BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Masalah gizi yang ada di Indonesia masih sangat banyak. Diperkirakan 30 juta wanita usia subur mengalami kurang energi kronis yang bila hamil dapat meningkatkan BBLR. Berat badan lahir rendah ini sebagai salah satu faktor utama angka gizi kurang dan kematian balita. Pada tingkat individu, masalah gizi ini disebabkan karena kurangnya konsumsi bahan makanan yang bergizi tinggi dan adanya faktor penyakit yang saling terkait. Di tingkat keluarga dan masyarakat, masalah gizi ini dipengaruhi oleh kemampuan keluarga dalam menyediakan pangan bagi anggota keluarganya baik jumlah maupun jenis makanan yang sesuai dengan kebutuhan gizinya, memilih dan mengolah makanan bagi anggota keluarga, serta memanfaatkan pelayanan kesehatan dan gizi yang tersedia. Kemampuan dan pengetahuan keluarga akan kecukupan gizi juga sangat memegang peranan. Puskesmas Wirobrajan memiliki beberapa pencapaian pembangunan kesehatan, di antaranya adalah mengenai permasalahan gizi buruk. Dalam laporan kasus ini, akan dibahas lebih lanjut mengenai balita dengan gizi buruk tersebut.

B. RUMUSAN MASALAH Rumusan masalah dalam penulisan laporan kasus ini yaitu gizi kurang pada balita dan sanitasi lingkungan yang kurang memadai.
1

C. TUJUAN PENULISAN Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah untuk mengetahui masalah kekurangan gizi (energi), faktor-faktor yang dapat menimbulkan kekurangan gizi dan dampak-dampaknya dari segi kedokteran keluarga.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. GIZI KURANG DAN GIZI BURUK Gambaran status gizi balita diawali dengan banyaknya bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) sebagai cerminan tingginya masalah gizi dan kesehatan ibu hamil. Malnutrisi energi dan protein adalah salah satu masalah gizi utama di Indonesia. Prevalensi yang tinggi terdapat pada anak di bawah 5 tahun serta pada ibu hamil dan menyusui. Berdasarkan SUSENAS 2002, 26% balita menderita gizi kurang dan gizi buruk, dan 8% menderita gizi buruk. Gizi kurang adalah perbandingan berat badan dengan umur berada pada daerah <-2 SD sampai ≥-3 SD, sedangkan gizi buruk adalah bila perbandingan berat badan dan umur berada di kisaran <-3 SD (Klasifikasi Status Gizi Balita, 2002).

3

Pada MEP, ditemukan berbagai macam keadaan patologis, tergantung pada berat ringannya kelainan. Berdasarkan lama dan jumlah kekurangan energi protein, MEP diklasifikasikan menjadi MEP derajat ringan (gizi kurang) dan MEP derajat berat (gizi buruk). Gizi kurang belum menunjukkan gejala yang khas, belum ada kelainan biokimia, hanya dijumpai gangguan pertumbuhan. Pada gizi buruk, di samping gejala klinis didapatkan kelainan biokimia yang khas, sesuai dengan bentuk klinis. Pada gizi buruk didapatkan 3 bentuk klinis, yaitu kwashiorkor, marasmus, dan marasmur-kwashiorkor. Di rumah sakit ataupun Puskesmas, ditemukan penderita marasmus, tetapi kwashiorkor sudah jarang ditemukan.

Malnutrisi merupakan masalah gizi yang multifaktorial. Tindakan pencegahan ditujukan untuk mengurangi insidensi dan menurunkan angka kematian. Oleh karena ada beberapa faktor yang menjadi penyebab timbulnya masalah tersebut, maka untuk mencegahnya bisa dilakukan beberapa langkah, antara lain: a. Pola makan; penyuluhan pada masyarakat mengenai gizi seimbang (perbandingan jumlah karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral berdasarkan umur dan berat badan). b. Pemantauan tumbuh kembang dan penentuan status gizi secara berkala (sebulan sekali pada tahun pertama). c. Faktor sosial; mencari kemungkinan adanya pantangan untuk

menggunakan bahan makanan tertentu yang sudah berlangsung secara turun temurun yang dapat menyebabkan terjadinya MEP. d. Faktor ekonomi; dalam World Food Conference di Roma tahun 1974 telah dikemukakan bahwa meningkatnya jumlah pendiuduk yang cepat tanpa
4

diimbangi dengan bertambahnya persediaan bahan makanan setempat yang memadai merupakan sebab utama krisis pangan. Sedangkan kemiskinan penduduk merupakan akibat lanjutannya. Ditekankan pula perlunya bahan makanan yang bergizi baik di samping kuantitasnya. e. Faktor infeksi; telah lama diketahui adanya interaksi sinergis antara MEP dan infeksi. Dalam keparahan apapun, infeksi dapat memperburuk keadaan status gizi. MEP, walaupun dalam derajat ringan, menurunkan daya tahan terhadap infeksi.

1. Langkah diagnostik Anamnesis Keluhan yang sering ditemukan adalah pertumbuhan yang kurang, seperti berat badan yang kurang dibandingkan dengan anak yang sehat. Bisa juga didapatkan keluhan anak kurang / tidak mau makan atau sering menderita sakit yang berulang. Pemeriksaan Fisik MEP ringan, sering ditemukan gangguan pertumbuhan: a. Pertumbuhan linier berkurang atau terhenti.

5

Ada kalanya dijumpai kelainan kulit atau rambut. d. g. Kenaikan berat badan berkurang atau terhenti. Aktivitas dan perhatian berkurang jika dinbandingkan dengan anak sehat. MEP berat: Kwashiorkor: a. Tebal lipatan kulit berkurang atau normal. ada kalanya berat badan bahkan menurun. h. Ukuran lingkar lengan atas menurun. e. Perubahan mental sampai apatis Edema sering dijumpai Atrofi otot 6 . f.b. Anemia ringan. c. i. c. Maturasi tulang terlambat. Rasio berat badan terhadap tinggi normal / menurun. b.

e. f. g. c. elektrolit serum. e. Gangguan sistem gastrointestinal Perubahan rambut dan kulit Pembesaran hati Anemia Marasmus: a. Penampilan seperti orangtua. dingin dan mengendur Rambut kering. g. protein serum (albumin.d. Radiologi foto dada EKG 7 . globulin). Darah lengkap. ferritin. tipis dan mudah rontok Lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit berkurang Atrofi otot. i. c. urin lengkap. transferrin. j. b. terlihat sangat kurus Perubahan mental Kulit kering. feces lengkap. profil lemak b. f. sehingga tulang terlihat jelas Sering diare atau konstipasi Kadang terdapat bradikardi Tekanan darah lebih rendah dibanding anak sehat yang sebaya Kadang frekuensi pernapasan menurun Pemeriksaan penunjang a. d. h.

Gizi buruk: 150-220 kkal/kgBB/hari.2. Oral (enteral) Gizi kurang: 120-150 kkal/kgBB/hari. b. Edukasi 8 . gangguan elektrolit. Pengobatan apabila terjadi infeksi Pengobatan hipotermi 3. c. Memantau perkembangan kemampuan. Terapi medikamentosa a. Terapi suportif atau dietetik a. b. Pemantauan tumbuh kembang a. hipoglikemi) b. Intravena (parenteral) 4. Pengobatan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit (rehidrasi. 5. Memantau status gizi secara rutin dan berkala.

Diare dapat menyebabkan gangguan gizi dan kematian yang disebabkan karena dehidrasi (Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak.Memberikan pengetahuan kepada orangtua tentang pemantauan gizi. lendir dan/atau darah dalam tinja (bila ada berarti tipe diare disentriform. warna dan konsistensi tinja. adanya muntah. B. rewel. bila tidak maka diklasifikasikan menjadi diare non-disentriform). 1. melatih ketaatan dalam pemberian diet dan menjaga kebersihan diri dan lingkungan. kesadaran menurun. DIARE AKUT Diare akut adalah buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan konsistensi cair dan berlangsung kurang dari 1 minggu. berapa kali sehari. Penyebab terbanyak pada usia 0-2 tahun adalah infeksi rotavirus. kapan kencing terakhir. Langkah diagnostik Anamnesis Keterangan yang perlu diketahui adalah sudah berapa lama diare berlangsung. 2004). suhu badan. 9 . rasa haus. anak lemah.

apakah ada yang menderita diare di sekitarnya dan dari mana sumber air minum. anak minum ASI atau susu formula. Tinja. pasien dengan diare diperiksa klinis untuk menentukan ada tidaknya dehidrasi dan klasifikasi dehidrasi tersebut. bila didapatkan dua atau lebih tandatanda: gelisah/rewel. c. elektrolit 2. apakah anak makan makanan yang tidak biasa. mata cekung. Terapi a. Diare dengan dehidrasi berat: rencana terapi C (penanganan dehidrasi berat dengan cepat). bila didapatkan dua atau lebih tandatanda: anak letargis. a. tidak bisa minum atau malas minum. rehidrasi intravena sesuai umur. mata sangat cekung. Diare dengan dehidrasi ringan. biakan dan uji sensitivitas b. haus (terlihat minum dengan lahap). bila tidak cukup tanda-tanda untuk diklasifikasikan menjadi tipe dehidrasi di atas. Kimia darah.Perlu juga ditanyakan mengenai jumlah cairan yang masuk selama diare. cubitan kulit perut kembalinya lambat. Pemeriksaan Fisik Setelah dianamnesis. makroskopis dan mikroskopis. Diare dengan dehidrasi berat. Diare tanpa dehidrasi. cubitan perut kembalinya sangat lambat. Pemeriksaan Penunjang a. b. atau dengan oral 10 .

Penyakit rhinitis.maupun dengan NGT. pasien tidak perlu menjalani rawat inap. c. bronkus hingga alveolus. sehingga tidak memerlukan terapi antibiotik. Diare dengan dehidrasi ringan: rencana terapi B (penanganan dehidrasi ringan dengan Oralit). b. edukasi ibu tentang cara pemberian Oralit (sesuai umur). Sebagian besar infeksi pernapasan bersifat ringan. Diare tanpa dehidrasi: rencana terapi A (penangan diare di rumah). sekaligus edukasi mengenai pemberian cairan tambahan yang utama (ASI). sesuai berat badan dan umur. trakea. C. monitor setiap 1 jam diikuti dengan klasifikasi dehidrasi ulang 6 jam kemudian. Sedangkan saluran napas adalah saluran udara yang dimulai dari hidung. faringitis dan tonsillitis digolongkan menjadi ISPA bukan pneumonia. Setelah 3 jam. Program Pemberantasan Penyakit ISPA membagi ISPA menjadi 2 bagian yaitu pneumonia dan bukan pneumonia. Etiologi dari penyakit ini paling banyak adalah virus. laring. dinilai kembali derajat dehidrasinya. faring. yang memiliki peran dalam pernapasan manusia. dilakukan di klinik selama periode 3 jam. Untuk kasus ini. 11 . ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) Infeksi saluran napas akut merupakan infeksi yang terjadi di saluran napas dalam waktu kurang 14 hari. ditandai dengan batuk dan pilek.

1. Tanyakan mengenai tanda bahaya umum. Adanya napas cepat. atau tidak sadar. Pemeriksaan fisik a.Penyebab infeksi bakteri pada balita sangat sedikit. Klasifikasi dan terapi Gejala • Ada tanda bahaya umum • Tarikan dinding Klasifikasi Pneumonia berat Tindakan Beri dosis pertama antibiotik dan rujuk segera 12 . Stridor 2. anak umur 1-5 tahun ≥ 40 kali/menit) c. Namun. Langkah diagnostik Anamnesis Tanyakan sudah berapa lama anak mulai batuk pilek. Tarikan dinding dada ke dalam d. Tanda bahaya umum: b. kejang. Pneumonia harus diterapi dengan antibiotik yang sesuai. pada balita gizi kurang dan sanitasi buruk memiliki resiko lebih besar terkena pneumonia. memuntahkan semuanya. apakah di rumah anak tampak sesak napas / sulit bernapas. yaitu apakah anak tidak bisa minum. hitung napas dalam 1 menit ( anak umur 2-12 bulan ≥ 50 kali/menit.

Depkes RI. BAB III LAPORAN KASUS 13 . 2002. rujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut • Beri pelega batuk yang aman • Kunjungan setelah 5 hari bila tidak ada perbaikan pneumonia Sumber: MTBS.dada • Stridor Napas cepat Pneumonia • Beri antibiotik yang sesuai selama 5 hari • Beri pelega batuk yang aman Tidak ada tanda Bukan pneumonia • Kunjungan ulang setelah 2 hari • jika batuk lebih dari 30 hari.

R. A. I.A. IDENTITAS Nama Umur TTL Jenis kelamin Alamat Agama No. 377 RT 15 RW 04 Wirobrajan : Islam : 02-2622-02 Nama ayah Pekerjaan Usia Agama Pendidikan terakhir Nama ibu Pekerjaan Usia Agama : Bp.J. Setiyaki WB II no. : Karyawan swasta (perusahaan catering) : 23 tahun : Islam : SMA : Ny. RM : An. 5 Februari 2007 : laki-laki : Jl. : 22 minggu : Yogyakarta.L. : Ibu rumah tangga : 20 tahun : Islam 14 . S.

Saat pemeriksaan di puskesmas: BAB cair terjadi lagi. pasien minum ASI banyak dan tampak kehausan jika diberi minum. ANAMNESIS Keluhan utama Keluhan tambahan : BAB cair : batuk pilek dan demam 1. Muntah (-). Makanan terakhir sebelum diare adalah susu bendera cokelat sachet. Menurut ibunya. Pasien 15 . terakhir BAK sejam sebelum ke Puskesmas. yaitu BAB 4 kali dengan tinja banyak. Riwayat penyakit sekarang: 2 hari sebelum ke Puskesmas: Pasien BAB lebih sering dari biasanya. Demam turun setelah diberi obat penurun panas.Pendidikan terakhir : SMP Tanggal kunjungan Puskesmas : 17 Desember 2008 Tanggal kunjungan rumah I Tanggal kunjungan rumah II : 18 Desember 2008 : 20 Desember 2008 B. yaitu 4 kali dengan jumlah banyak. Batuk dan pilek menetap. 1 hari sebelum ke Puskesmas: Diare berhenti. Pilek berwarna bening. BAK lancar dan banyak. berwarna kuning. dengan dahak yang sulit keluar. Pasien batuk dan pilek. batuk ngikil. Demam tinggi terus-menerus. tanpa lendir dan darah. tanpa lendir darah. Muntah (-). tapi sulit makan.

Ibu pasien merasa anaknya cepat tertular batuk pilek dari tetanggatetangganya. Pasien tidak terlihat sesak napas. Ibu kontrol rutin di 16 . Pasien sering diare. Tidak ada riwayat alergi obat. tetangga pasien ada yang sedang batuk pilek. Riwayat penyakit dahulu: Pasien pernah mondok di RSUD Wirosaban karena muntaber saat usia 13 bulan. 4. Demam menetap. Riwayat kehamilan dan persalinan: Ibu hamil saat usia 17 tahun. tidak ada tekanan darah tinggi.masih batuk dan pilek dengan dahak sulit keluar dan cairan pilek berwarna bening. Riwayat penyakit keluarga: Ibu dari nenek pasien asma. 2. muntah tidak berlebihan. tidak pernah jatuh. Tidak ada orang di lingkungan pasien yang menderita diare. Pasien belum pernah melakukan tes Mantoux dan foto radiologis dada. Kaki ibu tidak bengkak. 3. Tidak ada anggota keluarga serumah yang menderita batuk lama. Ibu pasien mengeluh berat badan anaknya tidak sesuai dengan usianya. Pasien sulit / tidak mau makan. terutama setelah diberi susu formula. selama hamil ibu tidak mengalami demam. tidak pusing-pusing.

berat bayi saat lahir 2500 gram. Persalinan pervaginam dalam umur kehamilan sekitar 8 bulan. imunisasi TT 2 kali. bayi langsung menangis. 5. kepala lahir terlebih dahulu. ASI. ditolong oleh bidan. air putih (1/2 gelas belimbing). kulit kemerahan (tidak pucat). mengkonsumsi multivitamin penambah darah.Puskesmas. Setelah melahirkan bayi diberi ASI eksklusif selama 4 bulan. Bayi tidak pernah kuning. Siang 17 . riwayat melahirkan kurang bulan dan pemberian ASI tidak sesuai anjuran. telur rebus (1/2 butir). Pola makan: Pagi Bubur nasi (1/4 mangkuk). Kesimpulan: riwayat kehamilan ibu dalam usia yang muda (kurang dari 20 tahun). Bayi disuntik vitamin K. ibu menyusui bayi kurang dari 30 menit setelah bersalin.

air putih. Sore Bakso (1/4 mangkuk) atau sup (1/4 mangkuk) Malam Roti sobek (1 buah) atau wafer. ASI. sup ayam sayur (1/4 mangkuk). 18 . cokelat.Nasi (1/4 mangkuk). buah (semangka atau papaya). Kesimpulan: pola makan pasien kurang baik dari segi kuantitas dan kualitas.

1 potong 1-2 kali/hari Sesuai kemauan bayi (≥8 kali/hari) Bubur nasi Telur. dihaluskan 12-22 bulan Pisang/pepaya ASI ikan.6. sayur ±1 potong Sesuai kemauan bayi 1/4 mangkuk 1/2 butir ±1 potong kecil (sedikit) 1 potong 1-2 kali/hari Sesuai kemauan bayi (≥8 kali/hari) Nasi lembek/bubur Telur rebus Ikan Sayur Buah 2 kali/hari 2 kali/hari 2 kali/hari 2 kali/hari 1 kali/hari 1/2 . 3 kali/hari 3 kali/hari 3 kali/hari Jumlah Sesuai kemauan bayi Sesuai kemauan bayi ±2 sendok makan Frekuensi Sesuai kemauan bayi Sesuai kemauan bayi (≥8 kali/hari) 3 kali / hari ikan atau bubur sun ASI ikan atau bubur sun 6-12 bulan Pepaya/pisang ASI 19 . tempe. Riwayat makan: Umur 0-4 bulan 4-5 bulan Makanan ASI eksklusif ASI Bubur ditambah 5 bulan sumsum sayur dan Sesuai kemauan bayi ±2 sendok makan Sesuai kemauan bayi (≥8 kali/hari) Bubur ditambah sumsum sayur dan ±1 potong Sesuai kemauan bayi 1/2 mangkuk tahu.

Riwayat imunisasi: Imunisasi Waktu BCG 13/02/07 DPT combo 25/05/07. 5 bulan 9 bulan 1 bulan. 4 bulan. roti 1 potong/1 sobek 1 kali/hari Kesimpulan: riwayat makan kurang baik 7. Riwayat perkembangan: Umur 1 bulan Perkembangan Mengeluarkan suara Tersenyum 4 bulan 6 bulan 12 bulan 14 bulan 20 bulan 22 bulan Lengan dan kaki aktif bergerak Tengkurap sendiri Meraih benda-benda di sekitarnya Duduk Berjalan sendiri Berlari Mencoret-coret Menunjukkan dan menyebut benda Kesimpulan: tidak ada kelainan perkembangan. 20 . 29/07/07 Campak 07/11/07 Polio 14/03/07. 8. 25/06/07. 25/07/07 Hepatitis B 28/02/07 Sumber: KMS pasien Umur 8 hari 3 bulan. 4 bulan. 5 bulan 3 minggu Kesimpulan: riwayat imunisasi kurang lengkap.Jajan cokelat. 05/06/07.

Berat badan Tinggi badan Umur : 9. Sistem muskuloskeletal: Gerakan bebas. sesak napas (-). lendir (-). Pemeriksaan Umum Keadaan umum Kesadaran Tanda utama : rewel : compos mentis : temperatur aksila 38. radialis 104 kali/menit. Sistem urogenital: keluhan BAK (-).9.2º C. 21 . : 22 minggu. Sistem gastrointestinal: BAB cair (+). pilek (+). tipe demam tinggi terus-menerus. darah (-). frekuensi napas 36 kali/menit. kaki tangan dingin (-). PEMERIKSAAN FISIK 1. nadi a. keriput (-). Sistem respirasi: Batuk berdahak (+). Sistem integumentum: Pucat (-). penurunan kesadaran (-). Sistem kardiovaskular: Kebiruan (-). turgor baik. Anamnesis Sistem: SSP: Demam (+) hari II-III. C.1 kg. : 75 cm. riwayat kejang (-).

servikal dan inguinal.3) >-2SD s/d 2SD (8.6) Interpretasi Gizi kurang Pendek Normal Sumber: Klasifikasi Gizi Anak Bawah Lima Tahun.Status gizi: Pengukuran BB/U PB/U BB/PB Rentang <-2SD .4 . 2002. turgor baik. keriput (-).6) <-2SD (≤79. Kesimpulan: status gizi kurang. Otot: eutrofi.≥-3SD* (8. rash (-). Kulit: Sianosis (-). petechiae (-).2 – 11.9. 22 . *SD: Standar Deviasi Grafik di KMS: berada di bawah pita hijau. Kelenjar limfe: tidak ada pembesaran limfonodi aksila.

epistaksis (-). kepala Rambut Bentuk : rambut merah. tanda dehidrasi (-). 2. :mukosa bibir basah. tanda gawat napas (-). stridor (-). Telinga Mulut :serumen (+). kelenjar tiroid tidak membesar. Mata : mata cekung (-/-). b. air mata (+/+). discharge (+) putih. napas cuping hidung (-). sariawan (-). JVP tidak meningkat. Leher :simetris. Hidung :simetris. mudah rontok. lidah kotor (-). tanda radang (-). Pemeriksaan Khusus a.Tulang: gerak bebas. Kesimpulan: kesan gizi kurang. Sendi: gerakan bebas. : mesosefal. ubun-ubun sudah menutup (tidak dapat dilakukan pemeriksaan ubun-ubun cekung pada kemungkinan dehidrasi karena diare). pucat (-). sklera ikterik (-/-). penyebaran tidak merata. konjungtiva anemis (-). udem palpebra (-/-). tanda radang (-). retraksi suprasternal (-). faring hiperemi (+). Dada 23 . tidak ada pembesaran kelenjar limfonodi.

