Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH KIMIA ANORGANIK II

(Senyawa

Kompleks dan Ligannya)

Disusun Oleh :

Cici Novita A1C111048


Dosen Pengampu :

Drs. Nofrizal Jhon, M.Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JAMBI 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan Hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Senyawa Kompleks dan ligannya Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang penulis peroleh dari buku panduan yang berkaitan Senyawa Kompleks dan ligannya, serta informasi dari media massa yang berhubungan dengan Senyawa Kompleks dan ligannya. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pengampu mata kuliah Kimia Anorganik Bapak Drs. Nofrizal Jhon, M.Si yang membimbing dan memberikan kesempatan kepada penulis sehingga dapat menyusun makalah ini. Penulis juga berterima kasih kepada rekan-rekan yang ikut berperan dalam menyelesaikan makalah ini. Penulis harap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dalam hal ini dapat menambah wawasan kita, khususnya bagi penulis. Memang makalah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.

Jambi, 14 Maret 2013

Cici Novita

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .............................................................................................................. i DAFTAR ISI............................................................................................................................. ii BAB 1 PENDAHULUAN ...................................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang Masalah .................................................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................................... 1 1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................................................. 1 BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................................... 2 2.1 Pengertian Senyawa Kompleks .................................................................................... 2 2.2 Pengertian Ligan ........................................................................................................... 2 2.3 Tata Nama Senyawa Kompleks ................................................................................... 3 2.4 Pembuatan Senyawa kompleks ..................................................................................... 9 2.5 Bilangan Oksidasi Senyawa kompleks................................................................................ 9 2.6 Bilangan Koordinasi ................................................................................................... 10 2.7 Reaksi-Reaksi Senyawa Kompleks ................................................................................... 13 2.8 Kegunaan Senyawa Kompleks .................................................................................... 15 BAB III PENUTUP ............................................................................................................... 19 3.1 Kesimpulan .................................................................................................................. 19 3.2 Saran ............................................................................................................................. 19 DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Masalah


Salah satu sifat unsur transisi adalah mempunyai kecenderungan untuk

membentuk ion kompleks atau senyawa kompleks. Ion-ion dari unsur logam transisi memiliki orbital-orbital kosong yang dapat menerima pasangan elektron pada pembentukan ikatan dengan molekul atau anion tertentu membentuk ion kompleks. Ion kompleks terdiri atas ion logam pusat dikelilingi anion-anion atau molekul-molekul membentuk ikatan koordinasi. Ion logam pusat disebut ion pusat atau atom pusat. Anion atau molekul yang mengelilingi ion pusat disebut ligan. Banyaknya ikatan koordinasi antara ion pusat dan ligan disebut bilangan koordinasi. Ion pusat merupakan ion unsur transisi, dapat menerima pasangan elektron bebas dari ligan. Pasangan elektron bebas dari ligan menempati orbital-orbital kosong dalam subkulit 3d, 4s, 4p dan 4d pada ion pusat.

1.2. Rumusan masalah a. Jelaskan pengertian senyawa kompleks dan ligan? b. Bagaimana Tata Nama Senyawa Kompleks? c. Bagaimana pembuatan senyawa kompleks? d. Bagaimana reaksi senyawa kompleks serta kegunaannya?

1.3. Manfaat Penulisan a. Sebagai tambahan pengetahuan khususnya untuk penulis sendiri dan diharapkan untuk orang lain juga. b. Sebagai usaha menggali kemampuan dan kecermatan dalam memahami Senyawa Kompleks dan Ligannya c. Makalah ini diharapkan dapat berguna bagi mahasiswa khususnya dalam proses belajar mengajar serta berguna bagi masyarakat umum.

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Pengertian Senyawa Kompleks Senyawa kompleks adalah senyawa yang mengandung kation logam pusat yang berikatan dengan satu atau lebih ion atau molekul (ligan). Senyawa kompleks terbentuk dari ion logam dan ligan. Pada umumnya ion logam yang digunakan adalah: ion logam transisi golongan 3-11 dengan konfigurasi elektron [gas mulia] nd1-9, sedang ligan yang terkoordinasi adalah basa Lewis. Struktur dan sifat Senyawa kompleks serta syarat kestabilan telah banyak diteliti dan dipelajari. Sementara itu ion logam dengan konfigurasi elektron [gas mulia] nd10, yang disebut sel tertutup (closed shell) kurang diperhatikan karena strukturnya selalu teratur dan sederhana. Ion logam sel tertutup ini adalah ion logam golongan 11 dengan bilangan oksidasi +1 dan golongan 12 yang berbilangan oksidasi +2. Struktur kompleks ion logam d10 ini telah didominasi dengan struktur yang dapat diramalkan, misalnya: struktur kompeks kation [Ag(NH3)2]+ adalah linier dengan koordinasi dua dan kompleks kation [Zn(NH3)4]2+ adalah tetraeder dengan koordinasi empat. Selain itu Senyawa kompleks dari ion logam d10 jarang diteliti karena warnanya selalu putih, bersifat diamagnetik dan energi penstabilan medan ligan berharga nol. 2.2. Pengertian Ligan Ligan merupakan basa Lewis yang memiliki pasangan elektron bebas (lone pair electron), misalnya ligan NH3, H2O dan Cl-atau memiliki pasangan elektron misalnya ligan C2H2 (asetilena), C2H4 (etilena) dan C6H6 (benzena).Suatu ligan dapat memiliki elektron yang tidak berpasangan di samping pasangan elektron misalnya

ligan C5H5 (siklopentadienil), C3H5 (alil) dan NO (nitrosil). Di dalam ligan terdapat atom donor yaitu atom yang memiliki pasangan elektron bebas atau atom yang terikat melalui ikatan -atom donor tersebut suatu ligan mengadakan ikatan

kovalen koordinasi dengan atom atau ion pusat yang ada.Berdasarkan jumlah atom donor yang dimilikinya, ligan dapat dikelompokkan sebagai ligan monodentat, bidentat, tridentat, dan seterusnya. Atom dalam ligan yang menyumbangkan pasangan elektron disebut atom donor. ikatan logam untuk atom yang melalui satu atom ligan disebut monodentat Sebuah ligan bidentat pada atom logam melalui dua atom ligan. Polydentate

mengacu pada beberapa titik lampiran oleh satu ligan. Kalau cincin beranggota enamlima dihasilkan oleh ikatan ligan polydentate, kompleks ini disebut sebuah khelat. 2.3. Tata Nama Senyawa Kompleks Tata nama senyawa kompleks terbagai menjadi dua jenis yakni tata nama sistematik dan tatanama umum: a. Tata Nama Umum Tata nama umum kini jarang bahkan tidak digunakan lagi. Hal ini disebabkan tata nama dengan cara ini hanya didasarkan atas nama penemu atau warna yang dimiliki senyawa koordinasi. Berikut adalah beberapa contoh senyawa koordinasi yang penamaannya didasarkan atas nama penemunya: Garam Vauquelin Garam Magnus Senyawa Gmelin Garam Zeise : : : : [Pd(NH3)4] [PdCl4] [Pt(NH3)4] [PtCl4] [Co(NH3)6]2(C2O4)3 K[PtCl3(C2H4)].H2O

Sedangkan nama senyawa koordinasi yang didasarkan atas warna yang dimiliki adalah: Biru prusia (prusian blue) Kompleks (kuning) Kompleks (hijau) praseo : [Co(NH3)4Cl2] luteo : [Co(NH3)5Cl]Cl2 : KFe[Fe(CN)6].H2O

Alasan-alasan nama umum jarang digunakan atau tidak digunakan: 1. Banyak senyawa kompleks yang berbeda namun disintesis oleh orang yang sama 2. Banyak senyawa kompleks yang berbeda namun memiliki warna yang sama.

b. Tata Nama Sistematik Tata nama sistematik dibagi menjadi dua cara yakni: a) Tata nama yang didasarkan atas nama dan jumlah ligan yang ada serta nama atom pusat beserta tingkat oksidasinya. Bilangan oksidasinya ditulis di dalam tanda kurung menggunakan angka Romawi. Anggka Romawi yang diberikan disebut Angka Stock.
6

b) Tata nama yang didasarkan atas nama dan jumlah ligan, nama atom pusat serta muatan dari kompleks yang ada. Angka arab yang digunakan dapat berupa tanda positif atau negatif yang menunjukan muatan ion kompleks, angka Arab ini disebut angka Ewens-Bassett.

c. Tatanama Ligan Tata nama Ligan netral Tata nama ligan netral adalah seperti nama senyawanya kecuali untuk beberapa ligan seperti yang tertera pada Tabel. Ligan MeCN En Nama senyawa Asetonitril Etilenadiamina diaminoetana Py AsPh3 phen Piridina Trifenillarsina 1,10-fenantrolina fenantrolina Perkecualian H2O NH3 H2S H2Te CO CS NO NO2 NS SO SO2 Air Amonia Hidrogen sulfida Hidrogen telurida Karbon monooksida Karbon monosulfida Nitrogen monooksida Nitrogen monooksida Nitrogen monosulfida Nitrogen monoksida Belerang dioksida Aqua Amina atau azana Sulfan Telan Karbonil Tiokarbonil Nitrosil Nitril Tionitrosil Sulfinil atau tionil Sulfonil atau sulfulir atau oPiridina Trifenillarsina 1,10-fenantrolina atau 1,2Nama ligan Asetonitril Etilenadiamina

