Anda di halaman 1dari 55

LAPORAN AHIR PRAKTIKUM KLIMATOLOGI HUTAN

OLEH HARRY KURNIAWAN

PENDAHULUAN Latar Belakang Udara adalah komponen terpenting bagi semua makhluk hidup. Udara juga merupakan salah satu yang berhubungan dengan suhu. Suhu dapat diukur dengan alat pengukur suhu. Dalam pengukuran suhu, pengambilan data suhu yang benar sangatlah penting. Suhu yang sering dipergunakan adalah suhu udara atau suhu tanah, sedangkan suhu yang merupakan benar-benar mempengaruhi pertumbuhan tanaman itu sendiri (Lakitan, 2002). Secara meteorolgi suhu udara biasanya diukur dalam sangkar cuaca. Dalam situasi ini, yang diukur adalah suhu massa udara setinggi 1,5 meter dari permukaan tanah. Suhu tanaman juga dapat berubah. Disamping terjadinya perubahan suhu tanaman, suhu permukaan tanah juga berubah. Perubahan suhu udara juga ditentukan oleh sudut letak daun terhadap radiasi surya yang akan menentukan energi yang diserap oleh daun tersebut. Disamping itu, pengukuran suhu daun dapat dilakukan dengan radiasi meter infra merah atau penyusup antara termokopel ke dalam daun (Guslim, 2007). Pengaruh suhu terhadap makhluk hidup sangatlah besar, terutama dalam kegiatannya. itu artinya tumbuhan tidak akan tumbuh dengan baik bila syarat-syaratnya tidak dipenuhi. Dengan suhu tinggi, benih akan melakukan metabolisme lebih cepat. Benih yang ditanam pada dataran tinggi maka daya kecambahnya akan turun. Jadi, pada tanaman juga ada suhu maksimun dan optimum yang diperlukan (Kartasapoetra, 2003). Berarti suhu dan udara merupakan hal yang sangat penting bagi makhluk hidup dan juga suhu itu merupakan karakteristik inherent dimiliki oleh suatu benda yang berhubungan dengan panas dan energi, sehingga panas suatu benda akan dialirkan, maka suhu benda tersebut akan mengikat (Lakitan, 2002).

Tujuan Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui fluktuasi suhu dan kelembapan udara pada permukaan aspal, parking blok, dan padang rumput. TINJAUAN PUSTAKA Formasi suhu udara dan suhu tanah merupakan jumlah energi yang dipancarkan dari matahari. Sebagian besar mencapai permukaan tanah dipantulkan ke udara yang meningkatkan suhu udara dan sisanya diabsorbsi kedalaman tanah untuk meningkatkan suhu tanah. Jumlah panas yang mengakibatkan kenaikan suhu udara atau dinyatakan sebagai neraca jumlah panas dalam prosesproses sebagai berikut yaitu : a. Jumlah panas yang bertambah atau hilang akibat perbedaan suhu antara permukaan tanah dan lapisan udara dipermukaan tanah. b. Jumlah panas dan hilang akibat penguapan dan presipitasi dipermukaan tanah. c. Jumlah panas yang disalurkan didalam tanah melalui permukaan tanah. Naik turunnya suhu udara dipermukaan tanah atau naiknya turunnya suhu tanah, ditentukan oleh peningkatan dan pengurangan komponen-komponen tersebut. Distribusi dan variasi suhu udara

adalah suhu yang diukur dengan termometer dalam sangkar meteorologi (1.20 1.50 m diatas permukaan tanah). Makin tinggi elevasi pengamatan diatas permukaan laut, maka udara makin rendah. Selisih antara suhu antara suhu maksimun dan minimum. Pada variasi suhu udara harian disebut selisih harian dan selisih antara suhu maksimum dan minimum pada variasi tahunan disebut selisih tahunan (Sosrodarsono, 2006). Suatu benda terasa panas jika dalam proses sentuhan tersebut energi atau panas akan mengalir dari benda tersebut kebagian tubuh yang berkontak langsung dengan benda tersebut. Sebaliknya jika panas atau energi mengalir dari tubuh manusia kesuatu benda yang disentuh, maka benda tersebut akan tersebut akan terasa dingin. Dengan demikian, panas atau dinginnya suatu benda dalam kasus ini sama ditentukan oleh kondisi termal dari permukaan tubuh manusia tersebut (Lakitan, 2002). Pengaruh suhu terhadap makhluk hidup sangat besar sehingga pertumbuhannya sangat tergantung pada keadaan suhu, terutama dalam kegiatannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu dipermukaan bumi antara lain: 1) Jumlah radiasi yang diterima pertahun, perbulan, perhari, dan permusim. 2) Pengaruh daratan atau lautan. 3) Pengaruh ketinggian tempat. 4) Pengaruh angin secara tidak langsung misalnya, angin yang membawa panas dari sumbernya secara horizontal. 5) Pengaruh panas laten, yaitu panas yang disimpan dalam atmosfer. 6) Penutup tanah, yaitu tanah yang ditutupi vegetasi yang mempunyai temperatur yang lebih rendah daripada tanah tanpa vegetasi. 7) Tipe tanah, tanah gelap indeks suhunya lebih tinggi. 8) Pengaruh sudut datang sinar matahari, sinar yang tegak lurus akan membuat suhu lebih panas daripada yang datangnya miring Seluruh makhluk hidup dikelilingi oleh suhu dan udara. Bahkan organisme seperti yang terdapat dalam tanah yang kelihatannya terdapat pada medan lain. Sebenarnya terdapat dalam air dan udara. Organisme didalam tanah yang terdapat dalam ruangan antar partikel-partikel tanah. Dari antara kedua hal ini yakni air dan udara, masing-masing sel individu dari organisme diudara hanya bisa aktif bila dalam keadaan lembab (Kartasapoetra, 2002). Uap air terdapat diatmosfer dalam jumlah yang selalu berubah-ubah, tergantung pada perubahanperubahan pemanasan dipermukaan bumi. Selain itu, uap air mempunyai sifat terjadinya partisipasi menyerap radiasi sinar sehingga akan menentukan cepatnya kehilangan panas dari bumi dan seandainya juga akan mengatur temperatur. Semakin besar jumlah uap air dalam satuan energi potensial yang lahir dan tersedia dalam atmosfer yang merupakan sumber asal terjadinya hujan angin. Jadi, dapat menentukan apakah udara itu kekal atau tidak (Guslim, 2007). Pengukuran suhu suatu benda dan pengukuran diberbagai tempat pada dasarnya merupakan pengukuran yang tidak langsung. Pada proses pengukuran, umumnya terjadi perpindahan panas dari tempat yang akan diukur suhunya kea lat pengukur suhu. suhu yang terbaca pada alat pengukur suhu. Suhu yang terbaca pada alat pengukur suhu adalah suhu setelah terjadi kesetaraan, suhu antara benda yang diukur tersebut dengan alat pengukur suhu. Jadi, bukan suhu benda pada saat sebelum terjadi kontak antara benda yang akan diukur tersebut dengan alat pengukur. Alat pengukur suhu disebut thermometer. Termometer pada dasarnya merupakan instrumen yang terdiri dari bahan yang perubahan sifat fisiknya, karena perubahan suhu dapat mudah diukur. Sifat fisik yang berubah tersebut dapat berupa perubahan volume gas, pemuaian logam, perubahan daya hantar listrik atau sifat-sifat fisik lainnya. Masing-masing jenis

termometer akan mempunyai skala yang berbeda. Oleh sebab itu, perlu dikalibrasi dengan termometer yang dijadikan patokan (standar). Termometer yang dijadikan patokan adalah termometer tahanan platina (Platinum Resistance Thermometer) atau IPTS-68 (Lakitan, 2002). Secara meteorologi suhu udara biasanya diukur dalam sangkar cuaca. Dalam situasi ini, yang diukur adalah suhu massa udara setinggi 1.5 meter. Tetapi tanaman menerima radiasi langsung dari cahaya matahari sehingga berbeda dari suhu sangkar cuaca. Suhu tanaman mungkin lebih tinggi dari suhu sangkar cuaca. Hal ini dapat terjadi sebagai akibat dari penguapan sejumlah air, dari pemindahan panas secara konveksi, angin dan pantulan. Disamping terjadinya perubahan suhu tanaman, suhu permukaan tanah juga berubah. Apabila transpirasi berlangsung terusmenerus, suhu permukaan daun tidak akan berubah. Perubahan suhu udara juga ditentukan oleh sudut letak daun terhadap radiasi surya yang akan menentukan jumlah energi yang diserap oleh daun tersebut. Pengukuran suhu daun dapat dilakukan dengan radiometer inframerah atau penyisipan termokopel kedalam daun (Guslim, 2007). METODE PRAKTIKUM Waktu Dan Tempat Adapun praktikum yang berjudul Pengukuran Suhu Dan Kelembaban Udara Pada Berbagai Tempat dilaksanakan pada hari Sabtu, 7 Febuari 2009 pukul 15.00 wib sampai dengan selesai, dilakukan di padang rumput, parking blok, dan permukaan aspal yang berada didekat gedung Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Alat Dan Bahan Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah 1. Termometer air raksa untuk mengukur suhu udara 2. Benang untuk mengikat kapas pada termometer 3. Tali rafia untuk mengikat termometer pada tiang penyangga 4. Pipet tetes untuk menetesi alkohol pada kapas 5. Tiang penyangga untuk tempat termometer digantung 6. Stopwatch untuk menghitung waktu suhu 7. Payung untuk melindungi dari sinar matahari Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah 1. Kapas untuk menutupi termometer 2. Aquades untuk menetesi ke termometer 3. Tabel RH untuk menghitung kelembapan udara diberbagai tempat Prosedur 1. Disiapkan alat dan bahan 2. Diikat paying keatas tiang penyangga 3. Dibungkus kedua termometer dengan kapas oleh benang lalu salah satu termometer ditetesi aquades 4. Diikat kedua thermometer tersebut kedalam tiang penyangga sepanjang 1.5 meter diatas permukaan tanah. 5. Dilihat berapa suhu yang ada pada thermometer selang 10 menit selama 30 menit 6. Diukur suhu thermometer tersebut dengan menggunakan tabel sebagai berikut Contoh : Tabel suhu dan kelembaban udara Waktu TBK (oC) TBB (oC) RH (%) oC

0 10 20 30 Rata-rata 7. Dibuat grafik dari masing-masing tempat dengan pengukuran suhu (oC) dan RH (%). HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Adapun hasil dari praktikum ini didapat dalam bentuk tabel pengukuran suhu dan kelembapan udara serta dalam bentuk grafik yang terlampir dibuku ini. Berikut ini adalah hasil yang merupakan tabel Tabel 1. Pengukuran Suhu Dan Kelembapan Udara Pada Padang Rumput Waktu TBK (oC) TBB (oC) RH (%) oC 0 35 34 93 35 10 33 27 61 33 20 33 26 56 33 30 33 26 56 33 Rata-rata 33.5 28.25 66.5 33.5 Tabel 2. Pengukuran Suhu Dan Kelembapan Udara Pada Parking Blok Waktu TBK (oC) TBB (oC) RH (%) oC 0 34 32 56 34 10 32 26 61 32 20 32 26 61 32 30 32 26 61 32 Rata-rata 32.5 27.5 67.25 32.5 Tabel 3. Pengukuran Suhu Dan Kelembapan Udara Pada Permukaan Aspal Waktu TBK (oC) TBB (oC) RH (%) oC 0 35 34 93 35 10 33 27 61 33 20 33 26 56 33 30 33 26 56 33 Rata-rata 33.5 28.25 66.5 33.5 Hasil grafik terlampir dalam bentuk kertas grafik.

Pembahasan Dari hasil pengukuran suhu dan kelembapan udara pada berbagai tempat dapat dinyatakan bahwa diberbagai tempat yang berbeda-beda. Hal ini dapat dibuktikan dari pengukuran yang telah dilakukan dipadang rumput, diparking blok, dan dipermukaan aspal.

Pada pengukuran suhu dipadang rumput, dipengaruhi oleh banyaknya rerumputan sehingga radiasi sinar matahari banyak diserap oleh tumbuhan. Pada pengukuran suhu diparking blok dan dipermukaan aspal menjadi meningkat. Hal ini sesuai dengan literatur dari Lakitan (2002) yang menyatakan bahwa pengukuran suhu suatu benda dan pengukuran diberbagai tempat pada dasarnya merupakan pengukuran yang tidak langsung. Pada proses pengukuran, umumnya terjadi perpindahan panas dari tempat yang akan diukur yang terbaca pada alat pengukur suhu adalah suhu setelah terjadi kesetaraan. Dengan suhu antara benda yang diukur tersebut pada alat pengukur suhu. Dan juga pada daerah padang rumput, suhu dipadang rumput memiliki suhu rata-rata lebih tinggi dibandingkan pada suhu rata-rata dipermukaan aspal dan parking blok. Hal ini disebabkan karena pada siang hari suhu permukaan tanah akan lebih tinggi dibandingkan suhu pada lapisan tanah yang lebih dalam. Akibatnya suhu pada lapisan tanah yang lebih dalam suhu dipadang rumput lebih panas, ini disebabkan karena permukaan tanah. Permukaan tanah akan menyerap radiasi matahari secara langsung sehingga menaikkan suhu disekitarnya. Hal ini sesuai dengan literatur dari Housenbuiller (2000) yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi suhu juga sangat erat dengan faktor-faktor yang mempengaruhi kelembapan udara dalam berbagai hubungan yaitu : 1. Pengaruh tanah dan air, semakin banyak jumlah uap air baik diudara maupun didalam tanah, maka kelembapan akan semakin tinggi. 2. Ada atau tidaknya vegetasi, semakin rapatnya jarak antara vegetasi maka kelembapan makin tinggi, namun suhu akan menjadi sangat rendah. 3. Pengaruh ketinggian tempat, semakin tingginya suatu tempat maka suhu ditempat tersebut akan semakin rendah dan kelembapan udara semakin tinggi. 4. Pengaruh aktivitas manusia dipersemaian terbuka. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Perbandingan suhu antara suhu dipadang rumput, permukaan aspal dan diparking blok yaitu, 33.5o : 32.15 o : 32.5 o 2. Perbandingan kelembapan udara dipadang rumput, permukaan aspal dan diparking blok yaitu, 66.5% : 63% : 67.25% 3. Gas CO2 sangat berpengaruh dalam peningkatan suhu maupun peningkatan kelembapan udara 4. Perubahan pancaran sinar radiasi keberbagai tempat akan mengakibatkan perubahan suhu 5. Tumbuhan mampu menyerap cahaya matahari selain untuk melakukan proses fotosintesis, juga dapat mengakibatkan suhu disekitarnya berkurang atau menjadi stabil 6. Kelembapan didaerah yang tumbuh-tumbuhannya banyak lebih tinggi dibandingkan dengan daerah kering Saran Dalam melakukan praktikum, sebaiknya para praktikan harus lebih memerhatikan termometer yang dipasang pada tiang penyangga, agar tidak terlewatkan dalam melihat suhu yang akan diukur. PENDAHULUAN Latar Belakang Suhu merupakan karakteristik inherent, dimiliki oleh suatu benda yang berhubungan dengan panas dan energi. Jika panas dialirkan pada suatu benda, maka suhu benda tersebut akan

