Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI PENGARUH RUTE PEMBERIAN DAN VARIASI BIOLOGIK TERHADAP EFEK OBAT

Disusun Oleh: KELOMPOK 3 SENIN PAGI Futty Dewi Nuzulia Famini Nurin Adlina Putri Arief Kurniawan Nur Azizah 1006659470
1006659520

1006683381 1006683772

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK 2013

Pengaruh Rute Pemberian dan Variasi Biologik Terhadap Efek Obat


I. Tujuan Percobaan 1. Praktikan mampu memberikan larutan uretan secara oral, intramuscular, intravena, intraperitoneal dan subkutan pada hewan percobaan mencit dan tikus dengan dosis yang sesuai. 2. Praktikan mampu membedakan efek uretan pada mencit dan tikus akibat pemberian secara oral, intramuscular, intraperitoneal, intravena dan subkutan. 3. Praktikan mampu menerangkan terjadinya perbedaan efek yang terjadi akibat perbedaan spesies antara tikus dan mencit oleh obat uretan. II. Teori Dasar Dalam arti yang luas, obat dapat diartikan sebagai zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup. Obat yang masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara pemberian umumnya mengalami absorpsi, distribusi, dan pengikatan untuk sampai di tempat kerja dan menimbulkan efek. Kemudian, dengan atau tanpa biotransformasi, obat diekskresi dari dalam tubuh. Seluruh proses ini disebut proses farmakokinetik dan berjalan serentak. Efek yang timbul setelah pemberian obat akan berbeda untuk setiap individu. Faktor yang menyebabkan perbedaan respon setelah pemberian obat, antara lain : Umur Bayi (terutama neonatus) mempunyai metabolisme obat yang kurang baik karena seluruh organ dan sistem enzimnya belum sempurna. Pada orang tua, mekanisme obat sudah tidak baik lagi karena organ sudah banyak yang tidak dapat bekerja lagi secara sempurna (organ sudah rusak). Berat badan Pemberian obat dengan dosis yang sama pada individu dengan berat badan yang berbeda akan menghasilkan perbedaan konsentrasi obat dalam darah.

Jenis kelamin Berdasarkan penelitian terhadap hewan coba pada jenis kelamin yang berbeda dalam memberikan respon obat, umumnya wanita lebih sensitif terhadap obat dibandingkan dengan pria.

Spesies yang berbeda Pada spesies yang berbeda akan memberikan perbedaan juga terhadap respon obat yang diberikan. Perbedaan ini disebabkan karena setiap spesies mempunyai sistem metabolisme yang berbeda dengan spesies yang lain.

Faktor genetik (farmakokinetik) Variasi gen pada spesies yang sama menyebabkan efek obat akan berbeda dari satu individu ke individu lain.

Rute pemberian obat Kecepatan absorpsi, distribusi, dan metabolisme tergantung pada cara pemberian obat, apakah secara intravena, intraperitonial, intramuscular, subkutan, atau oral.

Waktu pemberian obat Obat lebih cepat diabsorpsi sebelum makan daripada sesudah makan. Faktor emosional Dalam Praktikum kali ini, praktikan menggunakan larutan uretan. Larutan uretan

tersebut diberikan kepada hewan uji dengan beberapa cara pemberian, diantaranya: 1. Oral Cara ini merupakan cara pemberian obat yang paling umum dilakukan karena mudah, murah, dan aman. Kerugiannya adalah banyak faktor yang dapat mempengaruhi bioavaibilitasnya, obat dapat mengiritasi saluran cerna, dan tidak dapat diberikan pada pasien yang koma. Pemberian per oral akan memberikan onset paling lambat karena melalui saluran cerna dan lambat di absorbsi oleh tubuh. 2. Parenteral (sekitar saluran pencernaan) Teknik ini menggunakan tusukan pada kulit sehingga memiliki resiko terjadinya infeksi, nyeri, dan iritasi lokal. Teknik ini meliputi:

Intravena (iv) Penyuntikan dilakukan pada pembuluh darah vena. Melalui cara intravena ini, obat tidak mengalami absorpsi maka kadar obat dalam darah diperoleh secara tepat, cepat, dan dapat disesuaikan langsung dengan respon penderita. Berguna untuk situasi darurat dan pada pasien yang tidak sadar. Obat yang tidak larut tidak dapat diberikan secara intravena. Onset pada pemberian secara intravena paling cepat karena kadar obat langsung terdistribusi dan dibawa oleh darah dalam pembuluh.

Intraperitoneal (ip) Penyuntikan dilakukan pada rongga perut sebelah kanan bawah, yaitu di antara kandung kemih dan hati. Cara ini hanya dilakukan untuk pemberian obat untuk hewan uji karena memiliki resiko infeksi yang sangat besar. Intraperitoneal akan memberikan efek yang cepat karena pada daerah tersebut banyak terdapat pembuluh darah.

Intramuscular (im) Penyuntikan dilakukan pada otot. Kecepatan absorbsi tergantung pada formulasi obat (preparat yang larut dalam minyak diabsorbsi dengan lambat, sedangkan yang larut dalam air diabsorbsi dengan cepat). Dapat diberikan oleh pasien-pasien yang sudah dilatih. Intramuscular memiliki onset lambat karena membutuhkan waktu untuk diabsorpsi dalam tubuh.

Subkutan (sk) Penyuntikan dilakukan di bawah kulit dan menembus dinding kapiler untuk memasuki aliran darah. Absorbsi dapat diatur dengan formulasi obat. Pemberian dengan cara ini, akan menghasilkan onset yang lambat karena membutuhkan waktu untuk diabsorpsi dalam tubuh.

III. Alat dan Bahan 1. Mencit dan tikus 2. Alat suntik, sonde 3. Larutan uretan konsentrasi 5%, 10%, 25%, 60%, dan 75% 4. Timbangan hewan 5. Wadah tempat pengamatan 6. Stop watch IV. Tata Kerja 1. Disiapkan 2 ekor mencit jantan, 1 ekor mencit betina, 1 ekor tikus jantan dan 1 ekor tikus betina. Timbang masing-masing berat mencit dan tikus yang digunakan. 2. Dengan berat badan yang telah diketahui, hitung dosis dan volume pemberian larutan uretan dengan tepat. 3. Larutan uretan diberikan secara oral pada mencit jantan, i.v pada mencit betina, i.p pada tikus jantan, i.m pada tikus betina, s.k pada mencit jantan dan catat waktu pemberiannya pada masing-masing hewan coba. 4. Hewan ditempatkan dalam wadah pengamatan. Amati dan catat onset dan durasi hilangnya refleks balik badan (hilangnya kemampuan hewan untuk membalikkan badan jika dilentangkan selama 30 detik) 5. Dihitung mulai dan lamanya waktu tidur masing-masing kelompok. Bandingkan hasilnya. 6. Hasil pengamatan dicatat dan tabelkan sesuai dengan data berikut : mati = sangat peka tidur, bila diberi rangsang nyeri tidak tegak = peka tidur, bila diberi rangsang nyeri tegak = sesuai dengan efek yang diduga tidak tidur, tetapi mengalami ataksia = resisten tidak mengalami perubahan = sangat resisten

V.

Perhitungan dan Pengamatan Dosis (mg) = Dosis Uretan (mg/kgBB) x Berat hewan coba (kg) Rumus Volume Larutan uretan yang diberikan (ml) =

Konsentrasi Larutan Uretan yang disediakan = 5% , 10%, 25% , 60%, dan 75% Perhitungan Dosis (Kelompok 3) A. Perhitungan Volume 1. Pemberian peroral (P.O) Dosis Larutan Uretan = 1000 mg/ kg BB Berat mencit jantan = 23,7 g Volume maksimal yang dapat diberikan secara peroral pada mencit = 1,0 ml Dosis yang diberikan =

Larutan Uretan yang digunakan = 10% = 100 mg/ml Volume Larutan Uretan yang diberikan =

2. Pemberian intra vena (I.V) Dosis Larutan Uretan = 1000 mg/kg BB

Berat mencit betina = 16,7 g Volume maksimal yang dapat diberikan secara i.v pada mencit = 0,5 ml Dosis yang diberikan =

Larutan Uretan yang digunakan = 10% = 100 mg/ml Volume Larutan Uretan yang diberikan =

3. Pemberian intra peritoneal (I.P) Dosis Larutan Uretan = 750 mg/kg BB Berat tikus jantan = 161,5 g Volume maksimal yang dapat diberikan secara i.p pada tikus = 2,0 5,0 ml Dosis yang diberikan =

Larutan Uretan yang digunakan = 10% = 100 mg/ml Volume Larutan Uretan yang diberikan =

4. Pemberian intra muskular (I.M) Dosis larutan Uretan = 750 mg/kg BB Berat tikus betina = 147,2 g

Volume maksimal yang dapat diberikan secara i.m pada tikus = 0,1 ml Dosis yang diberikan =

Larutan Uretan yang digunakan = 75% = 750 mg/ml Volume Larutan Uretan yang diberikan =

Karena melebihi volume maksimum, maka penyuntikannya dibagi dua, masingmasing 0,07 ml pada otot bisep femoris kanan dan kiri tikus.

5. Pemberian sub kutan (S.K) Dosis Larutan Uretan = 1000 mg/kg BB Berat mencit jantan = 21 g Volume maksimal yang dapat diberikan secara sk pada mencit = 0,5 1,0 ml Dosis yang diberikan =

Larutan Uretan yang digunakan = 10% = 100 mg/ml Volume Larutan Uretan yang diberikan =

B. Hasil Percobaan Tabel 1. Perbandingan waktu onset dan durasi pada mencit dan tikus pada pemberian obat secara p.o, i.v., i.p., i.m., dan s.k.

Kelompok Oral I O Tikus 60 D IV O D Tikus 20 40

Rute Pemberian IP IM O D O D Mencit Mencit 1 42 5 27 48 Resisten Mencit -

SK O D Tikus 29 38

II

41 17 Resisten Resisten Tikus Mencit 58 29 menit menit

Peka

III -

Mencit Sangat

Terjadi emboli Ataksia (resisten) sehingga tidak diperoleh data Mencit Tikus 9 1 jam 1 menit 59 5 Resisten (mengalami ataksia) Sesuai

16 10 Resisten Resisten Mencit Tikus 51 21 34 1 jam 1 meni meni menit menit t 23 t 48 detik detik Sesuai efek Sesuai efek yang yang diduga diduga Tikus Mencit 13 1 jam 30 Resisten(mengala

menit yg Sangat & D tidak bs ditentukan Mencit -

resisten : O & D tidak bs ditentukan IV Mencit 241 1424 Resisten Ataksia

diharapkan

resisten : O mi ataksia)

Tikus 700 100 Resisten Ataksia menit ke-7 Menit ke-8 aktif kembali hingga menit ke-50 Tikus -

Tikus -

Sangat Resisten Aktif hingga menit ke-57

Tikus 598 1 jam Sesuai

Mencit 337 5313

Resisten Menit ke-5 hingga menit ke-27 kurang aktif selanjutnya aktif kembali Mencit Tikus 7 52 3812 1 jam 22 Resisten

Mencit 1714 100 Peka Refleks balik badan hilang kemudian muncul kembali pada 1814

427 efek Sangat resisten

Sesuai efek yang Resisten

VI

yang diduga Tikus 4927 2832 sesuai

diduga Mencit Mencit 30 1029 417 145

Tikus 235 251

Tikus 442 4451 sesuai efek yang

efek sesuai

0 2 efek sesuai efek yang sesuai efek diduga

yang diduga

yang diduga

yang diduga diduga

VI. Pembahasan Pada praktikum kali ini praktikan melakukan percobaan untuk mengetahui pengaruh perbedaan cara pemberian obat terhadap efek obat serta melihat variasi biologis terhadap efek obat tersebut. Untuk mengetahui pengaruh perbedaan cara pemberian obat terhadap efek obat, maka obat diberikan kepada hewan percobaan secara oral, intraperitonial (IP), intramuskular (IM), intravena (IV) dan subkutan (SK). Dan untuk mengetahui pengaruh variasi biologik terhadap efek obat maka pengamatan untuk mengamati variasi berdasarkan kelamin (Membandingkan efek obat pada hewan coba berkelamin jantan dan betina, baik pada mencit maupun tikus) dan variasi biologik antar spesies (Membandingkan efek obat secara keseluruhan antara kedua spesies hewan coba, yakni pada mencit dan tikus). Praktikan terlebih dahulu harus menghitung dosis obat yang diberikan kepada hewan percobaan, baik kepada mencit maupun tikus. Dosis uretan untuk mencit dan tikus berbedabeda, yakni tergantung dari berat badan tikus dan mencit, dosis uretan yang digunakan adalah 750mg/kg BB untuk tikus dan 1000mg/kg BB untuk mencit. Pada perhitungan volume pemberian obat, maka harus diperhatikan volume maksimal obat yang ada di literatur. Volume maksimal obat pada hewan coba akan berbeda-beda, yakni tergantung pada spesies dan cara/jalur pemberian obat. Uretan harus dipekatkan agar volume pemberian menjadi lebih sedikit bila volume pemberian obat melebihi volume maksimal pada literatur. Sebaliknya apabila pada konsentrasi larutan uretan yang akan diberikan masih berada di batas bawah volume maksimum pemberian obat, maka konsentarsi tersebut dapat dipakai pada perhitungan dosis. 1. Pengaruh Pengaruh rute pemberian terhadap efek obat

Mula-mula praktikan membahas tentang pengaruh rute pemberian terhadap efek obat. Ini erat kaitannya dengan onset dan durasi yang ditimbulkan oleh obat tersebut dengan rute pemberiaan yang berbeda. Untuk mengetahui pengaruh cara pemberian obat terhadap efek obat, maka pemberian larutan obat uretan dilakukan dengan berbagai macam cara/jalur pemberian. Cara-cara pemberian yang dilakukan yaitu secara oral (PO), intraperitonial (IP), intramuskular (IM), intravena (IV) dan subkutan (SK). Dihitung waktu onset yaitu sejak obat diberikan sampai timbul efek obat dan durasi yaitu sejak timbul efek sampai hilangnya efek obat. Lalu diamati efek yang timbul yaitu hilangnya refleks balik badan dan kemudian hilangnya kesadaran. Berdasarkan hasil pengamatan dari 6 kelompok pada praktikum farmakologi hari rabu pagi didapatkan sebuah hasil sebagai berikut: 1. Pada tikus jantan, efek sedasi akibat pemberian uretan timbul paling cepat dari pemberian uretan secara intraperitonial kemudian diikuti dengan intravena, intramuskular, subkutan, dan yang paling lama menimbulkan efek sedasi adalah rute pemberian per oral. 2. Pada tikus betina, onset yang paling cepat ditimbulkan dari pemberian secara intravena, kemudian diikuti dengan subkutan dan pemberian secara oral. Rute pemberian secara intramuskular dan intraperitonial tidak menimbulkan efek sedasi yang mungkin disebabkan karena tikus betina ini sangat resisten sehingga tidak diperoleh data onset. 3. Pada mencit jantan, onset paling cepat ditunjukkan dengan pemberian secara intravena, kemudian diikuti dengan pemberian secara intraperitonial, subkutan dan intramuskular. Untuk pemberian secara per oral, data onset tidak didapatkan karena mencit jantan sangat resisten sehingga efeknya tidak dapat diamati. 4. Pada mencit betina, efek sedasi paling cepat timbul dari pemberian uretan secara oral dan diikuti dengan onset dari pemberian secara intraperitonial, intramuskular, intravena, dan subkutan. Berdasarkan literatur, urutan rute pemberian obat yang menimbulkan efek paling cepat adalah intravena, intraperitonial, intramuskular, subkutan, dan oral. Pemberian secara intravena dapat menimbulkan efek paling cepat karena obat akan langsung masuk ke dalam pembuluh darah sehingga obat dapat segera memberikan efek. Perbedaan hasil pengamatan dengan literatur yang ada dapat disebabkan karena resistensi yang dimiliki oleh hewan coba,

