Anda di halaman 1dari 9

RESUME RAPAT KOORDINASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PETERNAKAN TAHUN 2013

Rapat Koordinasi Perencanaan Pembangunan Peternakan Tahun 2013 Tingkat Provinsi Aceh diselenggarakan di Blang Pidie Kabupaten Aceh Barat Daya pada tanggal 28 - 30 Nopember 2012, dihadiri oleh 88 orang peserta terdiri dari Kepala Dinas, Sekretaris/Kepala Bidang/Kepala UPTD Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Hewan Aceh, Kepala Dinas dan dan Peternakan Kepala Bidang Provinsi Program/Peternakan Dinas Peternakan/Instansi yang menangani fungsi Kesehatan Kabupaten/Kota se Aceh,tenaga ahli, Panitia provinsi dan panitia lokal. Acara pembukaan dilaksanakan pada tanggal 28 Nopember 2012, dibuka oleh Bupati Aceh Barat Daya yang diwakili oleh Sekretaris Daerah. Selanjutnya pemaparan materi disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh, penyampaian pokok-pokok pikiran dari tenaga ahli, dengan resume sebagai berikut :
1.

Pembangunan peternakan agar selalu berpedoman pada visi dan misi yang telah ditetapkan, agar permasalahan yang sudah teridentifikasi dapat diselesaikan.

2.

Tantangan utama dalam pembangunan peternakan di Aceh adalah masih belum seimbangnya kelahiran ternak dengan pemotongan dan kematian. Dalam membangun peternakan agar selalu mengutamakan penyiapan pakan terlebih dahulu sebelum pengadaan ternak .

3.

4.

Alternatif dalam pengembangan/pemberdayaan pakan rumput dapat dilakukan dengan meningkatkan produksi padang penggembalaan umum dengan pemupukan, teknik oversowing varietas serta pembangunan lahan Hijauan Pakan baru.

5.

Ketidak

seriusan

kita dalam

menyediakan

pakan

yang

cukup,

mengakibatkan penurunan performance dan produktifitas ternak, kedepan agar diperbaiki.


6.

Untuk mendapatkan ternak yang sehat,harus didukung nutrisi yang baik serta program vaksinasi yang teratur. Upaya penurunan harga daging sapi melalui import dipandang belum perlu dilakukan,mengingat hal tersebut dapat mengurangi pendapatan ternak.

7.

Impor daging sapi dan sapi bakalan belum perlu dilakukan karena hal tersebut dapat mengurangi pendapatan ternak. Peningkatan performance sapi dapat juga dilakukan dengancara

8.

penyilangan, seleksi dan culling, pemurnian/upgrading, menghindari inbreeding, pengadaan pejantan unggul.
9.

Perlu pembenahan pemasaran ternak dan hasil ternak agar peternak dapat memperoleh pendapatan yang layak dari usaha peternakannya. Pelestarian plasma nutfah sapi aceh terus dilakukan dan ditingkatkan serta harus didukung oleh seluruh stakeholder. Demikian rumusan sementara ini dibuat untuk menjadi salah satu acuan dalam penyusunan rencana kegiatan dan anggaran Tahun 2013.

10.

Rakor Perencanaan Pembangunan Peternakan 2012


Dalam rangka penyusunan perencanaan program dan kegiatan pembangunan peternakan Provinsi Aceh Tahun 2013, Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh menyelenggarakan Rapat Koordinasi Perencanaan Pembangunan Peternakan Tahun 2012 pada hari Rabu tanggal 25 April 2012 bertempat di Hotel Grand Nanggroe Banda Aceh.

Rakor tersebut dihadiri oleh seluruh Kepala Dinas Peternakan/Instansi yang melaksanakan fungsi peternakan kabupaten/kota beserta kepala bidang program/peternakan serta para kepala bidang/UPTD lingkup Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh. Acara rakor diisi dengan penyampaian materi oleh Staf Ahli Gubernur bidang Pembangunan dan Hubungan Luar Negeri, Kepala Biro Perencanaan Kementerian Pertanian yang diwakili oleh Kepala Bagian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian yang diwakili oleh Kepala Bagian Perencanaan, Kepala Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan serta PPK Satker Ditjennak APBN. Pada setiap penyampaian materi disampaikan secara singkat dan selanjutnya diluangkan waktu yang cukup untuk diskusi dan tanya jawab sehingga menghasilkan kesimpulan serta rumusan yang akan menjadi acuan dalam penyusunan perencanaan program dan kegiatan tahun 2013. Diharapkan dengan pelaksanaan rakor tersebut dapat menyatukan persepsi para pengambil kebijakan dalam menyusun program dan kegiatan pembangunan peternakan dimasa yang akan datang, terutama untuk menjawab tantangan dan memanfaatkan peluang dengan sebaik-baiknya untuk suksesnya Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi/Kerbau (PSDS/K) Tahun 2014

Agro and Food Expo 2012


Pada hakikatnya promosi adalah aktivitas yang mengkomunikasikan keunggulan produk dan membujuk pelanggan sasaran untuk membelinya dan Promosi merupakan salah satu strategis pengembangan pemasaran, dimana salah satu event promosi tingkat nasional yang bergengsi di bidang agribisnis adalah Agro and Food Expo.

Pada tahun 2012 ini, Agro and Food Expo kembali diselenggarakan acara yang bertema Organic product ini merupakan penyelenggaraan yang ke 12 kalinya dan dilaksanakan pada tanggal 31 Mei 3 Juni 2012 bertempat di Exhibition Hall B Jakarta Convention Centre (JCC) Jakarta.

Acara diikuti oleh 170 peserta yang terdiri dari Dinas/Instansi Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota dari 33 Provinsi se Indonesia, BUMN, Mitra Binaan BUMN, perusahaan agribisnis Nasional, UKM dan Koperasi serta 3 peserta dari Luar Negeri.

Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh, melalui Bidang Usaha Pengolahan dan Pemasaran Hasil, kembali berperan aktif dalam mengikuti event-event baik local maupun nasional, termasuk mengikuti pameran Agro and Food Expo 2012 ini Dinas kesehatan hewan dan Peternakan Aceh memamerkan produk-produk unggulan Aceh seperti Dendeng sapi, kerupuk kulit, telur asin, abon ayam.

Diharapkan dengan mengikuti agenda pameran sekaligus promosi ini, akan menarik pengusaha-pengusaha/investor, pelaku usaha, produsen dan pihak lainnya untuk bekerjasama dengan para petani/kelompoktani/gapoktan sebagai produsen/pelaku agribisnis di provinsi Aceh.
FRIDAY, 18 JANUARY 2013 19:10

Aceh Besar butuh industri hilir peternakan


Warta WASPADA ONLINE

BANDA ACEH - Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Besar, Ahmad Tarmizi mengatakan di wilayahnya membutuhkan indust meningkatkan kesejahteraan petani di masa mendatang.

"Sulit meningkatkan nilai tambah bagi petani jika tidak adanya industri hilir yang bergerak di sektor peternakan khususnya untuk me sapi," katanya di Banda Aceh, hari ini.

Dijelaskan, selama tidak adanya industri hilir mengakibatkan petani merugi karena tingkat kesejahteraan petani yang ditandai denga di bawah 100.

Menurut dia, ketidaksejahteraan yang diterima para petani tersebut diakibatkan oleh tiga faktor yakni ternak dibeli perekor bukan pe industri pengolah dan pembelian tidak kontan.

"Artinya, selama pembelian ini pembelian ternak dikhususkan untuk daging saja dan seperti tanduk, kuku dan kulit tidak dimanfaatka tambah kepada petani," katanya.

Ia mengatakan dengan kehadiran industri hulu juga akan mampu menurunkan harga daging sapi yang mencapai Rp150 ribu/kilogra hanya dimanfaatkan untuk daging tetapi juga bahan baku industri lainnya.

Kemudian harga ternak yang dibeli para pedagang besar kepada petani tidak secara kontan dan ini mengakibatkan petani tidak bisa peternakan.

"Peternak tidak bisa menikmati hasil penjualannya, karena pedagang tidak memberikan langsung harga sapi saat transaksi di laksa optimistis dengan adanya kesinambungan antara ketiga faktor tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan menurunkan

Ia menambahkan, Aceh Besar merupakan salah satu kawasan yang memiliki potensi cukup besar untuk pengembangan sektor pete Aceh.

ternak yang ada di Kabupaten Aceh Besar saat ini mencapai 142 ribu ekor dan jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan d

MONDAY, 01 AUGUST 2011 18:10

Peternak di Aceh masih merugi


Warta WASPADA ONLINE

BANDA ACEH - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh menilai, para peternak di provinsi tersebut masih merugi karena nilai tuk menurun, yakni minus 0,16 persen pada Juli 2011. "Belum sejahteranya peternak di Aceh karena harga jual yang tinggi seperti pada hari pemotongan ternak atau meugang harga dag kilogram belum sepenuhnya dinikmati petani," kata Kepala BPSAceh, Syech Suhaimi, tadi sore.

Dikatakannya, NTP subsektor peternakan pada Juli menjadi 98,87 dari 99,04 atau turun 0,16 persen dibanding sebelumnya. Penuru yang diterima petani naik sebesar 0,25 persen dan indeks dibayar petani naik 0,42 persen. "Seharusnya dengan harga yang tinggi NTP di subsektor peternakan dapat melebihi 100," katanya.

Selain peternakan, dua subsektor yang mengalami penurunan yakni hortikultura sebesar 0,19 persen dan tanaman perkebunan rak subsektor yang mengalami kenaikan masing-masing tanaman pangan sebesar 0,28 persen dan perikanan naik 0,40 persen.

Suhaimi mengatakan, meski terjadi penurunan indeks pada tiga subsektor di Aceh, namun empat di antaranya kecuali peternakan N

"Artinya, petani di Aceh masih memiliki kelebihan terhadap kemampuan tukar dari hasil pertanian dengan barang dan jasa yang dibe konsumsi," ujarnya.

NTP adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani untuk produk pertanian den dikonsumsi untuk biaya produksi.

Sementara itu, pada Juli 2011 perdesaan di Provinsi Aceh mengalami inflasi sebesar 0,63 persen akibat kenaikan indeks harga kon pada Mei menjadi 129,48 pada Juni 2011.

SAPI ACEH PRODUK UNGGULAN NASIONAL


Pemerintah menetapkan sapi aceh sebagai produk unggulan sapi nasional sekaligus menetapkan ternak itu dengan nama sapi aceh. Penetapan itu didasarkan tes hasil uji DNA yang dilakukan oleh tim ahli dari Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Demikian disampaikan Murtadha Sulaiman, Kepala Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh, Jumat (10/6/2011). Jika selama ini di Indonesia sudah ada produk unggulan sapi, seperti sapi bali, sapi madura, kini pemerintah sudah meresmikan bahwa sapi aceh akan menjadi plasma nutfah secara nasional, kata Murtadha. Sapi aceh yang memiliki karakteristik spesifik bakal menjadi salah satu ternak unggulan nasional untuk dikembangkan secara luas. Dia menyatakan, sapi aceh memiliki berbagai keunggulan, seperti tahan terhadap serangan penyakit, rasa daging yang khas dan enak, serta populasinya mencukupi. Pemerintah daerah pun menjamin untuk melestarikan sapi. Mohd Agus Nashri Abdullah, dosen Fakultas Pertanian Unsyiah, menyebutkan, sapi lokal Aceh memiliki beberapa keunggulan, seperti ketahanan terhadap penyakit, mampu beradaptasi dengan iklim ekstrem dan wilayah marjinal, dapat mengonsumsi sampah organik, kemampuan berproduksi yang baik, dan rasa daging yang khas dan enak. Oleh karena itu, Agus mengingatkan semua pihak agar terus melestarikan sapi aceh. Dia menyebutkan, asal-muasal sapi aceh sebenarnya hasil persilangan antara bos indicusdengan banteng. Pada masa Kerajaan Sultan Iskandar Muda, sapi aceh diperdagangkan secara barter dengan pedagang India. "Dari sekitar 688.118 ekor sapi di 23 kabupaten/kota, khususnya pesisir timur Provinsi Aceh, 82 persen di antaranya adalah sapi aceh yang kini sudah ditetapkan sebagai produk unggulan," kata Agus. "Kondisi ini menbuat Aceh tak akan kekurangan stok daging sapi meskipun pada saat perayaan hari besar keagamaan sekalipun, seperti Ramadhan dan Lebaran, banyak yang membutuhkan daging sapi," kata Murtadha. Saat ini, tambah Murtadha, sebanyak 100-150 ekor sapi per hari dikonsumsi masyarakat di Aceh. Pemerintah Provinsi Aceh juga sudah menetapkan dua lokasi sebagai tempat pelestarian sapi aceh, yakni Kecamatan Pulo Aceh di Kabupaten Aceh Besar dan Kawasan Pulo Raya di Kabupaten Aceh Jaya. Masyarakat juga diimbau untuk bisa melaporkan jumlah sapi dan kerbau yang dimilikinya untuk didata demi keperluan program swasembada daging sapi pada tahun 2014.

Sumber : Kompas.com (2011)