Anda di halaman 1dari 27

PEMUNGUTAN & PENYETORAN PAJAK DANA BANTUAN SOSIAL

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, NON FORMAL DAN INFORMAL

Bekerja sama dengan


DIREKTORAT PENYULUHAN PELAYANAN DAN HUMAS DIREKTORAT JENDERAL PAJAK DEPARTEMEN KEUANGAN
Selong, 25 September 2012
1

SKEMA BANTUAN PENDIDIKAN NASIONAL APBN


Dana Bantuan Luar Negeri
-DANA ALOKASI UMUM -BAGI HASIL -DANA ALOKASI KHUSUS

KEMDIKNAS
BANTUAN

APBD

LEMBAGA/YAYASAN/ KOMITE SEKOLAH


KEGIATAN KEGIATAN KEGIATAN

SISWA

PKBM MILIK PEMERINTAH

BEA SISWA

KEGIATAN

KEGIATAN

KEGIATAN

PERLAKUAN PERPAJAKAN ATAS BANTUAN SOSIAL YG MERUPAKAN PROGRAM DITJEN PAUDNI


KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

BANTUAN/ SUBSIDI DARI APBN (Rp)

BUKAN OBJEK PPh & PPN


Penjelasan Pasal 4 ayat (3) UU PPh Pasal 4 UU PPN

1. ORANG PRIBADI 2. PKBM(MILIK YAYASAN/PEMERINTAH

Penjelasan Pasal 4 ayat (3) huruf a UU PPh

Bantuan atau sumbangan bagi pihak yg menerima bukan merupakan objek pajak sepanjang diterima tdk dlm rangka hubungan kerja, hubungan usaha, hubungan kepemilikan atau hubungan pengusaan antara pihakpihak yg bersangkutan Harta hibahan bagi pihak yg menerima bukan merupakan objek pajak apabila diterima keluarga sedarah dlm garis keturunan lurus satu sederajat, dan oleh badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial termasuk yayasan atau pengusaha kecil termasuk koperasi yg ditetapkan Menkeu, sepanjang diterima tidak dalam rangka hubungan kerja, hubungan usaha, hubungan kepemilikan, atau hubungan penguasaan antara pihak-pihak yg bersangkutan.

Pasal 4A UU PPN
Jenis Barang / Jasa tidak dikenai PPN adalah : makanan / minuman , jasa pendidikan

PERLAKUAN PERPAJAKAN ATAS BANSOS PROGRAM DARI DITJEN PAUDNI KEMDIKNAS


BANTUAN SOSIAL DARI APBN YG BUKAN UTK BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH (BOS) (Rp)

Lembaga/Yayasan/Organisasi

PKBM/Sekolah

Milik Swasta

Milik Pemerintah

Orang Pribadi (beasiswa)

Kegiatan
Yg berakibat ada pembayaran Kepada rekanan/Pihak ke-3

Kegiatan
Yg berakibat ada pembayaran Kepada rekanan

Belajar

Wajib Potong PPh Ps 21, Ps. 23, Ps. 4 ayat (2)

Wajib Potong & Pungut PPh 21, Ps 22 Ps.23, Ps 4 ayat (2) & PPN

Tidak Dipotong PPh dan tidak Dipungut PPN


5

BANTUAN APBN/APBD
DIKELOLAH

INSTANSI PEMERINTAH PUSAT/DAERAH (PKBM MILIK PEMERINTAH) MELALUI SUATU KEGIATAN

BENDAHARA/PEMEGANG KAS WAJIB MELAKUKAN PEMOTONGAN DAN PEMUNGUTAN PAJAK PUSAT

BANTUAN APBN/APBD
DIKELOLAH

BADAN ANTARA LAIN YAYASAN ATAU ORGANISASI (PKBM SWASTA- NON PEMERINTAH) MELALUI SUATU KEGIATAN

KEWAJIBAN YG TELAH ADA SEJAK BADAN (YAYASAN/ORG) ITU BERDIRI & MEMILIKI NPWP

WAJIB MELAKUKAN PEMOTONGAN PAJAK PUSAT

ASPEK PERPAJAKAN ATAS PKBM/FK PKBM/ RINTISAN PKBM/YAYASAN


1. YAYASAN/PKBM/FK PKBM/RINTISAN PKBM ADALAH WAJIB PAJAK BADAN YANG WAJIB MEMILIKI NPWP

DASAR HUKUM PASAL 1 BUTIR 3 UU NO.16 THN 2009 TENTANG PERUBAHAN UU NO.6 THN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.

PASAL 2 AYAT (1) UU NO.16 THN 2009 TENTANG PERUBAHAN UU NO.6 THN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

Setiap Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak dan kepadanya diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak.
Syarat

badan

subjektifnya yaitu memenuhi syarat subjek pajak menurut UU PPh yaitu subjek pajak Objektifnya yaitu subjek pajak tsb menerima penghasilan atau diwajibkan utk

Syarat

melakukan pemotongan/pemungutan sesuai UU PPh

KEWAJIBAN PERPAJAKAN PKBM/FK PKBM/ RINTISAN PKBM/YAYASAN


2. MELAKSANAKAN KEWAJIBAN PERPAJAKAN SEBAGAI WAJIB PAJAK BADAN

MEMOTONG PAJAK PENGHASILAN 1. PPh Pasal 21 2. PPh Pasal 4 ayat (2) DASAR 3. PPh Pasal 23 4. PPh Pasal Pasal 26 5. Bea Materai

HUKUM UU PPh

MENYETOR PPh YANG TELAH DIPOTONG KE BANK PERSEPSI ATAU KANTOR POS MELAPORKAN HASIL PEMOTONGAN DAN PENYETORAN KE KANTOR PELAYANAN PAJAK

KETENTUAN KEWAJIBAN NPWP BAGI PKBM/FK PKBM/ SUB GUGUS/YAYASAN


PKBM/SUB GUGUS (PENGELOLANYA DINAS PENDIDIKAN SETEMPAT)

YAYASAN/PKBM SWASTA

WAJIB MEMILIKI NPWP PADA SAAT DIDIRIKAN DGN MENDAFTARKAN KE KPP/KP2KP, WAJIB MEMILIKI NPWP DGN MENDAFTARKAN KE KANTAR PELAYANAN PAJAK (KPP) ATAU KANTOR PELAYANAN & PENYULUHAN & KONSULTASI PAJAK (KP2KP), TAS NAMA BENDAHARA SUB GUGUS.... 1. ATAS NAMA PKBM ..; ATAU Catatan : SETIAP YAYASAN YG SAMA TETAPI BERADA DI WILAYAH KPP YG BERBEDA, WAJIB MENDAFTAR & MEMILIKI NPWP SBG CABANG

2. ATAS NAMA YAYASAN PENDIDIKAN ..

SEBAGAI WAJIB PAJAK PEMUNGUT

SEBAGAI WAJIB PAJAK BADAN (YAYASAN TERMASUK DI CABANGNYA) YG DIBERIKAN KEWAJIBAN PERPAJAKAN OLEH UU SEBAGAI HANYA PEMOTONG PAJAK

10

OBJEK PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN PAJAK YG DILAKUKAN BENDAHARA PKBM/SUB GUGUS (BINAAN/DIDANAI DINAS PENDIDIKAN SETEMPAT)

PPh Pasal 21

: Pemotongan atas penghasilan yg dibayarkan kepada org pribadi sehubungan dengan pekerjaan jabatan, jasa & kegiatan. sehubungan jasa tertentu & sumber tertentu misalnya antara lain sewa tanah dan/atau bangunan.

PPh Pasal 4 ayat (2) : Pemotongan atas penghasilan yg dibayarkan PPh Pasal 22 PPh Pasal 23 PPN dan PPnBM Bea Materai *
: Pemungutan atas penghasilan yg dibayarkan sehubungan dengan pembelian Barang.

: Pemotongan atas penghasilan yg dibayarkan berupa hadiah, bunga, deviden, sewa, royalty dan jasa-jasa lainnya selain Objek PPh Psl 21. : Pemungutan atas pajak konsumsi yg dibayar sendiri sehubungan penyerahan Barang Kena Pajak & Jasa Kena Pajak. : Pembayaran atas pemanfaatan dokumen2 tertentu.

*DISETOR SENDIRI OLEH BENDAHARA PKBM/SUB GUGUS


11

OBJEK PEMOTONGAN PAJAK YG DILAKUKAN PKBM SWASTA SEBAGAI BADAN (YAYASAN)


: Pemotongan atas penghasilan yg dibayarkan kepada org pribadi sehubungan dengan pekerjaan jabatan, jasa & kegiatan. PPh Pasal 4 ayat (2): Pemotongan atas penghasilan yg dibayarkan sehubungan jasa tertentu & sumber tertentu misalnya antara lain sewa tanah dan/atau bangunan.

PPh Pasal 21

PPh Pasal 23
Bea Materai *

: Pemotongan atas penghasilan yg dibayarkan berupa hadiah, bunga, deviden, sewa, royalty dan jasa-jasa lainnya selain Objek PPh Psl 21. : Pembayaran atas pemanfaatan dokumen tertentu.

*DISETOR SENDIRI OLEH PIHAK YAYASAN/PKBM SWASTA

12

MENGAPA YAYASAN, PKBM SWASTA, TIDAK DIWAJIBKAN MEMUNGUT PPh PASAL 22 ?


JAWABANNYA
BUNYI UU NO.36 TH 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANGUNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

(1) Menteri Keuangan dapat menetapkan : a. bendahara pemerintah untuk memungut pajak sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang ;
Penjelasan Pasal 22 Berdasarkan ketentuan ini yang dapat ditunjuk sebagai pemungut pajak adalah : Bendahara pemerintah, termasuk bendahara pada Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, instansi atau lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga negara lainnya, berkenaan dengan pembayaran atas penyerahan barang. termasuk juga dalam pengertian bendahara adalah pemegang kas dan pejabat lain yang menjalankan fungsi yang sama;
13

"Pasal 22

MENGAPA PKBM SWASTA, YAYASAN SWASTA, LEMBAGA SWASTA LAINNYA TIDAK DIWAJIBKAN MEMUNGUT PPN ?
JAWABANNYA BUNYI UU NO.42 TH 2009 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1983 TENTANG PPN DAN PPnBM "Pasal 16A (1) Pajak yang terhutang atas penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak kepada Pemungut Pajak Pertambahan Nilai, dipungut, disetor dan dilaporkan oleh Pemungut Pajak Pertambahan Nilai.

(2) Tata cara pemungutan, penyetoran dan pelaporan pajak oleh Pemungut Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan oleh

Menteri Keuangan."

BUNYI KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NO.563/KMK.03/2003 TTG PENUNJUKAN BENDAHARAWAN PEMERINTAH & KPKN UTK MEMUNGUT , MENYETOR & MELAPORKAN PPN & PPnBM BESERTA TATA CARA PEMUNGUTAN, PENYETORAN DAN PELAPORANNYA

Pasal 2 (1) Bendaharawan Pemerintah dan Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara ditetapkan sebagai Pemungut Pajak Pertambahan Nilai.
14

Aspek Perpajakan Atas Kegiatan Peningkatan Mutu Lembaga PKBM/Organisasi Sejenis (Penerimanya Non Pemerintah)
No 1 Kegiatan Penyelenggaraan rapat atau konsultasi atau koordinasi atau pertemuan dlm Rangka restrukturisasi & revitalisasi PKBM Rincian Pembiayaan Uang rapat, uang hadir, uang representasi, uang saku, honorarium Objek pemotongan PPh Pasal 21 Tarif Tarif Pasal 17 ayat (1a) UU PPh dari jumlah bruto Contoh Penghitungan Si A sebagai peserta rapat menerima uang saku Rp 100.000,- maka PPh pasal 21 : 5% x Rp100.000 = Rp5.000 Jika si A tdk ada NPWP tarifnya menjadi 6% -

Uang transport

Tidak dipotong sepanjang memiliki bukti pengeluaran transportasi (ada rincian penggunaan) Tidak dipotong PPh. PPh Pasal 23

Pembelian snack (Konsumsi) dan makanan lainnya Penggunaan jasa catering atau jasa tata boga (di kuitansi disebutkan)

2% dari jumlah bruto

Si B membayar jasa catering sebesar Rp200.000 PPh Pasal 23 : 2% x Rp200.000=Rp4.000 Jika si B tdk ada NPWP tarifnya menjadi 4% -

Pembelian ATK dan penggandaan

No 2

Kegiatan Rencana kerja dan pengembangan PKBM

Rincian Pembiayaan Honorarium sebagai peneliti (pembuat rencana kerja)

Objek pemotongan PPh Pasal 21

Tarif (50% x jumlah bruto) x Tarif Pasal 17 ayat (1a) UU PPh

Contoh Penghitungan Si C sebagai peneliti (pembuat rencana kerja) menerima honorarium Rp 100.000,- maka PPh Pasal 21 (50% x Rp100.000) x 5% = Rp2.500 Jika si C tdk ada NPWP tarifnya menjadi 6% -

Uang transport

Tidak dipotong sepanjang memiliki bukti pengeluaran transportasi (ada rincian penggunaan) -

Pembelian ATK & penggandaan 3 Sarana Pendukung kegiatan PKBM/sekretariat Publikasi, sosialisasi dan layanan informasi PKBM Pembelian ATK & penggandaan serta alat-alat belajar Pembelian ATK dan penggandaan (fotocopy) Honorarium sebagai pembicara /narasumber/ pelatih/pengajar

PPh Pasal 21

(50% x jumlah bruto) x Tarif Pasal 17 ayat (1a) UU PPh

Si D sebagai pembicara menerima honorarium Rp 200.000,- maka PPh Pasal 21 (50% x Rp200.000) x 5% = Rp5.000 Jika si A tdk ada NPWP tarifnya menjadi 6%

Uang transport

Tidak dipotong (ada bukti rincian penggunaan transpot)

No

Kegiatan

Rincian Pembiayaan

Objek pemotongan PPh Pasal 21

Tarif

Contoh Penghitungan

Peningkatan mutu SDM PKBM

Honorarium sebagai peneliti (pembuat rencana kerja)

(50% x jumlah bruto) x Tarif Pasal 17 ayat (1a) UU PPh

Si E sebagai peneliti (pembuat rencana kerja) menerima honorarium Rp 100.000,- maka PPh Pasal 21 : (50% x Rp100.000) x 5% = Rp2.500 Jika si E tdk ada NPWP tarifnya menjadi 6% -

Uang transport

Tidak dipotong sepanjang memiliki bukti pengeluaran transportasi (ada rincian penggunaan) -

Pembelian ATK dan penggandaan

Administrasi dan Pelaporan

Pembelian ATK dan penggandaan (fotocopy)


Uang transport

Tidak dipotong sepanjang memiliki bukti pengeluaran transportasi (ada rincian penggunaan)

Aspek Perpajakan Atas Kegiatan Peningkatan Mutu Kelembagaan Forum Komunikasi PKBM (Penerimanya Non Pemerintah)
No 1 Kegiatan Pelaksanaan kegiatan penyusunan rencana kerja dan direktori PKBM Rincian Pembiayaan Honorarium sebagai peserta/anggota panitia Objek pemotongan PPh Pasal 21 Tarif Jumlah bruto x Tarif Pasal 17 ayat (1a) UU PPh Contoh Penghitungan Si M sebagai panitia rintisan PKBM menerima honorarium Rp 200.000,- maka PPh Pasal 21 : Rp200.000 x 5% =Rp10.000 Jika M tdk ada NPWP, tarif menjadi 6% -

Pembelian snack (Konsumsi) dan makanan lainnya Penggunaan jasa catering atau jasa tata boga (di kuitansi disebutkan)

Tidak dipotong PPh.

PPh Pasal 23

2% dari jumlah bruto

Si N membayar jasa catering sebesar Rp200.000 PPh Pasal 23 : 2% x Rp200.000=Rp4.000 Jika N tdk ada NPWP, tarif menjadi 4% Si O sebagai panitia rintisan PKBM menerima honorarium Rp 200.000,- maka PPh Pasal 21 : Rp200.000 x 5% =Rp10.000 Jika O tdk ada NPWP, tarif menjadi 6% -

Pembelian ATK dan penggandaan 2 Pengumpulan dan validasi data Honorarium sebagai peserta/anggota panitia

PPh Pasal 21

Jumlah bruto x Tarif Pasal 17 ayat (1a) UU PPh

Pembelian ATK dan penggandaan (fotocopy)

No

Kegiatan

Rincian Pembiayaan

Objek pemotongan

Tarif

Contoh Penghitungan

Sarana Pendukung kegiatan forum/ sekretariat

Honorarium sebagai peserta/anggota panitia

PPh Pasal 21

Jumlah bruto x Tarif Pasal 17 ayat (1a) UU PPh

Si P sebagai panitia rintisan PKBM menerima honorarium Rp 200.000,- maka PPh Pasal 21 : Rp200.000 x 5% =Rp10.000 Jika P tdk ada NPWP, tarif menjadi 6% Si Q sebagai pembicara dalam sosialisasi kegiatan PKBM menerima honorarium Rp 200.000,- maka PPh Pasal 21 : (50% x Rp200.000) x 5% = Rp5.000 Jika si Q tdk ada NPWP tarifnya menjadi 6% -

Pembelian ATK dan penggandaan


4 Peningkatan mutu sumber daya Forum Honorarium sebagai pembicara atau pelatih atau narasumber atau sebagai pengajar

PPh Pasal 21

(50% x jumlah bruto) x Tarif Pasal 17 ayat (1a) UU PPh

Pembelian ATK dan penggandaan 5 Administrasi dan Pelaporan Pembelian ATK (flasdisk/disket) dan penggandaan (fotocopy)

Aspek Perpajakan Atas Kegiatan Peningkatan Kapasitas Sub Gugus Tugas Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) (Penerimanya Pemerintah*)
No 1 Kegiatan Sosialisasi, advokasi, RTD, FGD ttg Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang bagi para pengambil kebijakan, stakeholders dan atau masyarakat Luas Rincian Pembiayaan Honorarium pembicara atau nara sumber atau peserta/anggota panitia berstatus PNS atau Anggota TNI/POLRI. Objek pemotongan PPh Pasal 21 Tarif PNS atau anggota Polri Gol.I dan II & Pensiunan: 0% PNS atau anggota Polri Gol.III & pensiunan : 5% PNS atau anggota Polri Gol IV dan pensiunan : 15%

Contoh Penghitungan Si R (Gol III)sebagai pembicara sosialisasi PTPPO menerima honorarium Rp 200.000,maka PPh Pasal 21 : Rp200.000 x 5% =Rp10.000

Jika Non PNS lihat nomor 2 (halaman berikutnya)

Pembelian snack (Konsumsi) & makanan lainnya

Dipungut PPh Pasal 22, khusus pembelian di atas Rp 2 juta

1,5% x jumlah pembelian

pembelian ATK Rp3.000.000 PPh Pasal 22 : 1,5% x Rp3.000.000 = Rp45.000 Jika penjual tdk ada NPWP tarif jadi 3% Memungut PPN juga bila pembelian di atas Rp 1 juta Si S membayar jasa catering sebesar Rp200.000 PPh Pasal 23 : 2% x Rp200.000=Rp4.000 Jika S tdk ada NPWP tarif menjadi 4% Memungut PPN juga bila pembelian di tas Rp 1 juta

Penggunaan jasa catering atau jasa tata boga (di kuitansi disebutkan)

PPh Pasal 23

2% dari jumlah bruto

Pembelian ATK & penggandaan

Dipungut PPh Pasal 22 khusus pembelian di atas Rp 2 juta

1,5% x jumlah pembelian

Jika pembelian ATK Rp3.000.000 PPh Pasal 22 : 1,5% x Rp3.000.000 = Rp45.000 (juga dipungut PPN klu > 1 jt) Jika penjual tdk ada NPWP tarif jadi 3%

*Sub Gugus Tugas PTPPO bukan menunjukan sekumpulan orang, sehingga tidak bisa dibuatin NPWP yg sama NPWP lembaga (organisasi). Karena syarat pendiriannya membutuhkan Surat Keputusan dari pejabat setempat, maka Sub Gugus Tugas PTPPO lebih memenuhi syarat sebagai bagian dari Pemerintah Sehingga NPWP nya dibuati a.n Bendahara Sub Gugus Tugas PTPPO

No 2

Kegiatan Pelatihan untuk meningkatkan kapasitas para pengelola/ anggota di Sub Gugus Tugas PTPPO baik secara kegiatan maupun kapasitas administratif

Rincian Pembiayaan Honorarium pembicara atau nara sumber atau pelatihnya yang berstatus PNS atau anggota TNi & POLRI

Objek pemotongan PPh Pasal 21

Tarif
PNS

Contoh Penghitungan Si T (Gol IV)sebagai pembicara sosialisasi PTPPO menerima honorarium Rp 200.000,- maka PPh Pasal 21 : Rp200.000 x 15% =Rp30.000

atau anggota Polri Gol.I dan II 7 Pensiunan: 0% PNS atau anggota Polri Gol.III & pensiunan : 5% PNS atau anggota Polri Gol IV dan pensiunan : 15% (50% x jumlah bruto) x Tarif Pasal 17 ayat (1a) UU PPh

Honorarium sebagai pembicara atau pelatih atau narasumber atau sebagai pengajar (statusnya bukan PNS/Anggota TNI & POLRI)

PPh Pasal 21

Si U sebagai pembicara dalam sosialisasi kegiatan PKBM menerima honorarium Rp 200.000,- maka PPh Pasal 21 : (50% x Rp200.000) x 5% = Rp5.000 Jika si U tdk ada NPWP tarifnya menjadi 6% Jika pembelian ATK Rp3.000.000 PPh Pasal 22 : 1,5% x Rp3.000.000 = Rp45.000 Jika penjual tdk ada NPWP tarif menjadi 3% Dipungut PPN juga utk pembayaran diatas Rp 1 juta

Pembelian ATK dan penggandaan

Dipungut PPh Pasal 22 Khusus pembelian di atas Rp 2 juta

1,5% x jumlah pembelian

No 3

Kegiatan Operasional dan Pertemuan

Rincian Pembiayaan Uang transport

Objek pemotongan Tidak dipotong sepanjang memiliki bukti pengeluaran transportasi (ada rincian penggunaan) Dipungut PPh Pasal 22

Tarif -

Contoh Penghitungan -

Pembelian ATK dan penggandaan

1,5% x jumlah pembelian

Khusus yg pembeliannya diatas Rp 2 juta & pungut PPN jika pembeliannya diatas 1 juta Khusus pembelian diatas Rp 2 juta. Dan pungut PPN khusus pembelian diatas Rp 1juta Si V membayar jasa catering sebesar Rp200.000 PPh Pasal 23 : 2% x Rp200.000=Rp4.000 Jika V tdk ada NPWP, tarif menjadi 4%. Pungut PPN juga apabila diatas Rp 1 juta Jika pembelian ATK Rp3.000.000 PPh Pasal 22 : 1,5% x Rp3.000.000 = Rp45.000 Jika penjual tdk ada NPWP tarif menjadi 3%. Juga dipungut PPN jika diatas Rp 1 juta Si W (Gol III)sebagai pembicara sosialisasi PTPPO menerima honorarium Rp 200.000,- maka PPh Pasal 21

Pembelian snack (Konsumsi) dan makanan lainnya Penggunaan jasa catering atau jasa tata boga (di kuitansi disebutkan)

Dipungut PPh Pasal 22.

1,5% x jumlah pembelian

PPh Pasal 23

2% dari jumlah bruto

Pendataan sasaran, potensi daerah dan permasalaha n perdagangan orang/ESA

Pembelian ATK (flasdisk/disket) dan penggandaan (fotocopy)

Dipungut PPh Pasal 22

1,5% x jumlah pembelian

Honorarium peserta/anggota panitia yang berstatus PNS

PPh Pasal 21

PNS

atau anggota Polri Gol.I dan II & Pensiunan: 0%

Aspek Perpajakan Atas Kegiatan Peningkatan Mutu Lembaga Rintisan PKBM (Penerimanya Non Pemerintah)
No Kegiatan Rincian Pembiayaan Objek pemotongan PPh Pasal 21 Tarif Contoh Penghitungan

Pengadaan/ pengurusan dokumen

Honorarium sebagai peserta/anggota panitia

Jumlah bruto x Tarif Pasal 17 ayat (1a) UU PPh

Si F sebagai panitia rintian PKBM menerima honorarium Rp 200.000,maka PPh Pasal 21 : Rp200.000 x 5% =Rp10.000 Jika si F tdk ada NPWP tarifnya menjadi 6% -

Uang transport

Tidak dipotong sepanjang memiliki bukti pengeluaran transportasi (ada rincian penggunaan) -

Pembelian ATK dan penggandaan 2 Perlengkapan administrasi & sarana PKBM Pembelian ATK dan penggandaan (fotocopy)

No 3

Kegiatan Penyusunan profil & pendataan warga belajar

Rincian Pembiayaan Honorarium sebagai peserta/anggota panitia

Objek pemotongan PPh Pasal 21

Tarif Jumlah bruto x Tarif Pasal 17 ayat (1a) UU PPh -

Contoh Penghitungan Si G sebagai panitia rintisan PKBM menerima honorarium Rp 200.000,- maka PPh Pasal 21 : Rp200.000 x 5% =Rp10.000 Jika G tdk ada NPWP, tarif menjadi 6% -

Uang transport

Tidak dipotong sepanjang memiliki bukti pengeluaran transportasi (ada rincian penggunaan) PPh Pasal 21

Pembelian ATK dan penggandaan 4 Penyelenggaraan Rapat / konsultasi/ koordinasi/ pertemuan dlm rangka Penyusunan rencana kegiatan & pengembangan PKBM Honorarium sebagai peserta rapat/anggota panitia

Jumlah bruto x Tarif Pasal 17 ayat (1a) UU PPh -

Si H sebagai peserta rapat rintisan PKBM menerima honorarium Rp 200.000,- maka PPh Pasal 21 : Rp200.000 x 5% =Rp10.000 Jika H tdk ada NPWP, tarif menjadi 6% -

Pembelian snack (Konsumsi) dan makanan lainnya

Tidak dipotong PPh.

Penggunaan jasa catering atau jasa tata boga (di kuitansi disebutkan)

PPh Pasal 23

2% dari jumlah bruto

Si I membayar jasa catering sebesar Rp200.000 PPh Pasal 23 : 2% x Rp200.000=Rp4.000 Jika I tdk ada NPWP, tarif menjadi 4%
-

Pembelian ATK dan

No

Kegiatan

Rincian Pembiayaan

Objek pemotongan PPh Pasal 21

Tarif

Contoh Penghitungan

Sosialisasi kegiatan PKBM

Honorarium sebagai pembicara/narasumber atau sebagai pelatih atau sebagai pengajar

(50% x jumlah bruto) x Tarif Pasal 17 ayat (1a) UU PPh

Si J sebagai pembicara dalam sosialisasi kegiatan PKBM menerima honorarium Rp 200.000,maka PPh Pasal 21 : (50% x Rp200.000) x 5% = Rp5.000 Jika si J tdk ada NPWP tarifnya menjadi 6% -

Uang transport

Tidak dipotong sepanjang memiliki bukti pengeluaran transportasi (ada rincian penggunaan) -

Pembelian ATK dan penggandaan 6 Pelaporan Pembelian ATK dan penggandaan (fotocopy)

Aspek Perpajakan Atas Kegiatan Pendampingan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) (Penerimanya Non Pemerintah)
No 1 Kegiatan Identifikasi kebutuhan, Permasalahan, potensi PKBM Rincian Pembiayaan Honorarium sebagai peneliti atau konsultan Objek pemotongan PPh Pasal 21 Tarif (50% x jumlah bruto) x Tarif Pasal 17 ayat (1a) UU PPh Contoh Penghitungan Si K sebagai pembicara dalam sosialisasi kegiatan PKBM menerima honorarium Rp500.000,- maka PPh Pasal 21 : (50% x Rp500.000) x 5% = Rp12.500 Jika si K tdk ada NPWP tarifnya menjadi 6% -

Uang transport

Tidak dipotong sepanjang memiliki bukti pengeluaran transportasi (ada rincian penggunaan) PPh Pasal 21

Pembelian ATK dan penggandaan 2 Administrasi pendampingan & Bahan pendampingan Honorarium sebagai peserta/anggota panitia

Jumlah bruto x Tarif Pasal 17 ayat (1a) UU PPh

Si L sebagai panitia rintisan PKBM menerima honorarium Rp 200.000,- maka PPh Pasal 21 : Rp200.000 x 5% =Rp10.000 Jika L tdk ada NPWP, tarif menjadi 6% -

Pembelian ATK dan penggandaan (fotocopy)

No 3

Kegiatan Biaya transportasi pendampingan, honor, kebutuhan dan kegiatan pendampingan

Rincian Pembiayaan Uang transport

Objek pemotongan Tidak dipotong sepanjang memiliki bukti pengeluaran transportasi (ada rincian penggunaan) PPh Pasal 21

Tarif -

Contoh Penghitungan -

Honorarium sebagai peneliti atau konsultan

(50% x jumlah bruto) x Tarif Pasal 17 ayat (1a) UU PPh

Si K sebagai pembicara dalam sosialisasi kegiatan PKBM menerima honorarium Rp500.000,- maka PPh Pasal 21 : (50% x Rp500.000) x 5% = Rp12.500 Jika si K tdk ada NPWP tarifnya menjadi 6% Si L sebagai panitia rintisan PKBM menerima honorarium Rp 200.000,- maka PPh Pasal 21 : Rp200.000 x 5% =Rp10.000 Jika L tdk ada NPWP, tarif menjadi 6% -

Pembelian ATK dan penggandaan 4 Penyusunan laporan dan profil (cetak & elektronik) Honorarium sebagai peserta/anggota panitia

PPh Pasal 21

Jumlah bruto x Tarif Pasal 17 ayat (1a) UU PPh

Pembelian ATK (flasdisk/disket) dan penggandaan (fotocopy)