maupun kurang tepatnya proses pemberian obat yang dilakukan praktikan kepada hewan coba. 2. Pengaruh variasi biologik terhadap efek obat. Pada praktikum kali ini praktikan mengamati pengaruh variasi biologik terhadap efek obat. Variasi biologik yang diamati adalah variasi jenis kelamin (jantan dan betina) dan variasi spesies hewan coba (mencit dan tikus). 1. Variasi biologik perbedaan jenis kelamin Pada perbandingan efek obat antara mencit jantan dan mencit betina terlihat bahwa pada pemberian PO, IM dan SC efek obat lebih cepat muncul pada mencit betina, sedangkan pada pemberian IP efek obat lebih cepat muncul pada mencit jantan. Sementara itu, pada pemberian IV tidak dapat ditentukan karena terjadi emboli. Secara umum, hasil percobaan terhadap mencit menunjukkan bahwa mencit betina lebih peka dibanding mencit jantan. Pada perbandingan efek obat antara tikus jantan dan tikus betina terlihat bahwa pada pemberian PO dan SC efek obat lebih cepat muncul pada tikus betina, sedangkan pada pemberian IV, IP dan IM efek obat lebih cepat muncul pada tikus jantan. Secara umum, hasil percobaan terhadap tikus menunjukkan bahwa tikus jantan lebih peka daripada tikus betina. Berdasarkan teori, tikus dan mencit betina lebih peka/sensitif terhadap efek obat yang diberikan daripada tikus dan mencit jantan. Hal ini disebabkan karena wanita lebih sensitif terhadap obat dibandingkan pria. Efek obat yang terjadi pada hewan coba dapat terlihat dari waktu onsetnya. Dari hasil percobaan, pada mencit diketahui bahwa jenis kelamin betina lebih peka dibanding jantan. Namun, pada tikus diperoleh hasil yang tidak sesuai dengan teori yakni tikus jantan lebih peka daripada tikus betina untuk rute pemberian yang sama. 2. Variasi biologik perbedaan spesies Pada percobaan ini, praktikan juga membandingkan efek variasi biologik berupa perbedaan spesies terhadap efek obat, dalam hal ini dilakukan perbandingan antara spesies mencit dan tikus.

Pada perbandingan efek obat antara mencit jantan dan tikus jantan terlihat bahwa pada pemberian PO, IP, dan IM efek obat lebih cepat muncul pada spesies tikus sedangkan pada pemberian SC efek obat lebih cepat muncul pada mencit. Sementara itu, pada pemberian IV tidak dapat ditentukan karena terjadi emboli. Secara umum, hasil percobaan terhadap spesies jenis kelamin jantan menunjukkan bahwa tikus lebih peka dibanding mencit. Pada perbandingan efek obat antara mencit betina dan tikus betina terlihat bahwa pada pemberian IV, IP, IM dan SC efek obat lebih cepat muncul pada spesies mencit, sedangkan pada pemberian PO efek obat lebih cepat muncul pada tikus. Secara umum, hasil percobaan terhadap spesies jenis kelamin betina menunjukkan bahwa mencit lebih peka daripada tikus. Beberapa penyimpangan yang ditemui dari hasil praktikum kali ini mungkin disebabkan kesalahan yang dilakukan oleh praktikan dalam percobaan. Adapun kesalahan-kesalahan yang dapat terjadi antara lain kesalahan dalam perhitungan dosis atau kekeliruan dalam administrasi/pemberian obat pada hewan coba, sehingga obat tidak dapat masuk ke dalam tubuh hewan dengan dosis yang tepat yang berakibat efek obat yang diharapkan tidak muncul. Kesalahan juga dapat terjadi saat pengamatan onset dan durasi efek obat, sehingga data yang diperoleh tidak sesuai yang diharapkan. Selain itu, waktu untuk melakukan percobaan juga terbatas sehingga percobaan tidak dapat dilakukan semua, hal ini mempengaruhi data yang didapat.

VII.

Kesimpulan 1. Efek obat dipengaruhi oleh cara pemberian obat . Berdasarkan hasil percobaan urutan cara pemberian mulai dari yang memberikan efek paling cepat yaitu IP > SK > IV > IM > oral. Sedangkan berdasarkan teori, onset obat uretan lebih cepat tercapai pada pemberian IV>IP>IM>SC>PO. 2. Berdasarkan teori, tikus dan mencit betina lebih peka/sensitif terhadap efek obat yang diberikan daripada tikus dan mencit jantan. Dari hasil percobaan, pada mencit

diketahui bahwa jenis kelamin betina lebih peka dibanding jantan, sedangkan pada tikus diperoleh hasil yang tidak sesuai dengan teori yakni tikus jantan lebih peka daripada tikus betina untuk rute pemberian yang sama. 3. Berdasarkan teori, mencit lebih peka daripada tikus. Dan dari hasil percobaan mencit lebih peka daripada tikus. . VIII. Daftar Pustaka Anonim. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV.. Departemen Kesehatan Republik Indonesia Andrajati, Retnosari. 2011. Penuntun Praktikum Farmakologi. Depok: Departemen Farmasi FMIPA Universitas Indonesia. Ganiswara, S.G. 1995. Farmakologi dan Terapi edisi keempat. Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : Gaya Baru