meningkat, sebaliknya suhu benda tersebut akan turun jika benda yang bersangkutan kehilangan panas. Akan tetapi, hubungan antara satuan panas (energi) dengan satuan suhu tidak merupakan suatu konstanta, karena besarnya peningkatan suhu akibat penerimaan panas dalam jumlah tertentu akan dipengaruhi oleh daya tampung panas (heat capacity) yang dimiliki oleh benda penerima tersebut (Lakitan, 2002). Suhu pada ketinggian yang berbeda bervariasi dengan menyolok, demikian pula pada waktu yang berlainan , dan rata-rata meteorologist. Oleh karena itu, tidak banyak berarti bagi ahli-ahli ekologi untuk memberikan semacam gambaran yang lengkap mengenai iklim suhu seperti yang berpengaruh terhadap tumbuhan, pelacakan dapat di peroleh secara sinkron pada masing-masing tingkat atau lapisan vegetasi dan tanah yang diserbu oleh akar. Dalam pekerjaan yang rumit yang misalnya melibatkan permukaan atau jaringan internal daun-daun, digunakan alat pengukur perbedaan suhu (thermocouple), sedangkan untuk penentuan suhu kira-kira pada permukaan yang keras, serutan parafin dengan titik lebur yang berbeda adalah cukup baik (Daldjoeni, 1986). Kandungan uap air udara di daerah tropik biasanya lebih besar daripada di daerah iklim sedang. Dekat khatulistiwa, terdapat variasi musiman yang kecil dalam tekanan uap dan kelembaban relative selalu di atas 80 persen. Tekanan uap menurun dengan ketinggian. Perbedaan utama antara massa udara di daerah tropik biasanya adalah kelembaban. Kandungan uap air udara yang besar dan variasi suhu harian yang besar menyebabkan pembentukan embun menjadi sesuatu yang umum bagi banyak daerah tropik. Evaporasi embun sedikit mengawetkan lengas tanah tetapi pengaruh embun yang lebih besar adalah dalam menciptakan kondisi yang cocok bagi perkembangan berbagai penyakit tumbuhan. Selama musim hujan, suatu taksiran yang mendekati untuk evapotranspirasi dari suatu tanaman yang tidak kekurangan air dinyatakan dengan kesetaraan air pada penyinaran bersih siang hari. Bagaimanapun, evapotranspirasi tergantung pada pemindahan uap air dari tanaman maupun pada energi yang tersedia (Tohari, 1999). Elemen-elemen iklim yang paling utama adalah sinar matahari, temperatur, kelembaban, dan angin. Dapat juga ditambahkan dengan tekanan atmosfer yang secara khusus penting dalam penentuan karakteristik variable/ elemen lainnya. Tekanan atmosferlah yang menentukan sampai pada suatu tingkatan tertentu, arah dan kecepatan anginlah yang menggerakkan massa udara yang berbeda temperature dan kalembabannya dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Sementara pergerakan udara umumnya terjadi pada arah horizontal, terdapat juga pergerakan naik turun (Andani, 1995).

Tujuan Adapun tujuan dari praktikun ini adalah : - Untuk mengetahui fluktuasi suhu dan kelembaban udara pada tegakan mahoni (Swietenia mahagoni) - Untuk mengetahui fluktuasi suhu dan kelembaban udara pada tegakan jati ( Tectona grandis) - Untuk mengetahui fluktuasi suhu dan kelembaban udara pada tegakan sawit (Elaeis guineensis)

TINJAUAN PUSTAKA Suhu adalah derajat panas atau dingin yang diukur berdasarkan skala tertentu dengan menggunakan thermometer. Satuan suhu yang biasa digunakan adalah derajat Celcius (oC), sedangkan di Inggris dan beberapa Negara lainnya dinyatakan dalam derajat Fahrenheit (oF). oC

= 5/9 (oF-32o) dan oF = 9/5(oC) + 32o. Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu di permukaan bumi antara lain: 1. Jumlah radiasi yang diterima per tahun, per hari, dan per musim. 2. pengaruh daratan atau lautan. 3. pengaruh ketinggian tempat 4. pengaruh angina secara tidak langsung 5. pengaruh panas laten 6. penutup tanah 7. tipe tanah 8. pengaruh sudut dating sinar matahari. Pengaruh suhu terhadap makhluk hidup sangat besar sehingga pertumbuhannya sangat bergantung padanya, terutama dalam kegiataanya. Contoh, tanaman memerlukan suhu tertentu, artinya tanaman itu tidak akan tumbuh dengan baik bila syarat-syaratnya tidak dipenuhi. Pengaruhnya pada proses pematangan buah adalah makin tinggi suhu makin cepat matang. Dengan suhu yang tinggi, benih akan melakukan metabolisme lebih cepat. Benih yang dibiarkan atau ditanam pada dataran atau tanah tinggi maka daya kecambahnya akan turun. Jadi, pada tanaman juga ada suhu maksimum dan suhu optimum yang diperlukannya. Suhu maksimum adalah suhu tertinggi dimana suatu tanaman masih dapat tumbuh. Suhu minimum adalah suhu terendah dimana tanaman masih dapat hidup, sedangkan suhu optimum adalah suhu yang terbaik yang dibutuhkan tanaman dimana proses pertumbuhannya dapat berjalan lancar (Kartasapoetra, 2004). Suhu mempunyai arti yang vital, karena suhu menentukan kecepatan reaksi- reaksi dan kegiatankegiatan kimiawi yang mencakup kehidupan. Mintakat besar vegetasi dunia, seperti mintakatmintakat menurut ketinggian, terutama bergantung pada suhu dan untuk mudahnya kita membedakan tumbuhan yang megaterm (tumbuhan yang menyukai habitat yang panas), mikroterm (tumbuhan yang menyukai habitat yang dingin), dan mesoterm (tumbuhan yang menyukai habitat diantara kedua habitat tersebut). Tumbuhan yang berbeda teradaptasi secara berbeda-beda terhadap keadaan suhu yang menyangkut minimum, optimum, dan maksimum untuk hidupnya secara keseluruhan demikian pula untuk komponen-komponen fungsi fisiologinya, kendati suhu sebenarnya dapat berubah dengan variasi pada kondisi yang berbeda dan menurut keadaan tumbuhan(dan tentu saja juga berbeda-beda pada tumbuhan yang berlainan) ( Daldjoeni, 1986). Suhu udara di daerah tropic terutama dikendalikan oleh penyinaran. Perbedaan-perbedaan suhu antara massa udara biasanya kurang penting. Ini mempunyai dua akibat. Pertama, perubahanperubahan suhu harian lebih besar daripada perubahan-perubahan suhu tahunan. Memang, daerah tropic didefenisikan secara klimatologi sebagai suatu daerah dimana variasi suhu hariannya melebihi variasi suhu tahunan. Kedua, suhu seperti penyinaran matahari, cenderung relative seragam untuk daerah-daerah luas. Tinggi tempat merupakan factor utama yang mengubah keseragaman panas ini. Suhu rata-rata berkurang dengan pertambahan tinggi dengan laju rata-rata kira-kira 0,6o C/ 100 meter. Suhu yang dibicarakan sampai saat ini adalah yang diukur dengan kasa meteorology baku, biasanya pada ketinggian 1,22 meter. Walaupun demikian, suhu berubah secara cepat dibawah ketinggian ini karena pertukaran energi yang besar yang terjadi pada permukaan tanaman atau tanah. Oleh karena itu, untuk mendapatkan uraian lingkungan yang memadai, kita harus memperhatikan suhu udara (Tohari, 1999). Fungsi tanaman yang normal tergantung dari pengendali reaksi biokimia yang baik, dan salah satu pengendalai yang penting ialah suhu. Tiap jenis tanamn maupun populasinya harus

menyesuaikan diri dengan suhu di lingkungannya. Dalam suatu luasan geografis akan terdapat tahun-tahun, yang mempunyai kenaikan atau penurunan suhu di luar batas normal yang mempengaruhi pertumbuhan dan menimbulkan fungsi-fungsi tanaman yang jelek (Guslim, 2007). Kelembaban adalah banyaknya kadar uap air yang ada di udara. Dalam kelembaban dikenal beberapa istilah, seperti: 1. Kelembaban mutlak, yaitu massa uap air yang berada dalam satu satuan udara, yang dinyatakan dalam gram/m3. 2. Kelembaban spesifik, yaitu perbandingan massa uap air di udara dengan satuan massa udara, yang dinyatakan dalam gram/kilogram. 3. Kelembaban relative, yaitu perbandingan jumlah uap air di udara dengan jumlah maksimum uap air yang dikandung udara pada temperature tertentu, yang dinyatakan dalam %. Angka kelembaban relative dari nol sampai dengan 100%, dimana 0 % artinya udara kering, sedangkan 100% artinya udara jenuh dengan uap air dimana akan terjadi titik-titik air. Keadaan kelembaban diatas permukaan bumi berbeda-beda. Pada umumnya, kelembaban yang tertinggi ada di khatulistiwa sedangkan yang terendah pada lintang 40o. Daerah rendah ini disebut horse latitude, curah hujannya kecil. Besarnya kelembaban suatu daerah merupakan factor yang dapat menstimulasi curah hujan. Di Indonesia, kelembaban udara tertinggi dicapai pada musim hujan dan terendah pada musim kemarau. Besarnya kelembaban di suatu tempat pada suatu musim, erat hubungannya dengan perkembangan organisme (Marsono, 1995). Kelembaban atmosfer dapat dinyatakan dalam kuantitas-kuantitas mutlak atau relative untuk maksud-maksud tertentu, atau dengan menggunakan sifat-sifat atmosfer yang berkaitan yang diperoleh oleh penutupan hutan. Neraca kelembaban atmosfer merupakan suatu bagian integral dari prosedur peneracaan komprehensif yang berskala besar, neraca tersebut menekankan pada pentingnya daya angkat massa udara (advection) dalam menentukan ketersediaan kawasan kelembaban bagi presipitasi dan aliran sungai. Kondensasi uap menjadi bentuk-bentuk cair dan padat merupakan suatu fenomena fisis yang berlangsung di biosfer, namun sebagian yang lebih besar terjadi pada massa udara atmosfer bagian atas dimana sebagian besar proses presipitasi dimulai (Subagyo, 1990).

METODE PRAKTIKUM Waktu dan Tempat Adapun praktikum yang berjudul Pengukuran Suhu Dan Kelembaban Udara Pada Berbagai Tegakan dilaksanakan pada hari Jumat, 13 Febuari 2009 pukul 14.00 wib sampai dengan selesai, dilakukan di kawasan Hutan Tridharma, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Bahan dan Alat Adapun bahan yang digunakan adalah : 1. Aquadest sebagai pembasah pada thermometer bola basah.

2. Kapas sebagai media aquadest pada thermometer bola basah. 3. Tabel RH sebagai indicator nilai kelembaban. Adapun alat yang digunakan adalah: 1. Benang sebagai alat Bantu untuk menggantung thermometer. 2. Payung untuk melindungi thermometer dari cahaya matahari. 3. Pipet tetes sebagai alat penyedot aquadest. 4. Stopwatch sebagai alat untuk menghitung waktu. 5. Tali plastic untuk mengikat payung pada tiang penyangga. 6. Termometer sebagai alat pengukur suhu. 7. Tiang penyangga sebagai tempat menggantung thermometer. Prosedur Adapun prosedur dari praktikum ini adalah: 1. Disiapkan alat dan bahan. 2. Diambil dua thermometer dengan perlakuan a. TBK: tanpa perlakuan. b. TBB: dibalut kapas dan diikat dengan kapas. 3. Diikat thermometer pada tiang penyangga dengan benang. 4. Termometer bola basah ditetesi dengan aquadest. 5. Dipasang payung pada tiang penyangga. 6. Ditempatkan tiang penyangga yang telah dipasang thermometer pada lokasi yang telah ditentukan. 7. Dicatat suhu mula-mula pada thermometer bola basah dan thermometer bola kering. 8. Dibiarkan selama 10 menit lalu dicatat datanya. 9. Dilakukan pengamatan suhu yang terjadi dengan rentang waktu 10 menit sampai menit ke 30. 10. Digunakan table RH untuk mengetahui kelembaban. 11. Dibuat table dan grafik RH dengan suhu. Contoh tabel suhu dan kelembaban udara Waktu (menit) TBK (oC) TBB (oC) RH (%) T (oC) 0 10 20 30 Rata-rata HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tabel 4. Pengamatan Suhu dan Kelembaban di Bawah Tegakan Mahoni (Swietenia mahagoni). Waktu (menit) TBK (oC) TBB (oC) RH (%) T (oC) 0 33 32 93 33 10 31 26 66 31 20 31 25 60 31 30 30 25 65 30 Rata-rata 31,25 27 71 31,25

Tabel 5. Pengamatan Suhu dan Kelembaban di Bawah Tegakan Jati ( Tectona grandis) Waktu (menit) TBK (oC) TBB (oC) RH (%) T (oC) 0 30 26 72 30 10 31 26 66 31 20 29 25 71 29 30 29 25 71 29 Rata-rata 29,75 25,5 70 29,75

Tabel 6. Pengamatan Suhu dan Kelembaban di Bawah Tegakan Sawit (Elaeis guineensis) Waktu (menit) TBK (oC) TBB (oC) RH (%) T (oC) 0 30 29 93 30 10 33 26 56 33 20 32 25 55 32 30 33 26 56 33 Rata-rata 32 26,5 64,5 32

Pembahasan Suhu yang berada di atas 30oC mempunyai pengaruh yang merugikan terhadap tanaman sebab enzim yang ada pada organ tumbuhan tersebut tidak berfungsi sehingga tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik. Tanaman yang dapat tumbuh pada suhu tersebut adalah gulma atau rumput. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Daldjoeni (1986) yang menyatakan bahwa suhu di atas 30oC merupakan faktor krisis untuk berbagai jenis tanaman. Bila senyawa-senyawa protein cenderung lepas dan tidak dapat kembali ataupun bila enzim-enzim tidak dapat berfungsi, sehingga kegiatan metabolisme yang diatur olehnya akan terhenti dan proses-proses pertumbuhan serta perkembangannya akan tertahan. Iklim dapat mempengaruhi perkembangbiakan tanaman dan vegetasinya. Tetapi, tanaman juga dapat mempengaruhi iklim. Dengan mampunya tanah hutan menyerap air di dalam tanah dengan kuat sehingga terjadi penguapan dan menurunkan suhu tropis pada hutan karena tajuk-tajuknya. Tanaman pada suhu yang berbeda-beda. Seperti pada hasil yang didapat pada percobaan ini, suhu pada tegakan mahoni rata-ratanya adalah 31,25oC, suhu pada tegakan jati rata-ratanya adalah 29,75oC, dan suhu pada tegakan sawit rata-ratanya adalah 32oC. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Andani (1995) yang menyatakan bahwa iklim mempengaruhi jenis vegetasi dan kehidupan hewan yang mendiami derah tersebut, dan sebaliknya. Jadi , suatu musim belum terlambat setelah cuaca dingin dapat merusak potensi produktivitas suatu benih tanaman. Tanaman dan hewan tidak hidup dalam kondisi daerah yang umum, mereka hidup pada kondisi alam mikro yang cukup bervariasi pada daerah tertenu. Hasil kelembaban (RH %) yang didapatkan pada percobaan pratikum ini pada tegakan mahoni (swietenia mahagoni) rata-rata kelembabannya adalah 71 % , pada tegakan jati (tectona grandis) rata-rata kelembabannya adalah 70%, dan pada tegakan sawit rata-rata kelembabannya adalah 64,5%. Hal ini menyebabkan kondisi hutan sejuk atau dingin dan mudah untuk memprediksikan

terjadinya hujan. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Tohari (1999) yang menyatakan bahwa temperatur menurun dengan semakin tingginya tempat. Di Indonesia, teknologi membuat hujan sudah dikuasai dengan baik. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Suhu yang paling tinggi di bawah tegakan Sawit (Elaeis guineensis) dengan rata-rata suhu permukaannya adalah 32oC 2. Kelembaban yang paling besar di bawah tegakan Mahoni (Swietenia mahagoni) dengan ratarata kelembabannya adalah 71%. 3. Semakin tinggi suhu maka kelembaban rendah, demikian sebaliknya. 4. Penyerapan suhu lebih tinggi pada siang hari dibandingkan pada malam hari. 5. Suhu dan kelembaban di setiap daerah itu bergantung pada vegetasi dan faktor udara yang ada di setiap daerah itu. 6. Perhitungan kelembaban udara diperoleh dari selisih nilai pada termometer bola basah dengan thermometer bola kering.

