Anda di halaman 1dari 19

FREKUENSI JENIS TUMBUHAN, KERAPATAN DAN KERIMBUNAN

ELYA AGUSTINA (1210702021)

Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

ABSTRAK
Frekuensi, kerapatan dan kerimbunan merupakan data hasil analisa kuantitatif yang merupakan data penting dalam menentukan peranan atau spesies atau jenis dalam vegetasinya. Frekuensi didefinisikan sebagai kesempatan mendapatkan suatu jenis tumbuhan atau spesies dalam suatu luas tertentu pada percobaan tertentu. Kerapatan merupakan jumlah individu suatu spesies per satuan luas area yang digunakan dalam suatu daerah vegetasi tertentu. Kerimbuanan dapat didefinisikan sebagai tanah yang tertutup oleh proyeksi tegak lurus bagian aeril (diatas tanah) individu spesies yang diamati. Adapun tujuan dari praktikum frekuensi jenis tumbuhan, kerapatan dan kerimbunan adalah untuk menentukan frekuensi dari berbagai jenis tumbuhan dalam suatu daerah tertentu. Praktikum ini dilakukan di areal terbuka lapangan Al-Jawami Fakiultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Daerah yang menjadi objek pengamatan adalah ekosistem padang rumput sehingga metode yang digunakan yaitu metode line intercept. Dari data hasil ditemukan 13 spesies dengan diantaranya 9 spesies yang sudah teridentifikasi dan 4 spesies lainnya yang belum teridentifikasi. Perolehan katagori kelas frekuensi, kerapatan dan kerimbunan jenis tumbuhan tersebut didasarkan dari Blaun Blanquet.

Kata Kunci : Frekuensi , kerapatan, kerimbunan, metode line intercep

PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat

keanekaragaman hayati yang tinggi dan menempati urutan kedua di dunia. Saat ini keanekaragaman spesies, ekosistem, dan sumberdaya genetik semakin menurun pada tingkat yang cukup membahayakan akibat kerusakan lingkungan. Pelestarian komunitas hayati secara utuh sangat dibutuhkan untuk melestarikan

keanekaragaman hayati di suatu ekosistem. Konservasi pada tingkat komunitas merupakan salah satu cara yang efektif untuk melestarikan spesies. Begitupun pada ekosistem padang rumput yang berpengaruh besar terhadap keseimbangan alam. Rumput memegang peranan penting bagi individu tertentu, contohnya pada komunitas hewan dalam memperoleh aliran energi yang berasal dari produsen rumput hijau. Selain itu juga rumput yang tumbuh liar sebagai penentuan kesuburan tanah di daerah tertentu. Frekuensi, kerapatan dan kerimbunan merupakan data hasil analisa kuantitatif yang merupakan data penting dalam menentukan peranan atau spesies atau jenis dalam vegetasinya. Selain data dalam analisa data hasil analisa kuantitatif diperlukan juga data lain yaitu hasil analisa kuantitatif yang memberikan sifat khusus dari spesies atau jenis terhadap vegetasi. Dari hasil analisis kuantitatif ini terutama akan memberikan gambaran dari setiap jenis yang ada pada waktu-waktu yang akan datang. Untuk mengetahui derajat kesuburan dari suatu jenis tanaman dalam perkembangannya, dan sebagai reaksi tumbuhan tersebut terhadap lingkungan di sekitarnya maka dilakukan praktikum mengenai frekuensi, kerapatan dan kerimbunan suatu jenis tumbuhan . Menurut Rahardjanto (2001), frekuensi didefinisikan sebagai kesempatan mendapatkan suatu jenis tumbuhan atau spesies dalam suatu luas tertentu pada percobaan tertentu. Dengan demikian frekuensi menggambarkan distribusi atau penyebaran tumbuhan di suatu daerah vegetasi tertentu. Frekuensi ditentukan berdasarkan kekerapan dari jenis tumbuhan dijumpai dalam sejumlah area sampel (n) dibandingkan dengan seluruh total area sampel yang dibuat (N), biasanya dalam persen (%) (Rahardjanto, 2001). Frekuensi pada dasarnya agak sulit menentukan apabila garis yang dibuat merupakan garis tunggal. Apabila garis itu dibagi dalam beberapa sektor-sektor garis. Bila garisnya indikator

majemuk maka perhitungan tidak berbeda seperti pada metode kuadrat. Sedangkan nilai penting prinsipnya sama dengan metode kuadrat. Sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut: Frekuensi =
x 100%

Kerapatan (density) dapat didefinisikan sebagai jumlah individu suatu spesies per satuan luas area yang digunakan dalam suatu daerah vegetasi tertentu. Kerapatan ditentukan berdasarkan jumlah individu suatu populasi jenis tumbuhan di dalam area tersebut. Kerimbunan ditentukan berdasarkan penutupan daerah cuplikan oleh populasi jenis tumbuhan. Kerimbunan ditentukan berdasarkan penutupan daerah cuplikan oleh populasi jenis tumbuhan. Apabila dalam penentuan kerapatan dijabarkan dalam banyak kelas kerapatan, maka untuk kerimbunannya lebih baik digunakan kelas kerimbunan (Rohman, 2001). Hal ini sesuai pernyataan Rahardjanto (2001), bahwa kerapatan didasarkan pada perhitungan jarak antara individdu-individu sejenis yang melewati garis. Adapun rumus dari kerapatan adalah sebagai berikut:

Kerapatan =

Analisis kuantitaif penting lain adalah kerimbuanan yang didefinisikan sebagai tanah yang tertutup oleh proyeksi tegak lurus bagian aeril (diatas tanah) individu spesies yang diamati (Greig-Smith, 1983). Kerimbunan ditentukan berdasarkan penutupan oleh populasi jenis tumbuhan. Apabila dalam menentukan kerapatan dijabarkan dalam baik bentuk kelas kelas kerapatan, keribunan. maka untuk

perimbunannyapun

lebih

digunakan

Kerimbunan

berdasarkan pada panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan atau bila dinyatakan dalam % dapat dilakukan berdasarkan perbandingan panjang penutupan garis yang melewati individu tumbuhan terhadap panjang garis yang dibuat. Kerimbunan = x 100%

Adapun tujuan dari praktikum frekuensi jenis tumbuhan, kerapatan (density) dan kerimbunan (cover) adalah untuk menentukan frekuensi dari berbagai jenis tumbuhan dalam suatu daerah tertentu.

METODE Praktikum ini dilakukan pada hari selasa, 21 Februari 2012. Bertempat di areal terbuka lapangan Al-Jawami Fakiultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Alat dan Bahan Alat yang digunakan ketika praktikum adalah pita pengukuran atau meteran, penggaris, buku data atau catatan, dan alat tulis. Bahan yang digunakan yaitu kuadrat dengan ukuran yang sesuai, yang letaknya di areal terbuka (lapangan) AlJawami

Tahapan praktikum Adapun tahapan pratikum yaitu: Frekuensi Jenis Tumbuhan: Menentukan kuadrat secara acak, kemudian meletakan pada sejumlah tempat pengambilan contoh (p.c), kemudian melakukan identifikasi spesies atau yang dibedakan sebagai ABC atau (123) secara taksonomik, spesies dikumpulkan dan diletakan dengan menggunakan selotif pada kertas hebarium dan digunakan cirri-ciri dengan identifikasi yang sama, kemudian ditentukan ada atau tidaknya masing-masing jenis dalam setiap segmen (kuadrat) tabulasi datanya, pencatatan dilakukan pada minimum 5 tempat pengmbilan contoh, susun dalam daftar dan ditentukan jenis tumbuhan mana yang memiliki harga frekuensinya paling tinggi, perhitungan frekuensi meggunakan rumus:

Frekuensi =

x 100%

Setelah menghitung nilai frekuensinya, data dikelompokkan dan dijumlahkan semua jenis tumbuhan setiap tempat pengambilan contoh, kemudian data tersebut di buat grafiknya.

Kerapatan tumbuhan: Meletakan kuadrat dengan ukuran yang sesuai secara acak pada sejumlah tempat dalam daerah yang dipelajari, kemudian melakukan identifikasi spesiesnya atau dibedakan sebagai A, B, C, dan seterusnya, setelah itu setiap individu-individu dihitung pada setiap kuadratnya, dan dicatat data pengamatan dalam bentuk tabulasi tabel, apabila sulit mengidentifikasi spesies secara taksonomi di lapangan, setiap tumbuhan dikumpulkan dan direkatkan dengan selotif pada kertas herbarium,beri tanda yang sama yaitu A, B, C, dan seterusnya. Adapun rumus dari kerapatan ini yaitu :

Kerimbunan: kerimbunan tumbuhan yang dilakukan dengan metode line intercept, sehingga tahapan praktikumnya yaitu, membuat terlebih dahulu 5 line pada satu kuadrat dengan jarak satu dengan yang lainnya yaitu 20 cm. Panjang garis 1 m (100 cm2) sampai 5 m (500 cm2), kemudian diukur panjang jenis tumbuhan yang ada sepanjang garis dengan menggunakan penggaris, rumus perhitungan kerimbunan : Kerimbunan = x 100%

HASIL DAN PEMBAHASAN Pada praktikum ini pengamatan dilakukan di lapangan terbuka Aljawami dimana daerah tersebut merupakan area padang rumput dan luas pemetaan yang digunakan adalah 500 m2. Dalam kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi, kerapatan dan kerimbunan suatu vegetasi di daerah tersebut sehingga sebelum menentukan area terlebih dahulu dipilih area yang banyak ditumbuhi spesies tanaman. Metode yang digunakan pada praktikum ini menggunakan metode line intercept, dimana metode ini biasa digunakan oleh ahli ekologi untuk mempelajari komunitas padang rumput. Dalam cara ini terlebih dahulu ditentukan dua titik sebagai pusat garis transek. Panjang garis transek yang digunakan adalah 10 m. Pada garis transek itu kemudian dibuat segmen-segmen yang panjangnya 1

m kemudian pengamatan terhadap tumbuhan dilakukan pada segmen-segmen tersebut. Selanjutnya mencatat, menghitung dan mengukur panjang penutupan semua spesies tumbuhan pada segmen-segmen tersebut. Cara mengukur panjang penutupan adalah memproyeksikan tegak lurus bagian basal atau aerial coverage yang terpotong garis transek ke tanah.

Gambar 1. Metode Line intercept (Sumber: Dokumentasi pribadi)

Gambar 1. Metode Line intercept Pengamatan yang telah dilakukan memperlihatkan bahwa kondisi di area (Sumber; Dokumentasi pribadi) tersebut mempunyai potensi pertumbuhan vegetasi yang cepat, dilihat dari kondisi area yang sangat strategis dengan kondisi tanah gembur, curah hujan yang cukup, dan intensitas cahaya yang baik. Di area tersebut ditemukan pula hewan yang mendominasi keanekaragaman vegetasi. Umumnya hewan yang ditemukan merupakan sekelompok serangga yang hidup mencari nutrisi dari vegetasi tumbuhan. Dari data hasil jumlah vegetasi yang ditemukan pada seluruh kuadrat adalah diperoleh 13 spesies, dengan diantaranya spesies yang telah teridentifiksasi dan belum teridentifikasi. Vegetasi yang berhasil diidentifikasi adalah dari jenis rumput-rumputan seperti rumput putri malu, rumput jarum, rumput teki, rumput krokot, aantingan, rumput gajah, tapak liman, babadotan dan patikan kebo, sehingga diasumsikan 4 spesies lainnya belum diketahui nama spesiesnya.

Perhitungan lebih kompleks dari vegetasi yang didapat dan diidentifikasi meliputi frekuensi, kerapatan, dan kerimbunan kemudian disajikan pada tabel lampiran. Berikut ini adalah data hasil pengamatan frekuensi jenis tumbuhan yang ditemukan pada luas pemetaan.

