konon akan

23

membawa sial selama 40 hari 40 malam. Ironis! Menjadi bissu tidak lagi dianggap dapat menaikkan derajat sosial sebagaimana yang berlaku di masa lampau, malah mendatangkan petaka keterasingan dalam masyarakat (agamis) Bugis modern. Dalam beberapa diskursus, eksistensi Bissu cenderung fenomenal mengingat keberadaannya yang kontroversial dalam masyarakat Bugis modern yang Islami. Karena keberadaannya yang ambivalen, bissu dianggap tidak menerima sunnatullah, karena secara fisik mereka adalah laki-laki tapi berpenampilan seperti perempuan ( tranvestities). Bissu juga dianggap menyimpang dari agama karena kecenderungannya menganggap arajang dan mustika arajang memiliki kekuatan gaib dari leluhur (dinamisme). Padahal, menurut para bissu itu, mereka justru melakukan pemujaan terhadap Tuhan walau dengan tata cara ritual yang mereka yakini. Dan juga, mereka tidak menolak sunnatullah, melainkan menerima dan menjalankan sunnatullah. Di tahun 1950-an saat pecah pemberontakan DI/TII Kahar Muzakar, Bissu merupakan salah satu pihak yang paling menderita. Kahar Muzakkar menganggap kegiatan para Bissu ini adalah menyembah berhala, tidak sesuai dengan ajaran Islam dan membangkitkan feodalisme. Karena itu kegiatan, alat-alat upacara, serta para pelakunya diberantas. Ratusan perlengkapan upacara dibakar atau di tenggelamkan ke laut. Banyak sanro (dukun) dan Bissu di bunuh atau dipaksa menjadi pria yang harus bekerja keras. Penderitaan para Sanro dan Bissu masih berlanjut ketika Orde Lama (Orla) ditumbangkan oleh rejim Orde Baru (Orba) pada tahun 1965. Keributan yang menyoroti arajang dan pelaksanaan upacara mappalili terjadi di Segeri. Arajang hampir diganyang oleh salah satu ormas pemuda yang berkuasa ketika itu. Para Bissu dan mereka yang percaya akan kesaktian arajang menjadi tertuduh penganut komunis atau anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Mereka dianggap tidak beragama, melakukan perbuatan siriq, dianggap menganut ajaran anisme. Barang siapa masih menganggap arajang sebagai benda kramat berarti menduakan Tuhan. Di antara mereka yang tertangkap harus memilih antara mati di bunuh atau memilih masuk agama Islam serta menjadi manusia normal (pria). Muncul doktrin dalam masyarakat, bahwa bila melihat Bissu atau Wandu maka konon mereka yang melihatnya akan sial tidak mendapatkan rejeki selama 40 hari 40 malam. Demikian pula seluruh amal baik yang diperbuatnya selama 40 hari tersebut tidak diterima pahalanya oleh Tuhan YME. Karena itu, jika melihat Bissu atau Wandu maka dia harus diusir jauh-jauh. Banyak di antara sanro dan Bissu yang sebelumnya sangat dihormati oleh masyarakat, kini menjadi sasaran lemparan dan olokolokan bocah di jalanan.

24

Gerakan pemurnian ajaran Islam tersebut mereka sebut Operasi Toba (Operasi Taubat) yang gencar-gencarnya terjadi pada tahun 1966. Sejak itu, upacara Mappalili mengalami kemunduran, upacara-upacara Bissu tidak lagi diselenggarakan secara besar-besaran. Para Bissu bersembunyi dari ancaman maut yang memburunya. Masyarakat tidak lagi peduli akan nasib mereka, karena sebagian dari mereka memang mendukung gerakan Operasi Toba tersebut. Sebagian masyarakat yang bersimpati kepada para Bissu, hanya tinggal diam tanpa bisa berbuat apa-apa. Namun ketika masyarakat menuai padinya, ternyata hasilnya memang kurang memuaskan sehingga beberapa masyarakat beranggapan hal tersebut terjadi karena tidak melakukan upacara Mappalili . Dengan kesadaran itulah beberapa di antara mereka menyembunyikan Bissu yang tersisa agar tidak di bunuh dan agar upacara mappalili dapat dilaksanakan lagi. Bissu-bissu yang selamat itulah yang masih ada sekarang ini. Kini jumlah mereka yang tersisa di seluruh wilayah adat Sulawesi Selatan tidak lebih dari empatpuluh orang saja. Padahal untuk melakukan sebuah upacara Mappalili yang besar, jumlah Bissu minimal harus berjumlah empatpuluh orang (Bissu PattappuloE) dalam sebuah wilayah adat. Sekarang Puang Matoa sudah memakai kopiah dan kerudung. Di antaranya sudah ada yang telah menunaikan ibadah haji ke Mekkah, bahkan dalam lagu bissu -nya yang didapati di dalam naskah tua, sudah ada yang mencantumkan nama Allah, malaikat, dan nabi. Pada umumnya bissu asli di Sulawesi Selatan yang jumlahnya saat ini diduga tinggal empat puluh-an itu secara statistik kependudukan menganut agama Islam Arti simbol ayam jantan dan betina Dalam budaya Bugis dan Makassar, penekanan makna simbol ayam jantan bukan terutama pada makna kejagoan. Dalam lontarak abbolang (naskah tua mengenai tatacara pembuatan rumah) disebutkan: ayam jantan itulah (makhluk) yang paling sadar waktu, asal waktu tiba, ayam jantanpun berkokok memberikan tanda peringatan(Iyanatu manuk lai pong talingek ri wettu assaleng narapikni wettu monini mappar ngerang). Pemaknaan seperti itulah yang diberikan pada simbol ayam jantan yang dijadikan ragam hias pada bubungan rumah tradisional Bugis Makassar. Pemaknaan yang sama diberikan dalam ritus pelepasan ayam jantan ketika seorang panrita bola (ahli membuat rumah) memulai penebangan pohon pertama untuk tiang pusat rumah, alliri posik-bola. Dengan merujuk pada lontarak itu dapatlah disebutkan, penekanan makna simbol ayam jantan dalam budaya Bugis Makassar adalah pada makna kesadaran waktu, di samping makna sampingan yaitu sikap berani menghadapi tantangan. Bagaimana dengan symbol ayam betina? Dalam budaya Bugis Makassar, perbedaan sesuatu tidaklah harus dilihat sebagai suatu yang berlawanan atau bertentangan. Perbedaan siang dan malam, misalnya, demikian pula perbedaan berbagai hal lainnya, cenderung

25

dipandang

sebagai

pasangan

yang

saling

melengkapi.

Simbol ayam betina, secara kultural tidaklah dipertentangkan dengan simbol ayam jantan. Makna simbol ayam betina diperoleh dengan melihat sifat ayam betina, dan berhubungan dengan ungkapan massalipuri dodona (menyelimuti anaknya). Simbol ayam betina bermakna memiliki sifat melindungi anak-anaknya dari setiap ancaman. di samping sifat alami ayam betina yang setiap berkotek berarti akan bertelur. Di sini pun tampak adanya makna keberanian, namun secara kultural penekanan makna simbol ayam betina ialah pada penyelimutan atau perlindungannya kepada anak-anaknya dan produktivitasnya. Kesadaran waktu dan keberanian menghadapi tantangan sebagai makna simbol ayam jantan, berpasangan dan saling melengkapi dengan sifat memberi perlindungan, produktivitas dan sifat keberanian pada simbol ayam betina. Perbedaan jenis kelamin ayam dan juga pada mahluk lain termasuk manusia, tidaklah harus dipandang sebagai pertentangan, melainkan sebagai sesuatu yang berpasangan dan saling melengkapi.

Pappaseng Arung Bila, Petuah Yang Tak Boleh Dilanggar Setiap suku tentunya memiliki ketua adat atau orang tua bijak yang petuahnya dijadikan sebagai aturan tak tertulis. Tidak terkecuali Suku Bugis yang disebut sebagai Pappaseng to Riolo. Kata Pappaseng terdiri dari kata dasar paseng yang berarti pesan yang harus dipegang teguh sebagai amanah, bahkan merupakan wasiat yang perlu dipatuhi dan diindahkan. Dengan adanya imbuhan pa (pap) berupa awalan, maka pengertiannya semakin konkrit sebagai peringatan yang harus ditaati. Pappaseng ini nilainya sangat sakral sehingga bagi siapapun yang ingkar akan mendapatkan peringatan dari Yang Maha Kuasa (Dewata) berupa kesulitan hidup ataupun malapetaka yang sangat sulit dielakkan. Begitu yakinnya orang dahulu akan hikmah dari pappaseng itu sehingga mereka memelihara dan membudayakannya dalam segala sendi kehidupan. Bila disimpulkan pappaseng memiliki makna sebagai wasiat orang tua kepada anak cucunya yang harus selalu diingat sebagai amanah yang perlu dipatuhi dan dilaksanakan atas dasar percaya pada diri sendiri disertai rasa tanggung jawab. Di tanah Bugis banyak pappaseng yang kesemuanya memiliki makna luhur hal ini menyebabkan tidak adanya perbedaan yang mencolok antar pappaseng. Pappaseng yang akan ditengahkan kali ini berasal dari Arung Bila (pendamping atau penasehat Raja) di Soppeng bernama La Wadeng yang juga Lawaniyaga To Tongengnge yang sezaman Kajao Laliddong di Bone (sekitar akhir abad XVI dan awal abad XVII). Beliau merupakan salah seorang bangsawan

26

terkemuka dan pemikir yang tajam, sehingga disejajarkan dengan Kajao Laliddong dari Bone yang merupakan pendamping Raja Bone dalam mengendalikan pemerintahan. Pappaseng ini kemudian sering diajarkan oleh seorang bapak yang mengharapkan anaknya menjadi seorang yang arif dan bijak. Pappaseng yang terkenal dari beliau, yakni: Naiya riasengnge teka, ennengngi tiwangenna, iyananro nawawungeng musu to riolo-e, napaddaungeng toppi Arung Mangkau-e:

uwani, ri esa-I tanana. Maduwanna, risalaiyangngi janci. Matellunna. Ripelongkoriwi ripadanna arung. Maeppana. Riterengge paddangenna tenna sibiritaiyang. Malimanna. Riunoe surona iyaregga tau decenna natania asalang napoamateng. Maennenna, riaja-lekkaiye petaunna, iyaregga ripoloi pabbutanna. Simperekmui teka marajae seuwa naiya teka baiccuk-e maega.

Artinya : Adapun yang dimaksud teka (siap bereaksi karena merasa tersinggung) ada enam hal, itulah yang menjadi pangkal peperangan di masa lampau, dan menyebabkan dikibarkannya bendera perang bagi Raja Besar, yakni :

Pertama, diambil sebagian tanahnya tanpa diberitahu terlebih dahulu. Kedua, perjanjiannya tidak dipatuhi Ketiga, dipermalukan oleh sesama Raja. Keempat, negeri pendukungnya diserang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Kelima, duta yang terpilihnya terbunuh yang bukan karena kesalahannya. Keenam, pematangnya dilangkahi atau dirusak. Pappaseng ini mengandung makna bahwa seorang Raja dapat bertindak pantang

mundur bila ia tersinggung oleh suatu perbuatan orang lain yang ditujukan kepadanya. Di daerah sulawesi selatan ada daerah Kabupaten Sidenreng Rappang. Alkisah, Di daerah ini pernah hidup seorang Tokoh Cendikiawan Bugis yang cukup terkenal pada masa Addatuang Sidenreng dan Addatuang Rappang (Addatuang = semacam pemerintahan distrik di masa lalu) yang bernama 'Nenek Mallomo'. Dia bukan berasal dari kalangan keluarga istana, akan tetapi kepandaiannya dalam tata hukum negara dan pemerintahan membuat namanya cukup tersohor. Sebuah tatanan hukum yang sampai saat ini masih diabadikan di Sidenreng yaitu: Naiya Ade'e De'nakkeambo, de'to nakkeana. (Terjemahan : sesungguhnya ADAT itu tidak mengenal Bapak dan tidak mengenal Anak). Kata bijaksana itu dikeluarkan Nenek Mallomo ketika dipanggil oleh Raja

27

untuk memutuskan hukuman kepada putera Nenek Mallomo yang mencuri peralatan bajak tetangga sawahnya. Dalam Lontara' La Toa, Nenek Mallomo disepadankan dengan tokoh-tokoh Bugis-Makassar lainnya, seperti I Lagaligo, Puang Rimaggalatung, Kajao Ladiddo, dan sebagainya. Keberhasilan panen padi di Sidenreng karena ketegasan Nenek Mallomo dalam menjalankan hukum, hal ini terlihat dalam budaya masyarakat setempat dalam menentukan masa tanam melalui musyawarah yang disebut TUDANG SIPULUNG (Tudang = Duduk, Sipulung = Berkumpul atau dapat diterjemahkan sebagai suatu Musyawarah Besar) yang dihadiri oleh para Pallontara' (ahli mengenai buku Lontara') dan tokoh-tokoh masyarakat adat. Melihat keberhasilan TUDANG SIPULUNG yang pada mulanya diprakarsai oleh Bupati kedua, Bapak Kolonel Arifin Nu'mang sebelum tahun 1980, daerah-daerah lain pun sudah menerapkannya. Selain penghasil utama beras di Indonesia Bagian Timur, daerah ini juga merupakan penghasil utama telur ayam dan telur itik di luar Pulau Jawa. Penduduk asli daerah ini adalah suku Bugis yang ta'at beribadah dan memegang teguh tradisi saling menghormati dan tolong menolong. Dimana-mana dapat dengan mudah ditemui bangunan masjid yang besar dan permanen serta disesaki jama'ah. Keadaan ini, seperti dimanapun suku bugis berada, membuat hubungan dengan pihak pemerintah dan aparat keamanan berlangsung damai. Kemuidian selain daerah Sidenreng Rappang, ada juga daerah wajo. Wajo berarti bayangan atau bayang bayang (wajo-wajo).Kata Wajo dipergunakan sebagai identitas masyarakat baru 605 tahun yang lalu yang merdeka dan berdaulat dari kerajaan-kerajaan besar pada saat itu. Bupati Wajo: A. Asmidin Di bawah bayang-bayang (wajo-wajo=bugis)pohon bajo diadakan kontrak sosial antara rakyat dan pemimpin adat dan bersepakat membentuk kerajaan wajo Perjanjian itu diadakan di sebuah tempat yang bernama Tosora yang kemudian menjadi ibu kota kerajaan Wajo. Ada versi lain tentang terbentuknya Wajo yaitu kisah We Tadampali seorang putri dari kerajaan Luwu yang diasingkan karena menderita penyakit kusta. beliau dihanyutkan hingga masuk daerah tosora. Daerah itu kemudian disebut majauleng berasal dari kata maja (jelek/sakit) oli'(kulit. Konon kabarnya beliau dijilati kerbau belang di tempat yang kemudian dikenal sebagai sakkoli (sakke'=pulih ; oli = kulit) sehingga beliau sembuh. Saat beliau sembuh, beserta pengikutnya yang setia ia membangun masyarakat baru. Sehingga suatu saat datang seorang pangeran dari bone (ada juga yang mengatakan soppeng) yang beristirahat didekat perkampungan we tadampali. Singkat kata mereka kemudian menikah dan menurunkan raja-raja wajo Wajo adalah sebuah kerajaan yang tidak mengenal sistem to

28

manurung sebagai mana kerajaan kerajaan di sulawesi selatan umumnya. Tipe kerajaan wajo bukanlah feodal murni tapi kerajaan elektif atau demokrasi terbatas. Dalam sejarah perkembangan kerajaan wajo, wajo mengalami masa keemasan pada zaman La tadampare puang rimaggalatung Arung Matowa Wajo ke-6 pada abad 15. Islam diterima sebagai agama resmi pada tahun 1610 saat Arung Matowa Lasangkuru Patau Mula Jaji Sultan Abdurrahman memerintah. Hal itu terjadi setelah Gowa, Luwu dan Soppeng terlebih dahulu memeluk Islam. Pada abad 16 dan 17 terjadi persaingan antara kerajaan makasar (Gowa tallo) dengan kerajaan bugis (Bone, Wajo dan Soppeng) membentuk aliansi tellumpoccoe untuk membendung ekspansi gowa Aliansi ini kemudian pecah saat Wajo berpihak ke Gowa dengan alasan Bone dan Soppeng berpihak ke belanda. Saat gowa dikalahkan oleh armada gabungan bone, soppeng, voc dan buton, Arung matowa wajo pada saat itu La Tenri Lai To Sengngeng tidak ingin menandatangani perjanjian Bungayya. Akibatnya pertempuran dilanjutkan dengan drama pengepungan wajo, tepatnya benteng tosora selama 3 bulan oleh armada gabungan bone dibawah pimpinan Arung Palakka. Setelah wajo ditaklukkan, tibalah wajo pada titik nadirnya. Banyak orang wajo yang merantau meninggalkan tanah kelahirannya karena tidak sudi dijajah. Hingga saat datangnya La Maddukkelleng Arung Matowa Wajo, Arung Peneki, Arung Sengkang, Sultan Pasir beliau memerdekakan wajo. Sehingga beliau mendapat gelar (Petta Pamaradekangngi Wajo) tuan yang memerdekaakan wajo. Arung Matowa Wajo masih kontroversi, versi pertama pemegang jabatan arung matowa adalah Andi Mangkona Datu Soppeng sebagai arung matowa wajo ke-45 setelah beliau terjadi kelowongan hingga wajo melebur ke Republik versi kedua hampir sama dengan pertama, tapi Ranreng Bettempola sebagai legislatif mengambil alih jabatan arung matowa (jabatan eksekutif) hingga melebur ke republik versi ketiga setelah lowongnya jabatan arung matowa, maka Ranreng Tuwa (H.A. Ninnong) sempat dilantik menjadi pejabat arung matowa dan memerintah selama 40 hari sebelum kedaulatan wajo diserahkan kepada gubernur sulawesi saat itu, bapak Ratulangi demikianlah sejarah wajo hingga melebur ke republik ini hingga kemudian ditetapkan sebagai sebuah kabupaten sampai saat ini. Kabupaten Wajo dulunya terdiri dari 10 kecamatan, akan tetapi sejak tahun 2000 terjadi pemekaran hingga saat ini terdapat 14 kecamatan

29

30

BAB III KERAJAAN-KERAJAA DI SULAWESI SELATAN Kasultanan buton Kesultanan Buton terletak di Pulau Buton, tenggara Pulau Celebes atau namanya sekarang, Sulawesi, pada zaman dahulu pernah mempunyai kerajaan sendiri. Nama Pulau Buton dikenal sejak zaman pemerintahan Majapahit. Patih Gajah Mada dalam Sumpah Palapa, menyebut nama Pulau Buton Sejarah awal Mpu Prapanca juga menyebut nama Pulau Buton di dalam bukunya, Negara Kartagama. Sejarah yang umum diketahui orang, bahawa Kerajaan Bone di Sulawesi lebih dulu menerima agama Islam yang dibawa oleh Datuk ri Bandang yang berasal dari Minangkabau sekitar tahun 1605 M. Sebenarnya Sayid Jamaluddin al-Kubra lebih dulu sampai di Pulau Buton, iaitu pada tahun 815 H/1412 M. Ulama tersebut diundang oleh Raja Mulae Sangia i-Gola dan baginda langsung memeluk agama Islam. Lebih kurang seratus tahun kemudian, dilanjutkan oleh Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani yang dikatakan datang dari Johor. Beliau berhasil mengislamkan Raja Buton yang ke-6 sekitar tahun 948 H/ 1538 M. Dalam masa yang sama dengan kedatangan Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al- Fathani, diriwayatkan bahawa di Callasusung (Kalensusu), salah sebuah daerah kekuasaan Kerajaan Buton, didapati semua penduduknya beragama Islam. Selain pendapat yang menyebut bahawa Islam datang di Buton berasal dari Johor, ada pula pendapat yang menyebut bahawa Islam datang di Buton berasal dari Ternate. Dipercayai orang-orang Melayu dari pelbagai daerah telah lama sampai di Pulau Buton. Mengenainya dapat dibuktikan bahawa walau pun bahasa yang digunakan dalam Kerajaan Buton ialah bahasa Wolio, namun dalam masa yang sama digunakan bahasa Melayu, terutama bahasa Melayu yang dipakai di Melaka, Johor dan Patani. Orang-orang Melayu tinggal di Pulau Buton, sebaliknya orang-orang Buton pula termasuk kaum yang pandai belayar seperti orang Bugis juga. Orang-orang Buton sejak lama merantau ke seluruh pelosok dunia Melayu dengan menggunakan perahu berukuran kecil yang hanya dapat menampung lima orang, hingga perahu besar yang dapat memuat barang sekitar 150 ton. Raja Buton masuk Islam

31

Kerajaan Buton secara rasminya menjadi sebuah kerajaan Islam pada masa pemerintahan Raja Buton ke-6, iaitu Timbang Timbangan atau Lakilapotan atau Halu Oleo. Bagindalah yang diislamkan oleh Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani yang datang dari Johor. Menurut beberapa riwayat bahawa Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani sebelum sampai di Buton pernah tinggal di Johor. Selanjutnya bersama isterinya pindah ke Adonara (Nusa Tenggara Timur). Kemudian beliau sekeluarga berhijrah pula ke Pulau Batu Gatas yang termasuk dalam pemerintahan Buton. Di Pulau Batu Gatas, Buton, Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani bertemu Imam Pasai yang kembali dari Maluku menuju Pasai (Aceh). Imam Pasai menganjurkan Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani pergi ke Pulau Buton, menghadap Raja Buton. Syeikh Abdul Wahid setuju dengan anjuran yang baik itu. Setelah Raja Buton memeluk Islam, Baginda langsung ditabalkan menjadi Sultan Buton oleh Syeikh Abdul Wahid pada tahun 948 H/1538 M. Walau bagaimanapun. Mengenai tahun tersebut, masih dipertikaikan kerana daripada sumber yang lain disebutkan bahawa Syeikh Abdul Wahid merantau dari Patani-Johor ke Buton pada tahun 1564 M. Sultan Halu Oleo dianggap sebagai Sultan Kerajaan Islam Buton pertama, bergelar Sultan atau Ulil Amri dan menggunakan gelar yang khusus iaitu Sultan Qaimuddin. Maksud perkataan ini ialah Kuasa Pendiri Agama Islam. Dalam riwayat yang lain menyebut bahawa yang melantik Sultan Buton yang pertama memeluk Islam, bukan Syeikh Abdul Wahid tetapi guru beliau yang sengaja didatangkan dari Patani. Raja Halu Oleo setelah ditabalkan sebagai Sultan Kerajaan Islam Buton pertama, dinamakan Sultan Murhum. Jika kita bandingkan dengan semua sistem pemerintahan, sama ada yang bercorak Islam mahu pun sekular, terdapat perbezaan yang sangat ketara dengan pemerintahan Islam Buton. Kerajaan Islam Buton berdasarkan Martabat Tujuh. Daripada kenyataan ini dapat diambil kesimpulan bahawa kerajaan Islam Buton lebih mengutamakan ajaran tasawuf daripada ajaran yang bercorak zahiri. Walau bagaimanapun ajaran syariat tidak diabaikan. Semua perundangan ditulis dalam bahasa Walio menggunakan huruf Arab, yang dinamakan Buru Wolio seperti kerajaan-kerajaan Melayu menggunakan bahasa Melayu tulisan Melayu/Jawi. Huruf dan bahasa tersebut selain digunakan untuk perundangan, juga digunakan dalam penulisan salasilah kesultanan, naskhah-naskhah dan lain-lain. Tulisan tersebut mulai tidak berfungsi lagi menjelang kemerdekaan Indonesia 1945.

32

Kepercayaan reinkarnasi Satu hal yang paling menonjol pada sufisme ini, di pusat Kesultanan Wolio, ialah kepercayaan pada reinkarnasi yang masih hidup di Buton masa kini, terutama di pusat. Di desa-desa, kepercayaan pada reinkarnasi tidak terlalu kuat dan dianggap sebagai ajaran Islam sebagaimana disebarkan di pusat. Secara umum, ada empat prinsip yang dipegang teguh oleh masyarakat Buton dalam kehidupan sehari-hari saat itu yakni: 1. Yinda Yindamo Arata somanamo Karo (Harta rela dikorbankan demi keselamatan diri) 2. Yinda Yindamo Karo somanamo Lipu (Diri rela dikorbankan demi keselamatan negeri) 3. Yinda Yindamo Lipu somanamo Sara (Negeri rela dikorbankan demi keselamatan pemerintah) 4. Yinda Yindamo Sara somanamo Agama (Pemerintah rela dikorbankan demi keselamatan agama) Mengenai kematian dan akhirat, bagi orang muslim penguburan diikuti dengan serangkaian upacara Islam yang dipadukan dengan beberapa unsur tradisional. Di satu pihak, orang Muslim Buton tahu dan sedikit banyak percaya akan ajaran Islam tentang kiamat dan pengadilan nanti, masuk surga dan neraka. Di pihak lain, masih ada kepercayaan yang kuat pada reinkarnasi, dan banyak orang Buton dapat mengatakan ke dalam diri anak kecil yang mana seorang kakek, nenek, atau sanak famili yang lain. Asal-Usul Kepercayaan pada Reinkarnasi Reinkarnasi berarti penjelmaan (penitisan) kembali makhluk yang telah mati. Reinkarnasi merupakan kepercayaan bahwa jiwa tinggal pada pada banyak tubuh, satu sesudah yang lain dan dapat hidup berkali-kali di dunia sebelum akhirnya dimurnikan seutuhnya dan dengan demikian bebas dari keharusan untuk pindak ke tubuh lain. Menurut kepercayaan ini, jiwa sudah ada sebelum masuk ketubuh dan sesudah kematian pun tetap ada dalam keadaan tanpa tubuh, sebelum sekali lagi menjiwai satu tubuh dari jenis yang sama atau yang lain. Dalam berbagai bentuk, reinkarnasi diterima oleh agama Budha, Hindhu dan Neoplatonisme. Bila mendengar atau membaca soal kepercayaan tentang reinkarnasi di Buton, orang mungkin bertanya, bagaimana asal mulanya?. Ada beberapa kemungkinan. Orang dapat menerka itu telah ada dalam kebudayaan Buton pra-Islam (dan mungkin pra-Hindu). Kemungkinan kedua, kepercayaan itu terbentuk di bawah pengaruh Hindu sebelum pengislaman, khususnya sebagai akibat adanya hubungan dengan kerajaan Jawa-Hindu;

33

Majapahit. Kemungkinan ketiga yang patut disebut, gagasan reinkarnasi terkandung dalam sufisme yang dibawa ke Buton. Mengenai anggapan bahwa pengaruh Hindu di Buton, ada beberapa bukti yang dapat diajukan. Pertama, tradisi setempat menyebut adanya hubungan dengan Majapahit. Pernyataan ini diperkuat oleh nama-nama raja Buton pada kurun waktu itu, yang menyiratkan pengaruh Jawa Hindu, yakni Sibatara, Bataraguru, Tuarade dan Rajamulae. Menurut cerita turun-temurun, raja keenam masuk Islam dan kemudian menggunakan gelar sultan. Lalu ia disebut dengan Murhum, yang berasal dari bahasa Arab marhum (Zahari 1977, I:46). Bukti kedua merupakan cerita, termasuk cerita turun-temurun, bahwa raja keempat, Tuarade, dari kunjungannya ke Majapahit membawa pulang empat tanda kekuasaan. Juga dalam sejarah Jawa tentang Majapahit, yaitu Negara Kertagama, Buton disebut sebagai kawasan yang mempunyai hubungan dengan atau berada dibawah pengaruh Majapahit. Bukti lain, tampak dalam cerita tentang para pengungsi Jawa dari Majapahit yang mencari perlindungan di Pulau Buton yang bersahabat dibawah pemerintahan Rajamulae. Di bawah penggantinya, Murhum, mereka ditekan agar masuk Islam. Bukti lain yang berbeda corak dapat pula digunakan karena ada kemiripan gagasan tentang reinkarnasi di Jawa (Tengah) sebagaimana digambarkan oleh Geertz (1960:75,76), Pandangan ketiga, sangat luas dianut oleh semua orang, kecuali para santri, yang mengutuknya sebagai bidah, merupakan gagasan tentang reinkarnasi-bahwa ketika orang meninggal, arwahnya tidak lama kemudian masuk ke dalam janin sebagai jalan menuju kelahiran. Biasanya, seorang wanita yang mengandung tiba-tiba sangat mengidamkan beberapa makanan tertentu- sebuah jeruk yang tidak musimnya atau sebutir telur itik- makanan ini bernyawa dan dengan demikian masuk ke dalam kandungan perempuan itu dan dilahirkan kembali sebagai anaknya. Reinkarnasi sering tidak selalu terjadi dalam keluarga yang sama, walaupun hubungan kekeluargaan mungkin agak jauh dan orang yang menerima reinkarnasi tidak usah berjenis kelamin sama dengan orang yang telah meninggal. Itu mungkin diramalkan oleh impian atau ditentukan oleh kemiripan sifat anak dan orang yang baru saja meninggal, atau oleh tahi lalat yang serupa. Bagi orang Buton, tidaklah bijaksana menceritakan kepada anak, siapa yang menitis padanya, karena hal ini dapat mempermalukan arwah dalam diri si anak, dan ia akan jatuh sakit. Setelah si anak berumur enam tahun atau lebih, hal itu tidak menjadi masalah.

34

Soal gagasan tentang reinkarnasi dalam sufisme dan yang tersebar di Buton, tentu memang ada. Dalam kepustakaan mengenai sufisme Indonesia, khususnya di Aceh pada abad ke16 dan ke-17, gagasan tentang reinkarnasi tidak disebut.. setidaknya dapat diduga bahwa sufisme secara masuk bisa menerima gagasan yang berbeda-beda dan menawarkan kemungkinan tertentu kepada gagasan tentang reinkarnasi. Gagasan-gagasan yang Berkaitan dengan Reinkarnasi 1 . Pengaruh terhadap waktu dan tempat reinkarnasi Ada kepercayaan bahwa orang tertentu punya kekuatan untuk menentukan kapan orang mati dikubur, dimana, dan kapan rohnya akan kembali. Di Wolio orang demikian disebut motaurakea, dan di Lia dan Rongi (nama desa) pasucu. Di Wolio kepercayaan akan hal ini masih kuat, di Lia dan Rongi tak begitu kuat. Keluarga mendiang akan memilih seseorang yang punya bakat ini, dan ia akan menguburkan orang yang meninggal itu secara baik dan memanjatkan doa yang tepat. Salah seorang informan (Wolio) ingat bahwa pamannya berlaku sebagai motaurakea pada suatu pemakaman. Keluarga orang yang meninggal itu bertanya, Kemana Anda akan bawa arwah itu? ia menjawab dengan serta merta, Saya membawanya kesini, seraya menunjuk kepada satu keluarga yang hadir. Tidak begitu lama arwah mendiang lahir kembali dalam keluarga itu. (Penelitian Antropolgi Pim Schoorl, tentang Masyarakat, Sejarah Dan Kebudayaan Buton: 1984} Di Rongi pernah ada kepercayaan bahwa orang dapat berlaku sebagai pasucu, tetapi sekarang pendapat yang dominan ialah cepatnya roh kembali tergantung pada amal ibadahnya dan kadar dosanya. Dan diantara mereka ada yang menolak jalan pikiran bahwa, pasucu dapat menentukan kemana arwah kemana arwah itu akan kembali. Ia yakin bahwa arwah sumanga yang sudah bersih atau suci akan mencari sendiri tempat yang baik. Jika tidak ada hubungan baik antara suami-istri di kalangan sanak terdekat, maka arwah tidak ingin kembali kesana. Tetapi arwah biasanya kembali ke tubuh seorang cucu. Ini disebut ditempati oleh almarhum (kabolisina mia mate). Kemungkinan kembalinya arwah diluar keluarga almarhum atau bahkan di luar Rongi bisa saja terjadi. Menurut adat, mula-mula arwah pergi ke semacam surga (kacingkia, kepercayaan akan surga dimana cingkaha, arwah, juga disebut sumanga, tinggal). Surga serupa dengan tempat tinggal orang hidup, dan disanalah diambil keputusan tentang kembalinya arwah oleh Tuhan (Kawasana Ompu).

35

Setiap tahun pada hari pertama bulan puasa (Ramadhan), berlangsung pertemuan di batula (surga), dan pada kesempatan ini arwah dapat bertanya kepada Kawasana Ompu tentang keputusan tentang pemberian keputusan baru. Kerabat yang masih hidup dapat meringankan nasib roh dengan memanjatkan doa untuknya dengan berzikir dambil menyiramkan air diatas kuburan (kabubusi). Dengan cara ini, dosa almarhum juga dikurangi. Jika dosanya sangat besar, mungkin arwah tidak dapat menebusnya, bahkan setelah melewati masa tujuh tahun. Kemudian arwah itu lahir kembali, akan tetapi orang yang menjadi reinkarnasinya akan cacat. Dalam pemikiran keagamaan Buton, ada tujuh alam yang diperbedakan. Pembedaan tujuh alam itu (martabat tujuh) juga ditemukan dalam konstitusi kesultanan. Menurut sejarah Buton, versi pertama konstitusi itu dirancang oleh sultan keempat, La Elangi (1578-1615) dengan bantuan ahli agama dari Arab, Syarif Muhammed (bandingkan dengan contoh gagasan reinkarnasi diatas). Tiga alam pertama, alam ahdat (ahadiyya), alam wahadat (wahda), dan alam waahidiyat (wahdiyya), dan secara keseluruhan merupakan wewenang Tuhan. Manusia tidak mempunyai gambaran tentang tiga alam pertama tersebut. Alam kedua dan ketiga memiliki persamaan dengan keadaan di bumi. Akan tetapi, hanya di alam keempat ada semacam persolan tentang, perintah agar menjadi (kun). Ini alam arwah. Arwah berpindah ke pikiran, otak bapak, dan menitis dalam pikiran bapak. Pasangan yang menikah harus meminta arwah yang sempurna dan baik dari orang yang meninggal yang tinggal bersama Rasul, bagi anaknya. Dimana akan menikmati usia panjang serta kemakmuran dan penyempurnaan agama yang kaut. Lalu dari sana arwah akan bergerak ke alam yang kelima, alam masal dan disini dibentuk citra, pemikiran, gagasan dalam kandungan ibu. Dalam rahim ibu itu terjadi perubahan bentuk dari setetes cairan (air mani), yang berubah menjadi daging dan darah; menjadi tubuh. Itu alam keenam, alam ajisam. Alam masal dan alam ajisam berlangsung selama 40 hari. Selama alam ajisam orang tua harus berhati-hati agar tidak menderita cacat dan tidak mendapat masalah dalam pertumbuhannya. Dalam kurun waktu itu juga watak anak terbentuk. Janin berkembang menjadi makhluk dengan panca indera; seorang manusia. Kemudian alam ketujuh, alam insan atau alam manusia dicapai. Kendati arwah masih berada dalam alam insan orang tua harus selalu berdoa untuk kesucian. Setiap waktu, air yang digunakan untuk penyucian sebelum doa mereka panjatkan: Ya Tuhan, sucikan hatiku, hidupku, seperti saya berada di alam insan. Ini merupakan inti doa yang diucapkan dalam bentuk batata khusus, atau ungkapan (pra-Islam).

36

Ada juga pertalian antara gagasan tentang reinkarnasi dan selamatan peringatan upacara untuk orang meninggal pada malam ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus, dan keseratus dua puluh setelah wafatnya. Terdapat semacam peresamaan dalam perkembangan antara reinkarnasi arwah melalui kelahiran baru dan penguraian mayat. Setelah tiga hari jenazah menjadi bengkak, tetapi belum pecah. Dalam rentang waktu itu arwah mencari-cari, namun tidak dapat menemukan tempat tinggal. Setelah tujuh hari, tubuh menjadi bengkak dan mulai pecah terurai, cairan dan darah mengalir keluar. Dalam periode ini, arwah ditiup kedalam nyawa yang didorong oleh zikir secara terus-menerus oleh mereka yang menghadiri selamatan. Namun, arwah belum juga masuk kedalam tubuh. Setelah empat puluh hari sebagian besar jenazah menjadi busuk, walaupun tulamg belulang masih diliputi daging dan darah. Arwah kemudian mengambil bentuk mereka yang pertama dalam kepala bapak, akan tetapi masih belum mempunyai wujud lahiriyah. Baru setelah seratus hari berlalu, sekujur mayat menjadi busuk. Kemudian arwah bersama nyawa masuk kedalam ibu melalui pikiran bapak, dan kemudian melalui persetubuhan. Badan mulai berkembang dan semua belum sempurna, namun masih belum tumbuh mendewasa-indapo aseko o kauna limana, yakni jari tangan dan kaki belum terbuka. Setelah seratus dua puluh hari seluruh tubuh sudah sempurna dan hanya tinggal tumbuh lagi. Ilmu tentang asal mula manusia, tentang berbagai alam tempat tinggal arwah sebelum lahir sangat penting baik untuk orang muda maupun orang tua jika mereka ingin terbebas dari kesombongan dan kecongkakan. Acuan pada rahim merupakan pernyataan kerendahan hati: dengan demikian orang tidak akan lupa bahwa ia berasal dari keadaan yang tidak bersih. Bahkan pada saat senang orang harus sadar akan hal ini. Begitulah kepercayaan sejati. Bahkan mereka yang jarang ke masjid namun hidup dengan pemikiran ini, adalah penganut agama yang baik. Inti kejahatan terletak kepada kesombongan, keangkuhan, dan lupa pada asal-usul. Ilmu tersebut sering disebut ilmu tauhid (ilmu kejadian), ilmu tentang menjadi ada. Ilmu ini penting jika orang ingin mengetahui tentang diri sendiri dan asal-usulnya. Tanpa ini, orang benar-benar tidak dapat yakin adanya Tuhan. Seandainya orang telah mencapai ilmu itu, maka ia telah mencapai taraf kenal akan hakikat. Pada tingkat ini, orang tidak harus sembahyang (shalat) secara teratur, karena bila sudah dekat pada Tuhan orang tidak perlu lagi bersembahyang. Lalu orang sudah berjalan di sisi Tuhan. Mereka yang telah mencapai taraf ini, para ahli tasawuf atau ahli sufi, terlepas dari soal keduniaan. Mereka yang telah menimba banyak ilmu, yang sangat mendekati Tuhan (opoopoti oputa, secara harfiah merenungkan Tuhan) dapat menentukan kemana arwah mereka akan

37

pergi, sebagaimana dapat mereka lakukan juga hal-hal lain yang tidak dapat dilakuakan oleh orang biasa. Di lain pihak, dikatakan pula bahwa kehidupan baik dapat diganjar dengan kehidupan berikut yang lebih baik. Seseorang dari golongan bangsawan lapis ketiga (papara) dapat dilahirkan kembali sebagai anak dari walaka (lapis kedua) atau dari La ode (lapis pertama) atau pada zaman dahulu bahkan bisa jadi adalah sultan sendiri. Sebaliknya, seseorang yang hidup buruk dapat dilahirkan kembali ke golongan yang lebih rendah. Terkadang hal itu juga dipandang sebagai seorang perempuan. Dahulu perempuan biasanya meratapi kenyataan bahwa mereka dititiskan sebagai perempuan karena orang laki-laki selalu dianggap lebih penting dan anak laki-laki lebih dimanjakan daripada gadis. Konon, di Rongi orang percaya bahwa hidup buruk, seperti mengumbar nafsu birahi dapat mengakibatkan roh kembali dalam wujud binatang. Ini bisa segala macam hewan bahkan seekor babi. 2. Berubah menjadi binatang Perjalanan arwah ke alam binatang disebut dauru (dawr = perubahan). Dalam kepercayaan Wolio dan Pulau Muna, perjalanan itu tidak berhubungan dengan hukuman atas hidup buruk. Sebaliknya, orang yang dapat menjalani perubahan ini sangatlah suci. Kisah yang terkenal ialah Sangia-i-rape, putra Sultan Murhum (k.l.1491-1537; bandingkan dengan Zahari 1977, I:46; nama sangia juga menunjukan kesucian). Cerita ini berlangsung di Muna. Sangia-i-rape terkenal telah menuntut ilmu kebatinan. Pada suatu hati ia memperhatikan kulitnya yang mulai menyerupai kulit buaya. Putranya Sangia Wambulu, juga mengetahuinya dan merasa malu. Ia berkata kepada ayahnya, Lebih baik saya bawa ayah ke laut, mandi disana. Ketika mereka tiba di laut, Sangia-i-rape menaruh sarungnya di atas batu dan dimandikan oleh putranya. Ketika dimandikan, ia betul-betul berubah menjadi buaya. Karena ilmu yang ia tuntut itu, ia dapat langsung berubah menjadi buaya. Menurut seorang informan dari Wolio, ia jelas telah begitu dekat padaTuhan (opooputi oputa) karena dapat menjadi apa saja yang dia inginkan. Jika seseorang sudah begitu dekat pada Tuhan dan mencapai penyatuan dengan Tuhan seperti itu, maka ia dapat berbuat apa saja yang disukainya. 3. Mengenal arwah mendiang pada anak-anak Kadang kala seorang kerabat dengan jelas akan menyatakan, sebelum meninggal, kepada siapa dia akan kembali. Pada beberapa anak, reinkarnasi ini jelas kelihatan dari roman muka dan

38

atau kelakuan. Cucu laki-laki sultan terakhir, reinkarnasi permainsuri sultan, membuat hal ini jelas karena sebagai anak kecil ia mampu mengenali perhiasan mendiang permainsuri dan mengakui sebagai miliknya. Sultan Muhammad Idrus (Sultan XXIX: 1824-1851 M) juga tahu siapa yang menitis pada dirinya, sedangkan putranya Mohammad Isa (Sultan XXX : 1851-1861 M), serta merta berbicara setelah kelahirannya berkat arwah yang menitis pada dirinya. Percaya pada Reinkarnasi dan Gagasan-gagasan Keagamaan Lain 1. Percaya pada reinkarnasi dan Islam Doa-doa Islam dan ayat-ayat Quran yang dibaca dikuburan dimaksudkan untuk membawa kebaikan bagi orang yang mati. Jadi, ikhlas, zikir, dan tasbih dibacakan di makam guna menjamin kesejahteraan orang yang meninggal. Istigfar dan tobat dimasudkan untuk mendapatkan pembebasan dosa. Namun, kebajikan yang diperbuat mendiang/almarhum melalui amal shaleh sangat menentukan. Meskipun demikian, ada pula kepercayaan pada kembalinya arwah yang dipandang tidak bertentangan dengan Islam. Orang yang benar-benar percaya pada reinkarnasi biasanya menjalani hidup dengan baik, menepati janjinya, menolak hidup mewah, menahan semua keinginan untuk mengungguli orang lain dan menahan diri supaya tidak sombong dan ia mengutuk tingkah laku seperti itu pada orang lain. Mereka memperoleh pembenaran atas kepercayaan pada reinkarnasi dalam sebuah ayat al-Quran yang mereka baca sebagai pujian setiap hari setelah shalat. Disitu dinyatakan Perpindahan malam ke siang dan perpindahan siang ke malam; dan masuknya hidup dari mati bagi siapa saja yang disukainya dengan tidak menghitung. Tuliju al-layla fi an-nahari, wa-tuuliju an-nahara fi al-layli, wa tukhriju al-hayya min al-mayyiti, wa-tukhriju al-mayyita min al-hayyi, wa-turziqu man tahsau bi-ghayri hisaabin.(Quran, 3:27) dan (Arbery 1955, I:76). Antara ilmu tasawuf (Islam) dan perundang-undangan Kesultanan Buton memang ada hubungan. Murtabat Tujuh juga menyatakan bahwa arwah berpindah, teristimewa pada bagian: orohi yitu kalipa-lipa, rohi yitu ooni arabu, maanan olipa (Wolio). Dalam bahasa Arab nyawa itu disebut roh, karena selalu pergi atau berpindah dan sebab itu roh dalam bahasa Wolio dikataka lipa, artinya pergi. Teks Wolio itu mempunyai arti harfiah: roh itu pergi terus-menerus, roh itu kata Arab yang artinya pergi.

39

Dalam doa kepada Tuhan, berdoa untuk para arwah juga ada bagian yang biasa dibaca: Ya Tuhan ampunilah kami dan dia. Biarlah dia mempunyai tempat yang lebih baik, gantila h yang tidak baik dengan yang lebih baik dan berikanlah banyak cahaya kepadanya dalam kuburan. Dan untuk arwah mereka yang relatif telah lama meninggal, maka kata-kata berikut: Engkau punya kuasa mengatur segala sesuatu. Kami tidak tahu apakah arwah itu masih ada dalam makam atau telah berpindah ke tubuh lain, tetapi Engkau punya kuasa mengatur segalagalanya. Pada tahun 1939, La Malangka, kepala desa Bau-bau dan seorang Muhamadiyyah menegaskan mati itu adalah mati dan tidak ada soal kembali. Kepala desa Nganganaumala, Haji Abdullah bertanya kepadanya, dimana dapat ditemuakn teks atau ayat yang menunjukan tidak ada reinkarnasi. Dan Ia bertanya, Apa artinya ayat berikut dari Quran ini: Perpindahan malam dst? (lihat di atas). Bagaimanapun juga mati masuk kedalam kehidupan bukan mati mengganti kehidupan. Dan La Malangka tidak mampu menjawab hal tersebut. I slam secara resmi tidak mencoba dengan jelas menentang kepercayaan pada

reinkarnasi. Namun, orang Buton tidak memperlihatkan kepercayaannya demi menghindari perselisihan pendapat 2. Percaya pada reinkarnasi dan pemujaan leluhur Dalam agama Buton, ada tempat yang ditetapkan untuk pemujaan leluhur. Tetapi bukan mendeskripsikan sebagai tempat dan pemujaan yang terlalu jauh. Pada berbagai upacara muslim, makam leluhur disirami air. Seorang tua yang berilmu, memanjatkan doa atau mengucapkan patah (batata) untuk air itu. Kembang-kembang dan wangi-wangian dibubuhkan pada air tersebut. Bila bersiap pergi jauh atau sekembalinya, orang akan ke makam leluhur atau orang tua untuk berdoa. Orang pergi ke kuburan orang yang telah tiada, menurut keyakinan masyarakat Buton, orang yang telah tiada telah kembali ke kehidupan ini melalui reinkarnasi mereka teristimewa pada anak-anak mereka sendiri. Bagi mereka hal ini merupakan gagasan yang kompleks dan mereka tidak mencoba menetapkan hubungan yang masuk akal. Memang dari penjelasan tentang diatas akan menimbulkan pertanyaan, sebagaimana pernah terjadi percakapan antara tetua adat dengan anaknya pada tahun 1984, sang anak menanyakan Bagaimana mungkin banyak manusia yang lahir sedangkan jumlah arwah tetap? Tetua adat tersebut kemudian memberikan jawaban kepadanya bahwa satu arwah dapat menitis lebih dari satu kali. Adakalanya seseorang yang telah meninggal, kembali melalui lebih dari sepuluh cucu.

40

Ada satu jawaban mengenai hal tersebut yang diberikan oleh seseorang : Tuhan punya kekuasaan menciptakan sesuatu dari yang tidak ada. Tuhan Maha Kuasa dan dapat membuat banyak dari apa saja. Ia memberi siapa saja sebanyak yang Ia suka, sedikit atau banyak, tanpa memperhitungkan; bagi Tuhan segala sesuatu mungkin. Karena ditulis dalam Quran, soal ro/arwah merupakan rahasia Tuhan sendiri. Tidak seorang pun dapat mengatakan mengapa kini ada banyak roh /arwah sedangkan biasanya hanya ada sedikit saja, atau sebaliknya. Alam arwah hanya diketahui Tuhan saja. Pengetahuan manusia tentang hal itu sedikti malah tak ada. Kasultanan gowa Kesultanan Gowa atau kadang ditulis Goa, adalah salah satu kerajaan besar dan paling sukses yang terdapat di daerah Sulawesi Selatan. Rakyat dari kerajaan ini berasal dari Suku Makassar yang berdiam di ujung selatan dan pesisir barat Sulawesi. Wilayah kerajaan ini sekarang berada dibawah Kabupaten Gowa dan daerah sekitarnya yang dalam bingkai negara kesatuan RI dimekarkan menjadi Kotamadya Makassar dan kabupaten lainnya. Kerajaan ini memiliki raja yang paling terkenal bergelar Sultan Hasanuddin, yang saat itu melakukan peperangan yang dikenal dengan Perang Makassar (1666-1669) terhadap Belanda yang dibantu oleh Kerajaan Bone yang berasal dari Suku Bugis dengan rajanya Arung Palakka. Tapi perang ini bukan berati perang antar suku Makassar - suku Bugis, karena di pihak Gowa ada sekutu bugisnya demikian pula di pihak Belanda-Bone, ada sekutu Makassarnya. Politik Divide et Impera Belanda, terbukti sangat ampuh disini. Perang Makassar ini adalah perang terbesar Belanda yang pernah dilakukannya di abad itu Sejarah awal Pada awalnya di daerah Gowa terdapat sembilan komunitas, yang dikenal dengan nama Bate Salapang (Sembilan Bendera), yang kemudian menjadi pusat kerajaan Gowa: Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero dan Kalili. Melalui berbagai cara, baik damai maupun paksaan, komunitas lainnya bergabung untuk membentuk Kerajaan Gowa. Cerita dari pendahulu di Gowa dimulai oleh Tumanurung sebagai pendiri Istana Gowa, tetapi tradisi Makassar lain menyebutkan empat orang yang mendahului datangnya Tumanurung, dua orang pertama adalah Batara Guru dan saudaranya.[1] Tradisi lainnya menyebutkan bahwa Gowa mulai eksis sebelum abad ke-13, dan dikatakan bahwa pendiri Gowa adalah empat pangeran yang bernama Batara Guru, Ratu Sapu Marantaia, Karaeng Katanka dan nama ke-4 hilang dalam catatan sejarah

41

Raja yang terkenal Tumapa'risi' Kallonna Memerintah pada awal abad ke-16, di Kerajaan Gowa bertakhta Karaeng (Penguasa) Gowa ke-9, bernama Tumapa'risi' Kallonna. Pada masa itu salah seorang penjelajah Portugis berkomentar bahwa "daerah yang disebut Makassar sangatlah kecil". Dengan melakukan perombakan besar-besaran di kerajaan, Tumapa'risi' Kallonna mengubah daerah Makassar dari sebuah konfederasi antar-komunitas yang longgar menjadi sebuah negara kesatuan Gowa. Dia juga mengatur penyatuan Gowa dan Tallo kemudian merekatkannya dengan sebuah sumpah yang menyatakan bahwa apa saja yang mencoba membuat mereka saling melawan (ampasiewai) akan mendapat hukuman Dewata. Sebuah perundang-undangan dan aturan-aturan peperangan dibuat, dan sebuah sistem pengumpulan pajak dan bea dilembagakan di bawah seorang syahbandar untuk mendanai kerajaan. Begitu dikenangnya raja ini sehingga dalam cerita pendahulu Gowa, masa pemerintahannya dipuji sebagai sebuah masa ketika panen bagus dan penangkapan ikan banyak.[1] Dalam sejumlah penyerangan militer yang sukses penguasa Gowa ini mengalahkan negara tetangganya, termasuk Siang dan menciptakan sebuah pola ambisi imperial yang kemudian berusaha ditandingi oleh penguasa-penguasa setelahnya di abadl ke-16 dan ke-17. Kerajaankerajaan yang ditaklukkan oleh Tumapa'risi' Kallonna diantaranya adalah Kerajaan Siang, serta Kerajaan Bone, walaupun ada yang menyebutkan bahwa Bone ditaklukkan oleh Tunipalangga Tunipalangga Tunipalangga dikenang karena sejumlah pencapaiannya, seperti yang disebutkan dalam Kronik (Cerita para pendahulu) Gowa, diantaranya adalah: 1. Menaklukkan dan menjadikan bawahan Bajeng, Lengkese, Polombangkeng, Lamuru, Soppeng, berbagai negara kecil di belakang Maros, Wajo, Suppa, Sawitto, Alitta, Duri, Panaikang, Bulukumba dan negara-negara lain di selatan, dan wilayah pegunungan di selatan. 2. Orang pertama kali yang membawa orang-orang Sawitto, Suppa dan Bacukiki ke Gowa. 3. Menciptakan jabatan Tumakkajananngang. 4. Menciptakan jabatan Tumailalang untuk menangani administrasi internal kerajaan, sehingga Syahbandar leluasa mengurus perdagangan dengan pihak luar. 5. Menetapkan sistem resmi ukuran berat dan pengukuran 6. Pertama kali memasang meriam yang diletakkan di benteng-benteng besar.

42

7. Pemerintah pertama ketika orang Makassar mulai membuat peluru, mencampur emas dengan logam lain, dan membuat batu bata. 8. Pertama kali membuat dinding batu bata mengelilingi pemukiman Gowa dan Sombaopu. 9. Penguasa pertama yang didatangi oleh orang asing (Melayu) di bawah Anakhoda Bonang untuk meminta tempat tinggal di Makassar. 10. Yang pertama membuat perisai besar menjadi kecil, memendekkan gagang tombak (batakang), dan membuat peluru Palembang. 11. Penguasa pertama yang meminta tenaga lebih banyak dari rakyatnya. 12. Penyusun siasat perang yang cerdas, seorang pekerja keras, seorang narasumber, kaya dan sangat berani Raja-raja Kesultanan Gowa 1. Tumanurunga (+ 1300) 2. Tumassalangga Baraya 3. Puang Loe Lembang 4. I Tuniatabanri 5. Karampang ri Gowa 6. Tunatangka Lopi (+ 1400) 7. Batara Gowa Tuminanga ri Paralakkenna 8. Pakere Tau Tunijallo ri Passukki 9. Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna (awal abad ke-16) 10. I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiyung Tunipallangga Ulaweng (1546-1565) 11. I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatte 12. I Manggorai Daeng Mameta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo (1565-1590). 13. I Tepukaraeng Daeng Parabbung Tuni Pasulu (1593). 14. I Mangari Daeng Manrabbia Sultan Alauddin Tuminanga ri Gaukanna Berkuasa mulai tahun 1593 - wafat tanggal 15 Juni 1639. Merupakan penguasa Gowa pertama yang memeluk agama Islam.[1] 15. I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung Sultan Malikussaid Tuminanga ri Papang Batuna Lahir 11 Desember 1605, berkuasa mulai tahun 1639 hingga wafatnya 6 November 1653 16. I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape Sultan Hasanuddin Tuminanga ri Juni 1670 Balla'pangkana Lahir tanggal 12 Juni 1631, berkuasa mulai tahun 1653 sampai 1669, dan wafat pada 12

43

17. I

Mappasomba

Daeng

Nguraga

Sultan

Amir

Hamzah

Tuminanga

ri

Allu'

Lahir 31 Maret 1656, berkuasa mulai tahun 1669 hingga 1674, dan wafat 7 Mei 1681. 1. I Mallawakkang Daeng Mattinri Karaeng Kanjilo Tuminanga ri Passiringanna 18. Sultan Mohammad Ali (Karaeng Bisei) Tumenanga ri Jakattara Lahir 29 November 1654, berkuasa mulai 1674 sampai 1677, dan wafat 15 Agustus 1681 19. I Mappadulu Daeng Mattimung Karaeng Sanrobone Sultan Abdul Jalil Tuminanga ri Lakiyung. (1677-1709) 20. La Pareppa Tosappe Wali Sultan Ismail Tuminanga ri Somba Opu (1709-1711) 21. I Mappaurangi Sultan Sirajuddin Tuminang ri Pasi 22. I Manrabbia Sultan Najamuddin 23. I Mappaurangi Sultan Sirajuddin Tuminang ri Pasi. (Menjabat untuk kedua kalinya pada tahun 1735) 24. I Mallawagau Sultan Abdul Chair (1735-1742) 25. I Mappibabasa Sultan Abdul Kudus (1742-1753) 26. Amas Madina Batara Gowa (diasingkan oleh Belanda ke Sri Lanka) (1747-1795) 27. I Mallisujawa Daeng Riboko Arungmampu Tuminanga ri Tompobalang (1767-1769) 28. I Temmassongeng Karaeng Katanka Sultan Zainuddin Tuminanga ri Mattanging (17701778) 29. I Manawari Karaeng Bontolangkasa (1778-1810) 30. I Mappatunru / I Mangijarang Karaeng Lembang Parang Tuminang ri Katangka (18161825) 31. La Oddanriu Karaeng Katangka Tuminanga ri Suangga (1825-1826) 32. I Kumala Karaeng Lembang Parang Sultan Abdul Kadir Moh Aidid Tuminanga ri Kakuasanna (1826 - wafat 30 Januari 1893) 33. I Malingkaan Daeng Nyonri Karaeng Katangka Sultan Idris Tuminanga ri Kalabbiranna (1893- wafat 18 Mei 1895) 34. I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang Sultan Husain Tuminang ri Bundu'na Memerintah sejak tanggal 18 Mei 1895, dimahkotai di Makassar pada tanggal 5 Desember 1895. Ia melakukan perlawanan terhadap Hindia Belanda pada tanggal 19 Oktober 1905 dan diberhentikan dengan paksa oleh Hindia Belanda pada 13 April 1906. Ia meninggal akibat jatuh di Bundukma, dekat Enrekang pada tanggal 25 Desember 1906.[3] 35. I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bonto Nompo Sultan Muhammad Tahur Muhibuddin Tuminanga ri Sungguminasa (1936-1946) 36. Andi Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin (1956-1960) merupakan Raja Gowa terakhir, meninggal di Jongaya pada tahun 1978.[3]