Saran Sebaiknya pada saat praktikum, para praktikan mengamati suhu pada thermometer lebih teliti agar mendapatkan data yang lebih akurat.

PENDAHULUAN Latar belakang Pengertian cuaca adalah keadaan rata rata atmosfer pada saat tertentu di wilayah tertentu dan pada jangka waktu yang relative singkat. Pada dasarnya, cuaca terbentuk dari gabungan unsur unsur cuaca dan jangka waktu cuaca. Cuaca memiliki perbedaan spesifik waktu tertentu (jam).Di Indonesia, keadaan cuaca diumumkan untuk jangka waktu sekitar 24 jam melalui perkiraan cuaca yang dikembangkan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG). Iklim didefinisikan sebagai bentuk keadaan rata rata atmosfer dalam jangka waktu satu tahun. Penyelidikan iklim dilakukan dalam waktu yang lama, dan meliputi wilayah yang luas. Iklim

dapat terbentukoleh adanya, rotasi dan revolusi bumi, serta pengaruh perbedaan lintang geografis geografis dan lingkungan fisik. Barang tentu bahwa ilmu yang mempelajari cuaca adalah meteorologi dan ilmu yang mempelajari iklim dan unsur unsurnya disebut klimatologi. Beberapa unsure yang mempengaruhi kondisi / keadaan cuaca dan iklim suatu wilayah antara lain : Suhu atau temperatur udara, tekanan udara, kelembaban udara, angin, kecepatan angin dan curah hujan. 1. Suhu atau temperatur Suhu atau temperature udara adalah derajat panas dari aktifitas molekul dalam atmosfer. Alat untuk mengukur suhu temperature atau derajat panas disebut thermometer. Dimana thermo yang berarti panas dan meter yang berarti ukuran. Sehingga thermometer adalah alat untuk mengukur derajat panas. Pengukuran suhu / temperatur udara dapat digunakan dalam skala Celcius (C ), Reamur (R ), dan Fahrenheit (F ). Pengukuran suhu secara kuantitatif dapat diketahui dengan ketelitian yang dapat menggunakan alat pengukur suhu berupa thermometer. Pengukuran suhu secara kuantitatif dapat dirasakan ketika kita menyentuh benda ataupun zat tersebut. 2. Kelembaban udara Kelembaban udara juga merupakan salah satu unsur yang mempengaruhi kondisi / keadaan cuaca dan iklim di suatu wilayah tertentu. Secara ilmiah, kelembaban merupakan jumlah kandungan uap air yang terkandung dalam massa udara pada suatu saat (waktu) dan wilayah (tempat) tertentu. Adapun alat yang digunakan untuk mengukur kelembaban adalah tigrometer. Tujuan Pelaksanaan praktikum ini bertujuan mengetahui perbedaan fluktuasi suhu pada berbagai ketinggian.

TINJAUAN PUSTAKA Menurut hukum termodinamika : Panas adalah suatu energi total (jumlah) dari pergerakan molekul terhadap suatu benda. Suhu adalah suatu ukuran energi kinetik dari rata-rata pergerakan molekul ( Irsal, 2010 ). Dalam glossary of meteorologi, suhu didefinisikan sebagai derajat panas atau dingin yang diukur berdasarkan atas skala tertentu dengan menggunakan berbagai tipe / jenis alat pengukur suhu yaitu thermometer ( Irsal, 2010 ). Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa panas merupakan energi kinetis rata-rata (total), sedangkan suhu adalah energi kinetis rata-rata dari tiap-tiap molekul ( Irsal, 2010 ). Sinar energi utama yang utama di atmosfer baik termal maupun mekanis adalah berasal dari energi surya. Penyebaran energi surya ini ke seluruh permukaan bumi merupakan salah satu cara pengendalian yang besar terhadap cuaca dan iklim. Hal ini juga terpengaruh terhadap beberapa unsur-unsur cuaca dan iklim. Salah satu dari unsur cuaca dan iklim adalah suhu atau temperatur udara dan kelembaban udara ( Irsal, 2010 ). Panas yang terkandung di dalam suatu benda bergantung dari molekular-molekular rata-rata (suhu), massa benda tersebut dan satuan yang terdapat dalam benda tersebut ( Irsal, 2010 ). Penukaran kalor pada permukaan bervariasi, pada setiap titik di atas tanah, suhu udara tergantung kepada jumlah kalor yang diterima atau hilangnya kalor pada permukaan bumi dan berbagai permukaan lainnya dimana uadara bersentuhan dengan permukaan tersebut ( Hidayat, 2008 ). Topografi mempengaruhi tingkat suhu dan temperatur udara. Dimana suhu (temperatur) dan kelembaban mengalami penurunan, apabila ketinggian suatu tempat bertambah. Udara dingin mengalami pertemuan untuk tetap berada pada bagian paling atas dan pada umumnya bersifat caranya perbedaan ketinggian suhu daratan, lautan dan penguapannya dapat menyebabkan perbedaan suhu 5-6 C yang dpat diukur pada udara siang ( Seyhan, 1990 ). Tinggi tempat merupakan faktor tambahan yang utama untuk keseragaman udara panas. Suhu yang berada pada atas akan mengalami pertamabahan suhu jika berada pada tempat yang lebih rendah kira-kira 0,61 C / 100 m ( Goldsworthy, 1996 ). Laju penurunan suhu terhadap ketinggian tempat merupakan kemungkinan laju kehilangan biasanya menurun dan pada pengukuran penutupan awan dan tidak, itu biasanya lebih rendah. Pada dataran rendah, suhu pertumbuhan terdapat pada penguapan umumnya antara 25 C smpai 70 C dengan ukuran kisaran antara 10C atau kurang ( Goldsworthy, 1996 ). Ketinggian tempat, tetapi suhu minimallah yang menuntut dengan ketinggian tempat terhadap suhu tanaman. Suhu minimum sangat bergantung dari sifat-sifat setempat seperti tinggi tegakan (ketinggian tempat) dan keterbukaan. Perbedaan antara suhu ekstrem minimum bertambah besar dengan makin jauhnya garis lintang ( Goldsworthy, 1996 ). Penurunan suhu secara cepat di bawah ketinggian besar saja terjadi. Hal ini dikarenakan pertukaran energi terjadi besar. Ini terjadi biasanya pada permukaan tanaman atau besar bisa terjadi oleh penguapan dan transpirasi pada permukaan tanah ( Goldsworthy, 1996 ). Kelembaban nisbi (relatif) yaitu bilangan yang menunjukkan berapa panjang (%) perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara dan jumlah uap air maksimum yang ditampung oleh udara tersebut ( Trewartha, 1995 ).

Keadaan relatif tergantung antara suhu dan kelembaban udara. Kedua unsur cuaca dan iklim ini memiliki keterkaitan yang sangat erat. Udara timbul dikarenakan adanya radiasi panas matahari yang diterima oleh bumi berupa gelombang pendek. Sinar energi yang utama di atmosfer baik termal maupun mekanis berasal dari energi surya ( Susilo, 1996 ). Energi surya yang terpancar ke bumi dalam bentuk gelombang pendek hanya sekitar 20 % dapat diserap secara langsung oleh atmosfer, sisanya dirubah dahulu oleh bumi dalam bentukn gelombang panjang dengan suhu yang relatif rendah kemudian barulah diserap oleh udara ( Susilo, 1996 ). Kandungan air (kelembaban) bertamabah dengan ketinggian yang semakin bertambah pula. Kandunag uap air udara yang besar dan yang varian suhu udara yang besar dapat menyebabkan pembentukan embun. Ini menjdi ssesuatu pada umum bagi banyak wilayah dataran rendah (trofik). Evaporasi embun sedikit mengawetkan luas tumbuh tetapi pengaruh embun yang lebih besar adalah dalam merupakan konduktif keadaan yang cocok bagi perkembangan berbagai tumbuhan. Tersedia keleluasaan sangat besar untuk mengambil fisiologi yang didapatkan dalam unsur cuaca dan iklim terhadap suatu daerah tertentu ( Goldworthy, 1996 ).

METODE PRAKTIKUM Waktu dan tempat Praktikum klimatologi hutan yang berjudul Pengukuran Suhu dan Kelembaban di Berbagai Ketinggian dilaksanakan pada hari kamis, 4 Maret 2010 pukul 14.25 Wib sampai selesai di ruang 301, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Alat dan bahan Adapun alat yang digunakan pada praktikum klimatologi hutan yang berjudul Pengukuran Suhu dan Kelembaban Udara di Berbagai Ketinggian adalah : Tiang penyangga 2 meter Thermometer air raksa 2 buah / kelompok Tangga Stowatch Pipet tetes Adapun bahan yang digunakan pada praktikum klimatologi hutan yang berjudul Pengukuran Suhu dan Kelembaban Udara di Berbagai Ketinggian adalah : Aqua dest Kapas Table RH Tali plastik Benang Prosedur Disiapkan alat dan bahan Disediakan tangga dan diberi tiap titik untuk jarak ukur Disediakan thermometer air raksa untuk mengukur yang terdiri dari bola basah dan bola kering Dilakukan pada 1 m, 2 m, 4 m, 6 m dan 8 m HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tabel hasil pengukuran suhu dan kelembaban pada berbagai ketinggian pada pukul 06.00 07.00 Wib Tanggal Ketinggian ( meter ) Keterangan 1 meter 2 meter 4 meter 6 meter 8 meter T RH T RH T RH T RH T RH 09/04/10 24 106 24 83 25 84 25 76 24 92 Saga 11/04/10 26 84 26 84 25 76 24 68 24 68 Saga 12/04/10 22 100 23 91 24 100 22 80 22 80 Saga 13/04/10 24 83 24 83 23 91 22 91 22 91 Mahoni 14/04/10 24 92 24 92 23 83 24 83 23 83 Mahoni 15/04/10 24 83 24 83 23 91 22 91 22 91 Mahoni 16/04/10 25 84 24 83 24 75 25 76 24 75 Jati 17/04/10 24 92 24 92 23 83 25 83 23 83 Jati 18/04/10 25 84 24 75 24 83 23 83 22 91 Jati 19/04/10 26 84 25 76 24 80 23 83 22 80 Saga Tabel hasil pengukuran suhu dan kelembaban pada berbagai ketinggian pada pukul 12.00 13.00 Wib Tanggal Ketinggian ( meter ) Keterangan 1 meter 2 meter 4 meter 6 meter 8 meter T RH T RH T RH T RH T RH 09/04/10 33 61 34 74 34 74 34 68 34 68 Saga 11/04/10 32 61 33 61 34 68 34 62 34 68 Saga

12/04/10 33 61 33 56 34 68 34 62 34 62 Saga 13/04/10 31 66 31 66 32 61 32 61 33 61 Mahoni 14/04/10 32 86 31 61 32 61 32 55 32 61 Mahoni 15/04/10 31 66 31 54 32 61 33 61 33 61 Mahoni 16/04/10 32 85 32 85 32 61 36 58 36 58 Jati 17/04/10 32 85 32 73 32 61 35 58 35 58 Jati 18/04/10 31 66 31 54 31 60 31 54 31 54 Jati 19/04/10 32 55 32 55 35 58 35 58 35 58 Saga Tabel hasil pengukuran suhu dan kelembaban pada berbagai ketinggian pada pukul 18.00 19.00 Wib Tanggal Ketinggian ( meter ) Keterangan 1 meter 2 meter 4 meter 6 meter 8 meter T RH T RH T RH T RH T RH 09/04/10 30 74 34 74 32 61 33 56 34 56 Saga 11/04/10 33 61 33 61 32 73 33 61 33 61 Saga 12/04/10 32 61 33 56 34 68 34 62 34 62 Saga 13/04/10 31 66 31 54 31 60 31 54 31 54 Mahoni 14/04/10 32 86 32 61 32 61 32 85 32 61 Mahoni 15/04/10 33 61 32 61 33 67 32 61 33 61 Mahoni 16/04/10 35 58 30 61 32 55 31 72 31 60 Jati 17/04/10 35 58 30 61 33 67 32 61 32 61 Jati 18/04/10 32 85 32 85 32 73 31 72 31 60 Jati 19/04/10 31 60 31 66 31 66 30 65 30 65 Saga

Pembahasan Suhu merupakan derajat panas dan merupakan salah satu unsur iklim. Pada ketinggian 1 m, didapatlah tingkat suhu yang relatif cukup tinggi ( suhu paling tinggi ). Suhu dengan tingkat suhu yang relatif paling tinggi terdapat pada ketinggian tegakan sebagai tegakan pengamatan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Seyhan (1990 ) yang menyatakan bahwa topografi mempengaruhi tingkat suhu udara. Pada ketinggian 1 m ini mengalami perubahan suhu secara cepat. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Goldsworthy ( 1996 ) yang menyatakan bahwa suhu berubah secara cepat di bawah ketinggian 4 kaki ( 1,22 m ). Hal ini dikarenakan adanya pertukaran energi yang begitu besar.

Pada ketinggian 8 meter, berlaku pada tiap tegakan pengamatan mengalami penurunan suhu secara drastis. Hal ini terjadi dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Goldsworthy ( 1996 ) yang menyatakan bahwa suhu rata-rata berkurang dengan adanya pertambahan tinggi suatu tempat ( topografi ). Suhu rendah pada tegakan ketinggian yang paling tinggi dapat menghasilkan kelembaban ( RH ) yang tinggi juga. Hal ini sesuai dengan pernyataan Trewartha ( 1995 ) yang menyatakan bahwa kelembaban relatif tergantung pada suhu udara. Diman kelembaban juag memliki kaitan erat dengan ketinggian ( topografi ) suatu tempat. Dalam halnya dengan suhu, maka akan menimbulkan hubungan terbalik ketinggian ini pada tempat tersebut menjadi rendah, kelembaban ( RH ) menjadi tinggi. Hal ini dapat menyebabkan pembentukan embun menjadi sesuatu yang umum dan berlaku secara adifungsi pada daerah yang memiliki topografi rendah.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Topografi mempengaruhi suhu atau temperatur udara 2. Pada ketinggian 1 m, memiliki suhu yang paling tinggi 3. Pada ketinggian 2 m dan 4 m belum mengalami penurunan suhu secara berangsur 4. Pada ketinggian 8 m mengalami penurunan suhu secara drastis 5. Laju penurunan suhu dengan pertambahan tinggi atau laju kehilangan biasanya menurun dengan peningkatan penutupan awan 6. Suhu rata-rata dengan pertambahan tinggi topografi suatu tempat

Saran Diharapkan semua praktikan mengikuti praktikum ini dengan tertib dan tidak melanggar aturan yang berlaku.

PENDAHULUAN Latar Belakang Kita tinggal di planet bumi dimana planet bumi ini terdiri dari komponen organik dan anorganik. Kedua komponen ini akan sama-sama membentuk sistem bumi. Sistem bumi atau sistem teresterial ini terdiri dari empat subsisitem yang berinteraksi saling mendukung, sistem litosfer padat, hidrosfer cair, atmosfer gas, dan biosfer yang bersifat organik. Iklim suatu tempat atau daerah ditentukan oleh sejumlah unsur iklim seperti angin, lama penyinaran matahari, suhu, lengas udara, curah hujan,dan lain sebagainya. Pada kenyatanya unsur-unsur iklim tadi adalah merupakan hasil dari interaksi dari beberapa faktor iklim yaitu penyebab yang menentukan corak iklim, seperti misalnya arah angin, lintang tempat, jauh dekatnya dengan pantai, tipe tanah, relief suatu daerah, tipe tanah, vegetasi dan lain lain. Adanya lautan di bumi mempengaruhi iklim setempat, karena air lautan mempunyai panas jenis dan bergerak pindah tempat (Hare dan Sweeney, 1988). Yang bisa disebut dengan suhu udara adalah suhu yang diukur dengan termometer dalam sangkar meteorologi. Makin tingi elevasi pegamatan diatas permukaan laut, maka suhu udara makin rendah. Peristiwa ini disebut dengan pengurangan suhu terhadap tinggi yang besarnya disebut laju. Kebesaran ini tidak tergantung terhadap letak pada lintang utara atau pada lintang selatan. Selisih udara masksimum dan minimum pada variasi suhu udara harian dsebut selsih harian dan selisih suhu udara masksimum dan minimum pada variasi udara tahunan disebut selisih tahunan. Suhu tanah tidak hanya naik atau turun karena panas yang masuk atau keluar dari permukaan tanha. Suhu tanah tersebut dipengaruhi oleh kapasitas panas tanah dan konuktivitas panas, yaikni dipengaruhi oleh panas jenis tanah, kadar kelembaban tanah, kerapatan tanah, dan lain lain, atau dengan katalain dipengengaruhi oleh sifat fisis tanah. Demikian pula radiasi panas yang diterma oleh permukaan tanah adalah berbeda, yang tergantung dari geradien, warna, tumbuh-tumbuhan dipermukaan tanah (Sosrodarsono dan Takeda, 2003).

Tujuan Adapun tujuan dari peraktikum ini adalah : 1. Latihan analisis suhu udara harian. 2. Latihan analisis suhu udara bulanan. 3. Latihan analisis suhu udara tahunan.

4. Menghitung kelembaban udara harian. 5. Menghitung kelembaban udara bulanan pada bulan tertentu.

TINJAUAN PUSTAKA Secara singakat bisa dikatakan bahwa iklim mempengaruhi kondisi tanah dan vegetasi. Dalam peristiwa ini faktor-faktor yang terpenting dalam menentukan pertumbuhan tanaman adalah curah hujan , suhu, kelembaban udara, angin, dan sinar matahari. Ditempat-tempat tanaman lainnya memiliki suhu yang berbeda- beda (Hare and Sweeney, 1988). Suhu adalah pernyatan tentang perbandingan derajat suhu suatu zat. Dapat juga dikatakan ukuran panas dingin suatu benda. Alat ukur suhu misalnya termometer ruang yang berfungsi untuk megukur suhu ruang, termometer elektronik yaitu alat yang menunjukkan suhu dengan huruf digital dan termometer medis yang berguna untuk mengetahui suhu tubuh kita. Kelembaban adalah suatu kesimpulan uap air yang terkandung di udara dalam waktu tertentu. Faktor iklim juga tergantung pada jenis tanaman yang terdapat paa suatu wilayah tertentu. Perubahan jenis tumbuha dan iklim ini membuat perbedan suhu dan iklim pada berbagai tempat. Hutan-hutan yang lebat meningaktkan kelembaban udara melaui transpirasi, sememtara itu bayangan pepohonan menurunkan suhu udara melalui evaporasi dari tanah sampai pada ketinggian tertentu tergantung pada iklim (Thewartha dan Horn, 1995). Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu tanah adalah faktor luar dan faktor dalam. Faktor luar yang dimaksud adalah radiasi matahari, keawanan, curah hujan, angin dan kelembaban udara. Sedangkan faktor internal adalah tekstur tanah, struktur dan kandungan air tanah, kandungan bahan organik dan warna tanah. Keadaan kelembaban di atas permukan bumi berbeda-beda.

Pada umumnya, kelembaban tertinggi di khatulistiwa sedangkan kelembaban terendah terdapat pada lintang 40 derajat, dimana daerah ini disebut sebagai daerah horse longlitude yang curah hujanya kecil. Beberapa istilah kelembaban yang kita ketahui, yakni kelembaban mutlak, kelembaban spesifik, dan kelembaban relatif (Kartasapoetra,1993). Antara pola iklim dengan persebaran jenis tanaman terdapat hubungan yang sangat erat. Ada beberapa klasifikasi iklim berdasarkan batas-batas alami dari tumbuhnya tanaman. Dalam hal ini tanaman dipandang dalam hal instrumen merologis yang rumit dan peka yang bereaksi terhadap kenyataan-kenyataan faktor iklim. Sebenarnya iklim bukanlah yang paling menentukan dalam klasifikasi tanaman, tanah dibawahnya, tipe tanah, dan relief lahan, semuanya itu berperan. Adapun manusia telah mencampurtangani pola alam melalui tindakannya. Misalnya dapat berupa pembabatan hutan, bertani,dan mereaksikan tanah baik sengaja maupun tidak sengaja. Sususnan vegetasi tergantung dari beberapa faktor dan yang terpenting adalah; a. faktor-faktor iklim b. faktor-faktor endefis c. faktor-faktor tropografis (Daldjoeni,1986). Suhu biasnya diukur dengan menggunakan termometer. Perhitungan suhu diukur dengan menggunakan sekala reamur,celcius, kelvin, atau farenheit. Sementara untuk mengukur kelembaban kita menggunakan tiga alat ukur kelembaban yaitu; a. psikometer : sebuah alat penunjuk b. hidrograf rambut : sebuah alat pencatat c. hidrograf listrik : mengukur kelembaban udara atas. Suatu pembagian iklim dapat didasari oleh gejala-gejala iklim, misalnya sebagai titik peneliti oleh pihak-pihak tertentu (Muller, 1980). Kelembaban merupakan banyaknya kadar uap air yang ada di udara. Kelembaban yang ada dipermukaan bumi adalah berbeda-beda. Angka kelembaban relatif dari 0%-100%, dimana 0% artinya udara kering, sementara itu 100% artinya udara jenuh dengan uap air dimana akan terjadi titik-titik air. Di Indonesia kelembaban tertinggi terjadi pada musim hujan dan kelembaban terendah terjadi pada bulan kemarau. Besarnya kelembaban pada bulan kemarau berhubungan dengan perkembangan-perkembangan dari organisme. Sementara itu kelembaban juga dipengaruhi oleh pohon-pohon pelindung, terutama jika pohon-pohonnya dalam keadaan rapat. Besarnya kelembaban suatu daerah merupakan dapat menstimulasi curah hujan. Kelembaban udara menggambarkan kandungan uap air di udara yang dapat dikatakan sebagai kelembaban mutlak, kelembaban nisbi ataupun difisit tekanan uap air. Kapasitas udara menampung uap air tergantung pada suhu udara.defisit tekanan uap air merupakan selisih antara tekanan uap air jenuh dengan tekan uap air aktualnya (Kartasapoetra,1993). Banyaknya jumlah radiasi matahari merupakan jumlah energi yang dipancarkan dari sinar matahari. Sebagian besar mencapai permukaan tanah sebagian radiasi matahari yang sampai kepermukan tanha dipantulkan kembali ke udara yang meningkatkan suhu udara tanah dan sebagin besar diabsorbsi kedalam tanah untuk meningkatkan suhu tanah. Jumlah panas yang mengakibatkan kenaikna suhu udara atau suhu tanha dinyakan sebagai neraca jumlah panas. Naik turunya suhu udara di tanah atau suhu udara di permukan tanah ditentukan oleh meningkat dan mengurangnya komponen. Pengukuran suhu udara tanah sampai kepada kedalam 50 cm digunakan termometer tanah yang di tanamkan. Pengukuran di tempat-tempat dekat dengan permukaan dilakukan beberapa hari sekali. Pengukuran dilakukan dengan termometer air raksa dan termometer alkohol. Pengukuran suhu udara biasanya menggikan termometerair raksa.

Sedangkan termometer alkohol cocok untuk mengukur daerah-daerah dengan suhu udara yang rendah. Karenan titik bekunya yang relatif rendah (Sosrodarsono dan Takeda, 2003). Perbandingan suhu udara terbesar terjadi di tanah, dimana semakin ke atas akan semakin berkurang. Akibatnya tanah mengalami susunan tanah. Ketika tanah menjadi dingin akibat penyinaran. Angin merupakan komponen pembuat atau menggerakkan massa udara yang berbeda temperaturnya dari lokasi satu ke lokasi yang lainya. Angin ini merukan komponen utama dari cuaca dan iklim yang kita peroleh (Neiburger, dkk, 1982).

METODE PRAKTIKUM Waktu Dan Tempat Adapun praktikum klimatologi hutan yang berjudul Analisis Suhu Dan Kelembaban Udara dilaksanakan pada hari Jumat, 27 Febuari 2009 pada pukul 14.00 WIB sampai dengan selesai di ruang 202, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Bahan Dan Alat Adapun bahan yang dipakai adalah: 1. Data suhu udara harian selama satu bulan, sebagai objek percobaa n. 2. Tabel kelembaban udara, untuk menghitung data. Adapun alat yag digunakan adalah: 1. Kalkulator sebagai alat penghitung. 2. Alat tulis untuk menulis. 3. Termometer sebagai alat pengukur suhu. Prosedur 1. Disiapkan alat dan bahan 2. Dicara rata-rata dari Tmax dan Tmin dengan cara menjumlahkan keduanya kemudian dibagi dua 3. Dicari rataan dari Tpagi, Tsiang, Tsore, dan Tmalam dengan mengkalikan Tpagi dikali dua dan dijumlahkan dengan Tsiang dan Tmalam lalu dibagi empat Contoh tabel suhu udara (oC) Tmax Tmin Rata-rata T 07.30 T 13.30 T 17.30 Rataan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Tabel Data Suhu Udara di Siborong-Borong, Kabupaten Tapanuli Utara Januari 2009 T max T min Rata-rata T 07.30 T 13.30 T 17.30 Rataan 29 25 27 26.5 29.5 27 27.38 30 24 27 22.5 33 26.5 26.12 32.5 25 28.5 22 29 22.5 23.88 31 24 27.5 20.8 28 22 22.9 32 29 30.5 27 31 20.8 26.45 29.5 28 28.75 27 31 27 28 29 22.5 25.75 27 31.5 27 28.13 30.5 22 26.25 25 31 29 27.5 31 20.8 25.9 26 30 27 26.6 31 27 29 26.5 29.5 29 27.9 29 27 28 22.5 28 29.5 25.6 29.5 27 28.25 22 29 26 24.75 31 25 28 20.8 30 27 24.65 32 26 29 27 31.5 27 28.12 32 26.5 29.25 27 31 24 27.25 32 22.5 28 27 29 25 27 32 22 27 25 29.6 24 28.8 32 20.8 26.4 26 29 25 26.5 29 27 28 26.5 29.6 24 26.62 30 27 28.5 27 29 29 27.75 31.5 27 29.25 27 29.5 28 25.83 31 25 28 25 28 22.5 24.58 29 26 27.5 22.4 29 22 24.45 29.5 26.5 28 23 30 20.8 26.25 29 27 28 24.5 31.5 27 26.42 30.5 27 28.75 26 31 27 26.42 31 27 29 27 29 27 27.5 31 25 28 22 30.5 26 25.12 29 26 27.5 25 31 26.5 26.8 29.5 26.5 28 21 30 22.5 23.6 30.5 25.37 28.65 24.8 29.85 24.72 26.32

Tabel Data kelelembaban Udara di Siborong-borong, Kabupaten Tapanuli Utara, Januari 2009 RH 06 00 RH 09 .00 RH 12 .00 RH 15 .00 RH 18 .00 RH 21 .00 RH 24 .00 RH 03 .00 RH X

siang RH X malam RH X rata-rata 91 86 75 65 71 86 85 92 78.5 83.8 81.3 85 87 78 64 70 87 86 91 78 83.6 80 84 87 79 63 70 87 87 93 82 84.4 81 85 87 77 62 70 87 88 92 77 84.6 71.8 86 85 73 68 69 85 90 91 79.5 85.4 80.3 87 89 74 65 68 89 91 91 78 85.4 80.9 88 88 75 63 67 88 90 86 76.5 83.8 78.29 90 86 76 64 65 86 89 83 77 82.8 79.4 91 87 77 65 67 85 87 82 81 82.2 79.9 90 80 78 64 65 84 87 91 77.5 83.2 79.54 89 91 79 62 68 85 85 92 77 84.4 71.9 92 85 80 68 69 86 89 90 80 85 82 91 84 75 65 66 87 88 91 78 85 80.4 93 85 75 63 68 88 86 92 78 85.2 81.1 92 86 78 64 69 90 87 92 78 85.8 81.9 91 87 73 65 70 91 86 89 78 85.4 81.5 91 88 74 64 64 90 89 88 77.6 83 71.5 84 90 75 62 65 89 88 89 76 82.8 79.1 83 91 76 68 68 87 86 90 79.5 82.6 80 82 90 77 65 63 87 85 90 76.5 83.2 78.4 91 89 78 63 67 85 84 91 77 82.1 80.6 84 87 79 64 66 89 85 91 77.5 83.2 79.5 85 87 80 65 56 88 86 92 74 81.6 78 86 85 75 64 53 86 87 93 73 87.2 76.8 87 89 75 62 68 87 88 94 78 87.2 80.5 88 88 78 68 69 85 90 90 79 84.8 81.3 90 86 70 65 70 86 91 92 78.5 85.6 80.8 91 87 71 63 64 85 90 96 79.5 85 80.2 90 86 72 64 65 86 89 92 78 84.2 79.9 89 88 73 63 68 87 87 95 79 85.6 80.7 88.2 87.4 75.83 64.33 66.6 86.87 87.53 90.63 63.89 84.24 -

Pembahasan Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, diketahui bahwa suhu rata-rata paling tinggi ke

rendah berturut-turut adalah suhu siang (29,85), malam (24,72), dan pagi (24,6). Sementara itu, suhu maksimum memiliki rataan sebesar 25,37. Selisih antara suhu udara maksimum dan minimum pada variasi suhu udara harian disebut selisih harian dan hasil ini sesuai dengan pernyataan Sosrodarsono dan Takeda (2003) yang menyatakan bahwa selisih udara harian merupakan selisih antara suhu udara maksimum dan minimum yang disebut dengan variasi suhu udara harian. Suhu udara bergantung kepada kapasitas udara menampung uap air (pada keadaan jenuh). Hal ini sesuai dengan pernyataan Kartasapoetra (1993), sehingga suhu udara disetiap masing-masing ketinggian tempat (radiasi matahari, curah hujan, dan kelembaban juga mempengaruhi) adalah tidak sama. Jika radiasi sinar surya semakin tinggi maka suhu udara harian juga akan semakin tinggi, keadaan suhu udara yang terlalu lembab menyebabkan suhu udara relatif rendah. Dari data yang diperoleh didapat bahwa dari semua hari, suhu tertinggi itu ada pada siang hari, ini dikarenakan akibat radiasi matahari benar-benar berada di saat yang sangat tepat. Benar-benar tepat dikatakan karena sudut sinar datang matahari tersebut berada tegak lurus dengan permukaan bumi jadi semua atau hampir semua radiasi sinar matahari tertampung atau kena ke permukaan bumi walaupun ada sebagian yang terpantulkan oleh debu atau awan sebelum sampai ke bumi. Dan suhu udara yang terendah biasanya didapat atau terdapat pada pagi hari walaupun pada beberapa pengukuran sore hari terdapat beberapa hasil yang menunjukkan bahwa suhu terendah ada pada sore hari. Ini dikarenakan pada sore hari sampai kepada pagi harinya lagi matahari tidak lagi menyinari bumi sehingga mengakibatkan radiasi di bumi semakin kecil dan mengakibatkan penurunan suhu udara yang sangat drastis. Dan juga radiasi sinar matahari yang diterima bumi dan disimpan pada bumi telah habis terlepas semuanya untuk memanasi suhu udara pada malam hari. Akan tetapi jika terdapat banyak awan suhu udara pada bumi mungkin akan tidak serendah pada pagi-pagi hari biasanya.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. suhu rata-rata paling rendah adalah pada pagi hari (24.72) dan yang paling tinggi adalah pada sing hari ( 29,85) 2. Kelembaban rataan terendah terjadi pada sore hari yaitu pada pukul 15.00 WIB 3. Semakin tinggi suhu maka selembaban akan semakin rendah 4. Suhu udara bergantung kepada kapasitas udara menampung uap air 5. Besarnya kelembaban suatu daerah merupakan faktor yang dapat mensitimulasi curah hujan Saran Diharapkan kepada semua praktikan agar menggunakan alat dengan baik dan benar untuk mendapatkan hasil yang tepat dan akurat serta memuaskan.

PENDAHULUAN Latar Belakang Evapotranspirasi merupakan penguapan air dari permukaan air, tanah dan bentuk permukaan tanah (bukan bentuk vegetasi lainnya) oleh fisik. Dua unsur, utama untuk berlangsungnya evapotranspirasi adalah energi (radiasi) matahari dan air sebagian radiasi gelombang pendek matahari akan diubah menjadi energi panas dalam tanaman, air dan tanah. Udara panas tersebut akan menghamburkan udar sekitarnya. Ketersediaaan air yang cukup. Tidak juga melibakan jumlah air yang ada , tetapi juga persediaan air yang cukup tidak juga melibatkan jumlah air yang ada. Permukaan bidang evapotranspirasi yang kasar akan memberikan laju evapotranspirasi yang lebih tinggi dari permukaan (Wisnubroto, 1999). Mengukur Evapotrasnpirasi adalah suatu hal yang sangat sulit dilakukan dalam rangkaian pengukuran daur hidrologi. Di daerah tropis pada umumnya, kehilangan air oleh proses evapotranspirasi dapat mempercepat terjadinya kekeringan dan penyusutan debit air sungai pada musim kering (Guslim, 2007). Selama berlangsungnya tahap-tahap utamasiklus hidrologi, proses penguapan dapat terus berlangsung, misalnya pada saat butiran hujan jatuh menuju permukaan bumi, sebagian butian air hujan tersebut akan menguap sebelum sampai ke permukaan bumi juga selama air menalir pada permukaa bumi, sebagian air juga akan langsung menguap keatmosfer (Goldsworthy dan Fisher, 1992). Air dalam siklus hidrologi mengalami bentuk perubahan dari benuk cair ke bentuk padat dan kembali lagi kebentuk cair. Kadang juga air berubah ke bentuk padat dalam siklus hidrologi terjadi jika butiran air tersebut berada pada udara yang sangat dingin atau berada pada titik beku air. Perubahan ke bentuk padat ini dapat terjadi pada lapisan arus troposfer atau pada air permukaan bumi. Terutama pada wilayah di utara tropic of center atau pada tempat-tempat yang tinggi (Trewatha dan Lyle, 1995 ).

Tujuan Adapun tujuan dari praktikum ini adalah 1. Untuk mengetahui evapotranspirasi pada berbagai jenis tanaman di berbagai tempat. 2. Untuk mengetahui besarnya evapotraspirasi berbagai jenis tumbuhan.

TINJAUAN PUSTAKA Jika tanah telah menjadi kering dan kadar kelembabannya telah tereduksi di bawah suatu limit, maka tanaman itu terhalang untuk mengabsobsi air dan mulai kelihatan sedikit menjadi layu atau pengurangan evapotrspirasi. Akan tetapi jika air itu diberikan pada waktunya, maka tanaman itu akan tumbuh terus. Interval kadar air yang memungkinkan akan mengabsorbsi air adalah antara titik layu permanen sampai kapasitas lapang dan disebut kadar air atau kelembaban efektif. Tetapi interval yang menjamin pertumbuhan tanaman yang normal adalah dari 8 titik permulaan layu sampai kapasitas lapang. Kadar air dalam interval ini disebut juga kadar air efektif untuk pertumbuhan atau kadar air optimum yang berbeda dengan kadar air efektif untuk yang diatas. Evapotranspirasi yang dikonsumsi untuk pertumbuhan tanaman di daerah yang tinggi adalah berbeda-beda sesuai dengan kondisi pertumbuhan, faktor- faktor meteorologi, kondisi tanah, dan lain-lain (Sosrodarsono, 2003). Evaporasi merupakan penguapan air yang berasal langsung dari permukaan berentang air atau dari permukaan benda padat yang mengandung air, sedangkan traspirasi merupakan penguapan air yang bersal dari dalam jaringan tumbuhan, melalui suatu celah pada daun tumbuhan yang disebut stomata. Celah stomata tumbuhan bersifst dinamis, dapat melebar dan menyempit sehingga dengan demikian layu penguapan air dari jaringan tumbuhan ini dipengaruhi oleh mekanisme membuka dan menutupnya stomata oleh tumbuhan. Jadi tidak hanya ditentukan oleh masukan energi radiasi matahari yang diterima. Penguapan air yang berada pada permukaan daun merupakan proses Evapotraspirasi. Istilah ini lebih sering digunakan karena pada kondisi alamiah secara teknis sulit dipilih antara uap air yang berasal dari evaporasi atau transpirasi (Lakitan, 2000). Dalam kondisi air tanah yang tinggi, evapotranspirasi biasanya akan meningkat dengan meningkatnya tuntutan atmosfer. Walaupun demikian, kelembaban tanah yang terbatas

menyebabakan perubahan dalam hubungan antara tuntutan atmosfer, kelembaban tanah, penutupan stomata, dan laju aliran air melalui tanaman. Denagan berkurangnya tingkat kelembaban dalam tanah, menurun pula tingkat evapotraspirasi pada saat yang tuntutannya atmosfernya tinggi sampai ke tingkat yang sama dengan tingkat evapotraspirasi pad hari yang tuntutan atmosfernya lebih rendah. Hal ini mungkin disebabkan oleh tertutupnya stomata atau oleh meningkatnya tahanan terhadap traslokasi selama siang hari pada hari yang tuntutan atmosfernya tinggi (Wilkins, 1998). Nilai evaporasi yang besar di Samudera Atlantik persis di lepas pantai timur Amerika Serikat menunjukkan evaporasi yang cepat, yang terjadi bila udara daratan yang dingin dan kering bergerak diatas gulf stream yang hangat. Suatu maksimum yang sama, meskipun kurang dikenal ditemukan di pantai lepas timur Asia. Suatu perbandingan yang menunjukan bahwa ada kesamaan distribusi evaporasi dan penggunaan panas untuk evaporasi. Sukar untuk mengukur evaporasi dari permukaan daratan secara langsung. Pendugaan telah dilakukan dengan mengukur berkurangnya berat air dari sebuah cawan air yang terbuka dan menghubungkannya dengan hilangnya air dari dalam tanah. Untuk daerah yang luas, pendugaan evapotraspirasi dapat diperoleh dengan membandingkan limpasan air yang diukur pada aliran dan presipitasi di daerah aliran (Andani, 1995). Evaporasi kelembaban tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, faktor-faktor ini dapat dibagi menjadi faktor-faktor iklim yang menumbangkan kelembaban, dan faktor-faktor edafis yang mempengaruhi persediaan kelembaban, kelembaban pada permukaan tanah. Faktor-faktor iklim yang mengontrol kehilangan evaporasi adalah suhu udara yang menentukan kemampuan udara menyimpan air. Apabila partikel permukaan di tanah yang kering, kelembaban masuk ke celahcelah antara partikel dan kelembaban itu ditarik dari bawah oleh penurunan potensial air, yang selanjutnya megurangi kecepatan evaporasi (Daniel, dkk, 1987). Evapotraspirasi adalah gabungan evaporasi dengan traspirasi yaitu dua proses yang bertugas bersama-sana untuk mengembalikan presipitasi kepada atmosfer. Evapotranspirasi disebut potensial apabila melakukan tugasnya yang maksimal pada suatu suhu tertentu denagnanggapan bahwa persediaan air cukup. Contohnya, apabilaevapotrnspirasi pada suatu bulan besarnya 20 cm, padahal kekurangan air ada 15 cm (Daldjoeni, 1986). METODE PRAKTIKUM Waktu dan Tempat Adapun praktikum Klimatologi Hutan yang berjudul Evapotranspirasi ini dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 06 maret 2009 pada pukul 14.00 WIB sampai dengan selesai. Dilakukan diruang 202, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Alat dan Bahan Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah 1. Bibit tanaman avokat (Persea americana) sebagai objek evapotranspirasi. 2. Air untuk membasahi tanaman. Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah 1. Timbangan untuk menimbang berat tanaman. 2. Cangkul untuk melubangi tanah. 3. Stopwatch untuk menghiting waktu. 4. Thermometer untuk mengukur kelembaban dan suhu. 5. Gelas ukur sebagai ukuran air sebanyak 200 ml

Prosedur 1. Bahan ditimbang dan dicatat beratnya. 2. Diisi gelas ukur dengan air sebanyak 200 ml. 3. Dibasahi bahan dan ditimbang bahan dan dilakukan selama 1 jam. 4. Dicatat hasil ke dalam tabel Contoh Tabel Evapotranspirasi No. Jenis Berat Bibit Waktu ( menit ) BK BA BB

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tabel Data evapotranspirasi pada kelompok 1 No. Jenis Berat Bibit Waktu ( menit ) BK BA BB 1.

Mangga (Mangifera indica) 1,8 kg 2,25 kg 2,25 kg 2 kg 2 kg 1,95 kg 1,9 kg 1,89 kg 10 20 30 40 50 60 Tabel Data evapotranspirasi pada kelompok 2 No. Jenis Berat Bibit Waktu ( menit ) BK BA BB 1.

Nangka (Arthocarpus integra) 2 kg 2,25 kg 2,25 kg 2 kg 1,98 kg 1,98 kg 1,996 kg 1,995 kg 10 20 30 40 50 60 Tabel Data evapotranspirasi pada kelompok 3 No. Jenis Berat Bibit Waktu ( menit ) BK BA BB 1.

Rambutan (Nephelium lappaceum) 2,5 kg 2,6 kg 2,6 kg 2,4 kg 2,2 kg 2 kg 1,8 kg 1,8 kg 10 20 30 40 50 60 Tabel Data evapotranspirasi pada kelompok 4 No. Jenis Berat Bibit Waktu ( menit ) BK BA BB 1.

Durian (Durio ziberthinus) 2,2 kg 2,35 kg 2,35 kg 2,3 kg 2,1 kg 2 kg 2 kg 1,98 kg 10 20 30 40 50 60

Tabel Data evapotranspirasi pada kelompok 5 No. Jenis Berat Bibit Waktu ( menit ) BK BA BB 1.

Jambu monyet (Eugenia spp) 1,5 kg 2,2 kg 2,2 kg 2,1 kg 2 kg 2 kg 1,95 kg 1,9 kg 10 20 30 40 50 60 Tabel Data evapotranspirasi pada kelompok 6 No. Jenis Berat Bibit Waktu ( menit ) BK BA BB 1.

Alpukat (Persea Americana) 1,9 kg 1,95 kg 1,91 kg 1,89 kg 1,89 kg 1,89 kg 1,86 kg 1,85 kg 10 20 30 40 50 60 Tabel Data evapotranspirasi pada kelompok 7 No. Jenis Berat Bibit Waktu ( menit ) BK BA BB 1.

Kueni (Mangifera odorata) 1,7 kg 2,23 kg 2,23 kg 2,2 kg 2,2 kg 2 kg 2 kg 1,95 kg 10 20 30 40 50 60 Tabel Data evapotranspirasi pada kelompok 8 NO. JENIS BERAT BIBIT WAKTU ( MENIT ) BK BA BB 1.

ALPUKAT (PERSEA AMERICANA) 1,75 kg 1,9 kg 1,9 kg 1,88 kg 1,87 kg 1,86 kg 1,86 kg 1,86 kg 10 20 30 40 50 60 Tabel Data evapotranspirasi pada kelompok 9 No. Jenis Berat Bibit Waktu ( menit ) BK BA BB 1.

Sukun (Arthocarpus communis) 1,9 kg 2,25 kg 2,25 kg 2,20 kg 2,15 kg 2 kg 1,98 kg 1,98 kg 10 20 30 40 50 60 Pembahasan Dari hasil percobaan evapotranspirasi dari tanaman avokat (Persea Americana) diperoleh data bahwa berat tanaman awal tanaman adalah 1,75 kg dan setelah dibasahi dari ujung daun ke ujung batang, beratnya menjadi 1,9 kg dan setelah dibiarkan selama 10 menit, beratnya berubah menjadi 1,88 kg yaitu mengalami pengurangan sebesar 0,02 kg. Dari hasil dataini, tanaman tersebut mengalami evapotranspirasi melalui batang dan daun serta melalui tanah. Selain dari itu juga dipengaruhi oleh adanya angina yang kencang dan sinar matahari yang sangat terik pada saat percobaan ini dilakukan, karena hal tersebut juga sangat mempengaruhi laju

evapotranspirasi. Evapotranspirasi tersebut juga dipengaruhi oleh keadaan tanah, dimana pada saat dibasahi tanah tersebut juga terkena air. Dari hal ini maka sesuailah literatur yang dikemukakan oleh Sosrodarsono (2003) bahwa jika tanah telah menjadi kering dan kadar kelembabannya telah tereduksi di bawah suatu limit, maka tanaman itu terhalang untuk mengabsobsi air dan mulai kelihatan sedikit menjadi layu atau pengurangan evapotrspirasi. Akan tetapi jika air itu diberikan pada waktunya, maka tanaman itu akan tumbuh terus. Interval kadar air yang memungkinkan akan mengabsorbsi air adalah antara titik layu permanen sampai kapasitas lapang dan disebut kadar air atau kelembaban efektif. Tetapi interval yang menjamin pertumbuhan tanaman yang normal adalah dari 8 titik permulaan layu sampai kapasitas lapang.Kadar air dalam interval ini disebut juga kadar air efektif untuk pertumbuhan atau kadar air optimum yang berbeda denagn kadar air efektif untuk yang diatas. Evapotranspirasi yang dikonsumsi untuk pertumbuhan tanaman di daerah yang tinggi adalah berbeda-bedasesuai dengan kondisi pertumbuhan, faktor-faktor meteorologi, kondisi tanah, dan lain-lain. Dari semua data yang diperoleh, semua tanaman yang dijadikan objek evapotranspirasi yaitu Avokat (Persea americana), Nangka (Arthocarpus integra), Rambutan (Nephelium lappoceum), Durian (Durio ziberthinus), Mangga (Mangifera indica), Jambu monyet (Anacardium occudentate), Kueni (Mangifera odorata), Lengkong (Euphonia congana), Sukun (Arthocarpus communis) juga mengalami perubahan berat setiap setelah 10 menit tapi dalam perubahan berat yang berbeda-beda. Salah satu faktor yang yang mempengaruhi laju evapotranspirasi pada berbagai tanaman adalah kondisi fisik dari tanaman tersebut, misalnya jumlah dan lebar daun yang dapat mempercepat laju traspirasi pada tanaman. Dimana daun juga berhubungan dengan stomata, dimana kita ketahui bahwa jumlah ,keadaan, dan letak stomata pada setiap tanaman berbeda-beda sehingga berpengaruh pada laju evapotranspirasi. Dari hal ini maka sesuailah literatur yang dikemukakan oleh Lakitan (2000) bahwa Evaporasi merupakan penguapan air yang berasal langsung dari permukaan bentang air atau dari permukaan benda padat yang mengandung air, sedangkan traspirasi merupakan penguapan air yang bersal dari dalam jaringan tumbuhan, melalui suatu celah pada daun tumbuhan yang disebut stomata. Celah stomata tumbuhan bersifat dinamis, dapat melebar dan menyempit sehingga dengan demikian layu penguapan air dari jaringan tumbuhan ini dipengaruhi oleh mekanisme membuka dan menutupnya stomata oleh tumbuhan. Jadi tidak hanya ditentukan oleh masukan energi radiasi matahari yang diterima. Pengupan air yang berada pada permukaan daun merupakan proses evapotraspirasi. Istilah ini lebih sering digunakan karena pada kondisi alamiah secara teknis sulit dipilih antara uap air yang berasal dari evaporasi atau transpirasi. Percobaan evapotranspirasi dilakukan pada siang hari, yaitu pada saat sinar matahari masih mengeluarkan radiasi matahari ke bumi, sehingga bumi menjadi panas yang hal ini sangat mempengaruhi proses evapotranspiarsi. Selain sinar matahari,keadaan lingkungan juga dengan adanya angin yang juga merupakan mempengaruhi laju evapotranspirasi. Dari hal ini maka sesuailah literature yang dikemukakan oleh Daljoeni (1986) bahwa Evaporasi memerlukan sumber energi yang besar. Pada keadaan tertentu kebutuhan energi secara terus menerus diperoleh melalui pemanasan langsung. Pada keadaan lainnya, air dapat memperoleh sebagian besar panasnya pada waktu sebelumnya atau di tempat yang berbeda. Di sebagian besar lintang, evaporasi actual di atas laut lebih besar dibandingkan daengan daratan yang luas.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Berat kering avokat ( Persea American ) adalah 1,75 kg 2. Berat tanah basah adalah 1,9 kg 3. Berat awal adalah 1,9 kg 4. Suhu pada saat dilakukan percobaan evapotranspirasi adalah 31 C 5. Kelembaban udara pada saat dilakukan percobaan adalah 60 % 6. Cahaya matahari dan angin dapat mempercepat laju evapotranspirasi 7. jumlah dan lebar daun berpengaruh pada laju evapotranspirasi pada berbagai tanaman 8. Keadaan tanah juga mempengaruhi evapotranspirasi Saran Agar memperoleh data yang lebih akurat hendaknya bahan dan alat serta prosedur kerja lebih diperhatikan. Pembacaan timbangan untuk berat tanaman juga harus lebih diperhatikan.

PENDAHULUAN Latar Belakang Hujan merupakan salah satu bentuk presipitasi uap air yang berasal dari awan yang terdapat di atmosfer. Bentuk presipitasi lainnya adalah salju dan es. Untuk dapat terjadinya hujan diperlukan titik-titik kondensasi, amoniak, debu, dan asam belerang. Titik-titik kondensasi ini mempunyai sifat dapat mengambil uap air dari udara (Kartasapoetra, 2004). Udara naik yang mencapai dan melewati ketinggian kondensasi untuk menghasilkan awan tidak dapat menghasilkan sedikit pun hujan dan butir air ini terlalu kecil untuk jatuh sebagai hujan. Bahkan arus udara naik yang kecil pun dapat menahan jatuhnya butir air ke bumi. Jadi hujan tidak semudah suatu kelanjutan dari proses kondensasi pembentukan awan. Ada beberapa teori tentang pembentukan butir-butir hujan yang sangat diterangkan secara sederhana (Guslim, 2007). Dalam mempelajari atmosfer haruslah dibedakan antara cuaca dan iklim. Cuaca adalah keadaan fisis atmosfer pada suatu tempat pada suatu saat. Keadaan fisis atmosfer ini dinyatakan atau diungkapkan dengan hasil pengukuran atau pengamatan berbagai unsur cuaca seperti suhu, curah hujan, tekanan, kelembaban, laju serta arah angin, perawanan, penyinaran, matahari, dan lainnya (Prawirowardoyo, 1996). Selain suhu, faktor penting dari iklim adalah curah hujan yang disebut presipitasi. Sebenarnya

sebutan ini lebih luas cakupannya karena meliputi endapan air, salju, salju keras, butiran es sampai batu es, akan tetapi juga endapan kabut dan embun. Untuk daerah tropik seperti Indonesia dengan presipitasi umumnya ditafsirkan curah hujan. Adapun yang disebut curah hujan bulanan rata-rata adalah jumlah hujan yang tercatat selama panjang bulan yang bersangkutan, akan tetapi diambilkan untuk jangka waktu lam sekitar 30 tahun. Demikian pula curah hujan rata-rata setahun 2300 mm itu diambil berdasarkan pengamatan sepanjang sepertiga abad tadi (Daldjoeni, 1986). Sedangkan iklim adakah keadaan yang mencirikan atmosfer pada suatu daerah dalam jangka waktu yang cukup lama, yaitu kira-kira 30 tahun. Jangka waktu tersebut dipilih cukup lama untuk melicinkan atau meratakan fluktuasi skala kecil. Keadaan karakteristik atau mencirikan tersebut di atas diungkapkan dengan hasil pengukuran atau pengamatan berbagai unsur cuaca yang dilakukan selama periode waktu tersebut. Supaya praktis iklim tidak dinyatakan dengan semua unsur iklim, Tetapi biasanya hanya menggunakan dua atau tiga unsur yang dapat dianggap mewakilinya, misalnya suhu dan curah hujan (Prawirowardoyo, 1996). Tujuan Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengumpulkan data curah hujan.

TINJAUAN PUSTAKA Banyaknya hujan, khususnya yang jatuh di suatu daerah selama setahun merupakan suatu faktor yang sangat penting karena curah hujan terutama menentukan ketersediaan air untuk pertumbuhan dan proses-proses vital yang lainnya. Dengan ketersediaan air inilah terdapat ketersesuaian yang besar dengan vegetasi, dan walaupun jumlah setahunnya mungkin merupakan sifat yang paling penting untuk pohon, musim jatuhnya hujan dapat merupakan suatu masalah yang sangat penting untuk tumbuhan dan lahan rumput. Mengenai yang terakhir ini, khususnya lebih disukai hujan dalam musim semi untuk daerah-daerah dengan musim winter yang dingin.

Dengan musim panas yang kering dengan suhu tinggi, tetapi musim winter yang cukup panas untuk pertumbuhan, mungkin terdapat semak-semak berdaun-daun kaku dan sempit yang lebih besar (Polunin, 1990). Intensifikasi hujan adalah banyaknya curah hujan per satuan jangka waktu tertentu. Apabila dikatakan intensitas besar berarti hujan lebat dan ini kurang baik bagi tanaman dan peternakan, karena dapat menimbulkan erosi dan banjir. Satuan curah hujan diukur dalam mm/inci. Curah hujan 1mm artinya air hujan yang jatuh setelah 1mm tidak mengalir, tidak meresap, dan tidak menguap. Hari hujan artinya suatu hari dimana curah hujan kurang dari 0,5 mm per hari, jumlah ini tidak berarti bagi tanaman, karena akan habis menguap apabila ada angin. Hari hujan tanaman artinya suatu hari yang curah hujannya kurang dari 2,5 mm dan dapat dimanfaatkan oleh tanaman (Kartasapoetra, 2004). Semakin jauh dari khatulistiwa, kedua puncak curah hujan menjadi makin dekat dan kemudian menghasilkan suatu pola curah hujan tunggal pada musim panas. Di luar garis-garis lintang khatulistiwa, curah hujan pada musim dingin tak penting untuk daerah tropik, kecuali di beberapa tempat khusus seperti bagian-bagian Sri Lanka, Filipina, dan satu jalur pantai di Brazilia. Contoh-contoh pola curah hujan musiman di sejumlah tempat daerah tropik akan diberikan untuk menggambarkan pola-pola dasar yang diuraikan di atas dan untuk menunjukkan perbedaan-perbedaan yang ada dalam pola-pola tersebut. Suatu penilaian iklim hujan untuk suatu tempat bagi pertanian yang sederhana tetapi efektif, diperoleh melalui pengurangan rata-rata evapotranspirasi potensial bulanan dari total rata-rata curah hujan bulanan. Periode-periode dengan curah hujan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan air tanaman dapat ditentukan secara mudah (Goldsworthy dan Fisher, 1991). Cara perkiraan untuk mendapatkan frekuensi kejadian curah hujan dengan intensitas tertentu yang digunakan dalam perhitungan pengendalian banjir, rancangan drainase dan lain-lain adalah hanya dengan menggunakan data pengamatan yang lalu. Jika data pada sebuah titik pengamatan itu lebih dari 20 tahun, mak frekuensi atau perkiraan data hidrologi itu dapat diperoleh dengan cara perhitungan kemungkinan tersebut (Sosrodarsono dan Takeda, 2003). Hujan disebabkan oleh adanya pendinginan udara yang memuat lengas (uap air). Curah hujan yang biasanya dilaporkan dalam rata-rata setiap bulan, yang merupakan banyaknya hujan yang turun di berbagai bulan menurut kalender, tetapi dirata-rata sepanjang suatu periode yang terdiri atas beberapa tahun, meskipun jumlah hari hujan dalam setiap bulan merupakan petunjuk agihan yang lebih baik. Selanjutnya hujan lebat yang mendadak mungkin banyak yang hilang karena pelimpasan, dan dapat menyebabkan terjadinya erosi yang buruk. Karena adanya perbedaan setempat yang sering kali tampak nyata dengan adanya perubahan-perubahan fisiografi, bagi seorang ahli ekologi dirasakan perlunya untuk memiliki alat pengukur hujan yang automatik, yang seperti termografnya, hanya memerlukan perawatan sekali setiap minggu (Polunin, 1990). Sinar matahari yang mengenai air laut, rawa, sungai maupun parit sehingga artinya akan mengalami penguapan. Udara yang banyak mengandung uap air akan terbawa angin membumbung tinggi ke angkasa. Semakin tinggi semakin rendah suhunya. Pada ketinggian tertentu uap air tersebut akan mengalami pendinginan dan kondensasi sehingga terbentuk awan. Jika kelembaban telah mencapai 100% terbentuklah embun, air, dan akan jatuh kembali ke bumi menjadi hujan. Curah hujan adalah banyaknya jumlah air hujan yang jatuh ke permukaan bumi. Banyaknya curah hujan dapat diukur dengan alat penakar curah hujan yang dinamakan rain gauge. Alat ini dipasang pada tempat yang bebas penghalang, baik oleh pohon maupun bangunan (Gunawan, 2007).

Berdasarkan terjadinya proses presipitasi, hujan dapat dibagi menjadi: 1. Hujan konveksi, yaitu suatu proses hujan yang berdasarkan atas pengembanagn udara yang dipanaskan, akan jadi terus naik. Pada waktu naik, temperatur akan turun sampai suatu saat terjadi kondensasi mak timbullah hujan. 2. Hujan orografis, yaitu suatu proses hujan dimana udara terpaksa naik karena adanya penghalang, misalnya gunung. Pada lereng gunung yang menghadap angin datang akan mempunyai hujan yang tinggi, sedangkan pada lereng sebelahnya dimana udara turun akan terjadi panas yang sifatnya kering. 3. Hujan frontal, banyak terjadi pada daerah lintang pertengahan dimana temperatur massa udara tiak sama, akibatnya apabila massa udara yang panas naik sampai ke massa udara yang dingin akan terjadi kondensasi dan timbullah hujan (Kartasapoetra, 2004). Curah hujan lebih sedikit daripada daerah pesisir barat dan timur, karena kebanyakan angin yang mencapai daerah ini terlebih dahulu kehilangan uap airnya dipantai barat dan timur. Kecuali itu lembah Alas dan Renun terlindung daripada pengaruh monsoon, demikian pula lembah Tapanuli Selatan. Daerah-daerah ini mendapat curah hujan yang besar karena berada pada lereng pegunungan (Bukit Barisan) yang kedudukannya menghadang angin mansoon timur laut, sehingga dapat memaksa pembentukan awan hujan di daerah itu (Guslim, 2007). Mengapa dalam klimatologi faktor suhu dan curah hujan yang selalu diutamakan, meskipun faktor-faktor lainnya ada dan dapat dicatat kalau perlu. Kepentingan dua faktor-faktor lainnya itu memang ada alasannya. Pertama, tanpa panas dan air tumbuhan dan hewan tak dapat hidup, meskipun untuk itu sebenarnya sinar matahari, lembab udara, angin juga berperan akan tetapi masih kalah penting daripada suhu dan curah hujan. Keduanya di tempat manapun di permukaan bumi, suhu dan curah hujan itu paling mudah pencatatannya (Daldjoeni, 1986). Di antara data mengenai hujan yang penting sekali dalam menguraikan iklim daerah adalah: jumlah hujan rata-rata tahunan / bulanan, jumlah hari hujan rata-rata (Guslim, 2007). METODE PRAKTIKUM Waktu dan Tempat Adapun praktikum Klimatologi Hutan yang berjudul Pengukuran Curah Hujan ini dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 13 maret 2009 pada pukul 14.00 WIB sampai dengan selesai. Dilakukan diruang 304, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Bahan dan Alat Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah: 1. Kayu, sebagai tempat untuk meletakkan penakar hujan pada ketinggian 1,2 m. 2. Label nama, untuk ditempel pada penakar hujan. 3. Data tabel, sebagai tempat penulisan data. Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah: 1. Alat penakar hujan, sebagai pengukur curah hujan. 2. Gelas ukur, untuk mengukur volume air yang masuk ke dalam penakar hujan. 3. Cangkul, untuk melubangi tanah dan untuk meletakkan penakar hujan di dalam tanah. Prosedur 1. Disiapkan alat dan bahan. 2. Dibersihkan daerah yang akan diukur curah hujannya

3. Dilubangi tanah sedalam 25 cm, lalu ditanam penakar hujan yang pertama di dalamnya. 4. Ditancapkan kayu di dalam tanah, lalu diikatkan penakar hujan kedua pada ketinggian 1,2 m. 5. Diukur volume air yang masuk ke dalam penakar hujan pada saat hujan. No Tanggal Waktu Lama hujan (jam) Curah Hujan Intensitas Curah Hujan Volume Hujan Volume Komulatif

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tabel Data curah hujan pada ketinggian 1,2 m di atas tanah No. Tanggal Waktu Lama Hujan (jam) Curah Hujan Intensits Curah Hujan Volume Hujan Volume Kumulatif 1. 17-03-2009 09.00 3 12 4 240 240 2. 18-03-2009 09.00 1,5 7 4,7 140 380 3. 19-03-2009 09.00 2 7,25 3,6 145 525 4. 20-03-2009 09.00 1 5,5 5,5 110 635 5. 21-03-2009 09.00 2 7 3,5 140 775 6. 22-03-2009 09.00 1,5 5,5 3,7 110 885 7. 23-03-2009 09.00 2 6 3 120 1005

Tabel Data curah hujan di tanah No. Tanggal Waktu Lama Hujan (jam) Curah Hujan Intensits Curah Hujan Volume Hujan Volume Kumulatif 1. 17-03-2009 09.00 3 12,5 4,1 250 20 2. 18-03-2009 09.00 1,5 7,5 5 150 400 3. 19-03-2009 09.00 2 7,25 7,6 145 545 4. 20-03-2009 09.00 1 6 6 120 665 5. 21-03-2009 09.00 2 7 3,5 140 805 6. 22-03-2009 09.00 1,5 6 4 120 925 7. 23-03-2009 09.00 2 6 3 130 1055

Pembahasan Dari hasil pengamatan curah hujan yang dilakukan selama satu minggu (7 hari) dengan menggunakan penakar hujan, setiap datang hujan keesokan harinya selalu terdapat air dalam jumlah sedikit pada penakar hujan. Hal ini disebabkan oleh karena adanya pendinginan udara yang memuat lengas (uap air). Dari data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa perbedaan hasil pengukuran curah hujan pada alat penakar hujan yang diletakkan di dalam tanah dengan penakar hujan yang diletakkan dengan ketinggian 1,2 m dari atas permukaan tanah meskipun perbedaannya tidak terlalu jauh. Dari percobaan yang dilakukan, dapat pula dilihat bahwa besarnya curah hujan pada penakar hujan yang ditanam di dalam tanah lebih tinggi bila dibandingkan curah hujan yang memakai alat penakar curah hujan yang diletakkan dengan ketinggian 1,2 m dari atas permukaan tanah. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena air hujan yang masuk ke dalam penakar hujan yang ditanam dalam tanah lebih banyak dibandingkan dengan penakar hujan yang diletakkan dengan jarak 1,2 m di atas permukaan tanah. Mungkin karena jaraknya lebih dekat dengan tanah sehingga air yang masuk bukan hanya dari atas tapi juga dari percikan air yang jatuh ke tanah kemudian memercik hingga masuk ke dalam penakar hujan yang diletakkan (ditanam) di dalam tanah lebih banyak jumlahnya bila dibandingkan dengan jumlah air pada penakar hujan yang diletakkan dengan ketinggian 1,2 m di atas permukaan tanah.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Hujan merupakan salah satu bentuk presipitasi uap air yang berasal dari awan yang terdapat di atmosfer. 2. Dari percobaan yang dilakukan, diperoleh volume air hujan pada penakar hujan yang diletakkan ditanah lebih banyak dibandingkan dengan penakar hujan yang diletakkan dengan ketinggian 1,2 m. 3. Faktor yang mempengaruhi curah hujan adalah uap air di atmosfer, meteorologist, lokasi daerah, dan angin. 4. Pengukuran curah hujan harus dilakukan pada pukul 09.00 pagi, karena data yang diperoleh akan lebih akurat. 5. Curah hujan dapat dikur dengan alat penakar curah hujan yang disebut rain gauge. Saran

Sebaiknya praktikan lebih teliti dalam menghitung data curah hujan agar didapatkan data yang akurat.

PENDAHULUAN Latar Belakang Klasifikasi Iklim adalah Penamaan iklim suatu wilayah berdasarkan pada sifat-sifat yang sama dari faktor penentu iklim atau unsur-unsur iklimnya. Klasifikasi iklim merupakan suatu metode untuk memperoleh informasi iklim di suatu wilayah dalam bentuk yang umum dan sederhana. Klasifikasi iklim dinyatakan dalam bentuk simbol-simbol dan peta iklim sehingga mudah membedakan dan menggunakannya. Klasifikasi iklim sangat berguna untuk mengetahui jenisjenis tanaman atau ternak yang cocok di suatu tempat. Penentuan pola tanaman, perencanaan perkebunan atau peternakan dan lain-lain. Klasifikasi berdasarkan skala wilayah berlakunya dapat dibagi menjadi dua, yaitu: 1. Klasifikasi iklim global (Dunia), misalnya Koppen dan Thronwaithwaite 2. Klasifikasi iklim Regional (Negara), misalnya Mohr, Schmidt-Ferguson dan Oldeman (Ruminta, 2007). Sekarang klasifikasi iklim telah berkembang lebih jauh dan disesuaikan dengan tujuan penggunaannya. Pengumpulan data Iklim pun telah dilakukan dengan lebih akurat, lebih intensif dan lebih tersebar(ekstensif). Alat-alat yang digunakan juga semakin canggih sehingga lebih menjamin akurasi dan objektivitas pengukuran. Data iklim dalam jumlah besar (hasil pengukuran untuk jangka waktu yang lama dan intensif) dapat diolah dan disimpan dengan menggunakan perangkat elektronik yang canggih data logger dan komputer. Pengukuran tidak hanya dilakukan pada kondisi iklim dekat dengan permukaan bumi (sebagaiman data yang dicatat pada stasiun klimatologi konvensional) tetapi juga pengukuran dapat dilakukan pada lapisan atmosfer yang lebih tinggi dengan menggunakan satelit (Lakitan, 2002). Iklim bumi ditentukan oleh interaksi suatu perangkat kompleks dari kendali-kendali iklim. Perbedaan besar dalam hal pemanasan antara lintang yang rendah dan lintang yang tinggi peranannya sangat mendasar, karena mendorong aliran laut dan atmosfer yang menyangkut panas dari lintang rendah kelintang yang tinggi. Namun demikian pola alirannya sangatlah dipengaruhi oleh penggeseran lintang dari zona pemanasan maksimum yang terjadi seiring dengan pergerakan musim, oleh sebaran kontinen dan lautan serta oleh lokasi terain-terain yang menonjol. Disamping itu banyak sifat dan keadaan geografis lokal meski kecil tetapi juga memberikan andil yang penting pada iklim (Threwartha dan Horn, 1995). Tujuan Adapun tujuan dari praktikum ini adalah: 1. Menentukan tipe iklim menurut klasifikasi Koppen 2. Menentukan tipe iklim menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson

3. Menentukan tipe iklim menurut Klasifikasi Oldeman TINJAUAN PUSTAKA Iklim merupakan kebiasaan alam yang digerakkan oleh beberapa gabungan dari unsur yaitu radiasi matahari, temperatur, kelembaban, awan, presifikasi, evaporasi, tekanan udaradan angin. Unsur-unsur itu berbeda pada tempat yang satu dengan tempat yang lainnya. Perbedaan itu disebabkan karena adanya faktor iklim, yaitu: 1. Ketinggian tempat 2. Latitude atau garis lintang 3. Daerah tekanan 4. Arus laut dan 5. Permukaan tanah (Kartasapoetra, 1993). Secara garis besar masalah iklim meliputi unsur-unsur sebagai berikut: 1. Letak geografis dan bentuknya 2. Matahari (meliputi gari edar, cahaya dan panas) 3. Angin/udara (meliputi arah, kecepatan dan temperatur) 4. Curah hujan (meliputi kemiringan, lebat) Iklim pada setiap tempat berbeda sesuai dengan posisinya di bumi ini. Meskipun secara makro sama tetapi secara mikro dapat berbeda. Iklim makro dipengaruhi oleh lintasan matahari, posisi dan model geografis yang mengakibatkan pengaruh pada cahaya matahari dan pembayangan serta hal-hal lain pad kawasan tersebut, misalnya radiasi panas, pengerakan udara, curah hujan, kelembaban udara dan temperatur udara (Annonimous, 2008). Adapun kontrol iklim terdiri atas rotasi bumi, adanya daratan dan lautan, gerakan air samudera dan revolusi bumi. Di luar itu masih ada tambahan lagi dengan perincian; Lintang tempat, penghalang alami (penggunungan) tekanan udara yang permanen atau semi permanen dan prahara (Daljoeni, 1986). Dasar Klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson (1951) adalah rata-rata curah hujan bulanan (seperti klasifikasi mohr) yang dikelompokkan menjadi tiga yaitu, BB (Bulan Basah) dimana curah hujan di atas 100mm/bulan. BL (Bulan Lembab) diman curah hujan antara 60-100mm/bulan dan BK (Bulan Kering) diman curah hujan di bawah 60mm/bulan. Rata-rata BB dan BK kemudian dimasukkan dan dinyatakan sebagai Q. Q adalah rata-rata dari BK dibagi dengan rata-rata dari BB kemudian dikali dengan 100% (Ruminta, 2001). Dasar klasifikasi iklim Mohr adalah rata-rata curah huajn bulanan yang dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: Bulan Basah (BB) dimana curah hujan diatas 100mm/bulan. Bulan Lembab (BL) diman curah hujan diantara 60-100mm/bulan dan Bulan Kering (BK) diman curah hujan di bawah 60mm/bulan. Perhitunagan bulan basah bulan lembab menurut Mohr adalah dengan menghitung dulu rata-rata curah hujan bulanan tersebut kemudian dipilah-pilah menjadi bulan basah, bulan lembab dan bulan kering. Klasifikasi iklim Oldeman disebut juga dengan istilah lain yaitu Peta Agriklimait. Dasar klasifikasi Oldeman adalah curah hujan bulanan yang dikelompokkan menjadi Bulab Basah (BB), Bulan Lembab (BL) dan Bulan Kering (BK). Dalam klasifikasi tersebut kriteria BB dan BK dikaitkan dengan kebutuuhan air (ETP) tanaman pangan. Kriteria BB, BL dan BK menurut Oldeman, yaitu: 1 . Bulan Basah (BB) yaitu curah hujan di atas 200mm/bulan (kebutuhan minimum untuk padi sawah). 2. Bulan Lembab (BL) yaitu curah hujan antara 100-200mm/bulan (kebutuhan minimum untuk

tanaman palawija). 3. Bulan Kering (BK) yaitu curah hujan di bawah 100mm/bulan (tidak cocok untuk tanaman pangan). (Ruminta, 2001). METODE PRAKTIKUM Waktu dan tempat Adapun praktikum ini yang berjudul Klasifikasi Iklim dilaksanakan pada hari Jumat, 17 April 2009 pukul 14.00 wib sampai dengan selesai, dilakukan di ruang 202, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Bahan dan Alat Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum adalah Data Curah Hujan Bulanan di Stasiun Gunung Mas pada Tahun 1989-2001 sebagai objek yang dihitung Adapun alat yang digunakan dalam praktikum adalah 1. Kalkulator sebagai alat untuk menghiitung data. 2. Alat tulis sebagai alat untuk menulis. 3. Buku data sebagai alat untuk menyalin data. Prosedur 1. Disiapkan bahan dan alat 2. Dihitung Data Curah Hujan Bulanan di Stasiun Gunung Mas Tahun 1989-2001 3. Dihitung rata-ratanya 4. Dibuat Pembahasahnya dan disalin ke dalam buku data. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tabel Data Curah Hujan Bulanan di Stasiun Gunung Mas Tahun 1989-2001 Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jumlah JBK JBB 1989 500 525 363 268 407 237 194 262 86 280 287 484 3893 0 12 1990 402 309 176 295 199 141 149 226 137 129 143 411 2117 0 12 1991 896 462 195 267 256 157 149 284 188 178 145 547 3724 0 12 1992 465 681 307 574 192 151 203 264 327 422 239 483 4308 0 12 1993 511 265 372 349 146 242 59 166 49 225 348 426 3158 2 10 1994 600 294 304 362 168 41 7 43 101 114 377 321 2732 3 9 1995 495 659 466 274 127 221 20 0 121 316 460 357 3516 2 10 1996 545 229 30 40 69 81 139 133 296 260 357 453 3732 2 8 1997 646 312 194 380 286 8 10 28 0 36 333 641 2874 5 7 1998 813 753 946 214 101 76 78 85 177 250 437 602 4568 0 9 1999 595 184 238 327 237 133 101 110 80 322 478 321 2926 0 11 2000 757 591 313 454 456 116 170 39 77 39 393 408 3816 2 9 2001 815 919 570 495 272 163 124 51 193 451 475 70 4598 1 10 Rataan 605 483,3 344,1 330,1 224,3 135 107,9 130 144,6 232,4 346,7 424,9 2981,9 1,3 10 BK/BB 0 1/12 1/12 0 2/9 2/8 4/8 5/7 2/8 2/11 0 0 - - 10

Keterangan : BK/BB : Bulan Kering/Bulan Basah JBK : Jumlah Bulan Kering JBB : Jumlah Bulan Basah

Pembahasan Daerah Gunung Mas Menurut Koppen termasuk tipe iklim Hujan Tropis dan Menurut ScmidtFerguson Nilai Q : 138% Tipe iklim: A (sangat basah) karena Q < 14,3. Sedangkan Menurut Oldeman: Jumlah Bulan Basah berturut-turut: 93 Bulan. Jumlah Bulan Kering berturut-turut: 26 Bulan. Masa pertumbuhan tanaman: 35-37 Bulan. Tipe iklim: A (iklim basah (5-6) dan kering (2-3) Keterangan tipe Agroklimat: Bulan Basah : Curah hujan lebih dari 200mm Bulan Kering : Curah hujan kurang dari 100mm Tanaman yang sesuai adalah padi karena periode tumbuh +/- 35 bulan sampai 37 bulan. Sesuai dengan literatur dari Kartasapoetra (1993), ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi iklim, yaitu: 1. Ketinggian tempat 2. Latitiude/garis lintang Daerah tekanan 3. Daerah tekanan 4. Permukaan tanah dan 5. Arus laut Iklim disetiap tempat akan berbeda-beda sesuai dengan muka posisi bumi. Meskipun secara makro sama tetapi secara mikro dapat berbeda. Iklim makro dipengaruhi oleh lintasan matahari, posisi dan model geografis yang mengakibatkan pengaruh pada cahaya matahari dan pembayangan serta hal-hal lain pada kawasan tersebut. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Tipe Iklim di Daerah Gunung Mas menurut Koppen adalah iklim hujan Tropis 2. Tipe Iklim di Daerah Gunung Mas menurut Oldeman adalah tipe A (iklim basah) 3. Tipe Iklim di Daerah Gunung Mas menurut Schmidt-Ferguson adalah A (sangat bash) karena Q < 14,3 4. Nilai Q menurut Schmidt-Ferguson adalah 13,8 % 5. Jumlah Bulan Basah menurut Oldeman adalah 93 bulan 6. Jumlah Bulan kering Menurut Oldeman adalah 35-37 bulan 7. Tanaman yang sesuai untuk daerah beriklim hujan tropis adalah padi

Saran Diharapkan kepada seluruh Praktikan agar lebih teliti dalam menjalankan prosedur agar hasil yang diperoleh menjadi lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR TABEL Tabel 1. Pengukuran Suhu Dan Kelembapan Udara Pada Padang Rumput Waktu TBK (oC) TBB (oC) RH (%) oC 0 35 34 93 35 10 33 27 61 33 20 33 26 56 33 30 33 26 56 33 Rata-rata 33.5 28.25 66.5 33.5 Tabel 2. Pengukuran Suhu Dan Kelembapan Udara Pada Parking Blok Waktu TBK (oC) TBB (oC) RH (%) oC 0 34 32 56 34 10 32 26 61 32 20 32 26 61 32 30 32 26 61 32 Rata-rata 32.5 27.5 67.25 32.5 Tabel 3. Pengukuran Suhu Dan Kelembapan Udara Pada Permukaan Aspal Waktu TBK (oC) TBB (oC) RH (%) oC 0 35 34 93 35 10 33 27 61 33 20 33 26 56 33 30 33 26 56 33 Rata-rata 33.5 28.25 66.5 33.5

Tabel 4. Pengamatan Suhu dan Kelembaban di Bawah Tegakan Mahoni (Swietenia mahagoni). Waktu (menit) TBK (oC) TBB (oC) RH (%) T (oC) 0 33 32 93 33 10 31 26 66 31 20 31 25 60 31 30 30 25 65 30 Rata-rata 31,25 27 71 31,25

Tabel 5. Pengamatan Suhu dan Kelembaban di Bawah Tegakan Jati ( Tectona grandis) Waktu (menit) TBK (oC) TBB (oC) RH (%) T (oC) 0 30 26 72 30 10 31 26 66 31 20 29 25 71 29 30 29 25 71 29 Rata-rata 29,75 25,5 70 29,75

Tabel 6. Pengamatan Suhu dan Kelembaban di Bawah Tegakan Sawit (Elaeis guineensis) Waktu (menit) TBK (oC) TBB (oC) RH (%) T (oC) 0 30 29 93 30 10 33 26 56 33 20 32 25 55 32 30 33 26 56 33 Rata-rata 32 26,5 64,5 32

Tabel 1 hasil pengukuran suhu dan kelembaban pada berbagai ketinggian pada pukul 06.00 07.00 Wib Tanggal Ketinggian ( meter ) Keterangan 1 meter 2 meter 4 meter 6 meter 8 meter T RH T RH T RH T RH T RH 09/04/10 24 106 24 83 25 84 25 76 24 92 Saga 11/04/10 26 84 26 84 25 76 24 68 24 68 Saga 12/04/10 22 100 23 91 24 100 22 80 22 80 Saga 13/04/10 24 83 24 83 23 91 22 91 22 91 Mahoni 14/04/10 24 92 24 92 23 83 24 83 23 83 Mahoni 15/04/10 24 83 24 83 23 91 22 91 22 91 Mahoni 16/04/10 25 84 24 83 24 75 25 76 24 75 Jati 17/04/10 24 92 24 92 23 83 25 83 23 83 Jati 18/04/10 25 84 24 75 24 83 23 83 22 91 Jati 19/04/10 26 84 25 76 24 80 23 83 22 80 Saga Tabel 2 hasil pengukuran suhu dan kelembaban pada berbagai ketinggian pada pukul 12.00 13.00 Wib

Tanggal Ketinggian ( meter ) Keterangan 1 meter 2 meter 4 meter 6 meter 8 meter T RH T RH T RH T RH T RH 09/04/10 33 61 34 74 34 74 34 68 34 68 Saga 11/04/10 32 61 33 61 34 68 34 62 34 68 Saga 12/04/10 33 61 33 56 34 68 34 62 34 62 Saga 13/04/10 31 66 31 66 32 61 32 61 33 61 Mahoni 14/04/10 32 86 31 61 32 61 32 55 32 61 Mahoni 15/04/10 31 66 31 54 32 61 33 61 33 61 Mahoni 16/04/10 32 85 32 85 32 61 36 58 36 58 Jati 17/04/10 32 85 32 73 32 61 35 58 35 58 Jati 18/04/10 31 66 31 54 31 60 31 54 31 54 Jati 19/04/10 32 55 32 55 35 58 35 58 35 58 Saga Tabel 3 hasil pengukuran suhu dan kelembaban pada berbagai ketinggian pada pukul 18.00 19.00 Wib Tanggal Ketinggian ( meter ) Keterangan 1 meter 2 meter 4 meter 6 meter 8 meter T RH T RH T RH T RH T RH 09/04/10 30 74 34 74 32 61 33 56 34 56 Saga 11/04/10 33 61 33 61 32 73 33 61 33 61 Saga 12/04/10 32 61 33 56 34 68 34 62 34 62 Saga 13/04/10 31 66 31 54 31 60 31 54 31 54 Mahoni 14/04/10 32 86 32 61 32 61 32 85 32 61 Mahoni 15/04/10 33 61 32 61 33 67 32 61 33 61 Mahoni 16/04/10 35 58 30 61 32 55 31 72 31 60 Jati 17/04/10 35 58 30 61 33 67 32 61 32 61 Jati 18/04/10 32 85 32 85 32 73 31 72 31 60 Jati 19/04/10 31 60 31 66 31 66 30 65 30 65 Saga

Tabel 10. Data Suhu udara di siborong-borong, kabupaten tapanuli Utara januari 2009 T max T min Rata-rata T 07.30 T 13.30 T 17.30 Rataan 29 25 27 26.5 29.5 27 27.38

30 24 27 22.5 33 26.5 26.12 32.5 25 28.5 22 29 22.5 23.88 31 24 27.5 20.8 28 22 22.9 32 29 30.5 27 31 20.8 26.45 29.5 28 28.75 27 31 27 28 29 22.5 25.75 27 31.5 27 28.13 30.5 22 26.25 25 31 29 27.5 31 20.8 25.9 26 30 27 26.6 31 27 29 26.5 29.5 29 27.9 29 27 28 22.5 28 29.5 25.6 29.5 27 28.25 22 29 26 24.75 31 25 28 20.8 30 27 24.65 32 26 29 27 31.5 27 28.12 32 26.5 29.25 27 31 24 27.25 32 22.5 28 27 29 25 27 32 22 27 25 29.6 24 28.8 32 20.8 26.4 26 29 25 26.5 29 27 28 26.5 29.6 24 26.62 30 27 28.5 27 29 29 27.75 31.5 27 29.25 27 29.5 28 25.83 31 25 28 25 28 22.5 24.58 29 26 27.5 22.4 29 22 24.45 29.5 26.5 28 23 30 20.8 26.25 29 27 28 24.5 31.5 27 26.42 30.5 27 28.75 26 31 27 26.42 31 27 29 27 29 27 27.5 31 25 28 22 30.5 26 25.12 29 26 27.5 25 31 26.5 26.8 29.5 26.5 28 21 30 22.5 23.6 30.5 25.37 28.65 24.8 29.85 24.72 26.32

Tabel 11. Data kelelembaban Udara di Siborong-borong, Kabupaten Tapanuli Utara, Januari 2009 RH 06 00 RH 09 .00 RH 12 .00 RH 15 .00 RH 18 .00 RH 21 .00 RH 24 .00 RH 03 .00 RH X

siang RH X malam RH X rata-rata 91 86 75 65 71 86 85 92 78.5 83.8 81.3 85 87 78 64 70 87 86 91 78 83.6 80 84 87 79 63 70 87 87 93 82 84.4 81 85 87 77 62 70 87 88 92 77 84.6 71.8 86 85 73 68 69 85 90 91 79.5 85.4 80.3 87 89 74 65 68 89 91 91 78 85.4 80.9 88 88 75 63 67 88 90 86 76.5 83.8 78.29 90 86 76 64 65 86 89 83 77 82.8 79.4 91 87 77 65 67 85 87 82 81 82.2 79.9 90 80 78 64 65 84 87 91 77.5 83.2 79.54 89 91 79 62 68 85 85 92 77 84.4 71.9 92 85 80 68 69 86 89 90 80 85 82 91 84 75 65 66 87 88 91 78 85 80.4 93 85 75 63 68 88 86 92 78 85.2 81.1 92 86 78 64 69 90 87 92 78 85.8 81.9 91 87 73 65 70 91 86 89 78 85.4 81.5 91 88 74 64 64 90 89 88 77.6 83 71.5 84 90 75 62 65 89 88 89 76 82.8 79.1 83 91 76 68 68 87 86 90 79.5 82.6 80 82 90 77 65 63 87 85 90 76.5 83.2 78.4 91 89 78 63 67 85 84 91 77 82.1 80.6 84 87 79 64 66 89 85 91 77.5 83.2 79.5 85 87 80 65 56 88 86 92 74 81.6 78 86 85 75 64 53 86 87 93 73 87.2 76.8 87 89 75 62 68 87 88 94 78 87.2 80.5 88 88 78 68 69 85 90 90 79 84.8 81.3 90 86 70 65 70 86 91 92 78.5 85.6 80.8 91 87 71 63 64 85 90 96 79.5 85 80.2 90 86 72 64 65 86 89 92 78 84.2 79.9 89 88 73 63 68 87 87 95 79 85.6 80.7 88.2 87.4 75.83 64.33 66.6 86.87 87.53 90.63 63.89 84.24 -

Tabel 12. Data evapotranspirasi pada kelompok 1 No. Jenis Berat Bibit Waktu ( menit )

BK BA BB 1.

Mangga (Mangifera indica) 1,8 kg 2,25 kg 2,25 kg 2 kg 2 kg 1,95 kg 1,9 kg 1,89 kg 10 20 30 40 50 60 Tabel 13. Data evapotranspirasi pada kelompok 2 No. Jenis Berat Bibit Waktu ( menit ) BK BA BB 1.

Nangka (Arthocarpus integra) 2 kg 2,25 kg 2,25 kg 2 kg 1,98 kg 1,98 kg 1,996 kg 1,995 kg 10 20 30 40 50 60 Tabel 14. Data evapotranspirasi pada kelompok 3

No. Jenis Berat Bibit Waktu ( menit ) BK BA BB 1.

Rambutan (Nephelium lappaceum) 2,5 kg 2,6 kg 2,6 kg 2,4 kg 2,2 kg 2 kg 1,8 kg 1,8 kg 10 20 30 40 50 60 Tabel 15. Data evapotranspirasi pada kelompok 4 No. Jenis Berat Bibit Waktu ( menit ) BK BA BB 1.

Durian (Durio ziberthinus) 2,2 kg 2,35 kg 2,35 kg 2,3 kg 2,1 kg 2 kg 2 kg 1,98 kg 10 20 30 40 50 60

Tabel 16. Data evapotranspirasi pada kelompok 5 No. Jenis Berat Bibit Waktu ( menit ) BK BA BB 1.

Jambu monyet (Eugenia spp) 1,5 kg 2,2 kg 2,2 kg 2,1 kg 2 kg 2 kg 1,95 kg 1,9 kg 10 20 30 40 50 60 Tabel 17. Data evapotranspirasi pada kelompok 6 No. Jenis Berat Bibit Waktu ( menit ) BK BA BB 1.

Alpukat (Persea Americana) 1,9 kg 1,95 kg 1,91 kg 1,89 kg 1,89 kg 1,89 kg 1,86 kg 1,85 kg 10 20 30 40 50

60 Tabel 18. Data evapotranspirasi pada kelompok 7 No. Jenis Berat Bibit Waktu ( menit ) BK BA BB 1.

Kueni (Mangifera odorata) 1,7 kg 2,23 kg 2,23 kg 2,2 kg 2,2 kg 2 kg 2 kg 1,95 kg 10 20 30 40 50 60 Tabel 19. Data evapotranspirasi pada kelompok 8 NO. JENIS BERAT BIBIT WAKTU ( MENIT ) BK BA BB 1.

ALPUKAT (PERSEA AMERICANA) 1,75 kg 1,9 kg 1,9 kg 1,88 kg 1,87 kg 1,86 kg 1,86 kg 1,86 kg 10 20 30 40 50 60

Tabel 20. Data evapotranspirasi pada kelompok 9 No. Jenis Berat Bibit Waktu ( menit ) BK BA BB 1.

Sukun (Arthocarpus communis) 1,9 kg 2,25 kg 2,25 kg 2,20 kg 2,15 kg 2 kg 1,98 kg 1,98 kg 10 20 30 40 50 60 Tabel 21. Data curah hujan pada ketinggian 1,2 m di atas tanah No. Tanggal Waktu Lama Hujan (jam) Curah Hujan Intensits Curah Hujan Volume Hujan Volume Kumulatif 1. 17-03-2009 09.00 3 12 4 240 240 2. 18-03-2009 09.00 1,5 7 4,7 140 380 3. 19-03-2009 09.00 2 7,25 3,6 145 525 4. 20-03-2009 09.00 1 5,5 5,5 110 635 5. 21-03-2009 09.00 2 7 3,5 140 775 6. 22-03-2009 09.00 1,5 5,5 3,7 110 885 7. 23-03-2009 09.00 2 6 3 120 1005

Tabel 22. Data curah hujan di tanah No. Tanggal Waktu Lama Hujan (jam) Curah Hujan Intensits Curah Hujan Volume Hujan Volume Kumulatif 1. 17-03-2009 09.00 3 12,5 4,1 250 20 2. 18-03-2009 09.00 1,5 7,5 5 150 400 3. 19-03-2009 09.00 2 7,25 7,6 145 545 4. 20-03-2009 09.00 1 6 6 120 665

5. 21-03-2009 09.00 2 7 3,5 140 805 6. 22-03-2009 09.00 1,5 6 4 120 925 7. 23-03-2009 09.00 2 6 3 130 1055

Tabel 24. Data Curah Hujan Bulanan di Stasiun Gunung Mas Tahun 1989-2001 Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jumlah JBK JBB 1989 500 525 363 268 407 237 194 262 86 280 287 484 3893 0 12 1990 402 309 176 295 199 141 149 226 137 129 143 411 2117 0 12 1991 896 462 195 267 256 157 149 284 188 178 145 547 3724 0 12 1992 465 681 307 574 192 151 203 264 327 422 239 483 4308 0 12 1993 511 265 372 349 146 242 59 166 49 225 348 426 3158 2 10 1994 600 294 304 362 168 41 7 43 101 114 377 321 2732 3 9 1995 495 659 466 274 127 221 20 0 121 316 460 357 3516 2 10 1996 545 229 30 40 69 81 139 133 296 260 357 453 3732 2 8 1997 646 312 194 380 286 8 10 28 0 36 333 641 2874 5 7 1998 813 753 946 214 101 76 78 85 177 250 437 602 4568 0 9 1999 595 184 238 327 237 133 101 110 80 322 478 321 2926 0 11 2000 757 591 313 454 456 116 170 39 77 39 393 408 3816 2 9 2001 815 919 570 495 272 163 124 51 193 451 475 70 4598 1 10 Rataan 605 483,3 344,1 330,1 224,3 135 107,9 130 144,6 232,4 346,7 424,9 2981,9 1,3 10 BK/BB 0 1/12 1/12 0 2/9 2/8 4/8 5/7 2/8 2/11 0 0 - - 10 Keterangan : BK/BB : Bulan Kering/Bulan Basah JBK : Jumlah Bulan Kering JBB : Jumlah Bulan Basah