sikatrik (-). Palpasi. A RBH (-). retraksi interkosta (-). krepitasi (-) Normoces. retraksi interkosta (-). deformitas (-). Wheezing (-). retraksi subkosta (-). RBK (-). A RBH (-). krepitasi (-) Jantung : Inspeksi: ictus cordis tidak tampak kuat angkat. deformitas (-). krepitasi (-) Belaka I Normoces. RBH (-). RBK (-). ketinggalan gerak (-) Vokal fremitus normal Sonor pada semua lapang paru Vesikuler tdk menurun. Wheezing (-). retraksi subkosta (-). retraksi subkosta (-). Wheezing (-).Paru-paru: Paru Kanan Kiri Normoces. c. deformitas (-). retraksi interkosta (-). RBK (-). retraksi interkosta (-). retraksi subkosta (-). ketinggalan gerak (-) Vokal fremitus normal Sonor pada semua lapang paru Vesikuler tidak menurun. Wheezing (-). deformitas (-). Kesimpulan: tanda gawat napas (-). Abdomen: 24 . ketinggalan gerak (-) Vokal fremitus normal P Sonor pada semua lapang paru P Vesikuler tidak menurun. sikatrik (-). Jantung tidak dapat dinilai optimal. sikatrik (-). perkusi dan auskultasi tidak dapat dilakukan dengan baik karena pasien tidak kooperatif. ketinggalan gerak (-) Vokal fremitus normal P Sonor pada semua lapang paru P Vesikuler tdk menurun. krepitasi (-) Depan I Normoces. RBH (-). RBK (-). sikatrik ng (-).

tanda kelamin sekunder belum tampak. genital laki-laki. ginjal. : meteorismus (+). ren tidak teraba. Auskultasi : peristaltik meningkat. hipermotilitas usus (+). Anogenital : anus (+). pembesaran organ (-). Kesimpulan : iritasi kulit (+). venektasi (-). Kesimpulan : tanda dehidrasi (-). Palpasi Perkusi : turgor kulit baik. keriput (-). ascites (-).Inspeksi :dinding dada sama tinggi dengan dinding abdomen. d. diaper rash (+). sikatrik (-). rash (-). hepar. 25 . genital tidak ada kelainan.

Kesimpulan: ekstremitas dalam batas normal. DIAGNOSIS 26 .e. Saran pemeriksaan penunjang : Darah rutin Feses segar (makroskopis dan mikroskopis) Mantoux Test E. Akral hangat. nadi kaki kuat. Ekstremitas Pemeriksaan Gerakan Tonus Trofi Reflek fisiologis : TUNGKAI KANAN KIRI LENGAN KANAN KIRI Bebas Bebas Bebas Bebas Normal Normal Normal Normal Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi Patela (+) Patela (+) Biceps (+) Biceps (+) Achiles (+) Achiles (+) Triceps (+) Triceps (+) Reflek patologis Babinski (-) Babinski (-) Chadok (-) Chadok (-) Klonus (-) Klonus (-) Sensibilitas (+) (+) (+) (+) Meningeal sign tidak dilakukan karena pasien tidak kooperatif. perfusi jaringan baik. D. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pada pasien ini belum dilakukan pemeriksaan penunjang. pembengkakan (-).

dapat diberikan Oralit atau cairan makanan (kuah sayur.frekuensi pemberian ASI harus lebih dari 8 kali/hari. kurve BB/U dan kurve KMS menginterpretasikan gizi kurang. F. ganti susu formula dengan susu non-laktosa atau susu kedelai. tajin) 100-200 ml setiap sehabis BAB (1-2 gelas belimbing). . tanda radang saluran napas atas (+). . Diare akut non-disentriform tanpa dehidrasi Alasan: BAB cair lebih dari 3 kali/hari.1. ISPA non-pneumonia Alasan: Batuk pilek.kunjungan ulang dalam 2 hari.lanjutkan pemberian ASI dan makan. durasi keluhan kurang dari 14 hari tanpa tanda gawat napas. Diare akut non-disentriform tanpa dehidrasi a. 27 . rencana terapi A (penanganan diare di rumah): . PENATALAKSANAAN 1. durasi keluhan kurang dari 7 hari. b. Status gizi kurang Alasan: Gangguan pola dan nafsu makan. 3. 2. tanpa lendir-darah (non-disentriform) tanpa ada tanda dehidrasi. ciri-ciri fisik menunjukkan adanya gangguan gizi. .

5 mg.menu makanan diseusaikan dengan kondisi ekonomi yang ada . ISPA non-pneumonia a.jumlah kalori yang kurang akan dipenuhi dari ASI. d. Medikamentosa: Ambroxol syr. BAK kurang atau tidak BAK. Kunjungan ulang dalam 5 hari bila tidak ada perbaikan atau ada tanda gawat napas seperti sesak napas. b. 2x1 setelah makan. maka contoh diet dalam sehari dapat dikemukakan pada tabel di bawah: 28 .jenis makanan dapat diganti dengan makanan dengan kandungan gizi sejenis dan jumlah kalori yang sama . Dengan asumsi bahwa: .anak sudah sembuh dari demam .1 kg = 1092 kal/hari Edukasi pola makan Pantauan status gizi rutin (sebulan sekali) sampai usia 5 tahun Pantauan perkembangan oleh keluarga.2. Gizi Kurang a. kesadaran menurun atau anak tidak dapat minum. jari-jari pucat atau biru. b. 3. c. 120 kal/hari x 9. Koreksi dietetik. 7.

5 MALAM ¾ gelas 100 gr 87.5 SIANG 1/3 gelas 50 gr 87.PAGI Jenis Bubur beras Telur ayam kampung Bayam Tepung sari kedelai Kacang hijau Santan Biskuit marie Nasi Tahu Tempe Labu siam Pisang ambon Tepung sari kedelai Roti putih Mentega Mi basah Daging ayam Wortel Buncis Pepaya Takaran 1 gelas 1 butir ½ gelas 2 sdm Berat Kalori Total Kalori 225 200 gr 87.5 ½ ptg besar 50 gr 40 1 ptg sedang 25 gr 40 ½ gelas 50 gr 40 1 bh sedang 50 gr 40 Selingan 2 sdm 12.5 gr 65 Selingan 2 ½ sdm 25 gr 80 ½ gelas 50 gr 45 2 buah 25 gr 87.5 50 gr 25 12.5 gr 65 1 ¼ iris 40 gr 87.5 175 225 1085 29 .5 247.5 ½ gelas 50 gr 25 ½ gelas 50 gr 25 1 ptg sedang 100 gr 40 Total kalori dalam sehari 212.5 30 gr 47.5 ½ ptg besar 25 gr 47.5 ¼ sdm 2.5 gr 22.

Diare sudah tidak terjadi. Batuk (+) tapi sudah membaik.BAB IV PEMBAHASAN A. Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan adanya gawat napas. 2. nadi a. Pada pemeriksaan fisik. tekanan darah tidak dapat dilakukan. Anggota Keluarga Anggota keluarga yang berada di satu rumah yaitu: 30 . tidak ada tanda-tanda dehidrasi. Pasien masih sulit makan.3ºC. Kondisi Pasien Saat kunjungan rumah yang pertama. pasien masih tampak rewel. radialis pasien 96 kali/menit. ditemukan temperatur aksila 37. ANALISA KUNJUNGAN RUMAH 1.

5. tidak ada genangan air. Kebersihan halaman cukup.Nama S DP SL IJ AR Peran di keluarga Nenek Adik dari ibu pasien Ayah pasien Ibu pasien Pasien Pekerjaan Ibu rumah tangga Pelajar SD Karyawan swasta (catering) Ibu rumah tangga - Ayah pasien sudah bekerja selama 6 tahun pada perusahaan catering dan sebelumnya belum ada pengalaman kerja yang lain. sehingga rata-rata 30 m2 untuk setiap penghuni rumah. S. Lantai rumah terbuat dari semen. 3. Keadaan Rumah a. Sebagian halaman samping digunakan untuk menjemur baju. dengan luas bangunan ±150 m2. Bangunan rumah Rumah dibangun kokoh dan tidak bertingkat. Rumah milik pribadi atas nama Ny. Rumah dihuni oleh 5 orang. 31 . dinding rumah terbuat dari tembok dan atap rumah terbuat dari genteng. sebagian tanah biasa. b. Halaman Luas halaman rumah ±61. Ibu pasien belum pernah punya pengalaman kerja. Sebagian halaman di-conblock.

Letak barang-barang kurang rapi. h. Kelembaban udara dalam rumah Terasa lembab di dalam ruangan yang tidak berjendela. Alat elektronik yang ada di rumah adalah sebuah kipas angin listrik. Daya listrik yang dipakai pada rumah adalah 900 watt. 32 . cukup untuk keperluan sehari-hari. Pencahayaan Pencahayaan terkesan kurang pada kamar yang tidak berjendela. Jarak antara sumur dengan resapan kurang dari 10 meter. g. 1 rak televisi. e. d. Kepemilikan barang Kepemilikan barang di rumah adalah 1 sepeda. Sulit dilakukan kegiatan membaca di ruangan yang tidak berjendela (di siang hari tanpa lampu). Sumur pompa terletak di ruang tamu. Sumber air Sumber air yang digunakan untuk minum. 4 lemari. sebuah televisi berwarna ukuran 14 inchi dan sebuah blender. sumur menggunakan pelindung dan ditutup. mandi dan mencuci berasal dari sumur pompa dan pam. Kebersihan dan kerapian rumah Kebersihan di dalam rumah terkesan kurang. Kepemilikan hewan peliharaan dan kandang Keluarga tidak memiliki kandang dan hewan peliharaan.c. 5 kasur. meja tamu sederhana. 1 meja belajar dan peralatan dapur. Di sekitar rumah tidak ada yang memiliki hewan peliharaan. f.

5. Tidak. e. 6. 10. Ya. 33 . h. 9. Pertanyaan Apakah ada jamban dalam jarak 10 m sekitar sumur yang dapat menjadi sumur pencemaran? Apakah ada sumber pencemaran lain dalam jarak 10 m dari sumur? 3. g. Apakah ada/sewaktu-waktu ada genangan air dalam jarak 2 m sekitar sumur? Apakah saluran pembuangan rusak/tidak ada? Apakah lantai semen yang mengitari sumur mempunyai radius kurang dari 1 m? Apakah ada/sewaktu-waktu ada air di atas lantai semen sekeliling sumur? Apakah ada keretakan pada lantai sekitar sumur yang memungkinkan air merembes ke dalam sumur? Apakah ember dan tali timba seaktu-waktu diletakkan sedemikian rupa sehingga memungkinkan pencemaran? Apakah bibir sumur (cincin) tidak sempurna sehingga memungkinkan air merembes ke dalam sumur? Apakah dinding semen sepanjang kedalaman 3 m dari atas permukaan tanah tidak diplester cukup rapat/sempurna? Jawaban Ya Ada. 4. Tidak. 2. Ya (kotoran hewan). 8. Tidak. parit buatan untuk membuang limbah cuci piring/cuci pakaian. Ya.Kondisi sumur: No. 1. tidak ada. d. Ya. f. parit di depan rumah Tidak Tidak/ada Radius >1 m Kondisi sumur: a. c. Ya. b. 7.

20 m 1x0.5x0. Pengangkutan sampah tidak teratur sehingga kadang menyebabkan banyak lalat.5 m.20 m 0. Denah rumah pasien 34 . i. Sistem pembuangan limbah rumah tangga Tempat sampah diletakkan di halaman depan rumah.5x2 m 1x0.20 m 1x0.5 4x3 >25% <25% >25% <25% <25% <25% <25% <25% Ukuran Jendela Ventilasi 2. Air bekas pencucian alat dapur dan pakaian disalurkan melalui parit di depan rumah.20 m 4x3 4x3 3x3 3x3 3x3 2x3 1.5x2 m 0.5x0. <25% keluarga Kamar I Kamar II Kamar III Kamar IV Kamar V Gudang K. j.i. Tidak.20 m 0. Aliran parit lancar.5x1.5x2 m Ukuran Ruangan 7x3 Perbandingan Ket. Tidak.5x1.mandi II Dapur WC (-) WC (+) jongkok j.5x0.mandi I K. tidak tertutup dan tidak memiliki alas (langsung ke tanah) dengan ukuran ± 0.5x2 m 2. Pembagian ruangan rumah Ruang Ruang dan tamu ruang 2.5 1.

