FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI PADA ISTRI PUS DI KECAMATAN RAMBAH SAMO KABUPATEN ROKAN

HULU TAHUN 2008

TESIS

Oleh

JUNITA TATARINI PURBA 067023009/AKK

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009

Junita Tatarini Purba : Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi Pada Istri Pus Di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008, 2009 USU Repository © 2008

2

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI PADA ISTRI PUS DI KECAMATAN RAMBAH SAMO KABUPATEN ROKAN HULU TAHUN 2008

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Konsentrasi Administrasi Kesehatan Komunitas/Epidemiologi pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh
JUNITA TATARINI PURBA 067023009/AKK

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009

3

Judul Tesis

Nama Mahasiswa Nomor Pokok Program Studi Konsentrasi

: FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI PADA ISTRI PUS DI KECAMATAN RAMBAH SAMO KABUPATEN ROKAN HULU TAHUN 2008 : Junita Tatarini Purba : 067023009 : Administrasi dan Kebijakan Kesehatan : Administrasi Kesehatan Komunitas/Epidemiologi

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Dr. Ir. Erna Mutiara, M.Kes) Ketua

(drh. Rasmaliah, M.Kes) Anggota

Ketua Program Studi

Direktur

(Dr.Drs.Surya Utama, MS)

(Prof. Dr.Ir. T. Chairun Nisa B., M.Sc)

Tanggal lulus : 09 Juni 2009

Kes : 1. M.Kes .Kes 2. drh. Siti Khadijah. Erna Mutiara.Si 3. M.4 Telah diuji pada Tanggal : 09 Juni 2009 PANITIA PENGUJI TESIS Ketua Anggota : Dr. Dr. Ir. M. M. Fikarwin Zuska. Drs. Rasmaliah. SKM.

kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini disebutkan dalam daftar pustaka.5 PERNYATAAN FAKTOR–FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI PADA ISTRI PUS DI KECAMATAN RAMBAH SAMO KABUPATEN ROKAN HULU TAHUN 2008 TESIS Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperolah gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain. Medan. Juni 2009 Junita Tatarini Purba .

6 ABSTRAK Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk menurunkan tingkat pertumbuhan penduduk adalah melalui program KB.001) dan dukungan petugas kesehatan (Sig=0.112). Kata kunci : Perilaku. Variabel yang dominan pengaruhnya adalah ketersediaan alat kontrasepsi (Koefisien B = 3.008). pendidikan. Cakupan akseptor KB aktif di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu masih 42% dibandingkan dengan target nasional yaitu 75%.005). faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi dan keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan dan pengambil keputusan) terhadap pemakaian alat kontrasepsi. pengetahuan dan sikap). Populasi adalah seluruh istri PUS sebanyak 2. Data dianalisis dengan menggunakan uji regresi logistik ganda pada taraf kepercayaan 95%. Pemakaian Alat Kontrasepsi i .041) sedangkan faktor pendukung dan pendorong yang berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah variabel ketersediaan alat kontrasepsi (Sig=0. pengetahun (Sig=0.014) dan sikap (Sig=0. Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu perlu melakukan peningkatan kemampuan petugas kesehatan sehingga mampu memberikan informasi tentang alat kontrasepsi dan dapat memahami serta menyadari bahwa akseptor memiliki hak reproduksi sehat dan hak konsumen pengguna alat kontrasepsi. Juga perlu melakukan penyuluhan kepada masyarakat agar dapat memahami dan menerima norma keluarga kecil sehingga diharapkan mampu membentuk keluarga bahagia dan sejahtera melalui pengaturan atau pembatasan kelahiran anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor predisposisi yang berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah jumlah anak (Sig=0. Sejak otonomi daerah program KB banyak mengalami kendala yang mengakibatkan turunnya tingkat pemakaian alat kontrasepsi.333 orang dengan besar sampel 100 orang yang diambil secara proportional sampling. Jenis penelitian adalah survei dengan tipe explanatory research yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor predisposisi (umur. Kepada Dinas Kesehatan dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Rokan Hulu perlu melakukan kerjasama dan pendekatan kepada penentu kebijakan lainnya dalam pengalokasian dana untuk pelayanan alat kontrasepsi gratis kepada masyarakat khususnya kepada keluarga miskin. jumlah anak.

The coverage of current user in Rambah Samo sub-district. and attitude).041). Use of Contraception Device ii . number of child. The population for this study are 2. Key words: Behavior. Family Planning Program has faced many constraints that resulted in the decrease of the rate of contraception use. The data were analyzed through multiple logistic regression test with the level of confidence of 95%. while enabling and reinforcing factors are variable of availability of contraception device (Sig=0. Since the district autonomy had been started. knowledge (Sig=0.005).7 ABSTRACT One of the efforts done by the government to reduce the rate of population growth is through Family Planning Program (KB). education. enabling factors (availability of contraception device and accessibility of contraception device service) and reinforcing factors (support from health providers and decision makers) on the use of contraception device. It needs to improve the capability of the health providers that they are able to provide information about contraceptive and can understand and realize that the acceptors have their right for health reproduction and the right of consumer as the user of contraception device. The purpose of this survey study with explanatory research type is to analyze the influence of predisposing factors (age. It is suggested that the Health Office and the Civil Registration and Population Affairs of Rokan Hulu District need to cooperate and approach the stakeholder in allocating the budget for free contraceptive to the society of Rokan Hulu District especially to the poor families.014). The most dominantly influencing variable is the use of contraception device (Coefficient β = 3. district of Rokan Hulu reported is still 42% and this is still lower if compared to the national target of 75%. It is necessary to provide an extension to the society to enable them to understand and accept the norm of family planning that. in the end.001) and support from health providers (Sig=0.008).112). and attitute (Sig=0. knowledge. The result of analysis shows that predisposing factors which have influence on the use of contraception device are number of child (Sig=0.333 wives of fertile age couple and 100 of them were selected for the samples of this study through proportional sampling technique. they can form a happy and prosperous family by regulating and limiting childbirth.

Penulis menyadari begitu banyak dukungan. M. M. Chairun Nisa B. dukungan dan pengarahan hingga tesis ini selesai. selaku tim penguji yang telah memberi masukan sehingga dapat menyempurnakan tesis ini.Kes. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang tulus dan tak terhingga kepada: 1. Surya Utama. Terimakasih tiada terkira juga kami sampaikan dengan tulus kepada Bapak Dr. Erna Mutiara. bantuan dan kemudahan yang diberikan oleh berbagai pihak. Ida Yustina. Bapak Dr.Dr. Fikarwin Zuska. Penyusunan tesis ini dimaksudkan untuk memenuhi sebagian persyaratan menyelesaikan Pendidikan S2 pada Sekolah Pascasarjana USU. M.Sc. M. sehingga tesis ini dapat diselesaikan.Kes selaku pembimbing yang memberi perhatian. 2.Si. iii .8 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Dengan penuh ketulusan hati. Ibu Prof. 3. Ibu Prof. bimbingan. Drs. MS.Dra.Kes dan Ibu drh. selaku Ketua Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. M. penulis menyampaikan ucapan terimakasih. semoga sukses dan bahagia selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa kepada Ibu Dr.Ir. SKM.Si dan Ibu Siti Khadijah.Drs. M. selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. selaku Sekretaris Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.Ir.Dr. Medan. atas rahmat dan karuniaNya. penulisan tesis ini dapat diselesaikan dengan baik. Rasmaliah. T..

yang telah banyak berkorban selama pendidikan. sumber inspirasi dan penghiburan. Rumahorbo. selaku Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Riau dan seluruh staf yang telah memberikan bantuan dana pendidikan. selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu yang memberi izin dan dukungan selama pendidikan. Juni 2009 Penulis iv . Purba. Akhirnya penulis berharap tesis ini bermanfaat bagi kesehatan masyarakat Indonesia. Suami tercinta Danni Suparman Rumahorbo. ayahanda mertua B. dan pengorbanan juga dukungan dan motivasi yang tiada pernah berhenti. Sitompul. Wildan Asfan Hasibuan. Bapak dr. ibunda M. 6. ST buat semua doa. M. Rekan-rekan dan sahabat di Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Konsentrasi Administrasi Kesehatan Komunitas/Epidemiologi angkatan tahun 2006. 8. 7.9 4. ibunda mertua T. Semoga TYME membalas semua kebaikan yang telah diberikan dan melimpahkan berkat dan anugerahNya. Ayahanda S. Manik dan seluruh sanak saudara yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama penulis mengikuti pendidikan. Medan. Mursal Amir. khususnya Kabupaten Rokan Hulu. harapan. Bapak dr. ananda tersayang Davita Ephania dan Kezia Morasari.Kes. 5. H.

10 RIWAYAT HIDUP Nama Tempat/Tanggal Lahir Agama Alamat : Junita Tatarini Purba : Sarulla. Pemda Rokan Hulu Pasirpengaraian-Propinsi Riau Telp/HP : 081264734544 RIWAYAT PENDIDIKAN Tahun 1983 – 1989 Tahun 1989 – 1992 Tahun 1992 – 1995 Tahun 1995 – 1999 Tahun 2006 – 2009 : SDN 176377 Aeknatolu : SMPN Simamora : SMA N 3 Balige : FKM USU Medan : Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Program Kesehatan Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Konsentrasi Administrasi Komunitas/ Epidemiologi. Diponegoro Komp. 12 Juni 1977 : Protestan : Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu Jl. RIWAYAT PEKERJAAN 2000 – Sekarang : Staf Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau v .

.................................... 2.. Landasan Teori........................................ 1..........................3......................................................................................2................................ DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................... Latar Belakang ...................... ABSTRACT ........2................... 2........................4..................................................3..... 1... Variabel dan Definisi Operasional................................3.......................................................... 3............2.................................. BAB 1 PENDAHULUAN ... Lokasi dan Waktu Penelitian ............. DAFTAR LAMPIRAN ...................... Pengertian Kontrasepsi ................1........... Metode Pengumpulan Data...... 2...............1............................... Permasalahan ........................................................................ BAB 3 METODE PENELITIAN ....................................2...... Pengertian Keluarga Berencana ......... KATA PENGANTAR ........................................................... Kontrasepsi ...... 2..................................................................... i ii iii v vi viii x xi 1 1 8 8 8 9 10 10 17 17 18 20 20 20 22 35 39 40 40 40 40 42 44 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ...................... Kerangka Konsep ............2......................................1.....................................................5... 2............. 1........................ 2........................................................................... Populasi dan Sampel ....................................................... 2............................................................................................................. 3............4..... Hipotesis ..... RIWAYAT HIDUP ........1.......................................................................... Tujuan Penelitian ...................................... DAFTAR ISI..........................5................................................................3..3.............................5...........................................................................................1................. 1..........3............ 3.. vi ......................11 DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK ............. Program Keluarga Berencana Nasional ................................................... Perkembangan Keluarga Berencana di Indonesia.......................................................................................................................2............... DAFTAR TABEL ..... 3.............................. Konsep Perilaku Kesehatan ................ 2..... Manfaat Penelitian ..3..... 2............ 3..........2.... 1...... Determinan Pemakaian Alat Kontrasepsi .............. 2.................. Jenis Metode Kontrasepsi ....4................................................................ Jenis Penelitian..........................................

...... Analisis Bivariat ............3...................2......... 4.......9. 4... DAFTAR PUSTAKA .................................................................1..................... 4.............6......................... 4.................2......................3.................3............................ 6............................2.................................................. Saran .................... Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi...............................3....................... BAB 5.............................................................. Metode Analisis Data ..2..... Faktor Pendukung ................................... BAB 4 HASIL PENELITIAN ......................................................................10.... 4......3... 4.............. 4...........2..................................4...................................2...................... 4..1..... 4...................... Pengambil Keputusan Dalam Keluarga .................................................................. Ketersediaan Alat Kontrasepsi...7...............1........................... 4......... Analisis Univariat................ Faktor Pendorong....................................... PEMBAHASAN ........2..................2...........2...........12 3....................6......................... 46 50 52 52 52 52 53 54 54 56 59 60 61 62 64 65 66 67 68 68 70 72 73 76 76 84 92 97 99 99 99 101 vii ...4.............................................................................. Deskripsi Lokasi Penelitian................................................................................... 4.......... Dukungan Petugas Kesehatan............. 5........ 3........................................1..........................................1....................4........... Keadaan Geografis................. Faktor Paling Dominan terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi ........ 4........................1....... Hubungan Faktor Pendorong dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi....................3... 5............ BAB 6.. Pengetahuan ........ Analisis Multivariat ..........5..... 5.............2.......... Karakteristik Responden ....................2.............. Sikap ..................2............. Hubungan Faktor Pendukung dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi................................................................ 6......... 4......................................... Hubungan Faktor Predisposisi dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi.......... KESIMPULAN DAN SARAN ......................... 4........ 4..............................3................................ Faktor Pendukung.........................................1....1................................. Faktor Predisposisi .... Faktor Pendorong ..........3............... 4.................. 4........ 4.. Sarana dan Prasarana Kesehatan...... Kependudukan ...........1.. Metode Pengukuran .................................. 4.....8.2.....................................2...2............ Kesimpulan ........... 4........... 5..............7..........2................................................... Faktor Predisposisi...............

. Distribusi Karakteristik Responden di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008.......... 55 4.... 60 4................................................. Distribusi Jumlah Penduduk Menurut Kepala Keluarga dan Jenis Kelamin di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ................................ Besar Sampel yang Diteliti di Wilayah Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008......................................................................................................................5. Distribusi Responden Berdasarkan Indikator Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008................ 62 viii . 62 4.... 3.......... Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Penelitian Faktorfaktor yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi pada Istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ........................ Distribusi Responden Menurut Indikator Ketersediaan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .........8................................... Distribusi Responden Menurut Indikator Sikap di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ........ Distribusi Responden Menurut Indikator Pengetahuan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .......7..1......................... 43 4...6.........................2............ 42 3............. Jenis Alat Transportasi yang Digunakan Untuk Mencapai Puskesmas di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .. 61 4. 53 4.....2............................ 58 4... Judul Halaman 27 Konsep Pemilihan Alat Kontrasepsi yang Rasional............................................................13 DAFTAR TABEL Nomor 2.................... Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 . Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi Bagi Responden yang Ikut KB di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .......................................1...........................1.......... 61 4................9...4........... 60 4...3.........

.. Hubungan Faktor Pendukung dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .... 4................................................................ 74 ix .............................. Distribusi Responden Menurut Faktor Pendukung di Kecamatan 66 67 68 70 72 73 Rambah Samo Tahun 2008 ... Distribusi Proporsi Responden Berdasarkan Indikator Dukungan Petugas Kesehatan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ..............................15..11......16....... Distribusi Responden yang Ikut KB Menurut Pengambil Keputusan dalam Keluarga di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008..................... Distribusi Responden Menurut Faktor Predisposisi di Kecamatan 63 64 64 64 4..................................14................13.18... Hasil Akhir Analisis Regresi Logistik Ganda Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .......12.. Distribusi Proporsi Responden Menurut Pengambil Keputusan Dalam Keluarga di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008..... 4..............10. 4........ 4....................19...... 4. Rambah Samo Tahun 2008 ............................ Hubungan Faktor Pendorong dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ............14 4....17..................................... 4.................................................. Alasan Tidak Puas Terhadap Pelayanan Petugas Kesehatan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .....20.......................................... 4. Hubungan Faktor Predisposisi dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ................ Distribusi Responden Menurut Faktor Pendorong di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ........ 4.................. 4....................

.................. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Kontrasepsi.. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesertaan dalam Program KB ........5.2......... 38 39 2....... Judul Halaman 24 30 31 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Kontrasepsi........3........ Kerangka Konsep Penelitian .. Kerangka Teori Determinan Perilaku Individu.... x .4..................... Kelompok dan Komunitas ..............15 DAFTAR GAMBAR Nomor 2... 2... 2...................................................1.......... 2.........................

.................. 6............ 5........................... Judul Halaman Kuesioner Penelitian Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi Pada Istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008 .............. 4............................16 DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1............ 140 Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian .......................... 3............. 7.................. 127 Analisis Multivariat (Uji Regresi Logistik Ganda) ............................ 117 Analisis Bivariat ............. 141 2........... 115 Analisis Univariat (Distribusi Frekuensi)...................................... 106 Uji Validitas dan Reliabilitas Data ................................................................................................................... 8. xi ....... 135 Surat Izin Penelitian ............................... 112 Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov....................................................

dan kesejahteraan akan sulit dicapai tanpa kesehatan rakyat serta tingkat pemerataan penduduk. Latar Belakang Pembangunan kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran. kemauan. Negara yang kuat didukung oleh masyarakat yang sehat dan sejahtera. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.17 BAB 1 PENDAHULUAN 1. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. penyebaran penduduk yang tidak merata. Secara garis besar masalah pokok di bidang kependudukan yang dihadapi Indonesia adalah jumlah penduduk yang besar dengan laju pertumbuhan penduduk yang relatif masih tinggi. 2004).1. Pembangunan kesehatan tersebut merupakan upaya seluruh potensi bangsa Indonesia. swasta maupun pemerintah (Depkes RI. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang tidak luput dari masalah kependudukan. perdamaian abadi dan keadilan sosial. struktur . Pembangunan bidang kesehatan ini menjadi tujuan pemerintah untuk menuju tercapainya Tujuan Nasional Bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. baik masyarakat.

18

umur muda, dan kualitas penduduk yang masih harus ditingkatkan (Wiknjosastro, 1999). Selama kurun waktu 2000-2005 jumlah penduduk Indonesia cenderung berfluktuasi, tahun 2000 sebanyak 205,1 juta jiwa, tahun 2005 meningkat menjadi 218,9 juta jiwa dan tahun 2006 meningkat lagi menjadi 222,2 juta jiwa dengan kepadatan penduduk 117,6 jiwa per km2 (BPS, 2007). Penyebaran penduduk sampai tahun 2005 tidak merata baik antar pulau maupun antar propinsi, dan data menunjukkan 58,7% penduduk berada di Pulau Jawa (Depkes RI, 2007). Salah satu upaya untuk menurunkan tingkat pertumbuhan penduduk adalah melalui upaya pengendalian fertilitas yang instrumen utamanya adalah Program Keluarga Berencana (KB) (Hatmadji, 2004). Sejak pertama kali dicanangkan tahun 1970, program KB telah menunjukkan hasil dengan terjadinya penurunan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) dan Total Fertility Rate (TFR), sedangkan tingkat pemakaian kontrasepsi atau Contraceptive Prevalence Rate (CPR) mengalami peningkatan. Pada periode tahun 1980-1990 LPP adalah 1,97%, tahun 1990-2000 turun menjadi 1,45% dan tahun 2000-2006 turun lagi menjadi 1,34% (BPS, 2007a). TFR tahun 1971 adalah 5,6 per wanita pasangan usia subur (PUS), tahun 1980-1990 turun menjadi 2,34 dan pada tahun 2000-2005 turun lagi menjadi 2,28 (BPS, 2007b). Angka ini menunjukkan penurunan TFR dari waktu ke waktu tetapi belum mencapai target nasional yaitu 2,1 (BKKBN, 2005). Hasil Survei Demografi dan Kesehatan

19

Indonesia (SDKI) menunjukkan peningkatan CPR dari 54,7% (tahun 1994) menjadi 57,4% (tahun 1997) dan 60,3% (tahun 2002-2003) (BPS, 2005). Peran pihak swasta dalam melayani kebutuhan masyarakat dalam ber-KB khususnya dalam pendistribusian alat kontrasepsi modern mengalami peningkatan dari 42% (tahun 1997) menjadi 63% (tahun 2003), sedangkan peran pemerintah menurun dari 43% (tahun 1997) menjadi 28% (tahun 2003). Tempat pelayanan untuk akseptor KB baru di klinik KB pemerintah pada tahun 2005 sebanyak 59,66% sedangkan swasta sebanyak 5,47% (Depkes RI, 2007). Kurangnya mengakibatkan peran pemerintah dalam menggalakkan yang akan program KB

tingginya pertambahan

penduduk

menyebabkan

meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan, pendidikan, lapangan pekerjaan, dan pelayanan lainnya. Ketidakmampuan menciptakan lapangan pekerjaan yang cukup, berdampak pada naiknya angka pengangguran dan kemiskinan (Herlianto, 2008). Berdasarkan laporan BPS tahun 2007 jumlah penduduk miskin sebesar 16,58% dari total penduduk Indonesia atau sekitar 37,17 juta jiwa (BKKBN, 2009). Hal ini mengakibatkan rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Menurut United Nations Development Program/UNDP (2008), IPM Indonesia masih sangat rendah yaitu 0,728 menduduki peringkat 107 dari 177 negara. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa Indonesia belum mampu untuk memanfaatkan jumlah populasinya yang besar menjadi kekuatan ekonomi dan harus segera mengatur laju pertumbuhan penduduknya (Herlianto, 2008).

20

Sejak tahun 1997 program KB tidak lagi popular dan mengalami stagnasi, hal ini terlihat dari jumlah peserta KB aktif yang belum mencapai target yang ditetapkan oleh BKKBN yaitu 75%. Menurut SDKI 1997 angka kesertaan KB sebanyak 57,4% dan SDKI 2002-2003 sebanyak 60,3% (BKKBN, 2005). Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2003 persentase KB aktif terhadap PUS adalah 54,5% meningkat menjadi 57,9% pada tahun 2006 (Kasmiyati, 2008). Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya cakupan program KB tersebut di antaranya adalah pengadaan alat kontrasepsi yang masih kurang, jumlah petugas KB lapangan (PLKB) yang minim, serta kebijakan pemerintah di tiap daerah tidak sama (BKKBN, 2004). Memasuki era desentralisasi/otonomi daerah, setiap pemerintah daerah tingkat II (kabupaten/kota) memiliki otoritas penuh untuk memilih dan memilah program yang paling penting bagi daerahnya. Hampir 70% kantor BKKBN di daerah menjadi satu dengan dinas-dinas pemerintah lainnya, hanya sedikit lembaga BKKBN yang berdiri sendiri. Umumnya urusan KB digabungkan dengan bidang kesejahteraan sosial atau catatan sipil dan kependudukan. Selain itu, daerah menunjukkan komitmen yang rendah untuk menjamin kelembagaan KB dalam peraturan daerah (BKKBN, 2004). Krisis ekonomi yang melanda Indonesia juga diperkirakan ikut menjadi salah satu penyebab, karena berpengaruh terhadap daya beli masyarakat termasuk kontrasepsi. Sementara itu belum semua rakyat miskin mendapatkan akses pelayanan

71.26%. Kabupaten yang terdiri dari 14 kecamatan ini menghadapi berbagai permasalahan yang harus segera diatasi sebagai kabupaten baru. Fakta lainnya adalah bahwa hingga saat ini ketersediaan alat kontrasepsi. Jumlah PUS di Kecamatan Rambah Samo pada tahun 2004 sebanyak 1. Salah satunya adalah permasalahan bidang KB dan kependudukan yang masih banyak mengalami kendala sehingga mengakibatkan pencapaian akseptor KB aktif tiap tahunnya masih di bawah target nasional.503 jiwa diantaranya adalah masyarakat miskin dengan mata pencaharian sebagian besar penduduk pada sektor pertanian. perkebunan dan perdagangan. Kondom 0. khususnya dengan harga terjangkau bagi PUS keluarga miskin baik di perkotaan maupun di daerah pedesaan.594 orang dengan akseptor KB aktif 926 (58. Implant 6.306 jiwa.158 Kepala Keluarga dengan jumlah penduduk 328. hal ini mengakibatkan minimnya CPR di kalangan PUS (Herlianto. Sedangkan Kecamatan Rambah Samo sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Rokan Hulu merupakan daerah baru yang dibuka pada tahun 1979/1980 khusus untuk tujuan transmigrasi. masih sulit direalisasikan (Beni. Suntik 37. Pil 48.333 orang dengan akseptor .09%). dengan pemakaian kontrasepsi IUD 6.86%.26%. Kabupaten Rokan Hulu sebagai kabupaten yang dimekarkan dari Kabupaten Kampar pada tahun 1998 juga mengalami hal yang sama. 2008).43%.26%. Keadaan demografi pada tahun 2007 terdiri dari 79. Sedangkan tahun 2007 jumlah PUS sebanyak 2. dan lain-lain 0.21 KB khususnya alat kontrasepsi gratis.92%. 2003).

2008). sehingga hanya beberapa jenis alat kontrasepsi saja yang tersedia dan jumlahnya belum mencukupi. Rokan Hulu. . Pencapaian akseptor KB aktif masih rendah dibandingkan dengan target nasional yaitu 75% (Dinas Kesehatan Kab. yakni faktor predisposisi (pengetahuan. biaya untuk membeli dan memasang kontrasepsi yang tidak terjangkau. kepercayaan. serta alat kontrasepsi yang kurang tersedia di sarana kesehatan. Pil 35. kurangnya dukungan dari petugas kesehatan.09%) dengan pemakaian kontrasepsi IUD 8. keyakinan. Suntik 46. Hal ini disebabkan karena dana yang tersedia untuk pengadaan alat kontrasepsi terbatas. Informasi yang diperoleh dari Kepala Bidang Kependudukan dan KB Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Rokan Hulu tahun 2007. sikap.44%.12% dan lain-lain 1.94%. pengetahuan. diduga beberapa aspek yang menjadi faktor penyebab masih rendahnya pemakaian alat kontrasepsi adalah kurangnya informasi tentang alat kontrasepsi. Menurut Green dan Kreuter (2005).02%. perilaku. diketahui bahwa pengadaan alat kontrasepsi untuk masyarakat belum mencukupi dan tidak terdistribusi secara merata. Implant 7. determinan perilaku atau tindakan seseorang dipengaruhi oleh 3 faktor. budaya.22 KB aktif 982 (42. nilai-nilai.44%. Kondom 1. faktor pendukung (tersedia atau tidak tersedianya fasilitas). faktor yang memperkuat atau mendorong (sikap. dan sebagainya). keahlian dan dukungan petugas) dalam melayani kesehatan di masyarakat.04%. Berdasarkan pengamatan di lapangan.

Berdasarkan latar belakang di atas maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh faktor predisposisi (umur. keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan. perilaku petugas merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan keikutsertaan ibu PUS dalam program KB. pekerjaan dan tersedianya layanan kesehatan yang terjangkau. Masih rendahnya partisipasi pria ber-KB antara lain disebabkan kondisi lingkungan sosial budaya masyarakat yang masih kurang mendukung. serta keterbatasan penerimaan dan aksesibilitas terhadap pelayanan KB dan kesehatan reproduksi (BKKBN. Hasil penelitian Sakhnan (2001) melaporkan faktor usia. dan pengetahuan. Hasil penelitian Meutia (1997) menunjukkan bahwa ada pengaruh karakteristik (pekerjaan. pengetahuan. sikap). nilai anak bagi keluarga. demografi. . jarak lokasi ke pelayanan KB. agama. pengetahuan dan kesadaran pria dan keluarganya masih rendah.23 Manuaba (1998) mengatakan bahwa faktor-fakor yang mempengaruhi alasan pemilihan metode kontrasepsi diantaranya tingkat ekonomi. psiko-sosial. pendidikan. Syamsiah (2002) mengatakan bahwa faktor sosial budaya adalah semua faktor yang ada di masyarakat yang mempengaruhi penerimaan suatu jenis alat kontrasepsi antara lain: sosio-ekonomi. jumlah anak. 2005). faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi. jumlah anak. pengetahuan. pengambil keputusan dalam keluarga) dan pengetahuan akseptor KB terhadap utilitas alat kontrasepsi implant.

3. pengetahuan. pendidikan. Permasalahan Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah faktor predisposisi (umur. 1. faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi. sikap). pengetahuan. 1.4. pengambil . jumlah anak. Hipotesis Faktor predisposisi (umur. keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan.24 pengambil keputusan) terhadap pemakaian alat kontrasepsi pada istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu. Tujuan Penelitian Untuk menganalisis pengaruh faktor predisposisi (umur. sikap). pengambil keputusan) berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi pada istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008. keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan. jumlah anak. 1. sikap). pengetahuan. pendidikan. jumlah anak. faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi. keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan. pengambil keputusan) terhadap pemakaian alat kontrasepsi pada istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu. faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi.2. pendidikan.

5. Bagi Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan dan informasi bagi penyusunan kebijakan terkait dengan KB dan penggunaan alat kontrasepsi dan kebijakan menyangkut pelayanan publik dalam bidang kesehatan masyarakat. Manfaat Akademis Untuk menambah wawasan bagi peneliti lain guna pengembangan ilmu pengetahuan kesehatan masyarakat khususnya di bidang administrasi kesehatan komunitas. .25 keputusan) berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi pada istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu. 1. Manfaat Penelitian 1. 2.

misalnya: air bersih. Termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas. dokter atau bidan praktek swasta. pos obat desa. b) Faktor-faktor pemungkin (enabling factors) Faktor-faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat. tingkat pendidikan. tempat pembuangan tinja. 10 . Perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor. sistem nilai yang dianut masyarakat. a) Faktor-faktor predisposisi (predisposing factor) Faktor-faktor ini mencakup: pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan. Konsep Perilaku Kesehatan Menurut Green dan Kreuter (2005). faktor-faktor yang mendukung (enabling factor). yakni perilaku (behavior causes) dan faktor di luar perilaku (non behavior causes). dan sebagainya. poliklinik. posyandu. rumah sakit. Faktor-faktor ini terutama yang positif mempermudah terwujudnya perilaku. maka sering disebut faktor pemudah. dan faktor-faktor yang memperkuat atau mendorong (reinforcing factor). polindes. tingkat sosial ekonomi. yakni faktor predisposisi (predisposing factor).1.26 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok. ketersediaan makanan yang bergizi. dan sebagainya. tempat pembuangan sampah. tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan.

pendengaran. dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Fasilitas ini pada hakekatnya mendukung atau memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan. masyarakat memerlukan sarana dan prasarana pendukung. masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positif. melainkan diperlukan perilaku contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat. Pengetahuan (knowledge) Pengetahuan merupakan hasil dari tahu. peraturan-peraturan baik dari pusat maupun pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan.27 dan sebagainya. atau faktor pemungkin. dan dukungan fasilitas saja. rasa dan raba. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia. lebih-lebih para petugas kesehatan. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. yakni indera penglihatan. penciuman. Dalam perkembangannya. tokoh agama. Di samping itu undang-undang juga diperlukan untuk memperkuat perilaku masyarakat tersebut. Untuk berperilaku sehat. Untuk berperilaku sehat. c) Faktor-faktor pendorong (reinforcing factors) Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat (toma). . tokoh agama (toga). yakni: 1. sikap dan perilaku petugas termasuk petugas kesehatan. Termasuk juga disini undang-undang. para petugas. maka faktor-faktor ini disebut faktor pendukung. teori Green ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan.

mendefenisikan. sebab dari pengalaman dan hasil penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng (long lasting) daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Gerungan. 1986). dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. pengertian KB. Termasuk kedalam pengetahuan ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. menyatakan dan sebagainya. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Selanjutnya Notoatmodjo (2007) mengatakan bahwa pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan: a) Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Contohnya adalah mendapatkan informasi tentang KB. manfaat KB dan dimana memperoleh pelayanan KB. b) Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat . menguraikan.28 Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan.

Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja. membedakan. dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. tetapi masih di dalam satu struktur organisasi. prinsip. metode. dapat merencanakan. menyebutkan contoh. dan sebagainya. dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. memisahkan. Misalnya.29 menjelaskan. dapat menyesuaikan. mengelompokkan. dan masih ada kaitannya satu sama lain. e) Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. d) Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum. dapat menyusun. . menyimpulkan. dapat meringkaskan. seperti dapat menggambarkan (membuat bagan). c) Aplikasi (Aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. rumus.

Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat.30 f) Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap (Attitude) Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek. bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Notoatmodjo (2003) yang mengutip pendapat Newcomb. tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. serta . Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas. menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak. atau menggunakan kriteria-kriteria yang ada. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri. Contohnya adalah seperti sikap setuju atau tidaknya terhadap informasi KB. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup. pengertian dan manfaat KB. 2.

terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah. fasilitas dan sarananya. adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut. b) Merespon (Responding) Memberikan jawaban apabila ditanya. sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan yaitu: (Notoatmodjo. c) Menghargai (Valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. 2003) a) Menerima (Receiving) Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). Misalnya sikap orang terhadap KB dapat dilihat dari kesediaan dan perhatian orang itu terhadap ceramah-ceramah tentang KB. Misalnya: seorang ibu yang mengajak ibu yang lain (tetangganya. juga kesediaan mereka memenuhi kebutuhan sendiri. saudaranya dan sebagainya) untuk pergi ke sarana kesehatan untuk mendapatkan pelayanan KB adalah suatu bukti bahwa ibu tersebut telah mempunyai sikap positif. Seperti halnya dengan pengetahuan. dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. mengerjakan.31 kesediaannya mendatangi tempat pelayanan KB. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan. .

misalnya dari suami atau istri. juga diperlukan faktor dukungan (support) dari pihak lain. Selain fasilitas. untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau kondisi yang memungkinkan. Praktek atau tindakan (Practice) Menurut Sarwono (2007). Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). seorang ibu mau memakai alat kontrasepsi. dan lain-lain. meskipun mendapat tantangan dari suami atau mertuanya. sedih. dan lain-lain) dan memiliki tingkat kedalaman yang berbeda-beda. 3. Sikap ibu yang positif terhadap alat kontrasepsi harus mendapat konfirmasi dari suaminya.32 d) Bertanggung jawab (Responsible) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi. objek ataupun situasi tertentu. sikap dapat dirumuskan sebagai kecenderungan untuk berespon secara positif maupun negatif terhadap orang. dan ada fasilitas yang mudah dicapai agar ibu tersebut dapat memakai alat kontrasepsi. Sikap mengandung suatu penilaian emosional (senang. benci. orangtua atau mertua. . Misalnya. antara lain adalah fasilitas. Beberapa tingkatan praktek adalah: a) Persepsi (Perception) Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama.

2. (4) Menentukan jumlah anak dalam keluarga. . Pengertian Keluarga Berencana Menurut WHO (1970). keluarga berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk mendapatkan objek tertentu.2. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut. atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan. (3) Mengatur interval di antara kehamilan.2. yang dikutip oleh Hartanto (2004).33 b) Respons terpimpin (Guided response) Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktek tingkat dua. (2) Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan. Mochtar (1995) mengatakan keluarga berencana adalah suatu usaha menjarangkan atau merencanakan jumlah anak dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi. d) Adopsi (Adoption) Adopsi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Program Keluarga Berencana Nasional 2. maka ia sudah mencapai praktek tingkat tiga. yaitu: (1) Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan.1. c) Mekanisme (Mechanism) Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis.

Keputusan pemerintah untuk menjadikan KB sebagai program nasional dan dinyatakan sebagai bagian integral dari pembangunan nasional. Hal inilah yang menggugah Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia kala itu Sarwono Prawirohardjo untuk mendirikan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) pada tanggal 23 Desember 1957. Secara umum tujuan keluarga berencana adalah untuk mewujudkan keluarga yang sehat dan sejahtera dalam upaya untuk menjarangkan kehamilan dan membatasi jumlah anak dua orang saja. Konsep yang dikembangkan oleh PKBI adalah kesehatan ibu dan anak yang memberi inspirasi bagi pendirian Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang kemudian di kelola oleh Pemerintah Orde Baru.2. 1999). berkisar pada 800 per 100.2. upaya ini juga dapat menyehatkan kondisi sosial ekonomi keluarga (Saifuddin.34 Berdasarkan dua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa keluarga berencana adalah usaha-usaha yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun individu untuk mengatur jarak kelahirannya dengan menggunakan alat atau metode kontrasepsi. 2003). Perkembangan Keluarga Berencana di Indonesia Permulaan pemikiran tentang KB di Indonesia tidak mempersoalkan angka kelahiran tetapi tingginya angka kematian ibu akibat terlalu sering melahirkan.000 kelahiran bahkan tidak jarang ibu meninggal bersama bayinya (Wiknjosastro. disusul dengan keluarnya Keputusan . 2.

8 Tahun 1970 tentang Pembentukan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Dengan demikian ketergantungan program KB terhadap pemerintah semakin berkurang. Falsafah KB Mandiri pada hakekatnya merupakan keadaan dan sikap mental dari pemerintah maupun pengelola/pelaksana KB baik secara individu maupun kelompok dalam mengelola dan melaksanakan KB atas kemauan sendiri tanpa tergantung dari orang lain dalam memelopori menjadi peserta KB. maka beberapa hal yang menyangkut tersedianya pelayanan yang mudah dicapai dan dijangkau masyarakat serta kualitas yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat perlu diusahakan (KBKKBN. Memasuki Pelita V. Dengan program yang baru ini pemerintah memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi organisasi profesi serta sektor swasta lainnya dalam memberikan pelayanan KB.35 Presiden No. Proses pembangunan konsep KB mandiri berawal dari diperkenalkannya konsep alih peran kemudian berkembang menjadi alih kelola dan selanjutnya mengkristalkan menjadi KB Mandiri. pemerintah dalam hal ini BKKBN telah memperkenalkan satu program baru yang disebut dengan Gerakan KB Mandiri. 1990). Agar masyarakat mau membiayai sendiri pelayanan KB. Untuk menunjang pelaksanaan KB Mandiri pada tahun 1988 telah dicanangkan program KB Lingkaran Biru (LIBI) dan akhirnya dilontarkan suatu kegiatan pemasaran sosial LIBI lengkap dengan logonya guna memperkenalkan .

serta menghentikan kesuburan. Kontrasepsi 2. 1998) 1. menjarangkan kehamilan.1. Untuk memperluas pilihan alat kontrasepsi terhadap kebutuhan ber-KB. Pemasaran KB LIMAS bukan satu pengganti pemasaran kontrasepsi LIBI. tetapi suatu usaha yang bersamaan untuk lebih memberikan banyak pilihan kontrasepsi kepada peserta KB mandiri yang pada akhirnya dapat diharapkan memberikan kepuasan kepada akseptor (BKKBN. Metode Amenorea Laktasi (MAL) b. Pengertian Kontrasepsi Kontrasepsi adalah alat atau obat yang digunakan untuk menunda.3.3. sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur (ovum) yang matang dengan sperma yang akan mengakibatkan kehamilan. Kontra berarti mencegah atau melawan. Metode sederhana tanpa alat/obat a.36 sederetan pelayanan swasta maupun alat kontrasepsi untuk KB. 1992). Metode KB alamiah (KBA) . Jenis Metode Kontrasepsi Metode/cara kontrasepsi menurut jenisnya dibagi menjadi: (Manuaba. Kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. 2. maka tanggal 1 Juli 1992 telah diresmikan oleh Presiden Suharto sebuah lambang baru yaitu Lingkaran Emas (LIMAS).3.2. Maka kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur dengan sperma tersebut. 2.

Susuk KB ( Bawah Kulit/AKBK) d. Metode sederhana dengan alat/obat (barrier) a. (2) cara yang terbaik hasilnya (efektif) adalah cara yang digunakan oleh pasangan dengan teguh secara terus menerus. Pil KB b. (3) penerimaan pasangan terhadap suatu cara adalah unsur yang penting untuk berhasilnya suatu cara kontrasepsi. yaitu: (1) cara apapun yang dipakai adalah lebih baik daripada tidak memakai sama sekali. IUD ( Dalam Rahim/AKDR) 4. Metode mantap dengan cara operasi a. Diafragma c. Kondom b. Metode efektif a. Spermisida 3. Pada pria: Metode Operasi Pria (MOP/Vasektomi) Cara-cara kontrasepsi tersebut mempunyai tingkat efektifitas yang berbedabeda dalam memberikan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan. Suntikan KB c. Namun perlu diingat adanya aksioma (azas) kontrasepsi. Pada wanita: Metode Operasi Wanita (MOW/Tubektomi) b.37 c. Sanggama terputus (coitus interruptus) 2. .

faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian kontrasepsi adalah sebagai berikut: 1. Faktor sosio-demografi Penerimaan KB lebih banyak pada mereka yang memiliki standard hidup yang lebih tinggi. tetapi juga karena metode-metode tersebut mungkin tidak dapat diterima sehubungan dengan kebijakan nasional KB. Determinan Pemakaian Alat Kontrasepsi Menurut Berthrand (1980). Indikator status sosio-ekonomi termasuk pendidikan yang dicapai. juga jenis rumah. Faktor sosio-psikologi Sikap dan keyakinan merupakan kunci penerimaan KB. gizi (di negara-negara sedang berkembang) dan pengukuran pendapatan tidak langsung lainnya. banyak sikap yang dapat menghalangi KB. dan seksualitas wanita atau biaya untuk memperoleh kontrasepsi (Muryani.3.3. 2004). Beberapa faktor sosio-psikologi yang penting antara lain . 2.38 Banyak orang kesulitan untuk menentukan pilihan kontrasepsi yang tepat. 2. kesehatan individu. penggunaan kontrasepsi lebih banyak pada wanita yang berumur akhir 20-30 an yang sudah memiliki anak tiga atau lebih. Beberapa faktor demografi tertentu juga mempengaruhi penerimaan KB di beberapa negara. Bukan hanya karena terbatasnya jumlah metode yang tersedia. Faktor sosial lain yang juga mempengaruhi adalah suku dan agama. misalnya di banyak negara-negara sedang bekembang. pendapatan keluarga dan status pekerjaan.

jarak ke pusat pelayanan dan keterlibatan dengan media massa. komunikasi suami isteri.39 adalah ukuran keluarga ideal. 3. informasi dan edukasi (KIE) merupakan salah satu faktor praktis yang dapat diukur bila pelayanan KB tidak tersedia. pengetahuan tentang sumber kontrasepsi. Beberapa faktor yang berhubungan dengan pelayanan KB antara lain keterlibatan dalam kegiatan yang berhubungan dengan KB. Secara ringkas faktor-faktor tersebut dapat dilihat seperti pada gambar berikut: . persepsi terhadap kematian anak. Sikap dan kepercayaan tersebut perlu untuk mencegah isu yang berhubungan termasuk segi pelayanan dan efek samping alat kontrasepsi. pentingnya nilai anak laki. sikap terhadap KB. Faktor yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan Program komunikasi.

Faktor sosio-demografi Pendidikan Pendapatan Status pekerjaan Perumahan Status gizi Umur Suku Agama Faktor sosio-psikologi Ukuran keluarga ideal Pentingnya nilai anak laki Sikap terhadap KB Komunikasi suami-istri Persepsi terhadap kematian anak Faktor yang berhubungan dengan pelayanan Keterlibatan dalam kegiatan yang berhubungan dengan KB Pengetahuan tentang kontrasepsi Jarak ke pusat pelayanan Paparan dengan media massa Pemakaian Kontrasepsi a. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemakaian Kontrasepsi Menurut WHO dalam Wiknjosastro (1999). Sumber : Bertrand. h.1. e. e. d. b. c. c. aman e. b.40 a. 1980 Gambar 2. murah d. b. mudah didapat . g. a. permanen atau reversibel b. efektif c. f. d. d. c. faktor-faktor penting bagi pasangan untuk memilih metode kontrasepsi adalah apakah metode tersebut: a.

harus digunakan setiap saat pasangan berhubungan seksual Karakteristik pasangan seperti umur. dapat digunakan pada saat menyusui i. Tidak semua faktor ini sama pentingnya pada tiap pasangan. Menurut Affandi dalam Mutiara (1998). Kadang-kadang informasi yang diberikan tidak benar sehingga menimbulkan kesalahan pengertian tentang penggunaan kontrasepsi. Sebagai contoh. membutuhkan kerjasama pasangan k. jumlah dan jenis kelamin anak. Kepentingan faktor-faktor ini mungkin berubah dari waktu ke waktu karena keinginan pasangan untuk mengganti metode kontrasepsi yang digunakan. Sebaliknya. mudah digunakan dan tidak putus pakai g. Pemilihan metode kontrasepsi mungkin juga dipengaruhi oleh informasi yang diterima dari teman atau kerabat. dan frekuensi hubungan seksual juga mungkin mempengaruhi.41 f. melindungi terhadap penyakit hubungan seksual j. pasangan yang tidak menginginkan anak lagi mungkin menilai keefektifan metode lebih dari kemudahan penggunaan. seorang wanita yang menginginkan menunda kelahiran mungkin lebih menilai kenyamanan dan kemudahan penggunaan daripada keefektifan metode. faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian kontrasepsi adalah: . memiliki efek samping yang tidak diinginkan h.

jarak antara anak pertama dan kedua sekurang-kurangnya 2 tahun atau diusahakan jangan ada 2 anak balita dalam kesempatan yang sama. Seorang wanita secara biologik memasuki usia reproduksinya beberapa tahun sebelum mencapai umur dimana kehamilan dan persalinan dapat berlangsung dengan aman dan kesuburan ini akan berlangsung terus menerus sampai 10-15 tahun sesudah kurun waktu dimana kehamilan dan persalinan itu berlangsung dengan aman. Pilihan ini sangat pula tergantung pada pengetahuannya tentang kontrasepsi tersebut. Dalam perencanaan keluarga harus diketahui kapan kurun waktu reproduksi sehat. anak pertama lahir sesudah ibunya berumur 20 tahun 2.42 a. Kemudian menyelesaikan besarnya keluarga sewaktu istri berusia 30-35 tahun dengan kontrasepsi mantap b. Kurun waktu yang paling aman adalah umur 20-35 tahun dengan pengaturan: 1. Faktor pola perencanaan keluarga. berapa sebaiknya jumlah anak sesuai kondisi. berapa perbedaan jarak umur antara anak. . Faktor subyektif Bagaimanapun baiknya suatu alat kontrasepsi baik dipandang dari sudut kesehatan maupun rasionalitasnya namun belumlah tentu dirasakan cocok dan dipilih oleh akseptor/calon akseptor. Adalah mengenai penentuan besarnya jumlah keluarga yang menyangkut waktu yang tepat untuk mengakhiri kesuburan. baik yang didapat dari keluarga/kerabat maupun yang didapat dari petugas kesehatan atau tokoh masyarakat. anak kedua lahir sebelum ibunya berumur 30 tahun 3.

. akan merubah metode. Suntikan c. b. Faktor motivasi a. 30-35 tahun Kontap IUD Implant Suntikan Pil Kelangsungan pemakaian kontrasepsi sangat tergantung dari motivasi dan penerimaan pasangan suami istri. 20-21 tahun IUD Suntikan Pil Implant Umur d. b. e.43 c. dipengaruhi oleh berbagai faktor. Motivasi akseptor KB untuk terus menggunakan kontrasepsi yang lama. Mereka yang menggunakan kontrasepsi dengan tujuan untuk membatasi kelahiran mempunyai tingkat kemantapan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang bertujuan untuk menunda kehamilan. atau menghentikan sama sekali penggunaan kontraspsi. Konsep Pemilihan Alat Kontrasepsi yang Rasional Fase Mencegah Kehamilan Fase Menjarangkan Kehamilan Fase Mengakhiri Kehamilan a. Biasanya pemilihan kontrasepsi juga disesuaikan dengan maksud penggunaan kontrasepsi tersebut. IUD a. d. c. c.1. Faktor obyektif Pemilihan kontrasepsi yang digunakan disesuaikan dengan keadaan wanita (kondisi fisik dan umur) serta disesuaikan dengan fase-fase menurut kurun waktu reproduksinya. Pil b. Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. d.

persentase penduduk umur 10 tahun atau lebih yang mendapatkan perawatan tenaga medis k. Faktor sosial. meliputi: a. dalam Mutiara (1998). persentase rumah tangga yang memiliki televisi c. persentase penduduk wanita berumur 20-24 tahun yang belum pernah kawin g. jumlah guru SD per 10. meliputi: a. angka fertilitas total 2. persentase penduduk yang dapat berbahasa Indonesia f. rata-rata jumlah anak yang masih hidup b. persentase penduduk usia sekolah yang masih bersekolah . tingkat harapan hidup saat lahir e. persentase penduduk wanita berumur 15-24 tahun yang belum pernah kawin h. persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang sakit selama seminggu j. kepadatan penduduk per km2 e. dkk. persentase rumah tangga yang memiliki radio b. rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup c.000 penduduk usia sekolah i. faktor-faktor yang mempengaruhi kesertaan dalam program KB adalah: 1. Faktor demografi. persentase penduduk yang tinggal di daerah kota d. tingkat kematian bayi d.44 Menurut Soeradji.

