GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG BAKU MUTU UDARA AMBIEN

DAN EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK DI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : bahwa baku mutu udara am bien dan emisi sumber tidak bergerak sebagaimana diatur dalam Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 39 Tahun 2008 tentang Baku Mutu Udara Ambien dan Emisi Sumber Tidak Bergerak di Jawa Timur saat ini dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan yang sebenarnya, sehingga perlu menetapkan kembali Baku Mutu Udara Ambien dan Emisi Sumber Tidak Bergerak di Jawa Timur dengan Peraturan Gubernur Jawa Timur. : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3274); 2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699); 3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4844); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang AMDAL (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3853); 6. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 82, tambahan Lembaran Negara Nomor 4737 ); 7. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 13/MENLH/III/1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak; 8. Keputusan Kepala Bapedal Nomor 205/Bapedal/07/1996 tentang Pedoman Teknis Pengendalian Pencemaran Udara Sumber Tidak Bergerak;

Mengingat

Dok. Informasi Hukum - JDIH Biro Hukum Setda Prov Jatim

1

Bidang. 3. 18. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 10 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat. 10.107/Bapedal/11/1997 tentang Perhitungan dan Pelaporan Serta Informasi Indeks Standar Pencemaran Udara. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 133 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Emisi Bagi Industri Pupuk. 14. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 129 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Emisi Usaha dan atau Kegiatan Minyak dan Gas Bumi. Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur yang selanjutnya disebut Kepala BLH adalah Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur yang diserahi tugas dan tanggung jawab di bidang Iingkungan hidup di Provinsi Jawa Timur. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Lembaga Teknis Daerah Provinsi Jawa Timur (Lembaran Daerah Nomor 3 Tahun 2008 Seri D). 19. 17.JDIH Biro Hukum Setda Prov Jatim 2 . Gubernur adalah Gubernur Jawa Timur. Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 17 Tahun 2003 tentang Cara Standart Pengambilan Contoh Udara Emisi Sumber Tidak Bergerak di Jawa Timur. Menetapkan : PERATURAN GUBERNUR TENTANG BAKU MUTU UDARA AMBIEN DAN EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK DI JAWA TIMUR. 15. Sub Bagian dan Seksi Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur. 11. 2. 12. Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1 Jawa Timur Nomor 129 Tahun 1997 tentang Baku Cara Uji Udara Ambien di Propinsi Daerah Tingkat 1 Jawa Timur. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Gubernur ini yang dimaksud dengan : 1. 13. Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1 Jawa Timur Nomor 128 Tahun 1997 tentang Baku Cara Uji Pengambilan Contoh Udara Ambien di Propinsi Daerah Tingkat 1 Jawa Timur. 16. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 7 Tahun 2007 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak Bagi Ketel Uap. Keputusan Kepala Bapedal Nomor Kep. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 45/MENLH/10/1997 tentang Indeks Standar Pencemaran Udara. Dok. Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 16 Tahun 2003 tentang Cara Standart Uji Udara Emisi Sumber Tidak Bergerak di Jawa Timur. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 105 Tahun 2008 tentang Uraian Tugas Sekretariat.9. Menteri adalah Menteri Negara Lingkungan Hidup. Informasi Hukum .

8. Industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah. energi dan/atau komponen yang ada atau seharusnya ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam udara ambien. 5. Laboratorium Iingkungan adalah laboratorium yang ditunjuk oleh Gubernur untuk pengukuran kualitas udara ambien dan/atau emisi. batu bara dan/atau gas. energi dan/atau komponen lain ke dalam udara ambien oleh kegitan manusia. Batas maksimum adalah kadar tertinggi yang masih diperbolehkan dibuang ke udara ambien. 6.4. 19. bahan baku. Kegiatan usaha lainnya adalah kegiatan ekonomi diluar kegiatan industri yang dalam melaksanakan usahanya menghasilkan emisi udara. Baku mutu emisi sumber tidak bergerak adalah batas kadar maksimum dan/atau beban emisi maksimum yang diperbolehkan masuk atau dimasukkan ke dalam udara ambien. minyak. 14. 17. Baku mutu udara am bien adalah ukuran batas atau kadar zat. barang setengah jadi dan atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya. Mutu udara ambien adalah kadar zat. Emisi adalah zat. 18. 13. Mutu emisi adalah emisi yang boleh dibuang oleh suatu kegiatan ke udara ambien. 10. Kadar zat pencemar adalah jumlah berat zat pencemar dalam volume emisi udara tertentu yang dinyatakan dalam satuan mg/m3. Bupati / Walikota adalah Bupati / Walikota di Jawa Timur. sehingga mutu udara ambien turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara am bien tidak dapat memenuhi fungsinya. Dok.JDIH Biro Hukum Setda Prov Jatim 3 . 11. makhluk hidup dan unsur lingkungan hidup lainnya. Udara Ambien adalah udara bebas dipermukaan bumi pada lapisan troposfir yang berada di dalam wilayah yuridiksi Republik Indonesia yang dibutuhkan dan mempengaruhi kesehatan manusia. 12. Boiler/Ketel uap adalah sebuah alat penghasil panas yang menggunakan bahan baku air atau minyak yang dipanaskan dengan bahan bakar biomassa. energi dan/atau komponen lain yang ada di udara bebas. Pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukkannya zat. 16. termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri. Sumber tidak bergerak adalah sumber emisi yang tetap pada suatu tempat. 7. Penanggung jawab industri atau kegiatan adalah pengusaha atau pemilik perusahaan/industri atau kegiatan usaha lainnya yang bersangkutan. Informasi Hukum . 15. energi dan/atau komponen lain yang dihasilkan dari suatu kegiatan yang masuk dan/atau dimasukkannya ke dalam udara ambien yang mempunyai dan/atau tidak mempunyai potensi sebagai unsur pencemar. 9.

t. Informasi Hukum . v. d. j. Industri pupuk asam fosfat dan hasil samping. u. Kegiatan kilang minyak. cerobong dan/atau alat pengendali emisi udara tidak beroperasi sebagaimana mestinya dikarenakan adanya kerusakan dan/atau tidak berfungsinya peralatan tersebut. b. c.JDIH Biro Hukum Setda Prov Jatim 4 . Kegiatan kilang LNG. f. Ketel uap berbahan bakar biomassa berupa bagas atau ampas dan/atau daun tebu kering. s. Kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas. Industri semen. q. o. Industri pupuk fosfat (SP-36. Industri gula. Kegiatan unit penangkapan sulfur. Ketel uap berbahan bakar minyak. kebakaran dan/atau huru hara. i. Industri pulp dan kertas. Industri cat. 21. Industri pengolahan kayu. Ketel uap berbahan bakar batu bara. Dok. h. p. Industri pupuk amonium sulfat (ZA). Ketel uap berbahan bakar biomassa lainnya.20. Industri keramik. r. BAB II BAKU MUTU UDARA (EMISI DAN AMBIEN) Pasal 2 (1) Industri atau jenis kegiatan usaha lainnya yang wajib menggunakan baku mutu emisi sumber tidak bergerak sebagaimana tersebut dalam Lampiran I. n. Industri pupuk urea. Kondisi tidak normal adalah kondisi dimana boiler/ketel uap. cerobong. e. g.NPK. Industri pupuk majemuk . TSP). w. meliputi : a. l. dan/atau alat pengendali emisi udara sebagaimana mestinya karena adanya bencana alam. Industri logam dan sejenisnya. Industri karbit (Kalsium Karbida). Ketel uap berbahan bakar gas. x. baku mutu udara ambiennya ditetapkan sebagaimana tersebut dalam Lampiran II. Pencemaran keadaan darurat adalah keadaan tidak berfungsinya boiler/ketel uap. m. Industri atau jenis kegiatan usaha lainnya. Ketel uap berbahan bakar biomassa serabut dan/atau cangkang. (2) Industri atau jenis kegiatan usaha lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). k.

BAB IV PERSYARATAN Pasal 5 (1) Setiap penanggung jawab industri atau kegiatan usaha lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. wajib melaporkan jadwal pengoperasian boiler/ketel uap kepada Kepala BLH. memasang unit pengendalian pencemaran udara. (2) Bagi industri atau jenis kegiatan usaha lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). disampaikan kepada : a. dan b.Pasal 3 Apabila hasil kajian kelayakan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) atau rekomendasi Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) bagi industri atau kegiatan usaha lainnya mensyaratkan baku mutu emisi lebih ketat dari pada baku mutu emisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). (3) Hasil pemeriksaan baku mutu udara am bien dan emisi udara sebagaimana dimaksud pada ayat (1). membuat cerobong emisi yang dilengkapi dengan sarana pendukung meliputi lubang pengambilan contoh uji. boiler/ketel uap.JDIH Biro Hukum Setda Prov Jatim 5 . dengan biaya penanggung jawab industri atau kegiatan usaha lainnya sekurangkurangnya 6 (enam) bulan sekali selama periode pengoperasian : a. c. sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali wajib disampaikan kepada : a. alat monitoring emisi udara lainnya. Informasi Hukum . Kepala BLH. dan b. yang mempunyai periode pengoperasian boiler/ketel uap lebih dari 6 (enam) bulan. b. tangga lantai kerja (platform). aliran listrik dan alat pengaman. Gubernur melalui Kepala BLH. melakukan pengukuran secara manual dan pengujian emisi setelah kondisi proses stabil. wajib memenuhi ketentuan : a. dan atau b. Bupati / Walikota. Bupati / Walikota. BAB III LABORATORIUM LINGKUNGAN Pasal 4 (1) Laboratorium lingkungan melakukan pemeriksaan udara ambien dan emisi secara berkala terhadap industri atau jenis kegiatan usaha lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. (2) Catatan pemantauan hasil emisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. maka diberlakukan baku mutu emisi sebagaimana dipersyaratkan oleh AMDAL atau rekomendasi UKL dan UPL. Dok.

BAB V KETENTUAN PENUTUP Pasal 8 Dengan berlakunya Peraturan Gubernur InI. 10 Th 2009/ E1 GUBERNUR JAWA TIMUR ttd Dr. Gubernur melalui Kepala BLH. dikonsultasi dengan Menteri. SOEKARWO Dok.2009 No. b. Bupati / Walikota.2 . maka Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 39 Tahun 2008 tentang Baku Mutu Udara Ambien dan Emisi Sumber Tidak Bergerak di Jawa Timur dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.Pasal 6 (1) Bagi industri atau kegiatan usaha lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) yang memasang alat pemantauan kualitas emisi secara terus menerus (Continuous Emission Monitoring/CEM) pada cerobong tertentu dalam pelaksanaannya. mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Informasi Hukum . Bupati / Walikota. Ditetapkan di Surabaya pada tanggal 26 Februari 2009 DIUNDANGKAN DALAM BERITA DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR Tgl 26 . Gubernur melalui Kepala BLH dengan tembusan kepada Menteri. Pasal 9 Peraturan Gubernur in. H. dan b. wajib : a. memerintahkan pengundangan Peraturan Gubernur ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Provinsi Jawa Timur. maka setiap penanggung jawab industri atau kegiatan usaha lainnya wajib mengambil tindakan penanggulangan yang diperlukan serta melaporkan kepada : a. (2) Hasil pemantauan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib disampaikan kepada : a. Pasal 7 Apabila terjadi kondisi tidak normal dan/atau keadaan darurat yang mengakibatkan baku mutu udara am bien dan emisi dilampaui. dan b.JDIH Biro Hukum Setda Prov Jatim 6 . melakukan pengukuran setiap 6 (enam) bulan sekali. Agar setiap orang mengetahuinya.

Lapis listrik e.LAMPIRAN PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR : 10 TAHUN 2009 TANGGAL: 26 PEBRUARI 2009 BAKU MUTU UDARA AMBIEN DAN EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK 01 JAWA TIMUR I. Mekanik b. BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK UNTUK INDUSTRI ATAU KEGIATAN USAHA LAINNYA YANG SUDAH BEROPERASI No Sumber Parameter Baku Mutu (mg I Nm3) 1 1 2 3 2 Penanganan Bahan Baku Proses peleburan 3 Total partikulat (debu) Total partikulat (debu) Sulfur Dioksida (S02) NitroQen Dioksida (N02) Total Total Total Total Total partikulat partikulat partikulat partikulat partikulat (debu) (debu) (debu) (debu) (debu) 4 150 150 1000 1200 150 150 150 150 150 4 Proses khusus a. berbahan bakar yang sesuai Semua sumber Menyesuaikan dengan bahan bakar ketel Opasitas 5 20% No Sumber Parameter Baku Mutu ( mg I Nm3) 1 1 2 2 Penanganan Bahan Baku Proses khusus Digester Pemutihan Tungku Recovery Tanur putar Pembakaran kapur Perlarutan lelehan 3 Total partikulat (debu) Total Reduce Sulphur Chlour (C12) CI02 Total partikulat (debu) Total Reduce Sulphur Total partikulat (debu) Total Reduce Sulphur Total partikulat (debu) Total Reduce Sulphur Menyesuaikan dengan bahan bakar ketel Opasitas (TRS) 4 150 10 10 125 230 10 350 28 260 28 (TRS) (TRS) (TRS) 3 Utilitas Mengacu pad a ketel uap. berbahan bakar yang sesuai Semua sumber 4 35% . Anneling c. Lapis metal + HCL d. Pengecatan Utilitas Mengacu pada ketel uap.

Pembuatan arang 3 Total partikulat (debu) 4 150 2 Total partikulat (debu) Total partikulat (debu) Sulfur Dioksida ( S02) Nitrogen Dioksida (N02) Total partikulat (debu) 80 150 800 1000 150 c.No Sumber Parameter Baku Mutu (mg I Nm3) 1 1 2 2 Penanganan Bahan Baku Tanur putar (KILNS) 3 Total partikulat (debu) Total partikulat (debu) Sulfur Dioksida ( S02) Nitrogen Dioksida (N02) Opasitas Total partikulat (debu) 4 230 80 800 1000 20 % 80 3 4 Pendingin Terak (Clinker Coolers) Milling Grinding Alat Pengangkut (Conveying) Pengepakan (Bagging) Utilitas Mengacu pada ketel uap. Penggergajian I pemotongan kayu Proses Mekanik a. berbahan bakar yang sesuai Semua sumber Menyesuaikan dengan bahan bakar ketel Opasitas 4 20% . Pengecatan 3 Utilitas Mengacu pada ketel uap. berbahan bakar yang sesuai Sumber sumber Total partikulat (debu) 80 5 Menyesuaikan dengan bahan bakar ketel Opasitas 6 20% No Sumber Parameter Baku Mutu (mg I Nm3) 1 1 2 Penanganan Bahan Baku. Mekanik b.

wajib memenuhi BME minimal 95% waktu operasi normal selama tiga bulan . 3. 3. Sumber Primary reformer Prilling Tower I Granulasi Gas Turbine I Waste Heat Boiler Utilitas Mengacu pad a ketel uap. Sumber Drier Scrubber Saturator Exhaust Gas Scrubber Unit Asam Sulfat Gas Turbine I Waste Heat Boiler Utilitas Mengacu pada ketel uap. 1. Bagi pabrik yang mengoperasikan alat CEM. 4. 4. 2.No. 6. berbahan bakar yang sesuai Semua Sumber Parameter Total partikulat (debu) Amoniak (NH3) Amoniak (NH3) Amoniak (NH3) Sulfur Dioksida (S02) Nitrogen Dioksida (N02) Baku Mutu ( mg I Nm3) 500 500 500 500 1700 175 Menyesuaikan dengan bahan bakar ketel Opasitas 35% 7. 2.Nitrogen oksida ditentukan sebagai N02 Volume gas dalam keadaan standar (25°C dan tekanan 1 atm) Untuk pengukuran gas dikoreksi sebesar 7 % oksigen .Opasitas digunakansebagai indikator praktis pemantauan dan dikembangkan untuk memperoleh hubungan korelatif dengan pengamatan total partikulat. No. 5. 1. berbahan bakar yang sesuai Semua Sumber Parameter Nitrogen Dioksida (N02) Total partikulat (debu) Amoniak (NH3) Nitrogen Dioksida (N02) Baku Mutu (mg I Nm3) 1400 500 500 175 Menyesuaikan dengan bahan bakar ketel Opasitas 35% 5 Catatan untuk Industri Pupuk Amonium Sulfat (ZA) dan Industri Pupuk Urea: .

1. 4. 2. 4. 35% Catatan untuk Industri Pupuk Fosfat (SP-36.Opasitas digunakansebagai indikator praktis pemantauan dan dikembangkan untuk memperoleh hubungan korelatif dengan pengamatan Total partikulat Bagi pabrik yang mengoperasikan alat CEM. 3. 35% No. TSP) dan Industri Pupuk Asam Fosfat dan Hasil Sam ping : . 3. 1. Sumber Penyimpanan Bahan I Ball Mill Unit Reaksi Unit Granulasi Utilitas Mengacu pada ketel uap. berbahan bakar yang sesuai Semua Sumber Parameter Total partikulat (debu) Total partikulat (debu) Fluor Total partikulat (debu) Fluor Menyesuaikan dengan bahan bakar ketel Opasitas Baku Mutu ( mg I Nm3) 400 400 30 400 30 5. berbahan bakar yang sesuai Semua Sumber Parameter Total partikulat (debu) Fluor Total partikulat (debu) Fluor Sulfur dioksida (S02) Total partikulat (debu) Fluor Menyesuaikan dengan bahan bakar ketel Opasitas Baku Mutu (mg I Nm3) 400 30 400 30 1700 400 30 7. 5. 2. wajib memenuhi BME minimal 95% waktu operasi normal selama tiga bulan .No.Nitrogen oksida ditentukan sebagai N02 Volume gas dalam keadaan standar (25°C dan tekanan 1 atm) Untuk pengukuran gas dikoreksi sebesar 7% oksigen . 6 Sumber Penyimpanan Bahan I Ball Mill Fume Scrubber (Asam Fosfat) Gas Scrubber (Aluminium Fluoride) Unit asam Sulfat Dust Scrubber (Cement Retarder) Utilitas Mengacu pad a ketel uap.

1.Opasitas digunakansebagai indikator praktis pemantauan dan dikembangkan untuk memperoleh hubungan korelatif dengan pengamatan Total partikulat Bagi pabrik yang mengoperasikan alat CEM. Alat pengangkut (Conveying) 3. Catatan Industri Pupuk Majemuk .Nitrogen oksida ditentukan sebagai N02 Volume gas dalam keadaan standar (25°C dan tekanan 1 atm) . Opasitas 30% . Scrubber Sumber Parameter Total partikulat (debu) Fluor Amoniak (NH3) Baku Mutu (mg / Nm3) 200 10 250 2. Penanganan produk (Milling Packaging) Semua Sumber 5. berbahan bakar yang sesuai Semua Sumber Menyesuaikan dengan bahan bakar ketel Opasitas 20% 3. Sumber 2 Penanganan bahan baku (Raw Material handling) Penyiapan Bahan baku a.NPK : . Utilitas Mengacu pada ketel uap.No.Untuk pengukuran gas dikoreksi sebesar 7% oksigen . wajib memenuhi BME minimal 95% waktu operasi normal selama tiga bulan No 1 1. Total partikulat (debu) Sulfur Dioksida ( S02) Nitrogen Dioksida (N02) Total partikulat (debu) 100 800 1000 100 b. Tungku pembakaran kapur Parameter 3 Total partikulat (debu) Baku Mutu (mg / Nm3) 4 200 2. Pembakaran kalsium karbida Total partikulat (debu) Sulfur Dioksida ( S02) Nitrogen Dioksida (N02) Total partikulat (debu) 100 800 1000 100 4.

Drying Semua sumber Total partikulat (debu) 150 3. berbahan bakar yang sesuai Semua sumber - 5 Opasitas 30% 30% No 1 1. Volume gas dalam keadaan standart (25°C dan tekanan 1 atmosfer) 2. 2. 2. Sulfitasi Sumber 2 Parameter 3 Sulfur Dioksida ( S02) Baku Mutu ( mg I Nm3) 4 800 Utilitas Mengacu pada ketel uap. Opasitas 20% Catatan untuk Industri Cat. Kiln Semua Sumber selain kiln dan utilitas (Crushing dan Grinding) dan Finishing. 4. Industri Gula dan Industri Keramik : 1. 2. Pemberlakuan baku mutu emisi untuk 95 % waktu operasi normal selama 3 bulan . berbahan bakar yang sesuai Semua sumber lain Menyesuaikan dengan bahan bakar ketel Opasitas 20 % 3. No Sumber Parameter Sulfur Dioksida (S02) Nitrogen Dioksida (N02) Total partikulat (debu) Hidrogen Fluorida (HF) Baku Mutu (mg I Nm3) 400 600 150 10 1.No 1 1. Opasitas digunakan sebagai indikator praktis pemantauan 3. Sumber 2 Penanganan bahan baku Proses pencampuran Parameter 3 Total partikulat (debu) Total partikulat (debu) Amoniak (NH3) Total partikulat (debu) Menyesuaikan dengan bahan bakar ketel Baku Mutu ( mg I Nm3 Cat Air 4 300 300 400 ) Cat Minyak 6 300 300 200 3. Dispersing/penggilingan Pembangkit Iistrik Mengacu pada ketel uap.

6. 6.N. 8.Nitrogen Dioksida ditentukan sebagai N02 . 4. 3. 7. 3. 2 NON LOGAM Partikulat Sulfur Dioksida (S02) Nitrogen Dioksida (N02) Hidrogen Klorida (HC!) Gas Klorin (CI2) Ammonia (NH3) Hidrogen Florida (HF) Opasitas Total Sulfur Tereduksi (H2S) LOGAM 3 350 800 1000 5 10 0. Air Raksa (Hg) Arsen (As) Antimon (Sb) Kadmium (Cd) Seng (Zn) Timah Hitam (Pb) Catatan untuk Ketel Uap Berbahan Bakar Biomassa Berupa Bagas atau Ampas dan/atau Daun Tebu Kering dan Tenaga Ketel Uap Berbahan Bakar Biomassa Lainnya: . KETEL UAP BERBAHAN BAKAR BIOMASSA BERUPA BAGAS ATAU AMPAS DAN / ATAU DAUN TEBU KERING Baku Mutu ( mg / Nm3 No Parameter Partikulat Sulfur Dioksida (S02) Nitrogen Dioksida (N02) Opasitas ) 1 2.Opasitas digunakan sebagai indikator praktis pemantauan dan dikembangkan untuk memperoleh hubungan korelatif dengan pengamatan total partikulat. .5 10 30 % 35 5 8 8 8 50 12 5.Kosentrasi partikulat dikoreksi sebesar 6 % oksigen . 5. 1 2. 3. 4 250 600 800 30% No Parameter Baku Mutu ( mg / Nm3 ) 1 1 2. 9. 4.Volume gas dalam keadaan standar (25 DCdan tekanan 1 atm) .

Parameter Partikulat Sulfur Dioksida (S02) NitroQen Dioksida (N02) Opasitas Baku Mutu ( mg I Nm3 200 700 700 15 % ) 4 Catatan untuk Ketel Uap Berbahan Bakat Biomassa Berupa Serabut. 4. 3. . 8. 7.Kosentrasi partikel dikoreksi sebesar 6 % oksigen .Opasitas digunakan sebagai indikator praktis pemantauan dan dikembangkan untuk memperoleh hubungan korelatif dengan pengamatan total partikulat.P. 3.Nitrogen Dioksida ditentukan sebagai N02 Volume gas dalam keadaan standar (25°C dan tekanan 1 atm) . 5. Parameter Partikulat Sulfur Dioksida (S02) Nitrogen Dioksida (N02) Opasitas Baku Mutu ( mg I Nm3 230 750 825 20% ) 4 No 1 2. KETEL UAP BERBAHAN BAKAR BIOMASSA BERUPA SERABUT DAN/ATAUCANGKANG No 1 2. Ketel Uap Berbahan Bakar Batu Bara dan Ketel Uap Berbahan Bakar Minyak danl atau Cangkang: . 3. Parameter Partikulat Sulfur Dioksida (S02) Nitrogen Dioksida (N02) Hidrogen Klorida (HCI) Gas Klorin (CI2 Ammonia (NH3 Hidrogen Florida (HF) Opasitas Baku Mutu ( mg I Nm3 250 600 800 5 5 1 8 30 % ) No 1 2. 6.

Gas Turbin Gas. . 3. (*) Ground level concentration tidak boleh lebih dari 5 ppm (**) Ground level concentration sesuai dengan Baku Mutu Udara Ambien didalam PP. Opasitas digunakan sebagai indikator praktis pemantauan. 2. 2. Pemberlakuan baku mutu emisi untuk 95 % waktu operasi normal selama 3 bulan. 4.Nitrogen Dioksida ditentukan sebagai NOz Volume gas dalam keadaan standar (25°C dan tekanan 1 atm) No 1. Parameter Sulfur Dioksida (SOz) Nitrogen Dioksida (NOz) Baku Mutu ( mg / Nm3 150 650 ) Catatan: .41/1999. Gathering Stasion Gas Vents 100 (*) 5000 (**) Catatan: 1. Pembakaran dengan bahan bakar gas dan minyak koreksi Oz sebesar 3 %. 5. 2 Sumber Flare Stack Boiler dan Steam Generator Bahan Bakar Opasitas Minyak Parameter Baku Mutu (mg / Nm3) 40% 300 1200 1400 40% 1000 40% 400 600 Total partikulat (debu) Sulfur Dioksida (SOz) Nitrogen Dioksida (NOz) Opasitas Nitrogen Dioksida (NOz) Opasitas Nitrogen Dioksida (NOz) Nitrogen Dioksida (NOz) Sesuai besaran Baku Mutu untuk parameternya. Minyak 4. Total Reduced Sulfur (HzS) Hidrokarbon Gas 3.No 1. Volume gas dalam keadaan standar (25°C dan 1 Atm).

No 1. 3. 5. Pembakaran dengan bahan bakar gas dan minyak koreksi O2 sebesar 3 %. Flare Stack Gas Turbin Gas Minyak Nitrogen Dioksida (N02) Nitrogen Dioksida (N02) Sesuai besaran Baku Mutu untuk parameternya Catatan untuk Kegiatan Kilang Minyak dan Kegiatan Kilang LNG: 1. Boiler Minyak Total partikulat (debu) Sulfur Dioksida (S02) Nitrogen Dioksida (N02) Opasitas Nitrogen Dioksida (N02) Opasitas Opasitas Opasitas Gas 3. 2. Proses Heater. Flare Stack Semua Sumber (kecuali flare) Gas Turbin Gas Minyak Nitrogen Dioksida (N02) Nitrogen Dioksida (N02) Sesuai besaran Baku Mutu untuk parameternya No 1. Volume gas dalam keadaan standar (25°C dan 1 Atm). 4. Sumber Catalitic Cracking Unit Bahan Bakar Parameter Total partikulat (debu) Sulfur Dioksida (S02) Nitrogen Dioksida (N02) Hidrokarbon Baku Mutu ( mg I Nm3) 400 1500 1000 200 300 1200 1400 40% 400 40% 40% 40% 400 600 2. Opasitas digunakan sebagai indikator praktis pemantauan. Pemberlakuan baku mutu emisi untuk 95 % waktu operasi normal selama 3 bulan . Sumber Boiler Bahan Bakar Parameter Total partikulat (debu) Sulfur Dioksida (S02) Nitrogen Dioksida (N02) Opasitas Opasitas Baku Mutu (mq I Nm3) 300 1200 1400 40 % 40% 400 600 2. 3. 4.

Pemberlakuan baku mutu emisi untuk 95 % waktu operasi normal selama 3 bulan. 4. 2. 5.TRS) 1. 8. 9 400 10 5 10 1000 35% 350 800 35 B LOGAM Air raksa (Hg) Arsen (As) Antimon (Sb) Kadmium (Cd) Seng (Zn) Timah Hitam (Pb) 1. 3.600 mg/Nm3 S02 Catatan: 1. 6. 7. 3. 6. Volume gas dalam keadaan standar (25 DCdan 1 Atm). 2. No Parameter Baku Mutu (mg I Nm3) 1 A 3 4 BUKANLOGAM Ammonia (NH3) Gas Klorin (Cb) Hidrogen Klorida (HCI) Hidrogen Fluorida (HF) Nitrogen Oksida (N02) Opasitas Partikulat Sulfur Dioksida (S02) Total Sulfur Tereduksi (H2S) (Total Reduced Sulfur . 5. 2. 4.Sumber Sulfur Plant Sulfur Feed Rate: Parameter Baku Mutu (mg I Nm3) <2 < 10 < 50 > 50 Atau dengan persyaratan akhir Sulfur Recovery (minimum) 70% 85% 95% 97% 2. Opasitas digunakan sebagai indikator praktis pemantauan. 3. 5 8 8 8 50 12 .

Spectro photometer .26 mg/ Nm3 Gravimetrik Gravimetrik.N02 Analyser NDIR Salzman.10 ppm (200 µg/Nm3) Buffer Potasium Yodida Spectro photometer 5 Debu 24 jam 0.S02 Analyzer CO Analyzer .Spectro photometer .Hi .5 µg/Nm3) Pararosanilin . Ekstraktif. BAKU MUTU AMBIEN UNTUK INDUSTRI ATAU KEGIATAN USAHA LAINNYA No 1 Parameter 2 Waktu Pemaparan 3 Baku Mutu 4 Metode Analisis *) 5 Peralatan *) 6 Sulfur dioksida 1 (S02) Karbon Monoksida 2 (CO) Oksida Nitrogen 3 (N0x) 24 jam 8 jam 24 jam 0.JDIH Biro Hukum Setda Prov Jatim .HC Analyzer Dok.24 ppm (160 µg/Nm3) Flame Ionization .GC / FID . NIDR Neutral 4 Oksidan (03) 1 jam 0.600 µg/Nm3) 0.03 ppm (42 µg/Nm3) Spectro photometer Spectro photometer 8 Amonia (NH3) 24 jam 2.05 ppm (92.06 mg/ Nm 3 7 Hidrogen Sulfida (H2 S) 30 menit 0.00 ppm (22. Pengabuan Methylen Blue Indophenol Hi-Vol .1 ppm (262 µg/Nm3) 20.-12II. Informasi Hukum .Vol -AAS 6 Timah Hitam (Pb) 24 jam 0.00 ppm (1360 µg/Nm3) 9 Hidrokarbon (HC) 3 jam 0.

H. 8 Th 2009/ E1 – – – – – – – GUBERNUR JAWA TIMUR ttd Dr.-13Keterangan : – Waktu pengukuran. diukur tiap jam diambil waktu yang repesentative (bila arah angin berubah alat dipindah dan lain-lain) Standar H2 S tidak berlaku untuk dareah yang mengandung H2 S secara alami *) Yang dianjurkan NDIR Hi-Vol AAS GC FID No Dispersive Infrated High Volume Sampling Methode Atomic Absorption Spectrophotometer Gas Chromatografi Flame Ionization Detector DIUNDANGKAN DALAM BERITA DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR Tgl 26 . Informasi Hukum .JDIH Biro Hukum Setda Prov Jatim .2 . SOEKARWO Dok.2009 No.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful