P. 1
LAPORAN!!!

LAPORAN!!!

|Views: 7|Likes:
Dipublikasikan oleh Andi Nugroho
LAPORAN KEPANITERAAN KLINIK
LAPORAN KEPANITERAAN KLINIK

More info:

Published by: Andi Nugroho on Apr 27, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/06/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.Langkah diagnostik
  • 2.Riwayat penyakit dahulu:
  • 3.Riwayat penyakit keluarga:
  • 0-4 bulan ASI eksklusif Sesuai kemauan bayiSesuai kemauan bayi 4-5 bulan ASI
  • 1.Pemeriksaan Umum
  • 2. ISPA non-pneumonia
  • 3. Gizi Kurang
  • 4.DIAGRAM REALITA YANG ADA PADA KELUARGA
  • 5.SIKLUS KEHIDUPAN KELUARGA
  • 6.NILAI APGAR KELUARGA
  • 7.ANALISIS SCREEM
  • 8.IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI KELUARGA
  • 9.IDENTIFIKASI PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU
  • 10.IDENTIFIKASI LINGKUNGAN HIDUP KELUARGA
  • 11.IDENTIFIKASI MASALAH PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT
  • 12.PELAKSANAAN PROGRAM PEMBINAAN
  • 13.PRIORITAS MASALAH KELUARGA
  • 14.DIAGNOSIS KEDOKTERAN KELUARGA

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Masalah gizi yang ada di Indonesia masih sangat banyak. Diperkirakan 30 juta wanita usia subur mengalami kurang energi kronis yang bila hamil dapat meningkatkan BBLR. Berat badan lahir rendah ini sebagai salah satu faktor utama angka gizi kurang dan kematian balita. Pada tingkat individu, masalah gizi ini disebabkan karena kurangnya konsumsi bahan makanan yang bergizi tinggi dan adanya faktor penyakit yang saling terkait. Di tingkat keluarga dan masyarakat, masalah gizi ini dipengaruhi oleh kemampuan keluarga dalam menyediakan pangan bagi anggota keluarganya baik jumlah maupun jenis makanan yang sesuai dengan kebutuhan gizinya, memilih dan mengolah makanan bagi anggota keluarga, serta memanfaatkan pelayanan kesehatan dan gizi yang tersedia. Kemampuan dan pengetahuan keluarga akan kecukupan gizi juga sangat memegang peranan. Puskesmas Wirobrajan memiliki beberapa pencapaian pembangunan kesehatan, di antaranya adalah mengenai permasalahan gizi buruk. Dalam laporan kasus ini, akan dibahas lebih lanjut mengenai balita dengan gizi buruk tersebut.

B. RUMUSAN MASALAH Rumusan masalah dalam penulisan laporan kasus ini yaitu gizi kurang pada balita dan sanitasi lingkungan yang kurang memadai.
1

C. TUJUAN PENULISAN Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah untuk mengetahui masalah kekurangan gizi (energi), faktor-faktor yang dapat menimbulkan kekurangan gizi dan dampak-dampaknya dari segi kedokteran keluarga.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. GIZI KURANG DAN GIZI BURUK Gambaran status gizi balita diawali dengan banyaknya bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) sebagai cerminan tingginya masalah gizi dan kesehatan ibu hamil. Malnutrisi energi dan protein adalah salah satu masalah gizi utama di Indonesia. Prevalensi yang tinggi terdapat pada anak di bawah 5 tahun serta pada ibu hamil dan menyusui. Berdasarkan SUSENAS 2002, 26% balita menderita gizi kurang dan gizi buruk, dan 8% menderita gizi buruk. Gizi kurang adalah perbandingan berat badan dengan umur berada pada daerah <-2 SD sampai ≥-3 SD, sedangkan gizi buruk adalah bila perbandingan berat badan dan umur berada di kisaran <-3 SD (Klasifikasi Status Gizi Balita, 2002).

3

Pada MEP, ditemukan berbagai macam keadaan patologis, tergantung pada berat ringannya kelainan. Berdasarkan lama dan jumlah kekurangan energi protein, MEP diklasifikasikan menjadi MEP derajat ringan (gizi kurang) dan MEP derajat berat (gizi buruk). Gizi kurang belum menunjukkan gejala yang khas, belum ada kelainan biokimia, hanya dijumpai gangguan pertumbuhan. Pada gizi buruk, di samping gejala klinis didapatkan kelainan biokimia yang khas, sesuai dengan bentuk klinis. Pada gizi buruk didapatkan 3 bentuk klinis, yaitu kwashiorkor, marasmus, dan marasmur-kwashiorkor. Di rumah sakit ataupun Puskesmas, ditemukan penderita marasmus, tetapi kwashiorkor sudah jarang ditemukan.

Malnutrisi merupakan masalah gizi yang multifaktorial. Tindakan pencegahan ditujukan untuk mengurangi insidensi dan menurunkan angka kematian. Oleh karena ada beberapa faktor yang menjadi penyebab timbulnya masalah tersebut, maka untuk mencegahnya bisa dilakukan beberapa langkah, antara lain: a. Pola makan; penyuluhan pada masyarakat mengenai gizi seimbang (perbandingan jumlah karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral berdasarkan umur dan berat badan). b. Pemantauan tumbuh kembang dan penentuan status gizi secara berkala (sebulan sekali pada tahun pertama). c. Faktor sosial; mencari kemungkinan adanya pantangan untuk

menggunakan bahan makanan tertentu yang sudah berlangsung secara turun temurun yang dapat menyebabkan terjadinya MEP. d. Faktor ekonomi; dalam World Food Conference di Roma tahun 1974 telah dikemukakan bahwa meningkatnya jumlah pendiuduk yang cepat tanpa
4

diimbangi dengan bertambahnya persediaan bahan makanan setempat yang memadai merupakan sebab utama krisis pangan. Sedangkan kemiskinan penduduk merupakan akibat lanjutannya. Ditekankan pula perlunya bahan makanan yang bergizi baik di samping kuantitasnya. e. Faktor infeksi; telah lama diketahui adanya interaksi sinergis antara MEP dan infeksi. Dalam keparahan apapun, infeksi dapat memperburuk keadaan status gizi. MEP, walaupun dalam derajat ringan, menurunkan daya tahan terhadap infeksi.

1. Langkah diagnostik Anamnesis Keluhan yang sering ditemukan adalah pertumbuhan yang kurang, seperti berat badan yang kurang dibandingkan dengan anak yang sehat. Bisa juga didapatkan keluhan anak kurang / tidak mau makan atau sering menderita sakit yang berulang. Pemeriksaan Fisik MEP ringan, sering ditemukan gangguan pertumbuhan: a. Pertumbuhan linier berkurang atau terhenti.

5

Tebal lipatan kulit berkurang atau normal. g. Kenaikan berat badan berkurang atau terhenti. c. Maturasi tulang terlambat. ada kalanya berat badan bahkan menurun. h. MEP berat: Kwashiorkor: a. e. Ada kalanya dijumpai kelainan kulit atau rambut. i. Aktivitas dan perhatian berkurang jika dinbandingkan dengan anak sehat. Ukuran lingkar lengan atas menurun. Rasio berat badan terhadap tinggi normal / menurun. Anemia ringan. b.b. f. Perubahan mental sampai apatis Edema sering dijumpai Atrofi otot 6 . c. d.

b. tipis dan mudah rontok Lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit berkurang Atrofi otot. g. protein serum (albumin. c. feces lengkap. e. j. f. urin lengkap. c. transferrin. Gangguan sistem gastrointestinal Perubahan rambut dan kulit Pembesaran hati Anemia Marasmus: a. e. dingin dan mengendur Rambut kering. sehingga tulang terlihat jelas Sering diare atau konstipasi Kadang terdapat bradikardi Tekanan darah lebih rendah dibanding anak sehat yang sebaya Kadang frekuensi pernapasan menurun Pemeriksaan penunjang a. f. Penampilan seperti orangtua. elektrolit serum. i. Radiologi foto dada EKG 7 . Darah lengkap. ferritin.d. terlihat sangat kurus Perubahan mental Kulit kering. g. d. globulin). h. profil lemak b.

Terapi suportif atau dietetik a. Intravena (parenteral) 4. 5. Memantau status gizi secara rutin dan berkala. Oral (enteral) Gizi kurang: 120-150 kkal/kgBB/hari. Pengobatan apabila terjadi infeksi Pengobatan hipotermi 3. b. Gizi buruk: 150-220 kkal/kgBB/hari. Pengobatan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit (rehidrasi. gangguan elektrolit. Edukasi 8 . Pemantauan tumbuh kembang a. c. b. hipoglikemi) b.2. Terapi medikamentosa a. Memantau perkembangan kemampuan.

bila tidak maka diklasifikasikan menjadi diare non-disentriform). berapa kali sehari. rasa haus. kesadaran menurun. DIARE AKUT Diare akut adalah buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan konsistensi cair dan berlangsung kurang dari 1 minggu. 2004). rewel. 1. anak lemah. melatih ketaatan dalam pemberian diet dan menjaga kebersihan diri dan lingkungan. suhu badan. Diare dapat menyebabkan gangguan gizi dan kematian yang disebabkan karena dehidrasi (Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. adanya muntah. lendir dan/atau darah dalam tinja (bila ada berarti tipe diare disentriform. kapan kencing terakhir. Penyebab terbanyak pada usia 0-2 tahun adalah infeksi rotavirus. B. warna dan konsistensi tinja.Memberikan pengetahuan kepada orangtua tentang pemantauan gizi. Langkah diagnostik Anamnesis Keterangan yang perlu diketahui adalah sudah berapa lama diare berlangsung. 9 .

pasien dengan diare diperiksa klinis untuk menentukan ada tidaknya dehidrasi dan klasifikasi dehidrasi tersebut. Pemeriksaan Penunjang a. biakan dan uji sensitivitas b. apakah ada yang menderita diare di sekitarnya dan dari mana sumber air minum. b. mata cekung. cubitan kulit perut kembalinya lambat. apakah anak makan makanan yang tidak biasa. atau dengan oral 10 . Terapi a. bila didapatkan dua atau lebih tandatanda: gelisah/rewel. Tinja. mata sangat cekung. haus (terlihat minum dengan lahap). tidak bisa minum atau malas minum. a. Kimia darah. Diare dengan dehidrasi ringan. bila tidak cukup tanda-tanda untuk diklasifikasikan menjadi tipe dehidrasi di atas. Diare dengan dehidrasi berat: rencana terapi C (penanganan dehidrasi berat dengan cepat). cubitan perut kembalinya sangat lambat. elektrolit 2. Diare tanpa dehidrasi. rehidrasi intravena sesuai umur. anak minum ASI atau susu formula. Diare dengan dehidrasi berat. Pemeriksaan Fisik Setelah dianamnesis. bila didapatkan dua atau lebih tandatanda: anak letargis.Perlu juga ditanyakan mengenai jumlah cairan yang masuk selama diare. c. makroskopis dan mikroskopis.

Diare tanpa dehidrasi: rencana terapi A (penangan diare di rumah). Diare dengan dehidrasi ringan: rencana terapi B (penanganan dehidrasi ringan dengan Oralit). b. Etiologi dari penyakit ini paling banyak adalah virus. Setelah 3 jam. Program Pemberantasan Penyakit ISPA membagi ISPA menjadi 2 bagian yaitu pneumonia dan bukan pneumonia. laring. monitor setiap 1 jam diikuti dengan klasifikasi dehidrasi ulang 6 jam kemudian. trakea. sesuai berat badan dan umur. Untuk kasus ini. ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) Infeksi saluran napas akut merupakan infeksi yang terjadi di saluran napas dalam waktu kurang 14 hari. Sedangkan saluran napas adalah saluran udara yang dimulai dari hidung. edukasi ibu tentang cara pemberian Oralit (sesuai umur). sekaligus edukasi mengenai pemberian cairan tambahan yang utama (ASI). C. c. ditandai dengan batuk dan pilek. 11 . sehingga tidak memerlukan terapi antibiotik. bronkus hingga alveolus. dinilai kembali derajat dehidrasinya. Sebagian besar infeksi pernapasan bersifat ringan. faringitis dan tonsillitis digolongkan menjadi ISPA bukan pneumonia. Penyakit rhinitis. faring. dilakukan di klinik selama periode 3 jam.maupun dengan NGT. pasien tidak perlu menjalani rawat inap. yang memiliki peran dalam pernapasan manusia.

Namun. memuntahkan semuanya. Langkah diagnostik Anamnesis Tanyakan sudah berapa lama anak mulai batuk pilek. Stridor 2. Klasifikasi dan terapi Gejala • Ada tanda bahaya umum • Tarikan dinding Klasifikasi Pneumonia berat Tindakan Beri dosis pertama antibiotik dan rujuk segera 12 . atau tidak sadar.Penyebab infeksi bakteri pada balita sangat sedikit. Adanya napas cepat. yaitu apakah anak tidak bisa minum. hitung napas dalam 1 menit ( anak umur 2-12 bulan ≥ 50 kali/menit. pada balita gizi kurang dan sanitasi buruk memiliki resiko lebih besar terkena pneumonia. Pneumonia harus diterapi dengan antibiotik yang sesuai. apakah di rumah anak tampak sesak napas / sulit bernapas. 1. Pemeriksaan fisik a. Tarikan dinding dada ke dalam d. anak umur 1-5 tahun ≥ 40 kali/menit) c. Tanyakan mengenai tanda bahaya umum. kejang. Tanda bahaya umum: b.

BAB III LAPORAN KASUS 13 . 2002.dada • Stridor Napas cepat Pneumonia • Beri antibiotik yang sesuai selama 5 hari • Beri pelega batuk yang aman Tidak ada tanda Bukan pneumonia • Kunjungan ulang setelah 2 hari • jika batuk lebih dari 30 hari. Depkes RI. rujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut • Beri pelega batuk yang aman • Kunjungan setelah 5 hari bila tidak ada perbaikan pneumonia Sumber: MTBS.

S. Setiyaki WB II no.A. IDENTITAS Nama Umur TTL Jenis kelamin Alamat Agama No. I. 377 RT 15 RW 04 Wirobrajan : Islam : 02-2622-02 Nama ayah Pekerjaan Usia Agama Pendidikan terakhir Nama ibu Pekerjaan Usia Agama : Bp. : Ibu rumah tangga : 20 tahun : Islam 14 .J. 5 Februari 2007 : laki-laki : Jl. : 22 minggu : Yogyakarta. RM : An. : Karyawan swasta (perusahaan catering) : 23 tahun : Islam : SMA : Ny. A.L.R.

1 hari sebelum ke Puskesmas: Diare berhenti. Pilek berwarna bening. batuk ngikil. Makanan terakhir sebelum diare adalah susu bendera cokelat sachet.Pendidikan terakhir : SMP Tanggal kunjungan Puskesmas : 17 Desember 2008 Tanggal kunjungan rumah I Tanggal kunjungan rumah II : 18 Desember 2008 : 20 Desember 2008 B. Demam turun setelah diberi obat penurun panas. Saat pemeriksaan di puskesmas: BAB cair terjadi lagi. tanpa lendir dan darah. ANAMNESIS Keluhan utama Keluhan tambahan : BAB cair : batuk pilek dan demam 1. Pasien batuk dan pilek. BAK lancar dan banyak. yaitu BAB 4 kali dengan tinja banyak. yaitu 4 kali dengan jumlah banyak. dengan dahak yang sulit keluar. berwarna kuning. tapi sulit makan. terakhir BAK sejam sebelum ke Puskesmas. Demam tinggi terus-menerus. Muntah (-). Menurut ibunya. Muntah (-). Pasien 15 . Riwayat penyakit sekarang: 2 hari sebelum ke Puskesmas: Pasien BAB lebih sering dari biasanya. tanpa lendir darah. pasien minum ASI banyak dan tampak kehausan jika diberi minum. Batuk dan pilek menetap.

Pasien sulit / tidak mau makan. Riwayat penyakit keluarga: Ibu dari nenek pasien asma. Pasien tidak terlihat sesak napas. 3. Pasien belum pernah melakukan tes Mantoux dan foto radiologis dada. tidak pusing-pusing. 4.masih batuk dan pilek dengan dahak sulit keluar dan cairan pilek berwarna bening. Ibu pasien merasa anaknya cepat tertular batuk pilek dari tetanggatetangganya. tetangga pasien ada yang sedang batuk pilek. Tidak ada orang di lingkungan pasien yang menderita diare. Pasien sering diare. terutama setelah diberi susu formula. 2. Riwayat kehamilan dan persalinan: Ibu hamil saat usia 17 tahun. Tidak ada anggota keluarga serumah yang menderita batuk lama. muntah tidak berlebihan. Tidak ada riwayat alergi obat. tidak pernah jatuh. selama hamil ibu tidak mengalami demam. Riwayat penyakit dahulu: Pasien pernah mondok di RSUD Wirosaban karena muntaber saat usia 13 bulan. Ibu pasien mengeluh berat badan anaknya tidak sesuai dengan usianya. Kaki ibu tidak bengkak. tidak ada tekanan darah tinggi. Demam menetap. Ibu kontrol rutin di 16 .

Bayi tidak pernah kuning. riwayat melahirkan kurang bulan dan pemberian ASI tidak sesuai anjuran. ditolong oleh bidan. air putih (1/2 gelas belimbing). Siang 17 . Bayi disuntik vitamin K. ibu menyusui bayi kurang dari 30 menit setelah bersalin. imunisasi TT 2 kali. Pola makan: Pagi Bubur nasi (1/4 mangkuk). bayi langsung menangis. kulit kemerahan (tidak pucat). telur rebus (1/2 butir). Setelah melahirkan bayi diberi ASI eksklusif selama 4 bulan. Persalinan pervaginam dalam umur kehamilan sekitar 8 bulan. Kesimpulan: riwayat kehamilan ibu dalam usia yang muda (kurang dari 20 tahun).Puskesmas. 5. kepala lahir terlebih dahulu. mengkonsumsi multivitamin penambah darah. berat bayi saat lahir 2500 gram. ASI.

buah (semangka atau papaya). air putih. ASI. Sore Bakso (1/4 mangkuk) atau sup (1/4 mangkuk) Malam Roti sobek (1 buah) atau wafer. Kesimpulan: pola makan pasien kurang baik dari segi kuantitas dan kualitas. sup ayam sayur (1/4 mangkuk). cokelat.Nasi (1/4 mangkuk). 18 .

tempe. Riwayat makan: Umur 0-4 bulan 4-5 bulan Makanan ASI eksklusif ASI Bubur ditambah 5 bulan sumsum sayur dan Sesuai kemauan bayi ±2 sendok makan Sesuai kemauan bayi (≥8 kali/hari) Bubur ditambah sumsum sayur dan ±1 potong Sesuai kemauan bayi 1/2 mangkuk tahu. sayur ±1 potong Sesuai kemauan bayi 1/4 mangkuk 1/2 butir ±1 potong kecil (sedikit) 1 potong 1-2 kali/hari Sesuai kemauan bayi (≥8 kali/hari) Nasi lembek/bubur Telur rebus Ikan Sayur Buah 2 kali/hari 2 kali/hari 2 kali/hari 2 kali/hari 1 kali/hari 1/2 . dihaluskan 12-22 bulan Pisang/pepaya ASI ikan.1 potong 1-2 kali/hari Sesuai kemauan bayi (≥8 kali/hari) Bubur nasi Telur. 3 kali/hari 3 kali/hari 3 kali/hari Jumlah Sesuai kemauan bayi Sesuai kemauan bayi ±2 sendok makan Frekuensi Sesuai kemauan bayi Sesuai kemauan bayi (≥8 kali/hari) 3 kali / hari ikan atau bubur sun ASI ikan atau bubur sun 6-12 bulan Pepaya/pisang ASI 19 .6.

20 . 05/06/07. roti 1 potong/1 sobek 1 kali/hari Kesimpulan: riwayat makan kurang baik 7. 4 bulan. 5 bulan 3 minggu Kesimpulan: riwayat imunisasi kurang lengkap. Riwayat perkembangan: Umur 1 bulan Perkembangan Mengeluarkan suara Tersenyum 4 bulan 6 bulan 12 bulan 14 bulan 20 bulan 22 bulan Lengan dan kaki aktif bergerak Tengkurap sendiri Meraih benda-benda di sekitarnya Duduk Berjalan sendiri Berlari Mencoret-coret Menunjukkan dan menyebut benda Kesimpulan: tidak ada kelainan perkembangan. Riwayat imunisasi: Imunisasi Waktu BCG 13/02/07 DPT combo 25/05/07. 29/07/07 Campak 07/11/07 Polio 14/03/07. 4 bulan. 5 bulan 9 bulan 1 bulan.Jajan cokelat. 25/06/07. 25/07/07 Hepatitis B 28/02/07 Sumber: KMS pasien Umur 8 hari 3 bulan. 8.

Sistem gastrointestinal: BAB cair (+). kaki tangan dingin (-). frekuensi napas 36 kali/menit. 21 . darah (-).9. penurunan kesadaran (-). Pemeriksaan Umum Keadaan umum Kesadaran Tanda utama : rewel : compos mentis : temperatur aksila 38. PEMERIKSAAN FISIK 1. Sistem kardiovaskular: Kebiruan (-). sesak napas (-). riwayat kejang (-). radialis 104 kali/menit. : 75 cm. Sistem muskuloskeletal: Gerakan bebas. Sistem respirasi: Batuk berdahak (+). Sistem integumentum: Pucat (-). Berat badan Tinggi badan Umur : 9. pilek (+). Anamnesis Sistem: SSP: Demam (+) hari II-III. tipe demam tinggi terus-menerus.2º C. turgor baik. lendir (-). C. : 22 minggu. nadi a.1 kg. keriput (-). Sistem urogenital: keluhan BAK (-).

22 . petechiae (-). keriput (-). *SD: Standar Deviasi Grafik di KMS: berada di bawah pita hijau. Kulit: Sianosis (-).Status gizi: Pengukuran BB/U PB/U BB/PB Rentang <-2SD .9. turgor baik. 2002.≥-3SD* (8. servikal dan inguinal. Kesimpulan: status gizi kurang. Kelenjar limfe: tidak ada pembesaran limfonodi aksila. rash (-).2 – 11.6) <-2SD (≤79.6) Interpretasi Gizi kurang Pendek Normal Sumber: Klasifikasi Gizi Anak Bawah Lima Tahun.3) >-2SD s/d 2SD (8. Otot: eutrofi.4 .

faring hiperemi (+). : mesosefal. tidak ada pembesaran kelenjar limfonodi. tanda gawat napas (-). pucat (-). udem palpebra (-/-). b. Dada 23 . kepala Rambut Bentuk : rambut merah. Hidung :simetris. Sendi: gerakan bebas. kelenjar tiroid tidak membesar. sklera ikterik (-/-). napas cuping hidung (-). sariawan (-). lidah kotor (-). stridor (-). discharge (+) putih. Pemeriksaan Khusus a. penyebaran tidak merata. 2. tanda radang (-). Kesimpulan: kesan gizi kurang.Tulang: gerak bebas. ubun-ubun sudah menutup (tidak dapat dilakukan pemeriksaan ubun-ubun cekung pada kemungkinan dehidrasi karena diare). tanda dehidrasi (-). JVP tidak meningkat. air mata (+/+). konjungtiva anemis (-). mudah rontok. retraksi suprasternal (-). Telinga Mulut :serumen (+). :mukosa bibir basah. Leher :simetris. Mata : mata cekung (-/-). tanda radang (-). epistaksis (-).

ketinggalan gerak (-) Vokal fremitus normal P Sonor pada semua lapang paru P Vesikuler tdk menurun. krepitasi (-) Belaka I Normoces. Wheezing (-). retraksi interkosta (-). RBK (-). deformitas (-). Abdomen: 24 . ketinggalan gerak (-) Vokal fremitus normal P Sonor pada semua lapang paru P Vesikuler tidak menurun. retraksi subkosta (-). deformitas (-). Wheezing (-). retraksi subkosta (-). c. sikatrik ng (-). RBH (-). retraksi interkosta (-). ketinggalan gerak (-) Vokal fremitus normal Sonor pada semua lapang paru Vesikuler tdk menurun. Kesimpulan: tanda gawat napas (-). sikatrik (-). krepitasi (-) Depan I Normoces. Wheezing (-). A RBH (-). RBK (-). RBK (-). ketinggalan gerak (-) Vokal fremitus normal Sonor pada semua lapang paru Vesikuler tidak menurun. retraksi interkosta (-).Paru-paru: Paru Kanan Kiri Normoces. Palpasi. krepitasi (-) Jantung : Inspeksi: ictus cordis tidak tampak kuat angkat. perkusi dan auskultasi tidak dapat dilakukan dengan baik karena pasien tidak kooperatif. retraksi subkosta (-). A RBH (-). sikatrik (-). deformitas (-). sikatrik (-). RBH (-). Wheezing (-). RBK (-). krepitasi (-) Normoces. deformitas (-). Jantung tidak dapat dinilai optimal. retraksi interkosta (-). retraksi subkosta (-).

d. venektasi (-). Auskultasi : peristaltik meningkat. Kesimpulan : iritasi kulit (+). : meteorismus (+). genital tidak ada kelainan. ascites (-). Kesimpulan : tanda dehidrasi (-). ginjal. hepar. tanda kelamin sekunder belum tampak. rash (-). Anogenital : anus (+). diaper rash (+).Inspeksi :dinding dada sama tinggi dengan dinding abdomen. Palpasi Perkusi : turgor kulit baik. hipermotilitas usus (+). ren tidak teraba. keriput (-). 25 . genital laki-laki. sikatrik (-). pembesaran organ (-).

Saran pemeriksaan penunjang : Darah rutin Feses segar (makroskopis dan mikroskopis) Mantoux Test E. nadi kaki kuat. D. perfusi jaringan baik.e. DIAGNOSIS 26 . Kesimpulan: ekstremitas dalam batas normal. pembengkakan (-). Akral hangat. Ekstremitas Pemeriksaan Gerakan Tonus Trofi Reflek fisiologis : TUNGKAI KANAN KIRI LENGAN KANAN KIRI Bebas Bebas Bebas Bebas Normal Normal Normal Normal Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi Patela (+) Patela (+) Biceps (+) Biceps (+) Achiles (+) Achiles (+) Triceps (+) Triceps (+) Reflek patologis Babinski (-) Babinski (-) Chadok (-) Chadok (-) Klonus (-) Klonus (-) Sensibilitas (+) (+) (+) (+) Meningeal sign tidak dilakukan karena pasien tidak kooperatif. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pada pasien ini belum dilakukan pemeriksaan penunjang.

ganti susu formula dengan susu non-laktosa atau susu kedelai. 3.1. tanpa lendir-darah (non-disentriform) tanpa ada tanda dehidrasi. 27 . Status gizi kurang Alasan: Gangguan pola dan nafsu makan. . kurve BB/U dan kurve KMS menginterpretasikan gizi kurang. durasi keluhan kurang dari 7 hari. 2.lanjutkan pemberian ASI dan makan. Diare akut non-disentriform tanpa dehidrasi a. . ciri-ciri fisik menunjukkan adanya gangguan gizi. F. b. . tanda radang saluran napas atas (+). ISPA non-pneumonia Alasan: Batuk pilek. durasi keluhan kurang dari 14 hari tanpa tanda gawat napas. Diare akut non-disentriform tanpa dehidrasi Alasan: BAB cair lebih dari 3 kali/hari. PENATALAKSANAAN 1.frekuensi pemberian ASI harus lebih dari 8 kali/hari.kunjungan ulang dalam 2 hari. rencana terapi A (penanganan diare di rumah): . tajin) 100-200 ml setiap sehabis BAB (1-2 gelas belimbing).dapat diberikan Oralit atau cairan makanan (kuah sayur.

Kunjungan ulang dalam 5 hari bila tidak ada perbaikan atau ada tanda gawat napas seperti sesak napas. maka contoh diet dalam sehari dapat dikemukakan pada tabel di bawah: 28 . BAK kurang atau tidak BAK.5 mg.1 kg = 1092 kal/hari Edukasi pola makan Pantauan status gizi rutin (sebulan sekali) sampai usia 5 tahun Pantauan perkembangan oleh keluarga.menu makanan diseusaikan dengan kondisi ekonomi yang ada . jari-jari pucat atau biru. Koreksi dietetik. Dengan asumsi bahwa: . b. Medikamentosa: Ambroxol syr.2. Gizi Kurang a. kesadaran menurun atau anak tidak dapat minum. b. c. 3. 2x1 setelah makan. d.anak sudah sembuh dari demam . 7.jenis makanan dapat diganti dengan makanan dengan kandungan gizi sejenis dan jumlah kalori yang sama . ISPA non-pneumonia a.jumlah kalori yang kurang akan dipenuhi dari ASI. 120 kal/hari x 9.

5 30 gr 47.5 gr 22.5 ½ ptg besar 25 gr 47.5 ½ ptg besar 50 gr 40 1 ptg sedang 25 gr 40 ½ gelas 50 gr 40 1 bh sedang 50 gr 40 Selingan 2 sdm 12.5 175 225 1085 29 .5 50 gr 25 12.5 gr 65 Selingan 2 ½ sdm 25 gr 80 ½ gelas 50 gr 45 2 buah 25 gr 87.5 ½ gelas 50 gr 25 ½ gelas 50 gr 25 1 ptg sedang 100 gr 40 Total kalori dalam sehari 212.5 247.5 ¼ sdm 2.5 SIANG 1/3 gelas 50 gr 87.5 MALAM ¾ gelas 100 gr 87.PAGI Jenis Bubur beras Telur ayam kampung Bayam Tepung sari kedelai Kacang hijau Santan Biskuit marie Nasi Tahu Tempe Labu siam Pisang ambon Tepung sari kedelai Roti putih Mentega Mi basah Daging ayam Wortel Buncis Pepaya Takaran 1 gelas 1 butir ½ gelas 2 sdm Berat Kalori Total Kalori 225 200 gr 87.5 gr 65 1 ¼ iris 40 gr 87.

tekanan darah tidak dapat dilakukan. Batuk (+) tapi sudah membaik. tidak ada tanda-tanda dehidrasi. Kondisi Pasien Saat kunjungan rumah yang pertama. Anggota Keluarga Anggota keluarga yang berada di satu rumah yaitu: 30 . radialis pasien 96 kali/menit. 2. Pasien masih sulit makan. Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan adanya gawat napas. ANALISA KUNJUNGAN RUMAH 1. nadi a. pasien masih tampak rewel.3ºC. ditemukan temperatur aksila 37. Pada pemeriksaan fisik. Diare sudah tidak terjadi.BAB IV PEMBAHASAN A.

Nama S DP SL IJ AR Peran di keluarga Nenek Adik dari ibu pasien Ayah pasien Ibu pasien Pasien Pekerjaan Ibu rumah tangga Pelajar SD Karyawan swasta (catering) Ibu rumah tangga - Ayah pasien sudah bekerja selama 6 tahun pada perusahaan catering dan sebelumnya belum ada pengalaman kerja yang lain. Sebagian halaman samping digunakan untuk menjemur baju. tidak ada genangan air. dinding rumah terbuat dari tembok dan atap rumah terbuat dari genteng. 3. S. Lantai rumah terbuat dari semen. Ibu pasien belum pernah punya pengalaman kerja. Sebagian halaman di-conblock. Halaman Luas halaman rumah ±61. Rumah dihuni oleh 5 orang. sehingga rata-rata 30 m2 untuk setiap penghuni rumah. Keadaan Rumah a. dengan luas bangunan ±150 m2. Bangunan rumah Rumah dibangun kokoh dan tidak bertingkat. 31 .5. b. sebagian tanah biasa. Kebersihan halaman cukup. Rumah milik pribadi atas nama Ny.

sumur menggunakan pelindung dan ditutup. Letak barang-barang kurang rapi. 1 meja belajar dan peralatan dapur. sebuah televisi berwarna ukuran 14 inchi dan sebuah blender. g. e. Sulit dilakukan kegiatan membaca di ruangan yang tidak berjendela (di siang hari tanpa lampu). Pencahayaan Pencahayaan terkesan kurang pada kamar yang tidak berjendela. 32 . Sumur pompa terletak di ruang tamu. d. Kebersihan dan kerapian rumah Kebersihan di dalam rumah terkesan kurang. 4 lemari. f. 5 kasur. Kelembaban udara dalam rumah Terasa lembab di dalam ruangan yang tidak berjendela. Di sekitar rumah tidak ada yang memiliki hewan peliharaan. cukup untuk keperluan sehari-hari. Alat elektronik yang ada di rumah adalah sebuah kipas angin listrik. h. Daya listrik yang dipakai pada rumah adalah 900 watt. 1 rak televisi.c. mandi dan mencuci berasal dari sumur pompa dan pam. Jarak antara sumur dengan resapan kurang dari 10 meter. Kepemilikan barang Kepemilikan barang di rumah adalah 1 sepeda. Sumber air Sumber air yang digunakan untuk minum. Kepemilikan hewan peliharaan dan kandang Keluarga tidak memiliki kandang dan hewan peliharaan. meja tamu sederhana.

Kondisi sumur: No. g. Ya (kotoran hewan). parit di depan rumah Tidak Tidak/ada Radius >1 m Kondisi sumur: a. 2. Pertanyaan Apakah ada jamban dalam jarak 10 m sekitar sumur yang dapat menjadi sumur pencemaran? Apakah ada sumber pencemaran lain dalam jarak 10 m dari sumur? 3. Ya. 10. 7. 4. c. 5. d. Tidak. Ya. 1. h. parit buatan untuk membuang limbah cuci piring/cuci pakaian. Tidak. Ya. f. 33 . Tidak. e. Ya. 6. tidak ada. 9. 8. b. Apakah ada/sewaktu-waktu ada genangan air dalam jarak 2 m sekitar sumur? Apakah saluran pembuangan rusak/tidak ada? Apakah lantai semen yang mengitari sumur mempunyai radius kurang dari 1 m? Apakah ada/sewaktu-waktu ada air di atas lantai semen sekeliling sumur? Apakah ada keretakan pada lantai sekitar sumur yang memungkinkan air merembes ke dalam sumur? Apakah ember dan tali timba seaktu-waktu diletakkan sedemikian rupa sehingga memungkinkan pencemaran? Apakah bibir sumur (cincin) tidak sempurna sehingga memungkinkan air merembes ke dalam sumur? Apakah dinding semen sepanjang kedalaman 3 m dari atas permukaan tanah tidak diplester cukup rapat/sempurna? Jawaban Ya Ada.

Aliran parit lancar. tidak tertutup dan tidak memiliki alas (langsung ke tanah) dengan ukuran ± 0.5 1.5x2 m 0. i.20 m 0.5x0.i.5 4x3 >25% <25% >25% <25% <25% <25% <25% <25% Ukuran Jendela Ventilasi 2. Tidak. Sistem pembuangan limbah rumah tangga Tempat sampah diletakkan di halaman depan rumah. <25% keluarga Kamar I Kamar II Kamar III Kamar IV Kamar V Gudang K.20 m 4x3 4x3 3x3 3x3 3x3 2x3 1.5 m.20 m 1x0. Denah rumah pasien 34 . Air bekas pencucian alat dapur dan pakaian disalurkan melalui parit di depan rumah.5x1.20 m 0. j. Pembagian ruangan rumah Ruang Ruang dan tamu ruang 2.5x1.20 m 1x0.5x0.5x2 m Ukuran Ruangan 7x3 Perbandingan Ket. Pengangkutan sampah tidak teratur sehingga kadang menyebabkan banyak lalat.mandi II Dapur WC (-) WC (+) jongkok j.5x0. Tidak.mandi I K.5x2 m 2.5x2 m 1x0.