44

37. Andi Kumala Karaeng Sila (lahir tahun 1959), menggantikan ayahnya sebagai Kepala Rumah Tangga Kerajaan Gowa pada tahun 1978, menikah tahun 1994 dengan Andi Hikmawati Akulturasi Haji dalam Masyarakat Bugis Makassar Dalam kultur sebagian masyarakat Bugis-Makassar atau nusantara, gelar haji yang diperoleh setelah menunaikan ibadah haji itu dianggap sebagai prestise yang menunjukkan status sosial yang lebih dibanding yang lain. Status sosial ini tidak karena tuntutan sang haji, tapi dielaborasi karena adanya penghargaan masyarakat sekitarnya. Penghargaan ini terlebih dikarenakan untuk menunaikan ibadah haji itu perlu pengorbanan yang besar; waktu, harta dan kadang nyawa. Apalagi di jaman dulu sebelum transportasi semudah jaman sekarang, menunaikan ibadah haji teramat sulit dan lama. Memerlukan ketahanan dan kesabaran untuk mengarungi lautan luas dan ganas selama 3-6 bulan untuk sampai ke sana. Kalau sekarang, hanya 8-10 jam saja naik pesawat terbang sudah cukup memindahkan badan dari tanah air ke tanah suci sana. Uniknya juga, dalam prosesi lamaran pernikahan dalam budaya bugis makassar, faktor ke-haji-an kerap menjadi penentu dalam menetapkan uang panaik atau duimenre atau uang mahar bagi mempelai perempuan. Calon pengantin perempuan yang sudah bergelar hajjah sudah barang tentu mahar atau uang naiknya akan jauh lebih mahal dibanding yang belum hajjah. Besaran perbedaan uang panaik/dui menre atau maharini kadang dihitung berdasarkan tarif resmi ONH yang diberlakukan pemerintah. Sebaliknya, adalah suatu kebanggaan buat mempelai perempuan, apabila calon penganten laki-lakinya suda bergelar haji dan dengan demikian, bisa menjadi nilai tambah dalam menentukan diterima atau tidaknya lamaran yang bersangkutan. Akan berat perjuangan seorang laki-laki yang belum haji yang hendak meminang seorang hajjah, kecuali si laki-laki mengkompensasi nya dengan uang panaik yang tidak sedikit. Selepas berhaji di tanah suci, dalam kultur bugis/makassar ada semacam ritual wisuda yang dinamakan mappatoppo haji, dengan penyematan songkok/kopiah haji dan gamis panjang berwarna putih yang dilakukan oleh syekh atau ulama yang disegani. Di jaman dulu, orang bugis/makassar yang belum menunaikan ibadah haji, akan malu dan segan mengenakan songkok putih karena masyarakat tahu dan akan mencibir kalau pada kenyataannya yang bersangkutan belum pernah naik haji. Orang ini akan dikatakan sebagai haji palsu, atau diolokolok dalam bahasa bugis sebagai haji tallattu. Sebaliknya, orang yang sudah pernah naik haji terkadang tidak mau melepas songkok putihnya lagi apabila bersosialisasi dengan masyarakat sekitarnya, agar supaya identitas ke-hajinya tetap melekat. Untuk yang perempuan, biasanya

45

disimbolkan dengan kerudung kepala yang dipuntir mengelilingi tepi rambut dan dipasangi manik-manik atau hiasan berwarna emas atau perak. Menurut Fuad Rumi, seorang ulama dan cendekiawan Makassar, kehajian terakulturasi ke dalam budaya kita untuk memberi simbol status bagi seseorang. Menjadi haji, adalah sebuah kehormatan, dan kehormatan itu disimbolkan dengan gelar dan pakaian Falsafah hidup orang bugis makassar Sirik na pacce merupakan prinsip hidup bagi suku Makassar. Sirik dipergunakan untuk membela kehormatan terhadap orang-orang yang mau memperkosa harga dirinya, sedangkan pacce dipakai untuk membantu sesama anggota masyarakat yang berada dalam penderitaan. Sering kita dengar ungkapan suku Makassar berbunyi Punna tena siriknu, paccenu seng paknia (kalau tidak ada sirimu paccelah yang kau pegang teguh). Apabila sirikna pacce sebagai pandangan hidup idak dimiliki seseorang, akan dapat berakibat orang tersebut bertingkah laku melebihi tingkah laku binatang karena tidak memiliki unsur kepedulian sosial, dan hanya mau menang sendiri. Falsafah Sirik Berbagai pandangan para ahli hukum adat tentang pengertian sirik. Moh. Natsir Said mengatakan bahwa sirik adalah suatu perasaan malu (krengking/belediging) yang dilanggar norma adatnya. Menurut Cassuto, salah seorang ahli hukum adat yang berkebangsaan Jepang yang pernah menliti masalah sirik di Sulawesi Selatan berpendapat : Sirik merupakan pembalasan berupa kewajiban moral untuk membunuh pihak yang melanggar adatnya sirik dapat dikategorikan dalam empat golongan yakni : pertama, Sirik dalam hal pelanggaran kesusilaan, kedua sirik yang berakibat kriminal, ketiga sirik yang dapat meningkatkan motivasi seseorang untuk bekerja dan keempat sirik yang berarti malu-malu (sirik-sirik). Semua jenis sirik tersebut dapat diartikan sebagai harkat, martabat, dan harga diri manusia Bentuk sirik yang pertama adalah sirik dalam hal pelanggaran kesusilaan. Berbagai macam pelanggaran kesusilaan yang dapat dikategorikan sebagai sirik seperti kawin lari (dilariang, nilariang, dan erang kale), perzinahan, perkosaan, incest (perbuatan

46

sumbang/salimarak)/ yakni perbuatan seks yang dilarang karena adanya hubungan keluarga yang terlalu dekat, misalnya perkawinan antara ayah dan putrinya, ibu dengan putranya dsb. Dari berbagai perbuatan a-susila itu, naka incestlah/salimarak merupakan pelanggara terberat. Sebab susah untuk diselesaikan karena menyangkut hubungan keluarga yang terlalu dekat, semuanya serba salah. Kalau perkawinan terus dilangsungkan, sengat dikutuk oleh masyarakat, dan kalau perkawinan tidak dilangsungkan, status anak yang lahir nanti bagaimana ? Perbuatan salimarak ini dulu dapat dikenakan hukuman niladung yakni kedua pelaku dimasukkan dalam karung kemudian ditenggelamkan kelaut atau ke dalam air sampai mati. Lain halnya perbuatan asusila lainnya seperti perzinahan, perkosaan, dan kawin lari Penyelesaiannya dapat dilakukan melalui perkawinan secara adat kapan saja, bilamana kedua belah pihak ada persetujuan atua mengadakan upacara abajik (damai). Sesudah itu tidak ada lagi masalah. Sejak dulu hingga sekarang, perbuatan asusila ini sering kali dilakukan oleh orang-orang tertentu, oleh suku Makassar perbutan tersebut dianggapnya melanggar sirik. Bila perbuatan asusila terjadi, pihak yang dipermalukan (biasanya dari pihak perempuan yang disebut Tumasirik) berhak untuk mengambil tindakan balasan pada orang-orang yang melanggar siriknya yang disebut Tumannyala. Jadi, kalau ada anggapan orang luar yang mengatakan sirik itu kejam atau jahat memang demikian, akan tetapi dibalik kekejaman itu tersimpan makna hidup yang harus dimiliki oleh manusia untuk menjaga harga dirinya. Lebih kejam atau lebih jahat, bilamana anak yang lahir tanpa ayah, anak haram, kemana anak ini harus memanggil ayah ? Apalagi kalau perbuatan a-susila membudaya di negara kita, jelas harkat dan martabat manusia lebih rendah dari pada binatang. Dekatakan memang nalurinya, sedangkan manusia punya otak, pikiran untuk membedakan mana yang baik dan mana yang salah. Alangkah jahatnya bila perbuatan free seks atau kupul kebo, membudaya di negara kita, berapa banyak wanita yang harus jadi korban kebuasan seksual ? Justru kehadiran sirik di tengah masyarakat dapat dijadikan sebagai penangkal kebebasan seks (free seks) Jenis sirik yang kedua adalah sirik yang dapat memberikan motivasi untuk meraih sukses. Misalnya, kalau kita melihat orang lain sukses, kenapa kita tidak? Contoh yang paling konkret, suku Makassar biasanya banyak merantau ke daerah mana saja. Sesampai di daerah tersebut mereka bekerja keras untuk meraih kesuksesan. Kenapa mereka bekerja keras ? Karena mereka nantinya malu bilamana pulang kampung tanpa membawa hasil.

47

Salah satu syair lagu Makassar yang berbunyi : Takunjungngak bangung turu, nakugincirik gulingku, kualleanna, tallanga natoalia. (Tidak begitu saja ikut angin burutan, dan kemudian saya putar kemudikan, lebih baik tenggelam, dari pada balik haluan). Bangung turuk, adalah istilah pelayaran yang berarti angin buritan. Demikian pula dalam ungkapan Makassar berbunyi : Bajikanngangi mateya ri pakrasanganna taua nakanre gallang-gallang na ammotere natena wassekna (lebih mati di negeri orang dimakan cacing tanah, daripada pulang tanpa hasil, akibatnya akan dicemoohkan oleh masyarakat di daerahnya, tapi kalau ia menjulang sukses, maka ia dapat dijadikan sebagai teladan bagi masyarakat lainnya) Jenis sirik yang ketiga adalah sirik yang bisa berakibat kriminal. Sirik seperti ini misalnya menempeleng seseorang di depan orang banyak, menghina dengan kata-kata tidak enak didengar dan sebagainya tamparan itu dibalasnya dengan tamparan pula sehingga terjadi perkelahian yang bisa berakibat pembunuhan. Ada anggapan orang luar bahwa orang Makassar itu Pabbambangangi na tolo (pemarah lagi bodoh). Anggapan seperti ini bagi orang Makassar tidaklah sepenuhnya benar, karena tindakan balasan yang dilakukannya bukan karena mereka bodoh, akan tetapi sematamata ingin membela harga dirinya. Adalah lebih bodoh bila dipermukaan di muka umum lantas diam saja tanpa ada tindakan apa-apa. Yang jelas, memang marah karena harga dirinya direndahkan di depan umum, tapi bukan brarti bodoh. Jika orang Makassar merasa harga dirinya direndajkan, jelas mereka akan mengambil tindakan pada orang yang mempermalukan itu. Ada ungkapan orang Makassar Eja tonpi seng na doang (nanti setelah merah, beru terbukti udang) maksudnya kalau siriknya orang Makassar dilanggar, tindakan untuk menegakkan sirik itu tidaklah dipikirkan akibatnya dan nati selesai baru diperhitungkan. Ungkapan inilah yang mendorong orang Makassar untuk menjaga kehormatan diri Jenis sirik yang keempat adalah sirik yang berarti malu-malu. Sirik semacam ini sebenarnya dapat berakibat ngatifnya bagi seseorang, tapi ada juga positifnya. Misalnya yang ada akibat negatifnya ialah bila seseorang disuruh tampil di depan umum untuk jadi protokol, tetapi tidak mau dengan alasan sirik-sirik. Ini dapat berakibat menhalangi bakat seseorang untuk berani tampil di depan umum. Sebaliknya akibat positif dari sirik-sirik ini, misalnya ada seseorang disuruh untuk mencuri ayam, lalu dia tidak mau dengan alasan sirik-sirik bilamana ketahuan oleh tetangganya

48

Istilah Pacce Pacce secara harfiah bermakna perasaan pedih dan perih yang dirasakan meresap dalam kalbu seseorang karena melihat penderitaan orang lain. Pacce ini berfungsi sebagai alat penggalang persatuan, solidaritas, kebersamaan, rasa kemanusiaan, dan memberi motivasi pula untuk berusaha, sekalipun dalam keadaan yang sangat pelik dan berbahaya. 9) Dari pengertian tersebut, maka jelasnya bahwa pacce itu dapat memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa, membina solidaritas antara manusia agar mau membantu seseorang yang mengalami kesulitan. Sebagai contoh, seseorang mengalami musibah, jelas masyarakat lainnya turut merasakan penderitaan yang dialami rekannya itu. Segera pada saat itu pula mengambil tindakan untuk membantunya, pakah berupa materi atau nonmateri. Antara sirik dan pacce ini keduanya saling mendukung dalam meningkatkan harkat dan martabat manusia, namun kadang-kadang salah satu dari kedua falsafah hidup tersebut tidak ada, martabat manusia tetap akan terjaga, tapi kalau kedua-duanya tidak ada, yang banyak adalah kebinatangan. Ungkapan orang Makassar berbubyi Ikambe Mangkasaraka punna tena sirik nu, pacce seng nipak bula sibatangngang10) (bagi kita orang Makassar kalau bukan sirik, paccelah yang membuat kita bersatu). FALSAFAH SIPAKATAU Sesungguhnya budaya Makassar mengandung esensi nilai luhur yang universal, namun kurang teraktualisasi secara sadar dan dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Kalau kita menelusuri secara mendalam, dapat ditemukan bahwa hakikat inti kebudayaan Makassar itu sebenarnya adalah bertitik sentral pada konsepsi mengenai tau (manusia), yang manusia dalam konteks ini, dalam pergaulan sosial, amat dijunjung tinggi keberadaannya. Dari konsep tau inilah sebagai esensi pokok yang mendasari pandangan hidup orang Makassar, yang melahirkan penghargaan atas sesama manusia. Bentuk penghargaan itu dimanifestasikan melalui sikap budaya sipakatau. Artinya, saling memahami dan menghargai secara manusiawi. Dengan pendekatan sipakatau, maka kehidupan orang Makassar dapat mencapaui keharmonisan, dan memungkinkan segala kegiatan kemasyarakatan berjalan dengan sewajarnya sesuai hakikat martabat manusia. Seluruh perbedaan derajat sosial tercairkan, turunan bangsawan dan rakyat biasa, dan sebagainya. Yang dinilai atas diri seseorang adalah kepribadiannya yang dilandasi sifat budaya manusiawinya.

49

Sikap Budaya Sipakatau dalam kehidupan orang Makassar dijabarkan ke dalam konsepsi Sirik na Pacce. Dengan menegakkan prinsip Sirik na Pacce secara positif, berarti seseorang telah meneapkan sikap Sipakatau dalam kehidupan pergaulan kemasyarakatan. Hanya dalam lingkunagn orang-orang yang menghayati dan mampu mengamalkan sikap hidup Sipakatau yang dapat secara terbuka saling menerima hubungan kekerabatan dan kekeluargaan. Sipakatau dalam kegiatan ekonomi, sangat mencela adanya kegiatan yang selalu hendak annunggalengi (egois), atau memonopoli lapangan hidup yang terbuka secara kodrati bagi setiap manusia. Azas Sipakatau akan menciptakan iklim yang terbuka untuk saling sikatallassi (saling menghidupi), tolong-menolong, dan bekerjasama membangun kehidupan ekonomi masyarakat secara adil dan merata. Demikianlah Sipakatau menjadi nilai etika pergaualan orang Makassar yang patut diaktualisasikan di segala sektor kehidupan. Di tengah pengaruh budaya asing cenderung menenggelamkan penghargaan atas sesama manusia, maka sikap Sipakatau merupakan suatu kendali moral yang harus senantiasa menjadi landasan. Hal itu meningkatkan budaya Sipakatau juga merupakan yuntunan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan azas Pancasila, terutama Sila Ketiga yaitu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

50

BAB IV SISTEM PERNIKAHAN BUGIS DAN KEMASYARAKATAN Perkawinan yang ideal dalam adat Bugis-Makassar 1. Assialang marola/passialeang bajina, perkawinan antara saudara sepupu derajat satu baik dari pihak ayah maupun ibu 2. Assialanna memang/passialleanna, perkawinan antara saudara sepupu sederajat kedua, baik dari pihak ayah maupun ibu 3. Ripaddeppemabelae/nipakambani bellaya, perkawinan antara saudara sepupu derajat ketiga juga dari kedua belah pihak.

Hal diatas bukanlah suatu kewajiban bagi para pemuda/pemudi sehingga banyak juga yang menikah dengan lelaki/gadis diluar saudara sepupunya. Adapun perkawinan yang dilarang yaitu 1. Antara anak dengan ibu/ayah 2. Antara saudara-saudara sekandung 3. Antara menantu dengan mertua 4. Antara paman/bibi dengan keponakannya 5. Antara kakek/nenek dengan cucunya

Deretan kegiatan dalam perkawinan yang dilangsungkan secara adat 1. Mapucce-pucce/akkuisissing, kunjungan keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan untuk memeriksa apakah peminangan dapat dilakukan atau tidak. Mappaccing adalah salah satu prosesi yang dilakukan pada malam menjelang pernikahan, dan dikhususkan pada pengantin puteri. Pada prosesi ini yang mirip Midodareni pada adat Jawa, seorang pengantin puteri dangan tangan bersimpuh mengahadap keatas, akan ditempeli pacar dikedua tangannya, teriring doa yang diucapkan oleh para kerabatnya yang telah berkeluarga, pun juga nasehat-nasehat tentang pernikahan. Paccing sendiri berasal dari kata Paccing yang berarti pacar, memiliki arti pula sebagai penyucian. Penyucian disini

51

memiliki arti penyucian sang gadis yang telah tumbuh sebagai wanita dewasa yang akan melangsungkan pernikahan, agar beroleh keselamatan,pun kesejahteraan dalam mengarungi kehidupan berumah tangga kelak. Pacar diibaratkan sebagai alat untuk menyucikan atau membersihkan diri sang anak gadis atau anak dara dalam istilah sananya, dari hal-hal yang bersifat kekotoran, baik secara fisik maupun batin, secara fisik disimbolkan dengan penorehan pacar itu sendiri, adapun secara batin, karena dalam prosesi ini kental dengan nuansa religius, dimana pada saat menorehkan pacar, sang penoreh akan berdoa demi keselamatan dan kebahagiaan sang anak gadis, pun terkadang memberikan wejangan-wejangan seputar hidup berumah tangga dalam kalimat singkat. 2. Massuro/assuro, mengunjungi setelah mapucce-pucce positif maka utusan pihak laki-laki

pihak

perempuna

untuk

memastikan

waktu

pernikahan,

maskawin/sunreng, belanja perkawinan, penyelenggaraan pestanya dan sebagainya. Jika tercapai kesepakatan, maka masing-masing keluarga melakukan maduppa 3. Maduppa/ammuntuli, pemberitahuan kepada semua kaum kerabat mengenai

pernikahan yang akan dating

Hari pernikahan dimulai dengan mappaenrebalanja/apannai leko, yaitu prosesi dari pihak mempelai laki-laki disertai rombongan kaum kerabat, membawa macam-macam makanan, pakaian wanita dan maskawin. Sampai di rumah mempelai wanita dilangsungkan upacara pernikahan, yang dilanjutkan dengan pesta perkawinan atau aggaukeng/pagaukang. Pada pesta ini para tamu undangan memberi memberi kado atau uang sebagai sumbangan(soloreng) Beberapa hari kemudian pengantin baru mengunjungi keluarga pihak laki-laki dan tinggal selama beberapa lama. Pihak istri harus memberi hadiah kesemua anggota keluarga pihak suami. Hal yang sama dilakukan pihak suami ketika berkunjung ke keluarga pihak istri. Setelah beberapa lama barulah mereka dapat menempati rumah mereka sendiri sebagai Nalaoanni Alena/Naentengammi Kalenna. Hal itu berarti bahwa mereka sudah membentuk rumah tangga mereka sendiri. Selain itu, juga ada acara Pabbaji,Rombongan Erang-erang, Passompa, dan sebagainya. Selain itu para peserta TIME juga disuguhi aneka makanan tradisional dari Makassar. Pabbajikang Ini adalah dimana mempelai pria dan wanita disatukan dalam satu sarung. prosesi ini diberi nama pabbajikang. Yaitu prosesi yang mempertemukan kedua mempelai untuk pertama

52

kalinya sebelum bersanding di pelaminan. Pabbajikang melambangkan status antara mempelai wanita dan pria yang sudah halal untuk satu sama lain. Biasanya salah satu orang yang dituakan seperti dalam gambar [yang memakai baju putih-red] membimbing kedua mempelai untuk menyentuh bagian tertentu seperti ubun-ubun, pipi dan bahu. dalam adat bugis, prosesi ini dinamakan Mappasikarawa. Rombongan Erang-erang Iring-iringan pengantin dalam baju bodo kuning yang bersiap menuju kediaman mempelai wanita. Masing-masing membawa hadiah yang akan diberikan sebagai persembahan atau erang-erang untuk pengantin wanita. Biasanya erang-erang tersebut berisi seperangkat alat sholat, sepatu, emas, kosmetik dan sebagainya. Rombongan gadis pembawa erang-erang umumnya terdiri dari 12 orang gadis remaja dan dikawal oleh keluarga pengantin pria. Passompa. Passompa adalah salah satu bagian penting dalam prosesi perkawinan. Passompa berarti dipanggulnya salah seorang anggota keluarga mempelai wanita yang termuda.

Selain itu, Istilah lain dalam pernikahan seperti Silariang : kawin lari, terjadi karena standar belanja perkawinan yang terlalu tinggi sehinnga pihak laki-laki tidak mampu memenuhinya. Tomasiri : para kerabat yang mengejar pasangan yang melakukan silariang, ada kemungkinan pihak laki-laki akan dibunuh jika tertangkap. Maddeceng : pihak perempuan menerima kembali pasangan yang melakukan silariang Sistem kemasyarakatan Stratifikasi sosial lama Menurut H.J.Friedriecy dulu ada tiga lapisan pokok dalam masyarakat Bugis-Makassar dalam buku kesusastraan La Galigo yaitu

53

1. Anakarung/Anakaraeng, lapisan kaum kerabat raja-raja 2. To-Maradeka/Tu-Mara-Deka, lapisan orang merdeka yang merupakan sebagian besar dari rakyat Sulawesi selatan 3. Ata, lapisan budak yaitu orang-orang yang ditangkap dalam peperangan, orang yang tidak dapat membayar hutang, atau orang yang melanggar pantangan adat Setelah diteliti lebih lanjut ternyata menurut Friedriech pada awalnya hanya ada 2 lapisan dalam masyarakat Bugis-Makassar tetapi karena perkembangan organisasi-organisasi pribumi maka terbentuklah lapisan yang ketiga yaitu lapisan Ata. Pada awal abad ke 20 lapisan Ata mulai hilang karena desakan kolonial yang melarangnya dan juga karena desakan agama. Sesudah perang dunia ke 2, arti dari perbedaan lapisan Ana Karung dan To Maraeka dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar mulai berkurang dengan cepat. Adapun gelargelar Ana Karung seperti Karaeta, Puanta, Andi dan Daeng walaupun masih sering dipakai toh tidak lagi mempunyai arti seperti dulu dan sekarang malah sering dengan sengaja diperkecilkan artinya dalam proses sosialisasi dan dalam demokratisasi dalam masyarakat Indonesia. Stratifikasi sosial lama sering dianggap sebagai hambatan untuk kemajuan namun suatu stratifikasi sosial yang baru yang condong untuk berkembang atas dasar tinggi rendahnya pangkat dalam sistem birokrasi kepegawaian, atau dasar pendidikan sekolah, belum juga berkembang dan mencapai wujud yang mantap. Suatu hal yang nyata adalah bahawa sikap ketaatan lahir kepada pemimpin sebagai bentuk rasa takut dan curiga terhadap tindakantindakan kekerasan militer yang telah diderita rakyat Sulawesi Selatan sejak zaman Jepang sampai sekarang. Yang perlu ditumbuhkan secepatnya adalah suatu sikap ketaatan baik lahir maupun batin yang tumbuh dari rasa kepercayaan kepada penguasa yang sejauh mungkin menghindarkan tindakan-tindakan kekerasan dan tekanan kepada masyarakat.

54

BAB V PRODUK BUDAYA A. Bahasa Bahasa Makasar, juga disebut sebagai bahasa Makassar atau Mangkasara' adalah bahasa yang digunakan penduduk Sulawesi Selatan. Bahasa ini mempunyai abjadnya sendiri, yang disebut Lontara, namun sekarang banyak juga ditulis dengan menggunakan huruf Latin. Huruf Lontara berasal dari huruf Brahmi kuno dari India. Seperti banyak turunan dari huruf ini, masing-masing konsonan mengandung huruf hidup "a" yang tidak ditandai. Hurufhuruf hidup lainnya diberikan tanda baca di atas, di bawah, atau di sebelah kiri atau kanan dari setiap konsonan. Beberapa contoh kata atau ungkapan dalam bahasa Makassar dalam huruf Latin:

balla' = rumah; bulu = bulu/rambut; bambang = hangat/panas; cipuru' = lapar; doe' = uang; iyo = ya; jappa-jappa = jalan-jalan; lompo = besar; sallo = panjang; tabe' = permisi; tena = tidak; karaeng = raja; apa kareba? = apa kabar?; lakko mae? = mau ke mana?; battu kko mae? = dari mana? motere` = Pulang ngandre = makan

Bahasa Bugis Di bawah ini adalah contoh huruf yang digunakan dalam bahasa bugis

55

B. Makanan Coto Makassar atau Coto Mangkasara Coto Makassar atau Coto Mangkasara adalah makanan tradisional Makassar, Sulawesi Selatan. Makanan ini terbuat dari jeroan (isi perut) sapi yang direbus dalam waktu yang lama. Rebusan jeroan bercampur daging sapi ini kemudian diiris-iris lalu dibumbui dengan bumbu yang diracik secara khusus. Coto dihidangkan dalam mangkuk dan dimakan dengan ketupat dan "burasa". Saat ini Coto Mangkasara sudah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, mulai di warung pinggir jalan hingga restoran. pokoknya bagi kalian yg pernah berkunjung). ke makassar sepertinya adanya yang kurang kalo tidak makan Coto Makassar....... Jalan kote Salah satu kue yang sangat khas dari sini yaitu jalan(g)kote. Kalau di tempat lain, biasanya di sebut pastel.Kue ini salah satu ciri khas makassar yang terkenal bahkan banyak orang yang berkunjung ke makassar selalu melampirkan jalan kote dalam daftar oleh-oleh mereka. "walaupun didaerah lain banyak kue yang mirip jalan kote ini ,tapi saya lebih suka jalan kote (pastel) dari makassar" kata cici anak Jakarta yang sedang liburan ke makassar . Kapurung Kapurung adalah salah satu makanan khas tradisional di Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat daerah Luwu (Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur) Makanan ini terbuat dari sari atau tepung sagu. Di daerah Maluku dikenal dengan nama Papeda. Kapurung dimasak dengan campuran ikan atau daging ayam dan aneka sayuran. Meski makanan tradisional, Kapurung mulai populer. Selain ditemukan di warung-warung khusus di Makassar juga telah masuk ke beberapa restoran, bersanding dengan makanan modern.Di daerah Luwu sendiri nama kapurung ini sering juga di sebut bugalu

56

Pacco Pacco', adalah salah satu makanan tradisional penduduk Sulawesi Selatan di daerah pesisir pantai, karena bahan utama makanan ini adalah makanan dari laut yang masih segar. Mungkin pembaca bisa membayangkan kalau makanan ini sebanding dengan makanan sushidan sashimi dari Jepang. Ikan teri, udang dan sejenisnya merupakan bahan utama, di campur dengan lemon, parutan kelapa yang di bakar, garam dan cabe rawit Sup konro Sup Konro merupakan salah satu masakan asli Indonesia yang berasal dari tradisi Bugis dan Makassar. Masakan berkuah warna coklat kehitaman ini biasa dimakan dengan ketupat kecil yang dipotong-potong terlebih dahulu. Warna gelap ini berasal dari buah kluwek yang memang berwarna hitam. Bumbunya relatif "kuat" akibat digunakannya ketumbar. Sup ini biasanya juga dibuat dengan daging sapi SOP SAUDARA Masakan khas daerah yang berupa sop berkuah dengan bahan-bahan dasar seperti daging sapi/kerbau yang dimasak dengan aneka bumbu dan disajikan bersama nasi putih atau ketupat dengan Ikan Bakar sebagai tambahan lauknya PISANG EPE' Makanan khas daerah yang terbuat dari pisang kepok yang mengkal, dibakar dan dipipihkan. Pisang Epe' disajikan dengan kuah air gula merah yang biasanya telah dicampur dengan durian atau nangka yang aromanya dapat membangkitkan selera. ES PALLU BUTUNG Terbuat dari pisang yang sudah dipotong-potong, dimasak dengan santan yang diberi tepung terigu, gula pasir, vanili, serta sedikit garam dan disajikan dengan es serut dan sirop merah.

57

ES PISANG HIJAU Terbuat dari pisang raja, dibungkus dengan tepung terigu yang sudah diberi santan dan air daun pandan sebagai pewarna dang pengharum sehingga berwarna hijau, disajikan dengan saus yang diberi BARONGKO es serut dan sirop.

Barongko adalah makanan penutup khas daerah BugisMakassar yang dibuat dari buah Pisang Kepok matang yang dikukus dengan daun pisang. Dahulu paada masa pemerintahan kerajaan di Sulawesi Selatan, Barongko merupakan makanan penutup yang mewah, dan hanya disajikan untuk Raja-raja, dan disajikan pada moment-moment tertentu, seperti acara perkimpoian, ulang tahun, dan lain. lain. Untuk menambah cita rasa dan selera, bahan dasar Barongko biasanya ditambah dengan irisan buah Nangka atau Kelapa muda. PARIA KAMBU, Salah satu jenis sayuran yang cukup unik adalah sayur Pare. Selain bentuknya yang unik, panjang dengan kulit yang kasar seperti berduri, rasanya juga pahit dan sedikit berbeda dengan rasa sayur pada umumnya. Pare dalam bahasa latinnya disebut Momordica charabtia memang kurang menarik disebabkan rasa pahitnya tersebut. Tidak semua orang menyukainya. Tanaman satu ini memang pahit. Tapi, di balik rasa pahit itu ternyata tersimpan sejuta manfaat untuk kesehatan. Coba perhatikan kandungan kimia yang terdapat pada tanaman pare. Buahnya mengandung albiminoid, karbohidrat, dan zat warna, daunnya mengandung momordisina, momordina, karantina, resin, dan minyak lemak, sementara akarnya mengandung asam momordial dan asam oleanolat. Bijinya mengandung saponin, alkaloid, triterprenoid, dan asam momordial. PALLUMARA BANDENG

58

Pallumara bandeng, salah satu olahan ikan khas Bugis Makassar. Ada semacam pameo bahwa orang Bugis Makassar memang tidak bisa dipisahkan dengan ikan. Ikan dan berbagai jenis olahannya memang menjadi santapan khas Bugis Makassar. Makan tanpa ikan ibaratnya belum lengkap, bahkan terkadang dianggap belum makan. Setiap hari di meja makan sebagian besar orang Bugis Makassar bisa kita temukan binatang laut ini terhidang. Tak peduli dibakar, dimasak, atau digoreng. Yang penting makan harus dengan ikan. Selain makanan/kue khas daerah Makassar tersebut diatas, masih banyak lagi makanan dan kue-kue tradisional khas daerah Bugis-Makassar, seperti Cucuru Bayao, Biji Nangka, Bolu Peca, Roko'-roko' Cangkuni dan lain sebagainya C. la galigo La Galigo adalah epik terpanjang di dunia. Epik ini tercipta sebelum epik Mahabharata. Isinya sebagian terbesar berbentuk puisi yang ditulis dalam bahasa Bugis kuno. Epik ini mengisahkan tentang Sawerigading, seorang pahlawan yang gagah berani dan juga perantau. La Galigo bukanlah teks sejarah karena isinya penuh dengan mitos dan peristiwaperistiwa luar biasa. Namun demikian, epik ini tetap memberikan gambaran kepada sejarahwan mengenai kebudayaan Bugis sebelum abad ke-14. Sebagian manuskrip La Galigo dapat ditemui di perpustakaan-perpustakaan di Eropa, terutama di Perpustakaan Koninkelijk Instituut Taal Land en Volkenskundig Leiden di Belanda. Terdapat juga 600 muka surat tentang epik ini di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, dan jumlah mukasurat yang tersimpan di Eropa dan di yayasan ini adalah 6000 tidak termasuk simpanan oleh pribadi-pribadi. Isi hikayat La Galigo Epik ini dimulai dengan penciptaan dunia. Ketika dunia ini kosong (merujuk kepada Sulawesi Selatan), Raja Di Langit, La Patiganna, mengadakan suatu musyawarah keluarga dari beberapa kerajaan termasuk Senrijawa dan Peretiwi dari alam gaib dan membuat keputusan untuk melantik anak lelakinya yang tertua, La Toge' langi' menjadi Raja Alekawa (Bumi) dan memakai gelar Batara Guru. La Toge' langi' kemudian menikah dengan sepupunya We Nyili'timo', anak dari Guru ri Selleng, Raja alam gaib. Tetapi sebelum Batara Guru dinobatkan sebagai raja di bumi, ia harus melalui suatu masa ujian selama 40 hari, 40 malam. Tidak lama sesudah itu ia turun ke bumi, yaitu di Ussu', sebuah daerah di Luwu', sekarang wilaya Luwu Timur dan terletak di Teluk Bone.

59

Batara Guru kemudian digantikan oleh anaknya, La Tiuleng yang memakai gelar Batara Lattu'. Ia kemudian mendapatkan dua orang anak kembar yaitu Lawe atau La Ma'dukelleng atau Sawerigading (Putera Ware') dan seorang anak perempuan bernama We Tenriyabeng. Kedua anak kembar itu tidak dibesarkan bersama-sama. Sawerigading ingin menikahi We Tenriyabeng karena ia tidak tahu bahwa ia masih mempunyai hubungan darah dengannya. Ketika ia mengetahui hal itu, ia pun meninggalkan Luwu' dan bersumpah tidak akan kembali lagi. Dalam perjalannya ke Kerajaan Tiongkok, ia mengalahkan beberapa pahlawan termasuklah pemerintah Jawa Wolio yaitu Setia Bonga. Sesampainya di Tiongkok, ia menikah dengan putri Tiongkok, yaitu We Cudai. Sawerigading digambarkan sebagai seorang kapten kapal yang perkasa dan tempattempat yang dikunjunginya antara lain adalah Taranate (Ternate di Maluku), Gima (diduga Bima atau Sumbawa), Jawa Rilau' dan Jawa Ritengnga, Jawa Timur dan Tengah), Sunra Rilau' dan Sunra Riaja (kemungkinan Sunda Timur dan Sunda Barat) dan Melaka. Ia juga dikisahkan melawat surga dan alam gaib. Pengikut-pengikut Sawerigading terdiri dari saudara-maranya dari pelbagai rantau dan rombongannya selalu didahului oleh kehadiran tamu-tamu yang anehaneh seperti orang bunian, orang berkulit hitam dan orang yang dadanya berbulu. Sawerigading adalah ayah I La Galigo (yang bergelar Datunna Kelling). I La Galigo, juga seperti ayahnya, adalah seorang kapten kapal, seorang perantau, pahlawan mahir dan perwira yang tiada bandingnya. Ia mempunyai empat orang istri yang berasal dari pelbagai negeri. Seperti ayahnya pula, I La Galigo tidak pernah menjadi raja. Anak lelaki I La Galigo yaitu La Tenritatta' adalah yang terakhir di dalam epik itu yang dinobatkan di Luwu'. Isi epik ini merujuk ke masa ketika orang Bugis bermukim di pesisir pantai Sulawesi. Hal ini dibuktikan dengan bentuk setiap kerajaan ketika itu. Pemukiman awal ketika itu berpusat di muara sungai dimana kapal-kapal besar boleh melabuh dan pusat pemerintah terletak berdekatan dengan muara. Pusat pemerintahannya terdiri dari istana dan rumah-rumah para bangsawan. Berdekatan dengan istana terdapat Rumah Dewan (Baruga) yang berfungsi sebagai tempat bermusyawarah dan tempat menyambut pedagang-pedagang asing. Kehadiran pedagang-pedagang asing sangat disambut di kerajaan Bugis ketika itu. Setelah membayar cukai, barulah pedagang-pedagang asing itu boleh berniaga. Pemerintah selalu berhak berdagang dengan mereka menggunakan sistem barter, diikuti golongan bangsawan dan kemudian rakyat jelata. Hubungan antara kerajaan adalah melalui jalan laut dan golongan muda bangsawan selalu

60

dianjurkan untuk merantau sejauh yang mungkin sebelum mereka diberikan tanggung jawab. Sawerigading digambarkan sebagai model mereka

Ringkasan silsilah La Galigo

La Galigo di Sulawesi Tengah Nama Sawerigading I La Galigo cukup terkenal di Sulawesi Tengah. Hal ini membuktikan bahwa kawsan ini mungkin pernah diperintah oleh kerajaan purba Bugis yaitu Luwu'. Sawerigading dan anaknya I La Galigo bersama dengan anjing peliharaanya, Buri, pernah merantau mengunjungi lembah Palu yang terletak di pantai barat Sulawesi. Buri, yang digambarkan sebagai seekor binatang yang garang, dikatakan berhasil membuat mundur laut ketika I La Galigo bertengkar dengan Nili Nayo, seorang Ratu Sigi. Akhirnya, lautan berdekatan dengan Loli di Teluk Palu menjadi sebuah danau iaitu Tasi' Buri' (Tasik Buri). Berdekatan dengan Donggala pula, terdapat suatu kisah mengenai Sawerigading. Bunga Manila, seorang ratu Makubakulu mengajak Sawerigading bertarung ayam. Akan tetapi, ayam Sawerigading kalah dan ini menyebabkan tercetusnya peperangan. Bunga Manila kemudian meminta pertolongan kakaknya yang berada di Luwu'. Sesampainya tentara Luwu', kakak Bunga Manila mengumumkan bahwa Bunga Manila dan Sawerigading adalah bersaudara dan hal ini mengakhiri peperangan antara mereka berdua. Betapapun juga, Bunga Manila masih menaruh dendam dan karena itu ia menyuruh anjingnya, Buri (anjing hitam), untuk mengikuti

61

Sawerigading. Anjing itu menyalak tanpa henti dan ini menyebabkan semua tempat mereka kunjungi menjadi daratan. Kisah lain yang terdapat di Donggala ialah tentang I La Galigo yang terlibat dalam adu ayam dengan orang Tawali. Di Biromaru, ia mengadu ayam dengan Ngginaye atau Nili Nayo. Ayam Nili Nayo dinamakan Calabae sementara lawannya adalah Baka Cimpolo. Ayam I La Galigo kalah dalam pertarungan itu. Kemudian I La Galigo meminta pertolongan dari ayahnya, Sawerigading. Sesampainya Sawerigading, ia mendapati bahwa Nili Nayo adalah bersaudara dengan I La Galigo, karena Raja Sigi dan Ganti adalah sekeluarga. Di Sakidi Selatan pula, watak Sawerigading dan I La Galigo adalah seorang pencetus tamadun dan inovasi La Galigo di Sulawesi Tenggara Ratu Wolio pertama di Buntung di gelar Wakaka, dimana mengikut lagenda muncul dari buluh (bambu gading). Terdapat juga kisah lain yang menceritakan bahwa Ratu Wolio adalah bersaudara dengan Sawerigading. Satu lagi kisah yang berbeda yaitu Sawerigading sering ke Wolio melawat Wakaka. Ia tiba dengan kapalnya yang digelar Halmahera dan berlabuh di Teluk Malaoge di Lasalimu. Di Pulau Muna yang berdekatan, pemerintahnya mengaku bahwa ia adalah adalah keturunan Sawerigading atau kembarnya We Tenriyabeng. Pemerintah pertama Muna yaitu Belamo Netombule juga dikenali sebagai Zulzaman adalah keturunan Sawerigading. Terdapat juga kisah lain yang mengatakan bahwa pemerintah pertama berasal dari Jawa, kemungkinan dari Majapahit. Permaisurinya bernama Tendiabe. Nama ini mirip dengan nama We Tenyirabeng, nama yang di dalam kisah La Galigo, yang menikah dengan Remmangrilangi', artinya, 'Yang tinggal di surga'. Ada kemungkinan Tendiabe adalah keturunan We Tenyirabeng. Pemerintah kedua, entah anak kepada Belamo Netombule atau Tendiabe atau kedua-duanya, bernama La Patola Kagua Bangkeno Fotu. Sementara nama-nama bagi pemerintah awal di Sulawesi Tenggara adalah mirip dengan nama-nama di Tompoktikka, seperti yang tercatat di dalam La Galigo. Contohnya Baubesi (La Galigo: Urempessi). Antara lainnya ialah Satia Bonga, pemerintah Wolio(La Galigo: Setia Bonga). La Galigo di Gorontalo

62

Legenda Sawerigading dan kembarnya, Rawe, adalah berkait rapat dengan pembangunan beberapa negeri di kawasan ini. Mengikut legenda dari kawasan ini, Sarigade, putera Raja Luwu' dari negeri Bugis melawat kembarnya yang telah hidup berasingan dengan orangtuanya. Sarigade datang dengan beberapa armada dan melabuh di Tanjung Bayolamilate yang terletak di negeri Padengo. Sarigade mendapat tahu bahwa kembarnya telah menikah dengan raja negeri itu yaitu Hulontalangi. Karena itu bersama-sama dengan kakak iparnya, ia setuju untuk menyerang beberapa negeri sekitar Teluk Tomini dan membagi-bagikan kawasankawasan itu. Serigade memimpin pasukan berkeris sementara Hulontalangi memimpin pasukan yang menggunakan kelewang. Setelah itu, Sarigade berangkat ke Tiongkok untuk mencari seorang gadis yang cantik dikatakan mirip dengan saudara kembarnya. Setelah berjumpa, ia langsung menikahinya. Terdapat juga kisah lain yang menceritakan tentang pertemuan Sawerigading dengan Rawe. Suatu hari, Raja Matoladula melihat seorang gadis asing di rumah Wadibuhu, pemerintah Padengo. Matoladula kemudian menikahi gadis itu dan akhirnya menyadari bahwa gadis itu adalah Rawe dari kerajaan Bugis Luwu'. Rawe kemudiannya menggelar Matoladula dengan gelar Lasandenpapang. D. Perahu sandeq Proses pembuatan sebuah perahu sandeq yang dimulai dengan prosesi penebangan kayu, berlangsung di Bambangloka, Kabupaten Mamuju Utara, sekitar 700 kilometer utara Makassar. Peristiwa seperti ini sulit ditebak kapan waktunya akan terjadi. Berbeda dengan jenis perahu kayu berukuran besar, misalnya pinisi dan lambo, perahu sandeq tidak menggunakan balok lunas. Sandeq dan perahu kayu kecil lainya berlunaskan kayu gelondongan yang dikeruk, mirip sampan. Kayu yang telah dikeruk tersebut kemudian diberi papan penyusun 2-3 lembar, sesuai dengan kedalaman yang diinginkan. Artinya, sandeq mempunyai kekhasan dalam pembuatannya: dikerjakan oleh dua ahli perkayuan yang mengerti tentang pembuatan perahu; dan dikerjakan di dua tempat, hutan dan pesisir. Ahli perkayuan yang mengerti tentang pembuatan perahu yang pertama adalah ahli mengeruk kayu bulat untuk bahan baku perahu. Peralatan mereka tidaklah banyak, hanya mengandalkan kampak besar, cangkul kayu, dan parang. Sedangkan yang kedua adalah tukang perahu pada umumnnya yang bekerja dengan alat-alat yang lebih kompleks: ketam kayu, gergaji, bor, dan lain-lain. Ahli yang pertama bekerja di hutan. Alasannya, memindahkan kayu bulat utuh yang masih basah dari hutan ke pantai dengan mengandalkan kekuatan otot sangat merepotkan. Agar ringan, maka bagian-bagian kayu yang tidak digunakan dibuang: kayu dipotong sesuai panjang perahu yang diinginkan dan kayu dikeruk sampai tebal yang layak untuk sebuah perahu.

63

Karena tidak mungkin menyelesaikan sebuah perahu di dalam hutan, bahan bakunya pun dibawa ke battilang (tempat pembuatan perahu) yang umumnya berada di pesisir. Di sinilah ahli kedua bekerja, yaitu para panrita lopi (tukang perahu). Doa-doa yang dipanjatkan Yang menarik dari kegiatan pengambilan kayu ini adalah adanya mistik, mulai dari penentuan hari hingga beberapa saat sebelum kayu yang telah selesai dikeruk dibawa keluar dari hutan. Kegiatan penebangan kayu dilakukan bertepatan dengan bulan purnama, atau hari ke-15 menurut kalender Hijriah. Tanggal itu adalah waktu baik bila didasarkan pada rumus kuno untuk menentukan waktu baik dan waktu, atau dalam bahasa lokal disebut potika. Adapun waktu untuk melakukan pemotongan adalah ketika matahari menanjak naik (pagi hari), ketika angin sedang berhembus. Dua tanda alam itu dijadikan sebagai ussul, sebuah pengharapan agar perahu itu kelak rezekinya naik, lajunya kencang. Konon, orang-orang Kambunong yang bekerja sebagai pembuat balakang mempunyai ilmu melembekkan kayu. Dalam keadaan tertentu mereka menggunakan ilmu tersebut agar pekerjaannya cepat selesai. Kayu diiris sama mudahnya mengiris batang pohon pisang. Tapi karena ilmu itu ilmu panas, jarang dipraktekkan apalagi untuk bahan baku perahu. Ilmu itu akan membuat perahu cepat rusak. Entahlah, apakah karena adanya ilmu itu, orang-orang Mandar (khususnya yang berasal dari Mamuju) konon dianggap bisa melembekkan kepala manusia. Tidak lama kemudian, pohon tumbang ke arah yang diinginkan. Cara tumbang pohon memperlihatkan tanda calon perahu ini beruntung dan cepat, yaitu melompat. Setelah pohon tumbang, kemudian diambil serpihan kayu lalu dilemparkan serpihan itu ke pohon yang tumbang.. Proses selanjutnya ialah menentukan panjang kayu yang akan dijadikan balakang. Dengan menggunakan kayu yang panjangnya satu depa, Bagian yang akan menjadi haluan perahu adalah bagian bawah pohon. Bagian ini kuat dan daya apungnya bagus. Kemudian bagian atas batang pohon (sisi pohon yang menghadap ke atas) diiris (dibuang). Setelah itu, pengerukan dimulai. Terlebih dahulu dibuat batas-batas yang akan dikeruk di atas sisi pohon yang telah dibuat datar. Pengerukan memakan waktu lima hari, dari pagi sampai sore dengan menggunakan peralatan kampak, parang, dan cangkul kayu.. E. Permainan

"Pua Pua Dede"

64

Permainan tradisional Pua Pua Dede, adalah orangtua (atau bisa siapa aja) tiduran, trus kaki nekuk ke perut, nah di jari2 kaki itu sang anak duduk untuk kemudian kaki orang tua digerakkan naik turun (mirip gerakan senam) sambil melantunkan lagu ini : "Pua Pua Dede... Dede lao passa Passa ta toro-toro Taruang ule bale Ulu bale massa pie Onro tako anre Ucululululul..!" Nah pas bagian syair "ucululululul" itu si anak dijatuhin ke badan orangtua untuk kemudian saling BERPELUKAAAAAAN (hihihhi kek teletubbies). F. Pakaian tradisional

Perlengkapan laki-laki 1. Songkoure cak simbol status sosial Songko ure cak merupakan salah satu unsur kebudayaan yang mengandung nilai-nilai budaya dan sosial. Pembuatan Songkoure Cak secara tidak langsung membentuk watak, sifat dan kepribadian antara lain : ketabahan, ketekunan, kesabaran, ketelitian , kelembutan, daya cipta, perasaan keindahan dan sebagainya. Asal mula Songkoure Cak Secara turun temurun, Songkoure Cak telah menjadi bagian keseharian suku Bugis khususnya di daerah Bone, namun belum mempergunakan emas. Sekitar 1900 an, Songkoure Cak yang memakai lilitan emas (Songko Pamiring Ulaeng) dipergunakan, utamanya oleh bangsawan yang mengaku keturunan langsung dari raja Bone XIV(Matinroe Ri Naga Uleng). Songkopamiring Uleng ini banyak digunakan di daerah Bone utara, barat dan tengah. Di Bone

65

selatan sendiri pemakaiannya tidak terlalu fanatik karena pengaruh dari agama Islam sehingga segala sesuatunya harus dihubungkan dengan ajaran agama. Saat ini pemakaian Songkoure Cak banyak ditemui di pesta-pesta atau upacara adat. Warna dari Songkoure sendiri memiliki arti, topi yang berwarna putih diperuntukkan bagi lelaki yang masih muda sementara yang berwarna hitam diperuntukkan bagi yang sudah tua Fungsi Songkoure Cak Selain sebagai topi sehari-hari, songkoure cak juga berfungsi sebagai pakaian adat di upacara-upacara sebagai berikut Upacara kebesaran, seperti upacara pelantikan raja, penerimaan tamu resmi, pesta rakyat dan sebagainya. Pada upacara-upacara yang demikian, kaum lelaki yang terlibat memakai Songkoure Cak sesuai dengan tingkatan mereka, misalnya pemakaian Songko Pamiring (Bugis)-Nibiring(Makassar) dikhususkan bagi para bangsawan Upacara perkawinan, pelaksana-pelaksana upacara ini baik dari pihak pria maupun wanita harus memakai Songkoure Cak-Pamiring. Demikian pula dengan tamu undangannya, memakai songko sesuai dengan derajatnya masing-masing Pada upacara maccera babua (mappanre to mangideng), yaitu upacara keselamatan bagi perempuan yang sedang hamil muda (mengidam). Dalam upacara seperti ini perempuan yang sedang mengidam harus memakai pakaian pengantin sementara suaminya memakai pakaian adat Bugis-Makassar lengkap dengan songkoure cak pamiring. Fungsi Songkoure Cak lainnya adalah sebagai lambang atau status social yang menunjukkan derajat orang yang memakainya 2. Jas tutup 3. Lipa sabe(sarung sabe)

Perlengkapan wanita 1. Baju bodo 2. Lipa sabe(sarung sabe), terbuat dari sutra

66

3. Perhiasan berupa hiasan pada kepala dan gelang pada tangan

Konon dahulu kala, ada peraturan mengenai pemakaian baju bodo. Masing-masing warna manunjukkan tingkat usia perempuan yang mengenakannya. 1. Warna jingga, dipakai oleh perempuan umur 10 tahun. 2. Warna jingga dan merah darah digunakan oleh perempuan umur 10-14 tahun. 3. Warna merah darah untuk 17-25 tahun. 4. Warna putih digunakan oleh para inang dan dukun. 5. Warna hijau diperuntukkan bagi puteri bangsawan 6. Warna ungu dipakai oleh para janda G. Perahu Pinisi Pinisi adalah kapal layar tradisional khas asal Indonesia, yang berasal dari Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan. Kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang; umumnya digunakan untuk pengangkutan barang antarpulau. Perahu Pinisi telah digunakan oleh pelaut Bugis Makassar sejak ratusan tahun lalu. Di luar Sulawesi selatan, dulu perahu Pinisi lebih dikenal sebagai perahu Bugis, Hal ini disebabkan karena yang menggunakannya kebanyakan orang Bugis atau setidaknya pandai berbahasa Bugis. Walaupun orang Bugis Makassar terkenal sebagai pelaut ulung dengan menggunakan perahu tradisional yang kokoh, tetapi ternyata perahu yang mereka gunakan tersebut dibuat oleh satu komunitas tukang perahu dari Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan. Kecamatan Bontobahari (Ara, Bira, Lemo-lemo/Tanahlemo), kondisi geografisnya berbeda dengan kecamatan lain di bagian utara dan bagian barat Kabupaten Bulukumba. Di kecamatan ini sebagian besar tanahnya terdiri dari bukit kapur yang gersang dan hanya ditumbuhi padang rumput dan semak belukar. Sangat sedikit tanah yang dapat dijadikan lahan pertanian untuk menghidupi warganya. Itulah sebabnya kebanyakan penduduk daerah ini memilih pekerjaan di sektor kebaharian sebagai profesi mereka yaitu bertukang perahu dan pelaut Asal Usul Perahu Pinisi

67

Ada beberapa versi mengenai asal usul perahu pinisi. Versi yang pertama mengatakan bahwa perahu pinisi adalah buatan bangsa Prancis dan Jerman. Hal ini diperkuat oleh adanya tulisan dari peneliti asing mengenai seseorang yang berketurunan Prancis-Jerman yang bernama Martin Perrot yang melarikan diri ke Kuala Trengganu. Di sana ia menikahi seorang gadis Melayu. Di sana ia bekerja sebagai tukang kayu. Pada suatu hari, Raja Trengganu, Sultan Baginda Omar, memerintahkan untuk membuat sebuah perahu yang menyerupai perahu dari negeri Barat. Mendapat perintah itu, ia pun membuat perahu layar yang bertiang dua. Dan, itu mirip dengan perahu pinisi yang ada sekarang. Versi lainnya, khususnya dari daerah Sulawesi Selatan, mengatakan bahwa perahu pinisi sudah ada sekitar abad ke-14 atau 16 Masehi. Dengan demikian berarti sejak waktu itu pula keahlian membuat perahu sudah berkembang. Penggunaan perahu di Sulawesi selatan telah berlangsung sejak dahulu. Menurut beberapa sumber, terdapat beberapa jenis perahu yang dipergunakan masyarakat pesisir. Tetapi perlu diketahui pada umumnya perahu yang mereka gunakan adalah perahu kecil yang dipergunakan untuk menunjang aktifitas mereka sehari-hari. Orang yang pertama membuatnya adalah putera mahkota kerajaan Luwu yang bernama Sawerigading. Tokoh ini merupakan tokoh legendaris dalam Lontarak I La Galigo yang diyakini pertama kali menggunakan perahu yang berukuran besar. Dalam babad tersebut diceritakan bahwa suatu hari, ketika Sawerigading pulang dari pengembaraannya, ia melihat saudara kembarnya, Watenri Abeng, dan jatuh hati kepadanya. Tentu saja hal ini membuat marah ayahnya (Raja Luwu). Untuk menghibur hati Sawerigading, Watenri Abeng menyuruhnya untuk pergi ke negeri Tiongkok, karena di sana konon ada seorang puteri yang wajahnya mirip dengannya. Puteri Tiongkok tersebut bernama We Cudai. Namun, untuk dapat pergi ke sana diperlukan perahu yang tangguh dan kuat. Sementara, Sawerigading tidak memilikinya. Padahal, untuk membuatnya diperlukan kayu yang berasal dari pohon welengreng atau pohon dewata yang adanya di daerah Mangkutu. Celakanya, pohon tersebut dianggap keramat, sehingga tidak ada orang yang berani menebangnya. Untuk itu, diadakanlah upacara besar-besaran yang bertujuan agar penunggu pohon bersedia pindah ke tempat atau pohon lain. Upacara tersebut dipimpin langsung oleh neneknya yang benama La Toge Langi (Batara Guru). Konon, setelah pohon welengreng tumbang, pembuatan perahu dibantu oleh neneknya dan dilakukan secara magis di dalam perut bumi. Ketika perahu sudah jadi, Sawerigading pun berangkat ke negeri Tiongkok. Ia bersumpah tidak akan kembali ke Luwu. Singkat ceritera, Sawerigading berhasil mempersunting Puteri We Cundai dan tinggal di negeri Tiongkok. Setelah lama di sana, ia rindu pada tanah kelahirannya. Dan, suatu hari ia berlayar menuju Luwu. Namun, ketika perahu hendak berlabuh di pantai Luwu, tiba-tiba ada gelombang besar yang menghantamnya, sehingga pecah. Kepingan-kepingannya terdampar di beberapa tempat. Sebagian badannya terdampar di pantai Ara, tali temali dan layar perahu

68

terdampar di daerah Tanjung Bira, dan lunas perahu terdampar di daerah Lemo-Lemo. Dan, oleh orang-orang yang tinggal di ketiga daerah tersebut, kepingan-kepingan tadi disusun kembali, sehingga ada kepercayaan bahwa nenek moyang merekalah yang merekonstruksi perahu milik Sawewigading yang kemudian dikenal sebagai pinisi. Demikianlah, sehingga keturunannya mewarisi keahlian-keahlian tertentu dalam pembuatan, bahkan mengemudi pinisi. Dalam konteks ini, orang Ara ahli dalam membuat tubuh dan bentuk perahu; orang Lemo-lemo ahli dalam finishing perahu; dan orang Tanjung Bira ahli mengemudi perahu (nahkoda dan awal perahu). Kekhasan-kekhasan itulah yang kemudian memunculkan ungkapan yang berbunyi:"Panre patangan'na Bira, Paingkolo tu Arayya, Pabingkung tu Lemo Lemoa", artinya "ahli melihat dari Bira, ahli memakai singkolo (alat untuk merapatkan papan) dari Ara, dan ahli menghaluskan dari Tana Lemo". Berdasarkan ungkapan itu, maka banyak orang yang meyakini, khususnya orang Bugis-Makassar, bahwa perahu pinisi yang bagus (sempurna) adalah pinisi yang dibuat oleh orang Ara dan Tana Lemo Pembuatan Perahu Pinisi Pembuatan pinisi dilakukan di sebuah galangan kapal sederhana yang disebut sebagai bantilang, dengan teknik ruling1). Orang yang sangat berperan dalam pembuatan pinisi adalah punggawa (kepala tukang atau tukang ahli). Ia dibantu oleh para sawi (tukang-tukang lainnya) dan calon-calon sawi. Selain itu, dibantu juga oleh tenaga-tenaga yang lain, sehingga secara keseluruhan melibatkan puluhan orang. Sebagai suatu proses, tentunya pembuatan pinisi dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Berikut ini adalah tahap-tahap yang mesti dilakukan dalam pembuatan sebuah perahu yang oleh orang Bugis disebut pinisi. Tana Beru adalah salah satu dimana kemegahan pinisi dilahirkan. Dari Ibu-kota Kecamatan Bon-toba-hari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan - 176 KM dari Ujungpandang atau 23 KM dan Bulu-kumba inilah seka-rang perahu pinisi banyak diproduksi. Para pembuat perahu tradisional ini, yakni: orang-orang Ara dan Bira, yang secara turun temurun mewarisi tradisi kelautan nenek moyangnya. Uapacara ritual juga masih mewarnai proses pembuatan perahu ini, Hari baik untuk mencari kayu biasanya jatuh pada hari ke lima dan ketujuh pada bulan yang berjalan. Angka 5 (naparilimai dallena) yang artinya rezeki sudah ditangan. Sedangkan angka 7 (natujuangngi dallena) berarti selalu dapat rezeki. Setelah dapat hari baik, lalu kepala tukang yang disebut "punggawa" memimpin pencarian. a.Pencarian dan Penebangan Pohon Pohon yang dicari adalah welengreng atau dewata karena kedua jenis pohon tersebut disamping kuat, juga tahan air. Pencariannya pun tidak dilakukan pada sembarang hari, tetapi pada hari-hari tertentu, yaitu hari kelima dan ketujuh pada bulan dimulainya pembuatan perahu. Ini ada kaitannya dengan kepercayaan bahwa angka 5 (naparilimai dallena) oleh orang Tana Beru dianggap sebagai angka yang baik karena mempunyai arti rezeki sudah di tangan.

69

Sedangkan, angka 7 (natujuangngi dallena) berarti selalu mendapat rezeki. Setelah pohon yang memenuhi persyaratan ditemukan, maka penebangan pun dilakukan. Akan tetapi, sebelumnya diadakan semacam upacara persembahan karena jenis pohon itu dipercayai ada penunggunya. Dalam upacara ini, yang dijadikan sebagai korban adalah seekor ayam. Tujuannya adalah agar penunggu pohon tersebut tidak marah dan pindah ke tempat lain, sehingga segala sesuatu yang tidak diinginkan tidak terjadi. Dengan perkataan lain, penebangan dapat berjalan lancar dan selamat. Pohon yang telah ditebang itu kemudian dibawa ke bantilang. b. Pengeringan dan Pemotongan Kayu Sebelum pohon (kayu) dipotong-potong sesuai dengan keinginan, ketika peletakan balok lunas, ada semacam ritual. Dalam konteks ini, balok lunas diletakkan di bawah kayu yang akan dijadikan bahan pembuatan pinisi dan salah satu ujungnya diarahkan (dihadapkan) ke Timur Laut. Ujung balok lunas yang mengarah ke Timur Laut ini merupakan simbol laki-laki. Sedangkan, ujung yang satu lagi yang arahnya berlawanan merupakan simbol perempuan. Sebelum dipotong-potong sesuai dengan keinginan, maka bahan (kayu-kayu) tersebut dikeringkan. Kemudian, kayu yang akan dipotong ditandai dengan pahatan disertai pembacaan doa dengan tujuan agar kayu tersebut dapat berfungsi dengan baik ketika telah menjadi perahu. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam pemotongan adalah mata kampak atau gergaji harus tepat pada arah urat kayu. Selain itu, pemotongan harus sampai selesai (tidak boleh berhenti sebelum kayu terpotong). Dengan cara seperti itu kekuatan kayu tetap terjamin. Sebagai catatan, pemotongan kayu dimulai pada bagian ujung-ujungnya. Salah satu potongan ujungnya dibuang ke laut sebagai penolak bala dan sekaligus sebagai simbol peran laki-laki (suami) yang mencari nafkah di laut. Sedangkan, ujung yang satunya disimpan di rumah sebagai simbol peran perempuan (isteri) yang menunggu suami pulang. c. Perakitan Setelah lunas terbentuk dan dihaluskan, maka langkah berikutnya adalah pemasangan papan pengapit lunas (soting). Pemasangan ini disertai dengan suatu upacara yang disebut kalebiseang. Kemudian disusul dengan pemasangan papan yang ukurannya berbeda-beda (dari bawah ke atas). Papan yang kecil ada di bagian bawah, sedang papan yang besar ada di bagian atas. Keseluruhannya berjumlah 126 buah. Sebagai catatan, sebelum pemasangan dilakukan, ada upacara yang disebut anjerreki, yaitu upacara yang bertujuan untuk memperkuat lunas. Setelah papan tersusun, pekerjaan diteruskan dengan pemasangan buritan dan tempat kemudi bagian bawah. Selanjutnya, badan perahu yang telah terbentuk tetapi masih belum sempurna karena masih banyak sela-selanya, khususnya antarpapan yang satu dengan lainnya, maka sela-sela tersebut perlu ditutup dengan majun. Pekerjaan ini, oleh masyarakat setempat disebut sebagai apanisi. Kemudian, agar sambungan antar papan dapat merekat dengan kuat, maka sambungan-sambungan tersebut diberi perekat yang terbuat dari sejenis kulit pohon barruk.

70

Setelah papan merekat kuat, pekerjaan selanjutnya adalah allepa atau mendempul. Bahannya adalah campuran kapur dan minyak kelapa. Campuran tersebut diaduk oleh sedikitnya enam orang selama sekitar 12 jam. Banyaknya dempul yang diperlukan bergantung dari besar-kecilnya perahu yang dibuat. Untuk perahu yang bobotnya mencapai 100 ton, maka dempul yang diperlukan sekitar 20 kilogram. Selanjutnya, badan perahu yang telah dilapisi dengan dempul itu dihaluskan dengan kulit buah pepaya. Penggunaan bahan-bahan sebagaimana disebut di atas (kulit pohon barruk dan kulit buah pepaya), ada kaitannya dengan mitos penciptaan pinisi yang menggunakan kekuatan magis. Mengacu kepada mitos itu, orang-orang di Tana Beru merasa bahwa komunitas mereka sebagai mikrokosmos, yaitu bagian dari jagad raya (makrokosmos). Hubungan antara kedua kosmos ini diatur oleh tata tertib abadi, sakral, dan telah dilembagakan oleh nenek moyang mereka sebagai adat istiadat. Kedua kosmos ini dijaga harmoninya, sehingga ada kecenderungan mempertahankan yang lama dan menolak atau mencurigai yang baru. Inilah yang kemudian menjadi penyebab mengapa mereka tidak begitu terpengaruh dengan teknologi modern. Pandangan di atas juga berpengaruh pada aktivitas di galangan perahu (bantilang), yang prosesnya diibaratkan bayi dalam kandungan. Hal ini terlihat, misalnya, dalam upacara pemotongan lunas perahu (anatra kalebeseang). Pemotongan dan penyambungan balok-balok yang melambangkan perkawinan (persetubuhan) antara jantan dan betina sebagai janin perahu, kemudian menjadi bayi perahu. Selain itu, ada juga upacara pemberian pusat perahu (pamossi) yang melambangkan saat kelahiran (bayi) perahu ke laut lepas, seperti kelahiran manusia ke dunia dari kandungan ibunya. Dalam hal ini punggawa berperan sebagai ibu dan sekaligus sebagai bidan. Sesuai dengan pandangan kosmos mereka, segala sesuatu dilihat dari segi totalitas yang berkaitan secara organik, sehingga pelanggaran terhadap sebuah pantangan akan berakibat fatal kepada keseluruhan (bayi) perahu yang akan dilahirkan. Pantangan terberat adalah apabila pihak sombali menyakiti hati punggawa. Kalau hal ini terjadi, perahu yang telah dibuat tidak mau bergerak ketika didorong ke laut. Ini disebabkan punggawa (sebagai ibu) tidak rela apabila bayi perahunya diserahkan kepada orang yang telah menyakiti hatinya. Oleh sebab itu, sombalu yang arif akan segera menghubungi sang punggawa untuk melakukan perdamaian. Apabila perahu diluncurkan secara paksa, perahu tersebut akan cacat sesudah sampai di laut. Jadi, ketangguhan perahu di laut bukan saja karena faktor teknis, tetapi juga karena faktor magis (gaib). d. Pemasangan Tiang Layar Setelah badan dan kerangka perahu selesai, maka pekerjaan selanjutnya adalah memasang tiang dan layar. Perahu pinisi biasanya menggunakan dua layar besar yang disebut sombala. Layar yang satu terpasang di bagian depan. Layar ini berukuran sekitar 200 meter

71

persegi. Sedangkan, layar yang lainnya terletak lebih ke belakang dengan ukuran sekitar 125 meter persegi. Di atas setiap layar besar itu terdapat sebuah layar berbentuk segi tiga yang disebut tanpasere. Selain layar utama, pada bagian haluan dilengkapi tiga layar pembantu yang juga berbentuk segi tiga. Layar ini masing-masing disebut cocoro pantara (di bagian depan), cocoro tangnga (di tengah), dan tarengke (di bekalangnya). Sebagai catatan, pemasangan layar baru dilakukan setelah perahu sudah mengapung di laut. e. Peluncuran Pinisi Sebelum penisi diluncurkan ke laut, ada upacara yang dipimpin oleh punggawa. Jika pinisi yang akan diluncurkan bobotnya kurang dari 100 ton, maka binatang yang dijadikan korban adalah seekor kambing. Akan tetapi, jika bobotnya lebih dari 100 ton, maka yang dijadikan korban adalah seekor sapi. Adapun doa yang diucapkan sebagai berikut: Bismillahir Rahmanir Rahim Bulu-bulunnako buttaya, patimbonako bosiya, kayunnako mukmamulhakim, laku sareang Nabi Haidir (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Kau adalah bulu-bulunya tanah, tumbuh karena hujan, kayu dari kekayuan dari Mukma-nul Hakim saya percaya Nabi Haidir untuk menjagamu). Setelah upacara selesai, perahu ditarik oleh para sahi dan calon sahi menuju ke laut. Peluncuran biasanya dilakukan pada saat air laut sedang pasang (tengah hari). Lamanya bisa berhari-hari (biasanya sampai 3 hari). Pemasangan layar dilakukan ketika perahu sudah mengapung di laut. Dan, dengan mengapungnya perahu di laut dan terpasangnya layar, maka punggawa dan para sahinya yang selama sekitar enam bulan membuatnya, berakhir. Sebagai catatan, setiap perahu pinisi mempunyai nama tersendiri, seperti: Pajjala, Banggo, dan Sadek. Teknik yang oleh orang Bugis, khususnya warga Tana Beru disebut ruling ini sebenarnya merupakan suatu peraturan mengenai cara membuat perahu yang telah dibukukan dalam buku Jaya Langkara. Konon, buku tersebut dipinjam oleh seseorang yang berkebangsaan Belanda dan hingga kini belum dikembalikan. Ruling sebenarnya tidak hanya menjelaskan mengenai cara membuat perahu, tetapi juga pemilihan bahan dan peluncurannya ke laut lepas. Nilai Budaya Nilai kerjasama tercermin dalam hubungan antara punggawa (kepala tukang atau tukang ahli), para sawi (tukang-tukang lainnya) dan calon-calon sawi serta tenaga-tenaga yang lainnya Nilai kerja keras tercermin dalam pencarian dan penebangan kayu welengreng atau dewata yang tidak mudah karena tidak setiap tempat ada. Peneb angannya pun juga diperlukan kerja keras karena masih menggunakan peralatan tradisional (bukan gergaji mesin). Nilai ini juga tercermin dalam pemotongannya yang tidak boleh berhenti sebelum selesai (terpotong) dan pemasangan atau perakitannya yang membutuhkan kerja keras. Selain itu, nilai ini juga tercermin dalam pendempulan dan peluncuran karena untuk memindahkan perahu dari

72

galangan bukan merupakan hal yang mudah atau ringan, tetapi diperlukan kerja keras yang membutuhkan waktu beberapa hari (sekitar 3 hari atau lebih). Nilai ketelitian tercermin dalam pemotongan kayu yang harus tepat (mata kampak atau gergaji harus tepat pada arah urat kayu). Nilai keindahan dari bentuknya yang bentuknya yang sedemikian rupa, sehingga tampak kuat, gagah, dan indah. Nilai religius tercermin dalam pemotongan pohon yang disertai dengan upacara agar penunggunya tidak marah dan pindah ke tempat lain, sehingga segala sesuatu yang tidak diinginkan tidak terjadi. Nilai ini juga tercermin dalam doa ketika perahu akan diluncurkan ke laut (Bismillahir Rahmanir Rahim Bulu-bulunnako buttaya, patimbonako bosiya, kayunnako mukmamulhakim, laku sareang Nabi Haidir) (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Kau adalah bulu-bulunya tanah, tumbuh karena hujan, kayu dari kekayuan dari Mukma-nul Hakim saya percaya Nabi Haidir untuk menjagamu H. Rumah adat Bentuk Tongkonan secara garis besar ialah papan berwarna merah yang menopang sebuah bangunan dengan bentuknya bak perahu Kerajaan Cina, guratan pisau rajut di atas papan berwarna merah membentuk ukiran sebagai pertanda status sosial pemilik bengunan, ditambah lagi oleh deretan tanduk kerbau yang terpasang/digantung di depan rumah. Kata tongkonan berasal dari istilah tongkon yang berarti duduk. Dahulu rumah ini merupakan pusat pemerintahan, kekuasaan adat dan perkembangan kehidupan sosial budaya masyarakat Tana Toraja. Rumah ini tidak dapat dimiliki oleh perseorangan, melainkan dimiliki secara turun-temurun oleh keluarga atau marga suku Tana Toraja. Dengan sifat yang demikian, tongkonan memiliki beberapa fungsi, antara lain: pusat budaya, pusat pembinaan keluarga, pembinaan peraturan keluarga dan kegotongroyongan, pusat dinamisator, motivator, dan stabilisator sosial. Oleh karena tongkonan mempunyai kewajiban sosial dan budaya yang juga bertingkat-tingkat di masyarakat, maka dikenal beberapa jenis tongkonan yaitu: 1. Tongkonan Pesio Aluk yaitu tongkonan tempat menciptakan dan menyusun aturan-aturan sosial keagamaan. 2. Tongkonan Pekaindoran atau Pekamberan atau Tongkonan Kaparengngesan yaitu tongkonan yang berfungsi sebagai tempat pengurus atau pengatur pemerinatahan adat, berdasarkan aturan dari Tongkonan Pesio Aluk. 3. Tongkonan batu Ariri yaitu tongkonan yang berfungsi sebagai tongkonan penunjang yang mengatur dan berperan dalam membina persatuan keluarga serta membina warisan tongkonan karena tongkonan merupakan peninggalan yang harus dilestarikan. 4. Tongkonan Marimbunna Tongkonan

73

Tongkonan ini terletak di kelurahan Tikala, sekitar 6 km arah utara Rantepao. Marimbunna merupakan nama dari orang pertama yang datang ke daerah ini. Daya tarik dari tongkonan ini yaitu merupakan rumah sekaligus tempat mandi yang terletak di atas karang, liang batu yang proses pembuatannya dipahat dengan menggunakan kayu, serta terdapat kuburan Marimbunna yang diukir berbentuk perahu dan kerbau berdiri. Di sini kita juga dapat menjumpai jasad Marimbunna yang tinggal tulangnya saja dengan rambut yang masih menempel di dahi. 5. Banteng Batu Banteng Batu ialah nama perkampungan asli orang Baruppu. Perkampungan ini dikelilingi oleh tebing dan terletak di Kecamatan Rindingallo, dengan jarak kurang lebih 50 km arah utara Rantepao. Oleh karena itu daerah ini terisolir dari dunia luar dan untuk dapat masuk ke daerah ini hanya bisa melewati satu jalan yakni lorong batu dengan daya tarik tersendiri. Tebing-tebing yang mengelilingi daerah ini, yaitu: Tebing Batu, Kavu Angin, dan Benteng Saji. Selain dipakai sebagai benteng pertahanan melawan Belanda, di tebing-tebing tersebut terdapat kuburan dalam bentuk liang pahat maupun gua alam yang ada jasadnya. Pada setiap tahunnya diadakan prosesi ritual penggantian pakaian jenazah yang disebut dengan tomanene. 6. Tongkonan Bate-Banbalu Tongkonan ini terletak di Kecamatan Sadan Balusu, sekitar 2,5 km arah timur Palopo dan didirikan sekitar abad X Masehi serta merupakan tongkonan tertua di daerah etrsebut. Tongkonan ini didirikan oleh Tanditonda, nenek moyang penduduk disana. Mitos yang ada menyebutkan bahwa Tanditonda adalah orang kaya akan kerbau dan gemar minum susu kerbau, hingga suatu saat susu-susu kerbaunya hilang dicuri orang, yang ternyata kelak si pencuri itu menjadi istrinya. Sebelum menikah dengan perempuan yang bernama Manurun Di Batara tersebut, mereka membuat kesepakatan bahwa Tanditonda tidak boleh memukul istrinya. Namun suatu saat janji itu dilanggarnya, dan istrinya yang sebenarnya dewa itu akhirnya meninggalkannya menuju langit, berjalan melalui pelangi, dengan meninggalkan rumah tongkonannya dan juga tenun yang belum selesai. 7. Tongkonan Siguntu Tongkonan ini terletak di Dusun Kadundung, Desa Nonongan Kecamatan Sanggalangi, sekitar 5 km dari Kota Rantepao. Tongkonan ini dibangun oleh Pongtanditulaan. Keberadaannya yang di atas bukit menyajikan pemandangan alam yang indah mempesona dengan dikelilingi hamparan sawah pada bagian timur serta tebing-tebing Bukit Buntu Tabang. Dengan keberadaan seperti ini membuat tongkonan nampak megah serasi bersatu dengan alam sekitarnya. 8. Tongkonan Lingkasaile-Beloraya

74

Tongkonan Lingkasaile adalah tongkonan pertama di daerah Desa balusu, 14 km dari Rantepao, didirikan oleh Takke Buku, keturunan Polo Padang dan Puang Gading. Tongkonan yang sudah ditumbuhi tanaman paku diatapnya ini masih menyimpan perabot rumah tangga tempo dulu. Selain itu, tongkonan ini meiliki daya pikat khusus yaitu bila kita lewat pasti ingin menolehnya kembali (menurut kepercayaan). Oleh karena itulah tongkonan ini disebut dengan Lingkasaile-Beloraya, dimana lingka berarti langkah, dan beloraya berarti menoleh kembali. Takke Buku menyandang gelar Puang Takke Buku, dimana beliau hidup sekitar abad ke-10. Selain membangun Tongkonan Lingkasaile, beliau juga membuat kuburan bagi keluarganya yang disebut Liang Sanda Madao dan Rante Tendan yang digunakan sebagai tempat upacara pemakaman. 9. Tongkonan Ranteawai Tongkonan Rantewai atau Tongkonan Ranteuai dibangun oleh sepasang suami istri bernama To Welai Langina dan Tasik Rante Mnaurun sekitar abad XVII, dimana tongkonan ini memiliki simbol kepemimpinan yang tergambar pada patung kayu yang berbentuk kepala naga sebanyak delapan buah. Pada tahun 1917 seluruh peninnggalan mengenai bukti perjuangan dalam mempertahankan tanah air bisa kita dapatkan di rumah adat Tongkonan ini. 10. Tongkonan Penanian Kata penanian berarti sesuatu yang bermanfat bagi semua orang, untuk dibaca dan dinyanyikan. Tongkonan ini terletak sekitar 14 km arah timur Kota Rantepao. Tongkonan ini mempunayi daya tarik tersendiri karena menyajikan pemandangan serta tata letak deretan lumbung padiatau Alangsura yang berjajar rapi dan antik. Lumbung-lumbung padi ini dibangun oleh Kepala Distrik Nanggala bernama Siambe Salurapa yang pernah menjadi pemangku adat daerah Nanggala dan sekitarnya. 11. Tongkonan Layuk Pattan Tongkonan ini terletak di Desa Ulusalu, sekitar 18 km dari kota Makale, didirikan abad ke XIV oleh Kala. Tongkonan ini dipakai sebagai tempat pelaksanaan upacara adat Rambu tuka atau mabua, tempat musyawarah aluk/adat, tempat pemerinatahan, dan tempat pengadilan adat. Beragam peninggalan sejarah terdapat disini, antara lain : tau-tau, tempat upacara adat Rante. Menhir, mawa, keris, dan tombak. 12. Perumahan Adat Palawa Dahulu kala ada seorang lelaki dari Gunung Sesean bernama Tomadao menikah dengan gadis adri Gunung Tibembeng bernama Tallo Mangka Kalena, kemudian mereka bermukim di Kulambu, sebelah timur Desa Palawa. Mereka memiliki putra bernama datu Muane yang kemudian menikahi Lai Rangri. Keturunan-keturunan mereka mendirikan sebuah kampunh yang juga berfungsi sebagi benteng pertahanan. Ada sebuah tradisi di saat terjadi perang,

75

jika ada lawan yang menyerang dan bisa dikalahkan/dibunuh, maka darahnya diminum dan dagingnya dicincang. Tradisi ini disebut Palawak. Pada pertengahan abad XI, berdasarkan musyawarah ada disepakati mengganti nama Palawak menjadi Palawa, sebagai suatu kompleks perumahan adat. Dan daging manusia yang dimakan diganti dengan ayam dan disebut Palawa Manuk. Keturuna Datu Muane secara berturut-turut membangun tongkonan di Palawa. Saat ini terdapat 11 buah tongkonan yang urutannya sebagai berikut (dihitung mulai arah barat): a. Tongkonan Salassa, dibangun oleh Salassa b. Tongkonan Buntu, dibangun oleh NeTatan c. Tongkonan NeNiro, dibangun oleh Patangke dan Sampe Bungin d. Tongkonan NeDane, dibangun oleh NeMatasik e. Tongkonan NeSapea, dibangun oleh NeSapeah f. Tongkonan katile, dibangun oleh NePipe g. Tongkonan NeMalle, dibangun oleh NeMalle h. Tongkonan Sasana Budaya, dibangun oleh NeMalle i. j. Tongkonan Bamba II, dibangun oleh Patampang Tongkonan NeBabu, dibangun oleh NeBabu

k. Tongkonan Bamba I, dibangun oleh NeTaPare Tongkona Palawa juga memiliki Rante yang disebut Rante Papadanunan dan Liang Tua (kuburan batu) di Tiro Allo dan Kamandi. 13. Tongkonan Unnoni Kata unnoni berarti berbunyi dan bergabung keseluruh penjuru. Nama ini membawa nama harum bagi keturunan leluhur dari Tongkonan Unnoni sebab beberapa turunan dari tongkonan ini menjadi kepala distrik yang sekaligus dilantik menjadi Puang (golongan bangsawan tertinggi) di wilayah Sadan Balisu. Puang juga sebagai To Parengnge yakni pemimpin adat adan pemimpin rakyat. Generasi Tongkonan Unnoni merupakan generasi yang pandai menenun. Isti para pemimpin tongkonan memiliki keterampilan menenun secara tradisional (tenun ukir), yang kemudian diajarkan pada rakyatnya, yang hingga kini masih dilestarikan. 14. Tongkonan Layukna Galuga Dua dan Pertenunan Asli Sangkombang Tongkonan ini dijadikan pengadilan terhadap pelanggaran adat yang menjadi tanggung jawab ToPerengnge dan sebagai pusat musyawarah para pemimpin keluarga dari Tongkonan galuga Dua untuk menentukan suatu rencana. Tongkonan ini terletak sekitar 12 km arah utara dari Rantepao dan dibangun tahun 1189 oleh kedua putra galuga. Dari kedua putranya ini, masing-masing membangun Tongkonan Papabannu (oleh putra pertama) dan Tongkonan Banau Sura (oleh putra kedua). Tongkonan Galuga Dua juga merupakan pusat

76

pertenunan dengan berbagai motif sesuai dengan kebutuhan adat dan ciri khas budaya Toraja. 15. ToBarana SaDan dan Pertenunan Asli Toraja Kata SaDan artinya air atau batang air, ToBarana artinya tempat beringin atau pohon beringin. ToBarana merupakan tempat pengampunan masyarakat SaDan dahulu kala apabila masyarakat menghadapi suatu kesulitan. Lokasi ToBarana pada mulanya dibentuk oleh nenek moyang keluarga To Barana yang bernama Langi Parapak. Pada lokasi ini dijadikan perkampungan Tongkonan To, yang kemudian direnovasi oleh leluhur Tobarana bernama Puang Pong Labba sekitar dua abad lalu dan pada tahun 1959 direnovasi lagi oleh keluarga Puang Pong Padati. Lokasi dan rumah tongkonan yang diwariskan secara turun-temurun kepada generasinya ini selain sebagai tongkonan, juga berfungsi sebagai pusat pertenunan asli Toraja. Para wanita disini memiliki keterampilan pandai menenun karena sejak kecil telah diajarkan oleh orang tuanya. Bahan baku dari bahan tenunan asli di Sadan adalah benang kapas yang dipintal kemudian ditenun. Seiring dengan perkembangan jaman saat ini, tenun Sadan sudah mulai menciptakan bermacam-macam motif tenun. 16. Perumahan Asli Balik Saluallo Sangngalla Balik saluallo merupakan objek yang juga memiliki keunggulan tersendiri. Buburan sebagai tempat persembahan masyarakat Toraja yang masih memeluk agama Aluk Tadolo (Ancester believe) di lokasi ini untuk memohon hujan pada saat musim kemarau dengan melakukan persembahan pemotongan hewan. Pata Padang sebagai tempat awal musyawarah dan bermufakat bagi leluhur Toraja dari seluruh pelosok di daerah Tondok Lelongan Bulan Tana Matarik Allo (Tana Toraja) untuk memutuskan/menyatakan strategi melawan serangan dari luar daerah, antara lain Bone. Pemimpinnya adalah orang yang pintar, bijaksana, gagah berani, yang bernama Tumbang Datu. Sekilas, otobiografi dari Tumbang Datu, salah satu generasi dari Tongkonan Balik yang memiliki daya pikat tersendiri sebagai berikut : Tumbang Datu sebagai koordinator dalam sejarah Topadatindo yang pernah mengatur strategi untuk melawan musuh yang datang dari Bone. Tumbang Datu selalu berhasil mengalahkan lawannya, dan ternyata belaiu merupakan salah seorang leluhur dari Tongkonan Balik yang memiliki tersendiri. Kepandaiannya dapat dibuktikan mengalahkan Datu Luwu beberapa kali dalam beberapa kompetisi keterampilan, seperti mempertandingkan ayam dimana ayam siapa yang paling banyak berbunyi adalah pemenangnya. Datu Luwu menyiapkan ayam jantan besar yang hanya sesekali berbunyi, sedangkan Tumbang Datu menyiapkan anak-anak ayam yang baru dipisahkan dari induknya. Ternyata ayam Tumbang Datu lebih banyak berbunyi, bahkan sangat ramai. Jadi, datu Luwu merasa kalah.

77

Disanmping cerita itu, masih banyak lagi cerita unik yang bisa didengar dan terima dari objek wisata Tongkonan Balik Saluallo.

78

BAB VI TEMPAT PARIWISATA Benteng Somba Opu Lokasi: 15 menit dari Pusat Kota. Benteng ini merupakan peninggalan kerajaan Gowa yang kemudian digunakan oleh Belanda pada masa penjajahan. Saat ini benteng Somba Opu dijadikan miniatur budaya Sulawesi Selatan yang dilengkapi dengan rumah-rumah adat di setiap kabupaten/kota yang mewakili suku Makassar, Bugis, Mandar, Toraja, dan Kajang. Komplek makam raja-raja tallo Letak lokasi : Jl. Sultan Abdullah, (15 menit dari pusat kota)

Kompleks Makam ini dibangun sekitar abad ke-18. Bentuk bangunan makam kuno ini mirip konstruksi candi. Pada sebagian dindingnya terdapat kalimat tauhid dalam seni kaligrafi Islam. Di pemakaman ini dikebumikan Raja Tallo ke VII, I Malingkaang Daeng Manyonri yang merupakan Raja Tallo I yang memeluk Agama Islam dengan julukan Macan Keboka ri Tallo (Macan Putih dari Tallo), dan dikenal sebagai penyebar Agama Islam ke wilayah Timur seperti Buton, Ternate dan Palu. Beliau juga digelari KaraEng Tuammalianga ri Timoro (Raja yang berpulang di Timur). Makam pangeran diponegoro Letak lokasi : Jl. Pangeran Diponegoro (10 menit dari pusat kota)

Pangeran Diponegoro terkenal sebagai pahlawan nasional dan merupakan pemimpin perlawanan rakyat terhadap kolonialisme di Pulau Jawa antara tahun 1825 1830. Gigihnya perlawanan Pangeran Diponegoro merupakan ancaman serius bagi pemerintah kolonial Belanda saat itu, sehingga sang Pangeran diasingkan ke Manado dan kemudian dipindahkan hingga wafat di Makassar pada tahun 1855. Makam Pangeran Diponegoro berada di Makassar dan jalan yang berada di muka makam tersebut hingga kini dinamai Jl. Pangeran Diponegoro. Monument korban 40 ribu jiwa Letak lokasi Jl. Korban 40 Ribu Jiwa, Kec. Tallo (10 menit dari pusat kota) Monumen Korban 40.000 Jiwa merupakan salah satu obyek wisata peninggalan sejarah yang dibangun untuk mengenang peristiwa pembantaian massal para pejuang dan tokoh-tokoh masyarakat Sulawesi Selatan oleh tentara NICA pimpinan Kapten Westerling Monument mandala

79

Lokasi : Jl. Jend. Sudirman (Pusat Kota) Monumen Mandala adalah salah satu bangunan ciri khas (Landmark) Kota Makassar. Monumen ini dibangun untuk memperingati Pembebasan Irian Barat (sekarang Papua) dari pendudukan Belanda. Pada lantai dasar monumen ini terdapat relief yang menggambarkan kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan.monumen yang bertingkat 4 ini , pada lantai paling atas memiliki pemandangan kota makassar yang mengesankan. Pulau Barrang Caddi Jarak lokasi : 12 Km dari Kota Makassar ( 1 jam 15 menit)

Letak lokasi : Kecamatan Ujung Tanah. Daya tarik : Oseanorium, peninggalan Jepang Pulau kayangan Jarak lokasi : 0,8 Km. dari Kota Makassar ( 15 menit dari Dermaga Pulau Kayangan). Daya tarik : Berenang, panorama matahari terbenam (sunset), olah raga air, musik & pertunjukan. Pulau Kayangan adalah sebuah pulau kecil berpasir putih seluas 1 Ha. Lokasinya tidak jauh dari Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar, dapat ditempuh selama 15 menit perjalanan dengan menggunakan perahu boat yang khusus disediakan bagi para pengunjung dari dermaga yang ada di depab Benteng Rotterdam. Pulau ini dulunya bernama Marrouw atau Meraux. Pulau Kayangan mempunyai beberapa fasilitas seperti tempat penginapan (resort), panggung hiburan, restoran, gedung serba guna, tempat bermain bagi anak-anak, sarana olah raga, dan anjungan memancing.

80

BAB VII PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI Pembangunan di daerah sulawesi selatan baru sejak 1965, ini karena keamanan di daerah sulawesi selatan baru pulih pada tahun tersebut. Hambatan hambatan yang mempengaruhi daerah sulawesi selatan adalah karena sikap mental kolot yang menolak pembangunan, pandangan curiga, serta ragu-ragu terhadap pembangunan. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah mengadakan pendekatan pendekatan persuasive dengan melakukan penyuluhan penyuluhan yang paling berhasil dalam mengatasi hambatan itu adalah terutama dengan memberi contoh yang nyata, misalnya dalam usaha mengintensifikasikan dan mengextensifikasikan pertanian, maka pemberian contoh itu dilakukan oleh stasiun-stasiun percobaan, kebun-kebun percobaan, sawah-sawah percobaan di daerah pertanian yang secara langsung dapat dilihat oleh para petani, sehingga mereka akan meniru cara-cara itu. Kecuali itu contoh dapat pula diberikan oleh kader-kader pertanian yang turun ke desa dan secara langsung memberi contoh kepada petani Kita mengetahui bahwa potensi alam dari daerah Sulawesi selatan adalah cocok untuk membangun sector pertambangan dan industri. Kecuali timah di maliki yang sudah mul;ai pengolahannya, pertambangan-pertambangan batu bara, minyak bumi dan emas yang kini masih ada dalam taraf eksploitasi Rencana dari industrialisasi telah diwujudkan dengan pembangunan beberapa pabrik di sekitar kota makassar, yang sudah mulai berproduksi sejak tahun 1969, seperti pabrik semen di Tonasa, pabrik kertas di Gowa. Pabrik gula si Bone, dan juga pabrik goni di Piarang Sebenarnya potensi yang paling besar bagi daerah Sulawasi Selatan terletak pada usaha sector pelayran rakyat dan perikanan, karena usaha-usaha itu sudah lama dijalankan oleh orang-orang bugis-makassar, sehingga dapat dikatakan mewndarah daging dalam diri mereka. Dalam hal memodernisasikan pelayaran masyarakat bugis, ada baiknya untuk dilkukan secara bertahap, dengan tidak usah merubah bentuk dasar dari perahu bugis makassar Pada umumnya tanggapan dari rakyat bugis dan makassar terhadap modernisasi adalah baik. Mereka mengerti bahwa untuk maju mereka harus bekerja keras, harus hemat, dsb. Walaupun demikian, hambatan-hambatan tetapa ada dan masih perlu diperhitungkan secara khusus dalam dalam tiap perencanaan pembangunan yang diadakan. Pendidikan Sampai tahun sekitar 1965, karena keadaan kekacacauan terus menerus sejak zaman Jepang, zaman Revolusi dan zaman Pemberontakan Kahar Muzakar, maka pekembangan pendidikan di Sulawesi Selatan amat sangat terbelakang. Namun seiring majunya jaman,

81

pemerintah terus berusaha untuk mengembangkan daerah Sulawesi Selatan, ini terbukti dengan dibangunnya perguruan tinggi, SMA, SMK, dll. Sebagai contoh, ini adalah sebagian daftar perguruan tinggi dan sekolah Perguruan tinggi

Universitas Hasanuddin Universitas Muslim Indonesia Universitas Negeri Makassar Universitas Islam Negeri Alauddin Universitas Islam Makassar Universitas Muhammadiyah Makassar Politeknik Negeri Makassar Universitas Kristen Indonesia Paulus Universitas Veteran Republik Indonesia Universitas 45 Universitas Muhammadiyah Unversitas Satria Makassar Universitas Pancasakti Universitas Sawerigading Universitas Indonesia Timur

Sekolah Menengah Atas

SMA Negeri
o o o o o o

SMA Negeri 8 Makassar SMA Negeri 5 Makassar SMA Negeri 2 Makassar SMA Negeri 17 Makassar SMA Negeri 1 Makassar SMA Negeri 3 Makassar SMU FRATER SMA Gamaliel SMU Rajawali SMA Muhammadiyah 1 Makassar SMA Dian Harapan Makassar

SMA Swasta
o o o o o

82

Keistimewaan orang bugis Pertama, masyarakat Bugis sebenarnya bukanlah masyarakat maritim. Pelayaran Bugis baru dimulai abad ke-18. Sementara Pinisi, kapal hebat dari Bugis itu, bentuk dan modelnya sebenarnya ada di penghujung abad ke-19 sampai dekade 1930-an. masyarakat Bugis asli sebenarnya petani. Hal ini dimungkinkan dengan masyarakat Bugis kuno yang tinggal di sekitar danau Poso di pedalaman Sulawesi yang tak memungkinkan untuk melakukan pelayaran. Sungai-sungai yang menghubungkan pedalaman dengan laut tak bisa digunakan untuk jalur pelayaran. Orang Bugis gemar melayar ketika di abad ke-18 mereka mulai bermigrasi ke Makasar. Makasar adalah kota pelabuhan besar di Nusantara, di sanalah orang Bugis menetap dan memulai pelayarannya. Kedua, berbeda dengan Jawa yang menurut Lombard dibentuk arus budaya dan meski terjadi batas-batas pembaratan. Jaringan pelayaran Asia yang memungkinkan budaya Arab dan Cina masuk ke Jawa. Warisan India dengan kerajaan-kerajaan konsentrisnya. Bugis menurut Pelras dapat menghindar dari pengaruh-pengaruh asing itu. Meskipun demikian, Pelras tak memungkiri bahwa telah terjadi persinggungan kebudayan antara Bugis dengan kebudayaan lain. Gejala itu tak bisa dipungikiri ketika modernitas Barat merasuk ke hampir seluruh persendian kebudayaan dunia.. Autentitas kebudayaan Bugis dapat dirunut dari kronik sejarah Bugis. Pengaruh India yang datang lebih awal ke Nusantara tak banyak bepengaruh. Hal ini dibuktikan dengan sedikitnya artefak-artefak corak India yang tertinggal di Bugis. Majapahit pun yang konon menguasai Bugis tak meninggalkan banyak pengaruh di Bugis. Orang Bugis mengatakan Majapahit sekadar mengklaim, tak pernah benar-benar menguasai Bugis. Demikian pula dengan pengaruh Islam (pedagang Arab) dan Kristen (Portugis dan Belanda) yang saling berebut pengaruh datang ke Bugis pada abad ke 16. Pada akhirnya Islam dapat memenangkan kompetisi itu setelah Portugis terdepak dan Belanda masuk ke Makasar. Namun kolonialisme Belanda pun ternyata kalah pengaruh dari Islam. Kemenangan itu tak lepas dari pengaruh Islam yang terlebih dulu mengislamkan kerajaan-kerajaan di Sulawesi. Ketiga, penempatan perempuan menjadi simbol dari keunikan dari tradisi Bugis sekaligus menunjukan bahwa Islam pun tak sepenuhnya diadopsi. Masyarakat Bugis tradisional mengijinkan perempuan menjadi pemimpin. Inilah yang membedakan antara kepemimpinan Islam dengan kepemimpinan Bugis. di Bugis perbedaan gender dengan menempatkan perempuan sebagai second sex tak nampak. Pembagian kerja misalnya, bukan didasarkan atas jenis kelamin, lelaki pun bisa melakukan pekerjaan halus dan begitu sebaliknya dengan perempuan. para transeksual justru mendapat penghormatan dari masyarakat Bugis. Penghormatan masyarakat Bugis terhadap Bissu menjadi bukti bahwa kearifan kuno masih dipertahankan hingga kini, di tengah-tengah pandangan yang menyatakan kentalnya ke-Islam-an orang Bugis.

83

Penghormatan terhadap bissu itu tak lepas dari anggapan keyakinan kuno bahwa Yang Maha memiliki dua sifat: lelaki dan perempuan. Bissu adalah orang yang merepresentasikan sifat-sifat yang Maha itu seperti yang orang Bugis tulis dalam epos panjang, La Galigo. Keempat, La Galigo adalah bukti keistimewaan Bugis. Epos La Galigo adalah catatan lengkap bagi Bugis. Dari sanalah segala sumber pengatahuan tentang Bugis terangkum. Termasuk juga tentang konsepsi kepercayaan orang Bugis. Oleh karena itu kepercayaankepercayan itu masih dipegang oleh sebagian orang Bugis hingga kini. Pelras berpendapat bahwa eksistensi konsepsi kepercayaan itu dikonstruk oleh bangsawan Bugis untuk memperkukuh status sosial mereka yang konon keturunan Sawerigeding. Keistimewaan La Galigo adalah bahwa La Galigo yang bertautan dengan mitos-mitos senyatanya ada dan dapat dibuktikan secara empiris melalui penelitian. La Galigo merupakan catatan sejarah dan etnografi Bugis yang dapat dipercaya.

84