Anda di halaman 1dari 16

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan

Kerja (SMK3) pada PT. IndocementTunggal


Prakarsa, Tbk
1. Kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Lingkungan Hidup ( K3LH)
PT. IndocementTunggal Prakarsa, Tbk
meyakini bahwa keselamatan dan kesehatan kerja
serta lingkungan hidup atau disingkat K3LH dalam
rangka pengendalian resiko kecelakaan serta
lingkungan dan pencegahan kerugian sangat
berkaitan dengan kegiatan kerja yang aman, eIisien
dan produktiI. Perusahaan memandang bahwa K3LH
merupakan masalah daan tanggung jawab bersama
dari karyawan terendah sampai pimpinan perusahaan
tertinggi yang harus ditangani bersama atas dasar
sangat kooperatiI perusahaan bertekat untuk
melaksanaan dan mengembangkan system
manajemen K3LH dengan sasaran pokok melindungi
keselamatan , kesehatan kerja dan keamanan seluruh
karyawan maupun perusahaan serta menjaga kualitas
dan kelestarian lingkungan hidup.
Dalam usaha menerapkan undang undang
keselamatan kerja No.1 tahun 1970 dan ketentuan
industri yang berwawasaan lingkungan, dan sebagai
penegas kebijakan di bidang K3LH yang telah
dilaksanakan perusahaan selanjutnya, telah
ditetapkan kebijakan K3LH PT Indocement Tunggal
Prakarsa, Tbk sebagai berikut:
a. Senantiasa menjalankan perusahaan untuk selalu
mematuhi undang-undang peraturan yang berlaku
dan standar relevan.
b. Senantiasa menjalankan perusahaan dengan
melaksanakan pengendalian resiko untuk
menciptakan lingkungan kerjasama yang sehat dan
selamat.
c. Senantiasa berusaha untuk menghemat sumber
daya alam, mengutamakan keselamatan, keamanan
dan kesehatan kerja serta mengendalikan dan
mengurangi dampak lingkungan terutama emisi debu
melalui kegiatan perbaikan ssecara terus menerus.
d. Senantiasa meningkatkan program untuk
menciptakan hubungan kerja sama yang harmonis
dengan lingkungan sekitar.

2. Institusi Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Lingkungan Hidup (K3LH)
Untuk menangani sistem K3LH yang sangat
rumit dan komplek, perusahaan menyadari perlunya
motor penggerak secara struktural membentuk
institusi khusus dengan tenaga proIesional di bidang
K3LH. Institusi Safety Security Community Division
(SSCD). Divisi ini membawahi tiga departemen,
yaitu.
a. Safety departement
b. Security departement
c. Community Development Office (CDO)
departement
Safety departement merupakan suatu unit
kerja yang menangani semua hal yang berkaiatan
dengan keselamatan kerja. Dalam pelaksanaanya
safety departement terdiri dari 3 section, yaitu:
1) Operation Section
Operation Section merupakan cabang dari saIety
departement yang bertugas melaksanakan
pengawasan dan penginpeksian K3 yang bertujuan
agar program K3 yang dijalankan berjalan sesuai
aturan.
2) Fire Brigade Section
Fire Brigade Section bertugas membuat program Iire
prevention dan penanggulangan kebakaran serta
memberikan pelatihan penganggulangan kebakaran
kepada para pekerja, melakukan penanggulangan
kebakaran di dalam maupun di luar wilayah pabrik
baik itu rumah penduduk maupun industri,
memberikan pertolongan dan penyelamatan terhadap
korban akibat kebakaran,
kecelakaan lalu lintas, bencana alam.
3) Plan dan Evaluation Section
Plan dan Evaluation Section bertugas membuat
perencanaan K3, perancangan K3 dan evaluasi
terhadap perencanaan K3 dengan harapan dapat
memberikan rekomendasi perubahan mengenai
beberapa masalah K3 yang terjadi.
3. Sistem Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja adalah keselamatan yang
bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan
dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan
lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan.
Tujuan dari K3 adalah untuk melindungi tenaga kerja
atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan
untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan
produktivitas, menjamin keselamatan setiap orang
lain yang berada di tempat kerja dan memelihara seta
mempergunakan sumber produksi secara aman dan
eIisien.
Dalam rangka melindungi tenaga kerja atas
hak keselamatannya selama melaksanakan
pekerjaannya, maka PT. Indocement Tunggal
Prakarsa melakukan berbagai upaya, yaitu:
a. Penanggulangan Kebakaran
Kebakaran di PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk
terbagi menjadi dua kategori yaitu kebakaran besar
dan kebakaran kecil. Kebakaran kecil dapat
dipadamkan dengan APAR oleh lini setempat.
Sedangkan kebakaran besar disamping pemdamnya
memerlukan peralatan pemadam kebakaran yang
lebihlengkapa juga merupakan tanggung jawab BPK
(Barisan Pemadam Kebakaran). Barisan pemadam
kebakaran di PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk
berjumlah 54 orang, terdiri dari 4 superintendent,
8fire foreman, 40 fire fighter, 1 foreman maintenance
dan 1 mechanic. Petugas barisan pemadam kebakaran
bekerja dengan shiIt yang terbagi mebjadi 4 shiIt.
Masing-masing shiIt terdri dari 16 orang, yaitu 1 sec.
cheap, 4 superintendent,2 foreman dan 9 anggota.
Unit-unit yang dimiliki oleh barisan pemadam
kebakaran adalah:
1) Satu unit mobil komando
2) Satu unit mobil resque
3) Empt unit fire truck
4) Satu unit portable pump
5) Satu unit ambulance
Adapun Iasilitas Alat Proteksi Kebakaran yang
terdapat di PT. Indocement
Tunggal Prakarsa, Tbk adalah:
1) Unit pemadam terdapat dikantor BPK
2) Hidrant terdapat disetiap plant/divisi.
3) APAR terdapat disetiap unit kerja.
4) Alarm system, yang terdiri atas manual push
button dan detektor otomatis.
b. Penyediaan Alat Pelindung Diri
1) APD PernaIasan
Jenis alat pelindung pernaIasan yang digunakan
adalah sebagai berikut:
a) Dust mask sebagai masker debu.
b) Fume respirator sebagai masker debu dan gas.
c) Cartridge sebagai Iilter masker kimia.
d) Green masker
e) Dust respirator
I) Filter dust respirator
2) APD Telinga
Jenis alat pelindung telinga yang digunakan adalah
sebagai berikut:
a) Ear plug sebagai sumbat telinga.
b) Ear muff sebagai tutup telinga.
3) APD Kaki
Yaitu safety shoes merk 'Unicorn 922 untuk
karyawan, 937 untuk security,
938 untuk fire brigade, serta 'Rubber boot yang
berIungsi untuk karyawan yang
bekerja berhubungan dengan listrik.
4) APD Mata dan muka
Jenis alat pelindung mata dan muka yang digunakan
adalah sebagai berikut:
a) Safety glasses sebagai kacamata mekanis.
b) Safety goggles sebagai kacamata debu.
c) Flip up welder goggle sebagai kacamata las.
d) Cup type welder gofggle sebagai kedok las pada
tangan.
e) Clearvoe type welder goggle face shield sebagai
kedok las topeng
pelindung muka.
5) APD Tangan
Jenis alat pelindung tanagn yang digunakan adalah
sebagai berikut:
a) Cotton gloves sebagau sarung tangan.
b) Arm cotton glove sebagai pelindung lengan.
c) Upper shift leather work glove sebagai sarung
tangan mekanis.
d) Heat resist welding glove sebagai sarung tangan
las khusus welder.
e) Rubber glove sebagai sarung tangan elektrik.
6) APD Badan
Jenis alat pelindung badan yang digunakan adalah
sebagai berikut:
a) Coveral flame resistance sebagai baju tahan panas.
b) Welding apron sebagai pelindung dada untuk
pengelasan.
7) APD Kepala
Jenis alat pelindung kepala yang digunakan adalah
sebagai berikut:
a) Safety helmet.
b) Heat resist head cover
.Pemberian APD disesuaikan dengan potensi bahaya
yang ada di tempat
kerja untuk masing-masing tenaga kerja berdasarkan
fob disk yang dibuat pada
saat tenaga kerja diterima untuk bekerja di
perusahaan.

O Pelaporan keuangan dan audit
Tata kelola perusahaan
Manajemen risiko
Audit internal
Perencanaan usaha
Pemantauan batas transaksi dengan pihak-pihak
terkait

Manajemen Risiko
Indocement mengembangkan kerangka manajemen
risiko yang komprehensiI sebagai bagian dari
kegiatan usahanya. Langkah-langkah antisipasi dan
evaluasi dini untuk menghadapi kemungkinan
munculnya suatu potensi risiko merupakan bagian
terpenting dari manajemen risiko Indocement.
Kategori-kategori risiko yang dipandang penting oleh
Indocement adalah risiko strategis, operasional dan
keuangan. Indikator serta tolok ukur bagi seluruh
komponen yang melekat pada masing-masing
kategori risiko terus diidentiIikasi dan dianalisa
secara sistematis dan berkala. Komponen risiko yang
teridentiIikasi kemudian dipantau terus menerus
secara ketat di semua jajaran manajemen. Metode
manajemen risiko yang tertata dan menyeluruh ini
diharapkan dapat menjaga kesinambungan serta
kelanjutan usaha Indocement. Laporan Komite Audit
Indocement 2005 Laporan Komite Audit telah
disusun sesuai ketentuan peraturan Badan Pengawas
Pasar Modal No. IX.I.5 tentang Susunan dan
Pedoman Komite Audit dan peraturan Bursa EIek
Jakarta (KEP-305/BEJ/07-2004) No. IA tentang
etentuan Umum Pencatatan EIek BersiIat Ekuitas di
Bursa.
Selama tahun buku yang berakhir 31 Desember 2005,
Komite Audit telah mengadakan lima kali pertemuan
dalam rangka melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya di bidang:
Pelaporan keuangan dan audit
Tata kelola perusahaan
Manajemen risiko
Audit internal
Perencanaan usaha
Pemantauan batas transaksi dengan pihak-pihak
terkait
Selain lima kali pertemuan Komite Audit, juga
diselenggarakan dua kali pertemuan antara Komite
Audit dengan seluruh Komisaris untuk membahas
cakupan dan kegiatan Komite Audit.
Dalam hal pelaporan keuangan dan audit, Komite
Audit ikut terlibat dalam proses seleksi dan
penunjukan kantor akuntan publik sebagai auditor
eksternal. Dalam hal ini, Komite Audit telah
memperhatikan lingkup dan metodologi audit
maupun kemandirian, obyektivitas serta kualiIikasi
auditor eksternal.
Di samping itu, Komite Audit telah menelaah proses
eksternal audit, dengan Iokus pada perencanaan audit
dan aspek-aspek pelaporan. Komite Audit
menyimpulkan bahwa hasil audit dan pelaporan
keuangan telah sesuai dengan
Prinsip Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang
berlaku di Indonesia. Di bidang tata kelola
perusahaan, Komite Audit memastikan bahwa
Perseroan telah melaksanakan praktek tata kelola
perusahaan berdasarkan daItar isian penilaian sendiri
yang dikembangkan oleh lembaga Forum for
Corporate Governance in Indonesia (FCGI). Komite
Audit menyimpulkan bahwa tata kelola perusahaan
telah dilaksanakan dengan baik bahkan sudah berada
di atas standar nasional, namun masih diperlukan
beberapa penyempurnaan agar dapat mencapai
standar internasional. Salah satu upaya yang
dilakukan adalah mengembangkan etika kerja
Indocement yang baru yang lebih lanjut akan
diterapkan pada tahun 2006.
Di bidang manajemen risiko, Komite Audit
memastikan bahwa Perseroan telah menerapkan
sistem manajemen risiko perusahaan yang mengacu
pada kerangka manajemen risiko HeidelbergCement
Group. Komite Audit juga menyimpulkan bahwa
manajemen telah mempertimbangkan seluruh Iactor
risiko utama yang dihadapi Indocement, termasuk
risiko operasional dan keuangan. Sehubungan dengan
audit internal, Komite Audit mengkaji ulang pola
pendekatan audit internal yang berbasis risiko,
berdasarkan rekomendasi best practices yang
dikembangkan oleh Institut Auditor Internal, serta
sejalan dengan keterkaitan antara pendekatan audit
internal berbasis risiko tersebut dan pendekatan
pengelolaan risiko Perseroan secara menyeluruh.
Sebagaimana disebut di atas, Komite Audit enilai
bahwa lingkup kerja audit internal sudah memadai,
dimana Manajemen telah mengevaluasi serta
mengurangi Iaktor-Iaktor risiko utama yang dihadapi
Perseroan, termasuk dikembangkannya sistem
pengawasan melekat yang memadai. Di bidang
perencanaan usaha, Komite Audit telah melakukan
penelaahan bersama Direksi dan menyimpulkan
bahwa Perseroan telah mempertimbangkan berbagai
aspek dan tantangan utama, baik Iaktor internal
maupun eksternal, dalam pencapaian tujuan-tujuan
Perseroan, termasuk tindakan Perseroan memantau
program pembiayaan ke arah yang lebih eIisien.
Mengacu pada persetujuan pemegang saham
independen pada Rapat Umum Pemegang Saham
Luar Biasa Perseroan tanggal 23 Februari 2005,
tentang Transaksi Perseroan Dengan Perusahaan
TeraIiliasi, Komite Audit melakukan penelaahan atas
seluruh transaksi yang terjadi sejak 1 Januari 2005
hingga 31 Desember 2005. Komite Audit
menyimpulkan bahwa seluruh transaksi dengan pihak
teraIiliasi dilakukan sesuai ketentuan yang digariskan
dan nilainya berhasil dijaga jauh di bawah batas yang
telah disetujui oleh pemegang saham.

Sumber:
http://www.indocement.co.id/en/upload/others/annual
-20.pdI diakses pada Selasa, 22 Maret 2011, pukul
09.56 WIB
http://gregoriuspeter.wordpress.com/2009/11/07/hasil
-observasi-kunjungan-ke-pt-indocement-palimanan-
cirebon/. 9:59

SMK3 PT SEMEN TONASA
Laporan Kerja Praktek Teknik Industri Jurusan
Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

Masalah-masalah internal yang muncul dalam
organisasi sebagian merupakan tanda bahwa Iungsi di
dalam lembaga tidak dilaksanakan secara sehat.
Mengatasi hal ini, salah satu Iungsi yang harus
diberdayakan secara konsisten adalah Iungsi
pengawasan yang dapat memicu terlaksananya
pengendalian resiko manajemen, sistem pengendalian
dan penataatan manajemen yang sehat untuk
mendorong kesinambungan dan kelangsungan hidup
usaha. Dalam pelaksanaan pengendalian dapat
dilakukan secara langsung oleh anggota perusahaan
dan dapat pula dilakukan oleh suatu departemen audit
internal. Pihak manajemen dapat membentuk suatu
departemen audit internal yang diberi wewenang
untuk melakukan pengawasan dan penilaian terhadap
pengendalian intern perusahaan. Struktur
pengendalian intern dimaksudkan untuk
melindungiharta milik perusahaan, meningkatkan
eIisiensi usaha dan mendorong terjadinya
kebijaksanaan manajemen yang telah digariskan.
Proses audit internal tersebut juga terjadi pada
perusahaan semen terbesar di Kawasan Timur
Indonesia, PT Semen Tonasa. Proses audit internal,
khususnya audit internal sistem manajemen
perusahaan PT Semen Tonasa diharapkan dapat
membantu perusahaan untuk meningkatkan eIisiensi
sesuai dengan kebijakan sistem manajemen
perusahaan yang terintegrasi (Integrated Management
System.)
Uraian singkat di atas menjadi dasar dari penulis untu
mengkaji lebih jauh mengenai Peranan Audit
Internal Terhadap Penerapan Integrated Management
System pada PT Semen Tonasa.
Sistem Manajemen Semen Tonasa Dalam upaya
mewujudkan visi dan misi, sistem manajemen
perusahaan yang terintegrasi dan terpadu menerapkan
Sistem Manajemen Mutu ISO 9001, Sistem
Manajemen Lingkungan ISO 14001 dan Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(SMK3/OHSAS) yang disebut sebagai Sistem
Manajemen Semen Tonasa. Sistem Manajemen Mutu
Lebih dari satu dekade, perusahaan menerapkan
Sistem Manajemen Mutu baru ISO 9001:2008.
Jaminan mutu dan kepuasan konsumen merupakan
komitmen manajemen dalam menghadapi persaingan
yang ketat dengan produsen semen lainnya.
Pemenuhan komitmen tersebut terwujud dalam up
aya pemenuhan kualitas produk sesuai permintaan
konsumen dan penyerahan produk yang tepat waktu
dengan harga yang bersaing. Upaya tersebut
diwujudkan dengan penerapan Sistem Manajemen
Mutu ISO 9001:2000 yang selanjutnya di upgrade
menjadi ISO 9001:2008. Manajemen Keselamatan
dan Kesehatan Kerja Perseroan menyadari bahwa
tenaga kerja merupakan bagian dari stakeholders
yang tidak dapat dipisahkan keberadaannya dalam
suatu perusahaan. Megingat pentingnya tenaga kerja
dalam kelangsungan usaha, maka kondisi kes
elamatan karyawan harus dijamin. Hal ini sudah
menjadi komitmen Manajemen Perseroan untuk
menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat,
sejahterah bebas dari kecelakaan dan pencemaran
lingkungan serta penyakit akibat kerja. Untuk
mewujudkan komitmen terse but, sejak tahun 2000
Perseroan telah menetapkan bagian dari penerapan
sistem manajemen keselamatan kerja. Penerapan
sistem manajemen ini diwujudkan melalui pemberian
sertiIikat audit dari Kementrian Tenaga Kerja
Republik Indonesi dengan predikat tertinggi Bendera
Emas sejak Januari 2004. Sistem Manajeman
Lingkungan Perlindungan lingkungan merupakan
kebijakan manajemen dalam upaya menjamin
pembangunan yang berlanjutan. Pengelolaan dan
pemantauan lingkungan secara terus menerus
dilaksanakan oleh Perseroan bekerjasama dengan
institusi luar yang terkait. Kesadaran akan pentingnya
pengelolaan lingkungan telah dimulai sejak
berdirinya Pabrik Perseroan dan senantiasa
dikembangkan dan disempurnakan. Salah satu upaya
pengelolaan lingkungan adalah dilakukannya up
date penerapan sistem manajemen lingkungan ISO
14001 dari versi 2004 dan dinyatakan sesuai oleh
Badan SertIikasi Internasional. Komitmen
manajemen Lingkungan adalah Menjadi produsen
yang ramah lingkungan yang diwujudkan melalui
pemenuhan persyaratan peraturan yang berlaku;
meminasi dampak negatiI dari produsen dan produk
yang dihasilkan; pelaksanaan program eIisinsi
pemakaian sum ber daya alam dan melaksanakan
kehiatan konservasi lahan bekas tambang; serta
membina hubungan harmonis dengan masyarakat
sekitar dan pemerintah daerah. Keberhasilan ini
dibuktikan dengan diperolehnya penghargaa dari
pemerintah pada program n PROPER dengan
predikat baik BIRU. 2.3 Tanggung Jawab Sosial
(CSR) Sebagai koperasi yang beroperasi dan
berkembang di engah masyarakat, t Perseroan turut
bertanggungjawab dalam upaya memajukan usaha
masyarakat sekitar terutama bagi yang belum cukup
modal dan kea hlian. Upaya yang dilakukan
diantaranya adalah memberikan pelatihan teknis dan
bantuan kemitraan bagi koperasi dan pengusaha kecil
agar mereka dapat menjalankan usahanya secara
lebih baik dan proIesional. Hingga tahun 2005,
Perseroan telah menjadi mitra se itar k 2.975 usaha
kecil dan 315 koperasi di Sulawesi Selatan.
Kepedulian sosial diwujudkan melalui pemberian
beasiswa kepada anak didik SD, SMP, SMU dan
mahasiswa yang berprestasi dari keluarga yang
kurang mampu, palatihan untuk peningkatan
keterampilan at u kualitas SDM, perbaikan a sarana
umum berupa sarana pendidikan, pembangunan
rumah ibadah, dan sarana sosial lainnya, pengobatan
massal secara periodik, bantuan kepada masyarakat
yang tertimpa bancana alam, dan lain-lain. Perseroan
juga melakukan kegiatan donor darah dari karyawan,
pemberian hewan kurban kepada kaum dhuaIa.
Dengan upaya-upaya ini, perseroan berkeinginan
untuk membentuk sumber daya manusia yang
berkualitas dan memilikin rasa tanggung jawab sosial
dan kepedulian yang tinggi. Program Kemitraan
Program kemitraan telah dilaksanakan sejak tahun
1287, dengan menyalurkan dana hasil penyertaan
pemerintah berupa pinjaman modal/investasi kepada
pengusaha kecil dan koperasi di wilayah kabupaten
Pangkep dan sekitarnya di wilayah Sulawesi
Selatan.Melalui program kemitraan, perseroan
memberikan bantuan kredit lunak kepada pengusaha
kecil dan koperasi sebagai modal usaha dan investasi
serta bantuan hibah untuk meningkatkan
keterampilan, pengetahuan manajerial dan promosi
pemasaran/pameran perusahaan. Dengan program
kemitraan ini diharapkan pengusaha kecil dan
koperasi dapat hidup secara mandiri dan tangguh.
Sampai dengan tahun 2007 telah dikucurkan dana
pinjaman mitra binaan sebesar Rp. 24,7 milyar, hibah
sebesar Rp. 2,8 milyar dan penyertaan Rp. 1,6 milyar
kepada 3.961 mitra binaan. Program Bina
Lingkungan Program Bina Lingkungan juga
dilakukan dengan tujuan pemberdayaan kondisi
sosial masyarakat di sekitar pabrik (kabupaten
Pangkep dan di luar kabupaten pangkep) terutama
yang bersentuhan langsung dengan dam pak
lingkungan Iisik yang timbul dari operasional
perseroan. Obyek bantuan bina lingkungan meliputi
pengingkatan kualitas kesehatan masyarakat,
pengembangan prasarana dan sarana masyarakat
seperti jalan, sarana ibadah serta bantuan pompa air
untuk pengairan sawah disekitar pabrik serta kegiatan
melelestarikan lingkungan. Selama tahun 2007
perseroan mengeluarkan Rp. 1,1 milyar untuk
berbagai program pemberdayaan kondisi sosial
masyarakat yang antara lain meliputi bantuan dana
untuk : y y y y y y Korban musibah bencana alam
(4,8) Peningkatan pendidikan dan pelatihan (27,7
Pelayanan Kesehatan (25,4) Pengembangan sarana
dan prasarana (12,4 Sarana ibadah (23,1)
Pelestarian lingkungan (6,6) 2.4 Produk Produk
yang dihasilkan PT. Semen Tonasa antara lain: 1.
Semen Portland Type 1 a. Semen Portland jenis I
adalah semen hidrolis yang dibuat dengan
menggiling klinker semen dan gypsum. Semen
Portland Jenis I produksi perseroan memenuhi
persyaratan SNI No. 15-2049-2004 Jenis I dan
ASTM C150-2004 tipe I. b. Semen jenis ini
digunakan untuk bangunan umum dengan kekuatan
tekanan yang tinggi (tidak memerlukan persyaratan
khusus) seperti: bangunan bertingkat tinggi,
perumahan, jembatan dan jalan raya, landasan bandar
udara, beton pratekan, bendungan/ saluran i igasi,
elemen bangunan seperti genteng, r hollow,
brick/batako, paving block, buis beton, roster dan lain
-lain. (Gambar : semen Portland Type 1) 2. Semen
Portland Komposit a. Semen Portland Komposit
produksi PT Semen Tonasa memenuhi persyaratan
SNI 15-7064-2004. Kegunaan semen jenis ini
diperuntukkan untuk konstruksi beton umum,
pasangan batu bata, plesteran dan acian, selokan,
jalan, pagar dinding, pembuatan elemen bangunan
khusus seperti beton pracetak, beton pratekan, panel
beton, bata beton (paving block) dan sebagainya. b.
Semen Portland Komposit adalah bahan pengikat
hidrolis hasil penggilingan bersama terak semen
Portland dan gypsum dengan satu atau lebih bahan
anorganik, atau hasil pencampuran bubuk semen
Portland dengan bubuk bahan anorganik, atau hasil
pencampuran bubuk Semen Portland dengan bubuk
bahan anorganik lain. (Gambar : Semen Portland
Komposit) 3. Semen Portland Pozzolan Semen
Portland Pozzolan adalah semen hidrolis yang terdiri
dari campuran homogen antara semen Portland dan
Pozzoland halus yang diproduksi dengan menggiling
klinker semen Portland dan Pozoland bersama -sama
atau mencampur secara rata bubuk semen Portland
dan Pozzoland atau gabungan antara meng-giling dan
men-campur, dimana kadar pozzoland 15 - 40
massa Semen Portland Pozzolan. Semen Potland
Pozzolan produksi perseroan memenuhi persyaratan
SNI 15-0302-2004 type IP-U. Kegunaan: bangunan
bertingkat (2 lantai), konstruksi -3 beton umum,
konstruksi beton massa seperti pondasi plat penuh
dan ben -dungan, konstruksi bangunan di daerah
pantai, tanah berair (rawa) dan bangunan di
lingkungan garam sulIat yang agresiI, serta
konstruksi bangunan yang memerlukan kekedapan
tinggi seperti bangunan sanitasi, bangunan perairan,
dan penampungan air. 2.5 Visi, Misi, dan Sasaran
Perusahaan 1. Visi PT. Semen Tonasa Menjadi
perusahaan persemenan terkemuka di Asia dengan
tingkat eIisiensi tinggi. 2. Misi PT. Semen Tonasa a.
Meningkatkan nilai perusahaan sesuai keinginan
stakeholder. b. Memproduksi semen untuk memenuhi
kebutuhan konsumen dengankualitas dan harga
bersaing serta penyerahan tepat waktu. c. Senantiasa
berupaya melakukan improvement di segala bidang
guna meningkatkan daya saing di pasar dan EBITDA
MARGIN perusahaan. d. Membangun lingkungan
kerja yang mampu membangkitkan motivasi
karyawan untuk bekerja secara proIessional. 3.
Sasaran Perusahaan Untuk mencapai misi tersebut,
maka perusahaan mengadakan analisa dan menetapan
sasaran-sasaran antara lain: 1. Sasaran Jangka Pendek
a. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia serta
kondisi teknis dan keuangan perusahaan. b. Stabilitas
pasokan harga semen dalam menjung pembangunan
pada unit pemasaran, produksi serta peningkatan
pelayanan kepada konsumen. c. Berpartisipasi dalam
program eksport non migas dengan mengeksport
hasil produksi semen pada setiap konsumen luar
negeri. d. Membantu pengembangan usaha
keterkaitan dalam rangka peningkatan penggunaan
hasil produksi dalam negeri dalam negeri untuk
pertumbuhan sektor industri hulu dan hilir khususnya
industri kecil, golongan ekonomi lemah dn
pertumbuhan ekonomi lainnya. 2. Sasaran Jangka
Panjang a. Peningkatan secara terus-menerus
kemampuan Sumber Daya Manusia, kemampuan
teknik dan keuangan perusahaan. b. Peningkatan
kapasitas produksi secara ekonomis untuk mengikuti
perkembangan kebutuhan semen khususnya di
wilayah pemasaran baik dalam maupun luar negeri. c.
Peningkatan usaha keterkaitan yang lebih luas untuk
pengembangan industri dan ekonomi lainnya.
Sistem Manajemen
DeIinisi Beberapa ahli mempunyai pendapat yang
berbeda -beda mengenai pengertian sistem. Ada yang
berpendapat bahwa sistem adalah prosedur logis dan
rasional untuk merancang suatu rangkaian komponen
yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan
maksud untuk berIungsi sebagai suatu kesatuan
dalam usaha mencapai suatu tujuan yang telah
ditentukan (L. James Havery). Selain itu ada pula
yang berpendapat sistem adalah sebuah struktur
konseptual yang tersusun dari Iungsi-Iungsi yang
saling berhubungan yang bekerja sebagai suatu
kesatuan organik untuk mencapai suatu hasil yang
diinginkan secara eIektiI dan eIesien (John Mc
Manama). Sistem adalah seperangkat bagian-bagian
yang dikoordinasikan untuk melaksanakan
seperangkat tujuan (W. Churchman). C Ada juga
pendapat yang serupa yang mengatakan bahwa
sistem adalah seperangkat bagian-bagian yang saling
berhubungan (J.C. Hinggins). Ada juga yang
mendeIinisikannya sebagai suatu seri atau rangkaian
bagianbagian yang saling berhubungan dan
bergantung sedemikian rupa sehingga interaksi dan
saling pengaruh dari satu bagian akan mempengaruhi
keseluruhan Edgar F Huse dan ( James L. Bowdict).
Sementara itu, Terdapat berbagai pendapat tentang
pengertian manajemen, walaupun pada dasarnya
mempunyai makna yang sama.Terdapat pendapat
yang menyatakan bahwa manajemen adalah sebagai
suatu seni untuk mendapatkan segala sesuatu yang
dilakukan oleh orang lain. Pendapat ini berkembang
berdasar kenyataan bahwa pemimpin mencapai
tujuan oraganisasi dengan cara mengatur orang lain
untuk melakukan pekerjaan yang diperlukan, tanpa
harus melakukan pekerjaan sendiri. Manajemen
merupakan praktik spesiIi yang mengubah k
sekumpulan orang menjadi kelompok yang eIektiI,
berorientasi pada tujuan dan produktiI. Pendapat lain
berpandangan bahwa manajemen merupakan suatu
proses menggunakan sumber daya organisasi untuk
mencapai tujuan organisasi melalui Iungsi planning
dan decision making, organizing, leading dan
controlling. Manajemen juga dikatakan sebagai suatu
proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin
dan mengawasi pekerjaan anggota organisasi dan
menggunakan semua sumber daya organisasi yang
tersedia untuk mencapai tujuan organisasi yang
dinyatakan dengan jelas ( Stoner dan Foreman, 1992
). Terdapat pula pendapat yang menyatakan
manajemen sebagai su proses atu untuk membuat
aktivitas terselesaikan se cara eIektiI dan eIisien
dengan melalui orang lain. EIisiensi menunjukkan
hubungan antara input dan output dengan mencari
biaya sumber daya minimum, sedangkan eIektiI
menunjukkan makna pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya (Robbins dan Coultar, 1996).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sistem
manajemen adalah satu kesatuan yang saling
berhubungan dalam organisasi yang digunakan dalam
mencapai tujuan organisasi secara eIektiI dan eIisien.
3.1.2 Macam-Macam Sistem Manajemen Dalam
dunia industri, ada beberapa sistem manajemen yang
sering digunakan dalam mencapai tujuan organisasi
yaitu sistem manajemen lingkungan, sistem
manajemen mutu, sistem manajemen keselamatan
kerja, dll 1. Sistem Manajemen Mutu Untuk
memimpin dan mengoperasikan organisasi dengan
berhasil, perlu mengarahkan dan mengendalikann ya
secara sistematis dan transparan. Keberhasilan
organisasi dapat dicapai melalui penerapan sistem
manajemen yang didesain untuk selalu memperbaiki
kinerja dan menanggapi kebutuhan pelanggan/semua
stakeholder. Berkaitan dengan hal di atas, delapan
prinsip manajemen mutu dapat dipakai oleh pimpinan
puncak untuk memimpin organisasi ke arah
perbaikan kinerja yaitu : a. Fokus pada pelanggan:
Organisasi bergantung pada pelanggannya, karenanya
harus memahami kebutuhan kini dan mendatang dari
pelanggannya, memenuhi dan berusaha melebihi
harapan pelanggan. b. Kepemimpinan : Pemimpin
menetapkan kesatujuan tujuan dan arah organisasi.
Mereka hendaknya menciptakan dan memelihara
lingkungan internal tempat orang dapat melibatkan
dirinya secara penuh dalam pencapaian sasaran
organisasi. c. Pelibatan orang: Orang pada semua
tingkatan adalah inti sebuah organisasi dan pelibatan
penuh mereka memungkinkan kemampuannya
dipakai untuk manIaat organisasi. d. Pendekatan
proses : Hasil yang dikehendaki tercapai lebih eIisien
bila kegiatan dan sumber daya terkait dikelola
sebagai suatu proses. e. Pendekatan sistem pada
manajemen: MengidentiIikasi, memahami dan
mengelola prose yang saling terkait sebagai sistem
memberi sumbangan untuk keeIektiIan dan eIisiensi
organisasi dalam mencapai sasaannya. I. Perbaikan
berkesinambungan : Perbaikan berkesinambungan
organisasi secara menyeluruh hendaknya dijadikan
sasaran tetap dari organisasi. g. Pendekatan Iakta
pada pengambilan keputusan Keputusan yang eIektiI
: didasarkan pada analisis data dan inIormasi. h.
Hubungan yang saling menguntungkan dengan
pemasok Sebuah organisasi dan : pemasoknya saling
bergantung dan suatu hubungan yang saling
menguntungkan meningkatkan kemampuan keduanya
untuk menciptakan nilai. Sistem manajemen mutu
seri ISO 9001 yang ditawarkan oleh International
Organization Ior Standardization (ISO) dapat
dijadikan sebagai salah satu acuan dan keputusan
strategis oleh dunia usaha untuk mengarahkan dan
mengendalikan organisasinya secara sistematis dan
transparan. Penerapan Model Sistem Manajemen
Mutu versi 2008 dengan prinsip-prinsip manajemen
mutunya dapat mendorong dunia usaha untuk selalu
melakukan Continual Improvement secara dinamis
sehingga lebih dapat menjawab perkembangan dan
perubahan yang begitu cepat. New QMS Model Ior
Sustainable Growth memacu organisasi untuk
memberikan produk/jasa, output organisasi atau
sumber keuntungan yang lebih baik dari pesaingnya
dalam penyediaan produk/jasa., mendengarkan suara
pelanggan dan memahami perubahan lingkung bisnis,
perubahan nilai dan sosial. an Organisasi diminta
untuk melakukan selI-awareness atas kompetenesi
inti, kemampuan kompetitiI organisasi dan mutu
organisasi. Selain itu Sumber daya , manusia
merupakan suatu aset sumber daya organisasi.
Dengan demikian, penerapan sistem manajemen
mutu ini dapat mendukung dunia usaha untuk
bertahan dalam lingkungan bisnis dan mendorong
pertumbuhan berkelanjutan organisasi yang berdaya
saing. 2. Sistem Manajemen Lingkungan Sistem
manajemen Lingkungan menururt ISO 14001
dideIinisikan sebagai bagian dari sistem manajemen
secara keseluruhan yang termasuk di dalamnya
struktur organisasi, aktivitas perencanaan,
pertanggungjawababn, pelaksanaan (practice),
prosedur, proses dan sumber daya untuk
pengembangan, implementasi, pencapaian,
reviewing, serta mempertahankan penetapan
kebijakan lingkungan. Keperluan (requirement)
dalam SML (menurut ISO 14001) termasuk
diantaranya adanya kebijakan lingkungan
(environmental policy), perencanaan, implementasi
serta operasional, pengecekan (checking) serta
tindakan perbaikan (corective action), serta
management review dalam pencapaian perbaikan
berkelanjutan (continual improvement). Mr Morrison
(1999) menyatakan dalam sistem Manajemen
Lingkungan Environmental Management System
(EMS,) 80 mengatur/menata permasalahan aspek
non-regulated environmental seperti energi dan
konsumsi bahan baku raw material consumption,
green house gas emissions, sampah padat solid waste,
dan titik sumber polusi non-point sources oI
pollution, 20 sisanya adalah aspek peraturan atau
kebijakan. Beberapa kendala yang umumnya
dijumpai setiap perusahaan dalam implementasi
sistem manajemen lingkungan adalah sebagai berikut
: 1. Sasaran lingkungan tidak/belum dimengerti oleh
setiap orang di perusahaan 2. Kebijakkan lingkungan
tidak seiring-sejalan dengan tujuan bisnis perusahaan
3. Kegiatan peningkatan mutu lingkungan hanya
melibatkan sebagian kecil karyawan 4. Manajemen
lingkungan tidak diidentiIikasi/tidak diberikan secara
m emadai 5. Terbatas Sumber Daya-Dana 6.
Kurangnya kepentingan dan dukungan yang
konsisten dari manajemen 7. Jadwal Peningkatan
Mutu Lingkungan tidak te dan lemahnya penguasaan
pat metodologi. 3. Sistem Manajemen K3 Penerapan
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja di Indonesia masih jauh dibandingkan sistem
manajemen lainnya, seperti sistem manajemen mutu
dan lingkungan. Banyak perusahaan yang masih
mengabaikan sistem ini, di samping itu pengetahuan
dan kepedulian masyarakat pada umumnya dan
kalangan industri pada khususnya masih rendah
tentang pentingnya penerapan Sistem Manajemen
K3, walau ketentuan dan persyaratannya sebenarnya
telah ditetapkan beberapa tahun lalu. Penerapan
peraturan perundang-undangan dan pengawasan serta
perlindungan para pekerja sangat memerlukan sistem
manajemen industri yang baik dengan menerapkan
K3 secara optimal. Sebab, Iaktor kesehatan dan
keselamatan kerja sangat mempengaruhi
terbentuknya SDM yang terampil, proI esional dan
berkualitas dari tenaga kerja itu sendiri. K3 tam
sebagai upaya pencegahan pil dan pemberantasan
penyakit dan kecelakaan -kecelakaan akibat kerja,
pemeliharaan dan peningkatan kesehatan dan gizi
tenaga kerja, perawatan dan mempertinggi eIisiensi
dan daya produktivitas tenaga manusia,
pemberantasan kelelahan kerja dan penglipat ganda
kegairahan serta kenikmatan kerja. Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah
penerapan peraturan/stadar K3 secara terpadu dalam
sistem manajemen perusahaan. Prinsip-prinsip
penerapan SMK3 mengacu kepada 5 prinsip dasar
SMK3 sebagaimana dimaksud dalam Peraturan
Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia No. PER
05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja BAB III ayat (1)
yaitu :
1. Menetapkan kebijakan keselamatan dan kesehatan
kerja dan menjamin komitmen terhadap penerapan
Sistem Manajemen K3.
2. Merencanakan pemenuhan kebijakan, tujuan dan
sasaran penerapan keselamatan dan kesehatan kerja.
3. Menerapkan kebijakan keselamatan dan kesehatan
kerja secara eIektiI dengan mengembangkan
kemampuan dan mekanism pendukung yang e
diperlukan untuk mencapai kebijakan, tujuan, serta
sasaran keselamatan dan kesehatan kerja.
4. Mengukur, memantau dan mengevaluasi kinerja
keselamatan dan kesehatan kerja serta melakukan
tindakan perbaikan dan pencegahan.
5. Meninjau secara teratur dan meningkatkan
pelaksanaan sistem manajemen K3 secara
berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan
kinerja keselamatan dan kesehatan kerja. Langkah-
langkah dalam mengembangkan Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja dapat diuraikan
sebagai berikut :
1. Peraturan perundang-undangan dan standar
Sebelum implementasi harus diidentiIikasi semua
peraturan perundang-undangan dan standar K3 yang
berlaku dalam perusahaan yang bersangkutan.
Sebaiknya dibentuk tim untuk mendokumentasika n
peraturan perundang-undangan dan standar dibidang
K3. Dari hasil identiIikasi ini kemudian disusun
Peraturan K3 perusahaan dan Pedoman pelaksanaan
K3. Praktek pada banyak perusahaan, peraturan
keselamatan dan kesehatan kerja dicetak dalam
bentuk buku sak yang selalu dibawa u oleh tenaga
kerja, agar setiap pekerja memahami peraturan
tersebut harus menjelaskan peraturan perundangan
dan persyaratan lainnya kepada setiap tenaga kerja
2. Menetapkan kebijakan K3 Perusahaan Pernyataan
mengenai komitmen dari organisasi untuk
melaksanakan K3 yang menegaskan keterikatan
perusahaan terhadap pelaksanaan K3 dengan
melaksanakan semua ketentuan K3 yang berlaku
sesuai dengan operasi perusahaan, melindungi
keselamatan dan kesehatan semua pekerja termasuk
kontraktor dan stakeholder lainnya seperti pelanggan
dan pemasok.
3. Mengorganisasikan Kebijakan K3 Merupakan
langkah dimana seorang top manajemen
melaksanakan kebijakan K3 dengan eIektiI dengan
peran serta semua tingkatan manajemen dan pekerja.
4. Merencanakan SMK 3 Perusahaan harus membuat
perencanaan yang eIektiI guna mencapai
keberhasilan penerapan dan kegiatan Sistem
Manajemen K3 dengan sasaran yang jelas dan dapat
diukur.
5. Penerapan SMK 3 Perusahaan harus menyediakan
personil yang memiliki kualiIikasi, sarana yang
memadai sesuai sistem Manajemen K3 yang
diterapkan dengan membuat prosedur yang dapat
memantau manIaat yang akan didapat maupun biaya
yang harus dikeluarkan.
6. Measurement Mengukur dan memantau hasil
pelaksanaan, dengan menggunakan standar yang
telah ditetapkan terlebih dahulu. Ada dua macam
ukuran yang dapat digunakan yaitu ukuran yang
bersiIat reaktiI yang didasarkan pada kejadian
kecelakaan dan ukuran yang bersiIat proaktiI, karena
didasarkan kepada upaya dari keseluruhan sistem. 7.
Audit Dengan melaksanakan audit K3, manajemen
dapat memeriksa sejauh mana organisasi telah
melaksanakan komitmen yang telah disepakati
bersama, mendeteksi berbagai kelemahan yang masih
ada, yang mungkin terletak pada perumusan
komitmen dan kebijakan K3, atau pada
pengorganisasian, atau pada perencanaan dan
pelaksanaannya. 3.2 Sistem Manajemen Terintegrasi
( Integrated Management System ) 3.2.1 DeIinisi
Integrated management System adalah sistem
manajemen yang mengakomodir keseluruhan proses
secara simultan dengan memasukkan semua aspek
mutu, lingkungan, dan K3 dengan prosedur dan
proses yang sama. Integrated Management System
merupakan kombinasi dari proses, prosedur dan
penerapannya yang digunakan oleh organisasi untuk
menerapkan kebijakan organisasi yang diharapkan
lebih eIisien untuk mencapai tujuan organisasi.
Integrasi sistem manajemen yang pada umumnya
ditemukan adalah kombinasi antara Sistem
Manajemen Mutu (ISO 9001), Sistem Manajemen
Lingkungan (ISO 14001, Sistem Manajemen K3 (
SMK3/OHSAS 18001). Perusahaan yang
menjalankan Sistem Manajemen Mutu (ISO 9001),
Sistem Manajemen lingkungan (ISO 14001), dan
Sistem Manajemen Kesehatan & Keselamatan Kerja
(SMK3/OHSAS) secara sendiri atau terpisah artinya
perusahaan ini menganut sistem manajemen yang
belum terintegrasi. Namun, karena dorongan internal
berupa keinginan perusahaan untuk melakukan
improvement terhadap pengendalian dan
dokumentasi, arah dan misi perusahaan yang lebih
jelas, eIisiensi dan produktivitas yang lebih baik,
keselamatan dan kesehatan kerja pegawai yang
terjamin bahkan budaya kerja yang lebih baik, maka
perusahaan akan menerapkan sistem manajemen
yang terintegrasi. Selain itu, penyebab lainnya karena
sistem manajem yang terpisah dianggap kurang
eIektiI en dan eIisien apalagi dengan sistem
manajemen, penanggungjawab, tim pelaksana dan
MR yang terpisah. ManIaat internal yang diperoleh
oleh perusahaan adalah peningkatan eIisiensi dan
sinergi bila dibandingkan dengan jik dijalankan
secara terpisah. Jadi, a Integrated Management
System bukan menjalankan ketiga sistem tersebut
secara bersama-sama dengan prosedur berbeda,
penanggung jawab yang berbeda serta dalam
kerangka kerja yang berbeda. Integarasi sistem
manajemen yang baik tidak menggunakan salah satu
sistem manajemen yang ada sebagai dasar, tetapi
berdasarkan proses bisnis yang ada, kemudian ketiga
sistem tersebut dimasukkan sebagai bagian dari
proses bisnis tersebut. Penerapan Integrated
Management System tentunya haru berasal dari s
Keputusan Strategis Manajemen. Dengan demikian
top manajemen yang harus menjadi penggerak yang
mengendalikan sistem sehinnga seluruh elemen
perusahaan ikut melibatkan diri dalam penerapan dan
peningkatan sistem yang dijalankan. Sistem
manajemen terintegrasi umumnya mengacu pada
Siklus PDCA (Plan-Do-Check-Action). 3.2.2
Struktur Tipikal Integrated Management System 1
Manual Mutu 1 Manual Lingkungan 1 Manual
Kebijakan K3 Level 1 1 Manual Manajemen
Terintegrasi 30 Prosedur Mutu 15 Prosedur
Lingkungan 15 Prosedur K3 Level 2 15-20 Prosedur
Manajemen Terintegrasi - Instruksi Kerja - Formulir
Isian Level 3 - Instruksi Kerja - Formulir Isian Tanpa
Duplikasi Source : Manual Book SMST Berdasarkan
gambar di atas dapat dilihat adanya penyempurnaan
dari sistem manajemen yang terpisah. Dengan
penerapan sistem manajemen yang terintegrasi dapat
membuat proses pencapaian tujuan dan sasaran
perusahaan berjalan dengan eIektiI. Bagan di atas
menjelaskan kondisi pengendalian dokumen suatu
perusahaan sebelum dan sesudah menerapkan
Integrated Management System. Sistem Manajemen
Terpisah Sistem Manajemen Terintegrasi mutu,
lingkungan, dan Manual Mutu, Manual Lingkungan,
dan Manual Manual Kebijakan K3 dengan dokumen
kebijakan K3 terintegrasi dalam satu yang terpisah.
dokumen. Prosedur kerja sangat banyak karena
Prosedur kerja menjadi lebih sedikit. prosedur
kebijakan mutu, K3 lingkungan, memiliki dan
Prosedur mutu K3 lingkungan, berada dalam dan satu
prosedur kebijakan masing-masing. prosedur kerja.
Adanya penduplikasian instruksi kerja Tidak adanya
duplikasi dan Iormulir isian 3.2.2 ManIaat Secara
umum, manIaat Integrated Management System
dapat digambarkan berdasarkan 4 elemen :
Dokumentasi - Dokumentasi lebih sedikit - Dapat
dikurangi - Dapat lebih akrab bagi pengguna - Fokus
pda bagian kritis baik - Mencegah perulangan
masalah yang sama - Review ( input, output, proses) -
Penggunaan data pada target perbaikan - Fokus pada
perbaikan terus menerus Pengerjaan - Taggung jawab
semua orang - Memberikan kejelasan pemilik proses
- Meningkatkan pengetahuan pada sistem -
Memperbaiki pengguna sistem - Mengerti interaksi
sistem Source :Integrated Management System-
SUCOFINDO EIisiensi - Pengkajian resiko
terintegrasi - Merampingkan program audit -
Memelihara sistem - Penggunaan sumber daya
EIektiIitas - Investigasi akar penyebab lebih 3.3
Audit Internal 3.3.1 DeIinisi Audit internal
merupakan pengawasan manajerial yang Iungsinya
mengukur dan mengevaluasi sistem pengendalian
dengan tujuan membantusemua anggota manajemen
dalam mengelola secara eIektiI
pertanggungjawabannya dengan cara menyediakan
analisis, penilaian, dan komentarkomentar yang
berhubungan dengan kegiatan -kegiatan yang
ditelaah. Ikatan Auditor Internal (Institute oI Internal
Auditors IIA) dikutip oleh Messier (2005:514),
mendeIinisikan audit internal sebagai berikut : Audit
intern adalah aktivitas independen, keyakinan
objektiI, dan konsultasi yang dirancang untuk
menambah nilai dan meningkatkan operasi
organisasi. Audit intern ini membantu organisasi
mencapai tujuannya dengan melakukan pendekatan
sistematis dan disiplin untuk mengevaluasi dan
meningkatkan eIektiIitas manajemen resiko,
pengendalian, dan proses tata kelola. Dari deIinisi
tersebut dapat dilihat beberapa lingkup tugas auditor
internal dalam perusahaan yang bertujuan untuk
menilai eIisiensi dan eIektivitas kegiatan usaha dan
juga pengendalian internal yang telah dijalankan.
Selanjutnya Agoes (2004:221) memberikan
pendapatnya tentang audit internal sebagai berikut :
Internal audit (pemerikasaan intern) adalah
pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal
audit perusahaan, baik terhadap laporan keuangan,
dan catatan akuntansi perusahaan, maupun ketaatan
terhadap kebijakan manajemen puncak yang telah
ditentukan dan ketaatan terhadap peraturan
pemerintah dan ketentuan-ketentuan dari ikatan
proIesi yang berlaku. Peraturan pemerintah misalnya
peraturan dibidang perpajakan, pasar modal,
lingkungan hidup, perbankan, perindustrian,
investasi, dll. Ketentuan dari ikatan proIesi misalnya
standar akuntansi keuangan. Di dalam perusahaan,
audit internal yang merupakan Iungsi staI, tidak
memiliki wewenang untuk langsung memberi
perintah kepada pegawai, juga tidak dibenarkan
untuk melakukan tugas-tugas operasional dalam
perusahaan yan g siIatnya diluar kegiatan
pemeriksaan. 3.3.2 Audit Internal yang EIektiI
Untuk meningkatkan eIisiensi dan eIektiIitas dari
kegiatan usaha suatu perusahaan, adanya suatu
departemen audit internal yang eIektiI sangat
diperlukan. Berikut adalah beberapa hal yang harus
diperhatikan agar suatu perusahaan dapat memiliki
departemen audit internal yang eIektiI dalam
membantu manajemen dengan memberikan analisa,
penilaian, dan saran mengenai kegiatan yang
diperiksanya.Sawyers (2005:52) : 1. Departemen
audit internal harus mempunyai kedudukan
independen dalam organisasi perusahaan, yaitu tidak
terlibat dalam kegiatan operasional yang diperiksanya
2. Departemen audit internal harus mempunyai uraian
tugas tertulis yang jelas sehingga dapat mengetahui
tugas, wewenang, dan ta nggung jawabnya.
Departemen audit internal harus pula memiliki
internal audit manual yang berguna untuk : a.
Mencegah terjadinya penyimpangan dalam
pelaksanaan tugas b. Menentukan standar untuk
mengukur dan meningkatkan perIormance c.
Memberi keyakinan bahwa hasil akhir departemen
audit internal telah sesuai dengan requirement kepala
audit internal 3. Departemen audit internal harus
memiliki dukungan yang kuat dari top management.
Dukungan yang kuat dari top management tersebut
dapat berupa : a. Penempatan departemen audit
internal dalam posisi yang independen b. Penempatan
staI audit dengan gaji yang rationable c. Penyediaan
waktu yang cukup dari top management untuk
membaca, mendengarkan dan mempelajari laporan -
laporan yang dibuat oleh departemen audit internal
dan tanggapan y ang cepat dan tegas terhadap saran-
saran yang diajukan. 4. Departemen audit internal
harus memiliki sumber daya yang proIesioanl,
berkemampuan, dapat bersikap objektiI dan
mempunyai integritas dan loyalitas yang tinggi 5.
Departemen audit internal harus bersiIat koperatiI
dengan akuntan publik 6. Harus diadakannya rotasi
dan kewajiban mengambil cuti bagi pegawai
departemen audit internal 7. Pemberian sanksi yang
tegas kepada pegawai yang melakukan kecurangan
dan memberikan penghargaan kepada mereka yang
berprestasi 8. Menetapkan kebijakan yang tegas
mengenai pemberian -pemberian dari luar 9.
Mengadakan program pendidikan dan pelatihan
untuk meningkatkan kemampuan pegawai dalam
melaksanakan Iungsi dan tugasnya sebagai auditor
internal. 3.3.3 Tujuan Audit Internal Direksi harus
menyusun dan melaksanakan sistem pengendalian
internal perusahaan yang handal dalam rangka
menjaga kekayaan dan kinerja perusahaan serta
mematuhi peraturan perundang-undangan. Satuan
kerja atau Iungsi pengawasan internal bertugas
membantu direksi dalam mem astikan pencapaian
tujuan dan keberlangsungan usaha dengan: 1.
Melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program
perusahaan 2. Memberikan saran dalam upaya
memperbaiki eIektiIitas proses pengendalian resiko
3. Melakukan evaluasi kepatuhan perusahaan
terhadap peratura perusahaan n 4. MemIasilitasi
kelancaran pelaksanaan audit oleh audit eksternal
Tujuan audit internal adalah untuk membantu
anggota organisasi untuk melaksanakan tanggung
jawabnya secara eIektiI. Untuk mencapai tujuan ini,
staI audit internal diharapkan dapat dengan analisis,
penilaian, rekomendasi, konsultasi dan inIormasi
tentang kegiatan yang ditelaah. Untuk mencapai
tujuan tersebut, auditor internal harus melakukan
kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. Menelaah dan
menilai kebaikan, memadai tidaknya penerapan dari
sistem pengendalian mahal. b. Memastikan ketaatan
terhadap kebijakan, rencana dan pros edur-prosedur
yang telah ditetapkan oleh manajemen internal dan
pengendalian operasional lainnya, serta
mengembangkan pengendalian yang eIektiI dengan
biaya yang tidak terlalu c. Memastikan seberapa jauh
harta perusahaan dipertanggungjawabkan dan
dilindungi dari kemungkinan terjadinya segala bentuk
pencurian, kecurangan, dan penyalahgunaan
mbangkan dalam organisasi d. Memastikan bahwa
pengolahan data yang dike dapat dipercaya e. Menilai
mutu pekerjaan setiap bagian dalam melaksanakan
tugas yang diberikan oleh manajemen I.
Menyarankan perbaikan-perbaikan operasional dalam
rangka meningkatkan eIisiensi dan eIektiIitas 3.3.4
Fungsi dan Ruang Lingkup Audit Internal Fungsi
audit internal merupakan kegiatan yang bebas, yang
terdapat dalam organisasi, yang dilakukan dengan
cara memeriksa akuntansi, keuangan, dan kegiatan
lain untuk memberikan jasa bagi manajemen dalkam
melaksanakan tanggung jawab mereka dengan cara
menyajikan analisis, penilaian, rekomendasi dan
komentar-komentar penting terhadap kegiatan
manajemen. Untuk mencapai tujuan tersebut, auditor
internal melaksanakan kegiatan -kegiatan berikut : a.
Pemeriksaan dan penilaian terhadap eIektiIitas
struktur pengendalian internal dan mendorong
penggunaan struktur pengendalian internal yang
eIektiI dengan biaya yang minimum b. Menentukan
sampai seberapa jauh pelaksanaan kebijakan
manajemen puncak dipatuhi c. Menentukan sampai
seberapa jauh kekayaan perusahaan
dipertanggungjawabkan d. Menentukan keandalan
inIormasi yang dihasilkan oleh berbagai bagian
dalam perusahaan e. Memberikan rekomendasi
perbaikan kegiatan -kegiatan perusahaan Audit
internal yang modern tidak lagi terbatas Iungsinya
dalam bidang pemeriksaan keuangan tetapi sudah
meluas kebidang lainnya seperti audit manajemen,
audit lingkungan hidup, audit kepatuhan dan sudah
mencakup konsultasi yang didesain untuk menambah
nilai dan meningkatkan kegiatan produksi suatu
organisasi. Fungsi audit internal manjadi semakin
penting sejalan dengan semakin kompleksnya
operasional perusahaan. Manajemen tidak mungkin
dapat mengawasi seluruh kegiatan operasioanl
perusahaan, karena itu manajemen sangat terbantu
oleh Iungsi audit internal untuk menjaga eIisiensi dan
eIektiIitas kegiatan. Menurut Guy (2002:410), ruang
lingkup audit internal pemeriksaan dan evaluasi yang
memadai serta eIektiIitas sistem pengendalian
internal organisasi kualitas kinerja dalam
melaksanakan tanggung jawab yang dibebankan.
Berikut ini adalah ruang lingkup audit internal yang
meliputi tugas -tugasnya: a. Menelaah reliabilitas dan
integritas inIormasi keuangan dan operasi serta
perangkat yang digunakan untuk mengidentiIikasi,
mengukur, mengkariIikasi l serta melaporkan
inIormasi semacam itu b. Menelaah sistem yang
ditetapkan untuk memastikan ketaatan terhadap
kebijakan, perencanaan, prosedur, hukum, dan
peraturan yang dapat memiliki pengaruh signiIikan
terhadap operasi dan laporan serta menentukan
apakah organisasi telah mematuhinya c. Menelaah
perangkat perlindungan aktiva dan secara tepat
memveriIikasi keberadaan aktiva tersebut d. Menilai
keekonomisan dan eIisiensi sumber daya yang
dipergunakan e. Menelaah inIormasi atau program
untuk memastikan apakah hasilnya k onsisten dengan
tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan, serta
apakah operasi atau program itu telah dilaksanakan
sesuai dengan yang direncanakan. Ruang lingkup
penugasan Iungsi audit internal yang terdapat dalam
Standard ProIesi Audit Internal yang dikeluarkan
oleh Konsorium Organisasi ProIesi Audit Internal
(2004:20) yaitu Iungsi audit internal melakukan
evaluasi dan memberikan kontribusi terhadap
peningkatan proses pengelolaan resiko, pengendalian,
dan governance, dengan pendekatan yang sistematis
teratur dan , menyeluruh. Maksud dari pernyataan
tersebut adalah audit internal membantu organisasi
dengan cara mengidentiIikasi dan mengevaluasi
resiko signiIikan dan memberikan kontribusi
terhadap peningkatan pengelolaan resiko dan sistem
pengendalian intern. Berdasarkan hasil penilaian
resiko tersebut, Iungsi audit internal mengevaluasi
kecukupan dan eIektiIitas sistem pengendalian
internal, yang mencakup governance, kegiatan
operasi, dan sistem inIormasi organisasi. 3.3.5
Kedudukan dan Peran Audit Internal Hal yang harus
diperhatikan dalam suatu perusahaan agar dapat
memiliki departemen audit internal yang eIektiI
adalah departemen audit internal tersebut harus
memiliki kedudukan audit internal yang independen
dalam organisasi perusahaan. Independensi audit
internal antara lain tergantung pada : 1. Kedudukan
departemen audit internal tersebut dalam organisasi
perusahaan, maksudnya kepada siapa departemen
tersebut bertanggung jawab 2. Apakah departemen
audit internal dilibatkan dalam kegiatan operasional.
Jika ingin independen, departemen audit internal
tidak boleh terlibat dalam kegiatan operasioanl
perusahaan. Misalnya tidak boleh ikut serta dalam
kegiatan penjualan dan pemasaran, penyusunan
sistem akunta nsi, proses pencatatan transaksi, dan
penyusunan laporan keuan gan perusahaan.
Kedudukan departemen audit internal dalam
perusahaan akan menentukan tingkat kebebasannya
dalam menjalankan tugas sebagai auditor.
Kedudukan ataupun status departemen audit internal
dalam suatu perusahaan mempunyai pengaruh
terhadap luasnya kegiatan serta tingkat
independensinya dalam menjalankan tugasnya
sebagai pemeriksa. Jadi, status organisasi dari
departemen audit internal harus ditegaskan untuk
dapat menyelesaikan tanggung jawab audit.
Departemen audit internal akan eIektiI seperti yang
diinginkan manajemen, jika departemen audit
internal tersebut bebas dari aktiIitas -aktiIitas yang
diauditnya. Hal ini akan tercapai jika departemen
audit internal mempunyai kedudukan yang
memungkinkan bagu snya untuk mengembangkan
sikap independensi terhadap bagian-bagian yang
harus diperiksa. Untuk mencapai keadaan tersebut,
maka departemen audit internal harus memperoleh
dukungan dari pihak manajemen dan dewan
komisaris. Terdapat tiga alternatiI kedudukan
departemen audit internal dalam perusahaan, yaitu :
1. Departemen audit internal berada di bawah
Direktur Keuangan 2. Departemen audit internal
berada di bawah Direktur Utama 3. Departemen audit
internal merupakan staI dari dewan komisaris
Kedudukan seorang auditor juga tidak memiliki
wewenang langsung terhadap tingkatan manajemen
dalan organisasi perusahaan, kecuali pihak yang
memang berada di bawahnya dalam departemen audit
internal itu sendiri. Sebagai penilai independen
tentang kecukupan pengendalian perusahaan,
departemen audit internal hanya menempatkan dir
sebagai narasumber dalam i pembuatan konsep
pengendalian perusahaan. Pihak yang bertanggung
jawab penuh dalam perancangan dan implementasi
pengendalian adalah manajemen dan direksi. Dengan
demikian, penilaian departemen audit internal
terhadap pengendaliantetap independen dan objektiI,
tanpa terlibat langsung dalam perencanaan
pengendalian. Dalam perkembangannya, peran yang
dijalankan auditor internal dapat digolongkan dalam
tiga jenis, yaitu sebagai watchlog, konsultan dan
katalis 1. Watchlog Watchlog adalah peran tertua dari
auditor internal yang mencakup pekerjaan
menginspeksi, observasi, menghitung, cek dan ricek.
Ada un p tujuannya adalah memastikan ketaatan
terhadap hukum, peraturan dan kebijakan organisasi.
Proses audit yang dilakukan adalah audit kepatuh an.
Fokus pemeriksaannya adalah adanya variasi atau
penyimpangan dalam sistem pengendalian internal.
Audit kepatuhan mengidentiIikasi penyimpangan
sehingga dapat dilakukan koreksi terhadap sistem
pengendalian internal. Oleh karena siIat
pekerjaannya, peran watchlog biasanya akan
menghasilkan rekomendasi yang mempunyai dampak
jangka pendek. 2. Konsultan Melalui peran ini,
manajemen akan melihat bahwa selain sebagai
watchlog, auditor internal dapat memberikan manIaat
lain berupa saran dalam pengelolaan sumber daya
organisasi yang dapat membantu tugas para manajer.
Peran konsultan membawa auditor internal untuk
selalu meningkatkan pengetahuan baik tentang
proIesi auditor maupun aspek bisnis, sehingga dapat
membantu manajemen dalam memecahkan masalah.
3. Katalis Katalis adalah zat yang berIungsi untuk
mempercepat reaksi namun tidak ikut bereaksi. Peran
auditor internal sebagai katalisator yaitu memberikan
jasa kepada manajemen melalui saran-saran
konstriktiI dan dapat diaplikasikan bagi kemajuan
perusahaan namun tidak ikut dalam aktivitas
operasional perusahaan. 3.3.6 Wewenang dan
Tanggung Jawab Auditor Internal Wewenang dan
tanggung jawab auditor internal dalam perusahaan
tergantung pada status dan kedudukannya dalam
struktur organisasi. Wewenang yang berhubungan
dengan tanggung jawab tersebut harus memberikan
akses penuh kepada auditor internal tersebut untuk
berurusan dengan kekayaan dan karyawan
perusahaan yang relevan dengan pokok masalah yang
dihadapi. Tanggung jawab auditor internal adalah : 1.
Memberikan inIormasi dan nasehat kepada
manajemen dan menjalankan tanggung jawab ini
dengan cara yang konsisten dengan kode etik auditor
internal. 2. Mengkoordinasikan kegiatan dengan
orang lain agar berhasil mencapai sasaran audit dan
sasaran perusahaan Pada umumnya, auditor internal
lebih berIungsi sebagai staI. Oleh karena itu, auditor
internal tidak dapat memerintahkan secara langsung
untuk menjalankan tindakan perbaikan karena hal
tersebut bukanlah wewenang. Auditor internal hanya
berkewajiban menyampaikan hasil pemeriksaan dan
penilaiannya kepada manajemen. Untuk menjaga
objektivitas, sebaiknya auditor internal tidak terlibat
secara langsung pada proses pencatatandan penyajian
data keuangan serta tidak terlibat secara langsung
maupun tidak langsung dalam suatu aktivitas o
perasional yang dapat mempengaruhii jika dilakukan
pemeriksaan. Auditor internal harus bebas
membahas dan menilai kebijakan, rencana dan
prosedur tetapi tidak berarti dapat mengambil alih
tanggung jawab bagian lain yang ditugaskan.
Kedudukan departemen audit internal
menggambarkan bagian-bagian mana saja yang dapat
menjadi objek pemeriksaannya atau dengan kata lain
menunjukkan sampai dimana wewenang auditor
internal. 3.3.7 Kode Etik Selain standar, proIesi
internal auditing juga memiliki kode etik proIesi yang
harus ditaati dan dijalankan oleh segenap auditor.
Kode etik memuat standar perilaku sebagai pedoman
bagi seluruh auditor internal. Standar perilaku
tersebut membentuk prinsip-prinsip dasar dalam
menjalankan praktik auditor internal. Konsorsium
Organisasi ProIesi Auditor Internal (2004) telah
menetapkan kode etik bagi para auditor internal yang
terdiri dari : 1. Auditor internal harus menunjukkan
kejujuran, obyektiIitas, dan kesanggupan dalam
melaksanakan tugas dan memenuhi tanggung jawab
proIesinya. 2. Auditor internal harus menunjukkan
loyalitas terhadap organisasinya atau terhadap pihak
yang dilayani. Namun demikian auditor internal tidak
boleh secara sadar terlibat dalam kegiatan-kegiatan
yang menyimpang atau melanggar hukum. 3. Auditor
internal tidak boleh secara sadar terlibat dalam
tindakan atau kegiatan yang dapat mendiskreditkan
proIesi audit internal atau mendiskreditkan
organisasinya. 4. Auditor internal harus menahan diri
dari kegiatan -kegiatan yang dapat menimbulkan
konIlik dengan kepentingan organisasinyaatau
kegiatan-kegiatan yang dapat menimbulkan
prasangka, yang meragukan kemampuannya untuk
dapat melaksanakan tugas dan memenuhi
tanggungjawab proIesinya secara obyektiI. 5. Auditor
internal tidak boleh menerima sesuatu dalam bentuk
apapun dari karyawan, klien, pelanggan, pemasok
ataupun mitra bisnis organisasinya yang dapat atau
patut diduga dapat mempengaruhi pertimbangan
proIesionalnya. 6. Hanya melakukan jasa-jasa yang
dapat diselesaikan dengan menggunakan kompetensi
proIesional yang dimilikinya. 7. Harus
mengusahakan berbagai upaya agar senantiasa
memenuhi Standar ProIesi Audit Internal 8. Harus
bersikap hati-hati dan bijaksana dalam menggunakan
inIormasi yang diperoleh dalam pelaksanaan
tugasnya. Auditor internal tidak boleh menggunakan
inIormasi rahasia (i) untuk mendapatkan keuntungan
pribadi, (ii) sengaja melanggar hukum, (iii) yang
dapat menimbulkan kerugian terhadap organisasinya.
9. Dalam melaporkan hasil pekerjaannya, auditor
internal harus mengungkapkan semua Iakta-Iakta
penting yang diketahuionya, yaitu Iakta-Iakta yang
jika tidak diungkap dapat (i) mendistorsi laporan atas
kegiatan yang direview, atau (ii) menutupi adanya
praktik-praktik yang melanggar hukum. 10. Harus
senantiasa meningkatkan kompetensi serta eIektivitas
dan kualitas pelaksanaan tugasnya. Auditor internal
wajib mengikuti pendidikan proIesional
berkelanjutan. 3.3.8 Laporan Audit Internal Hasil
akhir dari pelaksanaan audit internal dituangkan
dalam suatu bentuk laporan tertulis melalui proses
penyusunan yang baik. Laporan hasil audit internal
merupakan suatu alat penting untuk menyampaikan
pertanggungjawaban hasil kerja kepada manajemen,
yaitu sebagai media inIormasi untuk menilai sejauh
mana tugas-tugas yang dibebankan dapat
dilaksanakan. Adapun isi atau materi laporan audit
internal menurut Boynton (2003:494) adalah : 1.
Suatu laporan tertulis yang ditandatangani harus
dikeluarkan setelah pemeriksaan selesai 2. Auditor
internal harus membahas kesimpulan dan
rekomendasi pada tingkatan manajemen yang tepat
sebelum mengeluarkan laporan tertulis yang Iinal 3.
Laporan haruslah objektiI, jelas, ringkas, konstruktiI,
dan tepat waktu 4. Laporan harus menyatakan tujuan,
ruang lingkup dan hasil audit juga pendapat auditor
5. Laporan harus mencakup rekomendasi untuk
perbaikan yang potensial dan mengakui kinerja serta
tindakan korektiI yang memuaskan 6. Pandangan
auditee tentang kesimpulan dan rekomendasi audit
dapat disertakan dalam laporan audit 7. Direktur
audit internal atau designee harus me -review dan
menyetujui laporan audit Iinal sebelum diterbitkan
serta harus memutuskan kepada s iapa laporan itu
akan dibagikan Laporan dari bagian audit internal
merupakan suatu alat komunikasi yang didalamnya
terdapat tujuan yang dimulai dari penugasan, luas
pemeriksaan, batasan, yang dibuat dan juga saran
atau rekomendasi kepada pimpinan perusahaan.
Tujuan laporan audit internal adalah sebagai berikut :
1. Laporan auditor merupakan kesimpulan hasil
pemeriksaan 2. Menyajikan temuan-temuan dari hasil
pemeriksaan yang dilakukan 3. Sebagai dasar untuk
kemudian diambil tindakan oleh manajemen terhadap
penyimpangan yang terjadi. Untuk mencapai hal
tersebut, maka laporan yang disampaikan haruslah
memiliki unsur-unsur objektiI, clear (jelas), ringkas,
konstruktiI dan tepat waktu. 1. ObjektiI Laporan yang
disusun harus mengungkapkan Iakta dengan teliti
berdasakan r data yang dapat diuji kebenarannya.
Menyampaikan dengan jelas tentang pokok
pemeriksaan yang telah dilakukan sehingga dapat
diyakini kebenarannya. 2. Clear (Jelas) Laporan
disusun dengan menggunakan bahasa yang jelas,
tidak menimbulkan kesalahpahaman bagi
penggunanya. Menerangkan dengan jela dan lengkap
s agar dapat dimengerti oleh pihak-pihak yang
menggunakannya. 3. Ringkas Struktur laporan yang
baik melaporkan dengan ringkas pelaksanakan
operasional, pengendalian dan hasil kerja. Laporan
tersebut harusterhindar dari hal-hal yang tidak
relevan, material seperti gagasan, temuan, kalimat
dan sebagainya yang tidak menunjang tema pokok
laporan, namun tetap menjaga kualitas inIormasi
yang disampaikan melalui laporan tersebut sehingga
dapat memenuhi kebutuhan pemakainya. 4.
KonstruktiI Laporan yang bersiIat membangun
adalah laporan yang sedapat mungkin memaparkan
rekomendasi tindakan perbaikan yang dapat
dilakukan untuk mengupayakan peningkatan operasi.
5. Tepat waktu Laporan audit hanya dapat
bermanIaat dengan mak simal bila laporan tersebut
disajikan pada saat dibutuhkan. Sehingga auditor
harus mampu menyajikan laporan dengan tepat
waktu. Sebelum disampaikan pada pengguna laporan,
peninjauan kembali atas laporan (review) perlu
dilakukan. Review adalah tindakan bijak yang dapat
dilakukan audit internal. Hal ini bertujuan untuk lebih
memastikan kebenaran dan kelengkapannya. Laporan
audit akan eIektiI bila terdapat pelaksanaan tindak
lanjut agar proses audit yang berjalan benar-benar
memberikan manIaat bagi perusahaan . Untuk itu,
departemen audit internal bertugas untuk memantau
pelaksanaan tindak lanjut, menganalisis kecukupan
tindak lanjut disertai identiIikasi hambatan
pelaksanaanya dan memberikan laporan atas tindak
lanjut tersebut. 3.4 Kaitan Audit Internal dengan
Integrated Management System Salah satu maksud
implementasi Integrated Management System sesuai
dengan pedoman yang dikeluarkan oleh Lembaga
SertiIikasi Internasional yaitu untuk mengeIektiIkan
dan mengeIisiensikan seluruh kebijakan perusahaan
secara terpa u d dalam pencapaian tujuan perusahaan
. Salah satu elemen yang cukup signiIikan dalam
proses implementasi Integrated Management System
adalah Iungsi pengawasan internal yang baik yang
dilakukan oleh auditor internal. Dengan demikian
eksistensi audit interna itu sendiri merupakan salah l
satu wujud implementasi dari Integrated management
System. Selain itu, audit internal berperan sangat
strategis dalam membantu manajemen dal m upaya
mewujudkan a Integrated Management System ke
dalam praktek-praktek bisnis manajemen. Kelebihan
proses audit internal yang dijalankan berdasarkan
implementasi Intergrated Management System adalah
sebagai berikut : 1. Proses audit dilakukan oleh tim
auditor yang kompeten, independent dan teregistrasi
sebagai lead auditor serta multi kompetensi sehingga
permasalahan dalam suatu unit kerja dapat
diidentiIikasi dengan mudah. 2. Proses audit
dilakukan tidak hanya untuk mencari kesalahan pada
suatu unit, namun memberikan solusi-solusi
perbaikan sehingga proses continous improvement
dapat berjalan dengan baik. 3. Proses audit dilakukan
dengan objektiI, proIesional, detail dan mencakup
keseluruhan proses. 4. Audit dilakukan secara
terintegrasi dengan beberapa manajemen system (
ISO 9001, ISO 14001, SMK3/OHSAS 18001)
sehingga lebih eIisien. BAB IV Peranan Audit
Internal Terhadap Penerapan Integrated Management
System pada PT Semen Tonasa 4.1 Integrated
Management System PT Semen Tonasa ( IS
SMK3/OHSAS 18001) 9001, IS 14001, Sejak dulu,
PT Semen Tonasa mempunyai dan menerapkan
Sistem manajemen Mutu, Lingkungan, dan juga
Sistem Manajemen Keselamatan Kerja. Sistem ini
telah berlangsung selama bertahun-tahun dan
diimplementasikan pada tiap -tiap unit kerja. Akan
tetapi, seiring berjalannya waktu, perusahaan merasa
dan memandangpenting dan perlu untuk
meningkatkan eIisiensi dalam pengaplikasiannya. Hal
ini dikarenakan sistem manajemen tersebut kurang
eIektiI dimana skenario isi standar, sistem audit
internal dan juga pengembangan sistem dalam
organisasi belum terpadu menjadi satu daam l
pelaksanaannya sehingga hal ini tidak berjalan secara
eIektiI dan eIisien . Sebagai akibatnya, manajemen
tidak memperoleh inIormasi yang maksimal terkait
dengan penerapan sistem manajemen. Untuk itu,
perusahaan berusaha menerapkan Sistem Manajemen
yang terintegrasi sehingga terjadi perpaduan antara
sistem manajemen mutu ( ISO 9001), lingkungan
(ISO 14001) dan juga sistem manajemen kesehatan &
keselamatan kerja (SMK3/OHSAS 18001). Pada saat
ini, PT Semen Tonasa telah mengaplikasikan sistem
manajemen ya ng terintegrasi. Sistem manajemen
terintegrasi ( Integrated Management System ) yang
diterapkan oleh PT Semen Tonasa telah mendapat
pengakuan secara Internasioanal. Hal ini dibuktikan
dengan diperolehnya sertiIikasi Integrated
Management System ( IMS 00037 ) sejak tanggal 29
November 2009 oleh badan sertiIikasi internasional.
Adapun beberapa alasan Semen Tonasa ingin
menggunakan Integrated Management System adalah
sebagai berikut : 1. PT Semen Tonasa ingin
mendapatkan akses yang l bih baik ke pasar e
internasional 2. Keinginan untuk menciptakan citra
dan reputasi yang lebih baik 3. Adanya peluang
dalam penghematan biaya 4. Tekanan publik
(Stakeholder) 5. Meningkatkan kinerja mutu,
lingkungan, kesehatan dan keselamatan kerja secara
berkesinambungan. 6. Ingin menciptakan strategi
pencegahan secara institusi Berbagai model telah
dikembangkan oleh PT Semen Tonasa dalam
menerapkan Sistem manajemen terintegrasi yang
secara umum mengacu pada siklus Plan, Do, Check,
dan Action (PDCA) dan dapat dijelaskan dalam
gambar berikut : Review Awal IdentiIikasi Peluang
Perencanaan Aksi KorektiI Keinginan Pemangku
Kepentingan Penerapan Periksa / Check Source :
Manual Book SMST Pada tahap awal, PT Semen
Tonasa melakukan review dengan mengidentiIikasi
semua proses bisnis berupa input dan output semua
proses dalam produksi. Proses review dilakukan
dengan interaksi Iungsi dalam organisasi dan
pendekatan proses sehingga dapat membentuk dasar
identiIikasi aspek mutu, lingkungan, dan kesehatan &
keselamatan kerja. Hal ini dimaksudkan agar
kecukupan, kesesuaian, dan keeIektiIan sistem yang
telah berjalan sebelumnya dapat diperbaiki untuk
kemudi n dilakukan a perencanaan selanjutnya.
Terdapat banyak hal yang harus diperhatikan dalam
mengidentiIikasi peluang perbaikan. Dalam hal ini,
PT Semen Tonasa mempertimbangkan banyak hal
berdasar pada pengalaman-pengalaman sebelumnya.
Berikut adalah hal hal yang dilakukan oleh PT Semen
Tonasa dalam mengidentiIikasi peluang perbaikan
setiap tahunnya : 1. Kebijakan Manajemen dan
Prosedur 2. Tanggung jawab, peran, dan kewenangan
setiap karyawan 3. Penganggaran keuangan dan
manajemen resiko 4. Mengintegrasikan elemen-
elemen umum kedalam proses manajemen tunggal
Pada PT Semen Tonasa, perencanaan dilakukan
sekali dalam setahun. Pada perencanaan ini
ditetapkan tujuan dan sasaran yang realistis yang
ingin dicapai berdasarkan hasil pencapaian target
tahun sebelumnya Secara spesiIik, pada tahap ini .
ditentukan adanya Key PerIormance Indikator (KPI)
pa tiap-tiap unit kerja beserta da target
pencapaiaannya yang kemudian akan direalisasikan
oleh tiap-tiap unit kerja tersebut. Setelah menetapkan
tujuan dan sasaran, tindak lanjut yang dilakukan oleh
PT Semen Tonasa adalah mengkomunikasikan
kebijakan, tujuan dan sasaran perusahaan , kepada
seluruh karyawan yang selanjutnya dimengerti dan
diaplikasikan dalam pelaksanaan proses. Dalam
tahapan pener apan (Do) ini, dilakukan pengawasan
kerja terhadap implementasi sistem (prosedur,
instruksi kerja) sehingga proses pemutakhiran sistem
juga berjalan pada proses ini. Langkah selanjutnya
adalah melakukan pemeriksaan (Check) terhadap
sistem yang telah diterapkan. Proses pengecekan
dilakukan dengan cara melakukan audit dari sistem
yang sedang diterapkan dan kualitas produ /jasa yang
dihasilkan apakah sudah k sesuai dengan standar
yang telah ditetapkan atau tidak. Audit diharapkan
dapat membuat suatu perbaikan dari sistem yang ada.
Selain melakukan audit, perbaikan sistem kerja juga
dapat dilakukan dengan mangumpulkan dan me
review data kinerja (data kecelakaan dan insiden) dan
menampung keluhan pelanggan untuk kemudian
menjadi dasar melakukan suatu perbaikan. Tahap
terakhir adalah aksi korektiI dilakukan dengan
menerapkan usulan perbaikan terhadap masalah yang
ditemukan kemudian mengevaluasi hasilnya. Pada
tahap ini juga dilakukan analisa terhadap penyebab
masalah yang timbul karena adanya ketidaksesuaian
antara sistem yang terjadi dengan kebijakan yang
telah ditetapkan tersebut agar dapat digunakan untuk
perencanaan sela njutnya yang lebih baik. Selain itu,
kita juga dapat mengidentiIikasi partisipasi
stakeholders dalam Integrated Management System
dan dapat digambarkan sebagai berikut : External
Customer Reliable/on-time service Value Ior money
Shareholeders /Owners ProIitable business Legal
compliance Good business image Growth
Stakeholders Nedds Employees Community SaIe
working environment Job satisIaction Involvement &
participation Minimum environmental Impact
Employment opportunity Source : Manual Book
SMST 4.2 Audit Internal Sistem Manajemen PT
Semen Tonasa Pada awalanya, seluruh proses audit
internal perusahaan (audit ketaatan, audit
operasioanal, audit keuangan) dilaksanakan oleh
Satuan Kerja Audit Internal (SKAI) PT Semen
Tonasa. Namun, berdasarkan piagam SKAI yang
telah diterima oleh Departemen Satuan Kerja Audit
Internal, terdapat wewenang dalam proses audit yang
seharusnya dilimpahkan ke unit kerja lain. Proses
audit tersebut adalah proses audit ketaatan (audit
complience) terhadap sistem manajemen PT Semen
Tonasa yang selanjutnya dilimpahkan ke biro Sistem
Perusahaan dan Manajemen. Manajemen,
Departemen Litbang 4.2.1 Proses Audit Proses audit
internal sistem manajemen yang dijalankan oleh PT
Semen Tonasa adalah sebagai upaya dalam
pemantauan tindakan -tindakan yang dilakukan oleh
unit-unit kerja dalam menjalankan sistem manajemen
di unit kerjanya. Dalam hal ini tipe audit yang
dilaksanakan adalah audit ketaatan (audit
compliance) terhadap sistem manajemen yang telah
diterapkan. Pada PT Semen Tonasa, proses audit
internal sistem manajemen perusahaan dilaksanakan
secara periodik tiap 6 bulan. Proses audit internal ini
dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap unit-unit
kerja dengan melibatkan perwakilan dari tiap-tiap
unit kerja sebagai auditor dan dibantu oleh Dept.
SKAI yang lebih berkompeten dalam proses audit.
Pola proses pelaksanaan audit internal sistem
manajemen PT semen Tonasa yang berlangsung saat
ini pada umumnya mengadopsi pola audit internal
yang dilaksanakan oleh departemen SKAI ( Satuan
Kerja Audit Internal ) dimana terdapat empat tahapan
yaitu, rapat pembukaan, mengumpulkan bukti ,
dokumentasi dan temuan hasil audit, rapat penutupan.
Pada tahap awal, lead auditor memperkenalkan
anggota tim audit kepada seluruh unit kerja yang
kemudian dilanjutkan dengan menjelaskan lingkup,
tujuan, metode, prosedur dan rencana audit kepada
seluruh anggota tim audit. Untuk memastikan bahwa
unit kerja yang akan diaudit telah bersedia untuk
diaudit, auditor mengkonIirmasi kunjungannya
sehingga unit kerja yang akan diaudit mempersiapkan
semua dokumen dan sumber daya yang dibutuhkan.
Tahapan selanjutnya adalah deng mengumpulkan
bukti yang dilakukan an dengan cara menguji
dokumen ( ISO 9001, ISO 14001, SMK3/OHSAS
18001), wawancara, dan pengamatan kegiatan dan
kondisitiap-tiap unit kerja. Setelah pengumpulan
bukti dari tiap-tiap unit kerja, auditor
mendokumentasikan hasil temuan audit yang berupa
penyimpangan -penyimpangan dari implementasi
Sistem Manajemen Semen Tonasa (SMST) kedalam
Iorm yang telah dibuat. Pada tahap ini,
penyimpangan-penyimpangan yang teridentiIikasi
diklasiIikasikan menjadi tiga golongan yaitu Mayor,
Minor, dan Observasi. Penggolongan ini didasarkan
atas seberapa besar tingkat penyimpangan yang
teridentiIikasi berdasarkan kebijakan Sistem
Manajemen Semen Tonasa (SMST). Selanjutnya,
terhadap temuan hasil audit ini dilakukan evaluasi
sehingga semua penyimpangan yang ditemukan oleh
auditor segera diperbaiki oleh unit kerja yang
bersangkutan. Berdasarkan hasil temuan audit yang
telah didokumentasikan, tim auditor menyajikan dan
mendiskusikan semua temuan-temuan yang
signiIikan dengan unit-unit kerja yang bersangkutan.
Apabila ada temuan auditor yang tidak sesuai dengan
apa yang dirasakan unit kerja yang bersangkutan, unit
kerja tersebut dapat melakukan protes dengan
menunjukkan bukti konkritnya. Oleh karena PT
Semen Tonasa telah memperoleh sertiIikasi standar
Integrated Management System , maka pada
perusahaan juga akan dilakukan audit eksternal oleh
pihak lembaga sertiIikasi sebagai bentuk pengawasan
lembaga tersebut kepada perusahaan. Output dari
proses audit eksternal ini sama dengan audit internal
yaitu berupa temuan yang mengalami penyimpangan
dengan standar yang telah ditetapkan, beserta
klasiIikasi penggolongan temuan tersebut. Apabila
temuan yang didapatkan tersebut tergolong minimal
dan dengan penyimpangan yang tidak terlalu besar
berarti proses audit internal berjalan dengan eIektiI.
Temuan yang digolongkan mayor dan minor akan
dilakukan perbaikan dimana pihak lembaga
sertiIikasi memberikan batasan waktu kepada
perusahaan untuk melakukan tindakan perbaikan
dimana dalam setiap tahapnya dipantau ole h
lembaga sertiIikasi. Dalam batasan waktu yang
diberikan tersebut, perusahaan akan mengirimkan
dokumentasi berupa gambar kepada pihak lembaga
sertiIikasi sebagai bukti bahwa penyimpangan
tersebut telah dilakukan perbaikan. Apabila pihak
lembaga sertiIikasi sudah puas dengan hasil-hasil
dokumentasi, maka proses audit pun selesai. Namun,
jika tidak maka lembaga ini akan mengadakan
pengecekan ulang ke perusahaan. Proses inilah yang
akan menghasilkan improvement dari sistem
manajemen perusahaan yang karena dilakukan secara
terus-menerus diharapkan dapat mancapai Continual
Improvement. Secara umum, proses pelaksanaan
audit internal Sistem Manajemen PT Semen Tonasa
dapat digambarkan sebagai berikut : - Menyajikan
temuan audit dan pengamatan audit - Mendiskusikan
temuan-temuan yang signiIikan Rapat Penutupan
Dokumentasikan Dan valuasi Temuan Audit
engumpulkan Bukti - - Uji dokumen, data dan catatan
- Wawancara - Pengamatan kegiatan dan kondisi
Rapat Pembukaan Memperkenalkan anggota tim
audit Menjelaskan lingkup, tujuan dan rencana audit
Menjelaskan metoda dan prosedur audit
MengkonIirmasi ketersediaan dokumen dan sumber
daya MengkonIirmasi kunjungan dan wawancara
Source : Manual Book SMST 4.2.2 Masalah
Merupakan suatu hal yang wajar apabila dalam
sebuah perusahaan terdapat masalah-masalah dalam
pengelolaan sistem manajemen. Berikut adalah
beberapa masalah yang dihadapi PT Semen Tonasa
dalam melaksanakan proses audit internal sistem
manajemen perusahaan : 1. Jumlah auditor masih
sangat minim 2. Belum adanya regulasi yang jelas
dalam pelaksanaan audit internal sistem manajemen
perusahaan 3. Intensitas training auditor yang minim
dimana, pelaksanaan training audit internal hanya
dilaksanakan satu kali dalam setahun Iqbal Ismail
(D22107031) Iqrimah Nawalsari (D22107025)
Laporan Kerja Praktek Teknik Industri Jurusan
Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin 4.
Komunikasi antar auditor sangat sulit. Hal ini
dikarenakan setiap auditor bekerja di unit kerja yang
berbeda-beda dengan intensitas kesibukan yang
berbeda pula. 5. Kurangnya kesadaran dari auditor
dalam menjalankan proses audit internal.Hal ini
dikarenakan perwakilan auditor da tiap-tiap unit kerja
mempunyai ri tanggung jawab sendiri terhadap
pekerjaan yang harus diselesaikan di unit kerjanya. 6.
Kurangnya penghargaan terhadap auditor dimana
tidak adanya pemberian honor selama pelaksanaan
audit. BAB V PENUTUP 1.4 Kesimpulan 1.
Integrated management System pada PT Semen
Tonasa merupakan perpaduan antara Sistem
Manajemen Mutu ( ISO 9001:2008), Sistem
Manajemen Lingkungan (ISO 14001: 2005) dan juga
Sistem Manajemen Kesehatan & Keselamatan Kerja
(SMK3/OHSAS 18001:2007). 2. Faktor yang
mendorong PT Semen Tonasa menerapkan Integrated
Management System adalah sebagai berikut : a. PT
Semen Tonasa ingin mendapatkan akses yang lebih
baik ke pasar internasional b. Keinginan untuk
menciptakan citra dan reputasi yang lebih baik c.
Adanya peluang dalam penghematan biaya d.
Tekanan publik (Stake holder) e. Meningkatkan
kinerja mutu, lingkungan, kesehatan dan keselamatan
kerja secara berkesinambungan. I. Ingin menciptakan
strategi pencegahan secara institusi 3. Model
implementasi Integrated Management System pada
PT Semen Tonasa mengacu pada siklus PDCA 4.
Proses audit internal yang dilakukan PT Semen
Tonasa terbagi 2 yaitu Audit Operasional dan Audit
Sistem Manajemen. Audit operasional dilakukan oleh
Dept. SKAI sedangkan Audit Sistem Manajemen
dilakukan oleh Biro Sistem perusahaan &
Manajemen, Dept. Litbang Manajemen 5. Proses
pelaksanaan audit internal PT Semen Tonasa terdiri
dari beberapa tahap, yaitu : a. Rapat Pembukaan b.
Mengumpulkan bukti c. Dokumentasikan dan
evaluasi temuan audit d. Rapat penutupan 1.5 Saran
1. PT Semen Tonasa sebaiknya membentuk unit kerja
yang bertanggung jawab penuh dalam pelaksanaan
audit internal sistem manajemen perusahaan 2. PT
Semen Tonasa sebaiknya mengadakan pelatihan
auditor yang lebih intens sehingga pengetahuan
auditor tentang proses audit menjadi lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA Wibowo. 2009. Manajemen
Kinerja Edisi II. Jakarta: PT Raja GraIindo Persada
Guy, Dan M.C Way Alderman, dan Alan J.Winter,
2002. Auditing, Edisi 5, Penerjemah Sugiyarto,
Elangga, Jilid II, Jakarta Konsorsium Organisasi
ProIesi Audit Internal, 2004. Standar ProIesi Audit
Internal, yayasan Pendidikan Internal Audit, Jakarta
PT Semen Tonasa, 2009. Manual Book Integrated
management System http://www.ittelkom.ac.id
http://id.wikipedia.org/wiki/Kaizen
http://rouIique.wordpress.com/2010/02/09/internal-
audit-tangan-kanan-top-manajemen/ Iqbal Ismail
(D22107031) Iqrimah Nawalsari (D22107025)

Sumber:
http://webcache.googleusercontent.com/search?qcac
he:YgqPxGtxxI4J:www.scribd.com/doc/38723840/L
aporan-Kerja-Praktek-Iqbal-Ismail-IIELEMENT-
ELEMENTOFOHSASSEMENTONASA&cd
1&hlid&ctclnk&glid&sourcewww.google.co.id
... 11:57
Ini adalah tembolok Google' untuk
http://www.scribd.com/doc/38723840/Laporan-
Kerja-Praktek-Iqbal-Ismail-II.