45

l. persentase wanita yang pernah kawin umur 15-49 tahun 3. Faktor ekonomi, meliputi: a. rasio ketergantungan antara penduduk umur 0-9 dan 55+ tahun terhadap yang berumur 10-54 tahun b. persentase wanita yang bekerja c. partisipasi angkatan kerja wanita d. persentase wanita yang bekerja pada pekerjaan tradisional e. persentase petani yang tidak memiliki tanah f. rata-rata luas sawah 4. Faktor infra struktur, meliputi : a. persentase rumah tangga yang mendapatkan leding b. jumlah gedung SD per 10.000 penduduk usia sekolah c. jumlah gedung SMTP per 10.000 penduduk usia sekolah d. persentase sawah dengan irigasi e. persentase tanah sawah 5. Faktor input, meliputi : a. jumlah dokter per 10.000 wanita umur 20-24 tahun b. jumlah bidan per 10.000 wanita umur 20-24 tahun c. jumlah pembantu bidan per 10.000 wanita umur 20-24 tahun d. jumlah klinik KB per 10.000 wanita umur 20-24 tahun e. jumlah petugas lapangan KB per 10.000 wanita umur 20-24 tahun

46

f. jumlah pembantu pembina KB desa per 10.000 wanita umur 20-24 tahun g. rata-rata hari kerja klinik per minggu Kelima faktor-faktor tersebut dapat digambarkan seperti gambar di bawah ini: Faktor Demografi

Faktor Sosial Faktor Input Faktor Ekonomi Kesertaan dalam program KB

Faktor Infra Struktur Sumber : Soeradji, dkk. dalam Mutiara (1998) Gambar 2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesertaan Dalam Program KB Menurut Utomo dalam Mutiara (1998), penggunaan kontrasepsi dipengaruhi oleh umur, jumlah anak hidup, tingkat pendidikan dan frekuensi pemaparan terhadap media massa. Umur mempengaruhi jumlah anak hidup dan tingkat pendidikan, dan tingkat pendidikan mempengaruhi frekuensi pemaparan terhadap media massa. Konsep tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

47

Jumlah Anak Hidup

Frekuensi Pemaparan Terhadap Media Massa

Penggunaan Kontrasepsi

Tingkat Pendidikan Sumber : Utomo dalam Mutiara (1998)

Umur

Gambar 2.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Kontrasepsi Berdasarkan klasifikasi beberapa penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pemakaian alat kontrasepsi dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut: A. Umur Masa kehamilan reproduksi wanita pada dasarnya dapat dibagi dalam tiga periode, yakni kurun reproduksi muda (15-19 tahun), kurun reproduksi sehat (20-35 tahun), dan kurun reproduksi tua (36-45 tahun). Pembagian ini didasarkan atas data epidemiologi bahwa risiko kehamilan dan persalinan baik bagi ibu maupun bagi anak lebih tinggi pada usia kurang dari 20 tahun, paling rendah pada usia 20-35 tahun dan meningkat lagi secara tajam setelah lebih dari 35 tahun. Jenis kontrasepsi yang sebaiknya dipakai disesuaikan dengan tahap masa reproduksi tersebut

(Siswosudarmo, 2001). Sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (1993) yang mengatakan bahwa umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang termasuk dalam

dan keinginan terhadap jenis kelamin tertentu. dengan pendidikan yang tinggi seseorang dapat lebih mudah untuk menerima ide atau masalah baru seperti penerimaan.73 kali dibandingkan dengan yang berumur 40 tahun atau lebih. 1998). pembatasan jumlah anak. Demikian pula halnya dengan menentukan pola perencanaan keluarga dan pola dasar penggunaan kontrasepsi serta peningkatan kesejahteraan keluarga (Manuaba. Ini mengisyaratkan bahwa ada penurunan penggunaan kontrasepsi pada kelompok wanita yang lebih tua. Wanita yang berumur < 20 tahun kemungkinan untuk menggunakan kontrasepsi sebesar 0.15 dan 0. Mereka yang berumur tua mempunyai peluang lebih kecil untuk menggunakan alat kontrasepsi dibandingkan dengan yang muda. Orang yang berpendidikan lebih tinggi biasanya akan bertindak lebih rasional.38. Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh Dang di Vietnam dalam Mutiara (1998) dilaporkan bahwa ada hubungan yang kuat antara umur dengan penggunaan kontrasepsi. Oleh karena itu orang yang berpendidikan akan lebih mudah menerima gagasan baru. Pendidikan Tingkat pendidikan sangat mempengaruhi bagaimana seseorang untuk bertindak dan mencari penyebab serta solusi dalam hidupnya. B. Pendidikan juga mempengaruhi pola berpikir pragmatis dan rasional terhadap adat kebiasaan.48 pemakaian alat kontrasepsi. Pendidikan juga akan meningkatkan kesadaran wanita terhadap manfaat yang dapat dinikmati bila ia mempunyai jumlah . Sementara wanita yang berumur 30-34 tahun dan 35-39 tahun kemungkinannya untuk menggunakan kontrasepsi hanya sekitar 0.

49 anak sedikit. Wanita dengan jumlah anak 4 orang atau lebih memiliki kemungkinan untuk menggunakan kontrasepsi . Semakin sering seorang wanita melahirkan anak. Wanita yang berpendidikan lebih tinggi cenderung membatasi jumlah kelahiran dibandingkan dengan yang tidak berpendidikan atau berpendidikan rendah (Soekanto. Sementara wanita yang berpendidikan dasar kemungkinan untuk menggunakan kontrasepsi sebesar 0. Wanita yang tidak sekolah kemungkinan untuk menggunakan kontrasepsi sebesar 0. Hal ini berarti jumlah anak akan sangat mempengaruhi kesehatan ibu dan dapat meningkatkan taraf hidup keluarga secara maksimal.88 kali dibandingkan dengan wanita yang berpendidikan menengah atau tinggi.55 kali dibandingkan dengan wanita yang berpendidikan menengah atau tinggi. Hasil penelitian Dang dalam Mutiara (1998) melaporkan ada hubungan yang bermakna antara jumlah anak dengan penggunaan kontrasepsi. Penelitian Dang dalam Mutiara (1998) menunjukkan bahwa pendidikan berhubungan bermakna dengan penggunaan kontrasepsi. Seorang istri mungkin menggunakan alat kontrasepsi setelah mempunyai jumlah anak tertentu dan juga umur anak yang masih hidup. C. maka akan semakin memiliki risiko kematian dalam persalinan. 2006). Jumlah anak Mantra (2006) mengatakan bahwa kemungkinan seorang istri untuk menambah kelahiran tergantung kepada jumlah anak yang telah dilahirkannya. Pola yang sama juga dijumpai dengan pendidikan suami.

sedangkan kemampuan membayar bisa tergantung variabel non ekonomi dalam hal selera atau persepsi individu terhadap suatu barang atau jasa. faktor-fakor yang mempengaruhi alasan pemilihan metode kontrasepsi diantaranya adalah tingkat ekonomi. Keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi Menurut Manuaba (1998). 1986). penggunaan alat kontrasepsi adalah mereka yang telah mempunyai anak cukup banyak. D.73 kali dibandingkan dengan wanita yang memiliki 2 orang anak atau kurang. dalam Mutiara (1998) melaporkan bahwa pada awal progam KB. . Dengan berjalannya waktu dan pelaksanaan program maka lebih banyak wanita dengan paritas yang lebih kecil akan menggunakan alat kontrasepsi. Adanya keterkaitan antara pendapatan dengan kemampuan membayar jelas berhubungan dengan masalah ekonomi. Soeradji. E. sebab dari pengalaman dan hasil penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng (long lasting) daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Gerungan.50 sebesar 1. dkk. Pengetahuan Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Gejala ini melandasi pengaruh jumlah anak terhadap penggunaan alat kontrasepsi. pekerjaan dan tersedianya layanan kesehatan yang terjangkau.

tetapi dapat juga tokoh-tokoh lain (professional. ulama. misalnya dalam masyarakat tertentu kata-kata kepala suku selalu diikuti. melalui kontak langsung oleh petugas program KB. Untuk dapat digunakan. petugas kesehatan. iklan-iklan obat atau pasta gigi di televisi menampilkan tokoh yang berpakaian dokter atau dokter gigi. pakar. ilmuwan. seniman. Secara tidak langsung daya beli individu ini juga dipengaruhi oleh ada tidaknya subsidi dari pemerintah. Untuk mengubah atau mendidik masyarakat diperlukan tokoh panutan yang dapat merupakan pemimpin masyarakat. F. oleh dokter dan sebagainya – dapat meningkatkan secara nyata pemilihan metode kontrasepsi. Dukungan petugas kesehatan Untuk mengubah atau mendidik masyarakat seringkali diperlukan pengaruh dari tokoh-tokoh atau pemimpin masyarakat (community leaders).51 Ketersediaan alat kontrasepsi terwujud dalam bentuk fisik. Promosi metode tersebut – melalui media. Disamping itu daya beli individu juga dapat mempengaruhi penggunaan kontrasepsi. keberhasilan program KB di Indonesia antara lain karena melibatkan ulama. pertama kali suatu metode kontrasepsi harus tersedia dan mudah didapat. Memberikan konsultasi medis mungkin dapat dipertimbangkan sebagai salah satu upaya promosi. tersedia atau tidaknya fasilitas atau sarana kesehatan (tempat pelayanan kontrasepsi). . dan sebagainya) tergantung pada jenis masalah atau perubahan yang bersangkutan (Sarwono. 2001).

2. membiayai pengeluaran kontrasepsi. dan memperhatikan tanda bahaya pemakaian. Keadaan ideal bahwa pasangan suami istri harus bersama memilih metoda kontrasepsi yang terbaik.52 G. Landasan Teori Konsep umum yang dijadikan sebagai landasan teori adalah teori Green dan Kreuter (2005) yang digunakan untuk menilai perilaku individu atau kelompok.4. Menurut Friedman (1998) dan Sarwono (2007) ikatan suami isteri yang kuat sangat membantu ketika keluarga menghadapi masalah. kemampuan . keyakinan. Hal itu disebabkan orang yang paling bertanggung jawab terhadap keluarganya adalah pasangan itu sendiri. Masyarakat di Indonesia khususnya di daerah pedesaan sebagai peran penentu dalam pengambilan keputusan dalam keluarga adalah suami. Dukungan tersebut akan tercipta apabila hubungan interpersonal keduanya baik. saling kerjasama dalam pemakaian. sedangkan isteri hanya bersifat memberikan sumbang saran. sikap. karena suami/isteri sangat membutuhkan dukungan dari pasangannya. kebutuhan yang dirasakan. nilai-nilai. Hartanto (2004) mengatakan bahwa metoda kontrasepsi tidak dapat dipakai istri tanpa kerjasama suami dan saling percaya. Ada 3 faktor yang mempengaruhi individu untuk bertindak yaitu faktor predisposisi (pengetahuan. Pengambil keputusan Program KB dapat terwujud dengan baik apabila ada dukungan dari pihakpihak tertentu.

ada tidaknya informasi dan situasi yang memungkinkan untuk bertindak. maka kerangka teori adalah sebagai berikut: .53 dan unsur-unsur lain yang terdapat dalam diri individu dan masyarakat). faktor pendukung (tersedia sarana dan prasarana) dan faktor pendorong (petugas kesehatan). beberapa karakteristik individu meliputi umur. Konsep tersebut dikombinasikan dengan teori Kar yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003). Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa determinan perilaku dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal serta menurut Robbins (1994). jenis kelamin. perilaku kesehatan bertitik tolak dari niat seseorang. dan status masa kerja. dukungan sosial. tanggung jawab. Berdasarkan konsep tersebut. status perkawinan. pendidikan.

Panutan 3. Jenis kelamin 4. Usia 6. Keterampilan 5.4. Persepsi Faktor Pendukung: 1. Lingkungan Sosial (Budaya. Kelompok dan Komunitas . Gambar 2. kelompok. Pengetahuan 2.54 Faktor Predisposisi: 1. Kemudahan untuk mencapai sumber daya 3. Ekonomi. Masa kerja Genetika Perilaku dari individu. Politik) Sumber: Green dan Kreuter (2005). Teman 5. Tingkat emosional 3. Notoatmodjo (2007). Kepercayaan 4. Robbins (1994). Pembuat keputusan 6. dan komunitas Faktor Eksternal: 1. Peraturan/Hukum 4. Lingkungan fisik 2. Ketersediaan sumber daya 2. Sikap 3. Lingkungan Biologik 3. Dukungan sosial Faktor Internal: 1. Kebangsaan 5. Pekerja 4. Tingkat kecerdasan 2. Kerangka Teori Determinan Perilaku Individu. Ketersediaan waktu Faktor Pendorong: 1. Sikap dan perilaku petugas kesehatan 2. Nilai-nilai 5.

sikap). pendidikan. Pengambil keputusan Gambar 2. Dukungan petugas kesehatan 2.55 2. Variabel Dependen Pemakaian alat kontrasepsi .5. Umur 2. sedangkan variabel dependen adalah pemakaian alat kontrasepsi. Kerangka Konsep Penelitian Variabel independen dalam penelitian ini adalah faktor predisposisi (umur. Ketersediaan alat kontrasepsi 2. Pengetahuan 5. maka peneliti merumuskan kerangka konsep penelitian sebagai berikut: Variabel Independen Faktor Predisposisi : 1. faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan. keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi).5. jumlah anak. Sikap Faktor Pendukung : 1. pengambil keputusan). Pendidikan 3. faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi. pengetahuan. Keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi Faktor Pendorong : 1. Kerangka Konsep Berdasarkan kerangka teori tersebut. Jumlah anak 4.

faktor pendukung dan faktor pendorong terhadap pemakaian alat kontrasepsi pada istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu. Sampel adalah seluruh isteri dari PUS yang tinggal menetap di Kecamatan Rambah Samo dengan kriteria sebagai berikut: a. 3.1.3. Populasi dan Sampel Populasi adalah seluruh PUS yang ada di Kecamatan Rambah Samo. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian survei dengan tipe explanatory research yang bertujuan untuk menjelaskan pengaruh antara faktor predisposisi. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian adalah Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu dengan tingkat akseptor KB aktif (current user) 42%. Responden berumur 20-35 tahun yang telah memiliki anak ≥2 b. Penelitian berlangsung selama 6 (enam) bulan yaitu pada bulan Juli 2008 sampai dengan Desember 2008. dan berdasarkan data di Puskesmas pada tahun 2007 berjumlah 2.56 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.333. 3. Responden berumur < 20 tahun dan > 35 tahun meskipun tidak memiliki anak 40 . masih di bawah Indikator Indonesia Sehat 2010 yaitu 75%.2.

05 Z1-β : kekuatan uji (ditetapkan peneliti) bila β Po Pa 10%.96 Z1-α/2 : nilai deviasi normal pada tingkat kemaknaan α = 0.282 : proporsi PUS yang menjadi akseptor KB aktif : 42% : proporsi PUS yang diharapkan menjadi akseptor KB aktif : 59% n {1. maka Z1-β = 1. maka besar sampel yang diambil adalah 88 + 8. 1997) )Z1 Pa(1Pa) }2 n {Z1 / 2 Po(1(Po PaPo)2 Keterangan: n : besar sampel Z1-α/2=1. 96 0.42)2 n 88 . Teknik tersebut dilakukan untuk menyempurnakan penggunaan sampel wilayah. 59(10.35 ≈ 88 (sampel minimal) Dengan mempertimbangkan faktor non respons sebanyak 10%. sehingga sampel yang diteliti adalah seperti tabel berikut: .590.. yaitu istri yang berumur < 20 tahun (untuk menunda kehamilan) dan berumur > 35 tahun (untuk mengakhiri kesuburan).al. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara sampel berimbang (proportional sampling). 42)1.8 dibulatkan menjadi 100 responden.57 Kriteria ini dibuat dengan asumsi kelompok umur tersebut merupakan golongan istri yang sebaiknya memakai alat kontrasepsi sesuai dengan tujuan KB. 42(10.8 = 96. 59) }2 (0. 282 0. Besar sampel dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: (Lemeshow et. sebab banyaknya subjek yang terdapat pada setiap wilayah tidak sama.

50 568/2333 x 100 = 24. . Kantor Camat Rambah Samo. Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu.26 Besar Sampel 29 24 18 17 12 100 Setelah ditentukan banyaknya sampel pada setiap wilayah selanjutnya sampel ditentukan dengan cara sampel acak sederhana (Simple Random Sampling) yaitu mengambil sebagian dengan menggunakan tabel random (Pratiknya.35 409/2333 x 100 = 17. 3.333 Rekapitulasi Perhitungan Sampel 665/2333 x 100 = 28. Besar Sampel yang Diteliti di Wilayah Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008 No 1 2 3 4 5 Nama Desa Rambah Utama Rambah Baru Pasir Makmur Karya Mulya Masda Makmur Jumlah Jumlah PUS 665 568 409 405 286 2.1. dan BPS Kabupaten Rokan Hulu. 2003).58 Tabel 3. Sebelum data dikumpulkan. Metode Pengumpulan Data Data primer dikumpulkan dari responden dengan metode wawancara menggunakan kuesioner sebagai panduan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Uji coba dilakukan pada bulan Juli 2008 terhadap 30 orang istri PUS yang berada di Kecamatan Rambah Samo Barat yang memiliki karakteristik yang sama dengan istri PUS di lokasi penelitian.36 286/2333 x 100 = 12. terlebih dahulu dilakukan uji coba instrumen yang bertujuan untuk memastikan bahwa alat bantu yang akan digunakan (kuesioner) memiliki validitas dan reliabilitas. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.4. Sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumentasi dan laporan yang tersedia di Puskesmas Rambah Samo.53 405/2333 x 100 = 17.

7208 0.8212 0.8090 0.4975 0.59 Uji validitas menunjukkan sejauh mana alat ukur benar-benar mengukur apa yang ingin diukur dan dilakukan dengan mengukur korelasi antara masing-masing item pertanyaan dengan skor total menggunakan rumus korelasi Pearson Product Moment (r). maka pertanyaan valid dan jika nilai r hitung < r tabel.9105 .5843 0.4345 0. yaitu menganalisis reliabilitas alat ukur lebih dari satu kali pengukuran dengan ketentuan jika r Cronbach Alpha > r tabel.8212 0. 2002). dinyatakan reliabel dan jika r Cronbach Alpha < r tabel. Uji reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya/diandalkan. Hasil uji validitas dan reliabilitas kuesioner penelitian dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3. dengan ketentuan jika nilai r hitung > r tabel. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Penelitian Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi pada Istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Variabel Pengetahuan Butir Pertanyaan 1 2 3 4 5 6 7 8 1 2 3 4 5 r hitung 0.7502 0.6752 0.6752 0. maka pertanyaan tidak valid (Riduwan. 2002).2.8655 Status Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Cronbach Alpha Status Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel 0. dinyatakan tidak reliabel (Riduwan.8843 Sikap 0.8655 0.7457 0. Teknik menghitung indeks reliabilitas dengan metode Cronbach Alpha.

keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi). 3. pengambil keputusan). Variabel dan Definisi Operasional Variabel bebas (independent variable) adalah faktor predisposisi (umur.7908 0.7908 0. sedangkan variabel terikat (dependent variable) adalah pemakaian alat kontrasepsi.361). α = 5% sebesar 0. dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan. faktor pendorong (ketersediaan alat kontrasepsi.7908 0. Variabel Dukungan Petugas Kesehatan Butir Pertanyaan 1 2 3 4 5 6 r hitung 0.60 Lanjutan Tabel 3. 1.7908 0.5818 0.4966 Status Valid Valid Valid Valid Valid Valid Cronbach Alpha Status Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel 0. .361. Umur adalah jumlah tahun hidup responden pada saat wawancara yang dihitung dari ulang tahun terakhir (dibulatkan pada yang lebih mendekati). di atas dapat dilihat bahwa semua pertanyaan mempunyai r hitung lebih besar dari r tabel pada df = 28.2. 2. sikap). 2006).5. pendidikan. jumlah anak. dengan demikian kuesioner yang digunakan untuk penelitian sudah valid dan reliabel (Triton.8301 Berdasarkan Tabel 3. pengetahuan.2. Pemakaian alat kontrasepsi adalah realisasi responden untuk memakai atau tidak memakai alat kontrasepsi sebagai suatu cara atau metode untuk mencegah atau menjarangkan kehamilan maupun untuk mengakhiri kesuburan. demikian juga alpha lebih besar dari r tabel (0.

Keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi adalah kemudahan untuk mendapatkan akses terhadap pelayanan alat kontrasepsi dilihat dari segi jarak. tujuan/manfaat. jenis alat kontrasepsi yang cocok untuk ibu menyusui dan jenis alat kontrasepsi untuk laki-laki.61 3. efek samping. Dukungan petugas kesehatan adalah pendapat atau persepsi responden terhadap keterlibatan petugas kesehatan dalam memberikan informasi ataupun penjelasan yang lengkap tentang alat kontrasepsi. Ketersediaan alat kontrasepsi adalah ada atau tidak adanya alat kontrasepsi di puskesmas yang dibutuhkan oleh responden sesuai dengan keinginannya. 4. 9. Sikap adalah kecenderungan responden untuk memberikan penilaian atau pendapat tentang setuju atau tidak setuju dalam kaitannya dengan keputusan pemakaian alat kontrasepsi yang menyangkut sikap terhadap NKKBS. Pengetahuan adalah pengertian/pemahaman responden tentang alat kontrasepsi yang mencakup arti. 7. Jumlah anak adalah banyaknya anak hidup yang dimiliki oleh responden pada saat penelitian. . 8. Pendidikan adalah jenjang sekolah formal tertinggi yang pernah ditempuh dan diselesaikan oleh responden dengan memperoleh tanda tamat belajar. jenis alat kontrasepsi. 5. waktu tempuh dan biaya yang dikeluarkan oleh responden. 6.

jika ijazah terakhir minimal Diploma tiga (D3) 1. Umur. jika ijazah terakhir SLTA/sederajat 2.6. Risiko rendah : 20-35 tahun 1. Risiko tinggi : < 20 dan > 35 tahun Skala : Ordinal 2. 3.62 10. Pemakaian alat kontrasepsi adalah responden yang pada saat wawancara memakai atau tidak memakai alat kontrasepsi. Ya/Pakai alat kontrasepsi 1. Metode Pengukuran Variabel dependen 1. jika ijazah terakhir SLTP/sederajat Skala : Ordinal . dibagi menjadi 2 kategori: 0. Pengambil keputusan adalah orang yang menentukan responden untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan yaitu pemakaian alat kontrasepsi. Pendidikan. Tinggi. berdasarkan Program Pendidikan Wajib Belajar 9 Tahun dikategorikan menjadi 3 kelompok yaitu: 0. Menengah. Tidak Pakai alat kontrasepsi Skala : Ordinal Variabel independen 1. 0. dikategorikan menjadi 2 kelompok berdasarkan konsep tinggi rendahnya risiko yang dihadapi oleh ibu pada waktu hamil dan bersalin. Dasar.

Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov menunjukkan bahwa total skor variabel pengetahuan tidak berdistribusi normal sehingga skor total tersebut dikategorikan menjadi 2 berdasarkan nilai Median (13. sehingga total skor maksimal adalah 31 dan skor minimal 0 (Arikunto. jika responden menjawab Setuju diberi nilai . Pengetahuan Pengetahuan diukur dengan memberikan skor terhadap kuesioner dengan pemberian bobot (Singarimbun dan Efendy. 2006). apabila total skor responden ≤ Median Skala : Ordinal 5. Jumlah pertanyaan sebanyak 5 buah. ≤ 2 orang 1. Jumlah anak. Sikap Diukur dengan memberikan skor terhadap kuesioner dengan pemberian bobot. Rendah.63 3. apabila total skor responden > Median 1. > 2 orang Skala : Ordinal 4. Masing-masing jawaban yang benar diberi nilai 1 dan jawaban Tidak Tahu diberi nilai 0.5) yaitu: 0. 1989). Jumlah pertanyaan yang diajukan sebanyak 8 buah dan responden bisa menjawab lebih dari satu jawaban sesuai dengan pilihan yang telah tersedia. dikelompokkan atas 2 kategori berdasarkan tujuan program KB yaitu: 0. Tinggi.

64 1 dan jika menjawab Tidak Setuju diberi nilai 0. Baik.5 km Skala : Ordinal . jika responden menjawab alat kontrasepsi selalu tersedia dan sesuai dengan keinginan. Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov menunjukkan bahwa total skor variabel sikap tidak berdistribusi normal sehingga skor total tersebut dikategorikan menjadi 2 berdasarkan nilai Median (2) yaitu: 0. apabila total skor responden > Median 1. Skala : Ordinal 7. maka jarak dikategorikan sebagai berikut: 0.5 km 1. Tersedia. jika jarak dari rumah ke puskesmas > 2. Jauh. Tidak baik. 1. Tidak tersedia. Dekat. Ketersediaan alat kontrasepsi adalah 0. jika responden menjawab alat kontrasepsi tidak selalu tersedia dan tidak sesuai dengan keinginan. Keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi Jarak : berdasarkan kriteria yang dibuat oleh BPS dalam mengelompokkan ratarata jarak terdekat (km) dari rumah tangga ke fasilitas umum (BPS. 2007a). jika jarak dari rumah ke puskesmas ≤ 2. sehingga nilai minimal adalah 0 dan nilai maksimal 5. apabila total skor responden ≤ Median Skala : Ordinal 6.

jika waktu tempuh tidak lebih dari 30 menit 1. jika responden mengeluarkan biaya dan biaya tersebut tidak terjangkau Skala : Ordinal 8. sepeda motor. Murah. Jumlah pertanyaan yang diajukan sebanyak 6 buah. Untuk mengukur dukungan petugas kesehatan adalah dengan memberikan skor 1 untuk jawaban Ya dan skor 0 untuk jawaban Tidak. Mahal. sehingga total skor minimal adalah 0 dan skor maksimal 6. maka dikategorikan sebagai berikut: 0. jika responden mengeluarkan biaya dan biaya tersebut terjangkau 1. Jauh. Dekat. jika waktu tempuh lebih dari 30 menit Skala : Ordinal Biaya : jika responden mengatakan tidak mengeluarkan biaya atau mengeluarkan biaya untuk pelayanan yang diterima. mobil) dan dengan memperhitungkan kondisi jalan yang mayoritas jalan tanah maka waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai ke sarana kesehatan dikategorikan sebagai berikut: 0. Waktu : jika waktu yang dibutuhkan oleh responden untuk sampai di sarana kesehatan termasuk jika responden memiliki sarana transportasi (sepeda. Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov diketahui bahwa total .65 Validasi data jarak dilakukan dengan menggunakan speedometer pada kendaraan sepeda motor. Dukungan petugas kesehatan.

jumlah anak. pendidikan istri. faktor pendorong (dukungan petugas . Pengambil keputusan dalam keluarga 0.66 skor variabel dukungan petugas kesehatan tidak berdistribusi normal sehingga skor total tersebut dikategorikan menjadi 2 berdasarkan nilai Median (3) yaitu: 0. apabila total skor responden ≤ Median Skala : Ordinal 9. Skala : Ordinal 3. Mendukung. Analisis Univariat Analisis univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang distribusi frekuensi masing-masing variabel independen yang meliputi faktor predisposisi. pengetahuan dan sikap). Baik. jika yang mengambil keputusan terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah musyawarah suami dan isteri. Tidak baik. 2. faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi dan keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi). Analisis Bivariat Analisis bivariat digunakan untuk melihat sejauhmana hubungan variabel independen yaitu faktor predisposisi (umur. 1. Metode Analisis Data 1. apabila total skor responden > Median 1. Tidak mendukung.7. pendukung dan pendorong serta variabel dependen yaitu pemakaian alat kontrasepsi. jika yang mengambil keputusan terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah salah satu pihak atau orang lain diluar suami-istri.

3. Analisis Multivariat Analisis multivariat adalah untuk melihat pengaruh antara variabel independen (faktor predisposisi. Syarat untuk masuk ke dalam model pengujian multivariat adalah jika pada analisis bivariat variabel independen memiliki nilai Sig < 0.67 kesehatan dan pengambil keputusan dalam keluarga) dengan variabel dependen (pemakaian alat kontrasepsi) dengan menggunakan uji chi square.25. . pendukung dan pendorong) terhadap variabel dependen (pemakaian alat kontrasepsi) sehingga diketahui variabel independen yang dominan pengaruhnya terhadap variabel dependen dengan menggunakan regresi logistik ganda (multiple logistic regression) metode Forward Stepwise (Likelihood Ratio).

121 jiwa perempuan dengan tingkat 52 .1.1.batas wilayah sebagai berikut: Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Rambah Hilir dan Kepenuhan Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Rokan IV Koto Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kepenuhan dan Kunto Darussalam Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Rambah Jarak dari ibukota kabupaten ± 17 km. dengan batas . Kependudukan Jumlah penduduk Kecamatan Rambah Samo Tahun 2007 adalah 11.1.172 jiwa laki-laki dan 5. Keadaan Geografis Kecamatan Rambah Samo merupakan salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Rokan Hulu.68 BAB 4 HASIL PENELITIAN 4.2. 15 dusun dan 25 Rukun Warga (RW) dengan rincian: Desa Rambah Utama dengan 2 dusun dan 8 RW Desa Rambah Baru dengan 2 dusun dan 4 RW Desa Pasir Makmur dengan 2 dusun dan 4 RW Desa Karya Mulya dengan 6 dusun dan 6 RW Desa Masda Makmur dengan 3 dusun dan 3 RW 4.1.9 km2 terdiri dari 5 desa. Deskripsi Lokasi Penelitian 4.293 jiwa yang terdiri dari 6. dengan luas wilayah 249.

Setiap hari Rabu bidan di desa tersebut harus hadir di puskesmas untuk membantu pelayanan kesehatan karena pada hari tersebut jumlah pasien biasanya lebih banyak dari hari lainnya disebabkan karena adanya hari pasar yang waktunya seminggu sekali di desa Rambah Utama. Distribusi jumlah penduduk menurut kepala keluarga dan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut. Distribusi Jumlah Penduduk Menurut Kepala Keluarga dan Jenis Kelamin di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Desa Rambah Utama Rambah Baru Pasir Makmur Marga Mulya Masda Makmur Jumlah KK 798 698 658 669 464 3287 Laki-laki 1371 1296 1256 1356 893 6172 Perempuan 1215 1056 1026 1150 674 5121 Jumlah 2586 2352 2282 2505 1567 11293 Sumber : Profil Kependudukan Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008 4. perawat gigi 1 orang.1.19 jiwa per kilometer persegi. Sarana dan Prasarana Kesehatan Sarana kesehatan yang ada adalah puskesmas yang terletak di desa Rambah Utama dengan jumlah tenaga kesehatan sebanyak 22 orang yang terdiri dari dokter umum 1 orang. Puskesmas tersebut juga didukung oleh 1 (satu) unit puskesmas keliling. Bidan di desa sebanyak 5 orang dan tinggal di poliklinik bersalin desa (polindes) masing-masing. dokter gigi 1 orang. 2 (dua) unit sepeda motor yang berfungsi untuk pelayanan rujukan jika diperlukan. Tabel 4.69 kepadatan penduduk 45. bidan 3 orang. staf administrasi 5 orang.3. analis 1 orang. perawat 5 orang.1. . Juga telah tersedia seperangkat komputer untuk mempermudah proses administrasi.

sedangkan yang berumur 20-35 tahun sebesar 60% dan yang berumur > 35 tahun sebesar 40%. 4.2. Pendidikan istri adalah tingkat SD (36%) selanjutnya SMP (30%). Analisis Univariat 4. D3 (6%) dan S1 sebesar 1%. Karakteristik Responden Responden dalam penelitian berjumlah 100 orang dan merupakan istri dari PUS yang berumur 20-35 tahun yang telah memiliki anak ≥ 2 dan berumur < 20 tahun dan > 35 tahun meskipun tidak memiliki anak. SMA (27%).70 Seiring dengan perkembangan teknologi daerah ini sekarang telah dapat dijangkau oleh jaringan telepon seluler sehingga lebih mempermudah sistem komunikasi. yang berumur kurang dari 40 tahun sebesar 71% dan yang berumur lebih dari 40 tahun 29%. Berdasarkan kriteria tersebut didapat bahwa umur istri tidak ada yang < 20 tahun. Umur suami dikelompokkan menjadi 2 kelompok berdasarkan nilai tengah (median) yaitu berumur kurang dari 40 tahun dan lebih dari 40 tahun.1. ada juga puskesmas pembantu (pustu) yang terletak di desa Pasir Makmur dan Masda Makmur. Selain puskesmas induk. Sedangkan pendidikan suami mayoritas SMP (40%) . Seluruh responden diberikan pertanyaan yang sama dan dari wawancara diketahui bahwa 28 orang responden sedang memakai alat kontrasepsi dan 72 orang tidak memakai alat kontrasepsi tetapi pernah menggunakan salah satu metode kontrasepsi sehingga mereka tahu tentang alat kontrasepsi. tetapi pustu tersebut tidak dioperasionalkan dengan maksimal karena kurangnya petugas kesehatan.2.

Mayoritas respoden tidak ikut KB (72%) dan yang ikut KB 28%.28%).43%) dan Implant (14.00 27. Alasan responden belum ikut KB karena masih ingin punya anak (67%).00 60.00 6.00 30.00 36. D3 (4%) dan S1 sebesar 3%. mayoritas responden memiliki anak > 2 orang (64%) sedangkan yang memiliki anak ≤ 2 orang sebanyak 36%. Rata-rata jarak kelahiran anak dihitung dari nilai median dan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu <56 bulan dan ≥56 bulan.00 . Jenis alat kontrasepsi yang paling banyak digunakan adalah Pil (39. Berdasarkan jumlah anak.2. ingin punya anak perempuan (5%).00 71. Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.00 40. Distribusi Karakteristik Responden di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Karakteristik Umur istri (tahun) < 20 20-35 >35 Pendidikan istri SD SMP SMA D3 S1 Umur suami (tahun) <40 ≥40 f 0 60 40 36 30 27 6 1 71 29 Persentase (%) 0. Spiral (21.00 29.71 kemudian SD (31%) diikuti tingkat SMA (22%).29%).00 1. Suntik (25%). dilarang suami (7%) dan karena alasan kesehatan (3%). masih ingin punya anak laki-laki (18%). jarak kelahiran <56 bulan sebanyak 39% dan ≥56 bulan sebanyak 61%.

00 0.94 2.00 54.00 40.00 46.28 0. Pengetahuan Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden mendapat informasi dari PPLKB/PLKB.00 21.00 28. 14% dari radio/televisi dan 13% dari suami/orangtua/mertua.55 6.43 14.2.29 25. 23% dari surat kabar/majalah. Seluruh responden menjawab pengertian KB yaitu suatu .00 4.72 Lanjutan Tabel 4.78 39. Karakteristik Pendidikan Suami SD SMP SMA D3 S1 Jumlah Anak ≤ 2 orang > 2 orang Peserta KB Ya Tidak Alat Kontrasepsi yang digunakan (n = 28) Spiral Implant Suntik Pil Kondom MOP/MOW Alasan belum ikut KB (n = 72) Masih ingin punya anak Ingin punya anak laki-laki Ingin punya anak perempuan Dilarang suami Alasan Kesehatan Rata-rata Jarak Kelahiran <56 bulan ≥56 bulan f 31 40 22 4 3 46 54 28 72 6 4 7 11 0 0 48 13 4 5 2 39 61 Persentase (%) 31.06 5. 36% dari dokter/bidan praktek swasta.00 39. 66% dari klinik KB/puskesmas.00 4.2.00 22.00 72.2.67 18.00 3.00 61.00 66.

memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak (64%). Semua responden menjawab alat kontrasepsi yang paling cocok untuk ibu menyusui adalah pil dan jenis alat kontrasepsi untuk laki-laki kondom. Seluruh responden menyebutkan efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi adalah rasa nyeri/mules. Seluruh responden menjawab tujuan KB sebagai usaha membentuk keluarga kecil. Seluruh responden mengetahui jenis alat kontrasepsi spiral/IUD. Suntik (41%). Kondom (13%) dan Tubektomi/Vasektomi (MOP/MOW) sebanyak 11%. penundaan/penjarangan kelahiran (39%) dan pembatasan kelahiran (22%). Pil (18%). 63% menjawab sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui pengaturan kelahiran dan 30% sebagai suatu cara yang dianjurkan pemerintah untuk membatasi jumlah anak (idealnya adalah 2 anak). kelainan haid/perdarahan/bercak darah (58%). Semua responden menyebutkan manfaat pemakaian alat kontrasepsi untuk mencegah terjadinya kehamilan. infeksi atau keputihan (17%) dan perubahan berat badan/gemuk (13%). bahagia dan sejahtera.73 usaha dengan kesadaran sendiri membatasi kelahiran untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. mual/muntah/pusing (35%). untuk mengatur jarak kehamilan (59%) dan untuk mengakhiri kesuburan (27%). Secara rinci indikator pengetahuan dapat dilihat pada tabel berikut ini: . Implant/Susuk (67%).

00 100.00 67.00 0.00 11.00 64.00 39.3.00 59.00 0.00 13.00 14.00 0.00 18.00 0.00 100.00 100 63 30 0 100 64 39 22 0 100 59 27 0 100 67 41 18 13 11 0 100.00 100.00 27. Suatu cara yang dianjurkan pemerintah untuk membatasi jumlah anak (idealnya adalah 2 anak) Tidak tahu Tujuan KB adalah Membentuk keluarga kecil.00 30. Distribusi Responden Menurut Indikator Pengetahuan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Pengetahuan Sumber informasi tentang KB/alat kontrasepsi Petugas Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PPLKB) Puskesmas Dokter/Bidan Praktek Swasta Surat kabar/Majalah Radio/Televisi Suami/Orangtua/mertua Tidak tahu Pengertian KB adalah Suatu usaha dengan kesadaran sendiri membatasi kelahiran untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.00 22.00 .00 63. bahagia dan sejahtera Memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak Penundaan/penjarangan kelahiran Pembatasan kelahiran Tidak tahu Manfaat pemakaian alat kontrasepsi adalah Untuk mencegah terjadinya kehamilan Untuk mengatur jarak kehamilan Untuk mengakhiri kesuburan Tidak tahu Jenis alat kontrasepsi apa saja yang diketahui Spiral/IUD Implant/Susuk Suntik Pil Kondom Tubektomi/Vasektomi (MOP/MOW) Tidak tahu f 100 66 36 23 14 13 0 Persentase (%) 100. Salah satu usaha untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui pengaturan kelahiran.74 Tabel 4.00 66.00 23.00 13.00 0.00 41.00 36.

58% setuju pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu cara untuk menunda kehamilan dan menjarangkan kelahiran.00 0. Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut: .00 35.00 36. bahagia dan berkualitas. Sikap Hasil penelitian menunjukkan bahwa 57% responden setuju manfaat KB untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak.3. Sebanyak 58% responden tidak setuju mempunyai anak yang banyak tidak akan membawa rezeki yang banyak dan 55% responden tidak setuju anak laki-laki nilainya sama dengan anak perempuan. 52% setuju KB bertujuan untuk merencanakan keluarga kecil.00 13.00 17.00 100.00 0.00 0.00 39.00 100 58 35 17 13 0 100 39 0 100 36 0 4.75 Lanjutan Tabel 4.2. Indikator Pengetahuan Efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi Rasa nyeri/mules Kelainan haid/perdarahan/bercak darah Mual/muntah/pusing Infeksi/Keputihan Perubahan berat badan/gemuk Tidak tahu Alat kontrasepsi yang paling cocok untuk ibu menyusui adalah Pil Suntik Tidak tahu Jenis alat kontrasepsi untuk laki-laki adalah Kondom MOP/Tubektomi Tidak tahu f Persentase (%) 100.3.00 100.00 58.

seperti data pada tabel berikut: .2.00 48 42 48.00 58.00 Setuju n % 57 57.76 Tabel 4.00 49 49. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel dibawah: Tabel 4. bahagia dan berkualitas Pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu cara untuk menunda kehamilan dan menjarangkan kelahiran Mempunyai anak yang banyak tidak akan membawa rezeki yang banyak.00 45.00 51. Ketersediaan Alat Kontrasepsi Berdasarkan ketersediaan alat kontrasepsi.4. Anak laki-laki nilainya sama dengan anak perempuan Tidak Setuju n % 43 43. Distribusi Responden Menurut Indikator Sikap di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Sikap Manfaat KB adalah untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak KB bertujuan untuk merencanakan keluarga kecil.5.00 42.00 52 58 52. 57% responden mengatakan alat kontrasepsi selalu tersedia di puskesmas dan 51% mengatakan alat kontrasepsi yang diinginkan selalu tersedia.00 42 45 42.4.00 4.00 58 55 58.00 Tidak n % 43 43.00 55. 58% di praktek dokter/bidan dan 9% di apotek. Distribusi Responden Menurut Indikator Ketersediaan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Ketersediaan Alat Kontrasepsi Alat kontrasepsi selalu tersedia di puskesmas Jenis alat kontrasepsi yang diinginkan selalu tersedia di puskesmas Ya n 57 51 % 57.00 Responden menjawab jika alat kontrasepsi tidak tersedia di puskesmas maka 33% mendapatkannya di klinik swasta.

Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut ini: . praktek dokter/bidan sebanyak 39. Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi Klinik swasta Praktek Dokter/Bidan Apotek f 33 58 9 % 33.5. Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai ke puskesmas 55% mengatakan <30 menit dan 45% mengatakan >30 menit.00 58.00 Jika dirinci lebih lanjut berdasarkan jumlah responden yang ikut KB yaitu sebanyak 28 orang. mereka menjawab bahwa mereka mendapatkan alat kontrasepsi di klinik swasta sebanyak 42.6. Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi Bagi Responden yang Ikut KB di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi Klinik swasta Praktek Dokter/Bidan Apotek f 12 11 5 % 42. Lebih lanjut dapat dilihat pada table berikut: Tabel 4.7.86%.2.86%.77 Tabel 4.86 4.5 km.28% dan di apotek sebanyak 17.86 39.5 km sebanyak 43% dan 57% mengatakan lebih dari 2. sedangkan.00 9.28 17. Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi Responden yang menjawab jarak rumah ke puskesmas <2. Responden yang mengatakan mengeluarkan biaya untuk memperoleh pelayanan KB sebanyak 95% dan tidak mengeluarkan biaya sebanyak 5%.

6. Berdasarkan indikator dukungan petugas kesehatan.00 57 57.00 55 55. 73% mengatakan petugas kesehatan menyarankan agar ibu ikut KB atau . Jenis Alat Transportasi yang Digunakan Untuk Mencapai Puskesmas di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Jenis Alat Transportasi Jalan Kaki Sepeda Sepeda Motor f 47 33 20 Persentase (%) 47. 71% responden mengatakan petugas kesehatan melakukan penyuluhan rutin tentang KB dan alat kontrasepsi. Dukungan Petugas Kesehatan Dukungan petugas dalam indikator ini adalah perawat dan bidan yang bekerja di poliklinik Kesehatan Ibu dan Anak dan Keluarga Berencana (KIA/KB) puskesmas dan bertugas dalam pelayanan kesehatan resproduksi ibu dan remaja termasuk pelayanan KB pada PUS.00 4.00 Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk mencapai puskesmas 47% responden menjawab dengan berjalan kaki. 33% menggunakan sepeda dan 20% menggunakan sepeda motor.00 33. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.00 45 45. Distribusi Responden Berdasarkan Indikator Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Keterjangkauan Jarak rumah ke puskesmas Waktu yang dibutuhkan ke puskesmas Mengeluarkan biaya untuk memperoleh pelayanan KB Dekat / Ya Jauh / Tidak n % n % 43 43.2.00 95 905.78 Tabel 4.0 5 5.9.00 20.8.

00 Responden menjawab pelayanan yang tidak puas karena petugas kurang ramah (47%).00 55. petugas tidak mampu memberi informasi seperti yang diharapkan (52%) dan alat/fasilitas tidak lengkap (1%).00 58 52 61 58.00 52. 55% mengatakan petugas kesehatan menjelaskan terlebih dahulu tentang alat kontrasepsi yang akan dipilih dan efek sampingnya.00 48.00 39. Data selengkapnya seperti pada tabel berikut: Tabel 4. Responden yang mengatakan petugas kesehatan memberi kesempatan atau kebebasan dalam memilih alat kontrasepsi sebanyak 58%.00 73.00 45.10. Distribusi Proporsi Responden Berdasarkan Indikator Dukungan Petugas Kesehatan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Dukungan Petugas Kesehatan Petugas kesehatan melakukan penyuluhan rutin tentang KB dan alat kontrasepsi Petugas kesehatan menyarankan agar ibu ikut KB atau menggunakan kontrasepsi Petugas kesehatan menjelaskan terlebih dahulu tentang alat kontrasepsi yang akan dipilih dan efek sampingnya Petugas kesehatan memberi kesempatan atau kebebasan dalam memilih alat kontrasepsi Petugas kesehatan menyarankan untuk pemeriksaan rutin Pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan memuaskan Ya n 71 73 55 % 71. Secara rinci dapat dilihat seperti tabel berikut: .79 menggunakan kontrasepsi.00 61.00 27.00 n 29 27 45 Tidak % 29.00 42 48 39 42. 52% mengatakan petugas kesehatan menyarankan untuk pemeriksaan rutin dan 61% responden mengatakan bahwa pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan memuaskan.

86 39. Distribusi Responden yang Ikut KB Menurut Pengambil Keputusan dalam Keluarga di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Pengambil Keputusan Suami Istri Musyawarah Suami dan Istri f 12 11 5 Persentase (%) 42.00 13.28 17. Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah: Tabel 4.13.2. Alasan Tidak Puas Terhadap Pelayanan Petugas Kesehatan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Alasan Tidak Puas Petugas kurang ramah Petugas tidak mampu memberi informasi seperti yang diharapkan Alat/fasilitas tidak lengkap Biaya terlalu mahal 4.00 f 47 52 1 0 Persentase (%) 47. 13% menjawab istri dan 36% menjawab musyawarah suami-istri. 51% responden menjawab suami. Pengambil Keputusan Dalam Keluarga Berdasarkan pengambil keputusan dalam keluarga terhadap pemakaian alat kontrasepsi.86%.12.00 1.80 Tabel 4. istri sebanyak 39.00 0. Distribusi Proporsi Responden Menurut Pengambil Keputusan dalam Keluarga di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Pengambil Keputusan Suami Istri Musyawarah Suami dan Istri f 51 13 36 Persentase (%) 51. Data selengkapnya sebagai berikut: Tabel 4.28% dan musyawarah suami dan istri sebanyak 17. maka dapat dilihat bahwa pengambil keputusan dalam keluarga adalah suami sebanyak 42.00 52.00 Lebih lanjut jika dirinci berdasarkan responden yang ikut KB yaitu sebanyak 28 orang.00 36.7.86 .86%.11.

Faktor Predisposisi Berdasarkan Tabel 4. Dari perhitungan diperoleh nilai median adalah 2 maka 36% adalah kategori baik dan 64% kategori tidak baik.2. Berdasarkan kategori jumlah anak. 64% memiliki anak > 2 orang dan 36% memiliki anak ≤ 2 orang.5 sehingga 47% responden kategori tinggi dan 53% kategori rendah.12 dapat diketahui bahwa penggolongan umur responden 40% umur risiko tinggi dan 60% umur risiko rendah.8.81 4. Pendidikan responden 66% adalah pendidikan dasar. Secara rinci faktor predisposisi dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut: . 27% pendidikan menengah dan 7% responden dengan pendidikan tinggi. Sikap responden juga dikategorikan menjadi 2 yaitu baik dan tidak baik berdasarkan nilai median. Setelah dihitung didapat nilai mediannya 13. Pengetahuan responden dikategorikan menjadi 2 yaitu tinggi dan rendah berdasarkan nilai median.

menunjukkan bahwa yang menyatakan alat kontrasepsi tersedia 48% dan tidak tersedia sebanyak 52%.9. Sedangkan berdasarkan biaya yang dikeluarkan 47% mengatakan murah dan 53% mengatakan mahal.13. Berdasarkan jarak ke puskesmas 29% kategori dekat dan 71% kategori jauh.00 7.14.00 64.00 53.00 f Persentase (%) 4.00 40. Selanjutnya dapat dilihat pada tabel berikut: .00 54. Waktu tempuh 63% kategori dekat dan 37% kategori jauh. Faktor Pendukung Tabel 4. Distribusi Responden Menurut Faktor Predisposisi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Faktor Predisposisi Umur Risiko rendah Risiko tinggi Pendidikan Isteri Tinggi Menengah Dasar Jumlah Anak ≤ 2 orang > 2 orang Pengetahuan Tinggi Rendah Sikap Baik Tidak Baik 60 40 7 27 66 46 54 47 53 36 64 60.00 46.00 36.00 47.2.82 Tabel 4.00 27.00 66.

00 37.Waktu Dekat (≤ 30 menit) Jauh (> 30 menit) Murah .00 53.00 71. Lebih rinci dapat dilihat pada tabel berikut: f 48 52 29 71 63 37 47 53 Persentase (%) 48.15. Faktor Pendorong Dukungan petugas kesehatan dikategorikan menjadi 2 berdasarkan nilai median yaitu mendukung dan tidak mendukung. sehingga berdasarkan kategori yang telah ditentukan tersebut diperoleh bahwa 48% responden menyatakan petugas kesehatan mendukung dalam hal pemakaian alat kontrasepsi dan 52% menyatakan tidak mendukung.5 km) . Dari hasil perhitungan diperoleh nilai median 3.00 47. Responden yang menyatakan bahwa pengambil keputusan untuk pemakaian alat kontrasepsi dengan kategori baik sebanyak 38% dan tidak baik 62%.Jarak Dekat (≤2.83 Tabel 4.Biaya Mahal 4.5 km) Jauh (> 2.10.00 52.00 63. Distribusi Responden Menurut Faktor Pendukung di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Faktor Pendukung Ketersediaan Alat kontrasepsi Tersedia Tidak tersedia Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi .2.00 .00 29.

3. Analisis Bivariat Pada analisis ini dilakukan tabulasi silang antara variabel independen (faktor predisposisi.0% sedangkan umur risiko rendah yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 36.16.00 4. jumlah anak.0% dan yang tidak memakai alat kontrasepsi sebanyak 85.1. Hubungan Faktor Predisposisi dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi Pada analisis ini dilakukan tabulasi silang antara faktor predisposisi (umur.033). pendidikan.3%.00 38. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan umur dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig = 0. Distribusi Responden Menurut Faktor Pendorong di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Faktor Pendorong Dukungan Petugas Kesehatan Mendukung Tidak Mendukung Pengambil Keputusan Musyawarah Suami dan istri Selain suami dan istri f 48 52 38 62 Persentase (%) 48. pengetahuan dan sikap) dengan pemakaian alat kontrasepsi. pendukung dan pendorong) dengan dependen (pemakaian alat kontrasepsi) dan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang bermakna antara kedua variabel tersebut dilakukan uji statistik dengan uji chi-square.00 62.3. .7% dan yang tidak memakai alat kontrasepsi sebanyak 63. Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa responden dengan umur risiko tinggi yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 15. 4.00 52.84 Tabel 4.

Responden dengan pengetahuan tinggi yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 46.0% dan tidak memakai sebanyak 50. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan pendidikan dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.3% dan tidak memakai sebanyak 88.8% dan tidak memakai sebanyak 53.016).0% sedangkan sikap yang tidak baik memakai alat kontrasepsi sebanyak 15. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan pengetahuan dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan jumlah anak dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. responden dengan pendidikan tinggi yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 57.85 Berdasarkan pendidikan.9%.1% sedangkan yang memiliki anak ≤ 2 orang memakai alat kontrasepsi sebanyak 15.6% dan tidak memakai sebanyak 84.3%. Sedangkan pendidikan dasar yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 19. responden dengan pendidikan menengah memakai alat kontrasepsi sebanyak 40.2% sedangkan responden dengan pengetahuan rendah memakai alat kontrasepsi sebanyak 11.025).000) Responden dengan sikap yang baik memakai alat kontrasepsi sebanyak 50.1% dan tidak memakai sebanyak 42.4%.9% dan tidak memakai sebanyak 61.7% dan tidak memakai 80. Hasil uji statistik .2% dan tidak memakai 84.7% dan tidak memakai sebanyak 59.7%.8%. Responden yang memiliki anak > 2 orang memakai alat kontrasepsi sebanyak 38.3%.

40 Total n 60 40 7 27 66 46 54 47 53 36 64 % 100.00 100.00 57.80 61.001). Hubungan Faktor Predisposisi dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Pemakaian Alat Kontrasepsi Ya Tidak n % n % 22 6 4 11 13 7 21 22 6 18 10 36.70 50.17.50 59.86 menunjukkan ada hubungan sikap dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. Variabel keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi diukur berdasarkan 3 (tiga) sub variabel yaitu jarak rumah ke puskesmas.70 19.00 84.00 42.033 Faktor Predisposisi Umur Risiko rendah Risiko tinggi Pendidikan Tinggi Menengah Dasar Jumlah anak ≤2 orang >2 orang Pengetahuan Tinggi Rendah Sikap Baik Tidak baik 4.30 84. Hubungan Faktor Pendukung dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi Pada analisis ini dilakukan tabulasi silang antara faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi dan keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dengan pemakaian alat kontrasepsi.00 100.000 100.70 15.00 100. Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.90 46.10 53.00 0.70 15.016 100.30 50.00 0.30 85.30 80.10 40.00 0.00 0. menunjukkan bahwa responden yang mengatakan alat kontrasepsi tersedia dan memakai alat kontrasepsi sebanyak 52.1% .00 Sig 0.030 100.20 88. Hasil tabulasi silang pada Tabel 4.80 11.00 100.16.3.20 38.001 100.60 38 34 3 16 53 39 33 25 47 18 54 63.00 15.00 100.2.00 100. waktu tempuh dan biaya.

025).5%.7%.9%. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan biaya yang dikeluarkan dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.2%.000). Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan jarak rumah dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.3% dan tidak memakai 89.8% dan tidak memakai sebanyak 94. Responden dengan kategori jauh memakai alat kontrasepsi sebanyak 13. Sedangkan responden yang mengatakan alat kontrasepsi tidak tersedia tetapi memakai alat kontrasepsi sebanyak 5. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan ketersediaan alat kontrasepsi dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.5%.5% dan tidak memakai 63.3% dan tidak memakai sebanyak 88. Berdasarkan waktu tempuh.000).2%. responden dengan kategori murah memakai alat kontrasepsi sebanyak 46. Sedangkan kategori mahal yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 11.87 dan tidak memakai sebanyak 47.8%. Responden dengan kategori jauh memakai alat kontrasepsi sebanyak 35.7%. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan waktu tempuh dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.023). Responden yang jarak rumah dekat dan memakai alat kontrasepsi sebanyak 10. Untuk biaya yang dikeluarkan.8% dan tidak memakai 53. responden dengan kategori dekat memakai alat kontrasepsi sebanyak 36. Data selengkapnya sebagai berikut: .5% dan tidak memakai 86.2% dan tidak memakai sebanyak 64.

3.18.000 Murah Mahal 100.80 23 49 47.023 3 25 23 5 22 6 10.00 0.00 0.002). .00 Faktor Pendukung Ketersediaan Tersedia Tidak tersedia Keterjangkauan .20 88.5 km) Jauh (> 2.00 100.90 94.00 100.00 100.18.30 26 46 40 32 25 47 89.88 Tabel 4.000 100.Jarak Dekat (≤2.8% dan tidak memakai sebanyak 56.30 35.50 46.10 5.5% dan tidak memakai sebanyak 86.20 Total Sig n 48 52 % 0.5 km) .80 63. Sedangkan responden yang mengatakan petugas kesehatan tidak mendukung tetapi memakai alat kontrasepsi sebanyak 13.Waktu Dekat (≤ 30 menit) Jauh (> 30 menit) .3%. menunjukkan bahwa responden yang mengatakan petugas kesehatan mendukung dan memakai alat kontrasepsi sebanyak 43.025 100. Hubungan Faktor Pendukung dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Pemakaian Alat Kontrasepsi Ya Tidak n % n % 25 3 52.50 13.5%.00 100.Biaya 4.00 0.3.20 36. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan dukungan petugas kesehatan dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig = 0.80 11.50 86.70 29 71 63 37 47 53 100.70 64.50 53. Hasil tabulasi silang pada Tabel 4. Hubungan Faktor Pendorong dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi Pada analisis ini dilakukan tabulasi silang antara faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan dan pengambil keputusan) dengan pemakaian alat kontrasepsi.

3% dan tidak memakai sebanyak 73. Hubungan Faktor Pendorong dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Pemakaian Alat Kontrasepsi Ya Tidak n % n % 21 7 10 18 43.00 27 45 28 44 56. Sedangkan responden dengan kategori tidak baik yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 29.949 100. kemudian variabel yang Signifikan .00 100.19.002 100.0%.70 71. responden dengan kategori baik yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 26. Berikutnya adalah pemilihan model yang dilakukan secara hierarkis dengan cara semua variabel dimasukkan ke dalam model. pengetahuan. Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.00 Faktor Pendorong Dukungan petugas Kesehatan Mendukung Tidak mendukung Pengambil keputusan Baik (suami dan istri) Tidak Baik (selain suami dan istri) 4.949).4.00 100.7%.30 86.80 13. sikap. biaya dan dukungan petugas kesehatan memenuhi syarat untuk masuk ke dalam model pengujian multivariat (Sig<0. jarak. Analisis Multivariat Berdasarkan analisis bivariat diperoleh bahwa variabel umur.00 Total Sig n 48 52 38 62 % 0. Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan pengambil keputusan dalam keluarga dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.50 26.25).89 Berdasarkan pengambil keputusan dalam keluarga. jumlah anak.30 29.0% dan tidak memakai sebanyak 72. pendidikan. waktu tempuh.50 73.00 0. ketersediaan alat kontrasepsi.

575 1. pengetahuan.551).024-0. sikap.005 CI 95% 0.442 Sig 0. Ini menunjukkan variabel tersebut merupakan variabel yang paling dominan mempengaruhi pemakaian alat kontrasepsi.893129. Berdasarkan nilai Koefisien B yang tertinggi adalah variabel ketersediaan alat kontrasepsi yaitu 3.118 6.817 1.112.454-26.041 0. .05.001 0.135 1. sikap dan dukungan petugas kesehatan (95% CI: 3.05) dimasukkan ke dalam model secara bertahap (Forward Stepwise).151 4.025 1. Besar pengaruh variabel tersebut dilihat dari nilai Exp (B) dimana dari hasil analisis terlihat bahwa jika alat kontrasepsi tersedia maka peluang responden untuk memakai alat kontrasepsi 22 kali dibandingkan jika alat kontrasepsi tidak tersedia setelah dikontrol oleh variabel jumlah anak. Hasil Akhir Analisis Regresi Logistik Ganda Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Variabel Penelitian Jumlah anak Pengetahuan Sikap Ketersediaan alat kontrasepsi Dukungan Petugas Kesehatan B -2. Hasil akhir analisis multivariat dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.112 2. pengetahuan. artinya variabel tersebut tidak dikeluarkan dari model dan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi.253 22.014 3.245 Exp (B) 0.014 0.457 9.459 Hasil tabel di atas merupakan akhir analisis multivariat uji regresi logistik ganda karena jumlah anak.008 0.20.893-129.448 3.551 2.063-17. ketersediaan alat kontrasepsi dan dukungan petugas kesehatan telah memiliki nilai < 0.90 (>0.005-44.

jarak. . pendidikan. pengetahuan. pengambil keputusan dalam keluarga dan lain-lain). biaya.91 Nilai Percentage Correct diperoleh sebesar 91% yang artinya variabel jumlah anak. sedangkan sisanya sebesar 9% dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya (seperti faktor umur. waktu tempuh. sikap. ketersediaan alat kontrasepsi dan dukungan petugas kesehatan bisa menjelaskan pengaruhnya terhadap pemakaian alat kontrasepsi sebesar 91%. pekerjaan.

1993).92 BAB 5 PEMBAHASAN 5. tetapi lebih mengutamakan banyaknya jumlah anak yang dimiliki.1. sedangkan pada hasil uji regresi logistik ganda menunjukkan tidak ada pengaruh umur terhadap pemakaian alat kontrasepsi. pendidikan. Umur yang semakin meningkat tidak menjadi alasan utama responden untuk memakai alat kontrasepsi. jumlah anak. Dari tabulasi silang dapat dilihat bahwa responden dengan umur risiko tinggi yang tidak memakai alat kontrasepsi sebanyak 85% dan yang memakai 15%. Jika jumlah anak telah dirasa 76 . Pengaruh umur terhadap pemakaian alat kontrasepsi Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden dengan kategori umur risiko tinggi 40% dan kategori risiko rendah 60%. Umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang termasuk dalam pemakaian alat kontrasepsi. Hasil uji chi square memperlihatkan bahwa ada hubungan umur terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. mereka yang berumur tua mempunyai peluang lebih kecil untuk menggunakan alat kontrasepsi dibandingkan dengan yang muda (Notoatmodjo. 1. pengetahuan dan sikap.033). Pada penelitian ini umur tidak berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi karena responden pada kategori umur risiko tinggi justru banyak yang tidak memakai alat kontrasepsi. Faktor Predisposisi Faktor predisposisi dalam penelitian ini adalah umur.

Faktor umur sangat berpengaruh terhadap aspek reproduksi manusia terutama dalam pengaturan jumlah anak yang dilahirkan dan waktu persalinan. sehingga berhubungan erat dengan pemakaian alat kontrasepsi.4% dan yang memiliki anak ≤ 2 76 orang sebesar 21. Jawaban yang diberikan oleh responden mayoritas mengatakan masih ingin punya anak. Analisa BKKBN tentang SDKI 2002/2003 mengatakan bahwa umur di bawah 20 tahun dan di atas 35 tahun sangat berisiko terhadap kehamilan dan melahirkan. . Sedangkan umur dengan kategori risiko rendah yang memiliki anak > 2 orang sebesar 38. Alasan inilah yang mengakibatkan responden tidak memakai alat kontrasepsi. maka lebih efektif menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang (BKKBN. bila umur lebih dari 35 tahun.5% dan yang memiliki anak ≤ 2 orang sebesar 52.93 cukup. ingin punya anak laki-laki. 1999). yang kelak berhubungan pula dengan kesehatan ibu. Umur juga berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi. makin tua umur istri maka pemilihan alat kontrasepsi ke arah alat yang mempunyai efektifitas lebih tinggi yakni metode kontrasepsi jangka panjang. ingin punya anak perempuan. maka responden akan mengusahakan dengan sungguh-sungguh untuk memakai alat kontrasepsi Hasil tabulasi silang antara kategori umur dengan jumlah anak didapat bahwa umur dengan risiko tinggi yang memiliki anak > 2 orang sebesar 47. Kontrasepsi rasional harus mempertimbangkan umur akseptor.6%. dilarang suami dan alasan kesehatan.5%.

Hal ini juga akan mempengaruhi secara langsung seseorang dalam hal pengetahuannya akan orientasi hidupnya termasuk dalam merencanakan keluarganya (Gerungan. 2.3% tidak memakai kontrasepsi. Hasil uji chi square memperlihatkan ada hubungan pendidikan dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. bersikap. tingkat pendidikan suami yang mayoritas . pemakaian alat kontrasepsinya makin menurun.012). 1986).030). Dari tabulasi silang dapat dilihat bahwa peningkatan pendidikan tidak diikuti dengan peningkatan pemakaian alat kontrasepsi atau dengan kata lain makin tinggi tingkat pendidikan. sedangkan hasil uji regresi logistik ganda menunjukkan tidak ada pengaruh pendidikan terhadap pemakaian alat kontrasepsi. Pengaruh Pendidikan terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden dengan kategori pendidikan dasar 66% dan 80. Pada penelitian ini didapat bahwa 71% pendidikan suami adalah pendidikan dasar. berpikir. lebih mandiri dan rasional dalam mengambil keputusan dan tindakan. responden yang tidak memakai alat kontrasepsi makin meningkat. Semakin tinggi tingkat pendidikan akan jelas mempengaruhi seorang pribadi dalam berpendapat. Demikian juga sebaliknya makin rendah tingkat pendidikan.94 Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Hasibuan (2001) yang menunjukkan bahwa ada pengaruh umur terhadap pemakaian metoda kontrasepsi (Sig=0. 22% menengah dan 7% tinggi.

Seorang istri mungkin menggunakan alat kontrasepsi setelah mempunyai jumlah anak tertentu dan juga umur anak yang masih hidup. 3. Pengaruh Jumlah Anak terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi Hasil uji statistik menunjukkan ada pengaruh jumlah anak terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. maka diharapkan keluarga sudah harus mampu membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi keluarga dengan cara mengatur . artinya makin banyak anak yang dimiliki oleh responden akan diikuti dengan peningkatan pemakaian alat kontrasepsi. pemakaian alat kontrasepsi ini juga dihubungkan dengan alasan responden yang masih menginginkan anak atau jenis kelamin tertentu seperti telah diuraikan diatas sehingga meskipun telah memiliki anak 2 orang responden belum memakai alat kontrasepsi. Semakin sering seorang wanita melahirkan anak. Kemungkinan seorang istri untuk menambah kelahiran tergantung kepada jumlah anak yang telah dilahirkannya. Tujuan normatif program KB adalah untuk menciptakan NKKBS. Sedangkan jumlah anak > 2 orang menunjukkan bahwa respons terhadap pelayanan KB dan kontrasepsi belum baik. Istilah “dua anak saja” belum menjadi tujuan pokok dalam keluarga.008).95 tingkat dasar tersebut diperkirakan menjadi salah satu penyebab yang mengakibatkan masih rendahnya pemakaian alat kontrasepsi. Selain tingkat pendidikan yang masih rendah. maka akan semakin memiliki risiko kematian dalam persalinan.

dkk. Gejala ini melandasi pengaruh jumlah anak terhadap penggunaan alat kontrasepsi. Kegunaannya ialah memberikan kepuasan. Menurut Hatmadji (2004) yang mengutip pendapat Leibenstein. Jawaban yang diberikan oleh responden tentang alasan mereka tidak menggunakan alat kontrasepsi adalah 48% mengatakan masih ingin punya anak. anak dilihat dari dua segi kegunaannya yaitu (utility) dan biaya (cost). ingin punya anak perempuan 4%. dalam Mutiara (1998) melaporkan bahwa pada awal progam KB.96 kelahiran anak supaya diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Masyarakat di daerah penelitian pada umumnya bekerja di sektor pertanian dan perkebunan yang memerlukan sumber daya manusia sebagai tenaga kerja untuk mengelolanya. dilarang suami 5% dan alasan kesehatan 2%. dapat memberikan balas jasa ekonomi atau membantu dalam kegiatan berproduksi serta merupakan sumber yang dapat menghidupi orang tua di . Hal ini mungkin salah satu penyebab yang berpengaruh terhadap banyaknya jumlah anak yang dimiliki. anak merupakan sumber daya yang diharapkan dapat membantu orangtua dalam bekerja dan berusaha. Hal ini menunjukkan bahwa 2 orang anak masih dianggap kurang atau belum cukup. Dengan berjalannya waktu dan pelaksanaan program maka lebih banyak wanita dengan paritas yang lebih kecil akan menggunakan alat kontrasepsi. ingin punya anak laki-laki 13%. Soeradji. penggunaan alat kontrasepsi adalah mereka yang telah mempunyai anak cukup banyak.

Tindakan kemandirian setiap individu yang lebih nyata akan lebih langgeng dan bertahan apabila hal ini didasari oleh pengetahuan yang kuat. Sedangkan pengeluaran untuk membesarkan anak adalah biaya dari mempunyai anak tersebut. pilihan efektif tidaknya. . Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan berbanding lurus dengan pemakaian alat kontrasepsi. Demikian juga sebaliknya jika pengetahuan responden tinggi maka pemakaian alat kontrasepsi juga akan meningkat.014).97 masa depan. sehingga dengan demikian kesadaran mereka tinggi untuk terus memanfaatkan pelayanan. Pengetahuan peserta KB yang baik tentang hakekat program KB akan mempengaruhi mereka dalam memilih metode/alat kontrasepsi yang akan digunakan termasuk keleluasaan atau kebebasan pilihan. kenyamanan dan keamanan. artinya bahwa semakin rendah pengetahuan responden maka pemakaian alat kontrasepsi juga rendah. Pengaruh Pengetahuan terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi Hasil uji statistik menunjukkan ada pengaruh yang bermakna antara tingkat pengetahuan terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. 4. Hal ini sesuai dengan pendapat Blum yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003) yang mengatakan bahwa tindakan seorang individu termasuk kemandirian dan tanggung jawabnya dalam berperilaku sangat dipengaruhi oleh domain kognitif atau pengetahuan. kecocokan. juga dalam memilih tempat pelayanan yang lebih sesuai dan lengkap karena wawasan sudah lebih baik.

Pendidikan yang rendah akan berhubungan dengan pengetahuan yang rendah pula. Pengetahuan responden yang rendah berhubungan juga dengan tingkat pendidikan yang masih rendah yaitu mayoritas berada pada ketegori pendidikan dasar.001). Pada umumnya responden dianggap sebagai pasien saja tanpa dibekali dengan pendidikan yang baik tentang KB dan kesehatan reproduksi (KR). Dari .98 Penelitian Prihastuti (2005) menunjukkan bahwa informasi yang diberikan petugas kepada akseptor tentang metode KB-nya masih kurang memadai. Juga sejalan dengan penelitian Pardosi (2005) yang mengatakan bahwa secara statistik diperoleh hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan tingkat kemandirian akseptor KB aktif dalam pemanfaatan program KB mandiri LIMAS (Sig=0. demikian juga dengan pendidikan suami. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Meutia (1997) yang mengatakan bahwa ada pengaruh pengetahuan akseptor KB terhadap utilitas alat kontrasepsi Implant (Sig=0. para PLKB inilah sebagai garda depan dalam menyukseskan program KB. Hal lain yang mempengaruhi adalah petugas PLKB yang tidak ada lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. karena responden tidak mendapatkan pendidikan yang memadai untuk menambah wawasan mereka tentang alat kontrasepsi. Pada awal program. setelah desentralisasi PLKB tidak dapat lagi melaksanakan tugas seperti dulu karena telah dilebur dengan lembaga lain.001). Hal inilah yang berdampak pada rendahnya pemanfaatan pelayanan KB. sehingga akseptor tidak memiliki pengetahuan yang baik tentang kontrasepsi.

maka dia juga akan memberi tindakan atau tanggapan yang negatif pula yaitu dengan tidak menggunakannya atau memakainya. Pengaruh Sikap terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada pengaruh sikap terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. Sikap yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penerimaan terhadap tujuan yang ditawarkan dalam program KB. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.041). Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa sikap responden yang belum baik juga diikuti dengan pemakaian alat kontrasepsi yang masih rendah. sehingga berpengaruh terhadap pola pikir dan bertindak termasuk dalam pemakaian alat kotrasepsi. 5. Contohnya adalah seperti sikap setuju atau tidaknya mereka terhadap informasi alat kontrasepsi dan KB. Sikap responden yang mayoritas tidak baik berhubungan pula dengan pendidikan yang lebih banyak pada kategori pendidikan dasar dan tingkat pengetahuan yang juga mayoritas pada kategori rendah. Artinya bahwa ketika responden memberi penilaian yang kurang baik terhadap program KB dan pemakaian alat kontrassepsi. pengertian .99 penelitian terlihat bahwa 100% responden mengetahui KB dan alat kontrasepsi dari PLKB tetapi sekarang hal itu tidak ada lagi akibatnya responden tidak mendapatkan informasi yang mereka harapkan. manfaat dan juga kegunaan pemakaian alat kontrasepsi.

Faktor Pendukung Faktor pendukung dalam penelitian ini adalah ketersediaan alat kontrasepsi dan keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Pardosi (2005) yang mengatakan bahwa diperoleh hubungan yang bermakna antara sikap dengan tingkat kemandirian akseptor KB aktif dalam pemanfaatan program KB mandiri LIMAS (Sig=0. 1. sedangkan . Pengaruh Ketersediaan Alat Kontrasepsi terhadap Pemakaian Alat Kontasepsi Uji statistik menunjukkan bahwa ada pengaruh yang bermakna antara ketersediaan pelayanan alat kontrasepsi terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.100 alat kontrasepsi dan manfaatnya. pekerjaan dan tersedianya layanan kesehatan yang terjangkau. Menurut Manuaba (1998). Jika alat kontrasepsi tersedia maka akan diikuti dengan pemakaian yang meningkat. serta kesediaannya mendatangi tempat pelayanan.2.000). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat pemakaian atau pemanfaatan alat kontrasepsi berbanding lurus dengan ketersediaan alat kontrasepsinya. fasilitas dan sarananya. faktor-fakor yang mempengaruhi alasan pemilihan metode kontrasepsi diantaranya adalah tingkat ekonomi. 5. demikian pula jika alat kontrasepsi tidak tersedia maka responden yang tidak memakai juga akan meningkat. juga kesediaan mereka memenuhi kebutuhan sendiri.001). Adanya keterkaitan antara pendapatan dengan kemampuan membayar jelas berhubungan dengan masalah ekonomi.

Implant dan IUD tidak tersedia karena harganya yang cukup mahal. dan kalaupun ada pembagian dari Dinas Kesehatan Kabupaten atau Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil jumlahnya sangat sedikit dan biasanya diberikan jika ada acara-acara tertentu yang berhubungan dengan KB dan kesehatan. Promosi metode tersebut – melalui media.101 kemampuan membayar bisa tergantung variabel non ekonomi dalam hal selera atau persepsi individu terhadap suatu barang atau jasa. Suntik dan . Memberikan konsultasi medis mungkin dapat dipertimbangkan sebagai salah satu upaya promosi. melalui kontak langsung oleh petugas program KB. pertama kali suatu metode kontrasepsi harus tersedia dan mudah didapat. oleh dokter dan sebagainya – dapat meningkatkan secara nyata pemilihan metode kontrasepsi. tersedia atau tidaknya fasilitas atau sarana kesehatan (tempat pelayanan kontrasepsi). Berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap responden didapat bahwa responden yang memakai kontrasepsi pada umumnya menggunakan metode kontrasepsi pil (39%) dan suntik (25%) yang harganya tergolong murah. Untuk dapat digunakan. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari puskesmas Rambah Samo ternyata tidak semua jenis/metode kontrasepsi tersedia. Ketersediaan alat kontrasepsi terwujud dalam bentuk fisik. Sedangkan Suntik KB kadang tidak tersedia sehingga akseptor KB mendapatkannya di praktek dokter atau bidan. Secara tidak langsung daya beli individu ini juga dipengaruhi oleh ada tidaknya subsidi dari pemerintah. Disamping itu daya beli individu juga dapat mempengaruhi penggunaan kontrasepsi.

Petugas cenderung memprioritaskan dan membatasi suatu metode tertentu karena keterbatasan persediaan. PUS tidak memanfaatkan pelayanan KB karena penyedia pelayanan KB tidak menyediakan semua metode kontrasepsi.. Berbeda dengan suntik dan pil yang bisa mereka dapatkan dengan harga murah meskipun dengan pemakaian jangka waktu yang relatif pendek (sekali tiap bulan atau tiga bulan) untuk suntik dan harus diminum setiap hari untuk pil.-. tetapi karena responden harus mengeluarkan biaya sekaligus maka nilai tersebut terasa mahal. 15. Konsumen tidak dapat memilih metode yang sesuai dengan tujuan kontrasepsinya karena alat tidak tersedia sehingga faktor ini akan berpengaruh terhadap pemanfaatan pelayanan KB. Menurut Kartono dalam Hutauruk (2006).-.102 pil biasanya mereka dapatkan di puskesmas dengan mengeluarkan biaya rata-rata Rp.000.000..000. Harga ini tergolong murah jika mereka harus menggunakan alat kontrasepsi spiral atau implant yang harganya tergolong mahal dan mereka harus mengeluarkan dana rata-rata Rp. 200.untuk sekali suntik dan untuk pil bisa mereka dapatkan secara gratis atau membayar sebanyak Rp. 5. Ketersediaan ini juga berkaitan dengan struktur organisasi pada lembaga BKKBN yang berubah setelah orde baru. Sejak BKKBN dilebur . 300. Jika dahulu masalah alat kontrasepsi ditangani oleh BKKBN sekarang hal tersebut sudah berubah.000.sampai Rp. Meskipun secara nominal harga ini tergolong mahal tetapi jika dihitung dengan manfaat pemakaian jangka waktu yang lama maka sebenarnya metode ini lebih murah.

2005). Pelaksanaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin pada tahun 2008 dinamakan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). padahal kesehatan merupakan hak semua orang dan pemerintah seharusnya menjaminnya (Prihastuti. karena kedua belah pihak merasa bahwa masalah alat kontrasepsi bukan urusannya dan lebih memprioritaskan pada program-program yang pokok. Hal inilah yang mengakibatkan akseptor susah untuk mendapatkan alat kontrasepsi. Selain itu terjadi pula lempar tanggung jawab. Ruang lingkup Program Jamkesmas pada tahun 2008 diutamakan pada upaya pelayanan kesehatan perorangan (promotif. Pengadaan alat kontrasepsi menjadi terhenti. Kurangnya advokasi kepada legislatif dan eksekutif juga merupakan hal yang mengakibatkan rendahnya dana yang dialokasikan untuk pengadaan alat kontrasepsi. Tidak semua anggota legislatif yang concern pada masalah tersebut dan menganggap bahwa program KB merupakan urusan keluarga. preventif. hanya menunggu pengadaan dari BKKBN pusat. kuratif dan rehabilitatif) bagi . Untuk menjamin akses penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan. Untuk pengadaan di Dinas Kesehatan sendiri juga mengalami kendala karena terbentur dengan masalah biaya yang terbatas dan lebih banyak diprioritaskan pada pengadaan obat-obatan dan vaksin. sejak tahun 2005 Pemerintah melaksanakan mekanisme asuransi kesehatan yang dikenal dengan Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin (Askeskin).103 dan digabung dengan Dinas Catatan Sipil dan Kependudukan maka kegiatan BKKBN menjadi tidak berjalan.

104 peserta Jamkesmas. Dengan pelayanan tersebut diharapkan akseptor KB yang sedang memakai alat kontrasepsi tidak menjadi drop out karena putus pakai. disamping upaya pelayanan kesehatan masyarakat yang terbatas pada upaya pencegahan yang bersifat sekunder. . namun alat kontrasepsi disediakan oleh BKKBN. Pelayanan KB termasuk dalam pelayanan rawat jalan tingkat primer. Untuk penduduk miskin biaya yang harus dikeluarkan untuk pembelian alat kontrasepsi tersebut tentu juga memberatkan selain juga mereka harus mengeluarkan biaya untuk hidup sehari-hari. sehingga dapat memberi solusi untuk dapat membantu atau meringankan beban penduduk miskin dengan tetap memberi pelayanan kesehatan KB dan kontrasepsi dengan gratis. Kendala inilah yang harus segera diatasi masyarakat menjadi mengeluarkan biaya untuk membeli alat kontrasepsi yang sebenarnya bisa mereka dapatkan secara gratis. Hal ini diungkapkan oleh Herlianto (2008) yang mangatakan bahwa ditengah otonomi daerah akseptor KB sulit untuk memanfaatkan pelayanan KB karena keterbatasan biaya untuk memperoleh alat/metode KB dan mengakibatkan terjadinya drop out karena akseptor KB tidak lagi memperoleh pelayanan KB gratis dalam safari KB seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Oleh karena itulah diharapkan pemerintah pusat khususnya pemerintah daerah memberi perhatian khusus dalam hal ini. Hal ini mengakibatkan cakupan pelayanan alat kontrasepsi menjadi tidak satu kesatuan karena terkendala pada pengadaan alat kontrasepsi yang disediakan oleh BKKBN.

yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah faktor organisasional yaitu ketersediaan sumber daya baik dari segi kualitas maupun kuantitas. waktu tempuh dan biaya. Jika mereka membutuhkan pelayanan maka seharusnya mereka tidak akan memperhitungkan jarak dan kondisi jalan. sedangkan responden yang jarak rumahnya jauh dan . Pengaruh Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi terhadap Pemakaian Alat Kontasepsi Keterjangkauan pelayanan dalam hal ini dilihat dari 3 (tiga) kategori yaitu dari segi jarak. Hasil ini menunjukkan bahwa jauh dekatnya jarak di lokasi penelitian akan mempengaruhi mereka dalam pemanfaatan pelayanan.000). 2.7% tidak memakai alat kontrasepsi. Hal ini dapat dilihat dari responden yang jarak rumahnya dekat tetapi 89. Jarak bukanlah sesuatu hal yang dapat menghalangi mereka untuk mendapatkan pelayanan kesehatan termasuk pelayanan alat kontrasepsi. Masing-masing sub variabel tersebut setelah diuji dengan uji chi-square menunjukkan hubungan yang Signifikan dengan pemakaian alat kontrasepsi. Suatu pelayanan hanya bisa digunakan apabila jasa tersebut tersedia atau bisa didapat tanpa mempertimbangkan sulit atau mudahnya penggunaannya. waktu tempuh dan biaya berhubungan dengan pemakaian alat kontrasepsi.105 Menurut Rochmah dalam Hutauruk (2005). sehingga dapat dikatakan bahwa jarak. Hasil penelitian Hutauruk (2006) juga mengatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara ketersediaan pelayanan KB dengan utilisasi pelayanan KB (Sig=0.

Dari kondisi tersebut dapat dikatakan bahwa jarak bukan suatu hal yang dapat menyebabkan responden menjadi terganggu untuk mendapatkan alat kontrasepsi. waktu tempuh ataupun biaya tempuh. Ini adalah hubungan antara lokasi suplai dan lokasi dari klien yang dapat diukur dengan jarak. pemanfaatan pelayanan kesehatan berhubungan dengan akses geografis.8%. Jika mereka membutuhkan alat kontrasepsi tersebut maka mereka tidak akan mempermasalahkan jarak ke puskesmas.106 tidak memakai alat kontrasepsi sebanyak 64. atau keramahan petugas . sosial budaya terhadap pelayanan kesehatan modern. Meskipun sebenarnya jarak merupakan suatu kondisi yang menghambat seseorang dalam melakukan suatu tindakan atau perbuatan. faktor yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan yaitu aksesibilitas terhadap pelayanan kesehatan seperti jarak tempuh dan waktu yang terbuang untuk pergi ke fasilitas. Menurut Depkes RI (2007). kendala. waktu tempuh atau biaya tempuh. yang dimaksudkan dalam hal ini adalah tempat memfasilitasi atau menghambat pemanfaatan. Hubungan antara akses geografis dan volume dari pelayanan bergantung dari jenis pelayanan dan jenis sumber daya yang ada. Fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada belum digunakan dengan efisien oleh masyarakat karena lokasi pusat-pusat pelayanan tidak berada dalam radius masyarakat banyak dan lebih banyak berpusat di kota-kota dan lokasi sarana yang tidak terjangkau dari segi perhubungan. Menurut Rafael dalam Hutauruk (2005). Peningkatan akses dipengaruhi oleh berkurangnya jarak. biaya.

Hal ini akan berpengaruh pada kemampuan mereka untuk membayar atau membeli barang dan jasa termasuk untuk membeli alat kontrasepsi. faktor-faktor yang mempengaruhi alasan pemilihan metode kontrasepsi diantaranya adalah tingkat ekonomi. menggunakan sepeda (33%) ataupun sepeda motor (30%). Sedangkan dari segi biaya 95% responden mengeluarkan biaya untuk mendapatkan alat kontrasepsi dengan harga yang bervariasi sesuai dengan pilihan metode kontrasepsi.107 pelayanan kesehatan. Menurut Manuaba (1998). Tempat pelayanan yang tidak strategis atau sangat sulit dicapai menyebabkan berkurangnya pemanfaatan pelayanan kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah berprofesi sebagai petani sehingga dilihar dari segi ekonomi mereka berada pada golongan ekonomi menengah ke bawah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak rumah reponden 29% dekat dengan puskesmas. Mereka dihadapkan pada terbatasnya pilihan yang ada dan sesuai dengan . dapat ditempuh dalam waktu ≤ 30 menit (63%) dengan berjalan kaki (47%). sedangkan kemampuan membayar bisa tergantung variabel non ekonomi dalam hal selera atau persepsi individu terhadap suatu barang atau jasa. Keterjangkauan dari segi biaya pada umumnya banyak berhubungan dengan ketersediaan seperti yang telah dibahas sebelumnya. pekerjaan dan tersedianya layanan kesehatan yang terjangkau. Adanya keterkaitan antara pendapatan dengan kemampuan membayar jelas berhubungan dengan masalah ekonomi. Keterjangkauan dari segi biaya berhubungan dengan tersedia atau tidak tersedianya alat kontrasepsi tersebut.

5%. Petugas kesehatan sangat banyak berperan dalam tahap akhir pemakaian alat kontrasepsi.005). sedangkan petugas kesehatan mendukung dan mereka memakai alat kontrasepsi sebanyak 43. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada pengaruh dukungan petugas kesehatan terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. 5.8%. 1. Faktor Pendorong Faktor pendorong dalam penelitian ini adalah dukungan petugas kesehatan dan pengambil keputusan dalam keluarga. penyuluhan dan menjelaskan tentang alat kontrasepsi. Calon akseptor yang masih ragu-ragu dalam pemakaian alat kontrasepsi akhirnya memutuskan untuk memakai alat kontrasepsi setelah mendapat dorongan Dukungan Petugas Kesehatan terhadap Pemakaian Alat . Pengaruh Kontasepsi Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang mengatakan petugas kesehatan tidak mendukung dan mereka tidak memakai alat kontrasepsi sebanyak 86. Petugas kesehatan berperan dalam memberikan informasi. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan petugas kesehatan berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi. sehingga mayoritas pilihannya adalah metode kontrasepsi pil dan suntik yang dari segi biaya tergolong murah meskipun jangka waktu pemakaiannya singkat.3. Petugas kesehatan yang dimaksud dalam hal ini adalah bidan atau perawat yang bertugas di klinik kesehatan ibu dan anak dan keluarga berencana (KIA/KB).108 kondisi keuangan.

agar lebih meningkatkan mutu pelayanan dengan memberi sanksi yang tegas jika petugas kesehatan terutama bidan di desa yang tidak mau melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh. Petugas kesehatan merupakan pihak yang mengambil peran dalam tahap akhir proses pemakaian alat kontrasepsi. Selain petugas kesehatan. Petugas PLKB biasanya membujuk para calon akseptor agar mau memakai alat kontrasepsi. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan perubahan sistem organisasi peran petugas PLKB banyak . sehingga pelayanan kepada masyarakat tidak optimal.109 maupun anjuran dari petugas kesehatan. namun dalam kenyataannya para bidan di desa tidak tinggal menetap di polindes tersebut. Hal ini tentu harus mendapat perhatian dari kepala puskesmas Kecamatan Rambah Samo maupun Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu. Bidan hanya datang setengah hari saja dan mereka pada umumnya tinggal menetap di ibukota kecamatan. Pelayanan yang kurang baik seperti ini akan menjadi citra buruk bagi pelayanan kesehatan terutama petugas kesehatan itu sendiri. peran petugas PLKB dalam hal pemakaian alat kontrasepsi juga tidak dapat diabaikan. Banyak masyarakat yang akhirnya enggan datang untuk berobat ataupun konsultasi tentang masalah kesehatannya karena sering kecewa bidan tidak berada di tempat. Setelah memberikan penjelasan tentang alat kontrasepsi petugas PLKB akan merujuk calon akseptor ke puskesmas untuk proses pemasangan alat kontrasepsi. Kecamatan Rambah Samo sendiri telah mempunyai polindes di tiap-tiap desa. Kerjasama ini sudah berjalan sejak zaman orde baru yang mengakibatkan meningkatnya akseptor KB.

sehingga otomatis peran tersebut digantikan oleh petugas kesehatan. namun mereka menyerahkan hal tersebut kepada petugas kesehatan. Petugas kesehatan menjadi pihak yang mengkampanyekan program KB kepada masyarakat. Dengan kekuatan yang mereka miliki petugas kesehatan biasanya mampu menekan ataupun mendorong calon akseptor untuk memakai alat kontrasepsi. Meskipun sering tidak memiliki pilihan dalam hal jenis alat kontrasepsi yang dikehendaki. sehingga calon akseptor yang belum mengambil keputusan akhirnya memutuskan untuk memakai alat kontrasepsi setelah diyakinkan oleh petugas kesehatan. Namun dalam perkembangannya tugas tersebut tidak dapat terlaksana dengan baik.110 mengalami perubahan. Di puskesmas inilah petugas kesehatan memegang peran penting karena mereka harus dapat meyakinkan para calon akseptor untuk memakai alat kontrasepsi. sehingga mereka hanya dapat melayani para calon akseptor yang datang ke puskesmas. Di daerah penelitian sendiri petugas PLKB sudah tidak ada lagi. Depkes RI (2007) mengatakan bahwa tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dari tenaga medis yang terampil serta kesediaan masyarakat untuk merubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat pemakaian alat kontrasepsi. . Petugas kesehatan juga tidak memiliki dana yang cukup untuk program tersebut.

111 Berdasarkan indikator dukungan petugas kesehatan. mayoritas responden mengatakan petugas kesehatan melakukan penyuluhan rutin tentang KB dan alat kontrasepsi. Juliantoro (2000) mengatakan bahwa dalam pelayanan kontrasepsi. klien bukanlah orang sakit yang ingin disembuhkan dengan sikap pasrah terhadap segala keputusan yang diambil penyedia layanan. Konsumen kontrasepsi adalah orang yang datang dalam keadaan sehat. hubungan antara penyedia pelayanan dengan konsumen kontrasepsi tidak sama dengan hubungan dokter dengan pasien. Adanya hubungan yang akrab antara perawat/bidan dengan masyarakat lebih memudahkan mereka dalam menggerakkan masyarakat. sehingga anjuran atau keputusan yang dibuat akan dilaksanakan oleh masyarakat. memberi kesempatan atau kebebasan dalam memilih alat kontrasepsi. menyarankan agar ibu ikut KB atau menggunakan kontrasepsi. Petugas kesehatan juga menjelaskan terlebih dahulu tentang alat kontrasepsi yang akan dipilih serta efek sampingnya. Dalam pelayanan kontrasepsi. Demikian juga dalam hal pemakaian alat kontrasepsi. menyarankan untuk pemeriksaan rutin dan mengatakan bahwa pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan memuaskan. Petugas kesehatan juga merupakan sosok yang masih dianggap panutan di masyarakat. mempunyai kesadaran dan kemampuan untuk melakukan pilihan . Hubungan tersebut lebih memudahkan mereka jika calon akseptor ingin memakai alat kontrasepsi. tidak sekedar hubungan antara orang sakit dengan petugas kesehatan.

2. sehingga program KB terus berlanjut dan berkesinambungan. Friedman (1998) dan Sarwono (2007) mengatakan bahwa ikatan suami isteri yang kuat sangat membantu ketika keluarga menghadapi masalah. keputusan dapat diambil oleh suami atau istri saja dengan memperhatikan segala risiko yang mungkin timbul akibat dari pemakaian alat kontrasepsi. Program KB masih harus tetap disosialisasikan kepada masyarakat seperti yang dilakukan oleh petugas PLKB pada masa yang lalu. Maksudnya adalah bahwa dalam hal pemakaian alat kontrasepsi suami dan istri tidak begitu mempermasalahkan musyawarah. Oleh karena itu diharapkan petugas kesehatan dapat mengubah pola/cara pikir mereka dalam menghadapi para konsumen kontrasepsi. Bila hal ini diperhatikan maka pemanfaatan pelayanan KB dapat meningkat. Dengan kata lain tidak ada perbedaan antara musyawarah suami-istri dengan suami atau istri saja dalam mengambil keputusan dalam pemakaian alat kontrasepsi.112 sehingga pelayanan KB harus berbeda dengan pelayanan orang sakit. Hasil uji chi square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan pengambil keputusan dalam keluarga dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. karena suami/isteri . Pengaruh Pengambil Keputusan dalam Keluarga terhadap Pemakaian Alat Kontasepsi.949). mereka harus tetap meningkatkan kemampuan dan keahlian sehingga dapat memberikan informasi dan penyuluhan kepada masyarakat sehingga NKKBS dapat diterima dengan positif.

saling kerjasama dalam pemakaian. 1998). Dukungan tersebut akan tercipta apabila hubungan interpersonal keduanya baik. pertama kali suatu metode kontrasepsi harus tersedia dan mudah didapat. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa faktor-fakor yang mempengaruhi alasan pemilihan metode kontrasepsi diantaranya adalah tingkat ekonomi.113 sangat membutuhkan dukungan dari pasangannya. Faktor Paling Dominan terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi Berdasarkan uji regresi logistik ganda. Hartanto (2004) mengatakan bahwa metoda kontrasepsi tidak dapat dipakai istri tanpa kerjasama suami dan saling percaya. diketahui bahwa variabel yang paling dominan pengaruhnya terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah ketersediaan alat kontrasepsi. 5. Adanya keterkaitan antara pendapatan dengan kemampuan membayar berhubungan dengan masalah ekonomi. tersedia atau tidaknya fasilitas atau sarana kesehatan (tempat pelayanan kontrasepsi). pekerjaan dan tersedianya layanan kesehatan yang terjangkau. sedangkan kemampuan membayar bisa tergantung variabel non ekonomi dalam hal selera atau persepsi individu terhadap suatu barang atau jasa (Manuaba. membayar biaya pengeluaran untuk kontrasepsi dan memperhatikan tanda bahaya pemakaian. Hal itu disebabkan orang yang paling bertanggung jawab terhadap keluarganya adalah pasangan itu sendiri. Ketersediaan alat kontrasepsi terwujud dalam bentuk fisik.4. Untuk dapat digunakan. Keadaan ideal bahwa pasangan suami istri harus bersama memilih metoda kontrasepsi yang terbaik. .

PUS tidak memanfaatkan pelayanan KB karena penyedia pelayanan KB tidak menyediakan semua metode kontrasepsi. Suatu pelayanan hanya bisa digunakan apabila jasa tersebut tersedia atau bisa didapat tanpa mempertimbangkan sulit atau mudahnya penggunaannya. . Hasil penelitian Hutauruk (2006) juga menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara ketersediaan pelayanan KB dengan utilisasi pelayanan KB (Sig=0. Rochmah dalam Hutauruk (2006) mengatakan yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah faktor organisasional yaitu ketersediaan sumber daya.000). Hal yang sama juga diungkapkan oleh Herlianto (2008). secara tidak langsung daya beli individu ini juga dipengaruhi oleh ada tidaknya subsidi dari pemerintah. Konsumen tidak dapat memilih metode yang sesuai dengan tujuan kontrasepsinya karena alat tidak tersedia sehingga faktor ini akan berpengaruh terhadap pemanfaatan pelayanan KB. bahwa ditengah otonomi daerah akseptor KB sulit untuk memanfaatkan pelayanan KB karena keterbatasan biaya untuk memperoleh alat/metode KB dan mengakibatkan terjadinya drop out karena akseptor KB tidak lagi memperoleh pelayanan KB gratis dalam safari KB seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Menurut Kartono dalam Hutauruk (2006). baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Petugas cenderung memprioritaskan dan membatasi suatu metode tertentu karena keterbatasan persediaan.114 Disamping itu daya beli individu juga dapat mempengaruhi penggunaan kontrasepsi.

1. ketersediaan alat kontrasepsi (Sig=0. ketersediaan alat kontrasepsi (Sig=0. Proporsi istri PUS yang tidak memakai alat kontrasepsi sebesar 72%. sikap (Sig=0. maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. pendidikan (Sig=0. Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan yang Signifikan antara umur (Sig=0. Hasil analisis multivariat menunjukkan ada pengaruh yang bermakna antara jumlah anak (Sig=0. 3. sikap (Sig=0. waktu tempuh (Sig=0.115 BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6. Variabel yang dominan berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah ketersediaan alat kontrasepsi (Koefisien B = 3.023).033).005) terhadap pemakaian alat kontrasepsi 4.014).025).000) dan dukungan petugas kesehatan (Sig=0. jumlah anak (Sig=0.112). Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian. 6.041).001).000).016).1. Saran 1.001) dan dukungan petugas kesehatan (Sig=0.030). biaya (Sig=0.008). jarak (Sig=0. pengetahuan (Sig=0. pengetahuan (Sig=0.000). Kepada Dinas Kesehatan dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Rokan Hulu perlu melakukan kerjasama dan pendekatan kepada penentu kebijakan 99 . 2.002) dengan pemakaian alat kontrasepsi.

. Juga perlu melakukan penyuluhan kepada masyarakat agar dapat memahami dan menerima norma keluarga kecil sehingga diharapkan mampu membentuk keluarga bahagia dan sejahtera melalui pengaturan atau pembatasan kelahiran anak. 2. 3. Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu perlu melakukan peningkatan kemampuan petugas kesehatan sehingga mampu memberikan informasi tentang alat kontrasepsi dan dapat memahami serta menyadari bahwa akseptor memiliki hak reproduksi sehat dan hak konsumen pengguna alat kontrasepsi.116 lainnya dalam mengalokasikan dana untuk pelayanan alat kontrasepsi gratis kepada masyarakat khususnya kepada keluarga miskin.

Jakarta. Jakarta.. Statistik Indonesia 2007. Edisi Revisi VI. Cukilan Data Program Keluarga Berencana Nasional. _________________. . No. 1999. Jakarta.. 1992. 2007b. 1995. 1990. Tingkat dan Perkembangan Pemakaian Alat Kontrasepsi Menurut Parameter Demografi Sosioekonomi di Indonesia Tahun 1994-1997. R. _______. 2005. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. _________________. BPS. Jakarta.. _______. Informasi Aspek Medis Alat Kontrasepsi LIMAS. 2007a.. Arikunto. Statistik 60 Tahun Indonesia Merdeka. 256 Tahun XXXII. _______. Jakarta. 2006. Audience Research for Improving Family Planning Comunication Program.id diakses tanggal 10 Juni 2009. 2003. 2004. Cukilan Data Program Keluarga Berencana Nasional. Jakarta. Memecahkan Kasus Statistik Deskriptif. BPS.117 DAFTAR PUSTAKA Ancok. Yogyakarta. ______. Prosedur Penelitian. Jakarta. S. Jakarta.bkkbn. Nuansa Psikologi Pembangunan. Jumlah Penduduk Miskin Berkurang di 2007. Hasil Pelaksanaan Program KB Nasional. 2009. 255 Tahun XXXI. Communication Laboratory Community & Family Studi Center. 1980. 2005. Jakarta. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta. _______. Cornelius. Beni. Tahun 33 (4): 1-8. Warta Demografi. Dj. Badan Pusat Statistik. Penerbit Pustaka Pelajar.go. BKKBN. Indikator Kesejahteraan Rakyat 2006. Penerbit Andi. 101 . Analisis Berita Kependudukan: Triwulan Keempat 2003. BPS. Dua Dasawarsa Gerakan KB Nasional. J.. 2004. Parametrik dan Non Parametrik. No. Hasil Pelaksanaan Program KB Nasional. Yogyakarta. http//www. Bertrand. 2003. T. _______. University of Chicago BKKBN.

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Gerungan.W. Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Metoda Kontrasepsi di Kelurahan Sidorame Barat II Kecamatan Medan Perjuangan Kodya Medan Tahun 2001. KB dan Kontrasepsi.. Eresco. Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Rokan Hulu. Fourth Edition. Bandung. Hatmadji. Hubungan Karakteristik Wanita Usia Subur (WUS) dan Kualitas Pelayanan KB dengan Utilisasi Pelayanan KB di Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2006. 2007. M. http//www.. . Pasirpengaraian. 2008. S. Jakarta. Profil Kesehatan Indonesia 2005. 30 Tahun Cukup. A. New York. and Kreuter M. Psikologi Sosial. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. 2001. Hasibuan. Pustaka Sinar Harapan. 2004. Jakarta. Jakarta. 2008... Ledakan Pertumbuhan Penduduk: Keluarga Berencana Tetap Menjadi Kunci. D. Herlianto. 2006. L. Jakarta. S. Skripsi. W. McGraw Hill. Profil Kependudukan Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2007. Pasirpengaraian. Keperawatan Keluarga: Teori dan Praktek. 2005. Medan. Jakarta. Tesis.118 Depkes RI.. D..com/rubrik/arsipaktual.R. Health Program Planning: An Educational and Ecological Approach. Analisis Situasi dan Bimbingan Teknis Pengelolaan Pelayanan KB. Sistem Kesehatan Nasional. Medan. 2000. H. Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia...E. Juliantoro. Fertilitas (Kelahiran) dalam Dasar-dasar Demografi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2008. Jakarta. Hutauruk.H. Hartanto. _________. 2004. Green. Friedman. _________. 1986. 2004. Jakarta..media-indonesia. Profil Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2007. diakses tanggal 30 Agustus 2008. 2001.A.. 1998.

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. ______________. R. PT RajaGrafindo Persada.. J. Depok. D. Skripsi. Mantra . 1997. STARH-INSIST. Jakarta.. Penerbit Buku Kedokteran EGC.W. Medan.go.119 Kasmiyati. 2008. Pratiknya.. http//www. et. 2005. 2007..I.B. 2005. Jakarta.php?type=p&prgid=175 diakses tanggal 17 September 2008 . Yogyakarta Manuaba. Pemantauan Pasangan Usia Subur Melalui Mini Survei Indonesia 2007.W. Pardosi.al. Medan. Yogyakarta. Kusuma. Program Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.bkkbn. A. Jakarta. Cetakan 2. Gadjah Mada University Press.. dan Sikap Akseptor KB Terhadap Utilitas Alat Kontrasepsi Implant di Kelurahan Kota Matsum-1 Kotamadya Medan. Meutia. I. . E. Medan Baru Kodya Medan Tahun 2005. . S. Pengetahuan. Mochtar. Pengaruh Karakteristik. Analisis Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Kemandirian Akseptor KB Aktif dalam Pemanfaatan Program KB Mandiri di Wilayah Kerja Puskesmas Padang Bulan Kec. Jakarta. Mutiara. V. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.id/ditfor/download. Tesis.. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. 2003. Demografi Umum..G. 1995. T. Hosmer Jr. I. Ilmu Kebidanan. Penerbit Pustaka Pelajar... Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Penerbit Rineka Cipta. 1997. Jakarta. 2003. Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Penggunaan Kontrasepsi di Wilayah Indonesia Timur (Analisis Data SDKI 1994). Menyisir dari Pinggir. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.. dan Klar.B. Lemeshow. Edisi 2. 2006. Sinopsis Obstetri Edisi 2. Notoatmodjo. 1998.. 1998. Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan (Terjemahan Dibyo Pramono). Skripsi. Yogyakarta. S. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Penerbit Rineka Cipta.

Alphabet. Anak Tak Terbilang. Sciortino. I. S.. Depok. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.. dan Ismael. Jakarta. Cetakan Keempat. Suryabrata. LP3ES. Sastroasmoro. Alkon Hilang. Jakarta. 2003. Siswosudarmo.. Yogyakarta. Jakarta. Yogyakarta. P. __________.. Jakarta. S. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Metodologi Penelitian. 2001. Teori Organisasi.. LP3Y dan STARH. Jakarta. Metode Penelitian Survei. Soekanto. S. R.. S. Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Cetakan Kedua. Saifuddin. Psikologi Sosial. 2007. dan Efendi. M.. dkk. Bandung.. 1989. Sakhnan. Jakarta. Bandung.. 2003... Penerbit Buku Kedokteran EGC. Pedoman Klinis Kontrasepsi. Penerbit Arcan. 2005. 1995. LP3ES. S. Jakarta. Sarwono. M. 2002. 2004.W. 2001. dan Darney. Metode dan Teknik Penyusunan Tesis. S. Singarimbun. Sosiologi Suatu Pengantar. Penerbit Balai Pustaka. Sarwono. Penerbit Pustaka Pelajar. Akseptor KB Terengah di Otonomi Daerah.B. 1999. Edisi 2. S.. Program Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Yogyakarta. S. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.. Riduwan. PT RajaGrafindo Persada. S. 2001. Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi.120 Prihastuti. Faktor yang Berhubungan dengan Keikutsertaan Ibu PUS dalam Program KB Pada Suku Talang Mamak di Desa Seberial Indragiri Hulu Propinsi Riau Tahun 2000.. PT RajaGrafindo Persada. Sosiologi Kesehatan: Beberapa Konsep Beserta Aplikasinya. 1994. 2005.P. Menuju Kesehatan Madani. A.. Tekonologi Kontrasepsi. . L.. Yogyakarta. Robbins. 2006. Gadjah Mada University Press. Tesis.. Speroff.

1999. 2006. Indonesia the Human Development Index . Panduan Penelitian Proposal dan Tesis. Triton. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 2002.org/end/reports/ . SPSS 13 Terapan Riset Statistik Parametrik.undp. Peranan Dukungan Suami Istri Dalam Pemilihan Alat Kontrasepsi Pada Peserta KB di Soak Bayu Kab Musi Banyuasin Sumatera Selatan Tahun 2002. . Skripsi. AKK Sekolah Pasca Sarjana. H. Depok. Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2007. Medan.. Wiknjosastro. USU Press.121 Syamsiah. diakses tanggal 28 Februari 2008.Going Beyond Income. Jakarta. Penerbit Andi. http:/hdr. 2008. Yogyakarta. UNDP. Edisi Ketiga. Universitas Sumatera Utara. Ilmu Kebidanan.

.. Apakah ibu peserta KB? (Jika Tidak.. Implant/Susuk c. Nama 3. Belum punya anak b. No. lanjut ke pertanyaan No... Ya 2. Responden 2. 10. Pendidikan 5. Pil e.. Tidak 9. Jika Ya. sebutkan. Suntik d. MOP/MOW g. Spiral b.. Ingin punya anak perempuan e.. Ingin punya anak laki-laki d. Lain-lain …….. alat kontrasepsi apa yang digunakan saat ini? a. Alasan kesehatan f.122 Lampiran 1 KUESIONER PENELITIAN FAKTOR FAKTOR YANG MEMENGARUHI PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI PADA ISTRI PUS DI KECAMATAN RAMBAH SAMO KABUPATEN ROKAN HULU Nomor Kuesioner Nama pewawancara : Hari/tanggal A : Identitas responden 1. Masih ingin punya anak c. Lain-lain. 106 . Dilarang suami g... apa alasan ibu belum ber-KB a. Jumlah Anak : : : : : : : 8. Jika Tidak. Umur Suami 6.. Pendidikan Suami 7. Umur 4. Kondom f.10) 1.

. Membentuk keluarga kecil..... Pembatasan kelahiran 5. Tidak tahu 3... Untuk mengatur jarak kehamilan 3....bulan 4. 2. Menurut ibu.. 3...... Untuk mengakhiri kesuburan 4... Anak pertama. apakah tujuan KB? 1. bahagia dan sejahtera 2. Puskesmas 3. pengertian KB adalah? 1.... Radio/Televisi 6.... 1.. Tidak tahu 5. PPLKB/PLKB 2... Penundaan/penjarangan kelahiran 4.... Tidak tahu 2..... Surat kabar/Majalah 5. Menurut ibu.. Menurut ibu..... Salah satu usaha untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui pengaturan kelahiran. Memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak 3..123  11. Anak kedua.. Tidak tahu 4............ dan seterusnya.. apakah manfaat pemakaian alat kontrasepsi? 1. Dokter/Bidan Praktek Swasta 4.. bulan 2... Suatu cara yang dianjurkan pemerintah untuk membatasi jumlah anak (idealnya adalah 2 anak) 4. Berapa rata-rata jarak kehamilan dengan anak sebelumnya…. B Pengetahuan tentang alat kontrasepsi (Jawaban bisa lebih dari 1) 1. bulan 3.. Jenis alat kontrasepsi apa saja yang ibu ketahui? 1. Spiral/IUD .. Suami/Orangtua/mertua 7. Darimanakah ibu mengetahui tentang KB/alat kontrasepsi? 1. Untuk mencegah terjadinya kehamilan 2. Anak ketiga . Suatu usaha dengan kesadaran sendiri membatasi kelahiran untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga...

124

2. Implant/Susuk 3. Suntik 4. Pil 5. Kondom 6. Tubektomi/Vasektomi (MOP/MOW) 7. Tidak tahu 6. Menurut ibu, apa sajakah efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi? 1. Rasa nyeri/mules 2. Kelainan haid/perdarahan/bercak darah 3. Mual/muntah/pusing 4. Infeksi/Keputihan 5. Perubahan berat badan/gemuk 6. Tidak tahu 7. Menurut ibu, apakah alat kontrasepsi yang paling cocok untuk ibu menyusui? 1. Pil 2. Suntik 3. Tidak tahu 8. Menurut ibu, apa saja jenis kontrasepsi untuk laki-laki? 1. Kondom 2. MOP/Tubektomi 3. Tidak tahu C Sikap (Pilih satu jawaban saja) 1. Menurut ibu, manfaat KB adalah untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak 1. Setuju 2. Tidak setuju Alasan ………………………. 2. Menurut ibu, KB bertujuan untuk merencanakan keluarga kecil, bahagia dan berkualitas 1. Setuju 2. Tidak setuju Alasan ……………………….

125

3. Menurut ibu, pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu cara untuk menunda kehamilan dan menjarangkan kelahiran 1. Setuju 2. Tidak setuju Alasan ………………………. 4. Menurut ibu, mempunyai anak yang banyak tidak akan membawa rezeki yang banyak. 1. Setuju 2. Tidak setuju Alasan ………………………. 5. Menurut ibu, anak laki-laki nilainya sama dengan anak perempuan 1. Setuju 2. Tidak setuju Alasan ………………………. D Ketersediaan Alat Kontrasepsi: (Pilih satu jawaban saja) 1. Pada saat ibu ingin ikut KB, apakah alat kontrasepsi selalu tersedia di sarana kesehatan? 1. Ya 2. Tidak 2. Apakah jenis alat kontrasepsi yang diinginkan selalu tersedia di sarana kesehatan? 1. Ya 2. Tidak Jika Tidak, dimana ibu mendapatkan alat kontrasepsi? 1. Klinik swasta 2. Praktek Dokter/Bidan 3. Apotek 4. Lain-lain, sebutkan………………… Keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi (Pilih satu jawaban saja) 1. Berapakah jarak rumah ibu ke sarana kesehatan? 1. ≤ 2,5 km

E

126

2. > 2,5 km 2. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai di tempat pelayanan kesehatan? 1. ≤ 30 menit 2. > 30 menit Jenis alat transportasi apa yang ibu gunakan untuk mencapai tempat tersebut? 1. Jalan kaki 2. Sepeda 3. Sepeda motor 4. Mobil 3. Apakah ibu mengeluarkan biaya untuk memperoleh pelayanan KB? 1. Ya 2. Tidak Bila ibu membayar untuk ber-KB, berapa biaya yang harus dikeluarkan? (Sebutkan nominalnya dalam rupiah) ………… 1. s/d 100.000,2. 100.000 s/d 200.000,3. > 200.000,Dukungan Petugas Kesehatan: (Pilih satu jawaban saja) 1. Apakah petugas kesehatan melakukan penyuluhan rutin tentang KB dan alat kontrasepsi? 1. Ya 2. Tidak 2. Apakah petugas kesehatan menyarankan agar ibu ikut KB atau menggunakan kontrasepsi? 1. Ya 2. Tidak 3. Apakah petugas kesehatan menjelaskan terlebih dahulu tentang alat kontrasepsi yang akan dipilih dan efek sampingnya? 1. Ya 2. Tidak

F

Mertua/orangtua 5.. sebutkan………… G Pengambil Keputusan: Siapakah yang mengambil keputusan tentang pemakaian alat kontrasepsi dalam keluarga? 1. Alat/fasilitas tidak lengkap 4. WAWANCARA SELESAI TERIMAKASIH ATAS WAKTU DAN KESEMPATAN YANG TELAH DIBERIKAN . apakah penyebabnya? 1. Biaya terlalu mahal 5. Apakah petugas kesehatan memberi kesempatan atau kebebasan dalam memilih alat kontrasepsi? 1. Petugas kurang ramah 2. Tidak 5. Petugas tidak mampu memberi informasi seperti yang diharapkan 3.127  4. Lain-lain. Apakah pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan memuaskan? 1. Suami 2. Ya 2. Musyawarah suami-isteri 4. Petugas kesehatan Alasan ……………………. Apakah petugas kesehatan menyarankan untuk pemeriksaan rutin? 1. Isteri 3. Ya 2. Ya 2. Tidak Jika tidak puas. Tetangga/teman dekat 6. Tidak 6.

1000 5.2333 5.5862 5.2667 5.0 30.6333 .2333 Scale Corrected Variance Item.1000 5.8843 30.0 N of Items = 8 .7457 .8667 .0851 4.0 30.4302 .4901 Cases 30. 3.Alpha if Item Total if Item Deleted Correlation Deleted 5.0000 5.6000 .8597 .0 30. 5. 2.128 Lampiran 2 Uji Validitas dan Reliabilitas Data Reliability PENGETAHUAN ***** Method 1 (space saver) will be used for this analysis ****** _ R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S .7667 .8941 . 7.8849 . P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 .7333 .8090 .4498 .4302 .6103 5.5862 5.6752 .8700 .0 30.8541 .7502 .4983 .S C A L E (A L P H A) Mean 1.8700 .8667 6. 8.0 Statistics for SCALE N of Mean Variance Std Dev Variables 5.8628 . 4.4345 .6752 .8667 .0 30.6333 Std Dev .6094 8 Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 5.0 30.0586 4.8599 Reliability Coefficients N of Cases = Alpha = .3457 .7208 .9609 5.4975 .9437 .7667 .0000 5.8092 2.0 30.4901 .1333 5.3457 . 6.5644 5.

6333 .129 Reliability SIKAP ****** Method 1(space saver) will be used for this analysis ****** _ R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S .1333 3.0333 3.0333 3.7685 5 Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted S1 S2 S3 S4 S5 3.5843 . S1 S2 S3 S4 S5 .8655 .9399 .4302 Cases 30.9126 2.0 30.S C A L E (A L P H A) Mean 1.0 N of Items = 5 . 4.8667 .8702 .3457 .0 112 Statistics for SCALE N of Mean Variance Std Dev Variables 3.4302 .8212 .8851 .9105 30.2667 3.9126 .0 30.8212 . 5.Alpha if Item Total if Item Deleted Correlation Deleted 2.1713 1. 2.0 30.4901 .1333 Scale Corrected Variance Item.8851 .8655 .0 30. 3.8667 .7667 Std Dev .7667 .1276 1.1713 1.9000 3.8702 Reliability Coefficients N of Cases = Alpha = .0644 2.3457 .

5000 4.7908 .4302 Cases 30.0 N of Items = 6 .7000 Scale Corrected Variance Item.1552 1.1826 .0 30.9299 . PK1 PK2 PK3 PK4 PK5 PK6 .9667 .Alpha if Item Total if Item Deleted Correlation Deleted 1.1552 .5000 4.6333 4. 3.2243 6 Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted PK1 PK2 PK3 PK4 PK5 PK6 4. 6.1552 1.0 30.9667 .4966 .0 30.130 Reliability Dukungan Petugas Kesehatan ****** Method 1 (space saver)will be used for this analysis ****** _ R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S .7861 .7861 .5000 4.1826 .7861 . 4. 5.7908 .1826 .7908 .1826 .5818 .8301 30.8682 Reliability Coefficients N of Cases = Alpha = .9667 .7908 .7667 Std Dev .0 30.0 Statistics for SCALE N of Mean Variance Std Dev Variables 5.9667 . 2.1552 1.8220 .4667 1.5000 4.0 30.S C A L E (A L P H A) Mean 1.4989 1.7861 .9069 .8333 .3790 .

131 Lampiran 3 Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov .

747 . Error .241 . Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Lower Bound Upper Bound 2.431 0 5 5 2.241 .26 2.478 .00 2.132 Descriptives  Total Pengetahuan Mean 95% Confidence Interval for Mean 5% Trimmed Mean Median Variance Std.50 .00 2.098 -.241 .824 .68 13.466 8 31 23 13.73 3.734 7. Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Lower Bound Upper Bound Statistic 16.478 115 .50 55.823 .943 Std.600 -.514 0 6 6 2.58 17.392 -.00 3.54 2.54 15.143 Total Sikap Mean 95% Confidence Interval for Mean 5% Trimmed Mean Median Variance Std.478 .049 1.151 Total dukungan petugas Mean 95% Confidence Interval for Mean 5% Trimmed Mean Median Variance Std.54 2.00 .00 .06 14.82 2.70 3.293 1.40 4. Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Lower Bound Upper Bound 3.

133 Tests of Normality  Total Pengetahuan Total Sikap Total dukungan petugas Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig.000 .000 .287 100 .248 100 .880 .000 . .159 100 . Lilliefors Significance Correction . .901 df 100 100 100 Sig.000 a.883 .000 a Shapiro-Wilk Statistic .000 .

0 40.0 27.0 30.0 100.0 22.0 3.0 Cumulative Percent 36.0 66.0 40.0 22.0 4.0 1.0 93.0 27.0 97.0 Valid Percent 31.0 Valid Percent 36.0 100.0 30.0 100.0 6.0 100.0 1.0 93.0 4.0 Cumulative Percent 31.0 Pendidikan Suami  Valid SD SMP SMA D3 S1 Total Frequency 31 40 22 4 3 100 Percent 31.0 6.0 100.0 117 .0 3.0 71.0 99.134 Lampiran 4 Analisis Univariat (Distribusi Frekuensi) Frequency Table Umur Istri Kategori Umur Suami DDKISTRI  Valid sd smp sma d3 pt Total Frequency 36 30 27 6 1 100 Percent 36.0 100.

0 Cumulative Percent 71.0 117 .0 29.0 40.0 100.0 40.0 100.0 100.0 29.0 Valid Percent 60. Valid 20-35 tahun >35 tahun Total Frequency 60 40 100 Percent 60.0 Cumulative Percent 60.0 100.0 Valid Percent 71.0 100.0 100.0  Valid <40 tahun >=40 tahun Total Frequency 71 29 100 Percent 71.

0 11.0 2.0  Valid <56 bulan >= 56 bulan Total Frequency 39 61 100 Percent 39.0 61.0 Valid Percent 72.0 100.0 13.0 4.0 93.0 6.0 100.0 Valid Percent 28.0 Valid Percent 28.0 5.0 Cumulative Percent 39.0 Alat kontrasepsi yang digunakan  Valid tidak kb spiral implant/susuk suntik pil Total Frequency 72 6 4 7 11 100 Percent 72.0 Cumulative Percent 28.0 100.0 100.0 Cumulative Percent 72.0 7.0 11.0 72.0 82.0 48.0 100.0 100.0 95.0 100.0 .0 100.0 72.0 Pemakaian Alkon  Valid Ya/Pakai Tidak Total Frequency 28 72 100 Percent 28.135 Kategori Jumlah Anak  Valid > 2 orang <= 2 orang Total Frequency 54 46 100 Percent 54.0 Valid Percent 54.0 13.0 Cumulative Percent 54.0 46.0 Valid Percent 39.0 76.0 4.0 100.0 100.0 4.0 5.0 Alasan ibu belum ber-kb  Valid Berkb masih ingin punya anak ingin anak laki-laki ingin anak perempuan Alasan kesehatan Dilarang Suami Total Frequency 28 48 13 4 2 5 100 Kategori Jarak Lahir Percent 28.0 Cumulative Percent 28.0 89.0 7.0 89.0 100.0 48.0 46.0 100.0 2.0 100.0 4.0 100.0 61.0 100.0 78.0 6.

0  Valid Tidak Setuju Setuju Total Frequency 48 52 100 Percent 48.0 100.0 57.0  Valid Tidak Setuju Setuju Total Frequency 55 45 100 Percent 55.0 Cumulative Percent 58.0 100.0 Cumulative Percent 55.0 100.0 58.0 100.0 100.0 100.0 100.0 SIkap Valid Percent 42.0  Valid Tidak Setuju Setuju Total Frequency 42 58 100 Percent 42.0 100.0 58.0 100.0 52.0 45.0 Cumulative Percent 42.0 100.136 Sikap  Valid Tidak Setuju Setuju Total Frequency 43 57 100 Percent 43.0 Sikap Valid Percent 48.0 100.0 100.0 42.0 Cumulative Percent 43.0 Sikap Valid Percent 43.0 100.0 57.0 Cumulative Percent 48.0 42.0 52.0 Valid Percent 55.0  Valid Tidak Setuju Setuju Total Frequency 58 42 100 Percent 58.0 Sikap Valid Percent 58.0 100.0 .0 100.0 45.

