Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang Kemajuan teknologi semakin meningkat dengan pesat. Hal ini dapat

berakibat positif dan juga berakibat negatif seiring dengan kemampuan Sumber Daya Manusia yang menggunakannya. Pekerjaan manusia senantiasa akan semakin mudah dengan adanya kemajuan dan kecanggihan teknologi. Namun, ironisnya kemajuan teknologi tersebut hanya akan terdapat di dunia industri, sehingga terjadi kesenjangan antara kualifikasi tenaga kerja yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan dengan kebutuhan lapangan pekerjaan. Dominasi teknologi di dunia industri inilah yang akan dicoba untuk diseimbangkan dengan dunia pendidikan yang merupakan motor utama penghasil Sumber Daya Manusia yang handal dan professional. Perguruan Tinggi sebagai lembaga pendidikan formal yang bertugas mempersiapkan dan mencetak sumber daya manusia yang handal dibidangnya masing-masing, sudah selayaknya untuk senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian tantangan yang dihadapi Perguruan Tinggi tidak semata-mata menghasilkan sarjana atau ahli madya, akan tetapi harus dapat mempertanggung jawabkan kualitas kinerjanya. Dengan semakin majunya dunia teknologi tentunya diiringi dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan energi listrik. Erat kaitannya dengan hal tersebut PT. Indonesia Power selaku salah satu penyedia energi listrik yang bekerjasama PT. PLN selaku pengelola energi listrik akan selalu berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan terbaik dengan meningkatkan pelayanan kualitas energi listrik. Salah satu parameter kualitas energi listrik yang baik adalah rendahnya prosentase gangguan listrik baik karena gangguan teknis maupun gangguan alam. Untuk mempermudah koordinasi dalam melaksakan tugasnya guna memperbaiki

kinerjanya, PT. PLN membagi dirinya menjadi beberapa unit bisnis yang berdiri sendiri-sendiri, dimana antar keduanya saling bekerja sama. PT. Indonesia Power merupakan salah satu mitra PT. PLN dalam hal pemenuhan energi listrik yang bergerak dalam bidang pembangkitan tenaga listrik. PT. Indonesia Power merupakan perusahaan pembangkit tenaga listrik terbesar di Indonesia dengan delapan unit bisnis pembangkitan utama beberapa lokasi strategis dipulau Jawa dan Bali. Unit unit bisnis pembangkit tersebut adalah unit bisnis pembangkit suralaya, Priok, Saguling, Kamojang, Mrica, Semarang, Perak & Grati dan bali serta satu unit jasa pemeliharaan yang berada di jakarta. PT. Indonesia Power khususnya Mrica yang mempunyai kapasitas sekitar 450 MW mempunyai tugas yang cukup besar dalam penyediaan energi listrik yang disalurkan ke PLN, yang selanjutnya dapat kita nikmati hasilnya berupa listrik. Atas dasar itulah saya melakukan praktik industri di PT. Indonesia Power UBP Mrica, supaya lebih mengetahui bagaimana sebuah energi listrik dapat dihasilkan dan supaya mengetahui bagaimana melakukan memanajemen listrik yang baik. PT. Indonesia Power selaku perusahaan yang menghasilkan energi listrik yang memanfaatkan air waduk yang dialirkan ke turbin yang digunakan untuk menjalankan generator, dari generator dihasilkan listrik yang kemudian dialirkan ke transformator (trafo) untuk dinaikkan dayanya. Hal tersebut membuat hati saya menjadi penasaran, sebetulnya proses yang terjadi sebenarnya itu seperti apa, selain itu saya ingin mendapatkan ilmu yang lebih banyak dari proses yang terjadi di PLTA tersebut. Atas dasar tersebut saya memilih Kerja Praktek di Indonesia Power UBP Mrica. PT.

BAB II PERMASALAHAN

2.

Perumusan Masalah Kerja Praktek diharapkan dapat memperoleh pengalaman dan ilmu

pengetahuan yang baru yang tidak didapat pada waktu dibangku perkuliahan, sekaligus mencoba membandingkan teori yang didapat dibangku perkuliahan dan pengetahuan yang telah diperoleh dengan kenyataan di lapangan. Disamping itu, mahasiswa dapat mempelajari aspek-aspek kewirausahaan yang terkait dengan industri yang ditempati, sehingga dapat membawa pengalaman praktik industrinya ke dalam tugasnya setelah lulus. Ketika penulis melaksanakan Kerja Praktek di PT. Indonesia Power UBP Mrica. Jenis pekerjaan yang dilakukan pada saat pemeliharaan rutin itu cukup banyak, diantaranya pemeliharaan generator, pemeliharaan trafo, cleaning pada area sistem excitasi, pengecekkan tegangan battery, pengukuran berat jenis elektrolit battery, pengecekan spillway, cleaning di sekitar area brush dan slip ring generator yang rutin dilakukan saat pemeliharaan rutin harian, mingguan, maupun bulanan. Generator merupakan komponen utama dalam sistem pembangkitan. Tanpa adanya generator, proses pembangkitan tidak akan berjalan. Generator yang non PMG (Permanent Magnetic Generator) tidak bisa beroperasi bila tidak diberi penguatan (excitasi) terlebih dahulu. Karena begitu pentingnya sistem excitasi di sebuah pembangkitan, maka permasalahan yang dibahas adalah Sistem Eksitasi Pada Generator 13,8 KV PLTA Panglima Besar Soedirman.

BAB III PEMBAHASAN

3.1

Sistem Eksitasi Sistem Eksitasi adalah sistem penyaluran sumber DC sebagai penguatan

pada generator listrik atau sebagai pembangkit medan magnet, sehingga suatu generator dapat menghasilkan energy listrik dengan besar tegangan keluaran generator bergantung pada besarnya arus eksitasi. Sistem ini merupakan sistem yang sangat vital pada proses pembangkitan listrik, sistem eksitasi ini dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu sistem eksitasi dengan menggunakan sikat (brush excitation) dan sistem eksitasi tanpa sikat (brushless excitation). PLTA PBS merupakan PLTA dengan kapasitas terbesar di Jawa Tengah yaitu sebesar 180,9 MW. Sistem Eksitasi pada PLTA PBS merupakan sistem yang sangat penting karena generator utama pada PLTA PBS tidak akan menghasilkan tegangan sesuai dengan kemampuan nominalnya apabila tidak di beri penguatan atau eksitasi. Sistem eksitasi yang digunakan pada generator utama PLTA PB Soedirman adalah menggunakan sistem eksitasi statik, artinya saat putaran generator mencapai 90% field flasing akan menutup bersamaan dengan PMT eksitasi sehingga generator akan dicatu oleh battery 110 VDC. Setelah 5 detik, field flasing akan lepas dan generator akan mulai menggunakan sistem eksitasi sendiri dengan mengambil sebagian daya dari keluaran generator yang teganganya sudah diturunkan oleh trafo eksitasi kemudian disearahkan menggunakan rectifier, lalu AVR (Automatic Voltage Regulator) digunakan sebagai penstabil tegangannya. Penerapan teknologi berbasis mikroprosesor telah diterapkan pada AVR, alat ini akan berfungsi sebagai pendeteksi besarnya tegangan yang di hasilkan oleh generator. Apabila tegangan yang di hasilkan generator tidak sama dengan referensi, maka AVR akan memberi perintah pada gate thyristor untuk

mengurangi atau menambah eksitasi dan apabila terjadi gangguan terhadap AVR dan tegangan real > 13,1 kV maka FCR (Field Current Regulator) yang akan digunakan untuk penstabil tegangan. Tegangan normal untuk penguatan generator PLTA PB Soedirman adalah 160 VDC dengan arus penguatannya sebesar 1170 A. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan melihat name plate generator PLTA PB Soedirman. 3.2 Komponen Utama Di dalam sistem eksitasi generator PLTA PBS, terdapat beberapa komponen penting yang peranannya sangat berpengaruh terhadap hasil penguatan yang akan diberikan ke rotor generator. Komponen eksitasi untuk masing-masing unit generator pada PLTA PBS adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Battery Trafo Eksitasi Konverter (Perubah tegangan AC - DC) / Rectifier (Penyearah) AVR (Automatic Voltage Regulator) FCR (Field Current Regulator) Pemutus Tenaga (PMT) Field flasing Sikat Arang

3.2.1 Battery Battery pada PLTA PBS berfungsi sebagai penguatan awal generator. Saat generator pertama kali berputar dan putarannya sudah mencapai 90%, generator akan melakukan penguatan awalnya sendiri dengan menggunakan sumber dari battery 110 VDC.

Battery pada sistem eksitasi di PLTA PBS menggunakan battery NikelCadmiun Alkali yang tersusun secara seri sebanyak 86 buah. Tegangan total battery sebesar 121 V, jadi setiap battery memiliki tegangan sekitar 1,4 Volt. Kapasitas suatu battery adalah menyatakan besar arus listrik yang di alirkan ke suatu rangkaian (beban), dalam jangka waktu tertentu (jam) untuk memberikan tegangan tertentu pula. Kapasitas battery (Ah) dapat dinyatakan sebagai berikut. C = Kapasitas battery (Ah) I = Besar arus yang mengalir (Ampere) t = Waktu (Jam) Battery untuk sistem eksitasi ini mempunyai kapasitas hingga 235 Ah, dengan waktu pengosongan selama 8 jam. Untuk pengisian battery menggunakan rangkaian penyearah yang di hubungkan ke kutub kutub yang sama pada battery. Sistem pengisian battery yang digunakan PLTA PB Soedirman adalah sistem terapung (Floating System).

3.2.2 Trafo Eksitasi Trafo eksitasi pada PLTA PBS merupakan transformator 3 phasa yang tehubung segitiga bintang, yaitu hubung bintang pada sisi primer dan hubung segitiga pada sisi sekunder. Transformator ini merupakan transformator step down yang menurunkan tegangan generator dari 13800 volt menjadi 335 volt.

Pemeliharaan trafo eksitasi harus dilakukan supaya trafo eksitasi lebih tahan lama dan awet. Selain itu, pemeliharaan yang dilakukan secara teratur bertujuan untuk mengurangi adanya gangguan-gangguan yang terjadi pada sistem eksitasi. 3.2.3 Konverter / Rectifier Penyearah terkendali (controlled rectifier) atau sering juga disebut dengan konverter merupakan rangkaian elektronika daya yang berfungsi untuk mengubah tegangan sumber masukan arus bolak-balik dalam bentuk sinusoida menjadi tegangan luaran dalam bentuk tegangan searah yang dapat diatur/ dikendalikan. Pada PLTA PBS konverter yang digunakan ialah rangkaian konverter tiga fasa gelombang penuh.

Konverter adalah suatu rangkaian elektronika yang berfungsi untuk mengubah tegangan AC menjadi tegangan DC. Rectifier ini sebenarnya adalah rangkaian dari beberapa dioda dan komponen lainnya.

Konverter pada PLTA PBS berfungsi untuk menyearahkan tegangan AC 3 phasa yang dihasilkan generator menjadi tegangan DC yang kemudian akan digunakan sebagai penguatan pada generator setelah putaran generator sudah mencapai 90%. Hal tersebut terjadi karena saat putaran generator sudah mencapai lebih dari 90%, generator sudah mampu melakukan penguatan sendiri tanpa bantuan battery. 3.2.4 AVR (Automatic Voltage Regulator) AVR (Automatic Voltage Regulator) pada PLTA PBS berfungsi untuk menjaga agar tegangan generator tetap konstan dengan kata lain generator akan mengeluarkan tegangan yang selalu stabil dan tidak terpengaruh pada perubahan beban yang selalu berubah-ubah, dikarenakan beban sangat mempengaruhi tegangan output generator. Prinsip kerja dari AVR adalah mengatur arus penguatan pada exciter. Apabila tegangan output generator di bawah tegangan nominal tegangan generator, maka AVR akan memperbesar arus penguatan pada exciter. Dan juga sebaliknya apabila tegangan output Generator melebihi tegangan nominal generator maka AVR akan mengurangi arus penguatan pada exciter. Dengan demikian apabila terjadi perubahan tegangan output Generator akan dapat distabilkan oleh AVR secara otomatis karena AVR sudah dilengkapi dengan alat pembatas penguat minimum ataupun maximum yang bekerja secara otomatis.

3.2.5 FCR (Field Current Regulator) Field Current Regulator atau FCR merupakan salah satu pengatur dari sistem eksitasi yang digunakan apabila AVR tidak dapat di fungsikan karena adanya gangguan atau apabila tegangan real < 13,1 kV. Dimana FCR ini memakai arus sebagai referensi dalam pengaturannya. Secara garis besar FCR mempunyai sistem kontrol yang selalu menghubungkan antara generator dan FCR itu sendiri, seperti halnya pada lilitan shunt yang dipasang trafo arus (CT) pada generator yang digunakan sebagai detector arus yang mentransformasikan dari arus yg besar (primer) ke arus yg kecil (sekunder) guna pengukuran atau poteksi dan terhubung dengan FCR. Melalui kompensator arus selanjutnya arus medan yang diukur pada lilitan shunt dan arus medan sesuai dengan referensi akan dibandingkan oleh FCR setelah itu FCR mengirimkan sinyal ke Thyristor atau SCR sehingga dapat beroperasi untuk mengubah arus bolak-balik (AC) menjadi arus searah (DC) untuk penguat medan pada rotor. 3.2.6 Pemutus Tenaga (PMT) PMT pada sistem eksitasi berfungsi sebagai pintu masuknya sumber DC yang akan disalurkan ke rotor generator. Saat generator mulai mencapai putaran 90%, generator mulai dapat melakukan eksitasi sendiri dari tegangan yang dihasilkannya. Tegangan 13,8 KV diturunkan terlebih dahulu menjadi 335V oleh trafo eksitasi kemudiaan disearahkan oleh rectifier. Setelah tegangan sudah diatur oleh AVR dan sesuai, barulah PMT bekerja dan menyalurkan tegangan DC tersebut menuju rotor generator.

3.2.7 Field Flasing Pada beberapa kasus dimana konverter tidak mempunyai tegangan suplai yang cukup saat start, maka diperlukan suplai arus yang kecil untuk beberapa saat sehingga mampu menaikan tegangan konverter. Field flashing memberikan 510% dari arus eksitasi saat tanpa beban kebelitan medan sampai tegangan mesin cukup untuk mensuplai konverter. Untuk memberikan input ke konverter, proses eksitasi dapat dilakukan secara otomatis maupun manual. Untuk memenuhi persyaratan Field flashing, maka dilayani dengan baterai unit. Peralatan untuk operasional harus dapat diandalkan. Komponen tersebut digunakan untuk melayani proses kenaikan tegangan (paralel dengan mesin sinkron), pada saat eksitasi belum memberikan arus maka proses penguatan awal dengan proses Field flashing dengan batasan arusnya 50% dari arus nominal. Kalau terjadi perubahan, perlu diamati kenaikan tegangan (input AC) setelah semua peralatan rangkaian eksitasi siap maka bisa di operasikan dengan normal, yaitu dimana PMT Field flashing otomatis akan terputus.

10

3.2.8 Sikat Arang Sikat arang berfungsi untuk menyalurkan sumber DC menuju belitan rotor generator. Sikat terbuat dari karbon, grafit , logam grafit, atau campuran karbongrafit yang dilengkapi dengan pegas penekan dan kotak sikat. Besarnya tekanan pegas dapat diatur sesuai dengan keinginan. Permukaan sikat ditekan ke permukaan segmen komutator untuk menyalurkan arus listrik. Karbon yang ada diusahakan memiliki konduktivitas yang tinggi untuk mengurangi rugi-rugi listrik, dan koefisien gesekan yang rendah untuk mengurangi keausan Sikat arang pada generator PBS berjumlah 18 pasang setiap unitnya. 18 sikat untuk menyalurkan muatan positif dan 18 sikat arang yang lain untuk menyalurkan muatan negatif. Setiap bulannya ketebalan arang harus diukur. Tebal arang yang sudah dibawah standar herus diganti agar penyaluran sumber DC dapat berlangsung lancar. Panjang Sikat Arang minimum 20 mm (sesuai design ASEA).

11

8 7 6 5 4

10

11

12 13 14 15 16

3 2 1 BRUSH HOLDER

17 18

18 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 12 11 13 14 15 17 16

12

3.3

Sistem Kerja Eksitasi Pada saat tombol start pada panel control ditekan maka seluruh peralatan

kontrol bekerja, sesaat kemudian turbin mulai berputar yang di ikuti berputarnya generator. Pada saat generator berputar sampai pada 90 % putaran nominal dan panel kontrol eksitasi ready field flashing bekerja secara otomatis dan sumber tegangan 110 V DC dari batery akan terhubung ke slip ring. Arus dari batery akan mengalir ke lilitan rotor melalui slipring (sikat karbon) yang terdapat pada cincin pengumpul pada poros utama generator kedua cincin pengumpul meneruskan arus ke 23 pasang kutub yang terdapat pada kumparan rotor akan timbul medan magnet yang arahnya berlawanan dengan arah arus listrik yang masuk. Karena rotor telah diputar oleh turbin, maka kumparan medan juga ikut berputar dan disini akan terjadi GGL induksi yang dibangkitkan semakin besar, sehingga generator sudah menghasilkan tegangan yang cukup besar. Tegangan yang dihasilkan generator ini dihubungkan ke trafo eksitasi,AVR (Automatic Voltage Regulator) dan trafo daya. Keluaran trafo eksitasi masuk kerangkaian penyearah sedang AVR telah mampu mentriger thyristor sehingga rangkaian penyearah dapat beroprasi unruk menubah tegangan AC menjadi tegangan DC yang dipakai untuk penguatan sendiri. Setelah tegangan generator mencapai 90% dari tegangan nominal relay field flashing dari bateray secara otomatis terputus, sedangkan generator telah mampu menghasilkan tegangan nominal kira-kira 13,8 KV tegangan ini dipakai untuk penguatan sendiri pada generator melalui trafo eksitasi dan

penyearah.Dengan demikian sumber batery akan memberikan penguatan pada generator dari putaran 90% sampai pada tegangan generator mencapai 50%

setelah itu penguatan dilakukan oleh generator itu sendiri. Keluaran tegangan generator sinkron diatur dengan cara otomatis oleh kontrol AVR apabila tegangan generator turun atau tegangan generator naik, apabila terjadi gangguan terhadap AVR dan tegangan real >13.1 kV maka FCR (Field Current Regulator) akan

13

secara otomatis mengambil alih untuk digunakan sebagai penstabil tegangan pengganti AVR.. Pengaturan tegangan generator dengan mengatur besar atau kecilnya arus penguatan yang masuk ke kumparan medan. Semakin besar arus eksitasi maka semakin besar GGL induksi yang dibangkitkan sebaliknya semakin kecil arus eksitasi maka semakin kecil GGL induksi yang dibangkitkan oleh generator. Pengaturan arus eksitasi ini oleh AVR dengan mengatur besar kecilnya tegangan penyalaan pada thyristor. Penguatan generator akan terus berlangsung selama seluruh proses pembangkitan bekerja.

14

BAB IV PENUTUP

4.1

Kesimpulan Setelah melakukan Kerja Praktek di PT. Indonesia Power PLTA Panglima

Besar Soedirman Unit Bisnis Pembangkitan Mrica Banjarnegara, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Di dalam sistem eksitasi generator PLTA PBS, terdapat beberapa komponen penting yang peranannya sangat berpengaruh terhadap hasil penguatan yang akan diberikan ke rotor generator. Komponen eksitasi untuk masing-masing unit generator pada PLTA PBS yaitu Battery, Trafo Eksitasi, Konverter (Perubah tegangan AC - DC) / Rectifier (Penyearah), AVR (Automatic Voltage Regulator), FCR (Field Current Regulator), Pemutus Tenaga (PMT), Field flasing & Sikat Arang 2. Sistem eksitasi yang digunakan pada generator utama PLTA PB Soedirman adalah menggunakan sistem eksitasi statik, artinya saat putaran generator mencapai 90% field flasing akan menutup bersamaan dengan PMT eksitasi sehingga generator akan dicatu oleh battery 110 VDC. Setelah 5 detik, field flasing akan lepas dan generator akan mulai menggunakan sistem eksitasi sendiri dengan mengambil sebagian daya dari keluaran generator sebesar 180 KW yang teganganya sudah diturunkan oleh trafo eksitasi dari tegangan 13,8 KV menjadi 335 V, kemudian tegangan tersebut disearahkan oleh rectifier 3 phasa, lalu AVR (Automatic Voltage Regulator) digunakan sebagai penstabil tegangannya. serta FCR (Field Current Regulator) digunakan sebagai penstabil arus. 3. Perubahan eksitasi hanya akan mengubah daya semu output (kVA), tetapi tidak akan mengubah daya nyata output (kW). Dengan kata lain , Penguatan (eksitasi) hanya merubah faktor daya beban yang dihantarkan

15

tanpa mempengaruhi beban sepanjang torsi penggerak dari masing-masing generator yang bekerja paralel tidak berubah. 4. Tujuan dari sistem eksitasi pada generator adalah untuk mengendalikan output dari generator agar tetap stabil pada beban sistem yang berubah ubah dengan cara mengendalikan sudut penyalaan atau gate Thyristor.

4.2

Saran a) Upaya untuk menjaga K3 harus selalu digalakkan untuk menekan terjadinya kecelakaan. b) Selalu lakukan pengecekan rutin untuk masing-masing peralatan agar peralatan dapat bekerja secara maksimal. c) Apabila terjadi gangguan harus segera dilakukan perbaikan serta pengujian pada sistem sehingga dapat mengambil keputusan apakan alat perlu diganti atau tidak, sehingga tidak terjadi kerusakan yang lebih fatal.

16

DAFTAR PUSTAKA

Andhika, Rizqi. 2010. Sistem Eksitasi Statik Pada Generator PLTA Panglima Besar Soedirman. Semarang : SMK Negeri 7. Dwihakoso, M. Fauzi. 2011. Sistem Penguatan ( Eksitasi ) Statik Pada Generator 13,8 KV PLTA Panglima Besar Soedirman Di Mrica

Banjarnegar. Semarang : SMK Negeri 7. Iswanto, Japar. 1996. Pembangkitan GGL Generator Serempak 3 Fase Pada Unit PLTA Wadaslintang PLN PJB Sektor Mrica Banjarnegara. Yogyakarta : Institut Sains & Teknologi AKPRIND Praja W, Ridwan. 2011. Kendali Sistem Berbasis Thyristor Pada Generator Sinkron 67 MVA PLTA Panglima Besar Soedirman. Purbalingga : UNSOED. Tohidin. 1996. Dr. Este Buku Pintar Jilid I. Banjarnegara. ______. 1997. Dr. Este Buku Pintar Jilid II. Banjarnegara.

17