Anda di halaman 1dari 2

1.

Hubungan Sosiolinguistik dengan Pragmatik Pragmatik merupakan ilmu bahasa yang mempelajari tujuan dan dampak berbahasa yang dikaitkan dengan konteks, atau penggunaan bahasa yang disesuaikan dengan topik pembicaraan, tujuan, partisipan, tempat, dan sarana. Sebagaimana sosiolinguistik, pragmatik juga beranggapan bahwa bahasa (tuturan) tidaklah monostyle. Pragmatik memandang bahasa sebagai alat komunikasi yang keberadaannya (baik bentuk maupun maknanya) ditentukan oleh penutur dan ditentukan dan keberagamannya ditentukan oleh topik, tempat, sarana, dan waktu. Fakta-fakta ini dimanfaatkan oleh sosiolinguistik untuk menjelaskan variasi-variasi bahasa atau ragam bahasa. Pragmatik sangat menekankan aspek tujuan dalam berkomunikasi, seperti yang dikemukakan oleh Searle dalam tindak tuturnya. Bahasa akan berbeda karena adanya tujuan yang berbeda. Hal-hal ini pun dimanfaatkan oleh sosiolinguistik dengan menekankan variasi bahasa karena (berdasarkan) fungsi bahasa tersebut. Penggunaan bahasa dalam pragmatik juga sangat mempertimbangkan faktor interlokutor, yakni orang-orang yang terlibat dalam proses berkomunikasi dan berinteraksi. Karenanya, kode (meminjam istilah sosiolinguistik) yang digunakan pun berbeda. Dalam sosiolinguistik, aspek interlokutor ini dikembangkan lebih jauh dengan faktor sosial atau dialek sosial seperti tingkat sosial ekonomi, tingkat pendidikan, usia, jenis kelamin, hubungan sosial, dan sebagainya. Apabila tuturan 3 X 4 berapa? akan memiliki makna dan jawaban yang berbeda. Pragmatik memandang, perbedaan itu disebabkan faktor tempat, tujuan, dan penutur. Sosiolinguistik memandangnya dari sudut register. Meskipun demikian, keduanya memerlukan pengetahuan bersama atau common ground untuk sampai kepada pemahaman yang sebenarnya. Sosiologuistik dengan Linguistik sosiolinguistik merupakan ilmu yang mengkaji linguistik yang dihubungkan dengan faktor sosiologi. Dengan demikian, sosiolinguistik tidak meninggalkan linguistik. Apa yang dikaji dalam linguistik (ilmu yang mengkaji bahasa sebagai fenomena yang inedependen) dijadikan dasar bagi sosiolinguistik untuk menunjukkan perbedaan penggunaan bahasa yang dikaitkan dengan faktor sosial. Apa yang dikaji dalam linguistik, meliputi apa yang ditelaah De Saussure, kaum Bloomfieldien (Bloomfield, Charles Fries, dan Hocket) serta kaum Neo Bloomfieldien dengan deep structure dan surface structurenya, dipandang oleh sosiolinguis sebagai bentuk bahasa dasar yang ketika dikaitkan dengan pemakai dan pemakaian bahasa akan mengalami perubahan dan perbedaan. Kajian mengenai fonologi, morfologi, struktur kalimat, dan semantik leksikal dalam linguistik dipakai oleh sosiolinguistik untuk mengungkap struktur bahasa yang digunakan oleh tiap-tiap kelompok tutur sesuai dengan konteksnya. Karenanya, tidaklah mungkin seorang sosiolinguis dapat mengkaji bahasa dengan tanpa dilandasi pengetahuan mengenai linguistik murni itu. Sosiolinguistik mengkaji wujud bahasa yang beragam karena dipengaruhi oleh faktor di luar bahasa (sosial), yang dengan demikian makna sebuah tuturan juga ditentukan oleh faktor di luar bahasa. Untuk dapat mengungkap wujud dan makna bahasa sangat diperlukan pengetahuan tentang linguistik murni (struktur bahasa), supaya kajian yang dilakukan tidak meninggalkan objek bahasa itu sendiri. semantik adalah studi yang mengkaji tentang makna yang berarti teori makna atau teori arti, makna kata, makna kalimat, makna ujar, makna harfiah, dan non harfiah. Pengertian Sosiolinguistik antardisiplin Cabang linguistik yang mempelajari hubungan dan sosiologi-linguistik. saling pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku sosial Kajian bahasa dalam penggunaannya untuk (Kridalaksana, 2011:225). meneliti hubungan konvensi pemakaian bahasa dengan aspek- aspek lain dari tingkah laku sosial (Criper & Widdowson dalam Chaer, 2004). Bahasa dan Masyarakat kemasyarakatan memberi makna pada bahasa, menyebabkan terjadinya ragam -ragam bahasa (Chaer & Agustina, Menurut Chaer2004:2-3). & Agustina (2004), bahasa sebagai objek dalam sosiolinguistik: dilihat/didekati sebagai sarana interaksi atau tiap kegiatan kemasyarakatan komunikasi di dalam masyarakat manusia tidak lepas rumusandari penggunaan bahasa . Pragmatik dan Pragmatik: fokus kajian bahasa pada Sosiolinguistik hubungan lambang-penutur sosiolinguistik (Chaer & Agustina, 2004:2- 3). Menurut Leech (1983), pertemuan sosiologi-pragmatik: didasarkan pada kenyataan Prinsip Kerjasama dan Prinsip Sopan Santun berperan secara berbeda dalam kebudayaan masyarakat bahasa yang berbeda. deskripsi pragmatik harus dikaitkan dengan kondisi-kondisi sosial tertentu. Kedwibahasaan yang ada di Indonesia, yaitu : Bahasa daerah dan bahasa Indonesia

a. b. c. d. e. f.

1. 2. 3.

Kedwibahasaan di Indonesia (bahasa daerah dan bahasa Indonesia). Penggunaan kedwibahasaan ini dapat terjadi karena : Dalam sumpah pemuda tahun 1928 menggunakan bahasa Indonesia (pada waktu itu disebut Maleis) dikaitkan dengan perjuangan kemerdekaan dan nasionalisme. Bahasa-bahasa daerah mempunyai tempat yang wajar di samping pembinaan dan pengembangan bahasa dan kebudayaan Indonesia. Perkawinan campur antar suku. Perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lain disebabkan urbanisasi, transmigrasi, mutasi karyawan atau pegawai, dan sebagainya. Interaksi antar suku: yakni dalam perdagangan, sosialisasi dan unsur kantor atau sekolah. Motivasi yang banyak didorong oleh kepentingan profesi dan kepentingan hidup. Namun, sering para penutur bahasa daerah yang juga penutur bahasa Indonesia menggunakan bahasa daerahnya yang bersifat informal disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : Pada upacara adat yang mengharuskan penggunaan bahasa daerah akan lebih mengesankan dan lebih sesuai dengan suasana yang diharapakan. Untuk menciptakan suasana khas; umpamanya, antara anggota-anggota keluarga, teman akrab dan sebagainya. Untuk kepentingan sastra dan menikmati budaya. Alih kode terjadi untuk menyesuaikan diri dengan peran, atau adannya tujuan tertentuseorang penutur kadang dengan sengaja beralih kode terhadap mitra tutur karena suatu tujuan. Misalnya mengubah situasi dariresmi menjadi tidak resmi atau sebaliknyauntuk menetralisasi situasi dan menghormati kehadiran mitra tutur ketiga, biasanya penutur dan mitra tutur beralih kode, apalagibila latar belakang kebahasaan mereka berbeda. Untuk membangkitkan rasa humorCampur kode dapat terjadi tanpa adanya sesuatu dalam situasi berbahasa yang menuntut adanya pencampuran bahasa, tetapidapat juga disebabkan faktor kesantaian, kebiasaan atau tidak adanya padanan yang tepat. terjadi apabila seorang penuturmenggunakan suatu bahasa secara dominan mendukung suatu tuturan disisipi dengan unsur bahasa lainnya. Hal ini biasanyaberhubungan dengan karakteristk penutur, seperti latar belakang sosil, tingkat pendidikan, rasa keagamaan. Biasanya cirimenonjolnya berupa kesantaian atau situasi informal. Namun bisa terjadi karena keterbatasan bahasa, ungkapan dalam bahasatersebut tidak ada padanannya, sehingga ada keterpaksaan menggunakan bahasa lain, walaupun hanya mendukung satu fungsi.Campur kode termasuk juga konvergense kebahasaan (linguistic convergence). Campur kode dibagi menjadi dua, yaitu:1. Campur kode ke dalam (innercodemixing):Campur kode yang bersumber dari bahasa asli dengan segala variasinya2. Campur kode ke luar (outer code-mixing): campur kode yang berasal dari bahasa asing. Latar belakang terjadinya campur kodedapat digolongkan menjadi dua, yaitu1. sikap (attitudinal type)latar belakang sikap penutur2. kebahasaan(linguistik type)latar belakang keterbatasan bahasa, sehingga ada alasan identifikasi peranan, identifikasi ragam, dan keinginan untuk menjelaskanatau menafsirkan.Dengan demikian campur kode terjadi karena adanya hubungan timbal balik antaraperanan penutur, bentuk bahasa, dan fungsibahasa.Beberapa wujud campur kode,1. penyisipan kata,2. menyisipan frasa,3. penyisipan klausa,4. penyisipan ungkapan atau idiom, dan5. penyisipan bentuk baster (gabungan pembentukan asli dan asing). Persamaan dan Perbedaan Alih Kode dan Campur KodePersamaan alih kode dan campur kode adalah kedua peristiwa ini lazin terjadi dalam masyarakat multilingual dalam menggunakandua bahasa atau lebih. Namun terdapat perbedaan yang cukup nyata, yaitu alih kode terjadi dengan masing-masing bahasa yangdigunakan masih memiliki otonomi masing-masing, dilakukan dengan sadar, dan disengaja, karena sebab-sebab tertentu sedangkancampur kode adalah sebuah kode utama atau kode dasar yang digunakan memiliki fungsi dan otonomi, sedangkan kode yang lainyang terlibat dalam penggunaan bahasa tersebut hanyalah berupa serpihan (pieces) saja, tanpa fungsi dan otonomi sebagai sebuahkode. Unsur bahasa lain hanya disisipkan pada kode utama atau kode dasar. Sebagai contoh penutur menggunakan bahasa dalamperistiwa tutur menyisipkan unsur bahasa Jawa, sehingga tercipta bahasa Indonesia kejawa-jawaan.Thelander mebedakan alih kode dan campur kode dengan apabila dalam suatu peristiwa tutur terjadi peralihan dari satu klausasuatu bahasa ke klausa bahasa lain disebut sebagai alih kode. Tetapi apabila dalam suatu periswa tutur klausa atau frasa yangdigunakan terdiri atas kalusa atau frasa campuran (hybrid cluases/hybrid phrases) dan masing-masing klausa atau frasa itu tidak lagimendukung fungsinya sendiri disebut sebagai campur kode.Interferensi ialah masuknya unsur suatu bahasa ke dalam bahasa lain yg mengakibatkan pelanggaran kaidah bahasa ygdimasukinya baik pelanggaran kaidah fonologis, gramatikal, leksikal maupun semantis. Dalam peristiwa interferensiterjadi transfer, yaitu penggunaan kaidah bahasa tertentu pada bahasa lainnya. 1. Fungsi bahasa: untuk mengungkapkan perasaan, Sebagai alat komunikasi, Alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial, Sebagai alat kontrol sosial 2. Kedudukan bhs: sbg bhs nasional; Lambang kebanggaan Nasional, Lambang identitas nasional, Alat pemersatu berbagai ragam masyarakat yang berbeda latar belakang sosial budaya dan bahasanya, Alat perhubungan antar budaya daerah. Sbg bhs resmi; Bahasa resmi kenegaraan, Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan, Alat penghubung pada tingkat nasional serta kepentingan pemerintah, Alat pengembang kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi.