Anda di halaman 1dari 48

Definisi : Tumor otak adalah lesi intra kranial yang menempati ruang dalam tulang tengkorak Klasifikasi Tumor

Otak : 1. Tumor yang berasal dari lapisam otak (meningioma dural) 2. Tumor yang berkembang didalam / pada syaraf kranial 3. Tumor yang berasal didalam jaringan otak 4. Lesi metastatik yang berasal dari bagian tubuh mana saja Patofisiologi : Tumor otak menyebabkan gangguan neurologis. Gejala-gejala terjadi berurutan. Hal ini menekankan pentingnya anamnesis dalam pemeriksaan klien. Gejala-gejalanya sebaiknya dibicarakan dalam suatu perspektif waktu. Gejala neurologik pada tumor otak biasanya dianggap disebabkan oleh 2 faktor gangguan fokal, disebabkan oleh tumor dan tekanan intrakranial. Gangguan fokal terjadi apabila penekanan pada jaringan otak dan infiltrasi/invasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neuron. Tentu saja disfungsi yang paling besar terjadi pada tumor yang tumbuh paling cepat. Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang tumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak. Gangguan suplai darah arteri pada umumnya bermanifestasi sebagai kehilangan fungsi secara akut dan mungkin dapat dikacaukan dengan gangguan cerebrovaskuler primer. Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuro dihubungkan dengan kompresi invasi dan perubahan suplai darah ke jaringan otak. Beberapa tumor membentuk kista yang juga menekan parenkim otak sekitarnya sehingga memperberat gangguan neurologis fokal. Peningkatan tekanan intra kranial dapat diakibatkan oleh beberapa faktor : bertambahnya massa dalam tengkorak, terbentuknya oedema sekitar tumor dan perubahan sirkulasi cerebrospinal. Pertumbuhan tumor menyebabkan bertambahnya massa, karena tumor akan mengambil ruang yang relatif dari ruang tengkorak yang kaku. Tumor ganas menimbulkan oedema dalam jaruingan otak. Mekanisme belum seluruhnyanya dipahami, namun diduga disebabkan selisih osmotik yang menyebabkan perdarahan. Obstruksi vena dan oedema yang disebabkan kerusakan sawar darah otak, semuanya menimbulkan kenaikan volume intrakranial. Observasi sirkulasi cairan serebrospinal dari ventrikel laseral ke ruang sub arakhnoid menimbulkan hidrocepalus. Peningkatan tekanan intrakranial akan membahayakan jiwa, bila terjadi secara cepat akibat salah satu penyebab yang telah dibicarakan sebelumnya. Mekanisme kompensasi memerlukan waktu berhari-hari/berbulan-bulan untuk menjadi efektif dan oelh karena ity tidak berguna apabila tekanan intrakranial timbul cepat. Mekanisme kompensasi ini antara lain bekerja menurunkan volume darah intra kranial, volume cairan serebrospinal, kandungan cairan intrasel dan mengurangi sel-sel parenkim. Kenaikan tekanan yang tidak diobati mengakibatkan herniasi ulkus atau serebulum. Herniasi timbul bila girus medialis lobus temporals bergeser ke inferior melalui insisura tentorial oleh massa dalam hemisfer otak. Herniasi menekan men ensefalon menyebabkab hilangnya kesadaran dan menenkan saraf ketiga. Pada herniasi serebulum, tonsil sebelum bergeser ke bawah melalui foramen magnum oleh suatu massa posterior. Kompresi medula oblongata dan henti nafas terjadi dengan cepat. Intrakranial yang cepat adalah bradicardi progresif, hipertensi sistemik (pelebaran tekanan nadi dan gangguan pernafasan).

Tanda dan Gejala Menurut lokasi tumor : 1. Lobus frontalis Gangguan mental / gangguan kepribadian ringan : depresi, bingung, tingkah laku aneh, sulit memberi argumenatasi/menilai benar atau tidak, hemiparesis, ataksia, dan gangguan bicara. 2. Kortek presentalis posterior Kelemahan/kelumpuhan pada otot-otot wajah, lidah dan jari 3. Lobus parasentralis Kelemahan pada ekstremitas bawah 4. Lobus Oksipitalis Kejang, gangguan penglihatan 5. Lobus temporalis Tinitus, halusinasi pendengaran, afasia sensorik, kelumpuhan otot wajah 6. Lobus Parietalis Hilang fungsi sensorik, kortikalis, gangguan lokalisasi sensorik, gangguan penglihatan 7. Cerebulum Papil oedema, nyeri kepala, gangguan motorik, hipotonia, hiperekstremitas esndi Tanda dan Gejala Umum : 1. Nyeri kepala berat pada pagi hari, main bertambah bila batuk, membungkuk 2. Kejang 3. Tanda-tanda peningkatan tekanan intra kranial : Pandangan kabur, mual, muntah, penurunan fungsi pendengaran, perubahan tanda-tanda vital, afasia. 4. Perubahan kepribadian 5. Gangguan memori 6. Gangguan alam perasaa Trias Klasik ; Nyeri kepala Papil oedema Muntah 1. 2. 3. 4. 5. Pemeriksaan Diagnostik ; Rontgent tengkorak anterior-posterior EEG CT Scan MRI Angioserebral

Pengkajian : 1. Data klien : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, golongan darah, penghasilan, alamat, penanggung jawab, dll 2. Riwayat kesehatan :

keluhan utama Riwayat kesehatan sekarang Riwayat Kesehatan lalu Riwayat Kesehatan Keluarga 3. Pemeriksaan fisik : Saraf : kejang, tingkah laku aneh, disorientasi, afasia, penurunan/kehilangan memori, afek tidak sesuai, berdesis Penglihatan : penurunan lapang pandang, penglihatan kabur Pendnegaran : tinitus, penurunan pendengaran, halusinasi Jantung : bradikardi, hipertensi Sistem pernafasan : irama nafas meningkat, dispnea, potensial obstruksi jalan nafas, disfungsi neuromuskuler Sistem hormonal : amenorea, rambut rontok, diabetes melitus Motorik : hiperekstensi, kelemahan sendi Diagnosa Keperawatan : 1. Gangguan pertukaran gas b.d disfungsi neuromuskuler (hilangnya kontrol terhadap otot pernafasan ), ditandai dengan : perubahan kedalamam nafasn, dispnea, obstruksi jalan nafas, aspirasi. Tujuan : Gangguan pertukaran gas dapat teratasi Tindakan : Bebaskan jalan nafas Pantau vital sign Monitor pola nafas, bunyi nafas Pantau AGD Monitor penururnan gas darah Kolaborasi O2 2. Gangguan rasa nyaman, nyer kepla b.d peningkatan TIK, ditndai dengan : nyeri kepala terutama pagi hari, klien merintih kesakitan, nyeri bertambah bila klien batuk, mengejan, membungkuk Tujuan : rasa nyeri berkurang Tindakan : pantau skala nyeri Berikan kompres dimana pada area yang sakit Monitor tanda vital Beri posisi yang nyaman Lakukan Massage Observasi tanda nyeri non verbal Kaji faktor defisid, emosi dari keadaan seseorang Catat adanya pengaruh nyeri Kompres dingin pada daerah kepala Gunakan teknik sentuham yang terapeutik Observasi mual, muntah Kolaborasi pemberian obat : analgetik, relaksan, prednison, antiemetik

3. Resiko tinggi cidera b.d disfungsi otot sekunder terhadap depresi SSP, ditandai dengan : kejang, disorientasi, gangguan penglihatan, pendengaran Tujuan : tidak terjadi cidera Tindakan : Identifikasi bahaya potensial pada lingkungan klien Pantau tingkat kesadaran Orientasikan klien pada tempat, orang, waktu, kejadian Observasi saat kejang, lama kejang, antikonvulsi, Anjurkan klien untuk tidak beraktifitas 4. Perubahan proses pikir b.d perubahan fisiologi, ditandai dengan disorientasi, penurunan kesadaran, sulit konsentrasi Tujuan : mempertahankan orientasi mental dan realitas budaya Tindakan : kaji rentang perhatian Pastikan keluarga untuk membandingkan kepribadian sebelum mengalami trauma dengan respon klien sekarang Pertahankan bantuan yang konsisten oleh staf, keberadaan staf sebanyak mungkin Jelaskan pentingnya pemeriksaan neurologis Kurangi stimulus yang merangsang, kritik yang negatif Dengarkan klieen dengan penuh perhatian semua hal yang diungkapkan klien/keluarga Instruksikan untuk melakukan rileksasi Hindari meninggalkan klien sendiri 5. Gangguan perfusi serebral b.d hipoksia jaringan, ditandai dengan peningkatan TIK, nekrosis jaringan, pembengkakakan jaringan otak, depresi SSP dan oedema Tujuan : gangguan perfusi jaringan berkurang/hilang Tindakan : Tentukan faktor yang berhubungan dengan keadaan tertentu, yang dapat menyebabkan penurunan perfusi dan potensial peningkatan TIK Catat status neurologi secara teratur, badingkan dengan nilai standart Kaji respon motorik terhadap perintah sederhana Pantau tekanan darah Evaluasi : pupil, keadaan pupil, catat ukuran pupil, ketajaman pnglihatan dan penglihatan kabur Pantau suhu lingkungan Pantau intake, output, turgor Beritahu klien untuk menghindari/ membatasi batuk, untah Perhatikan adanya gelisah meningkat, tingkah laku yang tidak sesuai Tinggikan kepala 15-45 derajat 6. Cemas b.d kurang informasi tentang prosedur Tujuan : rasa cemas berkuang Tindakan : kaji status mental dan tingkat cemas Beri penjelasan hubungan antara proses penyakit dan gejala Jawab setiap pertanyaan dengan penuh perhatian Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan piiran dan perasaan takut

Libatkan keluarga dalam perawatan

DAFTAR PUSTAKA 1. Doenges, E Marylin (1999), Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC 2. Engram, Barbara (1998), Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta, EGC 3. FKUI, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta : Media Gesapius 4. Reeves C, J, (2001), Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta, Salemba Medika 5. Suddart, Brunner (2000), Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta, EGC 6. Ganong, WF, (1996), Fisiologi Kedokteran, Jakarta, EGC 7. Talbot, LA (1997), Pengkajian Keperawatan Kritis, Jakarta, EGC

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN POST CRANIOTOMI E.C NEOPLASMA A. Definisi a. Tumor

Tumor adalah istilah umum yang mencakup setiap pertumbuhan benigna (jinak) dalam setiap bagian tubuh. Pertmbuhan ini tidak bertujuan, bersifat parasit dan berkembang dengan mengorbankan manusia yang menjadi hospesnya. (Sue Hinchliff, 1997). b. Tumor otak Tumor otak adalah tumor jinak pada selaput otak atau salah satu otak. (Rosa Marion, 2000) c. Karsinoma otak (maligna) Karsnoma otak adalah neoplasma yang tumbuh di selaput otak. d. Neoplasama Neoplasma ialah sekumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh terus menerus secara terbatas, tidak terkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi tubuh. (Achmad Tjarta, 1973). B. Etiologi Penyeban tumor otak belum diketahui pasti, tapi dapat diperkirakan karena : 1. Genetik Tumor susunan saraf pusat primer nerupakan komponen besar dari beberapa gangguan yang diturunkan sebagi kondisi autosomal, dominant termasuk sklerasis tuberose, neurofibromatosis. 2. Kimia dan Virus Pada binatang telah ditemukan bahwa karsinogen kimia dan virus menyebabkan terbentuknya neoplasma primer susunan saraf pusat tetapi hubungannya dengan tumor pada manusia masih belum jelas.

3. Radiasi Pada manusia susunan saraf pusat pada masa kanak-kanak menyebablkan terbentuknya neoplasma setelah dewasa. 4. Trauma Trauma yang berulang menyebabkan terjadinya meningioma (neoplasma selaput otak). Pengaruh trauma pada patogenesis neoplasma susunan saraf pusat belum diketahui. C. Klasifikasi

1. Glioma Jumlah tumor otak. Tumbuh pada tiap jaringan dari otak. Infiltrasi dari terutama ke jaringan hemisfer cerebral. Tumbuh sangat cepat, sebagian orang bias hidup beberapa bulan sampai tahun. 2. Meningoma Dari 13 % sampai 18 % merupakan tumor primer intracranial. Tumbuh dari selaput meningeal otak. Biasanya jinak tapi bisa berubah menjadi maligna. Biasanya berkapsul dan penyembuhan melaui bedah sangat mungkin. Pertumbuhan kembali mungkin 3. Tumor Pituitari Tumor pada semua kelompok umur, tapi lebih sering pada wanita. Tumbuh dari berbagai jenis jaringan. Pendekatan pembedahan biasanya berhasil. Kekembuhan kembali mungkin. 4. Neuroma (Schwannoma, neuro) Neuroma akustik sangat sering. Tumbuh dari sel-sel Schwann di dalam meatus auditori pada bagian vestibular saraf cranial III. Biasanya jinak bisa berubah menjadi maligna. Akan tmbuh kembali bila tidak terangkat lengkap. Reseksi bedah sukar karena lokasinya. 5. Tumor Metastase Dari 2 % sampai 20 % penderita kanker terjadi metastase ke otak Sel kanker menjangkau otak lewat sistem sirkulasi. Reaksi bedah sangat sukar, pemgobatan kurang berhasil. Pemulihan dibawah satu tahun atau dua tahun tidak biasa. D. Patofisiologi Tumor otak menyebabkan gangguan neurologik progresif. Gangguan neurologik pada tumor otak biasanya dianggap disebabkan oleh dua faktor yaitu gangguan fokal disebabkan oleh tumor dan kenaikan tekanan intrakranial. Gangguan fokal terjadi apabila terdapat penekanan pada jaringan otak, dan infiltrasi atau invasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neuron. Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang bertumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak. Gangguan suplai darah arteri pada umumnya bermanifestasi sebagai kehilangan fungsi secara akut dan mungkin dapat dikacaukan dengan gangguan serebrovaskuler primer.

Serangan kejang sebagai gejala perunahan kepekaan neuron dihubungkan dengan kompesi invasi dan perubahan suplai darah ke jaringan otak. Bebrapa tumor membentuk kista yang juga menekan parenkim otak sekitarnya sehingga memperberat ganggguan neurologist fokal. Peningkatan tekanan intrakranial dapat diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu bertambahnya massa dalam tengkorak, terbentuknya edema sekitar tumor, dan perubahan sirkulasi cairan serebrospinal. Beberapa tumor dapat menyebabkan perdarahan. Obstruksi vena dan edema yang disebabkan oleh kerusakan sawar darah otak. Semuanya menimbulkan kenaikan volume intracranial dan meningkatkan tekanan intracranial. Obstruksi sirkulasi cairan serebrospinal dari ventrikel lateral ke ruangan subaraknoid menimbulkan hidrosefalus. Peningkatan tekanan intrakranial akan membahayakan jiwa. Mekanisme kompensasi memerlukan waktu lama untuk menjadi efektif dan oleh karena itu tak berguna apabila tekanan intrakranial timbul cepat. Mekanisme kompensasi ini antara lain bekerja menurunkan volume darah intracranial, volume cairan serebrospinal, kandungan cairan intrasel dan mengurangi sel-sel parenkim, kenaikan tekanan yang tidak diobati mengakibatkan herniasi unkus atau serebelum yang timbul bilagirus medialis lobus temporalis bergeser ke inferior melalui insisura tentorial oleh massa dalam hemisfer otak. Herniasi menekan mesensenfalon, menyebabkan hilangnya kesadaran dan menekan saraf otak ketiga. Kompresi medula oblogata dan henti pernafasan terjadi dengan cepat. Perubahan fisiologi lain terjadi akibat peningkatan intracranial yang cepat adalah bradikardia progresif, hipertensi sistemik (pelebaran tekanan nadi), dan gangguan pernafasan. Pathway (terlampir) E. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala tumor otak sangat bervariasi, tergantung pada tempat lesi dan kecepatan pertumbuhannya, antara lain : 1. Lobus Frontalis Gangguan kepribadian Epilepsi Afasia mototik

Hemiparesis Ataksia Gangguan bicara Gangguan gaya berjalan 2. Lobus Oksipitalis Gangguan penglihatan 3. Lobus Temporalis Halusinasi Kejang psikomotor Tinitus (bunyi berdengung atau berdesing) Kesulitan menyebutkan objek 4. Lobus Parietalis Tidak mampu merekam gambar Tidak dapat membedakan mana kiri mana kanan.

F. Pemeriksaan Diagnostik a. Arterigrafi atau Ventricolugram ; untuk mendeteksi kondisi patologi pada sistem ventrikel dan cisterna. b. CT SCAN ; Dasar dalam menentukan diagnosa. c. Radiogram ; Memberikan informasi yang sangat berharga mengenai struktur, penebalan dan klasifikasi; posisi kelenjar pinelal yang mengapur; dan posisi selatursika. d. Elektroensefalogram (EEG) : Memberi informasi mengenai perubahan kepekaan neuron. e. Ekoensefalogram : Memberi informasi mengenai pergeseran kandungan intra serebral. f. Sidik otak radioaktif : Memperlihatkan daerah-daerah akumulasi abnormal dari zat radioaktif. Tumor otak mengakibatkan kerusakan sawar darah otak yang menyebabkan akumulasi abnormal zat radioaktif. G. Penatalaksanaan Medis 1. Pembedahan dengan craniotomy

2. Radiotherapi Biasanya merupakan kombinasi dari terapi lainnya tapi tidak jarang pula merupakan therapi tunggal. Adapun efek samping : kerusakan kulit di sekitarnya, kelelahan, nyeri karena inflamasi pada nervus atau otot pectoralis, radang tenggorkan. 3. Kemoterapi Pemberian penyakit. 4. Manipulasi hormonal. Biasanya dengan obat golongan tamoxifen untuk tumor yang sudah bermetastase. 5. Psikologi Tujuan penatalaksanaan unit gawat darurat pada injury kepala pasien yang post-operative adalah sama sepeti pre-operativ, yakni: optimisasi physiologic. Prinsip kontrol tekanan intracranial dan optimisasi perfusi tekanan cerebral seperti halnya pemeliharaan oxygenation yang cukup dari perfusi darah : a. Ventilasi Hyperventilation bukanlah suatu therapy yang tidak berbahaya ( disebabkan alkalosis, hypokalemia, vasoconstricsi dengan ischemia) dan bagaimanapun secara relatif tidak efektif dalam pengerutan pembuluh darah cerebral setelah beberapa jam. Normocapnia harus dirawat sedapat mungkin. Drainase CSF dari suatu kateter/pipa ventricular dalam saluran tubuh lebih disukai untuk mereduksi/mengurangi ICP ( dan optimisasi pada tekanan perfusion cerebral) untuk metabolically deranging therapies seperti hyperventilation dan diuresis. b. Fluids/cairan Walaupun penggantian cairan bukan sebagian besar diantaranya intracranial sebagai intraabdominal atau perawatan intrathoracic post operasi trauma kepala penatalaksanaan cairan adalah komplikasi perawatan pada kontrol hipertensi intracranial seperti diuresis dan hyperventilation kedua-duanya yang mana cenderung menyebabkan berkurangnya volume dan metabolisme alkalosis. Solusinya Isotonik IV harus digunakan dalam semua kasus. Jumlah volume Darah yang bagus tidak hanya meningkatkan kapasitas oksigen tetapi juga menyebabkan unsur selularnya tidak pecah ( seperti albumin) ke dalam molekul lebih kecil yang berdifusi ke obat-obatan anti tumor yang sudah menyebar dalam aliran darah. Efek samping : lelah, mual, muntah, hilang nafsu makan, kerontokan membuat, mudah terserang

membran alveolar

dalam paru-paru dan dari intravascular ke ruang extravascular

yang

membawa cairan pada paru-paru dan edema cerebral. Pasien dengan berbagai trauma, laserasi kulit kepala, perdarahan subdural, dan injury sering kehilangan sejumlah darah dalam jumblah yang besar pada saat itu mereka tiba di ruang op di ICU. Transfusi diberikan kepada pasien dengan hematocrit yang rendah pada level kritis (pada umumnya di bawah 25%) terutama ketika disertai berkurangnya urin output. c. Nutrisi Dukungan nuitrisi harus segera setelah trauma kepala craniotomy ketika pasien bowel sounds. Pemberian makanan Enteral itu baik tidak hanya untuk mencegah perdarahan tetapi juga nutrisi diatur melalui rute ini jadi lebih siap diserap dan metabolisme tanpa resiko dari hepatitis, sepsis, dan komplikasi lain yang berhubungan dengan total parenteral nutrition ( TPN)., seandainya bowel berbunyi adalah suatu pngembalian lambat, TPN yang pertama dapat dimulai dalam duapuluh empat jam setelah suatu operasi trauma kepala. H. Komplikasi Adapun komplikasi yang dapat kita temukan pada pasien yang menderita tumor otak ialah : a. Gangguan fisik neurologist b. Gangguan kognitif c. Gangguan tidur dan mood d. Disfungsi seksual I. ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian Primer a. Airway Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk b. Breathing Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi c. Circulation dengan hypotension, tachycardia, dan

TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut 2. Pengkajian Sekunder a. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan dan kesehatan Riwayat keluarga denga tumor Terpapar radiasi berlebih. Adanya riwayat masalah visual-hilang ketajaman penglihatan dan diplopia Kecanduan Alkohol, perokok berat Terjadi perasaan abnormal Gangguan kepribadian / halusinasi b. Pola nutrisi metabolik Riwayat epilepsy Nafsu makan hilang Adanya mual, muntah selama fase akut Kehilangan sensasi pada lidah, pipi dan tenggorokan Kesulitan menelan (gangguan pada refleks palatum dan Faringeal) c. Pola eliminasi Perubahan pola berkemih dan buang air besar (Inkontinensia) Bising usus negatif d. Pola aktifitas dan latihan Gangguan tonus otot terjadinya kelemahan otot, gangguan tingkat kesadaran Resiko trauma karena epilepsy Hamiparase, ataksia Gangguan penglihatan Merasa mudah lelah, kehilangan sensasi (Hemiplegia) e. Pola tidur dan istirahat Susah untuk beristirahat dan atau mudah tertidur f. Pola persepsi kognitif dan sensori Pusing Sakit kepala

Kelemahan Tinitus Afasia motorik Hilangnya rangsangan sensorik kontralateral Gangguan rasa pengecapan, penciuman dan penglihatan Penurunan memori, pemecahan masalah kehilangan kemampuan masuknya rangsang visual Penurunan kesadaran sampai dengan koma. Tidak mampu merekam gambar Tidak mampu membedakan kanan/kiri

g. Pola persepsi dan konsep diri Perasaan tidak berdaya dan putus asa Emosi labil dan kesulitan untuk mengekspresikan h. Pola peran dan hubungan dengan sesame Masalah bicara Ketidakmampuan dalam berkomunikasi ( kehilangan komunikasi verbal/ bicara pelo ) i. Reproduksi dan seksualitas Adanya gangguan seksualitas dan penyimpangan seksualitas Pengaruh/hubungan penyakit terhadap seksualitas j. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress Adanya perasaan cemas,takut,tidak sabar ataupun marah Mekanisme koping yang biasa digunakan Perasaan tidak berdaya, putus asa Respon emosional klien terhadap status saat ini Orang yang membantu dalam pemecahan masalah Mudah tersinggung k. Sistem kepercayaan Agama yang dianut, apakah kegiatan ibadah terganggu

3. Diagnosa Keperawatan Pre-Operasi a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah dan tidak nafsu makan / pertumbuhan sel-sel kanker b. Nyeri kepala berhubungan dengan proses pertumbuhan sel-sel kanker pada otak/mendesak otak. c. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan gangguan pergerakan dan kelemahan. d. Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan kerusakan sirkulasi serebral. e. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran, perubahan citra diri f. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan penanganan penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi g. Kecemasan berhubungan dengan rencana pembedahan Post-Operasi a. Nyeri yang berhubungan dengan efek dari pembedahan b. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran, perubahan citra diri. c. Kurang pengetahuan tentang tumor otak yang berhubungan dengan ketidaktahuan tentang sumber informasi d. Kecemasan yang berhubungan dengan penyakit kronis dan masa depan yang tidak pasti. 3. Rencana Keperawatan Pre-Operasi Dx 1. Nyeri berhubungan dengan proses pertumbuhan sel-sel kanker Tujuan keperawatan Hasil yang diharapkan Rencana Tindakan R/ mengtahui : tingkat nyeri sebagai evaluasi untuk intervensi selanjutnya : Nyeri berkurang sampai dengan hilang : Nyeri berkurang sampai hilang setelah dilakukan tindakan

1. Kaji karakteristik nyeri, lokasi, frekfensi 2. Kaji faktor penyebab timbul nyeri (takut , marah, cemas) R/ dengan mengetahui faktor penyebab nyeri menentukan tindakan untuk mengurangi nyeri

3. Ajarkan tehnik relaksasi tarik nafas dalam R/ tehnik relaksasi dapat mengatsi rasa nyeri 4. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik R/ analgetik efektif untuk mengatasi nyeri Dx 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah dan tidak nafsu makan. Tujuan Hasil yang diharapkan - Nutrisi klien terpenuhi - Mual berkurang sampai dengan hilang. Rencana tindakan : 1. Hidangkan makanan dalam porsi kecil tapi sering dan hangat. R/ Makanan yang hangat menambah nafsu makan. 2. Kaji kebiasaan makan klien. R/ Jenis makanan yang disukai akan membantu meningkatkan nafsu makan klien. 3. Ajarkan teknik relaksasi yaitu tarik napas dalam. R/ Tarik nafas dalam membantu untuk merelaksasikan dan mengurangi mual. 4. Timbang berat badan bila memungkinkan. R/ Untuk mengetahui kehilangan berat badan. 5. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vitamin R/ Mencegah kekurangan karena penurunan absorsi vitamin larut dalam lemak Dx 3. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan gangguan pergerakan dan kelemahan. Tujuan kembali aktifitas. Rencana tindakan : 1. Kaji derajat mobilisasi pasien dengan menggunakan skala ketergantungan ( 0-4 ) R / : seseorang dalam semua kategori sama-sama mempunyai resiko kecelakaan. 2. Letakkan pasien pada posisi tertentu untuk menghindari kerusakan karena tekanan. : Gangguan mobilitas fisik teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan Kriteria Hasil : Pasien mendemonstrasikan tehnik / prilaku yang memungkinkan dilakukannya : Kebutuhsn nutrisi dapat terpenuhi setelah dilakukan keperawatan :

R / : Perubahan posisi yang teratur meningkatkan sirkulasi pada seluruh tubuh. 3. Bantu untuk melakukan rentang gerak R / : Mempertahankan mobilisasi dan fungsi sendi 4. Tingkatkan aktifitas dan partisipasi dalam merawat diri sendiri sesuai kemampuan R / : Proeses penyembuhan yang lambat sering kali menyertai trauma kepala, keterlibatan pasien dalam perencanaan dan keberhasilan. 5. Berikan perawatan kulit dengan cermat, masase dengan pelembab. R / : Meningkatkan sirkulasi dan elastisitas kulit Dx 4. Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan kerusakan sirkulasi serebral. Tujuan : Klien dapat membuat metode komunikasi dimana kebutuhan dapat di ekspresikan Kriteria Hasil : Mengindikasikan pemahaman tentang masalah komunikasi Membuat metode komunikasi dimana kebutuhan dapat diekspresikan Menggunakan sumber-sumber dengan tepat Intervensi kesulitan pasien dalam berbicara bebrapa atau atau membuat seluruh tahap pengertian proses : sendiri komunikasi. 1. Kaji tipe/derajat disfungsi seperti pasien tidak tampak memahami kata atau mangalami R/ : Membantu menentukan daerah dan derajat kerusakan serebral yang terjadi dan kesulitan 2. Perhatikan kesalahan dalam komunikasi dan berikan umpan balik R/ : Pasien mungkin kehilangan kemampuan untuk memantau ucapn yang keluar dan tidak menyadari bahwa komunikasi yang diucapkan tidak nyata. 3. Minta pasien untuk mengikuti perintah sederhana R/ : menilai adanya kerusakan motorik 4. Katakan secara langsung pada pasien, bicara perlahan dan tenang R/ : menurunkan kebingungan/ansietas selama proses komunikasi dan respon pada informasi yang lebih banyak pada satu waktu tertentu. Dx 5. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran, perubahan citra diri.

Tujuan Intervensi :

: Gangguan harga diri teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan

Kriteria Hasil : Klien dapat percaya diri dengan keadaan penyakitnya. 1. Kaji respon, reaksi keluarga dan pasien terhadap penyakit dan penanganannya. R/: Untuk mempermudah dalam proses pendekatan. 2. Kaji hubungan antara pasien dan anggota keluarga dekat. R/: Support keluarga membantu dalam proses penyembuhan. 3. Libatkan semua orang terdekat dalam pendidikan dan perencanaan perawatan di rumah. R/ : Dapat memudahkan beban terhadap penanganan dan adaptasi di rumah. 4. Berikan waktu/dengarkan hal-hal yang menjadi keluhan. R/: Dukungan yang terus menerus akan memudahkan dalam proses adaptasi. Dx 6. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan penanganan penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi. Tujuan Kriteria Hasil : : Pengetahuan pasien bertambah mengenai kondisi dan penanganan Pasien : mengerti penyebab ginjal dan komplikasinya. penyakit setelah dilakukan tindakan keperawatan Rencana Keperawatan

1. Kaji pemahaman pasien, keluarga mengenai penyebab gagal ginjal dan penanganannya. R / : Instruksi dasar untuk penyuluhan lebih lanjut. 2. Jelaskan fungsi renal dan konsekuensinya sesuai dengan tingkat pemahaman klien. R / : Menambah pengetahuan pasien. 3. Bantu pasien untuk mengidentifikasi cara-cara memahami perubahan akibat penyakit. R / : Pasien dapat melihat bahwa kehidupannya tidak harus berubah. Dx 7. Kecemasan berhubungan dengan rencana pembedahan Tujuan keperawatan Hasil yang diharapkan Rencana Tindakan 1. R/ Jelaskan pasien : setiap tindakan dalam segala yang akan dan dilakukan mengurangi terhadap kecemasan pasien pasien tindakan : Kecemasan pasien berkurang : Kecemasan dapat diminimalkan setelah dilakukan tindakan

kooperatif

2.

Beri

kesempatan

pada

pasien

untuk

mengungkapkan

perasaan

akan

ketakutannya R/ untuk mengurangi kecemasan 3. Evaluasi tingkat pemahaman pasien / orang terdekat tentang diagnosa medik R/ 4. memberikan Akui informasi yang perlu pasien untuk dan memilih dorong intervensi yang tepat rasatakut/ masalah mengekspresikan perasaan

R/ dukungan memampukan pasien memulai membuka/ menerima kenyataan penyakit dan pengobatan Post Operasi Dx 1. Nyeri yang berhubungan dengan efek dari pembedahan. Tujuan Kriteria Hasil : - Pasien dapat menjalani aktivitas tanpa merasa nyeri - Ekspresi wajah rileks - Klien mendemonstrasikan ketidaknyamananya hilang Rencana Keperawatan 1. Kaji tingkat nyeri : (lokasi, durasi, intensitas, kualitas) tiap 4 6 jam : Nyeri berkurang sampai hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan

R/ : Sebagai indikator awal dalam menentukan intervensi berikutnya 2. Kaji keadaan umum pasien dan TTV R/ : Sebagai indikator awal dalam menentukan intervensi berikutnya 3. Beri posisi yang menyenangkan bagi pasien R/ : Untuk membantu pasien dalam pengontrolan nyeri 4. Beri waktu istrahat yang banyak dan kurangi pengunjung sesuai keinginan pasien R/ : Dapat menurunkan ketidaknyamanan fisik dan emosional 5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat R/ : Membantu dalam penyembuhan pasien Dx 2. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran, perubahan citra diri. Tujuan : Gangguan harga diri teratasi setelah dilakuakn tindakan keperawatan

Kriteria

Hasil

Klien

dapat

percaya

diri

dengan

keadaan

penyakitnya.

Rencana keperawatan : 1. Kaji respon, reaksi keluarga dan pasien terhadap penyakit dan penanganannya. R / : Untuk mempermudah dalam proses pendekatan. 2. Kaji hubungan antara pasien dan anggota keluarga dekat. R / : Support keluarga membantu dalam proses penyembuhan. 3. Libatkan semua orang terdekat dalam pendidikan dan perencanaan perawatan di rumah. R / : Dapat memudahkan beban terhadap penanganan dan adaptasi di rumah. 4. Berikan waktu/dengarkan hal-hal yang menjadi keluhan. R / : Dukungan yang terus menerus akan memudahkan dalam proses adaptasi. Dx 3. Kurang pengetahuan tentang tumor otak yang berhubungan dengan ketidaktahuan tentang sumber informasi Tujuan Kriteria hasil : - Klien menyatakan pemahaman tentang informasi yang diberikan - Klien Intervensi menyatakan : kesadaran dan merencanakan perubahan pola perawatan diri : Informasi tentang perawatan diri dan status nutrisi dipahami setalah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam

1. Kaji tingkat pengetahuan pasien R/ : Untuk mengetahui tingkat pengetahuan dalam penerimaan informasi, sehingga dapat memberikan informasi secara tepat 2. Diskusikan hubungan tentang agen penyebab terhadap penyakit Ca. Paru R/ : Memberikan pemahaman kepada pasien tentang hal-hal yang menjadi pencetus penyakit 3. Jelaskan tanda dan gejala perforasi R/ : Gejala perforasi adalah nyeri pada dada 4. Jelaskan pentingnya lingkungan tanpa stress R/ : Untuk mencegah peningkatan stimulasi simpatis 5. Diskusikan tentang metode pelaksanaan stress R/ : Cara penatalaksanaan stress : relaksasi, latihan dan pengobatan Dx 4 Kecemasan yang berhubungan dengan penyakit kronis dan masa depan yang tidak pasti.

Tujuan keperawatan

Kecemaskan

dapat

diminimalkan

setelah

dilakukan

tindakan

Kriteria Hasil : Kecemasan berkurang. Intervensi : 1. Mendengarkan keluhan klien dengan sabar. R / : Menghadapi isu pasien dan perlu dijelaskan dan membuka cara penyelesaiannya. 2. Menjawab pertanyaan klien dan keluarga dengan ramah. R / : Membuat pasien yakin dan percaya. 3. Mendorong klien dan keluarga mencurahkan isi hati. R / : Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi. 4. Menggunakan teknik komunikasi terapeutik. R / : Menjalin hubungan saling percaya pasien. 5. Berikan kenyamanan fisik pasien. R / : Ini sulit untuk menerima dengan isu emosi bila pengalaman ekstrem/ketidaknyamanan fisik menetap.

Daftar Pustaka A.K. Muda, Ahmad. 2003. Kamus Lengkap Kedokteran Edisi Revisi. Jakarta : Gitamedia Press. Carpenito, Lynda Juall RN.1999. Diagnosa dan Rencana Keperawatan Ed 3. Jakarta : Media Aesculappius. Purnawan Ajunadi, Atiek S.seomasto, Husna Ametz,(1982). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC

POST OPERASI TUMOR OTAK


BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Kemajuan teknologi dan adanya perbaikan prosedur pencitraan dan teknik pembedahan memungkinkan ahli bedah neuro melokalisasi dan mengatasi lesi intrakranial dengan ketepatan lebih besar dari pada sebelumnya. Meningkatnya teknik pencitraan, pencahayaan dan

pembesaran yang telah di buat memungkinkan mendapat gambaran tiga dimensi daerah yang di operasi. Alat-alat bedah mikro diperkenankan digunakan untuk memisahkan jaringan yang sulit tanpa trauma. Sistem diseksi ultrasonik memungkinkan otak tertentu dan tumor medula spinalis diangkat dengan cepat dan tepat. Probe ditempatkan di dalam jaringan otak untuk radiasi interstisial, hipertermia atau kemoterapi. Bahan penjahit lebih kecil dari sehelai rambut, yang digunakan untuk menjahit syaraf-syaraf kecil dan pembuluh darah dan anastomosis. Terdapat beberapa gejala / kumpulan gejala yang karakteristik pada penyakit intrakranial yang sering merupakan masalah utama bagi pasien untuk memperoleh pertolongan medis. Gejala / kumpulan gejala tersebut tidak jarang menimbulkan persepsi atau interpretasi yang berbeda di antara yang mengeluh (Pasien). Dengan yang mendengarkannya dalam hal ini tenaga kesehatan. Tidak jarang pula suatu gejala medis tertentu diekspresikan secara berbeda beda, bergantung latar belakang pendidikan / sosial budaya pasien sehingga diperlukan teknik anamnesis yang spesifik untuk menyamakan persepsi. Tindakan bedah Intrakranial atau disebut juga kraniotomi, merupakan suatu intervensi dalam kaitannya dengan masalah-masalah pada Intrakranial. Artinya kraniotomi dilakukan dengan maksud pengambilan sel atau jaringan intrakranial yang dapat terganggunya fungsi neorologik dan fisiologis manusia atau dapat juga dilakukan dengan pembedahan yang dimasudkan pembenahan letak anatomi intrakranial. 1.2 1.2.1 1.2.2 1.2.3 1.2.4 1.2.5 1.2.6 1.2.7 1.3 1.3.1 Rumusan Masalah bagaimana definisi dari tumor otak dan craniostomy ? apa saja etiologi dari tumor otak ? apa saja manifestasi klinis dari tumor otak? Apa saja pemeriksaan penunjang pada pasien tumor otak ? Bagaimana pengobatan pada pasien tumor otak ? Bagaimana komplikasi dari tumor otak ? Bagaimana asuhan keperawatan post operasi pada tumor otak ? Tujuan Tujuan Umum Makalah ini dibuat sebagai pedoman atau acuan kami dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap pasien dengan Post Operasi Tumor Otak.

1.3.2 a. b. c. d. e. f. g. 1.4

Tujuan Khusus Mengetahui definisi dari tumor otak dan craniostomy Mengetahui etiologi dari tumor otak Mengetahui manifestasi klinis dari tumor otak Mengetahui pemeriksaan penunjang pada pasien tumor otak Mengetahui pengobatan pada pasien tumor otak Mengetahui komplikasi dari tumor otak Mengetahui asuhan keperawatan post operasi tumor otak Manfaat Dengan selesainya makalah yang kami buat, kami harap mahasiswa dan mahasiswi dapat mengerti dan memahami tentang penyakit kanker laring, serta mahasiswa dan mahasiswi dapat menerapkan asuhan keperawatan sesuai dengan prosedur.

BAB 2 PEMBAHASAN 2.1 2.1.1 2.1.2 2.1.3 2.1.4 Definisi Tumor otak adalah lesi oleh karena ada desakan ruang baik jinak maupun ganas yang tumbuh di otak, meningen dan tengkorak. Craniopharyngioma adalah Tumor otak yang terletak di area hipotalamus di atas sella tursica Craniotomy adalah Operasi untuk membuka tengkorak (tempurung kepala) dengan maksud untuk mengetahui dan memperbaiki kerusakan otak. Post operasi adalah masa yang dimulai ketika masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau dirumah. Setelah pembedahan, perawatan klien dapat menjadi kompleks akibat fisiologis yang mungkin terjadi. Untuk mengkaji kondisi pasca atau post operasi ini, perawat mengandalkan informasi yang berasal dari hasil pengkajian keperawatan preoperative. Pengetahuan yang dimiliki klien tentang prosedur pembedahan dann hal-hal yang terjadi selama pembedahan berlangsung. Informasi ini membantu perawat mendeteksi adanya perubahan. 2.1.5 Jadi post kraniotomi adalah setelah dilakukannya operasi pembukaan tulang tengkorak untuk, untuk mengangkat tumor, mengurangi TIK, mengeluarkan bekuan darah atau menghentikan perdarahan.

2.2

Etiologi Kongenital : Beberapa tumor otak tertentu seperti kraniofaringioma, teratoma, berasal dari sisa-sisa embrional yang kemudian mengalami pertumbuhan neoplastik

2.3 2.3.1 a. c. e.

Manifestasi Klinik Manifestasi klinik umum (akibat dari peningkatan TIK, obstruksi dari CSF) Sakit kepala Pusing Kejang

b. Nausea atau muntah proyektit d. Perubahan mental

2.3.2

Manifestasi klinik lokal (akibat kompresi tumor pada bagian yang spesifik dari otak a. Perubahan penglihatan, misalnya: hemianopsia, nystagmus, diplopia, kebutaan, tanda-tanda papil edema. b. Perubahan bicara, msalnya: aphasia c. Perubahan sensorik, misalnya: hilangnya sensasi nyeri, halusinasi sensorik. d. Perubahan motorik, misalnya: ataksia, jatuh, kelemahan, dan paralisis. e. Perubahan bowel atau bladder, misalnya: inkontinensia, retensia urin, dan konstipasi. f. Perubahan dalam pendengaran, misalnya : tinnitus, deafness. g. Perubahan dalam seksual

2.4

Pemeriksaan Penunjang

Untuk membantu menentukan lokasi tumor yang tepat, sebuah deretan pengujian dilakukan : 2.4.1 CT-Scan memberikan info spesifik menyangkut jumlah, ukuran, dan kepadatan jejas tumor, serta meluasnya edema serebral sekunder.

2.4.2

MRI membantu mendiagnosis tumor potak. Ini dilakukan untuk mendeteksi jejas tumor yang kecil, alat ini juga membantu mendeteksi jejas yang kecil dan tumor-tumor didalam batang otak dan daerah hipofisis.

2.4.3

Biopsy stereotaktik bantuan computer (3 dimensi) dapat digunakan untuk mendiagnosis kedudukan tumor yang dalam dan untuk memberikan dasar-dasar pengobatan dan informasi prognosis.

2.4.4

Angiografi serebral memberikan gambaran tentang pembuluh darah serebral dan letak tumor serebral.

2.4.5

EEG dapat mendeteksi gelombang otak abnormal pada daerah yang ditempati tumor dan dapat memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temporal pada waktu kejang.

2.5 2.5.1

Pengobatan Pembedahan Pembedahan adalah pengobatan yang paling umum untuk tumor otak. Tujuannya adalah untuk mengangkat sebanyak tumornya dan meminimalisir sebisa mungkin peluang kehilangan fungsi otak.

a. Operasi Untuk membuka tulang tengkorak disebut kraniotomi. Hal ini dilakukan dengan anestesi umum. Sebelum operasi dimulai, rambut kepala dicukur. Ahli bedah kemudian membuat sayatan di kulit kepala menggunakan sejenis gergaji khusus untuk mengangkat sepotong tulang dari tengkorak. Setelah menghapus sebagian atau seluruh tumor, ahli bedah menutup kembali bukaan tersebut dengan potongan tulang tadi, sepotong metal atau bahan. Ahli bedah kemudian menutup sayatan di kulit kepala. Beberapa ahli bedah dapat menggunakan saluran yang ditempatkan di bawah kulit kepala selama satu atau dua hari setelah operasi untuk meminimalkan akumulasi darah atau cairan. Efek samping yang mungkin timbul pasca operasi pembedahan tumor otak adalah sakit kepala atau rasa tidak nyaman selama beberapa hari pertama setelah operasi. Dalam hal ini dapat diberikan obat sakit kepala. Masalah lain yang kurang umum yang dapat terjadi adalah menumpuknya cairan cerebrospinal di otak yang mengakibatkan pembengkakan otak (edema). Biasanya pasien diberikan steroid untuk meringankan pembengkakan. Sebuah operasi kedua mungkin diperlukan untuk mengalirkan cairan. Dokter bedah dapat menempatkan sebuah tabung, panjang dan tipis (shunt) dalam ventrikel otak. Tabung ini diletakkan di bawah kulit ke bagian lain dari tubuh,

biasanya perut. Kelebihan cairan dari otak dialirkan ke perut. Kadang-kadang cairan dialirkan ke jantung sebagai gantinya. Infeksi adalah masalah lain yang dapat berkembang setelah operasi (diobati dengan antibiotic). Operasi otak dapat merusak jaringan normal. kerusakan otak bisa menjadi masalah serius. Pasien mungkin memiliki masalah berpikir, melihat, atau berbicara. Pasien juga mungkin mengalami perubahan kepribadian atau kejang. Sebagian besar masalah ini berkurang dengan berlalunya waktu. Tetapi kadang-kadang kerusakan otak bisa permanen. Pasien mungkin memerlukan terapi fisik, terapi bicara, atau terapi kerja. b. Radiosurgery stereotactic Radiosurgery strereotatic adalah tehnik "knifeless" yang lebih baru untuk menghancurkan tumor otak tanpa membuka tengkorak. CT scan atau MRI digunakan untuk menentukan lokasi yang tepat dari tumor di otak. Energi radiasi tingkat tinggi diarahkan ke tumornya dari berbagai sudut untuk menghancurkan tumornya. Alatnya bervariasi, mulai dari penggunaan pisau gamma, atau akselerator linier dengan foton, ataupun sinar proton. Kelebihan dari prosedur knifeless ini adalah memperkecil kemungkinan komplikasi pada pasien dan memperpendek waktu pemulihan. Kekurangannya adalah tidak adanya sample jaringan tumor yang dapat diteliti lebih lanjut oleh ahli patologi, serta pembengkakan otak yang dapat terjadi setelah radioterapi. Kadang-kadang operasi tidak dimungkinkan. Jika tumor terjadi di batang otak (brainstem) atau daerah-daerah tertentu lainnya, ahli bedah tidak mungkin dapat mengangkat tumor tanpa merusak jaringan otak normal. Dalam hal ini pasien dapat menerima radioterapi atau perawatan lainnya. 2.5.2 Radiasi/Radioterapi Radioterapi menggunakan X-ray untuk membunuh sel-sel tumor. Sebuah mesin besar diarahkan pada tumor dan jaringan di dekatnya. Mungkin kadang radiasi diarahkan ke seluruh otak atau ke syaraf tulang belakang. Radioterapi biasanya dilakukan sesudah operasi. Radiasi membunuh sel-sel tumor (sisa) yang mungkin tidak dapat diangkat melalui operasi. Radiasi juga dapat dilakukan sebagai terapi

pengganti operasi. Jadwal pengobatan tergantung pada jenis dan ukuran tumor serta usia pasien. Setiap sesi radioterapi biasanya hanya berlangsung beberapa menit. a. Beberapa bentuk terapi radiasi : 1. Fraksinasi: Radioterapi biasanya diberikan lima hari seminggu selama beberapa minggu. Memberikan dosis total radiasi secara periodik membantu melindungi jaringan sehat di daerah tumor. 2. Hyperfractionation: Pasien mendapat dosis kecil radiasi dua atau tiga kali sehari, bukan jumlah yang lebih besar sekali sehari. Efek samping dari radioterapi, dapat meliputi: perasaan lelah berkepanjangan, mual, muntah, kerontokan rambut, perubahan warna kulit (seperti terbakar) di lokasi radiasi, sakit kepala dan kejang (gejala nekrosis radiasi). 2.5.3 Kemoterapi Kemoterapi, yaitu penggunaan satu atau lebih obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Kemoterapi diberikan secara oral atau dengan infus intravena ke seluruh tubuh. Obatobatan biasanya diberikan dalam 2-4 siklus yang meliputi periode pengobatan dan periode pemulihan. Untuk beberapa pasien dengan kasus kanker otak kambuhan, ahli bedah biasanya melakukan operasi pengangkatan tumor dan kemudian melakukan implantasi wafer yang mengandung obat kemoterapi. Selama beberapa minggu, wafer larut, melepaskan obat ke otak. Obat tersebut kemudian membunuh sel kankernya. Efek samping dari kemoterapi, antara lain: mual dan muntah, sariawan, kehilangan nafsu makan, rambut rontok, dan banyak lainnya. Untuk menangani efek samping dari kemoterapi, diskusikan hal ini dengan dokter Anda. a. Sitostatika INDIKASI ANTI KANKER GOLONGAN OBAT I. ALKILATOR Mekloretamin Penyakit INDIKASI Hodgkin, limfosarkoma

karsinoma mama dan karsinoma ovarium Siklofosfamid Leukemia limfositik kronik, penyakit

Hodgkin, limfoma non-Hodgkin, mieloma multiple, neuroblastoma, tumor payudara, ovarium, paru, cervix, testis, jaringan lunak, tumor Wilm Ifosfamid Melfalan Mieloma ovarium Klorambusil Leukemia Hodgkin limfositik dan kronik, penyakit multiple, kanker payudara,

limfoma

non-Hodgkin,

makroglobulinemia primer Trietilenmelamin (TEM) Penyakit ovarium Trietilentiofosforamid (Thiotepa) Penyakit ovarium Prokarbazin Busulfan Karmustin (BCNU) limfoma Hodgkin Leukemia mielositik kronik Penyakit Hodgkin yang refrakter terhadap pengobatan, melanoma malignum, Hodgkin, tumor limfosarkoma, payudara dan Hodgkin, tumor limfosarkoma, payudara dan

retinoblastoma,

retinoblastoma,

mieloma

multiple

(kombinasi

dengan

prednisone) Lomustin (CCNU) Karsinoma paru dan kolorektal, limfoma Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin dan karsinoma renal Semustin (metal CCNU) Karsinoma Hodgkin, paru limfoma Lewis, melanoma dan

malignum, tumor otak metastatik, Penyakit non-Hodgkin eoplasma saluran cerna Streptozosin Sisplatin Karsinoma pancreas Kanker testis, ovarium, buli-buli,

esophagus, paru, kolon Karboplatin Oksaliplatin II. ANTIMETABOLIT 5- fluorourasil (5FU) Kanker payudara, kolon, esophagus, leher dan kepala Leukemia limfositik dan mielositik akut, limfoma non-Hodgkin

6-Azauridin Floksuridin (FUDR)

Mikosis fungoides, polisitemia vera Leukemia limfositik akut dan kronik, leukemia granulositik akut dan kroniik,

koriokarsinoma Sitarabin Fludarabin Hairy cell leucimia, Leukemia limfositik kronik, limfoma non-Hodgkin sel kecil Gemsitabin 6-Merkaptopurin Kanker paru, pancreas dan ovarium Leukemia limfositik akut dan kronik, leukemia mieloblastik akut dan kronik, koriokarsinoma 6-Tioguanid (T6) Metotreksat Leukemia limfositik akut, koriokarsinoma, kanker payudara, leher dan kepala, paru, buli-buli, sarcoma osteogenik pemetrexed III. PRODUK ALAMIAH Vinkristin (VCR) Mesotelioma, kanker paru Leukemia limfositik akut, neuroblastoma, tumor Wilms, rabdomiosarkoma, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin Vinblastin (VLB) Penyakit Hodgkin, limfosarkoma,

koriokarsinoma dan tumor payudara Vinorelbin Paklitaksel Kanker ovarium, payudara, paru, buli-buli,

leher dan kepala Dosetaksel Etoposid Kanker testis, paru, payudara, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, leukemia mielositik akut, sarcoma Kaposi Teniposid Irinotekan Karsinoma ovarium, karsinoma paru sel kecil, karsinoma kecil Topotekan Daktinomisin (aktinomisinD) Korio-karsinoma, tumor Wilms, testis, rabdomiosarkoma, sarcoma Kaposi Antrasiklin : Daunorubisin Doksorubisin Mitramisin Leukemia limfisitik dan mieloblastik akut Sarcoma Hodgkin, jaringan leukemia lunak, akut, sarcoma karsinoma osteogenik, limfoma Hodgkin dan nonpayudara, genitor-urinaria, tiroid, paru, lambung, neuroblastoma dan sarcoma lain pada anak-anak Antrasenedion : Mitoksantron Leukemia mieloblastik akut, kanker prostate dan payudara Bleomisin Kanker paru, lambung dan anus

Karsinoma

testis,

serviks,

limfoma

Hodgkin dan non-Hodgkin Mitomisin C L-asparaginase IV. HORMON DAN ANTAGONIS Prednison Kanker lambung Leukemia limfositik akut Leukemia limfositik akut dan kronik, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, tumor payudara Hidroksiprogesteron kaproat Medroksiprogesteron asetat Megestrol asetat Dietilstilbestrol Etinil estradiol Tamoksifen, toremifen Testosterone propionate Fluoksimesteron Flutamid Mititan, aminoglutetimid Karsinoma payudara dan endometrium Tumor endometrium Tumor endometrium Karsinoma prostate dan payudara Tumor payudara Tumor payudara Karsinoma prostate Karsinoma payudara kortek adrenal, karsinoma

Leuprolid Anastrozol, letrozol, eksemestan V. LAIN-LAIN Hidroksiurea

Karsinoma prostate Karsinoma payudara Leukemia mielositik kronik, melanoma malignum, polisitemia vera, trombositosis esensial

Prokarbazin Tretinoin Arsen trioksid Imatinib

Leukemia promielositik akut Leukemia mielositik kronik, tumor stroma GI, sindrom hiper eosinofilia

Gefitinib Bortezumib Interveron alfa, interleukin 2

Non small cell lung cencer Mieloma multiple Hairy cell leukemia, sarcoma Kaposi, melanoma malignum, tumor karsinoid, ginjal. Ovarium, buli-buli, limfoma nonHodgkin, mycosis fungoides, mieloma multiple, leukemia mielositik kronik.

b.

obat penurun TIK

1. D-Manitol. C6H14O6

Indikasi : menurunkan TIK yangtinggi karena edema serebral,meningkatkan diuresis pada pencegahan dan/atau pengobatan oliguria yang disebabkan gagal ginjal, menurunkan tekanan intraokular, meningkatkan ekskresi urine senyawa toksik, sebagai larutan irigasi genitouriner pada operasi prostat atau operasi transuretral 2. Pemberian steroid (dexa 4 mg 4x sehari) selama 2-3 hari sebelum operasi sangat efektif untuk menurunkan edema sekitar tumor dan menurunkan TIK. c. Antibiotic Antibiotika diberikan minimal selama enam minggu, dengan atau tanpa pembedahan. Bila belum ada hasil kultur, diberikan dosis tinggi Ampisilin (dewasa : 12 - 24 gram / hari, anak-anak 200 300 mg / kg) dan Metronidazole (3 x 1 gram selama lima hari). Pilihan lainnya sebelum ada hasil kultur, dapat dipertimbangkan sesuai fokus infeksi primer, status imunologis penderita dan riwayat alergi terhadap antibiotika d. penghilang nyeri Meredakan Nyeri dan Mencegah Kejang : Asetaminofen biasanya diberikan selama suhu di atas 37,50C dan untuk nyeri. Sering kali pasien akan mengalami sakit kepala setelah kraniotomi, biasanya sebagai akibat syaraf kulit kepala diregangkan dan diiritasi selama pembedahan. Kodein, diberikan lewat parenteral, biasanya cukup untuk menghilangkan sakit kepala. Medikasi antikonvulsan (fenitoin, deazepam) diresepkan untuk pasien yang telah menjalani kraniotomi supratentorial, karena resiko tinggi epilepsi setelah prosedur bedah neuro supratentorial. Kadar serum dipantau untuk mempertahankan medikasi dalam rentang terapeutik. 2.6 2.6.1 2.6.2 2.6.3 2.6.4 2.6.5 2.6.6 2.6.7 Komplikasi Post Operasi Edema cerebral Perdarahan subdural, epidural, dan intracerebral Hypovolemik syok Hydrocephalus Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit (SIADH atau Diabetes Insipidus) Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis Infeksi

2.6.8

Kerusakan integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi.

BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN 3.1 3.1.1 a. Pengkajian primary survey airway pemberian anestesi. Meletakan tangan di atas mulut atau hidung. 2. Potency jalan nafas, 3. Periksa keadekwatan expansi paru 4. Periksa kesimetrisan 5. Auscultasi paru b. Breathing 1. Kompresi pada batang otak akan mengakibatkan gangguan irama jantung, sehingga terjadi perubahan pada pola napas, kedalaman, frekuensi maupun iramanya, bisa berupa Cheyne Stokes atau Ataxia breathing. Napas berbunyi, stridor, ronkhi, wheezing ( kemungkinana karena aspirasi), cenderung terjadi peningkatan produksi sputum pada jalan napas. 2. Perubahan pernafasan (rata-rata, pola, dan kedalaman). RR < 10 X / gangguan depresi narcotic, respirasi cepat, dangkal, cardiovasculair atau rata-rata metabolisme yang meningkat. 3. c. 1. Inspeksi: Pergerakan dinding dada, penggunaan otot bantu pernafasan efek anathesi yang berlebihan, obstruksi, diafragma, retraksi sternal Circulation Efek peningkatan tekanan intrakranial terhadap tekanan darah bervariasi. Tekanan pada pusat vasomotor akan meningkatkan transmisi rangsangan parasimpatik ke jantung yang akan mengakibatkan denyut nadi menjadi lambat, merupakan tanda peningkatan tekanan intrakranial. 2. Perubahan frekuensi jantung (bradikardia, takikardia yang diselingi dengan bradikardia, disritmia). 3. Inspeksi membran mukosa : warna dan kelembaban, turgor kulit, balutan. d. Disability : berfokus pada status neurologi 1. Kaji tingkat kesadaran pasien, tanda-tanda respon mata, respon motorik dan tanda-tanda vital.

1. Periksa jalan nafas dari sumbatan benda asing (padat, cair) setelah dilakukan pembedahan akibat

2. Inspeksi respon terhadap rangsang, masalah bicara, kesulitan menelan, kelemahan atau paralisis ekstremitas, perubahan visual dan gelisah. e. Exposure 1. Kaji balutan bedah pasien terhadap adanya perdarahan. 3.1.2 Secondary Survey : Pemeriksaan fisik Pasien nampak tegang, wajah menahan sakit, lemah. Kesadaran somnolent, apatis, GCS : 4-5-6, T 120/80 mmHg, N 98 x/menit, S 374 0C, RR 20 X/menit. a. Abdomen. bunyi redup, bising usus 14 X/menit. 2. Distensi abdominal dan peristaltic usus adalah pengkajian yang harus dilakukan pada gastrointestinal. b. Ekstremitas 1. Mampu mengangkat tangan dan kaki. Kekuatan otot ekstremitas atas 4-4 dan ekstremitas bawah 4-4., akral dingin dan pucat. c. Integumen. 1. Kulit keriput, pucat. Turgor sedang d. Pemeriksaan neurologis Bila perdarahan hebat/luas dan mengenai batang otak akan terjadi gangguan pada nervus cranialis, maka dapat terjadi : 1. 2. Perubahan status mental (orientasi, kewaspadaan, perhatian, konsentrasi, pemecahan masalah, pengaruh emosi/tingkah laku dan memori). Perubahan dalam penglihatan, seperti ketajamannya, diplopia, kehilangan sebagian lapang pandang, foto fobia. 3. Perubahan pupil (respon terhadap cahaya, simetri), deviasi pada mata. 4. Terjadi penurunan daya pendengaran, keseimbangan tubuh. 5. Sering timbul hiccup/cegukan oleh karena kompresi pada nervus vagus menyebabkan kompresi spasmodik diafragma. 6. Gangguan nervus hipoglosus. Gangguan yang tampak lidah jatuh kesalah satu sisi, disfagia, disatria, sehingga kesulitan menelan. 1. Inspeksi tidak ada asites, palpasi hati teraba 2 jari bawah iga,dan limpa tidak membesar, perkusi

3.1.3 a. 1.

Tersiery Survey Kardiovaskuler Klien nampak lemah, kulit dan kunjungtiva pucat dan akral hangat. Tekanan darah 120/70 mmhg, nadi 120x/menit, kapiler refill 2 detik. Pemeriksaan laboratorium: HB = 9,9 gr%, HCT= 32 dan PLT = 235.

b. Brain 1. Klien dalam keadaan sadar, GCS: 4-5-6 (total = 15), klien nampak lemah, refleks dalam batas normal. c. Blader 1. Klien terpasang doewer chateter urine tertampung 200 cc, warna kuning kecoklatan.

3.2 3.2.1 3.2.2 3.2.3 3.2.4 3.2.5 3.3

Diagnosa Keperawatan Pola nafas inefektif b/d efek anastesi Kekurangan volume cairan b/d perdarahan post operasi. Ganggguan rasa nyaman nyeri b/d luka insisi. Kerusakan integritas kulit b/d luka insisi. Gangguan perfusi jaringan b/d pendarahan. Intervensi Keperawatan Pola nafas inefektif b/d efek anastesi KH : dalam waktu 2 x 24jam pasien merasa : pola nafas efektif hilangnya sianosis atau tanda-tanda hipoksia lainnya INTERVENSI MANDIRI RASIONAL

1. pertahankan jalan udara pasien dengan 1. memiringkan kepala

mencegah obstruksi jalan nafas

2. auskultasi suara nafas

2.

kurangnya suara nafas adalah indikasi adanya obstruksi oleh mukus atau lidah dan dapat dibenahi dengan mengubah posisi ataupun pengisapan

3.

observasi frekuensi dab kedalaman 3. pernafasan, otot-otot perluasan rongga dada 4.

untuk

efektivitas upaya

pernafasan

pernafasan, sehingga

memperbaikinya

dapat segera dilakukan elevasi kepala dan posisi miring

4. letakkan pasien pada posisi yang sesuai, akan mencegah terjadinya aspirasi tergantung pada kekuatan pernafasan dan dari muntah jenis pembedahan KOLABORASI kebutuhan untuk meningkatkan pengambilan atau O2

1. berikan tambahan oksigen sesuai dengan memaksimalkan

yang akan diikat oleh hb yang menggantikan tempat gas anastesi dan mendorong pengeluaran gas tersebut melalui zat-zat inhalasi dilakukan tergantung pada penyebab depresi pernafasan atau

2.

berikan/pertahankan pernafasan (ventilator

alat

bantu jenis pembedahan

Kekurangan volume cairan b/d perdarahan post operasi. KH : dalam waktu 2 x 24 jam, pasien menyatakan : TTV stabil Palpasi denyut nadi dengan kualitas yang baik Turgor kulit normal Membran mukosa lembab Pengeluaran urine individu normal INTERVENSI RASIONAL

MANDIRI 1. Ukur dan catat pemasukan dan 1. Dokumentasi yang akurat akan membantu dalam mengidentifikasi pengeluaran penggantian dan cairan/kebutuhan pilihan-pilihan pengeluaran (termasuk cairan GI)

yang mempengaruhi intervensi 2. Wanita, pasien dengan obesitas dan 2. Catat munculnya mual/muntah mereka penyakit pascaoperasi 3. Kulit yang dingin/lembab, denyut 3. Pantau suhu kulit, palpasi denyut perifer yang lemah mengidentifikasi perifer dan penurunan tambahan. KOLABORASI 1. Pasang kateter urinarius dengan atau 1. tanpa urimeter sesuai kebutuhan 2. Berikan antiemitk sesuai kebutuhan 2. KOLABORASI Memberikan memantau secara akurat Menghilangkan mual/muntah, yang dapat menyebabkan keseimbangan pemasukkan 3. Pantau studi laboratorium, misalnya Hb, 3. Indikator hidrasi/volume. Ht. Bandingkan studi darah praoperasi dan pascaoperasi Ganggguan rasa nyaman nyeri b/d luka insisi. KH : dalam waktu 2 x 24 jam, hasil yang diharapkan : Pasien menyatakan bahwa rasa sakit telah terkontrol/hilang mekanisme untuk pengeluaran urinarius sirkulasi yang memiliki memiliki resiko kecenderungan mabuk perjalanan mual/muntah yang lebih tinggi pada

dibutuhkan untuk penggantian cairan

INTERVENSI MANDIRI 1. Ulangi rekaman

RASIONAL

intraoperasi/ruang 1. Munculnya narkotik dan droperidol analgesia narkotik dimana pasien dibius dengan Flouthane dan Ethrane yang tidak memiliki efek analgesik residual

penyembuhan untuk tipe anastesi dan pada sistem dapat menyebabkan medikasi yang diberikan sebelumnya

2. Kaji TTV

2.

Dapat mengindikasikan rasa sakit akut dan ketidaknyamanan Ketidaknyamanan disebabkan/diperburuk mungkin dengan

3. Kaji penyebab ketidaknyamanan yang 3. mungkin selain dari prosedur operasi

penekanan pada kateter indwelling yang tidak tetap, selang NG, jalur parenteral 4. Lakukan posisi sesuai petunjuk, misalnya 4. Mungkin mengurangi rasa sakit, dan semi-Fowler ; miring meningkatkan sirkulasi. KOLABORASI 1. Berikan obat analgesik IV 1. Analgesik IV akan segera mencapai pusat rasa sakit, menimbulkan penghilangan yang lebih efektif dengan obat dosis kecil Kerusakan integritas kulit b/d luka insisi. KH : dalam waktu 3 x 24 jam, hasil yang diharapkan : Mencapai penyembuhan luka INTERVENSI MANDIRI 1. Beri penguatan pada sesuai balutan 1. lindungi awal/penggantian RASIONAL luka dari perlukaan

indikasi. mekanis dan kontaminasi

Gunakan teknik aseptik yang ketat 2. Secara hati-hati lepaskan perekat (sesuai 2. mengurangi resiko trauma kulit dan

arah pertumbuhan rambut) dan pembalut gangguan pada luka pada waktu mengganti 3. Gunakan sealant kulit sebelum perekat 3. digunakan menurunkan trauma kulit resiko atau terjadinya abrasi dan

memberikan perlindungan tambahan untuk kulit atau jaringan yang halus KOLABORASI 1. dibutuhkan 1. menurunkan pembentukan edema mungkin yang pada menyebabkan tidak luka dapat selama tekanan

berikan es pada daerah luka jika yang

diidentifikasi 2. 2. debridemen sesuai kebutuhan

periode pasca operasi tertentu membuang jaringan nekrotik/luka, untuk meningkatkan penyembuhan irigasi luka; bantu dengan melakukan eksudat

Gangguan perfusi jaringan b/d pendarahan. KH : dalam waktu 3 x 24jam, hasil yang diharapkan : TTV stabil Adanya denyut nadi perifer yang kuat Kesadaran normal Pengeluaran urinarius individu sesuai INTERVENSI MANDIRI 1. Ubah posisi secara perlahan di tempat 1. RASIONAL Mekanisme vasokontriksi ditekan

tidur dan pada saat pemindahan (terutama dan akan bergerak dengan cepat pada pasien yang mendapatkan obat pada kondisi hipotensi anestesi Fluothane) 2. Bantu latihan rentan gerak meliputi 2. latihan aktif kaki dan lutut Menstimulasi membantu sirkulasi perifer, terjadinya mencegah

vena statis sehingga menurunkan resiko pembentukan trombus

3.

Cegah dengan menggunakan bantal 3. Mencegah terjadinya sirkulasi vena dibawah lutut. statis dan menurunkan indikator resiko volume tromboflebitis

4. Pantau TTV; palpasi denyut nadi; catat 4. suhu/warna kulit dan pengisian kapiler KOLABORASI 1. Beri cairan IV/produk-produk darah sesuai kebutuhan

Merupakan

sirkulasi dan fungsi organ/perfusi jaringan yang adekuat

1. Mempertahankan volume sirkulasi, mendukung jaringan terjadinya perfusi

BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan untuk mengetahui dan memperbaiki kerusakan otak 4.1.2 Pengobatan tumor otak adalah pembedahan, radiasi dan kemoterapi 4.1.3 Komplikasi yang bisa terjadi pada post operasi adalah Edema cerebral, Perdarahan subdural, epidural, dan intracerebral, Hypovolemik syok, Hydrocephalus, Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit (SIADH atau Diabetes Insipidus), Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis, Infeksi, Kerusakan integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi.

4.1.1 Craniotomy adalah Operasi untuk membuka tengkorak (tempurung kepala) dengan maksud

DAFTAR PUSTAKA Doenges, Marilynn E. 2002. Encana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Perawatan Pasien edisi 3. Jakarta : EGC Fak Kedokteran UI. Farmakologi dan Terapi. Jakarta : FAK Kedokteran UI Radit. 2009. Asuhan Keperawatan Tumor Otak. http://radit11.wordpress.com/2009/04/14/6/ diakses tanggal 16 Desember 2011 pukul 04 : 30 pm)