2. : serapan : septic tank : gudang : kamar mandi yang tersedia untuk warga : sumur U : utara Lokasi rumah pasien: Jl. K5 : kamar tidur 1.11 m M1 D G MCK K3 K1 T RK 9m K5 S RT M2 S T K4 K2 U Legenda: D : dapur K1. 3. RT RK T M1. 5.2. P.Tendean Jl. 4. Pada M2 terdapat WC. K2. K4. RE Martadinat a 35 . K3. M2 S ST G MCK : ruang tamu : ruang keluarga : teras : kamar mandi 1.

Bugisan U Legenda: U : Utara 36 . Patangpuluhan Jl. Gatotkaca Gg. Sadewo Gg. Ontoseno Gg. Harjuna Gg. Werkudoro Jl. Setiyaki Gg. Puntodewo Gg.Rumah pasien Gg. Pandu Jl. S. Parman Puskesmas Wirobrajan Jl. Ontorejo Gg. Nakulo Gg. Abimanyu Gg.

decision maker A R Legenda: : laki-laki : perempuan ------. SL. P. IJ. R. SF.:tinggal serumah N. AR: inisial nama anggota keluarga 37 . ES. S.Genogram keluarga AR (dibuat tanggal 18 Desember 2008): N 55 50 R 46 P S 65 20 S L 23 8 S F 19 ES F F F F I J 23 D P F Breadwinner. DP.

intoleransi makanan meningkat 5. Namun pembiayaan hidup juga dibantu oleh adik dari IJ yang bekerja di luar kota.4. DIAGRAM REALITA YANG ADA PADA KELUARGA Lingkungan rumah yang kotor Kurangnya intake gizi Pengetahuan gizi yang kurang Gizi kurang Rendahnya pendidikan Mudah terinfeksi (ISPA). 2. APGAR itu sendiri terbagi dalam: 1. Pada kasus ini. Implikasi kesehatan pada keluarga ini lebih banyak terpengaruh dari asupan makanan dan kebersihan penghuni rumah. Adaptasi (adaptation) Dinilai dari tingkat kepuasan anggota keluarga dalam menerima bantuan yang diperlukan. SL sebagai orang yang bertanggungjawab atas 5 orang. Kemitraan (partnership) 38 . 6. NILAI APGAR KELUARGA Nilai APGAR adalah salah satu cara untuk mengidentifikasi sehat atau tidaknya fungsi suatu keluarga. SIKLUS KEHIDUPAN KELUARGA Siklus kehidupan keluarga pada keluarga ini adalah family with young children.

Kasih saying (affection) Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kasih saying serta interaksi emosional yang berlangsung dalam keluarga. 3. 5. Dalam kasus ini. 4. 39 .Dinilai dari tingkat kepuasan anggota keluarga berkomunikasi. Pertumbuhan (growth) Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebebasan yang diberikan keluarga dalam mematangkan pertumbuhan dan kedewasaan dari setiap anggota keluarga. Kebersamaan (resolve) Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebersamaan membagi waktu. maka kuisioner APGAR ini diisi oleh ibu pasien. kekayaan dn ruang antar anggota keluarga. bermusyawarah dalam mengambil keputusan dan atau menyelesaikan suatu masalah. karena pasien masih balita.

Kuisioner APGAR keluarga Hampir Penilaian Saya puas dengan keluarga saya karena masing-masing anggota keluarga suda menjalankan kewajiban sesuai dengan seharusnya. x tidak pernah Kadang Hampir selalu 40 . Saya puas dengan keluarga saya karena dapat membantu memberikan solusi x terhadap permasalahan yang saya hadapi.

ANALISIS SCREEM Aspek Sosial Sumber Daya Patologi Interaksi antar anggota keluarga terjalin baik dan semua anggota keluarga menjalankan fungsinya dengan baik. 7. Saya puas dengan waktu yang disediakan x x keluarga untuk menjalin kebersamaan TOTAL 8 Skoring: hampir selalu: 2. hampir tidak pernah:0 Total skor: 8-10: fungsi keluarga sehat 4-7 : kurang sehat 0-3 : sakit Dapat disimpulkan bahwa fungsi keluarga ini adalah fungsi keluarga sehat. Keluarga pasien serta masyarakat sekitar memiliki budaya saling mengenali tetangga dan memiliki kultur tolongmenolong yang tinggi. Anggota keluarga memiliki keinginan untuk 41 Kultural Religi . Saya puas dengan kehangatan / kasih saying yang diberikan keluarga saya.Saya puas dengan keluarga kebebasan saya yang untuk x diberikan mengembangkan kemampuan yang saya miliki. Anggota kleuarga menjalankan ibadahnya dengan baik. kadang:1.

IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI KELUARGA 1. 2. Dapat dilihat dari tabel SCREEM bahwa dalam bidang ekonomi. Fungsi sosial 42 . Fungsi biologis Ibu pasien merasa tidak ada gangguan dalam fungsi biologis pada dirinya maupun suaminya. Pendidikan orangtua pasien tergolong rendah. pendidikan dan kesehatan masih terdapat dalam kolom patologi. Ekonomi Pendidikan Kesehatan ajaran Kebutuhan ekonomi masih sering berfluktuasi. Kesadaran keluarga pasien akan sanitasi lingkungan kurang. sehingga perlu peningkatan kualitas ketiga hal tersebut dalam penanganannya. 8.memperdalam agamanya. Fungsi afektif Hubungan suami dan istri. serta anggota keluarga yang hidup seatap terjalin baik. Kehidupan seks mereka dalam keadaan harmonis. 3.

Keluarga pasien kurang pengetahuan masalah gizi. IDENTIFIKASI PENGETAHUAN. 5.-/hari sebagai karyawan perusahaan catering. Uang ini dipakai oleh 5 anggota keluarga serumah. yaitu Rp. Perencanaan reproduksi Keluarga pasien saling bekerjasama dalam menentukan program KB. Besarnya upah ini kadang dirasa cukup. yaitu dengan kondom. 6. maka kadang kebutuhan menu makanan seimbang menjadi terganggu. SIKAP DAN PERILAKU 1. sedangkan ayah pasien SMU. ibu pasien mengikuti program KB. 40. 2.000. Fungsi pendidikan Pendidikan terakhir ibu pasien adalah SMP. 4. Fungsi religius Semua anggota keluarga menjalankan ibadahnya dengan baik. Apabila kebutuhan meningkat.Keluarga pasien sering menyapa tetangga dn sering bekerjasama dengan mereka. Pencegahan penyakit 43 . kadang keluarga ini juga mendapat bantuan dari adik IJ (ibu pasien) yang bekerja di luar kota sebagai karyawan swasta. namun kadang tidak. 9. Fungsi ekonomi Ayah pasien bekerja dengan upah perhari. Setelah melahirkan anak I (pasien). Namun.

IDENTIFIKASI LINGKUNGAN HIDUP KELUARGA Rumah pasien terletak di lingkungan yang kurang mengutamakan hygiene dan sanitasi. 5. tingkat ekonomi yang sangat sederhana dan jumlah yang kurang. Selain itu. 4. jarak resapan dan sumur sumber air yang dekat dan kebiasaan masyarakat yang tidak menjaga kebersihan badan dan lingkungan. walaupun pasien (anak) sulit makan. Higiene dan sanitasi lingkungan Karena jarak antara sumur resapan dan sumur sumber air kurang dari 10 meter. karena pembuangan sampah yang tidak teratur. 10. Gizi keluarga Pemenuhan gizi kelarga kurang mencukupi karena pengetahuan yang kurang. misalnya dengan mencuci tangan dan mengkonsumsi multivitamin. maka sanitasi dasar pada keluarga ini kurang memenuhi syarat. di sekitar keluarga pasien juga terdapat anak-anak sebaya pasien yang kurang menjaga sanitasi lingkungan dan badan. Pasien juga sudah berusaha untuk mengoptimalkan asupan gizi anak.Ibu pasien merasa sudah melakukan upaya-upaya pencegahan terhadap penyakit yang mungkin timbul di dalam keluarga. sehingga resiko penularan penyakit meningkat. Penggunaan pelayanan kesehatan Pasien dan keluarganya cukup menggunakan pelayanan kesehatan di Puskesmas. 44 . 3.

11. 2. 16. Total Skoring: 1-5 6-10 : Klasifikasi Sehat I : Klasifikasi Sehat II 45 . 6.11. Kriteria yang dinilai Tidak merokok Persalinan dibantu tenaga medis Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan Imunisasi Balita ditimbang secara teratur Kebiasaan sarapan pagi Makan buah dan sayur JPKM Cuci tangan Gosok gigi Olahraga Jamban Air bersih bebas jentik sampah SPAL Ventilasi Kepadatan Lantai Jawaban Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 11 Skor 4. 18. 14. 5. 7. 8. 15. 1. 10. 3. IDENTIFIKASI MASALAH PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT Tabel perilaku hidup bersih dan sehat: No. 17. 9. 12. 13.

12. perilaku hidup bersih dan sehatnya kurang memadai. kelengkapan data KMS dan menilai kondisi rumah 20 Desember 2008 Anamnesis penyakit kembali. PELAKSANAAN PROGRAM PEMBINAAN Tanggal Kegiatan yang dilakukan 18 Desember 2008 Anamnesis perjalanan penyakit dan pemeriksaan fisik.11-15 : Klasifikasi Sehat III 16-18 : Klasifikasi Sehat IV Jadi pada keluarga pasien ini. mengeksplorasi fungsi-fungsi keluarga Mengetahui proses perjalanan penyakit (RPD) dan mengetahui kondisi lingkungan rumah Kelengkapan data Memberikan konseling gizi yang lebih lanjut dan mengevaluasi hasilnya Hasil kegiatan Catatan untuk pembinaan berikutnya Mengeksplorasi fungsi keluarga 46 .

pasien Pasien sering BAB cair bila Mengganti minum susu formula formula susu Keluarga dengan pasien 3. Masalah yang terjadi pada keluarga Pasien sulit untuk Rencana Sasaran Pembinaan pembinaan makan Mengatur pola diet Keluarga yang benar dan pasien mencari kemungkinan menu yang disukai (tidak suka makan) 2.13. Ibu sebagai pemberi ASI susu hipo-allergic Mengedukasi ibu Keluarga untuk dengan bergizi kualitas makan pasien menu agar ASI 4. PRIORITAS MASALAH KELUARGA No. 1. Sanitasi lingkungan terjamin yang Mengedukasi agar Keluarga 47 .

maka diagnosis kedokteran keluarga yang ditegakkan adalah: Diare dan ISPA pada balita kurang gizi dengan keluarga yang kurang menjaga sanitasi.kurang baik memindahkan posisi pasien dan yang dalam sumur warga resapan agar jauh ada dari sumur sumber wilayah air dan edukasi tanggungjawag Puskesmas tersebut. DIAGNOSIS KEDOKTERAN KELUARGA Dari kasus di atas. 48 . badan pentingnya menjaga kebersihan dan lingkungan 14.

BAB V 49 .

Dalam kasus ini. Gizi kurang merupakan akibat dari banyak faktor yang membutuhkan konseling berkelanjutan dari lintas sektoral. 50 . dan akibatnya terjadi kerentanan tubuh terhadap penyakit yang dapat memperparah kekurangan gizi itu sendiri. kurangnya asupan makanan padat gizi menyebabkan pasien kurang gizi. 2.KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil dari kasus tersebut adalah: 1. 3. Dokter keluarga melalui institusi Puskesmas dapat menjadi salah satu sektor keberhasilan penanganan gizi kurang.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->