Anda di halaman 1dari 6

Ginjal Ginjal yaitu sistem penyaringan alami tubuh manusia yang melakukan banyak fungsi penting.

Fungsi ginjal diantaranya menghilangkan bahan ampas sisa metabolisme dari aliran darah, mengatur keseimbangan tingkat air dalam tubuh, dan menahan pH (tingkat asam-basa) pada cairan tubuh. Kurang lebih 1,5 liter darah dialirkan melalui ginjal setiap menit. Dalam ginjal, senyawa kimia yang ampas disaring dan dihilangkan dari tubuh (bersama dengan air berlebihan) sebagai air seni. Penyaringan ini dilakukan oleh bagian ginjal yang disebut sebagai glomeruli. Untuk informasi lebih lanjut mengenai penyakit ginjal (Wijaya, 2013). Banyak kerusakan dapat mempengaruhi kemampuan ginjal dalam melakukan tugasnya. Beberapa dapat mengakibatkan penurunan fungsi ginjal secara cepat (akut); yang lain dapat menyebabkan penurunan yang lebih lamban (kronis). Keduanya menghasilkan penumpukan bahan ampas yang toksik (racun) dalam darah. Adalah sulit mengukur kerusakan ini secara langsung. Oleh karena itu, dibentuk beberapa tes laboratorium yang memberi gambaran mengenai kesehatan ginjal. Tes ini disebut sebagai tes fungsi ginjal atau faal ginjal, dan dapat membantu menentukan penyebab dan tingkat masalah ginjal. Tes dilakukan pada contoh urin dan darah (Anonim, 2012). Kecepatan Penyaringan Glomeruli

Tes ini, yang umumnya disebut sebagai GFR (glomerular filtration rate), mengukur jumlah darah yang disaring oleh ginjal setiap menit. Walau GFR ini dapat diukur, prosesnya rumit dan hanya dilakukan dalam sarana penelitian. (Wijaya, 2013).

Tes Kreatinin

Salah satu bahan ampas yang disaring oleh glomeruli adalah senyawa yang disebut kreatinin. Kreatinin adalah bahan ampas dari metabolisme tenaga otot, yang seharusnya dikeluarkan oleh ginjal dari darah ke air seni. Jadi jumlah kreatinin yang dikeluarkan ke air seni selama beberapa jam dapat menunjukkan tingkat kerusakan (bila ada) pada glomeruli. Tes ini disebut sebagai keluaran kreatinin (creatinine clearance), dan hasil tes ini dapat kurang lebih sama dengan GFR (Wijaya, 2013). Namun tes tetap agak rumit. Oleh karena itu, sekarang umumnya GFR diestimasikan (eGFR) berdasarkan tingkat kreatinin dalam darah. Kemudian, eGFR dihitung dengan memakai salah satu dari beberapa rumusan, yang memakai variabel terkait usia, jenis kelamin dan (kadang) ras dan/atau berat badan. Juga ada rumusan khusus untuk anak, yang memakai variabel lain. Hasil diungkap sebagai volume darah yang disaring dalam mL/menit. Namun ada keraguan mengenai rumusan terbaik untuk rangkaian dan ras yang berbeda, dan untuk Odha (Anonim, 2013).

Tes Lain yang Penting

Ada beberapa tes lain yang penting untuk memastikan fungsi hati: Analisis air seni: Contoh air seni diperiksa secara fisik untuk ciri termasuk warna, bau, penampilan, dan kepadatan; diperiksa secara kimia untuk unsur termasuk protein, glukosa, dan pH; dan di bawah mikroskop untuk keberadaan unsur sel (sel darah merah dan putih, dll.), bakteri, kristal, dsb. Tekanan darah: Tekanan darah tinggi dapat menjadi salah satu faktor yang menekankan penyakit ginjal. Hal ini juga dapat menunjukkan bahwa ginjal sudah dirusakkan. Keberadaan protein dalam air seni: Ginjal yang sehat menyaring semua protein dari darah dan menyerapnya kembali, sehingga tingkat protein dalam air seni tetap rendah. Ditemukan protein dalam air seni adalah tanda penyakit ginjal.

Tes Penunjang Ada beberapa tes lain yang dapat dilakukan: Keluaran urea. Urea adalah bahan ampas dari metabolisme protein, dan dikeluarkan dalam air seni. Seperti keluaran kreatinin, tes ini mengukur jumlah urea yang dikeluarkan ke air seni selama beberapa jam, dan juga membutuhkan pengukuran tingkat urea dalam darah (Wijaya, 2013). Osmologi air seni. Tes ini mengukur jumlah partikel (bibit) yang dilarutkan dalam air seni, untuk menilai kemampuan ginjal untuk mengatur kepekatan air seni sebagaimana konsumsi air meningkat atau menurun. Nitrogen urea darah (blood urea nitrogen/BUN). Urea adalah produk samping dari metabolisme protein. Bahan ampas ini dibentuk oleh hati, kemudian disaring oleh ginjal dan dikeluarkan dalam air seni oleh ginjal. Tingkat BUN dalam darah dapat menandai masalah ginjal, tetapi karena juga dipengaruhi oleh fungsi hati (lihat LI 135), tes harus dilakukan bersamaan dengan pengukuran kreatinin, yang lebih khusus menandai masalah ginjal. Tes lain. Pengukuran tingkat zat lain, yang seharusnya diatur oleh ginjal, dalam darah dapat membantu menilai fungsi hati. Zat ini termasuk zat natrium, kalium, klorida, bikarbonat, kalsium, magnesium, fosforus, protein, asam urat dan glukosa.

Hasil Tes LI 120 menunjukkan nilai normal atau nilai rujukan untuk beberapa tes di atas. Harus ditekankan bahwa nilai ini berbeda tergantung pada alat yang dipakai pada laboratorium yang melakukan tes dan cara penggunaannya. Laporan laboratorium yang kita terima setelah melakukan tes

menunjukkan nilai rujukan yang berlaku. Bila kita ingin dapat komentar mengenai hasil tes, sebaiknya kita menyebut hasil tes dan nilai rujukan (Wijaya, 2013). Hasil tes GFR menunjukkan kerusakan pada ginjal, sebagaimana berikut:Tahap Penyakit Ginjal Kronis Stadium GFR Gambaran

1. 2.

90 60-89

Normal Fungsi berkurang ginjal sedikit

3.

30-59

Penurunan

fungsi

ginjal

sedang, bukti kerusakan lain 4. 5. (Wijaya, 2013). Karena dipengaruhi oleh masalah lain, tingkat BUN yang tinggi secara sendiri tidak tentu menandai masalah ginjal, tetapi memberi kesan adanya. Sebaliknya, tingkat kreatinin yang tinggi dalam darah sangat spesifik menandai penurunan pada fungsi ginjal. Ketidakmampuan ginjal untuk mengatur kepekatan urin sebagai tanggapan pada perubahan dalam konsumsi cairan, yang ditandai oleh tes osmologi dapat menandai penurunan pada fungsi ginjal. Karena ginjal yang sehat tidak mengeluarkan protein pada air seni, tetap ada protein dalam air seni juga menandai beberapa jenis penyakit ginjal. Penghapusan sebenarnya 15-29 <15 Penurunan fungsi ginjal berat Kegagalan ginjal

limbah terjadi dalam unit kecil di dalam ginjal disebut nefron. Setiap ginjal memiliki sekitar satu juta nefron. Pada nefron, sebuah glomerulus-yang merupakan pembuluh darah kecil, atau kapiler-intertwines dengan tabung urin-mengumpulkan kecil yang disebut tubulus

sebuah. Glomerulus bertindak sebagai unit penyaringan, atau saringan, dan membuat protein normal dan sel-sel dalam aliran darah, sehingga cairan tambahan dan limbah untuk

melewati. Sebuah pertukaran kimia rumit berlangsung, sebagai bahan limbah dan air meninggalkan darah dan memasuki sistem kemih (NIDDK, 2009).

Persamaan Cockcroft-Gault paling sering digunakan untuk menghitung bersihan kreatinin karena memperhitungkan kreatinin serum pasien, bobot badan, jenis kelamin, dan usia, seperti diperlihatkan berikut ini: Untuk pria: CrCl (mL/menit =
( )

Untuk wanita: CrCl = 0,85 x CrCl untuk pria (Ansel, 2006). Meskipun demikian, persamaan ini dapat menjadi tidak akurat untuk pasien yang gemuk atau yang fungsi ginjalnya menurun dengan cepat, sehingga mungkin dibutuhkan analisis fungsi ginjal yang lebih mendalam. Pada beberapa kasus, penyesuaian bersihan kreatinin pasien terhadap luas permukaan tubuh mungkin perlu dilakukan untuk mempertimbangkan kemungkinan penggunaan variabel ini dalam penentuan dosis obat. Untuk itu, dibutuhkan luas permukaan tubuh pasien dalam rumus di bawah ini:
( )

(Ansel, 2006).

Sehubungan banyaknya tugas (fungsi) yang diemban ginjal yang berpengaruh terhadap organorgan tubuh lainnya, selain itu GGK mempunyai gradasi dari ringan sampai berat tergantung seberapa besar kerusakan yang dialami ginjal, maka gejala-gejala Gagal Ginjal Kronik bila diuraikan akan cukup banyak dan banyak penyakit/penyebab lain yang juga memiliki gejala serupa.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Tes Fungsi Ginjal. Available online at http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=136 [Diakses pada tanggal 12 April 2013)

Ansel, H. C., dan S. J, Prince. 2006. Kalkulasi Farmasetik: Panduan untuk Apoteker. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.

NIDDK.

2009.

The

Kidneys

and

How

They

Work.

Available

online

at:

http://kidney.niddk.nih.gov/Kudiseases/pubs/yourkidneys/ [diakses tanggal 12 April 2013] Wijaya, A.M. 2013. Gagal Ginjal Kronik Stadium Akhir. Available online at

http://www.infodokterku.com/index.php?option=com_content&view=article&id=24%3A gagal-ginjal-kronik-chronic-renal-failure-stadium-akhir&catid=29%3Apenyakit-tidakmenular&Itemid=38&limitstart=1 [Diakses pada tanggal 12 April 2013]