Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kecemasan atau ansieti merupakan salah satu bentuk emosi individu yang berkaitan dengan adanya rasa terancam oleh sesuatu,biasanya dengan objek ancaman yang begitu tidak begitu jelas. Kecemasan dengan intensitas nilai ancaman yang wajar dapat dianggap memiliki nilai positif sebagai motivasi,tetapi apabila intensitasnya begitu kuat dan bersifat negatif justru akan menimbulkan kerugian dan dapat mengganggu terhadap keadaan fisik dan psikis individu yang bersangkutan. Kecemasan dapat dialami oleh siapapun dan dimanapun serta kapanpun tergantung dari faktor pencetus dari kecemasan tersebut. Fakta membuktikan bahwa diseluruh lapisan dunia kecemasan paling banyak terjadi setiap harinya.hal ini disebabkan semakin kongkretnya masalah yang terjadi saat ini. Dinegara maju,gangguan jiwa berupa ansietas atau kecemasan menempati posisi pertama dibandingkan dengan kasus lain.oleh karena itu sebagai seorang perawat,kita harus benar-benar kritis dalam menghadapi kasus kecemasan yang terjadi

1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan umum Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Asuhan Keperawatan Jiwa 1.2.2 Tujuan khusus Tujuan khusus dari pembuatan makalah ini adalah agar: a. Mahasiswa mengetahui dan memahami definisi dari ansietas b. Mahasiswa mengetahui dan memahami tanda dan gejala dari ansietas c. Mahasiswa mengetahui dan memahami faktor presidposisi serta presipitasi dari ansietas

BAB II TINJAUAN TEORI ANSIETAS

2.1. Definisi Ansietas adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh situasi. Ketika merasa cemas, individu merasa tidak nyaman atau takut atau mungkin memiliki firasat akan ditimpa malapetaka padahal ia tidak mengerti mengapa emosi yang mengancam tersebut terjadi. Tidak ada objek yang dapat diidentifikasi sebagai stimulus ansietas (Corner, 1992). Ansietas merupakan alat peringatan internal yang memberikan tanda bahaya kepada individu.

2.2. Manifestasi Klinis Gambaran klinis bervariasi, namun dapat berkembang menjadi gejalagejala panik, histeria, fobia, somatisasi, hipokondriasis, dan obsesif kompulsif. Diagnosis gangguan ansietas ditegakkan apabila dijumpai gejalagejala antara lain keluhan cemas, khawatir, was-was, ragu untuk bertindak, perasaan takut yang berlebihan, gelisah, takut mati, takut menjadi gila, yang mana perasaan-perasaan tersebut mempengaruhi hampir diseluruh aspek kehidupannya, sehingga fungsi pertimbangan akal sehat, perasaan dan perilaku terpengaruh. Selain itu dijumpai pula keluhan atau gejala-gejala fisik atau fisiologis tubuh. (Nanda, 2010)

2.3. Tingkat Ansietas Ansietas memiliki dua aspek yakni aspek yang sehat dan aspek membahayakan, yang bergantung pada tingkat ansietas, lama ansietas yang dialami, dan seberapa baik individu melakukan koping terhadap ansietas. Menurut Peplau (dalam, Videbeck, 2008) ada empat tingkat kecemasan yang dialami oleh individu yaitu ringan, sedang, berat dan panik. a. Ansietas ringan adalah perasaan bahwa ada sesuatu yang berbeda dan membutuhkan perhatian khusus. Stimulasi sensori meningkat dan membantu individu memfokuskan perhatian untuk belajar,

menyelesaikan

masalah,

berpikir,

bertindak,

merasakan,

dan

melindungi diri sendiri. b. Ansietas sedang merupakan perasaan yang menggangu bahwa ada sesuatu yang benar-benar berbeda; individu menjadi gugup atau agitasi. c. Ansietas berat, yakni ada sesuatu yang berbeda dan ada ancaman, memperlihatkan respons takut dan distress. d. Panik, individu kehilangan kendali dan detail perhatian hilang, karena hilangnya kontrol, maka tidak mampu melakukan apapun meskipun dengan perintah.

2.4. Rentang Respon Ansietas

2.5. Faktor Predispodi a. Teori Psikoanalisa: ansietas merupakan konflik elemen kepribadian id dan super ego (dorongan insting dan hati nurani). Ansietas mengingatkan ego akan adanya bahaya yang perlu diatasi. b. Teori interpersonal: ansietas terjadi karena ketakutan penilakn dalam hubungan interpersonal. Dihubungkan dengan trauma masa pertumbuhan (kehilangan, perpisahan) yang menyebabkan ketidakberdayaan. Individu yang mengalami harga diri rendah mudah mengalami ansietas. c. Teori perilaku; ansitas timbul sebagai akibat frustasi yang disebabkan oleh sesuatu yang menggaggu pencapaian tujuan. Merupakan dorongan yang dipelajari untuk menghindari rasa nyeri atau rasa sakit. Ansietas meningkat jika ada konflik.

d. Kondisi keluarga: ansietas dapat timbul secara nyata dalam keluarga. Aa overlaps ganguan ansietas dan depresi. e. Keadaan biologis: dapat dipengaruhi ansietas. Ansietas dapat

memperburuk penyakit (hipertensi, jantung, peptic ulcers). Kelelahan mengakibatkan individu mudah terangsang dan merasa ansietas.

2.6. Faktor Presipitasi Stresor presipitasi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang dapat mencetuskan timbulnya kecemasan (Suliswati, 2005). a. Ancaman integritas fisik Merupakan ketidakmampuan fisiologis dan menurunnya kemampuan melaksanakan ADL. b. Ancaman terhadap sistem diri Mengancam identitas, harga diri, integrasi sosial. Misal: phk, kesulitan peran baru. c. Gabungan: Penyebab timbulnya ansietas merupakan gabungan dari genetik, perkembangan, stresor fisik, stresor psikososial.

2.7. Terapi Terapi pada ansietas pada umumnya dapat dilakukan dengan 2 cara yakni terapi psikologis (psikoterapi) atau terapi dengan obat-obatan (farmakoterapi). Angka-angka keberhasilan terapi yang tinggi dilaporkan pada kasus-kasus dengan diagnosis dini. Psikoterapi sederhana sangat efektif, khususnya dalam konteks hubungan pasien dan dokter yang baik, sehingga dapat membantu mengurangi farmakoterapi yang tidak perlu. a. Terapi Psikologis Penyuluhan psikiatrik atau psikologis dan manipulasi lingkungan tidak jarang pula dibutuhkan. Biasanya terapi-terapi psikologis pada ansietas tersebut merupakan bagian dari manajemen untuk mengatasi kebanyakan kondisi medis. Namun untuk melakukan psikoterapi semacam itu tidak selalu mungkin dapat dilakukan, khususnya yang ada dalam rumah sakit.

Jangkauan dari ketersediaan pelayanan seringkali terbatas, dan tidak semua pasien siap untuk menyetujui sebuah skenario tertentu. Terapi pada ansietas tidak harus dilakukan oleh seorang psikiatri, namun seharusnya dapat diterapkan oleh semua dokter yang berkompeten, sehingga keterbatasan pelayanan dapat diatasi(House cit Stark, 2002). Memberikan informasi selalu menjadi langkah awal dalam menolong pasien ansietas, yang mana informasi yang diberikan harus sesuai dengan kadarnya dan selalu memberikan harapan yang besar bagi setiap individu untuk sembuh. Kebanyakan pasien menginginkan sebuah kejelasan dan informasi mengenai kondisi yang sedang ia alami, dengan melakukan tindakan tadi, menunjukkan kepada pasien bahwa mereka benar-benar diperdulikan dan dirawat. Komunikasi yang efektif adalah esensial dalam pemberian informasi, dokter-dokter terlatih dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan terbuka dari pasien, mampu memahami kondisi psikis, dan kemampuan memberikan nasehat-nasehat yang baik sangat dibutuhkan, sehingga akan tercipta komunikasi yang efektif. Yang mana akan mampu membantu pasien dalam mengurangi beban psikisnya(House cit Stark, 2002) b. Terapi Religi Terapi ini sering digolongkan sebagai sebuah terapi psikis, namun sayangnya tidak semua dokter berkompeten mampu melakukannya, dan terapi ini biasanya hanya dapat dilakukan oleh seorang yang memang ahli dalam bidang spiritual. Terapi religi biasanya membantu pasien untuk lebih tenang dan memberi waktu pasien untuk memahami dirinya sendiri, sehingga menciptakan sebuah kesadaran dalam diri sendiri. Hal ini cenderung lebih efektif karena kesadaran tersebut muncul dari diri sang pasien sendiri. Terapi ini dilakukan melalui sharing kepada ahli religi yang dipercaya oleh penderita, dan kemudian ahli religi tersebut memberi nasehat-nasehat untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, namun tak jarang juga terapi semacam ini dilakukan secara invidual tanpa seorang agamawan yang

membimbing. Terapi semacam ini terkadang pada akhirnya juga membentuk sebuah karakteristik atau watak yang baru dari penderita. c. Terapi farmakologi Beberapa jenis obat-obatan biasanya dapat digunakan untuk mengatasi dan mengurangi ansietas, dan masing-masing obat memiliki keuntungan dan kekurangan masing-masing. Penggunaan suatu zat dalam jangka waktu yang lama pun tidak akan membuahkan hasil yang baik untuk kesehatan fisik sang pasien sendiri. Obat-obatan yang paling sering digunakan dalam mengatasi ansietas adalah benzodiazepine(BDPs) (Fracchione, 2004). Adapun beberapa jenis obat yang lazim digunakan adalah : Diazepam Lorazepam Alprazolam Propanolol Amitriptilin

Penghentian suatu konsumsi zat tertentu juga dapat membantu mengurangi ansietas, biasanya penggunaan beberapa zat yang mengandung analgesik dan alkohol yang mana telah disinggung diatas tadi, bahwa konsumsi zat-zat tersebut sebenarnya merupakan sebuah pelarian dari gejalagejala ansietas namun pada akhirnya pada situasi tertentu, penghentian zat-zat tersebut malah menjadi bagian yang penting untuk program manajemen ansietas. Karena ketergantungan terhadap zat-zat tersebut dapat memicu timbulnya ansietas yang lebih, meskipun pada awal penggunaannya terasa membantu meringankan gejala-gejala ansietas penderita.

BAB III RESUME KASUS

Ny. I dengan usia 45 tahun, masuk RS Dr. Soerojo Magelang pada tanggal 22 Maret 2013 dengan alasan klien panik menarik diri, menghindari kontak sosial terutama pada pria. Klien depresi dan takut berlebihan. Klien sebelumnya tidak pernah mengalami gangguan jiwa. Dan klien melakukan penolakan diri dai lingkungan dikarenakan masalahnya. Adik klien mengatakan tidak ada keluarga yang mengalami gangguan jiwa seperti klien. Pengkajian dilakukan pada tanggal 23 Maret 2013, dan dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan data TD= 150/90 mmHg, N= 85xmenit, S= 36,20C, RR=22 x/menit, BB= 52 kg, TB= 165 cm. Pandangan klien terlihat kosong. Klien merasa sudah tidak cantik lagi dan merasa banyak kekurangan pada dirinya sehingga suaminya berpaling pada wanita lain. Klien mengatakan ingin segera sembuh dari penyakitnya tetapi klien tidak ingin pullang ke rumahnya karena tidak ingin bertemu dengan suaminya. Klien merasa minder dengan masyarakat sekitar karena sudah ditinggal selingkuh oleh suaminya. Klien dalam kesehariannya jarang bergaul dengan tetangganya. Kegiatan kelompok tidak pernah klien ikuti. Menurut klien orang yang sangat berarti dalam hidupnya adalah suami dan anak-anaknya. Klien mengataka ntidak pernah ikut dalam kegiatan kelompok dalam masyarakat seperti arisan, PKK, dll. Klien mengatakan bahwa klien adalah orang yang lebih banyak diam dan mengatakan malas bertemu atau berbicara dengan orang lain. Klien jerang bergaul. Klien beragama islam, dan percaya bahwa Tuhan, surga dan neraka itu ada. menjalankan sholat 5 waktu. Penampilan cukup rapi, rambut disisir rapi, pakaian yang dikenakan sesuai, tidak terlalu besar dan kecil. Klien juga memakai alas kaki. Pembicaraan klien pelan, malah terkadang tidak mau berbicara sama sekali, nada suara rendah, kontak mata kurang dan selalu menunduk dan suka menyendiri. Klien lebih banyak diam di pojook ruangan selama di rumah sakit. Aktivitas motorik tidak mengalami gangguan sperti mandi, ganti baju atas inisiatif sendiri dan dilakukan Selama sakit klien tidak pernah

secara mansiri tetapi klien jarang mau untuk makan. Afek kurang serasi, klien kuang merespons dengan benar stimulus yang diberikan. Klien kurang okoperatif, kurang merespons dengan benar stimulus yang diberikan. Pandangan klien sering menunduk dan kosong. Saat dikaji klien mengatkan tidak ada halusinasi. Pembicaraan klien bisa dimengerti oleh perawat, selama komunikasi dengan perawat dapat diobservasi bahwa pembicaraan klien terarah, jawaban klien koheren dengan pertanyaan yang diajukan. Saat interaksi dengan perawat klien mengatakan bahwa ia merasa tidak berharga karena ditinggal oleh suaminya. Tingkat kesadaran baik, orientasi tempat, waktu dan orang baik, klien mengetahui sekarang berada dirumah sakit jiwa Lawang, klien mengetahui hari, tanggal dan jam, klien dapat membedakan pagi, siang dan malam. Klien tidak mengaami gangguan memori, kemampuan beronsentrasi ataupun pengambilan keputusan. Klien mengakui dan sadar bahwa dirinya sedang sakit dan ingin segera sembuh. Selama dirumah sakit klien makan 3x sehari dengan komposisi nasi, sayur, lauk dan buah tetapi kadang dimakan kadang tidak. Pola buang air besar klien tidak teratur. Buang air kecil tidak mengalami masalah. Dalam buang air besar dan buang air kecil klien di kamar mandi / WC atau inisiatif sendiri, begitu juga menbersihkan diri setelah buang air besar / buang air kecil. Klien mandi 2x sehari atas inisiatif sendiri. Selama di rumah sakit klien berpakaian rapi dan terlihat sesuai tubuhnya. Klien berpakaian sendiri dan ganti setiap hari. Klien mengalami gangguan tidur. Selama di rumah sakit penggunaan obat klien diatur oleh perawat, pemeriksaan kesehatan silakukan setiap hari oleh perawat pula. Dari data yang terkumpul, dapat diangkat masalah keperawatan kecemasan berat. Dan therapi oral yang diberikan adalah Benadryl 25-50 mg, Atarax 25-50 mg, Diazepam 15 mg, dan Hlcion 0,125-0,25 mg. Intervensi yang disusun mempunyai tujuan umum untuk meghlangkan kecemasan klien. Intervensi disusun pada tanggal 23 Maret 2013. Intevensinya yaitu yang pertama bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terapeutik: Sapa klien dengan ramahbaik verbal maupun non verbal, perkenalkan diri dengan sopan, tanyakan nam lengkap pasien dan nama panggilan yang disukai klien,jelaskan tujuan pertemuan, jujur dan menepati janji, tunjukkan sikap empati

dan menerima klen apa adanya, beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasra klien. Kedua, eksplorasi perasaan cemas klien, perlihatkan diri sebagai orang yang hangat, menjadi pendengar yang baik. Ketiga, bantu klien mengenali perasaan cemas dan menyadari nilainya. Keempat, Melakukan komunikasi dengan teknik yang tepat dan di mulai dari topik yang ringan. Kelima, bantu klien mengidentifikasi respon terhadap stress. Setelah dilakukan tindakan selama 3 hari dari rencana yang telah disusun, hasil evaluasi pada pasien pada tanggal 25 Maret 2013, jam 09.30 WIB adalah Klien dapat menyebutkan nama perawat, klien mengatakan akan mencuci gelas dan sendok setelah makan. Data obyektifya klien duduk disamping perawat, mau berjabat tangan, ingat nama perawat, mulai kooperatif, dan membuat jadwal kegiatan bersama perawat. Sebagin tujuan khusus sudah tercapai dan sebagian lagi sedikit tercapai. Planning selanjutnya adalah mengoptimalkan kegiatan agar tujuan khusus dapat tercapai semua.

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Kecemasan atau ansietas adalah reaksi emosional terhadap penilaian individu yang subjektif,yang dipengaruhi oleh alam bawah sadar dan tidak diketahui secara khusus penyebabnya. Pada kasus Ny I, terdapat tanda-tanda ansietas, sehingga dapat diangkat masalah ansietas pada klien. Ansietas yang dialami Ny. I termasuk dalam tingkatan ansietas berat.

10

DAFTAR PUSTAKA

Hawari, D. 2008. Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI Mansjoer, A. 1999. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 1. Jakarta: Penerbit Aesculapius Stuart, G.W., dan Sundden, S.J. 1995. Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 3. Jakarta: EGC Suliswati, dkk. 2005. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC Videbeck, S.J. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC Yosep, Iyus. 2010. Keperawatan Jiwa (Edisi Revisi). Bandug: PT Refika Aditama International,NANDA. 2010. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasfikasi 2009-2011. Alih bahasa Made Sumarwati, Dwi Widiarti, Estu Tiar. Jakarta: EGC

International,NANDA. 2012. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasfikasi 2012-2014. Alih bahasa Made Sumarwati, Dwi Widiarti, Estu Tiar. Jakarta: EGC

Taylor,Cynthia M. 2010. Diagnosis Keperawatan: dengan rencana asuhan keperawatan. Alih bahasa:Eny Meiliya. Jakarta: EGC

11