Anda di halaman 1dari 99

Farmasi Sains dan Industri Angkatan 2004

Buku Sakti PKL


Industri
Soal-Jawab dari Sang Dosen Pilihan
Editor: moko-apt
www.moko31.wordpress.com

SOALJAWABPKLINDUSTRI
BuatpersiapanPKL2009

FarmasiSainsdanIndustri
Angkatan2004

DaftarIsi

1 Audit 1
2 StabilityStudy 4
3 SoaldariPakPurwadi 10
4 SoalPakMarchabandanPakAgusSetiayawan 17
5 PakArsyadidanBuUmi 18
6 PakMufrod 36
7 BuNining 38
8 BagianTeknik 45
9 Validasi 49
10 RuangLingkupCPOB 59
11 SoalKompreKomisiIPakPurwadi 62
12 ResumeDiskusiKomisiI 70
13 Ruangan 74
14 Air 76
15 Tablet 83
16 SterilSterilYuk 84
17 PengolahanLimbahPTKimiaFarma 88
18 PengolahanLimbahPTBerlico 92
1
AUDIT



SELF AUDIT (INSPEKSI DIRI)

Untuk menjamin kualitas, setiap perusahaan farmasi perlu untuk menerapkan dan melaksanakan
suatu sistem QA yang efektif, dengan partisipasi aktif dari manajemen dan personel. Untuk
mengukur efektifitas sistem QA dan menyakinkan bahwa sistem tersebut telah sesuai dengan
CPOB/GMP, audit secara rutin harus dilaksanakan. Audit mungkin dilakukan oleh perusahaan itu
sendiri (internal), atau dari vendors (eksternal). Sebagai suatu alternatif, audit dapat dilakukan
oleh konsumen atau badan regulatory.

Kesesuaian antara dokumen lokal (current) dengan dokumen corporate dan dokumen yang telah
didaftarkan ke BPOM merupakan salah satu persyaratan regulatori dan CPOB. Selain itu prinsip
CPOB adalah tulislah apa yang akan dikerjakan, kerjakanlah apa yang telah ditulis, dan tulislah
apa yang telah dikerjakan.

Self-audit ini dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan ataupun ketidaksesuaian dengan
standar, yang kemudian dapat segera dilakukan tindakan perbaikan sehingga dapat mencegah
kemungkinan timbulnya masalah terhadap kualitas atau mencegah masalah tersebut ditemukan
oleh regulatory inspector. Selama tindakan perbaikan perlu adanya monitoring untuk memastikan
bahwa hal tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan tujuan yang diinginkan tercapai, serta
perlunya suatu mekanisme untuk mencegah masalah tersebut terulang kembali di kemudian hari.

Audit memberikan beberapa manfaat, di antaranya merupakan suatu alat untuk menilai semua
aspek yang berhubungan dengan kualitas dan risiko terhadap compliance, audit memberikan
dukungan untuk melakukan perbaikan secara terus menerus, audit merupakan bagian yang
fundamental dalam sistem manajemen kualitas dan audit merupakan hal yang disyaratkan oleh
peraturan yang berlaku.

INTERNAL AUDIT

Internal audit dilakukan oleh suatu organisasi terhadap sistem, prosedur dan fasilitas yang
dimilikinya. Peraturan di Eropa mensyaratkan suatu perusahaan farmasi: melaksanakan secara
berulang self-inspections sebagai bagian dari system QA, untuk mengawasi pelaksanaan dan
kesesuaian dengan CPOB dan melakukan berbagai tindakan perbaikan yang diperlukan.

Di samping merupakan suatu persyaratan legal, internal audit merupakan sesuatu yang vital dalam
kegiatan bisnis. Sama pentingnya dengan pengawasan terhadap status compliance terhadap
peraturan yang berlaku, pelaksanaan internal audit yang baik akan membantu menginformasikan
dan memberikan pengertian bahwa kualitas merupakan tanggung jawab setiap orang sehingga
akan memicu perbaikan yang berkelanjutan.
Internal audit terdiri dari tiga tingkat pendekatan:
- Tingkat pertama dilaksanakan oleh staff dari bagian atau departemen itu sendiri. Audit ini
2
bersifat pendek dan terbatas dalam ruang lingkup, fokus terhadap masalah, seperti rumah
tangga dan dokumentasi.
- Tingkat kedua dipimpin oleh bagian QA, terdiri dari staff independen selama audit. Audit
ini lebih panjang/lama, tetapi lebih jarang dilakukan, dan lebih memperhatikan terhadap
sistem daripada rumah tangga.
- Tingkat ketiga dilakukan oleh corporate compliance group. Sebagai alternatif, mungkin
dapat digunakan eksternal konsultan. Audit ini sering dilakukan untuk mengukur kesiapan
terhadap regulatory audit, namun dapat juga dilakukan untuk menemukan suatu masalah
yang kompleks pada suatu aktifitas spesifik yang kritis.

EKSTERNAL AUDIT

Eksternal audit adalah audit yang dilakukan oleh suatu perusahaan terhadap vendors atau
subcontractors. Tidak ada persyaratan legal untuk melaksanakan audit ini, namun audit ini mutlak
diperlukan, karena perusahaan perlu untuk mengenal supplier dengan jelas. Apalagi jika proyek
yang ada dikerjakan oleh kontraktor dari luar, perusahaan harus menyakinkan bahwa kontraktor
tersebut kompeten untuk menyelesaikannya, dan compliance terhadap CPOB.

Dengan melaksanakan audit ini terdapat beberapa keuntungan bisnis yang penting:
1. Membangun pengetahuan dan kepercayaan dalam perencanaan hubungan kerja
(partnership).
2. Memastikan bahwa persyaratan-persyaratan yang diperlukan telah dipenuhi dan
dimengerti.
3. Memungkinkan pengurangan aktifitas tertentu (seperti tes terhadap bahan awal pada QC).
4. Mengurangi risiko kesalahan yang mungkin terjadi.

Ruang lingkup dari audit ini akan bervariasi, tergantung pada hubungan antara dua perusahaan,
yang mungkin berkisar dari suatu transaksi sederhana penjual-pembeli sampai kepada suatu
hubungan strategic joint venture.

Umumnya, audit ini akan menjadi evaluasi awal terhadap kemampuan dan kecocokan secara
umum dari vendor/contarctor. Selanjutnya, audit rutin akan dilakukan untuk mengukur
compliance dengan standar persetujuan kontrak. Frekuensi dari audit ini akan tergantung pada
findings awal dan permasalahan kritis dari vendor dan material yang disuplai. Kepercayaan diri
vendor akan meningkat melalui tindakan audit, sistem internal audit, third-party audit dan
pengalaman vendor. Pelaksanakan internal audit secara rutin memungkinkan untuk mengurangi
tingkat eksternal audit.

Banyak supplier industri farmasi bersertifikat ISO 9001 atau ISO 9002 dan diaudit secara rutin
oleh badan sertifikasi tersebut. IQAs Pharmaceutical Quality Group telah mempublikasikan
pedoman praktik bagi supplier farmasi, didalam banner PS 9000, detail mengenai persyaratan
tambahan bagi industri farmasi, menitikberatkan pada pengemas primer, printed materials dan
raw materials (bahan aktif dan bahan tambahan). Perusahaan manufacturing atau packaging
memerlukan lisensi dan akan menjadi subyek regulatory audit.

REGULATORY AUDIT

Audit ini dilaksanakan oleh badan yang berwenang, untuk melihat kesesuaian suatu perusahaan
farmasi baik manufacture maupun supply. Badan yang berwenang tersebut antara lain Medicine
Control Agency (MCA) di Inggris, Food and Drug Administration (FDA) di USA dan Badan
Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) di Indonesia. Semua perusahaan farmasi manufacture
yang berlisensi secara rutin dilakukan regulatory audit. Audit ini mungkin tidak diumumkan
sebelumnya (MCA melaksanakan 10% audit dengan cara ini), karena perusahaan diharapkan
compliance dengan CPOB setiap waktu. Badan regulatory dari negara yang berbeda, dapat juga
melakukan audit terhadap suatu perusahaan, misal FDA mengaudit perusahaan di Eropa.
3

Kegagalan suatu perusahaan dalam regulatory audit memaksanya untuk menerapkan CPOB dan
dapat menyebabkan larangan atau pencabutan izin produksi atau eksport/import. FDA
menjatuhkan hukuman finansial consent decrees terhadap perusahaan yang gagal untuk
merespon secara adekuat terhadap audit findings dan comply terhadap CPOB. Oleh karena itu,
suatu perusahaan harus mempunyai suatu prosedur yang jelas dan mempunyai staf yang terlatih
dengan baik untuk melaksanakan audit. Internal audit memberikan kesempatan yang berharga
kepada staf perusahaan untuk berlatih melakukan audit.

Regulatory audit sangat barvariasi dalam ruang lingkup, frekuensi dan durasi. Audit yang
dilakukan oleh badan regulatory nasional mungkin akan dilaksanakan secara rutin dan mencakup
sistematika semua fasilitas, selama periode tertentu.

Audit yang dilakukan oleh badan regulatory luar negeri mungkin bersifat general atau
berhubungan dengan peraturan spesifik tertentu: inspeksi yang dilakukan oleh FDA sebelum
memberikan ijin terhadap pendaftaran obat baru.

Setelah regulatory audit, laporan resmi akan dikirimkan, laporan dari format tersebut akan
tergantung pada perhatian dari badan regulatory tersebut. Badan regulatory mengharapkan
ketepatan waktu respon terhadap laporan audit dan laporan umum. Badan regulatory akan
memeriksa bahwa tindakan perbaikan telah dilaksanakan pada audit berikutnya. Merupakan suatu
kebijaksanaan dalam menjalankan bisnis apabila permasalahan yang ditemukan dalam regulatory
audit disikapi dengan serius dan tindakan perbaikan dilakukan dengan tepat waktu dan efektif.

Kesimpulan

Self audit merupakan suatu tindakan preventif yang penting dilakukan untuk mengidentifikasi
masalah atau ketidaksesuaian dengan standar sedini mungkin, dan kemudian segera dilakukan
suatu tindakan perbaikan sebelum memberikan pengaruh terhadap kualitas produk ataupun
sebelum masalah/kekurangan tersebut ditemukan oleh regulatory inspector.

4
2
STABILITY STUDY



Pemeriksaan stabilitas dilakukan untuk menjamin kualitas produk obat sampai ED, untuk
mengetahui waktu kadaluarsa obat, serta untuk menentukan shelf life produk periode waktu
penyimpanan pada kondisi yang spesifik sampai produk masih memenuhi spesifikasi. Uji
stabilitas produk dilakukan pada kondisi penyimpanan sebenarnya (real time) maupun dalam
kondisi suhu yang ditingkatkan (accelerated test). Ada 3 jenis uji stabilitas yaitu:
a. Uji stabilitas produk pada kondisi penyimpanan 25
o
C pada bulan ke 3, 6, 12, 24, 36, 48.
b. Uji stabilitas produk dalam kondisi penyimpanan 30
o
C (suhu kamar) pada bulan ke 3, 6, 12,
18, 24, 36 dan 48.
c. Uji stabilitasyang dipercepat dengan kondisi penyimpanan produk dalam suhu 40
o
C, 75% RH
pada bulan ke 0, 1, 2, 3, dan 6.

ACCELERATED STUDY

Studi stabilitas obat yang dipercepat dengan suhu yang dinaikkan.

Skema :
Sediaan obat penyimpanan pada suhu 40 C pada RH 70% (dalam chlimatic chamber)
disimpan selama 6 bulan sampling sampel kadar zat aktif pada bulan ke 0, 1, 2, 3 dan 6
tentukan orde reaksi degradasi zat aktif didapat persamaan degradasi pada orde reaksi tersebut
dicari waktu kadaluarsa obat (t
90
) pada ketiga suhu tersebut konversi t
90
yang diperoleh ke
t
90
suhu kamar (dengan rumus energi aktivasi atau dengan metode Q
10
).

Stabilitas obat adalah derajat degradasi dari suatu obat dipandang dari segi kimia. Stabilitas obat
dapat diketahui dari ada tidaknya penurunan kadar selama penyimpanan. Jika tidak dinyatakan
lain, obat dikatakan stabil apabila kadar zat aktifnya 90% dari kadar zat aktif awal (yang
diklaim).

Tingkat Reaksi Kimia

Dalam banyak hal, tingkat reaksi kimia sederhana dapat dibedakan menjadi empat, yaitu:
1. Reaksi Orde Nol
Suatu reaksi dikatakan sebagai reaksi orde nol apabila reaksi tersebut tidak tergantung pada
konsentrasi reaktan (zat yang bereaksi), dengan kata lain reaksi tersebut tergantung pada eksponen
nol dari konsentrasi reaktan. Hal ini berarti faktor pembatas kecepatan laju degradasi dalam tipe
ini adalah sesuatu yang bukan konsentrasi reaktan, seperti absorban sinar pada reaksi fotokimia.
Persamaan kecepatan reaksi orde nol adalah sebagai berikut:
t . k C C
0 0
=
t
90
= 0,1 [C
0
]
K
0

5
Dengan C adalah konsentrasi reaktan, C
0
menunjukkan konsentrasi reaktan awal, k
0
menunjukkan
tetapan laju reaksi dan t adalah waktu. Kurva stabilitas menurut reaksi orde nol dinyatakan
sebagai grafik dengan konsentrasi sebagai fungsi waktu, maka korelasi antara konsentrasi dan
waktu akan berupa garis lurus dengan angka arah - k.

2. Reaksi Orde Satu
Suatu reaksi dikatakan sebagai reaksi orde satu apabila laju reaksinya tergantung pada konsentrasi
reaktan tunggal. Dalam tipe ini, zat tunggal terurai langsung menjadi satu produk atau lebih.
Adapun laju reaksinya berbanding lurus dengan konsentrasi zat yang bereaksi. Persamaan
kecepatan untuk reaksi orde satu adalah sebagai berikut:
0 1
C . k
dt
dC
=


Dengan menyusun dan mengintegralkan persamaan di atas akan diperoleh persamaan:
t . k C ln C ln
1 0
=
Dengan C adalah jumlah reaktan yang tunggal setelah waktu t, C
0
menunjukkan konsentrasi
reaktan mula-mula, k
1
menunjukkan tetapan laju reaksi, dan t adalah waktu. Dengan
menggunakan persamaan ini dimungkinkan untuk menghitung laju reaksi (k) dengan jalan
menetapkan konsentrasi obat yang masih tertinggal (sisa) pada waktu t.

Suatu besaran yang penting dalam reaksi orde satu adalah waktu paro (t
1/2
) dan waktu kadaluarsa
(t
90
) dari suatu reaksi. Waktu paro adalah waktu yang dibutuhkan agar konsentrasi reaktan
menjadi 1/2 dari konsentrasi semula. Dengan jalan mengganti C dengan C
0
/2 dalam persamaan,
akan diperoleh persamaan:

2 / 1 1
0
0
t . k
C
2
C
ln =
Waktu kadaluarsa adalah waktu yang dibutuhkan agar konsentrasi reaktan terdegradasi
sepersepuluh konsentrasi semula. Harga t
90
dapat dihitung seperti halnya dengan perhitungan t
1/2
.
Persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut:

90
100
log
k
303 , 2
t
90
=
Atau

k
105 , 0
t
90
=
Penting untuk diketahui bahwa nilai waktu kadaluarsa dan waktu paro tidak tergantung pada
konsentrasi reaktan.

3. Reaksi Orde Dua
Suatu reaksi dapat dikatakan sebagai reaksi orde dua apabila dalam reaksi tersebut kecepatan
reaksi bergantung pada konsentrasi dua reaktan. Jika konsentrasi kedua reaktan sama, maka
persamaan kecepatan reaksi orde dua adalah sebagai berikut:
2
0 1
C . k
dt
dC
=


Dengan jalan menyusun dan mengintegralkan persamaan di atas akan diperoleh persamaan:
t . k
C
1
C
1
2
0
=
Dengan k
2
adalah tetapan laju reaksi, C menunjukkan jumlah reaktan yang tinggal setelah waktu t,
C
0
menunjukkan konsentrasi mula-mula dan t adalah waktu.



6
4. Reaksi Orde Satu Semu
Reaksi tipe ini dapat didefinisikan sebagai suatu reaksi orde dua atau sebagai reaksi bimolekuler
yang dibuat berkelakuan sebagai reaksi orde satu. Hal ini dapat terjadi bila salah satu reaktannya
dibuat berlebihan atau dijaga konsentrasinya agar relatif tetap selama reaksi berlangsung.
Persamaan-persamaan yang digunakan dalam reaksi orde satu semu sama dengan persamaan-
persamaan untuk orde satu.

Metode Q
10
Merupakan metode untuk memperkirakan pengaruh suhu pada reaksi dengan menggunakan rasio
konstanta kecepatran reaksi dari dua suhu yang berbeda
T1 dan T2 dengan rasio
1
2
T
T

Simonelli dan Dresback:
( )
(
(

|
|
.
|

\
|

+
=
=
T T R
Ea
T
T
e Q
k
k
Q
1
10
1
10
10
10

Q
10
merupakan faktor dari rasio konstanta kecepatan reaksi karena perubahan suhu 10 C.
Asumsi harga Ea Konstan, maka :
1
2
log
k
k

Q
10
Ea (kkal/mole)
0,254 1,8 10
0,38 2,4 15
0,508 3,2 20
0,63 4,3 25
0,76 5,8 30
Tipikal untuk obat adalah, Ea = 15 s/d 25
Bentuk lain dari Q
10
adalah Q
AT

|
.
|

\
| A
A +
A
= = 10
10
) (
T
T
T T
T
Q
k
k
Q

|
.
|

\
| A
=
10
10
90
90
) 1 (
) 2 (
T
Q
T t
T t

PENGOLAHAN LIMBAH |-LAKTAM
Skema
Limbah |-laktam Hidrolisis Netralisasi Endapkan Cairan Bak Multicella
aerator lagoon Fish pond Badan air buangan

dihapalkan
7

Keterangan :
1. Penampungan awal dan filtrasi
2. Bak netralisasi
3. Bak koagulasi dan flokulasi
4. Bak filtrasi (pasir kwarsa)
5. Bak aerasi
6. Bak sedimentasi
7. Bak penampungan akhir dan bio indikator

Di antara obat-obatan yang dapat menyebabkan pencemaran/masalah lingkungan, antibiotik
merupakan obat yang penting karena pemakaiannya yang luas baik untuk pengobatan hewan
maupun manusia. Antibiotik umumnya mempunyai kemampuan biodegradability yang rendah,
karena sifatnya sebagai bakterisidal dan degradasi dari substansi ini tidak dapat berjalan dengan
baik baik di alam (secara alami) maupun dalam biological treatment plants. Oleh karena itu
antibiotik terdeteksi di permukaan dan air tanah dengan kadar g/l hingga ng/l. Efek toksik
antibiotik terhadap organisme air berkisar mg/l.

Antibiotik tidak dapat di degradasi dengan efektif dengan cara conventional biological treatment.
Oleh karena itu, teknologi oksidasi secara kimiawi diperlukan untuk mengolah limbah antibiotik
ini. Penelitian telah dilakukan terhadap limbah cair yang mengandung enrofloxacin yang diberi
perlakuan dengan O3, O
3
/H
2
O
2
dan O
3
/UV, proses ini bermaksud untuk meningkatkan
biodegradasi.

Dari hasil penelitian tersebut mengindikasikan bahwa dalam pengolahan limbah yang
mengandung antibiotik dengan ozonisasi, kontrol terhadap pH merupakan faktor yang penting
untuk mendapatkan pengolahan limbah yang efektif. Aplikasi ozonisasi pada pH 12, rasio
BOD
5
/COD dapat ditingkatkan menjadi 0,5. Perlakuan dengan H
2
O
2
tidak meningkatkan efisiensi
pengolahan limbah cair yang mengandung enrofloxacin. Pada proses O
3
/UV, sinar UV254
meberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemecahan cincin aromatik dan biodegradability
limbah tersebut. Dapat disimpulkan bahwa proses ozonisasi dan photolytic ozonation memberikan
suatu metode yang menjanjikan terhadap pengolahan limbah cair yang mengandung antibiotik.

VII VI V
I
IV III
II
Limbah dari produksi
Saluran pembuangan
Bak destruksi
|-Laktam
8
Kesimpulan:
O3, O3/H2O2 dan O3/UV merupakan salah satu metode destruksi antibiotik pada pretreatment
pengolahan limbah. Selain dengan metode tersebut destruksi antibiotik dapat menggunakan panas
atau dengan asam kuat atau basa kuat. Apabila menggunakan asam kuat atau basa kuat untuk
mendestruksi |-laktam, maka sebelum masuk ke sistem pengolahan limbah cair, dilakukan
netralisasi terlebih dahulu.


QC adalah bagian yang bertugas menganalisa raw material, bulk product, finish
product, validasi test method.
QA adalah bagian yang bertugas memastikan dan menjamin kualitas produk secara
keseluruhan, mulai pemesanan bahan awal hingga distribusi ke konsumen.



Secara stuktural QA danQC unit sejajar, tapi untuk hierarki jabatan QA manager lebih
tinggi dari pada QC manager.



- Sediaan yang diproduksi ( processing + packaging) adalah semisolid & solid non
antibiotik
- Untuk antibiotik dikirim dalam bentuk bulk product
- Sedangkan untuk sediaan steril diimpor dalam bentuk finished goods tinggal
stikering saja.



- E
1
: untuk processing & primary packaging, ruang sampling
- E
2
: Untuk secondery packaging
- F : warehouse
- Unclassified area : office, toilet, kantin dll

1 : 5
Beda QC dan QA di Aventis ?
Struktur organisasi QC dan QA, terletak dimana ? Sejajar atau tidak ?
Berapa macam sediaan obat yang diproduksi di Aventis ?
IQC dept
QA unit RSO QC unit ADASS unit
Pembagian Zona/ Class area ?
Berapa banyak perbandingan obat yang diproduksi di Aventis dengan obat
yang repackaging ?
3
Soal dari Pak Purwadi






Prinsip destilasi (pembuatan Aquadest). Gambarkan !!!!!!

11
Keterangan :

Pasokan air dapat diperoleh dari sistem distribusi air Perusahaan Air Minum
(PAM) atau air yang diperoleh dari sumur. Keseluruhan variasi dan mutu dari
pasokan air hendaklah ditentukan dan target mutu air ditetapkan.

Dianjurkan melakukan pengolahan awal bahan baku air sebelum melalui unit
destilasi, sebagai jaminan untuk menghindarkan adanya kesulitan dalam
pengoperasian. Sistem pengolahan awal tersebut dibagi dalam dua kategori :
- Penggunaan saringan, misalnya saringan pasir (untuk menghilangkan zat
colloid dan partikel), saringan karbon aktif (untuk menghilangkan klorin),
saringan katrid (untuk menghilangkan zat yang tidak larut), dan lain-lain.
- Pengolahan air primer termasuk unit pelunakan air dan deionisasi.
Pelaksanaan regenerasi diperlukan apabila angka konduktivitas air meningkat
atau apabila jumlah mikroba hampir mendekati batas untuk pengambilan
tindakan.

Unit destilasi meningkatkan mutu air dengan cara penguapan, pemisahan tetesan
air terhadap kontaminan dari uap dengan cara mempercepat sirkulasi atau melalui
alat pemisah dan mendinginkan uap air murni melalui alat penukar panas.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian unit destilasi adalah : mutu
pasokan air, kerak, keseluruhan alat pemantauan, integritas pengelasan, rembesan,
saringan ventilasi dan kontaminasi endotoksin.



Keterangan :
Air dingin dimasukkan ke dalam wadah penguapan yang sudah dihubungkan
dengan pemanas. Uap air yang terbentuk masuk ke pendingin dan berubah bentuk
menjadi air kembali. Selanjutnya air yang berasal dari uap air tadi melewati pipa
penyeberangan dan masuk ke dalam wadah penampungan.



Alur produksi tablet ?????

12

Metode granulasi basah merupakan metode yang paling luas dan paling banyak
digunakan pada proses pembuatan tablet. Tujuan granulasi adalah untuk meningkatkan
aliran campuran dan atau kemampuan kempa. Metode ini diawali dari pengambilan
bahan baku dari gudang yang telah diluluskan oleh bagian QC. Pengeluaran bahan
baku dari gudang untuk proses produksi harus disertai dokumen raw material
requisition. Bahan baku yang telah diambil dari gudang ditimbang di dalam ruang
timbang. Bahan yang telah ditimbang diberi label/penandaan dan dimasukkan ke ruang
produk antara untuk menunggu proses granulasi dalam pembuatan tablet.



Proses selanjutnya adalah proses mixing menggunakan alat super mixer, kneeder,
atau drum mixer, dan dilanjutkan proses granulasi basah yang dilakukan dalam
super mixer atau kneading mixer, hingga terbentuk massa granul basah. Massa
granul basah diayak menggunakan oscillating granulator. Granul basah yang
diperoleh dikeringkan dengan fluidized bed dryer (FBD) hingga diperoleh granul
kering. Pada proses ini dilakukan cek kadar air oleh bagian IPC. Granul yang
diperoleh dan telah kering dicampur dengan bahan penghancur dan bahan pelicin
di dalam drum mixer, selanjutnya dicetak.


13
Tablet yang dihasilkan diperiksa oleh bagian IPC mengenai keseragaman bobot,
kekerasan, kerapuhan, dan waktu hancur. Sedangkan untuk pengujian dissolusi dan
kadar zat aktif dilakukan oleh bagian analisa (laboratorium analisa). Setelah tablet
lulus uji, dimasukkan pada pengemasan primer yang meliputi proses stripping dan
hospital pack. Untuk proses stripping dilakukan pemeriksaan kebocoran strip oleh
bagian IPC. Selanjutnya dikemas sekunder dan diperiksa penampilan,
kelengkapan, dan penandaan oleh QC. Jika lulus uji, dimasukkan ke dalam gudang
produk jadi.
Keterangan :
Proses penyalutan gula terdiri dari beberapa tahap yang lamanya berkisar antara
beberapa jam hingga beberapa hari. Tahapan proses penyalutan gula adalah :
(1) Penyegelan tablet inti (Seal Coating)
Tujuan penyegelan adalah untuk mencegah penyusupan air ke dalam tablet
inti. Penggunaan larutan seal coating yang terlalu banyak akan mempengaruhi
dissolusi dan disintegrasi obat, namun penyegelan yang kurang akan
menyebabkan stabilitas tablet inti terganggu (tablet pecah / cracking).
(2) Pelapisan dasar (Sub Coating)

14
Tujuan sub coating adalah untuk membulatkan tepi tablet dan menutup sudut-
sudut kritis pada tablet inti serta meningkatkan berat tablet (penyalutan gula
dapat meningkatkan berat tablet 50-100%). Variasi bobot tablet salut gula
maksimal 6,5 %.
(3) Pewarnaan (Coloring)
Tujuan pewarnaan adalah untuk menutupi atau mengisi cacat pada permukaan
tablet yang disebabkan oleh tahap pelapisan dasar serta memberikan warna
yang diinginkan bagi tablet. Umumnya pewarnaan ditambahkan pada saat
tablet sudah cukup halus agar hasil akhir tablet tidak berbinik-bintik dan terjadi
migrasi warna.
(4) Penghalusan (Smoothing)
Tujuan penghalusan adalah untuk mengikis permukaan tablet yang kasar yang
disebabkan oleh tahap pelapisan dan atau pewarnaan sehingga menghasilkan
tablet halus, mengkilap, dan anggun.
(5) Pengkilapan (Polishing)
Tujuan pengkilapan adalah untuk memperoleh hasil akhir (tablet salut yang
mengkilap, licin, halus, dan menawan. Hal yang perlu diperhatikan dalam
tahap ini adalah jangan digunakan panas berlebih karena bubuk wax akan
menempel pada tablet, serta hentikan proses polishing jika tablet sudah
mengkilap, jika terlalu lama justru tablet akan rusak dan tidak mengkilap
(buram).



Sebelum melaksanakan proses produksi, bahan baku yang ada harus memenuhi syarat
yang telah ditetapkan, sehingga produk yang dihasilkan mempunyai kualitas yang baik.
Pemeriksaan bahan baku meliputi : pemeriksaan surat jalan; PO/PR; label; nama
bahan; nomor batch/lot; nama pabrik pembuat; nomor wadah; kadaluarsa; kondisi
wadah, tutup, segel; dan pemeriksaan laboratorium. Bagian analisa melakukan
sampling dari bahan baku yang sesuai dengan prosedur tetap.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam sampling :
1). Pengambilan sampel secara acak dari bagian atas, tengah, dan bawah dari
wadah. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan alat thief
sampler.
2). Pengambilan sampel diambil secara acak untuk setiap batch dengan rumus
n +1, n adalah jumlah wadah yang diterima. Untuk bahan yang identitasnya
kurang jelas, wadah kotor, pabrik pembuat berbeda dari biasanya, dan bahan
dari supplier baru, maka sampling dilakukan terhadap semua wadah dalam
batch.
3). Pengambilan contoh dilakukan dengan tepat untuk mencegah kontaminasi
dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a). Sebelum sampling diperiksa apakah segel/tutup wadah masih utuh.
b). Alat sampling bersih.
c). Wadah segera ditutup rapat dan diberi penandaan.
Setelah dilakukan sampling, bahan baku diberi label KARANTINA yang
berwarna kuning, sampel dibawa ke laboratorium dan diperiksa identitas,
deskripsi, kemurnian, dan penetapan kadar.

Warna label : kuning, hijau, merah ?????

15
Setiap pengujian bahan baku dilengkapi dengan catatan pengujian (testing order)
atau catatan hasil pengujian yang ditandatangani oleh QC manager. Bahan baku
yang telah lulus seleksi diberi label DILULUSKAN yang berwarna hijau, dan
jika tidak sesuai dengan spesifikasinya diberi label DITOLAK yang berwarna
merah. Selain itu bagian analisa mengeluarkan lembar DISPOSISI QC yang
menerangkan status bahan baku. Disposisi ini ditembuskan ke bagian PPIC untuk
perencanaan produksi dan bagian keuangan untuk pembayaran.

Contoh Label Karantina, Reject, dan Release
















Contoh Blangko Disposisi QC



















Uji keseragaman bobot yang dilakukan oleh IPC tiap 30 menit atau 1 jam selama
proses pencetakan tablet. Caranya adalah sebagai berikut : ambil 10 tablet, timbang
bobot dari 10 tablet tersebut, dan hitung bobot rata-rata tiap tablet. Kemudian
Check Weigher itu apa?? Jelaskan !!!!

16
ditimbang tablet satu per satu dan dilihat apakah bobot tiap tablet sudah memenuhi
persyaratan bobot tablet yang telah ditentukan.



Uji Keseragaman Bobot :
Dilakukan dengan timbangan analitik yang sudah dimodifikasi. Cara kerjanya
adalah sebagai berikut :
Kita masukkan data range bobot tablet yang diijinkan, kemudian kita letakkan
tablet satu per satu di atas timbangan sampai sebanyak 20 tablet. Data bobot tiap
tablet dan bobot rata-rata dari 20 tablet akan langsung keluar dari print out, begitu
juga data tablet yang menyimpang dari persyaratan yang telah ditentukan, juga
perhitungan SD-nya.

Uji Kebocoran :
Dilakukan dengan menggunakan bejana kaca yang tertutup rapat dan di dalamnya
sudah berisi larutan Metilen Blue. Caranya adalah sebagai berikut : tablet yang
sudah distripping atau diblister (sebanyak 3 atau 5 strip/blister) dimasukkan ke
dalam bejana kaca berisi larutan metilen blue, kemudian divakum selama 15-30
menit. Setelah itu strip diambil dan dibuka satu per satu, kemudian dilihat apakah
ada larutan metilen blue yang masuk ke dalam strip atau tabletnya berubah warna
menjadi biru. Bila ya, berarti stripnya bocor dan perlu dilakukan pengemasan
ulang pada batch tersebut.

Uji Spesifikasi Kemas Primer :
1. Kemasan Strip/Blister
Jumlah tablet yg dikemas vs jumlah tablet yang dihasilkan
Penandaan (No. Batch, Mfg. Date, Exp. Date) pada blister/strip, dus,
karton
Test kebocoran strip/blister
Jumlah tablet dalam strip/blister
Jumlah strip/blister dalam dus
Jumlah dus dalam karton
Kelengkapan (etiket, brosur, penandaan)
Kerapian
Rekonsiliasi Bahan pengemas
2. Kemasan Botol (sirup, suspensi, other liquid)
Jumlah botol yang dihasilkan vs jumlah cairan yg diproduksi
Volume (isi) per botol
Kebocoran (tutup)
Jumlah botol dalam dus
Jumlah dus dalam karton
Kelengkapan (etiket, brosur, penandaan)
Kerapian
Rekonsiliasi bahan pengemas
Uji yang dilakukan IPC : Uji keseragaman bobot. Uji kebocoran (dengan alat
apa dan bagaimana cara kerjanya), uji spesifikasi kemas primer apa aja????

17

4
Soal Pak Marhaban dan Pak Agus
Setiyawan



- Ukuran partikel
Beberapa metode untuk mengukur ukuran partikel antara lain dengan metode
pengendapan, sentrifugasi, pengayakan bertingkat, dan mikroskopi.
- Ketebalan tablet
Diukur dengan menggunakan jangka sorong.
- Densitas
Diukur dengan menggunakan gelas ukur. Ke dalam gelas ukur berukuran 100
ml diisikan serbuk atau bahan uji sampai mencapai volume 100 ml tanpa
dilakukan penghentakan. Setelah itu granul dalam gelas ukur tadi ditimbang
dan dihitung bobotnya, baru kemudian dihitung densitasnya dengan rumus :
(ml) granul volume
(gram) granul berat
density) (bulk Densitas =
- Rendemen
Rendemen diukur dengan menggunakan moisture analyzer balance.
Sejumlah bahan uji yang sudah diketahui beratnya dimasukkan ke dalam suatu
wadah pada Moisture Analyzer Balance. Selanjutnya alat dijalankan, dengan
suhu uji dikendalikan pada 110C. Setelah bobot bahan uji konstan (tidak ada
lagi pengurangan kadar air dalam bahan uji), alat akan berhenti secara
otomatis. Hasil analisis dapat dibaca pada print out yang meliputi berat serbuk
mula-mula, berat serbuk setelah proses, berat air yang hilang, lama waktu
pengujian, dan % kadar air pada bahan yang diuji.

Mengukur partikel, ketebalan tablet, densitas, rendemen pakai apa????

18
5
Pak Arsyadi dan bu Ummi




Umumnya obat kembalian hendaklah dimusnahkan karena keamanaan, identitas,
kekuatan, kualitas atau kemurniannya diragukan. Hanya setelah diadakan
penelitian dan pemeriksaan dan obat yang bersangkutan terbukti memenuhi standar
mengenai keamanan, identitas, kekuatan, kualitas dan kemurnian pengemasan
ulang dapat dipertimbangkan. Suatu obat dapat dikemas ulang apabila obat tsb
memenuhi standar, spesifikasi dan karakteristik yang telah ditetapkan, atau diolah
ulang apabila ketentuan yang telah ditetapkan khusus untuk pengolahan ulang
misalnya kadar bahan berkhasiat, kadar hasil peruraian dan sebagainya dipenuhi.
Suatu obat yang telah daluwarsa atau obat yang disimpan kondisi penyimpanan
yang tidak baik seperti pada suhu tinggi, kelembaban tinggi, terkena asap, wangi-
wangian atau karena musibah alam seperti kebakaran, kebanjiran atau yang
diragukan kondisi penyimpanan dan penangannya tidak boleh diolah ulang dan
tidak dipasarkan lagi (Anonim, 2001).



Kalibrasi adalah serangkaian kegiatan dalam kondisi yang telah ditentukan, yang
menetapkan hubungan antara nilai yang ditunjuk oleh alat ukur atau sistem
pengukur, atau nilai yang ditampilkan oleh suatu ukuran bahan dengan nilai sesuai
dari suatu rujukan standar (Anonim 2001).
Intinya adalah menyetarakan peralatan / instrumen agar sesuai seperti yang tertera
pada alat/manual book tersebut, atau bahasa yang sering kita gunakan adalah
penyetaraan.




Merupakan suatu alat (manajemen) untuk mencapai tujuan pengelolaan material
(bahan baku, behan kemas, produk setengah jadi dan produk jadi) itu sendiri.
Dengan kata lain PPIC merupakan jembatan antara bagian produksi, pemasaran,
R&D, finance, gedung dll untuk mencapai pengelolaan material secara tepat
(jumlah, mutu, waktu, biaya).

Tujuan pokok dari departemen PPIC adalah merencanakan dan mengendalikan alur
bahan-bahan yang masuk ke proses produksi, produk yang sedang dalam proses
PPIC
Kalibrasi
Penangan produk recall

19
WIP (Work In Process), maupun produk yang keluar dari pabrik sehingga profit
yang diinginkan perusahaan dapat tercapai secara optimal dan efisien.
Parameter kinerja PPIC:
CDI (Coverage in Days Inventory) yaitu besarnya persediaan yang
dapat untuk mengcover kebutuhan industri (dalam satuan hari kerja).
CDI = (Jumlah persediaan x jumlah hari kerja dlam 1 bulan) / Omzet
penjualan perbulan
Semakin kecil nilai CDI = kinerja PPIC semakin baik, karena jumlah
persediaan tidak terlalu besar.
Servis level (%), yaitu prosentase pemenuhan permintaan obat jadi
(penjualan) oleh bagian produksi.
Servis level = (Jumlah pesanan) / jumlah yang diproduksi x 100%
Semakin tinggi nilai servis level (100%) PPIC = kinerja semakin baik
karena dapat memenuhi permintaan marketing.




Adalah kegiatan dimana sumber daya (bahan baku, energi, teknologi, modal,
mesin, peralatan, dan personalia) yang mengalir dalam sistem tertentu,
dikombinasikan dan diubah bentuk dengan cara spesifik sehingga dihasilkan
produk yang mempunyai nilai tambah.

Input / sumber daya proses pengubahan bentuk output/produk


Control

Tujuan menejemen produksi
o Produktifitas tinggi
o Efisisensi kerja
o Penurunan biaya



Warehouse merupakan salah satu tanggung jawab dari divisi LOGISTIK yang
merupakan tempat penerimaan, penyimpanan dan penyerahan barang farmasi
berupa bahan baku, bahan pengemas, produk ruahan, obat jadi dan bahan lain yang
dibutuhkan untuk membantu kelancaran proses produksi maupun pengemasan.
Kegiatan di gudang :
1. Receiving goods (penerimaan barang) dan mengidentifikasi barang
2. Penyimpanan barang
3. Pemilihan barang
4. Pengiriman barang

Proses/alur penerimaan barang di gudang (yang ada di PT. Yarindo Farmatama):




GUDANG
Manajemen Produksi dan Operasi

20



































Air dari sumber artesis dialirkan ke bak penampungan (water tower) dengan gaya
gravitasi air mengalir dan disaring oleh sand filter, kemudian disalurkan ke karbon
filter yang berfungsi untuk menyaring dan menghilangkan bau, warna, dan rasa.
Setelah melewati karbon filter, air dilewatkan melalui cartridge filter ukuran 5
mikron. Selanjutnya air mengalir ke tabung yang berisi resin kation yang berfungsi
untuk mengikat senyawa atau molekul yang bermuatan negatif, lalu diteruskan ke
tabung resin anion untuk mengikat molekul-molekul atau senyawa-senyawa yang
bermuatan positif. Setelah melewati tangki-tangki tersebut, aqua demineralisata
yang dihasilkan dilewatkan pada cartridge 1 mikron dan UV sterilization yang
berfungsi untuk membunuh mikroorganisme. Terakhir aqua demineralisata
dilewatkan pada alat konduktivity meter untuk pemeriksaan konduktivitas untuk
kemudian ditampung. Aqua deminerallisata dialirkan ke bagian produksi setelah
melalui pengujian dari QC (PT. Berlico).

Proses pembuatan / pengolahan air untuk produksi
Produksi
Administrasi gudang
Area karantina
Memenuhi syarat Tidak memenuhi syarat
Area penyimpanan Area reject
Penyiapan & pembuatan DO
Gudang kantor pusat
Penjualan
Kartu stock
(administrasi&
lapangan)
Laporan stock bulanan
& stock opname
tahunan
Permintaan
Marketing
Label
Label hijau Label merah
R
E
T
U
R

21

















Daftar Pustaka :

Anonim, 2001, Petunjuk Praktis Cara Pembuatan Obat yang Baik, Jakarta

22

Lanjutan.



Kalibrasi alat ukur,contohnya : BURET
1. Jepit buret tegak lurus lalu isi aquadest sampai diatas garis tanda
(jangan sampai ada gelembung udara)
2. selisih antara baku dan kalibrasi masuk dalam range 0,1% maka hasil
kalibrasi tersebut memenuhi syarat



PPIC (Product Planing and Inventory Control) atau lebih sering disebut dengan
LOGISTIK. Tugas dari PPIC ini adalah :
1. Bertanggung jawab atas kegiatan perencanaan, pengendalian
produksi, pengendalian persediaan bahan baku, kemasan, produk
jadi dan distribusi.
2. Bertanggung jawab pada pengeluaran surat perintah kerja produksi
dan surat permintaan pengadaan bahan sesuai dengan jadwal
produksi yang telah ditentukan untuk menjamin kelancaran proses
produksi.
3. Bertanggung jawab untuk mengkoordinasi kegiatan distribusi
4. Bertanggung jawab untuk mengatur dan menata SDM,serta
keberadaan alat-alat inventaris yang ada merupakan tanggung
jawabnya.



Secara umum gudang merupakan suatu tempat untuk menyimpan barang. Adapun
fungsi gudang adalah :
1. Sebagai tempat untuk penerimaan barang (misalnya dari supplier,
bagian produksi dll)
2. Sebagai tempat untuk penyimpanan barang (sesuai dengan kategori
barang)
3. Sebagai tempat untuk pengeluaran barang (misalnya: kepada
distributor, produksi, QC, dll)
4. Sebagai tempat untuk pengumpulan barang.

Syarat-syarat suatu gudang adalah :
1. Suhu dan kelembaban di ruang penyimpanan ber AC < 25
o
C ; Rh 45-
75 %. Sedangkan untuk ruangan non-AC suhunya 15-30
o
C ; Rh 45-
75%.
2. Penyimpanan bahan baku, pengemas dan obat jadi sebaiknya diatas rak
(pallet) agar tidak bersinggungan langsung dengan lantai atau dinding
tembok.
3. Harus dilakukan pemeriksaan kebersihan gudang secara rutin seperti :
pemeriksaan ventilasi, atap gudang, lantai serta pemeriksaan dinding
gudang.
GUDANG
PPIC
Kalibrasi

23
4. Ada makanan khusus untuk mengontrol hama atau binatang lain yang
dapat merusak barang yang disimpan digudang (misalnya, tikus)
5. Terdapat ruang karantina, ruang sampling dan ruang (tempat) untuk
barang kembalian.

Pembagian ruangan dalam gudang dapat dilakukan secara fisik, misalnya
dengan cara menyekat atau membatasi antar ruangan dengan tembok atau
hanya dengan garis saja. Selain itu, pembagian ruangan dalam gudang juga
dapat dilakukan berdasarkan suhu penyimpanan barang (yaitu sesuai
dengan kondisi barang).

Adapun ruangan-ruangan yang ada dalam gudang antara lain :
1. Kantor
2. Karantina
3. Rejected material
4. Sampling
5. Ruang dingin
6. Barang kembalian
7. Penerimaan barang
8. Penyimpanan
9. Pengeluaran barang
10. Penimbangan
11. Ruang sejuk, Barang kemasan, dll.
Berikut adalah alur barang datang dari supplier sampai masuk gudang :

Supplier Barang datang

Gd.karantina

Tidak Cek bagian pembelian

LPB Bagian QC

Labeling

Sampling

Periksa

Tolak Hasil (NHPB)

Masuk gudang

Keterangan :
o LPB : Laporan Penerimaan Barang
o Saat labeling, QC menempelkan label berwarna kuning baru
kemudian dilakukan pengambilan sampling.
o NHPB : Nota Hasil Pemeriksaan Barang.



Ada beberapa istilah dalam industri farmasi, antara lain :
Produk ruahan
Istilah Penting

24
Adalah tiap bahan yang telah selesai diolah dan hanya memerlukan
pengemasan saja untuk menjadi produk jadi.
Produk antara
Adalah tiap bahan atau campuran bahan yang masih memerlukan satu
atau lebih tahap pengolahan lebih lanjut untuk menjadi produk ruahan.

Produk jadi
Produk jadi adalah suatu produk yang telah melalui seluruh tahap
proses pembuatan.
Pengemasan
Adalah bagian dari siklus produksi mulai dari penimbangan bahan
baku sampai menghasilkan produk jadi



Pengolahan limbah
Limbah industri farmasi dapat dibedakan menjadi 3 jenis limbah, yaitu :
a. Limbah Cair
b. Limbah Padat
c. Limbah Udara
Pengolahan masing-masing jenis limbah berbeda satu dengan yang lain









Limbah

25


Pengolahan limbah padat di PT Novartis Indonesia, meliputi :
a. Limbah yang bisa didaur ulang, misalnya botol, karton, drum, jerigen plastik,
pallet kayu dan plastik, aluminium foil dan aluminium tube. Penanganan
limbah jenis ini yaitu limbah dicuci dan dihilangkan identitasnya kemudian
dikelompokkan berdasarkan jenisnya masing-masing untuk dijual atau
diberikan kepada pihak yang membutuhkan.
b. Limbah yang tidak bisa didaur ulang, misalnya bahan baku, sisa sampel, debu
dari vacuum/ex-haust, retained sample, dan produk kembalian (baik karena
rusak maupun kadaluarsa) dikirim ke PPLI (Prasada Pamunah Limbah
Industri).
c. Karbon aktif dan resin adalah limbah yang dihasilkan dari pengolahan
demineralized water dikirim ke PPLI.
d. Sludge, merupakan limbah hasil Waste Water Treatment dikirim ke PPLI.

Menurut Teori :
1. Debu/ serbuk obat dari pengendalian debu (dust collector), ditanam
2. Ketas, karton, plastik, roll alufoil, roll cellophan/kemasan lain, dikumpulkan
kemudian dijual kepihak ketiga (pengumpul sampah), atau di bakar di
incenerator, kemudian dibuang ketempat pembuangan umum.
3. botol,kaleng, drum, dijual kepihak ketiga (pengumpul sampah).
4. Decomposisi limbah padat sisa proses lumpur aktif, ditanam setelah
mengalami proses bebas fenol atau zat kimia lainnya yang berbahaya..



Sumber air yang digunakan di PT Novartis Indonesia berasal dari :
PT Branta Mulia (Air permukaan yang telah dijernihkan),
air tanah (deep well water) atau artesis. Air tanah diperoleh dari 3 sumur
dengan kedalaman masing-masing 120 m yang dibangun di sekitar area
pabrik.
air PAM.

Air yang digunakan di PT Novatis Indonesia dibagi menjadi :
1) Service water, merupakan raw water yang digunakan untuk pencucian mobil,
hydrant, penyiraman tanaman dan lain-lain.
2) Chlorinated water, merupakan raw water yang telah diklorinasi sampai kadar
0,3-0,5 ppm dan digunakan untuk pencucian awal alat-alat produksi, toilet dan
penggunaan sehari-hari.
3) Warm water, merupakan chlorinated water yang dipanaskan hingga suhu
80C dan biasanya digunakan untuk pencucian awal alat-alat yang terkena
minyak atau lemak.
4). Demineralized water (DMW), merupakan chlorinated water yang telah
mengalami proses penghilangan mineral dan digunakan untuk proses produksi,
pembilasan akhir pada pencucian alat-alat produksi dan lain-lain.



MACAM AIR DI INDUSTRI
Pengolahan Limbah Padat di Industri

26
Pengolahan air demineralisata di PT Novartis Indonesia secara umum dapat
digambarkan seperti tercantum di bawah ini :


Mekanisme (ion exchange resin) :
1. Klorinasi : bertujuan untuk membunuh mikroba yang ada dalam air
2. Karbon aktif : bertujuan untuk menghilangkan Cl
3. Karbon filter : berfungsi menyaring bau dan klorin (Cl)
4. Filtrasion : untuk memisahkan partikel dan micro organisme yang terbawa
dalam air.
5. UV : untuk mensterilkan air (desinfection)
6. Resin mix bed : berfungsi untuk menarik mineral-mineral yang terdapat
dalam air.
7. Ada 2 macam resin penukar ion yang ada di PT Novartis Indonesia yaitu :
- double bed menghasilkan DMW dengan jumlah lebih besar tetapi
mempunyai kualitas rendah.
- sedangkan sistem mix bed menghasilkan DMW dengan kualitas
lebih baik tetapi dengan jumlah yang sedikit. Sistem mix bed lebih
baik jika dibandingkan dengan sistem double bed karena dengan
sistem mix bed dapat menurunkan konduktivitas menjadi sangat
rendah.
8. Resin yang digunakan dalam pengolahan air demineralisata adalah
Amberlite 402 dan 412.
9. Setiap 8 m
3
air yang dihasilkan, resin harus dilakukan regenerasi dengan
menggunakan HCl 33% dan NaOH 35%. DMW yang digunakan
mempunyai konduktivitas 4 S dan pH 57. Pemeriksaan konduktivitas
dan pH DMW dilakukan tiap 2 jam. Apabila konduktivitas dari DMW
lebih dari 4 S maka harus dilakukan regenerasi resin. Pada sistem mix
bed, antara anion dan kation harus dipisah terlebih dahulu yang dilakukan
secara filtrasi dengan air. Regenerasi untuk resin anion dilakukan dengan
menggunakan Cl

, sedangkan untuk kation menggunakan Na


+
. Setelah
dilakukan regenerasi, baru kemudian dicampur dengan penambahan udara
dan air.

Raw water
Chlorinated
water (Klorinasi
dengan NaOCl
ad 0,2-0,5 ppm)
Deklorinasi
dengan
karbon aktif
Disaring
dengan
filter 5
Penyinaran
dengan sinar
UV (254 nm)
Resin
Mix bed
Distribusi
Disaring
dengan filter
5
Penyinaran
dengan sinar UV
(254 nm)
Ion
exchange
Karbon
filter

27

2 mekanisme lain untuk tehnik pemurnian air di industri farmasi :
1. RO (Reverse Osmosis)
Air dengan konsentrasi berbeda diberi semi permiable membran, jika diberi
tekanan lebih besar dari tekanan osmosis pada air yang berkonsentrasi tinggi
(perbedaan tinggi dari kolom air adalah akibat dari adanya tekanan osmosis)
maka air akan mengalir melewati membran dari konsentrasi yang tinggi ke air
yang berkonsentrasi rendah.
2. EDI (Electrochemical Deionization)
Prinsip sama seperti mix bed (pencucian secara kimia) berfungsi untuk
menarik mineral-mineral yang terdapat dalam air, tetapi penggunaan sering
dikombinasikan dengan RO (reserve osmosis), bagiannya terdapat :
Anion exchange membran
Kation exchange membran



- Konduktivas (1,3 S/cm)
- pH (suhu 25) 5 7
- CL, SO
4
, NH
4
, Ca/Mg, nitrat,nitrit, CO
2

- Logam berat
- Kesadahan
- Microbiological testing



1. Aqua Demineralisata
Air demineral dibuat dari air minum yang dimurnikan menggunakan penukar
ion yang cocok.
Pemerian : reaksi : amonium, besi, kalsium, tembaga, timbal, klorida, nitrat,
sulfat, zat teroksidasi, susut pengeringan memenuhi syarat yang tertera pada
aqua destillata.
2. Aqua Destillata
Air suling dibuat dengan menyuling air ayng dapat diminum.
Peerian : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak mempunyai rasa.
3. Aqua Pro Injectione
Air untuk ijeksi adalah air suling segar yang disuling kembali, disterilkan
dangan cara sterilisasi A atau C.





Parameter yang diukur untuk pemurnian air
Macam air menurut FI (Farmakope Indonesia III)

28


Produk direcall di PT Novartis Indonesia jika :
Tidak memenuhi syarat
ES yg tidak diperhitungkan sebelum2nya yg merugikan kesehatan
Klasifikasi
kelas 1 : - efek serius
- risiko kematian
kelas 2 : - efek sementara
- efek merugikan yg serius (kemungkinan kecil)
kelas 3 : - tidak menyebabkan kerugian bagi kesehatan
Tingkatan recall
A konsumen
B semua rantai distribusi yang terkait (apotek, RS, Toko obat)
C pada rantai distribusi tertentu (PBF, seluruh PBF, PBF tertentu,
wilayah geografis tertentu)

Produk recall disimpan di gudang
- diberi identitas yg jelas
- dipisahkan di dalam area terkunci
Menunggu keputusan disposisi selanjutnya dari SCM (Supply Chain Management
(or PPIC)).

Alur recall or expired
Approved note (distributor)

Forms goods order
(marketing approved)
Order entry

Picking slip (u/ WareHouse)

Delivery note (u/ penerima brg)



Tahapan produksi:
1. Persiapan
2. Penimbangan
3. Pembuatan bentuk sediaan
4. pengemasan



Perencanaan Produksi
Perencanaan produksi (Production Planning) berpedoman pada Delivery
Planning yang mengacu pada :
1. Persiapan
PRODUKSI
DRUG RECALL

29
1. Rolling Forecast (memuat perkiraan kebutuhan produk dalam satu tahun)
dari bagian Marketing
2. dan Stock Status produk (merupakan laporan pesediaan bahan awal dari
bagian gudang).

Produksi dilakukan pada produk yang berstatus .
Low Stock (persediaan digudang lebih kecil dari jumlah permintaan diluar) dan
Back Order (Urgent Product atau Pending Product).
Perencanaan produksi dibuat setiap bulan untuk jangka waktu 2 bulan yang akan
dikirim kepada Head of DPMfg setiap awal bulan. Bagian produksi membuat
jadwal produksi per bulan dan per minggu. Jadwal per 2 minggu yang telah
ditetapkan tidak dapat diubah lagi.
Memulai produksi produk
Dari jadwal produksi yang telah dibuat, SCM mengeluarkan Shop Order (SO)
yang dibuat berdasarkan Master Batch Record (MBR) dan akan dikirim kepada
Head of DPMfg.

SO terdiri dari 3 dokumen yaitu :
1. summarized pick list (daftar penyerahan bahan awal),
2. shop packet material order (komposisi bahan yang akan digunakan), dan
3. shop packet operational order (petunjuk proses pengolahan, pengerjaan dan
pengemasan).

Shop packet material order dan summarized pick list diserahkan ke gudang agar
gudang dapat menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk produksi. SO
dikirim ke gudang selambat-lambatnya 1 hari sebelum produksi. Gudang
mengeluarkan bahan awal yang dibutuhkan untuk produksi dengan sistem FEFO
(First Expired First Out) untuk bahan baku dan sistem FIFO (First In First Out)
untuk bahan pengemas.
Barang dikirim melalui material look room kebagian produksi, materal
look room dilengkapi conveyor dan gravity roller



1. Bahan baku yang masuk ke ruang penimbangan adalah bahan yang
digunakan untuk 1 produk. Hal itu untuk mencegah terjadinya mix up.
2. Penimbangan dilakukan di ruang LAF dalam keadaan bersih dan dilakukan
oleh 2 orang. Ruang LAF harus dinyalakan terlebih dahulu selama 30
menit sebelum dilakukan penimbangan, hal ini bertujuan untuk
conditioning, sehingga kondisi dalam LAF sesuai dengan persyaratan.
3. Sebelum dilakukan penimbangan, petugas harus memeriksa status kalibrasi
dari timbangan yang akan digunakan.
4. Bahan baku yang berupa serbuk, wadah yang disediakan berupa kantong
plastik, sedangkan untuk zat cair diperlukan wadah gelas atau stainless
steel.
5. Tiap bahan yang telah ditimbang diberi weighing label yang memuat
informasi mengenai nama bahan, kode bahan, QA lot number, nama
produk, no. batch produk yang akan dibuat, berat kotor, tara, berat bersih,
tanda tangan petugas penimbangan, nomor timbangan dan juga disertai
dengan print out bukti penimbangan yang dilakukan.
6. Supervisor produksi memeriksa kembali kesesuaian penimbangan dengan
batch record.
2. Penimbangan

30
7. Bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat produk yang sama
dikumpulkan di suatu drum stainless steel/plastik yang diberi label transit
yang berisi nama produk, no. batch, nama material yang ada di dalam
drum, serta tujuan tahap produksi, lalu diletakkan pada staging area.
8. Sisa bahan disegel kembali dan kemudian diserahkan ke gudang.
9. SO summarized pick list dan shop packet material order juga diserahkan
sehingga supervisor gudang dapat memotong kuantitas bahan di BPCS.
10. Alat timbangan yang telah digunakan harus dibersihkan oleh operator
penimbangan di bawah pengawasan supervisor.
11. Debu dan kotoran dibersihkan dengan alat vacuum cleaner.
12. Kemudian permukaan alat timbang dibersihkan dengan lap bersih yang
dibasahi dengan alkohol 70%.
13. Setelah alat timbang bersih dan kering, diberi label cleaned.



a. Pengolahan bahan baku menjadi produk ruahan
Sebelum dilakukannya proses pengolahan bahan baku menjadi produk ruahan perlu
dilakukan pemeriksaan terhadap :
1. status ruangan (room status) dan status peralatan (equipment status)
yang akan digunakan. keadaan bersih ada label room status yang
dipasang.
2. Alat-alat dalam keadaan bersih dan siap untuk digunakan (status
terkualifikasi dan terkalibrasi)
3. Setiap ruangan memiliki dokumen Standard Operating Procedures
(SOP) pembersihan.
4. Bahan-bahan pembersih yang digunakan antara lain : larutan
Risapol, Na
2
CO
3
1% (Somat), alkohol 70%, sedangkan larutan
disinfektan antara lain : larutan Benzalkonium klorida 0,4% atau
Tego-51,1% yang pemakaiannya diganti tiap 6 bulan sekali untuk
mencegah resistensi bakteri terhadap desinfektan.

1) Proses pembuatan tablet
3 metode pembuatan tablet : granulasi basah, granulasi kering ataupun
cetak langsung.
Contoh tahap metode granulasi basah

Rawmaterials weighing Mixing awal granulating sieving basah
drying sieving kering Mixing akhir dan Lubricating tabletting
primer packaging sekunder packaging finished product

1. Macam alat mixing, seperti drum mixer (final mix, kapasitas besar),
planetary mixer (untuk 2 warna), Molteni mixer (kapasitas kecil), sew
mixer, collete grall mixer atau scholl mixer
2. Contoh larutan pengikat : larutan Povidon
3. Alat sieving (pengayak) : vibrating sieve dengan lubang ayakan ukuran
tertentu untuk menghasilkan granul atau frewitt type MGI 628
4. Drying di oven ( 11 jam, bentuk bongkahan) atau fluid bed dryer (batch
size besar, 2 jam/lbh cepat, tidak terjadi migrasi)
5. Alat Tabletting : Killian Presscoter, killian Eiffel, Korsch RK 14, Korsch
PH 250
3. Pembuatan Bentuk Sediaan

31
6. IPC yang dilakukan :
a. IPC granul kering berupa penghitungan loss on drying (LOD), bulk
density atau tapped density.
b. Proses pencetakan tablet dimulai dengan melakukan start control
terlebih dahulu, Jenis IPC yang dilakukan adalah : bentuk, warna,
diameter dari 3 tablet, rata-rata berat dari 3 kelompok tablet yang
berjumlah 20, berat individu dari 20 tablet, ketebalan dari 10
tablet, waktu hancur dari 6 tablet pada air 37
0
C, uji kekerasan dari
10 tablet dan friability test dari 20 tablet. Pemeriksaan diatas juga
dilakukan setelah setelah mesin dimatikan dan akan memulai
pencetakan tablet lagi.
c. Selama proses pencetakan berlangsung, dilakukan IPC tablet
meliputi : rata-rata berat 20 tablet setiap 15 menit, berat individu
dari 20 tablet, ketebalan dari 10 tablet yang dilakukan setiap jam,
waktu hancur dari 6 tablet pada air 37
o
C, friability dari 20 tablet
dan LOD yang dilakukan pada start control pagi hari.
7. Selain pembuatan tablet biasa, juga dilakukan pembuatan tablet salut untuk
beberapa produk. Proses penyalutan dilakukan di coating room.
8. Alat coating : Glatt Coater GC-1000, Accelacota 10, Walter Pilot
9. Tablet salut gula dilakukan dalam 4 tahap. Pertama tablet dilapisi dengan
lapisan dasar, dilanjutkan dengan penyalutan menggunakan suspensi talk,
kemudian dengan larutan gula dan zat warna dan terakhir dengan lapisan
polishing untuk membuat tablet mengkilap.
10. Tablet salut selaput hanya dilakukan dalam 1 tahap, langsung dengan
suspensi penyalutnya dengan cara disemprot. Bahan polimer yang
digunakan untuk salut film antara lain hydroxy propil metil cellulose
(HPMC).
11. Tablet salut enterik dilakukan dalam 3 tahap, meliputi penyalutan primer
(inner coated), penyalutan dengan larutan eudragit dan penyalutan
sekunder (outer coated). Penyalutan dengan larutan eudragit dimaksudkan
untuk mencegah tablet hancur di lambung, sedangkan penyalutan primer
dan sekunder merupakan penyalutan biasa.

2) Proses pembuatan kapsul
1) Mixing bahan menggunakan mixing equipment yang digunakan untuk
membuat tablet.
2) Pencetakan kapsul dilakukan dengan mesin Bosch.
3) Capsulating mixture IPC meliputi warna campuran, LOD, tapped density
atau bulk density.
4) Sebelumnya dilakukan start control yang meliputi bentuk kapsul, warna
cangkang dan warna isi kapsul, berat 20 kapsul (cangkang dan isi), berat
individual 20 kapsul (cangkang dan isi), berat isi 20 kapsul, berat
individual isi 20 kapsul serta waktu hancur.
5) Sementara ketika proses pengisian berjalan, dilakukan IPC berat total 20
kapsul yang telah terisi tiap 15 menit.

3) Proses pembuatan sediaan semisolid
Krim dibuat pada alat vacuum homogenizer cream mixer (VHCM) dengan
mencampurkan fase minyak yang telah dipanaskan dengan steam dalam
melting vessel pada suhu 70
0
C dengan fase air (air demineralisata dengan pH
antara 5,0-7,0) yang telah dipanaskan di VHCM yang dilengkapi dengan steam
(double jacket) pada suhu 70C. Kedua fase dicampur dengan mixer dan
system homogenizer yang mengalirkan krim dari bawah ke atas. Setelah krim

32
jadi, krim didorong keluar dengan bantuan compressed air yang disaring
dengan filter 0,2 untuk dipindahkan ke vessel. Krim didinginkan hingga
25C selama beberapa jam dan mencapai konsistensi yang sesuai.

Sediaan setengah padat lain seperti salep dan gel dibuat dengan mesin shang
yuh.

IPC yang dilakukan antara lain uji terhadap pH dan spreadibility dengan alat
spreadibility test, sedangkan untuk suppositoria yang diperiksa hanya berat dan
bentuknya saja.

4) Proses pembuatan sediaan cair
1. Mesin sediaan cair : shang yuh atau dengan menggunakan vessel yang
dilengkapi standard mixer.
2. Contoh pembuatan salah satu jenis sirup adalah dengan :
a) mendidihkan air bebas mineral yang telah ditimbang sebagai
pembawa sirup sampai 90C, batas pH air 5-7.
b) Sugar crystaline dilarutkan sambil dilakukan pengaturan kecepatan
mixer, agitator serta waktu, tergantung volume, jenis dan rasa
cairan. Larutan tersebut didinginkan sampai mencapai suhu 40C.
c) Zat warna dilarutkan dalam air bebas mineral, kemudian
ditambahkan ke dalam campuran. Pengawet dan buffer dilarutkan
dalam larutan gula, lalu diaduk selama 15 menit pada suhu 40C.
Larutan didinginkan sampai 30C. Jika pengawet yang digunakan
adalah asam benzoat maka ditambahkan ke dalam larutan gula
paling lambat 24 jam setelah larutan gula disiapkan. Jika perlu
asam benzoat diayak terlebih dahulu, kemudian ditambahkan
sorbitol 70% dan diaduk.
d) Filtrasi dilakukan sebanyak 3 kali dengan menggunakan filter
catridge 30, 10, dan 1 kedalam storage tank, kemudian
ditambahkan air bebas mineral sampai diperoleh volume yang
diinginkan, lalu diaduk selama 15 menit dengan standard mixer.
3. IPC sediaan sirup : penentuan pH dengan pH meter, bobot jenis dengan
menggunakan piknometer dan pemeriksaan organoleptis seperti warna dan bau.

Proses pengolahan produk ruahan menjadi produk jadi
Proses pengemasan ada 2, yaitu
- Pengemasan primer yaitu bahan pengemas kontak langsung dengan
produk, meliputi stripping, blistering, filling ke tube atau botol,
- Pengemasan sekunder yaitu bahan pengemas tidak kontak langsung
dengan produk, meliputi pillow pack, pemberian leaflet, pengemasan
ke dalam individual carton dan master box.
Pemindahan bahan pengemas ke dalam ruang produksi melewati conveyor
dan material lock room.
Contoh penanganan botol :
- Botol sebelum digunakan harus dicuci terlebih dahulu. Pencucian
dilakukan dengan alat pencuci menggunakan warm water dan
pembilasan akhir menggunakan demineralized water.
- Botol dikeringkan dalam oven pada 100C selama 2 jam, untuk
botol plastik dilakukan pencucian dan pengeringannya dengan cara
di-blow dengan compressed air.

33
- Untuk cap botol dicuci dengan air demineralisata lalu dengan
alkohol 70% dan dikeringkan dengan oven pada suhu 50
O
C 60
O
C
selama 4 jam.



Pengemas primer lain seperti : tube salep, tube untuk efferfescent, alumunium foil
dan rotoplast tidak dicuci lagi tetapi langsung digunakan karena dibuat oleh
supplier di ruang khusus/ semi steril. Dilakukan vendor audit ke supplier-supplier
tersebut.

1) Proses Pengemasan Primer
Bahan pengemas dibawa ke ruang pengemasan berdasarkan untuk 1 batch
produk tertentu.
Operator harus memastikan alat dan ruang dalam keadaan bersih
berdasarkan label status pembersihan ruangan. Operator mencatat pada log
book yang tersedia di setiap ruangan mengenai jumlah waktu penggunaan
mesin (efective working hours), istirahat, service dan jumlah produk yang
dihasilkan. Berdasarkan keterangan di log book ini, kinerja mesin yang
digunakan dapat dianalisis.
Pemberian no. batch, expired date dan manufacturing date dapat dilakukan
langsung pada mesin pengemas atau dengan ink jet printer.
no. batch, expired date, manufacturing date harus diperiksa kebenarannya
oleh minimal 2 orang, yaitu supervisor bagian pengemasan dan seorang
forewoman sebelum dilakukan pengemasan.
Cara Pemberian expired date berdasarkan pada tanggal pengolahan atau
tanggal mixing yang dicatat dari bagian produksi. Supervisor pengemas
melaporkan tanggal pengolahan kepada Manager produksi kemudian akan
ditetapkan expired date berdasarkan list of shelf life. Expired date
diinformasikan kepada supervisor bagian pengemasan dan selanjutnya
diinformasikan kepada operator pengemas.
Ex : sistem rounding down ( mundur ke satu bulan dari tanggal mixing or
pengolahan)
- mfg. Data : 07.2007
- nomor bacth.............
- daluarsa : 06.2011
IPC yang dilakukan pada pengemasan primer adalah sebagai berikut :
a) Pengisian krim : setiap 15 menit ditimbang bobot tube.
b) Pengisian suppositoria : setiap 15 menit ditimbang bobot suppositoria.
c) Blistering dan stripping : pada awal dan setiap 1 jam dilakukan uji
kebocoran dan uji perforasi serta penghitungan jumlah isi dalam blister dan
strip.
d) Filling sirup: dilakukan dengan mengukur isi sirup (volume atau berat),
melakukan clarity check, secara visual juga dilihat apakah cap botol sudah
tertutup dengan baik, permukaan luar botol yang telah terisi dalam keadaan
bersih serta dilakukan Torque Test untuk menentukan ketepatan
pemasangan tutup botol pada setiap botol.

Proses Pengemasan Sekunder
Pada kemasan sekunder (individual carton dan master box) terlebih dahulu
diberi no. batch dan expired date serta diperiksa kebenarannya oleh
4. Pengemasan

34
minimal 2 orang yaitu supervisor bagian pengemasan dan seorang
forewoman.
Proses pengemasan sekunder dilakukan berdasarkan packaging display.
Packaging display yang dibuat oleh bagian pengemasan digantung di line
pengemasan pada saat pengemasan berlangsung dan akan dilampirkan
pada batch record.
Terdapat beberapa hal yang harus diperiksa sebelum memulai pengemasan,
yaitu :
a) Pemeriksaan kebersihan jalur pengemasan dan sekitarnya, dimana tidak
ada sisa-sisa produk, dokumen dan bahan pengemas produk sebelumnya.
b) Pemeriksaan kebersihan, kelengkapan dan kesiapan peralatan yang akan
digunakan.
c) Pemeriksaan kelengkapan dan kebenaran bahan pengemas yang dipakai
serta wadah yang digunakan dengan cara :
1. Membandingkan nomor edisi yang dicetak dengan packaging
display.
2. Memeriksa label Approved serta QA lot number untuk setiap
pengemas.
3. Mengecek kebenaran no. batch, expired date serta manufacturing
date.
d) Pemeriksaan identitas produk ruahan yang akan dikemas apakah telah
sesuai dengan packaging order.
Pada awal pengemasan, dilakukan packaging start control untuk
memastikan kebenaran jumlah yang dikemas, meliputi penimbangan
individual carton, leaflet, pillow pack, strip/ blister, berat 5 strip/ blister +
1 pillow pack, berat master box dan berat pack product. Berdasarkan hasil
perhitungan didapat hasil berat minimum dan berat maksimum 1 kemasan
obat, sehingga dengan dilakukannya penimbangan satu persatu kemasan
obat dapat dipastikan isi kemasan tepat, tidak ada kesalahan jumlah tablet
atau kesalahan lain.
Pada akhir pengemasan, dilakukan penimbangan masing masing master
box dan dicatat jumlah produk yang dihasilkan.
Master box yang selesai dikemas diberi label yang berisikan nama produk,
no. batch, expired date, dan jumlah individual carton. Pada setiap master
box juga dicantumkan :
a) Storage condition, misalnya tidak boleh lebih dari 30C, < 25C atau
2-8C
b) Pada setiap master box harus ditempelkan stiker/individual carton produk
sebagai identitas. Produk dengan individual carton terlalu besar cukup
diberi keterangan no. batch, expired date, berat dan isi.
c) Pada produk ekspor, label yang ditempel disesuaikan dengan permintaan
dan peraturan dari negara tujuan.
Untuk produk-produk impor dilakukan kegiatan pengemasan kembali
(repackaging). disesuaikan dengan peraturan yang berlaku di Indonesia,
yaitu
a) Pencetakan tanda Harus Dengan Resep Dokter dan nomor registrasi
lokal pada kemasan primer, yaitu pada strip dan blister.
b) Pemberian label Harus Dengan Resep Dokter, nomor registrasi lokal
serta lingkaran K pada botol untuk obat keras, tube serta individual carton.
c) Penggantian leaflet asli dengan leaflet lokal
d) Pengisian produk yang telah diberi label pada master box lokal yang
tercetak nama produk, no. batch dan kondisi penyimpanan.

35
Setelah proses pengemasan selesai, produk jadi (master box) tersebut
kemudian disimpan di ruang karantina sambil menunggu keputusan status
produk jadi dari QA Department. Batch record akan diperiksa oleh Head
of DPMfg lalu dikirim ke QA Department. Jika keputusan Approved,
maka ditempelkan label Approved dan dilakukan penimbangan pada
masing-masing master box dan dicatat pada weighing record.
Penimbangan master box ini dilakukan oleh bagian pengemasan sebelum
barang dikirim ke gudang.
4. Karantina Obat Jadi dan Penyerahan ke Gudang Obat Jadi
Semua finished product disimpan didalam gudang karantina untuk
menunggu keputusan Approved dari QA.
Tidak boleh ada obat yang diambil dari suatu bets selama obat jadi itu
masih berada didaerah karantina, kecuali sebagai contoh untuk QA.
Semua data dan berkas pada batch record termasuk pack record disatukan
dan diserahkan kepada manajer produksi. Batch record kemudian
diserahkan kepada QA untuk dianalisa dalam pengambilan keputusan
approved/rejected.
Jika diputuskan Approved, maka QA sampler akan menempel label
Approved pada pojok kanan master box, hanya satu untuk setiap palet.
Setelah diputuskan approved, maka batch record kemudian dikembalikan
kepada bagian produksi (manajer produksi) untuk disimpan.
Produk yang sudah approved dikirim ke warehouse dengan sebelumnya
ditimbang terlebih dahulu dan dicatat pada weighing record. Setelah
selesai maka data dimasukkan ke dalam BPCS.


36
6
Pak Mufrod

1) Penanganan recall
Produk recall (penarikan kembali obat) merupakan kegagalan yang terjadi karena
suatu produk tersebut memang tidak layak untuk dipasarkan. Pelaksanaan
penarikan kembali dilakukan apabila obat jadi yang tidak memenuhi syarat mutu
atau atas pertimbangan adanya efek samping yang tidak diperhitungkan
sebelumnya.
Kegagalan yang dapat terjadi disuatu industri berupa :
Keluhan
Penarikan obat kembali
Obat kembalian
Batas penarikan
a. Apotek/PBF : jika kesalahan berdampak relatif tidak berbahaya
b. User/pasien : jika dampak obat berbahaya, misal teratogenik dan
karsinogenik.
Nasib obat yang ditarik :
1. Stok obat : jika yang rusak hanya pengemasnya.
2. Diolah ulang : jika yang tidak memenuhi kriteria dapat ditolerir
3. Tidak dua-duanya : dilakukan pemusnahan
Prinsip pemusnahan :
1. Tidak boleh mencemari lingkungan
2. Dihindari agar tidak jatuh ke tangan yang tidak bertanggungjawab
Cara pemusnahan :
1. Dibakar dengan suhu tinggi
2. Diproses seperti limbah cair (untuk sediaan padat, dibuat jadi suspensi
terlebih dulu)
Pada waktu pemusnahan harus ada berita acara, yang berisi cara pemusnahan
dan ditanda tangani oleh penanggungjawab proses pemusnahan, serta
dilaporkan.

Berdasarkan CPOB, semua keluhan dan laporan keluhan hendaklah diteliti dan
dievaluasi dengan cermat, kemudian diambil tindak lanjut yang sesuai dan dibuat
laporan. Secara umum, keluhan terhadap produk yang terjadi antara lain
mengenai kualitas yang menyangkut keadaan fisik, kimia, dan biologi; adanya
efek samping yang merugikan; dan efek terapeutik yang kurang menguntungkan
bagi pemakai obat. Keluhan terhadap produk obat, antara lain dapat berasal dari
badan pemerintah (BPOM), tenaga ahli (distributor, apoteker, dokter, staf rumah
sakit, dan tenaga kesehatan yang lain), pasien/pemakai, dan internal perusahaan
(tenaga lapangan/pemasaran).

2) Pengolahan air
3) Jaminan kualitas obat, siapa yang berperan?
Quality Assurance.
Jaminan kualitas adalah semua aktivitas yang disusun untuk menjamin bahwa
produk mempunyai kualitas yang dibutuhkan oleh pengguna produk. Untuk
memperoleh QA diperlukan Good Manufacturing Practice, ditambah faktor

37
kualitas desain dan pengembangan produk. Oleh karena itu obat harus didesain
dengan bagus dan dirancang sesuai CPOB.
Quality is built into the product
Kualitas tidak ditentukan dari serangkaian pengujian yang dilakukan oleh QC, tapi
kualitas ditentukan dari produk itu sendiri oleh QA melalui jaminan kualitas,
diantaranya dengan protocol validasi, SOP (Standard Operating Procedure), dll.
Fungsi QC
adalah untuk memastikan saja bahwa produk berkualitas, tapi tidak menjamin
produk berkualitas.
Why laboratory testing yang dilakukan QC tidak bisa menjamin kualitas?
Karena ada keterbatasan yang tidak bisa dikontrol dalam laboratory testing, yaitu
adanya cross contamination dan mix-up. Jika mutu hanya ditentukan dari
serangkaian pengujian saja, maka kesalahan yang terjadi selama proses produksi
belum tentu terdeteksi. Misal : setelah diuji, obat tidak bermutu karena dosisnya
kurang. Kesalahan tersebut tidak bisa ditentukan pada proses yang mana
sehingga dosisnya tersebut bisa kurang, apakah pada saat penimbangan,
pencampuran ataukah pada proses yang lain.
Kualitas produk :
Tidak dapat terjadi begitu saja
Tidak dapat dianalisis dari suatu obat
Harus bisa menampilkan kinerjanya sampai diperoleh efek terapi
Harus didesign dan dibangun dalam suatu produk (dirancang) dan diterapkan
selama proses pembuatan tersebut berlangsung
Dijaga mulai dari tahap awal sampai selesai, proses pembuatannya pun harus
divalidasi

4) Prinsip LAF (ada Hepafilter/penyaring udara) dikondisikan alirannya
searah
LAF
Merupakan sistem pengaturan udara yang diatur sedemikian rupa sehingga udara
mengalir satu arah (laminar) dan didalamnya terdapat sirkulasi dimana udara
kotor disaring, sedangkan udara yang bersih dikeluarkan.
Aliran udara dalam LAF diatur agar tetap laminar (lurus searah). Terdapat 3 jenis
filter dalam LAF, yaitu pre-filter dengan efisiensi 30%, medium filter dengan
efisiensi 90% dan HEPA filter dengan efisiensi 99,99%. Pada LAF juga terdapat
differential pressure untuk mengetahui bahwa tekanan udara dalam LAF harus
memiliki tekanan yang lebih besar dibandingkan dengan luar ruangan.
Udara dijaga oleh laminar, karena kalo terjadi turbulensi partikel bisa masuk
lagi, biasanya dipasang ditempat sampling, penimbangan, dll.
Yang harus diperhatikan dalam mengoperasikan LAF (agar laminarisasi tidak
terganggu) :
1. External :
o Hembusan AC
o Ruangan sering dibuka-tutup
o Orang mondar-mandir
o Tidak boleh terlalu dekat/mepet pada LAF (min.10 cm)
o Waktu mengoperasikan tidak boleh bicara
2. Internal :
o Botol jangan terlau berjubel ( 10 cm dari dinding LAF dan antara
botol), supaya ada space untuk aliran laminar
o Lampu bunsen diletakkan disudut agak ketepi
o Jangan menghalangi sumber arus laminar mengenai produk, karena kalo
menghalangi akan terjadi turbulensi

5) Kebutuhan karyawan


38
7
Bu Nining

1) Obat tradisional
Merupakan bahan/ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, hewan,
mineral, sediaan galenik atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang
secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan
pengalaman.

Perbedaan jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka ?
Jamu adalah sediaan obat dan obat tradisional (OT) yang belum melewati uji
klinik dan pra klinik (biasanya berdasarkan turun-temurun), khasiat dan
keamanannya belum teruji secara klinik dan pra klinik.
Obat herbal terstandar adalah sediaan obat dan obat tradisional (OT) yang
khasiat dan keamanannya sudah teruji secara pra klinik, namun belum diuji
secara klinik.
Fitofarmaka adalah sediaan obat dan obat tradisional (OT) yang telah dibuktikan
khasiat dan keamanannya secara klinik dan pra klinik.

2) Proses pembuatan obat tradisional
Daun/batang/akar
(Dicuci)
Dikeringkan
(Dijemur/oven)
Dirajang (dipotong kecil2)
Dihaluskan (serbuk)
Dilarutkan dalam MeOH
Di-sari
Di-Ekstrak

3) Proses pengujian obat tradisional
a. Rajangan, pengujian dilakukan dengan :
Analisis makroskopik, yaitu secara organoleptis
Penimbangan (kuantitatif)
Analisis mikroskopis, meliputi kadar sari, kadar abu, bahan organik,
persyaratan lain sesuai dalan FI dan MMI.
b. Serbuk
Pengujian dilakukan dengan uji mikroskopi dan uji kimiawi
c. Ekstrak

39
Dilakukan dengan uji kimiawi untuk mengidentifikasi senyawa dalam
ekstrak

Soal tambahan lain
1) Pengembangan produk agar pemakaian lebih praktis
2) Contoh bahan-bahan penyalut
3) Cara kerja tablet sustained released
4) Penandaan pada obat bebas dan ethical, apa saja yang harus ada
5) GMP itu apa? 10 GMP?
GMP : Good Manufactured Practise, berhubungan dengan kualitas produk
farmasi, yaitu identitas, kemurnian, keamanan dan kemanjuran. Sedangkan
kualitas merupakan sistem yang secara menyeluruh menyangkut design,
dokumentasi, penerapan dan pengontrolan/pengawasan yang dilengkapi
dengan personal, peralatan dan sumber-sumber lain yang menjamin produk
dapat konsisten dan tepat tujuan penggunaan.
10 GMP (10 komponen CPOB) :
1. ketentuan umum
2. Personalia
3. Bangunan
4. Peralatan
5. Sanitasi dan Higiene
6. Produksi
7. Pengawasan mutu
8. Inspeksi diri
9. Penanganan hasil
10. Dokumentasi
6) Kalibrasi pH meter, alat timbang, alat ukur
7) Tugas PPIC
Fungsi PPIC :
Mensinergikan antara manufacturing dan marketing
Jembatan komunikasi produksi, pemasaran, pengadaan,
akuntansi/keuangan, penyimpan R&D yang berfungsi sebagai penyediaan
obat.
Tugas/Kerja PPIC
8) Fungsi gudang, syarat, pembagian gudang
9) Pengemasan, produk ruahan, produk antara, produk jadi
10) BOD dan COD
BOD adalah
Jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh mikroorganisme hidup
untuk memecah atau mengoksidasi bahan-bahan buangan dalam air.
BOD digunakan untuk mengukur konsentrasi zat organik/polutan bahan
yang dapat didegradasi secara biologis (biodegradable) yang ada dalam
air.
COD adalah
Jumlah oksigen yang digunakan untuk mengoksidasi secara kimia (dengan
sempurna) bahan-bahan organik dalam air menjadi produk akhir
anorganik
COD secara cepat menghitung variabel untuk menentukan bahan organik
dari sampel air. Beberapa sampel air mengandung substansi organik yang
sulit dioksidasi. Dalam hal ini karena oksidasi yang tidak sempurna yang
dihasilkan dari test methode, nilai COD yang mungkin lemah dalam
menghitung theoritical oxygen demand. Disamping itu juga harus
diperhatikan bahwa nilai COD secara signifikan tergantung pada
komposisi dari air yang dites.
Nilai COD lebih tinggi jika dibandingkan dengan BOD, karena bahan-bahan
yang stabil terhadap reaksi biologi dapat teroksidasi dalam reaksi kimia uji
COD.

40
11) Syarat suspensi? kental? cair?
Suspensi merupakan suatu sistem dispersi yang terdiri dari partikel-partikel padat
dalam bentuk halus yang tersuspensi di dalam cairan pembawa.

Suatu suspensi yang dapat diterima harus mempunyai suatu kualitas tertentu dari
sifat-sifat yang diinginkan, diantaranya :
1. Suatu suspensi farmasi yang dibuat sebagaimana mestinya harus dapat
mengendap secara lambat dan cepat terdispersi kembali dari wadahnya
dengan penggojogan yang ringan.
2. Karakteristik suspensi harus sedemikian rupa sehingga ukuran partikel dari
suspensoid tetap stabil untuk penyimpanan pada waktu yang lama.
3. Suspensi harus bisa dituang dari wadah dengan cepat dan homogen.
Penambahan suspending agent ke dalam formula sediaan suspensi dapat
meningkatkan viskositas sehingga dapat memperlambat kecepatan pengendapan
Dengan bertambahnya viskositas medium dispersi menyebabkan gerakan partikel
menjadi lebih lambat dan akibatnya kecepatan pengendapan menjadi berkurang.
Macam-macam suspending agent diantaranya adalah (Nash, 2002) :
a. Hidrokoloid alam, seperti gom akasia, agar, tragakan, alginat, xanthan gum
b. Derivat selulosa : CMC Na, hidroksietil selulosa, hidroksipropil selulosa
c. Clays : bentonit, kaolin, magnesium aluminium silikat
d. Polimer : karbomer, polivinil alkohol, polietilen oxid
e. Gula : dekstrin, manitol, sukrosa
f. Lainnya, seperti aluminium monostearat, gelatin

Metode pembuatan suspensi dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Metode dispersi
Apabila metode dispersi ini digunakan maka pembawa harus
diformulasikan sedemikian rupa sehingga menjamin fase dispers dengan
mudah terbasahi dan didispersikan. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi
pengendapan dengan cepat, akan tetapi partikel tetap terdispersi dalam
medium cair. Surfaktan dapat digunakan untuk menjamin pembasahan zat
padat hidrofobik dengan seragam. Disamping surfaktan, bahan pensuspensi
juga dapat digunakan untuk pendispersian. Namun penggunaan metode
dispersi ini tidak menjamin terjadinya pengecilan ukuran partikel.
b. Metode presipitasi/pengendapan
Metode presipitasi digunakan dengan maksud supaya diperoleh
partikel-partikel yang lebih kecil sehingga kecepatan memisah antar partikel
berkurang.

Ada tiga cara metode presipitasi, yaitu :
1. Pengendapan dengan pelarut organik
Obat-obat yang tidak larut dalam air dapat diendapkan dengan melarutkan
obat-obat tersebut ke dalam pelarut organik yang dapat bercampur dengan
air. Contoh pelarut organik yang digunakan meliputi etanol, metanol,
propilenglikol dan polietilenglikol. Selanjutnya ditambahkan air murni dalam
kondisi tertentu sedikit demi sedikit hingga jumlah padatan yang larut
menjadi berkurang, dan kemudian mengendap kembali. Misal :
padatan/endapan larut dalam alkohol, kemudian ditambahkan pelarut air
sehingga jumlah padatan yang larut berkurang dan kemudian mengendap
kembali dengan ukuran partikel yang lebih kecil.
2. Pengendapan yang dipengaruhi perubahan pH media
Teknik ini hanya dapat diterapkan pada obat-obat yang kelarutannya
tergantung pada harga pH. Misal : sulfa untuk suspensi diformulasikan dalam
suasana asam (sulfa tidak larut dalam asam). Pertama ditambahkan NaOH
dulu untuk melarutkan sulfa. Kemudian ditambahkan asam (penurunan pH),
supaya sulfa tidak larut dan mengendap kembali dengan ukuran partikel yang
lebih kecil.

41
3. Double decomposition
Metode ini melibatkan proses kimia yang sederhana, menyebabkan terjadinya
reaksi penggaraman. Adanya penambahan elektrolit dalam jumlah tertentu
tidak menyebabkan penggumpalan, kemudian penambahan elektrolit
selanjutnya dalam jumlah yang cukup dapat menyebabkan terjadinya
gumpalan akibat derajat kejenuhan pada proses kelarutan tersebut. Setelah
kejenuhan menjadi berkurang terjadi pengendapan partikel-partikel dengan
distribusi ukuran partikel yang bervariasi.



Evaluasi sifat fisik suspensi dapat dilakukan antara lain :
1. Ukuran partikel
Ukuran partikel merupakan salah satu pertimbangan penting dalam evaluasi
stabilitas fisik suspensi. Berdasarkan hukum Stokes, partikel dengan diameter
yang kecil mempunyai kecenderungan untuk mengendap lebih lambat jika
dibandingkan dengan partikel yang mempunyai diameter besar.
2. Volume sedimentasi
Volume sedimentasi didefinisikan sebagai perbandingan antara volume akhir
sedimen dengan volume awal suspensi sebelum sedimentasi :
F=
Ho
Hu

Dimana : F = Volume sedimentasi
Ho = Tinggi volume mula-mula
Hu = Tinggi sedimentasi akhir
Perbandingan Hu/Ho sebagai sumbu tegak diplotkan dengan waktu sebagai sumbu
datar. Dengan mengamati kurvanya dapat dipilih formulasi yang lebih baik, yang
menghasilkan garis yang lebih horizontal atau kurang curam. Cara ini hanya
menghasilkan peringkat yang relatif, jadi hanya menunjukkan sediaan yang lebih
baik. Secara umum dapat dikatakan bahwa harga F yang lebih besar menunjukkan
produk yang lebih stabil.
3. Viskositas
Salah satu usaha dalam meningkatkan stabilitas suatu suspensi dapat dilakukan
dengan meningkatkan viskositas medium dispersi. Dengan bertambahnya
viskositas medium dispersi dapat mengurangi kecepatan pengendapan suspensi

Selama penyimpanan, sediaan yang mengandung hidrokoloid organik maupun
anorganik sebagai bahan pembantu peningkat viskositas umumnya akan
mengalami perubahan viskositas. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
viskositas diantaranya adalah harga pH, etanol, penambahan berbagai elektrolit,
bahan pengawet serta hidrokoloid yang lain. Disamping itu temperatur juga
dapat mempengaruhi viskositas, dimana viskositas suatu cairan akan menurun
jika temperatur dinaikkan. Fluiditas dari suatu cairan yang merupakan kebalikan
dari viskositas akan meningkat dengan makin tingginya temperatur.
4. Redispersibilitas
Salah satu cara penilaian kestabilan suspensi adalah kemudahan untuk
mendispersikan kembali partikel yang telah mengendap. Pengukuran secara
kuantitatif dapat menggunakan suatu alat pengocok mekanik..Jika suatu suspensi
membentuk endapan selama penyimpanan maka suspensi tersebut harus segera
dapat dikocok hingga homogen kembali agar dapat menjamin keseragaman dosis
obat. Jumlah penggojogan yang diperlukan sebaiknya sekecil mungkin.
5. Mudah tidaknya dituang
Uji kestabilan suspensi ini dapat dilakukan dengan mengukur volume sistem
dispersi yang mengalir dari suatu botol yang diletakkan pada kemiringan 45
dalam waktu tertentu.



42
12) Pengolahan limbah
13) Produk Toll in
14) Alur perencanaan produksi dan pengendalian persediaan

Versi PT Novartis Indonesia
Alur proses produksi dimulai dari penerimaan bahan awal sampai penyerahan
produk jadi sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Kegiatan proses
produksi dimulai dari pembuatan rencana produksi berupa Rolling Forecast oleh
Marketing Departement yang berisi daftar produk-produk yang harus disediakan
berdasarkan kebutuhan pasar, beserta jumlahnya yang disusun dalam jangka
waktu satu tahun. Rolling Forecast dikirimkan ke bagian SCM (Supply Chain
Management) Departement. Rolling Forecast ini menjadi dasar acuan dalam
menyusun Delivery Planning (Production Planning), yaitu jadwal produksi tiap
bulan dalam satuan batch. Penyusunannya berdasarkan jumlah stock (stock
status) di gudang dan permintaan pasar yang mendesak. Jika stok di gudang
menipis, maka produk tersebut menjadi produk prioritas yang akan diproduksi
dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku tersebut. Delivery Planning
dikirimkan ke DPMfg Departement.

Pada pemesanan bahan bagian SCM akan melihat persediaan bahan awal di
warehouse melalui BPCS dan menghitungnya dengan jumlah bahan yang
diperlukan untuk produksi berdasarkan marketing forecast. Dalam BPCS akan
terdapat balance dan terdapat bahan yang harus dibeli. Jika persediaan bahan
baku telah menipis, maka SCM Departement akan membuat Purchase Request
yang akan dikirimkan ke Purchasing Departement. Berdasarkan Purchase Request
(PR) tersebut, maka Purchasing Departement akan membeli bahan yang
dibutuhkan tersebut dengan membuat dan mengeluarkan Purchase Order (PO)
yang selanjutnya akan dikirimkan ke supplier (pemasok) sebagai acuan mengenai
jenis dan jumlah bahan baku yang akan dibeli. PO juga diserahkan ke bagian
gudang sebagai acuan mengenai bahan baku yang akan diterima dari supplier.

Berdasarkan Production Planning, SCM mengeluarkan Shop Order (SO) yang akan
dikirim kepada Head of DPMfg setiap awal bulan. SO dibuat berdasarkan Master
Batch Record (Catatan Pengolahan Induk) sebagai pedoman pelaksanaan produksi
setiap jenis obat jadi. SO digunakan sebagai dasar pelaksanaan produksi, mulai
dari komposisi bahan baku dan bahan pengemas serta tahap-tahap produksi
secara rinci. SO terdiri dari tiga dokumen, yaitu : daftar penyerahan bahan awal,
komposisi bahan yang akan digunakan dan petunjuk proses pengolahan,
pengerjaan dan pengemasan. Bagian gudang menyiapkan bahan-bahan yang
diperlukan untuk produksi obat berdasarkan daftar penyerahan bahan awal dan
komposisi yang dikirimkan ke bagian produksi sekurang-kurangnya satu hari
sebelum proses produksi.

SO dikeluarkan jika bahan awal sudah lengkap dan berstatus Approved. DPMfg
Departement dapat memulai kegiatannya setelah mendapatkan perintah dari
bagian SCM melalui SO tersebut dengan membuat jadwal produksi bulanan dalam
bentuk production planning yang selanjutnya dijabarkan dalam rencana produksi
mingguan yang akan disosialisasikan kepada QA Departement, SCM Departement
dan Purchasing Departement.

Tahap awal proses produksi adalah penerimaan bahan awal. Semua pemasukan,
pengeluaran dan sisa bahan dicatat dalam BPCS. Pada waktu penerimaan barang
dari supplier oleh gudang, petugas gudang memiliki salinan PO dari bagian
Purchasing sebagai panduan penerimaan barang serta dilengkapi dengan
dokumen lain, seperti surat jalan dari supplier, picking list dari bagian
Purchasing. Untuk mengetahui kuantitas barang maka dilakukan penimbangan
berat kotor (gross weight) dengan alat timbang yang telah terkalibrasi. Petugas

43
gudang akan memasukkan data penerimaan barang kedalam BPCS, meliputi code
number, PO number, Quantity, Supplier lot number. Pada saat penerimaan
terhadap setiap kiriman dilakukan pemeriksaan secara visual oleh petugas gudang
tentang kondisi umum, keutuhan kemasan, kebocoran dan kerusakan. Setiap
kiriman harus dalam kondisi tertutup dan tidak ada bau, kemudian dilakukan
pemeriksaan nama supplier, nomor PO, kode barang dan tanggal terima. Jika
terdapat penyimpangan, maka harus dicatat dalam Laporan Penyimpangan Bets
dan Insiden (LPBI).

Bahan-bahan yang diterima juga telah melalui pemeriksaaan untuk memastikan
apakah bahan sudah sesuai dengan spesifikasi atau belum. Pemeriksaan awal
dilakukan oleh petugas gudang mengenai kelengkapan dokumen, no. PO, nama
supplier, nama bahan, jumlah dan kondisi fisik bahan. Pemeriksaan kedua
dilakukan oleh bagian QA dengan cara mengambil sampel di gudang untuk
diperiksa. Pihak QA inilah yang berhak untuk meluluskan bahan.

Di PT Novartis Indonesia, penerimaan bahan awal, penyimpanan bahan dan
pendistribusian barang dilakukan oleh gudang dan telah terdokumentasi dengan
baik..Setiap bahan awal yang datang dilakukan pengujian oleh bagian QA.
Sebelum dinyatakan disetujui (Approved) atau tidak (Reject), maka bahan berada
dalam status karantina (Quarantined) dan ditempel dengan label Quarantined
yang diprint dari BPCS oleh petugas gudang. Label karantina berisi PO number,
item, description, receive date, supplier lot number, Novartis Storage Category
(NSC) dan comment. Bahan awal ini disimpan pada daerah karantina dan letak
penyimpanan dicatat dalam BPCS. Bahan dalam status karantina ttidak boleh
digunakan sampai disetujui dan diluluskan (Approved) untuk dipakai oleh
manajer QC.

