Anda di halaman 1dari 47

BLOK 1 & 2

TUTORIAL 4 : GLOBAL HEALTH ISSUE

GROUP 21 : AZALIA CONNIE KATYLAKSA (0810026) EMILIA CHRISTINA (0810058) KEVIN JONATHAN (0810063) JEAN JENNY (0810101) THERESIA INDRI (0810132) NICO IGNATIUS (0810145) NADIA INDRI (0810168) GEORGE HAGI (0810201) NARISWARI A.W (0810203) TUTOR : Dra. Endang Evacuasiany, Apt., MS., AFK

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA Bandung - 2008

TUJUAN PEMBELAJARAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. Dapat manjelaskan global health issue Memahami kaitan global warming terhadap kesehatan dan lingkungan Dapat menjelaskan air bersih Dapat menjelaskan pentingnya hutan Dapat menjelaskan mengenai banjir Dapat menjelaskan latar belakang terjadinya degradasi lingkungan hidup dan dampaknya terhadap kesehatan 7. Memahami solusi dalam pengendalian global warming

MASALAH UTAMA DAN JAWABAN GLOBAL HEALTH ISSUE I. Istilah 1.1 Global Health Issue adalah masalah-masalah kesehatan yang menyebar luas di seluruh dunia (pandemi) yang tidak hanya menimbulkan dampak negatif di bidang medis, melainkan juga di bidang sosial, ekonomi, dan budaya. 1.2 Gastroentritis adalah peradangan akut lapisan lambung dan usus, ditandai dengan anoreksia(nafsu makan hilang), rasa mual, diare, nyeri abdomen dan kelemahan, yg mempunyai beberapa penyebab contohnya infeksi. 1.3 Diare adalah frekuensi pengeluaran dan kekentalan feses yang tidak normal, lebih dr 200 gr, lebih dari3x sehari dari ukuran orang normal. 1.4 Malaria adalah penyakit menular, kebanyakan terdapat di daerah hangat di dunia, disebabkan oleh protozoa obligat intraseluler genus Plasmodim, biasanya ditularkan oleh gigitan nyamuk anopheles yang terinfeksi. 1.5 Dehidrasi adalah keadaan yang diakibatkan oleh hilangnya cairan tubuh yang berlebihan. 1.6 Bioetik-humaniora adalah bidang baru yang sederhana muncul sebagai muka perubahan IPTEK yang besar yang berhubungan dengan agama, pancasila dan civic. 1.7 Akut adalah penyakit yang timbulnya baru-baru ini(belum lama). 1.8 Degradasi adalah penurunan pangkat, derajat, kedudukan ; penurunan mutu yang dapat diakibatkan oleh penanganan. 1.9 Perambahan liar adalah orang yang membabat, memangkas secara tidak teratur, tidak menurut aturan, tanpa izin resmi dari yang berwewenang. 1.10 Banjir bandang adalah banjir yang besar dan mengalir deras, datang tiba-tiba, dan menghanyutkan benda-benda besar.

II. Global Health Pengertian: Global health adalah masalah-masalah kesehatan yang menyebar luas di seluruh dunia (pandemi) yang tidak hanya menimbulkan dampak negatif di bidang medis, melainkan juga di bidang sosial, ekonomi, dan budaya. 2.2 Contoh-contoh penyakit Global Health Issue : avian influenza malnutrisi kanker malaria AKI (angka kematian ibu)

2.3 Syarat-syarat suatu penyakit menjadi Global Health Issue: penyebaran penyakit cepat, hingga mencapai seluruh dunia. sudah memakan banyak korban. biaya pengobatan mahal. kesadaran masyarkat terhadap penyakit itu masih rendah 2.4 Adapun Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals 2000-2025) Negara-negara Anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa berikrar bahwa pada tahun 2015 akan : Memberantas kemiskinan dan kelaparan mengurangi sampai setengah jumlah penduduk yang hidup dengan penghasilan kurang dari 1 dolar per hari dan kelaparan Mewujudkan pendidikan dasar bagi semua menjamin agar semua anak perempuan dan laki menyelesaikan jenjang pendidikan dasar. Mendorong kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan menghapus ketidaksetaraan gender dalam jenjang pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2005 dan di semua tingkat pendidikan pada tahun 2015 Mengurangi tingkat kematian anak mengurangi 2/3 dari angka tingkat kematian anak di bawah usia 5 tahun Meningkatkan kesehatan ibu mengurangi dari angka tingkat kematian ibu Memerangi hiv/aids, malaria dan penyakit lain mengurangi laju penyebaran hiv/aids, malaria, dan penyakit menular lain. Menjamin kelestarian lingkungan mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam kebijakan dan program-program di tingkat nasional serta mengurangi perusakan sumber daya alam. mengurangi sampai jumlah penduduk yang tidak memiliki akses kepada air bersih yang layak diminum dan penghuni kawasan kumuh Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan mengembangkan lebih lanjut sistem perdagangan dan keuangan terbuka yang berdasar aturan, dapat diandalkan dan tidak diskriminatif. Termasuk disini komitmen melaksanakan tata pemerintahan yang baik, pembangunan dan pemberantasan kemiskinan, baik secara nasional ataupun internasional. menangani kebutuhan khusus negara2 yang kurang berkembang. Ini mencakup pemberian bebas tarif dan bebas

kuota untk ekspor mereka ; keringanan pembayaran hutang bagi negara2 miskin yang terjerat hutang ; pembatalan hutang bilateral ; dan pemberian bantuan pembangunan yang lebih besar untuk negara2 yang berkomitmen untuk mengurangi kemiskinan. memerangi kemiskinan dengan melakukan kerjasama global. III. Kaitan Global Warming terhadap Kesehatan dan Lingkungan Global warming (pemanasan global) bisa diartikan sebagai peristiwa meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibat peningkatan jumlah emisi Gas Rumah Kaca di atmosfer. Pemanasan global ini juga akan diikuti oleh perubahan iklim, seperti meningkatnya curah hujan di beberapa belahan dunia sehingga menimbulkan banjir dan erosi. Di belahan yang lain pun akan mengalami musim kering yang berkepanjangan karena peningkatan suhu. IPCC IPCC adalah sebuah panel antar-pemerintah yang terdiri dari ilmuwan dan ahli dari berbagai disiplin ilmu di seluruh dunia. Tugasnya menyediakan data-data ilmiah terkini yang menyeluruh, tidak berpihak dan transparan mengenai informasi teknis, sosial, dan ekonomi yang berkaitan dengan isu perubahan iklim. Termasuk informasi mengenai sumber penyebab perubahan iklim, dampak yang ditimbulkan serta strategi yang perlu dilakukan dalam hal pengurangan emisi, pencegahan, dan adaptasi. 3.1 Penyebab Global Warming Seperti yang sudah tertulis diatas, global warming terjadi karena peningkatan suhu bumi akibat peningkatan jumlah emisi Gas Rumah Kaca. Peningkatan suhu bumi ini dapat terjadi karena beberapa hal, diantaranya: Adanya efek rumah kaca Adanya efek umpan balik Adanya variasi sinar matahari. 3.1.1 Efek Rumah Kaca

Gas rumah kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca. Gas-gas tersebut sebenarnya muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat aktifitas manusia. Yang termasuk dalam kelompok Gas Rumah Kaca adalah uap air (H2O), karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitro oksida

(N2O), hidrofluorokarbon (HFC), perfluorokarbon (PFC), sampai sulfurheksafluorida (SF6). Jenis Gas Rumah Kaca yang memberikan sumbangan paling besar bagi emisi gas rumah kaca adalah uap air, karbondioksida, metana, dinitro oksida. Gas rumah kaca yang paling banyak adalah uap air yang mencapai atmosfer akibat penguapan air dari laut, danau dan sungai. Karbondioksida adalah gas terbanyak kedua. Sebagian besar dihasilkan dari pembakaran fosil (minyak bumi dan batu bara) di sektor energi dan transport, penggundulan hutan, pertanian, dan ditambah pengaruh perubahan permukaan tanah (pembukaan lahan, penebangan hutan, pembakaran hutan, mencairnya es). Sedangkan Gas Rumah Kaca yang lainnya hanya menyumbang sekitar kurang dari 1%. Proses peningkatan jumlah emisi Gas Rumah Kaca dikenal dengan sebutan Efek Rumah Kaca. Pada kenyataannya, di lapisan atmosfer terdapat selimut gas. Rumah kaca adalah analogi atas bumi yang dikelilingi oleh gelas kaca. Segala sumber energi yang terdapat di bumi berasal dari matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan bumi. Permukaan bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Masalah yang timbul yang menyebabkan terjadinya global warming adalah ketika aktivitas dan gaya hidup manusia sendiri yang secara sengaja maupun tidak sengaja meningkatkan konsentrasi gas-gas rumah kaca yang terdapat di bumi sehingga melebihi konsentrasi yang seharusnya. Perubahan kelimpahan gas rumah kaca dan aerosol akibat radiasi matahari dan keseluruhan permukaan bumi mempengaruhi keseimbangan energi sistem iklim. Manusia telah meningkatkan jumlah karbondioksida yang dilepas ke atmosfer ketika mereka membakar bahan bakar fosil, limbah padat, dan kayu untuk menghangatkan bangunan, menggerakkan kendaraan dan menghasilkan listrik. Pada saat yang sama, jumlah pepohonan yang mampu menyerap karbondioksida semakin berkurang akibat perambahan hutan untuk diambil

kayunya maupun untuk perluasan lahan pertanian. Walaupun lautan dan proses alam lainnya mampu mengurangi karbondioksida di atmosfer, aktivitas manusia yang melepaskan karbondioksida ke udara jauh lebih cepat dari kemampuan alam untuk menguranginya. Sumber-sumber emisi karbondioksida secara global dihasilkan dari pembakaran bahan bakar (minyak bumi dan batu bara): o 36% dari industri energi (pembangkit listrik, kilang minyak, dll.) o 27% dari sektor transportasi o 21% dari sektor industri o 15% dari sektor rumah tangga dan jasa o 1% dari sektor lain-lain 3.1.2 Efek Umpan Balik Efek-efek dari agen penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara hingga tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. Umpan balik ini hanya dapat dibalikkan secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer. Efek-efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan radiasi infra merah balik ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detaildetail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detaildetail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan dengan

umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat. Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersama dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan. Umpan balik positif akibat terlepasnya CO 2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik positif. Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang merupakan penyerap karbon yang rendah. 3.1.3 Variasi Matahari Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960, yang tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan lapisan ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.

Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari Duke University mengestimasikan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan temperatur rata-rata global selama periode 19002000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000. Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat estimasi berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang remeh. Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gasgas rumah kaca. Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari Amerika Serikat, Jerman dan Swiss menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat "keterangan" dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat "keterangannya" selama 30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemansan global. Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Frhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan global dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi dari output Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis. 3.2 Dampak Global Warming Terhadap Kesehatan dan Lingkungan Dampak dari peningkatan suhu ini mempengaruhi semua aspek kehidupan di bumi ini, terutama masalah lingkungan dan kesehatan. Dampak yang timbul dari pemanasan global ini terhadap bidang kesehatan dan lingkungan antara lain: 3.2.1 Sektor Kesehatan Menyebarnya penyakit-penyakit tropis, seperti malaria, ke daerah-daerah baru karena bertambahnya populasi serangga (nyamuk). Karena suhu makin hangat, maka dengan sendirinya jentik nyamuk DB (Demam Berdarah) dan Malaria akan memiliki siklus hidup yang lebih pendek dan masa inkubasi penularan yang lebih singkat. Maka ledakan populasi nyamuk berbahaya ini akan bersifat lethal bagi masyarakat.

Perubahan cuaca dan lautan dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi. Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air (Waterborne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Seperti meningkatnya kejadian Demam Berdarah karena munculnya ruang (ekosistem) baru untuk nyamuk ini berkembang biak. Mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan penyakitpenyakit yang berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti: diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain.

3.2.2 Sektor Lingkungan Mengurangi Luas Lahan Pertanian Sebuah laporan F-A-O memperkirakan bahwa sampai 90 juta hektar lahan di Afrika dapat menjadi tidak sesuai untuk pertanian kalau pemanasan global (Global Warming) terus berlangsung tanpa hambatan dalam puluhan tahun mendatang. Hewan dan tumbuhan Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat

berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah. Dampak lainnya adalah dari hasil penelitian Global Coral Reef Monitoring Network menunjukkan, lebih dari dua pertiga terumbu karang di seluruh dunia telah rusak, bahkan terancam punah. Ancaman ini tak lain karena adanya pemanasan global yang tengah terjadi. Berbagai ancaman dapat berisiko bagi kelangsungan terumbu karang, semisal polusi, pencemaran, penangkapan ikan berlebihan, kenaikan temperatur, dan penggunaan sianida dan bom untuk menangkap ikan. Perubahan Iklim dan Suhu Bumi yang tidak menentu IPCC menyatakan bahwa kenaikan suhu Bumi periode 1990 - 2005 antara 0.15 - 0.13 derajat Celcius, jika kondisi ini dibiarkan maka diprediksikan periode 2050 - 2070 suhu Bumi akan naik pada kisaran 4,2 derajat Celcius. Jika harga rata-rata suhu permukaan dipisahkan antara Bumi belahan utara (BBU) dan selatan (BBS), maka kenaikan suhu permukaan di BBU jauh lebih tinggi daripada BBS. Di BBU harga temperatur permukaan ratarata 0,58C di atas harga rata-rata 30 tahun yang besarnya 14,6C (terpanas ke-4 sejak tahun 1861) sementara di BBS 0,26C di atas harga rata-rata 30 tahun yang besarnya 13,4C (terpanas ke-7 sejak tahun 1861). Mencairnya Gletser dan Kutub Laut Arktik sebagian besar dikenali sebagai samudera es. Ilmuwan yang mengamati perubahan pada lautan es ini mencatat terjadinya peningkatan panas dua kali lebih cepat dibandingkan pemanasan di tingkat global. Sejak tahun 1980, samudera es yang terletak Arktik yang berada di wilayah Eropa telah mencair antara 20-30 persen. Pemanasan global akan menyebabkan terjadinya pencairan es di kutub. Hal ini menyebabkan bertambahnya jumlah air, sehingga terjadi pengenceran air laut. Akibatnya, densitas air laut menjadi berkurang sehingga proses sinking atau downwelling pun akan melemah.

Kenaikan Permukaan Air Laut Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gununggunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar. Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 - 25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad ke-21. Dampak Pemanasan Global yang ditimbulkan bagi negara kita jika tanpa ada upaya pencegahan maka kita akan kehilangan 2.000 pulau karena air laut akan naik pada ketinggian 90 cm. Tadinya kita memiliki 17.504 pulau tapi kini tinggal 17.480 pulau oleh sebab naiknya air laut dan usaha penambangan. Kehilangan asset 2.000 pulau akan luar biasa dampaknya yang berujung pada penyempitan wilayah kedaulatan RI.

Matinya Terumbu Karang Kenaikan air laut akan menurunkan pH air laut ; setiap kenaikan 14 - 43 cm maka pH air laut akan turun dari 8,2 menjadi 7,8 - akibat seriusnya akan menghambat pertumbuhan dan akhirnya akan mematikan biota dan terumbu karang. Ujung-ujungnya adalah dampak ekonomis dengan terjadinya pola perubahan habitat, migrasi dan populasi ikan serta hasil laut lainnya. Selain itu terjadi juga kenaikan suhu air laut yang menyebabkan terjadinya pemutihan karang (coral bleaching) dan kerusakan terumbu karang di seluruh dunia

Banjir Meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir disebabkan oleh terjadinya pola hujan yang acak dan musim hujan yang pendek sementara curah hujan sangat tinggi (kejadian ekstrim). Kemungkinan lainnya adalah akibat terjadinya efek backwater dari wilayah pesisir ke darat. Frekuensi dan intensitas banjir diprediksikan terjadi 9 kali lebih besar pada dekade mendatang dimana 80% peningkatan banjir tersebut terjadi di Asia Selatan dan Tenggara (termasuk Indonesia) dengan luas genangan banjir mencapai 2 juta mil persegi. Peningkatan volume air pada kawasan pesisir akan memberikan efek akumulatif apabila kenaikan muka air laut serta peningkatan frekuensi dan intensitas hujan terjadi dalam kurun waktu yang bersamaan.

Musnahnya berbagai jenis aneka keanekaragaman hayati Meningkatnya frekuensi dan intensitas hujan badai, angin topan, dan banjir Meningkatnya jumlah tanah kering yang potensial menjadi gurun karena kekeringan yang berkepanjangan Meningkatnya frekuensi kebakaran hutan Daerah-daerah tertentu menjadi padat dan sesak karena terjadi arus pengungsian

3.3 Solusi Pengendalian Global Warming Dalam upaya pengendalian pemanasan global, kita harus memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Untuk itu, ada dua cara yang dapat dipakai. Pertama, dengan mencegah karbon dioksida dilepas di atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponennya ke tempat lain. Cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Cara kedua adalah mengurangi produksi rumah kaca. Untuk menghilangkan karbon, cara mudah yang bisa dipakai adalah dengan menanam pohon sebanyak-banyaknya dan mengurangi produksi rumah kaca. Ada beberapa agenda penyelamatan bumi dari Global Warming, diantaranya:

Protokol Kyoto Protokol Kyoto dari Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Perubahan Iklim (Kyoto Protocol to The United Nations Framework Convention on Climate Change) adalah kesepakatan yang mengatur upaya penurunan emisi GRK oleh negara maju, secara individu atau bersamasama. Protokol ini disepakati pada Konferensi Para Pihak Ketiga (COP III) yang diselenggarakan di Kyoto pada Desember 1997. Setelah tahun 1997, para perwakilan dari penandatangan Protokol Kyoto bertemu secara reguler untuk menegoisasikan isu-isu yang belum terselesaikan seperti peraturan, metode dan pinalti yang wajib diterapkan pada setiap negara untuk memperlambat emisi gas rumah kaca. Para negoisator merancang sistem di mana suatu negara yang memiliki program pembersihan yang sukses dapat mengambil keuntungan dengan menjual hak polusi yang tidak digunakan ke negara lain. Sistem ini disebut perdagangan karbon. Sebagai contoh, negara yang sulit meningkatkan lagi hasilnya, seperti Belanda, dapat membeli kredit polusi di pasar, yang dapat diperoleh dengan biaya yang lebih rendah. Protokol Kyoto adalah sarana teknis untuk mencapai tujuan Konvensi Perubahan Iklim. Jadi protokol ini menetapkan sasaran penurunan emisi oleh negara industri sebesar 5% di bawah tingkat emisi 1990 dalam periode 2008-2012. Yang Diatur dalam Protokol Kyoto Protokol Kyoto terdiri dari 28 pasal dan dua lampiran (annex) serta menetapkan penurunan emisi GRK akibat kegiatan manusia, mekanisme penurunan emisi, kelembagaan, serta prosedur penataan dan penyelesaian sengketa. Annex A mencantumkan jenis GRK yang diatur protokol yaitu : karbondioksida (C02), metana (CH4), nitrogen oksida (N20), hidrofluorokarbon (HFC), Perfluorokarbon (PFC) dan sulfur heksaflourida (SF6) beserta sumber emisinya seperti pembangkit energi, proses industri, pertanian dan pengolahan limbah. Negara berkembang tidak diwajibkan menurunkan emisi tetapi bisa melakukannya secara sukarela dan diminta melaksanakan pembangunan berkelanjutan yang lebih bersih dan lebih ramah

iklim. Untuk itu, negara maju diwajibkan memfasilitasi alih teknologi dan menyediakan dana bagi program pembangunan berkelanjutan yang ramah iklim. Mekanisme Protokol Kyoto Protokol Kyoto menyatakan bahwa negara Annex I pada Konvensi Perubahan Iklim harus mengurangi emisi melalui kebijakan dan langkah-langkah di dalam negeri, antara lain meningkatkan efisiensi penggunaan energi, perlindungan perosot (peresap) GRK, teknologi yang ramah iklim dsb. Selain itu, untuk memudahkan negara maju memenuhi sasaran penurunan emisi, Protokol Kyoto juga mengatur mekanisme fleksibel, yakni: 1. Implementasi Bersama (Joint Implementation); Yaitu mekanisme penurunan emisi dimana negara-negara Annex I dapat mengalihkan pengurangan emisi melalui proyek bersama dengan tujuan mengurangi emisi 2. Perdagangan Emisi (Emission Trading); Ini adalah mekanisme perdagangan emisi yang hanya dapat dilakukan antar negara industri untuk memudahkan mencapai target. Negara industri yang emisi GRK-nya di bawah batas yang diizinkan dapat menjual kelebihan jatah emisinya ke negara industri lain yang tidak dapat memenuhi kewajibannya. Namun, jumlah emisi GRK yang diperdagangkan dibatasi agar negara pembeli emisi tetap memenuhi kewajibannya. 3. Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism--CDM) Pasal 12 Protokol Kyoto menguraikan prosedur penurunan emisi GRK dalam rangka kerja sama negara industri dengan negara berkembang. Mekanisme ini diharapkan membantu negara Annex I mencapai target pengurangan emisi dan negara non Annex I dapat melaksanakan program pembangunan berkelanjutan. Caranya adalah negara Annex I melakukan investasi dalam program pengurangan emisi atau program yang berpotensi mengurangi emisi dan/atau menyerap GRK di negara berkembang. Hasilnya akan dihitung sebagai pengurangan emisi di negara Annex I yang melakukan investasi tersebut. Mekanisme ini melibatkan berbagai persyaratan dan diawasi oleh sebuah badan operasional

(Executive Board) yang ditunjuk COP. Dalam pelaksanaannya CDM adalah murni bisnis jual beli emisi. Negara Annex I dan Negara Non-Annex I Negara Annex I adalah negara-negara yang telah menyumbangkan pada GRK akibat kegiatan manusia sejak revolusi industri tahun 1850-an, yaitu: Amerika Serikat, Australia, Austria, Belanda, Belarusia, Belgia, Bulgaria, Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Federasi Rusia, Jerman, Hongaria, Irlandia, Italia, Inggris, Islandia, Jepang, Kanada, Kroasia, Latvia, Liechtenstein, Lithuania, Luxemburg, Monako, Norwegia, Polandia, Portugal, Perancis, Rumania, Selandia Baru, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Swedia, Swiss, Turki, Ukraina, Uni Eropa dan Yunani. Sedangkan Negara Non-Annex I adalah negara-negara yang tidak termasuk dalam Annex I, yang kontribusinya terhadap GRK jauh lebih sedikit serta memiliki pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih rendah. Indonesia termasuk dalam negara NonAnnex I. Climate Change Conferention Konferensi Perubahan Iklim di Nusa Dua Bali Setelah melalui perundingan alot dan perpanjangan waktu, akhirnya semua delegasi Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNCCC) menyepakati "Bali Road Map" (Peta Jalan Bali), termasuk delegasi Amerika Serikat yang semula menolak. Konferensi ini berlangsung dari tanggal 03 hingga 14 Desember 2007. Dengan disetujuinya "Bali Road Map" sebagai kerangka awal, maka pembahasan sistem pengaturan baru perubahan iklim pascaperiode pertama Protokol Kyoto 2012 bisa digelar di Polandia tahun 2008 mendatang. Hal itu mengemuka pada sidang pleno penutupan Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim di Bali International Convention Center (BICC) Nusa Dua Bali, Sabtu (15 Desember 2007). Konferensi tersebut seharusnya berakhir Jumat (14 Desember 2007), namun alotnya perundingan karena tarik ulur kepentingan negara maju dan berkembang untuk mencapai kesepakatan, memaksa digelarnya perpanjangan waktu. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, hasil dari

konferensi tersebut telah menggoreskan sejarah baru dengan keberhasilan bersama mewadahi seluruh negara dalam satu payung kesepakatan untuk upaya perubahan iklim. "Di samping Australia yang telah meratifikasi Protokol Kyoto sebelum konferensi dimulai, Amerika pun setuju melangkah bersamasama menuju penyelesaian akhir Bali Road Map di Kopenhagen 2009 mendatang. Ini adalah capaian yang baik untuk masa depan dunia," ungkapnya. Isu Penting yang dibahas dalam Konferensi 1. Dana dan Pelaksanaan Program Adaptasi Perubahan Iklim 2. Pengurangan Emisi dari Kerusakan Hutan di Negara Berkembang/ Reducing Emission from Deforestation in Developing Country (REDD) 3. Transfer Teknologi 3.3.1 Hal-hal Yang Bisa Kita Lakukan: a. Penanaman Pohon Kembali Pohon adalah paru-paru dunia. Begitu penting peran pohon bagi kehidupan manusia. Bukan hanya sekadar mengendalikan air di dalam tanah dan permukaan bumi, tidak banjir di musim hujan dan tidak kering di musim kemarau. Akan tetapi, dan ini yang lebih penting, adalah untuk terjadinya daur: tumbuh-tumbuhan penghasil oksigen, yang membutuhkan CO2 - manusia dan binatang penghasil CO2, yang membutuhkan oksigen. Penanaman sejuta pohon merupakan program yang sangat baik untuk memerperbaiki bumi yang semakin lama semakin gundul. Banyak sekali hutan yang habis ditebang tanpa manfaat dengan baik. Penanaman sepuluh juta pohon seperti yang dicanangkan Ibu Ani Susilo Bambang Yudhoyono dalam Gerakan Tanam dan Pelihara Sepuluh Juta Pohon merupakan langkah awal dalam mengurangi emisi. Indonesia menargetkan menanam lima juta hektar hingga 2009. Dengan gerakan ini akan ditanam 13 juta pohon yang setara dengan 26.000 hektar. Sehingga saat usia tanaman telah 6-7 tahun pohon ini dapat menyerap 200 ton karbon per hektar". b. Hemat pemakaian listrik

Hemat listrik dapat dilakukan dengan membiasakan mematikan lampu jika tidak terpakai, mematikan televisi jika tidak kita lihat atau mengganti lampu dengan lampu hemat energi. c. Kurangi penggunaan tas plastik Plastik merupakan bahan yang sangat susah diurai. CO2 yang dihasilkan dari TPA tidak hanya berasal dari tumpukan sampah tetapi juga pembakaran-pembakaran sampah plastik yang dihasilkan oleh pemulung. Anda bisa memulai dengan membiasakan diri membawa tas khusus untuk belanja. Jika membeli barang anda dapat menolak tas kresek yang diberikan penjual dan langsung memasukkan barang yang diberikan penjual ke dalam tas. Sampah plastik juga mengurangi resapan air dalam tanah yang tentunya akan berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. d. Hemat pemakaian air Pemakaian air yang terlalu boros akan mempercepat habisnya persediaan air tanah. Jadi jangan membiasakan diri membiarkan kran air mengalir pada saat tidak digunakan. e. Hemat penggunaan kendaraan bermotor Kendaran bermotor merupakan penyumbang CO2 terbesar di udara. Jadi lebih baik pakai sepeda atau jalan kaki jika anda pergi ke tempat yang dekat. Jangan pakai mobil jika anda pergi sendiri, pertimbangkan kendaraan umum. Jangan juga pakai mobil sendiri-sendiri jika memungkinkan memakai satu mobil untuk bersama. f. Gunakan produk-produk yang ramah lingkungan Misalnya jangan membeli tas plastik, beli tas kain atau serat alami atau beli peralatan elektronik yang hemat lagi. Lampu hemat energi (CFL) nampaknya lebih mahal dibandingkan bohlam biasa. Padahal lampu jenis ini 10 kali lebih awet, menghemat energi lebih dari 60% sehingga mengurangi emisi gas rumah kaca. Hemat energi ini tidak hanya pada lampu tapi juga peralatan elektronik lainnya. g. Pengurangan Ketergantungan Pemicu utamanya pemanasan global adalah meningkatnya emisi karbon, akibat penggunaan energi fosil (bahan bakar minyak, batubara dan sejenisnya, yang tidak dapat diperbarui). Penghasil terbesarnya adalah negeri-negeri industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Kanada, Jepang, China, dll. Ini diakibatkan oleh pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat

negera-negara utara yang 10 kali lipat lebih tinggi dari penduduk negara selatan. Untuk negara-negara berkembang meski tidak besar, ikut juga berkontribusi dengan skenario pembangunan yang mengacu pada pertumbuhan. Memacu industrilisme dan meningkatnya pola konsumsi tentunya, meski tak setinggi negara utara. Industri penghasil karbon terbesar di negeri berkembang seperti Indonesia adalah perusahaan tambang (migas, batubara dan yang terutama berbahan baku fosil). Sudah saatnya kita mulai menggunakan energi bahan bakar alternatif yang tidak hanya dari bahan energi fosil, misalnya untuk kebutuhan memasak. Menggunakan energi biogas (gas dari kotoran ternak) seperti yang dilakukan komunitas merah putih di Kota Batu. Desentraliasasi energi memang harus dilakukan agar menghantarkan kita pada kedaulatan energi dan melepas ketergantungan pada sentralisasi energi yang pada akhirnya harganya pun makin mahal saja. Selain itu kita juga sudah harus merubah pola konsumsi kita yang boros terhadap bahan bakar fosil karena lama-kelamaan bahan bakar tersebut akan habis. Dunia yang kita huni ini bukan hanya untuk beberapa tahun saja. Bukan hanya untuk kita saja. Generasi kita jugalah yang akan menikmati kehidupan di dunia ini. Kalau bukan kita yang akan menjaga dan merawat bumi ini siapa lagi. Sejak dini mulailah kita memperbaiki sikap kita, mulailah kita ramah terhadap lingkungan, mulailah kita bersikap arif terhadap bumi. Bila tidak dari sekarang, kita akan merasakan dampak yang sangat besar untuk generasi-generasi mendatang. Pemanasan global bukanlah disebabkan oleh alam, pemanasan global sebenarnya karena ulah manusia yang semakin serakah, semakin tidak ramah terhadap lingkungan seperti dalam Al Quran Surat Ar Ruum ayat 41, yang artinya : Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). IV. Air Bersih

Pengertian o Air bersih adalah salah satu jenis sumberdaya berbasis air yang bermutu baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktifitas mereka sehari-hari termasuk diantaranya adalah sanitasi. o Peraturan Menteri Kesehatan No. 416 Tahun 1990 tentang : Syaratsyarat dan pengawasan kualitas air ( Pasal 1c ) :

Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan seharihari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Syarat-Syarat Air Bersih : Secara fisik tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau. Tidak mengandung bakteri atau mikroorganisme yang bersifat merusak kesehatan. Bahan terlarut masih dalam batas yang diperbolehkan. Tidak mengandung zat-zat yang berbahaya dan beracun yang dapat mengganggu kesehatan seperti : logam berat, pestisida, senyawa polutan hidrokarbon, zat radioaktif alami maupun buatan, dan sebagainya. Secara kimiawi memiliki pH netral ( pH = 7 ) menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 416 Tahun 1990 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air ( Pasal 2 ayat 1 ) : Kualitas air harus memenuhi syarat kesehatan meliputi persyaratan mikrobiologi, Fisika kimia, dan radioaktif. 4.3 Sumber-Sumber Air Bersih Air tanah : bisa diperoleh dari sumur bor, sumur gali, dan sumur pompa dangkal Air permukaan : misalnya air sungai, air danau, air rawa, dan air laut yang harus diolah terlebih dahulu sebelumnya Air hujan : sudah merupakan air bersih asalkan penampungannya dilakukan dengan benar Air sumur : sumber air yang paling banyak digunakan penduduk Indonesia. 4.4 Cara Memperoleh Air Bersih Ada 2 cara untuk mendapatkan air bersih dalam skala terbatas yaitu : 1. Tanpa Bahan Kimia, dan 2. Dengan Menambahkan Bahan Kimia. Kedua cara penjernihan air ini melalui 2 tahap, yaitu tahap pengendapan dan tahap penjernihan. Media penyaring yang digunakan adalah; pasir, arang batok, ijuk dan kerikil. Pada cara yang kedua, ditambahkan bahan kimia berupa tawas, kapur dan kaporit ke dalam bak pengendap untuk membantu menggumpalkan zat kimia pencemar. 4.4.1 Tanpa Bahan Kimia

Cara ini biasanya digunakan untuk sumber air terbuka dengan menggunakan 3 macam bak yaitu bak pengendap, bak penyaring dan bak penampung air bersih, yang ukurannya tergantung volume air yang akan dialirkan. Mula-mula air dari sumbernya dialirkan ke bak pengendap. Selanjutnya lewat saluran bambu yang pada bagian ujungnya di beri kawat kasa, dari bak pengendap air dialirkan ke dalam bak penyaring melalui parit yang berbelok-belok dan berbatuan untuk mendapatkan kandungan oksigen. Atau jika tidak mungkin parit dapat diganti dengan saluran bambu. Bak penyaring ini telah diisi dengan media penyaring, yang disusun berturut-turut dari bagian dasar bak berupa batu setinggi 10 cm, kerikil 10 cm, pasir halus setinggi 20 cm, arang 5 cm, ijuk 10 cm, pasir halus 15 cm dan lapisan paling atas diisi ijuk lagi setinggi 10 cm. Setelah melewati bak penyaring air di tampung di dalam bak penampung air bersih. Untuk keperluan minum dan masak, air ini tetap harus dimasak agar kumannya mati. 4.4.2 Dengan Bahan Kimia Pada cara kedua ini digunakan 2 buah Drum yang berukuran sama yang dilengkapi dengan keran air, sebagai bak pengendap dan bak penyaring. Tinggi keran air dari dasar drum kira-kira 5-10 cm (harus lebih tinggi dari lumpur yang akan terkumpul). Tetapi drum bisa juga diganti dengan gentong. Setelah air kotor masuk ke drum pengendap, masukkan 1 gr tawas/ 1 gr kapur/ 2,5 gr kaporit untuk setiap 10 liter air, lalu diaduk perlahan ke satu arah. Pengadukan sebaiknya dilakukan pada malam hari sehingga pengendapan berlangsung sempurna pada keesokan paginya. Pada drum yang berfungsi sebagai bak pengendap diberi media penyaring yang terdiri dari kerikil setinggi 5 cm di bagian dasar, kemudian berturut-turut ke atas diberi arang batok setinggi 10 cm, ijuk setinggi 10 cm dan pasir halus setinggi 20 cm. Ketika air yang dialirkan dari drum pengendap melewati media penyaring ini, air akan dijernihkan lagi melalui proses penyaringan. Sehingga ketika kran dibuka akan diperoleh air yang bersih. Apabila air yang keluar dari drum kedua sudah tidak jernih, media penyaring harus dicuci atau diganti dengan yang baru. 4.5 Manfaat Air Bersih : Pemakaian sehari-hari seperti makan, minum, mandi, mencuci Sebagai pelarut dan penguraian Untuk pengobatan tertentu Untuk pertanian dan peternakan

4.6 Tabel Zat Air Bersih No Parameter A. FISIKA 1 Bau 2 Jumlah zat padat terlarut(TDS) 3 Kekeruhan 4 5 6 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rasa Suhu Warna B. KIMIA a. Kimia Anorganik Air raksa Arsan Besi Flourida Kadmium Kesadanan (CaCO3) Klorida Kronium, valensi 6 Mangan Nitrat, sebagai N Nitrit, sebagai N pH Salenium Seng Sianida Sulfat Timbal b. Kimia Organik Aldrin dan dieldrin Benzene Benzo (a) pyrene Chloroform (total isomer) Chloroform 2,4-D DDT Detergen 1,2-Dichloroethene 1,1-Dichloroethene Satuan Mg/L Skala NTU 0 C Skala TCU Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Kadar Maksimum 1000 5 Suhu udara 3 C 15 0,001 0,05 1,0 1,5 0,005 500 600 0,05 0,5 10 1,0 0,05 0,01 15 0,1 400 0,05 0,0007 0,01 0,00001 0,007 0,03 0,10 0,03 0,5 0,01 0,0003 Keterangan Tidak berbau Tidak berasa -

11 12 13 14 15 16 17 18 1 2 1 2

Heptachlor dan heptaclorepoxide Hexachlorobenzene Gamma-HCH (Lindane) Methoxychlor Pentachlorophenol Pestisida total 2,4,6-trichorophenol Zat organik (KMn04) c. Mikrobiologi Total koliform (MPN) Koliform tinja belum diperiksa d. Radioaktivitas Aktivitas Alpha (Gross Alpha Activity) Aktivitas Beta (Gross Beta Activity)

Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Jumlah per 100 mL Jumlah per 100 mL Bg/L Bg/L

0,003 0,00001 0,004 0,10 0,01 0,10 0,01 10 0 0 0,1 1,0 Bukan air pipaan Bukan air pipaan

4.7 Sebab-Sebab Krisis Air Bersih : Penghamburan air bersih Pembuangan limbah industri Penggundulan hutan Urbanisasi dan industrialisasi Sistem sanitasi yang kurang memadai Kurangnya usaha penegakan hukum untuk mengendalikan lingkungan 4.8 Ketiadaan air bersih mengakibatkan: Penyakit diare. Penyakit disentri. Penyakit cacingan. Penyakit demam berdarah dan malaria. Penyakit kolera Penyakit tifus Di Indonesia diare merupakan penyebab kematian kedua terbesar bagi anak-anak dibawah umur lima tahun. Sebanyak 13 juta anak-anak balita mengalami diare setiap tahun. Air yang terkontaminasi dan pengetahuan yang kurang tentang budaya hidup bersih ditenggarai menjadi akar permasalahan ini. Sementara itu 100 juta rakyat Indonesia tidak memiliki akses air bersih.

Penduduk dunia yang pada 2006 berjumlah 5,3 miliar diperkirakan akan meningkat menjadi 8,5 miliar pada tahun 2025 akan didera oleh ketersediaan air bersih. Laju angka kelahiran yang tertinggi justru terjadi tepat di daerah yang sumber-sumber airnya mengalami tekanan paling berat, yaitu di negara-negara berkembang. 4.9 Peran Serta Masyarakat Dalam Pemanfaatan dan Pemeliharaan Sarana Air Bersih Masyarakat harus berpartisipasi dalam memelihara fasilitas air bersih yang berada di lingkungannya dengan cara : Menutup kran air apabila selesai digunakan; Menggunakan air bersih seperlunya; Mencegah kebocoran pada kran, meteran air, dan pipa yang tersambung ke rumah; Memperbaiki sendiri kerusakan kecil yang terjadi; Melaporkan dengan segera kepada pihak pengelola air bersih jika ada kebocoran atau kerusakan pipa Melaporkan dengan segera jika ada oknum petugas yang menawarkan jasa untuk hal-hal yang tidak terpuji Ikut memelihara sumber air dari pencemaran; Siapa pun yang mengkonsumsi air dari PDAM mempunyai kewajiban untuk membayar karena PDAM membutuhkan biaya untuk operasional, seperti untuk membeli bahan baker untuk genset, bahan kimia, memperluas jaringan/pelayanan, atau memperbaiki pipa yang rusak. Banyak penelitian yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan, Pihak Universitas maupun Swasta terhadap kualitas air bersih dan air minum di berbagai kota di Indonesia. Khusus di Jakarta dan Surabaya adalah 2 kota dengan kualitas air minum dan air bersih terendah dibanding kota kota lain di Indonesia. Penyebabnya adalah rendahnya kualitas air baku dan tingkat pencemaran yang sedemikian parah di aliran sungai maupun air bawah tanah akibat kepadatan penduduk dan dekatnya jarak sumur bor dan Septic Tank yang kurang dari 10 Meter. Solusi yang paling aman adalah dengan menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan larangan membuang sampah ataupun limbah industri ke dalam sungai. Khusus pabrik pabrik besar,sebelum membuang limbah cair ke sungai diwajibkan membuat instalasi Waste Water Treatment Plant (WWTP) untuk menetralkan limbah beracun tsb.Mata rantai pencemaran sungai ini sungguh luar biasa. Mulai matinya habitat sungai puluhan bahkan ratusan kilometer dan banyaknya warga pinggiran sungai yang terkena dampaknya dengan timbulnya berbagai penyakit kulit,dsb.

Masalah air bersih merupakan hal yang paling fatal bagi kehidupan kita. Dimana setiap hari kita membutuhkan air bersih untuk minum, memasak, mandi, mencuci dan sebagainya. Dengan air yang bersih tentunya membuat kita terhindar dari penyakit. Kalau kita tahu, saat ini masalah air bersih merupakan barang yang langka di negeri tercinta kita ini, apalagi di kota-kota besar seperti Jakarta, air bersih merupakan barang yang mahal dan sering diperjualbelikan. Tidak seperti halnya beberapa puluh tahun yang lalu, saat itu air bersih mudah diperoleh dan selalu berlimpah mengalir di setiap sudut tanah negeri kita ini, karena pada waktu itu belum banyak terjadi polusi air dan udara. Dari rasa dan warnanya pun saat ini berbeda tidak sealami dulu dikarenakan oleh polusi tersebut. Alam memiliki kemampuan untuk mengembalikan kondisi air yang telah tercemar dengan proses pemurnian atau purifikasi alami dengan jalan pemurnian tanah, pasir, bebatuan dan mikro organisme yang ada di alam sekitar kita. Jumlah pencemaran yang sangat masal oleh manusia membuat alam tidak mampu mengembalikan kondisi ke seperti semula. Alam menjadi kehilangan kemampuan untuk memurnikan pencemaran yang terjadi. Sampah dan zat seperti plastik, DDT, deterjen dan sebagainya yang tidak ramah lingkungan akan semakin memperparah kondisi pengrusakan alam yang kian hari kian bertambah parah. V. Hutan 5.1 Pengertian Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Kawasan-kawasan semacam ini terdapat di wilayah-wilayah yang luas di dunia dan berfungsi sebagai penampung karbon dioksida (carbon dioxide sink), habitat hewan, modulator arus hidrologika, serta pelestari tanah, dan merupakan salah satu aspek biosfera bumi yang paling penting. Hutan disebut juga dengan istilah utan (Jakarta.), leuweung (Sunda.), alas atau wana (Jawa.), alas (Md.), dan lain-lain. 5.2 Bagian-bagian hutan 5.2.1 Atas tanah

Akan terlihat tajuk (mahkota) pepohonan, batang kekayuan, dan tumbuhan bawah seperti perdu dan semak belukar. Di hutan alam, tajuk pepohonan biasa tampak berlapis karena ada berbagai jenis pohon yang mulai tumbuh pada saat berlainan.

5.2.2 Permukaan tanah Tampak berbagai macam semak belukar, rerumputan, dan serasah. Serasah disebut juga lantai hutan, meski lebih mirip permadani. Serasa adalah guguran segala batang, cabang, daun, ranting, bunga, dan buah. Serasah memiliki peran penting karena merupakan sumber humus, yaitu lapisan tanah teratas yang subur. Serasah juga menjadi rumah dari serangga dan berbagai mikroorganisme lain. Uniknya, para penghuni justru memakan serasah, rumah mereka itu, menghancurkannya dengan bantuan air dan suhu udara sehingga tanah humus terbentuk. 5.2.3 Bawah tanah Tampak segala akar tumbuhan, besar atau kecil, dalam berbagai bentuk. Sampai ke dalaman tertentu, kita juga dapat menemukan tempat tinggal beberapa jenis binatang, seperti serangga, ular, kelinci, dan binatang pengerat lain. 5.3 Macam-macam hutan 5.3.1 Menurut asal

a. Hutan tinggi hutan yang berasal dari biji b. Hutan rendah hutan yang berasal dari tunas c. Hutan sedang/campuran hutan yang berasal dari
campuran biji dan tunas. d. Hutan perawan hutan yang masih asli belum pernah dijamah oleh manusia. e. Hutan sekunder hutan yang tumbuh kembali setelah penebangan atau kerusakan yang berarti. Pohon-pohonnya terlihat lebih pendek dan kecil.

5.3.2 Menurut cara permudaan

a. Hutan dengan permudaan alami

bunga pohon diserbuk atau biji pohon disebar bukan oleh manusia, melainkan oleh air, angin, atau oleh hewan. b. Hutan dengan permudaan buatan manusia sengaja menyerbukan bunga ataupun menyebar biji pohon untuk menumbuhkan kembali hutan. c. Hutan dengan permudaan campuran campuran keduanya. Di daerah beriklim sedang, perbungaan terjadi dalam waktu singkat, sering tidak berlangsung setiap tahun, dan penyerbukannya lebih banyak melalui angin. Di daerah tropis, perbungaan terjadi hampir sepanjang tahun dan hampir setiap tahun. Sebagai pengecualian, perbungaan pohon-pohon dipterocarp (meranti) di Kalimantan dan Sumatera terjadi secara berkala. Pada tahun tertentu, hutan meranti berbunga secara berbarengan, tetapi pada tahun-tahun berikutnya meranti sama sekali tidak berbunga. Musim bunga hutan meranti merupakan kesempatan emas untuk melihat biji-biji meranti yang memiliki sepasang sayap melayang-layang terbawa angin. 5.3.3 Menurut susunan jenis a. Hutan sejenis (homogen) Sebagian besar ditanami satu jenis pohon, meskipun tidak murni 100% 1 jenis tanaman saja. Hutan ini dapat tumbuh alami, baik karena kondisi iklim dan tanah yang sulit melainkan juga karena jenis pohon tertentu lebih agresif. Contoh : hutan tusam/pinus di Aceh dan Kerinci terbentuk karena kebakaran hutan. Hutan sejenis juga dapat merupakan hutan buatan, yaitu hanya satu atau sedikit jenis pohon utama yang sengaja ditanam seperti itu oleh manusia. Contoh : lahan HTI (Hutan Tanaman Industri) Penggolongan lain berdasarkan pada susunan jenis adalah hutan daun jarum (konifer) dan hutan daun lebar. Hutan daun jarum (seperti hutan cemara) umumnya terdapat di daerah beriklim dingin, sedangkan hutan daun lebar (seperti hutan meranti) biasa ditemui di daerah tropis.

b. Hutan campuran (heterogen)

5.3.4 Menurut umur


a. hutan seumur (umur kira-kira sama) contoh : hutan alam atau hutan permudaan alam, hutan tanaman b. hutan tidak seumur contoh : hutan tanaman

5.3.5 Menurut letak geografis a. Hutan tropika b. Hutan temperate


daerah khatulistiwa

daerah empat musim (antara garis lintang 23, 5 - 66) c. Hutan boreal daerah lingkar kutub

5.3.6 Menurut sifat-sifat musimannya a. Hutan hujan (rainforest)


banyak musim hujannya b. Hutan selalu hijau (evergreen forest) c. Hutan musim/hutan gugur daun (deciduous forest) d. Hutan sabana (savannah forest) musim kemarau panjang

5.3.7 Menurut ketinggian tempat a. b. c. d. e. f.


Hutan pantai (beach forest) Hutan dataran rendah (lowland forest) Hutan pegunungan bawah (sub-montane forest) Hutan pegunungan atas (montane forest) Hutan kabut (cloud forest) Hutan elfin (alpine forest)

5.3.8 Menurut keadaan tanah a. Hutan rawa air tawar/hutan rawa (freshwater swampforest)

b. c. d. e.

Hutan rawa gambut (peat swamp-forest) Hutan rawa bakau/hutan bakau (mangrove forest) Hutan kerangas (health forest) Hutan tanah kapur (limestone forest)

5.3.9 Menurut jenis pohon yang dominan a. Hutan jati (teak forest) Jawa Timur b. Hutan pinus (pine forest) Aceh c. Hutan dipterokarpa (dipterocarp forest) Sumatra
dan Kalimantan d. Hutan ekaliptus Nusa Tenggara

5.3.10 Menurut sifat-sifat pembuatan a. b. c. d. e.


Hutan alam (natural forest) Hutan buatan (man-made forest) Hutan rakyat (community forest) Hutan kota (urban forest) Hutan tanaman industri (timber estates/timber plantation)

5.3.11 Menurut tujuan pengelolaan


a. Hutan produksi kayu/hasil hutan bukan kayu (non-timber forest product) b. Hutan lindung melindungi tanah dan tata air c. Hutan suaka alam melindungi kekayaan keanekaragaman hayati/keindahan alam d. Hutan konversi dicadangkan untuk penggunaan lain, dapat dikonversi untuk pengelolaan nonkehutanan 5.4 Deforestasi Hutan Deforestasi hutan adalah suatu kondisi dimana tingkat luas area hutan menunjukkan penurunan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Luas hutan alam asli Indonesia menyusut dengan kecepatan yang sangat mengkhawatirkan. Hingga saat ini, Indonesia telah kehilangan hutan aslinya sebesar 72 persen [World Resource Institute, 1997]. Penebangan hutan Indonesia yang tidak terkendali selama puluhan tahun dan menyebabkan terjadinya penyusutan hutan tropis secara besar-besaran. Laju kerusakan hutan periode 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada periode 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Ini menjadikan Indonesia merupakan salah satu

tempat dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia. Di Indonesia berdasarkan hasil penafsiran citra landsat tahun 2000 terdapat 101,73 juta hektar hutan dan lahan rusak, diantaranya seluas 59,62 juta hektar berada dalam kawasan hutan. [Badan Planologi Dephut, 2003]. Pada abad ke-16 sampai pertengahan abad ke-18, hutan alam di Jawa diperkirakan masih sekitar 9 juta hektar. Pada akhir tahun 1980-an, tutupan hutan alam di Jawa hanya tinggal 0,97 juta hektar atau 7 persen dari luas total Pulau Jawa. Saat ini, penutupan lahan di pulau Jawa oleh pohon tinggal 4 %. Fungsi hutan sebagai penyimpan air tanah juga akan terganggu akibat terjadinya pengrusakan hutan yang terus-menerus. Hal ini akan berdampak pada semakin seringnya terjadi kekeringan di musim kemarau dan banjir serta tanah longsor di musim penghujan. Pada akhirnya, hal ini akan berdampak serius terhadap kondisi perekonomian masyarakat. Industri perkayuan di Indonesia memiliki kapasitas produksi sangat tinggi dibanding ketersediaan kayu. Pengusaha kayu melakukan penebangan tak terkendali dan merusak, pengusaha perkebunan membuka perkebunan yang sangat luas, serta pengusaha pertambangan membuka kawasan-kawasan hutan. Sementara itu rakyat digusur dan dipinggirkan dalam pengelolaan hutan yang mengakibatkan rakyat tak lagi punya akses terhadap hutan mereka. Dan hal ini juga diperparah dengan kondisi pemerintahan yang korup, dimana hutan dianggap sebagai sumber uang dan dapat dikuras habis untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Penebangan hutan di Indonesia yang tak terkendali telah dimulai sejak akhir tahun 1960-an, yang dikenal dengan banjir-kap, dimana orang melakukan kayu secara manual. Penebangan hutan skala besar dimulai pada tahun 1970. Dan dilanjutkan dengan dikeluarkannya ijin-ijin pengusahaan hutan tanaman industri di tahun 1990, yang melakukan tebang habis (land clearing). Selain itu, areal hutan juga dialihkan fungsinya menjadi kawasan perkebunan skala besar yang juga melakukan pembabatan hutan secara menyeluruh, menjadi kawasan transmigrasi dan juga menjadi kawasan pengembangan perkotaan. Di tahun 1999, setelah otonomi dimulai, pemerintah daerah membagi-bagikan kawasan hutannya kepada pengusaha daerah dalam bentuk hak pengusahaan skala kecil. Di saat yang sama juga terjadi peningkatan aktivitas penebangan hutan tanpa ijin yang tak terkendali oleh kelompok masyarakat yang dibiayai pemodal (cukong) yang dilindungi oleh aparat pemerintah dan keamanan. 5.4.1 Faktor penyebab Deforestasi Hutan

Deforestasi di Indonesia sebagian besar merupakan akibat dari suatu sistem politik dan ekonomi yang korup, yang menganggap sumber daya alam, khususnya hutan, sebagai sumber pendapatan yang bisa dieksploitasi untuk kepentingan politik dan keuntungan pribadi. Pertumbuhan industri pengolahan kayu dan perkebunan di Indonesia terbukti sangat menguntungkan selama bertahun-tahun. Penyebab kerusakan hutan : a. Hak Penguasaan Hutan lebih dari setengah kawasan hutan Indonesia dialokasikan untuk produksi kayu berdasarkan sistem tebang pilih. Banyak perusahaan HPH yang melanggar pola-pola tradisional hak kepemilikan atau hak penggunaan lahan. Kurangnya pengawasan dan akuntabilitas perusahaan berarti pengawasan terhadap pengelolaan hutan sangat lemah dan lama kelamaan, banyak hutan produksi yang telah dieksploitasi secara berlebihan. b. Hutan tanaman industri telah dipromosikan secara besar-besaran dan diberi subsidi sebagai suatu cara untuk menyediakan pasokan kayu bagi industri pulp yang berkembang pesat di Indonesia, tetapi cara ini mendatangkan tekanan terhadap hutan alam. Hampir 9 juta ha lahan, sebagian besar adalah hutan alam, telah dialokasikan untuk pembangunan hutan tanaman industri. Lahan ini kemungkinan telah ditebang habis atau dalam waktu dekat akan ditebang habis. Namun hanya sekitar 2 juta ha yang telah ditanami, sedangkan sisanya seluas 7 juta ha menjadi lahan terbuka yang terlantar dan tidak produktif. c. Pembangunan perkebunan, terutama perkebunan kelapa sawit. Hampir 7 juta ha hutan sudah disetujui untuk dikonversi menjadi perkebunan sampai akhir tahun 1997 dan hutan ini hampir dapat dipastikan telah ditebang habis. Tetapi lahan yang benar-benar dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit sejak tahun 1985 hanya 2,6 juta ha, sementara perkebunan baru untuk tanaman keras lainnya kemungkinan luasnya mencapai 1-1,5 juta ha. Sisanya seluas 3 juta ha lahan yang sebelumnya hutan sekarang dalam keadaan terlantar. Banyak perusahaan yang sama, yang mengoperasikan konsesi HPH, juga memiliki perkebunan. Dan hubungan yang korup berkembang, dimana para pengusaha mengajukan permohonan izin membangun perkebunan, menebang habis hutan dan menggunakan kayu yang dihasilkan utamanya untuk pembuatan pulp, kemudian pindah lagi, sementara lahan yang sudah dibuka ditelantarkan. d. Illegal logging adalah merupakan praktek langsung pada penebangan pohon di kawasan hutan negara secara illegal.

Dilihat dari jenis kegiatannya, ruang lingkup illegal logging terdiri dari : Rencana penebangan, meliputi semua atau sebagian kegiatan dari pembukaan akses ke dalam hutan negara, membawa alat-alat sarana dan prasarana untuk melakukan penebangan pohon dengan tujuan eksploitasi kayu secara illegal. Penebangan pohon dalam makna sesunguhnya untuk tujuan eksploitasi kayu secara illegal. Produksi kayu yang berasal dari konsesi HPH, hutan tanaman industri dan konversi hutan secara keseluruhan menyediakan kurang dari setengah bahan baku kayu yang diperlukan oleh industri pengolahan kayu di Indonesia. Kayu yang diimpor relatif kecil, dan kekurangannya dipenuhi dari pembalaka ilegal. Pencurian kayu dalam skala yang sangat besar dan yang terorganisasi sekarang merajalela di Indonesia; setiap tahun antara 50-70 persen pasokan kayu untuk industri hasil hutan ditebang secara ilegal. Luas total hutan yang hilang karena pembalakan ilegal tidak diketahui, tetapi seorang mantan Direktur Jenderal Pengusahaan Hutan, Departemen Kehutanan, Titus Sarijanto, baru-baru ini menyatakan bahwa pencurian kayu dan pembalakan ilegal telah menghancurkan sekitar 10 juta ha hutan Indonesia. e. Peran pertanian tradisional skala kecil, dibandingkan dengan penyebab deforestasi yang lainnya, merupakan subyek kontroversi yang besar. Suatu perkiraan yang dapat dipercaya pada tahun 1990 menyatakan bahwa para peladang berpindah mungkin bertanggung jawab atas sekitar 20 persen hilangnya hutan. f. Program Transmigrasi yang berlangsung dari tahun 1960-an sampai 1999, yaitu memindahkan penduduk dari Pulau Jawa yang berpenduduk padat ke pulau-pulau lainnya. Program ini diperkirakan oleh Departemen Kehutanan membuka lahan hutan hampir 2 juta ha selama keseluruhan periode tersebut. Disamping itu, para petani kecil dan para penanam modal skala kecil yang oportunis juga ikut andil sebagai penyebab deforestasi karena mereka membangun lahan tanaman perkebunan, khususnya kelapa sawit dan coklat. Pembakaran secara sengaja oleh pemilik perkebunan skala besar untuk membuka lahan, dan oleh masyarakat lokal untuk memprotes perkebunan atau kegiatan operasi HPH

g.

mengakibatkan kebakaran besar yang tidak terkendali, yang luas dan intensitasnyan belum pernah terjadi sebelumnya. Lebih dari 5 juta ha hutan terbakar pada tahun 1994 dan 4,6 juta ha hutan lainnya terbakar pada tahun 1997-98. Sebagian dari lahan ini tumbuh kembali menjadi semak belukar, sebagian digunakan oleh para petani skala kecil, tetapi sedikit sekali usaha sistematis yang dilakukan untuk memulihkan tutupan hutan atau mengembangkan pertanian yang produktif. 5.5 Berdasarkan Undang-Undang Undang-Undang Republik Indonesia No 41 tahun 1999 tentang kehutanan, definisi kehutanan adalah sistem pengurusan yang bersangkut paut dengan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan yang diselenggarakan secara terpadu. 5.5.1 Undang-undang yang mengatur masalah kehutanan : Pasal 4 1. Semua hutan di dalam wilayah Republik Indonesia termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. 2. Penguasaan hutan oleh Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberi wewenang kepada pemerintah untuk : a. mengatur dan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan; b. menetapkan status wilayah tertentu sebagai kawasan hutan dan kawasan hutan sebagai bukan kawasan hutan; dan c. mengatur dan menetapkan hubungan-hubungan hukum antara orang dengan hutan, serta mengatur perbuatanperbuatan hukum mengenai kehutanan. 3. Penguasaan hutan oleh Negara tetap memperhatikan hak masyarakat hukum adat, sepanjang kenyataannya masih ada dan diakui keberadaannya, serta tidak bertentangan dengan kepentingan nasional. Pasal 23 Pemanfaatan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf b,bertujuan untuk memperoleh manfaat yang optimal bagi kesejahteraan seluruh masyarakat secara berkeadilan dengan tetap menjaga kelestariannya. Pasal 24

Pemanfaatan kawasan hutan dapat dilakukan pada semua kawasan hutan kecuali pada hutan cagar alam serta zona inti dan zona rimba pada taman nasional. Pasal 25 Pemanfaatan kawasan hutan pelestarian alam dan kawasan hutan suaka alam serta taman buru diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 43 1. Setiap orang memiliki, mengelola, dan atau memanfaatkan hutan yang kritis atau tidak produktif, wajib melaksanakan rehabilitasi hutan untuk tujuan perlindungan dan konservasi. 2. Dalam pelaksanaan rehabilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1),setiap orang dapat meminta pendampingan, pelayanan dan dukungan kepada lembaga swadaya masyarakat, pihak lain atau pemerintah. Pasal 49 Pemegang hak atau izin bertanggung jawab atas terjadinya kebakaran hutan di areal kerjanya. Pasal 50 1. Setiap orang dilarang merusak prasarana dan sarana perlindungan hutan. 2. Setiap orang yang diberikan izin usaha pemanfaatan kawasan, izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan, izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu, serta izin pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu, dilarang melakukan kegiatan yang menimbulkan kerusakan hutan. 3. Setiap orang dilarang : a. Mengerjakan dan atau menggunakan dan atau menduduki kawasan hutan secara tidak sah; b. Merambah kawasan hutan; c. Melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan dengan radius atau jarak sampai dengan : d. Membakar hutan; e. Menebang pohon atau memanen atau memungut hasil hutan di dalam hutan tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat berwenang; f. Menerima, membeli atau menjual, menerima tukar, menerima titipan, menyimpan, atau memiliki hasil hutan yang diketahui atau patut diduga berasal dari

kawasan hutan yang diambil atau dipungut secara tidak sah; g. Melakukan kegiatan penyelidikan umum atau eksplorasi atau eksploitasi bahan tambang di dalam kawasan hutan, tanpa izin menteri; h. Mengangkut, menguasai, atau memiliki hasil hutan yang tidak dilengkapi bersama-sama dengan surat keterangan sahnya hasil hutan;mengerjakan dan atau menggunakan dan atau menduduki kawasan hutan secara tidak sah; i. Menggembalakan ternak di dalam kawasan hutan yang tidak ditunjuk secara khusus untuk maksud tersebut oleh pejabat yang berwenang; j. Membawa alat-alat berat dan atau alat-alat lainnya yang lazim atau patut diduga akan digunakan untuk mengangkut hasil hutan di dalam kawasan hutan, tanpa izin pejabat yang berwenang; k. Membawa alat-alat yang lazim digunakan untuk menebang,memotong, atau membelah pohon di dalam kawasan hutan tanpa izin pejabat yang berwenang; l. Membuang benda-benda yang dapat menyebabkan kebakaran dan kerusakan serta membahayakan keberadaan atau kelangsungan fungsi hutan ke dalam kawasan hutan; dan m.Mengeluarkan, membawa, dan mengangkut tumbuhtumbuhan dan satwa liar yang tidak dilindungi undangundang yang berasal dari kawasan hutan tanpa izin dari pejabat yang berwenang.

5.6 Fungsi Hutan secara umum : 1. fungsi wisata Melindungi tumbuh-tumbuhan serta hewan / binatang langka Tempat rekreasi orang Tempat penelitian 2. fungsi cadangan/konservasi Sebagai lahan pertanian Sebagai pemukiman penduduk 3. fungsi perlindungan

Sebagai penjaga keteraturan air dalam tanah (fungsi hidrolisis) Menjaga tanah agar tidak terjadi erosi Untuk mengatur iklim (fungsi klimatologis) Sebagai penanggulang pencemaran udara Contoh : C02 (karbon dioksida) dan C0 (karbon monoksida)

4. fungsi produksi/industri Menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomi VI. Banjir

Pengertian Banjir adalah suatu kejadian dimana air menggenangi daerah yang biasanya tidak digenangi air dalam selang waktu tertentu. Banjir umumnya terjadi pada saat aliran air melebihi kapasitas air yang dapat ditampung dalam suatu sungai, danau, rawa, dan saluran air lainnya pada selang waktu tertentu. Hujan lebat yang terjadi dalam waktu yang cukup lama dapat mengakibatkan berlebihnya jumlah air yang dapat ditampung dalam sungai, danau, rawa, maupun saluran air lainnya, sehingga menimbulkan banjir yang menggenangi daerah di sekitarnya. Penyebab Terjadinya Banjir Jumlah curah hujan yang jatuh ke bumi tergantung pada udara lembab yang naik dan mendingin pada ketinggian yang memungkinkan terbentuknya awan hujan. Semakin tebal awan, semakin banyak hujan yang turun. Banjir terjadi akibat hujan yang sangat besar dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama sehingga air yang jatuh ke bumi tidak dapat tertampung oleh sungai, danau, waduk, rawa, dan saluran air lainnya. Sedimentasi hasil erosi di daerah hulu mengakibatkan pendangkalan sungai. Akibatnya daya tampung sungai menjadi berkurang. Banyaknya air yang tidak tertampung tersebut mengakibatkan air meluap ke daratan di sekitarnya. Penyebab paling utama dari bencana banjir adalah curah hujan yang tinggi. Hujan lebat yang berlangsung selama berhari-hari mengakibatkan jumlah air yang jatuh ke bumi sangat banyak. Hujan

lebat dapat terjadi secara musiman dan meliputi daerah yang sangat luas. Perubahan iklim seperti El Nino juga dapat mengakibatkan hujan yang sangat lebat. Banyaknya jumlah air hujan yang jatuh ke bumi tidak mampu tertampung di sungai, danau, rawa, waduk, dan saluran airnya. Akibatnya air meluap dan menggenangi daratan di sekitar sungai, danau, rawa, maupun saluran air lainnya. Badai juga dapat menyebabkan banjir melalui beberapa cara, di antaranya melalui ombak besar yang tingginya bisa mencapai 8 meter. Selain itu badai juga adanya presitipasi yang dikaitkan dengan peristiwa badai. Mata badai mempunyai tekanan yang sangat rendah, jadi ketinggian laut dapat naik beberapa meter pada mata guntur. Banjir pesisir seperti ini sering terjadi di Bangladesh. Gempa bumi dasar laut maupun letusan pulau gunung berapi yang membentuk kawah (seperti Thera atau Krakatau) dapat memicu terjadinya gelombang besar yang disebut tsunami yang menyebabkan banjir pada daerah pesisir pantai.

Banjir Besar Pada Masa Prasejarah Pada masa prasejarah, beberapa banjir besar diperkirakan pernah terjadi berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan, termasuk:

Pembanjiran Laut Mediterania (Laut Tengah) sekitar 6 juta tahun lalu. Sebelumnya ia merupakan sebuah padang pasir setelah pergerakan kontinental telah menutup Selat Gibraltar (antara 8 atau 5.5 juta tahun lalu).

Perbanjiran Laut Hitam yang disebabkan meningkatnya ketinggian Laut Mediterania seiring berakhirnya zaman es terkhir (sekitar 5600 SM).

Seiring berakhirnya zaman es di Amerika Utara, sebuah banjir besar terjadi karena pecahnya bendungan es yang menahan Danau Agassiz. Banjir Missoula di Washington, juga karena pecahnya bendungan es.

Jenis-jenis Banjir Serta Dampaknya Pada Kesehatan Masyarakat Berikut merupakan jenis jenis banjir yang ada di Indonesia. Jenis jenis banjir ini ada 4 macam, yaitu : Banjir Sungai Banjir yang berasal dari meluapnya sebuah sungai sehingga air tersebut melimpah ke daratan sehingga air menggenangi daratan dalam jangka waktu tertentu. Ini biasanya terjadi saat hujan terus menerus sehingga sungai tidak dapat menampung air hujan tersebut. Selain itu pula adanya pengaruh pohon pohon yang ditebang secara liar yang menyebabkan gundulnya hutan dan tidak dapat membantu sungai untuk menahan air supaya tidak melimpah ke daratan. Selain itu pula, penyebab dari banjir sungai ini dikarenakan banyaknya sampah yang menyumbat pada solokan dan sungai sehingga air yang harusnya mengalir kini terhenti dan tidak dapat melewati saluran air sebagaimana mestinya. Dampak pada kesehatannya adalah meningkatnya penyakit penyakit di kalangan masyarakat yang terkena musibah ini. Contoh dari penyakit tersebut adalah leptospirosis, tetanus, diare, poliomyelitis, Malaria, dengue, dan demam typhoid juga menjadi ancaman saat terjadi bencana banjir. Banjir tentu identik dengan genangan air. Jika airnya kontak dengan tanah, maka anopheles dapat berkembang biak di sana. Jika genangan air ada di wadah, maka itu adalah tempat yang baik untuk Aedes, Sp berkembang biak. Sementara kondisi tempat pengungsian yang kumuh dan kurangnya kontrol terhadap penyimpanan makanan memungkinkan lalat untuk menyebarkan tubuhnya. Banjir Pantai organisme patogen yang melekat dalam

Sebagai banjir dikaitkan dengan terjadinya badai tropis (juga disebut angin puyuh laut atau taifun). Banjir yang membawa bencana dari luapan air hujan sering makin parah akibat badai yang dipicu oleh angin kencang sepanjang pantai. Air garam membanjiri daratan akibat satu atau perpaduan dampak gelombang pasang, badai, atau tsunami (gelombang pasang). Sama seperti banjir luapan sungai, hujan lebat yang jatuh di kawasan geografis luas akan menghasilkan banjir besar di lembah-lembah pesisir yang mendekati muara sungai. Reklamasi pantai berpotensi menimbulkan banjir, terutama di sekitar daerah aliran sungai, karena melambatnya aliran di muara sungai serta meningkatnya sedimentasi. Banjir juga terjadi karena daya dukung sungai dan saluran-saluran drainase lain tidak mampu menampung air hujan pada waktu curah hujan tinggi. Hal ini akan menimbulkan berbagai penyakit yang diakibatkan oleh keberadaan genangan. Salah satu akibat dari banjir adalah kesulitan dalam penyediaan air bersih, sehingga dapat mengakibatkan berbagai penyakit infeksi saluran pencernaan, antara lain demam tifoid, kolera, disentri serta diare non spesifik. Manifestasi penyakit tersebut yang mudah dikenali oleh masyarakat awam antara lain berupa muntah berak (muntaber). Penyakit kulit sering berjangkit pada penduduk yang kesulitan mendapat air bersih. Meskipun sebagian mengalami alergi dan iritasi terhadap air genangan yang kotor ini, tetapi pada umumnya berupa infeksi kulit. Hal ini karena kebersihan diri dan lingkungan yang kurang. Penyakit yang khas berjangkit pada penduduk akibat banjir adalah leptospirosis, yang disebabkan oleh bakteri leptospira. Pasca banjir, adanya gejala demam, sakit kepala,

menggigil, lemah, muntah, disertai nyeri otot terutama betis, perlu diwaspadai kemungkinan berjangkitnya penyakit ini. Banjir Bandang Banjir Bandang adalah banjir di daerah di permukaan rendah yang terjadi akibat hujan yang turun terus-menerus dan muncul secara tiba-tiba. Banjir bandang terjadi saat penjenuhan air terhadap tanah di wilayah tersebut berlangsung dengan sangat cepat hingga tidak dapat diserap lagi. Air yang tergenang lalu berkumpul di daerah-daerah dengan permukaan rendah dan mengalir dengan cepat ke daerah yang lebih rendah. Akibatnya, segala macam benda yang dilewatinya dikelilingi air dengan tiba-tiba.dan mengancam kita semua maka kita harus menjaga kelestarian di alam kita ini maka dri pada itu harus menjaganya. Contoh banjir bandang besar yang terjadi tak lama ini di Indonesia adalah di banjir di Bukit Lawang pada November 2003, di mana sedikitnya 80 orang tewas dalam kejadian tersebut dan banyak fasilitas pariwisata yang rusak akibat kejadian itu. Pada 1 Januari 2006 banjir bandang ini terjadi di Jember yang menewaskan 59 orang. Wilayah di Indonesia lainnya yang dilanda banjir bandang di antaranya adalah Jawa Timur (Kabupaten Bojonegoro, Magetan, Trenggalek, Madiun, Ngawi, Jombang, Lamongan, Ponorogo, Pacitan, Gresik, dan yang terbaru di Kabupaten Situbondo), Jawa Tengah, DKI Jakarta, Aceh, dan sebagainya. Seperti yang sudah dijelaskan pada skenario, disitu tertera bahwa seorang anak terserang muntah muntah, diare sehingga dokter mendiagnosis bahwa sang anak menderita gastroenteritis akut dengan dehidrasi berat. Ini disebabkan pada saat banjir ini terjadi, air bersih jarang sekali diketemukan disekitar daerah tersebut.

Banjir Kota Banjir yang terjadi didaerah perkotaan. Sebut saja kota Jakarta yang sering sekali mengalami banjir tiap tahunnya sehingga pemerintah memiliki ratusan triliun rupiah untuk memperbaiki kota Jakarta ini. Banjir di Jakarta sempat disebut dengan Banjir Jakarta 2007 adalah banjir yang terjadi di Jakarta sekitar 1 Februari 2007 pada malam hari. Selain sistem drainase yang buruk, banjir berawal dari hujan lebat yang berlangsung sejak sore hari tanggal 1 Februari hingga keesokan harinya tanggal 2 Februari, ditambah banyaknya volume air 13 sungai yang melintasi Jakarta yang berasal dari Bogor-PuncakCianjur, dan air laut yang sedang pasang, mengakibatkan hampir 60% wilayah DKI Jakarta terendam banjir dengan kedalaman mencapai hingga 5 meter di beberapa titik lokasi banjir. Pantauan di 11 pos pengamatan hujan milik Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menunjukkan, hujan yang terjadi pada Jumat, 2 Februari, malam lalu mencapai rata-rata 235 mm, bahkan tertinggi di stasiun pengamat Pondok Betung mencapai 340 mm. Hujan rata-rata di Jakarta yang mencapai 235 mm itu sebanding dengan periode ulang hujan 100 tahun dengan probabilitas kejadiannya 20 persen. Banjir 2007 ini lebih luas dan lebih banyak memakan korban manusia dibandingkan bencana serupa yang melanda pada tahun 2002 dan 1996. Sedikitnya 80 orang dinyatakan tewas selama 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau sakit. Kerugian material akibat matinya perputaran bisnis mencapai triliunan rupiah, diperkirakan 4,3 triliun rupiah. Warga yang mengungsi mencapai 320.000 orang hingga 7 Februari 2007. Setelah banjir penyakit infeksi saluran pernafasan, diare, dan penyakit kulit menjangkiti warga Jakarta, terutama yang

berada di pengungsian. Ini disebabkan keadaan sanitasi dan cuaca yang buruk. Ditemui pula beberapa kasus demam berdarah dan leptospirosis Sebagai akibat genangan air setelah banjir. 6.7 Tips Mencegah dan Menghadapi Banjir Ada beberapa hal yang perlu anda ketahui untuk mencegah banjir, menghadapi banjir dan ketika sesudah banjir. Berikut ini adalah tipsnya: 6.7.1 Sebelum Banjir Kerja bakti membersihkan saluran air Melaksanakan kegiatan 3M (Menguras, Menutup dan Menimbun) benda-benda yang dapat menjadi sarang nyamuk Membuang sampah pada tempatnya Menyediakan bak penyimpanan air bersih 6.7.2 Saat Banjir Evakuasi keluarga ketempat yang lebih tinggi Matikan peralatan listrik/sumber listrik Amankan barang-barang berharga dan dokumen penting ke tempat yang aman Ikut mendirikan tenda pengungsian, pembuatan dapur umum Terlibat dalam pendistribusian bantuan Mengusulkan untuk mendirikan pos kesehatan Menggunakan air bersih dengan efisien 6.7.3 Sesudah Banjir Membersihkan tempat tinggal dan lingkungan rumah Melakukan pembrantasan sarang nyamuk ( PSN ) Terlibat dalam kaporitisasi sumur gali Terlibat dalam perbaikan jamban dan saluran

pembuangan air limbah (SPAL) VII. Latar Belakang Terjadinya Degradasi Lingkungan Hidup (Hutan) dan Hubungannya Dengan Kesehatan

Latar Belakang Terjadinya Degradasi Hutan dan Deforestasi Deforestasi adalah istilah untuk menyebutkan perubahan tutupan suatu wilayah dari berhutan menjadi tidak berhutan, artinya dari suatu wilayah yang sebelumnya berpenutupan tajuk berupa hutan (vegetasi pohon dengan kerapatan tertentu) menjadi bukan hutan (bukan vegetasi pohon atau bahkan tidak bervegetasi) Degradasi hutan (penurunan kualitas hutan) adalah perubahan kondisi atau mutu hutan dari hutan alam atau hutan primer menjadi hutan bekas ditebang; atau dari hutan lebat menjadi hutan jarang/rawang. Artinya, pada istilah degradasi tutupan vegetasi tetap pohon; namun dengan kualitas yang berbeda. (keterangan tambahan ada pada lampiran bagan di halaman berikutnya) Hubungan Degradasi Lingkungan Hidup Dengan Kesehatan Lingkungan hidup dapat didefinisikan sebagai: 1) Daerah di mana sesuatu mahluk hidup berada. 2) Keadaan/kondisi yang melingkupi suatu mahluk hidup. 3) Keseluruhan keadaan yang meliputi suatu mahluk hidup atau sekumpulan mahluk hidup, terutama: Kombinasi dari berbagai kondisi fisik di luar mahluk hidup yang mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan kemampuan mahluk hidup untuk bertahan hidup. Gabungan dari kondisi sosial and budaya yang berpengaruh pada keadaan suatu individu mahluk hidup atau suatu perkumpulan/komunitas mahluk hidup. Masalah / Degradasi lingkungan hidup di Indonesia a. Berasal dari alam : Banjir Kemarau panjang Tsunami Gempa bumi Gunung berapi

Kebakaran hutan Gunung lumpur Tanah longsor

b. Terjadi akibat buatan manusia : penebangan hutan secara liar/pembalakan hutan polusi air dari limbah industri dan pertambangan polusi udara di daerah perkotaan (Jakarta merupakan kota dengan udara paling kotor ke 3 di dunia) asap dan kabut dari kebakaran hutan kebakaran hutan permanen/tidak dapat dipadamkan perambahan suaka alam/suaka margasatwa perburuan liar, perdagangan dan pembasmian hewan liar yang dilindungi penghancuran terumbu karang pembuangan sampah B3/radioaktif dari negara maju pembuangan sampah tanpa pemisahan/pengolahan semburan lumpur liar di Sidoarjo, Jawa Timur hujan asam yang merupakan akibat dari polusi udara. Limbah rumah sakit Beberapa Contoh Akibat Degradasi Lingkungan Hidup Terhadap Kesehatan Masyarakat Perubahan lingkungan dan kesehatan manusia ( World Resourses 1998-99) menggambarkan bagaimana pencegahan penyakit dan kematian dini masih terjadi dengan jumlah besar yang sangat mengejutkan: - 4 juta anak-anak meninggal setiap tahun karena infeksi saluran pernafasan akut akibat polusi udara. - Malaria mengakibatkan 1 hingga 3 juta orang meninggal tiap tahunnya (kebanyakan anak-anak) - 3 juta anak meninggal tiap tahun akibat penyakit diare karena sanitasi yang buruk. - Kolera (Amerika Latin) mengakibatkan 11000 kematian tahun 1997 dan kerugian ekonomi sebanyak 200 juta dollar di peru. - Terdapat 3.5 hingga 5 juta masyarakat yang terkena infeksi keracunan pestisida tiap tahun, dan jutaan lainnya mengalami hal yang sama dengan tingkat keracunan yang lebih rendah tetapi tetap berbahaya.

Dengan terjadinya degradasi lingkungan hidup, maka kesehatan manusia pasti akan merosot dengan berbagai penyakit yang ada dan bahkan tidak hanya mempengaruhi tingkat kesehatan, tetapi juga mempengaruhi berbagai aspek kehidupan seperti bidang ekonomi, sosial, budaya,dll.

DAFTAR PUSTAKA http://www.stumbleupon.com/url/www.un.org/millenniumgoals/ www.unmilleniuproject.org/goals/gti.htm#goal http://en.wikipedia.org/wiki/Global_health http://id.wikipedia.org/wiki/Hutan http://id.wikipedia.org/wiki/Deforestasi_hutan http://id.wikipedia.org/wiki/Kehutanan http://id.wikipedia.org/wiki/Banjir http://www.siagabencana.net/?page=bencana.Banjir

http://www.ppk-depkes.org/index.php?view=article&id=195%3Atipsmenghadapi-banjir&option=com_content&Itemid=153 http://www.healtharticles-lk.com/categories/Global-Warming-Articles/ http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global http://news.nationalgeographic.com/news/2005/11/1110_051110_warming.html http://newsinfo.inquirer.net/breakingnews/nation/view/20080402-127994/Greengroup-gives-out-water-saving-tips http://www.osdir.com/ml/culture.region.indonesia.ppi-india/200503/msg01688.html http://www.e-dukasi.net/pengpop/pp_full.php?ppid=258&fname=hal20.htm http://www.epa.gov/waterscience/criteria/basic.htm

LAMPIRAN

Korupsi

Akuntabilitas legal dan politis yang sangat lemah dari para elite politik, militer, dan ekonomi.

Tata guna lahan hutan dan keputusan alokasi yang tidak tepat.

Transmigrasi HPH melakukan praktek pembalakan yang buruk

Status resmi lahan hutan tidak jelas.

Kebijakan yang lebih menguntungka n kehutanan komersial skala besar daripada kehutanan yang berbasis masyarakat.

Penegakan UU kehutanan yang lemah dan tak konsisten

Pembalak ilegal

Kapasitas pengolahan kayu yang terlalu tinggi.

Pengembang perkebunan kelapa sawit, pulp, dan kayu

Insentif dan kebijakan merugikan dalam penetapan harga kayu.

Konflik atas lahan hutan dan SDA.

Orang yang melakukan pembakaran hutan

Deg rada -si Hutan dan Deforestasi

Tidak ada pengakuan hak atas lahan hutan tradisional dan SDA

Terjadinya kemiskinan dan kondisi petani yang tanpa lahan di pedesaan.

Petani skala kecil

Pengembang, pertambangan, jalan dan infrastruktur.

Kekurangan data tentang tipe hutan, kondisi, dan lokasi.

Kebutuhan pemerintah yang terdapat di daerah ataupun profinsi sehingga memanfaatkan lahan hutan sebanyakbanyaknya.

Perambah flora dan fauna.