K4. 3. 4.11 m M1 D G MCK K3 K1 T RK 9m K5 S RT M2 S T K4 K2 U Legenda: D : dapur K1. K5 : kamar tidur 1. RT RK T M1. P. RE Martadinat a 35 . Pada M2 terdapat WC. K2.2.Tendean Jl. 2. K3. M2 S ST G MCK : ruang tamu : ruang keluarga : teras : kamar mandi 1. 5. : serapan : septic tank : gudang : kamar mandi yang tersedia untuk warga : sumur U : utara Lokasi rumah pasien: Jl.

Ontoseno Gg. S. Nakulo Gg.Rumah pasien Gg. Parman Puskesmas Wirobrajan Jl. Abimanyu Gg. Puntodewo Gg. Sadewo Gg. Setiyaki Gg. Ontorejo Gg. Bugisan U Legenda: U : Utara 36 . Pandu Jl. Gatotkaca Gg. Werkudoro Jl. Patangpuluhan Jl. Harjuna Gg.

R. S. SL.decision maker A R Legenda: : laki-laki : perempuan ------. AR: inisial nama anggota keluarga 37 . ES.:tinggal serumah N.Genogram keluarga AR (dibuat tanggal 18 Desember 2008): N 55 50 R 46 P S 65 20 S L 23 8 S F 19 ES F F F F I J 23 D P F Breadwinner. IJ. P. DP. SF.

2. Implikasi kesehatan pada keluarga ini lebih banyak terpengaruh dari asupan makanan dan kebersihan penghuni rumah. intoleransi makanan meningkat 5. Pada kasus ini. DIAGRAM REALITA YANG ADA PADA KELUARGA Lingkungan rumah yang kotor Kurangnya intake gizi Pengetahuan gizi yang kurang Gizi kurang Rendahnya pendidikan Mudah terinfeksi (ISPA). NILAI APGAR KELUARGA Nilai APGAR adalah salah satu cara untuk mengidentifikasi sehat atau tidaknya fungsi suatu keluarga. APGAR itu sendiri terbagi dalam: 1. SIKLUS KEHIDUPAN KELUARGA Siklus kehidupan keluarga pada keluarga ini adalah family with young children. SL sebagai orang yang bertanggungjawab atas 5 orang. Namun pembiayaan hidup juga dibantu oleh adik dari IJ yang bekerja di luar kota. Adaptasi (adaptation) Dinilai dari tingkat kepuasan anggota keluarga dalam menerima bantuan yang diperlukan. 6. Kemitraan (partnership) 38 .4.

4. kekayaan dn ruang antar anggota keluarga. Dalam kasus ini.Dinilai dari tingkat kepuasan anggota keluarga berkomunikasi. Kasih saying (affection) Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kasih saying serta interaksi emosional yang berlangsung dalam keluarga. 5. Kebersamaan (resolve) Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebersamaan membagi waktu. Pertumbuhan (growth) Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebebasan yang diberikan keluarga dalam mematangkan pertumbuhan dan kedewasaan dari setiap anggota keluarga. karena pasien masih balita. 39 . 3. bermusyawarah dalam mengambil keputusan dan atau menyelesaikan suatu masalah. maka kuisioner APGAR ini diisi oleh ibu pasien.

x tidak pernah Kadang Hampir selalu 40 . Saya puas dengan keluarga saya karena dapat membantu memberikan solusi x terhadap permasalahan yang saya hadapi.Kuisioner APGAR keluarga Hampir Penilaian Saya puas dengan keluarga saya karena masing-masing anggota keluarga suda menjalankan kewajiban sesuai dengan seharusnya.

7. Saya puas dengan kehangatan / kasih saying yang diberikan keluarga saya. Keluarga pasien serta masyarakat sekitar memiliki budaya saling mengenali tetangga dan memiliki kultur tolongmenolong yang tinggi. ANALISIS SCREEM Aspek Sosial Sumber Daya Patologi Interaksi antar anggota keluarga terjalin baik dan semua anggota keluarga menjalankan fungsinya dengan baik. Anggota keluarga memiliki keinginan untuk 41 Kultural Religi . kadang:1.Saya puas dengan keluarga kebebasan saya yang untuk x diberikan mengembangkan kemampuan yang saya miliki. Saya puas dengan waktu yang disediakan x x keluarga untuk menjalin kebersamaan TOTAL 8 Skoring: hampir selalu: 2. Anggota kleuarga menjalankan ibadahnya dengan baik. hampir tidak pernah:0 Total skor: 8-10: fungsi keluarga sehat 4-7 : kurang sehat 0-3 : sakit Dapat disimpulkan bahwa fungsi keluarga ini adalah fungsi keluarga sehat.

Pendidikan orangtua pasien tergolong rendah. Fungsi biologis Ibu pasien merasa tidak ada gangguan dalam fungsi biologis pada dirinya maupun suaminya. Dapat dilihat dari tabel SCREEM bahwa dalam bidang ekonomi. Kehidupan seks mereka dalam keadaan harmonis. 3. 8. Fungsi afektif Hubungan suami dan istri. IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI KELUARGA 1.memperdalam agamanya. Fungsi sosial 42 . pendidikan dan kesehatan masih terdapat dalam kolom patologi. 2. Kesadaran keluarga pasien akan sanitasi lingkungan kurang. Ekonomi Pendidikan Kesehatan ajaran Kebutuhan ekonomi masih sering berfluktuasi. serta anggota keluarga yang hidup seatap terjalin baik. sehingga perlu peningkatan kualitas ketiga hal tersebut dalam penanganannya.

Keluarga pasien kurang pengetahuan masalah gizi.-/hari sebagai karyawan perusahaan catering. 5. Fungsi ekonomi Ayah pasien bekerja dengan upah perhari. Pencegahan penyakit 43 . 4. Uang ini dipakai oleh 5 anggota keluarga serumah.000. Fungsi pendidikan Pendidikan terakhir ibu pasien adalah SMP. sedangkan ayah pasien SMU. yaitu dengan kondom. 9. SIKAP DAN PERILAKU 1.Keluarga pasien sering menyapa tetangga dn sering bekerjasama dengan mereka. ibu pasien mengikuti program KB. Setelah melahirkan anak I (pasien). IDENTIFIKASI PENGETAHUAN. Besarnya upah ini kadang dirasa cukup. kadang keluarga ini juga mendapat bantuan dari adik IJ (ibu pasien) yang bekerja di luar kota sebagai karyawan swasta. maka kadang kebutuhan menu makanan seimbang menjadi terganggu. 40. yaitu Rp. namun kadang tidak. Namun. Apabila kebutuhan meningkat. 6. Fungsi religius Semua anggota keluarga menjalankan ibadahnya dengan baik. Perencanaan reproduksi Keluarga pasien saling bekerjasama dalam menentukan program KB. 2.

5.Ibu pasien merasa sudah melakukan upaya-upaya pencegahan terhadap penyakit yang mungkin timbul di dalam keluarga. Penggunaan pelayanan kesehatan Pasien dan keluarganya cukup menggunakan pelayanan kesehatan di Puskesmas. Selain itu. jarak resapan dan sumur sumber air yang dekat dan kebiasaan masyarakat yang tidak menjaga kebersihan badan dan lingkungan. Pasien juga sudah berusaha untuk mengoptimalkan asupan gizi anak. misalnya dengan mencuci tangan dan mengkonsumsi multivitamin. sehingga resiko penularan penyakit meningkat. Higiene dan sanitasi lingkungan Karena jarak antara sumur resapan dan sumur sumber air kurang dari 10 meter. IDENTIFIKASI LINGKUNGAN HIDUP KELUARGA Rumah pasien terletak di lingkungan yang kurang mengutamakan hygiene dan sanitasi. 44 . tingkat ekonomi yang sangat sederhana dan jumlah yang kurang. walaupun pasien (anak) sulit makan. Gizi keluarga Pemenuhan gizi kelarga kurang mencukupi karena pengetahuan yang kurang. di sekitar keluarga pasien juga terdapat anak-anak sebaya pasien yang kurang menjaga sanitasi lingkungan dan badan. 4. karena pembuangan sampah yang tidak teratur. 3. 10. maka sanitasi dasar pada keluarga ini kurang memenuhi syarat.

3. 18. 17. 7. Kriteria yang dinilai Tidak merokok Persalinan dibantu tenaga medis Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan Imunisasi Balita ditimbang secara teratur Kebiasaan sarapan pagi Makan buah dan sayur JPKM Cuci tangan Gosok gigi Olahraga Jamban Air bersih bebas jentik sampah SPAL Ventilasi Kepadatan Lantai Jawaban Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 11 Skor 4. 9. 11. 1. 6. IDENTIFIKASI MASALAH PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT Tabel perilaku hidup bersih dan sehat: No. 15. 8. 2. Total Skoring: 1-5 6-10 : Klasifikasi Sehat I : Klasifikasi Sehat II 45 .11. 5. 16. 14. 12. 10. 13.

PELAKSANAAN PROGRAM PEMBINAAN Tanggal Kegiatan yang dilakukan 18 Desember 2008 Anamnesis perjalanan penyakit dan pemeriksaan fisik. perilaku hidup bersih dan sehatnya kurang memadai. kelengkapan data KMS dan menilai kondisi rumah 20 Desember 2008 Anamnesis penyakit kembali. mengeksplorasi fungsi-fungsi keluarga Mengetahui proses perjalanan penyakit (RPD) dan mengetahui kondisi lingkungan rumah Kelengkapan data Memberikan konseling gizi yang lebih lanjut dan mengevaluasi hasilnya Hasil kegiatan Catatan untuk pembinaan berikutnya Mengeksplorasi fungsi keluarga 46 . 12.11-15 : Klasifikasi Sehat III 16-18 : Klasifikasi Sehat IV Jadi pada keluarga pasien ini.

PRIORITAS MASALAH KELUARGA No. 1. Sanitasi lingkungan terjamin yang Mengedukasi agar Keluarga 47 . Ibu sebagai pemberi ASI susu hipo-allergic Mengedukasi ibu Keluarga untuk dengan bergizi kualitas makan pasien menu agar ASI 4.13. pasien Pasien sering BAB cair bila Mengganti minum susu formula formula susu Keluarga dengan pasien 3. Masalah yang terjadi pada keluarga Pasien sulit untuk Rencana Sasaran Pembinaan pembinaan makan Mengatur pola diet Keluarga yang benar dan pasien mencari kemungkinan menu yang disukai (tidak suka makan) 2.

48 . DIAGNOSIS KEDOKTERAN KELUARGA Dari kasus di atas. badan pentingnya menjaga kebersihan dan lingkungan 14. maka diagnosis kedokteran keluarga yang ditegakkan adalah: Diare dan ISPA pada balita kurang gizi dengan keluarga yang kurang menjaga sanitasi.kurang baik memindahkan posisi pasien dan yang dalam sumur warga resapan agar jauh ada dari sumur sumber wilayah air dan edukasi tanggungjawag Puskesmas tersebut.

BAB V 49 .

50 . Gizi kurang merupakan akibat dari banyak faktor yang membutuhkan konseling berkelanjutan dari lintas sektoral. 3. dan akibatnya terjadi kerentanan tubuh terhadap penyakit yang dapat memperparah kekurangan gizi itu sendiri. Dalam kasus ini.KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil dari kasus tersebut adalah: 1. Dokter keluarga melalui institusi Puskesmas dapat menjadi salah satu sektor keberhasilan penanganan gizi kurang. kurangnya asupan makanan padat gizi menyebabkan pasien kurang gizi. 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful