P. 1
73698181-FAKTOR-KB-IUD

73698181-FAKTOR-KB-IUD

|Views: 315|Likes:
Dipublikasikan oleh Pipit Luph Cupietmy
jjk
jjk

More info:

Published by: Pipit Luph Cupietmy on Apr 26, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/18/2015

pdf

text

original

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI PADA ISTRI PUS DI KECAMATAN RAMBAH SAMO KABUPATEN ROKAN

HULU TAHUN 2008

TESIS

Oleh

JUNITA TATARINI PURBA 067023009/AKK

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009

Junita Tatarini Purba : Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi Pada Istri Pus Di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008, 2009 USU Repository © 2008

2

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI PADA ISTRI PUS DI KECAMATAN RAMBAH SAMO KABUPATEN ROKAN HULU TAHUN 2008

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Konsentrasi Administrasi Kesehatan Komunitas/Epidemiologi pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh
JUNITA TATARINI PURBA 067023009/AKK

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009

3

Judul Tesis

Nama Mahasiswa Nomor Pokok Program Studi Konsentrasi

: FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI PADA ISTRI PUS DI KECAMATAN RAMBAH SAMO KABUPATEN ROKAN HULU TAHUN 2008 : Junita Tatarini Purba : 067023009 : Administrasi dan Kebijakan Kesehatan : Administrasi Kesehatan Komunitas/Epidemiologi

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Dr. Ir. Erna Mutiara, M.Kes) Ketua

(drh. Rasmaliah, M.Kes) Anggota

Ketua Program Studi

Direktur

(Dr.Drs.Surya Utama, MS)

(Prof. Dr.Ir. T. Chairun Nisa B., M.Sc)

Tanggal lulus : 09 Juni 2009

M.Kes .Kes 2. M. drh. M.4 Telah diuji pada Tanggal : 09 Juni 2009 PANITIA PENGUJI TESIS Ketua Anggota : Dr. Drs.Kes : 1. Erna Mutiara. Ir. Dr. M. Siti Khadijah.Si 3. SKM. Fikarwin Zuska. Rasmaliah.

5 PERNYATAAN FAKTOR–FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI PADA ISTRI PUS DI KECAMATAN RAMBAH SAMO KABUPATEN ROKAN HULU TAHUN 2008 TESIS Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperolah gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain. Medan. Juni 2009 Junita Tatarini Purba . kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini disebutkan dalam daftar pustaka.

pengetahuan dan sikap). Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu perlu melakukan peningkatan kemampuan petugas kesehatan sehingga mampu memberikan informasi tentang alat kontrasepsi dan dapat memahami serta menyadari bahwa akseptor memiliki hak reproduksi sehat dan hak konsumen pengguna alat kontrasepsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor predisposisi yang berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah jumlah anak (Sig=0.001) dan dukungan petugas kesehatan (Sig=0. Data dianalisis dengan menggunakan uji regresi logistik ganda pada taraf kepercayaan 95%. Cakupan akseptor KB aktif di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu masih 42% dibandingkan dengan target nasional yaitu 75%.112). Variabel yang dominan pengaruhnya adalah ketersediaan alat kontrasepsi (Koefisien B = 3. Kepada Dinas Kesehatan dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Rokan Hulu perlu melakukan kerjasama dan pendekatan kepada penentu kebijakan lainnya dalam pengalokasian dana untuk pelayanan alat kontrasepsi gratis kepada masyarakat khususnya kepada keluarga miskin.005). jumlah anak. Juga perlu melakukan penyuluhan kepada masyarakat agar dapat memahami dan menerima norma keluarga kecil sehingga diharapkan mampu membentuk keluarga bahagia dan sejahtera melalui pengaturan atau pembatasan kelahiran anak.333 orang dengan besar sampel 100 orang yang diambil secara proportional sampling. Jenis penelitian adalah survei dengan tipe explanatory research yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor predisposisi (umur.041) sedangkan faktor pendukung dan pendorong yang berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah variabel ketersediaan alat kontrasepsi (Sig=0.6 ABSTRAK Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk menurunkan tingkat pertumbuhan penduduk adalah melalui program KB. Sejak otonomi daerah program KB banyak mengalami kendala yang mengakibatkan turunnya tingkat pemakaian alat kontrasepsi. faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi dan keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan dan pengambil keputusan) terhadap pemakaian alat kontrasepsi. Kata kunci : Perilaku. Populasi adalah seluruh istri PUS sebanyak 2.008). pengetahun (Sig=0. pendidikan.014) dan sikap (Sig=0. Pemakaian Alat Kontrasepsi i .

while enabling and reinforcing factors are variable of availability of contraception device (Sig=0. The most dominantly influencing variable is the use of contraception device (Coefficient β = 3. knowledge (Sig=0. Use of Contraception Device ii .7 ABSTRACT One of the efforts done by the government to reduce the rate of population growth is through Family Planning Program (KB). and attitude).001) and support from health providers (Sig=0. Key words: Behavior. knowledge.333 wives of fertile age couple and 100 of them were selected for the samples of this study through proportional sampling technique. The result of analysis shows that predisposing factors which have influence on the use of contraception device are number of child (Sig=0. Family Planning Program has faced many constraints that resulted in the decrease of the rate of contraception use. The coverage of current user in Rambah Samo sub-district.014). It needs to improve the capability of the health providers that they are able to provide information about contraceptive and can understand and realize that the acceptors have their right for health reproduction and the right of consumer as the user of contraception device. education. The population for this study are 2.005).041). in the end. district of Rokan Hulu reported is still 42% and this is still lower if compared to the national target of 75%. enabling factors (availability of contraception device and accessibility of contraception device service) and reinforcing factors (support from health providers and decision makers) on the use of contraception device. The data were analyzed through multiple logistic regression test with the level of confidence of 95%. number of child. It is suggested that the Health Office and the Civil Registration and Population Affairs of Rokan Hulu District need to cooperate and approach the stakeholder in allocating the budget for free contraceptive to the society of Rokan Hulu District especially to the poor families. The purpose of this survey study with explanatory research type is to analyze the influence of predisposing factors (age.008). and attitute (Sig=0. Since the district autonomy had been started.112). It is necessary to provide an extension to the society to enable them to understand and accept the norm of family planning that. they can form a happy and prosperous family by regulating and limiting childbirth.

selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.Kes dan Ibu drh. Penulis menyadari begitu banyak dukungan.. Surya Utama. semoga sukses dan bahagia selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa kepada Ibu Dr. Medan. sehingga tesis ini dapat diselesaikan. Drs. Ida Yustina. T.Ir. bimbingan.Si dan Ibu Siti Khadijah. penulisan tesis ini dapat diselesaikan dengan baik.Dr.Dr. Ibu Prof. dukungan dan pengarahan hingga tesis ini selesai. M. M.Kes. 2. Rasmaliah.Drs. Terimakasih tiada terkira juga kami sampaikan dengan tulus kepada Bapak Dr.Sc. Chairun Nisa B. Dengan penuh ketulusan hati.8 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. 3.Ir. Fikarwin Zuska. atas rahmat dan karuniaNya.Si. M. iii . M. Bapak Dr. bantuan dan kemudahan yang diberikan oleh berbagai pihak. M.Dra. selaku tim penguji yang telah memberi masukan sehingga dapat menyempurnakan tesis ini. M. penulis menyampaikan ucapan terimakasih. selaku Sekretaris Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Erna Mutiara. Ibu Prof. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang tulus dan tak terhingga kepada: 1.Kes selaku pembimbing yang memberi perhatian. MS. Penyusunan tesis ini dimaksudkan untuk memenuhi sebagian persyaratan menyelesaikan Pendidikan S2 pada Sekolah Pascasarjana USU. selaku Ketua Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. SKM.

Semoga TYME membalas semua kebaikan yang telah diberikan dan melimpahkan berkat dan anugerahNya. Mursal Amir. Manik dan seluruh sanak saudara yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama penulis mengikuti pendidikan. ST buat semua doa. Juni 2009 Penulis iv . Wildan Asfan Hasibuan. H. harapan. Bapak dr. 5. selaku Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Riau dan seluruh staf yang telah memberikan bantuan dana pendidikan. Suami tercinta Danni Suparman Rumahorbo. khususnya Kabupaten Rokan Hulu. Medan. Sitompul. ayahanda mertua B. ananda tersayang Davita Ephania dan Kezia Morasari. selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu yang memberi izin dan dukungan selama pendidikan. dan pengorbanan juga dukungan dan motivasi yang tiada pernah berhenti. Bapak dr. ibunda M.Kes. Ayahanda S.9 4. 6. Akhirnya penulis berharap tesis ini bermanfaat bagi kesehatan masyarakat Indonesia. sumber inspirasi dan penghiburan. Purba. yang telah banyak berkorban selama pendidikan. ibunda mertua T. 7. Rumahorbo. 8. Rekan-rekan dan sahabat di Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Konsentrasi Administrasi Kesehatan Komunitas/Epidemiologi angkatan tahun 2006. M.

RIWAYAT PEKERJAAN 2000 – Sekarang : Staf Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau v . Diponegoro Komp. Pemda Rokan Hulu Pasirpengaraian-Propinsi Riau Telp/HP : 081264734544 RIWAYAT PENDIDIKAN Tahun 1983 – 1989 Tahun 1989 – 1992 Tahun 1992 – 1995 Tahun 1995 – 1999 Tahun 2006 – 2009 : SDN 176377 Aeknatolu : SMPN Simamora : SMA N 3 Balige : FKM USU Medan : Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Program Kesehatan Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Konsentrasi Administrasi Komunitas/ Epidemiologi.10 RIWAYAT HIDUP Nama Tempat/Tanggal Lahir Agama Alamat : Junita Tatarini Purba : Sarulla. 12 Juni 1977 : Protestan : Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu Jl.

..............2.................................................................................................... vi ........................................ KATA PENGANTAR ............................ BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................................ Latar Belakang ...............2.......................................................... i ii iii v vi viii x xi 1 1 8 8 8 9 10 10 17 17 18 20 20 20 22 35 39 40 40 40 40 42 44 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ..........1................ 3...... 1...... 1... 1.............2.....................................................2............................................................... 2................................ BAB 3 METODE PENELITIAN .....4................ 1............... Tujuan Penelitian .3..................1..................3..............................................2...................................................... Manfaat Penelitian .. 1..... 3.. Konsep Perilaku Kesehatan ...................5....................... 3.......................................................... Populasi dan Sampel ... 2...............5................. DAFTAR LAMPIRAN ... Permasalahan .........4.......................................................................2.......................... Lokasi dan Waktu Penelitian ................................ Pengertian Keluarga Berencana ............................. 2...........11 DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK .............3..................................................................... Pengertian Kontrasepsi ................................4...................................................3................................... Metode Pengumpulan Data.................................................................................. Program Keluarga Berencana Nasional .............................................3........................................................................ Determinan Pemakaian Alat Kontrasepsi ........................ Jenis Metode Kontrasepsi ............................................ 2.............................................................................................................................................. Landasan Teori.............. RIWAYAT HIDUP .. Hipotesis ......... Kerangka Konsep ................................................ DAFTAR ISI...... Kontrasepsi ... Perkembangan Keluarga Berencana di Indonesia............ 2..........1....... 2... 2...................................... Jenis Penelitian....................................................................... 2.............................3.................................................... ABSTRACT ..... 3...................2.............................................5..................................................3.................... 3.. DAFTAR TABEL .................................. Variabel dan Definisi Operasional................... DAFTAR GAMBAR .................................................1..... 2.....1..... 2............

.... 4....... Kesimpulan ...2...............................2.. Karakteristik Responden ....... 5....5........................................................... Faktor Pendorong ....... Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi...................................................... Hubungan Faktor Pendorong dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi..........2.................................................12 3..................... KESIMPULAN DAN SARAN .........................2...........2...................... 4... 5................... 4....9....................................... BAB 4 HASIL PENELITIAN ........1......7.......2............. 4.3..........1...... Deskripsi Lokasi Penelitian...3...................... Sikap ......1.....2.................................... DAFTAR PUSTAKA .......................................... 4................ Keadaan Geografis.....2...................... Faktor Paling Dominan terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi . Analisis Multivariat .......................................................... Analisis Bivariat ................... Hubungan Faktor Pendukung dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi........................... 4.2.....3............. 4....2........................... 4............................................................................................ 4................................ Faktor Predisposisi..................................... Pengetahuan .......1..................................................... Metode Pengukuran .................... Faktor Predisposisi .............1...............................................3............. 6... Dukungan Petugas Kesehatan.. Kependudukan .. Ketersediaan Alat Kontrasepsi........................................................... Metode Analisis Data .............1.........1..2.................................3................ 4........ Faktor Pendukung........3..........................8............. Sarana dan Prasarana Kesehatan..........................3.........................................................................4....................................................................................... Hubungan Faktor Predisposisi dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi............6...... 4........ Saran ...................................2............. 4......1. Faktor Pendorong................................... 5.......................................7................................1... Faktor Pendukung ............................................................................. 4.............4.......................... 4....................... 5................2............... Analisis Univariat........4. 4......................................... 4.. 3...2.............2.............................. 4.............................3.10..... BAB 5................... 4... 46 50 52 52 52 52 53 54 54 56 59 60 61 62 64 65 66 67 68 68 70 72 73 76 76 84 92 97 99 99 99 101 vii ... 6................... 4....................... Pengambil Keputusan Dalam Keluarga ..... 4.......................................... PEMBAHASAN ......................6..2............... BAB 6......................

... 3..........................3................................................. Besar Sampel yang Diteliti di Wilayah Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008.....2...4............9..........................................6......................................... Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Penelitian Faktorfaktor yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi pada Istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ...................... 61 4.................................. 62 viii ......... Distribusi Responden Menurut Indikator Sikap di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .......... Distribusi Responden Menurut Indikator Ketersediaan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ......... 61 4. 60 4........................................................................... 43 4............... 58 4.. 42 3..............8.... 55 4..................7...... Distribusi Karakteristik Responden di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008........ Distribusi Responden Menurut Indikator Pengetahuan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .2...... Judul Halaman 27 Konsep Pemilihan Alat Kontrasepsi yang Rasional................... Distribusi Jumlah Penduduk Menurut Kepala Keluarga dan Jenis Kelamin di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ........................5...................... Distribusi Responden Berdasarkan Indikator Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008.........13 DAFTAR TABEL Nomor 2...............1......... Jenis Alat Transportasi yang Digunakan Untuk Mencapai Puskesmas di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ...................... 62 4......... Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi Bagi Responden yang Ikut KB di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 . 53 4.... Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ....................................1............1...................... 60 4............................

.................. 4..................... Hasil Akhir Analisis Regresi Logistik Ganda Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .......... Distribusi Responden Menurut Faktor Predisposisi di Kecamatan 63 64 64 64 4..... Hubungan Faktor Pendorong dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .......................... 4.... 4... Distribusi Responden Menurut Faktor Pendukung di Kecamatan 66 67 68 70 72 73 Rambah Samo Tahun 2008 ....................... 4........................ Alasan Tidak Puas Terhadap Pelayanan Petugas Kesehatan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .................... 4..... 4............. 4..............................................18.................10.................. Distribusi Responden Menurut Faktor Pendorong di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .... Rambah Samo Tahun 2008 .................11.......... Hubungan Faktor Predisposisi dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ............14 4............................. Hubungan Faktor Pendukung dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ............... Distribusi Proporsi Responden Berdasarkan Indikator Dukungan Petugas Kesehatan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .... 4..................................... Distribusi Proporsi Responden Menurut Pengambil Keputusan Dalam Keluarga di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008........16.......15.......14... Distribusi Responden yang Ikut KB Menurut Pengambil Keputusan dalam Keluarga di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008.................................13..................20. 4............... 74 ix ................................12............17.....19......

..... Kerangka Teori Determinan Perilaku Individu........... Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesertaan dalam Program KB ......................15 DAFTAR GAMBAR Nomor 2.. Kerangka Konsep Penelitian .. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Kontrasepsi................ Kelompok dan Komunitas ..............4........................................... x .................. 2............... 2. Judul Halaman 24 30 31 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Kontrasepsi.................. 2..2..........3..1.. 38 39 2.......5.....

. 7........... 4............................................. 3................... 140 Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian ................. 141 2............................................................. 117 Analisis Bivariat ................ 135 Surat Izin Penelitian ............16 DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1........................... 8................................................. 127 Analisis Multivariat (Uji Regresi Logistik Ganda) ...................................................................... 5..... 115 Analisis Univariat (Distribusi Frekuensi)................... xi ............ 112 Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov................................... 106 Uji Validitas dan Reliabilitas Data ..................................... Judul Halaman Kuesioner Penelitian Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi Pada Istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008 ........ 6....................

baik masyarakat. Latar Belakang Pembangunan kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran.17 BAB 1 PENDAHULUAN 1. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.1. Secara garis besar masalah pokok di bidang kependudukan yang dihadapi Indonesia adalah jumlah penduduk yang besar dengan laju pertumbuhan penduduk yang relatif masih tinggi. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang tidak luput dari masalah kependudukan. Negara yang kuat didukung oleh masyarakat yang sehat dan sejahtera. perdamaian abadi dan keadilan sosial. dan kesejahteraan akan sulit dicapai tanpa kesehatan rakyat serta tingkat pemerataan penduduk. kemauan. struktur . swasta maupun pemerintah (Depkes RI. penyebaran penduduk yang tidak merata. 2004). Pembangunan kesehatan tersebut merupakan upaya seluruh potensi bangsa Indonesia. Pembangunan bidang kesehatan ini menjadi tujuan pemerintah untuk menuju tercapainya Tujuan Nasional Bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum.

18

umur muda, dan kualitas penduduk yang masih harus ditingkatkan (Wiknjosastro, 1999). Selama kurun waktu 2000-2005 jumlah penduduk Indonesia cenderung berfluktuasi, tahun 2000 sebanyak 205,1 juta jiwa, tahun 2005 meningkat menjadi 218,9 juta jiwa dan tahun 2006 meningkat lagi menjadi 222,2 juta jiwa dengan kepadatan penduduk 117,6 jiwa per km2 (BPS, 2007). Penyebaran penduduk sampai tahun 2005 tidak merata baik antar pulau maupun antar propinsi, dan data menunjukkan 58,7% penduduk berada di Pulau Jawa (Depkes RI, 2007). Salah satu upaya untuk menurunkan tingkat pertumbuhan penduduk adalah melalui upaya pengendalian fertilitas yang instrumen utamanya adalah Program Keluarga Berencana (KB) (Hatmadji, 2004). Sejak pertama kali dicanangkan tahun 1970, program KB telah menunjukkan hasil dengan terjadinya penurunan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) dan Total Fertility Rate (TFR), sedangkan tingkat pemakaian kontrasepsi atau Contraceptive Prevalence Rate (CPR) mengalami peningkatan. Pada periode tahun 1980-1990 LPP adalah 1,97%, tahun 1990-2000 turun menjadi 1,45% dan tahun 2000-2006 turun lagi menjadi 1,34% (BPS, 2007a). TFR tahun 1971 adalah 5,6 per wanita pasangan usia subur (PUS), tahun 1980-1990 turun menjadi 2,34 dan pada tahun 2000-2005 turun lagi menjadi 2,28 (BPS, 2007b). Angka ini menunjukkan penurunan TFR dari waktu ke waktu tetapi belum mencapai target nasional yaitu 2,1 (BKKBN, 2005). Hasil Survei Demografi dan Kesehatan

19

Indonesia (SDKI) menunjukkan peningkatan CPR dari 54,7% (tahun 1994) menjadi 57,4% (tahun 1997) dan 60,3% (tahun 2002-2003) (BPS, 2005). Peran pihak swasta dalam melayani kebutuhan masyarakat dalam ber-KB khususnya dalam pendistribusian alat kontrasepsi modern mengalami peningkatan dari 42% (tahun 1997) menjadi 63% (tahun 2003), sedangkan peran pemerintah menurun dari 43% (tahun 1997) menjadi 28% (tahun 2003). Tempat pelayanan untuk akseptor KB baru di klinik KB pemerintah pada tahun 2005 sebanyak 59,66% sedangkan swasta sebanyak 5,47% (Depkes RI, 2007). Kurangnya mengakibatkan peran pemerintah dalam menggalakkan yang akan program KB

tingginya pertambahan

penduduk

menyebabkan

meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan, pendidikan, lapangan pekerjaan, dan pelayanan lainnya. Ketidakmampuan menciptakan lapangan pekerjaan yang cukup, berdampak pada naiknya angka pengangguran dan kemiskinan (Herlianto, 2008). Berdasarkan laporan BPS tahun 2007 jumlah penduduk miskin sebesar 16,58% dari total penduduk Indonesia atau sekitar 37,17 juta jiwa (BKKBN, 2009). Hal ini mengakibatkan rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Menurut United Nations Development Program/UNDP (2008), IPM Indonesia masih sangat rendah yaitu 0,728 menduduki peringkat 107 dari 177 negara. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa Indonesia belum mampu untuk memanfaatkan jumlah populasinya yang besar menjadi kekuatan ekonomi dan harus segera mengatur laju pertumbuhan penduduknya (Herlianto, 2008).

20

Sejak tahun 1997 program KB tidak lagi popular dan mengalami stagnasi, hal ini terlihat dari jumlah peserta KB aktif yang belum mencapai target yang ditetapkan oleh BKKBN yaitu 75%. Menurut SDKI 1997 angka kesertaan KB sebanyak 57,4% dan SDKI 2002-2003 sebanyak 60,3% (BKKBN, 2005). Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2003 persentase KB aktif terhadap PUS adalah 54,5% meningkat menjadi 57,9% pada tahun 2006 (Kasmiyati, 2008). Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya cakupan program KB tersebut di antaranya adalah pengadaan alat kontrasepsi yang masih kurang, jumlah petugas KB lapangan (PLKB) yang minim, serta kebijakan pemerintah di tiap daerah tidak sama (BKKBN, 2004). Memasuki era desentralisasi/otonomi daerah, setiap pemerintah daerah tingkat II (kabupaten/kota) memiliki otoritas penuh untuk memilih dan memilah program yang paling penting bagi daerahnya. Hampir 70% kantor BKKBN di daerah menjadi satu dengan dinas-dinas pemerintah lainnya, hanya sedikit lembaga BKKBN yang berdiri sendiri. Umumnya urusan KB digabungkan dengan bidang kesejahteraan sosial atau catatan sipil dan kependudukan. Selain itu, daerah menunjukkan komitmen yang rendah untuk menjamin kelembagaan KB dalam peraturan daerah (BKKBN, 2004). Krisis ekonomi yang melanda Indonesia juga diperkirakan ikut menjadi salah satu penyebab, karena berpengaruh terhadap daya beli masyarakat termasuk kontrasepsi. Sementara itu belum semua rakyat miskin mendapatkan akses pelayanan

Kabupaten yang terdiri dari 14 kecamatan ini menghadapi berbagai permasalahan yang harus segera diatasi sebagai kabupaten baru. Suntik 37. 2008). Jumlah PUS di Kecamatan Rambah Samo pada tahun 2004 sebanyak 1.26%.86%.92%. hal ini mengakibatkan minimnya CPR di kalangan PUS (Herlianto.158 Kepala Keluarga dengan jumlah penduduk 328. 71.594 orang dengan akseptor KB aktif 926 (58. masih sulit direalisasikan (Beni. Fakta lainnya adalah bahwa hingga saat ini ketersediaan alat kontrasepsi. Kabupaten Rokan Hulu sebagai kabupaten yang dimekarkan dari Kabupaten Kampar pada tahun 1998 juga mengalami hal yang sama. khususnya dengan harga terjangkau bagi PUS keluarga miskin baik di perkotaan maupun di daerah pedesaan. Salah satunya adalah permasalahan bidang KB dan kependudukan yang masih banyak mengalami kendala sehingga mengakibatkan pencapaian akseptor KB aktif tiap tahunnya masih di bawah target nasional. Sedangkan Kecamatan Rambah Samo sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Rokan Hulu merupakan daerah baru yang dibuka pada tahun 1979/1980 khusus untuk tujuan transmigrasi. Kondom 0.09%). dan lain-lain 0. dengan pemakaian kontrasepsi IUD 6.26%.333 orang dengan akseptor .43%. Keadaan demografi pada tahun 2007 terdiri dari 79.26%. Sedangkan tahun 2007 jumlah PUS sebanyak 2.503 jiwa diantaranya adalah masyarakat miskin dengan mata pencaharian sebagian besar penduduk pada sektor pertanian. 2003).21 KB khususnya alat kontrasepsi gratis. Pil 48. perkebunan dan perdagangan.306 jiwa. Implant 6.

keyakinan. diduga beberapa aspek yang menjadi faktor penyebab masih rendahnya pemakaian alat kontrasepsi adalah kurangnya informasi tentang alat kontrasepsi. faktor pendukung (tersedia atau tidak tersedianya fasilitas). 2008).44%.12% dan lain-lain 1. Pil 35. pengetahuan. faktor yang memperkuat atau mendorong (sikap. Informasi yang diperoleh dari Kepala Bidang Kependudukan dan KB Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Rokan Hulu tahun 2007.94%. Menurut Green dan Kreuter (2005). . kepercayaan.02%.09%) dengan pemakaian kontrasepsi IUD 8. sikap. Hal ini disebabkan karena dana yang tersedia untuk pengadaan alat kontrasepsi terbatas. nilai-nilai. budaya. Implant 7. keahlian dan dukungan petugas) dalam melayani kesehatan di masyarakat. diketahui bahwa pengadaan alat kontrasepsi untuk masyarakat belum mencukupi dan tidak terdistribusi secara merata.44%. Rokan Hulu.04%. kurangnya dukungan dari petugas kesehatan. Berdasarkan pengamatan di lapangan. perilaku. determinan perilaku atau tindakan seseorang dipengaruhi oleh 3 faktor. Pencapaian akseptor KB aktif masih rendah dibandingkan dengan target nasional yaitu 75% (Dinas Kesehatan Kab.22 KB aktif 982 (42. sehingga hanya beberapa jenis alat kontrasepsi saja yang tersedia dan jumlahnya belum mencukupi. dan sebagainya). yakni faktor predisposisi (pengetahuan. Kondom 1. serta alat kontrasepsi yang kurang tersedia di sarana kesehatan. biaya untuk membeli dan memasang kontrasepsi yang tidak terjangkau. Suntik 46.

sikap). 2005). pengetahuan.23 Manuaba (1998) mengatakan bahwa faktor-fakor yang mempengaruhi alasan pemilihan metode kontrasepsi diantaranya tingkat ekonomi. agama. Hasil penelitian Sakhnan (2001) melaporkan faktor usia. jumlah anak. faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi. Masih rendahnya partisipasi pria ber-KB antara lain disebabkan kondisi lingkungan sosial budaya masyarakat yang masih kurang mendukung. dan pengetahuan. perilaku petugas merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan keikutsertaan ibu PUS dalam program KB. psiko-sosial. Hasil penelitian Meutia (1997) menunjukkan bahwa ada pengaruh karakteristik (pekerjaan. pendidikan. . keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan. pengetahuan dan kesadaran pria dan keluarganya masih rendah. pengambil keputusan dalam keluarga) dan pengetahuan akseptor KB terhadap utilitas alat kontrasepsi implant. demografi. pekerjaan dan tersedianya layanan kesehatan yang terjangkau. jumlah anak. Berdasarkan latar belakang di atas maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh faktor predisposisi (umur. serta keterbatasan penerimaan dan aksesibilitas terhadap pelayanan KB dan kesehatan reproduksi (BKKBN. nilai anak bagi keluarga. Syamsiah (2002) mengatakan bahwa faktor sosial budaya adalah semua faktor yang ada di masyarakat yang mempengaruhi penerimaan suatu jenis alat kontrasepsi antara lain: sosio-ekonomi. pengetahuan. jarak lokasi ke pelayanan KB.

1. Tujuan Penelitian Untuk menganalisis pengaruh faktor predisposisi (umur. faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi. 1. pendidikan. keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan. pendidikan. pengetahuan. pengetahuan. jumlah anak. pengambil . sikap). pengambil keputusan) berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi pada istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008. jumlah anak. jumlah anak.3.24 pengambil keputusan) terhadap pemakaian alat kontrasepsi pada istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu. Hipotesis Faktor predisposisi (umur. pengambil keputusan) terhadap pemakaian alat kontrasepsi pada istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu. faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi. sikap). faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi. sikap). pengetahuan.2. 1. Permasalahan Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah faktor predisposisi (umur.4. keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan. keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan. pendidikan.

Bagi Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan dan informasi bagi penyusunan kebijakan terkait dengan KB dan penggunaan alat kontrasepsi dan kebijakan menyangkut pelayanan publik dalam bidang kesehatan masyarakat. 2.5. 1.25 keputusan) berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi pada istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu. . Manfaat Akademis Untuk menambah wawasan bagi peneliti lain guna pengembangan ilmu pengetahuan kesehatan masyarakat khususnya di bidang administrasi kesehatan komunitas. Manfaat Penelitian 1.

Termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas. misalnya: air bersih. ketersediaan makanan yang bergizi. dokter atau bidan praktek swasta. Faktor-faktor ini terutama yang positif mempermudah terwujudnya perilaku.1. maka sering disebut faktor pemudah. dan faktor-faktor yang memperkuat atau mendorong (reinforcing factor). sistem nilai yang dianut masyarakat. pos obat desa. posyandu. yakni perilaku (behavior causes) dan faktor di luar perilaku (non behavior causes). tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan.26 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. tingkat sosial ekonomi. tempat pembuangan sampah. tempat pembuangan tinja. dan sebagainya. b) Faktor-faktor pemungkin (enabling factors) Faktor-faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat. kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok. polindes. a) Faktor-faktor predisposisi (predisposing factor) Faktor-faktor ini mencakup: pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan. Perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor. 10 . rumah sakit. dan sebagainya. Konsep Perilaku Kesehatan Menurut Green dan Kreuter (2005). faktor-faktor yang mendukung (enabling factor). tingkat pendidikan. poliklinik. yakni faktor predisposisi (predisposing factor).

para petugas. sikap dan perilaku petugas termasuk petugas kesehatan. yakni: 1. dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan (knowledge) Pengetahuan merupakan hasil dari tahu. Untuk berperilaku sehat. Untuk berperilaku sehat. masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positif. teori Green ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan. maka faktor-faktor ini disebut faktor pendukung. peraturan-peraturan baik dari pusat maupun pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia. melainkan diperlukan perilaku contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat. rasa dan raba. dan dukungan fasilitas saja.27 dan sebagainya. tokoh agama. tokoh agama (toga). lebih-lebih para petugas kesehatan. . masyarakat memerlukan sarana dan prasarana pendukung. yakni indera penglihatan. Fasilitas ini pada hakekatnya mendukung atau memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan. penciuman. Dalam perkembangannya. Termasuk juga disini undang-undang. atau faktor pemungkin. Di samping itu undang-undang juga diperlukan untuk memperkuat perilaku masyarakat tersebut. pendengaran. c) Faktor-faktor pendorong (reinforcing factors) Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat (toma).

dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Contohnya adalah mendapatkan informasi tentang KB. menguraikan. sebab dari pengalaman dan hasil penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng (long lasting) daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Gerungan. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat . Selanjutnya Notoatmodjo (2007) mengatakan bahwa pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan: a) Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. pengertian KB. menyatakan dan sebagainya. Termasuk kedalam pengetahuan ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. b) Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui.28 Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). mendefenisikan. manfaat KB dan dimana memperoleh pelayanan KB. 1986). Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan.

dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. mengelompokkan. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. e) Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. dapat menyesuaikan. dapat menyusun. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja. meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. dan sebagainya. dan masih ada kaitannya satu sama lain. c) Aplikasi (Aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).29 menjelaskan. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum. dapat merencanakan. Misalnya. rumus. d) Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen. dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. . membedakan. menyimpulkan. tetapi masih di dalam satu struktur organisasi. prinsip. memisahkan. dapat meringkaskan. metode. menyebutkan contoh. seperti dapat menggambarkan (membuat bagan).

atau menggunakan kriteria-kriteria yang ada. 2. Sikap (Attitude) Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek. akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas. pengertian dan manfaat KB.30 f) Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. serta . Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup. tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Contohnya adalah seperti sikap setuju atau tidaknya terhadap informasi KB. Notoatmodjo (2003) yang mengutip pendapat Newcomb. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri. menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak. dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu.

fasilitas dan sarananya. dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut. sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan yaitu: (Notoatmodjo. 2003) a) Menerima (Receiving) Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). mengerjakan. terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah. saudaranya dan sebagainya) untuk pergi ke sarana kesehatan untuk mendapatkan pelayanan KB adalah suatu bukti bahwa ibu tersebut telah mempunyai sikap positif. Seperti halnya dengan pengetahuan.31 kesediaannya mendatangi tempat pelayanan KB. Misalnya: seorang ibu yang mengajak ibu yang lain (tetangganya. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan. Misalnya sikap orang terhadap KB dapat dilihat dari kesediaan dan perhatian orang itu terhadap ceramah-ceramah tentang KB. b) Merespon (Responding) Memberikan jawaban apabila ditanya. c) Menghargai (Valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. juga kesediaan mereka memenuhi kebutuhan sendiri. .

meskipun mendapat tantangan dari suami atau mertuanya. Sikap mengandung suatu penilaian emosional (senang. dan lain-lain) dan memiliki tingkat kedalaman yang berbeda-beda. Misalnya. sikap dapat dirumuskan sebagai kecenderungan untuk berespon secara positif maupun negatif terhadap orang. seorang ibu mau memakai alat kontrasepsi. antara lain adalah fasilitas. dan ada fasilitas yang mudah dicapai agar ibu tersebut dapat memakai alat kontrasepsi. juga diperlukan faktor dukungan (support) dari pihak lain. . Sikap ibu yang positif terhadap alat kontrasepsi harus mendapat konfirmasi dari suaminya. orangtua atau mertua. 3. benci. Beberapa tingkatan praktek adalah: a) Persepsi (Perception) Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama. sedih. untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau kondisi yang memungkinkan. Selain fasilitas.32 d) Bertanggung jawab (Responsible) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi. Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). misalnya dari suami atau istri. dan lain-lain. Praktek atau tindakan (Practice) Menurut Sarwono (2007). objek ataupun situasi tertentu.

Program Keluarga Berencana Nasional 2. atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan. (2) Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan. c) Mekanisme (Mechanism) Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis. yaitu: (1) Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan. maka ia sudah mencapai praktek tingkat tiga.1. Mochtar (1995) mengatakan keluarga berencana adalah suatu usaha menjarangkan atau merencanakan jumlah anak dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi. keluarga berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk mendapatkan objek tertentu. yang dikutip oleh Hartanto (2004).33 b) Respons terpimpin (Guided response) Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktek tingkat dua.2. 2.2. Pengertian Keluarga Berencana Menurut WHO (1970). . d) Adopsi (Adoption) Adopsi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut. (4) Menentukan jumlah anak dalam keluarga. (3) Mengatur interval di antara kehamilan.

2003). disusul dengan keluarnya Keputusan . 2.2.000 kelahiran bahkan tidak jarang ibu meninggal bersama bayinya (Wiknjosastro. Perkembangan Keluarga Berencana di Indonesia Permulaan pemikiran tentang KB di Indonesia tidak mempersoalkan angka kelahiran tetapi tingginya angka kematian ibu akibat terlalu sering melahirkan. Secara umum tujuan keluarga berencana adalah untuk mewujudkan keluarga yang sehat dan sejahtera dalam upaya untuk menjarangkan kehamilan dan membatasi jumlah anak dua orang saja.2. berkisar pada 800 per 100. Keputusan pemerintah untuk menjadikan KB sebagai program nasional dan dinyatakan sebagai bagian integral dari pembangunan nasional. Hal inilah yang menggugah Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia kala itu Sarwono Prawirohardjo untuk mendirikan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) pada tanggal 23 Desember 1957.34 Berdasarkan dua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa keluarga berencana adalah usaha-usaha yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun individu untuk mengatur jarak kelahirannya dengan menggunakan alat atau metode kontrasepsi. 1999). Konsep yang dikembangkan oleh PKBI adalah kesehatan ibu dan anak yang memberi inspirasi bagi pendirian Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang kemudian di kelola oleh Pemerintah Orde Baru. upaya ini juga dapat menyehatkan kondisi sosial ekonomi keluarga (Saifuddin.

Agar masyarakat mau membiayai sendiri pelayanan KB. 1990). Falsafah KB Mandiri pada hakekatnya merupakan keadaan dan sikap mental dari pemerintah maupun pengelola/pelaksana KB baik secara individu maupun kelompok dalam mengelola dan melaksanakan KB atas kemauan sendiri tanpa tergantung dari orang lain dalam memelopori menjadi peserta KB. Proses pembangunan konsep KB mandiri berawal dari diperkenalkannya konsep alih peran kemudian berkembang menjadi alih kelola dan selanjutnya mengkristalkan menjadi KB Mandiri. Untuk menunjang pelaksanaan KB Mandiri pada tahun 1988 telah dicanangkan program KB Lingkaran Biru (LIBI) dan akhirnya dilontarkan suatu kegiatan pemasaran sosial LIBI lengkap dengan logonya guna memperkenalkan . pemerintah dalam hal ini BKKBN telah memperkenalkan satu program baru yang disebut dengan Gerakan KB Mandiri. maka beberapa hal yang menyangkut tersedianya pelayanan yang mudah dicapai dan dijangkau masyarakat serta kualitas yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat perlu diusahakan (KBKKBN. Dengan demikian ketergantungan program KB terhadap pemerintah semakin berkurang. Dengan program yang baru ini pemerintah memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi organisasi profesi serta sektor swasta lainnya dalam memberikan pelayanan KB. Memasuki Pelita V. 8 Tahun 1970 tentang Pembentukan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).35 Presiden No.

1. Metode Amenorea Laktasi (MAL) b.2. 1992). Untuk memperluas pilihan alat kontrasepsi terhadap kebutuhan ber-KB. Kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. 2. Metode sederhana tanpa alat/obat a.3. Pemasaran KB LIMAS bukan satu pengganti pemasaran kontrasepsi LIBI. menjarangkan kehamilan. maka tanggal 1 Juli 1992 telah diresmikan oleh Presiden Suharto sebuah lambang baru yaitu Lingkaran Emas (LIMAS). Metode KB alamiah (KBA) . Pengertian Kontrasepsi Kontrasepsi adalah alat atau obat yang digunakan untuk menunda. tetapi suatu usaha yang bersamaan untuk lebih memberikan banyak pilihan kontrasepsi kepada peserta KB mandiri yang pada akhirnya dapat diharapkan memberikan kepuasan kepada akseptor (BKKBN.3. serta menghentikan kesuburan.3. sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur (ovum) yang matang dengan sperma yang akan mengakibatkan kehamilan. 2. Kontra berarti mencegah atau melawan. 1998) 1. Jenis Metode Kontrasepsi Metode/cara kontrasepsi menurut jenisnya dibagi menjadi: (Manuaba.36 sederetan pelayanan swasta maupun alat kontrasepsi untuk KB. Kontrasepsi 2. Maka kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur dengan sperma tersebut.

Diafragma c. Kondom b. Susuk KB ( Bawah Kulit/AKBK) d. Pada pria: Metode Operasi Pria (MOP/Vasektomi) Cara-cara kontrasepsi tersebut mempunyai tingkat efektifitas yang berbedabeda dalam memberikan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan. Metode mantap dengan cara operasi a. (3) penerimaan pasangan terhadap suatu cara adalah unsur yang penting untuk berhasilnya suatu cara kontrasepsi. Namun perlu diingat adanya aksioma (azas) kontrasepsi. (2) cara yang terbaik hasilnya (efektif) adalah cara yang digunakan oleh pasangan dengan teguh secara terus menerus. . Metode sederhana dengan alat/obat (barrier) a. Pada wanita: Metode Operasi Wanita (MOW/Tubektomi) b. Metode efektif a. yaitu: (1) cara apapun yang dipakai adalah lebih baik daripada tidak memakai sama sekali. Pil KB b. Sanggama terputus (coitus interruptus) 2. Suntikan KB c.37 c. Spermisida 3. IUD ( Dalam Rahim/AKDR) 4.

Beberapa faktor demografi tertentu juga mempengaruhi penerimaan KB di beberapa negara.3. tetapi juga karena metode-metode tersebut mungkin tidak dapat diterima sehubungan dengan kebijakan nasional KB. kesehatan individu. Bukan hanya karena terbatasnya jumlah metode yang tersedia. Beberapa faktor sosio-psikologi yang penting antara lain . Faktor sosial lain yang juga mempengaruhi adalah suku dan agama. faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian kontrasepsi adalah sebagai berikut: 1. dan seksualitas wanita atau biaya untuk memperoleh kontrasepsi (Muryani.38 Banyak orang kesulitan untuk menentukan pilihan kontrasepsi yang tepat. Faktor sosio-psikologi Sikap dan keyakinan merupakan kunci penerimaan KB. penggunaan kontrasepsi lebih banyak pada wanita yang berumur akhir 20-30 an yang sudah memiliki anak tiga atau lebih. misalnya di banyak negara-negara sedang bekembang. 2. 2. Faktor sosio-demografi Penerimaan KB lebih banyak pada mereka yang memiliki standard hidup yang lebih tinggi. 2004). juga jenis rumah. pendapatan keluarga dan status pekerjaan.3. gizi (di negara-negara sedang berkembang) dan pengukuran pendapatan tidak langsung lainnya. Determinan Pemakaian Alat Kontrasepsi Menurut Berthrand (1980). banyak sikap yang dapat menghalangi KB. Indikator status sosio-ekonomi termasuk pendidikan yang dicapai.

persepsi terhadap kematian anak.39 adalah ukuran keluarga ideal. Beberapa faktor yang berhubungan dengan pelayanan KB antara lain keterlibatan dalam kegiatan yang berhubungan dengan KB. Sikap dan kepercayaan tersebut perlu untuk mencegah isu yang berhubungan termasuk segi pelayanan dan efek samping alat kontrasepsi. informasi dan edukasi (KIE) merupakan salah satu faktor praktis yang dapat diukur bila pelayanan KB tidak tersedia. jarak ke pusat pelayanan dan keterlibatan dengan media massa. 3. pentingnya nilai anak laki. pengetahuan tentang sumber kontrasepsi. Secara ringkas faktor-faktor tersebut dapat dilihat seperti pada gambar berikut: . komunikasi suami isteri. Faktor yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan Program komunikasi. sikap terhadap KB.

Faktor sosio-demografi Pendidikan Pendapatan Status pekerjaan Perumahan Status gizi Umur Suku Agama Faktor sosio-psikologi Ukuran keluarga ideal Pentingnya nilai anak laki Sikap terhadap KB Komunikasi suami-istri Persepsi terhadap kematian anak Faktor yang berhubungan dengan pelayanan Keterlibatan dalam kegiatan yang berhubungan dengan KB Pengetahuan tentang kontrasepsi Jarak ke pusat pelayanan Paparan dengan media massa Pemakaian Kontrasepsi a. efektif c. b. c. e. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemakaian Kontrasepsi Menurut WHO dalam Wiknjosastro (1999). c. faktor-faktor penting bagi pasangan untuk memilih metode kontrasepsi adalah apakah metode tersebut: a. h. d. b. f. c. d. g. murah d.40 a.1. 1980 Gambar 2. a. Sumber : Bertrand. mudah didapat . b. d. e. aman e. permanen atau reversibel b.

jumlah dan jenis kelamin anak. harus digunakan setiap saat pasangan berhubungan seksual Karakteristik pasangan seperti umur. Pemilihan metode kontrasepsi mungkin juga dipengaruhi oleh informasi yang diterima dari teman atau kerabat. pasangan yang tidak menginginkan anak lagi mungkin menilai keefektifan metode lebih dari kemudahan penggunaan. Kadang-kadang informasi yang diberikan tidak benar sehingga menimbulkan kesalahan pengertian tentang penggunaan kontrasepsi.41 f. memiliki efek samping yang tidak diinginkan h. faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian kontrasepsi adalah: . seorang wanita yang menginginkan menunda kelahiran mungkin lebih menilai kenyamanan dan kemudahan penggunaan daripada keefektifan metode. membutuhkan kerjasama pasangan k. mudah digunakan dan tidak putus pakai g. Sebagai contoh. Tidak semua faktor ini sama pentingnya pada tiap pasangan. Sebaliknya. dan frekuensi hubungan seksual juga mungkin mempengaruhi. Kepentingan faktor-faktor ini mungkin berubah dari waktu ke waktu karena keinginan pasangan untuk mengganti metode kontrasepsi yang digunakan. dapat digunakan pada saat menyusui i. Menurut Affandi dalam Mutiara (1998). melindungi terhadap penyakit hubungan seksual j.

jarak antara anak pertama dan kedua sekurang-kurangnya 2 tahun atau diusahakan jangan ada 2 anak balita dalam kesempatan yang sama. Kurun waktu yang paling aman adalah umur 20-35 tahun dengan pengaturan: 1. baik yang didapat dari keluarga/kerabat maupun yang didapat dari petugas kesehatan atau tokoh masyarakat. berapa perbedaan jarak umur antara anak. Kemudian menyelesaikan besarnya keluarga sewaktu istri berusia 30-35 tahun dengan kontrasepsi mantap b. Seorang wanita secara biologik memasuki usia reproduksinya beberapa tahun sebelum mencapai umur dimana kehamilan dan persalinan dapat berlangsung dengan aman dan kesuburan ini akan berlangsung terus menerus sampai 10-15 tahun sesudah kurun waktu dimana kehamilan dan persalinan itu berlangsung dengan aman.42 a. anak kedua lahir sebelum ibunya berumur 30 tahun 3. Dalam perencanaan keluarga harus diketahui kapan kurun waktu reproduksi sehat. anak pertama lahir sesudah ibunya berumur 20 tahun 2. . berapa sebaiknya jumlah anak sesuai kondisi. Pilihan ini sangat pula tergantung pada pengetahuannya tentang kontrasepsi tersebut. Faktor pola perencanaan keluarga. Faktor subyektif Bagaimanapun baiknya suatu alat kontrasepsi baik dipandang dari sudut kesehatan maupun rasionalitasnya namun belumlah tentu dirasakan cocok dan dipilih oleh akseptor/calon akseptor. Adalah mengenai penentuan besarnya jumlah keluarga yang menyangkut waktu yang tepat untuk mengakhiri kesuburan.

Pil b. atau menghentikan sama sekali penggunaan kontraspsi. akan merubah metode. Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. d. b. Faktor motivasi a. Suntikan c.43 c. Konsep Pemilihan Alat Kontrasepsi yang Rasional Fase Mencegah Kehamilan Fase Menjarangkan Kehamilan Fase Mengakhiri Kehamilan a. b. Motivasi akseptor KB untuk terus menggunakan kontrasepsi yang lama. c. Faktor obyektif Pemilihan kontrasepsi yang digunakan disesuaikan dengan keadaan wanita (kondisi fisik dan umur) serta disesuaikan dengan fase-fase menurut kurun waktu reproduksinya. .1. Biasanya pemilihan kontrasepsi juga disesuaikan dengan maksud penggunaan kontrasepsi tersebut. d. c. dipengaruhi oleh berbagai faktor. 20-21 tahun IUD Suntikan Pil Implant Umur d. e. Mereka yang menggunakan kontrasepsi dengan tujuan untuk membatasi kelahiran mempunyai tingkat kemantapan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang bertujuan untuk menunda kehamilan. IUD a. 30-35 tahun Kontap IUD Implant Suntikan Pil Kelangsungan pemakaian kontrasepsi sangat tergantung dari motivasi dan penerimaan pasangan suami istri.

persentase penduduk yang dapat berbahasa Indonesia f. persentase penduduk usia sekolah yang masih bersekolah . persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang sakit selama seminggu j. persentase penduduk wanita berumur 15-24 tahun yang belum pernah kawin h. rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup c. persentase penduduk wanita berumur 20-24 tahun yang belum pernah kawin g. tingkat kematian bayi d. kepadatan penduduk per km2 e. Faktor sosial. Faktor demografi.44 Menurut Soeradji. dalam Mutiara (1998). dkk. jumlah guru SD per 10. meliputi: a. persentase rumah tangga yang memiliki televisi c. angka fertilitas total 2. tingkat harapan hidup saat lahir e. persentase penduduk yang tinggal di daerah kota d. faktor-faktor yang mempengaruhi kesertaan dalam program KB adalah: 1. persentase penduduk umur 10 tahun atau lebih yang mendapatkan perawatan tenaga medis k. meliputi: a. persentase rumah tangga yang memiliki radio b. rata-rata jumlah anak yang masih hidup b.000 penduduk usia sekolah i.

45

l. persentase wanita yang pernah kawin umur 15-49 tahun 3. Faktor ekonomi, meliputi: a. rasio ketergantungan antara penduduk umur 0-9 dan 55+ tahun terhadap yang berumur 10-54 tahun b. persentase wanita yang bekerja c. partisipasi angkatan kerja wanita d. persentase wanita yang bekerja pada pekerjaan tradisional e. persentase petani yang tidak memiliki tanah f. rata-rata luas sawah 4. Faktor infra struktur, meliputi : a. persentase rumah tangga yang mendapatkan leding b. jumlah gedung SD per 10.000 penduduk usia sekolah c. jumlah gedung SMTP per 10.000 penduduk usia sekolah d. persentase sawah dengan irigasi e. persentase tanah sawah 5. Faktor input, meliputi : a. jumlah dokter per 10.000 wanita umur 20-24 tahun b. jumlah bidan per 10.000 wanita umur 20-24 tahun c. jumlah pembantu bidan per 10.000 wanita umur 20-24 tahun d. jumlah klinik KB per 10.000 wanita umur 20-24 tahun e. jumlah petugas lapangan KB per 10.000 wanita umur 20-24 tahun

46

f. jumlah pembantu pembina KB desa per 10.000 wanita umur 20-24 tahun g. rata-rata hari kerja klinik per minggu Kelima faktor-faktor tersebut dapat digambarkan seperti gambar di bawah ini: Faktor Demografi

Faktor Sosial Faktor Input Faktor Ekonomi Kesertaan dalam program KB

Faktor Infra Struktur Sumber : Soeradji, dkk. dalam Mutiara (1998) Gambar 2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesertaan Dalam Program KB Menurut Utomo dalam Mutiara (1998), penggunaan kontrasepsi dipengaruhi oleh umur, jumlah anak hidup, tingkat pendidikan dan frekuensi pemaparan terhadap media massa. Umur mempengaruhi jumlah anak hidup dan tingkat pendidikan, dan tingkat pendidikan mempengaruhi frekuensi pemaparan terhadap media massa. Konsep tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

47

Jumlah Anak Hidup

Frekuensi Pemaparan Terhadap Media Massa

Penggunaan Kontrasepsi

Tingkat Pendidikan Sumber : Utomo dalam Mutiara (1998)

Umur

Gambar 2.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Kontrasepsi Berdasarkan klasifikasi beberapa penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pemakaian alat kontrasepsi dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut: A. Umur Masa kehamilan reproduksi wanita pada dasarnya dapat dibagi dalam tiga periode, yakni kurun reproduksi muda (15-19 tahun), kurun reproduksi sehat (20-35 tahun), dan kurun reproduksi tua (36-45 tahun). Pembagian ini didasarkan atas data epidemiologi bahwa risiko kehamilan dan persalinan baik bagi ibu maupun bagi anak lebih tinggi pada usia kurang dari 20 tahun, paling rendah pada usia 20-35 tahun dan meningkat lagi secara tajam setelah lebih dari 35 tahun. Jenis kontrasepsi yang sebaiknya dipakai disesuaikan dengan tahap masa reproduksi tersebut

(Siswosudarmo, 2001). Sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (1993) yang mengatakan bahwa umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang termasuk dalam

Mereka yang berumur tua mempunyai peluang lebih kecil untuk menggunakan alat kontrasepsi dibandingkan dengan yang muda. Sementara wanita yang berumur 30-34 tahun dan 35-39 tahun kemungkinannya untuk menggunakan kontrasepsi hanya sekitar 0. Ini mengisyaratkan bahwa ada penurunan penggunaan kontrasepsi pada kelompok wanita yang lebih tua. pembatasan jumlah anak. B. Orang yang berpendidikan lebih tinggi biasanya akan bertindak lebih rasional.73 kali dibandingkan dengan yang berumur 40 tahun atau lebih. Pendidikan Tingkat pendidikan sangat mempengaruhi bagaimana seseorang untuk bertindak dan mencari penyebab serta solusi dalam hidupnya. dengan pendidikan yang tinggi seseorang dapat lebih mudah untuk menerima ide atau masalah baru seperti penerimaan. dan keinginan terhadap jenis kelamin tertentu. Wanita yang berumur < 20 tahun kemungkinan untuk menggunakan kontrasepsi sebesar 0. Oleh karena itu orang yang berpendidikan akan lebih mudah menerima gagasan baru. Pendidikan juga mempengaruhi pola berpikir pragmatis dan rasional terhadap adat kebiasaan.38.15 dan 0. Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh Dang di Vietnam dalam Mutiara (1998) dilaporkan bahwa ada hubungan yang kuat antara umur dengan penggunaan kontrasepsi. Demikian pula halnya dengan menentukan pola perencanaan keluarga dan pola dasar penggunaan kontrasepsi serta peningkatan kesejahteraan keluarga (Manuaba. 1998). Pendidikan juga akan meningkatkan kesadaran wanita terhadap manfaat yang dapat dinikmati bila ia mempunyai jumlah .48 pemakaian alat kontrasepsi.

49 anak sedikit. Wanita dengan jumlah anak 4 orang atau lebih memiliki kemungkinan untuk menggunakan kontrasepsi . Wanita yang berpendidikan lebih tinggi cenderung membatasi jumlah kelahiran dibandingkan dengan yang tidak berpendidikan atau berpendidikan rendah (Soekanto. C. Wanita yang tidak sekolah kemungkinan untuk menggunakan kontrasepsi sebesar 0. Pola yang sama juga dijumpai dengan pendidikan suami. Penelitian Dang dalam Mutiara (1998) menunjukkan bahwa pendidikan berhubungan bermakna dengan penggunaan kontrasepsi. Jumlah anak Mantra (2006) mengatakan bahwa kemungkinan seorang istri untuk menambah kelahiran tergantung kepada jumlah anak yang telah dilahirkannya. Semakin sering seorang wanita melahirkan anak. Hasil penelitian Dang dalam Mutiara (1998) melaporkan ada hubungan yang bermakna antara jumlah anak dengan penggunaan kontrasepsi. maka akan semakin memiliki risiko kematian dalam persalinan.55 kali dibandingkan dengan wanita yang berpendidikan menengah atau tinggi. 2006).88 kali dibandingkan dengan wanita yang berpendidikan menengah atau tinggi. Seorang istri mungkin menggunakan alat kontrasepsi setelah mempunyai jumlah anak tertentu dan juga umur anak yang masih hidup. Hal ini berarti jumlah anak akan sangat mempengaruhi kesehatan ibu dan dapat meningkatkan taraf hidup keluarga secara maksimal. Sementara wanita yang berpendidikan dasar kemungkinan untuk menggunakan kontrasepsi sebesar 0.

sebab dari pengalaman dan hasil penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng (long lasting) daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Gerungan. Keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi Menurut Manuaba (1998). D. 1986). Adanya keterkaitan antara pendapatan dengan kemampuan membayar jelas berhubungan dengan masalah ekonomi. dalam Mutiara (1998) melaporkan bahwa pada awal progam KB.73 kali dibandingkan dengan wanita yang memiliki 2 orang anak atau kurang. faktor-fakor yang mempengaruhi alasan pemilihan metode kontrasepsi diantaranya adalah tingkat ekonomi. Pengetahuan Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). pekerjaan dan tersedianya layanan kesehatan yang terjangkau. penggunaan alat kontrasepsi adalah mereka yang telah mempunyai anak cukup banyak. Dengan berjalannya waktu dan pelaksanaan program maka lebih banyak wanita dengan paritas yang lebih kecil akan menggunakan alat kontrasepsi. . dkk. E. sedangkan kemampuan membayar bisa tergantung variabel non ekonomi dalam hal selera atau persepsi individu terhadap suatu barang atau jasa.50 sebesar 1. Soeradji. Gejala ini melandasi pengaruh jumlah anak terhadap penggunaan alat kontrasepsi.

dan sebagainya) tergantung pada jenis masalah atau perubahan yang bersangkutan (Sarwono. F. . Untuk mengubah atau mendidik masyarakat diperlukan tokoh panutan yang dapat merupakan pemimpin masyarakat. oleh dokter dan sebagainya – dapat meningkatkan secara nyata pemilihan metode kontrasepsi. keberhasilan program KB di Indonesia antara lain karena melibatkan ulama. pertama kali suatu metode kontrasepsi harus tersedia dan mudah didapat. Secara tidak langsung daya beli individu ini juga dipengaruhi oleh ada tidaknya subsidi dari pemerintah. misalnya dalam masyarakat tertentu kata-kata kepala suku selalu diikuti. Promosi metode tersebut – melalui media.51 Ketersediaan alat kontrasepsi terwujud dalam bentuk fisik. ulama. 2001). tersedia atau tidaknya fasilitas atau sarana kesehatan (tempat pelayanan kontrasepsi). Memberikan konsultasi medis mungkin dapat dipertimbangkan sebagai salah satu upaya promosi. tetapi dapat juga tokoh-tokoh lain (professional. seniman. melalui kontak langsung oleh petugas program KB. iklan-iklan obat atau pasta gigi di televisi menampilkan tokoh yang berpakaian dokter atau dokter gigi. petugas kesehatan. Disamping itu daya beli individu juga dapat mempengaruhi penggunaan kontrasepsi. ilmuwan. Untuk dapat digunakan. pakar. Dukungan petugas kesehatan Untuk mengubah atau mendidik masyarakat seringkali diperlukan pengaruh dari tokoh-tokoh atau pemimpin masyarakat (community leaders).

4. 2.52 G. keyakinan. Landasan Teori Konsep umum yang dijadikan sebagai landasan teori adalah teori Green dan Kreuter (2005) yang digunakan untuk menilai perilaku individu atau kelompok. kebutuhan yang dirasakan. Hartanto (2004) mengatakan bahwa metoda kontrasepsi tidak dapat dipakai istri tanpa kerjasama suami dan saling percaya. saling kerjasama dalam pemakaian. Masyarakat di Indonesia khususnya di daerah pedesaan sebagai peran penentu dalam pengambilan keputusan dalam keluarga adalah suami. karena suami/isteri sangat membutuhkan dukungan dari pasangannya. kemampuan . Ada 3 faktor yang mempengaruhi individu untuk bertindak yaitu faktor predisposisi (pengetahuan. Dukungan tersebut akan tercipta apabila hubungan interpersonal keduanya baik. membiayai pengeluaran kontrasepsi. nilai-nilai. Pengambil keputusan Program KB dapat terwujud dengan baik apabila ada dukungan dari pihakpihak tertentu. Keadaan ideal bahwa pasangan suami istri harus bersama memilih metoda kontrasepsi yang terbaik. sedangkan isteri hanya bersifat memberikan sumbang saran. Menurut Friedman (1998) dan Sarwono (2007) ikatan suami isteri yang kuat sangat membantu ketika keluarga menghadapi masalah. dan memperhatikan tanda bahaya pemakaian. sikap. Hal itu disebabkan orang yang paling bertanggung jawab terhadap keluarganya adalah pasangan itu sendiri.

dukungan sosial. dan status masa kerja. Konsep tersebut dikombinasikan dengan teori Kar yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003). Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa determinan perilaku dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal serta menurut Robbins (1994). perilaku kesehatan bertitik tolak dari niat seseorang. status perkawinan. faktor pendukung (tersedia sarana dan prasarana) dan faktor pendorong (petugas kesehatan).53 dan unsur-unsur lain yang terdapat dalam diri individu dan masyarakat). maka kerangka teori adalah sebagai berikut: . ada tidaknya informasi dan situasi yang memungkinkan untuk bertindak. Berdasarkan konsep tersebut. beberapa karakteristik individu meliputi umur. pendidikan. jenis kelamin. tanggung jawab.

kelompok. Persepsi Faktor Pendukung: 1. Kerangka Teori Determinan Perilaku Individu. Lingkungan Biologik 3. Gambar 2. Masa kerja Genetika Perilaku dari individu. Kepercayaan 4. Keterampilan 5. Dukungan sosial Faktor Internal: 1. Usia 6.54 Faktor Predisposisi: 1. Nilai-nilai 5. Sikap 3. Peraturan/Hukum 4. Tingkat emosional 3. Lingkungan fisik 2. Notoatmodjo (2007). Politik) Sumber: Green dan Kreuter (2005). dan komunitas Faktor Eksternal: 1. Jenis kelamin 4. Pembuat keputusan 6. Ekonomi. Ketersediaan sumber daya 2. Tingkat kecerdasan 2. Kemudahan untuk mencapai sumber daya 3. Pekerja 4.4. Panutan 3. Teman 5. Sikap dan perilaku petugas kesehatan 2. Pengetahuan 2. Kebangsaan 5. Robbins (1994). Lingkungan Sosial (Budaya. Kelompok dan Komunitas . Ketersediaan waktu Faktor Pendorong: 1.

faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan. Dukungan petugas kesehatan 2.55 2. Keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi Faktor Pendorong : 1.5. sikap). Pengambil keputusan Gambar 2. maka peneliti merumuskan kerangka konsep penelitian sebagai berikut: Variabel Independen Faktor Predisposisi : 1. Pendidikan 3. Jumlah anak 4. Sikap Faktor Pendukung : 1. sedangkan variabel dependen adalah pemakaian alat kontrasepsi. faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi. pengetahuan. jumlah anak. pendidikan.5. Kerangka Konsep Berdasarkan kerangka teori tersebut. keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi). Pengetahuan 5. Ketersediaan alat kontrasepsi 2. Umur 2. Variabel Dependen Pemakaian alat kontrasepsi . pengambil keputusan). Kerangka Konsep Penelitian Variabel independen dalam penelitian ini adalah faktor predisposisi (umur.

3. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian survei dengan tipe explanatory research yang bertujuan untuk menjelaskan pengaruh antara faktor predisposisi. masih di bawah Indikator Indonesia Sehat 2010 yaitu 75%. Penelitian berlangsung selama 6 (enam) bulan yaitu pada bulan Juli 2008 sampai dengan Desember 2008.333. Responden berumur < 20 tahun dan > 35 tahun meskipun tidak memiliki anak 40 . faktor pendukung dan faktor pendorong terhadap pemakaian alat kontrasepsi pada istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu. dan berdasarkan data di Puskesmas pada tahun 2007 berjumlah 2. Sampel adalah seluruh isteri dari PUS yang tinggal menetap di Kecamatan Rambah Samo dengan kriteria sebagai berikut: a. Populasi dan Sampel Populasi adalah seluruh PUS yang ada di Kecamatan Rambah Samo. 3.1.3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian adalah Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu dengan tingkat akseptor KB aktif (current user) 42%.56 BAB 3 METODE PENELITIAN 3. Responden berumur 20-35 tahun yang telah memiliki anak ≥2 b.

282 : proporsi PUS yang menjadi akseptor KB aktif : 42% : proporsi PUS yang diharapkan menjadi akseptor KB aktif : 59% n {1. 59(10. Besar sampel dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: (Lemeshow et.8 dibulatkan menjadi 100 responden. 282 0.35 ≈ 88 (sampel minimal) Dengan mempertimbangkan faktor non respons sebanyak 10%. sehingga sampel yang diteliti adalah seperti tabel berikut: .8 = 96. yaitu istri yang berumur < 20 tahun (untuk menunda kehamilan) dan berumur > 35 tahun (untuk mengakhiri kesuburan). maka Z1-β = 1. 96 0. 42)1. sebab banyaknya subjek yang terdapat pada setiap wilayah tidak sama. 42(10.. maka besar sampel yang diambil adalah 88 + 8.42)2 n 88 .57 Kriteria ini dibuat dengan asumsi kelompok umur tersebut merupakan golongan istri yang sebaiknya memakai alat kontrasepsi sesuai dengan tujuan KB. Teknik tersebut dilakukan untuk menyempurnakan penggunaan sampel wilayah. 59) }2 (0.96 Z1-α/2 : nilai deviasi normal pada tingkat kemaknaan α = 0. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara sampel berimbang (proportional sampling).590.al.05 Z1-β : kekuatan uji (ditetapkan peneliti) bila β Po Pa 10%. 1997) )Z1 Pa(1Pa) }2 n {Z1 / 2 Po(1(Po PaPo)2 Keterangan: n : besar sampel Z1-α/2=1.

50 568/2333 x 100 = 24. Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu. terlebih dahulu dilakukan uji coba instrumen yang bertujuan untuk memastikan bahwa alat bantu yang akan digunakan (kuesioner) memiliki validitas dan reliabilitas. Kantor Camat Rambah Samo. Sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumentasi dan laporan yang tersedia di Puskesmas Rambah Samo. Metode Pengumpulan Data Data primer dikumpulkan dari responden dengan metode wawancara menggunakan kuesioner sebagai panduan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.333 Rekapitulasi Perhitungan Sampel 665/2333 x 100 = 28. 3. dan BPS Kabupaten Rokan Hulu.4.53 405/2333 x 100 = 17. Sebelum data dikumpulkan.26 Besar Sampel 29 24 18 17 12 100 Setelah ditentukan banyaknya sampel pada setiap wilayah selanjutnya sampel ditentukan dengan cara sampel acak sederhana (Simple Random Sampling) yaitu mengambil sebagian dengan menggunakan tabel random (Pratiknya. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Uji coba dilakukan pada bulan Juli 2008 terhadap 30 orang istri PUS yang berada di Kecamatan Rambah Samo Barat yang memiliki karakteristik yang sama dengan istri PUS di lokasi penelitian.58 Tabel 3. Besar Sampel yang Diteliti di Wilayah Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008 No 1 2 3 4 5 Nama Desa Rambah Utama Rambah Baru Pasir Makmur Karya Mulya Masda Makmur Jumlah Jumlah PUS 665 568 409 405 286 2. 2003).35 409/2333 x 100 = 17.1.36 286/2333 x 100 = 12. .

9105 .5843 0. maka pertanyaan tidak valid (Riduwan. Hasil uji validitas dan reliabilitas kuesioner penelitian dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3.8090 0.8655 0.8843 Sikap 0.7502 0. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Penelitian Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi pada Istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Variabel Pengetahuan Butir Pertanyaan 1 2 3 4 5 6 7 8 1 2 3 4 5 r hitung 0.2. 2002).7457 0. dinyatakan tidak reliabel (Riduwan.8212 0.6752 0. 2002). Uji reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya/diandalkan.4345 0.7208 0. dinyatakan reliabel dan jika r Cronbach Alpha < r tabel. dengan ketentuan jika nilai r hitung > r tabel.8212 0.8655 Status Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Cronbach Alpha Status Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel 0. maka pertanyaan valid dan jika nilai r hitung < r tabel.59 Uji validitas menunjukkan sejauh mana alat ukur benar-benar mengukur apa yang ingin diukur dan dilakukan dengan mengukur korelasi antara masing-masing item pertanyaan dengan skor total menggunakan rumus korelasi Pearson Product Moment (r). Teknik menghitung indeks reliabilitas dengan metode Cronbach Alpha.6752 0. yaitu menganalisis reliabilitas alat ukur lebih dari satu kali pengukuran dengan ketentuan jika r Cronbach Alpha > r tabel.4975 0.

361).7908 0. 1.361. Variabel dan Definisi Operasional Variabel bebas (independent variable) adalah faktor predisposisi (umur. pengambil keputusan). faktor pendorong (ketersediaan alat kontrasepsi. 2006).2.5818 0. sikap). pengetahuan. Umur adalah jumlah tahun hidup responden pada saat wawancara yang dihitung dari ulang tahun terakhir (dibulatkan pada yang lebih mendekati).7908 0. 3. α = 5% sebesar 0. keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi).2.60 Lanjutan Tabel 3. sedangkan variabel terikat (dependent variable) adalah pemakaian alat kontrasepsi. Variabel Dukungan Petugas Kesehatan Butir Pertanyaan 1 2 3 4 5 6 r hitung 0.7908 0. dengan demikian kuesioner yang digunakan untuk penelitian sudah valid dan reliabel (Triton. dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan. 2.5. jumlah anak.8301 Berdasarkan Tabel 3.4966 Status Valid Valid Valid Valid Valid Valid Cronbach Alpha Status Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel 0.7908 0. pendidikan. demikian juga alpha lebih besar dari r tabel (0. Pemakaian alat kontrasepsi adalah realisasi responden untuk memakai atau tidak memakai alat kontrasepsi sebagai suatu cara atau metode untuk mencegah atau menjarangkan kehamilan maupun untuk mengakhiri kesuburan. di atas dapat dilihat bahwa semua pertanyaan mempunyai r hitung lebih besar dari r tabel pada df = 28. .

jenis alat kontrasepsi yang cocok untuk ibu menyusui dan jenis alat kontrasepsi untuk laki-laki. 6. . Jumlah anak adalah banyaknya anak hidup yang dimiliki oleh responden pada saat penelitian. 4. 8. Sikap adalah kecenderungan responden untuk memberikan penilaian atau pendapat tentang setuju atau tidak setuju dalam kaitannya dengan keputusan pemakaian alat kontrasepsi yang menyangkut sikap terhadap NKKBS. Keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi adalah kemudahan untuk mendapatkan akses terhadap pelayanan alat kontrasepsi dilihat dari segi jarak. 9.61 3. 7. 5. Pendidikan adalah jenjang sekolah formal tertinggi yang pernah ditempuh dan diselesaikan oleh responden dengan memperoleh tanda tamat belajar. efek samping. Ketersediaan alat kontrasepsi adalah ada atau tidak adanya alat kontrasepsi di puskesmas yang dibutuhkan oleh responden sesuai dengan keinginannya. waktu tempuh dan biaya yang dikeluarkan oleh responden. Dukungan petugas kesehatan adalah pendapat atau persepsi responden terhadap keterlibatan petugas kesehatan dalam memberikan informasi ataupun penjelasan yang lengkap tentang alat kontrasepsi. Pengetahuan adalah pengertian/pemahaman responden tentang alat kontrasepsi yang mencakup arti. tujuan/manfaat. jenis alat kontrasepsi.

62 10. Tinggi. dibagi menjadi 2 kategori: 0. jika ijazah terakhir SLTP/sederajat Skala : Ordinal . 3. Dasar. Risiko tinggi : < 20 dan > 35 tahun Skala : Ordinal 2. jika ijazah terakhir SLTA/sederajat 2. Pendidikan. Risiko rendah : 20-35 tahun 1. Menengah. Ya/Pakai alat kontrasepsi 1. Pengambil keputusan adalah orang yang menentukan responden untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan yaitu pemakaian alat kontrasepsi. Umur. berdasarkan Program Pendidikan Wajib Belajar 9 Tahun dikategorikan menjadi 3 kelompok yaitu: 0. 0. jika ijazah terakhir minimal Diploma tiga (D3) 1.6. dikategorikan menjadi 2 kelompok berdasarkan konsep tinggi rendahnya risiko yang dihadapi oleh ibu pada waktu hamil dan bersalin. Tidak Pakai alat kontrasepsi Skala : Ordinal Variabel independen 1. Metode Pengukuran Variabel dependen 1. Pemakaian alat kontrasepsi adalah responden yang pada saat wawancara memakai atau tidak memakai alat kontrasepsi.

Rendah.63 3. Jumlah pertanyaan yang diajukan sebanyak 8 buah dan responden bisa menjawab lebih dari satu jawaban sesuai dengan pilihan yang telah tersedia. Pengetahuan Pengetahuan diukur dengan memberikan skor terhadap kuesioner dengan pemberian bobot (Singarimbun dan Efendy. apabila total skor responden ≤ Median Skala : Ordinal 5. sehingga total skor maksimal adalah 31 dan skor minimal 0 (Arikunto. Sikap Diukur dengan memberikan skor terhadap kuesioner dengan pemberian bobot. Tinggi. 2006). apabila total skor responden > Median 1. Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov menunjukkan bahwa total skor variabel pengetahuan tidak berdistribusi normal sehingga skor total tersebut dikategorikan menjadi 2 berdasarkan nilai Median (13.5) yaitu: 0. ≤ 2 orang 1. > 2 orang Skala : Ordinal 4. 1989). Jumlah anak. dikelompokkan atas 2 kategori berdasarkan tujuan program KB yaitu: 0. jika responden menjawab Setuju diberi nilai . Masing-masing jawaban yang benar diberi nilai 1 dan jawaban Tidak Tahu diberi nilai 0. Jumlah pertanyaan sebanyak 5 buah.

Tidak tersedia. Tersedia. Baik.5 km 1. Skala : Ordinal 7. Tidak baik.64 1 dan jika menjawab Tidak Setuju diberi nilai 0. Jauh. apabila total skor responden ≤ Median Skala : Ordinal 6. maka jarak dikategorikan sebagai berikut: 0. apabila total skor responden > Median 1. jika jarak dari rumah ke puskesmas > 2. Dekat.5 km Skala : Ordinal . jika jarak dari rumah ke puskesmas ≤ 2. Keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi Jarak : berdasarkan kriteria yang dibuat oleh BPS dalam mengelompokkan ratarata jarak terdekat (km) dari rumah tangga ke fasilitas umum (BPS. Ketersediaan alat kontrasepsi adalah 0. jika responden menjawab alat kontrasepsi selalu tersedia dan sesuai dengan keinginan. 2007a). 1. jika responden menjawab alat kontrasepsi tidak selalu tersedia dan tidak sesuai dengan keinginan. sehingga nilai minimal adalah 0 dan nilai maksimal 5. Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov menunjukkan bahwa total skor variabel sikap tidak berdistribusi normal sehingga skor total tersebut dikategorikan menjadi 2 berdasarkan nilai Median (2) yaitu: 0.

jika responden mengeluarkan biaya dan biaya tersebut tidak terjangkau Skala : Ordinal 8. Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov diketahui bahwa total . jika waktu tempuh lebih dari 30 menit Skala : Ordinal Biaya : jika responden mengatakan tidak mengeluarkan biaya atau mengeluarkan biaya untuk pelayanan yang diterima. sepeda motor.65 Validasi data jarak dilakukan dengan menggunakan speedometer pada kendaraan sepeda motor. maka dikategorikan sebagai berikut: 0. mobil) dan dengan memperhitungkan kondisi jalan yang mayoritas jalan tanah maka waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai ke sarana kesehatan dikategorikan sebagai berikut: 0. Murah. jika responden mengeluarkan biaya dan biaya tersebut terjangkau 1. Mahal. Untuk mengukur dukungan petugas kesehatan adalah dengan memberikan skor 1 untuk jawaban Ya dan skor 0 untuk jawaban Tidak. sehingga total skor minimal adalah 0 dan skor maksimal 6. Waktu : jika waktu yang dibutuhkan oleh responden untuk sampai di sarana kesehatan termasuk jika responden memiliki sarana transportasi (sepeda. Dukungan petugas kesehatan. Dekat. Jumlah pertanyaan yang diajukan sebanyak 6 buah. Jauh. jika waktu tempuh tidak lebih dari 30 menit 1.

pendukung dan pendorong serta variabel dependen yaitu pemakaian alat kontrasepsi. Tidak baik. Mendukung. Pengambil keputusan dalam keluarga 0. pendidikan istri. Baik. jika yang mengambil keputusan terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah musyawarah suami dan isteri. 2. pengetahuan dan sikap). apabila total skor responden ≤ Median Skala : Ordinal 9. Analisis Bivariat Analisis bivariat digunakan untuk melihat sejauhmana hubungan variabel independen yaitu faktor predisposisi (umur. Skala : Ordinal 3. 1. jumlah anak. faktor pendorong (dukungan petugas . apabila total skor responden > Median 1. Metode Analisis Data 1.7.66 skor variabel dukungan petugas kesehatan tidak berdistribusi normal sehingga skor total tersebut dikategorikan menjadi 2 berdasarkan nilai Median (3) yaitu: 0. Tidak mendukung. faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi dan keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi). Analisis Univariat Analisis univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang distribusi frekuensi masing-masing variabel independen yang meliputi faktor predisposisi. jika yang mengambil keputusan terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah salah satu pihak atau orang lain diluar suami-istri.

Syarat untuk masuk ke dalam model pengujian multivariat adalah jika pada analisis bivariat variabel independen memiliki nilai Sig < 0. Analisis Multivariat Analisis multivariat adalah untuk melihat pengaruh antara variabel independen (faktor predisposisi. .67 kesehatan dan pengambil keputusan dalam keluarga) dengan variabel dependen (pemakaian alat kontrasepsi) dengan menggunakan uji chi square. 3.25. pendukung dan pendorong) terhadap variabel dependen (pemakaian alat kontrasepsi) sehingga diketahui variabel independen yang dominan pengaruhnya terhadap variabel dependen dengan menggunakan regresi logistik ganda (multiple logistic regression) metode Forward Stepwise (Likelihood Ratio).

1.9 km2 terdiri dari 5 desa.1.68 BAB 4 HASIL PENELITIAN 4.293 jiwa yang terdiri dari 6.172 jiwa laki-laki dan 5. Deskripsi Lokasi Penelitian 4. dengan luas wilayah 249.1. Keadaan Geografis Kecamatan Rambah Samo merupakan salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Rokan Hulu. Kependudukan Jumlah penduduk Kecamatan Rambah Samo Tahun 2007 adalah 11.1.121 jiwa perempuan dengan tingkat 52 .2.batas wilayah sebagai berikut: Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Rambah Hilir dan Kepenuhan Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Rokan IV Koto Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kepenuhan dan Kunto Darussalam Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Rambah Jarak dari ibukota kabupaten ± 17 km. dengan batas . 15 dusun dan 25 Rukun Warga (RW) dengan rincian: Desa Rambah Utama dengan 2 dusun dan 8 RW Desa Rambah Baru dengan 2 dusun dan 4 RW Desa Pasir Makmur dengan 2 dusun dan 4 RW Desa Karya Mulya dengan 6 dusun dan 6 RW Desa Masda Makmur dengan 3 dusun dan 3 RW 4.

3. bidan 3 orang.19 jiwa per kilometer persegi. Juga telah tersedia seperangkat komputer untuk mempermudah proses administrasi.1. . dokter gigi 1 orang. 2 (dua) unit sepeda motor yang berfungsi untuk pelayanan rujukan jika diperlukan. perawat 5 orang. Sarana dan Prasarana Kesehatan Sarana kesehatan yang ada adalah puskesmas yang terletak di desa Rambah Utama dengan jumlah tenaga kesehatan sebanyak 22 orang yang terdiri dari dokter umum 1 orang. Tabel 4. staf administrasi 5 orang. Setiap hari Rabu bidan di desa tersebut harus hadir di puskesmas untuk membantu pelayanan kesehatan karena pada hari tersebut jumlah pasien biasanya lebih banyak dari hari lainnya disebabkan karena adanya hari pasar yang waktunya seminggu sekali di desa Rambah Utama.69 kepadatan penduduk 45. analis 1 orang. Distribusi jumlah penduduk menurut kepala keluarga dan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut.1. Distribusi Jumlah Penduduk Menurut Kepala Keluarga dan Jenis Kelamin di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Desa Rambah Utama Rambah Baru Pasir Makmur Marga Mulya Masda Makmur Jumlah KK 798 698 658 669 464 3287 Laki-laki 1371 1296 1256 1356 893 6172 Perempuan 1215 1056 1026 1150 674 5121 Jumlah 2586 2352 2282 2505 1567 11293 Sumber : Profil Kependudukan Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008 4. Bidan di desa sebanyak 5 orang dan tinggal di poliklinik bersalin desa (polindes) masing-masing. perawat gigi 1 orang. Puskesmas tersebut juga didukung oleh 1 (satu) unit puskesmas keliling.

Berdasarkan kriteria tersebut didapat bahwa umur istri tidak ada yang < 20 tahun. SMA (27%). Seluruh responden diberikan pertanyaan yang sama dan dari wawancara diketahui bahwa 28 orang responden sedang memakai alat kontrasepsi dan 72 orang tidak memakai alat kontrasepsi tetapi pernah menggunakan salah satu metode kontrasepsi sehingga mereka tahu tentang alat kontrasepsi. Umur suami dikelompokkan menjadi 2 kelompok berdasarkan nilai tengah (median) yaitu berumur kurang dari 40 tahun dan lebih dari 40 tahun. ada juga puskesmas pembantu (pustu) yang terletak di desa Pasir Makmur dan Masda Makmur. tetapi pustu tersebut tidak dioperasionalkan dengan maksimal karena kurangnya petugas kesehatan.70 Seiring dengan perkembangan teknologi daerah ini sekarang telah dapat dijangkau oleh jaringan telepon seluler sehingga lebih mempermudah sistem komunikasi. 4.1. D3 (6%) dan S1 sebesar 1%.2.2. yang berumur kurang dari 40 tahun sebesar 71% dan yang berumur lebih dari 40 tahun 29%. Karakteristik Responden Responden dalam penelitian berjumlah 100 orang dan merupakan istri dari PUS yang berumur 20-35 tahun yang telah memiliki anak ≥ 2 dan berumur < 20 tahun dan > 35 tahun meskipun tidak memiliki anak. sedangkan yang berumur 20-35 tahun sebesar 60% dan yang berumur > 35 tahun sebesar 40%. Pendidikan istri adalah tingkat SD (36%) selanjutnya SMP (30%). Selain puskesmas induk. Analisis Univariat 4. Sedangkan pendidikan suami mayoritas SMP (40%) .

43%) dan Implant (14. masih ingin punya anak laki-laki (18%). Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. Rata-rata jarak kelahiran anak dihitung dari nilai median dan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu <56 bulan dan ≥56 bulan. Berdasarkan jumlah anak. jarak kelahiran <56 bulan sebanyak 39% dan ≥56 bulan sebanyak 61%. D3 (4%) dan S1 sebesar 3%.29%).2. ingin punya anak perempuan (5%). Jenis alat kontrasepsi yang paling banyak digunakan adalah Pil (39.00 30.00 . Mayoritas respoden tidak ikut KB (72%) dan yang ikut KB 28%. dilarang suami (7%) dan karena alasan kesehatan (3%).00 71.00 36. Suntik (25%).00 29.00 6.00 60.00 1.28%).71 kemudian SD (31%) diikuti tingkat SMA (22%). mayoritas responden memiliki anak > 2 orang (64%) sedangkan yang memiliki anak ≤ 2 orang sebanyak 36%. Distribusi Karakteristik Responden di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Karakteristik Umur istri (tahun) < 20 20-35 >35 Pendidikan istri SD SMP SMA D3 S1 Umur suami (tahun) <40 ≥40 f 0 60 40 36 30 27 6 1 71 29 Persentase (%) 0. Spiral (21.00 40.00 27. Alasan responden belum ikut KB karena masih ingin punya anak (67%).

00 61.94 2.00 3.00 4. 36% dari dokter/bidan praktek swasta.00 72.29 25.00 46. 66% dari klinik KB/puskesmas.78 39. 23% dari surat kabar/majalah.00 4.43 14.00 0.00 28. Karakteristik Pendidikan Suami SD SMP SMA D3 S1 Jumlah Anak ≤ 2 orang > 2 orang Peserta KB Ya Tidak Alat Kontrasepsi yang digunakan (n = 28) Spiral Implant Suntik Pil Kondom MOP/MOW Alasan belum ikut KB (n = 72) Masih ingin punya anak Ingin punya anak laki-laki Ingin punya anak perempuan Dilarang suami Alasan Kesehatan Rata-rata Jarak Kelahiran <56 bulan ≥56 bulan f 31 40 22 4 3 46 54 28 72 6 4 7 11 0 0 48 13 4 5 2 39 61 Persentase (%) 31.00 22.00 39.72 Lanjutan Tabel 4.00 54.06 5.28 0.00 40.2. 14% dari radio/televisi dan 13% dari suami/orangtua/mertua. Seluruh responden menjawab pengertian KB yaitu suatu . Pengetahuan Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden mendapat informasi dari PPLKB/PLKB.2.2.00 21.00 66.55 6.67 18.

untuk mengatur jarak kehamilan (59%) dan untuk mengakhiri kesuburan (27%). bahagia dan sejahtera. Semua responden menjawab alat kontrasepsi yang paling cocok untuk ibu menyusui adalah pil dan jenis alat kontrasepsi untuk laki-laki kondom. kelainan haid/perdarahan/bercak darah (58%). infeksi atau keputihan (17%) dan perubahan berat badan/gemuk (13%). Secara rinci indikator pengetahuan dapat dilihat pada tabel berikut ini: . 63% menjawab sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui pengaturan kelahiran dan 30% sebagai suatu cara yang dianjurkan pemerintah untuk membatasi jumlah anak (idealnya adalah 2 anak). Seluruh responden mengetahui jenis alat kontrasepsi spiral/IUD.73 usaha dengan kesadaran sendiri membatasi kelahiran untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Implant/Susuk (67%). penundaan/penjarangan kelahiran (39%) dan pembatasan kelahiran (22%). Suntik (41%). Seluruh responden menjawab tujuan KB sebagai usaha membentuk keluarga kecil. memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak (64%). mual/muntah/pusing (35%). Pil (18%). Seluruh responden menyebutkan efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi adalah rasa nyeri/mules. Kondom (13%) dan Tubektomi/Vasektomi (MOP/MOW) sebanyak 11%. Semua responden menyebutkan manfaat pemakaian alat kontrasepsi untuk mencegah terjadinya kehamilan.

bahagia dan sejahtera Memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak Penundaan/penjarangan kelahiran Pembatasan kelahiran Tidak tahu Manfaat pemakaian alat kontrasepsi adalah Untuk mencegah terjadinya kehamilan Untuk mengatur jarak kehamilan Untuk mengakhiri kesuburan Tidak tahu Jenis alat kontrasepsi apa saja yang diketahui Spiral/IUD Implant/Susuk Suntik Pil Kondom Tubektomi/Vasektomi (MOP/MOW) Tidak tahu f 100 66 36 23 14 13 0 Persentase (%) 100.74 Tabel 4.00 0.00 23.00 67.00 66.00 . Salah satu usaha untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui pengaturan kelahiran.00 13.00 100.00 64.00 0.00 41.00 11.00 100.00 18.00 30. Suatu cara yang dianjurkan pemerintah untuk membatasi jumlah anak (idealnya adalah 2 anak) Tidak tahu Tujuan KB adalah Membentuk keluarga kecil.00 100. Distribusi Responden Menurut Indikator Pengetahuan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Pengetahuan Sumber informasi tentang KB/alat kontrasepsi Petugas Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PPLKB) Puskesmas Dokter/Bidan Praktek Swasta Surat kabar/Majalah Radio/Televisi Suami/Orangtua/mertua Tidak tahu Pengertian KB adalah Suatu usaha dengan kesadaran sendiri membatasi kelahiran untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.00 0.00 100 63 30 0 100 64 39 22 0 100 59 27 0 100 67 41 18 13 11 0 100.00 63.00 36.00 0.00 14.00 27.00 39.00 22.00 0.00 13.3.00 59.

00 39. bahagia dan berkualitas. Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut: .3. Sikap Hasil penelitian menunjukkan bahwa 57% responden setuju manfaat KB untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak.00 0. Indikator Pengetahuan Efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi Rasa nyeri/mules Kelainan haid/perdarahan/bercak darah Mual/muntah/pusing Infeksi/Keputihan Perubahan berat badan/gemuk Tidak tahu Alat kontrasepsi yang paling cocok untuk ibu menyusui adalah Pil Suntik Tidak tahu Jenis alat kontrasepsi untuk laki-laki adalah Kondom MOP/Tubektomi Tidak tahu f Persentase (%) 100.00 35.00 100. Sebanyak 58% responden tidak setuju mempunyai anak yang banyak tidak akan membawa rezeki yang banyak dan 55% responden tidak setuju anak laki-laki nilainya sama dengan anak perempuan.00 0.00 36.00 100.3. 58% setuju pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu cara untuk menunda kehamilan dan menjarangkan kelahiran.75 Lanjutan Tabel 4.2.00 0.00 100 58 35 17 13 0 100 39 0 100 36 0 4. 52% setuju KB bertujuan untuk merencanakan keluarga kecil.00 17.00 58.00 13.

00 51. Ketersediaan Alat Kontrasepsi Berdasarkan ketersediaan alat kontrasepsi. bahagia dan berkualitas Pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu cara untuk menunda kehamilan dan menjarangkan kelahiran Mempunyai anak yang banyak tidak akan membawa rezeki yang banyak.5.00 42. 57% responden mengatakan alat kontrasepsi selalu tersedia di puskesmas dan 51% mengatakan alat kontrasepsi yang diinginkan selalu tersedia. 58% di praktek dokter/bidan dan 9% di apotek.00 Setuju n % 57 57.00 Responden menjawab jika alat kontrasepsi tidak tersedia di puskesmas maka 33% mendapatkannya di klinik swasta.00 42 45 42.4. seperti data pada tabel berikut: .00 52 58 52. Anak laki-laki nilainya sama dengan anak perempuan Tidak Setuju n % 43 43.00 55. Distribusi Responden Menurut Indikator Sikap di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Sikap Manfaat KB adalah untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak KB bertujuan untuk merencanakan keluarga kecil.4.00 49 49.00 45.2.00 Tidak n % 43 43. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel dibawah: Tabel 4.00 4.00 48 42 48.76 Tabel 4.00 58 55 58. Distribusi Responden Menurut Indikator Ketersediaan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Ketersediaan Alat Kontrasepsi Alat kontrasepsi selalu tersedia di puskesmas Jenis alat kontrasepsi yang diinginkan selalu tersedia di puskesmas Ya n 57 51 % 57.00 58.

Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi Bagi Responden yang Ikut KB di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi Klinik swasta Praktek Dokter/Bidan Apotek f 12 11 5 % 42. Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi Klinik swasta Praktek Dokter/Bidan Apotek f 33 58 9 % 33.86 4.86%.00 Jika dirinci lebih lanjut berdasarkan jumlah responden yang ikut KB yaitu sebanyak 28 orang.5 km.2.00 58.5. Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi Responden yang menjawab jarak rumah ke puskesmas <2.86 39. mereka menjawab bahwa mereka mendapatkan alat kontrasepsi di klinik swasta sebanyak 42.86%. praktek dokter/bidan sebanyak 39. Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut ini: .5 km sebanyak 43% dan 57% mengatakan lebih dari 2. sedangkan. Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai ke puskesmas 55% mengatakan <30 menit dan 45% mengatakan >30 menit. Responden yang mengatakan mengeluarkan biaya untuk memperoleh pelayanan KB sebanyak 95% dan tidak mengeluarkan biaya sebanyak 5%.28 17.7.77 Tabel 4. Lebih lanjut dapat dilihat pada table berikut: Tabel 4.6.28% dan di apotek sebanyak 17.00 9.

00 20. Berdasarkan indikator dukungan petugas kesehatan.00 33. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.78 Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Indikator Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Keterjangkauan Jarak rumah ke puskesmas Waktu yang dibutuhkan ke puskesmas Mengeluarkan biaya untuk memperoleh pelayanan KB Dekat / Ya Jauh / Tidak n % n % 43 43.8.00 4.00 Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk mencapai puskesmas 47% responden menjawab dengan berjalan kaki. Dukungan Petugas Kesehatan Dukungan petugas dalam indikator ini adalah perawat dan bidan yang bekerja di poliklinik Kesehatan Ibu dan Anak dan Keluarga Berencana (KIA/KB) puskesmas dan bertugas dalam pelayanan kesehatan resproduksi ibu dan remaja termasuk pelayanan KB pada PUS.0 5 5. 71% responden mengatakan petugas kesehatan melakukan penyuluhan rutin tentang KB dan alat kontrasepsi.00 57 57.00 45 45.6.00 55 55.2.00 95 905.9. 73% mengatakan petugas kesehatan menyarankan agar ibu ikut KB atau . Jenis Alat Transportasi yang Digunakan Untuk Mencapai Puskesmas di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Jenis Alat Transportasi Jalan Kaki Sepeda Sepeda Motor f 47 33 20 Persentase (%) 47. 33% menggunakan sepeda dan 20% menggunakan sepeda motor.

00 73.00 42 48 39 42.00 52.00 55. Data selengkapnya seperti pada tabel berikut: Tabel 4.00 27. Responden yang mengatakan petugas kesehatan memberi kesempatan atau kebebasan dalam memilih alat kontrasepsi sebanyak 58%. 55% mengatakan petugas kesehatan menjelaskan terlebih dahulu tentang alat kontrasepsi yang akan dipilih dan efek sampingnya.00 45. 52% mengatakan petugas kesehatan menyarankan untuk pemeriksaan rutin dan 61% responden mengatakan bahwa pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan memuaskan.00 58 52 61 58.00 n 29 27 45 Tidak % 29.79 menggunakan kontrasepsi. Distribusi Proporsi Responden Berdasarkan Indikator Dukungan Petugas Kesehatan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Dukungan Petugas Kesehatan Petugas kesehatan melakukan penyuluhan rutin tentang KB dan alat kontrasepsi Petugas kesehatan menyarankan agar ibu ikut KB atau menggunakan kontrasepsi Petugas kesehatan menjelaskan terlebih dahulu tentang alat kontrasepsi yang akan dipilih dan efek sampingnya Petugas kesehatan memberi kesempatan atau kebebasan dalam memilih alat kontrasepsi Petugas kesehatan menyarankan untuk pemeriksaan rutin Pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan memuaskan Ya n 71 73 55 % 71.00 48.00 39.00 61. petugas tidak mampu memberi informasi seperti yang diharapkan (52%) dan alat/fasilitas tidak lengkap (1%).10. Secara rinci dapat dilihat seperti tabel berikut: .00 Responden menjawab pelayanan yang tidak puas karena petugas kurang ramah (47%).

Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah: Tabel 4. Data selengkapnya sebagai berikut: Tabel 4.00 13.00 1.28% dan musyawarah suami dan istri sebanyak 17.80 Tabel 4.00 0.86 39.28 17. maka dapat dilihat bahwa pengambil keputusan dalam keluarga adalah suami sebanyak 42.00 36. Distribusi Responden yang Ikut KB Menurut Pengambil Keputusan dalam Keluarga di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Pengambil Keputusan Suami Istri Musyawarah Suami dan Istri f 12 11 5 Persentase (%) 42.00 52.86 . istri sebanyak 39. Alasan Tidak Puas Terhadap Pelayanan Petugas Kesehatan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Alasan Tidak Puas Petugas kurang ramah Petugas tidak mampu memberi informasi seperti yang diharapkan Alat/fasilitas tidak lengkap Biaya terlalu mahal 4. 51% responden menjawab suami.7.11.86%.00 Lebih lanjut jika dirinci berdasarkan responden yang ikut KB yaitu sebanyak 28 orang. 13% menjawab istri dan 36% menjawab musyawarah suami-istri. Pengambil Keputusan Dalam Keluarga Berdasarkan pengambil keputusan dalam keluarga terhadap pemakaian alat kontrasepsi.12.86%.13.00 f 47 52 1 0 Persentase (%) 47.2. Distribusi Proporsi Responden Menurut Pengambil Keputusan dalam Keluarga di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Pengambil Keputusan Suami Istri Musyawarah Suami dan Istri f 51 13 36 Persentase (%) 51.

81 4. Berdasarkan kategori jumlah anak. 27% pendidikan menengah dan 7% responden dengan pendidikan tinggi.5 sehingga 47% responden kategori tinggi dan 53% kategori rendah. Dari perhitungan diperoleh nilai median adalah 2 maka 36% adalah kategori baik dan 64% kategori tidak baik. Faktor Predisposisi Berdasarkan Tabel 4. Secara rinci faktor predisposisi dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut: . Setelah dihitung didapat nilai mediannya 13.8. Pengetahuan responden dikategorikan menjadi 2 yaitu tinggi dan rendah berdasarkan nilai median.2. Pendidikan responden 66% adalah pendidikan dasar. Sikap responden juga dikategorikan menjadi 2 yaitu baik dan tidak baik berdasarkan nilai median. 64% memiliki anak > 2 orang dan 36% memiliki anak ≤ 2 orang.12 dapat diketahui bahwa penggolongan umur responden 40% umur risiko tinggi dan 60% umur risiko rendah.

00 7.82 Tabel 4.00 40.00 64. Distribusi Responden Menurut Faktor Predisposisi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Faktor Predisposisi Umur Risiko rendah Risiko tinggi Pendidikan Isteri Tinggi Menengah Dasar Jumlah Anak ≤ 2 orang > 2 orang Pengetahuan Tinggi Rendah Sikap Baik Tidak Baik 60 40 7 27 66 46 54 47 53 36 64 60. Berdasarkan jarak ke puskesmas 29% kategori dekat dan 71% kategori jauh.13. Faktor Pendukung Tabel 4.9.00 47.2.00 46.00 53.14. Sedangkan berdasarkan biaya yang dikeluarkan 47% mengatakan murah dan 53% mengatakan mahal. menunjukkan bahwa yang menyatakan alat kontrasepsi tersedia 48% dan tidak tersedia sebanyak 52%.00 f Persentase (%) 4.00 36. Selanjutnya dapat dilihat pada tabel berikut: .00 66.00 54. Waktu tempuh 63% kategori dekat dan 37% kategori jauh.00 27.

10.Jarak Dekat (≤2.00 .00 53.00 52.00 71. Responden yang menyatakan bahwa pengambil keputusan untuk pemakaian alat kontrasepsi dengan kategori baik sebanyak 38% dan tidak baik 62%. Lebih rinci dapat dilihat pada tabel berikut: f 48 52 29 71 63 37 47 53 Persentase (%) 48.83 Tabel 4. Faktor Pendorong Dukungan petugas kesehatan dikategorikan menjadi 2 berdasarkan nilai median yaitu mendukung dan tidak mendukung.Waktu Dekat (≤ 30 menit) Jauh (> 30 menit) Murah . sehingga berdasarkan kategori yang telah ditentukan tersebut diperoleh bahwa 48% responden menyatakan petugas kesehatan mendukung dalam hal pemakaian alat kontrasepsi dan 52% menyatakan tidak mendukung.2.15. Distribusi Responden Menurut Faktor Pendukung di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Faktor Pendukung Ketersediaan Alat kontrasepsi Tersedia Tidak tersedia Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi .00 47.5 km) Jauh (> 2.00 37.5 km) .00 63.00 29.Biaya Mahal 4. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai median 3.

16.0% sedangkan umur risiko rendah yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 36.00 52. pengetahuan dan sikap) dengan pemakaian alat kontrasepsi.00 4.3.0% dan yang tidak memakai alat kontrasepsi sebanyak 85. pendukung dan pendorong) dengan dependen (pemakaian alat kontrasepsi) dan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang bermakna antara kedua variabel tersebut dilakukan uji statistik dengan uji chi-square. Analisis Bivariat Pada analisis ini dilakukan tabulasi silang antara variabel independen (faktor predisposisi.84 Tabel 4.033). .3. Hubungan Faktor Predisposisi dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi Pada analisis ini dilakukan tabulasi silang antara faktor predisposisi (umur. jumlah anak.00 62. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan umur dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig = 0. Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa responden dengan umur risiko tinggi yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 15.00 38. pendidikan. Distribusi Responden Menurut Faktor Pendorong di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Faktor Pendorong Dukungan Petugas Kesehatan Mendukung Tidak Mendukung Pengambil Keputusan Musyawarah Suami dan istri Selain suami dan istri f 48 52 38 62 Persentase (%) 48.7% dan yang tidak memakai alat kontrasepsi sebanyak 63.3%. 4.1.

1% dan tidak memakai sebanyak 42. Sedangkan pendidikan dasar yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 19.3%. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan jumlah anak dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.9% dan tidak memakai sebanyak 61. Hasil uji statistik . Responden yang memiliki anak > 2 orang memakai alat kontrasepsi sebanyak 38.025). Responden dengan pengetahuan tinggi yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 46.8%.000) Responden dengan sikap yang baik memakai alat kontrasepsi sebanyak 50. responden dengan pendidikan tinggi yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 57.4%. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan pendidikan dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.0% dan tidak memakai sebanyak 50.0% sedangkan sikap yang tidak baik memakai alat kontrasepsi sebanyak 15.1% sedangkan yang memiliki anak ≤ 2 orang memakai alat kontrasepsi sebanyak 15.3%.3% dan tidak memakai sebanyak 88.9%.8% dan tidak memakai sebanyak 53.6% dan tidak memakai sebanyak 84.7% dan tidak memakai 80. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan pengetahuan dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.7%.85 Berdasarkan pendidikan. responden dengan pendidikan menengah memakai alat kontrasepsi sebanyak 40.2% dan tidak memakai 84.016).2% sedangkan responden dengan pengetahuan rendah memakai alat kontrasepsi sebanyak 11.7% dan tidak memakai sebanyak 59.

3.80 61.2.60 38 34 3 16 53 39 33 25 47 18 54 63.70 15.20 38.00 100.00 100.70 19. Hubungan Faktor Predisposisi dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Pemakaian Alat Kontrasepsi Ya Tidak n % n % 22 6 4 11 13 7 21 22 6 18 10 36.86 menunjukkan ada hubungan sikap dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.033 Faktor Predisposisi Umur Risiko rendah Risiko tinggi Pendidikan Tinggi Menengah Dasar Jumlah anak ≤2 orang >2 orang Pengetahuan Tinggi Rendah Sikap Baik Tidak baik 4.00 0. Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.00 0.30 84.30 85.90 46. waktu tempuh dan biaya.00 84.00 15.00 100.00 0.50 59.30 50.17.030 100.10 53. Hasil tabulasi silang pada Tabel 4.70 15.00 100.00 0.1% .001).00 42.001 100.016 100.40 Total n 60 40 7 27 66 46 54 47 53 36 64 % 100.00 Sig 0.00 100.30 80. menunjukkan bahwa responden yang mengatakan alat kontrasepsi tersedia dan memakai alat kontrasepsi sebanyak 52. Hubungan Faktor Pendukung dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi Pada analisis ini dilakukan tabulasi silang antara faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi dan keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dengan pemakaian alat kontrasepsi.00 100.20 88.80 11.00 57. Variabel keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi diukur berdasarkan 3 (tiga) sub variabel yaitu jarak rumah ke puskesmas.000 100.70 50.16.10 40.

Responden dengan kategori jauh memakai alat kontrasepsi sebanyak 35.3% dan tidak memakai 89. Berdasarkan waktu tempuh.2%. responden dengan kategori dekat memakai alat kontrasepsi sebanyak 36. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan biaya yang dikeluarkan dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.000).7%. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan ketersediaan alat kontrasepsi dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.7%.5% dan tidak memakai 86. Sedangkan responden yang mengatakan alat kontrasepsi tidak tersedia tetapi memakai alat kontrasepsi sebanyak 5. responden dengan kategori murah memakai alat kontrasepsi sebanyak 46.8% dan tidak memakai 53.3% dan tidak memakai sebanyak 88. Responden yang jarak rumah dekat dan memakai alat kontrasepsi sebanyak 10.8%.000).023). Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan waktu tempuh dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. Untuk biaya yang dikeluarkan.5% dan tidak memakai 63.5%. Responden dengan kategori jauh memakai alat kontrasepsi sebanyak 13.5%.2% dan tidak memakai sebanyak 64. Data selengkapnya sebagai berikut: .8% dan tidak memakai sebanyak 94.87 dan tidak memakai sebanyak 47.2%. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan jarak rumah dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.025).9%. Sedangkan kategori mahal yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 11.

3%.20 88.000 100.30 26 46 40 32 25 47 89.30 35.20 36.000 Murah Mahal 100.70 29 71 63 37 47 53 100.00 100.80 11.023 3 25 23 5 22 6 10. Hubungan Faktor Pendorong dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi Pada analisis ini dilakukan tabulasi silang antara faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan dan pengambil keputusan) dengan pemakaian alat kontrasepsi.00 Faktor Pendukung Ketersediaan Tersedia Tidak tersedia Keterjangkauan .00 100.88 Tabel 4. Hubungan Faktor Pendukung dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Pemakaian Alat Kontrasepsi Ya Tidak n % n % 25 3 52.50 13.5%.90 94.3. menunjukkan bahwa responden yang mengatakan petugas kesehatan mendukung dan memakai alat kontrasepsi sebanyak 43.50 53.5 km) .18.20 Total Sig n 48 52 % 0.00 100.10 5.50 86.8% dan tidak memakai sebanyak 56.002).18.5 km) Jauh (> 2. Hasil tabulasi silang pada Tabel 4.00 0.Biaya 4.00 0.70 64. . Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan dukungan petugas kesehatan dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig = 0.50 46.5% dan tidak memakai sebanyak 86.025 100. Sedangkan responden yang mengatakan petugas kesehatan tidak mendukung tetapi memakai alat kontrasepsi sebanyak 13.00 0.80 23 49 47.80 63.Jarak Dekat (≤2.00 100.Waktu Dekat (≤ 30 menit) Jauh (> 30 menit) .3.

biaya dan dukungan petugas kesehatan memenuhi syarat untuk masuk ke dalam model pengujian multivariat (Sig<0. sikap.70 71.89 Berdasarkan pengambil keputusan dalam keluarga.3% dan tidak memakai sebanyak 73.7%. jarak.0%. Sedangkan responden dengan kategori tidak baik yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 29.00 100. kemudian variabel yang Signifikan .949). ketersediaan alat kontrasepsi.00 0. Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan pengambil keputusan dalam keluarga dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. pendidikan. Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. jumlah anak.949 100.00 Faktor Pendorong Dukungan petugas Kesehatan Mendukung Tidak mendukung Pengambil keputusan Baik (suami dan istri) Tidak Baik (selain suami dan istri) 4. Analisis Multivariat Berdasarkan analisis bivariat diperoleh bahwa variabel umur.002 100.50 26.19.50 73.00 Total Sig n 48 52 38 62 % 0.4.25). Berikutnya adalah pemilihan model yang dilakukan secara hierarkis dengan cara semua variabel dimasukkan ke dalam model.00 100.0% dan tidak memakai sebanyak 72. responden dengan kategori baik yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 26.30 29.00 27 45 28 44 56. Hubungan Faktor Pendorong dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Pemakaian Alat Kontrasepsi Ya Tidak n % n % 21 7 10 18 43.30 86. pengetahuan.80 13. waktu tempuh.

893129.063-17.135 1.005 CI 95% 0.001 0.118 6.551 2. pengetahuan.151 4.05. pengetahuan.112 2.245 Exp (B) 0.442 Sig 0. Ini menunjukkan variabel tersebut merupakan variabel yang paling dominan mempengaruhi pemakaian alat kontrasepsi. ketersediaan alat kontrasepsi dan dukungan petugas kesehatan telah memiliki nilai < 0.005-44. Hasil akhir analisis multivariat dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. sikap. sikap dan dukungan petugas kesehatan (95% CI: 3.20.454-26.575 1.025 1. Besar pengaruh variabel tersebut dilihat dari nilai Exp (B) dimana dari hasil analisis terlihat bahwa jika alat kontrasepsi tersedia maka peluang responden untuk memakai alat kontrasepsi 22 kali dibandingkan jika alat kontrasepsi tidak tersedia setelah dikontrol oleh variabel jumlah anak.817 1.90 (>0.014 3.551).893-129. .112.024-0.448 3.041 0.459 Hasil tabel di atas merupakan akhir analisis multivariat uji regresi logistik ganda karena jumlah anak.014 0. Hasil Akhir Analisis Regresi Logistik Ganda Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Variabel Penelitian Jumlah anak Pengetahuan Sikap Ketersediaan alat kontrasepsi Dukungan Petugas Kesehatan B -2.008 0. Berdasarkan nilai Koefisien B yang tertinggi adalah variabel ketersediaan alat kontrasepsi yaitu 3.253 22.457 9. artinya variabel tersebut tidak dikeluarkan dari model dan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi.05) dimasukkan ke dalam model secara bertahap (Forward Stepwise).

pengetahuan. biaya. jarak. pekerjaan.91 Nilai Percentage Correct diperoleh sebesar 91% yang artinya variabel jumlah anak. sikap. pengambil keputusan dalam keluarga dan lain-lain). sedangkan sisanya sebesar 9% dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya (seperti faktor umur. . ketersediaan alat kontrasepsi dan dukungan petugas kesehatan bisa menjelaskan pengaruhnya terhadap pemakaian alat kontrasepsi sebesar 91%. pendidikan. waktu tempuh.

tetapi lebih mengutamakan banyaknya jumlah anak yang dimiliki. Hasil uji chi square memperlihatkan bahwa ada hubungan umur terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. Pada penelitian ini umur tidak berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi karena responden pada kategori umur risiko tinggi justru banyak yang tidak memakai alat kontrasepsi. 1. pengetahuan dan sikap.1. Faktor Predisposisi Faktor predisposisi dalam penelitian ini adalah umur.92 BAB 5 PEMBAHASAN 5. Umur yang semakin meningkat tidak menjadi alasan utama responden untuk memakai alat kontrasepsi. Jika jumlah anak telah dirasa 76 .033). sedangkan pada hasil uji regresi logistik ganda menunjukkan tidak ada pengaruh umur terhadap pemakaian alat kontrasepsi. 1993). Umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang termasuk dalam pemakaian alat kontrasepsi. Dari tabulasi silang dapat dilihat bahwa responden dengan umur risiko tinggi yang tidak memakai alat kontrasepsi sebanyak 85% dan yang memakai 15%. jumlah anak. mereka yang berumur tua mempunyai peluang lebih kecil untuk menggunakan alat kontrasepsi dibandingkan dengan yang muda (Notoatmodjo. pendidikan. Pengaruh umur terhadap pemakaian alat kontrasepsi Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden dengan kategori umur risiko tinggi 40% dan kategori risiko rendah 60%.

makin tua umur istri maka pemilihan alat kontrasepsi ke arah alat yang mempunyai efektifitas lebih tinggi yakni metode kontrasepsi jangka panjang. 1999).6%. sehingga berhubungan erat dengan pemakaian alat kontrasepsi. maka responden akan mengusahakan dengan sungguh-sungguh untuk memakai alat kontrasepsi Hasil tabulasi silang antara kategori umur dengan jumlah anak didapat bahwa umur dengan risiko tinggi yang memiliki anak > 2 orang sebesar 47. Sedangkan umur dengan kategori risiko rendah yang memiliki anak > 2 orang sebesar 38. Umur juga berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi.5%. Kontrasepsi rasional harus mempertimbangkan umur akseptor. Alasan inilah yang mengakibatkan responden tidak memakai alat kontrasepsi.4% dan yang memiliki anak ≤ 2 76 orang sebesar 21.93 cukup. ingin punya anak perempuan.5% dan yang memiliki anak ≤ 2 orang sebesar 52. yang kelak berhubungan pula dengan kesehatan ibu. ingin punya anak laki-laki. Jawaban yang diberikan oleh responden mayoritas mengatakan masih ingin punya anak. Faktor umur sangat berpengaruh terhadap aspek reproduksi manusia terutama dalam pengaturan jumlah anak yang dilahirkan dan waktu persalinan. maka lebih efektif menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang (BKKBN. dilarang suami dan alasan kesehatan. . Analisa BKKBN tentang SDKI 2002/2003 mengatakan bahwa umur di bawah 20 tahun dan di atas 35 tahun sangat berisiko terhadap kehamilan dan melahirkan. bila umur lebih dari 35 tahun.

sedangkan hasil uji regresi logistik ganda menunjukkan tidak ada pengaruh pendidikan terhadap pemakaian alat kontrasepsi. Dari tabulasi silang dapat dilihat bahwa peningkatan pendidikan tidak diikuti dengan peningkatan pemakaian alat kontrasepsi atau dengan kata lain makin tinggi tingkat pendidikan. pemakaian alat kontrasepsinya makin menurun. 2. Pada penelitian ini didapat bahwa 71% pendidikan suami adalah pendidikan dasar. Demikian juga sebaliknya makin rendah tingkat pendidikan. responden yang tidak memakai alat kontrasepsi makin meningkat. Hal ini juga akan mempengaruhi secara langsung seseorang dalam hal pengetahuannya akan orientasi hidupnya termasuk dalam merencanakan keluarganya (Gerungan. lebih mandiri dan rasional dalam mengambil keputusan dan tindakan. berpikir. 1986).030).94 Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Hasibuan (2001) yang menunjukkan bahwa ada pengaruh umur terhadap pemakaian metoda kontrasepsi (Sig=0.012). Hasil uji chi square memperlihatkan ada hubungan pendidikan dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. bersikap. 22% menengah dan 7% tinggi. Semakin tinggi tingkat pendidikan akan jelas mempengaruhi seorang pribadi dalam berpendapat. Pengaruh Pendidikan terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden dengan kategori pendidikan dasar 66% dan 80.3% tidak memakai kontrasepsi. tingkat pendidikan suami yang mayoritas .

Selain tingkat pendidikan yang masih rendah. Semakin sering seorang wanita melahirkan anak. Kemungkinan seorang istri untuk menambah kelahiran tergantung kepada jumlah anak yang telah dilahirkannya. Pengaruh Jumlah Anak terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi Hasil uji statistik menunjukkan ada pengaruh jumlah anak terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. artinya makin banyak anak yang dimiliki oleh responden akan diikuti dengan peningkatan pemakaian alat kontrasepsi. Seorang istri mungkin menggunakan alat kontrasepsi setelah mempunyai jumlah anak tertentu dan juga umur anak yang masih hidup. pemakaian alat kontrasepsi ini juga dihubungkan dengan alasan responden yang masih menginginkan anak atau jenis kelamin tertentu seperti telah diuraikan diatas sehingga meskipun telah memiliki anak 2 orang responden belum memakai alat kontrasepsi. maka akan semakin memiliki risiko kematian dalam persalinan.95 tingkat dasar tersebut diperkirakan menjadi salah satu penyebab yang mengakibatkan masih rendahnya pemakaian alat kontrasepsi.008). Tujuan normatif program KB adalah untuk menciptakan NKKBS. maka diharapkan keluarga sudah harus mampu membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi keluarga dengan cara mengatur . 3. Istilah “dua anak saja” belum menjadi tujuan pokok dalam keluarga. Sedangkan jumlah anak > 2 orang menunjukkan bahwa respons terhadap pelayanan KB dan kontrasepsi belum baik.

Dengan berjalannya waktu dan pelaksanaan program maka lebih banyak wanita dengan paritas yang lebih kecil akan menggunakan alat kontrasepsi. Gejala ini melandasi pengaruh jumlah anak terhadap penggunaan alat kontrasepsi. ingin punya anak laki-laki 13%. Hal ini mungkin salah satu penyebab yang berpengaruh terhadap banyaknya jumlah anak yang dimiliki. dalam Mutiara (1998) melaporkan bahwa pada awal progam KB. Jawaban yang diberikan oleh responden tentang alasan mereka tidak menggunakan alat kontrasepsi adalah 48% mengatakan masih ingin punya anak. ingin punya anak perempuan 4%.96 kelahiran anak supaya diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. anak merupakan sumber daya yang diharapkan dapat membantu orangtua dalam bekerja dan berusaha. dilarang suami 5% dan alasan kesehatan 2%. Masyarakat di daerah penelitian pada umumnya bekerja di sektor pertanian dan perkebunan yang memerlukan sumber daya manusia sebagai tenaga kerja untuk mengelolanya. Menurut Hatmadji (2004) yang mengutip pendapat Leibenstein. penggunaan alat kontrasepsi adalah mereka yang telah mempunyai anak cukup banyak. Kegunaannya ialah memberikan kepuasan. Soeradji. dapat memberikan balas jasa ekonomi atau membantu dalam kegiatan berproduksi serta merupakan sumber yang dapat menghidupi orang tua di . dkk. anak dilihat dari dua segi kegunaannya yaitu (utility) dan biaya (cost). Hal ini menunjukkan bahwa 2 orang anak masih dianggap kurang atau belum cukup.

Tindakan kemandirian setiap individu yang lebih nyata akan lebih langgeng dan bertahan apabila hal ini didasari oleh pengetahuan yang kuat. 4. sehingga dengan demikian kesadaran mereka tinggi untuk terus memanfaatkan pelayanan. juga dalam memilih tempat pelayanan yang lebih sesuai dan lengkap karena wawasan sudah lebih baik. Demikian juga sebaliknya jika pengetahuan responden tinggi maka pemakaian alat kontrasepsi juga akan meningkat.97 masa depan. artinya bahwa semakin rendah pengetahuan responden maka pemakaian alat kontrasepsi juga rendah. Pengetahuan peserta KB yang baik tentang hakekat program KB akan mempengaruhi mereka dalam memilih metode/alat kontrasepsi yang akan digunakan termasuk keleluasaan atau kebebasan pilihan. Pengaruh Pengetahuan terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi Hasil uji statistik menunjukkan ada pengaruh yang bermakna antara tingkat pengetahuan terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. Sedangkan pengeluaran untuk membesarkan anak adalah biaya dari mempunyai anak tersebut. pilihan efektif tidaknya.014). Hal ini sesuai dengan pendapat Blum yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003) yang mengatakan bahwa tindakan seorang individu termasuk kemandirian dan tanggung jawabnya dalam berperilaku sangat dipengaruhi oleh domain kognitif atau pengetahuan. Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan berbanding lurus dengan pemakaian alat kontrasepsi. . kecocokan. kenyamanan dan keamanan.

Juga sejalan dengan penelitian Pardosi (2005) yang mengatakan bahwa secara statistik diperoleh hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan tingkat kemandirian akseptor KB aktif dalam pemanfaatan program KB mandiri LIMAS (Sig=0. Hal inilah yang berdampak pada rendahnya pemanfaatan pelayanan KB.98 Penelitian Prihastuti (2005) menunjukkan bahwa informasi yang diberikan petugas kepada akseptor tentang metode KB-nya masih kurang memadai. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Meutia (1997) yang mengatakan bahwa ada pengaruh pengetahuan akseptor KB terhadap utilitas alat kontrasepsi Implant (Sig=0. Pengetahuan responden yang rendah berhubungan juga dengan tingkat pendidikan yang masih rendah yaitu mayoritas berada pada ketegori pendidikan dasar.001). Hal lain yang mempengaruhi adalah petugas PLKB yang tidak ada lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. karena responden tidak mendapatkan pendidikan yang memadai untuk menambah wawasan mereka tentang alat kontrasepsi. para PLKB inilah sebagai garda depan dalam menyukseskan program KB. demikian juga dengan pendidikan suami. Pendidikan yang rendah akan berhubungan dengan pengetahuan yang rendah pula. sehingga akseptor tidak memiliki pengetahuan yang baik tentang kontrasepsi. Pada umumnya responden dianggap sebagai pasien saja tanpa dibekali dengan pendidikan yang baik tentang KB dan kesehatan reproduksi (KR). Dari . Pada awal program.001). setelah desentralisasi PLKB tidak dapat lagi melaksanakan tugas seperti dulu karena telah dilebur dengan lembaga lain.

Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa sikap responden yang belum baik juga diikuti dengan pemakaian alat kontrasepsi yang masih rendah. Sikap responden yang mayoritas tidak baik berhubungan pula dengan pendidikan yang lebih banyak pada kategori pendidikan dasar dan tingkat pengetahuan yang juga mayoritas pada kategori rendah. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. manfaat dan juga kegunaan pemakaian alat kontrasepsi. sehingga berpengaruh terhadap pola pikir dan bertindak termasuk dalam pemakaian alat kotrasepsi. 5. Pengaruh Sikap terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada pengaruh sikap terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. Contohnya adalah seperti sikap setuju atau tidaknya mereka terhadap informasi alat kontrasepsi dan KB.99 penelitian terlihat bahwa 100% responden mengetahui KB dan alat kontrasepsi dari PLKB tetapi sekarang hal itu tidak ada lagi akibatnya responden tidak mendapatkan informasi yang mereka harapkan. maka dia juga akan memberi tindakan atau tanggapan yang negatif pula yaitu dengan tidak menggunakannya atau memakainya. Artinya bahwa ketika responden memberi penilaian yang kurang baik terhadap program KB dan pemakaian alat kontrassepsi.041). Sikap yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penerimaan terhadap tujuan yang ditawarkan dalam program KB. pengertian .

000). serta kesediaannya mendatangi tempat pelayanan. 1. juga kesediaan mereka memenuhi kebutuhan sendiri. Menurut Manuaba (1998).100 alat kontrasepsi dan manfaatnya.001).2. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Pardosi (2005) yang mengatakan bahwa diperoleh hubungan yang bermakna antara sikap dengan tingkat kemandirian akseptor KB aktif dalam pemanfaatan program KB mandiri LIMAS (Sig=0. 5. Pengaruh Ketersediaan Alat Kontrasepsi terhadap Pemakaian Alat Kontasepsi Uji statistik menunjukkan bahwa ada pengaruh yang bermakna antara ketersediaan pelayanan alat kontrasepsi terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. faktor-fakor yang mempengaruhi alasan pemilihan metode kontrasepsi diantaranya adalah tingkat ekonomi. Jika alat kontrasepsi tersedia maka akan diikuti dengan pemakaian yang meningkat. Adanya keterkaitan antara pendapatan dengan kemampuan membayar jelas berhubungan dengan masalah ekonomi. Faktor Pendukung Faktor pendukung dalam penelitian ini adalah ketersediaan alat kontrasepsi dan keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi. pekerjaan dan tersedianya layanan kesehatan yang terjangkau. demikian pula jika alat kontrasepsi tidak tersedia maka responden yang tidak memakai juga akan meningkat. sedangkan . Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat pemakaian atau pemanfaatan alat kontrasepsi berbanding lurus dengan ketersediaan alat kontrasepsinya. fasilitas dan sarananya.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap responden didapat bahwa responden yang memakai kontrasepsi pada umumnya menggunakan metode kontrasepsi pil (39%) dan suntik (25%) yang harganya tergolong murah. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari puskesmas Rambah Samo ternyata tidak semua jenis/metode kontrasepsi tersedia. oleh dokter dan sebagainya – dapat meningkatkan secara nyata pemilihan metode kontrasepsi. Suntik dan . Memberikan konsultasi medis mungkin dapat dipertimbangkan sebagai salah satu upaya promosi. pertama kali suatu metode kontrasepsi harus tersedia dan mudah didapat. Implant dan IUD tidak tersedia karena harganya yang cukup mahal. Secara tidak langsung daya beli individu ini juga dipengaruhi oleh ada tidaknya subsidi dari pemerintah. melalui kontak langsung oleh petugas program KB. Ketersediaan alat kontrasepsi terwujud dalam bentuk fisik. dan kalaupun ada pembagian dari Dinas Kesehatan Kabupaten atau Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil jumlahnya sangat sedikit dan biasanya diberikan jika ada acara-acara tertentu yang berhubungan dengan KB dan kesehatan. Sedangkan Suntik KB kadang tidak tersedia sehingga akseptor KB mendapatkannya di praktek dokter atau bidan.101 kemampuan membayar bisa tergantung variabel non ekonomi dalam hal selera atau persepsi individu terhadap suatu barang atau jasa. Promosi metode tersebut – melalui media. Disamping itu daya beli individu juga dapat mempengaruhi penggunaan kontrasepsi. Untuk dapat digunakan. tersedia atau tidaknya fasilitas atau sarana kesehatan (tempat pelayanan kontrasepsi).

PUS tidak memanfaatkan pelayanan KB karena penyedia pelayanan KB tidak menyediakan semua metode kontrasepsi. Harga ini tergolong murah jika mereka harus menggunakan alat kontrasepsi spiral atau implant yang harganya tergolong mahal dan mereka harus mengeluarkan dana rata-rata Rp. Meskipun secara nominal harga ini tergolong mahal tetapi jika dihitung dengan manfaat pemakaian jangka waktu yang lama maka sebenarnya metode ini lebih murah. 200. tetapi karena responden harus mengeluarkan biaya sekaligus maka nilai tersebut terasa mahal.-.sampai Rp. Petugas cenderung memprioritaskan dan membatasi suatu metode tertentu karena keterbatasan persediaan.000. 5.000.untuk sekali suntik dan untuk pil bisa mereka dapatkan secara gratis atau membayar sebanyak Rp. Konsumen tidak dapat memilih metode yang sesuai dengan tujuan kontrasepsinya karena alat tidak tersedia sehingga faktor ini akan berpengaruh terhadap pemanfaatan pelayanan KB. Sejak BKKBN dilebur .102 pil biasanya mereka dapatkan di puskesmas dengan mengeluarkan biaya rata-rata Rp. Jika dahulu masalah alat kontrasepsi ditangani oleh BKKBN sekarang hal tersebut sudah berubah.. 300.-. 15.. Berbeda dengan suntik dan pil yang bisa mereka dapatkan dengan harga murah meskipun dengan pemakaian jangka waktu yang relatif pendek (sekali tiap bulan atau tiga bulan) untuk suntik dan harus diminum setiap hari untuk pil.000. Menurut Kartono dalam Hutauruk (2006).000. Ketersediaan ini juga berkaitan dengan struktur organisasi pada lembaga BKKBN yang berubah setelah orde baru.

Untuk menjamin akses penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan. Pelaksanaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin pada tahun 2008 dinamakan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). padahal kesehatan merupakan hak semua orang dan pemerintah seharusnya menjaminnya (Prihastuti. kuratif dan rehabilitatif) bagi . sejak tahun 2005 Pemerintah melaksanakan mekanisme asuransi kesehatan yang dikenal dengan Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin (Askeskin). Untuk pengadaan di Dinas Kesehatan sendiri juga mengalami kendala karena terbentur dengan masalah biaya yang terbatas dan lebih banyak diprioritaskan pada pengadaan obat-obatan dan vaksin.103 dan digabung dengan Dinas Catatan Sipil dan Kependudukan maka kegiatan BKKBN menjadi tidak berjalan. Hal inilah yang mengakibatkan akseptor susah untuk mendapatkan alat kontrasepsi. preventif. karena kedua belah pihak merasa bahwa masalah alat kontrasepsi bukan urusannya dan lebih memprioritaskan pada program-program yang pokok. Pengadaan alat kontrasepsi menjadi terhenti. hanya menunggu pengadaan dari BKKBN pusat. Kurangnya advokasi kepada legislatif dan eksekutif juga merupakan hal yang mengakibatkan rendahnya dana yang dialokasikan untuk pengadaan alat kontrasepsi. Selain itu terjadi pula lempar tanggung jawab. Tidak semua anggota legislatif yang concern pada masalah tersebut dan menganggap bahwa program KB merupakan urusan keluarga. 2005). Ruang lingkup Program Jamkesmas pada tahun 2008 diutamakan pada upaya pelayanan kesehatan perorangan (promotif.

. Untuk penduduk miskin biaya yang harus dikeluarkan untuk pembelian alat kontrasepsi tersebut tentu juga memberatkan selain juga mereka harus mengeluarkan biaya untuk hidup sehari-hari.104 peserta Jamkesmas. Kendala inilah yang harus segera diatasi masyarakat menjadi mengeluarkan biaya untuk membeli alat kontrasepsi yang sebenarnya bisa mereka dapatkan secara gratis. Oleh karena itulah diharapkan pemerintah pusat khususnya pemerintah daerah memberi perhatian khusus dalam hal ini. namun alat kontrasepsi disediakan oleh BKKBN. Dengan pelayanan tersebut diharapkan akseptor KB yang sedang memakai alat kontrasepsi tidak menjadi drop out karena putus pakai. Pelayanan KB termasuk dalam pelayanan rawat jalan tingkat primer. sehingga dapat memberi solusi untuk dapat membantu atau meringankan beban penduduk miskin dengan tetap memberi pelayanan kesehatan KB dan kontrasepsi dengan gratis. Hal ini diungkapkan oleh Herlianto (2008) yang mangatakan bahwa ditengah otonomi daerah akseptor KB sulit untuk memanfaatkan pelayanan KB karena keterbatasan biaya untuk memperoleh alat/metode KB dan mengakibatkan terjadinya drop out karena akseptor KB tidak lagi memperoleh pelayanan KB gratis dalam safari KB seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini mengakibatkan cakupan pelayanan alat kontrasepsi menjadi tidak satu kesatuan karena terkendala pada pengadaan alat kontrasepsi yang disediakan oleh BKKBN. disamping upaya pelayanan kesehatan masyarakat yang terbatas pada upaya pencegahan yang bersifat sekunder.

waktu tempuh dan biaya. Suatu pelayanan hanya bisa digunakan apabila jasa tersebut tersedia atau bisa didapat tanpa mempertimbangkan sulit atau mudahnya penggunaannya. waktu tempuh dan biaya berhubungan dengan pemakaian alat kontrasepsi.7% tidak memakai alat kontrasepsi. Masing-masing sub variabel tersebut setelah diuji dengan uji chi-square menunjukkan hubungan yang Signifikan dengan pemakaian alat kontrasepsi. sehingga dapat dikatakan bahwa jarak. 2. Jarak bukanlah sesuatu hal yang dapat menghalangi mereka untuk mendapatkan pelayanan kesehatan termasuk pelayanan alat kontrasepsi. Hasil penelitian Hutauruk (2006) juga mengatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara ketersediaan pelayanan KB dengan utilisasi pelayanan KB (Sig=0. Hal ini dapat dilihat dari responden yang jarak rumahnya dekat tetapi 89. sedangkan responden yang jarak rumahnya jauh dan . Jika mereka membutuhkan pelayanan maka seharusnya mereka tidak akan memperhitungkan jarak dan kondisi jalan. Hasil ini menunjukkan bahwa jauh dekatnya jarak di lokasi penelitian akan mempengaruhi mereka dalam pemanfaatan pelayanan.000). yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah faktor organisasional yaitu ketersediaan sumber daya baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Pengaruh Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi terhadap Pemakaian Alat Kontasepsi Keterjangkauan pelayanan dalam hal ini dilihat dari 3 (tiga) kategori yaitu dari segi jarak.105 Menurut Rochmah dalam Hutauruk (2005).

Jika mereka membutuhkan alat kontrasepsi tersebut maka mereka tidak akan mempermasalahkan jarak ke puskesmas. Hubungan antara akses geografis dan volume dari pelayanan bergantung dari jenis pelayanan dan jenis sumber daya yang ada. Dari kondisi tersebut dapat dikatakan bahwa jarak bukan suatu hal yang dapat menyebabkan responden menjadi terganggu untuk mendapatkan alat kontrasepsi. Menurut Depkes RI (2007). Fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada belum digunakan dengan efisien oleh masyarakat karena lokasi pusat-pusat pelayanan tidak berada dalam radius masyarakat banyak dan lebih banyak berpusat di kota-kota dan lokasi sarana yang tidak terjangkau dari segi perhubungan. Ini adalah hubungan antara lokasi suplai dan lokasi dari klien yang dapat diukur dengan jarak. waktu tempuh ataupun biaya tempuh. Menurut Rafael dalam Hutauruk (2005).8%. kendala. atau keramahan petugas . sosial budaya terhadap pelayanan kesehatan modern. yang dimaksudkan dalam hal ini adalah tempat memfasilitasi atau menghambat pemanfaatan. pemanfaatan pelayanan kesehatan berhubungan dengan akses geografis. Meskipun sebenarnya jarak merupakan suatu kondisi yang menghambat seseorang dalam melakukan suatu tindakan atau perbuatan.106 tidak memakai alat kontrasepsi sebanyak 64. biaya. waktu tempuh atau biaya tempuh. Peningkatan akses dipengaruhi oleh berkurangnya jarak. faktor yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan yaitu aksesibilitas terhadap pelayanan kesehatan seperti jarak tempuh dan waktu yang terbuang untuk pergi ke fasilitas.

dapat ditempuh dalam waktu ≤ 30 menit (63%) dengan berjalan kaki (47%). faktor-faktor yang mempengaruhi alasan pemilihan metode kontrasepsi diantaranya adalah tingkat ekonomi. Keterjangkauan dari segi biaya pada umumnya banyak berhubungan dengan ketersediaan seperti yang telah dibahas sebelumnya. pekerjaan dan tersedianya layanan kesehatan yang terjangkau. Menurut Manuaba (1998). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah berprofesi sebagai petani sehingga dilihar dari segi ekonomi mereka berada pada golongan ekonomi menengah ke bawah. Mereka dihadapkan pada terbatasnya pilihan yang ada dan sesuai dengan .107 pelayanan kesehatan. Adanya keterkaitan antara pendapatan dengan kemampuan membayar jelas berhubungan dengan masalah ekonomi. Keterjangkauan dari segi biaya berhubungan dengan tersedia atau tidak tersedianya alat kontrasepsi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak rumah reponden 29% dekat dengan puskesmas. Hal ini akan berpengaruh pada kemampuan mereka untuk membayar atau membeli barang dan jasa termasuk untuk membeli alat kontrasepsi. menggunakan sepeda (33%) ataupun sepeda motor (30%). sedangkan kemampuan membayar bisa tergantung variabel non ekonomi dalam hal selera atau persepsi individu terhadap suatu barang atau jasa. Sedangkan dari segi biaya 95% responden mengeluarkan biaya untuk mendapatkan alat kontrasepsi dengan harga yang bervariasi sesuai dengan pilihan metode kontrasepsi. Tempat pelayanan yang tidak strategis atau sangat sulit dicapai menyebabkan berkurangnya pemanfaatan pelayanan kesehatan.

Faktor Pendorong Faktor pendorong dalam penelitian ini adalah dukungan petugas kesehatan dan pengambil keputusan dalam keluarga. Petugas kesehatan yang dimaksud dalam hal ini adalah bidan atau perawat yang bertugas di klinik kesehatan ibu dan anak dan keluarga berencana (KIA/KB). Pengaruh Kontasepsi Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang mengatakan petugas kesehatan tidak mendukung dan mereka tidak memakai alat kontrasepsi sebanyak 86. Calon akseptor yang masih ragu-ragu dalam pemakaian alat kontrasepsi akhirnya memutuskan untuk memakai alat kontrasepsi setelah mendapat dorongan Dukungan Petugas Kesehatan terhadap Pemakaian Alat . sedangkan petugas kesehatan mendukung dan mereka memakai alat kontrasepsi sebanyak 43. sehingga mayoritas pilihannya adalah metode kontrasepsi pil dan suntik yang dari segi biaya tergolong murah meskipun jangka waktu pemakaiannya singkat. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada pengaruh dukungan petugas kesehatan terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. Petugas kesehatan berperan dalam memberikan informasi. 1. 5. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan petugas kesehatan berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi. penyuluhan dan menjelaskan tentang alat kontrasepsi.108 kondisi keuangan. Petugas kesehatan sangat banyak berperan dalam tahap akhir pemakaian alat kontrasepsi.8%.5%.005).3.

109 maupun anjuran dari petugas kesehatan. Setelah memberikan penjelasan tentang alat kontrasepsi petugas PLKB akan merujuk calon akseptor ke puskesmas untuk proses pemasangan alat kontrasepsi. agar lebih meningkatkan mutu pelayanan dengan memberi sanksi yang tegas jika petugas kesehatan terutama bidan di desa yang tidak mau melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh. peran petugas PLKB dalam hal pemakaian alat kontrasepsi juga tidak dapat diabaikan. Selain petugas kesehatan. sehingga pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan perubahan sistem organisasi peran petugas PLKB banyak . Petugas kesehatan merupakan pihak yang mengambil peran dalam tahap akhir proses pemakaian alat kontrasepsi. Banyak masyarakat yang akhirnya enggan datang untuk berobat ataupun konsultasi tentang masalah kesehatannya karena sering kecewa bidan tidak berada di tempat. Bidan hanya datang setengah hari saja dan mereka pada umumnya tinggal menetap di ibukota kecamatan. Kerjasama ini sudah berjalan sejak zaman orde baru yang mengakibatkan meningkatnya akseptor KB. Hal ini tentu harus mendapat perhatian dari kepala puskesmas Kecamatan Rambah Samo maupun Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu. Pelayanan yang kurang baik seperti ini akan menjadi citra buruk bagi pelayanan kesehatan terutama petugas kesehatan itu sendiri. namun dalam kenyataannya para bidan di desa tidak tinggal menetap di polindes tersebut. Kecamatan Rambah Samo sendiri telah mempunyai polindes di tiap-tiap desa. Petugas PLKB biasanya membujuk para calon akseptor agar mau memakai alat kontrasepsi.

Dengan kekuatan yang mereka miliki petugas kesehatan biasanya mampu menekan ataupun mendorong calon akseptor untuk memakai alat kontrasepsi. Namun dalam perkembangannya tugas tersebut tidak dapat terlaksana dengan baik. Di puskesmas inilah petugas kesehatan memegang peran penting karena mereka harus dapat meyakinkan para calon akseptor untuk memakai alat kontrasepsi. sehingga calon akseptor yang belum mengambil keputusan akhirnya memutuskan untuk memakai alat kontrasepsi setelah diyakinkan oleh petugas kesehatan. . Depkes RI (2007) mengatakan bahwa tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dari tenaga medis yang terampil serta kesediaan masyarakat untuk merubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat pemakaian alat kontrasepsi. Meskipun sering tidak memiliki pilihan dalam hal jenis alat kontrasepsi yang dikehendaki. Petugas kesehatan juga tidak memiliki dana yang cukup untuk program tersebut. Di daerah penelitian sendiri petugas PLKB sudah tidak ada lagi.110 mengalami perubahan. Petugas kesehatan menjadi pihak yang mengkampanyekan program KB kepada masyarakat. sehingga mereka hanya dapat melayani para calon akseptor yang datang ke puskesmas. namun mereka menyerahkan hal tersebut kepada petugas kesehatan. sehingga otomatis peran tersebut digantikan oleh petugas kesehatan.

Juliantoro (2000) mengatakan bahwa dalam pelayanan kontrasepsi. klien bukanlah orang sakit yang ingin disembuhkan dengan sikap pasrah terhadap segala keputusan yang diambil penyedia layanan. memberi kesempatan atau kebebasan dalam memilih alat kontrasepsi. mayoritas responden mengatakan petugas kesehatan melakukan penyuluhan rutin tentang KB dan alat kontrasepsi. tidak sekedar hubungan antara orang sakit dengan petugas kesehatan. menyarankan untuk pemeriksaan rutin dan mengatakan bahwa pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan memuaskan. menyarankan agar ibu ikut KB atau menggunakan kontrasepsi. Dalam pelayanan kontrasepsi. Demikian juga dalam hal pemakaian alat kontrasepsi. hubungan antara penyedia pelayanan dengan konsumen kontrasepsi tidak sama dengan hubungan dokter dengan pasien. Adanya hubungan yang akrab antara perawat/bidan dengan masyarakat lebih memudahkan mereka dalam menggerakkan masyarakat. Petugas kesehatan juga menjelaskan terlebih dahulu tentang alat kontrasepsi yang akan dipilih serta efek sampingnya. sehingga anjuran atau keputusan yang dibuat akan dilaksanakan oleh masyarakat. Petugas kesehatan juga merupakan sosok yang masih dianggap panutan di masyarakat.111 Berdasarkan indikator dukungan petugas kesehatan. Hubungan tersebut lebih memudahkan mereka jika calon akseptor ingin memakai alat kontrasepsi. mempunyai kesadaran dan kemampuan untuk melakukan pilihan . Konsumen kontrasepsi adalah orang yang datang dalam keadaan sehat.

949). 2. karena suami/isteri . Program KB masih harus tetap disosialisasikan kepada masyarakat seperti yang dilakukan oleh petugas PLKB pada masa yang lalu.112 sehingga pelayanan KB harus berbeda dengan pelayanan orang sakit. mereka harus tetap meningkatkan kemampuan dan keahlian sehingga dapat memberikan informasi dan penyuluhan kepada masyarakat sehingga NKKBS dapat diterima dengan positif. keputusan dapat diambil oleh suami atau istri saja dengan memperhatikan segala risiko yang mungkin timbul akibat dari pemakaian alat kontrasepsi. Hasil uji chi square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan pengambil keputusan dalam keluarga dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. Oleh karena itu diharapkan petugas kesehatan dapat mengubah pola/cara pikir mereka dalam menghadapi para konsumen kontrasepsi. Pengaruh Pengambil Keputusan dalam Keluarga terhadap Pemakaian Alat Kontasepsi. sehingga program KB terus berlanjut dan berkesinambungan. Maksudnya adalah bahwa dalam hal pemakaian alat kontrasepsi suami dan istri tidak begitu mempermasalahkan musyawarah. Friedman (1998) dan Sarwono (2007) mengatakan bahwa ikatan suami isteri yang kuat sangat membantu ketika keluarga menghadapi masalah. Bila hal ini diperhatikan maka pemanfaatan pelayanan KB dapat meningkat. Dengan kata lain tidak ada perbedaan antara musyawarah suami-istri dengan suami atau istri saja dalam mengambil keputusan dalam pemakaian alat kontrasepsi.

. Hal itu disebabkan orang yang paling bertanggung jawab terhadap keluarganya adalah pasangan itu sendiri.113 sangat membutuhkan dukungan dari pasangannya. tersedia atau tidaknya fasilitas atau sarana kesehatan (tempat pelayanan kontrasepsi). Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa faktor-fakor yang mempengaruhi alasan pemilihan metode kontrasepsi diantaranya adalah tingkat ekonomi. 1998). Keadaan ideal bahwa pasangan suami istri harus bersama memilih metoda kontrasepsi yang terbaik.4. membayar biaya pengeluaran untuk kontrasepsi dan memperhatikan tanda bahaya pemakaian. Untuk dapat digunakan. Adanya keterkaitan antara pendapatan dengan kemampuan membayar berhubungan dengan masalah ekonomi. saling kerjasama dalam pemakaian. diketahui bahwa variabel yang paling dominan pengaruhnya terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah ketersediaan alat kontrasepsi. Faktor Paling Dominan terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi Berdasarkan uji regresi logistik ganda. Hartanto (2004) mengatakan bahwa metoda kontrasepsi tidak dapat dipakai istri tanpa kerjasama suami dan saling percaya. pekerjaan dan tersedianya layanan kesehatan yang terjangkau. 5. Dukungan tersebut akan tercipta apabila hubungan interpersonal keduanya baik. Ketersediaan alat kontrasepsi terwujud dalam bentuk fisik. sedangkan kemampuan membayar bisa tergantung variabel non ekonomi dalam hal selera atau persepsi individu terhadap suatu barang atau jasa (Manuaba. pertama kali suatu metode kontrasepsi harus tersedia dan mudah didapat.

Rochmah dalam Hutauruk (2006) mengatakan yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah faktor organisasional yaitu ketersediaan sumber daya. secara tidak langsung daya beli individu ini juga dipengaruhi oleh ada tidaknya subsidi dari pemerintah. PUS tidak memanfaatkan pelayanan KB karena penyedia pelayanan KB tidak menyediakan semua metode kontrasepsi. bahwa ditengah otonomi daerah akseptor KB sulit untuk memanfaatkan pelayanan KB karena keterbatasan biaya untuk memperoleh alat/metode KB dan mengakibatkan terjadinya drop out karena akseptor KB tidak lagi memperoleh pelayanan KB gratis dalam safari KB seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Menurut Kartono dalam Hutauruk (2006). Konsumen tidak dapat memilih metode yang sesuai dengan tujuan kontrasepsinya karena alat tidak tersedia sehingga faktor ini akan berpengaruh terhadap pemanfaatan pelayanan KB. baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Herlianto (2008). Suatu pelayanan hanya bisa digunakan apabila jasa tersebut tersedia atau bisa didapat tanpa mempertimbangkan sulit atau mudahnya penggunaannya. Hasil penelitian Hutauruk (2006) juga menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara ketersediaan pelayanan KB dengan utilisasi pelayanan KB (Sig=0.114 Disamping itu daya beli individu juga dapat mempengaruhi penggunaan kontrasepsi. . Petugas cenderung memprioritaskan dan membatasi suatu metode tertentu karena keterbatasan persediaan.000).

000).001) dan dukungan petugas kesehatan (Sig=0.000) dan dukungan petugas kesehatan (Sig=0.041).030).115 BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.023).001). Hasil analisis multivariat menunjukkan ada pengaruh yang bermakna antara jumlah anak (Sig=0.008). waktu tempuh (Sig=0. 3. sikap (Sig=0.014).033).1. 2. pengetahuan (Sig=0.016).025).112). ketersediaan alat kontrasepsi (Sig=0. ketersediaan alat kontrasepsi (Sig=0.002) dengan pemakaian alat kontrasepsi. maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Proporsi istri PUS yang tidak memakai alat kontrasepsi sebesar 72%. Variabel yang dominan berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah ketersediaan alat kontrasepsi (Koefisien B = 3. 6.000). pengetahuan (Sig=0. pendidikan (Sig=0. Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan yang Signifikan antara umur (Sig=0. jarak (Sig=0. biaya (Sig=0.1.005) terhadap pemakaian alat kontrasepsi 4. sikap (Sig=0. Kepada Dinas Kesehatan dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Rokan Hulu perlu melakukan kerjasama dan pendekatan kepada penentu kebijakan 99 . jumlah anak (Sig=0. Saran 1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian.

. Juga perlu melakukan penyuluhan kepada masyarakat agar dapat memahami dan menerima norma keluarga kecil sehingga diharapkan mampu membentuk keluarga bahagia dan sejahtera melalui pengaturan atau pembatasan kelahiran anak. 2. 3. Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu perlu melakukan peningkatan kemampuan petugas kesehatan sehingga mampu memberikan informasi tentang alat kontrasepsi dan dapat memahami serta menyadari bahwa akseptor memiliki hak reproduksi sehat dan hak konsumen pengguna alat kontrasepsi.116 lainnya dalam mengalokasikan dana untuk pelayanan alat kontrasepsi gratis kepada masyarakat khususnya kepada keluarga miskin.

Bertrand. Warta Demografi. Jakarta. Audience Research for Improving Family Planning Comunication Program. Communication Laboratory Community & Family Studi Center. Cukilan Data Program Keluarga Berencana Nasional. 2005. 1995. 2003. Hasil Pelaksanaan Program KB Nasional. _______. Badan Pusat Statistik.bkkbn. _______. 2004. Arikunto.. BKKBN. Jakarta. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi.go. J. Jakarta. BPS. 2007b.. Edisi Revisi VI. Dj. Prosedur Penelitian. 2003. 1999. Cornelius. Beni. 2005. Jumlah Penduduk Miskin Berkurang di 2007. Jakarta. Memecahkan Kasus Statistik Deskriptif. Statistik Indonesia 2007. Tingkat dan Perkembangan Pemakaian Alat Kontrasepsi Menurut Parameter Demografi Sosioekonomi di Indonesia Tahun 1994-1997. Hasil Pelaksanaan Program KB Nasional. 1990. No. R. Nuansa Psikologi Pembangunan.. Informasi Aspek Medis Alat Kontrasepsi LIMAS. S.. University of Chicago BKKBN. 1992. Yogyakarta. _________________. Jakarta. 2004. _______. 101 . Penerbit Andi. _______. .id diakses tanggal 10 Juni 2009. No. Jakarta. 2007a. ______. Penerbit Rineka Cipta. Indikator Kesejahteraan Rakyat 2006. 2006. Yogyakarta. 2009. T. Penerbit Pustaka Pelajar. Jakarta. http//www. Cukilan Data Program Keluarga Berencana Nasional. Analisis Berita Kependudukan: Triwulan Keempat 2003. Statistik 60 Tahun Indonesia Merdeka. BPS.. _______.117 DAFTAR PUSTAKA Ancok. 256 Tahun XXXII. Jakarta. Tahun 33 (4): 1-8. Jakarta. BPS. 1980. 255 Tahun XXXI. Parametrik dan Non Parametrik. Dua Dasawarsa Gerakan KB Nasional. _________________. Jakarta.

Analisis Situasi dan Bimbingan Teknis Pengelolaan Pelayanan KB. 2004. Tesis.. D. Sistem Kesehatan Nasional. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. 2008. Jakarta. Hutauruk. Gerungan. 1986.. 2001. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. KB dan Kontrasepsi. S. Fourth Edition. Jakarta. Friedman.. Hartanto. Health Program Planning: An Educational and Ecological Approach. Profil Kependudukan Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2007. diakses tanggal 30 Agustus 2008. A. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Metoda Kontrasepsi di Kelurahan Sidorame Barat II Kecamatan Medan Perjuangan Kodya Medan Tahun 2001. Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. 1998.. D. Jakarta.. Profil Kesehatan Indonesia 2005. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Rokan Hulu. Hasibuan. M.H. Medan. 2005.A. 2004.118 Depkes RI. Profil Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2007. 30 Tahun Cukup. http//www. Hubungan Karakteristik Wanita Usia Subur (WUS) dan Kualitas Pelayanan KB dengan Utilisasi Pelayanan KB di Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2006. New York. 2000. Jakarta.E. 2001.W. Ledakan Pertumbuhan Penduduk: Keluarga Berencana Tetap Menjadi Kunci. 2007. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan. Skripsi. Green.. 2004.com/rubrik/arsipaktual. Penerbit Buku Kedokteran EGC. ..media-indonesia. _________. 2008.R. Herlianto. L. Eresco. Hatmadji... McGraw Hill. _________. Psikologi Sosial. Jakarta. Jakarta.. Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 2008. 2006. Juliantoro. Medan. and Kreuter M. Fertilitas (Kelahiran) dalam Dasar-dasar Demografi. S. Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu. Pasirpengaraian. W. Bandung. Pasirpengaraian. H. Keperawatan Keluarga: Teori dan Praktek.

PT RajaGrafindo Persada.. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Program Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.. Meutia. Medan. Gadjah Mada University Press.bkkbn. et. 2003. Mochtar. Penerbit Rineka Cipta.. Pardosi. 2005. http//www.. Medan Baru Kodya Medan Tahun 2005. S. 1998. Ilmu Kebidanan.W. I. dan Klar. 1995. I. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Edisi 2. D. Pengaruh Karakteristik. Tesis. 1997. Yogyakarta Manuaba. V. Penerbit Pustaka Pelajar. Jakarta. ______________. Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Penggunaan Kontrasepsi di Wilayah Indonesia Timur (Analisis Data SDKI 1994). Cetakan 2. Penerbit Rineka Cipta. Mantra . T.. Pemantauan Pasangan Usia Subur Melalui Mini Survei Indonesia 2007. J. 2008. Yogyakarta. Skripsi. Depok. 2006. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan.G. Jakarta.. S. .B. Hosmer Jr.I. Demografi Umum.. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta. 2003.B. 2005. Sinopsis Obstetri Edisi 2. A. 2007. Kusuma. Yogyakarta. dan Sikap Akseptor KB Terhadap Utilitas Alat Kontrasepsi Implant di Kelurahan Kota Matsum-1 Kotamadya Medan. Notoatmodjo.. Analisis Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Kemandirian Akseptor KB Aktif dalam Pemanfaatan Program KB Mandiri di Wilayah Kerja Puskesmas Padang Bulan Kec. Jakarta. 1998. Menyisir dari Pinggir.php?type=p&prgid=175 diakses tanggal 17 September 2008 .id/ditfor/download. E. STARH-INSIST. Pratiknya. Lemeshow.. Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan (Terjemahan Dibyo Pramono). . Medan. Jakarta.. 1997.W.119 Kasmiyati. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Mutiara.go. Skripsi. Pengetahuan.. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan.al. R. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Metode dan Teknik Penyusunan Tesis. Sarwono. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. 2007. Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Penerbit Pustaka Pelajar. Riduwan.. Jakarta. Jakarta. Sakhnan. PT RajaGrafindo Persada... Faktor yang Berhubungan dengan Keikutsertaan Ibu PUS dalam Program KB Pada Suku Talang Mamak di Desa Seberial Indragiri Hulu Propinsi Riau Tahun 2000. R.P. 1989. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pedoman Klinis Kontrasepsi. Sosiologi Kesehatan: Beberapa Konsep Beserta Aplikasinya. S. Jakarta. 2001.. Sastroasmoro. S. Tesis. Sarwono. Metode Penelitian Survei. 1995. . Soekanto. Bandung. 2003. LP3Y dan STARH. Teori Organisasi. S. dkk. Sosiologi Suatu Pengantar. 2003. Akseptor KB Terengah di Otonomi Daerah. Jakarta. Gadjah Mada University Press. LP3ES. Tekonologi Kontrasepsi. Program Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Gadjah Mada University Press. 2001. Metodologi Penelitian. 1999. 2005.. Sciortino.B. I. Yogyakarta.W. 2005. Yogyakarta. S. 2006. Singarimbun. Menuju Kesehatan Madani. Yogyakarta. Cetakan Keempat. dan Efendi. Yogyakarta. S... Jakarta. 2002. S.. S. Suryabrata. Jakarta.. M. __________. Depok. S.. A. Jakarta. 2004.. Speroff. 2001. Alkon Hilang. Bandung. Siswosudarmo. Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Edisi 2. Saifuddin. Penerbit Balai Pustaka. PT RajaGrafindo Persada. dan Ismael.. Alphabet. Cetakan Kedua.. Penerbit Arcan.. L. M.. LP3ES.. P. dan Darney.. Yogyakarta. Psikologi Sosial. S.120 Prihastuti. Anak Tak Terbilang. Robbins. 1994.

2007.Going Beyond Income.undp. Panduan Penelitian Proposal dan Tesis. 2002. . Depok. Skripsi. Ilmu Kebidanan. AKK Sekolah Pasca Sarjana. 1999. 2008. Peranan Dukungan Suami Istri Dalam Pemilihan Alat Kontrasepsi Pada Peserta KB di Soak Bayu Kab Musi Banyuasin Sumatera Selatan Tahun 2002.121 Syamsiah. Yogyakarta. Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.. 2006. Universitas Sumatera Utara. Edisi Ketiga. Indonesia the Human Development Index . Triton. http:/hdr. USU Press. UNDP. Jakarta. Wiknjosastro. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Medan.org/end/reports/ . SPSS 13 Terapan Riset Statistik Parametrik. Penerbit Andi. diakses tanggal 28 Februari 2008. H.

Ingin punya anak perempuan e. Apakah ibu peserta KB? (Jika Tidak. Tidak 9.. Lain-lain. Jika Ya. alat kontrasepsi apa yang digunakan saat ini? a. Jumlah Anak : : : : : : : 8. Spiral b. sebutkan... Nama 3.. MOP/MOW g. Alasan kesehatan f. Pendidikan 5. Belum punya anak b.. Ya 2. Masih ingin punya anak c. Suntik d... lanjut ke pertanyaan No... Ingin punya anak laki-laki d.122 Lampiran 1 KUESIONER PENELITIAN FAKTOR FAKTOR YANG MEMENGARUHI PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI PADA ISTRI PUS DI KECAMATAN RAMBAH SAMO KABUPATEN ROKAN HULU Nomor Kuesioner Nama pewawancara : Hari/tanggal A : Identitas responden 1. apa alasan ibu belum ber-KB a. Pendidikan Suami 7. Umur 4.. Dilarang suami g. Implant/Susuk c. No. Responden 2. Lain-lain ……. Pil e. 10.. Kondom f.10) 1. Umur Suami 6. 106 . Jika Tidak..

Dokter/Bidan Praktek Swasta 4...bulan 4... Darimanakah ibu mengetahui tentang KB/alat kontrasepsi? 1. Tidak tahu 4. PPLKB/PLKB 2.. Untuk mengakhiri kesuburan 4............ dan seterusnya..... Anak pertama. Menurut ibu.... Tidak tahu 3... Jenis alat kontrasepsi apa saja yang ibu ketahui? 1...... 2..... Anak ketiga . Surat kabar/Majalah 5. Untuk mencegah terjadinya kehamilan 2.. Suatu cara yang dianjurkan pemerintah untuk membatasi jumlah anak (idealnya adalah 2 anak) 4... Suami/Orangtua/mertua 7... bulan 3. apakah manfaat pemakaian alat kontrasepsi? 1. Radio/Televisi 6..123  11. Spiral/IUD .. Suatu usaha dengan kesadaran sendiri membatasi kelahiran untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Anak kedua... apakah tujuan KB? 1..... Tidak tahu 5. Salah satu usaha untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui pengaturan kelahiran. bahagia dan sejahtera 2. Berapa rata-rata jarak kehamilan dengan anak sebelumnya…... Tidak tahu 2. Penundaan/penjarangan kelahiran 4. pengertian KB adalah? 1. Untuk mengatur jarak kehamilan 3. bulan 2.. B Pengetahuan tentang alat kontrasepsi (Jawaban bisa lebih dari 1) 1.. Puskesmas 3. Memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak 3. Pembatasan kelahiran 5....... 3.. Membentuk keluarga kecil.. Menurut ibu. 1.. Menurut ibu.

124

2. Implant/Susuk 3. Suntik 4. Pil 5. Kondom 6. Tubektomi/Vasektomi (MOP/MOW) 7. Tidak tahu 6. Menurut ibu, apa sajakah efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi? 1. Rasa nyeri/mules 2. Kelainan haid/perdarahan/bercak darah 3. Mual/muntah/pusing 4. Infeksi/Keputihan 5. Perubahan berat badan/gemuk 6. Tidak tahu 7. Menurut ibu, apakah alat kontrasepsi yang paling cocok untuk ibu menyusui? 1. Pil 2. Suntik 3. Tidak tahu 8. Menurut ibu, apa saja jenis kontrasepsi untuk laki-laki? 1. Kondom 2. MOP/Tubektomi 3. Tidak tahu C Sikap (Pilih satu jawaban saja) 1. Menurut ibu, manfaat KB adalah untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak 1. Setuju 2. Tidak setuju Alasan ………………………. 2. Menurut ibu, KB bertujuan untuk merencanakan keluarga kecil, bahagia dan berkualitas 1. Setuju 2. Tidak setuju Alasan ……………………….

125

3. Menurut ibu, pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu cara untuk menunda kehamilan dan menjarangkan kelahiran 1. Setuju 2. Tidak setuju Alasan ………………………. 4. Menurut ibu, mempunyai anak yang banyak tidak akan membawa rezeki yang banyak. 1. Setuju 2. Tidak setuju Alasan ………………………. 5. Menurut ibu, anak laki-laki nilainya sama dengan anak perempuan 1. Setuju 2. Tidak setuju Alasan ………………………. D Ketersediaan Alat Kontrasepsi: (Pilih satu jawaban saja) 1. Pada saat ibu ingin ikut KB, apakah alat kontrasepsi selalu tersedia di sarana kesehatan? 1. Ya 2. Tidak 2. Apakah jenis alat kontrasepsi yang diinginkan selalu tersedia di sarana kesehatan? 1. Ya 2. Tidak Jika Tidak, dimana ibu mendapatkan alat kontrasepsi? 1. Klinik swasta 2. Praktek Dokter/Bidan 3. Apotek 4. Lain-lain, sebutkan………………… Keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi (Pilih satu jawaban saja) 1. Berapakah jarak rumah ibu ke sarana kesehatan? 1. ≤ 2,5 km

E

126

2. > 2,5 km 2. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai di tempat pelayanan kesehatan? 1. ≤ 30 menit 2. > 30 menit Jenis alat transportasi apa yang ibu gunakan untuk mencapai tempat tersebut? 1. Jalan kaki 2. Sepeda 3. Sepeda motor 4. Mobil 3. Apakah ibu mengeluarkan biaya untuk memperoleh pelayanan KB? 1. Ya 2. Tidak Bila ibu membayar untuk ber-KB, berapa biaya yang harus dikeluarkan? (Sebutkan nominalnya dalam rupiah) ………… 1. s/d 100.000,2. 100.000 s/d 200.000,3. > 200.000,Dukungan Petugas Kesehatan: (Pilih satu jawaban saja) 1. Apakah petugas kesehatan melakukan penyuluhan rutin tentang KB dan alat kontrasepsi? 1. Ya 2. Tidak 2. Apakah petugas kesehatan menyarankan agar ibu ikut KB atau menggunakan kontrasepsi? 1. Ya 2. Tidak 3. Apakah petugas kesehatan menjelaskan terlebih dahulu tentang alat kontrasepsi yang akan dipilih dan efek sampingnya? 1. Ya 2. Tidak

F

Apakah pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan memuaskan? 1. Tidak 5.127  4. apakah penyebabnya? 1. Tidak Jika tidak puas. Biaya terlalu mahal 5. Apakah petugas kesehatan memberi kesempatan atau kebebasan dalam memilih alat kontrasepsi? 1. Isteri 3. Tetangga/teman dekat 6. WAWANCARA SELESAI TERIMAKASIH ATAS WAKTU DAN KESEMPATAN YANG TELAH DIBERIKAN . Alat/fasilitas tidak lengkap 4. sebutkan………… G Pengambil Keputusan: Siapakah yang mengambil keputusan tentang pemakaian alat kontrasepsi dalam keluarga? 1. Petugas kurang ramah 2. Musyawarah suami-isteri 4. Lain-lain. Ya 2.. Apakah petugas kesehatan menyarankan untuk pemeriksaan rutin? 1. Ya 2. Petugas tidak mampu memberi informasi seperti yang diharapkan 3. Tidak 6. Ya 2. Petugas kesehatan Alasan ……………………. Mertua/orangtua 5. Suami 2.

128 Lampiran 2 Uji Validitas dan Reliabilitas Data Reliability PENGETAHUAN ***** Method 1 (space saver) will be used for this analysis ****** _ R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S .7667 . 7.1333 5.7502 .0 30.0 30.S C A L E (A L P H A) Mean 1. 5.8667 .6000 .2667 5.6752 .Alpha if Item Total if Item Deleted Correlation Deleted 5. 2.0 30.6333 .4345 .0 30.4975 .0 30. 8. 4.3457 .4901 Cases 30.2333 5.8599 Reliability Coefficients N of Cases = Alpha = .4302 .1000 5.4302 .4498 .9609 5.0 N of Items = 8 .8700 .0000 5.8700 .0586 4.8849 .5644 5.5862 5.8941 .5862 5.4901 .8667 6.8090 .8667 .6333 Std Dev .7333 . 3.6103 5.6094 8 Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 5. P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 .8843 30. 6.0 Statistics for SCALE N of Mean Variance Std Dev Variables 5.8628 .1000 5.8092 2.0 30.6752 .2333 Scale Corrected Variance Item.0 30.0851 4.4983 .8597 .7208 .8541 .7457 .9437 .7667 .3457 .0000 5.

1713 1.1333 3.7667 Std Dev .9126 2.8212 .7685 5 Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted S1 S2 S3 S4 S5 3.1713 1.4302 .9126 .0 112 Statistics for SCALE N of Mean Variance Std Dev Variables 3.0333 3.8851 .9105 30.5843 . S1 S2 S3 S4 S5 .0 30.0 N of Items = 5 . 3.8655 .Alpha if Item Total if Item Deleted Correlation Deleted 2.4302 Cases 30.S C A L E (A L P H A) Mean 1.3457 .8655 .9399 .4901 . 4.6333 . 5.8667 .8212 .0333 3.8702 .9000 3.1276 1.3457 .1333 Scale Corrected Variance Item.129 Reliability SIKAP ****** Method 1(space saver) will be used for this analysis ****** _ R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S .0 30.0 30.8702 Reliability Coefficients N of Cases = Alpha = .0644 2.0 30.8851 .7667 .2667 3. 2.8667 .

0 30.0 N of Items = 6 .4302 Cases 30.Alpha if Item Total if Item Deleted Correlation Deleted 1.6333 4. 5.4667 1.1826 .1552 . 2.S C A L E (A L P H A) Mean 1.1552 1.3790 .7908 .0 Statistics for SCALE N of Mean Variance Std Dev Variables 5.7908 .9667 .5000 4.1826 .4966 .5000 4.4989 1.7861 .2243 6 Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted PK1 PK2 PK3 PK4 PK5 PK6 4.9299 .1826 .0 30.5000 4. 6.9667 .8333 .7908 .8682 Reliability Coefficients N of Cases = Alpha = .7861 .7861 .0 30.8220 .7861 .5000 4.1552 1.0 30.7908 .7667 Std Dev . 4.9667 .5818 .9667 .1826 . 3. PK1 PK2 PK3 PK4 PK5 PK6 .9069 .8301 30.130 Reliability Dukungan Petugas Kesehatan ****** Method 1 (space saver)will be used for this analysis ****** _ R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S .7000 Scale Corrected Variance Item.0 30.1552 1.

131 Lampiran 3 Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov .

478 115 .54 2.00 .73 3.82 2.68 13.734 7.00 3.600 -.241 .241 .00 2.823 .049 1. Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Lower Bound Upper Bound Statistic 16.00 2.70 3. Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Lower Bound Upper Bound 2.514 0 6 6 2.241 .40 4.478 .747 . Error .00 .26 2.151 Total dukungan petugas Mean 95% Confidence Interval for Mean 5% Trimmed Mean Median Variance Std.58 17.54 2.54 15.098 -.132 Descriptives  Total Pengetahuan Mean 95% Confidence Interval for Mean 5% Trimmed Mean Median Variance Std.50 55.466 8 31 23 13.943 Std.50 . Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Lower Bound Upper Bound 3.478 .06 14.824 .392 -.143 Total Sikap Mean 95% Confidence Interval for Mean 5% Trimmed Mean Median Variance Std.293 1.431 0 5 5 2.

000 a.901 df 100 100 100 Sig.000 .000 .287 100 .133 Tests of Normality  Total Pengetahuan Total Sikap Total dukungan petugas Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig.159 100 .248 100 . .000 .000 . Lilliefors Significance Correction .880 . .000 a Shapiro-Wilk Statistic .883 .

134 Lampiran 4 Analisis Univariat (Distribusi Frekuensi) Frequency Table Umur Istri Kategori Umur Suami DDKISTRI  Valid sd smp sma d3 pt Total Frequency 36 30 27 6 1 100 Percent 36.0 97.0 22.0 Pendidikan Suami  Valid SD SMP SMA D3 S1 Total Frequency 31 40 22 4 3 100 Percent 31.0 100.0 100.0 Cumulative Percent 36.0 6.0 27.0 93.0 Cumulative Percent 31.0 1.0 Valid Percent 31.0 Valid Percent 36.0 71.0 6.0 4.0 99.0 66.0 1.0 100.0 117 .0 3.0 40.0 30.0 100.0 4.0 100.0 22.0 3.0 27.0 30.0 93.0 40.0 100.

 Valid 20-35 tahun >35 tahun Total Frequency 60 40 100 Percent 60.0 100.0 Valid Percent 60.0 117 .0 Valid Percent 71.0 100.0 Cumulative Percent 60.0 29.0 100.0 40.0 40.0 Cumulative Percent 71.0 100.0 100.0 100.0 29.0  Valid <40 tahun >=40 tahun Total Frequency 71 29 100 Percent 71.

0 Pemakaian Alkon  Valid Ya/Pakai Tidak Total Frequency 28 72 100 Percent 28.0 100.0 100.135 Kategori Jumlah Anak  Valid > 2 orang <= 2 orang Total Frequency 54 46 100 Percent 54.0 89.0 4.0 78.0 100.0 100.0 5.0 Alasan ibu belum ber-kb  Valid Berkb masih ingin punya anak ingin anak laki-laki ingin anak perempuan Alasan kesehatan Dilarang Suami Total Frequency 28 48 13 4 2 5 100 Kategori Jarak Lahir Percent 28.0 100.0 4.0 Cumulative Percent 39.0 100.0 Valid Percent 54.0 5.0 89.0 6.0 48.0 13.0 100.0 61.0 76.0 93.0 72.0 100.0 2.0 11.0 7.0 Cumulative Percent 28.0 Valid Percent 28.0 100.0 100.0 2.0 61.0 7.0 13.0 Valid Percent 72.0 4.0 46.0 4.0 Valid Percent 28.0 48.0 Alat kontrasepsi yang digunakan  Valid tidak kb spiral implant/susuk suntik pil Total Frequency 72 6 4 7 11 100 Percent 72.0 .0 100.0 6.0 Cumulative Percent 28.0 Cumulative Percent 54.0 95.0 100.0  Valid <56 bulan >= 56 bulan Total Frequency 39 61 100 Percent 39.0 Cumulative Percent 72.0 46.0 72.0 82.0 Valid Percent 39.0 100.0 11.0 100.0 100.

0 100.0 SIkap Valid Percent 42.0 Valid Percent 55.0 100.0 100.0 45.0 52.0 57.0 Sikap Valid Percent 58.0 Cumulative Percent 58.0 100.0 100.0  Valid Tidak Setuju Setuju Total Frequency 55 45 100 Percent 55.0 58.0 45.0 58.0  Valid Tidak Setuju Setuju Total Frequency 58 42 100 Percent 58.0 100.0 52.0 Sikap Valid Percent 48.0  Valid Tidak Setuju Setuju Total Frequency 48 52 100 Percent 48.0 100.0 57.0 100.0 100.0 .136 Sikap  Valid Tidak Setuju Setuju Total Frequency 43 57 100 Percent 43.0 100.0 Cumulative Percent 43.0 Cumulative Percent 42.0 100.0 Sikap Valid Percent 43.0 Cumulative Percent 48.0  Valid Tidak Setuju Setuju Total Frequency 42 58 100 Percent 42.0 42.0 Cumulative Percent 55.0 42.0 100.0 100.0 100.0 100.

0 100.5 km Total Frequency 43 57 100 Percent 43.0 100.0 Valid Percent 49.0 Jarak ke sarkes  Valid <2.0 100.0 57.5 km >2.0 100.0 Cumulative Percent 49.0 Tempat mendapatkan alkon  Valid Klinik swasta Praktek dokter/bidan Apotik Total Frequency 33 58 9 100 Percent 33.0 Valid Percent 43.0 Cumulative Percent 43.0 9.0 100.0 Valid Percent 33.0 100.0 100.0 58.0 .0 51.0 Cumulative Percent 55.0 100.0 100.0 58.0 57.0 9.0 Ketersediaan Alkon  Valid Tidak Ya Total Frequency 49 51 100 Percent 49.0 Valid Percent 55.0 100.0 Waktu Tempuh Valid Percent 43.0 100.0 51.0 Cumulative Percent 43.137 Ketersediaan Alkon  Valid Tidak Ya Total Frequency 43 57 100 Percent 43.0 91.0 57.0 45.0 Cumulative Percent 33.0 57.0 100.0 45.0 100.0 100.0  Valid <30 mnt >30 mnt Total Freqenucy 55 45 100 Percent 55.0 100.

0 100.0 49.0 100.0 .0 20.0 Jenis alat transportasi yang dimiliki  Valid Jalan kaki Sepeda Sepeda Motor Total Frequency 47 33 20 100 Percent 47.0 100.0 100.0 100.0 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 27 73 100 Percent 27.0 80.0 Valid Percent 51.0 100.0 73.0 Cumulative Percent 29.138 Biaya yg dikeluarkan  Valid Tidak Terjangkau Terjangkau Total Frequency 51 49 100 Percent 51.0 100.0 71.0 55.0 Valid Percent 45.0 Cumulative Percent 51.0 Cumulative Percent 45.0 100.0 100.0 55.0 20.0 100.0 100.0 100.0 Valid Percent 47.0 Valid Percent 27.0 73.0 71.0 33.0 Cumulative Percent 47.0 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 29 71 100 Percent 29.0 Valid Percent 29.0 100.0 100.0 100.0 33.0 Cumulative Percent 27.0 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 45 55 100 Percent 45.0 49.

0 13.0 Valid Percent 48.0 100.0 Cumulative Percent 51.0 100.0 36.0 99.0 Valid Percent 51.0 Valid Percent 39.0 61.0 Alasan Tidak puas atas pelayanan petugas kesehatan  Valid Petugas kurang ramah petugas tidak mampu memberi informasi Fasilitas tidak lengkap Total Frequency 47 52 1 100 Percent 47.0 13.0 100.0 100.0 100.0 Valid Percent 42.0 58.0 100.0 100.0 100.0 52.0 52.0 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 48 52 100 Percent 48.0 Cumulative Percent 42.0 58.0 100.0 Cumulative Percent 39.0 1.0 52.0 64.0 1.0 Pengambil Keputusan dalam Keluarga  Valid Suami Isteri Musyawarah Total Frequency 51 13 36 100 Percent 51.0 36.0 100.0 100.0 100.0 61.0 100.139 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 42 58 100 Percent 42.0 52.0 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 39 61 100 Percent 39.0 Cumulative Percent 47.0 100.0 Valid Percent 47.0 Cumulative Percent 48.0 .0 100.

0 53.0 Cumulative Percent 47.0 27.0 64.0 .0 60.0 Kategori Sikap Valid Percent 47.0 100.0 46.0 Valid Percent 36.0 100.0 100.0 100.0 Cumulative Percent 54.0 46.0 Valid Percent 54.0 100.0 60.0 100.0 34.0 Kategori Jumlah Anak  Valid > 2 orang <= 2 orang Total Frequency 54 46 100 Percent 54.0 Cumulative Percent 40.0 66.0 100.0 53.0 100.0 Valid Percent 7.0 100.0 Pendidikan istri  Valid Tinggi Menengah Dasar Total Frequency 7 27 66 100 Percent 7.0 100.0 Kategori Pengetahuan  Valid Tinggi Rendah Total Frequency 47 53 100 Percent 47.140 Kategori Umur Istri  Valid Tinggi Rendah Total Frequency 40 60 100 Percent 40.0 100.0 64.0 100.0 100.0 Valid Percent 40.0  Valid Baik Tidak baik Total Frequency 36 64 100 Percent 36.0 Cumulative Percent 36.0 27.0 100.0 Cumulative Percent 7.0 100.0 66.

0 100.0 52.0 100.0 Cumulative Percent 63.0 Valid Percent 47.0 Valid Percent 29.0 Valid Percent 63.0 37.0 Cumulative Percent 29.0 100.0 100.0 Cumulative Percent 48.0 100.0 71.0 53.0 Kategori Dukungan Petugas  Valid Mendukung Tidak mendukung Total Frequency 48 52 100 Percent 48.0 100.0 Valid Percent 48.0 Waktu Tempuh  Valid Dekat Jauh Total Frequency 63 37 100 Percent 63.0 Biaya yg dikeluarkan  Valid Murah Mahal Total Frequency 47 53 100 Percent 47.0 100.0 Valid Percent 48.0 53.0 52.0 100.0 Jarak ke sarkes  Valid Dekat Jauh Total Frequency 29 71 100 Percent 29.0 71.0 100.0 Cumulative Percent 48.0 37.0 .141 Kategori Ketersediaan Alkon  Valid Tersedia Tidak Tersedia Total Frequency 48 52 100 Percent 48.0 52.0 100.0 Cumulative Percent 47.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 52.

0% 3 3.142 Kategori Pengambil Keputusan  Valid Baik Tidak Baik Total Frequency 38 62 100 Percent 38.0% 28 28.0 100.0 100.0 100.0 62.0 100.0% Musyawarah .0 Pengambil Keputusan dalam Keluarga * Pemakaian Alkon Crosstabulation  Pengambil Keputusan dalam Keluarga Suami Count Expected Count % within Pengambil Keputusan dalam Keluarga Isteri Count Expected Count % within Pengambil Keputusan dalam Keluarga Count Expected Count % within Pengambil Keputusan dalam Keluarga Total Count Expected Count % within Pengambil Keputusan dalam Keluarga Pemakaian Alkon Ya 17 17.0% 8 8.0 100.0 100.0% 3 3.0 62.0% 28 28.0 100.0% 8 8.0 100.0 Valid Percent 38.0 100.0 Cumulative Percent 38.0 100.0 100.0% Total 17 17.

0 100.0% 11 11.0% Praktek dokter/bidan Count .0 100.0% 28 28.0 100.0 100.0% 11 11.0% 5 5.0% 5 5.0 100.0 100.0 100.0 100.143 Tempat mendapatkan alkon * Pemakaian Alkon Crosstabulation  Tempat mendapatkan Klinik swasta alkon Count Expected Count % within Tempat mendapatkan alkon Expected Count % within Tempat mendapatkan alkon Apotik Count Expected Count % within Tempat mendapatkan alkon Total Count Expected Count % within Tempat mendapatkan alkon Pemakaian Alkon Ya 12 12.0% Total 12 12.0% 28 28.

0 100.8 36.0 72.4 59.5 80.015 5.0 28. 0 cells (.589 4.015 .0% 100 100.0 28.144 Lampiran 5 Analisis Bivariat Kategori Umur Istri * Pemakaian Alkon Crosstab  Kategori Umur Istri Risiko Rendah Count Expected Count % within Kategori Umur Istri Risiko Tinggi Count Expected Count % within Kategori Umur Istri Total Count Expected Count % within Kategori Umur Istri Chi-Square Tests Pemakaian Alkon Ya 22 16.3% 72 72.0% Total 7 7.0% 40 40.2 63.0 100. The minimum expected count is 11.0%) have expected count less than 5.0 57.0 42. Pendidikan istri * Pemakaian Alkon Crosstab  Pendidikan istri Tinggi Count Expected Count % within Pendidikan istri Menengah Count Expected Count % within Pendidikan istri Dasar Count Expected Count % within Pendidikan istri Total Count Expected Count % within Pendidikan istri Pemakaian Alkon Ya 4 2.9% 16 19.0% 66 66.7% 28 28.0 100.915 b df 1 1 1 1 Asymp.7% 6 11.0 100.3% 53 47.0% Tidak 38 43.566 5.018 .0% 72 72. (2-sided) Exact Sig.2 15.0% 27 27.0 100.5 19.0 72.023 .0% Total 60 60.033 .0% 100 100.533 100 a. Computed only for a 2x2 table b. Sig.0%  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 5.1% 11 7.0% Tidak 3 5.0% 127 .0% 28 28. (1-sided) .3% 34 28.7% 13 18.6 40. (2-sided) .019 Exact Sig.8 85.0 100.20.0 100.

0 cells (.0% 100 100.0 100.780 7.0% 54 54.904 b 5.145 Chi-Square Tests  Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 7. (1-sided) .9% 28 28.0 28.0%) have expected count less than 5.0% 84.007 a.030 .380 a 7.7%) have expected count less than 5.009 Exact Sig.007 a.013 .835 100 df 1 1 1 1 Asymp.025 . The minimum expected count is 12.007 . Sig.0 100.272 100 df 2 2 1 Asymp.96. The minimum expected count is 1.0 100.036 7.185 6. (2-sided) Exact Sig.8% 33 38.0 72. (2-sided) .016 .2% 21 15. Sig.9 61. Computed only for a 2x2 table b.1% 72 72.88.1 38.9 33.0% > 2 orang Total Count  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 6.1 15. Kategori Jumlah Anak * Pemakaian Alkon Crosstab  Kategori Jumlah Anak <= 2 orang Count Expected Count % within Kategori Jumlah Anak Count Expected Count % within Kategori Jumlah Anak Expected Count % within Kategori Jumlah Anak Chi-Square Tests Pemakaian Alkon Ya Tidak 7 39 12. 1 cells (16. (2-sided) .0% Total 46 46. .009 .

190 15.0% 53.0 100. Computed only for a 2x2 table b.0 28. (2-sided) Exact Sig.0% Tidak 18 25.0 100.000 a.000 .0 100. Kategori Sikap * Pemakaian Alkon Crosstab  Kategori Sikap Baik Count Expected Count % within Kategori Sikap Tidak baik Count Expected Count % within Kategori Sikap Total Count Expected Count % within Kategori Sikap Pemakaian Alkon Ya 18 10.8 11.146 Kategori Pengetahuan * Pemakaian Alkon Crosstab  Kategori Pengetahuan Tinggi Count Expected Count % within Kategori Pengetahuan Count Expected Count % within Kategori Pengetahuan Expected Count % within Kategori Pengetahuan Chi-Square Tests Pemakaian Alkon Ya Tidak 22 25 13. 0 cells (.9 50.8% 6 14.3% 28 28. Sig.0% 54 46. The minimum expected count is 13.0% 100 100.0% Total 36 36.6% 28 28.000 Exact Sig.0% Rendah Total Count  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 15.4% 72 72.7% 72 72.0 28.2 88.0 72.0%) have expected count less than 5.9 15. (2-sided) .16.0 100.0 100.0% Total 47 47.561 13.8 46.000 .0% 100 100.000 .0% 53 53.2% 47 38.000 .0% .0% 10 17.851 16.0% 64 64. (1-sided) .1 84.0 100.2 33.0 72.1 50.405 100 b df 1 1 1 1 Asymp.

Sig.9% 49 37.853 13. (2-sided) Exact Sig.0% 100 100.000 Exact Sig.000 Exact Sig.0% 52 52.6 5. Computed only for a 2x2 table b.4 94.000 . The minimum expected count is 10.0%) have expected count less than 5.44. Computed only for a 2x2 table b.1% 3 14.193 26.0% Total  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 26. (1-sided) .000 .0 100.309 29.000 a. (1-sided) . Kategori Ketersediaan Alkon * Pemakaian Alkon Crosstab  Kategori Ketersediaan Alkon Tersedia Count Expected Count % within Kategori Ketersediaan Alkon Tidak Tersedia Count Expected Count % within Kategori Ketersediaan Alkon Count Expected Count % within Kategori Ketersediaan Alkon Chi-Square Tests Pemakaian Alkon Ya Tidak 25 23 13.369 100 df 1 1 1 1 Asymp.209 13.000 .4 34.000 . The minimum expected count is 13.504b 11.0 100.8% 28 28.0% 47.0 28. (2-sided) Exact Sig. 0 cells (.000 .000 . Sig. 0 cells (.2% 72 72.6 52.000 . .0%) have expected count less than 5. (2-sided) .0% Total 48 48.0 100.000 a.0 72.08.147 Chi-Square Tests  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 13.001 .557 b 24.292 100 df 1 1 1 1 Asymp. (2-sided) .

Waktu Tempuh * Pemakaian Alkon Crosstab  Waktu Tempuh Dekat Count Expected Count % within Waktu Tempuh Jauh Count Expected Count % within Waktu Tempuh Total Count Expected Count % within Waktu Tempuh Pemakaian Alkon Ya 23 17.007 .5% 28 28.1 64.252 100 df 1 1 1 1 Asymp.2% 28 28.8% 72 72.0% Chi-Square Tests  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 6. 0 cells (.0 28.9 35.0 28.0 100.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8.0 100.0% 100 100.014 .0% Total 29 29.148 Jarak ke sarkes * Pemakaian Alkon Crosstab  Jarak ke sarkes Dekat Count Expected Count % within Jarak ke sarkes Jauh Count Expected Count % within Jarak ke sarkes Total Count Expected Count % within Jarak ke sarkes Pemakaian Alkon Ya 3 8.0 72.0% 100 100.6 36.1 10.5% 5 10.0% 37 37.7% 46 51.0 100.0 100.012 .142 7.9 89.0% Tidak 26 20. (2-sided) Exact Sig.3% 25 19. (2-sided) .023 .4 13.0% 71 71.4 63.0% Tidak 40 45.0% . Sig.0 100.0% Total 63 63.5% 32 26.6 86. Computed only for a 2x2 table b.178 6.12.012 Exact Sig.009 a. (1-sided) .315 b 5.5% 72 72.0 100.0 72.

149

Chi-Square Tests


Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
a

Value 6.114 b 5.026 6.592 6.052 100

df 1 1 1 1

Asymp. Sig. (2-sided) .013 .025 .010 .014

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

.020

.011

a. Computed only for a 2x2 table b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10.36.

Biaya yg dikeluarkan * Pemakaian Alkon
Crosstab


Biaya yg dikeluarkan Murah Count Expected Count % within Biaya yg dikeluarkan Count Expected Count % within Biaya yg dikeluarkan Total Count Expected Count % within Biaya yg dikeluarkan Chi-Square Tests

Pemakaian Alkon Ya Tidak 22 25 13.2 33.8 46.8% 6 14.8 11.3% 28 28.0 28.0% 53.2% 47 38.2 88.7% 72 72.0 72.0%

Total 47 47.0 100.0% 53 53.0 100.0% 100 100.0 100.0%

Mahal


Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
a

Value 15.561 b 13.851 16.190 15.405 100

df 1 1 1 1

Asymp. Sig. (2-sided) .000 .000 .000 .000

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

.000

.000

a. Computed only for a 2x2 table b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 13.16.

150

Kategori Dukungan Petugas * Pemakaian Alkon
Crosstab


Kategori Dukungan Petugas Mendukung Count Expected Count % within Kategori Dukungan Petugas Tidak mendukung Count Expected Count % within Kategori Dukungan Petugas Total Count Expected Count % within Kategori Dukungan Petugas

Pemakaian Alkon Ya 21 13.4 43.8% 7 14.6 13.5% 28 28.0 28.0% Tidak 27 34.6 56.3% 45 37.4 86.5% 72 72.0 72.0% Total 48 48.0 100.0% 52 52.0 100.0% 100 100.0 100.0%

Chi-Square Tests


Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
a

Value 11.358 b 9.905 11.714 11.245 100

df 1 1 1 1

Asymp. Sig. (2-sided) .001 .002 .001 .001

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

.001

.001

a. Computed only for a 2x2 table b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 13.44.

Kategori Pengambil Keputusan * Pemakaian Alkon
Crosstab


Kategori Pengambil Keputusan Baik Count Expected Count % within Kategori Pengambil Keputusan Tidak Baik Count Expected Count % within Kategori Pengambil Keputusan Count Expected Count % within Kategori Pengambil Keputusan

Pemakaian Alkon Ya Tidak 10 28 10.6 27.4 26.3% 18 17.4 29.0% 28 28.0 28.0% 73.7% 44 44.6 71.0% 72 72.0 72.0%

Total 38 38.0 100.0% 62 62.0 100.0% 100 100.0 100.0%

Total

151

Chi-Square Tests


Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
a

Value .086 .004 .087
b

df 1 1 1

Asymp. Sig. (2-sided) .769 .949 .768

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

.822

.478

.085 100

1

.770

a. Computed only for a 2x2 table b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10.64.

E. If weight is in effect.500 0 0 Tidak 28 72 Percentage Correct .000 (2) .000 .b Predicted Pemakaian Alkon Observed Ya Step 0 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage a.0 a.000 .0 . see classification table for the total number of cases.0 100.0 .000 Exp(B) 2.0 72. Dependent Variable Encoding Categorical Variables Codings  Frequency Pendidikan Tinggi istri Menengah Dasar 7 27 66 Parameter coding (1) 1.0 100. Constant is included in the model. .983 df 1 Sig. .000 . The cut value is .000 Block 0: Beginning Block Classification Table a.000 1.0 100.152 Lampiran 6 Analisis Multivariat (Uji Regresi Logistik Ganda) Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases Included in Analysis Missing Cases Total Unselected Cases Total a N 100 0 100 0 100 Percent 100.944 S.223 Wald 17.0 Variables in the Equation  B Step 0 Constant .571 135 . b.

Original Value Ya Tidak Internal Value 0 1 .

193 29.609 11.021 df 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 Sig.025 .334 .561 13.978 6.609 40.504 26.557 6.114 15.036 .365 .075 .000 Block 1: Method = Forward Stepwise (Likelihood Ratio) Omnibus Tests of Model Coefficients  Step 1 Step Block Model Step 2 Step Block Model Step 3 Step Block Model Step 4 Step Block Model Step 5 Step Block Model Chi-square 29.018 .863 58.011 .000 .193 11. .481 .000 .280 63.000 .380 3.171 2.280 Model Summary df 1 1 1 1 2 2 1 3 3 1 4 4 1 5 5 Sig.589 7.417 40.310 Cox & Snell R Square .000 .398 77.445 .358 53.000 .641 .000 .013 .863 4.315 6.000 .000 .009 .000 .253 .001 .469 58.000 .417 63.153 Variables not in the Equation  Step 0 Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) JHLANAKK TAHUKAT SIKAPKAT SEDIAKAT JARAK WAKTU BIAYA DUKUNGKA Overall Statistics Score 5.786 52.395 52.084 .408 .469 Nagelkerke R Square .675 .196 59.193 29.982 66.000 .012 .000 .727 55.000 Step 1 2 3 4 5 -2 Log likelihood 89.000 . .904 15.395 6.561 11.000 .001 .587 .001 .

Variable(s) entered on step 4: TAHUKAT.005 .072 4.528 .8 91.3 87.920 .661 .459 SEDIAKAT DUKUNGKA Constant Step JHLANAKK d 4 TAHUKAT SEDIAKAT DUKUNGKA Constant Step JHLANAKK e 5 TAHUKAT SIKAPKAT SEDIAKAT DUKUNGKA Constant a. c.066 2.016 .326 S.699 7.720 .3 68.448 3.817 1.008 .093 43.500 Variables in the Equation 22 3 6 69 22 7 6 65 18 7 10 65 18 7 10 65 Ya 25 23 Tidak 3 49 Percentage Correct 89.447 .0% C.001 . Variable(s) entered on step 3: DUKUNGKA. Variable(s) entered on step 5: SIKAPKAT. Variable(s) entered on step 2: JHLANAKK.266 95.112 2.700 .000 .3 90.645 . .001 .371 5.423 32.0 64.189 .910 3.453 .002 .211 36.925 1.609 .841 21.148 27.463 .828 .754 .033 10.014 .024 1.I.403 . The cut value is .488 111.245 -1.474 18.110 8.187 12. b.877 -.791 .322 8.005 .511 .385 184.3 83.893 2. .005 6.894 .254 -.897 -2.173 2.686 df 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Sig.134 9.014 129.151 4.454 1.063 3.832 9.442 21.707 .747 .691 3.002 .418 3.093 4.807 .for EXP(B) Lower Upper 4.101 Exp(B) 17.450 184.023 1.442 .670 2.575 26.513 .1 74.858 64.170 .3 90.230 5.041 .025 17.0 64.083 9. e.0  Step SEDIAKAT a 1 Constant Step JHLANAKK b 2 SEDIAKAT Constant Step JHLANAKK 3 c B 2.000 .154 Classification Table a Predicted Pemakaian Alkon Observed Step 1 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage Step 2 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage Step 3 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage Step 4 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage Step 5 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage a.045 .806 15.253 22.135 1.289 .089 36.702 .753 .618 .187 -2.302 1.809 Wald 18.0 78.3 83.775 .305 .002 . d.597 .118 6.E.0 78.252 2. .004 .000 .888 .307 9.551 44.882 .6 95.517 -2.021 7.758 .045 6.773 .593 2.083 -1.6 90.736 .351 8.926 .721 .000 .457 9.206 . Variable(s) entered on step 1: SEDIAKAT.206 .714 .100 5.086 .475 2.

098 -42.203 -32.001 .417 33.095 10.417 17.313 -31.001 .000 .009 .424 13.000 .036 .295 -44.982 31.469 24.057 -29.179 -35.803 4.155 Model if Term Removed Change in -2 Log Likelihood 29.001 .991 -35.000 . of the df 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Change .786 11.116 Model Log Variable Step 1 Step 2 SEDIAKAT JHLANAKK SEDIAKAT Step 3 JHLANAKK SEDIAKAT DUKUNGKA Step 4 JHLANAKK TAHUKAT SEDIAKAT DUKUNGKA Step 5 JHLANAKK TAHUKAT SIKAPKAT SEDIAKAT DUKUNGKA Likelihood -59.089 -48.001 .898 8.631 10.001 .703 -40.454 6.803 6.193 11.953 -38.011 .710 11.765 -33.004 .000 .000 .699 -55.713 Sig.864 -36.000 .882 -31.

004 .127 .142 2.456 1.061 .147 2.489 .524 .010 .365 1.076 .001 .003 .036 33.398 6.000 . .958 .308 2.994 3.034 .501 .057 .001 .318 10.011 .365 11.933 .478 .117 .358 .001 .997 .124 .105 .980 .150 3.143 .464 .319 .610 .845 5.113 .845 1.031 .403 .515 7.253 .042 .975 df 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 9 1 2 1 1 1 1 1 1 1 8 1 2 1 1 1 1 1 1 7 1 2 1 1 1 1 1 6 Sig.698 16.326 .624 4.177 27.078 .415 .328 .116 .956 3.484 1.734 .665 .000 6.048 .283 .537 2.133 .104 .251 .925 2.000 5.608 .108 5.001 .323 Step 2 Overall Statistics Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) TAHUKAT SIKAPKAT JARAK WAKTU BIAYA DUKUNGKA Step 3 Overall Statistics Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) TAHUKAT SIKAPKAT JARAK WAKTU BIAYA Step 4 Overall Statistics Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) SIKAPKAT JARAK WAKTU BIAYA Overall Statistics Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) JARAK WAKTU BIAYA Overall Statistics Step 5 .065 .006 .991 .786 8.069 .690 .065 .126 2.518 3.156 Variables not in the Equation  Step 1 Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) JHLANAKK TAHUKAT SIKAPKAT JARAK WAKTU BIAYA DUKUNGKA Score 4.061 .819 .003 .806 4.269 .159 .305 9.092 .446 4.484 6.117 .369 .053 11.145 .043 .222 5.456 3.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->