5 km Total Frequency 43 57 100 Percent 43.0 9.0 57.0 58.0 91.0 .0 100.0 51.0  Valid <30 mnt >30 mnt Total Freqenucy 55 45 100 Percent 55.0 Cumulative Percent 49.0 Cumulative Percent 55.0 100.0 100.0 100.0 45.0 100.0 45.0 100.0 Tempat mendapatkan alkon  Valid Klinik swasta Praktek dokter/bidan Apotik Total Frequency 33 58 9 100 Percent 33.0 100.0 Ketersediaan Alkon  Valid Tidak Ya Total Frequency 49 51 100 Percent 49.0 100.0 57.0 9.0 100.0 Valid Percent 43.0 Jarak ke sarkes  Valid <2.0 51.0 58.0 Valid Percent 33.5 km >2.0 100.0 Cumulative Percent 43.137 Ketersediaan Alkon  Valid Tidak Ya Total Frequency 43 57 100 Percent 43.0 Waktu Tempuh Valid Percent 43.0 57.0 100.0 100.0 Cumulative Percent 43.0 57.0 100.0 Valid Percent 55.0 Cumulative Percent 33.0 100.0 Valid Percent 49.0 100.

0 55.0 100.0 Valid Percent 47.0 49.0 100.0 100.0 33.0 100.0 Cumulative Percent 29.0 71.0 Cumulative Percent 45.0 33.0 Jenis alat transportasi yang dimiliki  Valid Jalan kaki Sepeda Sepeda Motor Total Frequency 47 33 20 100 Percent 47.0 Cumulative Percent 51.0 71.0 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 29 71 100 Percent 29.0 100.0 Valid Percent 27.0 100.0 Valid Percent 51.0 20.0 80.0 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 45 55 100 Percent 45.0 100.0 73.0 55.0 Valid Percent 45.0 100.0 100.0 Cumulative Percent 27.0 Cumulative Percent 47.0 73.0 20.0 49.0 100.0 100.0 .0 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 27 73 100 Percent 27.138 Biaya yg dikeluarkan  Valid Tidak Terjangkau Terjangkau Total Frequency 51 49 100 Percent 51.0 Valid Percent 29.0 100.0 100.0 100.0 100.

0 100.0 13.0 52.0 100.0 Valid Percent 42.0 64.0 100.0 100.0 100.0 Cumulative Percent 47.0 Valid Percent 51.0 100.0 52.0 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 48 52 100 Percent 48.0 Valid Percent 39.0 1.0 Cumulative Percent 48.0 Cumulative Percent 51.0 Pengambil Keputusan dalam Keluarga  Valid Suami Isteri Musyawarah Total Frequency 51 13 36 100 Percent 51.0 58.0 .0 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 39 61 100 Percent 39.0 100.0 100.0 100.0 58.0 36.0 52.0 100.0 61.0 Cumulative Percent 42.0 Valid Percent 47.0 61.0 1.0 100.0 Valid Percent 48.0 52.0 100.0 100.0 36.0 100.139 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 42 58 100 Percent 42.0 Alasan Tidak puas atas pelayanan petugas kesehatan  Valid Petugas kurang ramah petugas tidak mampu memberi informasi Fasilitas tidak lengkap Total Frequency 47 52 1 100 Percent 47.0 13.0 99.0 100.0 Cumulative Percent 39.

0 Kategori Sikap Valid Percent 47.0 Valid Percent 40.0 64.0 66.0 .0 Cumulative Percent 36.0 100.0 53.0 Cumulative Percent 47.0 Cumulative Percent 7.0 Valid Percent 36.0 100.0 Cumulative Percent 40.0 66.0 100.0 Kategori Jumlah Anak  Valid > 2 orang <= 2 orang Total Frequency 54 46 100 Percent 54.0 100.0 Cumulative Percent 54.0 34.0 Pendidikan istri  Valid Tinggi Menengah Dasar Total Frequency 7 27 66 100 Percent 7.0 100.0 100.0 60.0 46.0 64.0 53.0 100.0 100.0 Valid Percent 54.0 27.140 Kategori Umur Istri  Valid Tinggi Rendah Total Frequency 40 60 100 Percent 40.0 100.0 100.0 27.0 46.0 Valid Percent 7.0 100.0 100.0 60.0 100.0 100.0 100.0 Kategori Pengetahuan  Valid Tinggi Rendah Total Frequency 47 53 100 Percent 47.0  Valid Baik Tidak baik Total Frequency 36 64 100 Percent 36.

0 Valid Percent 48.0 Kategori Dukungan Petugas  Valid Mendukung Tidak mendukung Total Frequency 48 52 100 Percent 48.0 100.0 52.0 100.0 100.0 71.0 37.0 53.0 Cumulative Percent 48.0 100.0 53.0 52.0 Valid Percent 29.0 100.0 100.0 52.0 100.0 100.0 Cumulative Percent 47.141 Kategori Ketersediaan Alkon  Valid Tersedia Tidak Tersedia Total Frequency 48 52 100 Percent 48.0 100.0 100.0 100.0 37.0 Valid Percent 48.0 Cumulative Percent 48.0 .0 Valid Percent 63.0 Valid Percent 47.0 71.0 100.0 100.0 Waktu Tempuh  Valid Dekat Jauh Total Frequency 63 37 100 Percent 63.0 52.0 Jarak ke sarkes  Valid Dekat Jauh Total Frequency 29 71 100 Percent 29.0 100.0 Cumulative Percent 63.0 100.0 Biaya yg dikeluarkan  Valid Murah Mahal Total Frequency 47 53 100 Percent 47.0 Cumulative Percent 29.

142 Kategori Pengambil Keputusan  Valid Baik Tidak Baik Total Frequency 38 62 100 Percent 38.0% 8 8.0% Musyawarah .0 100.0 100.0 100.0 100.0% 28 28.0% Total 17 17.0% 8 8.0 Pengambil Keputusan dalam Keluarga * Pemakaian Alkon Crosstabulation  Pengambil Keputusan dalam Keluarga Suami Count Expected Count % within Pengambil Keputusan dalam Keluarga Isteri Count Expected Count % within Pengambil Keputusan dalam Keluarga Count Expected Count % within Pengambil Keputusan dalam Keluarga Total Count Expected Count % within Pengambil Keputusan dalam Keluarga Pemakaian Alkon Ya 17 17.0 100.0 100.0% 3 3.0 100.0 62.0 100.0 100.0 100.0 Cumulative Percent 38.0 100.0 62.0 Valid Percent 38.0% 28 28.0% 3 3.

0% 11 11.0% Total 12 12.0 100.0% Praktek dokter/bidan Count .0% 28 28.0% 5 5.0 100.0 100.0 100.0% 28 28.0 100.0 100.0% 11 11.0 100.143 Tempat mendapatkan alkon * Pemakaian Alkon Crosstabulation  Tempat mendapatkan Klinik swasta alkon Count Expected Count % within Tempat mendapatkan alkon Expected Count % within Tempat mendapatkan alkon Apotik Count Expected Count % within Tempat mendapatkan alkon Total Count Expected Count % within Tempat mendapatkan alkon Pemakaian Alkon Ya 12 12.0% 5 5.0 100.

0% Total 7 7.0 42.0% 100 100.0 100.0% Total 60 60.20.3% 34 28.0 72.7% 28 28.4 59.0 100.915 b df 1 1 1 1 Asymp.8 36.0 28. The minimum expected count is 11.7% 13 18.0 72.9% 16 19. (2-sided) .0 100.0% 66 66.2 15.0% 27 27.144 Lampiran 5 Analisis Bivariat Kategori Umur Istri * Pemakaian Alkon Crosstab  Kategori Umur Istri Risiko Rendah Count Expected Count % within Kategori Umur Istri Risiko Tinggi Count Expected Count % within Kategori Umur Istri Total Count Expected Count % within Kategori Umur Istri Chi-Square Tests Pemakaian Alkon Ya 22 16.2 63.0 100.0% 127 .0 100. Pendidikan istri * Pemakaian Alkon Crosstab  Pendidikan istri Tinggi Count Expected Count % within Pendidikan istri Menengah Count Expected Count % within Pendidikan istri Dasar Count Expected Count % within Pendidikan istri Total Count Expected Count % within Pendidikan istri Pemakaian Alkon Ya 4 2.0 28.7% 6 11.0% Tidak 38 43.0%) have expected count less than 5.018 . (2-sided) Exact Sig.0%  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 5.019 Exact Sig.0% 28 28. (1-sided) .8 85.0% Tidak 3 5.3% 72 72.5 19.5 80.589 4.533 100 a.023 .033 .6 40.015 5. Computed only for a 2x2 table b.1% 11 7.0 57.0 100.0% 40 40.0% 72 72.566 5.0% 100 100.0 100.015 .3% 53 47. 0 cells (. Sig.

835 100 df 1 1 1 1 Asymp.88.0% Total 46 46.007 a. Sig.1 15. (2-sided) . (1-sided) .9 33.272 100 df 2 2 1 Asymp. Sig.7%) have expected count less than 5.0 72. The minimum expected count is 12.1% 72 72.380 a 7.0%) have expected count less than 5.025 . (2-sided) Exact Sig.96.145 Chi-Square Tests  Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 7.9 61. .0 100.780 7.007 .007 a.016 .904 b 5.1 38.8% 33 38.009 Exact Sig.0 28.0% 100 100.0% > 2 orang Total Count  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 6. The minimum expected count is 1.9% 28 28. Computed only for a 2x2 table b. Kategori Jumlah Anak * Pemakaian Alkon Crosstab  Kategori Jumlah Anak <= 2 orang Count Expected Count % within Kategori Jumlah Anak Count Expected Count % within Kategori Jumlah Anak Expected Count % within Kategori Jumlah Anak Chi-Square Tests Pemakaian Alkon Ya Tidak 7 39 12. 1 cells (16.0 100.0% 54 54. 0 cells (.0% 84.013 .185 6.009 .2% 21 15.0 100. (2-sided) .030 .036 7.

16. (1-sided) .0 100.2 88.000 . Kategori Sikap * Pemakaian Alkon Crosstab  Kategori Sikap Baik Count Expected Count % within Kategori Sikap Tidak baik Count Expected Count % within Kategori Sikap Total Count Expected Count % within Kategori Sikap Pemakaian Alkon Ya 18 10.0% 53 53.0% Total 36 36.0 28.0% .1 84.0% 100 100.1 50.9 50.000 Exact Sig. Sig.0% 54 46.0% 64 64. The minimum expected count is 13.190 15.7% 72 72.561 13.0 100.8% 6 14.000 .000 .6% 28 28.2% 47 38.0 100.0 100.0 28. Computed only for a 2x2 table b.0% 10 17.0 72.4% 72 72. 0 cells (.405 100 b df 1 1 1 1 Asymp. (2-sided) Exact Sig. (2-sided) .0% Total 47 47.2 33.000 .0%) have expected count less than 5.146 Kategori Pengetahuan * Pemakaian Alkon Crosstab  Kategori Pengetahuan Tinggi Count Expected Count % within Kategori Pengetahuan Count Expected Count % within Kategori Pengetahuan Expected Count % within Kategori Pengetahuan Chi-Square Tests Pemakaian Alkon Ya Tidak 22 25 13.0 100.8 11.0 72.3% 28 28.0% 100 100.0% 53.8 46.9 15.0% Tidak 18 25.851 16.0 100.000 a.0% Rendah Total Count  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 15.

4 34.504b 11.2% 72 72.000 .369 100 df 1 1 1 1 Asymp.9% 49 37. Sig. 0 cells (.1% 3 14.000 Exact Sig.44.0 100. (2-sided) . (2-sided) Exact Sig.000 .0 100. (2-sided) .000 a.000 .6 52.0%) have expected count less than 5.6 5.0%) have expected count less than 5.0% 47.0 72.0% 100 100. The minimum expected count is 10.001 .147 Chi-Square Tests  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 13. Computed only for a 2x2 table b. The minimum expected count is 13.853 13.000 Exact Sig.000 .0% 52 52.000 .557 b 24. Kategori Ketersediaan Alkon * Pemakaian Alkon Crosstab  Kategori Ketersediaan Alkon Tersedia Count Expected Count % within Kategori Ketersediaan Alkon Tidak Tersedia Count Expected Count % within Kategori Ketersediaan Alkon Count Expected Count % within Kategori Ketersediaan Alkon Chi-Square Tests Pemakaian Alkon Ya Tidak 25 23 13. (1-sided) .0% Total 48 48.8% 28 28.0% Total  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 26.309 29. . 0 cells (.000 a.193 26.0 100.08. (1-sided) . Sig. Computed only for a 2x2 table b.292 100 df 1 1 1 1 Asymp. (2-sided) Exact Sig.0 28.4 94.209 13.000 .000 .

5% 32 26. (1-sided) .12.178 6.5% 72 72.0% 100 100.1 10.0% 71 71.6 36.0 72.7% 46 51.0% Tidak 40 45.0 28. Waktu Tempuh * Pemakaian Alkon Crosstab  Waktu Tempuh Dekat Count Expected Count % within Waktu Tempuh Jauh Count Expected Count % within Waktu Tempuh Total Count Expected Count % within Waktu Tempuh Pemakaian Alkon Ya 23 17.9 35.014 .2% 28 28.023 .0 100. 0 cells (.012 Exact Sig.007 .1 64.0 100.3% 25 19.0 100.0% .4 63.0% 100 100.0% 37 37.315 b 5.0 100.8% 72 72. (2-sided) .0% Total 63 63.6 86.148 Jarak ke sarkes * Pemakaian Alkon Crosstab  Jarak ke sarkes Dekat Count Expected Count % within Jarak ke sarkes Jauh Count Expected Count % within Jarak ke sarkes Total Count Expected Count % within Jarak ke sarkes Pemakaian Alkon Ya 3 8.0 100. (2-sided) Exact Sig.012 .0% Total 29 29.0% Chi-Square Tests  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 6.142 7.0%) have expected count less than 5.252 100 df 1 1 1 1 Asymp.5% 5 10. Sig.0 72.9 89. The minimum expected count is 8.0 28. Computed only for a 2x2 table b.4 13.5% 28 28.0% Tidak 26 20.0 100.009 a.

149

Chi-Square Tests


Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
a

Value 6.114 b 5.026 6.592 6.052 100

df 1 1 1 1

Asymp. Sig. (2-sided) .013 .025 .010 .014

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

.020

.011

a. Computed only for a 2x2 table b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10.36.

Biaya yg dikeluarkan * Pemakaian Alkon
Crosstab


Biaya yg dikeluarkan Murah Count Expected Count % within Biaya yg dikeluarkan Count Expected Count % within Biaya yg dikeluarkan Total Count Expected Count % within Biaya yg dikeluarkan Chi-Square Tests

Pemakaian Alkon Ya Tidak 22 25 13.2 33.8 46.8% 6 14.8 11.3% 28 28.0 28.0% 53.2% 47 38.2 88.7% 72 72.0 72.0%

Total 47 47.0 100.0% 53 53.0 100.0% 100 100.0 100.0%

Mahal


Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
a

Value 15.561 b 13.851 16.190 15.405 100

df 1 1 1 1

Asymp. Sig. (2-sided) .000 .000 .000 .000

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

.000

.000

a. Computed only for a 2x2 table b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 13.16.

150

Kategori Dukungan Petugas * Pemakaian Alkon
Crosstab


Kategori Dukungan Petugas Mendukung Count Expected Count % within Kategori Dukungan Petugas Tidak mendukung Count Expected Count % within Kategori Dukungan Petugas Total Count Expected Count % within Kategori Dukungan Petugas

Pemakaian Alkon Ya 21 13.4 43.8% 7 14.6 13.5% 28 28.0 28.0% Tidak 27 34.6 56.3% 45 37.4 86.5% 72 72.0 72.0% Total 48 48.0 100.0% 52 52.0 100.0% 100 100.0 100.0%

Chi-Square Tests


Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
a

Value 11.358 b 9.905 11.714 11.245 100

df 1 1 1 1

Asymp. Sig. (2-sided) .001 .002 .001 .001

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

.001

.001

a. Computed only for a 2x2 table b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 13.44.

Kategori Pengambil Keputusan * Pemakaian Alkon
Crosstab


Kategori Pengambil Keputusan Baik Count Expected Count % within Kategori Pengambil Keputusan Tidak Baik Count Expected Count % within Kategori Pengambil Keputusan Count Expected Count % within Kategori Pengambil Keputusan

Pemakaian Alkon Ya Tidak 10 28 10.6 27.4 26.3% 18 17.4 29.0% 28 28.0 28.0% 73.7% 44 44.6 71.0% 72 72.0 72.0%

Total 38 38.0 100.0% 62 62.0 100.0% 100 100.0 100.0%

Total

151

Chi-Square Tests


Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
a

Value .086 .004 .087
b

df 1 1 1

Asymp. Sig. (2-sided) .769 .949 .768

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

.822

.478

.085 100

1

.770

a. Computed only for a 2x2 table b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10.64.

Dependent Variable Encoding Categorical Variables Codings  Frequency Pendidikan Tinggi istri Menengah Dasar 7 27 66 Parameter coding (1) 1. b.0 72. Constant is included in the model. .000 (2) .000 .E.500 0 0 Tidak 28 72 Percentage Correct . see classification table for the total number of cases.b Predicted Pemakaian Alkon Observed Ya Step 0 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage a.0 Variables in the Equation  B Step 0 Constant . If weight is in effect.0 a.152 Lampiran 6 Analisis Multivariat (Uji Regresi Logistik Ganda) Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases Included in Analysis Missing Cases Total Unselected Cases Total a N 100 0 100 0 100 Percent 100.223 Wald 17.983 df 1 Sig.0 100.571 135 .000 1.000 Block 0: Beginning Block Classification Table a.0 100.944 S.000 . The cut value is .0 .0 100.000 Exp(B) 2.0 .000 . .

Original Value Ya Tidak Internal Value 0 1 .

417 63.000 .013 .504 26.253 . .000 .557 6.000 Step 1 2 3 4 5 -2 Log likelihood 89.000 .000 .365 .395 6.009 .982 66.675 .589 7.904 15.334 .193 29.000 Block 1: Method = Forward Stepwise (Likelihood Ratio) Omnibus Tests of Model Coefficients  Step 1 Step Block Model Step 2 Step Block Model Step 3 Step Block Model Step 4 Step Block Model Step 5 Step Block Model Chi-square 29.469 58.193 29.786 52.012 .114 15.280 63.001 .000 .398 77.196 59.021 df 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 Sig.000 .025 .587 .075 .417 40.863 58.561 11.001 .000 .001 .609 11.641 . .863 4.380 3.978 6.000 .358 53.315 6.000 .445 .481 .084 .280 Model Summary df 1 1 1 1 2 2 1 3 3 1 4 4 1 5 5 Sig.193 11.000 .395 52.727 55.000 .469 Nagelkerke R Square .036 .609 40.000 .310 Cox & Snell R Square .561 13.153 Variables not in the Equation  Step 0 Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) JHLANAKK TAHUKAT SIKAPKAT SEDIAKAT JARAK WAKTU BIAYA DUKUNGKA Overall Statistics Score 5.011 .408 .000 .171 2.000 .018 .

014 .002 .005 6.0  Step SEDIAKAT a 1 Constant Step JHLANAKK b 2 SEDIAKAT Constant Step JHLANAKK 3 c B 2.454 1. Variable(s) entered on step 2: JHLANAKK.447 .021 7.089 36.083 9.045 .754 .005 .882 .511 . Variable(s) entered on step 3: DUKUNGKA.000 .661 .609 . Variable(s) entered on step 5: SIKAPKAT.322 8.459 SEDIAKAT DUKUNGKA Constant Step JHLANAKK d 4 TAHUKAT SEDIAKAT DUKUNGKA Constant Step JHLANAKK e 5 TAHUKAT SIKAPKAT SEDIAKAT DUKUNGKA Constant a.112 2.000 .118 6.791 .720 .170 . e.618 .E.093 43.442 .045 6.005 .736 .254 -.211 36.004 . c.474 18.817 1.148 27.418 3.858 64.305 .001 .753 .775 .8 91. b.033 10.450 184.758 .707 .714 .307 9. Variable(s) entered on step 1: SEDIAKAT.151 4.245 -1.063 3.187 12.575 26.3 90.187 -2.925 1.289 . .457 9.002 .3 68.528 .475 2.747 .700 .670 2.000 . Variable(s) entered on step 4: TAHUKAT.083 -1.189 .266 95.326 S.0 64.008 .645 .3 87.371 5.442 21.806 15.910 3.807 .041 .173 2.014 129.3 83.110 8.0 78. .488 111.894 .593 2.877 -.253 22.773 .809 Wald 18.066 2.001 .025 17.0% C.513 .3 83.093 4.3 90.691 3.1 74.024 1.721 .463 .841 21.832 9.for EXP(B) Lower Upper 4.6 90.302 1.154 Classification Table a Predicted Pemakaian Alkon Observed Step 1 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage Step 2 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage Step 3 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage Step 4 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage Step 5 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage a.517 -2. d.002 .0 78.016 .230 5.423 32. .893 2.206 .6 95.699 7.252 2.448 3.086 .897 -2.072 4.920 .500 Variables in the Equation 22 3 6 69 22 7 6 65 18 7 10 65 18 7 10 65 Ya 25 23 Tidak 3 49 Percentage Correct 89.686 df 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Sig.453 .828 .134 9.385 184.000 .135 1.926 .403 .888 .100 5.I.101 Exp(B) 17.597 .206 . The cut value is .351 8.0 64.023 1.702 .551 44.

803 6.786 11.001 .803 4.057 -29.155 Model if Term Removed Change in -2 Log Likelihood 29.313 -31.000 .001 .991 -35.001 .417 17.295 -44.710 11.417 33.000 .982 31.882 -31.631 10.009 .203 -32.000 .713 Sig.179 -35.001 .864 -36.898 8.953 -38.424 13.004 .469 24. of the df 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Change .011 .703 -40.089 -48.098 -42.000 .001 .765 -33.000 .000 .454 6.095 10.193 11.699 -55.116 Model Log Variable Step 1 Step 2 SEDIAKAT JHLANAKK SEDIAKAT Step 3 JHLANAKK SEDIAKAT DUKUNGKA Step 4 JHLANAKK TAHUKAT SEDIAKAT DUKUNGKA Step 5 JHLANAKK TAHUKAT SIKAPKAT SEDIAKAT DUKUNGKA Likelihood -59.036 .

043 .177 27.142 2.305 9.042 .489 .933 .061 .956 3.484 1.958 .403 .034 .415 .806 4.624 4.078 .253 .608 .980 .819 .975 df 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 9 1 2 1 1 1 1 1 1 1 8 1 2 1 1 1 1 1 1 7 1 2 1 1 1 1 1 6 Sig.369 .003 .108 5.150 3.456 3.845 5.061 .133 .283 .000 .147 2.116 .004 .690 .069 .365 1.308 2.145 .484 6.124 .065 .143 .092 .515 7.398 6.991 .001 .076 .117 .011 .251 .319 .478 .446 4.537 2.610 .518 3.323 Step 2 Overall Statistics Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) TAHUKAT SIKAPKAT JARAK WAKTU BIAYA DUKUNGKA Step 3 Overall Statistics Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) TAHUKAT SIKAPKAT JARAK WAKTU BIAYA Step 4 Overall Statistics Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) SIKAPKAT JARAK WAKTU BIAYA Overall Statistics Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) JARAK WAKTU BIAYA Overall Statistics Step 5 .036 33.326 .925 2.000 5.994 3.786 8. .698 16.269 .159 .000 6.365 11.001 .222 5.117 .734 .104 .126 2.358 .003 .524 .001 .665 .031 .464 .105 .001 .328 .318 10.053 11.845 1.048 .501 .127 .997 .065 .057 .456 1.156 Variables not in the Equation  Step 1 Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) JHLANAKK TAHUKAT SIKAPKAT JARAK WAKTU BIAYA DUKUNGKA Score 4.006 .010 .113 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful