Anda di halaman 1dari 12

Abstrak

Use of crop as traditional drug know to have the more benefit compared to side effect. M. pudica Linn. representing one of the alternative which can use as traditional drug of skin disease. Have been research about influence M. pudica Linn roots extract in pursuing the growth of S. epidermidis bacteria. M. pudica Linn roots containing compound saponin, tannin, alkaloida and flavonoid. The compound is often used as elementary materials.antibacterium drug and have proven of efficacious. As antibacterial compound. Result of research indicating that M.pudica Linn roots extract having an effect on very real pursuing growth S. epidermidis bacteria and In concentrate 90%, M. pudica Linn. roots extract enable to get sensitivitas zona optimally pursuing the growth of S.epidermidis bacteria.

FARMAKOGNOSI I

Alkaloid
I. Deskripsi
Istilah "alkaloid" (berarti "mirip alkali", karena dianggap bersifat basa) pertama kali dipakai oleh Carl Friedrich Wilhelm Meissner (1819), seorang apoteker dari Halle (Jerman) yang bersifat basa (pada waktu itu sudah untuk menyebut berbagai senyawa yang diperoleh dari ekstraksi tumbuhan dikenal misalnya, morfina, striknina, sertasolanina). Hingga sekarang dikenal sekitar 10.000 senyawa yang tergolong alkaloid dengan struktur sangat beragam, sehingga sekarang tidak ada batasan yang jelas untuknya. Alkaloid adalah sebuah golongan senyawa basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen yang kebanyakan heterosiklik dan terdapat di tumbuhan (tetapi ini tidak mengecualikan senyawa yang berasal dari hewan). Asam amino, peptida, protein, nukleotid, asam nukleik, gula amino dan antibiotik biasanya tidak digolongkan sebagai alkaloid. Dan dengan prinsip yang sama, senyawa netral yang secara biogenetik berhubungan dengan alkaloid termasuk digolongan ini. Senyawa alkaloid merupakan senyawa organik terbanyak ditemukan di alam. Hampir seluruh alkaloid berasal dari tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Secara organoleptik, daun-daunan yang berasa sepat dan pahit, biasanya teridentifikasi mengandung alkaloid. Selain daun-daunan, senyawa alkaloid dapat ditemukan pada akar, biji, ranting, dan kulit kayu. Fungsi alkaloid sendiri dalam tumbuhan sejauh ini belum diketahui secara pasti, beberapa ahli pernah mengungkapkan bahwa alkaloid diperkirakan sebagai pelindung tumbuhan dari serangan hama dan penyakit, pengatur tumbuh, atau sebagai basa mineral untuk mempertahankan keseimbangan ion.

FARMAKOGNOSI I

I. Struktur kimia alkaloid


1. Alkaloid Amina

2. Alkaloid steroid

3. Alkaloid Quinolin

FARMAKOGNOSI I

II.

Isolasi Alkaloid

Metode yang paling banyak digunakan untuk menyeleksi tanaman yang mengandung alkaloid. Prosedur Wall, meliputi ekstraksi sekitar 20 gram bahan tanaman kering yang direfluks dengan 80% etanol. Setelah dingin dan disaring, residu dicuci dengan 80% etanol dan kumpulan filtrat diuapkan. Residu yang tertinggal dilarutkan dalam air, disaring, diasamkan dengan asam klorida 1% dan alkaloid diendapkan baik dengan pereaksi Mayer atau dengan Siklotungstat. Bila hasil tes positif, maka konfirmasi tes dilakukan dengan cara larutan yang bersifat asam dibasakan, alkaloid diekstrak kembali ke dalam larutan asam. Jika larutan asam ini menghasilkan endapan dengan pereaksi tersebut di atas, ini berarti tanaman mengandung alkaloid. Fasa basa berair juga harus diteliti untuk menentukan adanya alkaloid quartener.

1.

Salah satu contoh isolasi pada tanaman tembakau

Isolasi nikotin dari daun tembakau dengan dipotong-potong 10 gram daun tembakau kering atau tembakau dari cerutu. Ditambahkan 100 ml larutan NaOH 5% dan 30 ml air, diaduk. Disaring menggunakan corong Buchner. Untuk menghilangkan partikel (daun tembakau) dalam hasil saringan(filtrate), filtrate disaring dengan menggunakan corong gelas yang diberi glasswool. Filtrat ditambahkan 30 ml diklorometan, dikocok. Dipisahkan lapisan diklorometan ke dalam labu Erlenmeyer. Langkah ekstraksi ini dilakukan sampai semua nikotin terekstrak ke dalam diklorometan. Dikumpulkan semua lapisan diklorometan. Diuapkan diklorometan menggunakan rotary vacuum evaporator. Penguapan diklorometan atau eter dilakukan menggunakan teknik penguapan dengan pengurangan tekanan dan jangan

menggunakan api. Ditambahkan 1ml air suling ke dalam sisa penguapan, aduk perlahan-lahan, ditambahkan 4ml methanol, disaring dengan menggunakan corong gelas yang diberi glass wool. Ditambahkan 10 ml larutan jenuh asam pikrat dalam methanol. Disaring nikotin dipikrat padat menggunakan corong Buchner (digunakan kertas saring). Dimurnikan nikotin, dengan rekristalisasi dan diperolh kristal murni.

FARMAKOGNOSI I

III. Bagan isolasi Alkaloid


Ekstraksi sekitar 20 gram bahan simplisia tembakau yang direfluks dengan 80% etanol

Setelah dingin dan disaring, residu dicuci dengan 80% etanol dan kumpulan filtrat diuapkan.

Setelah dingin dan disaring, residu dicuci dengan 80% etanol dan kumpulan filtrat diuapkan.

Residu yang tertinggal dilarutkan dalam air, disaring, diasamkan dengan asam klorida 1% dan alkaloid diendapkan baik dengan pereaksi Mayer

Residu yang tertinggal dilarutkan dalam air, disaring, diasamkan dengan asam klorida 1% dan alkaloid diendapkan baik dengan pereaksi Siklotungstat

Jika hasil tes positif

Jika hasil tes positif

Maka tes dilakukan dengan cara larutan yang bersifat asam di basakan, alkaloid diekstrak kembali ke dalam larutan asam

Maka tes dilakukan dengan cara larutan yang bersifat asam di basakan, alkaloid diekstrak kembali dalam larutan asam

Menghasilkan endapan dengan pereaksi Mayer

Menghasilkan endapan dengan pereaksi

Siklotungstat

Tanaman tembakau berarti mengandung alkaloid.

FARMAKOGNOSI I

IV. Tanaman yang mengandung alkaloid

1.

Bunga pukul empat

Nama simplisia Nama Tanaman Asal Keluarga Zat berkhasiat Penggunaan

: Mirabilidis Radix : Mirabilis jalapa L. : Nyctaginaceae : Mirabilidis Radix,alkaloid : batuk, kencing infeksi saluran kemih,keputihan, amandel, radang

manis,radang

persediaan, radang prostat, bisul ( obat luar ) dan anti inflamasi deurtik.

FARMAKOGNOSI I

2. Bungur

Nama simplisia Nama Tanaman Asal Keluarga Zat berkhasiat Penggunaan

: Lagerstoemiae speciosa Cortex : Lagerstroemia speciosa Auct. Non (L.) : Lythraceae : Tanin, alkaloid, saponin, terpena dan glukosa : Disentri, kencing darah, mencret

FARMAKOGNOSI I

3.

Tembakau

Nama umum : Tembakau, mbako (Jawa), bako (Sunda)Inggris:TobaccoTembakau Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Asteridae : Solanales : Solanaceae (suku terung-terungan) : Nicotiana : Nicotiana tabacum L.

Zat berkhasiat : Alkaloid

FARMAKOGNOSI I

4. Handeuleum (Daun wungu)

Nama simplisia

: Graptophylli Folium

Nama Tanaman Asal : Graptophyllum pictum L. Griff Keluarga Zat berkhasiat Penggunaan : Acanthaceae : Lendir, alkaloid, steroida,dan tanin : Batu empedu,demam, wasir deuretik dan laksatif

FARMAKOGNOSI I

5. Mengkudu

Nama simplisia

:Morindae

citrifoliae

Fruktus; Folium;

buah daun

mengkudu, Morindae citrifoliae mengkudu Nama Tanaman Asal : Morinda citrifolia L. Keluarga Zat berkhasiat Penggunaan: Buah : Rubiaceae : Minyak atsiri, alkaloid

: Amandel, asma, batuk, disentri, hati &

limfa

membesar, haid tidak teratur, tekanan darah tinggi, nyeri pinggang, Radang amandel (obat kumur), radang tenggorokan (obat kumur), sariawan (obat

Kumur) Daun : Haid tidak teratur, obat cacing, kencing manis, Batuk (obat luar), limfa membesar (obat luar), mulas ( obat luar) Hipotensif, antelmintik, dan emenagog.

FARMAKOGNOSI I

10

V. Cara kerja alkaloid sebagai antibakteri

Mekanisme kerja alkaloid sebagai antibakteri diprediksi melalui penghambatan sintesis dinding sel yang akan menyebabkan lisis pada sel sehingga sel akan mati. Variasi kerentanan organisme uji dapat diakibatkan oleh faktor intrinsik yang berkaitan dengan permeabilitas permukaan sel terhadap ekstrak (Suffredini et al. 2004). Steroid dapat berinteraksi dengan membran fosfolipid sel yang bersifat impermeabel terhadap senyawasenyawa lipofilik sehingga menyebabkan integritas membran menurun, morfologi membran sel berubah, dan akhirnya dapat menyebabkan membran sel rapuh dan lisis. Adanya komponen asing dalam membran juga dapat menyebabkan pembentukan dinding sel akan terhalangi atau terbentuk dinding sel yang rapuh, yang selanjutnya akan menyebabkan lisis dan kematian sel. Ketidakstabilan pada dinding sel dan membran sitoplasma bakteri menyebabkan fungsi permeabilitas selektif, fungsi pengangkutan aktif, dan pengendalian susunan protein dari sel bakteri menjadi terganggu. Gangguan integritas sitoplasma berakibat pada lolosnya makromolekul dan ion dari sel. Dengan demikian, sel bakteri menjadi kehilangan bentuk dan terjadilah lisis.

FARMAKOGNOSI I

11

Kesimpulan
Alkaloid adalah sebuah golongan senyawa basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen yang kebanyakan heterosiklik dan terdapat di tumbuhan (tetapi ini tidak mengecualikan senyawa yang berasal dari hewan). Asam amino, peptida, protein, nukleotid, asam nukleik, gula amino dan antibiotik biasanya tidak digolongkan sebagai alkaloid. Dan dengan prinsip yang sama, senyawa netral yang secara biogenetik berhubungan dengan alkaloid termasuk digolongan ini. Senyawa alkaloid merupakan senyawa organik terbanyak ditemukan di alam. Hampir seluruh alkaloid berasal dari tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Secara organoleptik, daun-daunan yang berasa sepat dan pahit, biasanya teridentifikasi mengandung alkaloid. Selain daun-daunan, senyawa alkaloid dapat ditemukan pada akar, biji, ranting, dan kulit kayu. Fungsi alkaloid sendiri dalam tumbuhan sejauh ini belum diketahui secara pasti, beberapa ahli pernah mengungkapkan bahwa alkaloid diperkirakan sebagai pelindung tumbuhan dari serangan hama dan penyakit, pengatur tumbuh, atau sebagai basa mineral untuk mempertahankan keseimbangan ion.

FARMAKOGNOSI I

12