Grafik 1. Frekuensi Jenis Tumbuhan

Grafik Frekuensi Jenis Tumbuhan


120% 100% 80% 60% 40% 20% 20% 0% 20% 20% 20% 100% 100% 100% 100% 80% 100% 100% 80% 60%

Dari grafik diatas dapat dilihat persentase frekuensi suatu tananaman yang mendominasi daerah pengamatan menunjukan bahwa kondisi lingkungan di daerah tersebut mempunyai daya memampuan yang cocok untuk pertumbuhan rumput. Frekuensi terbesar ditemukan pada vegetasi rumput putri malu, rumput jarum, sp.1, rumput teki, rumput krokot dan aantingan sebesar 100% dari 5 plot yang diamati. Frekuensi tertinggi juga terdapat pada jenis rumput gajah dan babadotan dengan persentase frekuensi sebesar 80%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa jenis tersebut mendominasi daerah kuadrat dan merupakan jenis rumput yang dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan. Berdasarkan nilai persentase frekuensi, maka dapat dilihat proporsi antara jumlah rumput dalam suatu jenis dengan jumlah jenis lainnya di dalam komunitas dan juga dapat menggambarkan penyebaran individu di dalam komunitas.

Tabel 1. Hasil Pengamatan Frekuensi Spesies Tumbuhan Di Lapangan Areal Terbuka Al-jawami No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Nama spesies tumbuhan Putri malu Rumput teki Rumput kerokot Aantingan Rumput gajah Sp. 1 Rumput jarum Tapak Liman Badotan Patikan kebo Sp.2 Sp.3 Sp.4 Jumlah kuadrat 1 2 3 4 - - - - - - - - - - - - - - Total jumlah Frekuensi spesies pada (%) kudrat 5/5 100% 5/5 100% 5/5 100% 5/5 100% 4/5 80% 5/5 100% 5/5 100% 1/5 20% 4/5 80% 1/5 20% 3/5 60% 1/5 20% 1/5 20% Kelas frekuensi 5 5 5 5 5 5 5 2 5 2 4 2 2

5 -

Suatu jenis tumbuhan dapat dikatakan mempunyai kelas frekuensi yang tinggi apabila pada area tersebut terlihat lebih dominan. Kelas frekuensi tertinggi dicapai dengan intensitas 5 dengan nilai frekuensi 80-100%, jenis tumbuhan tersebut terdapat pada semua kuadrat yang dipelajari diantaranya yaitu pada rumput teki, rumput putri malu, rumput kerokot, aantingan, Sp.1, rumput gajah dan rumput jarum. Sedangkan untuk keras frekuensi berikutnya adalah kelas 2 dengan persentase frekuensi 20%, jenis tumbuhan ini dapat dikatakan jarang ditemukan dan hanya mewakili dari setiap kuadrat yang dipelajari. Perolehan katagori kelas frekuensi tersebut didasarkan dari Blaun Blanquet. Penyebaran dan pertumbuhan rumput sangat dipengaruhi oleh daya tumbuh biji, topografi, keadaan tanah, dan faktor lingkungan lainnya. Dalam perkembangbiakannya rumput dapat dibantu dengan bantuan angin (antogami) yang tersebar di daerah yang miskin akan bahan organik dan dengan intensitas cahaya yang berlebih seperti yang terdapat di kawasan sekitar padang rumput tersebut. Rendahnya kelas frekuensi suatu jenis tumbuhan di dalam plot dikarenakan pada plot ini berada di dalam kawasan yang memiliki kondisi tanah yang tidak cocok dengan pertumbuhan spesiesnya. Pasokan unsur hara yang

rendah, intensitas sinar matahari yang berlebih dan pasokan air yang sedikit menyebabkan sulitnya jenis-jenis rumput untuk tumbuh. Menurut Greig-Smith (1983) nilai frekuensi suatu jenis dipengaruhi secara langsung oleh densitas dan pola distribusinya. Nilai distribusi dapat memberikan informasi tentang keberadaan tumbuhan tertentu dalam suatu plot dan belum dapat memberikan gambaran tentang jumlah individu pada masing-masing plot.

Tabel 2. Hasil Pengamatan Kerapatan Spesies Tumbuhan Di Lapangan Areal Terbuka Al-jawami
Nama spesies
Jumlah Individu per kuadrat Total individu kuadrat yang terdapat spesies Total kuadrat yang dipelajari Kerapata n (ind/cm2)

Kelas Kerapatan

1
Putri malu Rumput teki Rumput kerokot Aantingan Rumput gajah Sp.1 Rumput runcing 13 9

2
1 9

3
6 7

4
8 13

5
2 6 30 44

5 5

5 5

= 6 = 8,8

2 2

55 17 26 8 5

2 3 33 38

7 6 20 9 27

2 22 16 3 28

3 2 3 4 54

69 50 65 57 152

5 5 4 5 5

5 5 5 5 5

= 13,8 = 10 = 13 = 10,2 = 30,4

4 4

4 5

Suatu jenis tumbuhan di daerah pengamatan dapat dikatakan tinggi apabila jumlah individu suatu spesies banyak ditemukan pada total kuadrat yang dipelajari. Kelas kerapatan ini digunakan katagori dari Braun Blanquet. Intensitas nilai kelas kerapatan di daerah pengamatan yaitu dari kelas kerapatan 2 sampai 5. Pada kelas kerapatan 4 dan 5 dapat memberikan gambaran bahwa pada area terrsebut cukup baik untuk pertumbuhan jenis-jenis tumbuhan tersebut.

Sedangkan pada kelas kerapatan 2 diperoleh dari jenis rumput teki dan rumput putri malu. Jenis tumbuhan tersebut dapat dikatakan jarang dan hanya mewakili setiap kuadrat pengamatan jika dibandingkan dengan jenis tumbuhan lainnya yang jumlahnya lebih banyak dan dominan.

Grafik 2. Kerapatan Jenis Tumbuhan

35 30 25 20 15 10 5 0

Grafik Kerapatan Jenis Tumbuhan


30.4

13.8 6 8.8 10

13

10.2 Sp.1 Rumput runcing

Putri malu Rumput teki

Rumput Aantingan Rumput kerokot gajah

Dari data diatas memperlihatkan kerapatan setiap vegetasi yang berbedabeda. Terlihat dari data yang dihitung bahwa kerapatan vegetasi tertinggi adalah pada Rumput runcing dengan nilai kerapatan sebesar 0,3 ind/cm2, kemudian diikuti rumput kerokot
2

dan rumput gajah dengan kerapatan masing-masing

sebesar 0,14 ind/cm dan 0,13 ind/cm2. Sedangkan untuk nilai kerapatan terendah diperoleh nilai sebesar 0,06 ind/cm2 dan 0,09 ind/cm2 pada jenis tubuhan rumput teki dan putri malu. Spesies tumbuhan dengan kerapatan yang tinggi dapat dianggap sebagai jenis yang rapat serta tersebar luas pada hampir seluruh lokasi pengamatan. Kerapatan suatu spesies pada kuadrat plot menunjukkan jumlah individu spesies dengan satuan luas tertentu, maka dapat diperoleh gambaran nilai mengenai jumlah spesies tersebut pada lokasi pengamatan. Kedua nilai ini penting artinya dalam analisis vegetasi karena saling terkait satu dengan yang lainnya. Kerapatan spesies tumbuhan menunjukkan bahwa komposisi dan struktur tumbuhan yang nilainya bervariasi pada setiap jenis karena adanya perbedaan karakter masing-masing spesies. Menurut Arrijani (2006), nilai kerapatan belum dapat memberikan gambaran tentang bagaimana distribusi dan pola

penyebarannya. Gambaran mengenai distribusi individu pada suatu jenis tertentu dapat dilihat dari nilai frekwensinya sedangkan pola penyebaran dapat ditentukan dengan membandingkan nilai tengah spesies tertentu dengan varians populasi secara. Pada pengamatan kerimbunan digunakan metode line intecep (transept), setiap kuadran dibuat lima line, masing-masing line kemudian dilakukan perhitungan kerimbunan. Harga kerimbunan dalam metode ini merupakan jumlah pajang dari jenis tumbuhan yang melintasi line diprosentasikan terhadap panjang garis yang dibuat melintasi suatu vegetasi. Berikut ini hasil pengamatan kerimbunan jenis tumbuhan pada daerah pengamatan.

Tabel 1. Hasil Pengamatan Panjang Jumlah Individu Spesies Tumbuhan Panjang jumlah individu tiap line (cm)

Jenis TPC tumbuhan yang ditemukan

Jumlah Total panjang

individu (cm)

Rumput gajah Kuadrat 1 Aantingan Rumput krokot Kuadrat 2

10,8 1 -

8 1,2 22

5 2 -

23,8 3,2 22

Tidak terdapat panjang jenis tumbuhan pada setiap line Rumput gajah 15 5,3 2,3 4,3 5 29,6 2,3

Kuadrat 3

Aantingan Rumput krokot

0,3

0,2

0,2

0,7

Kuadrat 4

Rumput

21,6

7,1

2,2

1,5

17

49,4

gajah Aantingan Rumput Kuadrat 5 gajah Aantingan 10 4 14

1,2

1,2

4,4

4,4

Tabel 3. Hasil pengamatan kerapatan spesies tumbuhan di areal terbuka Aljawami Nama spesies Panjang Jumlah individu tiap kuadrat (cm) 1 2 3 4 5 23,8 29,6 49,4 1,2 Total (cm) Kelas Kerimbunan Kerimbun (%) an x 100 % 104 = 20,8 x 100 % = Aantingan 3,2 2,3 14 4,4 23,9 4,78 x 100 % 22 0,7 22,7 = 4,54 1 2

Rumput gajah

Rumput Krokot

Berdasarkan data diatas kerimbuanan yang paling tinggi adalah rumput gajah dengan kelas kerapatan 2. Sedangkan untuk jenis tumbuhan aantingan dan rumput kerokot mempunyai kelas kerimbunan sebesar 1. Jenis tumbuhan rumput tersebut dapat dikatagorikan masih jarang. Kerimbunan ditentukan berdasarkan penutupan oleh populasi jenis tumbuhan. Apabila dalam menentukan kerapatan dijabarkan dalam bentuk kelas kerapatan, maka untuk perimbunannyapun lebih baik digunakan kelas keribunan. Kerimbunan berdasarkan pada panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan atau bila dinyatakan dalam % dapat dilakukan berdasarkan perbandingan panjang penutupan garis yang melewati individu tumbuhan terhadap panjang garis yang dibuat.

Identifikasi Tumbahan Rumput teki (Cyperus rotundus L.) Bunga berwarna hijau kecoklatan, terletak di ujung tangkai dengan tiga tunas kepala benang sari berwarna kuning jernih, membentuk bunga-bunga berbulir, mengelompok menjadi satu berupa payung. Buah berbentuk kerucut besar pada pangkalnya, kadang-kadang melekuk berwarna coklat. Bijinya berbentuk kecil bulat, dan memiliki sayap seperti bulu yang digunakan untuk proses penyerbukan. Pada rimpangnya yang sudah tua terdapat banyak tunas yang menjadi umbi berwarna coklat atau hitam. Rasanya sepat kepahit-pahitan dan baunya wangi. Umbi-umbi ini biasanya mengumpul berupa rumpun. Batang rumput teki ini memiliki ketinggian mencapai 10 sampai 75 cm. Daun berbentuk pita, berwarna mengkilat dan terdiri dari 4-10 helai, terdapat pada pangkal batang membentuk rozel akar, dengan pelepah daun tertutup tanah (Dalimartha, 2008). Berdasarkan klasifikasi tumbuhan menurut Van steenis, 1997, kacang tanah dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom Superdivisi Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Spermatophyta : Magnoliophyta : Liliopsida : Cyperales : Cyperaceae : Cyperus : Cyperus rotundus L.

Gambar 7. Rumput Teki Sumber: dokumen pribadi

Puti Malu (Mimosa pudica) Daun berupa majemuk menyirip berganda dua yang sempurna. Jumlah anak daun setiap sirip 5 - 26 pasang. Helaian anak daun berbentuk memanjang sampai lanset, ujung runcing, pangkal membundar, tepi rata, permukaan atas dan bawah licin, panjang 6 16 mm, lebar 1 - 3 mm, bewarna hijau, umumnya tepi daun berwarna ungu. Jika daun tersentuh akan melipatkan diri, menyirip rangkap. Sirip terkumpul rapat dengan panjang 4 - 5.5 cm. Batang bulat, berambut dan berduri temple. Batang dengan rambut sikat yang mengarah miring ke bawah (Saiful, 2009). Klasifikasi ilmiah tanaman putri malu menurut Linnaeus, 1758 adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh) Superdivisio Kelas Ordo Family Genus Spesies : Spermatophyta (menghasilkan biji) : Magnoliopsida : Fabales : Fabaceae : Mimosa : Mimosa pudica

Gambar 9. Putri Malu Sumber: Dokumen Pribadi, 2012

Babadotan (Ageratum conyzoides L.) Babadotan dapat tumbuh di ladang tandus, padang rumput, pinggiran jalan, dan kebun. Merupakan tumbuhan terna semusim, tumbuh tegak atau bagian bawahnya berbaring. Batang bulat, berambut panjang, dan akan mengeluarkan akar saat menyentuh tanah. Daun berbentuk daun bulat telur dengan pangkal membulat, bertangkai, ujung runcing, tepi bergerigi, panjang 1-10 mm. lebar 0,5-6 cm, dan tumbuh berhadapan atau bersilang. Kedua permukaan daun berambut panjang, memiliki kelenjar yang terletak di permukaan bawah daun dan berwarna hijau. Bunga majemuk berkumpul 3 atau lebih, berbentuk malai rata, keluar dari ujung tangkai. Warna putih dan ungu, panjang bonggol bunga antara 6-8 mm, dan tangkai berambut. Buah berwarna hitam dan berambut kecil (Utami, 2008). Adapun klasifikasi dari tanaman bandotan (Ageratum conyzoides L.) menurut Van steenis tahun 1997 : Kingdom Divisi Classis Ordo Familia Genus Species : Plantea : Spermatophyta : Dicotyledonae : Campanulaceae (Asterales) : Compositae : Ageratum : Ageratum conyzoides L.

Gambar 3. Babadotan Sumber: Dokumen Pribadi, 2012

Rumput Krokot (Portulaca oleracea) Tanaman krokot merupakan terna banyak mengandung air, tumbuh tegak atau sebagian/seluruh bagian tanaman merayap di permukaan tanah tanpa keluar akar dari bagian tanaman yang merayap tersebut. Batangnya bulat dan warnanya cokelat keunguan, panjangnya dapat mencapai 50 cm. Tanaman ini berdaun tunggal, berdaging tebal, permukaannya datar, tata letaknya duduk tersebar atau berhadapan, mempunyai tangkai pendek. Bentuk daunnya bulat telur sungsang, ujung bulat melekuk ke dalam, pangkalnya membaji, tepi rata, panjang daun antara 1 - 4 cm, lebarnya 5 - 14 mm, ketiak daun tidak berambut. Warna permukaan atas daun hijau tua, sedangkan permukaan bawahnya berwarna merah tua. Bunga terletak di ujung percabangan, berkelompok terdiri dari 2 - 6 kuntum bunga, daun mahkotanya berjumlah lima, kecil-kecil mempunyai warna kuning, mulai mekar di waktu pagi hari antara pukul 08.00 - 11.00, dan bunga mulai layu menjelang sore hari. Buahnya tergolong buah kotak, mempunyai biji yang berjumlah berjumlah banyak warnanya hitam cokelat mengkilap, cara perbanyakannya melalui biji (Maskromo, 2007). Jumlah populasi rumput krokot hampir banyak dijumpai disekitaran area, tekstur tanah yang gembur mampu seperti daerah survey sangat disukai oleh pertumbuhan rumput krokot. Rumput krokot tidak perlu pemberian air yang terlalu banyak dikarenakan tumbuhan rumput krokot memiliki cadangan air pada batang dan daun. Vegetasi rumput teki diduga sebagai makanan untuk serangga seperti jangkrik.

Gambar 4. Rumput Krokot Sumber: Dokumen Pribadi, 2012

Patikan Kebo (Euphorbia hirta L.) Tumbuhan liar ini asli dari India dan Australia dan sekarang tersebar di daerah tropis. Patikan kebo merupakan gulma dan terdapat di tempat terbuka di sekitar pantai, padang rumput, pinggiran jalan, atau kebun. Ditemukan sampai ketinggian 1.400 mdpl (Dalimartha, 2008). Terna tegak atau sedikit berbaring dengan tinggi bisa mencapai 50 cm. batang lunak, beruas. Berambut dengan percabangan yang keluar dari dekat pangkalnya, warna merah kecoklatan, dan mengeluarkan getah putih jika dipatahkan. Daun tunggal bertangkai pendek, dan letak berhadapan. Helaian daun berbentuk jorong, ujung tumpul, pangkal runcing, tepi bergerigi, berambut jarang, warna hijau, kadang terdapat bercak berwarna ungu, permukaan daun lebih pucat, panjang 5-50 mm, dan lebar 25 mm. Bunga majemuk berbentuk bola keluar dari ketiak daun, berwarna hijau pucat atau merah kecoklatan, biji sangat kecil berwarna cokelat dan berambut (Dalimartha, 2008). Klasifikasi ilmiah tanaman putri malu menurut Linnaeus, 1847 adalah sebagai berikut: Kingdom Divisio Kelas Ordo Familia Genus Spesies : Plantae (tumbuhan) : Magnoliophyta : Magnoliopsida (dikotil) : Magnoliophyta : Euphorbiaceae : Euphorbia : Euphorbia hirta

Gambar 6. Patikan Kebo Sumber: dokumen pribadi

Rumput Gajah (Pennisctum purpureum) Rumput Gajah (Pennisctum purpureum) atau disebut juga rumput napier, merupakan salah satu jenis hijauan pakan ternak yang berkualitas dan disukai ternak. Rumput gajah dapat hidup diberbagai tempat (0- 3000 dpl), tahan lindungan, respon terhadap pemupukan, serta menghendaki tingkat kesuburan tanah yang tinggi. Rumput gajah tumbuh merumpun dengan perakaran serabut yang kompak, dan terus menghasilkan anakan apabila dipangkas secara teratur. Pada lahan tumpang sari, rumput gajah dapat ditanam pada guludan-guludan sebagai pencegah longsor akibat erosi. Morfologi rumput gajah yang rimbun, dapat mencapai tinggi lebih dari 2 meter. Klasifikasi rumput gajah menurut Linnaeus (1758), sebagai berikut, Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Magnoliophyta : Liliopsida : Poales : Poaceae : Pennisetum : Pennisetum purpureum Schumacher

KESIMPULAN Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan terhadap frekuensi, kerapatan dan kerimbunan jenis tumbuhan di areal terbuka lapangan Al-Jawami dengan luas daerah vegetasi survey 500 m2. Perolehan katagori kelas frekuensi, kerapatan dan kerimbunan jenis tumbuhan tersebut didasarkan dari Blaun Blanquet. Daerah yang menjadi objek pengamatan adalah ekosistem padang rumput sehingga metode yang digunakan yaitu metode line intercept. Frekuensi jenis tumbuhan tertinggi adalah rumput putri malu, rumput jarum, sp.1, rumput teki, rumput, rumput gajah, krokot dan aantingan. Kerapatan jenis tumbuhan yang paling tinggi adalah rumput jarum dengan besar kerapatan 30,4 ind/cm2. Dan untuk kerimbunan jenis tumbuhan sampel yang digunakan adalah rumput gajah, aantingan dan rumput krokot dengan masing-masing nilai kerimbunan sebesar 20,8 %, 4,78% dan 4,54%.

DAFTAR PUSTAKA Arrijani. 2006. Analisis Vegetasi Hulu DAS Cianjur Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Cianjur, Jawa Barat. Dalimartha, dr. Setiawan. 2008. Atlas Tumbuhan Obat Jilid 5. . Jakarta : Trubus Agriwidya Greig-Smith, P. 1983. Quantitative Plant Ecology, Studies in Ecology. Volume 9. Oxford: Blackwell Scientific Publications Maskromo, Ismail, Nuraini Mashud, dan Hengky Novarianto, Balittka. 2007. Krokot (Portulaca oleracea) gulma berkhasiat obat mengandung omega 3. Warta Penelitian Dan Pengembangan. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Vol. 13. No. 1. ISSN 0853 8204. Rahardjanto, Abdul Kadir. 2001. Buku Petunjuk Pratikum Ekologi Tumbuhan. UMM Press. Malang Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang: JICA. Rohman, Fatchur. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang: JICA. Syaiful Haq, Arif. 2009. Pengaruh ekstrak herba putri malu (Mimosa pudica Linn.) terhadap efek sedasi pada mencit Balb/C. Laporan penelitian. Fakultas Kedokteran UNDIP Semarang. Utami, Prapti. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Jakarta: AgroMedia Pustaka.