Anda di halaman 1dari 9

PANCASILA SEBAGAI FILSAFAT

Juni 11th, 2012 | Author: ratni_itp Pengertian Filasat Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia : philo/philos/philen yang artinya cinta/pencinta/mencintai. Jadi filsafat adalah cinta akan kebijakan atau hakekat kebenaran. Berfilsafat artinya berfikir sedalam-dalamnya (merenung) terhadap suatu metodik, sistematis, menyeluruh, dan universal untuk mencari hakikat sesuatu. Pengertian Filsafat menurut D. Runes : Ilmu yang paling umum yang mengandung usaha untuk mencari kebijakan dan cinta akan kebijakan. Pancasila dapat digolongkan sebagai filsafat dalam arti produk, filsafat sebagai pandangan hidup dan filsafat dalam arti praktis. Hal ini berarti bahwa Pancasila mempunyai fungsi dan peranan sebagai pedoman dan pegangan dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam kehidupan berbangsa, bernegara bagi warga Negara Indonesia dimanapun mere berada. Sistem Filsafat Yang mendasari tokoh filsafat dalam melahirkan perbedaan-perbedaan mendasar antar ajaran filsafat adalah perbedaan latar belakang tata nilai dan alam kehidupan, cita-cita dan keyakinan. Perbedaan aliran bukan ditentukan oleh tempat dan waktu lahirnya filsafat, melainkan oleh watak isi dan nilai ajarannya. Suatu ajaran filsafat yang bulat mengajarkan tentang sumber dan hakikat realitas, filsafat hidup, dan tata nilai (etika), termasuk teori terjadinya pengetahuan manusia dan logika. Aliran-aliran Filsafat Aliran Materialisme Mengajarkan bahwa hakekat realistas kesemestaan termasuk makhluk hidup dan manusia ialah materi. Semua realitas itu ditentukan oleh materi (misal benda ekonomi, makanan) dan terikat pada hukum alam yaitu sebab akibat (hukum kausalitas) yang bersifat obyektif. Aliran Idealisme Mengajarkan bahwa ide atau spirit manusia yang menentukan hidup dan pengertian manusia, karena manusia mempunya akal budi, kesedaran rohani. Aliran Realisme Mengajarkan bahwa kehidupan yang tampak seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia, hidup berkembang biak, kemudia tua, akhirnya mati. Aliran ini bertentangan dengan aliran materialisme dan idealisme.

Nilai-Nilai Pancasila Berwujud dan Bersifat Filosofis. Hakikat dan pokok-pokok yang terkandung dalam pancasila adalah : 1. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, berarti bahwa nilai-ilai yang terkandung dalam pancasila itu dijadikan tuntutan dan pegangan dalam mengatur sikap dan tingkat laku manusia indonesia dalam hubungannya dengan Tuhan, masyarakat dan alam semester 2. Pancasila sebagai dasar negara, berarti bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itu dijadikan dasar dan pedoman dalam mengatur tata kehidupan bernegara seperti diatur dalam UUD 1945. 3. Filsafat pancasila yang abstrak tercermin dalam pembukaan UUD 1945 4. Pancasila yang dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945 merupakan suatu kebulatan yang utuh. 5. kesatuan tafsir sila-sila pancasila harus bersumber dan berdasrkan pembukaan dan batang tubuh UUD 1945 Oleh karena itu secara filosofis, dalam kehidupan bangsa Indonesia diakui bahwa nilai pancasila adalah pandangan hidup. Pancasila dijadikan sebagai pedoman bertingkah laku, dan berbuat dalam segala bdang kehidupan, meliputi bidang ekonomi, politik, sosial budaya dan pertahanan dan keamanan. Pengertian Pancasila Secara Filsafati Filsafat pancasila dapat diartikan sebagai refleksi kritis dan rasional tentang pancasila sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa dengan tujuan untuk mendapatkan pokok-pokok pengertian secara mendasar dan menyeluruh. Pembahasan filsafat dapat dilakukan secara Deduktif yaitu dengan mencari hakikat pancasila serta menganalisis dan menyusunya secara sistematis menjadi keuutuhan pandangan yang komprehensif. Sedangkan secara induktif yaitu dengan mengamati gejala-gejala sosial budaya masyarakat, merefleksikannya dan menarik arti dan makna yang hakiki dari gejala-gejala itu. Wawasan filsafat meliputi 3 bidang yaitu ontologi, epistemologi dan axiologi. Ontologi Menurut Runes adalah teori tentang keberadaan atau eksistensinya. Menurut Aristoteles adalah ilmu yang mempelajari hakikat sesuai atau disamakan artinya dengan metafisika. Bidang ontologi meliputi : Penyelidikan tentang keberadaan manusia, benda, alam semesta. Artinya ontologi adalah menjangkau adanya tuhan dan alam gaib seperti rohani dan kehidupan sesudah kematian (alam dibalik dunia, alam metafisika). Jadi ontologi adalah bidang filsafat yang menyelidiki makna yang ada (eksitensi dan keberadaan) sumber ada, jenis ada, hahkiat ada, termasuk di dalamnya ada alam, manusia, metafisika, dan kesemestaan atau kosomologi.

Epistemologi Menurut Runes adalah bidang atau filsafat yang menyelidiki asal, syarat, susunan, metode dan validitas ilmu pengetahuan. Epistemologi meneliti sumber pengetahuan, proses dan syarat terjadinya pengetahuan, serta batas dan validitas ilmu pengetahuan. Yang termasuk cabang episteomologi adalah Matematika, logika, dan sematik. Axiologi Menurut Runes berarti manfaat, pikiran, atau ilmu, teori. Dalam pengertian modern axiologi disamakan dengan teori nilai , yakni sesuai yang diinginkan, disukai atau yang baik dan juga yang menyelediki hakikat nilai, kriteria dan kedudukan metafisika sebagai suatu nilai. Menurut Brameld, axiologi dapat disimpulkan : 1. Tingkah laku moral yang berwujud etika 2. ekspresi etika yang berujud estetika atau seni keindahan 3. sosio politik Jadi axiologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki makna nilai, sumber nilai, jenis dan tingkatan nilai dan hakikat nilai. Nilai-Nilai Pancasila Menjadi Dasar Dan Arah Keseimbangan Antara Hak Dan Kewajiban Asasi Manusia. Nilai-nilai dari sila-sila pancasila terkandung beberapa hubungan manusia yang melahirkan keseimbangan antara hak dan kewajiban yaitu ; Hubungan vertikal. Hubungan manusia dengan Tuhan YME sebagai penjelmaan dari nilai ketuhanan yang maha esa. Dalam hubungan ini manusia mempunyai kewajiban untuk melaksanakan perintahnya dan menjauhi laranganya. Hubungan Horizontal. Hubungan manusia dengan sesamanya baik dalam fungsinya sebagai warga masyarakat, warga bangsa, dan warga negara. Hubungan Alamiah. Hubungan manusia dengan alam sekitar yang meliputi hewan, tumbuhan dan alam dengan segala kekayaannya. Alasan yang prinsipil pancasila sebagai pandangan hidup dengan fungsinya tersebut di atas adalah : 1. Pancasila mengakui adanya kekuatan gaib yang di luar manusia menjadi pencipta, pengatur serta penguasa alam semesta 2. Mengatur keseimbangan dalam hubungan dan keserasian-keserasian dimana untuk menciptakannya perlu pengendalian diri 3. Dalam mengatur hubungan, peranan dan kedudukan bangsa sangat penting. 4. Kekeluargaan dan gotong royong, kebersamaan serta musyarawah untuk mufakat dijadikan sendi kehidupan 5. Kesejahteraan menjadi tujuan hidp bersama

Isi pemikiran filsafat pancasila sebagai suatu filsafat tentang negara adalah bahwa pancasila memberi jawaban yang mendasar dan menyeluruh atas masalah-masalah asasi : 1. Masalah pertama : Apa negera itu ? dijawab dengan prinsip kebangsaan indonesia 2. Masalah kedua : Bagaimana hubungan antara bangsa dan negara ? dijawab dengan prinsip perikemanusiaan 3. Masalah ketiga: siapakah sumber dan pemegang kekuasaan negara ? dijawab dengan prinsip demokasi 4. Masalah keempat : Apa tujuan negara ? dijawab dengan prinsip negara kesejahteraan 5. Masalah kelima : bagaimana hubungan antara agama dan negara ? dijawab dengan prinsip Ketuhanan yang maha esa.

E. PANCASILA
LAHIRNYA PANCASILA Pancasila sebagai dasar Negara RI lahir pada tanggal 1 Juni 1945 dalam Sidang BPUPKI atau Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (Dokuritzu Zyunbi Tyoosa Kay). BPUPKI itu adalah badan bentukan Penjajah Jepang yang waktu itu sudah semakin kuwalahan menghadapi tekanan kekuatan Sekutu Sidang BPUPKI itu membahas tentang dasar Negara RI. Ketua sidang, Dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat memulai sidang dengan melontarkan pertanyaan, Di atas dasar apa Negara Indonesia merdeka nanti didirikan? Selama sidang itu, beberapa tokoh menyampaikan orasi mengenai dasar Negara. Mereka adalah Muhammad Yamin, Ki Bagoes Hadikoesoemo, Mr Supomo, Liem Koen Hian, dan Ir. Soekarno. Pada sidang hari ketiga, 1 Juni 1945, Ir Soekarno tampil dengan gagasannya yang diberinya nama PANCASILA. Semua anggota sidang menyambut dan memberi tepukan tangan. Ketua sidang, Dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat menegaskan bahwa respon seluruh sidang itu menjadi peneguhan bahwa Pancasila telah disetujui oleh segenap anggota sidang BPUPKI sebagai Dasar Negara Indonesia Merdeka. SEJARAH DINAMIKA PANCASILA Ternyata, sampai diresmikannya Pancasila sebagai dasar Negara setelah Proklamasi RI 17 Agustus 1945 dan sampai beberapa tahun kemudian bahkan sampai sekarang Pancasila mengalami dinamika yang luarbiasa. Berikut adalah ulasan yang sangat gamblang dari Prof. Faisal Ismail, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Dubes RI di Kuwait tentang dinamika Pancasila itu dalam artikel opininya yang dimuat di harian KR 7 Mei 2009).

Dalam sidang BPUPKI, dasar Negara dibahas oleh Panitia Kecil (Panitia 9) yang di dalamnya terdapat dua kubu.

Kubu Nasionalis Netral Agama (Soekarno, Hatta, Ahmad Soebardjo, A. A. Maramis, Muhammad Yamin). Kubu Nasionalis Muslim (Kahar Muzakkir, Agus Salim, Abikusno Tjokrosujoso, Wahid Hasyim)

Pada 1 Juni 1945, Soekarno dengan dukungan kubu nasionalis netral agama mengusulkan Pancasila di sidang BPUPKI. Di sisi lain, kubu nasionalis Muslim mengusulkan Islam sebagai dasar negara.Lalu terjadi kompromi politik antara nasionalis netral agama dengan nasionalis Muslim sehingga pada 22 Juni 1945 disepakati PIAGAM JAKARTA yang isinya:

Menerima Pancasila Sila Ketuhanan diletakkan pada sila ke-5 Ada modifikasi sila Ketuhanan menjadi KETUHANAN YANG MAHA ESA DENGAN KEWAJIBAN MENJALANKAN SYARIAT ISLAM BAGI PEMELUKNYA (+ 7 kata)

Namun pada 17 Agustus 1945 malam terjadi perubahan

Menurut Hatta, seorang opsir angkatan laut Jepang menemuinya dan menyampaikan aspirasi masyarakat Kristiani di INDONESIA TIMUR bahwa mereka tidak akan bergabung dengan NKRI jika 7 kata itu tetap dicantumkan Lalu 7 kata itu ditiadakan setelah Muhammad Hata (Wapres) bebicara dengan beberapa tokoh (seperti Ki Bagus Hadikusumo, Teuku Muhammad Hasan, dll)

Masalah dasar negara Pancasila kembali diperdebatkan dalam Sidang Konstituante (1956-1959) yang merupakan sidang khusus untuk membentuk UUD baru yang dimaksudkan untuk mengganti UUD 1945. Jalannya sidang sangat alot dengan adanya 3 tawaran tentang dasar negara:

Pihak nasionalis netral agama ingin pertahankan PANCASILA Pihak nasionalis Muslim ingin DASAR ISLAM Partai Murba mengusulkan DASAR SOSIAL-EKONOMI

Karena perbedaan pendapat yang tiada henti maka diadakan voting mengenai KEMBALI KE UUD 45 (dimana PANCASILA adalah dasar negara) dengan hasil sebagai berikut:

Voting pada 30 Mei 1959: Setuju kembali ke Pancasila dan UUD 45 = 269 suara, tidak setuju = 99 suara Voting pada 1 Juni 1959: Setuju kembali ke Pancasila dan UUD 45 = 264 suara, tidak setuju = 204 suara Voting pada 2 Juni 1959: Setuju kembali ke Pancasila dan UUD 45 = 263 suara, tidak setuju = 203 suara

Meskipun lebih banyak suara setuju kembali ke Pancasila dan UUD 45, baik pihak nasionalis netral agama maupun nasionalis Muslim tidak ada yang menang karena tidak mencapai 2/3 suara (312 suara) yang dipersyaratkan. Kondisi deadlock di atas membahayakan negara dan bangsa. Maka secara konstitusional, Presiden Soekarno mengeluarkan DEKRIT 5 Juli 1959 untuk KEMBALI KE UUD 1945 (di mana PANCASILA adalah dasar negara). Prof Faisal Ismail menarik kesimpulan sebagai berikut:

Pembentukan Pancasila bersifat normal dan prosedural karena formulasi Pancasila itu telah disepakati dalam Panitia 9 BPUPKI (institusi resmi yang diberi kewenangan untuk memformulasikan dasar negara) Pancasila tidak pernah dicabut o Sejak mulai sidang Konstituante pada 10 Nov 1956 sampai Dekrit 5 Juli 1959 tidak ada pencabutan resmi Pancasila sebagai dasar negara o Yang terjadi adalah sidang untuk menyusun UUD baru yang menggantikan UUD 45 dan kemudian mengalami deadlock ketika membahas masalah dasar negara Pancasila bersifat final dan mengikat karena pada founding fathers (baik wakil-wakil nasionalis netral agama maupun nasionalis muslim) dalam sidang BPUPKI sudah menerima Pancasila sebagai dasar falsafah negara

PANCASILA = JATI DIRI BANGSA Meskipun diusulkan Soekarno dengan dukungan kubu nasionalis netral agama, pada dasarnya Pancasila bukan karya (ide) seseorang. Menurut Kaelan dalamFilsafat Pancasila (2002), Pancasila sudah ada dalam kebudayaan Indonesia sejak lama, artinya nilai-nilai Pancasila itu sudah terkandung dalam adat istiadat, norma, nilai, sistem kepercayaan yang ada di Indonesia. Jadi, Pancasila merupakan kenyataan obyektif dan jati diri bangsa Indonesia. Contoh:

Sejak dulu orang Indonesia percaya kepada Tuhan: Tiap suku dan agama menyembah Tuhan dengan sebutan masing-masing: Jawa (Sang Hyang), Batak (Debata Mulajadi Nabolon) Sejak dulu sudah ada cita-cita persatuan: jaman Majapahit (Bhinneka T Ika) Sejak dulu sudah ada cita kerakyatan: gotong royong, masohi, siadapari

PANCASILA = FILSAFAT DAN IDEOLOGI BANGSA DAN NEGARA Pancasila harus dipahami sebagai filsafat dan ideologi bangsa dan negara (Kaelan, Filsafat Pancasila, 2002). Pada dasarnya, ideologi adalah sistem ide-ide (SYSTEM OF THOUGHT) atau science of thought yang merupakan konsep operasionalisasi dari sebuah Filsafat. Sedangkan filsafar itu sendiri pada prinsipnya merupakan keyakinan-keyakinan atau kebenaran yang diyakini (BELIEF SYSTEM). Filsafat merupakan dasar dan sumber dalam merumuskan ideologi. Sebagai ideologi, Pancasila menjadi dasar pembentukan

Norma-norma negara, yaitu hukum (PEMBUKAAN UUD 45, UUD 45, UU, PP, dll)

Perilaku berbangsa dan bernegara (praktek bernegara, penyelenggaraan pemerintahan, ekonomi, sosial, politik, budaya, dst, dan perilaku masyarakat yang diatur oleh hukum)

Jika Pancasila merupakan Dasar Filsafat (philosofische gronslag), menurut Kaelan (2002), konsekuensinya adalah sebagai berikut:

Pancasila harus menjiwai seluruh aspek penyelenggaraan negara Pancasila merupakan azas mutlak dari tertib hukum di Republik Indonesia Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum di Republik Indonesia

FILSAFAT PANCASILA Berikut adalah pandangan mendasar yang sangat penting sebagaimana disampaikan Kaelan dalam buku Filsafat Pancasila (2002) tentang Pancasila sebagai sebuah sistem filsafat.

Setiap sila Pancasila merupakan sebuah sistem fiksafat sendiri o Sila 1 = Filsafat tentang Tuhan o Sila 2 = Filsafat tentang Manusia o Sila 3 = Filsafat tentang Negara o Sila 4 = Filsafat tentang Rakyat o Sila 5 = Filsafat tentang Keadilan Pancasila sebagai satu sistem filsafat yang utuh, artinya antara sila yang satu dengan sila yang lain berhubungan hubungan itu bersifat HIRARKIS PIRAMIDAL, maksudnya: o Sila 1 meliputi dan menjiwai sila 2, 3, 4, 5 Tuhan merupakan sebab pertama/asal segala sesuatu (KAUSA PRIMA). Tuhanlah yang menyebabkan adanya manusia, negara, rakyat, dan keadilan. Maka sila 1 menjiwai sila 2, 3, 4, 5 Sila 2 diliputi dan dijiwai oleh sila 1 dan meliputi dan menjiwai sila 3, 4, 5 Yang bersatu (sila 3) adalah manusia-manusia-nya Negara (sila 4) adalah lembaga kemanusiaan Keadilan (sila 5) adalah keadilan yang manusiawi Sila 3 diliputi dan dijiwai oleh sila 1, 2, dan meliputi dan menjiwai sila 4, 5 Kesatuan itu adalah kesatuan dari mahluk ciptaan Tuhan semua agama/kepercayaan yang percaya pada Tuhan YME (sila 1) Kesatuan itu haruslah kesatuan yang manusiawi (sila 2) Kesatuan itu harus direalisasikan dalam kehidupan bernegara (sila 4) Kesatuan itu harus bertujuan untuk mencapai keadilan/kemakmuran bersama (sila 5) Sila 4 diliputi dan dijiwai oleh sila 1, 2, 3 dan meliputi dan menjiwai sila 5 Rakyat Indonesia adalah rakyat yang percaya kepada Tuhan (sila 1)

Rakyat Indonesia adalah kumpulan manusiamanusia (sila 2) Rakyat Indonesia haruslah bersatu (sila 3) Rakyat Indonesia bersatu untuk meraih kemakmuran/keadilan (sila 5) Sila 5 diliputi dan dijiwai oleh sila 1, 2, 3, 4 Keadilan itu merupakan sikap-sikap Adil kepada Tuhan (sila 1) Adil kepada diri sendiri Adil kepada orang lain (sila 2, 3, 4, 5) Keadilan itu harus manusiawi (sila 2) Keadilan itu harus berdasar/mempertimbangkan kesatuan (sila 3) Keadilan itu harus berorientasi pada kepentingan rakyat (sila 4)

Sebagai sistem filsafat, Pancasila bersifat umum universal. Pancasila bersifat abstrak universal karena dirinya termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 yang merupakan pokok-pokok kaidah negara yang fundamental (staatfundamentalnorm). Namun, Pancasila kemudian menjadi bersifat umum kolektif (berlaku bagi kolektif/masyarakat di Indonesia) karena menjiwai UUD 1945, TAP MPR. Undang-undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, dan berbagai peraturan lain. Dengan demikian Pancasila menjadi PEDOMAN PRAKTIS BAGI PENYELENGGARAAN NEGARA SIKAP & KONTRIBUSI KRISTEN: SUATU PENGANTAR Ketika berkotbah di Indonesia, Yonggi Cho pendeta gereja terbesar di dunia dari Korea Selatan mengatakan bahwa anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada bangsa Indonesia adalah Pancasila. Dengan dasar negara ini maka kebebasan beragama dan beribadah dan bersaksi terbuka. Dengan Pancasila maka orang-orang di negeri ini berkesempatan untuk mendengar kesaksian tentang Kristus. Karena itu orang-orang Kristen harus bersyukur dan menjaga serta mengembangkan anugerah itu. Pancasila ada juga berkat perjuangan anak-anak Tuhan pada masa-masa awal pembentukan Republik Indonesia. Ada tokoh-tokoh seperti A.A. Maramis dan Sam Ratulangi yang waktu itu berjuang untuk tegaknya Pancasila. Hal itu memberikan teladan supaya ada lebih banyak anak Tuhan yang menjadi pemimpin-pemimpin nasional yang bisa memberi arahan yang baik bagi perkembangan bangsa kita. Sila pertama Pancasila yang berbunyi Ketuhanan Yang Mahaesa memberikan peluang bagi setiap agama yang ada di Indonesia untuk memberitakan keyakinan masing-masing. Bagi orang Kristen, Tuhan adalah Yesus Kristus, Juruselamat dan Penebus manusia. Dulu rasul Paulus menggunakan mezbah yang bertuliskan kepada Allah yang tidak dikenal untuk menceritakan pribadi Tuhan yang sebenarnya (Kis 17:23). Demikianlah di Indonesia tertulis tentang Tuhan

Yang Maha Esa di dalam Pancasila. Ini menjadi kesempatan bagi semua agama, termasuk Kristen, untuk memberitakan Pribadi Tuhan yang diyakininya sebagai Sesembahan yang sejati.