FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI PADA ISTRI PUS DI KECAMATAN RAMBAH SAMO KABUPATEN ROKAN

HULU TAHUN 2008

TESIS

Oleh

JUNITA TATARINI PURBA 067023009/AKK

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009

Junita Tatarini Purba : Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi Pada Istri Pus Di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008, 2009 USU Repository © 2008

2

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI PADA ISTRI PUS DI KECAMATAN RAMBAH SAMO KABUPATEN ROKAN HULU TAHUN 2008

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Konsentrasi Administrasi Kesehatan Komunitas/Epidemiologi pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh
JUNITA TATARINI PURBA 067023009/AKK

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009

3

Judul Tesis

Nama Mahasiswa Nomor Pokok Program Studi Konsentrasi

: FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI PADA ISTRI PUS DI KECAMATAN RAMBAH SAMO KABUPATEN ROKAN HULU TAHUN 2008 : Junita Tatarini Purba : 067023009 : Administrasi dan Kebijakan Kesehatan : Administrasi Kesehatan Komunitas/Epidemiologi

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Dr. Ir. Erna Mutiara, M.Kes) Ketua

(drh. Rasmaliah, M.Kes) Anggota

Ketua Program Studi

Direktur

(Dr.Drs.Surya Utama, MS)

(Prof. Dr.Ir. T. Chairun Nisa B., M.Sc)

Tanggal lulus : 09 Juni 2009

Kes . Dr. Siti Khadijah. Ir.Si 3. M. Fikarwin Zuska. Rasmaliah.Kes 2. Drs. M. Erna Mutiara.4 Telah diuji pada Tanggal : 09 Juni 2009 PANITIA PENGUJI TESIS Ketua Anggota : Dr. M. drh. M.Kes : 1. SKM.

Medan.5 PERNYATAAN FAKTOR–FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI PADA ISTRI PUS DI KECAMATAN RAMBAH SAMO KABUPATEN ROKAN HULU TAHUN 2008 TESIS Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperolah gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain. kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini disebutkan dalam daftar pustaka. Juni 2009 Junita Tatarini Purba .

6 ABSTRAK Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk menurunkan tingkat pertumbuhan penduduk adalah melalui program KB. Cakupan akseptor KB aktif di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu masih 42% dibandingkan dengan target nasional yaitu 75%. jumlah anak. Pemakaian Alat Kontrasepsi i . pendidikan. Jenis penelitian adalah survei dengan tipe explanatory research yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor predisposisi (umur.112).014) dan sikap (Sig=0. Populasi adalah seluruh istri PUS sebanyak 2. pengetahun (Sig=0.333 orang dengan besar sampel 100 orang yang diambil secara proportional sampling.001) dan dukungan petugas kesehatan (Sig=0. Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu perlu melakukan peningkatan kemampuan petugas kesehatan sehingga mampu memberikan informasi tentang alat kontrasepsi dan dapat memahami serta menyadari bahwa akseptor memiliki hak reproduksi sehat dan hak konsumen pengguna alat kontrasepsi. pengetahuan dan sikap). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor predisposisi yang berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah jumlah anak (Sig=0.005). Kepada Dinas Kesehatan dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Rokan Hulu perlu melakukan kerjasama dan pendekatan kepada penentu kebijakan lainnya dalam pengalokasian dana untuk pelayanan alat kontrasepsi gratis kepada masyarakat khususnya kepada keluarga miskin. Kata kunci : Perilaku. faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi dan keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan dan pengambil keputusan) terhadap pemakaian alat kontrasepsi.008). Juga perlu melakukan penyuluhan kepada masyarakat agar dapat memahami dan menerima norma keluarga kecil sehingga diharapkan mampu membentuk keluarga bahagia dan sejahtera melalui pengaturan atau pembatasan kelahiran anak.041) sedangkan faktor pendukung dan pendorong yang berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah variabel ketersediaan alat kontrasepsi (Sig=0. Sejak otonomi daerah program KB banyak mengalami kendala yang mengakibatkan turunnya tingkat pemakaian alat kontrasepsi. Variabel yang dominan pengaruhnya adalah ketersediaan alat kontrasepsi (Koefisien B = 3. Data dianalisis dengan menggunakan uji regresi logistik ganda pada taraf kepercayaan 95%.

The result of analysis shows that predisposing factors which have influence on the use of contraception device are number of child (Sig=0. and attitude). Key words: Behavior.041).001) and support from health providers (Sig=0. The purpose of this survey study with explanatory research type is to analyze the influence of predisposing factors (age. The coverage of current user in Rambah Samo sub-district. education. The data were analyzed through multiple logistic regression test with the level of confidence of 95%.014). number of child. while enabling and reinforcing factors are variable of availability of contraception device (Sig=0.008). Family Planning Program has faced many constraints that resulted in the decrease of the rate of contraception use. they can form a happy and prosperous family by regulating and limiting childbirth.333 wives of fertile age couple and 100 of them were selected for the samples of this study through proportional sampling technique. district of Rokan Hulu reported is still 42% and this is still lower if compared to the national target of 75%. enabling factors (availability of contraception device and accessibility of contraception device service) and reinforcing factors (support from health providers and decision makers) on the use of contraception device. and attitute (Sig=0. It is suggested that the Health Office and the Civil Registration and Population Affairs of Rokan Hulu District need to cooperate and approach the stakeholder in allocating the budget for free contraceptive to the society of Rokan Hulu District especially to the poor families.7 ABSTRACT One of the efforts done by the government to reduce the rate of population growth is through Family Planning Program (KB). in the end. The most dominantly influencing variable is the use of contraception device (Coefficient β = 3.112). It needs to improve the capability of the health providers that they are able to provide information about contraceptive and can understand and realize that the acceptors have their right for health reproduction and the right of consumer as the user of contraception device. knowledge. knowledge (Sig=0. Since the district autonomy had been started. The population for this study are 2. Use of Contraception Device ii . It is necessary to provide an extension to the society to enable them to understand and accept the norm of family planning that.005).

Kes selaku pembimbing yang memberi perhatian. M. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang tulus dan tak terhingga kepada: 1. M.Ir. penulisan tesis ini dapat diselesaikan dengan baik. Medan. Chairun Nisa B. atas rahmat dan karuniaNya. M. Erna Mutiara.Dra. Penulis menyadari begitu banyak dukungan. penulis menyampaikan ucapan terimakasih. selaku Ketua Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Ida Yustina. dukungan dan pengarahan hingga tesis ini selesai. 3. iii . SKM. Drs. Rasmaliah. Dengan penuh ketulusan hati. Surya Utama. T.Sc. M. Ibu Prof.Dr. MS.Si. sehingga tesis ini dapat diselesaikan. Fikarwin Zuska. M. M. Penyusunan tesis ini dimaksudkan untuk memenuhi sebagian persyaratan menyelesaikan Pendidikan S2 pada Sekolah Pascasarjana USU. Bapak Dr. selaku tim penguji yang telah memberi masukan sehingga dapat menyempurnakan tesis ini.Dr. semoga sukses dan bahagia selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa kepada Ibu Dr.Drs.Kes dan Ibu drh. Terimakasih tiada terkira juga kami sampaikan dengan tulus kepada Bapak Dr. selaku Sekretaris Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Ibu Prof..8 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa.Ir. bantuan dan kemudahan yang diberikan oleh berbagai pihak. 2.Si dan Ibu Siti Khadijah. bimbingan. selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.Kes.

Bapak dr. sumber inspirasi dan penghiburan. 6. selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu yang memberi izin dan dukungan selama pendidikan. Suami tercinta Danni Suparman Rumahorbo. Mursal Amir. Bapak dr. Manik dan seluruh sanak saudara yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama penulis mengikuti pendidikan. Wildan Asfan Hasibuan. yang telah banyak berkorban selama pendidikan. ibunda M. Semoga TYME membalas semua kebaikan yang telah diberikan dan melimpahkan berkat dan anugerahNya. Rumahorbo. Ayahanda S. ibunda mertua T. Juni 2009 Penulis iv . Akhirnya penulis berharap tesis ini bermanfaat bagi kesehatan masyarakat Indonesia. M. 5. harapan. Sitompul. ayahanda mertua B. selaku Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Riau dan seluruh staf yang telah memberikan bantuan dana pendidikan. H. ananda tersayang Davita Ephania dan Kezia Morasari. 8. dan pengorbanan juga dukungan dan motivasi yang tiada pernah berhenti.9 4. Medan. Purba. khususnya Kabupaten Rokan Hulu. ST buat semua doa. 7. Rekan-rekan dan sahabat di Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Konsentrasi Administrasi Kesehatan Komunitas/Epidemiologi angkatan tahun 2006.Kes.

12 Juni 1977 : Protestan : Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu Jl. RIWAYAT PEKERJAAN 2000 – Sekarang : Staf Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau v . Pemda Rokan Hulu Pasirpengaraian-Propinsi Riau Telp/HP : 081264734544 RIWAYAT PENDIDIKAN Tahun 1983 – 1989 Tahun 1989 – 1992 Tahun 1992 – 1995 Tahun 1995 – 1999 Tahun 2006 – 2009 : SDN 176377 Aeknatolu : SMPN Simamora : SMA N 3 Balige : FKM USU Medan : Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Program Kesehatan Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Konsentrasi Administrasi Komunitas/ Epidemiologi. Diponegoro Komp.10 RIWAYAT HIDUP Nama Tempat/Tanggal Lahir Agama Alamat : Junita Tatarini Purba : Sarulla.

.....3..................2............................................... 2............................................................................................................................... 3..................................................3...................................................2.................................................. Landasan Teori.....5..................................3................................... Perkembangan Keluarga Berencana di Indonesia............................. 1................ 1.............................................................2.........................................2........ Hipotesis ..1.....4.......................... Manfaat Penelitian ...................................................................... 2.................... Jenis Metode Kontrasepsi ................................................ BAB 3 METODE PENELITIAN ................................. 1..................................5................................. KATA PENGANTAR .... 2........................................ Determinan Pemakaian Alat Kontrasepsi ...................................... Program Keluarga Berencana Nasional ......... ABSTRACT ......................................................................................................................................... DAFTAR ISI................................ Latar Belakang ............ Variabel dan Definisi Operasional...... 3.. 3........................................................3............. DAFTAR GAMBAR ............. Tujuan Penelitian .........................................1.....................................5..................................... Kontrasepsi .......................... 1.... 2. Pengertian Kontrasepsi .... vi .......................................................................3.................2............................. Permasalahan .......................................................................................3................... Konsep Perilaku Kesehatan ........ Pengertian Keluarga Berencana ..... 3... 2............................................................................... DAFTAR TABEL ..................... BAB 1 PENDAHULUAN .1.............. 2............................................ 2.......... Jenis Penelitian...............................2................................... 2................................ 2................................................................4..... Lokasi dan Waktu Penelitian ...................................4......................... i ii iii v vi viii x xi 1 1 8 8 8 9 10 10 17 17 18 20 20 20 22 35 39 40 40 40 40 42 44 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .. 3.................................. Populasi dan Sampel ................. DAFTAR LAMPIRAN .............................1.....................11 DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK ....................1.................. Kerangka Konsep .....................2...... 1....3........ Metode Pengumpulan Data........ RIWAYAT HIDUP ................................. 2..........

... Deskripsi Lokasi Penelitian...............3...........2...2.............. 4.................................... 4...............3...7........... DAFTAR PUSTAKA .............. KESIMPULAN DAN SARAN ......... Faktor Pendukung.................................................................. Faktor Pendorong.............. Faktor Predisposisi ................................................4........................2............................2...2..............6...........................1...............................................................................................................2......1... 5..... PEMBAHASAN .............2..... 4.......2....8............................9............ Ketersediaan Alat Kontrasepsi..... 4..... BAB 4 HASIL PENELITIAN .....................2.1....4............12 3..................................................................2........................ 6...2...........................2...1..... Pengambil Keputusan Dalam Keluarga .. Faktor Predisposisi......... 46 50 52 52 52 52 53 54 54 56 59 60 61 62 64 65 66 67 68 68 70 72 73 76 76 84 92 97 99 99 99 101 vii ........ 4......3............................6.....................................................................................5......... Faktor Pendorong ....... Karakteristik Responden .........1..............................................................................1...................... Dukungan Petugas Kesehatan.................2...... 4........................................... 4...........2.................................................................................................... Hubungan Faktor Predisposisi dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi..............2........... Faktor Paling Dominan terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi ............. 4..... Pengetahuan ........... BAB 6....... 6................................................1... Sarana dan Prasarana Kesehatan............................................................................... 4......................10...1....................... 4... 5... Kesimpulan ............. 4.............. Hubungan Faktor Pendukung dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi...........3...1.................................................................................. Sikap ................... Kependudukan ..................................... Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi.....................3. Analisis Multivariat . 4.... 4.........4.......................................... Analisis Univariat......................... Saran ....................3. Faktor Pendukung ........................7...................... 4...... 5............. 4............... 3..... Keadaan Geografis.......... Hubungan Faktor Pendorong dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi............................ Metode Pengukuran ........................... Analisis Bivariat ....... 4......................................... Metode Analisis Data ..................................................................... 4...3.............. 4.........2........................ 4........3. 5.................................. 4........... BAB 5...................

7............................ Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi Bagi Responden yang Ikut KB di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ................ Judul Halaman 27 Konsep Pemilihan Alat Kontrasepsi yang Rasional.. 58 4..............2.............................................. 42 3........ Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ............ 53 4..........1....................9......... Distribusi Karakteristik Responden di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008.................6..................13 DAFTAR TABEL Nomor 2.......... 61 4............................................. Distribusi Responden Berdasarkan Indikator Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008....................4..........................1.1........ 62 viii . 60 4.................. 60 4....... 62 4......................... Distribusi Responden Menurut Indikator Sikap di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .......................................... Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Penelitian Faktorfaktor yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi pada Istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ....................................................................... 55 4. Distribusi Responden Menurut Indikator Ketersediaan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .......... 3.......................................... 43 4... Distribusi Jumlah Penduduk Menurut Kepala Keluarga dan Jenis Kelamin di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 . Jenis Alat Transportasi yang Digunakan Untuk Mencapai Puskesmas di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ...................5......2...................8............................................. Distribusi Responden Menurut Indikator Pengetahuan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 . 61 4................. Besar Sampel yang Diteliti di Wilayah Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008......3...

. 4. 4................................................................... Hubungan Faktor Pendorong dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .................. Hubungan Faktor Predisposisi dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ...12....................... 4.......... Hasil Akhir Analisis Regresi Logistik Ganda Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ............................ Distribusi Responden Menurut Faktor Predisposisi di Kecamatan 63 64 64 64 4... Distribusi Proporsi Responden Menurut Pengambil Keputusan Dalam Keluarga di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008....... 4................ Distribusi Proporsi Responden Berdasarkan Indikator Dukungan Petugas Kesehatan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ..............10. Distribusi Responden Menurut Faktor Pendorong di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ...................................15............ 4...18...14 4.. Hubungan Faktor Pendukung dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .......14.......... Rambah Samo Tahun 2008 ....... Alasan Tidak Puas Terhadap Pelayanan Petugas Kesehatan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ..... Distribusi Responden Menurut Faktor Pendukung di Kecamatan 66 67 68 70 72 73 Rambah Samo Tahun 2008 ..... 4...........................................17....19............................................................................ Distribusi Responden yang Ikut KB Menurut Pengambil Keputusan dalam Keluarga di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008........................13..... 4.20...................................... 4...16.............................. 74 ix ............11. 4..........

..............4................... Kerangka Konsep Penelitian ................... Kerangka Teori Determinan Perilaku Individu. 2...............2.15 DAFTAR GAMBAR Nomor 2....... Judul Halaman 24 30 31 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Kontrasepsi...................3. 38 39 2....... x .... Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Kontrasepsi......5............ 2............. 2............. Kelompok dan Komunitas ....... Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesertaan dalam Program KB .................................1....

................... 6........................................................... 7.......... 117 Analisis Bivariat .............................. 106 Uji Validitas dan Reliabilitas Data .............16 DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1............... Judul Halaman Kuesioner Penelitian Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi Pada Istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008 .. 140 Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian ...................................................... 135 Surat Izin Penelitian ..... 4.......... 5..... 3........................................................................ 112 Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov.................... xi ......... 127 Analisis Multivariat (Uji Regresi Logistik Ganda) . 115 Analisis Univariat (Distribusi Frekuensi)... 141 2................................................................................................ 8.........................................

Latar Belakang Pembangunan kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran. Secara garis besar masalah pokok di bidang kependudukan yang dihadapi Indonesia adalah jumlah penduduk yang besar dengan laju pertumbuhan penduduk yang relatif masih tinggi. Negara yang kuat didukung oleh masyarakat yang sehat dan sejahtera.17 BAB 1 PENDAHULUAN 1. struktur . Indonesia sebagai salah satu negara berkembang tidak luput dari masalah kependudukan. kemauan. perdamaian abadi dan keadilan sosial. swasta maupun pemerintah (Depkes RI. baik masyarakat. Pembangunan bidang kesehatan ini menjadi tujuan pemerintah untuk menuju tercapainya Tujuan Nasional Bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. penyebaran penduduk yang tidak merata. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. 2004).1. dan kesejahteraan akan sulit dicapai tanpa kesehatan rakyat serta tingkat pemerataan penduduk. Pembangunan kesehatan tersebut merupakan upaya seluruh potensi bangsa Indonesia.

18

umur muda, dan kualitas penduduk yang masih harus ditingkatkan (Wiknjosastro, 1999). Selama kurun waktu 2000-2005 jumlah penduduk Indonesia cenderung berfluktuasi, tahun 2000 sebanyak 205,1 juta jiwa, tahun 2005 meningkat menjadi 218,9 juta jiwa dan tahun 2006 meningkat lagi menjadi 222,2 juta jiwa dengan kepadatan penduduk 117,6 jiwa per km2 (BPS, 2007). Penyebaran penduduk sampai tahun 2005 tidak merata baik antar pulau maupun antar propinsi, dan data menunjukkan 58,7% penduduk berada di Pulau Jawa (Depkes RI, 2007). Salah satu upaya untuk menurunkan tingkat pertumbuhan penduduk adalah melalui upaya pengendalian fertilitas yang instrumen utamanya adalah Program Keluarga Berencana (KB) (Hatmadji, 2004). Sejak pertama kali dicanangkan tahun 1970, program KB telah menunjukkan hasil dengan terjadinya penurunan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) dan Total Fertility Rate (TFR), sedangkan tingkat pemakaian kontrasepsi atau Contraceptive Prevalence Rate (CPR) mengalami peningkatan. Pada periode tahun 1980-1990 LPP adalah 1,97%, tahun 1990-2000 turun menjadi 1,45% dan tahun 2000-2006 turun lagi menjadi 1,34% (BPS, 2007a). TFR tahun 1971 adalah 5,6 per wanita pasangan usia subur (PUS), tahun 1980-1990 turun menjadi 2,34 dan pada tahun 2000-2005 turun lagi menjadi 2,28 (BPS, 2007b). Angka ini menunjukkan penurunan TFR dari waktu ke waktu tetapi belum mencapai target nasional yaitu 2,1 (BKKBN, 2005). Hasil Survei Demografi dan Kesehatan

19

Indonesia (SDKI) menunjukkan peningkatan CPR dari 54,7% (tahun 1994) menjadi 57,4% (tahun 1997) dan 60,3% (tahun 2002-2003) (BPS, 2005). Peran pihak swasta dalam melayani kebutuhan masyarakat dalam ber-KB khususnya dalam pendistribusian alat kontrasepsi modern mengalami peningkatan dari 42% (tahun 1997) menjadi 63% (tahun 2003), sedangkan peran pemerintah menurun dari 43% (tahun 1997) menjadi 28% (tahun 2003). Tempat pelayanan untuk akseptor KB baru di klinik KB pemerintah pada tahun 2005 sebanyak 59,66% sedangkan swasta sebanyak 5,47% (Depkes RI, 2007). Kurangnya mengakibatkan peran pemerintah dalam menggalakkan yang akan program KB

tingginya pertambahan

penduduk

menyebabkan

meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan, pendidikan, lapangan pekerjaan, dan pelayanan lainnya. Ketidakmampuan menciptakan lapangan pekerjaan yang cukup, berdampak pada naiknya angka pengangguran dan kemiskinan (Herlianto, 2008). Berdasarkan laporan BPS tahun 2007 jumlah penduduk miskin sebesar 16,58% dari total penduduk Indonesia atau sekitar 37,17 juta jiwa (BKKBN, 2009). Hal ini mengakibatkan rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Menurut United Nations Development Program/UNDP (2008), IPM Indonesia masih sangat rendah yaitu 0,728 menduduki peringkat 107 dari 177 negara. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa Indonesia belum mampu untuk memanfaatkan jumlah populasinya yang besar menjadi kekuatan ekonomi dan harus segera mengatur laju pertumbuhan penduduknya (Herlianto, 2008).

20

Sejak tahun 1997 program KB tidak lagi popular dan mengalami stagnasi, hal ini terlihat dari jumlah peserta KB aktif yang belum mencapai target yang ditetapkan oleh BKKBN yaitu 75%. Menurut SDKI 1997 angka kesertaan KB sebanyak 57,4% dan SDKI 2002-2003 sebanyak 60,3% (BKKBN, 2005). Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2003 persentase KB aktif terhadap PUS adalah 54,5% meningkat menjadi 57,9% pada tahun 2006 (Kasmiyati, 2008). Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya cakupan program KB tersebut di antaranya adalah pengadaan alat kontrasepsi yang masih kurang, jumlah petugas KB lapangan (PLKB) yang minim, serta kebijakan pemerintah di tiap daerah tidak sama (BKKBN, 2004). Memasuki era desentralisasi/otonomi daerah, setiap pemerintah daerah tingkat II (kabupaten/kota) memiliki otoritas penuh untuk memilih dan memilah program yang paling penting bagi daerahnya. Hampir 70% kantor BKKBN di daerah menjadi satu dengan dinas-dinas pemerintah lainnya, hanya sedikit lembaga BKKBN yang berdiri sendiri. Umumnya urusan KB digabungkan dengan bidang kesejahteraan sosial atau catatan sipil dan kependudukan. Selain itu, daerah menunjukkan komitmen yang rendah untuk menjamin kelembagaan KB dalam peraturan daerah (BKKBN, 2004). Krisis ekonomi yang melanda Indonesia juga diperkirakan ikut menjadi salah satu penyebab, karena berpengaruh terhadap daya beli masyarakat termasuk kontrasepsi. Sementara itu belum semua rakyat miskin mendapatkan akses pelayanan

26%. Implant 6.26%. masih sulit direalisasikan (Beni.333 orang dengan akseptor . dengan pemakaian kontrasepsi IUD 6.158 Kepala Keluarga dengan jumlah penduduk 328. Kondom 0. 2008). Fakta lainnya adalah bahwa hingga saat ini ketersediaan alat kontrasepsi. Keadaan demografi pada tahun 2007 terdiri dari 79.43%. 71. Salah satunya adalah permasalahan bidang KB dan kependudukan yang masih banyak mengalami kendala sehingga mengakibatkan pencapaian akseptor KB aktif tiap tahunnya masih di bawah target nasional. Kabupaten yang terdiri dari 14 kecamatan ini menghadapi berbagai permasalahan yang harus segera diatasi sebagai kabupaten baru. Pil 48. 2003).86%. Sedangkan Kecamatan Rambah Samo sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Rokan Hulu merupakan daerah baru yang dibuka pada tahun 1979/1980 khusus untuk tujuan transmigrasi. Sedangkan tahun 2007 jumlah PUS sebanyak 2.26%. khususnya dengan harga terjangkau bagi PUS keluarga miskin baik di perkotaan maupun di daerah pedesaan.92%.594 orang dengan akseptor KB aktif 926 (58. dan lain-lain 0. perkebunan dan perdagangan.503 jiwa diantaranya adalah masyarakat miskin dengan mata pencaharian sebagian besar penduduk pada sektor pertanian. hal ini mengakibatkan minimnya CPR di kalangan PUS (Herlianto.21 KB khususnya alat kontrasepsi gratis. Jumlah PUS di Kecamatan Rambah Samo pada tahun 2004 sebanyak 1. Kabupaten Rokan Hulu sebagai kabupaten yang dimekarkan dari Kabupaten Kampar pada tahun 1998 juga mengalami hal yang sama. Suntik 37.09%).306 jiwa.

kepercayaan. faktor yang memperkuat atau mendorong (sikap. perilaku. diketahui bahwa pengadaan alat kontrasepsi untuk masyarakat belum mencukupi dan tidak terdistribusi secara merata. keahlian dan dukungan petugas) dalam melayani kesehatan di masyarakat. Berdasarkan pengamatan di lapangan.44%. faktor pendukung (tersedia atau tidak tersedianya fasilitas). keyakinan. serta alat kontrasepsi yang kurang tersedia di sarana kesehatan. diduga beberapa aspek yang menjadi faktor penyebab masih rendahnya pemakaian alat kontrasepsi adalah kurangnya informasi tentang alat kontrasepsi.94%. 2008). biaya untuk membeli dan memasang kontrasepsi yang tidak terjangkau.12% dan lain-lain 1. sehingga hanya beberapa jenis alat kontrasepsi saja yang tersedia dan jumlahnya belum mencukupi. dan sebagainya). Rokan Hulu. pengetahuan. determinan perilaku atau tindakan seseorang dipengaruhi oleh 3 faktor. Hal ini disebabkan karena dana yang tersedia untuk pengadaan alat kontrasepsi terbatas. .09%) dengan pemakaian kontrasepsi IUD 8. Suntik 46.44%. nilai-nilai. Informasi yang diperoleh dari Kepala Bidang Kependudukan dan KB Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Rokan Hulu tahun 2007. kurangnya dukungan dari petugas kesehatan.04%. yakni faktor predisposisi (pengetahuan. sikap. budaya.22 KB aktif 982 (42. Kondom 1. Pil 35. Implant 7. Menurut Green dan Kreuter (2005).02%. Pencapaian akseptor KB aktif masih rendah dibandingkan dengan target nasional yaitu 75% (Dinas Kesehatan Kab.

demografi. pengetahuan dan kesadaran pria dan keluarganya masih rendah. faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi.23 Manuaba (1998) mengatakan bahwa faktor-fakor yang mempengaruhi alasan pemilihan metode kontrasepsi diantaranya tingkat ekonomi. pengambil keputusan dalam keluarga) dan pengetahuan akseptor KB terhadap utilitas alat kontrasepsi implant. pekerjaan dan tersedianya layanan kesehatan yang terjangkau. agama. Hasil penelitian Sakhnan (2001) melaporkan faktor usia. keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan. sikap). Hasil penelitian Meutia (1997) menunjukkan bahwa ada pengaruh karakteristik (pekerjaan. Berdasarkan latar belakang di atas maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh faktor predisposisi (umur. Syamsiah (2002) mengatakan bahwa faktor sosial budaya adalah semua faktor yang ada di masyarakat yang mempengaruhi penerimaan suatu jenis alat kontrasepsi antara lain: sosio-ekonomi. pengetahuan. nilai anak bagi keluarga. Masih rendahnya partisipasi pria ber-KB antara lain disebabkan kondisi lingkungan sosial budaya masyarakat yang masih kurang mendukung. perilaku petugas merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan keikutsertaan ibu PUS dalam program KB. . dan pengetahuan. pengetahuan. serta keterbatasan penerimaan dan aksesibilitas terhadap pelayanan KB dan kesehatan reproduksi (BKKBN. pendidikan. jumlah anak. jarak lokasi ke pelayanan KB. psiko-sosial. 2005). jumlah anak.

keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan. 1. 1. Permasalahan Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah faktor predisposisi (umur. pengetahuan. pengambil keputusan) berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi pada istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008. jumlah anak. Hipotesis Faktor predisposisi (umur. sikap). faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi. pendidikan.2. 1. faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi. pengambil keputusan) terhadap pemakaian alat kontrasepsi pada istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu.3. jumlah anak. jumlah anak. sikap). pendidikan.4. sikap). keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan. Tujuan Penelitian Untuk menganalisis pengaruh faktor predisposisi (umur. faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi. pendidikan. pengambil . keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan. pengetahuan. pengetahuan.24 pengambil keputusan) terhadap pemakaian alat kontrasepsi pada istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu.

2.25 keputusan) berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi pada istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu.5. Bagi Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan dan informasi bagi penyusunan kebijakan terkait dengan KB dan penggunaan alat kontrasepsi dan kebijakan menyangkut pelayanan publik dalam bidang kesehatan masyarakat. . Manfaat Penelitian 1. 1. Manfaat Akademis Untuk menambah wawasan bagi peneliti lain guna pengembangan ilmu pengetahuan kesehatan masyarakat khususnya di bidang administrasi kesehatan komunitas.

tingkat sosial ekonomi. 10 . a) Faktor-faktor predisposisi (predisposing factor) Faktor-faktor ini mencakup: pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan. dan faktor-faktor yang memperkuat atau mendorong (reinforcing factor). yakni faktor predisposisi (predisposing factor). yakni perilaku (behavior causes) dan faktor di luar perilaku (non behavior causes). pos obat desa. dan sebagainya.1. dokter atau bidan praktek swasta. maka sering disebut faktor pemudah. kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok. Perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor. faktor-faktor yang mendukung (enabling factor). tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan. Faktor-faktor ini terutama yang positif mempermudah terwujudnya perilaku. tingkat pendidikan. ketersediaan makanan yang bergizi. misalnya: air bersih. poliklinik. Termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas.26 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. b) Faktor-faktor pemungkin (enabling factors) Faktor-faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat. posyandu. polindes. tempat pembuangan tinja. tempat pembuangan sampah. sistem nilai yang dianut masyarakat. dan sebagainya. rumah sakit. Konsep Perilaku Kesehatan Menurut Green dan Kreuter (2005).

teori Green ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan. yakni: 1. . lebih-lebih para petugas kesehatan. masyarakat memerlukan sarana dan prasarana pendukung. Di samping itu undang-undang juga diperlukan untuk memperkuat perilaku masyarakat tersebut. para petugas. tokoh agama (toga). tokoh agama. rasa dan raba. atau faktor pemungkin. melainkan diperlukan perilaku contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat. yakni indera penglihatan. peraturan-peraturan baik dari pusat maupun pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan. sikap dan perilaku petugas termasuk petugas kesehatan.27 dan sebagainya. pendengaran. Dalam perkembangannya. Untuk berperilaku sehat. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. penciuman. masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positif. c) Faktor-faktor pendorong (reinforcing factors) Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat (toma). dan dukungan fasilitas saja. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia. maka faktor-faktor ini disebut faktor pendukung. Fasilitas ini pada hakekatnya mendukung atau memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan. Untuk berperilaku sehat. Pengetahuan (knowledge) Pengetahuan merupakan hasil dari tahu. Termasuk juga disini undang-undang. dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

1986). Termasuk kedalam pengetahuan ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. sebab dari pengalaman dan hasil penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng (long lasting) daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Gerungan. menyatakan dan sebagainya.28 Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). b) Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui. Contohnya adalah mendapatkan informasi tentang KB. menguraikan. dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. mendefenisikan. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan. pengertian KB. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat . Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. manfaat KB dan dimana memperoleh pelayanan KB. Selanjutnya Notoatmodjo (2007) mengatakan bahwa pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan: a) Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.

dapat menyesuaikan. prinsip. d) Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. dan masih ada kaitannya satu sama lain. mengelompokkan. dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. c) Aplikasi (Aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). tetapi masih di dalam satu struktur organisasi. dan sebagainya. Misalnya. dapat merencanakan. e) Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. memisahkan. seperti dapat menggambarkan (membuat bagan). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum. . Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja. metode. dapat meringkaskan. dapat menyusun. menyimpulkan. meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. menyebutkan contoh. membedakan. rumus.29 menjelaskan.

bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat. 2. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. atau menggunakan kriteria-kriteria yang ada. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup. Contohnya adalah seperti sikap setuju atau tidaknya terhadap informasi KB. pengertian dan manfaat KB. serta .30 f) Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak. akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap (Attitude) Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas. Notoatmodjo (2003) yang mengutip pendapat Newcomb. tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup.

. Seperti halnya dengan pengetahuan. 2003) a) Menerima (Receiving) Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan. Misalnya sikap orang terhadap KB dapat dilihat dari kesediaan dan perhatian orang itu terhadap ceramah-ceramah tentang KB. saudaranya dan sebagainya) untuk pergi ke sarana kesehatan untuk mendapatkan pelayanan KB adalah suatu bukti bahwa ibu tersebut telah mempunyai sikap positif. fasilitas dan sarananya. c) Menghargai (Valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Misalnya: seorang ibu yang mengajak ibu yang lain (tetangganya. sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan yaitu: (Notoatmodjo.31 kesediaannya mendatangi tempat pelayanan KB. juga kesediaan mereka memenuhi kebutuhan sendiri. adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut. mengerjakan. b) Merespon (Responding) Memberikan jawaban apabila ditanya.

Praktek atau tindakan (Practice) Menurut Sarwono (2007). meskipun mendapat tantangan dari suami atau mertuanya. 3. untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau kondisi yang memungkinkan. sikap dapat dirumuskan sebagai kecenderungan untuk berespon secara positif maupun negatif terhadap orang. antara lain adalah fasilitas. Selain fasilitas. benci. . Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Misalnya. dan lain-lain. seorang ibu mau memakai alat kontrasepsi. misalnya dari suami atau istri.32 d) Bertanggung jawab (Responsible) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi. dan ada fasilitas yang mudah dicapai agar ibu tersebut dapat memakai alat kontrasepsi. Sikap ibu yang positif terhadap alat kontrasepsi harus mendapat konfirmasi dari suaminya. Sikap mengandung suatu penilaian emosional (senang. Beberapa tingkatan praktek adalah: a) Persepsi (Perception) Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama. objek ataupun situasi tertentu. juga diperlukan faktor dukungan (support) dari pihak lain. orangtua atau mertua. sedih. dan lain-lain) dan memiliki tingkat kedalaman yang berbeda-beda.

Pengertian Keluarga Berencana Menurut WHO (1970). (3) Mengatur interval di antara kehamilan. keluarga berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk mendapatkan objek tertentu. atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan. (4) Menentukan jumlah anak dalam keluarga.2.33 b) Respons terpimpin (Guided response) Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktek tingkat dua. yang dikutip oleh Hartanto (2004). maka ia sudah mencapai praktek tingkat tiga.1. . 2. yaitu: (1) Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan. Program Keluarga Berencana Nasional 2. (2) Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan.2. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut. d) Adopsi (Adoption) Adopsi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. c) Mekanisme (Mechanism) Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis. Mochtar (1995) mengatakan keluarga berencana adalah suatu usaha menjarangkan atau merencanakan jumlah anak dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi.

Konsep yang dikembangkan oleh PKBI adalah kesehatan ibu dan anak yang memberi inspirasi bagi pendirian Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang kemudian di kelola oleh Pemerintah Orde Baru. Hal inilah yang menggugah Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia kala itu Sarwono Prawirohardjo untuk mendirikan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) pada tanggal 23 Desember 1957. 2003). berkisar pada 800 per 100. Perkembangan Keluarga Berencana di Indonesia Permulaan pemikiran tentang KB di Indonesia tidak mempersoalkan angka kelahiran tetapi tingginya angka kematian ibu akibat terlalu sering melahirkan. Secara umum tujuan keluarga berencana adalah untuk mewujudkan keluarga yang sehat dan sejahtera dalam upaya untuk menjarangkan kehamilan dan membatasi jumlah anak dua orang saja.34 Berdasarkan dua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa keluarga berencana adalah usaha-usaha yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun individu untuk mengatur jarak kelahirannya dengan menggunakan alat atau metode kontrasepsi.000 kelahiran bahkan tidak jarang ibu meninggal bersama bayinya (Wiknjosastro. disusul dengan keluarnya Keputusan . 1999). Keputusan pemerintah untuk menjadikan KB sebagai program nasional dan dinyatakan sebagai bagian integral dari pembangunan nasional. 2. upaya ini juga dapat menyehatkan kondisi sosial ekonomi keluarga (Saifuddin.2.2.

35 Presiden No. 8 Tahun 1970 tentang Pembentukan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). maka beberapa hal yang menyangkut tersedianya pelayanan yang mudah dicapai dan dijangkau masyarakat serta kualitas yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat perlu diusahakan (KBKKBN. Dengan program yang baru ini pemerintah memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi organisasi profesi serta sektor swasta lainnya dalam memberikan pelayanan KB. Dengan demikian ketergantungan program KB terhadap pemerintah semakin berkurang. pemerintah dalam hal ini BKKBN telah memperkenalkan satu program baru yang disebut dengan Gerakan KB Mandiri. Proses pembangunan konsep KB mandiri berawal dari diperkenalkannya konsep alih peran kemudian berkembang menjadi alih kelola dan selanjutnya mengkristalkan menjadi KB Mandiri. Memasuki Pelita V. 1990). Agar masyarakat mau membiayai sendiri pelayanan KB. Untuk menunjang pelaksanaan KB Mandiri pada tahun 1988 telah dicanangkan program KB Lingkaran Biru (LIBI) dan akhirnya dilontarkan suatu kegiatan pemasaran sosial LIBI lengkap dengan logonya guna memperkenalkan . Falsafah KB Mandiri pada hakekatnya merupakan keadaan dan sikap mental dari pemerintah maupun pengelola/pelaksana KB baik secara individu maupun kelompok dalam mengelola dan melaksanakan KB atas kemauan sendiri tanpa tergantung dari orang lain dalam memelopori menjadi peserta KB.

Kontra berarti mencegah atau melawan. Untuk memperluas pilihan alat kontrasepsi terhadap kebutuhan ber-KB. Pengertian Kontrasepsi Kontrasepsi adalah alat atau obat yang digunakan untuk menunda. 2. Pemasaran KB LIMAS bukan satu pengganti pemasaran kontrasepsi LIBI. Kontrasepsi 2.3. maka tanggal 1 Juli 1992 telah diresmikan oleh Presiden Suharto sebuah lambang baru yaitu Lingkaran Emas (LIMAS). 1998) 1. menjarangkan kehamilan.3. Metode KB alamiah (KBA) . Metode Amenorea Laktasi (MAL) b. 2.1. sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur (ovum) yang matang dengan sperma yang akan mengakibatkan kehamilan. tetapi suatu usaha yang bersamaan untuk lebih memberikan banyak pilihan kontrasepsi kepada peserta KB mandiri yang pada akhirnya dapat diharapkan memberikan kepuasan kepada akseptor (BKKBN.2.36 sederetan pelayanan swasta maupun alat kontrasepsi untuk KB.3. Maka kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur dengan sperma tersebut. Metode sederhana tanpa alat/obat a. 1992). Jenis Metode Kontrasepsi Metode/cara kontrasepsi menurut jenisnya dibagi menjadi: (Manuaba. serta menghentikan kesuburan. Kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi.

Suntikan KB c.37 c. Metode mantap dengan cara operasi a. Pada pria: Metode Operasi Pria (MOP/Vasektomi) Cara-cara kontrasepsi tersebut mempunyai tingkat efektifitas yang berbedabeda dalam memberikan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan. (3) penerimaan pasangan terhadap suatu cara adalah unsur yang penting untuk berhasilnya suatu cara kontrasepsi. IUD ( Dalam Rahim/AKDR) 4. (2) cara yang terbaik hasilnya (efektif) adalah cara yang digunakan oleh pasangan dengan teguh secara terus menerus. Pada wanita: Metode Operasi Wanita (MOW/Tubektomi) b. Metode sederhana dengan alat/obat (barrier) a. Susuk KB ( Bawah Kulit/AKBK) d. yaitu: (1) cara apapun yang dipakai adalah lebih baik daripada tidak memakai sama sekali. Kondom b. Spermisida 3. Diafragma c. Pil KB b. Sanggama terputus (coitus interruptus) 2. Metode efektif a. . Namun perlu diingat adanya aksioma (azas) kontrasepsi.

2.38 Banyak orang kesulitan untuk menentukan pilihan kontrasepsi yang tepat. tetapi juga karena metode-metode tersebut mungkin tidak dapat diterima sehubungan dengan kebijakan nasional KB. Beberapa faktor sosio-psikologi yang penting antara lain . 2. juga jenis rumah. Bukan hanya karena terbatasnya jumlah metode yang tersedia.3. Faktor sosial lain yang juga mempengaruhi adalah suku dan agama.3. banyak sikap yang dapat menghalangi KB. pendapatan keluarga dan status pekerjaan. faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian kontrasepsi adalah sebagai berikut: 1. Faktor sosio-psikologi Sikap dan keyakinan merupakan kunci penerimaan KB. Faktor sosio-demografi Penerimaan KB lebih banyak pada mereka yang memiliki standard hidup yang lebih tinggi. gizi (di negara-negara sedang berkembang) dan pengukuran pendapatan tidak langsung lainnya. dan seksualitas wanita atau biaya untuk memperoleh kontrasepsi (Muryani. Determinan Pemakaian Alat Kontrasepsi Menurut Berthrand (1980). 2004). Indikator status sosio-ekonomi termasuk pendidikan yang dicapai. misalnya di banyak negara-negara sedang bekembang. penggunaan kontrasepsi lebih banyak pada wanita yang berumur akhir 20-30 an yang sudah memiliki anak tiga atau lebih. Beberapa faktor demografi tertentu juga mempengaruhi penerimaan KB di beberapa negara. kesehatan individu.

sikap terhadap KB. Beberapa faktor yang berhubungan dengan pelayanan KB antara lain keterlibatan dalam kegiatan yang berhubungan dengan KB.39 adalah ukuran keluarga ideal. persepsi terhadap kematian anak. Sikap dan kepercayaan tersebut perlu untuk mencegah isu yang berhubungan termasuk segi pelayanan dan efek samping alat kontrasepsi. Secara ringkas faktor-faktor tersebut dapat dilihat seperti pada gambar berikut: . pengetahuan tentang sumber kontrasepsi. komunikasi suami isteri. pentingnya nilai anak laki. 3. informasi dan edukasi (KIE) merupakan salah satu faktor praktis yang dapat diukur bila pelayanan KB tidak tersedia. jarak ke pusat pelayanan dan keterlibatan dengan media massa. Faktor yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan Program komunikasi.

efektif c. faktor-faktor penting bagi pasangan untuk memilih metode kontrasepsi adalah apakah metode tersebut: a.1. b. murah d. d. a. f. Sumber : Bertrand. c. b. e. d. e.40 a. 1980 Gambar 2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemakaian Kontrasepsi Menurut WHO dalam Wiknjosastro (1999). g. aman e. mudah didapat . c. b. d. permanen atau reversibel b. c. Faktor sosio-demografi Pendidikan Pendapatan Status pekerjaan Perumahan Status gizi Umur Suku Agama Faktor sosio-psikologi Ukuran keluarga ideal Pentingnya nilai anak laki Sikap terhadap KB Komunikasi suami-istri Persepsi terhadap kematian anak Faktor yang berhubungan dengan pelayanan Keterlibatan dalam kegiatan yang berhubungan dengan KB Pengetahuan tentang kontrasepsi Jarak ke pusat pelayanan Paparan dengan media massa Pemakaian Kontrasepsi a. h.

memiliki efek samping yang tidak diinginkan h. dapat digunakan pada saat menyusui i. Kepentingan faktor-faktor ini mungkin berubah dari waktu ke waktu karena keinginan pasangan untuk mengganti metode kontrasepsi yang digunakan. faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian kontrasepsi adalah: . melindungi terhadap penyakit hubungan seksual j. Sebagai contoh. Sebaliknya. Menurut Affandi dalam Mutiara (1998). seorang wanita yang menginginkan menunda kelahiran mungkin lebih menilai kenyamanan dan kemudahan penggunaan daripada keefektifan metode. jumlah dan jenis kelamin anak.41 f. Tidak semua faktor ini sama pentingnya pada tiap pasangan. harus digunakan setiap saat pasangan berhubungan seksual Karakteristik pasangan seperti umur. Pemilihan metode kontrasepsi mungkin juga dipengaruhi oleh informasi yang diterima dari teman atau kerabat. Kadang-kadang informasi yang diberikan tidak benar sehingga menimbulkan kesalahan pengertian tentang penggunaan kontrasepsi. membutuhkan kerjasama pasangan k. dan frekuensi hubungan seksual juga mungkin mempengaruhi. mudah digunakan dan tidak putus pakai g. pasangan yang tidak menginginkan anak lagi mungkin menilai keefektifan metode lebih dari kemudahan penggunaan.

Kurun waktu yang paling aman adalah umur 20-35 tahun dengan pengaturan: 1. baik yang didapat dari keluarga/kerabat maupun yang didapat dari petugas kesehatan atau tokoh masyarakat. . Faktor subyektif Bagaimanapun baiknya suatu alat kontrasepsi baik dipandang dari sudut kesehatan maupun rasionalitasnya namun belumlah tentu dirasakan cocok dan dipilih oleh akseptor/calon akseptor. Dalam perencanaan keluarga harus diketahui kapan kurun waktu reproduksi sehat. Seorang wanita secara biologik memasuki usia reproduksinya beberapa tahun sebelum mencapai umur dimana kehamilan dan persalinan dapat berlangsung dengan aman dan kesuburan ini akan berlangsung terus menerus sampai 10-15 tahun sesudah kurun waktu dimana kehamilan dan persalinan itu berlangsung dengan aman.42 a. jarak antara anak pertama dan kedua sekurang-kurangnya 2 tahun atau diusahakan jangan ada 2 anak balita dalam kesempatan yang sama. Pilihan ini sangat pula tergantung pada pengetahuannya tentang kontrasepsi tersebut. Kemudian menyelesaikan besarnya keluarga sewaktu istri berusia 30-35 tahun dengan kontrasepsi mantap b. anak kedua lahir sebelum ibunya berumur 30 tahun 3. anak pertama lahir sesudah ibunya berumur 20 tahun 2. Faktor pola perencanaan keluarga. Adalah mengenai penentuan besarnya jumlah keluarga yang menyangkut waktu yang tepat untuk mengakhiri kesuburan. berapa perbedaan jarak umur antara anak. berapa sebaiknya jumlah anak sesuai kondisi.

b.43 c. c. dipengaruhi oleh berbagai faktor. IUD a.1. 20-21 tahun IUD Suntikan Pil Implant Umur d. Mereka yang menggunakan kontrasepsi dengan tujuan untuk membatasi kelahiran mempunyai tingkat kemantapan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang bertujuan untuk menunda kehamilan. Biasanya pemilihan kontrasepsi juga disesuaikan dengan maksud penggunaan kontrasepsi tersebut. . Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. e. akan merubah metode. b. c. Konsep Pemilihan Alat Kontrasepsi yang Rasional Fase Mencegah Kehamilan Fase Menjarangkan Kehamilan Fase Mengakhiri Kehamilan a. atau menghentikan sama sekali penggunaan kontraspsi. d. Suntikan c. Faktor motivasi a. Motivasi akseptor KB untuk terus menggunakan kontrasepsi yang lama. 30-35 tahun Kontap IUD Implant Suntikan Pil Kelangsungan pemakaian kontrasepsi sangat tergantung dari motivasi dan penerimaan pasangan suami istri. Pil b. d. Faktor obyektif Pemilihan kontrasepsi yang digunakan disesuaikan dengan keadaan wanita (kondisi fisik dan umur) serta disesuaikan dengan fase-fase menurut kurun waktu reproduksinya.

persentase rumah tangga yang memiliki radio b. persentase penduduk umur 10 tahun atau lebih yang mendapatkan perawatan tenaga medis k. jumlah guru SD per 10. rata-rata jumlah anak yang masih hidup b. dkk.44 Menurut Soeradji. persentase penduduk wanita berumur 20-24 tahun yang belum pernah kawin g. persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang sakit selama seminggu j. persentase rumah tangga yang memiliki televisi c. Faktor demografi. tingkat kematian bayi d. faktor-faktor yang mempengaruhi kesertaan dalam program KB adalah: 1. persentase penduduk yang tinggal di daerah kota d. rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup c. kepadatan penduduk per km2 e.000 penduduk usia sekolah i. persentase penduduk usia sekolah yang masih bersekolah . persentase penduduk yang dapat berbahasa Indonesia f. dalam Mutiara (1998). angka fertilitas total 2. meliputi: a. meliputi: a. Faktor sosial. persentase penduduk wanita berumur 15-24 tahun yang belum pernah kawin h. tingkat harapan hidup saat lahir e.

45

l. persentase wanita yang pernah kawin umur 15-49 tahun 3. Faktor ekonomi, meliputi: a. rasio ketergantungan antara penduduk umur 0-9 dan 55+ tahun terhadap yang berumur 10-54 tahun b. persentase wanita yang bekerja c. partisipasi angkatan kerja wanita d. persentase wanita yang bekerja pada pekerjaan tradisional e. persentase petani yang tidak memiliki tanah f. rata-rata luas sawah 4. Faktor infra struktur, meliputi : a. persentase rumah tangga yang mendapatkan leding b. jumlah gedung SD per 10.000 penduduk usia sekolah c. jumlah gedung SMTP per 10.000 penduduk usia sekolah d. persentase sawah dengan irigasi e. persentase tanah sawah 5. Faktor input, meliputi : a. jumlah dokter per 10.000 wanita umur 20-24 tahun b. jumlah bidan per 10.000 wanita umur 20-24 tahun c. jumlah pembantu bidan per 10.000 wanita umur 20-24 tahun d. jumlah klinik KB per 10.000 wanita umur 20-24 tahun e. jumlah petugas lapangan KB per 10.000 wanita umur 20-24 tahun

46

f. jumlah pembantu pembina KB desa per 10.000 wanita umur 20-24 tahun g. rata-rata hari kerja klinik per minggu Kelima faktor-faktor tersebut dapat digambarkan seperti gambar di bawah ini: Faktor Demografi

Faktor Sosial Faktor Input Faktor Ekonomi Kesertaan dalam program KB

Faktor Infra Struktur Sumber : Soeradji, dkk. dalam Mutiara (1998) Gambar 2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesertaan Dalam Program KB Menurut Utomo dalam Mutiara (1998), penggunaan kontrasepsi dipengaruhi oleh umur, jumlah anak hidup, tingkat pendidikan dan frekuensi pemaparan terhadap media massa. Umur mempengaruhi jumlah anak hidup dan tingkat pendidikan, dan tingkat pendidikan mempengaruhi frekuensi pemaparan terhadap media massa. Konsep tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

47

Jumlah Anak Hidup

Frekuensi Pemaparan Terhadap Media Massa

Penggunaan Kontrasepsi

Tingkat Pendidikan Sumber : Utomo dalam Mutiara (1998)

Umur

Gambar 2.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Kontrasepsi Berdasarkan klasifikasi beberapa penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pemakaian alat kontrasepsi dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut: A. Umur Masa kehamilan reproduksi wanita pada dasarnya dapat dibagi dalam tiga periode, yakni kurun reproduksi muda (15-19 tahun), kurun reproduksi sehat (20-35 tahun), dan kurun reproduksi tua (36-45 tahun). Pembagian ini didasarkan atas data epidemiologi bahwa risiko kehamilan dan persalinan baik bagi ibu maupun bagi anak lebih tinggi pada usia kurang dari 20 tahun, paling rendah pada usia 20-35 tahun dan meningkat lagi secara tajam setelah lebih dari 35 tahun. Jenis kontrasepsi yang sebaiknya dipakai disesuaikan dengan tahap masa reproduksi tersebut

(Siswosudarmo, 2001). Sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (1993) yang mengatakan bahwa umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang termasuk dalam

Mereka yang berumur tua mempunyai peluang lebih kecil untuk menggunakan alat kontrasepsi dibandingkan dengan yang muda. dan keinginan terhadap jenis kelamin tertentu. Sementara wanita yang berumur 30-34 tahun dan 35-39 tahun kemungkinannya untuk menggunakan kontrasepsi hanya sekitar 0. Ini mengisyaratkan bahwa ada penurunan penggunaan kontrasepsi pada kelompok wanita yang lebih tua.48 pemakaian alat kontrasepsi. dengan pendidikan yang tinggi seseorang dapat lebih mudah untuk menerima ide atau masalah baru seperti penerimaan. Pendidikan Tingkat pendidikan sangat mempengaruhi bagaimana seseorang untuk bertindak dan mencari penyebab serta solusi dalam hidupnya.73 kali dibandingkan dengan yang berumur 40 tahun atau lebih. Orang yang berpendidikan lebih tinggi biasanya akan bertindak lebih rasional. 1998).38. Oleh karena itu orang yang berpendidikan akan lebih mudah menerima gagasan baru. B.15 dan 0. Wanita yang berumur < 20 tahun kemungkinan untuk menggunakan kontrasepsi sebesar 0. pembatasan jumlah anak. Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh Dang di Vietnam dalam Mutiara (1998) dilaporkan bahwa ada hubungan yang kuat antara umur dengan penggunaan kontrasepsi. Pendidikan juga akan meningkatkan kesadaran wanita terhadap manfaat yang dapat dinikmati bila ia mempunyai jumlah . Pendidikan juga mempengaruhi pola berpikir pragmatis dan rasional terhadap adat kebiasaan. Demikian pula halnya dengan menentukan pola perencanaan keluarga dan pola dasar penggunaan kontrasepsi serta peningkatan kesejahteraan keluarga (Manuaba.

Wanita yang tidak sekolah kemungkinan untuk menggunakan kontrasepsi sebesar 0. Penelitian Dang dalam Mutiara (1998) menunjukkan bahwa pendidikan berhubungan bermakna dengan penggunaan kontrasepsi. C. Sementara wanita yang berpendidikan dasar kemungkinan untuk menggunakan kontrasepsi sebesar 0. Jumlah anak Mantra (2006) mengatakan bahwa kemungkinan seorang istri untuk menambah kelahiran tergantung kepada jumlah anak yang telah dilahirkannya. Hal ini berarti jumlah anak akan sangat mempengaruhi kesehatan ibu dan dapat meningkatkan taraf hidup keluarga secara maksimal.55 kali dibandingkan dengan wanita yang berpendidikan menengah atau tinggi.49 anak sedikit. maka akan semakin memiliki risiko kematian dalam persalinan. Wanita dengan jumlah anak 4 orang atau lebih memiliki kemungkinan untuk menggunakan kontrasepsi .88 kali dibandingkan dengan wanita yang berpendidikan menengah atau tinggi. 2006). Hasil penelitian Dang dalam Mutiara (1998) melaporkan ada hubungan yang bermakna antara jumlah anak dengan penggunaan kontrasepsi. Wanita yang berpendidikan lebih tinggi cenderung membatasi jumlah kelahiran dibandingkan dengan yang tidak berpendidikan atau berpendidikan rendah (Soekanto. Semakin sering seorang wanita melahirkan anak. Seorang istri mungkin menggunakan alat kontrasepsi setelah mempunyai jumlah anak tertentu dan juga umur anak yang masih hidup. Pola yang sama juga dijumpai dengan pendidikan suami.

73 kali dibandingkan dengan wanita yang memiliki 2 orang anak atau kurang. Soeradji. sebab dari pengalaman dan hasil penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng (long lasting) daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Gerungan. dalam Mutiara (1998) melaporkan bahwa pada awal progam KB. D. E. Adanya keterkaitan antara pendapatan dengan kemampuan membayar jelas berhubungan dengan masalah ekonomi. dkk. Pengetahuan Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior).50 sebesar 1. 1986). penggunaan alat kontrasepsi adalah mereka yang telah mempunyai anak cukup banyak. sedangkan kemampuan membayar bisa tergantung variabel non ekonomi dalam hal selera atau persepsi individu terhadap suatu barang atau jasa. Keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi Menurut Manuaba (1998). Dengan berjalannya waktu dan pelaksanaan program maka lebih banyak wanita dengan paritas yang lebih kecil akan menggunakan alat kontrasepsi. . Gejala ini melandasi pengaruh jumlah anak terhadap penggunaan alat kontrasepsi. pekerjaan dan tersedianya layanan kesehatan yang terjangkau. faktor-fakor yang mempengaruhi alasan pemilihan metode kontrasepsi diantaranya adalah tingkat ekonomi.

51 Ketersediaan alat kontrasepsi terwujud dalam bentuk fisik. pakar. tetapi dapat juga tokoh-tokoh lain (professional. dan sebagainya) tergantung pada jenis masalah atau perubahan yang bersangkutan (Sarwono. misalnya dalam masyarakat tertentu kata-kata kepala suku selalu diikuti. F. Untuk dapat digunakan. melalui kontak langsung oleh petugas program KB. Untuk mengubah atau mendidik masyarakat diperlukan tokoh panutan yang dapat merupakan pemimpin masyarakat. Disamping itu daya beli individu juga dapat mempengaruhi penggunaan kontrasepsi. 2001). oleh dokter dan sebagainya – dapat meningkatkan secara nyata pemilihan metode kontrasepsi. Promosi metode tersebut – melalui media. ilmuwan. Memberikan konsultasi medis mungkin dapat dipertimbangkan sebagai salah satu upaya promosi. pertama kali suatu metode kontrasepsi harus tersedia dan mudah didapat. . keberhasilan program KB di Indonesia antara lain karena melibatkan ulama. petugas kesehatan. iklan-iklan obat atau pasta gigi di televisi menampilkan tokoh yang berpakaian dokter atau dokter gigi. tersedia atau tidaknya fasilitas atau sarana kesehatan (tempat pelayanan kontrasepsi). Secara tidak langsung daya beli individu ini juga dipengaruhi oleh ada tidaknya subsidi dari pemerintah. seniman. Dukungan petugas kesehatan Untuk mengubah atau mendidik masyarakat seringkali diperlukan pengaruh dari tokoh-tokoh atau pemimpin masyarakat (community leaders). ulama.

dan memperhatikan tanda bahaya pemakaian.4. membiayai pengeluaran kontrasepsi. 2. sikap. sedangkan isteri hanya bersifat memberikan sumbang saran. Masyarakat di Indonesia khususnya di daerah pedesaan sebagai peran penentu dalam pengambilan keputusan dalam keluarga adalah suami. Hal itu disebabkan orang yang paling bertanggung jawab terhadap keluarganya adalah pasangan itu sendiri. Dukungan tersebut akan tercipta apabila hubungan interpersonal keduanya baik. Landasan Teori Konsep umum yang dijadikan sebagai landasan teori adalah teori Green dan Kreuter (2005) yang digunakan untuk menilai perilaku individu atau kelompok. Menurut Friedman (1998) dan Sarwono (2007) ikatan suami isteri yang kuat sangat membantu ketika keluarga menghadapi masalah. Hartanto (2004) mengatakan bahwa metoda kontrasepsi tidak dapat dipakai istri tanpa kerjasama suami dan saling percaya. Ada 3 faktor yang mempengaruhi individu untuk bertindak yaitu faktor predisposisi (pengetahuan. karena suami/isteri sangat membutuhkan dukungan dari pasangannya. Keadaan ideal bahwa pasangan suami istri harus bersama memilih metoda kontrasepsi yang terbaik. nilai-nilai. saling kerjasama dalam pemakaian. Pengambil keputusan Program KB dapat terwujud dengan baik apabila ada dukungan dari pihakpihak tertentu. keyakinan. kebutuhan yang dirasakan.52 G. kemampuan .

perilaku kesehatan bertitik tolak dari niat seseorang. beberapa karakteristik individu meliputi umur. ada tidaknya informasi dan situasi yang memungkinkan untuk bertindak.53 dan unsur-unsur lain yang terdapat dalam diri individu dan masyarakat). tanggung jawab. faktor pendukung (tersedia sarana dan prasarana) dan faktor pendorong (petugas kesehatan). Berdasarkan konsep tersebut. status perkawinan. dukungan sosial. jenis kelamin. dan status masa kerja. maka kerangka teori adalah sebagai berikut: . pendidikan. Konsep tersebut dikombinasikan dengan teori Kar yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003). Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa determinan perilaku dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal serta menurut Robbins (1994).

Pengetahuan 2. Kebangsaan 5.4. Nilai-nilai 5. Jenis kelamin 4. Kemudahan untuk mencapai sumber daya 3. Tingkat emosional 3. dan komunitas Faktor Eksternal: 1. Dukungan sosial Faktor Internal: 1. Kelompok dan Komunitas . Politik) Sumber: Green dan Kreuter (2005). Sikap 3. Sikap dan perilaku petugas kesehatan 2. Teman 5. Peraturan/Hukum 4. Kerangka Teori Determinan Perilaku Individu. Robbins (1994). kelompok. Pembuat keputusan 6. Pekerja 4. Kepercayaan 4. Usia 6. Lingkungan fisik 2. Persepsi Faktor Pendukung: 1.54 Faktor Predisposisi: 1. Ketersediaan sumber daya 2. Keterampilan 5. Panutan 3. Tingkat kecerdasan 2. Ekonomi. Lingkungan Biologik 3. Gambar 2. Notoatmodjo (2007). Lingkungan Sosial (Budaya. Masa kerja Genetika Perilaku dari individu. Ketersediaan waktu Faktor Pendorong: 1.

Jumlah anak 4. Pendidikan 3. keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi). Sikap Faktor Pendukung : 1. Pengetahuan 5. Pengambil keputusan Gambar 2. Ketersediaan alat kontrasepsi 2. sedangkan variabel dependen adalah pemakaian alat kontrasepsi.55 2. Umur 2. pengambil keputusan). Keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi Faktor Pendorong : 1. Dukungan petugas kesehatan 2. maka peneliti merumuskan kerangka konsep penelitian sebagai berikut: Variabel Independen Faktor Predisposisi : 1.5. pengetahuan.5. Variabel Dependen Pemakaian alat kontrasepsi . jumlah anak. Kerangka Konsep Berdasarkan kerangka teori tersebut. faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi. pendidikan. Kerangka Konsep Penelitian Variabel independen dalam penelitian ini adalah faktor predisposisi (umur. sikap). faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan.

1. masih di bawah Indikator Indonesia Sehat 2010 yaitu 75%. Responden berumur < 20 tahun dan > 35 tahun meskipun tidak memiliki anak 40 . Penelitian berlangsung selama 6 (enam) bulan yaitu pada bulan Juli 2008 sampai dengan Desember 2008. faktor pendukung dan faktor pendorong terhadap pemakaian alat kontrasepsi pada istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian adalah Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu dengan tingkat akseptor KB aktif (current user) 42%. Populasi dan Sampel Populasi adalah seluruh PUS yang ada di Kecamatan Rambah Samo. dan berdasarkan data di Puskesmas pada tahun 2007 berjumlah 2.56 BAB 3 METODE PENELITIAN 3. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian survei dengan tipe explanatory research yang bertujuan untuk menjelaskan pengaruh antara faktor predisposisi. Responden berumur 20-35 tahun yang telah memiliki anak ≥2 b. Sampel adalah seluruh isteri dari PUS yang tinggal menetap di Kecamatan Rambah Samo dengan kriteria sebagai berikut: a. 3.2.3. 3.333.

sebab banyaknya subjek yang terdapat pada setiap wilayah tidak sama.35 ≈ 88 (sampel minimal) Dengan mempertimbangkan faktor non respons sebanyak 10%. 42(10. Besar sampel dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: (Lemeshow et. Teknik tersebut dilakukan untuk menyempurnakan penggunaan sampel wilayah. maka Z1-β = 1. 96 0.42)2 n 88 .96 Z1-α/2 : nilai deviasi normal pada tingkat kemaknaan α = 0. 1997) )Z1 Pa(1Pa) }2 n {Z1 / 2 Po(1(Po PaPo)2 Keterangan: n : besar sampel Z1-α/2=1.590. maka besar sampel yang diambil adalah 88 + 8.8 dibulatkan menjadi 100 responden. yaitu istri yang berumur < 20 tahun (untuk menunda kehamilan) dan berumur > 35 tahun (untuk mengakhiri kesuburan). 59) }2 (0. 282 0. sehingga sampel yang diteliti adalah seperti tabel berikut: .282 : proporsi PUS yang menjadi akseptor KB aktif : 42% : proporsi PUS yang diharapkan menjadi akseptor KB aktif : 59% n {1.05 Z1-β : kekuatan uji (ditetapkan peneliti) bila β Po Pa 10%.57 Kriteria ini dibuat dengan asumsi kelompok umur tersebut merupakan golongan istri yang sebaiknya memakai alat kontrasepsi sesuai dengan tujuan KB.al.8 = 96. 42)1.. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara sampel berimbang (proportional sampling). 59(10.

Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu. Uji coba dilakukan pada bulan Juli 2008 terhadap 30 orang istri PUS yang berada di Kecamatan Rambah Samo Barat yang memiliki karakteristik yang sama dengan istri PUS di lokasi penelitian.58 Tabel 3.1. Metode Pengumpulan Data Data primer dikumpulkan dari responden dengan metode wawancara menggunakan kuesioner sebagai panduan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.36 286/2333 x 100 = 12. 3. Besar Sampel yang Diteliti di Wilayah Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008 No 1 2 3 4 5 Nama Desa Rambah Utama Rambah Baru Pasir Makmur Karya Mulya Masda Makmur Jumlah Jumlah PUS 665 568 409 405 286 2. 2003). Sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumentasi dan laporan yang tersedia di Puskesmas Rambah Samo.35 409/2333 x 100 = 17.26 Besar Sampel 29 24 18 17 12 100 Setelah ditentukan banyaknya sampel pada setiap wilayah selanjutnya sampel ditentukan dengan cara sampel acak sederhana (Simple Random Sampling) yaitu mengambil sebagian dengan menggunakan tabel random (Pratiknya. dan BPS Kabupaten Rokan Hulu. terlebih dahulu dilakukan uji coba instrumen yang bertujuan untuk memastikan bahwa alat bantu yang akan digunakan (kuesioner) memiliki validitas dan reliabilitas.53 405/2333 x 100 = 17.333 Rekapitulasi Perhitungan Sampel 665/2333 x 100 = 28. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Kantor Camat Rambah Samo. .4.50 568/2333 x 100 = 24. Sebelum data dikumpulkan.

6752 0. yaitu menganalisis reliabilitas alat ukur lebih dari satu kali pengukuran dengan ketentuan jika r Cronbach Alpha > r tabel.59 Uji validitas menunjukkan sejauh mana alat ukur benar-benar mengukur apa yang ingin diukur dan dilakukan dengan mengukur korelasi antara masing-masing item pertanyaan dengan skor total menggunakan rumus korelasi Pearson Product Moment (r).7502 0. dengan ketentuan jika nilai r hitung > r tabel.8655 0.9105 .6752 0.8212 0.8090 0. Teknik menghitung indeks reliabilitas dengan metode Cronbach Alpha. 2002).7457 0.7208 0.4345 0. maka pertanyaan valid dan jika nilai r hitung < r tabel. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Penelitian Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi pada Istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Variabel Pengetahuan Butir Pertanyaan 1 2 3 4 5 6 7 8 1 2 3 4 5 r hitung 0.4975 0.2. dinyatakan reliabel dan jika r Cronbach Alpha < r tabel. Uji reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya/diandalkan.5843 0. maka pertanyaan tidak valid (Riduwan. 2002).8843 Sikap 0.8655 Status Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Cronbach Alpha Status Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel 0. dinyatakan tidak reliabel (Riduwan.8212 0. Hasil uji validitas dan reliabilitas kuesioner penelitian dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3.

8301 Berdasarkan Tabel 3. 3. Variabel dan Definisi Operasional Variabel bebas (independent variable) adalah faktor predisposisi (umur. 2. Variabel Dukungan Petugas Kesehatan Butir Pertanyaan 1 2 3 4 5 6 r hitung 0. Pemakaian alat kontrasepsi adalah realisasi responden untuk memakai atau tidak memakai alat kontrasepsi sebagai suatu cara atau metode untuk mencegah atau menjarangkan kehamilan maupun untuk mengakhiri kesuburan.361). pengambil keputusan). faktor pendorong (ketersediaan alat kontrasepsi.4966 Status Valid Valid Valid Valid Valid Valid Cronbach Alpha Status Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel 0.5.5818 0.7908 0. dengan demikian kuesioner yang digunakan untuk penelitian sudah valid dan reliabel (Triton. di atas dapat dilihat bahwa semua pertanyaan mempunyai r hitung lebih besar dari r tabel pada df = 28.361. sedangkan variabel terikat (dependent variable) adalah pemakaian alat kontrasepsi. Umur adalah jumlah tahun hidup responden pada saat wawancara yang dihitung dari ulang tahun terakhir (dibulatkan pada yang lebih mendekati).7908 0. jumlah anak.7908 0. 2006).2. dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan.60 Lanjutan Tabel 3. keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi). α = 5% sebesar 0.2. . pengetahuan. 1. pendidikan.7908 0. sikap). demikian juga alpha lebih besar dari r tabel (0.

Dukungan petugas kesehatan adalah pendapat atau persepsi responden terhadap keterlibatan petugas kesehatan dalam memberikan informasi ataupun penjelasan yang lengkap tentang alat kontrasepsi. Sikap adalah kecenderungan responden untuk memberikan penilaian atau pendapat tentang setuju atau tidak setuju dalam kaitannya dengan keputusan pemakaian alat kontrasepsi yang menyangkut sikap terhadap NKKBS. 4. jenis alat kontrasepsi yang cocok untuk ibu menyusui dan jenis alat kontrasepsi untuk laki-laki. Pendidikan adalah jenjang sekolah formal tertinggi yang pernah ditempuh dan diselesaikan oleh responden dengan memperoleh tanda tamat belajar. Keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi adalah kemudahan untuk mendapatkan akses terhadap pelayanan alat kontrasepsi dilihat dari segi jarak. Pengetahuan adalah pengertian/pemahaman responden tentang alat kontrasepsi yang mencakup arti. efek samping. . waktu tempuh dan biaya yang dikeluarkan oleh responden. 5. Ketersediaan alat kontrasepsi adalah ada atau tidak adanya alat kontrasepsi di puskesmas yang dibutuhkan oleh responden sesuai dengan keinginannya. 9. Jumlah anak adalah banyaknya anak hidup yang dimiliki oleh responden pada saat penelitian. 6. jenis alat kontrasepsi. 8.61 3. 7. tujuan/manfaat.

jika ijazah terakhir minimal Diploma tiga (D3) 1. 0. dikategorikan menjadi 2 kelompok berdasarkan konsep tinggi rendahnya risiko yang dihadapi oleh ibu pada waktu hamil dan bersalin. Tinggi. jika ijazah terakhir SLTA/sederajat 2.62 10. dibagi menjadi 2 kategori: 0. Risiko tinggi : < 20 dan > 35 tahun Skala : Ordinal 2. Metode Pengukuran Variabel dependen 1. Risiko rendah : 20-35 tahun 1. Menengah. Tidak Pakai alat kontrasepsi Skala : Ordinal Variabel independen 1. Pendidikan. Umur. 3. Pengambil keputusan adalah orang yang menentukan responden untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan yaitu pemakaian alat kontrasepsi. jika ijazah terakhir SLTP/sederajat Skala : Ordinal . Pemakaian alat kontrasepsi adalah responden yang pada saat wawancara memakai atau tidak memakai alat kontrasepsi. Ya/Pakai alat kontrasepsi 1. Dasar. berdasarkan Program Pendidikan Wajib Belajar 9 Tahun dikategorikan menjadi 3 kelompok yaitu: 0.6.

Jumlah pertanyaan yang diajukan sebanyak 8 buah dan responden bisa menjawab lebih dari satu jawaban sesuai dengan pilihan yang telah tersedia.5) yaitu: 0. apabila total skor responden ≤ Median Skala : Ordinal 5. Tinggi. 1989). jika responden menjawab Setuju diberi nilai . Pengetahuan Pengetahuan diukur dengan memberikan skor terhadap kuesioner dengan pemberian bobot (Singarimbun dan Efendy. 2006). > 2 orang Skala : Ordinal 4. ≤ 2 orang 1. Masing-masing jawaban yang benar diberi nilai 1 dan jawaban Tidak Tahu diberi nilai 0. Jumlah pertanyaan sebanyak 5 buah. dikelompokkan atas 2 kategori berdasarkan tujuan program KB yaitu: 0. sehingga total skor maksimal adalah 31 dan skor minimal 0 (Arikunto. Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov menunjukkan bahwa total skor variabel pengetahuan tidak berdistribusi normal sehingga skor total tersebut dikategorikan menjadi 2 berdasarkan nilai Median (13. Jumlah anak. Rendah. Sikap Diukur dengan memberikan skor terhadap kuesioner dengan pemberian bobot. apabila total skor responden > Median 1.63 3.

jika responden menjawab alat kontrasepsi selalu tersedia dan sesuai dengan keinginan. Tidak baik. Ketersediaan alat kontrasepsi adalah 0. Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov menunjukkan bahwa total skor variabel sikap tidak berdistribusi normal sehingga skor total tersebut dikategorikan menjadi 2 berdasarkan nilai Median (2) yaitu: 0. apabila total skor responden > Median 1. Tersedia. 2007a). jika responden menjawab alat kontrasepsi tidak selalu tersedia dan tidak sesuai dengan keinginan. Baik. 1. Tidak tersedia. apabila total skor responden ≤ Median Skala : Ordinal 6.5 km Skala : Ordinal . Dekat. maka jarak dikategorikan sebagai berikut: 0. sehingga nilai minimal adalah 0 dan nilai maksimal 5. jika jarak dari rumah ke puskesmas ≤ 2. jika jarak dari rumah ke puskesmas > 2. Jauh.5 km 1. Skala : Ordinal 7.64 1 dan jika menjawab Tidak Setuju diberi nilai 0. Keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi Jarak : berdasarkan kriteria yang dibuat oleh BPS dalam mengelompokkan ratarata jarak terdekat (km) dari rumah tangga ke fasilitas umum (BPS.

Mahal. Jauh. Waktu : jika waktu yang dibutuhkan oleh responden untuk sampai di sarana kesehatan termasuk jika responden memiliki sarana transportasi (sepeda. maka dikategorikan sebagai berikut: 0. jika responden mengeluarkan biaya dan biaya tersebut terjangkau 1. jika waktu tempuh lebih dari 30 menit Skala : Ordinal Biaya : jika responden mengatakan tidak mengeluarkan biaya atau mengeluarkan biaya untuk pelayanan yang diterima. Dekat. Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov diketahui bahwa total . Untuk mengukur dukungan petugas kesehatan adalah dengan memberikan skor 1 untuk jawaban Ya dan skor 0 untuk jawaban Tidak. mobil) dan dengan memperhitungkan kondisi jalan yang mayoritas jalan tanah maka waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai ke sarana kesehatan dikategorikan sebagai berikut: 0. Jumlah pertanyaan yang diajukan sebanyak 6 buah. jika responden mengeluarkan biaya dan biaya tersebut tidak terjangkau Skala : Ordinal 8. sepeda motor.65 Validasi data jarak dilakukan dengan menggunakan speedometer pada kendaraan sepeda motor. Murah. jika waktu tempuh tidak lebih dari 30 menit 1. Dukungan petugas kesehatan. sehingga total skor minimal adalah 0 dan skor maksimal 6.

jika yang mengambil keputusan terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah salah satu pihak atau orang lain diluar suami-istri. faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi dan keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi). jumlah anak. faktor pendorong (dukungan petugas . pengetahuan dan sikap). 2. pendidikan istri. jika yang mengambil keputusan terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah musyawarah suami dan isteri. Pengambil keputusan dalam keluarga 0. Baik. Skala : Ordinal 3. Analisis Univariat Analisis univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang distribusi frekuensi masing-masing variabel independen yang meliputi faktor predisposisi. Tidak baik.66 skor variabel dukungan petugas kesehatan tidak berdistribusi normal sehingga skor total tersebut dikategorikan menjadi 2 berdasarkan nilai Median (3) yaitu: 0.7. Metode Analisis Data 1. 1. pendukung dan pendorong serta variabel dependen yaitu pemakaian alat kontrasepsi. apabila total skor responden > Median 1. Mendukung. Analisis Bivariat Analisis bivariat digunakan untuk melihat sejauhmana hubungan variabel independen yaitu faktor predisposisi (umur. apabila total skor responden ≤ Median Skala : Ordinal 9. Tidak mendukung.

Syarat untuk masuk ke dalam model pengujian multivariat adalah jika pada analisis bivariat variabel independen memiliki nilai Sig < 0. pendukung dan pendorong) terhadap variabel dependen (pemakaian alat kontrasepsi) sehingga diketahui variabel independen yang dominan pengaruhnya terhadap variabel dependen dengan menggunakan regresi logistik ganda (multiple logistic regression) metode Forward Stepwise (Likelihood Ratio). 3.25. . Analisis Multivariat Analisis multivariat adalah untuk melihat pengaruh antara variabel independen (faktor predisposisi.67 kesehatan dan pengambil keputusan dalam keluarga) dengan variabel dependen (pemakaian alat kontrasepsi) dengan menggunakan uji chi square.

293 jiwa yang terdiri dari 6.68 BAB 4 HASIL PENELITIAN 4.1. Keadaan Geografis Kecamatan Rambah Samo merupakan salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Rokan Hulu.2. dengan luas wilayah 249. Kependudukan Jumlah penduduk Kecamatan Rambah Samo Tahun 2007 adalah 11.batas wilayah sebagai berikut: Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Rambah Hilir dan Kepenuhan Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Rokan IV Koto Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kepenuhan dan Kunto Darussalam Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Rambah Jarak dari ibukota kabupaten ± 17 km. dengan batas .1.9 km2 terdiri dari 5 desa.1.121 jiwa perempuan dengan tingkat 52 .1. Deskripsi Lokasi Penelitian 4.172 jiwa laki-laki dan 5. 15 dusun dan 25 Rukun Warga (RW) dengan rincian: Desa Rambah Utama dengan 2 dusun dan 8 RW Desa Rambah Baru dengan 2 dusun dan 4 RW Desa Pasir Makmur dengan 2 dusun dan 4 RW Desa Karya Mulya dengan 6 dusun dan 6 RW Desa Masda Makmur dengan 3 dusun dan 3 RW 4.

69 kepadatan penduduk 45.1. 2 (dua) unit sepeda motor yang berfungsi untuk pelayanan rujukan jika diperlukan.1. Tabel 4. .3. Bidan di desa sebanyak 5 orang dan tinggal di poliklinik bersalin desa (polindes) masing-masing. bidan 3 orang. Distribusi Jumlah Penduduk Menurut Kepala Keluarga dan Jenis Kelamin di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Desa Rambah Utama Rambah Baru Pasir Makmur Marga Mulya Masda Makmur Jumlah KK 798 698 658 669 464 3287 Laki-laki 1371 1296 1256 1356 893 6172 Perempuan 1215 1056 1026 1150 674 5121 Jumlah 2586 2352 2282 2505 1567 11293 Sumber : Profil Kependudukan Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008 4. Juga telah tersedia seperangkat komputer untuk mempermudah proses administrasi. perawat gigi 1 orang. Setiap hari Rabu bidan di desa tersebut harus hadir di puskesmas untuk membantu pelayanan kesehatan karena pada hari tersebut jumlah pasien biasanya lebih banyak dari hari lainnya disebabkan karena adanya hari pasar yang waktunya seminggu sekali di desa Rambah Utama. staf administrasi 5 orang. Puskesmas tersebut juga didukung oleh 1 (satu) unit puskesmas keliling. analis 1 orang. Distribusi jumlah penduduk menurut kepala keluarga dan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut. dokter gigi 1 orang.19 jiwa per kilometer persegi. Sarana dan Prasarana Kesehatan Sarana kesehatan yang ada adalah puskesmas yang terletak di desa Rambah Utama dengan jumlah tenaga kesehatan sebanyak 22 orang yang terdiri dari dokter umum 1 orang. perawat 5 orang.

ada juga puskesmas pembantu (pustu) yang terletak di desa Pasir Makmur dan Masda Makmur. Karakteristik Responden Responden dalam penelitian berjumlah 100 orang dan merupakan istri dari PUS yang berumur 20-35 tahun yang telah memiliki anak ≥ 2 dan berumur < 20 tahun dan > 35 tahun meskipun tidak memiliki anak. 4.70 Seiring dengan perkembangan teknologi daerah ini sekarang telah dapat dijangkau oleh jaringan telepon seluler sehingga lebih mempermudah sistem komunikasi. tetapi pustu tersebut tidak dioperasionalkan dengan maksimal karena kurangnya petugas kesehatan. SMA (27%).2. Seluruh responden diberikan pertanyaan yang sama dan dari wawancara diketahui bahwa 28 orang responden sedang memakai alat kontrasepsi dan 72 orang tidak memakai alat kontrasepsi tetapi pernah menggunakan salah satu metode kontrasepsi sehingga mereka tahu tentang alat kontrasepsi. Analisis Univariat 4. Umur suami dikelompokkan menjadi 2 kelompok berdasarkan nilai tengah (median) yaitu berumur kurang dari 40 tahun dan lebih dari 40 tahun.2. Pendidikan istri adalah tingkat SD (36%) selanjutnya SMP (30%). D3 (6%) dan S1 sebesar 1%. yang berumur kurang dari 40 tahun sebesar 71% dan yang berumur lebih dari 40 tahun 29%.1. Sedangkan pendidikan suami mayoritas SMP (40%) . Selain puskesmas induk. sedangkan yang berumur 20-35 tahun sebesar 60% dan yang berumur > 35 tahun sebesar 40%. Berdasarkan kriteria tersebut didapat bahwa umur istri tidak ada yang < 20 tahun.

Berdasarkan jumlah anak.00 6.71 kemudian SD (31%) diikuti tingkat SMA (22%).00 . Distribusi Karakteristik Responden di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Karakteristik Umur istri (tahun) < 20 20-35 >35 Pendidikan istri SD SMP SMA D3 S1 Umur suami (tahun) <40 ≥40 f 0 60 40 36 30 27 6 1 71 29 Persentase (%) 0. Suntik (25%).00 30.29%).00 1.2. Spiral (21. Mayoritas respoden tidak ikut KB (72%) dan yang ikut KB 28%.00 27. ingin punya anak perempuan (5%).00 71. D3 (4%) dan S1 sebesar 3%. mayoritas responden memiliki anak > 2 orang (64%) sedangkan yang memiliki anak ≤ 2 orang sebanyak 36%.28%). Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.00 60.00 29. dilarang suami (7%) dan karena alasan kesehatan (3%). Rata-rata jarak kelahiran anak dihitung dari nilai median dan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu <56 bulan dan ≥56 bulan. Alasan responden belum ikut KB karena masih ingin punya anak (67%). masih ingin punya anak laki-laki (18%).00 40.43%) dan Implant (14. jarak kelahiran <56 bulan sebanyak 39% dan ≥56 bulan sebanyak 61%. Jenis alat kontrasepsi yang paling banyak digunakan adalah Pil (39.00 36.

00 22.00 54.06 5.67 18.2. Pengetahuan Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden mendapat informasi dari PPLKB/PLKB. 23% dari surat kabar/majalah.00 39.00 3. 14% dari radio/televisi dan 13% dari suami/orangtua/mertua.00 4.29 25.00 61.55 6.00 72.00 40. 66% dari klinik KB/puskesmas. Seluruh responden menjawab pengertian KB yaitu suatu .43 14.2.78 39.72 Lanjutan Tabel 4.00 0. Karakteristik Pendidikan Suami SD SMP SMA D3 S1 Jumlah Anak ≤ 2 orang > 2 orang Peserta KB Ya Tidak Alat Kontrasepsi yang digunakan (n = 28) Spiral Implant Suntik Pil Kondom MOP/MOW Alasan belum ikut KB (n = 72) Masih ingin punya anak Ingin punya anak laki-laki Ingin punya anak perempuan Dilarang suami Alasan Kesehatan Rata-rata Jarak Kelahiran <56 bulan ≥56 bulan f 31 40 22 4 3 46 54 28 72 6 4 7 11 0 0 48 13 4 5 2 39 61 Persentase (%) 31. 36% dari dokter/bidan praktek swasta.94 2.00 4.28 0.00 21.00 66.00 28.2.00 46.

73 usaha dengan kesadaran sendiri membatasi kelahiran untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Seluruh responden menyebutkan efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi adalah rasa nyeri/mules. infeksi atau keputihan (17%) dan perubahan berat badan/gemuk (13%). 63% menjawab sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui pengaturan kelahiran dan 30% sebagai suatu cara yang dianjurkan pemerintah untuk membatasi jumlah anak (idealnya adalah 2 anak). Semua responden menjawab alat kontrasepsi yang paling cocok untuk ibu menyusui adalah pil dan jenis alat kontrasepsi untuk laki-laki kondom. Semua responden menyebutkan manfaat pemakaian alat kontrasepsi untuk mencegah terjadinya kehamilan. Seluruh responden mengetahui jenis alat kontrasepsi spiral/IUD. Suntik (41%). Kondom (13%) dan Tubektomi/Vasektomi (MOP/MOW) sebanyak 11%. kelainan haid/perdarahan/bercak darah (58%). memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak (64%). Secara rinci indikator pengetahuan dapat dilihat pada tabel berikut ini: . penundaan/penjarangan kelahiran (39%) dan pembatasan kelahiran (22%). mual/muntah/pusing (35%). Implant/Susuk (67%). Seluruh responden menjawab tujuan KB sebagai usaha membentuk keluarga kecil. untuk mengatur jarak kehamilan (59%) dan untuk mengakhiri kesuburan (27%). Pil (18%). bahagia dan sejahtera.

00 100.00 18.00 27.00 64.00 23.00 100 63 30 0 100 64 39 22 0 100 59 27 0 100 67 41 18 13 11 0 100.00 11.00 .74 Tabel 4.00 0.00 0.00 67.00 13. Suatu cara yang dianjurkan pemerintah untuk membatasi jumlah anak (idealnya adalah 2 anak) Tidak tahu Tujuan KB adalah Membentuk keluarga kecil.00 63.00 14. Salah satu usaha untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui pengaturan kelahiran.00 0.00 39.00 41.00 30.00 13.3.00 0.00 0. Distribusi Responden Menurut Indikator Pengetahuan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Pengetahuan Sumber informasi tentang KB/alat kontrasepsi Petugas Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PPLKB) Puskesmas Dokter/Bidan Praktek Swasta Surat kabar/Majalah Radio/Televisi Suami/Orangtua/mertua Tidak tahu Pengertian KB adalah Suatu usaha dengan kesadaran sendiri membatasi kelahiran untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.00 22.00 100.00 100. bahagia dan sejahtera Memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak Penundaan/penjarangan kelahiran Pembatasan kelahiran Tidak tahu Manfaat pemakaian alat kontrasepsi adalah Untuk mencegah terjadinya kehamilan Untuk mengatur jarak kehamilan Untuk mengakhiri kesuburan Tidak tahu Jenis alat kontrasepsi apa saja yang diketahui Spiral/IUD Implant/Susuk Suntik Pil Kondom Tubektomi/Vasektomi (MOP/MOW) Tidak tahu f 100 66 36 23 14 13 0 Persentase (%) 100.00 66.00 36.00 59.

00 58.00 100 58 35 17 13 0 100 39 0 100 36 0 4.00 39. Indikator Pengetahuan Efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi Rasa nyeri/mules Kelainan haid/perdarahan/bercak darah Mual/muntah/pusing Infeksi/Keputihan Perubahan berat badan/gemuk Tidak tahu Alat kontrasepsi yang paling cocok untuk ibu menyusui adalah Pil Suntik Tidak tahu Jenis alat kontrasepsi untuk laki-laki adalah Kondom MOP/Tubektomi Tidak tahu f Persentase (%) 100.00 13.00 36.00 0.3. bahagia dan berkualitas.75 Lanjutan Tabel 4.00 17.3.00 100.00 0.2. Sebanyak 58% responden tidak setuju mempunyai anak yang banyak tidak akan membawa rezeki yang banyak dan 55% responden tidak setuju anak laki-laki nilainya sama dengan anak perempuan. 52% setuju KB bertujuan untuk merencanakan keluarga kecil. 58% setuju pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu cara untuk menunda kehamilan dan menjarangkan kelahiran. Sikap Hasil penelitian menunjukkan bahwa 57% responden setuju manfaat KB untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak.00 100.00 0. Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut: .00 35.

00 58.00 45. bahagia dan berkualitas Pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu cara untuk menunda kehamilan dan menjarangkan kelahiran Mempunyai anak yang banyak tidak akan membawa rezeki yang banyak. Distribusi Responden Menurut Indikator Ketersediaan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Ketersediaan Alat Kontrasepsi Alat kontrasepsi selalu tersedia di puskesmas Jenis alat kontrasepsi yang diinginkan selalu tersedia di puskesmas Ya n 57 51 % 57.00 Tidak n % 43 43. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel dibawah: Tabel 4.00 55.5.00 58 55 58.00 48 42 48.4.00 Setuju n % 57 57.2. Distribusi Responden Menurut Indikator Sikap di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Sikap Manfaat KB adalah untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak KB bertujuan untuk merencanakan keluarga kecil. Anak laki-laki nilainya sama dengan anak perempuan Tidak Setuju n % 43 43.00 51. seperti data pada tabel berikut: .00 52 58 52.4. Ketersediaan Alat Kontrasepsi Berdasarkan ketersediaan alat kontrasepsi.00 4.76 Tabel 4.00 Responden menjawab jika alat kontrasepsi tidak tersedia di puskesmas maka 33% mendapatkannya di klinik swasta.00 42 45 42.00 42. 57% responden mengatakan alat kontrasepsi selalu tersedia di puskesmas dan 51% mengatakan alat kontrasepsi yang diinginkan selalu tersedia. 58% di praktek dokter/bidan dan 9% di apotek.00 49 49.

2. Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi Klinik swasta Praktek Dokter/Bidan Apotek f 33 58 9 % 33.86%.00 58.5 km sebanyak 43% dan 57% mengatakan lebih dari 2.28 17. mereka menjawab bahwa mereka mendapatkan alat kontrasepsi di klinik swasta sebanyak 42. Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai ke puskesmas 55% mengatakan <30 menit dan 45% mengatakan >30 menit. Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi Bagi Responden yang Ikut KB di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi Klinik swasta Praktek Dokter/Bidan Apotek f 12 11 5 % 42. Responden yang mengatakan mengeluarkan biaya untuk memperoleh pelayanan KB sebanyak 95% dan tidak mengeluarkan biaya sebanyak 5%.86 39.00 9.5. sedangkan.77 Tabel 4. Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut ini: .6. praktek dokter/bidan sebanyak 39. Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi Responden yang menjawab jarak rumah ke puskesmas <2.86 4.7. Lebih lanjut dapat dilihat pada table berikut: Tabel 4.28% dan di apotek sebanyak 17.86%.5 km.00 Jika dirinci lebih lanjut berdasarkan jumlah responden yang ikut KB yaitu sebanyak 28 orang.

Berdasarkan indikator dukungan petugas kesehatan. Distribusi Responden Berdasarkan Indikator Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Keterjangkauan Jarak rumah ke puskesmas Waktu yang dibutuhkan ke puskesmas Mengeluarkan biaya untuk memperoleh pelayanan KB Dekat / Ya Jauh / Tidak n % n % 43 43. 33% menggunakan sepeda dan 20% menggunakan sepeda motor. 71% responden mengatakan petugas kesehatan melakukan penyuluhan rutin tentang KB dan alat kontrasepsi.9.0 5 5.00 33. Dukungan Petugas Kesehatan Dukungan petugas dalam indikator ini adalah perawat dan bidan yang bekerja di poliklinik Kesehatan Ibu dan Anak dan Keluarga Berencana (KIA/KB) puskesmas dan bertugas dalam pelayanan kesehatan resproduksi ibu dan remaja termasuk pelayanan KB pada PUS.00 4.2.00 45 45.00 57 57.78 Tabel 4.8.00 20.00 95 905. Jenis Alat Transportasi yang Digunakan Untuk Mencapai Puskesmas di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Jenis Alat Transportasi Jalan Kaki Sepeda Sepeda Motor f 47 33 20 Persentase (%) 47. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.6.00 55 55. 73% mengatakan petugas kesehatan menyarankan agar ibu ikut KB atau .00 Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk mencapai puskesmas 47% responden menjawab dengan berjalan kaki.

Distribusi Proporsi Responden Berdasarkan Indikator Dukungan Petugas Kesehatan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Dukungan Petugas Kesehatan Petugas kesehatan melakukan penyuluhan rutin tentang KB dan alat kontrasepsi Petugas kesehatan menyarankan agar ibu ikut KB atau menggunakan kontrasepsi Petugas kesehatan menjelaskan terlebih dahulu tentang alat kontrasepsi yang akan dipilih dan efek sampingnya Petugas kesehatan memberi kesempatan atau kebebasan dalam memilih alat kontrasepsi Petugas kesehatan menyarankan untuk pemeriksaan rutin Pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan memuaskan Ya n 71 73 55 % 71.79 menggunakan kontrasepsi.00 48.00 42 48 39 42. Data selengkapnya seperti pada tabel berikut: Tabel 4.00 58 52 61 58.00 Responden menjawab pelayanan yang tidak puas karena petugas kurang ramah (47%).10. 55% mengatakan petugas kesehatan menjelaskan terlebih dahulu tentang alat kontrasepsi yang akan dipilih dan efek sampingnya. Secara rinci dapat dilihat seperti tabel berikut: . petugas tidak mampu memberi informasi seperti yang diharapkan (52%) dan alat/fasilitas tidak lengkap (1%).00 45.00 39. Responden yang mengatakan petugas kesehatan memberi kesempatan atau kebebasan dalam memilih alat kontrasepsi sebanyak 58%.00 27.00 n 29 27 45 Tidak % 29.00 61.00 73.00 55.00 52. 52% mengatakan petugas kesehatan menyarankan untuk pemeriksaan rutin dan 61% responden mengatakan bahwa pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan memuaskan.

13.28 17.86 39.2.00 Lebih lanjut jika dirinci berdasarkan responden yang ikut KB yaitu sebanyak 28 orang. 13% menjawab istri dan 36% menjawab musyawarah suami-istri. Distribusi Responden yang Ikut KB Menurut Pengambil Keputusan dalam Keluarga di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Pengambil Keputusan Suami Istri Musyawarah Suami dan Istri f 12 11 5 Persentase (%) 42.86%.11.86 . Pengambil Keputusan Dalam Keluarga Berdasarkan pengambil keputusan dalam keluarga terhadap pemakaian alat kontrasepsi.00 52.00 13.28% dan musyawarah suami dan istri sebanyak 17.00 f 47 52 1 0 Persentase (%) 47. maka dapat dilihat bahwa pengambil keputusan dalam keluarga adalah suami sebanyak 42. istri sebanyak 39. Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah: Tabel 4. Distribusi Proporsi Responden Menurut Pengambil Keputusan dalam Keluarga di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Pengambil Keputusan Suami Istri Musyawarah Suami dan Istri f 51 13 36 Persentase (%) 51.00 36.00 0.86%.00 1.80 Tabel 4. 51% responden menjawab suami.7.12. Alasan Tidak Puas Terhadap Pelayanan Petugas Kesehatan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Alasan Tidak Puas Petugas kurang ramah Petugas tidak mampu memberi informasi seperti yang diharapkan Alat/fasilitas tidak lengkap Biaya terlalu mahal 4. Data selengkapnya sebagai berikut: Tabel 4.

8. Faktor Predisposisi Berdasarkan Tabel 4. Secara rinci faktor predisposisi dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut: .2.5 sehingga 47% responden kategori tinggi dan 53% kategori rendah.12 dapat diketahui bahwa penggolongan umur responden 40% umur risiko tinggi dan 60% umur risiko rendah. Sikap responden juga dikategorikan menjadi 2 yaitu baik dan tidak baik berdasarkan nilai median.81 4. Berdasarkan kategori jumlah anak. 27% pendidikan menengah dan 7% responden dengan pendidikan tinggi. Dari perhitungan diperoleh nilai median adalah 2 maka 36% adalah kategori baik dan 64% kategori tidak baik. Pengetahuan responden dikategorikan menjadi 2 yaitu tinggi dan rendah berdasarkan nilai median. 64% memiliki anak > 2 orang dan 36% memiliki anak ≤ 2 orang. Setelah dihitung didapat nilai mediannya 13. Pendidikan responden 66% adalah pendidikan dasar.

00 47.9.14. Waktu tempuh 63% kategori dekat dan 37% kategori jauh.00 53.00 f Persentase (%) 4.00 46.2. Distribusi Responden Menurut Faktor Predisposisi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Faktor Predisposisi Umur Risiko rendah Risiko tinggi Pendidikan Isteri Tinggi Menengah Dasar Jumlah Anak ≤ 2 orang > 2 orang Pengetahuan Tinggi Rendah Sikap Baik Tidak Baik 60 40 7 27 66 46 54 47 53 36 64 60.00 27.00 54. menunjukkan bahwa yang menyatakan alat kontrasepsi tersedia 48% dan tidak tersedia sebanyak 52%.82 Tabel 4. Faktor Pendukung Tabel 4.13.00 64.00 66.00 36. Selanjutnya dapat dilihat pada tabel berikut: . Sedangkan berdasarkan biaya yang dikeluarkan 47% mengatakan murah dan 53% mengatakan mahal.00 40. Berdasarkan jarak ke puskesmas 29% kategori dekat dan 71% kategori jauh.00 7.

sehingga berdasarkan kategori yang telah ditentukan tersebut diperoleh bahwa 48% responden menyatakan petugas kesehatan mendukung dalam hal pemakaian alat kontrasepsi dan 52% menyatakan tidak mendukung.5 km) Jauh (> 2.00 52.00 29.00 53.Jarak Dekat (≤2. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai median 3.00 47.00 71. Responden yang menyatakan bahwa pengambil keputusan untuk pemakaian alat kontrasepsi dengan kategori baik sebanyak 38% dan tidak baik 62%. Lebih rinci dapat dilihat pada tabel berikut: f 48 52 29 71 63 37 47 53 Persentase (%) 48.Biaya Mahal 4. Faktor Pendorong Dukungan petugas kesehatan dikategorikan menjadi 2 berdasarkan nilai median yaitu mendukung dan tidak mendukung.83 Tabel 4.2.Waktu Dekat (≤ 30 menit) Jauh (> 30 menit) Murah .15. Distribusi Responden Menurut Faktor Pendukung di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Faktor Pendukung Ketersediaan Alat kontrasepsi Tersedia Tidak tersedia Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi .00 63.10.5 km) .00 .00 37.

Analisis Bivariat Pada analisis ini dilakukan tabulasi silang antara variabel independen (faktor predisposisi. pendidikan. pendukung dan pendorong) dengan dependen (pemakaian alat kontrasepsi) dan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang bermakna antara kedua variabel tersebut dilakukan uji statistik dengan uji chi-square. Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa responden dengan umur risiko tinggi yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 15.3.16. jumlah anak. pengetahuan dan sikap) dengan pemakaian alat kontrasepsi. .3.033).84 Tabel 4.7% dan yang tidak memakai alat kontrasepsi sebanyak 63.00 38. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan umur dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig = 0. 4.0% dan yang tidak memakai alat kontrasepsi sebanyak 85.0% sedangkan umur risiko rendah yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 36. Distribusi Responden Menurut Faktor Pendorong di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Faktor Pendorong Dukungan Petugas Kesehatan Mendukung Tidak Mendukung Pengambil Keputusan Musyawarah Suami dan istri Selain suami dan istri f 48 52 38 62 Persentase (%) 48.1.3%.00 4.00 52. Hubungan Faktor Predisposisi dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi Pada analisis ini dilakukan tabulasi silang antara faktor predisposisi (umur.00 62.

Hasil uji statistik . Responden yang memiliki anak > 2 orang memakai alat kontrasepsi sebanyak 38.4%.0% dan tidak memakai sebanyak 50.7%.6% dan tidak memakai sebanyak 84.025).3%.8% dan tidak memakai sebanyak 53.7% dan tidak memakai sebanyak 59.2% sedangkan responden dengan pengetahuan rendah memakai alat kontrasepsi sebanyak 11. responden dengan pendidikan menengah memakai alat kontrasepsi sebanyak 40.3% dan tidak memakai sebanyak 88. Sedangkan pendidikan dasar yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 19.1% sedangkan yang memiliki anak ≤ 2 orang memakai alat kontrasepsi sebanyak 15.9% dan tidak memakai sebanyak 61.016).8%. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan pendidikan dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.7% dan tidak memakai 80.0% sedangkan sikap yang tidak baik memakai alat kontrasepsi sebanyak 15. Responden dengan pengetahuan tinggi yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 46. responden dengan pendidikan tinggi yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 57.3%.85 Berdasarkan pendidikan.1% dan tidak memakai sebanyak 42. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan pengetahuan dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.9%.2% dan tidak memakai 84. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan jumlah anak dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.000) Responden dengan sikap yang baik memakai alat kontrasepsi sebanyak 50.

Hasil tabulasi silang pada Tabel 4.40 Total n 60 40 7 27 66 46 54 47 53 36 64 % 100.00 Sig 0.00 100.30 80.1% .70 15.001 100. Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. Variabel keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi diukur berdasarkan 3 (tiga) sub variabel yaitu jarak rumah ke puskesmas.00 0.033 Faktor Predisposisi Umur Risiko rendah Risiko tinggi Pendidikan Tinggi Menengah Dasar Jumlah anak ≤2 orang >2 orang Pengetahuan Tinggi Rendah Sikap Baik Tidak baik 4.00 57.50 59.00 0.2.80 61.00 100.70 50.001).00 84.00 0.20 88.20 38.00 42.00 100.00 0.000 100. Hubungan Faktor Pendukung dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi Pada analisis ini dilakukan tabulasi silang antara faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi dan keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dengan pemakaian alat kontrasepsi.016 100. Hubungan Faktor Predisposisi dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Pemakaian Alat Kontrasepsi Ya Tidak n % n % 22 6 4 11 13 7 21 22 6 18 10 36.00 100. waktu tempuh dan biaya.030 100.10 40.30 84.70 15.3.10 53.00 100.17.80 11.00 100.70 19.30 85.00 15.30 50.60 38 34 3 16 53 39 33 25 47 18 54 63.16.86 menunjukkan ada hubungan sikap dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. menunjukkan bahwa responden yang mengatakan alat kontrasepsi tersedia dan memakai alat kontrasepsi sebanyak 52.90 46.

Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan ketersediaan alat kontrasepsi dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. Responden yang jarak rumah dekat dan memakai alat kontrasepsi sebanyak 10. Sedangkan responden yang mengatakan alat kontrasepsi tidak tersedia tetapi memakai alat kontrasepsi sebanyak 5.5% dan tidak memakai 63. Responden dengan kategori jauh memakai alat kontrasepsi sebanyak 13.8%. responden dengan kategori dekat memakai alat kontrasepsi sebanyak 36.2% dan tidak memakai sebanyak 64.3% dan tidak memakai sebanyak 88.8% dan tidak memakai 53.2%.5%.000). Berdasarkan waktu tempuh.2%.5%.8% dan tidak memakai sebanyak 94. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan biaya yang dikeluarkan dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan waktu tempuh dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.000).3% dan tidak memakai 89.9%.7%. responden dengan kategori murah memakai alat kontrasepsi sebanyak 46.025). Responden dengan kategori jauh memakai alat kontrasepsi sebanyak 35. Untuk biaya yang dikeluarkan. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan jarak rumah dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.023).87 dan tidak memakai sebanyak 47. Sedangkan kategori mahal yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 11. Data selengkapnya sebagai berikut: .7%.5% dan tidak memakai 86.

80 63.70 29 71 63 37 47 53 100.00 0.80 23 49 47. Hubungan Faktor Pendorong dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi Pada analisis ini dilakukan tabulasi silang antara faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan dan pengambil keputusan) dengan pemakaian alat kontrasepsi.20 88.00 Faktor Pendukung Ketersediaan Tersedia Tidak tersedia Keterjangkauan .10 5.18. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan dukungan petugas kesehatan dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig = 0.Jarak Dekat (≤2.88 Tabel 4. menunjukkan bahwa responden yang mengatakan petugas kesehatan mendukung dan memakai alat kontrasepsi sebanyak 43.023 3 25 23 5 22 6 10. Hasil tabulasi silang pada Tabel 4.80 11.Waktu Dekat (≤ 30 menit) Jauh (> 30 menit) .00 0.50 13.30 26 46 40 32 25 47 89.3%.20 36.00 100.000 100.8% dan tidak memakai sebanyak 56.00 100.18.025 100.3.00 100.50 53.20 Total Sig n 48 52 % 0.3.Biaya 4.002).50 46.50 86.000 Murah Mahal 100.5 km) Jauh (> 2.5 km) .00 100. Sedangkan responden yang mengatakan petugas kesehatan tidak mendukung tetapi memakai alat kontrasepsi sebanyak 13.70 64.5% dan tidak memakai sebanyak 86. Hubungan Faktor Pendukung dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Pemakaian Alat Kontrasepsi Ya Tidak n % n % 25 3 52.90 94.00 0.30 35. .5%.

70 71. Sedangkan responden dengan kategori tidak baik yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 29.80 13.00 27 45 28 44 56.89 Berdasarkan pengambil keputusan dalam keluarga.7%.30 86.0% dan tidak memakai sebanyak 72. jarak. biaya dan dukungan petugas kesehatan memenuhi syarat untuk masuk ke dalam model pengujian multivariat (Sig<0.00 0.00 100.25). Analisis Multivariat Berdasarkan analisis bivariat diperoleh bahwa variabel umur.4.00 100.3% dan tidak memakai sebanyak 73. Hubungan Faktor Pendorong dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Pemakaian Alat Kontrasepsi Ya Tidak n % n % 21 7 10 18 43. pengetahuan. Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.949 100.00 Faktor Pendorong Dukungan petugas Kesehatan Mendukung Tidak mendukung Pengambil keputusan Baik (suami dan istri) Tidak Baik (selain suami dan istri) 4. responden dengan kategori baik yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 26. kemudian variabel yang Signifikan .50 26.002 100. Berikutnya adalah pemilihan model yang dilakukan secara hierarkis dengan cara semua variabel dimasukkan ke dalam model.00 Total Sig n 48 52 38 62 % 0. jumlah anak. ketersediaan alat kontrasepsi. pendidikan. waktu tempuh.0%.19.949). Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan pengambil keputusan dalam keluarga dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.50 73.30 29. sikap.

253 22.551).024-0.041 0.008 0. Berdasarkan nilai Koefisien B yang tertinggi adalah variabel ketersediaan alat kontrasepsi yaitu 3.893-129.063-17.20.575 1.457 9.112 2. Ini menunjukkan variabel tersebut merupakan variabel yang paling dominan mempengaruhi pemakaian alat kontrasepsi.05.90 (>0.005 CI 95% 0. Hasil akhir analisis multivariat dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.551 2.448 3.459 Hasil tabel di atas merupakan akhir analisis multivariat uji regresi logistik ganda karena jumlah anak. Hasil Akhir Analisis Regresi Logistik Ganda Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Variabel Penelitian Jumlah anak Pengetahuan Sikap Ketersediaan alat kontrasepsi Dukungan Petugas Kesehatan B -2. sikap dan dukungan petugas kesehatan (95% CI: 3. .05) dimasukkan ke dalam model secara bertahap (Forward Stepwise).014 3. artinya variabel tersebut tidak dikeluarkan dari model dan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi.442 Sig 0. sikap.245 Exp (B) 0. pengetahuan.118 6.454-26.005-44.112.151 4.001 0.135 1. Besar pengaruh variabel tersebut dilihat dari nilai Exp (B) dimana dari hasil analisis terlihat bahwa jika alat kontrasepsi tersedia maka peluang responden untuk memakai alat kontrasepsi 22 kali dibandingkan jika alat kontrasepsi tidak tersedia setelah dikontrol oleh variabel jumlah anak.014 0. ketersediaan alat kontrasepsi dan dukungan petugas kesehatan telah memiliki nilai < 0.025 1. pengetahuan.893129.817 1.

ketersediaan alat kontrasepsi dan dukungan petugas kesehatan bisa menjelaskan pengaruhnya terhadap pemakaian alat kontrasepsi sebesar 91%. pengambil keputusan dalam keluarga dan lain-lain). biaya.91 Nilai Percentage Correct diperoleh sebesar 91% yang artinya variabel jumlah anak. pendidikan. . sikap. pekerjaan. sedangkan sisanya sebesar 9% dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya (seperti faktor umur. waktu tempuh. pengetahuan. jarak.

Faktor Predisposisi Faktor predisposisi dalam penelitian ini adalah umur.92 BAB 5 PEMBAHASAN 5. Umur yang semakin meningkat tidak menjadi alasan utama responden untuk memakai alat kontrasepsi. 1993). tetapi lebih mengutamakan banyaknya jumlah anak yang dimiliki. mereka yang berumur tua mempunyai peluang lebih kecil untuk menggunakan alat kontrasepsi dibandingkan dengan yang muda (Notoatmodjo. pendidikan. Jika jumlah anak telah dirasa 76 .1. Hasil uji chi square memperlihatkan bahwa ada hubungan umur terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. Pengaruh umur terhadap pemakaian alat kontrasepsi Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden dengan kategori umur risiko tinggi 40% dan kategori risiko rendah 60%. jumlah anak. sedangkan pada hasil uji regresi logistik ganda menunjukkan tidak ada pengaruh umur terhadap pemakaian alat kontrasepsi. Umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang termasuk dalam pemakaian alat kontrasepsi. 1. Dari tabulasi silang dapat dilihat bahwa responden dengan umur risiko tinggi yang tidak memakai alat kontrasepsi sebanyak 85% dan yang memakai 15%. Pada penelitian ini umur tidak berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi karena responden pada kategori umur risiko tinggi justru banyak yang tidak memakai alat kontrasepsi.033). pengetahuan dan sikap.

1999).4% dan yang memiliki anak ≤ 2 76 orang sebesar 21. Faktor umur sangat berpengaruh terhadap aspek reproduksi manusia terutama dalam pengaturan jumlah anak yang dilahirkan dan waktu persalinan. dilarang suami dan alasan kesehatan. maka responden akan mengusahakan dengan sungguh-sungguh untuk memakai alat kontrasepsi Hasil tabulasi silang antara kategori umur dengan jumlah anak didapat bahwa umur dengan risiko tinggi yang memiliki anak > 2 orang sebesar 47. Sedangkan umur dengan kategori risiko rendah yang memiliki anak > 2 orang sebesar 38.6%.93 cukup. sehingga berhubungan erat dengan pemakaian alat kontrasepsi. Umur juga berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi. maka lebih efektif menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang (BKKBN. ingin punya anak laki-laki. ingin punya anak perempuan. Jawaban yang diberikan oleh responden mayoritas mengatakan masih ingin punya anak. .5% dan yang memiliki anak ≤ 2 orang sebesar 52.5%. yang kelak berhubungan pula dengan kesehatan ibu. Alasan inilah yang mengakibatkan responden tidak memakai alat kontrasepsi. Analisa BKKBN tentang SDKI 2002/2003 mengatakan bahwa umur di bawah 20 tahun dan di atas 35 tahun sangat berisiko terhadap kehamilan dan melahirkan. bila umur lebih dari 35 tahun. Kontrasepsi rasional harus mempertimbangkan umur akseptor. makin tua umur istri maka pemilihan alat kontrasepsi ke arah alat yang mempunyai efektifitas lebih tinggi yakni metode kontrasepsi jangka panjang.

berpikir. Pengaruh Pendidikan terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden dengan kategori pendidikan dasar 66% dan 80. Demikian juga sebaliknya makin rendah tingkat pendidikan. Pada penelitian ini didapat bahwa 71% pendidikan suami adalah pendidikan dasar. responden yang tidak memakai alat kontrasepsi makin meningkat.3% tidak memakai kontrasepsi. 22% menengah dan 7% tinggi. pemakaian alat kontrasepsinya makin menurun.94 Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Hasibuan (2001) yang menunjukkan bahwa ada pengaruh umur terhadap pemakaian metoda kontrasepsi (Sig=0.030). 2. tingkat pendidikan suami yang mayoritas . sedangkan hasil uji regresi logistik ganda menunjukkan tidak ada pengaruh pendidikan terhadap pemakaian alat kontrasepsi.012). Hal ini juga akan mempengaruhi secara langsung seseorang dalam hal pengetahuannya akan orientasi hidupnya termasuk dalam merencanakan keluarganya (Gerungan. bersikap. Dari tabulasi silang dapat dilihat bahwa peningkatan pendidikan tidak diikuti dengan peningkatan pemakaian alat kontrasepsi atau dengan kata lain makin tinggi tingkat pendidikan. Hasil uji chi square memperlihatkan ada hubungan pendidikan dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. Semakin tinggi tingkat pendidikan akan jelas mempengaruhi seorang pribadi dalam berpendapat. 1986). lebih mandiri dan rasional dalam mengambil keputusan dan tindakan.

95 tingkat dasar tersebut diperkirakan menjadi salah satu penyebab yang mengakibatkan masih rendahnya pemakaian alat kontrasepsi. Seorang istri mungkin menggunakan alat kontrasepsi setelah mempunyai jumlah anak tertentu dan juga umur anak yang masih hidup. Pengaruh Jumlah Anak terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi Hasil uji statistik menunjukkan ada pengaruh jumlah anak terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. pemakaian alat kontrasepsi ini juga dihubungkan dengan alasan responden yang masih menginginkan anak atau jenis kelamin tertentu seperti telah diuraikan diatas sehingga meskipun telah memiliki anak 2 orang responden belum memakai alat kontrasepsi. artinya makin banyak anak yang dimiliki oleh responden akan diikuti dengan peningkatan pemakaian alat kontrasepsi. Istilah “dua anak saja” belum menjadi tujuan pokok dalam keluarga. maka akan semakin memiliki risiko kematian dalam persalinan. Sedangkan jumlah anak > 2 orang menunjukkan bahwa respons terhadap pelayanan KB dan kontrasepsi belum baik.008). Tujuan normatif program KB adalah untuk menciptakan NKKBS. maka diharapkan keluarga sudah harus mampu membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi keluarga dengan cara mengatur . Semakin sering seorang wanita melahirkan anak. Selain tingkat pendidikan yang masih rendah. Kemungkinan seorang istri untuk menambah kelahiran tergantung kepada jumlah anak yang telah dilahirkannya. 3.

Masyarakat di daerah penelitian pada umumnya bekerja di sektor pertanian dan perkebunan yang memerlukan sumber daya manusia sebagai tenaga kerja untuk mengelolanya. ingin punya anak laki-laki 13%. ingin punya anak perempuan 4%. Jawaban yang diberikan oleh responden tentang alasan mereka tidak menggunakan alat kontrasepsi adalah 48% mengatakan masih ingin punya anak. dalam Mutiara (1998) melaporkan bahwa pada awal progam KB. anak merupakan sumber daya yang diharapkan dapat membantu orangtua dalam bekerja dan berusaha. dapat memberikan balas jasa ekonomi atau membantu dalam kegiatan berproduksi serta merupakan sumber yang dapat menghidupi orang tua di . anak dilihat dari dua segi kegunaannya yaitu (utility) dan biaya (cost). Hal ini menunjukkan bahwa 2 orang anak masih dianggap kurang atau belum cukup. Soeradji. Hal ini mungkin salah satu penyebab yang berpengaruh terhadap banyaknya jumlah anak yang dimiliki. Gejala ini melandasi pengaruh jumlah anak terhadap penggunaan alat kontrasepsi.96 kelahiran anak supaya diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan berjalannya waktu dan pelaksanaan program maka lebih banyak wanita dengan paritas yang lebih kecil akan menggunakan alat kontrasepsi. penggunaan alat kontrasepsi adalah mereka yang telah mempunyai anak cukup banyak. Kegunaannya ialah memberikan kepuasan. dilarang suami 5% dan alasan kesehatan 2%. dkk. Menurut Hatmadji (2004) yang mengutip pendapat Leibenstein.

Pengaruh Pengetahuan terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi Hasil uji statistik menunjukkan ada pengaruh yang bermakna antara tingkat pengetahuan terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. . Sedangkan pengeluaran untuk membesarkan anak adalah biaya dari mempunyai anak tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Blum yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003) yang mengatakan bahwa tindakan seorang individu termasuk kemandirian dan tanggung jawabnya dalam berperilaku sangat dipengaruhi oleh domain kognitif atau pengetahuan. Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan berbanding lurus dengan pemakaian alat kontrasepsi.97 masa depan. juga dalam memilih tempat pelayanan yang lebih sesuai dan lengkap karena wawasan sudah lebih baik. artinya bahwa semakin rendah pengetahuan responden maka pemakaian alat kontrasepsi juga rendah. pilihan efektif tidaknya. 4. Pengetahuan peserta KB yang baik tentang hakekat program KB akan mempengaruhi mereka dalam memilih metode/alat kontrasepsi yang akan digunakan termasuk keleluasaan atau kebebasan pilihan. kecocokan. kenyamanan dan keamanan. sehingga dengan demikian kesadaran mereka tinggi untuk terus memanfaatkan pelayanan. Demikian juga sebaliknya jika pengetahuan responden tinggi maka pemakaian alat kontrasepsi juga akan meningkat.014). Tindakan kemandirian setiap individu yang lebih nyata akan lebih langgeng dan bertahan apabila hal ini didasari oleh pengetahuan yang kuat.

Juga sejalan dengan penelitian Pardosi (2005) yang mengatakan bahwa secara statistik diperoleh hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan tingkat kemandirian akseptor KB aktif dalam pemanfaatan program KB mandiri LIMAS (Sig=0. karena responden tidak mendapatkan pendidikan yang memadai untuk menambah wawasan mereka tentang alat kontrasepsi. Pada umumnya responden dianggap sebagai pasien saja tanpa dibekali dengan pendidikan yang baik tentang KB dan kesehatan reproduksi (KR). sehingga akseptor tidak memiliki pengetahuan yang baik tentang kontrasepsi. Pada awal program.001). Hal lain yang mempengaruhi adalah petugas PLKB yang tidak ada lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Hal inilah yang berdampak pada rendahnya pemanfaatan pelayanan KB. para PLKB inilah sebagai garda depan dalam menyukseskan program KB. demikian juga dengan pendidikan suami.98 Penelitian Prihastuti (2005) menunjukkan bahwa informasi yang diberikan petugas kepada akseptor tentang metode KB-nya masih kurang memadai.001). Dari . setelah desentralisasi PLKB tidak dapat lagi melaksanakan tugas seperti dulu karena telah dilebur dengan lembaga lain. Pengetahuan responden yang rendah berhubungan juga dengan tingkat pendidikan yang masih rendah yaitu mayoritas berada pada ketegori pendidikan dasar. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Meutia (1997) yang mengatakan bahwa ada pengaruh pengetahuan akseptor KB terhadap utilitas alat kontrasepsi Implant (Sig=0. Pendidikan yang rendah akan berhubungan dengan pengetahuan yang rendah pula.

maka dia juga akan memberi tindakan atau tanggapan yang negatif pula yaitu dengan tidak menggunakannya atau memakainya. Sikap responden yang mayoritas tidak baik berhubungan pula dengan pendidikan yang lebih banyak pada kategori pendidikan dasar dan tingkat pengetahuan yang juga mayoritas pada kategori rendah. 5. Sikap yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penerimaan terhadap tujuan yang ditawarkan dalam program KB. sehingga berpengaruh terhadap pola pikir dan bertindak termasuk dalam pemakaian alat kotrasepsi. Artinya bahwa ketika responden memberi penilaian yang kurang baik terhadap program KB dan pemakaian alat kontrassepsi.99 penelitian terlihat bahwa 100% responden mengetahui KB dan alat kontrasepsi dari PLKB tetapi sekarang hal itu tidak ada lagi akibatnya responden tidak mendapatkan informasi yang mereka harapkan. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. Contohnya adalah seperti sikap setuju atau tidaknya mereka terhadap informasi alat kontrasepsi dan KB. Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa sikap responden yang belum baik juga diikuti dengan pemakaian alat kontrasepsi yang masih rendah.041). pengertian . Pengaruh Sikap terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada pengaruh sikap terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. manfaat dan juga kegunaan pemakaian alat kontrasepsi.

2. serta kesediaannya mendatangi tempat pelayanan. sedangkan . Faktor Pendukung Faktor pendukung dalam penelitian ini adalah ketersediaan alat kontrasepsi dan keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Pardosi (2005) yang mengatakan bahwa diperoleh hubungan yang bermakna antara sikap dengan tingkat kemandirian akseptor KB aktif dalam pemanfaatan program KB mandiri LIMAS (Sig=0. demikian pula jika alat kontrasepsi tidak tersedia maka responden yang tidak memakai juga akan meningkat. Menurut Manuaba (1998). fasilitas dan sarananya. juga kesediaan mereka memenuhi kebutuhan sendiri. Jika alat kontrasepsi tersedia maka akan diikuti dengan pemakaian yang meningkat. Pengaruh Ketersediaan Alat Kontrasepsi terhadap Pemakaian Alat Kontasepsi Uji statistik menunjukkan bahwa ada pengaruh yang bermakna antara ketersediaan pelayanan alat kontrasepsi terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.001). 1. Adanya keterkaitan antara pendapatan dengan kemampuan membayar jelas berhubungan dengan masalah ekonomi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat pemakaian atau pemanfaatan alat kontrasepsi berbanding lurus dengan ketersediaan alat kontrasepsinya. pekerjaan dan tersedianya layanan kesehatan yang terjangkau.100 alat kontrasepsi dan manfaatnya. faktor-fakor yang mempengaruhi alasan pemilihan metode kontrasepsi diantaranya adalah tingkat ekonomi.000). 5.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari puskesmas Rambah Samo ternyata tidak semua jenis/metode kontrasepsi tersedia. Berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap responden didapat bahwa responden yang memakai kontrasepsi pada umumnya menggunakan metode kontrasepsi pil (39%) dan suntik (25%) yang harganya tergolong murah. Memberikan konsultasi medis mungkin dapat dipertimbangkan sebagai salah satu upaya promosi. Implant dan IUD tidak tersedia karena harganya yang cukup mahal. tersedia atau tidaknya fasilitas atau sarana kesehatan (tempat pelayanan kontrasepsi). Disamping itu daya beli individu juga dapat mempengaruhi penggunaan kontrasepsi. Promosi metode tersebut – melalui media. oleh dokter dan sebagainya – dapat meningkatkan secara nyata pemilihan metode kontrasepsi. pertama kali suatu metode kontrasepsi harus tersedia dan mudah didapat. Ketersediaan alat kontrasepsi terwujud dalam bentuk fisik. Untuk dapat digunakan. Secara tidak langsung daya beli individu ini juga dipengaruhi oleh ada tidaknya subsidi dari pemerintah. Sedangkan Suntik KB kadang tidak tersedia sehingga akseptor KB mendapatkannya di praktek dokter atau bidan. Suntik dan . melalui kontak langsung oleh petugas program KB. dan kalaupun ada pembagian dari Dinas Kesehatan Kabupaten atau Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil jumlahnya sangat sedikit dan biasanya diberikan jika ada acara-acara tertentu yang berhubungan dengan KB dan kesehatan.101 kemampuan membayar bisa tergantung variabel non ekonomi dalam hal selera atau persepsi individu terhadap suatu barang atau jasa.

15.000.. 5. Ketersediaan ini juga berkaitan dengan struktur organisasi pada lembaga BKKBN yang berubah setelah orde baru.-.000.-. Sejak BKKBN dilebur . Harga ini tergolong murah jika mereka harus menggunakan alat kontrasepsi spiral atau implant yang harganya tergolong mahal dan mereka harus mengeluarkan dana rata-rata Rp. Jika dahulu masalah alat kontrasepsi ditangani oleh BKKBN sekarang hal tersebut sudah berubah. tetapi karena responden harus mengeluarkan biaya sekaligus maka nilai tersebut terasa mahal. Petugas cenderung memprioritaskan dan membatasi suatu metode tertentu karena keterbatasan persediaan. Berbeda dengan suntik dan pil yang bisa mereka dapatkan dengan harga murah meskipun dengan pemakaian jangka waktu yang relatif pendek (sekali tiap bulan atau tiga bulan) untuk suntik dan harus diminum setiap hari untuk pil. 200.000.. Konsumen tidak dapat memilih metode yang sesuai dengan tujuan kontrasepsinya karena alat tidak tersedia sehingga faktor ini akan berpengaruh terhadap pemanfaatan pelayanan KB. 300.untuk sekali suntik dan untuk pil bisa mereka dapatkan secara gratis atau membayar sebanyak Rp.102 pil biasanya mereka dapatkan di puskesmas dengan mengeluarkan biaya rata-rata Rp.000. Menurut Kartono dalam Hutauruk (2006). Meskipun secara nominal harga ini tergolong mahal tetapi jika dihitung dengan manfaat pemakaian jangka waktu yang lama maka sebenarnya metode ini lebih murah.sampai Rp. PUS tidak memanfaatkan pelayanan KB karena penyedia pelayanan KB tidak menyediakan semua metode kontrasepsi.

Untuk pengadaan di Dinas Kesehatan sendiri juga mengalami kendala karena terbentur dengan masalah biaya yang terbatas dan lebih banyak diprioritaskan pada pengadaan obat-obatan dan vaksin. Kurangnya advokasi kepada legislatif dan eksekutif juga merupakan hal yang mengakibatkan rendahnya dana yang dialokasikan untuk pengadaan alat kontrasepsi. hanya menunggu pengadaan dari BKKBN pusat. 2005). Pengadaan alat kontrasepsi menjadi terhenti. kuratif dan rehabilitatif) bagi . Pelaksanaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin pada tahun 2008 dinamakan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). preventif. Tidak semua anggota legislatif yang concern pada masalah tersebut dan menganggap bahwa program KB merupakan urusan keluarga. karena kedua belah pihak merasa bahwa masalah alat kontrasepsi bukan urusannya dan lebih memprioritaskan pada program-program yang pokok. Selain itu terjadi pula lempar tanggung jawab. Ruang lingkup Program Jamkesmas pada tahun 2008 diutamakan pada upaya pelayanan kesehatan perorangan (promotif. Hal inilah yang mengakibatkan akseptor susah untuk mendapatkan alat kontrasepsi. sejak tahun 2005 Pemerintah melaksanakan mekanisme asuransi kesehatan yang dikenal dengan Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin (Askeskin).103 dan digabung dengan Dinas Catatan Sipil dan Kependudukan maka kegiatan BKKBN menjadi tidak berjalan. padahal kesehatan merupakan hak semua orang dan pemerintah seharusnya menjaminnya (Prihastuti. Untuk menjamin akses penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan.

Hal ini diungkapkan oleh Herlianto (2008) yang mangatakan bahwa ditengah otonomi daerah akseptor KB sulit untuk memanfaatkan pelayanan KB karena keterbatasan biaya untuk memperoleh alat/metode KB dan mengakibatkan terjadinya drop out karena akseptor KB tidak lagi memperoleh pelayanan KB gratis dalam safari KB seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini mengakibatkan cakupan pelayanan alat kontrasepsi menjadi tidak satu kesatuan karena terkendala pada pengadaan alat kontrasepsi yang disediakan oleh BKKBN. disamping upaya pelayanan kesehatan masyarakat yang terbatas pada upaya pencegahan yang bersifat sekunder. Kendala inilah yang harus segera diatasi masyarakat menjadi mengeluarkan biaya untuk membeli alat kontrasepsi yang sebenarnya bisa mereka dapatkan secara gratis. namun alat kontrasepsi disediakan oleh BKKBN. sehingga dapat memberi solusi untuk dapat membantu atau meringankan beban penduduk miskin dengan tetap memberi pelayanan kesehatan KB dan kontrasepsi dengan gratis. Untuk penduduk miskin biaya yang harus dikeluarkan untuk pembelian alat kontrasepsi tersebut tentu juga memberatkan selain juga mereka harus mengeluarkan biaya untuk hidup sehari-hari. Pelayanan KB termasuk dalam pelayanan rawat jalan tingkat primer.104 peserta Jamkesmas. . Oleh karena itulah diharapkan pemerintah pusat khususnya pemerintah daerah memberi perhatian khusus dalam hal ini. Dengan pelayanan tersebut diharapkan akseptor KB yang sedang memakai alat kontrasepsi tidak menjadi drop out karena putus pakai.

Jarak bukanlah sesuatu hal yang dapat menghalangi mereka untuk mendapatkan pelayanan kesehatan termasuk pelayanan alat kontrasepsi. yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah faktor organisasional yaitu ketersediaan sumber daya baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Jika mereka membutuhkan pelayanan maka seharusnya mereka tidak akan memperhitungkan jarak dan kondisi jalan. Hasil penelitian Hutauruk (2006) juga mengatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara ketersediaan pelayanan KB dengan utilisasi pelayanan KB (Sig=0. waktu tempuh dan biaya berhubungan dengan pemakaian alat kontrasepsi. Pengaruh Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi terhadap Pemakaian Alat Kontasepsi Keterjangkauan pelayanan dalam hal ini dilihat dari 3 (tiga) kategori yaitu dari segi jarak.000). sedangkan responden yang jarak rumahnya jauh dan . 2. Hal ini dapat dilihat dari responden yang jarak rumahnya dekat tetapi 89. Suatu pelayanan hanya bisa digunakan apabila jasa tersebut tersedia atau bisa didapat tanpa mempertimbangkan sulit atau mudahnya penggunaannya. Hasil ini menunjukkan bahwa jauh dekatnya jarak di lokasi penelitian akan mempengaruhi mereka dalam pemanfaatan pelayanan. waktu tempuh dan biaya. sehingga dapat dikatakan bahwa jarak. Masing-masing sub variabel tersebut setelah diuji dengan uji chi-square menunjukkan hubungan yang Signifikan dengan pemakaian alat kontrasepsi.7% tidak memakai alat kontrasepsi.105 Menurut Rochmah dalam Hutauruk (2005).

faktor yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan yaitu aksesibilitas terhadap pelayanan kesehatan seperti jarak tempuh dan waktu yang terbuang untuk pergi ke fasilitas. atau keramahan petugas . Peningkatan akses dipengaruhi oleh berkurangnya jarak. Dari kondisi tersebut dapat dikatakan bahwa jarak bukan suatu hal yang dapat menyebabkan responden menjadi terganggu untuk mendapatkan alat kontrasepsi. biaya. Fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada belum digunakan dengan efisien oleh masyarakat karena lokasi pusat-pusat pelayanan tidak berada dalam radius masyarakat banyak dan lebih banyak berpusat di kota-kota dan lokasi sarana yang tidak terjangkau dari segi perhubungan. sosial budaya terhadap pelayanan kesehatan modern. waktu tempuh ataupun biaya tempuh. Menurut Rafael dalam Hutauruk (2005). Hubungan antara akses geografis dan volume dari pelayanan bergantung dari jenis pelayanan dan jenis sumber daya yang ada.106 tidak memakai alat kontrasepsi sebanyak 64.8%. waktu tempuh atau biaya tempuh. kendala. pemanfaatan pelayanan kesehatan berhubungan dengan akses geografis. Menurut Depkes RI (2007). yang dimaksudkan dalam hal ini adalah tempat memfasilitasi atau menghambat pemanfaatan. Meskipun sebenarnya jarak merupakan suatu kondisi yang menghambat seseorang dalam melakukan suatu tindakan atau perbuatan. Jika mereka membutuhkan alat kontrasepsi tersebut maka mereka tidak akan mempermasalahkan jarak ke puskesmas. Ini adalah hubungan antara lokasi suplai dan lokasi dari klien yang dapat diukur dengan jarak.

107 pelayanan kesehatan. Hal ini akan berpengaruh pada kemampuan mereka untuk membayar atau membeli barang dan jasa termasuk untuk membeli alat kontrasepsi. Menurut Manuaba (1998). faktor-faktor yang mempengaruhi alasan pemilihan metode kontrasepsi diantaranya adalah tingkat ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah berprofesi sebagai petani sehingga dilihar dari segi ekonomi mereka berada pada golongan ekonomi menengah ke bawah. Tempat pelayanan yang tidak strategis atau sangat sulit dicapai menyebabkan berkurangnya pemanfaatan pelayanan kesehatan. Adanya keterkaitan antara pendapatan dengan kemampuan membayar jelas berhubungan dengan masalah ekonomi. Keterjangkauan dari segi biaya pada umumnya banyak berhubungan dengan ketersediaan seperti yang telah dibahas sebelumnya. sedangkan kemampuan membayar bisa tergantung variabel non ekonomi dalam hal selera atau persepsi individu terhadap suatu barang atau jasa. Sedangkan dari segi biaya 95% responden mengeluarkan biaya untuk mendapatkan alat kontrasepsi dengan harga yang bervariasi sesuai dengan pilihan metode kontrasepsi. Keterjangkauan dari segi biaya berhubungan dengan tersedia atau tidak tersedianya alat kontrasepsi tersebut. dapat ditempuh dalam waktu ≤ 30 menit (63%) dengan berjalan kaki (47%). pekerjaan dan tersedianya layanan kesehatan yang terjangkau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak rumah reponden 29% dekat dengan puskesmas. Mereka dihadapkan pada terbatasnya pilihan yang ada dan sesuai dengan . menggunakan sepeda (33%) ataupun sepeda motor (30%).

5%. sedangkan petugas kesehatan mendukung dan mereka memakai alat kontrasepsi sebanyak 43.005). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada pengaruh dukungan petugas kesehatan terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. Faktor Pendorong Faktor pendorong dalam penelitian ini adalah dukungan petugas kesehatan dan pengambil keputusan dalam keluarga. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan petugas kesehatan berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi. Petugas kesehatan berperan dalam memberikan informasi.8%. sehingga mayoritas pilihannya adalah metode kontrasepsi pil dan suntik yang dari segi biaya tergolong murah meskipun jangka waktu pemakaiannya singkat. 5. penyuluhan dan menjelaskan tentang alat kontrasepsi.3. Petugas kesehatan sangat banyak berperan dalam tahap akhir pemakaian alat kontrasepsi. Pengaruh Kontasepsi Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang mengatakan petugas kesehatan tidak mendukung dan mereka tidak memakai alat kontrasepsi sebanyak 86. Petugas kesehatan yang dimaksud dalam hal ini adalah bidan atau perawat yang bertugas di klinik kesehatan ibu dan anak dan keluarga berencana (KIA/KB). Calon akseptor yang masih ragu-ragu dalam pemakaian alat kontrasepsi akhirnya memutuskan untuk memakai alat kontrasepsi setelah mendapat dorongan Dukungan Petugas Kesehatan terhadap Pemakaian Alat . 1.108 kondisi keuangan.

Bidan hanya datang setengah hari saja dan mereka pada umumnya tinggal menetap di ibukota kecamatan. Pelayanan yang kurang baik seperti ini akan menjadi citra buruk bagi pelayanan kesehatan terutama petugas kesehatan itu sendiri. Banyak masyarakat yang akhirnya enggan datang untuk berobat ataupun konsultasi tentang masalah kesehatannya karena sering kecewa bidan tidak berada di tempat. Kerjasama ini sudah berjalan sejak zaman orde baru yang mengakibatkan meningkatnya akseptor KB. namun dalam kenyataannya para bidan di desa tidak tinggal menetap di polindes tersebut. Hal ini tentu harus mendapat perhatian dari kepala puskesmas Kecamatan Rambah Samo maupun Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu. Petugas PLKB biasanya membujuk para calon akseptor agar mau memakai alat kontrasepsi. agar lebih meningkatkan mutu pelayanan dengan memberi sanksi yang tegas jika petugas kesehatan terutama bidan di desa yang tidak mau melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh. Kecamatan Rambah Samo sendiri telah mempunyai polindes di tiap-tiap desa. Selain petugas kesehatan. Setelah memberikan penjelasan tentang alat kontrasepsi petugas PLKB akan merujuk calon akseptor ke puskesmas untuk proses pemasangan alat kontrasepsi.109 maupun anjuran dari petugas kesehatan. Petugas kesehatan merupakan pihak yang mengambil peran dalam tahap akhir proses pemakaian alat kontrasepsi. peran petugas PLKB dalam hal pemakaian alat kontrasepsi juga tidak dapat diabaikan. sehingga pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan perubahan sistem organisasi peran petugas PLKB banyak .

sehingga calon akseptor yang belum mengambil keputusan akhirnya memutuskan untuk memakai alat kontrasepsi setelah diyakinkan oleh petugas kesehatan. Meskipun sering tidak memiliki pilihan dalam hal jenis alat kontrasepsi yang dikehendaki.110 mengalami perubahan. sehingga mereka hanya dapat melayani para calon akseptor yang datang ke puskesmas. Depkes RI (2007) mengatakan bahwa tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dari tenaga medis yang terampil serta kesediaan masyarakat untuk merubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat pemakaian alat kontrasepsi. Namun dalam perkembangannya tugas tersebut tidak dapat terlaksana dengan baik. sehingga otomatis peran tersebut digantikan oleh petugas kesehatan. Di puskesmas inilah petugas kesehatan memegang peran penting karena mereka harus dapat meyakinkan para calon akseptor untuk memakai alat kontrasepsi. Di daerah penelitian sendiri petugas PLKB sudah tidak ada lagi. . Petugas kesehatan juga tidak memiliki dana yang cukup untuk program tersebut. Petugas kesehatan menjadi pihak yang mengkampanyekan program KB kepada masyarakat. Dengan kekuatan yang mereka miliki petugas kesehatan biasanya mampu menekan ataupun mendorong calon akseptor untuk memakai alat kontrasepsi. namun mereka menyerahkan hal tersebut kepada petugas kesehatan.

menyarankan untuk pemeriksaan rutin dan mengatakan bahwa pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan memuaskan. sehingga anjuran atau keputusan yang dibuat akan dilaksanakan oleh masyarakat.111 Berdasarkan indikator dukungan petugas kesehatan. Hubungan tersebut lebih memudahkan mereka jika calon akseptor ingin memakai alat kontrasepsi. Petugas kesehatan juga menjelaskan terlebih dahulu tentang alat kontrasepsi yang akan dipilih serta efek sampingnya. tidak sekedar hubungan antara orang sakit dengan petugas kesehatan. menyarankan agar ibu ikut KB atau menggunakan kontrasepsi. Konsumen kontrasepsi adalah orang yang datang dalam keadaan sehat. memberi kesempatan atau kebebasan dalam memilih alat kontrasepsi. mayoritas responden mengatakan petugas kesehatan melakukan penyuluhan rutin tentang KB dan alat kontrasepsi. klien bukanlah orang sakit yang ingin disembuhkan dengan sikap pasrah terhadap segala keputusan yang diambil penyedia layanan. Demikian juga dalam hal pemakaian alat kontrasepsi. mempunyai kesadaran dan kemampuan untuk melakukan pilihan . Adanya hubungan yang akrab antara perawat/bidan dengan masyarakat lebih memudahkan mereka dalam menggerakkan masyarakat. Juliantoro (2000) mengatakan bahwa dalam pelayanan kontrasepsi. Petugas kesehatan juga merupakan sosok yang masih dianggap panutan di masyarakat. hubungan antara penyedia pelayanan dengan konsumen kontrasepsi tidak sama dengan hubungan dokter dengan pasien. Dalam pelayanan kontrasepsi.

2. Bila hal ini diperhatikan maka pemanfaatan pelayanan KB dapat meningkat.112 sehingga pelayanan KB harus berbeda dengan pelayanan orang sakit. Program KB masih harus tetap disosialisasikan kepada masyarakat seperti yang dilakukan oleh petugas PLKB pada masa yang lalu. Oleh karena itu diharapkan petugas kesehatan dapat mengubah pola/cara pikir mereka dalam menghadapi para konsumen kontrasepsi. Hasil uji chi square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan pengambil keputusan dalam keluarga dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. karena suami/isteri . sehingga program KB terus berlanjut dan berkesinambungan. Pengaruh Pengambil Keputusan dalam Keluarga terhadap Pemakaian Alat Kontasepsi. Dengan kata lain tidak ada perbedaan antara musyawarah suami-istri dengan suami atau istri saja dalam mengambil keputusan dalam pemakaian alat kontrasepsi. mereka harus tetap meningkatkan kemampuan dan keahlian sehingga dapat memberikan informasi dan penyuluhan kepada masyarakat sehingga NKKBS dapat diterima dengan positif.949). Friedman (1998) dan Sarwono (2007) mengatakan bahwa ikatan suami isteri yang kuat sangat membantu ketika keluarga menghadapi masalah. keputusan dapat diambil oleh suami atau istri saja dengan memperhatikan segala risiko yang mungkin timbul akibat dari pemakaian alat kontrasepsi. Maksudnya adalah bahwa dalam hal pemakaian alat kontrasepsi suami dan istri tidak begitu mempermasalahkan musyawarah.

4. saling kerjasama dalam pemakaian. sedangkan kemampuan membayar bisa tergantung variabel non ekonomi dalam hal selera atau persepsi individu terhadap suatu barang atau jasa (Manuaba. Hal itu disebabkan orang yang paling bertanggung jawab terhadap keluarganya adalah pasangan itu sendiri. Hartanto (2004) mengatakan bahwa metoda kontrasepsi tidak dapat dipakai istri tanpa kerjasama suami dan saling percaya. diketahui bahwa variabel yang paling dominan pengaruhnya terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah ketersediaan alat kontrasepsi. Untuk dapat digunakan. Keadaan ideal bahwa pasangan suami istri harus bersama memilih metoda kontrasepsi yang terbaik. Ketersediaan alat kontrasepsi terwujud dalam bentuk fisik.113 sangat membutuhkan dukungan dari pasangannya. 1998). pertama kali suatu metode kontrasepsi harus tersedia dan mudah didapat. 5. pekerjaan dan tersedianya layanan kesehatan yang terjangkau. Dukungan tersebut akan tercipta apabila hubungan interpersonal keduanya baik. tersedia atau tidaknya fasilitas atau sarana kesehatan (tempat pelayanan kontrasepsi). Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa faktor-fakor yang mempengaruhi alasan pemilihan metode kontrasepsi diantaranya adalah tingkat ekonomi. Faktor Paling Dominan terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi Berdasarkan uji regresi logistik ganda. Adanya keterkaitan antara pendapatan dengan kemampuan membayar berhubungan dengan masalah ekonomi. . membayar biaya pengeluaran untuk kontrasepsi dan memperhatikan tanda bahaya pemakaian.

Menurut Kartono dalam Hutauruk (2006). Hal yang sama juga diungkapkan oleh Herlianto (2008). secara tidak langsung daya beli individu ini juga dipengaruhi oleh ada tidaknya subsidi dari pemerintah. Hasil penelitian Hutauruk (2006) juga menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara ketersediaan pelayanan KB dengan utilisasi pelayanan KB (Sig=0. Konsumen tidak dapat memilih metode yang sesuai dengan tujuan kontrasepsinya karena alat tidak tersedia sehingga faktor ini akan berpengaruh terhadap pemanfaatan pelayanan KB. baik dari segi kualitas maupun kuantitas.114 Disamping itu daya beli individu juga dapat mempengaruhi penggunaan kontrasepsi. Rochmah dalam Hutauruk (2006) mengatakan yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah faktor organisasional yaitu ketersediaan sumber daya. Suatu pelayanan hanya bisa digunakan apabila jasa tersebut tersedia atau bisa didapat tanpa mempertimbangkan sulit atau mudahnya penggunaannya. Petugas cenderung memprioritaskan dan membatasi suatu metode tertentu karena keterbatasan persediaan. . bahwa ditengah otonomi daerah akseptor KB sulit untuk memanfaatkan pelayanan KB karena keterbatasan biaya untuk memperoleh alat/metode KB dan mengakibatkan terjadinya drop out karena akseptor KB tidak lagi memperoleh pelayanan KB gratis dalam safari KB seperti pada tahun-tahun sebelumnya. PUS tidak memanfaatkan pelayanan KB karena penyedia pelayanan KB tidak menyediakan semua metode kontrasepsi.000).

005) terhadap pemakaian alat kontrasepsi 4. 6. Proporsi istri PUS yang tidak memakai alat kontrasepsi sebesar 72%. pengetahuan (Sig=0.000).112).014). Variabel yang dominan berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah ketersediaan alat kontrasepsi (Koefisien B = 3. Saran 1.1. pendidikan (Sig=0.033).002) dengan pemakaian alat kontrasepsi. 3.000) dan dukungan petugas kesehatan (Sig=0. 2.016).025). waktu tempuh (Sig=0. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian.115 BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6. sikap (Sig=0. pengetahuan (Sig=0. jumlah anak (Sig=0.023).001) dan dukungan petugas kesehatan (Sig=0. ketersediaan alat kontrasepsi (Sig=0. ketersediaan alat kontrasepsi (Sig=0.041).008). sikap (Sig=0. biaya (Sig=0.000). maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan yang Signifikan antara umur (Sig=0.030).1. Kepada Dinas Kesehatan dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Rokan Hulu perlu melakukan kerjasama dan pendekatan kepada penentu kebijakan 99 .001). jarak (Sig=0. Hasil analisis multivariat menunjukkan ada pengaruh yang bermakna antara jumlah anak (Sig=0.

Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu perlu melakukan peningkatan kemampuan petugas kesehatan sehingga mampu memberikan informasi tentang alat kontrasepsi dan dapat memahami serta menyadari bahwa akseptor memiliki hak reproduksi sehat dan hak konsumen pengguna alat kontrasepsi. 2. 3.116 lainnya dalam mengalokasikan dana untuk pelayanan alat kontrasepsi gratis kepada masyarakat khususnya kepada keluarga miskin. Juga perlu melakukan penyuluhan kepada masyarakat agar dapat memahami dan menerima norma keluarga kecil sehingga diharapkan mampu membentuk keluarga bahagia dan sejahtera melalui pengaturan atau pembatasan kelahiran anak. .

_______.. Penerbit Rineka Cipta. 2007a. Analisis Berita Kependudukan: Triwulan Keempat 2003. Penerbit Pustaka Pelajar. University of Chicago BKKBN. Tingkat dan Perkembangan Pemakaian Alat Kontrasepsi Menurut Parameter Demografi Sosioekonomi di Indonesia Tahun 1994-1997.id diakses tanggal 10 Juni 2009. Cukilan Data Program Keluarga Berencana Nasional. Jakarta. 2004. Indikator Kesejahteraan Rakyat 2006. Yogyakarta. BKKBN. _______. Communication Laboratory Community & Family Studi Center. 255 Tahun XXXI. Nuansa Psikologi Pembangunan. 1995. S. Statistik 60 Tahun Indonesia Merdeka. 1999. . Audience Research for Improving Family Planning Comunication Program. 2003. Memecahkan Kasus Statistik Deskriptif. _______. Tahun 33 (4): 1-8. Prosedur Penelitian. 256 Tahun XXXII.go. Parametrik dan Non Parametrik.. Badan Pusat Statistik.117 DAFTAR PUSTAKA Ancok. Dj. BPS. 2005. Jakarta. Statistik Indonesia 2007. BPS. _________________. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Cornelius. Beni. 101 . Jakarta. Jakarta. Jakarta. Jakarta.. Hasil Pelaksanaan Program KB Nasional. No. Jakarta. T. 1992. BPS. _________________. Informasi Aspek Medis Alat Kontrasepsi LIMAS. Yogyakarta. 2005. _______. Cukilan Data Program Keluarga Berencana Nasional. R. 2009. ______.. http//www. Jakarta. Hasil Pelaksanaan Program KB Nasional. _______. Jakarta. Jumlah Penduduk Miskin Berkurang di 2007. 1990. Edisi Revisi VI.bkkbn. J. 2004. Arikunto. 1980. No. Jakarta. Bertrand. 2006.. Warta Demografi. 2003. Dua Dasawarsa Gerakan KB Nasional. 2007b. Penerbit Andi.

com/rubrik/arsipaktual. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Rokan Hulu. _________. 2001. 1986. Hatmadji. Pasirpengaraian. New York. Gerungan. Juliantoro. Skripsi. Hasibuan.. Jakarta.A. 2008. Jakarta. 2004..H. 2006. Jakarta. 2008. H. D. Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu.. Fertilitas (Kelahiran) dalam Dasar-dasar Demografi. Profil Kesehatan Indonesia 2005. Tesis. Psikologi Sosial... Friedman. 1998.118 Depkes RI. 2000. S. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Metoda Kontrasepsi di Kelurahan Sidorame Barat II Kecamatan Medan Perjuangan Kodya Medan Tahun 2001. M. L. diakses tanggal 30 Agustus 2008. W. Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Bandung. Medan. 2007. http//www. Herlianto. McGraw Hill. Analisis Situasi dan Bimbingan Teknis Pengelolaan Pelayanan KB. Fourth Edition. Jakarta. 2008. S. Health Program Planning: An Educational and Ecological Approach.R. Sistem Kesehatan Nasional.. Ledakan Pertumbuhan Penduduk: Keluarga Berencana Tetap Menjadi Kunci.. A. 30 Tahun Cukup. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Penerbit Buku Kedokteran EGC.. Profil Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2007. _________. Jakarta. Medan. Pustaka Sinar Harapan.. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. 2005. Jakarta. Hubungan Karakteristik Wanita Usia Subur (WUS) dan Kualitas Pelayanan KB dengan Utilisasi Pelayanan KB di Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2006. Keperawatan Keluarga: Teori dan Praktek. Eresco.media-indonesia. KB dan Kontrasepsi. Jakarta. D. Pasirpengaraian. Hartanto.E. Hutauruk. and Kreuter M..W. Profil Kependudukan Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2007. 2004. 2001. . 2004. Green. Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Ilmu Kebidanan. 2005. Jakarta.al. I. R. 1997. Analisis Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Kemandirian Akseptor KB Aktif dalam Pemanfaatan Program KB Mandiri di Wilayah Kerja Puskesmas Padang Bulan Kec. T. D. dan Klar. Jakarta. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Depok. Yogyakarta. Medan. Meutia. S. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.. 2003. 2008.W. Mochtar. STARH-INSIST. http//www. 1995. Hosmer Jr. 1998.bkkbn. Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan (Terjemahan Dibyo Pramono)... Notoatmodjo.. et. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Tesis. Jakarta. 2007.W. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Demografi Umum. Penerbit Pustaka Pelajar. Penerbit Buku Kedokteran EGC. I.B. Skripsi. Pardosi.go. Pemantauan Pasangan Usia Subur Melalui Mini Survei Indonesia 2007. Jakarta. S. Pengaruh Karakteristik. Mantra . Cetakan 2. Medan. Lemeshow.I. Yogyakarta.G. 2003. 1998.. Kusuma. Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan.. ______________. Program Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. . . E.. 2005. Penerbit Rineka Cipta. J. dan Sikap Akseptor KB Terhadap Utilitas Alat Kontrasepsi Implant di Kelurahan Kota Matsum-1 Kotamadya Medan. Skripsi. Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Penggunaan Kontrasepsi di Wilayah Indonesia Timur (Analisis Data SDKI 1994). Penerbit Rineka Cipta. Yogyakarta Manuaba. Medan Baru Kodya Medan Tahun 2005. Gadjah Mada University Press. Menyisir dari Pinggir... Pengetahuan... Penerbit Buku Kedokteran EGC. A.119 Kasmiyati. Pratiknya. Jakarta. Edisi 2. 2006. V. 1997. Sinopsis Obstetri Edisi 2.id/ditfor/download.B.php?type=p&prgid=175 diakses tanggal 17 September 2008 . Mutiara. PT RajaGrafindo Persada.

2003.. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. PT RajaGrafindo Persada. Sciortino.. Jakarta. Jakarta. S. M. Riduwan.. Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. L. . Pedoman Klinis Kontrasepsi. dan Efendi. dan Darney.. 2001. 2002. Psikologi Sosial. Jakarta. Anak Tak Terbilang. Siswosudarmo. Faktor yang Berhubungan dengan Keikutsertaan Ibu PUS dalam Program KB Pada Suku Talang Mamak di Desa Seberial Indragiri Hulu Propinsi Riau Tahun 2000. Sastroasmoro. 1994. 2005. 2001. Yogyakarta. S. Teori Organisasi. LP3Y dan STARH. Gadjah Mada University Press.. S.120 Prihastuti. 2001. Edisi 2. Sakhnan. 2006. Metodologi Penelitian. __________. S. Robbins. Penerbit Buku Kedokteran EGC.. S.W. Tekonologi Kontrasepsi.P. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tesis. Saifuddin. Soekanto. dkk.. LP3ES.. Metode dan Teknik Penyusunan Tesis. Depok. 2007.. Singarimbun.. LP3ES. Sosiologi Kesehatan: Beberapa Konsep Beserta Aplikasinya. 2004.. P. Sarwono. Program Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Jakarta. Menuju Kesehatan Madani. Yogyakarta. Metode Penelitian Survei. Cetakan Keempat. Speroff. 1989. 2005. Jakarta. M. I..B. Jakarta. 2003. Alphabet. S... Penerbit Pustaka Pelajar. Sarwono. 1995. Alkon Hilang.. Bandung. A.. Yogyakarta. Yogyakarta. Penerbit Arcan.. Jakarta. Bandung. Akseptor KB Terengah di Otonomi Daerah. R. S. Sosiologi Suatu Pengantar. Penerbit Balai Pustaka. dan Ismael. Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. 1999. PT RajaGrafindo Persada. Yogyakarta. Cetakan Kedua. Gadjah Mada University Press. S. S. Suryabrata.

undp. Depok. 2008.. SPSS 13 Terapan Riset Statistik Parametrik. Universitas Sumatera Utara. Medan. Yogyakarta. 2002. Peranan Dukungan Suami Istri Dalam Pemilihan Alat Kontrasepsi Pada Peserta KB di Soak Bayu Kab Musi Banyuasin Sumatera Selatan Tahun 2002. Panduan Penelitian Proposal dan Tesis. http:/hdr. 1999. Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2006. Triton. AKK Sekolah Pasca Sarjana. . H.121 Syamsiah. Skripsi. UNDP. diakses tanggal 28 Februari 2008.Going Beyond Income. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Wiknjosastro. 2007. Ilmu Kebidanan. Indonesia the Human Development Index . Edisi Ketiga.org/end/reports/ . Penerbit Andi. USU Press. Jakarta.

Pendidikan Suami 7... Spiral b. Responden 2. Tidak 9. Jumlah Anak : : : : : : : 8. Pendidikan 5. Ingin punya anak perempuan e... Jika Ya. Pil e.. Ingin punya anak laki-laki d. 106 .122 Lampiran 1 KUESIONER PENELITIAN FAKTOR FAKTOR YANG MEMENGARUHI PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI PADA ISTRI PUS DI KECAMATAN RAMBAH SAMO KABUPATEN ROKAN HULU Nomor Kuesioner Nama pewawancara : Hari/tanggal A : Identitas responden 1. Ya 2. Masih ingin punya anak c. Suntik d. 10. Lain-lain. Umur 4.10) 1. lanjut ke pertanyaan No. No. Alasan kesehatan f. Nama 3.. Jika Tidak.. Kondom f. alat kontrasepsi apa yang digunakan saat ini? a.. Implant/Susuk c... Lain-lain …….. Dilarang suami g. Umur Suami 6. apa alasan ibu belum ber-KB a. Apakah ibu peserta KB? (Jika Tidak. Belum punya anak b. MOP/MOW g.. sebutkan.

Tidak tahu 4.... apakah tujuan KB? 1. Untuk mencegah terjadinya kehamilan 2.. Menurut ibu... Tidak tahu 2.. 2.. Memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak 3....... pengertian KB adalah? 1.. bulan 3. Menurut ibu. apakah manfaat pemakaian alat kontrasepsi? 1... Penundaan/penjarangan kelahiran 4... Radio/Televisi 6.. Salah satu usaha untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui pengaturan kelahiran. Tidak tahu 5. Berapa rata-rata jarak kehamilan dengan anak sebelumnya….bulan 4. Spiral/IUD ... Jenis alat kontrasepsi apa saja yang ibu ketahui? 1.. Dokter/Bidan Praktek Swasta 4. Untuk mengatur jarak kehamilan 3... 3..... bulan 2.123  11.... Tidak tahu 3.. Pembatasan kelahiran 5.. Surat kabar/Majalah 5.. PPLKB/PLKB 2. Suami/Orangtua/mertua 7. Anak ketiga . Menurut ibu. bahagia dan sejahtera 2.... Anak pertama.......... Untuk mengakhiri kesuburan 4....... Suatu cara yang dianjurkan pemerintah untuk membatasi jumlah anak (idealnya adalah 2 anak) 4.. Anak kedua.. Membentuk keluarga kecil.. dan seterusnya. B Pengetahuan tentang alat kontrasepsi (Jawaban bisa lebih dari 1) 1.. Suatu usaha dengan kesadaran sendiri membatasi kelahiran untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Darimanakah ibu mengetahui tentang KB/alat kontrasepsi? 1.. Puskesmas 3... 1.

124

2. Implant/Susuk 3. Suntik 4. Pil 5. Kondom 6. Tubektomi/Vasektomi (MOP/MOW) 7. Tidak tahu 6. Menurut ibu, apa sajakah efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi? 1. Rasa nyeri/mules 2. Kelainan haid/perdarahan/bercak darah 3. Mual/muntah/pusing 4. Infeksi/Keputihan 5. Perubahan berat badan/gemuk 6. Tidak tahu 7. Menurut ibu, apakah alat kontrasepsi yang paling cocok untuk ibu menyusui? 1. Pil 2. Suntik 3. Tidak tahu 8. Menurut ibu, apa saja jenis kontrasepsi untuk laki-laki? 1. Kondom 2. MOP/Tubektomi 3. Tidak tahu C Sikap (Pilih satu jawaban saja) 1. Menurut ibu, manfaat KB adalah untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak 1. Setuju 2. Tidak setuju Alasan ………………………. 2. Menurut ibu, KB bertujuan untuk merencanakan keluarga kecil, bahagia dan berkualitas 1. Setuju 2. Tidak setuju Alasan ……………………….

125

3. Menurut ibu, pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu cara untuk menunda kehamilan dan menjarangkan kelahiran 1. Setuju 2. Tidak setuju Alasan ………………………. 4. Menurut ibu, mempunyai anak yang banyak tidak akan membawa rezeki yang banyak. 1. Setuju 2. Tidak setuju Alasan ………………………. 5. Menurut ibu, anak laki-laki nilainya sama dengan anak perempuan 1. Setuju 2. Tidak setuju Alasan ………………………. D Ketersediaan Alat Kontrasepsi: (Pilih satu jawaban saja) 1. Pada saat ibu ingin ikut KB, apakah alat kontrasepsi selalu tersedia di sarana kesehatan? 1. Ya 2. Tidak 2. Apakah jenis alat kontrasepsi yang diinginkan selalu tersedia di sarana kesehatan? 1. Ya 2. Tidak Jika Tidak, dimana ibu mendapatkan alat kontrasepsi? 1. Klinik swasta 2. Praktek Dokter/Bidan 3. Apotek 4. Lain-lain, sebutkan………………… Keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi (Pilih satu jawaban saja) 1. Berapakah jarak rumah ibu ke sarana kesehatan? 1. ≤ 2,5 km

E

126

2. > 2,5 km 2. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai di tempat pelayanan kesehatan? 1. ≤ 30 menit 2. > 30 menit Jenis alat transportasi apa yang ibu gunakan untuk mencapai tempat tersebut? 1. Jalan kaki 2. Sepeda 3. Sepeda motor 4. Mobil 3. Apakah ibu mengeluarkan biaya untuk memperoleh pelayanan KB? 1. Ya 2. Tidak Bila ibu membayar untuk ber-KB, berapa biaya yang harus dikeluarkan? (Sebutkan nominalnya dalam rupiah) ………… 1. s/d 100.000,2. 100.000 s/d 200.000,3. > 200.000,Dukungan Petugas Kesehatan: (Pilih satu jawaban saja) 1. Apakah petugas kesehatan melakukan penyuluhan rutin tentang KB dan alat kontrasepsi? 1. Ya 2. Tidak 2. Apakah petugas kesehatan menyarankan agar ibu ikut KB atau menggunakan kontrasepsi? 1. Ya 2. Tidak 3. Apakah petugas kesehatan menjelaskan terlebih dahulu tentang alat kontrasepsi yang akan dipilih dan efek sampingnya? 1. Ya 2. Tidak

F

Suami 2. Alat/fasilitas tidak lengkap 4.. Isteri 3. Tidak Jika tidak puas. Biaya terlalu mahal 5. apakah penyebabnya? 1. Apakah pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan memuaskan? 1. Apakah petugas kesehatan menyarankan untuk pemeriksaan rutin? 1. Mertua/orangtua 5. Petugas kesehatan Alasan ……………………. Musyawarah suami-isteri 4. sebutkan………… G Pengambil Keputusan: Siapakah yang mengambil keputusan tentang pemakaian alat kontrasepsi dalam keluarga? 1. Petugas tidak mampu memberi informasi seperti yang diharapkan 3. Tidak 5. Apakah petugas kesehatan memberi kesempatan atau kebebasan dalam memilih alat kontrasepsi? 1. Tidak 6. Ya 2. WAWANCARA SELESAI TERIMAKASIH ATAS WAKTU DAN KESEMPATAN YANG TELAH DIBERIKAN . Petugas kurang ramah 2. Lain-lain. Ya 2. Tetangga/teman dekat 6.127  4. Ya 2.

8849 .3457 .8628 .8700 .0000 5.7208 .1333 5.Alpha if Item Total if Item Deleted Correlation Deleted 5.0 30.0 30.6333 Std Dev .5862 5. P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 .0 30.7667 .4901 Cases 30.0 30.7457 .8941 .0 Statistics for SCALE N of Mean Variance Std Dev Variables 5. 4.8843 30.4498 .0586 4.S C A L E (A L P H A) Mean 1.128 Lampiran 2 Uji Validitas dan Reliabilitas Data Reliability PENGETAHUAN ***** Method 1 (space saver) will be used for this analysis ****** _ R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S .4901 . 5.0 30.5644 5.0000 5.8092 2. 3.4345 .6333 .1000 5.8700 .3457 .8541 .2333 5.7502 .8667 6.2667 5.6000 .4975 .8597 .6103 5.2333 Scale Corrected Variance Item.8667 . 7.8667 .4302 .0 30.4983 .9609 5.4302 .7333 .9437 . 2. 6.7667 .5862 5. 8.8599 Reliability Coefficients N of Cases = Alpha = .6752 .1000 5.0 30.6752 .0 N of Items = 8 .8090 .0851 4.6094 8 Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 5.

8667 .9000 3. 4.Alpha if Item Total if Item Deleted Correlation Deleted 2.7667 Std Dev .7685 5 Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted S1 S2 S3 S4 S5 3.S C A L E (A L P H A) Mean 1.2667 3.8851 .0 30.8851 .8702 Reliability Coefficients N of Cases = Alpha = .8212 .4302 .0333 3.1333 3.1713 1. S1 S2 S3 S4 S5 .8212 .3457 .8667 .1713 1.8655 . 5.3457 .7667 .9126 .0333 3.8655 .9399 .4901 . 2.0 30.129 Reliability SIKAP ****** Method 1(space saver) will be used for this analysis ****** _ R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S .0 30.1276 1.0 112 Statistics for SCALE N of Mean Variance Std Dev Variables 3.0 30.5843 .9105 30. 3.6333 .1333 Scale Corrected Variance Item.4302 Cases 30.9126 2.0644 2.0 N of Items = 5 .8702 .

7000 Scale Corrected Variance Item.8301 30.S C A L E (A L P H A) Mean 1.9667 .2243 6 Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted PK1 PK2 PK3 PK4 PK5 PK6 4.0 30.1826 .7861 .4966 .7861 .1552 1.4667 1.0 30.9667 .5000 4.7861 . 3.3790 .7908 .7667 Std Dev .0 30.9667 .1826 .5000 4.6333 4. PK1 PK2 PK3 PK4 PK5 PK6 .8333 .7908 .9299 .0 Statistics for SCALE N of Mean Variance Std Dev Variables 5. 6.5000 4.0 N of Items = 6 . 4.7908 .5000 4.9069 .1552 .Alpha if Item Total if Item Deleted Correlation Deleted 1.130 Reliability Dukungan Petugas Kesehatan ****** Method 1 (space saver)will be used for this analysis ****** _ R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S .1552 1.4989 1. 2.7908 .8682 Reliability Coefficients N of Cases = Alpha = .4302 Cases 30.7861 . 5.8220 .5818 .1552 1.9667 .0 30.1826 .1826 .0 30.

131 Lampiran 3 Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov .

514 0 6 6 2.26 2.00 3.58 17.82 2.734 7. Error .431 0 5 5 2.392 -.824 .132 Descriptives  Total Pengetahuan Mean 95% Confidence Interval for Mean 5% Trimmed Mean Median Variance Std.50 55.143 Total Sikap Mean 95% Confidence Interval for Mean 5% Trimmed Mean Median Variance Std.73 3.54 15.241 .50 .478 .241 .466 8 31 23 13.40 4.00 .478 .293 1.478 115 .600 -.54 2.00 2.747 .70 3.098 -. Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Lower Bound Upper Bound 2. Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Lower Bound Upper Bound Statistic 16.68 13.06 14.00 2.151 Total dukungan petugas Mean 95% Confidence Interval for Mean 5% Trimmed Mean Median Variance Std.00 .241 .823 .54 2.049 1. Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Lower Bound Upper Bound 3.943 Std.

000 .000 .133 Tests of Normality  Total Pengetahuan Total Sikap Total dukungan petugas Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig.883 .287 100 .159 100 .880 .000 .000 a. . Lilliefors Significance Correction .000 .248 100 .000 a Shapiro-Wilk Statistic .901 df 100 100 100 Sig. .

0 100.0 40.0 22.0 Cumulative Percent 31.0 4.0 1.0 100.0 27.0 71.0 Cumulative Percent 36.0 93.0 1.0 97.0 22.0 27.0 30.0 6.0 30.0 6.134 Lampiran 4 Analisis Univariat (Distribusi Frekuensi) Frequency Table Umur Istri Kategori Umur Suami DDKISTRI  Valid sd smp sma d3 pt Total Frequency 36 30 27 6 1 100 Percent 36.0 100.0 99.0 3.0 Valid Percent 31.0 117 .0 3.0 100.0 100.0 66.0 93.0 100.0 40.0 Valid Percent 36.0 4.0 Pendidikan Suami  Valid SD SMP SMA D3 S1 Total Frequency 31 40 22 4 3 100 Percent 31.

0 100.0 Valid Percent 60.0 29.0 117 .0 100.0 100.0 40.0 100.0 Cumulative Percent 60.0 100.0 29.0 40.0 Cumulative Percent 71. Valid 20-35 tahun >35 tahun Total Frequency 60 40 100 Percent 60.0  Valid <40 tahun >=40 tahun Total Frequency 71 29 100 Percent 71.0 100.0 Valid Percent 71.

0 100.0 48.0 2.0 Cumulative Percent 28.0 100.0 89.0 6.0 Alasan ibu belum ber-kb  Valid Berkb masih ingin punya anak ingin anak laki-laki ingin anak perempuan Alasan kesehatan Dilarang Suami Total Frequency 28 48 13 4 2 5 100 Kategori Jarak Lahir Percent 28.0  Valid <56 bulan >= 56 bulan Total Frequency 39 61 100 Percent 39.0 100.0 13.0 46.0 61.0 4.0 11.0 82.0 100.0 100.0 Cumulative Percent 54.0 13.0 Alat kontrasepsi yang digunakan  Valid tidak kb spiral implant/susuk suntik pil Total Frequency 72 6 4 7 11 100 Percent 72.0 95.0 Cumulative Percent 39.0 72.0 78.0 100.0 6.0 Cumulative Percent 28.0 Valid Percent 28.0 7.0 11.0 Valid Percent 72.0 4.135 Kategori Jumlah Anak  Valid > 2 orang <= 2 orang Total Frequency 54 46 100 Percent 54.0 Valid Percent 28.0 100.0 100.0 5.0 72.0 100.0 Pemakaian Alkon  Valid Ya/Pakai Tidak Total Frequency 28 72 100 Percent 28.0 7.0 48.0 100.0 93.0 46.0 89.0 61.0 76.0 .0 100.0 Valid Percent 54.0 100.0 Valid Percent 39.0 100.0 Cumulative Percent 72.0 4.0 100.0 5.0 100.0 4.0 2.

0  Valid Tidak Setuju Setuju Total Frequency 55 45 100 Percent 55.0 100.0 100.0 Sikap Valid Percent 43.0 100.0 45.0 Cumulative Percent 42.0 100.0 100.0 Valid Percent 55.0 .0 100.0 100.0  Valid Tidak Setuju Setuju Total Frequency 58 42 100 Percent 58.0  Valid Tidak Setuju Setuju Total Frequency 42 58 100 Percent 42.0  Valid Tidak Setuju Setuju Total Frequency 48 52 100 Percent 48.0 52.0 58.0 100.0 100.0 42.0 100.0 57.0 100.0 Cumulative Percent 55.0 52.0 Sikap Valid Percent 48.0 Sikap Valid Percent 58.0 100.0 Cumulative Percent 43.0 42.136 Sikap  Valid Tidak Setuju Setuju Total Frequency 43 57 100 Percent 43.0 100.0 57.0 100.0 100.0 58.0 Cumulative Percent 58.0 Cumulative Percent 48.0 45.0 SIkap Valid Percent 42.

0 57.0 100.0 Ketersediaan Alkon  Valid Tidak Ya Total Frequency 49 51 100 Percent 49.0 91.0 Valid Percent 55.0 Cumulative Percent 43.5 km Total Frequency 43 57 100 Percent 43.0 45.0 100.5 km >2.0 Cumulative Percent 43.0 100.0 100.0 100.0 .0 Cumulative Percent 33.137 Ketersediaan Alkon  Valid Tidak Ya Total Frequency 43 57 100 Percent 43.0 58.0 Waktu Tempuh Valid Percent 43.0 Jarak ke sarkes  Valid <2.0 100.0 100.0 100.0 58.0 Valid Percent 49.0 100.0 100.0 100.0 51.0  Valid <30 mnt >30 mnt Total Freqenucy 55 45 100 Percent 55.0 9.0 100.0 100.0 45.0 57.0 Cumulative Percent 49.0 Cumulative Percent 55.0 9.0 Valid Percent 43.0 51.0 Tempat mendapatkan alkon  Valid Klinik swasta Praktek dokter/bidan Apotik Total Frequency 33 58 9 100 Percent 33.0 100.0 Valid Percent 33.0 57.0 100.0 57.

0 Jenis alat transportasi yang dimiliki  Valid Jalan kaki Sepeda Sepeda Motor Total Frequency 47 33 20 100 Percent 47.0 73.0 49.0 Valid Percent 51.0 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 45 55 100 Percent 45.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 .0 Cumulative Percent 29.0 20.0 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 27 73 100 Percent 27.0 33.0 80.0 71.0 100.0 49.0 55.0 Cumulative Percent 47.0 Cumulative Percent 45.0 100.0 55.0 100.0 Valid Percent 29.0 Valid Percent 27.0 71.138 Biaya yg dikeluarkan  Valid Tidak Terjangkau Terjangkau Total Frequency 51 49 100 Percent 51.0 73.0 20.0 100.0 Cumulative Percent 27.0 100.0 100.0 100.0 100.0 Valid Percent 47.0 33.0 Cumulative Percent 51.0 100.0 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 29 71 100 Percent 29.0 Valid Percent 45.

0 52.0 99.0 100.0 36.0 100.0 61.0 58.0 100.0 61.0 64.0 Cumulative Percent 48.0 100.0 Pengambil Keputusan dalam Keluarga  Valid Suami Isteri Musyawarah Total Frequency 51 13 36 100 Percent 51.0 13.0 100.0 52.0 58.0 .0 Cumulative Percent 47.0 100.0 100.0 52.0 100.0 100.0 1.0 100.0 Valid Percent 48.0 100.0 52.0 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 48 52 100 Percent 48.0 Cumulative Percent 39.0 13.0 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 39 61 100 Percent 39.0 Valid Percent 42.0 Valid Percent 39.0 100.0 Cumulative Percent 51.0 1.0 Valid Percent 47.139 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 42 58 100 Percent 42.0 100.0 36.0 Alasan Tidak puas atas pelayanan petugas kesehatan  Valid Petugas kurang ramah petugas tidak mampu memberi informasi Fasilitas tidak lengkap Total Frequency 47 52 1 100 Percent 47.0 100.0 Valid Percent 51.0 Cumulative Percent 42.0 100.

0 Cumulative Percent 7.0 Cumulative Percent 36.0 Kategori Pengetahuan  Valid Tinggi Rendah Total Frequency 47 53 100 Percent 47.0 66.0 Cumulative Percent 47.0 64.0 Valid Percent 7.0 Valid Percent 36.0 100.0 100.0 53.0 Cumulative Percent 40.0 100.0 46.0 100.0 Cumulative Percent 54.0 34.0 100.0 .0  Valid Baik Tidak baik Total Frequency 36 64 100 Percent 36.0 53.0 100.0 Valid Percent 40.0 46.0 100.0 27.0 Kategori Sikap Valid Percent 47.0 Pendidikan istri  Valid Tinggi Menengah Dasar Total Frequency 7 27 66 100 Percent 7.0 64.0 100.0 Valid Percent 54.0 27.0 60.0 100.0 100.0 100.0 60.140 Kategori Umur Istri  Valid Tinggi Rendah Total Frequency 40 60 100 Percent 40.0 100.0 100.0 66.0 100.0 100.0 Kategori Jumlah Anak  Valid > 2 orang <= 2 orang Total Frequency 54 46 100 Percent 54.

0 Cumulative Percent 48.0 Valid Percent 63.0 Waktu Tempuh  Valid Dekat Jauh Total Frequency 63 37 100 Percent 63.0 Jarak ke sarkes  Valid Dekat Jauh Total Frequency 29 71 100 Percent 29.0 100.0 Valid Percent 48.0 Biaya yg dikeluarkan  Valid Murah Mahal Total Frequency 47 53 100 Percent 47.0 100.0 100.0 100.0 71.0 52.0 71.0 37.0 Valid Percent 47.0 Cumulative Percent 63.0 100.0 100.0 Valid Percent 48.0 Kategori Dukungan Petugas  Valid Mendukung Tidak mendukung Total Frequency 48 52 100 Percent 48.0 100.0 Cumulative Percent 29.0 Cumulative Percent 47.0 100.141 Kategori Ketersediaan Alkon  Valid Tersedia Tidak Tersedia Total Frequency 48 52 100 Percent 48.0 100.0 100.0 37.0 53.0 52.0 .0 52.0 Valid Percent 29.0 100.0 100.0 53.0 Cumulative Percent 48.0 100.0 100.0 100.0 52.

0 100.0 100.0 Cumulative Percent 38.0 100.0 100.0% Musyawarah .0% 3 3.0 100.0 62.0 100.0% 3 3.0% 8 8.0 100.0 Pengambil Keputusan dalam Keluarga * Pemakaian Alkon Crosstabulation  Pengambil Keputusan dalam Keluarga Suami Count Expected Count % within Pengambil Keputusan dalam Keluarga Isteri Count Expected Count % within Pengambil Keputusan dalam Keluarga Count Expected Count % within Pengambil Keputusan dalam Keluarga Total Count Expected Count % within Pengambil Keputusan dalam Keluarga Pemakaian Alkon Ya 17 17.142 Kategori Pengambil Keputusan  Valid Baik Tidak Baik Total Frequency 38 62 100 Percent 38.0% Total 17 17.0% 28 28.0 100.0 100.0 100.0 Valid Percent 38.0% 28 28.0 62.0% 8 8.0 100.

0% Praktek dokter/bidan Count .0% 11 11.0 100.0 100.0% Total 12 12.0 100.0 100.0% 5 5.0% 28 28.0 100.0% 28 28.143 Tempat mendapatkan alkon * Pemakaian Alkon Crosstabulation  Tempat mendapatkan Klinik swasta alkon Count Expected Count % within Tempat mendapatkan alkon Expected Count % within Tempat mendapatkan alkon Apotik Count Expected Count % within Tempat mendapatkan alkon Total Count Expected Count % within Tempat mendapatkan alkon Pemakaian Alkon Ya 12 12.0% 11 11.0 100.0 100.0% 5 5.0 100.

Pendidikan istri * Pemakaian Alkon Crosstab  Pendidikan istri Tinggi Count Expected Count % within Pendidikan istri Menengah Count Expected Count % within Pendidikan istri Dasar Count Expected Count % within Pendidikan istri Total Count Expected Count % within Pendidikan istri Pemakaian Alkon Ya 4 2.3% 34 28.915 b df 1 1 1 1 Asymp.0 100. (2-sided) Exact Sig.566 5.533 100 a.0% 66 66.0% 40 40.0%  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 5. Computed only for a 2x2 table b.0 100.0% 28 28.0 100.0 100.0% Total 7 7.0% Tidak 3 5. 0 cells (.589 4.0 100.0% 127 .3% 53 47.2 15.0% 27 27.7% 13 18.7% 28 28.5 80.20.0 28. Sig.1% 11 7.0 28.0 72.0 100.018 . (1-sided) .033 .2 63.015 .0% 72 72.0%) have expected count less than 5.5 19.8 85.4 59.023 .8 36.0 57.0% Total 60 60.3% 72 72.144 Lampiran 5 Analisis Bivariat Kategori Umur Istri * Pemakaian Alkon Crosstab  Kategori Umur Istri Risiko Rendah Count Expected Count % within Kategori Umur Istri Risiko Tinggi Count Expected Count % within Kategori Umur Istri Total Count Expected Count % within Kategori Umur Istri Chi-Square Tests Pemakaian Alkon Ya 22 16.7% 6 11.0 72.0% Tidak 38 43.0 42.0 100.9% 16 19.015 5.019 Exact Sig.0% 100 100. The minimum expected count is 11.6 40.0% 100 100. (2-sided) .

0%) have expected count less than 5.1% 72 72.0 100.0 100.0 72.904 b 5.0 100. Computed only for a 2x2 table b.272 100 df 2 2 1 Asymp.030 . (2-sided) Exact Sig. (2-sided) .88. Sig.7%) have expected count less than 5.780 7.9 61.013 . Sig. .835 100 df 1 1 1 1 Asymp.0% 100 100. (1-sided) .009 . 0 cells (.185 6. (2-sided) .036 7.025 .9 33.0% 54 54.9% 28 28.016 .96.1 38.007 . Kategori Jumlah Anak * Pemakaian Alkon Crosstab  Kategori Jumlah Anak <= 2 orang Count Expected Count % within Kategori Jumlah Anak Count Expected Count % within Kategori Jumlah Anak Expected Count % within Kategori Jumlah Anak Chi-Square Tests Pemakaian Alkon Ya Tidak 7 39 12.009 Exact Sig.007 a.380 a 7.1 15.2% 21 15.0% Total 46 46. The minimum expected count is 1.145 Chi-Square Tests  Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 7.0 28.8% 33 38. The minimum expected count is 12. 1 cells (16.0% 84.007 a.0% > 2 orang Total Count  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 6.

000 .2 88.405 100 b df 1 1 1 1 Asymp.3% 28 28. (2-sided) .0 72.0 28.6% 28 28.000 .7% 72 72.000 . 0 cells (.0 100.16.0% Total 36 36.000 Exact Sig.146 Kategori Pengetahuan * Pemakaian Alkon Crosstab  Kategori Pengetahuan Tinggi Count Expected Count % within Kategori Pengetahuan Count Expected Count % within Kategori Pengetahuan Expected Count % within Kategori Pengetahuan Chi-Square Tests Pemakaian Alkon Ya Tidak 22 25 13.0 100.0% Rendah Total Count  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 15.8% 6 14.1 84. (1-sided) .2% 47 38. Kategori Sikap * Pemakaian Alkon Crosstab  Kategori Sikap Baik Count Expected Count % within Kategori Sikap Tidak baik Count Expected Count % within Kategori Sikap Total Count Expected Count % within Kategori Sikap Pemakaian Alkon Ya 18 10.0 100.0%) have expected count less than 5.8 11. Sig.0% 53.0% 100 100.000 a. (2-sided) Exact Sig.0 72.561 13.0% 53 53.851 16.9 50.2 33.000 .0 100.4% 72 72.8 46.0% 100 100.0% Total 47 47. Computed only for a 2x2 table b.0% Tidak 18 25.0 100.0% 64 64.0 28.9 15.0% .190 15.0% 54 46. The minimum expected count is 13.0 100.1 50.0% 10 17.

000 . (2-sided) . (1-sided) .0%) have expected count less than 5.000 .0 100.853 13.0 100.1% 3 14.000 .44. Sig.0% Total 48 48.001 . Sig.4 34.000 Exact Sig.000 a.0% 47. . (2-sided) . Computed only for a 2x2 table b. The minimum expected count is 10.504b 11. (1-sided) .369 100 df 1 1 1 1 Asymp. The minimum expected count is 13.8% 28 28.9% 49 37.0% Total  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 26. Computed only for a 2x2 table b.0 100.000 Exact Sig. Kategori Ketersediaan Alkon * Pemakaian Alkon Crosstab  Kategori Ketersediaan Alkon Tersedia Count Expected Count % within Kategori Ketersediaan Alkon Tidak Tersedia Count Expected Count % within Kategori Ketersediaan Alkon Count Expected Count % within Kategori Ketersediaan Alkon Chi-Square Tests Pemakaian Alkon Ya Tidak 25 23 13.000 a.000 .000 .000 .6 52.557 b 24.0 72.0% 100 100.193 26.4 94.309 29.209 13. 0 cells (.0 28.000 .08. 0 cells (.6 5. (2-sided) Exact Sig.0%) have expected count less than 5. (2-sided) Exact Sig.2% 72 72.147 Chi-Square Tests  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 13.292 100 df 1 1 1 1 Asymp.0% 52 52.

252 100 df 1 1 1 1 Asymp. (2-sided) .315 b 5.0 72.0 72.8% 72 72.0% 100 100.012 Exact Sig. (1-sided) .9 35.007 .7% 46 51.0 100. 0 cells (.0 28.5% 32 26.5% 72 72.0% Chi-Square Tests  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 6.0% . Waktu Tempuh * Pemakaian Alkon Crosstab  Waktu Tempuh Dekat Count Expected Count % within Waktu Tempuh Jauh Count Expected Count % within Waktu Tempuh Total Count Expected Count % within Waktu Tempuh Pemakaian Alkon Ya 23 17.1 64.5% 5 10.4 63.4 13.142 7.1 10.0 100.6 36. Sig.5% 28 28.0% 37 37.178 6.0% Total 29 29. (2-sided) Exact Sig.014 .0%) have expected count less than 5.0 100.148 Jarak ke sarkes * Pemakaian Alkon Crosstab  Jarak ke sarkes Dekat Count Expected Count % within Jarak ke sarkes Jauh Count Expected Count % within Jarak ke sarkes Total Count Expected Count % within Jarak ke sarkes Pemakaian Alkon Ya 3 8.0% Total 63 63.009 a.0% 71 71.0% 100 100.0 100. The minimum expected count is 8.0 100.2% 28 28.0 100.0% Tidak 26 20.012 .023 .3% 25 19.9 89.12.0% Tidak 40 45.0 28.6 86. Computed only for a 2x2 table b.

149

Chi-Square Tests


Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
a

Value 6.114 b 5.026 6.592 6.052 100

df 1 1 1 1

Asymp. Sig. (2-sided) .013 .025 .010 .014

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

.020

.011

a. Computed only for a 2x2 table b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10.36.

Biaya yg dikeluarkan * Pemakaian Alkon
Crosstab


Biaya yg dikeluarkan Murah Count Expected Count % within Biaya yg dikeluarkan Count Expected Count % within Biaya yg dikeluarkan Total Count Expected Count % within Biaya yg dikeluarkan Chi-Square Tests

Pemakaian Alkon Ya Tidak 22 25 13.2 33.8 46.8% 6 14.8 11.3% 28 28.0 28.0% 53.2% 47 38.2 88.7% 72 72.0 72.0%

Total 47 47.0 100.0% 53 53.0 100.0% 100 100.0 100.0%

Mahal


Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
a

Value 15.561 b 13.851 16.190 15.405 100

df 1 1 1 1

Asymp. Sig. (2-sided) .000 .000 .000 .000

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

.000

.000

a. Computed only for a 2x2 table b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 13.16.

150

Kategori Dukungan Petugas * Pemakaian Alkon
Crosstab


Kategori Dukungan Petugas Mendukung Count Expected Count % within Kategori Dukungan Petugas Tidak mendukung Count Expected Count % within Kategori Dukungan Petugas Total Count Expected Count % within Kategori Dukungan Petugas

Pemakaian Alkon Ya 21 13.4 43.8% 7 14.6 13.5% 28 28.0 28.0% Tidak 27 34.6 56.3% 45 37.4 86.5% 72 72.0 72.0% Total 48 48.0 100.0% 52 52.0 100.0% 100 100.0 100.0%

Chi-Square Tests


Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
a

Value 11.358 b 9.905 11.714 11.245 100

df 1 1 1 1

Asymp. Sig. (2-sided) .001 .002 .001 .001

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

.001

.001

a. Computed only for a 2x2 table b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 13.44.

Kategori Pengambil Keputusan * Pemakaian Alkon
Crosstab


Kategori Pengambil Keputusan Baik Count Expected Count % within Kategori Pengambil Keputusan Tidak Baik Count Expected Count % within Kategori Pengambil Keputusan Count Expected Count % within Kategori Pengambil Keputusan

Pemakaian Alkon Ya Tidak 10 28 10.6 27.4 26.3% 18 17.4 29.0% 28 28.0 28.0% 73.7% 44 44.6 71.0% 72 72.0 72.0%

Total 38 38.0 100.0% 62 62.0 100.0% 100 100.0 100.0%

Total

151

Chi-Square Tests


Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
a

Value .086 .004 .087
b

df 1 1 1

Asymp. Sig. (2-sided) .769 .949 .768

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

.822

.478

.085 100

1

.770

a. Computed only for a 2x2 table b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10.64.

see classification table for the total number of cases. The cut value is .000 .944 S.000 1. .152 Lampiran 6 Analisis Multivariat (Uji Regresi Logistik Ganda) Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases Included in Analysis Missing Cases Total Unselected Cases Total a N 100 0 100 0 100 Percent 100.0 100.0 72.000 Block 0: Beginning Block Classification Table a. b.0 .000 .500 0 0 Tidak 28 72 Percentage Correct .0 100. Constant is included in the model.E.571 135 .000 (2) . Dependent Variable Encoding Categorical Variables Codings  Frequency Pendidikan Tinggi istri Menengah Dasar 7 27 66 Parameter coding (1) 1.000 Exp(B) 2.b Predicted Pemakaian Alkon Observed Ya Step 0 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage a.983 df 1 Sig.0 Variables in the Equation  B Step 0 Constant . . If weight is in effect.000 .223 Wald 17.0 .0 a.0 100.

Original Value Ya Tidak Internal Value 0 1 .

863 58.310 Cox & Snell R Square .253 .786 52.641 .408 .609 11.171 2.000 .395 6.280 63.365 .417 40.084 .380 3.036 .561 13.978 6.727 55.000 .001 .334 .481 .000 .000 Step 1 2 3 4 5 -2 Log likelihood 89.196 59.153 Variables not in the Equation  Step 0 Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) JHLANAKK TAHUKAT SIKAPKAT SEDIAKAT JARAK WAKTU BIAYA DUKUNGKA Overall Statistics Score 5.315 6.009 . .000 .075 .469 58.000 .675 .445 .000 .000 .193 11.193 29.114 15.609 40.000 . .904 15.001 .417 63.000 .001 .395 52.589 7.863 4.587 .000 Block 1: Method = Forward Stepwise (Likelihood Ratio) Omnibus Tests of Model Coefficients  Step 1 Step Block Model Step 2 Step Block Model Step 3 Step Block Model Step 4 Step Block Model Step 5 Step Block Model Chi-square 29.021 df 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 Sig.013 .012 .561 11.982 66.000 .193 29.557 6.398 77.025 .011 .000 .018 .000 .000 .504 26.358 53.469 Nagelkerke R Square .280 Model Summary df 1 1 1 1 2 2 1 3 3 1 4 4 1 5 5 Sig.000 .

1 74. The cut value is .307 9.252 2.454 1.371 5.721 .148 27.008 .230 5.828 .110 8.151 4.513 .447 .385 184.442 21.753 .093 4.457 9.025 17.6 95.714 .418 3.045 .858 64.817 1.758 .645 .463 .211 36.888 .474 18.170 .135 1.699 7.877 -.747 . Variable(s) entered on step 3: DUKUNGKA.I.925 1.609 .083 9.661 .351 8.187 -2.118 6.736 .322 8. . Variable(s) entered on step 5: SIKAPKAT.894 .173 2.005 6.112 2.700 .266 95.154 Classification Table a Predicted Pemakaian Alkon Observed Step 1 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage Step 2 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage Step 3 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage Step 4 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage Step 5 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage a.475 2.575 26. Variable(s) entered on step 1: SEDIAKAT.0 78.3 83.593 2.926 .045 6. e. Variable(s) entered on step 4: TAHUKAT. c.000 .551 44. . b.511 .001 . d.0 78.3 90.0 64.806 15. Variable(s) entered on step 2: JHLANAKK.245 -1.E.002 .041 .448 3.0  Step SEDIAKAT a 1 Constant Step JHLANAKK b 2 SEDIAKAT Constant Step JHLANAKK 3 c B 2.3 68.089 36.072 4.063 3.754 .3 87.033 10.014 129.326 S.670 2.597 .893 2.016 .023 1.189 .459 SEDIAKAT DUKUNGKA Constant Step JHLANAKK d 4 TAHUKAT SEDIAKAT DUKUNGKA Constant Step JHLANAKK e 5 TAHUKAT SIKAPKAT SEDIAKAT DUKUNGKA Constant a.3 90.206 .702 .021 7.775 .000 .403 .002 .720 .253 22.005 .8 91.686 df 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Sig.187 12.014 .0% C.423 32.832 9.101 Exp(B) 17.001 .002 .206 .005 .528 .618 .004 . .134 9.450 184.920 .517 -2.066 2.093 43.500 Variables in the Equation 22 3 6 69 22 7 6 65 18 7 10 65 18 7 10 65 Ya 25 23 Tidak 3 49 Percentage Correct 89.807 .024 1.691 3.305 .289 .100 5.453 .for EXP(B) Lower Upper 4.254 -.000 .3 83.707 .086 .809 Wald 18.773 .841 21.302 1.791 .442 .897 -2.882 .6 90.0 64.910 3.000 .083 -1.488 111.

036 .982 31.765 -33.803 4.786 11.713 Sig.000 .882 -31.155 Model if Term Removed Change in -2 Log Likelihood 29.313 -31.703 -40.089 -48.803 6.953 -38.417 17.631 10.424 13.469 24.193 11.057 -29.000 .203 -32.011 .009 .000 .001 .295 -44.001 .000 .098 -42.699 -55.000 .095 10.417 33.001 .116 Model Log Variable Step 1 Step 2 SEDIAKAT JHLANAKK SEDIAKAT Step 3 JHLANAKK SEDIAKAT DUKUNGKA Step 4 JHLANAKK TAHUKAT SEDIAKAT DUKUNGKA Step 5 JHLANAKK TAHUKAT SIKAPKAT SEDIAKAT DUKUNGKA Likelihood -59.004 .710 11.898 8.454 6.991 -35.001 .864 -36.179 -35.000 . of the df 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Change .001 .

958 .117 .980 .104 .415 .994 3.159 .127 .113 .078 .177 27.326 .537 2.933 .042 .624 4.786 8.489 .328 .124 .053 11.006 .000 .043 .819 .001 .456 3.143 .010 .001 .524 .105 .133 .269 .092 .369 .319 .734 .142 2.845 1.000 5.305 9.464 .000 6.806 4.283 .997 .690 .034 .003 .501 .076 .036 33.456 1.061 .116 .698 16.057 .069 .150 3.925 2.446 4.956 3.518 3.145 .108 5.610 .975 df 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 9 1 2 1 1 1 1 1 1 1 8 1 2 1 1 1 1 1 1 7 1 2 1 1 1 1 1 6 Sig.323 Step 2 Overall Statistics Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) TAHUKAT SIKAPKAT JARAK WAKTU BIAYA DUKUNGKA Step 3 Overall Statistics Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) TAHUKAT SIKAPKAT JARAK WAKTU BIAYA Step 4 Overall Statistics Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) SIKAPKAT JARAK WAKTU BIAYA Overall Statistics Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) JARAK WAKTU BIAYA Overall Statistics Step 5 .398 6.004 .403 .011 .253 .845 5.048 .126 2.003 .365 11.308 2.608 .156 Variables not in the Equation  Step 1 Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) JHLANAKK TAHUKAT SIKAPKAT JARAK WAKTU BIAYA DUKUNGKA Score 4.365 1.515 7.991 .001 .251 .117 .665 .222 5.065 .484 1.065 .318 10.484 6.358 .031 .478 .147 2. .001 .061 .