Bila status bahan mengalami perubahan, dari Quarantined menjadi Approved
maka label penunjuk status harus diubah dengan menempelkan label Approved
menimpa/menutupi label Quarantined, kemudian bahan dipindahkan ke bagian
approved dan petugas gudang memasukkan data letak barang ke dalam BPCS.
Sedangkan untuk barang yang tidak lolos uji (Rejected) maka dilakukan
penempelan label Rejected. Bahan rejected dipindahkan ke dalam area rejected
di gudang yang selanjutnya dapat dikembalikan ke supplier atau dimusnahkan
oleh bagian HSE, tergantung dari kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya.
Penempelan label Approved atau Rejected hanya boleh dilakukan oleh QA
sampler. Setiap bahan yang diterima dan disimpan telah dilabel dengan baik dan
jelas yang meliputi identitas bahan, jumlah, no. batch, no. QA lot, tanggal
datang, tanggal kadaluarsa dan status bahan.

Persediaan bahan awal pada selang waktu tertentu diperiksa untuk meyakinkan
dalam kondisi yang baik, dengan dilakukan pengambilan contoh dan uji ulang
setiap selang tertentu tergantung karakteristik bahan dan hasilnya disesuaikan
dengan spesifikasi bahan awal. Kondisi penyimpanan barang di gudang PT
Novartis Indonesia telah memenuhi ketentuan. Meskipun penyimpanan bahan
awal, produk impor dan produk jadi dijadikan satu, namun lokasi
penyimpanannya telah dipisah-pisahkan. Penyimpanan bahan/barang dipisahkan
berdasarkan suhu penyimpanan dan status bahan. Bahan awal disimpan
berdasarkan Novartis Storage Category yang dikelompokkan menjadi
penyimpanan pada suhu ruangan, pada suhu dibawah 25C (ruang AC), suhu
dibawah 15C dan pada suhu 2-8C. Hal ini dilakukan untuk mencegah kerusakan
bahan oleh pengaruh suhu.

Semua bahan baku diberi waktu kadaluarsa atau shelf life untuk menjamin
kualitas bahan baku tetap memenuhi syarat selama waktu tersebut. Waktu

44
simpan ini dapat diperpanjang dengan melakukan pengujian untuk
memperpanjang waktu simpan oleh bagian QA.

Pengeluaran bahan awal untuk kepentingan produksi dilakukan oleh petugas
gudang berdasarkan SO yang dikeluarkan oleh SCM dan dilakukan dengan tata
cara yang telah ditetapkan. Bagian gudang akan mempersiapkan segala bahan-
bahan yang akan digunakan untuk produksi produk tersebut. Pengiriman bahan
awal disertai dengan SO, sehingga dapat dilakukan pengecekan terhadap
identitas bahan, jumlah, QA lot number, tanggal daluarsa dan status bahan.
.

45
8
BAGIAN TEKNIK





Fungsi teknik secara garis besar dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :



1. Preventive maintenance yaitu suatu perawatan yang dilakukan untuk
mencegah terjaadinya kerussakan. Perawatan ini dilakukan secara
terjadwal.Yaitu :
a. Perawatan tahunan (annual preventive schedule)
b. Perawatan bulanan (monly preventive schedule)
c. Perawatan mingguan
Preventive maintenance tidak selalu murni dilakukan tetapi sering
dimodifikasi dengan menggabungkan antara preventive maintenance
dengan predictive maintenance. Preventive maintenance ini
maksudnya adalah perawatan dengan melihat kondisi riil daari alat
yang berssangkutan. Ini dilakukan karena padda saat waktunya
dilakukan perawatan (preventive maintenance) sesuai jadwal kondisi
mesin masih daalam keadaan baik. Sehingga tiddak perlu dilakukan
penggantian spare part.
2. Breakdown maaintenance yaitu perawatan yang dilakukan tanpa ada
rencana sebelumnya (emergency maintenance)
3. Improvement maintenance yaitu perawatan yang dilakukan untuk
meningkatkan performance daari peralatan tersebut.
Tujuannya :
a. Meningkatkan kapasitas mesin
b. Meningkatkan kualitas mesin
c. Mengurangi reject
d. Meningkaatkaan kuaalitas metode maintenance
Contoh : pelumasaan yaang dulunya harus dengaan membongkar tetapi
bisa dimodifikasi dengan menggunakan pipa
4. Total productive maintenance yaitu suatu usaha untuk
mensosialisasikan bahwa perawatan tidak hanya dilakukan oleh
petugas khusus tetapi dilakukaan oleh semua orang yang terlibat dalam
penggunaan mesin/alat tersebut.
Fungsi:
a. Meningkatkan rasa memiliki
b. Mengurangi penghentian produksi (downing)

1. Menjalankan prograam maintenance (pemeliharaan)
Fungsi teknik apa saja?

46
Selain hal hal diatas aktivitas maintenance :
^ Inspection : pembersihan, pemeriksaan oli
^ Small repair : ganti baut tanpa membongkar
^ Medium repair : harus membongkar untuk mengganti
^ Overhall : merekondisi suatu peralatan mendekati spect
awalnya (yang aslinya)
Semuanya harus didokumentasikan dan perlu ada inventory



1. Kualifikasi
Pada mesin roduksi biasanya DQ dan IQ dilakukan oleh bagian teknik sedangkan
OQ dan PQ dilakukan oleh bagian produksi. Dan setiap 3 tahun sekali semua mesin
produksi dilakukan rekualifikasi. Pada mesin utility rekualifikasi dilakukan setiap
setahun sekali. Proses rekualifikasi dilakukan hanya PQ nya saja tetapi
rekualifikasi (validasi ulang) bisa dilakukan dari IQ, OQ dan PQ jika terjadi
peristiwa sebagai berikut :
1. pemindahan alat
2. modifikasi alat












^ Desain Qualification : untuk menjamin dan mendokumentasikan bahwa
sistem atau peralatan sesuai dengan spesifikasi/syarat syarat yang telah
ditetapkan sesuai dengan guideline (cGMP, CPOB, dll)
^ Installation Qualification : untuk menjamin dan mendokumentasikan bahwa
sistem atau peralatan yang diinstalasi sesuai dengan yang tertera pada dokumen
pembelian, manual alat yang bersangkutan dan pemasangannya dilakukan
memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan.
^ Operational Qualification : Untuk menjamin dan mendokumentasikan bahwa
sistem atau peralatan yang telah diinstalasi bekerja (beroperasi) sesuai dengan
spesifikasi yang diinginkan.
^ Performance Qualification : Untuk menjamin dan mendokumentasikan
bahwa sistem atau peralatan yang telah diinstalasi bekerja sesuai dengan
spesifikasi yang diinginkan dengan cara menjalankan sistem atau peralatan
sesuai dengan tujuan penggunaannya.
2. Validasi (kualifikasi) mesin/peralatan dan kalibrasi
Kualifikasi Mesin produksi
Mesin utility
Design Qualification (DQ)
Installation Qualification (IQ)
Operational Qualification (OP)
Performance Qualification (PQ)
Water System
HVAC
Compressed Air System
Cleaning System
47

Pembagian Kelas Ruangan Produksi :

Klasifikasi
Kelas
Alat
IV III II IB IA
Jumlah
Partikel(>0,5m)
>100.000/feet
3

<100.000/
feet
3

<10.000/f
eet
3

<100/feet
3
<100/feet
3

Particle
Counter
Jumlah
Partikel(>5m)
>20.000/m
3

<20.000/
m
3

<2000/m
3
0 0
Particle
Counter
Jumlah Mikroba -
<500
CFU/m
3

<100
CFU/m
3

<5
CFU/m
3

<1
CFU/m
3


RH - 45-75% 45-55% 45-55% 45-55% Hygrometer
Tekanan Udara - 10-15 Pa + ++

+++
Magnehelic
Gauge
Suhu - 20-28
0
C 16-25
0
C 16-25
0
C 16-25
0
C Termometer
Air Excange -
5-20
X/jam
20-40
X/jam
20-
40X/jam
>120X/jam
Efisiensi - 95%
99,995%
99,997% 99,997%
Catatan : 1 m
3
= 35 feet
3


1. Kalibrasi
Kalibrasi yaitu membandingkan alat ukur satu dengan yang lain dengan tingkatan
akurasi yang lebih baik.
Alat ukur dibandingkan dengan alat ukur standar yang tingkat akurasinya lebih
tinggibyaitu
^ primer standar : alat kalibrasi yang dimiliki LIPI, ITB dll
^ Sekunder standar : alat kalibrasi yang harus dimiliki oleh pabrik
Yang berkaitan langsung dengan aobat wajib dikalibrasi contoh :timbangan
Verifikasi yaitu membandingkan alat ukur satu dengan yang lain tanpa melihat
akurasinya.

Tetapi alat yang tidak berhubungan dengan produk hanya dilakukan verifikasi
contoh kelembapan

1. Heating Ventilating Air Conditioning (HVAC)
2. Water System
a. Air Reverse Osmosis (RO)
Parameter air murni :
1. Tingkat conductivity
2. Microbiologi
3. Total Organic Carbon (TOC)
4. PH
Membunuh bakteri menggunakan :
1. Sinar UV
2. Filter bakteri
3. Heat treatment
4. Ozonisasi (diuapkan)
Cara mengurangi conductivity :
1. Ion excanger = kation + anion (tangki sendiri sendiri)
2. Reverse Osmosis = dari konsentrasi mineral tinggi disaring sehingga
konsentrasinya rendah
3. Mix bed = menggunakan resin (kation + anion dicampur)
4. EDI = menggunakan elektroda positif dan negatif
48
Aliran air Reverse Osmosis (RO) pada sirkulasi harus loop system artinya
air harus mengalir secaran terus menerus yang tidak boleh dead lack (mati)
dengan kecepatan 1,5 m/sec atau 5 feet/sec.
b. Water For Injection (WFI)
Konduktivitas lebih rendah dari air RO namanya resistiviti
Parameternya
1. Konduktivitas
2. Pirogen
3. TOC (total organik karbon)
WFI didapatkan dengan cara destilasi dari air terpurifikasi. Destilasi = uap
air yang dipakai
3. Compressed Air System (CAS)
CAS adalah sistem udara bertekanan
Alat yang digunakan :
1. Boiler
2. Genset
4. Cleaning System
Pencucian botol dengan menggunakan air RO 80
0
C
Di combiphar pencucian botol menggunakan air RO dan sisa air pencucian
tidak perlu dikeringkan karena tidak berpengaruh (sebelumnya sudah
dilakukan validasi)

Proses Pengolahan Limbah






















Limbah antibiotik dan non antibiotik
Aerasi I
Aerasi IV
Sedimentasi
Equalisasi
Prasedimentasi
Aerasi II
Aerasi III
Clarifier
Filter karbon aktif
(mengurangi bau,
warna, BOD)
sungai
Fish pool (indikator
fisiologis)
Dikirim ke PPLI
(Prasada Pramuna
Limbah Industri)
Drying bed
fisika
49
9
VALIDASI


Validasi adalah Suatu tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai bahwa tiap
bahan, proses, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan atau mekanisme yang
digunakan dalam produksi dan pengawasan mutu akan senantiasa mencapai hasil
yang diinginkan secara konsisten (terus-menerus).
(SK Menkes RI No. 43/MENKES/SK/II/1988 tentang Cara Pembuatan Obat yang
Baik)

Pengertian ?
Validasi adalah :
- Tindakan pembuktian Dokumentasi
- Dengan cara yang sesuai Metode
- Bahan, proses, prosedur, kegiatan, dll Obyek
- Dalam produksi & pengendalian mutu Ruang Lingkup
- Senantiasa mencapai hasil yg diinginkan
secara terus menerus Sasaran/target

Mengapa Perlu Validasi ??
1) Peraturan Pemerintah (persyaratan c-GMP/CPOB)
2) Mengurangi Problem di Produksi dan QC
3) Memperkecil Kemungkinan Kerja Ulang (Rework)
4) Lebih Menjamin Mutu Obat
5) Meningkatkan Kepercayaan Konsumen (pelanggan)
6) Meningkatkan Efektifitas dan Efisiensi Produksi
7) Meningkatkan Keuntungan bagi Perusahaan

Bagaimana Cara Melaksanakan Validasi ???
1. Membentuk Komite Validasi & Gugus tugas
2. Membuat Rencana Induk Validasi (Validation Master Plan)
3. Menetapkan Jadwal Validasi
4. Membuat Dokumen Validasi (protokol & laporan validasi)

Jenis-jenis Validasi
1. Validasi (Kualifikasi) Mesin dan Peralatan
- Installation Qualification (IQ)
- Operational Qualification (OQ)
- Performance Qualification (PQ)
2. Validasi Metode Analisa
3. Validasi Proses Produksi
- Prospective Validation
- Concurrent Validation
- Retrospective Validation
4. Validasi Proses Pengemasan
5. Validasi Pembersihan (Cleaning Validation)
50



1. Installation Qualification (IQ)
yaitu untuk menjamin & mendokumentasikan bahwa sistem atau peralatan
yang diinstalasi sesuai dengan spesifikasi yang tertera pada dokumen
pembelian, manual alat ybs dan pemasangannya dilakukan memenuhi spesifikasi
yang telah ditetapkan.

Sasaran/Target :
1) Memastikan bahwa sistem atau peralatan telah dipasang sesuai rencana
desain yang telah ditentukan (GMP complience)
2) Memastikan bahwa bahan dan konstruksi peralatan telah sesuai dengan
spesifikasi yang telah ditentukan (jenis baja anti karat, kemudahan
pembersihan, dll)
3) Memastikan ketersediaan perlengkapan pengawasan (alat kontrol) dan
pemantauan (monitor) sesuai dengan penggunaannya.
4) Memastikan sistem atau peralatan aman dioperasikan serta tersedia sistem
atau peralatan pengaman yang sesuai
5) Memastikan bahwa sistem penunjang, misalnya listrik, air, udara, dll telah
tersedia dalam kualitas dan kuantitas yang memadai sesuai dengan
penggunaannya
6) Memastikan bahwa kondisi instalasi dan sistem penunjang telah tersedia
dan terpasang dengan benar

Macam macam pengecekan IQ
1) Spesifikasi/rancangan alat/sistem
2) Identifikasi kemasan
3) Asesoris mesin/peralatan
4) Daftar suku cadang (spare part)
5) Identifikasi bagian alat/mesin/sistem yang penting yang dapat
mempengaruhi proses dan kualitas produk
6) Daftar alat/instrumen yang perlu dikalibrasi
7) Kalibrasi (sertifikat kalibrasi)
8) Prosedur (tata cara) Instalasi
9) Pemeriksaan Instalasi Terpasang dan Sarana Penunjang

IQ dilakukan jika terjadi
^ Pemasangan alat baru
^ Modifikasi alat
^ Pemindahan alat.

2. Operational Qualification (OQ)
Yaitu untuk menjamin & mendokumentasikan bahwa sistem atau peralatan
yang telah diinstalasi bekerja (beroperasi) sesuai dengan spesifikasi yang
diinginkan.

Sasaran/Target :
Memastikan bahwa sistem atau peralatan bekerja sesuai rencana desain dan
spesifikasi
Memastikan bahwa kapasitas mesin atau peralatan secara actual dan
operasional telah sesuai dengan rencana design yang telah ditentukan
A. Kualifikasi Mesin &
Peralatan Produksi
51
Memastikan bahwa parameter operasi yang berdampak terhadap kualitas
produk akhir telah bekerja sesuai dengan rancangan design yang telah
ditentukan
Memastikan bahwa langkah operasi (urutan tata cara kerja) berdasarkan
petunjuk operasional, telah sesuai dengan waktu dan peristiwa dalam
operasi secara berurutan

Macam macam pengecekan OQ
Uji simulasi dengan kondisi operasi yang sesungguhnya (tanpa product)
Batas/limit yang masih dapat disetujui
Menetapkan parameter dan batas limit operasi yang dapat mempengaruhi
proses dan product
Menetapkan kondisi operasional (SOP)
Menentukan limit spesifikasi (perawatan, pergantian spare part, dll)

IQ dilakukan jika terjadi
^ Pemasangan alat baru
^ Modifikasi alat
^ Pemindahan alat.
(Dalam pelaksanaan di lapangan, biasanya IQ dan OQ dilakukan sekaligus
sehingga dokumennya di sebut Dokumen IQ/OQ)

3. Performance Qualification (PQ)
Yaitu Untuk menjamin & mendokumentasikan bahwa sistem atau peralatan
yang telah diinstalasi bekerja (beroperasi) sesuai dengan spesifikasi yang
diinginkan dengan cara menjalankan sistem sesuai dengan tujuan penggunaan.

Sasaran/Target :
Memastikan bahwa sistem atau peralatan yang digunakan bekerja sesuai
dengan yang diharapkan dan spesifikasi yang telah ditetapkan
Pada umumnya pelaksanaan dilakukan dengan Placebo
Selanjutnya dengan menggunakan produk (obat) dan pada kondisi produksi
normal
Dilakukan 3 kali secara berurutan

Macam macam pengecekan PQ
Kesinambungan operasi dan fungsinya
Dapat diulang kembali (repeatability)
Memastikan dalam kondisi yang sama, mutu produk dan spesifikasi obat
jadi terwujud



Yaitu untuk membuktikan bahwa semua metoda analisa yang digunakan dalam
pengujian maupun pengawasan mutu, senantiasa mencapai hasil yang
diinginkan secara konsisten (terus-menerus)

Cakupan (Ruang Lingkup) :
1) Dilakukan untuk semua Metoda Analisa yang digunakan untuk
Pengawasan Kegiatan Produksi
2) Dilakukan dgn Semua Peralatan yang telah dikalibrasi dan diuji
Kesesuaian sistemnya (Alat & Sistem sudah dikualifikasi)
B. Validasi Metode Analisa
52
3) Menggunakan Bahan Baku Pembanding yg Sudah Dibakukan dan
Disimpan ditempat yg sesuai
4) Untuk Metode Analisa Adopsi (prosedur sudah ada dari dokumen resmi,
misalnya FI, USP, BP, NF, dll), parameter yang diuji hanya Akurasi &
Presisi (verifikasi)
5) Untuk Metode Analisa Modifikasi atau eksplorasi (Prosedur belum ada),
semua parameter harus diuji (validasi), yaitu Spesifitas/Selektifitas,
Linearitas, Akurasi, Presisi, Limit of Detection, Limit of
Quantitation, dan Robustness

Parameter Validasi Metode Analisa
1. Spesifitas/Selektifitas
Kemampuan suatu metode analisa untuk membedakan senyawa yang
diuji dengan derivat/metabolitnya
Digunakan placebo dan zat yang memiliki struktur yang mirip (related
substance)
Misal HPLC peak harus terpisah sempurna (Rs 1,2 1,5)
2. Linearitas (linearity)
Kemampuan suatu metode analisa untuk menunjukkan hubungan
secara langsung atau proporsional antara respons detektor dengan
perubahan konsentrasi analit
Diuji melalui Statistik : Linear Regrassion ( y = mx + b) & Koefisien
korelasi
Biasanya digunakan minimum 5 sample
3. Akurasi (Accuracy)
Kemampuan suatu metode analisa untuk memperoleh nilai yang
sebenarnya (ketepatan pengukuran)
Akurasi dinyatakan sebagai prosentase (%) perolehan kembali
(recovery).
Ketepatan metode analisa dihitung dari besarnya rata-rata (Mean, x)
kadar yang diperoleh dari serangkaian pengukuran dibandingkan
dengan kadar yang sebenarnya.
4. Presisi/ketelitian (Precision)
Kemampuan suatu metode analisa untuk menunjukkan Kedekatan dari
suatu seri pengukuran yang diperoleh dari sampel yang homogen
Dinyatakan dalam bentuk RSD (Relative standard Deviation)
5. Limit of Detection
Lowest amount of analyte in a sample that can be detected but not
necessarily quantitated
6. Limit of Quantitation
Lowest amount of analyte in a sample that can be quantitated with
suitable accuracy and precision
7. Robustness (ketegaran)
Merupakan kapasitas suatu metode analisa untuk tidak terpengaruh
oleh variasi kecil dalam parameter metode (Capacity to remain
unaffected by small variations in method parameters)
Contoh Robustness HPLC : pH fase gerak, jumlah pelarut organik yg
dimodifikasi, konsentrasi buffer (garam), konsentrasi additive, flow
rate, suhu kolom, dll

Pelaksanaan Validasi Metoda Analisa (verifikasi)
1. Pemilihan Metode Analisa yang Diuji
2. Pembuatan Protokol Validasi
3. Pembuatan Sampel (Larutan/cuplikan baku)
53
4. Pelaksanaan Pengujian
5. Perhitungan hasil Pengujian
6. Penentuan Kriteria (Batas) Penerimaan
7. Membuat Kesimpulan
8. Pembuatan Laporan Validasi

Kriteria Pemilihan M.A. yg diuji
1. Potensi bahan yang diuji
2. Stabilitas bahan
3. Mudah/tidaknya bahan dianalisa

Pembuatan Cuplikan Baku
Dibuat oleh 2 (dua) orang Analis yang cakap, sebanyak 6 sampel terdiri
dari 3 dosis, sebagai berikut :
Dosis 1 : 100 % - {(1,5 s/d 3) x (100% - syarat minimum monografi)},
dibuat 2 sampel
Dosis 2 : 100 % klaim label, dibuat 2 sampel
Dosis 3 : 100 % + {(1,5 s/d 3) x (syarat maximum monografi 100%)},
dibuat 2 sampel
Tiap sampel diuji triplo (3 replikasi), dihitung rata-rata dan RSD.
Hasil yang diperoleh, kemudian ditabulasikan

Intepretasi Hasil Analisa
Hitung Rata-rata % hasil uji (Mean, x)
Hitung Simpangan Baku Relatif (Relatif Standard Deviation/SD)
Analisa hasil dengan uji ANAVA (t- test) Dibandingkan antar dosis
maupun antar analis

Kriteria Penerimaan (khusus Verifikasi)
Mean merupakan ukuran Ketepatan (Accuracy)
Relative Standard Deviasi (RSD) merupakan ukuran ketelitian (Precision)
Artinya : Makin besar nilai Accuracy dan Makin kecil nilai RSD,
Metoda Analisa tersebut makin baik.

Pedoman Umum :
Syarat Monografi 90 110 %, SD dan % relative error </= 2
Syarat Monografi 95 105 %, SD dan % relative error < 2



Tujuan validasi proses produksi adalah :
Memberikan dokumentasi secara tertulis bahwa prosedur produksi yang
berlaku dan digunakan dalam proses produksi (Batch Processing Record),
senantiasa mencapai hasil yang diinginkan secara terus menerus.
Mengurangi problem yang terjadi selama proses produksi
Memperkecil kemungkinan terjadinya proses ulang (reworking process)
Meningkatkan efektifitas dan efisiensi produksi

C. Validasi Proses Produksi

54
Macam Macam Validasi Proses Produksi :
a. Prospective Validation
Untuk Produk- produk baru yang belum pernah diproduksi
Dilakukan pada Tiga batch pertama
Bisa digunakan untuk dijual (commercial batch)
Bukan termasuk trial batch (skala lab)
B. Concurrent Validation
Untuk Produk yang sudah berjalan (sudah diproduksi)
Terjadi perubahan pada parameter kritis, seperti peralatan yang digunakan,
prosedur (cara) pembuatan, spesifikasi bahan baku, cara pengujian, dll
yang dapat mempengaruhi mutu dan spesifikasi produk.
c. Retrospective Validation
Untuk Produk-produk yang sudah lama diproduksi yang belum di-validasi,
namun memerlukan data validasi (mis. Untuk keperluan registrasi ulang,
dsb)
Penelusuran dari data produksi yang sedang berjalan
Data berasal dari batch record (minimum 10 20 batch)
Penelusuran sejarah (riwayat) produk yang bersangkutan

Urut - Urutan Pelaksanaan Validasi Proses Produksi (prospective &
Concurrent)
1. Pemilihan proses produksi yang Diuji
2. Pembuatan Protokol Validasi
3. Pembuatan lembar kerja (worksheet) validasi
4. Pelaksanaan validasi
5. Pengujian sampel
6. Penentuan Kriteria (Batas) Penerimaan
7. Membuat Kesimpulan
8. Pembuatan Laporan Validasi

Kriteria Pemilihan proses yg divalidasi
1. Potensi bahan (obat) yang digunakan
2. Stabilitas bahan (obat)
3. Mudah/tidaknya proses produksi tersebut dilakukan
4. Hambatan selama proses produksi.
5. Semua produk baru HARUS divalidasi
6. Semua perubahan yang dapat mengakibatkan perubahan mutu produk,
harus divalidasi
Catatan : No. 1 s/d 4 merupakan kriteria untuk
retrospective validation

Protokol Validasi
Halaman Pengesahan
Tujuan pelaksanaan validasi
Cakupan (scope)
Latar belakang pelaksanaan validasi
Dokumen terkait (IQ/OQ mesin-mesin/peralatan yg digunakan, SOP,
sumber rujukan yg digunakan, dll)
Pembagian tugas dan tanggung jawab
Garis besar proses produksi (dalam bentuk flow chart)
Penentuan parameter kritis dan pengujian yg digunakan pada setiap
tahapan proses produksi
Rencana pengambilan sampel
Rencana penanganan sampel
55
Rencana pengujian sampel
Rencana analisa hasil uji
Kriteria penerimaan




Langkah Produksi Bahan
Baku
Alat/
Mesin
Parameter
Kritis
Pengujian
(Test Method)
1. Penimbangan - C.T.M.
- Corn Starch
- Lactose Mesh 200
- Eurocert Tartrazine
- Microcel PH 101
- Talcum
- Mg. Stearate
Timbangan - Kebersihan
- Ketepatan timbangan
- Cemaran mikroba
- Kalibrasi
2. Pencampuran
Awal
- C.T.M.
- Corn Starch
- Lactose Mesh 200
Super Mixer - Waktu pencampuran
- Kecepatan pengadukan
- Kecepatan chopper
- Loading capacity
- Keseragaman kadar zat aktif
3. Granulasi
Basah
- Campuran serbuk
tahap II
- Eurocert Tartrazine
- Corn Starch
- Aquadem.
Super Mixer - Jumlah bahan pengikat
- Viskositas binder
- Waktu Pengadukan
- Kecepatan Pengadukan
- Kecepatan Chopper
- Suhu larutan pengikat
- Pemerian granul
- Waktu hancur
- Kekerasan tablet
- Kerapuhan
- Dissolusi
4. Pengayakan - Granul tahap III Oscillating
Granulator
- Ukuran Mesh
- Kecepatan mesin
- Distribusi ukuran partikel
5. Pengeringan - Granul tahap IV Fluid bed Dryer - Suhu
- Waktu
- Loading Capacity
- Kadar Air
- Rendemen
6. Pengayakan
granul kering
- Granul tahap V Oscillating
Granulator
- Ukuran Mesh
- Kecepatan mesin
- Distribusi ukuran partikel
- Rendemen
7. Pencampuran
Akhir
- Granul tahap VI
- Microcel PH 101
- Talcum
- Mg Stearate
Drum Mixer - Waktu
- Kecepatan (RPM)
- Loading capacity
- Keseragaman kadar
- Ukuran partikel
- Density
- Rendemen
8. Pencetakan - Campuran Tablet
tahap VII
Mesin Cetak
ZP 33/21
- Kecepatan mesin (RPM)
- Tekanan (force/tonage)
- Pemerian
- Dimensi tablet
- Keragaman bobot
- Keseragaman kadar aktif
- Kekerasan
- Kerapuhan
- Waktu hancur
- Dissolusi
- Rendemen
56
Intepretasi Hasil
Hitung Rata-rata % hasil uji (Mean, x)
Hitung Simpangan Baku Relatif (Relatif Standard Deviation/SD)
Analisa hasil dengan uji ANAVA (t- test)

Kriteria Penerimaan
Proses produksi dapat dinyatakan memenuhi persyaratan jika secara statistik
menunjukkan konsistensi hasil pada setiap batchnya, dan seluruh parameter uji
memenuhi persyaratan yang telah ditentukan pada spesifikasi produk ybs.



Tujuan :
Untuk memberikan bukti tertulis dan terdokumentasi bahwa :
1. Proses pengemasan yang dilakukan telah sesuai dengan Prosedur Tetap
Proses Pengemasan yang telah ditentukan serta memberikan hasil yang
sesuai dengan persyaratan (rekonsiliasi) yang telah ditentukan secara terus
menerus (reliable and reproducible).
2. Operator/pelaksana yang melakukan proses pengemasan kompeten serta
mengikuti prosedur pengemasan dan peralatan pengemasan yang telah
ditentukan.
3. Proses pengemasan yang dilakukan, tidak terjadi peristiwa mix up
(campur baur) antar product maupun antar batch.

Mengapa harus dilakukan validasi pengemasan ??
Sebagian besar kesalahan ada di bagian proses pengemasan
Kesalahan di bagian pengemasan, sangat sulit dideteksi
Ada anggapan bahwa proses pengemasan BUKAN proses yang penting,
sehingga pengawasan sering diabaikan

Apa yang harus divalidasi ??
1. Kemasan Strip/Blister
Jumlah tablet yg dikemas vs jumlah tablet yang dihasilkan
Penandaan (No. Batch, Mfg. Date, Exp. Date) pada blister/strip,
dus, karton
Test Kebocoran strip/blister
Jumlah tablet dalam strip/blister
Jumlah strip/blister dalam dus
Jumlah dus dalam karton
Kelengkapan (etiket, brosur, penandaan)
Kerapian
Rekonsiliasi Bahan pengemas
2. Kemasan Botol (syrup, suspensi, other liquid)
Jumlah botol yang dihasilkan vs jumlah cairan yg diproduksi
Volume (isi) per botol
Kebocoran (tutup)
Jumlah botol dalam dus
Jumlah dus dalam karton
Kelengkapan (etiket, brosur, penandaan)
Kerapian
Rekonsiliasi Bahan pengemas

D. Validasi Proses Pengemasan

57


Tujuan :
Untuk memberikan bukti tertulis dan terdokumentasi bahwa :
1. cara pembersihan yang digunakan tepat dan dapat dilakukan berulang-
ulang (reliable and reproducible)
2. peralatan/mesin yang dicuci tidak terdapat pengaruh yang negatif karena
efek pencucian
3. operator/pelaksana yang melakukan pencucian kompeten, mengikuti
prosedur pembersihan dan peralatan pembersihan yang telah ditentukan
4. cara pencucian menghasilkan tingkat kebersihan yang telah ditetapkan.
Misal : sisa residu, kadar kontaminan, dll

Mengapa Prosedur Pembersihan harus divalidasi ??
Peralatan digunakan untuk bermacam produk
Meningkatnya kontak permukaan antara bahan dgn alat/mesin
Tuntutan c-GMP

Bagaimana Cara Pelaksanaan Validasi Pembersihan ??
1. Pemilihan prosedur (Protap) Sanitasi yang Diuji
2. Pembuatan Protokol Validasi
3. Penetapan Metode Pengambilan sampel
4. Pembuatan lembar kerja (worksheet) validasi
5. Pelaksanaan validasi
6. Pengujian sampel
7. Penentuan Kriteria (Batas) Penerimaan
8. Membuat Kesimpulan
9. Pembuatan Laporan Validasi

Penetapan Prosedur Pembersihan (bekas product/active substance)
yang divalidasi :
Bahan-bahan yang sulit dibersihkan (dari pengalaman)
Product-product yg memiliki tingkat kelarutan yang jelek
Product-product yg mengandung bahan yang sangat toxic, carscinogenic,
mutagenic, teratogenic, etc.
Untuk bahan yg sama, dipilih yang memiliki dosis yg lebih tinggi

Kriteria Alat/Mesin Yang Dilakukan Validasi Pengemasan
Peralatan/mesin baru
Untuk mesin yang sama (merek, jenis/type) hanya salah satu yang harus
divalidasi
Jika dalam proses menggunakan rangkaian mesin yang berbeda secara
berkelanjutan (in line machine), masing-masing mesin harus tetap
divalidasi secara terpisah
Jika rangkaian mesin merupakan kombinasi mesin yang permanen, validasi
bisa dilaksanakan bersama-sama

Hal-hal lain yang perlu diperhatikan :
Design peralatan (apakah banyak pipa-pipa, apakah ada kesulitan untuk
melakukan sampling, lekukan-lekukan dsb.)
Teknik sampling (metode pengambilan sampel) : Swab test, Rinse
sampling atau Placebo sampling
E. Validasi Pembersihan (Cleaning Validation)

58
Jumlah titik sampling, lokasi sampling, contaminasi sampel, dll
Formulasi : Cairan, powder, aseptic, sterile, excipients, etc.

Metode Pengembilan Contoh (Sampling Plan)
1. Metode Apus (Swab Sampling Method)
Pengambilan contoh dengan cara apus, umumnya menggunakan bahan apus
(swab material) yang dibasahi dengan pelarut yg langsung dapat menyerap
residu dari permukaan alat.
Bahan yang digunakan untuk sampling (swab material) harus :
Compatible dgn solvent dan metode analisanya
Tidak ada sisa sisa serat yg mengganggu analisa
Ukuran harus disesuaikan dengan area samplingnya
Solvent (pelarut) harus :
Disesuaikan dengan spesifikasi bahan yang diperiksa
Tidak mempengaruhi stabilitas bahan yang diuji
Sebelum dilakukan validasi, harus dilakukan
pemeriksaan/uji penemuan kembali (recovery test) dengan
larutan yang diketahui kadarnya
2. Metode Pembilasan Akhir (Rinse Sampling Method)
1. Umumnya dilakukan untuk alat.mesin yang sulit dijangkau dengan cara
apus (banyak pipa-pipa, lekukan, dll).
2. Pelarut (bilasan akhir) dapat digunakan pelarut organik (methanol, alkohol)
atau hanya aquademineralisata, pelarut kemudian ditampung dan dianalisa.
3. Kelebihan : jika dilakukan dengan benar, hasil pemeriksaan mencerminkan
kondisi seluruh permukaan alat.
4. Kekurangan : ada kemungkinan tidak seluruh sisa bahan (residu) larut
dalam bahan pelarut sehingga residu tidak bisa terdeteksi

3. Metode dengan Menggunakan Placebo
1. Dilakukan dengan cara pengolahan produk yang bersangkutan
tanpa bahan aktif dengan peralatan yang sudah dibersihkan
kemudian dianalisa
2. Tidak disarankan karena tidak reproducible

Metode Analisa (Pemeriksaan)
Metode Analisa yg digunakan untuk pemeriksaan sisa residu HARUS
sudah divalidasi
Spesific untuk bahan yang diperiksa
Cukup sensitif untuk mendeteksi sisa residu
Alat yang dipakai: HPLC (disarankan, tetapi biaya pemeriksaan mahal);
Spektro UV/Vis dan KLT (biaya lebih murah)
Periksaan lain : pH, Konduktifitas, Kejernihan, sisa deterjen

Penentuan Total Residu :
Dengan cara menjumlahkan sisa residu dari semua bagian
Mengkonversikan jumlah total residu dari sisa residu yg disampel
Jika tidak ada residu yg terdeteksi, perhitungan sisa residu menggunakan
limit of detection

Kriteria Penerimaan (Acceptance Criteria)
Penentuan resiko terjadinya kontaminasi silang (cross-contamination)
dengan worst case scenario :
Seluruh sisa residu akan diterima (tercampur) oleh product berikutnya
Sisa residu akan tercampur secara homogen pada product selanjutnya
59
TIEL (Toxicological Insignificant Exposure Level) atau dosis terurapetic
terkecil per hari sebagai bahan perhitungan

Acceptance Kriteria :
Kriteria Dosis cemaran bahan aktif tidak lebih dari 0,001 x dosis harian
maksimal perhari dari produk selanjutnya
Kriteria ppm Produk berikutnya mengandung tidak lebih dari 10 ppm
cemaran produk sebelumnya
Bersih secara visual pada alat yang telah dibersihkan, tidak terlihat
secara visual adanya sisa produk sebelumnya


10
Ruang lingkup CPOB ?


Personalia
a. jumlah cukup
b. memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan sesuai
dengan tugasnya
c. memiliki kesehatan mental dan fisik yang baik
d. mempunyai sikap dan kesadaran tinggi untuk mewujudkan CPOB
Bangunan dan Fasilitas
a. memiliki ukuran, rancang-bangun, konstruksi serta letak yang
memadai agar memudahkan dalam pelaksanaan kerja,
pembersihan dan pemeliharaan yang baik.
b. sarana kerja hendaklah memadai sehingga setiap resiko terjadinya
kekeliruan, pencemaran silang dan pelbagai kesalahan lain yang
dapat menurunkan mutu obat dapat dihindarkan
Peralatan
a. memiliki rancang bangun dan konstruksi yang tepat
b. ukuran yang memadai serta ditempatkan dengan tepat sehingga
mutu yang dirancang bagi tiap produk obat terjamin secara
seragam dari bets ke bets
c. mudah dibersihkan dan dirawat
d. Peralatan tidak boleh menimbulkan akibat yang merugikan
terhadap produk.
e. peralatan yang bersentuhan dengan bahan baku, produk antara,
produk ruahan dan produk jadi tidak boleh bereaksi, mengadisi
atau mengabsorpsi yang dapat mengubah identitas, mutu dan
kemurniannya diluar batas yang sudah ditentukan.
f. Tiap peralatan utama hendaklah diberi nomor pengenal yang jelas
g. Peralatan hendaklah dapat dibersihkan dengan mudah
60
h. Peralatan yang digunakan untuk menimbang, mengukur, menguji
dan mencatat hendaklah diperiksa ketelitiannya secara berkala
serta ditera menurut suatu program dan prosedur yang tepat
Sanitasi dan Higiene
a. Ruang lingkup sanitasi dan higiene meliputi personalia, bangunan,
peralatan dan perlengkapan, bahan produksi serta wadahnya, dan
setiap hal yang dapat merupakan sumber pencemaran produk
b. Prosedur sanitasi dan higiene hendaklah divalidasi dan dievaluasi
secara berkala untuk memastikan bahwa hasil penerapan prosedur
yang bersangkutan cukup efektif dan selalu memenuhi persyaratan
Produksi
a. Produksi hendaklah dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang
telah ditetapkan yang dapat menjamin senantiasa menghasilkan
obat jadi yang memenuhi spesifikasi yang ditentukan
b. Aspek yang perlu diperhatikan agar tidak menyimpang dari
ketentuan yang telah ditetapkan meliputi :
1. Bahan awal
2. Validasi proses
3. Pencemaran
4. Sistem penomoran batch dan lot
5. Penimbangan dan penyerahan
6. Pengembalian
7. Pengolahan
8. Pengemasan
c. Unsur-unsur dalam pengolahan obat yang efektif adalah :
1. Adanya prosedur kerja standar umum yang tertulis
2. Adanya instruksi produksi tertulis yang tegas untuk setiap
produk yang dibuat
3. Kepatuhan pada prosedur-prosedur tertulis
4. Dokumentasi yang cermat dan tepat waktu
Pengawasan Mutu dan Pemastian Mutu
a. Pengawasan mutu adalah bagian yang esensial dari cara
pembuatan obat yang baik untuk memastikan tiap obat yang dibuat
senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang sesuai dengan tujuan
penggunaannya
b. Pengawasan mutu meliputi semua fungsi analisa yang dilakukan di
laboratorium termasuk pengambilan contoh, pemeriksaan dan
pengujian awal, produk ruahan dan obat jadi, serta penyimpanan
contoh pertinggal
c. Pemastian mutu meliputi program uji stabilitas, pemantauan
lingkungan kerja, validasi, dokumentasi suatu bets program dan
penyusunan serta penyimpanan spesifikasi yang berlaku dari tiap
bahan dan produk termasuk metode pengujiannya.
Inspeksi Diri
a. Tujuan inspeksi diri adalah untuk melakukan penilaian apakah
seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu dalam pabrik
memenuhi ketentuan CPOB
b. Program inspeksi diri hendaklah dirancang untuk mendeteksi
kelemahan dalam pelaksanaan CPOB dan untuk menetapkan
tindakan perbaikan
c. Inspeksi diri ini hendaklah dilakukan secara teratur.
d. Daftar periksa hendaklah mengandung pertanyaan mengenai
ketentuan CPOB yang meliputi : karyawan, bangunan termasuk
fasilitas untuk karyawan, penyimpanan bahan awal dan obat jadi,
61
peralatan, produksi, pengawasan mutu, dokumentasi, dan
perawatan gedung dan peralatan.
Penanganan Keluhan Terhadap Obat, Penarikan Kembali Obat dan Obat
Kembalian
a. Keluhan terhadap obat dan laporan keluhan dapat menyangkut
mutu, efek samping yang merugikan atau masalah efek terapetik.
b. hasil evaluasi dan penelitian dilakukan tindak lanjut berupa antara
lain : tindakan perbaikan yang diperlukan, penarikan kembali bets
obat atau seluruh obat yang bersangkutan dan tindak lanjut yang
sesuai.
c. Penarikan kembali obat dapat berupa penarikan kembali satu atau
beberapa bets atau seluruh obat jadi tertentu dari semua mata rantai
distribusi
Dokumentasi
Dokumentasi sangat penting untuk memastikan bahwa setiap petugas
mendapat instruksi secara rinci dan jelas mengenai bidang tugas yang
harus dilaksanakannya

11
Soal kompre komisi I
Pak Purwadi


Water system di PT. combiphar
a. Raw water/top water
Ialah: air baku yang belum mengalami proses (blom di apa2in gethu)
Diperoleh: - sumur artesis
- PDAM
- Air sungai yang di treatment
b. Potable water
Di peroleh dari air PDAM (colorinasi)
c. Purified water (PW)
d. Water for injeksi (WFI)

Skema:












Keterangan:
- CL: Colorinasi, untuk mebunuh mikroba
- DCL: Decoloriasi, untuk menghilangkan bau dan efek samping
dari colorinasi yaitu mudah menjadi korosif sehingga
menimbulkan karatan.


Proses pengolahan air dalam proses produksi?

63
Penjelasan
Raw water yang diperoleh dari sumur artesis di ambil dengan cara
di pompa.
Raw water tersebut di tampung di Brea tank
Air disaring dengan pompa yang berfungsi sebagai pengerak
Mutimedia Filter
Prinsip: terdapat beberapa penyarigan dalam bentuk kasar
Untuk pembuaan PW (Purified water)
Softener menggunakan resin untuk mengurangi kesadahan air
UV Steriliser untuk membunuh bakteri
Di filter Cartrige ukuran 5
Di filter Cartrige ukuran 1
RO (Reverse Osmosis)
Osmosis: difusi air dari konsentrasi lebih tinggi ke konsentrasi lebih
rendah
RO: kebalikan dari osmosis



Proses RO

RO





64
Penjelasan
- Proses RO terjadi di membran, air aka masuk ke konsentrasi yang
lebih rendah melalui suatu membran permeable.
- Pada RO karena adanya tekanan tinggi sehingga menyebabkan
konsentrasi lebih berbeda.
Tekanan tinggi tekanan rendah (ada yang tersaring, partikel lebih
besar yang tersaring).

EDI-Cell (Electro Deionisasi Cell)


- +


+
-









Prinsipnya: ion ke tarik ke kutub masing-masing, ion-ion tersebut ditangkap
sehingga meyebabkan air lebih jernih.
Kondaktivitas: kemampuan menghantarkan listrik di bawah 1,3 S
Semakin jernih air, daya hantar listriknya kecil.
Penampungan
Di tampung dalam tangki DJ (double jacket), sistem open loop
(mengalir terus menerus) dan suhu 80C.
WHY80C, ko ga 100C.?????????
Because karena..
- klo 100 ga efisien, asumsinya bakteri di suhu 80 juga dah mati
kog.
- Pemborosan energi
- Merusak kekasaran dari pipa
(syarat 0,8 KA, kecepatan alir 1,5m/s hasil penelitian), bakter
tidak bisa membentuk duo film.
- ada gelembung-gelembung udara ada gaya sehingga akan
menekan pipa pipa kasar.
65




Secara teori.................
o Fungsi gudang:
- penerimaan barang (dari supplier, produksi dll)
- penyimpanan barang (sesuai katagori)
- pengeluaran barang (kepada distributor produksi, QC dll)
- pengumpulan barang
secara umum, gudang itu..... untuk menyimpan, menerima dan
mengeluarkan barang.
o Alur barang

Supplier
Gudang
karantina
Barang datang
Tidak
Cek bagian
pembelian
LPB Bagian QC
Labelling
Sampling
Periksa
Hasil (NHPB)
Masuk gudang Tolak


Gudang? Barang masuk diapain? Apa yang diperiksa?

66

Keterangan:
LPB (Laporan Penerimaan Barang)
Saat labelling, QC nempel label kuning baru di lakukan sampling
NHPB (Nota Hasil Pemeriksaan Barang)

Secara Praktek (Misal PT. Combiphar Punya.....)
o Gudang (Logistik)....?





o Barang yang masuk (datang) diapain? Apa yang diperiksa?

Bahan Awal (bahan baku + Bahan kemas)
1. Bahan Baku
Penandaan barang
QC + Labelling karantina
Pemeriksaan Bahan Baku
a. Secara Fisik
Pertama diliatin kemasan luar, misal: penyok atau tidak (klo
penyok syarat tidak boleh < 5 cm) Surat jalan (QA)
b. Secara kimia
- Speknya tergantung FI/ F.Jepang biasanya: kadar LOD, keasaman,
pengotor, angka penyabunan, kekentalan ata visko dan BJ.
- Metode: konvensional (titrasi), Modern (AAS HPLC, Spektro).
67
c. Secara MO
Metode Apus: - area apus 5x5 cm
- syarat: 125 CFU/25 cm

2. Bahan kemas
a. Cara fisik: pengukuran volume, panjang dan tebal.
b. Cara MO
Botol : - dibilas dengan NaCl 0,9 %, di kocok.
Syarat: Bakteri 125 CFU
Jamur 50 CFU
EC, Pseudomonas, stafillo, salmonella (-
)
- Metode Apus
- Film area apus 5x5 cm, syarat: bakteri 125 CFU/25 cm
- Pengambilan sampel secara diagonal (3 titik; atas, tengah
bawah)
- Untuk lot/batch yang jumlahnya banyak Military Standard
Foil Swab Methode
c. Cara kimia
Botol: - Uji tranmisi cahaya, syarat 40-50 %
- Bahan gelas yang diabukan
- Hidrolisis ketahanan permukaan : keasaman, kebasaan
- Kekuatan botol beban 30 kg (tidak boleh lepas tutup dari botolnya)
Foil: Infra red (untuk identifikasi bahannya)
Menggunakan NaOH (laisan terpisah), As.
Sitrat (lapisan yang belum terpisah)
Metode sampling
N + 1
- Penyamplingan dilakukan setiap 1 batch
Misal: dalam 1 batch ada 100 stock (klo dlm stock) 100 + 1 = 11 (yang
di sampling)
- Pengambilan bahan dengan menggunakan Stick Sampler
NB: Tidak semua BB diperiksa, hanya terhadap bakteri saja, misal:
glukosa




Secara teori.......
IPC (In Proses Control)
a. pengawasan dan pengendalian mutu produk (produk antara, ruahan, jadi)
b. pemeriksaan barang kembalian dari distributor
c. Pemeriksaan ulang (obat jadi lama di gudang)
d. Memonitor stabilitas produk jadi
IPC Tablet (dilakukan pada tahap-tahap critical)
- Tinggl cetak (hasil lubrikasi)
- Tablet (hasil visual) pada waktu pentabletan
- lengket, capping, bintik hitam dll
IPC Tablet? Parameter homogenitas, kadar air, mesin
mixer?
68
- kekerasan (hardeness tester) kerapuhan (Friability tester), keseragaman
bobot, waktu hancur (disintegration tester), disolusi dll.

Secara Praktek...... contohnya neh di PT. Combiphar (Combi lg......Combi lg jangan
bosen yeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee)
Sebelum qta ke pokok permasalahn, qta ke alur proksi dulu ye.......

Alur produksi

Bahan awal
(bahan baku
dan bahan
kemas)
Release Weighing
Bets = MRS (Material Requirement
Slip)
Pencampuran
Semi solid
solid
Liquid

IPC Tablet.............
Produk antara
- di periksa warna, bau, kadar air (moisture balance) sampel 3 gram,
60C, 15 menit = 1-2 %
- keseragaman kadar (misale: parasetamol, range nya 95 105 %)
- keseragaman kandungan
Produk ruahan
- Diameter tablet : 10,5 cm, 11 cm
- Kekerasan tablet
- Ketebalan tablet
- Waktu hancur
- Disolusi
- Kerapuhan : 0 %
- Bobot tablet : 500 5 % (20 tablet)
Produk jadi
- potogan strip: 5 x 2 tablet
- kebocoran: tidak bocor
sekedar intermezo di Combi (combi lagi2, bosen oeee)
Uji kebocoran ala Vakum
6 Strip dimasukkan ke dalam alat vakum (setiap 30 menit), nyalakan
alat. Atur suh sampai 40C, matikan kemudian diamkan 1 menit. Jika
ada ke bocoran otomatis yang di dalam strip ada gelembung.
Seandainya ada yang bocor, waktu yang 30 menit tersebut
dipergunakan untuk membongkar.

69


Produksi adalah: semua kegiatan pembuatan, mulai penerimaan bahan awal,
pengolahan sampai dengan pengemasan untuk menghasilkan produk jadi.

Pengolahan adalah: bagian dari siklus produksi mulai dari penimbangan bahan baku
sampai menghasilkan produk jadi.

Produk jadi adalah: suatu produk yang telah melalui seluruh tahap proses pembuatan

Produksi umumnya ada 2 unit:
1. Unit proses
- Dispensing: ruang transit, ruang timbang, ruang penyimpanan bahan
baku hasil penimbangan (sebelum di bawa ke ruang produksi)
- Pengolahan
2. Unit pengemasan

3. Menentukan ED?
ED ditentukan saat mixing dan pengolahan di laporkan ke superviser
pengemasan Manager produksi (list Of Shelf time) ketemu tahun eraa, untuk
mecari buln dari bulan mixing 1 bulan.
Misal: bulan mixing oktober, berarti bulan ED nya september/


Produksi apa? Pengolahan?

12
Resume diskusi KOMISI I



Syarat ruangan kelas III :
Jumlah maksimum cemaran partikel per m
3
untuk ukuran partikel > 0,5 m
adalah 3.500.000 partikel, sedangkan untuk ukuran partikel adalah 20.000
partikel.

Persyaratan Standar Lingkungan Produksi (CPOB 2001, hal 60)

Klasifikasi
ruangan produksi
menurut ASEAN
GMP
Klasifikasi standar yang
sejenis
BS 5295 1)
US Fed. Std. 209 E 2)
VDI 2083, P.I. 3)
EC 4)
Jumlah maksimum
cemaran partikel per
m
3
ukuran : ukuran :
> 0,5 m > 5 m
Jumlah
maksimum
cemaran
mikroba
per m
3

Efisiensi
saringan
udara %
Pertukaran udara per jam
RUANGAN TERKENDALI / RUANGAN BERSIH
1) 2) 3) 4)
KELAS I
putih
IA 100 - A 3,5000 < 1 99,997 > 120
0,3 m/detik utk aliran vertikal
0,45 m/detik utk aliran horizontal
Daerah Kritis
(di bawah udara laminar)

IB 100 3 B 3,5000 5 99,997 > 20
Ruangan Penyangga
Daerah Kritis
KELAS II
putih
2 10.000 5 C 350,000 2,000 100 99,995 > 20
KELAS III
kelabu
3 100.000 6 D 3,500,000 20,000 500 95 > 20
RUANGAN TIDAK DIKENDALIKAN
KELAS IV
hitam
TD TD TD TD TD TD TD
TD
Ruangan produksi hendaknya
dilengkapi dg sistim ventilasi, dg
pengontrol udara yg sesuai bagi
produk dan aktifitas yg dilakukan
baik terhadap ruangan lain
maupun terhadap udara luar.
- Penjelasan Gudang di PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. - Plant Bandung :

Struktur Organisasi Penyimpanan

Asisten Manager

--------------------------------------------------------------------------------------------
-------
Supervisor




Penyimpanan
Penyimpanan
bahan baku
Penyimpanan
bahan kemas
Penyimpanan
produk jadi
Penyimpanan
barang teknik
Penyimpanan
kulit kina
Penimbangan
sentral
Penanadaan
barang
kemas
71


Masing masing bagian ditangani oleh supervisor , yaitu :
1. SSBB : Supervisor Penyimpanan Bahan Baku
2. SSBK : Supervisor Penyimpanan Bahak Kemas
3. SSDJ : Supervisor Penyimpanan Obat jadi
4. SSBT : Supervisor Penyimpanan Barang Teknik
5. SPS : Supervisor Penimbangan Sentral
6. SSKK : Supervisor Penyimpanan Kulit Kina
7. STBK : Supervisor Penandaan Barang Kemas

Alur barang dimulai dari bagian PPPI dimana PPPI menyusun perencanaan
pengadaan barang berdasarkan data dari pihak pemasaran dan stok barang (produk)
yang tersisa di ULS. Susunan perencanaan pengadaan barang tersebut selanjutnya
diserahkan ke Bagian Pembelian untuk dilakukan pemesanan kepada pemasok.
Pihak pembelian akan mengeluarkan Surat Pesanan (SP) kepada supplier dan
ditembuskan pada bagian bagian PPPI, pergudangan dan keuangan. Selanjutnya,
pihak gudang akan mencatat pesanan barang dalam KKPK (Kartu Kontrol Pesan
Barang). Barang dikirim oleh supplier dan diterima oleh Bagian Gudang untuk
diperiksa kesesuaian dengan SP. Pemeriksaan disini meliputi pemeriksaan kemasan,
label, etiket, tanggal ED, dan juga no. batch. Apabila diketahui barang yang
dikirim ternyata etiketnya berbeda dengan pesanan, atau kemasan yang diterima
bagian gudang dalam keadaan tidak baik, maka bagian Gudang akan menolak
barang tersebut.

Bila barang yang diminta sesuai dengan pesanan maka pihak gudang akan
mengeluarkan Bukti Terima Barang Sementara (BTBS) yang diberikan kepada
pemasok/supplier dan ditembuskan ke bagian PPPI, Pembelian, Laboratorium
Pengujian dan pada gudang sendiri yang akan disimpan sebagai arsip. Selanjutnya
Bagian Laboratorium Pengujian melakukan sampling terhadap barang yang baru
datang tersebut untuk dilakukan serangkaian pemeriksaan dan pengujian apakah
barang tersebut sesuai dengan spesifikasi apa tidak. Sehingga Bagian Laboratorium
Pengujianlah yang menyatakan barang tersebut diterima atau ditolak. Bila barang
tersebut ditolak maka akan diserahkan ke supplier lagi, dan bila diterima akan
disimpan dibagian gudang. Bagian Laboratorium Pengujian akan memberikan
Laporan Analisa (LA) sebagai bukti bahwa barang telah diuji dan memenuhi
spesifikasi yang ditentukan. Selanjutnya pihak gudang akan mengeluarkan Bukti
Penerimaan Barang (BPB) rangkap 6, lembar 1,3,5 diserahkan ke Bagian
Pembelian yang akan diteruskan ke supplier, lembar ke 2,4 diserahkan ke Bagian
Keuangan dan lembar ke 6 digunakan sebagai arsip gudang. Kemudian petugas
gudang akan memindahkan barang/bahan pesanan ke tempatnya (tempat
penyimpanan yang sesuai) dan mencatatnya di Administrasi Persediaan Gudang
(APG).

Ruangan tempat penyimpanan barang diatur dan dikendalikan untuk menjaga
kualitas bahan. Untuk menyimpan hormon, OKT (Obat Keras Terbatas) seperti
psikotropik, harus dipisahkan dan terkunci. Sistem penyimpanan di atur menurut
FIFO (First in First Out) dan FEFO (First Expired First Out) sehingga mencegah
bahan expired. Pemeriksaan ulang perlu dilakukan untuk bahan-bahan yang
disimpan lama. Untuk bahan obat yang mudah terurai, seperti vitamin diperiksa 6
bulan sekali, bahan aktif seperti parasetamol diperiksa setahun sekali, dan untuk
bahan kemas dan bahan pembantu seperti amilum manihot diperiksa 2 tahun sekali.

Suhu dan kelembaban di ruang penyimpanan di ruang penyimpanan harus dijaga
untuk menghindari kerusakan bahan baku dan bahan kemas. Suhu ruangan tanpa
AC dijaga 15-30C dengan kelembaban 30-75%. Untuk suhu di ruang
penyimpanan yang menggunakan AC, suhu dijaga maksimal 25C dengan
72
kelembaban 30-75%. Pengendalian terhadap binatang pengerat seperti tikus
dilakukan dua kali dalam sebulan, dimana PT. KIMIA FARMA bekerja sama
dengan perusahaan pest control, yaitu Terminix. Barang-barang di gudang
disanggah dengan pallet sehingga tidak bersentuhan langsung dengan lantai.
Bagian PPPI menurunkan Surat Perintah Kerja Produksi (SPKP) kepada produksi
disertai BSTBB/BSTBK. Selanjutnya BSTBB diserahkan ke Penimbangan Sentral
dan BSTBK ke Bagian Penandaan. Barang yang diminta akan diserahkan ke bagian
produksi untuk dilakukan proses produksi hingga pengemasan primer maupun
sekunder. Jika produk telah jadi, Supervisor Produk akhir (SPA) akan memeriksa
dan memberikan Acc, setelah itu baru produk jadi boleh masuk gudang obat jadi
dengan dilampiri Bon Barang Jadi oleh bagian produksi. Produk jadi disimpan di
gudang obat jadi dan selanjutnya dikirim ke ULS sesuai instruksi dari ULS.

- Gedung beta laktam dibuat secara istimewa :
Produksi beta laktam harus dibuat terpisah dengan produksi lain karena :
o Beta laktam dapat menyebabkan resistensi (toleransi) pada pekerja
o Beta laktam dapat menyebabkan alergi pada pekerja
o Beta laktam dapat menyebabkan idiosinkrasi pada pekerja
o Beta laktam dapat menyebabkan pencemaran lingkungan
o Beta laktam mudah terdekstruksi oleh cemaran lain

- Air yang digunakan untuk sirup (CPOB 2001, hal 179) :
Air yang digunakan hendaklah paling sedikit berkualitas air minum, yang tidak
boleh mengandung mikroba lebih dari 100 unit pembentuk koloni dalam setiap
ml dan tidak boleh mengandung mikroba patogen, antara lain Coloform,
Salmonella, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococus aureus.
Dianjurkan agar sebelum digunakan air dididihkan lebih dahulu atau
disterilkan dengan cara penyaringan melalui saringan membran berukuran pori
0,2 mikron.

- Cara menjamin di gudang aman dari rodentsia / tikus pengerat :
Pengendalian terhadap binatang pengerat seperti tikus dilakukan dua kali
dalam sebulan, barang-barang di gudang disanggah dengan pallet sehingga
tidak bersentuhan langsung dengan lantai. Dapat bekerja sama dengan
perusahaan pest control, misalnya pada PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. -
Plant Bandung melakukan kerjasama dengan Terminix.

- Satuan dari kelembaban adalah persentase (%).

- Skema alur pembuatan aquademineralisata

73

Alur Pembuatan Aqua Demineralisata
PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. - Plant Bandung


Bahan baku air dari PDAM
(masuk bak penampung)



Multisorb
(berisi pasir dan karbon aktif)




Tangki 1 (bahan baku)



Kolom resin penukar anion
Kolom resin penukar kation



Tangki penampungan jadi IPC : pH,kadar ion
Cl

Lulus uji

Mixed bed
DITOLAK (Kolom resin penukar kation dan anion)



Tangki penampungan jadi Lab Pengujian:
pemeriksaan
sesuai yang
dipersyaratkan
untuk aqua
demineralisata


DITOLAK DISALURKAN










74
13
RUANGAN


Ruangan untuk produksi (pengolahan dan pengemasan) dibedakan menjadi
beberapa kelas, yaitu kelas E1, E2, dan F. Konsep pembagian ruangan ini menurut
Aventis Pharma, terutama berdasarkan aturan-aturan GMP internasional.
a) Kelas E1
Kelas E1 atau yang dulu disebut kelas 3 merupakan area yang digunakan untuk
pengolahan Active Pharmaceutical Ingredients (API) untuk produk non steril.
Persyaratan area ini ditentukan sesuai dengan peryaratan yang produk yang diolah
di ruangan tersebut.

Tabel 1. Persyaratan ruangan kelas E1 Sanofi-Aventis
Jenis pemeriksaan cemaran Kondisi

In operation At rest
Partikel Partikel > 0.5
m/m
3
Partikel > 5 m/m
3

Tidak ditetapkan
Tidak ditetapkan
3.5 x 10
6
2 x 10
4
Mikroba
(Gowning
room)
Settle plates (pasif)
Air sample (aktif)
Contact plates
s 400 kol./4 jam
s 700 kol./m
3
udara
s 25 kol./25 cm
2
Tidak ditetapkan
Tidak ditetapkan
Tidak ditetapkan
Mikroba
(Production
room)
Settle plates (pasif) s 80 kol./4 jam
s500 kol./ m
3
udara
s 100 kol./ 25 cm
2

Tidak ditetapkan
Tidak ditetapkan
Tidak ditetapkan

Perbedaan tekanan udara : > 7.5 Pa
Pergantian udara : > 10/jam
Suhu : 19-25C
Kelembaban : 30-60 %
b) Kelas E2
Kelas E2 Sanofi-Aventis, merupakan area yang digunakan untuk proses
selanjutnya dari sediaan yang dibuat.
Beberapa contoh kegiatan yang dilakukan di area kelas E2 :
- Inspeksi dari produk-produk yang telah terisi dan tertutup
- Pengemasan sekunder dari produk-produk yang sudah dikemas dalam
kemasan primer
- Area penunjang lainnya yang berhubungan dengan kelas E2, seperti area
untuk pencucian peralatan atau tempat penyimpanan peralatan dan alat-alat
bantu


75

Tabel 2. Persyaratan ruang kelas E2

Jenis pemeriksaan cemaran Kondisi
In operation At rest
Partikel Partikel > 0.5
m/m
3
Partikel > 5
m/m
3

Tidak ditetapkan
Tidak ditetapkan
Tidak ditetapkan
Tidak ditetapkan
Mikroba Settle plates
(pasif)
Air sample
(aktif)
Contact plates
Tidak ditetapkan
Tidak ditetapkan
Tidak ditetapkan
Tidak ditetapkan
Tidak ditetapkan
Tidak ditetapkan


Perbedaan tekanan udara : > 0
Pergantian udara : sesuai yang dibutuhkan, > 4 jam
(1)
Suhu : 19-25C
Kelembaban : sesuai dengan kebutuhan, > 80 %
(2)

(1)
sesuai data kualifikasi
(2)
sesuai data pemantauan


c) Kelas F
Kelas F Sanofi-Aventis digunakan sebagai area penunjang seluruh kegiatan.
Beberapa contoh kegiatan yang dilakukan pada area kelas F :
- Menyimapan dan menyiapkan barang-barang, seperti bahan baku, produk
jadi, bahan pengemas, dsb.
- Menyiapkan bahan pengemas sekunder
- Tempat ganti pakaian kerja

76
14
AIR

Pemeriksaan air dilakukan terhadap semua jenis air yang digunakan, meliputi air
sumur, air PAM, potable water, purified water, dan purified water yang berasal
dari MilliQ Plus.

Tabel. Persyaratan mikrobiologi semua jenis air di PT Aventis Pharma

Jenis cemaran Air sumur Air PAM Potable
water
Purified water Milli Q Plus
Jumlah bakteri Tidak
ditetapkan
100 kol/ml 100 kol/ml 100 kol/ml 10 kol/100
ml
Total coliform s 10 0 kol/ml 0 kol/ml - -
Coliform tinja - 0 kol/ml 0 kol/ml - -
Parameter
yang diperiksa
Kimia total,
cemaran
mikroba,
cemaran
coliform
dan
cemaran
coliform
tinja
Kimia total,
cemaran
mikroba,
cemaran
coliform dan
cemaran
coliform tinja
Kimia total,
cemaran
mikroba,
cemaran
coliform dan
cemaran
coliform
tinja
Penampilan,pH,
konduktivitas,
total karbon
organik, nitrat,
logam berat,
batas
kandungan
bakteri, dan
batas
endotoksin
Kimia total,
cemaran
mikroba,
cemaran
coliform dan
cemaran
coliform tinja

Keterangan:
1. Air sumur adalah air yang diperoleh langsung dari sumur artris tanpa
pengolahan awal. Air sumur diperiksa setiap 6 bulan sekali
2. Air PAM adalah air yang berasal dari olahan PAM "city water". Air PAM
diperiksa setiap 1 bulan sekali
3. Potable water adalah air yang diperoleh dari pengolahan air sumur/PAM.
Air ini dapat digunakan sebagai bahan baku untuk purified water.Potable
water diperiksa setiap 1 bulan sekali.
4. Purified water adalah air yang diperoleh dari hasil pengolahan pengolahan
potable water dengan cara deionisasi, reverse osmosis, polishing (mixed
bed procedure), electro-deionisasi/kombinasi, reverse osmosis dengan
electrto-deionisasi. Purified water diperiksa setiap 1 minggu sekali.
5. Purified water MiliQ-Plus adalah air yang diperoleh dari hasil pengolahan
purified water dengan alat MiliQ-Plus



77
Parameter baku mutu air kategori D


Parameter
Sintesis Formulasi
Kadar max
(mg/L)
Beban
limbah max
(kg/L)
Kadar max
(mg/L)
BOD (5 hari, 20C) 75 1,875 75
COD (bichromat) 100 2,5 100
TSS (padatan
tersuspensi total)
60 1,5 60
Fenol 0,5 0,0125 0,5
Total nitrogen 30 0,75 30
PH 6-9 - 6-9
Zat organik (KmnO4) 85 2,125 85
Tes antibiotik - - -

78











79





80


81


15
Tablet



Tablet adalah sediaan obat berbentuk bulat gepeng, kompak, merupakan kempaan
zat aktif dengan atau tanpa bahan tambahan.

Parameter tablet
1. Ukuran tablet
2. Bentuk tablet
3. Sifat tablet

Tablet banyak digunakan karena :
1. Pemakaiannya mudah
2. Relatif murah
3. Relatif stabil dibandingkan sediaan cair

Parameter tablet baik :
1. Kuat dan tahan terhadap gesekan
2. Kadar obat
3. Keseragaman bobot dan kadar zat aktif
4. Memenuhi ketersediaan hayati
5. Penampilan menarik
6. Mempertahankan sifat-sifatnya

Cara membuat formula tablet
1. Penentuan dosis obat
2. Penentuan berat / bobot tablet
3. Penentuan massa exipien
4. Penentu kualitas granul:
5. Kerapuhan/ kekerasan
6. Kompaktibilitas
7. Bentuk
8. Keseragaman ukuran
Bahan pengikat pada metode kempa langsung dan granulasi kering dimasukkan
dalam keadaan kering.

Pada granulasi basah bahan pengikat ditambahkan dengan 2 cara :
1. Ditambahkan pada bahan kemudian disusul penambahan medium cair
2. Dilarutkan dulu dalam medium cairnya baru ditambahkan ke dalam bahan
Jumlah bahan pengikat yang dibutuhkan tergantung pada kualitas bahan pengikat
dan kualitas komponen lain, terutama bahan pengisi.
Metode pembuatan tablet ada 2 yaitu kempa langsung dan granulasi
Metode granulasi ada 2 yaitu granulasi kering dan granulasi basah.

83
Kempa langsung
Proses pembuatan tablet secara kempa langsung
penimbangan pencampuram pengempaan
Keuntungan kempa langsung : lebih hemat waktu, alat, tenaga, dan masalah yang
timbul dalam proses pembuatan lebih sedikit.
Kerugiannya : homogenitas sulit dipertahankan karena masing-masing komponen
memiliki sifat sendiri sendiri dan tidak digabung.

Granulasi
Untuk memperbaiki sifat alir dan kompaktibilitas.
Granulasi kering
Syarat : zat aktif harus tahan terhadap tekanan yang besar.
Proses pembuatan tablet secara granulasi kering
Penimbangan pencampuran pengempaan ( tekanan besar )
slug (lempengan) penghancuran pengayakan penimbangan
pencampuran (dengan pelicin dan penghancur) pengempaan.
Granulasi basah
Syarat : harus tahan terhadap kelembaban dan panas
Proses pembuatan tablet secara granulasi basah
Penimbangan pencampuran penambahan cairan pengikut pencampuran
(pembuatan massa granul) pengayakan granul basah (6-12 mesh)
pengeringan granul 40-60
0
C pengayakan (14-20 mesh) penimbangan
pencampuran dengan pelicin dan penghancur pengempaan tablet.

Baik buruknya massa granul ditentukan oleh jumlah cairan pengikat yang
ditambahkan dan saat pencampuran.

Masalah pada waktu pentabletan dalam mesin kempa :
1. Variasi bobot tablet besr
Penyebab : sifat alir massa tablet jelek, mesin rotary( pemasangan punch
bawah yang kurang tepat), terjadinya pemisahan granul ( karena perbedaan
densitas dan ukuran tidak rata)
2. Binding (melengket ) dalam die
Penyebab ; massa tablet kurang licin, granul kurang kering, die kotor, celah
antara punch bawah dan ruang tablet terlalu besar sehingga fines masuk ke
celah tersbut
3. Picking dan sticking
Penyebab : granul kurang kering, permukaan punch kurang baik, lubrikan
kurang bersifat anti adherent.
4. Tablet rapuh
Penyebab : terlalu banyak fines, tekanan kompresi terlalu kecil, granul kurang
kering, ikatan antar granul lemah.
5. Tablet capping dan laminating
Penyebab ; banyak udara dalam die saat pengempaan, tekanan kompresi terlalu
besar
6. Permukaan tablet kasar
Penyebab : adanya picking dan sticking, ukuran granul sama yang
menyebabkan adanya porus yang rapuh, kurang fines.
7. Tablet berbintik bintik
Penyebab : migrasi zat warna pada granulasi basah, massa tablet tidak
homogen
84
Mesin pengempa tablet dirancang dengan komponen kmponen dasar :
1. Hopper : untuk menahan / tempat menyimpan dan memasukkan granulat
yang akan dikempa,
2. Die : untuk menentukan ukuran dan bentuk tablet
3. Punch : untuk mengempa granulat yang terdapat didalam die
4. Jalur com : untuk mengatur gerakan punch
Kontrol kualitas dalam proses
Selama pencetakan tablet, pengujian dalam proses dilakukan secara rutin untuk
memantau proses, pengujian tersebut meliputi berat tablet, variasi berat, kekerasan,
ketebalan, disintegrasi, dan berbagai penilaian kerapiannya.


16
Steril steril yuk .


Depirogenasi
1. Inactivation
Kimia : oksidasi, hidrolisa, endotoksin, alkilasi.
Panas uap 80-90
0
C, autoclaving 121
0
C
Panas kering 170-350
0
C
2. Removal
Pembilasan / pegenceran
Destilasi
Ultrafiltrasi endotoxin
Depth filter
Adsorpsi : charcoal
RO diikuti deionisasi air
Ion exchange
radiation

Kriteria sterilisasi
1. Bioburder ; jumlah max. bakteri yang boleh ada dalam larutan / sediaan.
2. Kecepatan kematian
3. D. value : waktu yang dibutuhkanuntuk mendestruksi 90% bakteri pada
temperatur tertentu.
4. Z. value : perubahan temperatur yang diperlukan untuk mencapai perubahan D.
Value 10x
Misal: D. Value bacillus stearothermophyllus spora 110
0
C : 20 menit
Z. value : 9
0
C artinya D. value pada 119
0
C : 2 menit
5. IF. Value ( inactivation factor )
IF : 10
T/D

T : waktu untuk sterilisasi
D : D. Value


85
Macam macam sediaan steril :
1. Sediaan parenteral
Small vaolume parenteral, ex ampul dan vial
large volume parenteral, ex. Infution, i rigation
2. opthalmic prepparation
Tetes maa
Salep mata
Larutan pencuci mata
Injeksi mata

Tipe dasar pengemas :
1. Gelas, ex ampul
2. Gelas + karet, ex vial, syiringe
3. Plastik ex. Botol infus, ampul
4. Plastik + karet ex. Syiringe

Tipe gelas :
1. Tipe I : boro silikat glass
Untuk sediaan parenteral cair
Tipe test : powdered glass
2. Tipe II : Treated soda lime glass
Tipe tes :water attack : untuk mengetahui alkalinitas permukaan
3. Tipe III : soda lime glass
Untuk pengemas serbuk kering steril atu dengan pelarut minyak
Aseptic manufacturing
Tipe test : powdered glass
4. Tipe IV : non parenteral
Tidak untuk sediaan parenteral
Tipe test : powdered glass

Control kualitas
IPC meliputi pengujian terhadap:
1. Water for injection
2. Filling dose
3. Checking label
4. Checking produk antara (sebelum filling proses)

Uji oleh QC:
1. Uji sterilitas
2. Uji pirogen
3. Uni kejernihan
4. Uji partikel
5. Uji kebocoran
Ad.1 Uji sterilitas
a. Direct inoculation of vulture medium
b. Membrane filtration
c. Introduction of concentrate culture medium
Ad.2 Uji porogen
a. Rabbit test
b. LAL test
Ad. 3 Uji kejernihan/partikel
Pengamatan dengan background gelap terang
Uji kebocoran ada 2 :
1. Dye bath test
2. The double vacuum null
86

Sediaan steril


Metode:
1. Metode aseptic:semua tahap produksi dillakukan di bawah LAF (white
area)
2. Sterilisasi akhir: tidak semua tahapan produksi dilakukan di white area.
Weighing-mixing di grey area
Filling di white area
Setelah diprimary packaging disterilisasi

Metode sterilisasi:
1. Kimia: antibiotic, fenol, alcohol, gas etilen oksida, formaldehid, ammonium
kwarterner
2. Fisika:
a. Panas:
1. Panas kering: oven (170 C; >2 jam)
2. Panas basah: otoklaf (121 C, 15 menit)
b. Radiasi: sinar laseer, radiasi ion, sinar UV, sinar gama
3. Biologi: filtrasi
a. Persyaratan sediaan steril:
b. Jernih
c. Bebas partikel asing
d. Isotonis
e. Isohidris
f. Steril
g. Bebas pirogen
h. Stabil

Water for injection (WFI)
1. Syarat WFI:
Jernih
Tidak berwarna
Tidak berbau
pH 5-7
bebas mikroba
bibas pirogen
bebas partikel
2. sumber air:
air permukaan (ex. Sungai)
air tanah (ex. Sumur)
3. pemurnian air:
destilasi
RO
Ion exchange
87
3. Proses pembuatan WFI:

Reservoir/ground water

Sand prefilter

Alum

Filter

Klorinasi

Fluorinasi

Drinking water

Ion exchange

Ion exchange

Charcoal

Filter

Filter

RO

Destilation

WFI

Container and closure system
Packaging: primer, skunder

Syarat pengemas primer:
Inert
Kuat
Melindungi isi dari radiasi
Transparan
Melindungi isi dari pengaruh luar, dapat ditutup dna mudah untuk
mengambil isi
Bisa ditempeli label
Dapat mempertahankan bentuknya selama penyimpanan dan transportasi


88
17
Pengolahan Limbah di PT Kimia Farma
Plant Watudakon



Limbah industri adalah salah satu penghasil limbah bahan berbahaya dan beracun
(B3), yaitu sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya
atau beracun karena sifat atau konsistensinya dan atau jumlahnya baik secara
langsung dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup serta
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta
mahkluk hidup lainnya.

Sebagai salah satu industri yang berperan dalam produksi farmasi, PT. Kimia
Farma (Persero) Unit Produksi Watudakon (UPW) dalam operasinya menghasilkan
beragam jenis limbah yang dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu:
a. Limbah Cair
b. Limbah Padat
c. Limbah Gas/Udara

Pengelolaan limbah bertujuan untuk meminimalkan dampak terhadap lingkungan
yang telah dan akan ditimbulkan oleh adanya pengeluaran limbah terutama yang
berpotensi sebagai bahan berbahaya dan beracun (B3). Tujuan lain dari pengolahan
dan pengelolaan limbah adalah untuk memenuhi Peraturan Perundangan yang
berlaku untuk limbah cair dengan SK Gub.Jatim No. 45 tahun 2002 yang harus
diproduksi oleh semua industri yang ada di wilayah Jawa Timur sebelum dibuang
ke sungai.

Pemeriksaan dilakukan oleh Laboratorium rujukan yang ditunjuk oleh pemerintah
dalam hal ini Lab PJT I Mojokerto dan pengambilan sampling air limbah
dilaksanakan oleh dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jombang setiap sebulan
sekali dan setiap enam bulan sekali. Pemeriksaan dilakukan oleh Laboratorium Uji
Air Dinas PU Propinsi Jatim.

Selain pemantauan di atas pengolahan dan pengelolaan limbah Cair juga dipantau
atau dalam pengawasan (BAPEDAL) Propinsi Jawa Timur dan pengawasan
dampak lingkungan.

89


Limbah Cair ini berasal dari air limbah manufaktur (limbah proses Iodiol, limbah
FeSO4, garam-garam dan air limbah proses Iodium) dan air limbah formulasi
(formulasi tablet, kapsul, salep) serta limbah Laboratorium dan domestik (kantin
dan garasi)

Pengolahan dan Pengelolaan Limbah Cair

Dalam rangka pengolahan air limbah PT. Kimia Farma telah mengoperasikan
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sejak tahun 1992 yang disempurnakan
tahun 1995.

Sistem IPAL yang digunakan merupakan kombinasi proses kimiawi, fisika dan
biologi untuk pengolahan limbah yang berasal dari Unit Manufaktur (limbah
induk) dan Unit non Manufaktur

Pengolahan Limbah Manufaktur
Proses pengolahannya meliputi 5 tahap, yaitu :
1) Netralisasi
Adalah proses menetralkan asam atau basa menjadi netral (pH 7-8).
Proses netralisasi dilakukan untuk menetralkan air limbah dari proses Iodium,
garam-garam Iodium, dan garam-garam lain, dengan penambahan Ca(OH)2 akan
menaikkan pH dari 1-2 menjadi pH 7 netral, dimana dalam proses Iodium
berlangsung secara asam.
2) Proses Sedimentasi
Pada proses ini saluran air limbah dibuat berkelok-kelok yang bertujuan
untuk menyempurnakan reaksi penetralan (air limbah + Ca(OH)2 ). Kemudian
dalam proses ini air limbah masuk ke unit sedimentasi yang terdiri dari 2 unit
penampung (Unit I dan II) sebagai tempat pengendapan partikel-partikel dari
proses penambahan kapur. Pada unit sedimentasi pengukuran pH dilakukan
setiap jam, nilai BOD (Biochemical Oxygen Demand) dan COD (Chemical
Oxygen Demand) dari influent turun sekitar 24% dan suhu menurun sekitar 20%.
Waktu tinggal hidrolisis 4-6 jam dengan kecepatan pengaliran 30 m/jam dan
kecepatan pengendapan 0,6-1 m/jam.
3) Lagoon
Air limbah dari proses sedimentasi dialirkan ke Lagoon, dimana lagoon
berfungsi sebagai tempat waktu tinggal sekitar 2-8 hari. Lagoon bertujuan untuk
menurunkan kadar COD air limbah yang belum terpisah pada proses sebelumnya
dan juga sebagai pengendapan bagi lumpur aktif, dimana lumpur aktif ini
berfungsi sebagai makanan bagi bakteri/ mikroba pengurai yang terdapat dalam
limbah. Bakteri dalam air limbah tersebut akan memanfaatkan oksigen yang
berasal dari aktivitas alag dan aerasi lagoon untuk mengoksidasi air limbah atau
zat-zat organik.
4) Bak Penampung
Air limbah dari Lagoon dialirkan ke bak penampung effluent yang terdiri
dari dua bak penampung (unit III dan IV). Kemudian dipompa dengan pompa
sentrifugal dengan kapasitas 407 m3/jam dan pH 7-8 ke sungai Brantas.
5) Bak Sludge Drying Bed (SDB)
Untuk endapan lumpur (sludge) dalam bak sedimentasi di pompa ke unit
Sludge Drying Bed (SDB) yang kemudian dikeringkan secara alami
menggunakan sinar matahari. Hasil akhir pengolahan digunakan untuk tanah
urug jalan atau bangunan.
1. Limbah Cair

90

Pengolahan Limbah non Manufaktur

Proses pengolahan meliputi 5 tahap yaitu:
1) Flotasi (Oil trap)
Merupakan proses pemisahan lemak/minyak (flotasi), yang berasal dari
proses soft kapsul Iodiol, vitamin A dan E, serta VCO (Virgin Coconut Oil),
proses disini merupakan unit penangkap lemak/minyak dalam bak dimana
minyak berada di bagian paling atas sedangkan air terdapat di bagian bawah,
kemudian minyak dan lemak dipompa keluar dan dicampur dengan serbuk
gergaji (saw dust) atau abu sisa bakar dari unit incenerator dan dibakar di
incinerator. Sedangkan air limbah yang telah bebas dari lemak akan mengalir ke
unit sedimentasi dengan penambahan Ca(OH)2.
2) Detokifikasi dan Pemisahan Ferro
Proses ini dilakukan untuk limbah senyawa-senyawa yang bersifat racun,
berasal dari kegiatan produksi, formulasi (aseptis) antibiotic maupun non
antibiotic, dan laboratorium. Dalam proses ini juga dilakukan proses oksidasi,
reduksi, netralisasi, koagulasi, dan presipitasi menjadi senyawa non toksik. Agar
proses berjalan efisien dan efektif pH diatur di atas 11, sehingga larutan Ferro
Sulfat dapat mengendap sempurna. Proses detoksifikasi dilakukan dengan
penambahan larutan basa menggunakan Ca(OH)2 dan dengan pengadukan
(mixer) agar bereaksi sempurna dengan Ca(OH)2, dan air limbah dialirkan
melewati saluran koagulasi dan presipitasi untuk kemudian diteruskan ke bak
sedimentasi.
3) Proses Netralisasi, Koagulasi dan Presipitasi
Air limbah yang bersifat asam atau basa harus dinetralkan terlebih
dahulu sebelum diolah lebih lanjut guna mencapai kondisi optimum. Proses
netralisasi dilakukan dengan menambahkan larutan air kapur Ca(OH)2 ke dalam
air limbah yang diolah.
4) Proses Sedimentasi
Bertujuan untuk mengendapkan partikel-partikel atau suspensi yang
dihasilkan pada proses netralisasi, koagulasi dan presipitasi. Unit ini mempunyai
10 kolam pengendapan.
5) Pengolahan Tingkat Lanjut
Hasil dari unit di atas digabung dan diolah oleh Instalasi Pengolahan Air
Limbah (IPAL) induk untuk diteruskan ke proses selanjutnya.



Selain limbah produk sludge yang dipergunakan sebagai tanah urug jalan dan
bangunan, limbah padat bekas sisa cetakan kapsul atau gelatin dilakukan
pengolahan dengan cara dibakar dalam insenerator. Sedangkan untuk limbah
padat bekas kemasan yang mempunyai nilai ekonomis (seperti drum besi / drum
plastik) dikelola dengan cara dibersihkan atau dicuci kemudian diserahkan ke SP
(Serikat Pekerja) KF UPW untuk dijual. Untuk limbah padat domestik seperti
kertas dan daun-daun kering di bakar dalam tungku bakar domestik.





2. Limbah Padat

91


Pencemaran udara adalah adanya atau dihasilkannya zat atau bahan pencemar di
udara dalam jumlah dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan
terhadap mahkluk hidup, tumbuhan dan atau benda. Pengukuran kualitas udara
sesuai sumbernya terdiri atas :

Pengukuran dari sumber statis, yaitu dari cerobong Boiler sesuai dengan SK Gub
129 tahun 1996 (mengenai Baku Mutu Udara Ambien dan Emisi sumber tidak
bergerak di Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur), dan cerobong Incenerator
sesuai Kep 03/Bapedal/09/1995. Kualitas udara ambien untuk kawasan
pemukiman dan perumahan di sekitar kawasan industri ditetapkan oleh Menteri
Negara Lingkungan Hidup N0 48/Men/LH/11/1996 dimana batas paparan
kebisingan untuk daerah pemukiman yang diijinkan adalah 55 dB A, dan batas
paparan kebisingan di kawasan industri adalah 70 dB A. Sedangkan batas
paparan kebisingan di ruang kerja (dalam industri) diatur dalam Menaker No
Kep-51/MEN/1999 adalah 85 dB A.

Pengolahan Aquademineralisata di PT Kmai Farma Plant Watudakon

Aquademineralisata adalah air yang telah dihilangkan kandungan mineralnya.
Aquadem digunakan sebagai bahan baku untuk proses produksi formulasi
dengan sumber air berasal dari Sungai Brantas. Berikut adalah tahapan
pembuatan aquadem :
a. Pembuatan air bersih
Air dari Sungai Brantas di pompa dan dialirkan ke dalam tangki
penampung. Pertama kali dilakukan proses koagulasi untuk menghilangkan
pengotor-pengotor menggunakan tawas. Kemudian disaring dalam bak
penyaring yang berisi lapiasan batu apung besar, batui apung kecil, kerikil, ijuk
dan pasir pada lapisan teratas. Air yang dihasilkan disebut air bersih dan
dialirkan bak penampung air bersih. Air bersih ini digunakan untuk bahan baku
pembuatan aquadem, bagian produksi dan fasilitas umum.Air bersih untuk
aquadem dipersyaratkan memiliki pH 6-8.
b. Filtrasi I
Air bersih ini kemudian disaring dengan sand filter untuk memisahkan
pengotor, lalu dilakuka penjernihan dengan karbon aktif untuk menyerap
pengotor-pengotor (Ca
+
, Fe
+
, dll)yang terlarut dalam air yang dapat menimbulkan
bau dan warna. Selanjutnya karbon aktif ini disaring (30-50m) agar terpisah
dari air.
c. Kolom Penukar Ion
Proses ini bertujuan menghilangkan ion- ion positif (kation)
menggunakan Kolom Penukar Kation I (KPK I), maupun ion-ion negative
(anion) menggunakan Kolom Penukar Anion (KPA I). Air bersih yang telah
melewati proses filtrasi selanjutnya masuk KPK I, dimana kation-kation dalam
air terikat oleh fase diam yaitu resin. (gugus karboksil bermuatan negative pada
resin akan mengikat kation). Air yang keluar dari kolom KPK I akan masuk ke
dalam tangki KPA, dimana pada kolom ini terjadi pengikatan anion dengan fase
diam resin yang memiliki gugus amin. Selanjutnya air keluar dari KPA masuk
Ke tangki KPK II yang berfungsi untuk menangkap kation yang belum terikat
oleh KPK I. Air yang dihasilkan dari proses ini disebut aqua demineralisata
(aquadem).

3. Limbah Udara

92
Regenerasi KPK dilakukan dengan mengalirkan HCl ke tabung KPK
sehingga kation-kation yang terikat pada resin akan terlepas dan membentuk
garam-garam klorida yang larut dalam air. Sedangkan untuk regenerasi KPA
digunakan NaOH untuk menarik anion yang terikat pada resin dan membentuk
garam-garam natrium yang larut air (Polderman, 1990).
d. Filtrasi II
Air aquadem yang telah melewati proses Kolom Penukar Ion selanjutnya
di filtrasi dengan filter berukuran 5-10 m sebagai filter terhadap partikel resin
dan 0,2-0,35 m sebagai filter partikel bakteri. Air kemudian ditampung dalam
tangki penampung aquadem.
e. Kontrol kualitas aquadem
Air aquadem yang telah jadi perlu dilakukan kontrol kualitas berupa
pemeriksaan konduktivitas dan pH air yang dikendalikan dengan konduktivitas
dan pH meter digital. Sesuai persyaratan air aquadem mengandung pH 6-8,
konduktivitas <5, kandungan mikroba/bakteri maksimal 100/UPK dan
kandungan mineral (Cl
-
, Ca
2+
, SO3
-
) tidak melebihi ambang batas yang
ditetapkan oleh Bagian Pengawasan Mutu.



18
Sistem Pengolahan
Limbah PT BERLICO

Limbah industri adalah bahan sisa dari suatu kegiatan industri atau proses produksi
(manufaktur, formulasi, distribusi, serta pemakaian). Dampak langsung dari limbah
yang dihasilkan industri farmasi adalah terjadinya pencemaran lingkungan baik
udara, air, maupun tanah. Menyadari akan adanya dampak tersebut PT. Berlico
Mulia Farma senantiasa berupaya menjaga kelestarian lingkungan dengan cara
mengendalikan pencemaran yang timbul akibat kegiatan industrinya.

Pengolahan limbah merupakan rangkaian kegiatan yang mencakup penyimpanan,
pengumpulan, pengangkutan, pengolahan limbah B3 serta penimbunan hasil
pengolahan tersebut. Pengolahan tersebut bertujuan untuk menghilangkan atau
membunuh mikroorganisme patogen, mengolah senyawa yang dapat
dibiodegradasi, dan menghilangkan material yang tersuspensi, terflokulasi serta
toksis.

Kewajiban hukum yang dilakukan oleh PT. Berlico Mulia Farma dalam rangkaian
kegiatan pengolahan limbah antara lain :
1. Memeriksakan limbah padat dan cair hasil kegiatan industri secara
periodik guna memastikan bahwa limbah yang dibuang tidak
melewati baku mutu yang telah ditetapkan, dalam hal ini PT.
Berlico Mulia Farma bekerja sama dengan Lembaga Prasadha
Pramunah Limbah Indonesia (PPLI). Apabila hasil pemeriksaan
93
memenuhi syarat, maka limbah cair dapat dialirkan ke selokan air,
sedangkan limbah padat hasil incenerator dapat ditimbun
(landfill).
2. Menyampaikan laporan hasil analisis limbah kepada kepala daerah
(Gubernur, Bupati/Walikota, serta Bapedal). Sebagai salah satu
industri farmasi, PT. Berlico Mulia Farma harus melengkapi
dokumen AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).
Dokumen yang dipersiapkan adalah Rencana Pemantauan
Lingkungan (RPL) dan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL).

Berdasarkan tingkat bahayanya, limbah dikategorikan menjadi dua, yaitu limbah
B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya) dan limbah non B3. Limbah B3 adalah setiap
limbah yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat dan
atau konsentrasinya, baik langsung maupun tidak langsung dapat merusak dan atau
mencemarkan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan manusia.

Berdasarkan bentuknya, limbah dibedakan menjadi limbah cair, padat, dan gas.
1. Limbah cair
Limbah yang dihasilkan merupakan limbah produksi non beta laktam,
limbah yang berasal dari laboratorium, limbah dari pencucian alat, dan limbah
yang berasal dari kegiatan kantin dan karyawan.
Pengolahan limbah cair secara umum melalui tahapan proses sebagai berikut
a. Bak Penampungan Awal
Semua limbah cair dari PT. Berlico Mulia Farma ditampung di bak ini
untuk kemudian dipompa ke bak penampungan I.
b. Bak Penampungan I
Bak ini berisi ijuk yang berfungsi untuk menyaring sehingga dapat
memisahkan cairan dan padatannya. Pemisahan ini dilakukan untuk
mempercepat proses pengolahan air limbah.
c. Bak Netralisasi
Di dalam bak ini dilakukan proses netralisasi menggunakan kapur sampai
didapatkan pH netral. Dalam pelaksanaan proses netralisasi, semua saluran
baik yang masuk maupun yang keluar ditutup.
d. Bak Koagulasi I
Di dalam bak ini dilakukan proses koagulasi menggunakan polimer,
sehingga terjadi flokulasi antara limbah dengan polimer. Senyawa yang
terapung selanjutnya dipisahkan secara mekanis. Limbah cair dari bak
koagulasi I selanjutnya dialirkan lagi ke bak filtrasi.
e. Bak Filtrasi
Bak ini berisi ijuk, kerikil, dan pasir yang berfungsi sebagai penyaring
f. Bak Aerasi
Di dalam bak ini dilakukan proses aerasi dengan menggunakan aerator
(pemberian oksigen) untuk menurunkan kadar COD dan BOD. Dari bak ini
kemudian dialirkan ke bak koagulasi II.
g. Bak Koagulasi II
Dalam bak ini dilakukan proses koagulasi dengan menggunakan tawas dan
kaporit.
h. Bak Sedimentasi
Di dalam bak ini dilakukan proses pengendapan secara gravitasi terhadap
proses sebelumnya.
i. Bak Penampungan Akhir
Air limbah yang telah melewati proses pengolahan limbah cair selanjutnya
ditampung di bak ini. Di dalam bak ini juga dilakukan proses pengenceran
dengan air yang berasal dari air bak pengenceran. Di dalam bak ini
terdapat indikator ikan berupa ikan nila yang masih kecil-kecil.
94
j. Bak Pengenceran
Bak ini hanya berfungsi untuk menampung air bersih yang akan digunakan
untuk proses pengenceran pada bak penampungan akhir.

2. Limbah padat
Pengolahan limbah padat meliputi :
a. Limbah padat Bahan Beracun dan Berbahaya (B3)
1. Limbah padat B3 berupa sisa granul, bahan baku rejected, produk jadi
rejected non-betalactam, debu dari dust collector. Limbah tersebut
dimusnahkan dengan double burner incerinator. Dengan pembakaran
ganda, asap sisa pembakaran tidak lagi mengandung bahan berbahaya
yang bisa mencemari udara.
2. Lain-lain, seperti oli bekas (yang berasal dari servis kendaraan, listrik)
dan accu bekas dari genset.

b. Limbah padat non B3
Limbah padat non B3 berupa kertas, plastik dari administrasi, bekas karton
box, bekas tong plastik yang sudah dicuci, limbah dari kantin, dan botol-
botol bekas yang sudah dicuci.

3. Limbah gas
Limbah gas terdiri dari gas uap asam laboratorium yang dilewatkan pada
cerobong setinggi 6 meter. Uap yang berasal dari solven pada proses coating tidak
langsung dibuang ke udara, tapi dilewatkan melalui pipa alat yang disebut cyclone.
Pada pipa cyclone, gas disemprot dengan air sehingga tersuspensi dalam air dan
ditampung dalam bak penampung cyclone untuk kemudian dibuang ke bak
penampungan awal pada proses pengolahan limbah cair PT. Berlico Mulia Farma.
Persyaratan Jenis Air

Potable water Purified water Purified water MiliQ-Plus
Pemeriksaan Spesifikasi Pemeriksaan Spesifikasi Pemeriksaan Spesifikasi
Pemerian
Larutan jernih, tidak berwarna, tidak
berbau dan tidak berasa
Pemerian
Larutan jernih, tidak berwarna, tidak
berbau dan tidak berasa
Pemerian
Larutan jernih, tidak berwarna, tidak
berbau dan tidak berasa
Konduktivitas 1,3 S/cm Partikel Larutan harus jernih (bebas partikel) Partikel Larutan harus jernih (bebas partikel)
Jumlah zat
terlarut
1000 ms/L pH 5-7 pH 5-7
Seng 5,0 mg/ml Konduktivitas 1,3 S/cm Konduktivitas 1,3 S/cm
Krom 0,05 mg/ml
Resapan

400-200
200
190

Zat yang mudah
teroksidasi
Larutan tetap berwarna merah muda
Alumunium 0,2 mg/ml

0,05 mg/ml
Klorida Larutan tidak keruh
Besi 0,3 mg/ml 0,01 mg/ml Nitrat 0,2 mg/ml
Kesadahan
CaCO3
500 mg/ml
0,01 mg/ml
Sulfat Tidak terjadi kekeruhan
Klorida 250 mg/ml
Zat yang mudah
teroksidasi
Larutan tetap berwarna merah muda
Kalsium dan
magnesium
Tidak terjadi warna biru
Mangan 0,1 mg/ml Klorida 0,05 mg/ml Ammonium 0,1 mg/ml
Nitrat sebagai N 10,0 mg/ml Nitrat 0,2 mg/ml Logam berat Pb 0,1 mg/ml
Nitrit sebagai N 1,0 mg/ml Sulfat Tidak terjadi kekeruhan Zat padat total 1 mg/100 ml
pH 6,5-8,5 Ammonium 0,2 mg/ml CO2 Campuran tetap jernih
Sianida 0,1 mg/ml
Kalsium dan
magnesium
0,1mg/ml

Sulfat 400 mg/ml Kalsium Tidak terjadi warna biru
Sulfida 0,05 mg/ml Logam berat Pb Tidak terjadi kekeruhan
Tembaga 1,0 mg/ml Zat padat total 0,3 mg/100ml
Timbal 0,05 mg/ml CO2 Campuran tetap jernih