Tatanama Ligan bermuatan negatif Ligan negatif dapat berupa: Ion sisa asam. Ion sisa asam namanya dapat berakhiran da, -it atau at, misalnya klorida (Cl), nitrit (NO2) dan nitrat (NO3) Ion bukan sisa asam. Ion bukan sisa asam namanya biasanya berakhiran da, misalnya nitrida (N3) dan ozonida. Jika berlaku sebagai ligan baik ion sisa asam maupun ion bukan sisa asam yang berakhiran da, diganti dengan akhiran do, kecuali untuk beberapa ligan yang tertera pada Tabel. Rumus kimia NH2 NH2 N3 N3 S2 O3 Nama ion Amida Imida Nitrida Azida Sulfida Ozonida Perkecualian F Cl Br I O2 O22 Te2 S2 H SH RO C6H5O CN Fluorida Klorida Bromida Iodida Oksida Peroksida Telurida Sulfida Hidrida Hidrogen sulfida Alkoksida Fenoksida Sianida Alkoksi Fenoksi Siano Fluoro Kloro Bromo Iodo Okso atau oksido Perokso Telurokso atau telurido Tio, tiokso atau sulfido Hidro atau hidrido Merkapto atau sulfanido Nama ligan Amido Imido Nitrido Azido Sulfido Ozonido

Sedangkan untuk ion sisa asam yang berakhiran -it atau -at jika sebagai ligan akhirannya ditambah dengan akhiran o, seperti yang tertera pada Tabel.

Rumus kimia ONO NO2 ONO2 OSO22 OSO32 OCN SCN CO32

Nama ion Nitrit Nitrit Nitrat Sulfit Sulfat Sianat Tiosianat Kabonat

Nama ligan Nitrito Nitro Nitrato Sulfito Sulfato Sianato Tiosianato Karbonato

Ligan bermuatan positif sangat jarang dijumpai pada senyawa kompleks oleh sebab itu tidak dibahas pada bagian ini. Salah satu ligan yang bermuatan positif adalah H2N-CH2-NH3+. Dalam menulis ligan pada senyawa koordinasi biasanya atom donor selalu ditulis didepan, kecuali H2O, H2S dan H2Te. Misalnya untuk ion nitrit (NO2), jika N sebagai atom donor maka penulisan ligannya adalah NO2 sedangkan apabila O yang bertindak sebagai atom donor maka penulisan ligannya adalah ONO.

Urutan Penyebutan Ligan a. Apabila di dalam senyawa kompleks terdapat lebih dari satu ligan makaurutan penyebutan ligan adalah secara alfabetis tanpa memperhatikan jumlah dan muatan ligan yang ada. Pada aturan lama ligan yang disebut terlebih dahulu adalah ligan yang bermuatan negatif secara alfabet kemudian diikuti dengan ligan netral yang disebut secara alfabet pula. b. Urutan penyebutan ligan adalah urutan berdasarkan alfabet pada nama ligan yang telah di Indonesiakan. Misalnya alfabet awal untuk Cl adalah kmeskipun dalam bahasa inggris nama chloro dengan alfabet awal c. Sebagai contoh nama untuk senyawa kompleks [Co(en)2Cl2]+ adalah : Ion bis (etilenadiamina)diklorokobalt(III) (benar) Diklorobis (etilenadiamina)kobalt(III) (salah)
9

c. Jumlah ligan yang ada dapat dinayatakan dengan awalan di, tri. Tetra dan seterusnya. tetapi apabila awalan-awalan tersebut telah digunakan untuk menyebut jumlah substituen yang ada pada ligan maka jumlah ligan yang ada dinyatakan dengan awalan bis, tris, tetrakis dan seterusnya. misalnya di dalam suatu senyawa kompleks terdapat dua ligan PPh3 maka disebut

dengan bis(trifenilfosfina) bukan di(trifenilfosfina). d. Ligan-ligan yang terdiri dari dua atom atau lebih ditulis dalam tanda kurung. Tatanama Senyawa Kompleks Netral 1) Nama senyawa kompleks netral ditulis dalam satu kata. 2) Menulis atau menyebut nama dan jumlah ligan 3) Menulis atau menyebut nama atom pusat serta bilangan oksidasi dari atom pusatyang ditulis dengan anggka Romawi. Dan bilangan oksidasi atom pusat yang harganya nol tidak perlu dituliskan. Contoh [Co(NH3)3(NO2)3] : triaminatrinotrokobaltt(III) [Ni(CO)4] [Fe(CO)5] [Fe(CO)2(NO)2] [Co(CO)3(NO)] : tetrakarbonilnikel : pentakarbonilbesi : dikarbonildinitrosilbesi : trikarbonilnitrosilkobalt

Keterangan: triaminatrinotrokobaltt(III) merupakan kompleks dengan biloks = 0, selain itu merupakan kompleks dengan biloks 1.

Senyawa Kompleks Ionik Senyawa kompleks ionik kation sebagai ion kopleks, penamaannya adalah sebagai berikut: 1) Diawali dengan menulis atau menyebut kata ion 2) Menulis atau menyebut nama dan jumlah ligan yang dimiliki 3) Menulis atau menyebut nama atom pusat diikuti bilangan oksidasi yang ditulis dalam anggka Romawi.

Selain cara di atas penamaan dapat dilakukan dengan cara berikut: 1) Diawali dengan menulis atau menyebut kata ion 2) Menulis atau menyebut nama dan jumlah ligan yang dimiliki

10

3) Menulis atau menyebut nama serta muatan dari ion kompleks yang ditulis dengan anggka Arab. Contoh: Kompleks [Cu(NH3)4]2+ [Co(NH3)4Cl2]+ [Pt(NH3)4]2+ [Ru(NH3)5(NO2)]+ Spesi yang ada Cu2+ dan 4NH3 Co3+, 4NH3, dan 2Cl Pt2+, dan 4NH3 Ru2+, 5NH3, dan NO2 ion Nama tetraaminatembaga(II), atau Ion

tetraaminatembaga(2+) ion tetraaminadiklorokobalt(II) atau ion

tetraaminadiklorokobalt(1+) ion tetraaminaplatina(II) atau

iontetraaminaplatina(2+) ion pentaaminanitrorutenium(II) atau ion pentaaminanitrorutenium(1+)

Senyawa kompleks ionik anion sebagai ion kompleks, Penamaannya adalah sebagai berikut 1) Diawali dengan menulis atau menyebut kata ion 2) Menulis atau menyebut nama dan jumlah ligan yang dimiliki 3) Menulis atau menyebut nama atom pusat dalam bahasa latin dengan akhiran um atau ium diganti at kemudian diikuti bilangan oksidasi atom pusat yang ditulis dalam anggka Romawi.

Selain cara di atas penamaan dapat dilakukan dengan cara berikut 1) Diawali dengan menulis atau menyebut kata ion 2) Menulis atau menyebut nama dan jumlah ligan yang dimiliki 3) Menulis atau menyebut nama atom pusat dalam bahasa latin dengan akhiran um atau ium diganti at kemudian diikuti muatan dari ion kompleks yang ditulis dengan angka Arab. Contoh Kompleks [PtCl4]2 [Ni(CN)4]2 [Co(CN)6]3 [CrF6]3 [MgBr4]
2

Spesi yang ada Pt2+ dan 4Cl Ni2+ dan 4CN Co3+ dan 6CN Cr3+ dan 6F Mg2 dan 4Br
+

Nama Ion tetrakloroplatinat(I) atau ion tetrakloroplatinat(2-) Ion tetrasianonikelat(II) atau ion tetrasianonikelat(2-) Ion heksasianokobaltat(III) atau ion heksasianokobaltat(3-) Ion heksafluorokromat(III) atau ion

heksasianofluorokromat(3-) Ion tetrabromomagnesat(II) atau Ion

11

tetrabromomagnesat(2-) Senyawa kompleks ionik kation dan anion sebagai ion kompleks Penamaannya adalah menulis atau menyebut nama dan jumlah kation terlebih dahulu kemudian nama anion diikuti bilangan oksidasi atom pusat yang ditulis dalam anggka Romawi atau menulis atau menyebut nama dan jumlah kation terlebih dahulu kemudian nama anion diikuti muatan ion kompleks yang ditulis dengan angka Arab.

Contoh K3[Fe(CN)6]3 K4[Fe(CN)6] : Kalium heksasianoferat(III) atau kalium heksasianoferat(3-) : Kalium heksasianoferat(II) atau kalium heksasianoferat(4-)

[CoN3(NH3)5]SO4 : Pentaaminaazidokobalt(III) sulfat atau Pentaaminaazidokobalt(2+) sulfat [Cu(NH3)4]SO4 : Pentaaminatembaga(II) sulfat atau Pentaaminatembaga(2+) sulfat tetrakloroplatinat(II) atau tetraamina

[Cu(NH3)4] [PtCl4] : Tetraaminatembaga(II) [Co(NH3)6] [Cr(CN)6] : Heksaaminakobalt(III)

tembaga(2+) tetrakloroplatinat(2-) heksasianokromat(III) atau

heksasianokobalt(3+) heksasianokromat(3-)

2.4. Pembuatan Senyawa Kompleks Pada awal perkembangan senyawa-senyawa kompleks atau senyawa koordinasi umumnya dibuat dari unsur-unsur transisi sebagai atom pusat. Disamping itu, senyawa yang dibentuk dari logam transisi selalu memiliki bilangan oksidasi atau tingkat oksidasi positif. Namun kini senyawa kompleks atau senyawa koordinasi atom pusatnya tidak harus dari unsur transisi. logam alkali, alkali tanah dan logam utama lainnya dapat digunakan sebagai atom pusat untuk mensintesis senyawa komplek atau senyawa koordinasi. Misalnya NaCl yang dikonsumsi sehari-hari dalam kuah masakan merupakan suatu kompleks. NaCl di dalam air membentuk ion heksaaquanatrium(I), [Na(H2O)8]+. Ion tetrakloroaluminat(III) [AlCl], Be(NO3)2.4H2O dan BeSO4.4H2O yang mengandung ion komplek tetraaquaberilium, [Be(H2O)4]2+, merupakan beberapa senyawa kompleks yang dibentuk dari unsur-unsur bukan unsur transisi. Dari contoh-contoh diatas dapat disimpulkan bahwa senyawa kompleks, tidak hanya dibuat dengan unsur transisi sebagai atom pusat, tetapi dapat pula dibuat dengan unsur-unsur lain atau unsur-unsur logam golongan utama.
12

2.5. Bilangan Oksidasi Senyawa Kompleks Awalnya senyawa kompleks yang berhasil disintesis selalu memiliki bilangan oksidasi yang berharga positif. Berikut adalah beberapa contoh senyawa kompleks dengan bilangan oksidasi ion pusat berharga positif Ion kompleks [Co(NH3)6]3+ [Co(CN)6]3 [Cu(NH3)4]2+ [Fe(CN)6]3 [Pd(NH3)4]2+ [PtCl4]2 Atom pusat Co3+ Co3+ Cu2+ Fe3+ Pd2+ Pt2+ b.o atom pusat +3 +3 +2 +3 +2 +2

Keterangan: b.o = bilangan oksidasi

Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa atom pusat suatu kompleks tidak harus memiliki bilangan oksidasi yang harganya positif. Atom pusat suatu kompleks dapat memiliki bilangan oksidasi nol dan negatif.Berikut adalah contoh kompleks dengan bilangan oksidasi nol dan harga bilangan oksidasi negatif.

kompleks

b.o atom pusat

Kompleks [V(CO)6] [Cr(CO)5]2 [Mn(CO)5] [Fe(CO)4]2 [Re(CO)4]3

b.o atom pusat -1 -2 -1 -2 -3

[V(CO)6] [Cr(CO)6] [Fe(CO)5] [Co(Cp)2] [Ni(CO)4]

0 0 0 0 0

Keterangan: b.o = bilangan oksidasi Catatan: CO adalah ligan karbonil, Cp ligan siklopentadienil dan NO adalah ligan nitrosil. Ketiga ligan tersebut merupakan ligan netral.

13

2.6. Bilangan Koordinasi Bilangan koordinasi ditentukan oleh ukuran atom logam pusat, jumlah elektron d, efek sterik ligan. Dikenal kompleks dengan bilangan koordinasi antara 2 dan 9. Khususnya kompleks bilangan koordinasi 4 sampai 6 adalah yang paling stabil secara elektronik dan secara geometri dan kompleks dengan bilangan koordinasi 4-6 yang paling banyak dijumpai. Kompleks dengan berbagai bilangan koordinasi dideskripsikan di bawah ini. a. Kompleks berbilangan koordinasi dua Banyak ion yang kaya elektron d10, misalnya: Cu+, Ag+, dan Au+, membentuk kompleks linear seperti [Cl-Ag-Cl]- atau [H3N-Au-NH3]-. Kompleks dengan valensi nol [Pd(PCy3)2] dengan ligan yang sangat meruah trisikloheksilfosfin juga dikenal. Umumnya, kompleks berkoordinasi 2 dikenal untuk logam transisi akhir.

b. Kompleks berbilangan koordinasi tiga Walaupun [Fe{N(SiMe3)3}3] adalah salah satu contoh, komplek dengan bilangan koordinasi 3 jarang diamati.

c. Kompleks berbilangan koordinasi empat Bila empat ligan berkoordinasi pada logam, koordinasi tetrahedral (Td) adalah geometri yang paling longgar, walaupun sejumlah kompleks bujur sangkar (D4h) juga dikenal. [CoBr4]2-, Ni(CO)4, [Cu(py)4]+, [AuCl4]- adalah contoh-contoh kompleks tetrahedral. Ada beberapa kompleks bujur sangkar dengan ligan identik, seperti [Ni(CN)4]2-, atau [PdCl4]2-. Dalam kasus kompleks ligan campuran, sejumlah kompleks bujur sangkar ion d8, Rh+, Ir+, Pd2+, Pt2+, dan Au3+, telah dilaporkan. Contohnya termasuk [RhCl(PMe3)3], [IrCl(CO)(PMe3)2], [NiCl2(PEt3)2], dan [PtCl2(NH3)2] (Et =C2H5).

d. Kompleks berbilangan koordinasi lima Contoh kompleks berbilangan koordinasi lima adalah trigonal bipiramidal (D3h) Fe(CO)5 atau piramida bujur sangkar (C4v) VO(OH2)4. Dulunya, kompleks berbilangan koordinasi lima jarang namun jumlahnya kini meningkat. Perbedaan energi antara dua modus koordinasi (nbipiramida dan piramida bujursangakar, pentj) ini tidak terlalu besar dan transformasi struktural mudah terjadi. Misalnya, struktur
14

molekular dan spektrum Fe(CO)5 konsisiten dengan struktur bipiramid trigonal, tetapi spektrum NMR 13C menunjukkan satu sinyal pada suhu rendah, yang

mengindikasikan bahwa ligan karbonil di aksial dan ekuatorial mengalami pertukaran dalam skala waktu NMR (10-1~10-9 s). Transformasi struktural berlangsung melalui struktur piramid bujur sangkar dan mekanismenya dikenal dengan pseudorotasi Berry.

e. Kompleks berbilangan koordinasi enam Bila enam ligan berkoordinasi dengan atom pusat, koordinasi oktahedral (Oh) yang paling stabil dan mayoritas kompleks memiliki struktur oktahedral. Khususnya, ada sejumlah kompleks Cr3+ dan Co3+ yang inert pada reaksi pertukaran ligan, dinyatakan dengan [Cr(NH3)6]3+ atau [Co(NH3)6]3+. Keduanya khususnya penting dalam sejarah perkembangan kimia koordinasi. [Mo(CO)6], [RhCl6]3-, dsb. juga merupakan kompleks oktahedral. Dalam kasus ligan campuran, isomer geometri cisdan trans-[MA4B2] dan mer- dan fac-[MA3B3], dan untuk ligan khelat -[M(A-A)3] dan -[M(A-A)3] isomer optik, mungkin terjadi. Struktur oktahedral menunjukkan distorsi tetragonal (D4h), rombik (D2h), trigonal (D3h) yang disebabkan efek elektronik atau sterik. Distorsi tetragonal [Cr(NH3)6]3+ oleh faktor elektronik adalah contoh khas efek Jahn-Teller. Atom dengan koordinasi enam dapat berkoordinasi prisma trigonal. Walaupun koordinasi ini diamati di [Zr(CH3)6]2- atau [Re{S2C2(CF3)2}3], kompleks logam jarang berkoordinasi prisma trigonal karena koordinasi oktahedral secara sterik lebih natural. Walaupun demikian telah lama dikenal bahwa belerang di sekitar logam adalah prisma trigonal dalam padatan MoS2 dan WS2.

f. Kompleks berbilangan koordinasi lebih tinggi dari enam Ion logam transisi deret kedua dan ketiga kadang dapat mengikat tujuh atau lebih ligan dan misalnya [Mo(CN)8]3- atau [ReH9]2-. Dalam kasus-kasus ini, ligan yang lebih kecil lebih disukai untuk menurunkan efek sterik.

2.7 Reaksi Senyawa Kompleks a. Reaksi substitusi dalam larutan air Cara ini merupakan cara yang terpenting, reaksinya terjadi antara larutan garam logam di dalam air dengan pereaksi koordinasi. Reaksi pembentukan kompleks tetraamine tembaga (II) dapat dinyatakan dengan persamaan berikut :
15

[Cu(H2O)4]SO4 + NH3 [Cu(NH3)4]SO4 + 4H2O Biru tua + C2H5OH

[Cu(NH3)4]SO4 Kristal

b.

Reaksi substitusi dalam larutan bukan air Penggunaan pelarut pelarut bukan air tidak banyak dilakukan. Cara ini hanya dilakukan bila : 1. 2. Ion logam mempunyai afinitas besar terhadap air. Ligan yang dipakai tidak larut dalam air. Ion ion yang mempunyai afinitas besar terhadap air dan membentuk ikatan logam oksigen yang kuat ialah Al3+ , Fe3+ , dan Cr3+ . Penambahan ligan yang bersifat basis tidak membentuk kompleks, tetapi endapan basa yang gelatinous. Dalam hal ini hidrat dari ion di atas bersifat sebagai asam protonik.

c.

Reaksi substitusi tanpa adanya pelarut Reaksi antara garam anhidrous dan suatu ligan cair dapat dipakai untuk membuat kompleks logam. Dalam banyak hal, ligan cair yang jumlahnya berlebihan dapat berfungsi sebagai pelarut untuk campuran reaksi. [Ni(NH3)6]Cl2 dapat dibuat dengan mereaksikan NiCl2 dengan NH3 cair dan menguapkan sisa NH3, yang mempunyai titik didih rendah (-33C). NiCl2 + NH3 Kuning

[Ni(NH3)6]Cl2 violet

d.

Reaksi oksidasi reduksi Senyawa senyawa kobalt (III) kompleks selalu dibuat dari garam kobalt (II), sebab bilangan oksidasi kobalt biasanya (II). Kobalt (III) kompleks stabil bila mempunyai gugus koordinasi tertentu. Reaksi kobalt (II) dengan ligan cepat dan ini kemudian dapat dibuat kobalt (III) kompleks dengan jalan oksidasi. Pembentukan kompleks [Co(NH3)6] Cl3 terjadi secara bertahap. [Co(H2O)6] Cl2 + 6NH3
16

[Co(NH3)6] Cl2 + 6H2O 4[Co(NH3)6] Cl3 + 4NH3 + 2H2O

[Co(NH3)6] Cl2 + 4NH3Cl + O2

2.8 Kegunaan Senyawa Kompleks Sennyawa kompleks sebagai katalis Studi mengenai senyawa kompleks logam transisi menjadi sangat menarik terkait sifat kimianya yang dapat diaplikasikan sebagai katalis. Sifat-sifat logam pusat seperti muatan, tingkatan oksidasi, konfigurasi elektron dan geometri akan memberikan pengaruh pada reaktifitas senyawa kompleks tersebut. Katalis senyawa kompleks logam transisi dengan rumus umum [M(L)n]x[A]y dimana M adalah ion logam pusat, L adalah ligan lemah dan A adalah anion lawan berdaya koordinasi lemah atau sama sekali non koordinasi, beberapa diantaranya telah diaplikasikan sebagai katalis dalam reaksi kimia organik. Reaktifitas senyawa kompleks logam transisi ini sebagai katalis muncul disebabkan oleh karena dua hal. Pertama, ligan lemah yang terikat pada ion logam pusat dapat dengan mudah disubsitusi atau digantikan kedudukannya oleh substrat. Kedua, anion lawan yang berdaya koordinasi lemah atau sama sekali non koordinasi yang merupakan suatu asam lewis kuat, dapat meningkatkan keasaman lewis dari logam pusat. Keasaman diperlukan untuk menarik substrat agar terikat ke pusat aktif logam. Beberapa senyawa kompleks tembaga(II) seperti [Cu(NCCH3)6][B(C6F5)4]2 dan [Cu(NCCH3)6][BF4]2 dilaporkan telah berhasil disintesis dan diaplikasikan pada reaksi kimia organik seperti aziridinasi dan siklopropanasi berbagai senyawa olefin pada tempratur ruang baik pada fasa homogen maupun heterogen. Pada fasa homogen, katalis-katalis ini menunjukkan hasil yang memuaskan dengan rendemen hasil dan selektifitas yang tinggi. Sedangkan pada fasa heterogen katalis-katalis ini menunjukkan penurunan aktifitas setelah digunakan untuk beberapa kali reaksi. Meski demikian, katalis homogen masih memiliki beberapa kelemahan seperti sulitnya pemisahan dari produk, serta akumulasi logam dan ligan yang bersifat toksik dari senyawa komplek logam transisi yang dapat mecemari lingkungan Aplikasi senyawa kompleks a. Aplikasi Dalam Bidang Kesehatan Senyawa secara in kompleks gadolinium-dietilentriaminpentaasetato dalam bidang kesehatan sebagai (GdDTPA) senyawa

vivo telah

digunakan

pengontras MRI untuk diagnose berbagai penyakit b. Aplikasi Dalam Bidang Farmasi
17

Sintesis senyawa kompleks besi (II) dengan menggunakan ligan turunan 1,10Phenantrolin (phen) seperti 4,7-dimetil-phen (DMP). 3,4,7,8-tetrametil-phen (TMP) dan 4,7-difenil-phen (DIP) menggunakan metode substitusi ligan yang digunakan sebagai kandidat senyawa obat pada terapi penyakit tumor/kanker. c. Aplikasi Dalam Bidang Industri Penentuan kesadahan air untuk menganalisa pembentukan kerak yang terjadi pada dinding pipa yang disebabkan endapan CaCO3. Metode yang digunakan dalam analisis larutan Ethyldiamine tetra acetic acid sebagai larutan standarnya, untuk mengetahui titik akhir titrasi digunakan indikator logam. Diantara indikator yang digunakan adalah Eriochrome Black T. d. Aplikasi Dalam Bidang Lingkungan Proses biosintesis asam oksalat oleh jamur pembusuk coklat merupakan proses fisiologis yang sangat penting bagi jamur, dimana jamur memberoleh energi dengan mengoksidasi karbohidrat menjadi asam oksalat, seperti pada persamaan: C6H12O6 + 5O2 2(COOH)2 + 2CO2 + 4H2O

Dalam metabolisme biosintesis asam oksalat pada jamur basidiomisetes, asetil-KoA yang diperoleh dari oksidasi glukosa dikonversi menjadi asam oksalat selanjutnya di disekresikan ke lingkungann sintesis asam oksalat dengan mengunakan inhibitor spesifik menyebabkan terhambatnya pertumbuhan jamur untuk

meminimalisir dalam degradasi polutan. e. Aplikasi Dalam Bidang Pertanian Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelapisan urea dengan asam humat yang berasal dari Gambut Kalimantan sebesar 1% menghasilkan pupuk urea yang lebih tidak mudah larut daripada yang dilapisi asam humat dari Rawa Pening. Dengan pelepasan N yang lebih lambat diharapkan keberadaan N di dalam tanah lebih awet dan pemupukan menjadi lebih efisien. Pupuk urea-humat telah diaplikasikan ke tanah Psamment (Entisol) yang kandungan pasirnya tinggi (tekstur kasar) untuk mewakili jenis-jenis tanah yang biasa ditanami tebu dengan tekstur yang paling kasar. Respons tanaman tebu varietas PS 851 menunjukkan kinerja pertumbuhan yang lebih baik di tanah Vertisol.

18

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Senyawa kompleks adalah senyawa yang mengandung kation logam pusat yang berikatan dengan satu atau lebih ion atau molekul (ligan). Senyawa kompleks terbentuk dari ion logam dan ligan. Pada umumnya ion logam yang digunakan adalah: ion logam transisi golongan 3-11 dengan konfigurasi elektron [gas mulia] nd1-9, sedang ligan yang terkoordinasi adalah basa Lewis. Ligan merupakan basa Lewis yang memiliki pasangan elektron bebas (lone pair electron), misalnya ligan NH3, H2O dan Cl-atau memiliki pasangan elektron misalnya ligan C2H2 (asetilena), C2H4 (etilena) dan C6H6 (benzena).Suatu ligan dapat memiliki elektron yang tidak berpasangan di samping pasangan

elektron

misalnya ligan C5H5 (siklopentadienil), C3H5 (alil) dan NO (nitrosil).

3.2 Saran Penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna, oleh sebab itu penulis juga mengharapkan masukan-masukan yang dapat membantu dalam penyusunan makalah berikutnya. Penulis berharap agar makalah ini dapat bermanfaat adanya. Dapat memberikan sedikit pengetahuan kepada yang memerlukan terutama para pelajar.

19

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010. Kompleksometri. (http://www.chem-is-try.org/ /instrumen_analisis/kompleksometri/ kompleks/) [di akses pada hari Kamis 14 Maret 2013] Cotton dan Wilkinson.2009. Kimia Anorganik Dasar. Edisi Pertama. Jakarta: Universitas Indonesia Press Day, M. Clyde dan Jr. Joel Selbin.1993. Kimia Anorganik Teori. Edisi Pertama. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Elfa Fajri. 2011. Senyawa kompleks (http://elfafajri.blogspot.com/2011/06/senyawakompleks.html) [di akses pada hari Kamis 14 Maret 2013] Pudjaatmaja, Hadyana Aloysius.1996. Kimia Untuk Universitas. Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga Sri Harani. 2012. Intisari senyawa kompleks (http://ranyharany.blogspot.com/2012 /01/intisari-senyawa-kompleks-dari-buku.html) [di akses pada hari Jumat,15 Maret 2013] Sukardjo. 1992. Kimia Koordinasi. Edisi Revisi (Ketiga).: Jakarta:Rineka Cipta

20