Anda di halaman 1dari 5

Hani Pranowo Jati 11/319084/TK/38217

DESAIN PARKIR BASEMENT


Dalam mendesain suatu ruangan bawah tanah, termasuk parkir, harus memperhatikan beberapa hal berikut : 1. Memperhatikan Garis Sempadan Pada saat akan mulai membangun, perhatikan posisi garis sempadan basement. Biasanya posisi garis sempadan basement lebih maju dibandingkan Garis Sempadan Bangunan (GSB) dan mendekati garis sempadan pagar.

2. Memperhatikan Kondisi di Sekitar Area Terbangun Pembangunan basement perlu mengetahui kondisi yang ada di dalam tanah, mengingat seringkali dipergunakan untuk jalur utilitas seperti pemipaan (plumbing),jaringan telepon maupun listrik. Selain utilitas bangunan, perhatikan pula lingkungan sekitar terutama area yang berbatasan dengan tetangga, mengingat dinding yang dibangun pada basement tidak bisa semuanya berimpit dengan dinding tetangga karena akan mengganggu kekuatan bangunannya. Apabila bagian basement ada yang menempel pada salah satu bagian dinding tetangga, maka Anda dapat menggunakan sheet pile.Sheet pile ini umumnya terbuat dari baja atau beton yang berfungsi sebagai retaining wall. Retaining wall berguna untuk menahan beban tekanan tanah dan air. Apabila hunian tetangga yang bersebelahan dengan

area basement memiliki dua lantai, maka cara paling aman yang bisa ditempuh adalah dengan membuat jarak sekitar 1.5 meter dengan bagian dinding tetangga.

3. Posisi Muka Air Tanah Kondisi muka air tanah pada tiap wilayah tentu berbeda-beda. Jika muka air tanah di lahan terbangun cukup tinggi, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Langkah pertama adalah dengan mempersiapkan pompa, kemudian mem-blocking area kerja di sekitarnya dengan plastik atau terpal. Hal ini dilakukan untuk mengatisipasi gangguan genangan air pada saat proses pengerjaan konstruksi (pengecoran dan perakitan tulangan). Selanjutnya buatlah parit-parit di sekitar area pembangunan basement untuk mengalirkan air di sekitar lokasi kemudian memompanya ke luar area kerja. Dengan kondisi area kerja yang kering akan memperlancar pengerjaan konstruksinya. 4. Antisipasi Terhadap Air Jika pada bangunan normal, prinsip dasar utilitas pemipaan air menggunakan metode gravitasi, dimana air dialirkan dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang rendah, namun dalam perancangan basement perencanaan utilitas pemipaannya harus dibantu dengan alat mekanis. Misalnya pada bagian basement dibangun kamar mandi atau toilet jika mengacu pada prinsip gravitasi, maka air buangan harus dialirkan ke tempat yang lebih rendah, mengingat area basement memiliki level lantai yang sudah rendah maka air buangannya harus dipompa ke atas agar bisa dikeluarkan. Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan membuat septic tank yang lebih rendah dari lantai basement. Mengingat peran pompa sangat penting maka untuk mengantisipasi kerusakan mekanik pada pompa, disarankan agar menyediakan pompa cadangan. Untuk memudahkan sistem utilitasnya, biasanya di sekitar

basement dibuat saluran air (selokan) keliling yang berfungsi mengalirkan air buangan ke dalam tempat penampungan. Dari tempat penampungan inilah airdipompakan ke atas..

5. Dinding Basement Dinding pada basement harus dirancang agar kokoh dan kuat, mengingat fungsinya sebagai retaining wall (penahan beban tekanan tanah dan air). Ketebalan dinding betonnya berkisar antara 15-17.5 cm, bergantung pada kedalaman lantai basement-nya. Sementara untuk mengantisipasi adanya rembesan air, dinding mutlak diberi lapisan waterproofing. 6. Material Masalah utama yang sering muncul pada area basement adalah kelembaban, mengingat letaknya yang berada di bawah dan prosentase waktu terkena cahaya matahari yang tidak terlalu banyak. Sementara permasalahan air tanah yang tidak teratasi dengan benar dan tuntas saat pembangunan basement-pun akan menimbulkan kondisi yang lembab. Selain tidak sehat, kondisi lembab juga dapat merusak ruangan dan benda-benda yang ada di dalamnya. Dinding basement yang cenderung lembab dan basah mengakibatkan proses pengecatan tidak bisa berlangsung dengan sempurna dan membuat cat menjadi tidak rata. Solusi untuk mengatasinya adalah menggunakan cat yang bersifat waterproof untuk melapisi dindingnya. Jika Anda berencana melapisi dinding basement dengan wallpaper sebaiknya perlu dipikirkan ulang mengingat musuh utama dari wallpaper adalah air. Dalam kondisi basah dan lembab, wallpaper akan mudah terserang jamur. Bahan lain yang perlu dihindari pada kondisi basement yang lembab adalah karpet. Sebab bahan karpet jika dipasang pada lantai yang lembab lama-kelamaan akan mengeluarkan bau tidak sedap.

Jika kelembaban basement agak tinggi, hindari perabot yang berbahan kayu, partikel board maupun bahan lain yang tidak tahan terhadap kondisi lembab. Lebih baik pilihlah perabot yang berbahan tahan terhadap air, misal yang terbuat dari plastik. 7. Sirkulasi Udara Basement adalah ruangan yang berada di bawah tanah, jadi sangat dimungkinkan kalau memiliki tingkat kelembaban tinggi. Untuk menghindarinya rencanakan sistem sirkulasi udara yang baik dan benar. Oleh karena itu perlu dipikirkan tentang sirkulasi udara di dalamnya. Ada 2 jenis sirkulasi udara yang bisa diterapkan pada basement Anda. Sirkulasi udara alami. Sirkulasi ini tidak memerlukan bantuan alat sirkulasi udara mekanis. Ada beberapa cara untuk memperoleh sirkulasi udara alami pada basement. Menerapkan sistem semi basement. Pada sistem ini tidak semua bangunan basement dibangun di bawah tanah, namun ada bagian dari basement yang berada di atas tanah. Bagian inilah yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk ventilasi.

Menggunakan sunken level. Sunken level ini dibuat dengan cara dimana satu sisi dari besement terbuka ke luar, sementara level lantainya direndahkan selevel dengan lantai basement. Dengan memiliki salah satu sisi yang menghadap ke luar. Sisi yang menghadap ke luar dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan sirkulasi udara alami.

Membangun rumah di lereng atau lahan yang miring. Membangun basement pada rumah di lahan miring memang memberi keuntungan ganda. Selain bisa dimanfaatkan untuk sirkulasi alami, posisinya yang miring bisa pula dimanfaatkan untuk mengalirkan air, sehingga meminimalisir penggunaan alat mekanis (pompa) pada basement dan semi basement.

Sirkulasi udara buatan. Jika memang sirkulasi alami tidak memungkinkan, baik karena kondisi basement yang tidak bisa dirancang menggunakan penghawaan alami maupun karena keterbatasan lahan sehingga tidak bisa menerapkan sunken level, maka cara lain yang bisa dilakukan yaitu dengan menggunakan sirkulasi udara mekanis, misal AC maupun exhaust fan. 8. Perabot dan Pencahayaan Untuk menunjang ruang basement yang sudah dirancang, Anda perlu melengkapinya dengan perabot. Agar perabot Anda bisa tertata secara baik, perhatikan fungsi ruangnya. Sesuaikan ukuran perabot dengan luasan ruang yang ada. Cermati pula besaran pintu masuk pada basement agar perabot yang Anda beli bisa dimasukkan ke dalam ruangan. Jika semuanya sudah tertata, lengkapi ruang basement Anda dengan tata lampu yang baik, agar dapat nyaman dipergunakan untuk beraktivitas.