Anda di halaman 1dari 14

MANAJEMEN PENGOLAHAN AIR DAN MANAJEMEN ENERGI SURYA

Oleh: 1. Fachru Reza Rochili (F34110012) 2. Anisa Nurul Rosnadia (F34110016) 3. Idham Dhia Fairuztama (F34110027) 4. Nataliya Sukmawati P. (F34110031) 5. Aryosan Tetuko Haryono (F34110032) 6. Nia Khairina (F34110041) 7. Putri Andini (F34110050) 8. Libna Khaira (F44100022)

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2013

Latar Belakang Indonesia merupakan Negara yang terletak di garis khatulistiwa dan memiliki dua musim, yakni hujan dan kemarau. Rata-rata curah hujan di Indonesia untuk setiap tahunnya tidak sama. Namun masih tergolong cukup banyak, yaitu rata-rata 2000 3000 mm/tahun. Begitu pula antara tempat yang satu dengan tempat yang lain ratarata curah hujannya tidak sama. Ada beberapa daerah yang mendapat curah hujan sangat rendah dan ada pula daerah yang mendapat curah hujan tinggi: a. Daerah yang mendapat curah hujan rata-rata per tahun kurang dari 1000 mm, meliputi 0,6% dari luas wilayah Indonesia, di antaranya Nusa Tenggara, dan 2 daerah di Sulawesi (lembah Palu dan Luwuk). b. Daerah yang mendapat curah hujan antara 1000 - 2000 mm per tahun di antaranya sebagian Nusa Tenggara, daerah sempit di Merauke, Kepulauan Aru, dan Tanibar. c. Daerah yang mendapat curah hujan antara 2000 - 3000 mm per tahun, meliputi Sumatera Timur, Kalimantan Selatan, dan Timur sebagian besar Jawa Barat dan Jawa Tengah, sebagian Irian Jaya, Kepulauan Maluku dan sebagaian besar Sulawesi. d. Daerah yang mendapat curah hujan tertinggi lebih dari 3000 mm per tahun meliputi dataran tinggi di Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, dataran tinggi Irian bagian tengah, dan beberapa daerah di Jawa, Bali, Lombok, dan Sumba. Manajemen penanganan air di Indonesia selama ini masih kurang baik, sehingga ketika musim hujan, kerap kali terjadi banjir. Bahkan ibukota, yang menjadi wajah depan Indonesia, tak pernah lepas dari bencana banjir. Hal ini tentunya menimbulkan banyak kerugian, baik fisik maupun materiil. Kerugian-kerugian tersebut antara lain harusmengungsinya warga yang terkena banjir, krisis air bersih, berbagai penyakit bermunculan, bahkan gagal panen hinga berhektar-hektar. Oleh karena itu, manajemen airhujan

merupakan hal yang amat penting untuk dikaji agar dapat menghasilkan solusi yang bauk terhadap permasalahan banjir Fakta-fakta penyebab banjir di Indonesia Penyebab banjir di Indonesia adalah meluapnya air sungai yang kemudian membanjiri daerah di pesisir sungai, serta hujan deras yang diikuti longsor yang diakibatkan hutan yang ditebangi sehingga tidak dapat menahan laju air yang menuruni lereng gunung/bukit. Selain itu, perubahan iklim telah mengakibatkan kenaikan curah hujan, sehingga hujan-hujan yang terjadi sekarang lebih deras ketimbang hujan-hujan bertahun-tahun yang lalu. Contohnya adalah DKI Jakarta. Permasalah luas tanah di Jakarta tidak bertambah atau malah makin menyempit karena abrasi, sementara penduduk terus bertambah. Tanah kosong atau jalur hijau yang diharapkan menjadi lahan serapan air semakin berkurang karena pemukiman dan fasilitas bisnin yang terus bertambah dan melebar secara horizontal. Terakhir, bantaran sungai yang mestinya menampung air pada saat pasang, umumnya tertutup oleh pemukiman kumuh di sekitar sungai, baik resmi maupun liar dan sampahsampah. Lebar sungai-sungai di Jakarta semakin menyempit, dari umumnya 75 meter menjadi 35 meter.

Contoh kasus banjir di beberapa daerah di Indonesia Berikut beberapa kejadian banjir yang terjadi di pulau Jawa : 1. Banjir di dua kecamatan di Kabupaten Sukabumi Jawa Barat yaitu di Desa Kebon Manggu Kecamatan Gunung Guruh dan di desa Bojong Kecamatan Cikembar. Tinggi banjir mencapai satu meter dan puluhan rumah terendam. Banjir ini disebabkan drainase yang buruk. 2. Banjir merendam rumah milik 29 keluarga di dua dusun di Desa Jatirejo Kecamatan Giritontro, Wonogiri Jawa Tengah. Tiga rumah rusak karena bencana tanah longsor yang disebabkan banjir. 3. Banjir terjadi di Kabupaten Manokwari, Papua Barat pada hari Sabtu, 16 Maret 2013. Banjir terjadi karena dipicu oleh hujan deras yang mengguyur daerah ini selama lima jam dari sore hingga malam. Akibatnya ratusan rumah di Kelurahan Wosi, Distrik Manokwari terendam banjir, bahkan di kompleks Jalan Pertanian Wosi Dalam banjir mencapai ketinggian dua meter. Selain itu masih ada empat

likasi lain yang juga terendam banjir di kelurahan Wosi, yaitu Kompleks Kampung Bugis, Kampung Jawa, Kompleks Transito, dan Kompleks Tanimbar. Selain akibat hujan deras selama lima jam, banjir juga disebabkan luapan sungai Transito Wosi yang terletak tak jauh dari pemukiman warga. Menurut warga, banjir kerap kali terjadi karena kondisi sungai Transito kecil yang tak mampu menampung debit air yang terlalu banyak saat hujan deras datang. Meski tak menimbulkan korban jiwa dan kerusakan berarti, namun sejumlah warga terjebak air saat hendak mengungsi dan tetap waspada karena khawatir banjir kembali datang mengingat intensitas hujan di kota Manokwari masih diatas normal.

Penanganan Air Hujan Adapun solusi yang bisa dilakukan adalah membuat biopori dan sistem drainase yang baik. Biopori adalah lubang-lubang di tanah yang terbentuk karena aktifitas organisme di dalamnya (cacing, rayap, akar tanaman ,dll). Dengan adanya biopori maka kemampuan tanah untuk menyerap air akan lebih tinggi. Biopori dapat diperbanyak dengan cara membuat lubang resapan biopori di tanah dan mengisinya dengan zat-zat organik (sebagai makanan organisme dalam tanah). Dengan bertambahnya makanan, organisme dalam tanah akan lebih aktif menciptakan biopori. Keuntungan membuat biopori ini adalah dapat meningkatkan daya resapan air dan mengurangi resiko banjir, mengubah sampah organik menjadi kompos, mengefisienkan pemanfaatan fauna tanah dan akar tanaman, dan dapat mengurangi emisi gas CO2. Cara pembuatan biopori ini adalah dengan membuat lubang silindris vertical di dalam tanah dengan diameter 10cm. Kedalamannya kurang lebih 100 cm atau tidak melebihi kedalaman air tanah jika air tanahnya dangkal. Jarak antar lubang 50 100 cm. Mulut lubang dapat dipertebal dengan semen dengan ketebalan 2-3 cm dan lebar 2 cm. Lubang diisi dengan sampah organik (sampah dapur, hasil pangkasan rumput, dll). Jika sudah berkurang isi lagi. Lubang ini harus tetap terisi penuh dan tidak boleh kemasukan pasir atau tanah. (sampah yang berpotensi menimbulkan bau dapat direndam dengan sampah kering yang menyumbat lubang). Kompos yang terbentuk di dalam lubang dapat diambil setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang.

Gambar Biopori Lokasi biopori sebaiknya bebas dari lalu lalang, sering dilalu air, dan dekat dengan tanaman. Lokasi yang sering digunakan sebagai tempat pembuatan biopori adalah di saluran air dan di sekitar tanaman. Solusi selanjutnya adalah dengan membuat saluran drainase yang baik. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat tata kota yang baik. Adapun tata kota yang baik adalah sebaiknya menyusun jalan-jalan utama dan jalan kecil melewati kota atau membuangnya keluar dari kota. Selain tata kota, hal penting lainnya adalah sistem pembuangan air dan gorong-gorong kota. Pada saat hujan, volume air di dalam kota sedang tinggi, dengan sistem pembuangan air dan gorong-gorong yang baik maka banjir dalam kota dapat dihindari. Hal ini bisa direalisasikan apabila ada kerjasama antara pemerintah sebagai pembuatan kebijakan dan warga sebagai pelaksana kebijakan. Pada zaman kerajaan Majapahit, pembuatan saluran air yang baik telah dilakukan. Jaringan kanal yang dibangun oleh zaman kerajaan Majapahit berbentuk lurus dengan pola berkisi-kisi, menurut Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia Prof Mundardjito, menunjukkan adanya kekuatan penguasa dan massa yang besar untuk membuatnya.Fungsinya diperkirakan sebagai pengendali banjir atau drainase kota, penyedia air, irigasi, dan transportasi. Selain kanal, di sekitar Trowulan bisa

dilihat sisa instalasi pengairan yang mendukung kehidupan kerajaan dan masyarakat. Kolam Segaran seluas 6,5 hektar di Kecamatan Trowulan bisa dilihat sebagai penampung air. Adapun waduk-waduk, seperti Balong Bunder dan Balong Dowo yang masih tersisa, diduga berfungsi sebagai penangkap air dari berbagai sumber di gunung-gunung di selatan Trowulan. Saluran air bawah tanah dan sumur, baik berbentuk segi empat, bulat, maupun tipe jobong, masih banyak ditemukan di Trowulan kendati mulai rusak atau hilang. Selain di Desa Watesumpak dan di Desa Bejijong, saluran air bawah tanah juga masih tampak di Desa Nglinguk. Di Nglinguk, saluran air bawah tanah seperti selokan kecil yang disusun dari bata. Hal ini menunjukkan bahwa pihak kerajaan Majapahit pun telah memiliki kesadaran akan manajemen air dan memberikan yang terbaik terhadap rakyatnya. Teknologi yang terbatas pun tidak menghalangi Majapahit untuk membuat sistenm drainase yang baik. Selain Majapahit, zaman sekarang di Negara-negara maju, saluran air bawah tanah merupakan instalasi yang selalu ada. Salah satunya yakni saluran air yang terdapat di Kasukabe, Saitama, Jepang. Saluran ini merupakan saluran air bawah tanah terbesar di dunia, dibangun untuk mencegah meluapnya saluran air utama kota.

Berikutnya yakni pembuatan sumur resapan.

Hal ini sangat efektif untuk

dilakukan karena pembuatan talud membutuhkan dana yang jauh lebih tinggi daripada sumur resapan. Beberapa hal yang menjadi dasar bahwa sumur resapan merupakan solusi yang sangat efektif untuk menangani banjir. Pertama, sumur resapan sangat efektif meresap air. Kedua, sumur resapan dapat menyerap air dalam waktu yang sangat singkat sehingga dapat mencegah terjadinya genangan air. Ketiga, seratus persen air hujan dapat masuk kedalam sumur resapan. Keempat, sumur

resapan sangat sederhana dalam pembuatannya. Selain itu sumur resapan juga dapat digunakan sebagai recharge untuk air tanah. Persyaratan umum yang harus dipenuhi sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) antara lain : 1. Sumur resapan harus berada pada lahan yang datar 2. Sumur resapan berjarak lima meter dari tempat penimbunan sampah dan septic tank dan berjarak minimal satu meter dari pondasi bangunan. 3. Kedalaman sumur resapan maksimal dua meter dibawah permukaan air tanah. Kedalaman muka air tanah minimum 1,5 meter pada musim hujan. 4. Struktur tanah harus mempunyai permeabilitas tanah minimal 2cm per jam yang berarti dalam 1 jam mampu menyerap genangan air setinggi 2cm. Pembuatan sumur resapan dibedakan berdasarkan kondisi rumah dan lingkungannya yaitu, untuk rumah dengan talang air, untuk rumah tanpa talang air, dan untuk area terbuka (taman). Cara pembuatan sumur resapan air pada rumah dengan talang air adalah : 1. Buatlah sumur dengan diameter 80-100cm sedalam 1,5m namun tidak melebihi muka air tanah. 2. Untuk memperkuat dinding tanah, pasangkan bata kosong (tanpa plesteran). 3. Buatlah saluran pemasukan yang mengalirkan air hujan dari talang kedalam sumur resapan dengan menggunakan pipa paralon. 4. Buatlah saluran pembuangan deri sumur resapan menuju parit yang berfungsi membuang limpahan air saat sumur resapan kelebihan air. Ketinggian pipa pembuangan harus lebih tinggi dari muka air tanah tertinggi pada selokan drainase jalan tersebut. 5. Isi lubang sumur resapan air dengan koral setebal 15cm. 6. Tutup bagian atas sumur resapan bata dan semen atau plat beton. Diatasnya dapat diurug dengan tanah.

Sumber gambar:
www.kelair.bppt.go.id

Kesimpulan Bebagai permasalahan bisa terjadi akibat melimpahnya air di musim hujan, apalagi perubahan iklim telah menyebabkan meningkatnya curah hujan di Indonesia. Salah satu masalah yang kerap kali terjadi di musim hujan yakni banjir. Hal inilah yang mendasari pentingnya manajemen air dilakukan.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk manajemen air yakni pembuatan lubang resapan biopori, drainase bawah tanah, dan pembuatan sumur resapan

Latar Belakang Energi merupakan salah satu hal yang amat penting dalam peradaban kehidupan manusia dewasa ini. Energi merupakan sector penting yang menjadi roda

pemutar bagi berjalannya berbagai industry untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun, pada kenyataannya, eksploitasi sumber energy yang berasal dari fosil telah terjadi sedemikian rupa sehingga terjadi krisis energy. Untuk menjaga keberadaan energy hingga masa depan dan tidak mengganggu keberlangsungan hidup saat ini, maka manajemen energy perlu dilakukan. Salah satu bentuk manajemen energy yakni mencari elternatif lain dari sumber energy yang kita gunakan. Salah satu sumber energy yang amat potensial yakni matahari.

Penyinaran matahari ke bumi tidak pernah berkurang, dan sayang jika sumber ini terus menerus ada namun tidak dimanfaatkan. Manajemen Energi Manajemen energi adalah kegiatan pengelolaan energi yang meliputi pemantauan, pencatatan, pengukuran, akuntansi, penetapan target dan

rekomendasi tindak lanjut. Di tengah krisis global yang melanda bangsa, baik itu krisis ekonomi, krisis moral, maupun krisis energi, kita sebagai suatu bangsa masih saja bersikap boros. Kita masih boros mengkonsumsi energi listrik maupun energi bahan bakar minyak dan gas. Dan untuk itu , kita sebagai suatu bangsa diharapkan mampu menggunakan dan memanfaatkan energi tersebut secara efisien. Efisiensi energi sendiri merupakan perbandingan antara masukan (input) energi dengan keluaran (output) dari manfaat penggunaan energi tersebut. Peningkatan efisiensi energi dapat mengurangi biaya dan meningkatkan daya saing perusahaan. Manfaat manajemen energi : - Mencapai target Efisiensi Energi yang ditetapkan - Menurunkan Spesifik Energi & Intensitas Energi - Konsumsi Energi / Unit Produk - Konsumsi Energi / Pendapatan Usaha - Menjaga kesinambungan program Konservasi Energi

- Mengantisipasi Perubahan & Resiko Usaha - Menjaga keseimbangan kepentingan Stake-Holder, Konsumen, Pemegang Saham, Karyawan, Direksi, Pemerintah - Melestarikan Lingkungan Manajemen energi di tanah air selama ini lebih memprioritaskan pada bagaimana menyediakan energi atau memperluas akses terhadap energi kepada masyarakat. Hal ini diwujudkan antara lain melalui peningkatan eksploitasi bahan bakar fosil atau pembangunan listrik perdesaan. Konsumsi energi sendiri bertumbuh dengan pesat, dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi. Ini diakibatkan karena permintaan pasokan energi yang semakin hari semakin meningkat. Di antara sumber energi terbarukan yang saat ini banyak dikembangkan (seperti turbin, tenaga air, energy gelombang air laut, tenaga surya, tenaga panas bumi, dan bio-energi). Tenaga surya atau solar merupakan salah satu sumber enrgi yang cukup menjanjikan. Energi surya atau matahari telah dimanfaatkan dengan mengubah energi panas surya melalui peralatan tertentu menjadi sumberdaya dalam bentuk lain. Energy surya menjadi salah satu sumber pembangkit daya dan teknik pemanfaatan energi surya mulai muncul pada 1839 dan ditemukan oleh Edmund Becquerel. Energi ini berpotensi mampu menyediakan kebutuhan konsumsi energi dunia saat ini dalam waktu yang lebih lama. Matahari dapat digunakan secara langsung untuk memproduksi listrik atau untuk memanaskan bahkan untuk mendinginkan. Potensi masa depan energi surya hanya dibatasi oleh keinginan kita untuk menangkap kesempatan. Ada banyak cara untuk memanfaatkan energi dari matahari. Tumbuhan mengubah sinar matahari menjadi energi kimia dengan menggunakan fotosintesis. Kita memanfaatkan energi ini dengan memakan dan membakar kayu. Bagimanapun, istilah tenaga surya mempunyai arti mengubah sinar matahari secara langsung menjadi panas atau energi listrik untuk kegunaan kita. Salah satu faktor yang menyebabkan konservasi tidak berkembang di Indonesia adalah pandangan dari kalangan masyarakat bahwa Indonesia adalah Negara yang di anugrahi akan kekayaan alam serta sumber daya alam yang berlimpah, sehingga menggunakan energi secara hemat adalah bukan suatu

keharusan. Kerugian karena tidak menerapkan program konservasi energi, sebenarnya sudah di rasakan di tanah air. Salah satu contohnya pada saat krisis BBM Nasional yang tidak sehat (subsidi BBM, penyeludupan, pengoplosan, serta biaya politik yang ditimbulkannya). Konservasi energi tidak selalu berarti penggunaan energi yang sesedikit mungkin, akan tetapi adalah pengeluaran biaya untuk konsumsi energi yang serendah mungkin. Bagaimana cara untuk memperoleh hal ini diberikan dalam petunjuk-petunjuk yang diberikan gratis kepada berbagai sektor pemakai energi. Bahan Bakar Minyak sendiri terbentuk dari fosil yang mengandung karbon dan berada jauh di bawah permukaan bumi. Pembentukan BBM ini dibutuhkan waktu hingga jutaan tahun. Padahal, cadangan sumber energy yang berasal dari fosil di seluruh dunia. Cadangan sumber energy yang berasal dari fosil di seluruh dunia diperkirakan hanyalama sampai 40 tahun untuk minyak bumi dan 60 tahun untuk gas. Sementara penggunaan energy bukan hal yang bisa dicegah. Oleh karena itu, penggunaan sumber energy BBM atau gas harus dikurangi dan dibutuhkan adanya alternative sumber energy lain. Energi surya atau matahari telah dimanfaatkan di banyak belahan dunia dan jika dieksplotasi dengan tepat, energi ini berpotensi mampu menyediakan kebutuhan konsumsi energi dunia saat ini dalam waktu yang lebih lama. Matahari dapat digunakan secara langsung untuk memproduksi listrik atau untuk memanaskan bahkan untuk mendinginkan. Potensi masa depat energi surya hanya dibatasi oleh keinginan kita untuk menangkap kesempatan. Ada banyak cara untuk memanfaatkan energi dari matahari. Tumbuhan mengubah sinar matahari menjadi energi kimia dengan menggunakan fotosintesis. Kita memanfaatkan energi ini dengan memakan dan membakar kayu. Bagimanapun, istilah tenaga surya mempunyai arti mengubah sinar matahari secara langsung menjadi panas atau energi listrik untuk kegunaan kita.

Berikut merupakan contoh pengaplikasian tenaga surya dalam kehidupan sehari-hari: Pembangkit Listrik Tenaga Panas Matahari

Kaca-kaca besar mengkonsetrasikan cahaya matahari ke satu garis atau titik. Panas yang dihasilakan digunakan untuk menghasilkan uap panas. Panasnya, tekanan uap panas yang tinggi digunakan untuk menjalankan turbin yang menghasilkan listrik. Di wilayah yang disinari matahari, Pembangkit Listrik Tenaga matahari dapat menjamin pembagian besar produksi listrik. Berdasarkan proyeksi dari tingkat arus hanya 354MW, pada tahun 2015 kapasitas total pemasangan pembangkit tenaga panas matahari akan melampaui 5000 MW. Pada tahun 2020, tambahan kapasitas akan naik pada tingkat sampai 4500 MW setiap tahunnya dan total pemasangan kapasitas tenaga panas matahari di seluruh dunia dapat mencapai hampir 30.000 MW- cukup untuk memberikan daya untuk 30 juta rumah. Pemanas dan Pendingin Tenaga Matahari Panas tenaga matahari menggunakan panas matahari secara langsung. Pengumpul panas matahari diatas atapmu dapat menyediakan air panas untuk rumahmu, dan membantu menghangatkan rumahmu. Sistem panas matahari berdasarkan prinsip sederhana yang telah dikenal selama berabad-abad: matahari memanaskan air yang mengisi bejana gelap. Teknologi tenaga panas matahari yang ada di pasar saat ini sangat efisien dan bisa diandalkan. Saat ini pasar menyediakan tenaga matahari untuk aplikasi dengan cakupan luas, dari pemanas air domestik dan pemanas ruangan di perumahan dan gedung gedung komersial, sampai pemanas kolam renang, tenaga matahari-pendingin, proses pemanasan industri memproses air menjadi tawar. Saat ini produksi pemanas air dan panas

domestik merupakan aplikasi paling umum untuk tenaga panas matahari. Di beberapa negara hal ini telah menjadi sarana yang umum digunakan oleh gedung tempat tinggal. Tergantung pada kondisi dan konfigurasi sistem, kebutuhan air panas dapat disediakan oleh tenaga matahari hingga 100% . Sistem yang lebih besar dapat ditambahkan untuk menutupi bagian penting dari kebutuhan energi untuk pemanas

ruangan. Ada dua tipe teknologi: Tabung vakum- penyedot di dalam tabung vakum menyedot radiasi dari matahari dan memanaskan cairan di dalam, seperti di panel tenaga matahari datar. Tambahan radiasi diambil dari reflektor di belakang tabung. Bentuk bundar tabung vakum membuat cahaya matahari dari berbagai sudut dapat mencapai penyerap secara langsung. Bahkan di saat mendung, ketika cahaya datang dari banyak sudut pada saat bersamaan, tabung vakum kolektor tetap dapat efektif. Kolektor solar panel datar- pada dasarnya merupakan kotak yang ditutupi kaca yang ditaruh di atap seperti cahaya langit. Di dalam kotak terdapat serangkaian tabung pemotong dengan sirip pemotong terpasang. Seluruh struktur dilapisi substansi hitam yang didesain untuk menangkap sinar matahari. Sinar ini memanaskan air dan campuran bahan anti beku, yang beredar dari kolektor turun ke pemanas air di bawah tanah. Pendingin tenaga matahari: Pendingin tenaga matahari menggunakan sumber energi panas untuk menghasilkan dingin dan /atau mengurangi kelembaban udara dengan cara yang sama dengan lemari pendingin atau AC konvensional. Aplikasi ini cocok dengan energi panas matahari, sejalan dengan meningkatnya permintaan pendingin ketika panas matahari banyak. Pendingin tenaga matahari telah sukses didemonstrasikan. Penggunaan skala besar dapat diharapkan di masa depan, sejalan dengan berkurangnya biaya teknologi ini, terutama untuk sistem skala kecil. (greenpeace.org)

Kesimpulan Manajemen energi adalah kegiatan pengelolaan energi yang meliputi pemantauan, pencatatan, pengukuran, akuntansi, penetapan target dan rekomendasi tindak lanjut. Hal ini penting dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dari

penggunaan energy dan menjaga ketersediaan energy hingga masa depan. Salah satu energy alternative yang baik untuk dikembangkan karena keberadaannya tidak pernah hilang yakni energi surya. Energi ini berpotensi mampu menyediakan

kebutuhan konsumsi energi dunia saat ini dalam waktu yang lebih lama. Matahari dapat digunakan secara langsung untuk memproduksi listrik atau untuk memanaskan bahkan untuk mendinginkan. Energi ini telah dimanfaatkan di berbagai belahan dunia, namun di Indonesia masih dalam tahap penelitian. Beberapa aplikasi

pemanfaatan energi surya yakni pembangkit listrik tenaga panas matahari dan pemanas/pendingin tenaga matahari.