Anda di halaman 1dari 111

PELAKU HUKUM DAN KEDUDUKAN HUKUM PARA PELAKU HUKUM (SH) OBJEK HUKUM (OH)

SUBJEK HUKUM
Subjek hukum ialah pemegang hak dan kewajiban menurut hukum.Dalam dunia hukum, subjek hukum dapat diartikan sebagai pembawa hak, yakni manusia dan badan hukum. 1. Manusia (natuurlijke persoon) Menurut hukum, tiap-tiap seorang manusia sudah menjadi subjek hukum secara kodrati atau secara alami.Pasal 1Buku Kesatu Burgelijke Wetbook Voor Indonesie (Kitab Undang Undang Hukum Perdata) menyebutkan bahwa Menikmati hak-hak kewargaan tidak tergantung pada hak-hak kenegaraan. Anak-anak serta balita pun sudah dianggap sebagai subjek hukum. Manusia dianggap sebagai hak mulai ia dilahirkan sampai dengan ia meninggal dunia. Contoh: Bayi yang masih berada dalam kandungan bisa dianggap sebagai subjek hukum bila terdapat urusan atau kepentingan yang menghendakinya. (Menurut Buku Kesatu Burgelijke Wetbook Voor Indonesie (Kitab Undang Undang Hukum Perdata), Pasal 2, Anak yang ada dalam kandungan seorang perempuan dianggap telah lahir, setiap kali kepentingan si anak menghendakinya. Bila telah mati sewaktu dilahirkan, dia dianggap tidak pernah ada. Setiap manusia pribadi (naturlijke persoon) sesuai dengan hukum dianggap cakap bertindak sebagai subjek hukum kecuali dalam UndangUndang dinyatakan tidak cakap seperti halnya dalam hukum telah dibedakan dari segi perbuatan-perbuatan hukum adalah sebagai berikut : - Cakap melakukan perbuatan hukum, adalah orang dewasa menurut hukum (telah berusia 21 tahun dan berakal sehat). Namun, ada beberapa golongan yang oleh hukum dipandang sebagai subjek hukum yang "tidak cakap" hukum. Maka dalam melakukan perbuatan-perbuatan hukum mereka harus diwakili atau dibantu oleh orang lain. seperti: 1. Anak yang masih dibawah umur, belum dewasa, atau belum menikah. 2. Orang yang berada dalam pengampunan yaitu orang yang sakit ingatan, pemabuk, pemboros. - Tidak cakap melakukan perbuatan hukum. Berdasarkan pasal 1330 KUHP Perdata tentang orang yang tidak cakap untuk membuat perjanjian :

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Orang-orang yang belum dewasa (belum mencapai usia 21 tahun) Orang ditaruh dibawah pengampunan (curatele) yang terjadi karena gangguan jiwa pemabuk atau pemboros. Kurang cerdas Sakit ingatan Orang wanita dalam perkawinan yang berstatus sebagai istri. Pasal 27 UUD 1945 menetapkan setiap warga negara mempunyai kedudukan yang sama didalam hukum serta pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintah itu dengan tidak ada kecualinya. 2. Badan Hukum (recht persoon) Badan hukum adalah suatu badan yang terdiri dari kumpulan orang yang diberi status "persoon" oleh hukum sehingga mempunyai hak dan kewajiban.Badan hukum dapat menjalankan perbuatan hukum sebagai pembawa hak manusia. Contohnya seperti melakukan perjanjian, mempunyai kekayaan yang terlepas dari para anggotanya dan sebagainya.Perbedaan badan hukum dengan manusia sebagai pembawa hak adalah badan hukum tidak dapat melakukan perkawinan, tidak dapat diberi hukuman penjara, tetapi badan hukum dimungkinkan dapat dibubarkan. Bab IX Pasal 1653-1665 KUHPerdata mengatur mengenai Badan Hukum. Dalam pasal 1654, disebutkan Semua badan hukum yang berdiri dengan sah, begitu pula orang-orang swasta, berkuasa untuk melakukan perbuatan-perbuatan perdata, tanpa mengurangi perundang-undangan yang mengubah kekuasaan itu, membatasinya atau menundukkannya kepada tata cara tertentu. Badan hukum sebagai subjek hukum dapat bertindak hukum (melakukan perbuatan hukum) seperti manusia. Dengan demikian, badan hukum sebagai pembawa hak dan tidak berjiwa dapat melakukan sebagai pembawa hak manusia seprti dapat melakukan persetujuan-persetujuan dan memiliki kekayaan yang sama sekali terlepas dari kekayaan anggotaanggotanya, oleh karena itu badan hukum dapat bertindak dengan perantara pengurus-pengurusnya. Misalnya suatu perkumpulan dapat dimintakan pengesahan sebagai badan hukum dengan cara : Didirikan dengan akta notaris Didaftarkan di kantor Panitera Pengadilan Negara setempat. Dimintakan pengesahan Anggaran Dasar (AD) kepada Menteri Kehakiman dan HAM, sedangkan khusus untuk badan hukum dana pensiun pengesahan anggaran dasarnya dilakukan Menteri Keuangan.

SH dan OH

Page 2

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Diumumkan dalam berita Negara Republik Indonesia Badan Hukum dibedakan dalam dua bentuk : a. Badan Hukum Publik (Publik Rechts Person) Adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan publik untuk yang menyangkut kepentingan publik atau orang banyak atau negara umumnya. Dengan demikian badan hukum publik merupakan badan hukum negara yang dibentuk oleh yang berkuasa berdasarkan perundangundangan yang dijalankan secara fungsional oleh eksekutif (pemerintah) atau badan pengurus yang diberikan tugas untuk itu, seperti Negara Republik Indonesia, Pemerintah Daerah tingkat I dan II. Bank Indonesia dan Perusahaan Negara. misalnya : eksekutif, dan pemerintahan. b. Badan Hukum Privat (Privat Recths Person) Adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum sipil atau perdata yang menyangkut kepentingan banyak orang didalam badan hukum itu.Dengan demikian badan hukum privat merupakan badan hukum swasta yang didirikan orang dengan tujuan untuk keuntungan, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan lain-lain menurut hukum yang berlaku secara sah misalnya perseroan terbatas, koperasi, yayasan, dan badan amal. Karena KUHPerdata tidak merumuskan definisi Badan Hukum, para ahli hukum mengajukan beberapa kriteria agar suatu perkumpulan atau organisasidapat mempunyai kedudukan sebagai badan hukum. Kriteria tersebut adalah sebagai berikut: a. Badan tersebut mempunyai tujuan tertentu Tujuan dapat berupa tujuan dalam bidang sosial, pendidikan, agama atau ekonomi. b. Badan tersebut mempunyai kepentingan tersendiri Kepentingan untuk mencari keuntungan materi atau profit atau untuk amal (non profit). c. Badan tersebut mempunyai organisasi yang teratur Ada pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas di antara pengurus. d. Badan tersebut mempunyai kekayaan yang terpisah Kekayaan badan tersebut dipisahkan dari kekayaan pribadi pemiliknya. Aset dan kewajiban badan tersebut terpisah dari aset dan kewajiban pendiri atau pemilik. Suatu badan hukum secara formal memperoleh kedudukan sebagai badan hukum apabila dinyatakan dalam undang-undang, tentunya setelah badan tersebut memenuhi kriteria-kriteria yang telah disebutkan sebelumnya.

SH dan OH

Page 3

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Contoh: 1. Sebuah Perseroan Terbatas (PT) memperoleh kedudukan sebagai suatu badan hukum karena dinyatakan dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. 2. Sebuah yayasan memperoleh kedudukan sebagai badan hukum karena dinyatakan dalam Pasal 1 huruf a Undang-Undang Nomor 16 tahun 2001 tentang Yayasan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Yayasan.

SH dan OH

Page 4

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Berikut ini perbedaan antara manusia dengan badan hukum sebagai subjek hukum: No 1. Manusia Manusia dapat secara mandiri melakukan perbuatan hukum. Manusia menjadi hukum sejak lahir. subjek Badan Hukum Badan hukum diwakili oleh pengurus untuk melakukan perbuatan hukum. Badan hukum menjadi subjek hukum sejak aka pendirian badan tersebut mendapat pengesahan dari pemerintah. Badan hukum hanya dapat berbuat sebatas diperbolehkan oleh anggaran dasar yang tertuang dalam akta pendiriannya.

2.

3.

Manusia dapat berbuat apa saja asal tidak bertentangan dengan hukum.

SH dan OH

Page 5

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

DOMISILI HUKUM
1. Pengertian Domisili a. Menurut kitab Undang-Undang Hukum Perdata tempat kediaman itu seringkali ialah rumahnya, kadang-kadang kotanya. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa setiap orang dianggap selalu mempunyai tempat tinggal di mana ia sehari-harinya melakukan kegiatannya atau di mana ia berkediaman pokok. Kadang-kadang menetapkan tempat kediaman seseorang itu sulit, karena selalu berpindah-pindah (banyak rumahnya).Untuk memudahkan hal tersebut dibedakan antara tempat kediaman hokum (secara yuridis) dan tempat kediaman yang sesungguhnya. b. Pasal 17 Setiap orang dianggap bertempat tinggal di tempat yang dijadikan pusat kediamannya.Bila tidak ada tempat kediaman yang demikian, maka tempat kediaman yang sesungguhnya dianggap sebagai tempat tinggalnya. c. Pasal 18 Perubahan tempat tinggal terjadi dengan pindah rumah secara nyata ke tempat lain disertai niat untuk menempatkan pusat kediamannya di sana. d. Pasal 19 Niat itu dibuktikan dengan menyampaikan pernyataan kepada Kepala Pemerintahan, baik di tempat yang ditinggalkan, maupun di tempat tujuan pindah rumah kediaman.Bila tidak ada pernyataan, maka bukti tentang adanya niat itu harus disimpulkan dari keadaan-keadaannya. e. Pasal 20 Mereka yang ditugaskan untuk menjalankan dinas umum, dianggap bertempat tinggal di tempat mereka melaksanakan dinas. f. Pasal 21 Seorang perempuan yang telah kawin dan tidak pisah meja dan ranjang, tidak mempunyai tempat tinggal lain daripada tempat tinggal suaminya; anak-anak di bawah umur mengikuti tempat tinggal salah satu dan kedua orang tua mereka yang melakukan kekuasaan orang tua atas mereka, atau tempat tinggal wali mereka; orang-orang dewasa yang berada di bawah pengampuan mengikuti tempat tinggal pengampuan mereka.

g. Pasal 22 Dengan tidak mengurangi ketentuan dalam pasal yang lalu, buruh mempunyai tempat tinggal di rumah majikan mereka bila mereka tinggal serumah dengannya. h. Pasal 23 Yang dianggap sebagai rumah kematian seseorang yang meninggal dunia adalah rumah tempat tinggalnya yang terakhir.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 6

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

i.

Pasal 24 Dalam suatu akta dan terhadap suatu soal tertentu, kedua pihak atau salah satu pihak bebas untuk memilih tempat tinggal yang lain daripada tempat tinggal yang sebenarnya. Pemilihan itu dapat dilakukan secara mutlak, bahkan sampai meliputi pelaksanaan putusan Hakim, atau dapat dibatasi sedemikian rupa sebagaimana dikehendaki oleh kedua pihak atau salah satu pihak.Dalam hal ini surat-surat juru sita, gugatan-gugatan atau tuntutan-tuntutan yang tercantum atau termaksud dalam akta itu boleh dilakukan di tempat tinggal yang dipilih dan di muka Hakim tempat tinggal itu. Pasal 25 Bila hal sebaliknya tidak disepakati, masing-masing pihak boleh mengubah tempat tinggal yang dipilih untuk dirinya, asalkan tempat tinggal yang baru tidak lebih dan sepuluh pal jauhnya dari tempat tinggal yang lama dan perubahan itu diberitahukan kepada pihak yang lain / pihak lawan.

j.

2. Unsur-unsur Domisili a. b. c. d. Adanya Adanya Adanya Adanya tempat tertentu (tetap atau sementara) orang yang selalu hadir pada tempat tersebut hak dan kewajiban prestasi

3. Pentingnya domisili Menurut hukum, tiap-tiap orang harus mempunyai tempat tinggal (domisili) dimana ia harus dicari. Pentingnya domisili ini terkait dengan hal-hal berikut, antara lain : a. Dimana seorang harus menikah (pasal 78 KUHPer) b. Dimana seorang harus dipanggil oleh pengadilan (pasal 1393 KUH Per) c. Pengadilan mana yang berwenang terhadap seseorang (pasal 207 KUHPer) 4. Macam Domisili Domisili dapat dibedakan menurut sistem hukum yang mengaturnya : Common Law dan Eropa Kontinental. Menurut KUHPerdata (termasuk Eropa Kontinental), tempat tinggal dibedakan 2 macam : a. Tempat tinggal yang sesungguhnya (Eigenlijke Woonplaats) Dibedakan menjadi 2 macam: i. Tempat tinggal suka rela atau mandiri ( vrijwillige, onafhank elijke woonplaats), yaitu tempat tinggal yang tidak tergantung pada hubungannya dengan orang lain. Istilah tempat tinggal menurut pembentuk undang-undang pada dasarnya hendak menegaskan bahwa yang dimaksud domisili adalah tempat tinggal dalam pengertian yuridis. Pasal 17 BW, menentukan bahwa setiap orang dianggap memiliki tempat tinggal pokok, yaitu tempat tinggal yang memiliki hubungan tertentu secara terusmenerus dengan orang bersangkutan. Pada umumnya tempat tinggal yuridis dengan tempat tinggal sesungguhnya adalah sama, akan tetapi Page 7

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

adakalanya tidak ada demikian. Bagi seseorang yang tidak mempunyai domisili di tempat kediamannya yang pokok (tertentu), maka domisilinya dianggap berada di tempat di mana ia sungguh-sungguh berada. ii. Tempat tinggal wajib atau tempat tingga menurut hukum ( Afhankelijke, Noodzakelijke of Ontleende Woodplaats ), yaitu tempat tinggal yang tidak bergantung pada keadaan-keadaan orang bersangkutan, tetapi bergantung pada keadaan orang lain. Dalam arti yuridis, tempat tinggal wajib terkait dengan orang yang pertama disebut. Jadi pengertian tempat tinggal wajib ialah tempat tinggal yang ditentukan oleh hubungan antara seseorang dengan orang lain. Berdasarkan peraturan perundang-undangan, pihak-pihak yang dianggap mempunyai tempat tinggal wajib, meliputi : Seorang istri mengikuti suami. Anak-anak yang masih meenderjaring mngikuti tempat tinggal orang tua atau wali anak tersebut. Anak-anak yang masih meenderjaring di bawah pengampuan (onder curatele gastelden), tempat tinggal mereka adalah pada curator. Buruh yang tinggal di rumah majikannya, domisilinya mengikuti majikan.

b. Tempat tinggal pilihan (Gezoken Woonplaats) Pada dasarnya terdapat 4 syarat yang harus dipenuhi oleh para pihak dalam menentukan domisili pilihan, yaitu : i. Pilihan harus terjadi dengan perjanjian ii. Perjanjian harus diadakan secara tertulis (bentuk perjanjian tertulis) iii. Pilihan hanya dapat terjadi untuk satu atau lebih perbuatan hukum atau hubungan hukum tertentu iv. Untuk pilihan itu diperlukan adanya kepentingan yang wajar.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 8

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

5. Perpindahan Tempat Tinggal dan Rumah Kematian Adakalanya seseorang karena sesuatu dan lain hal berpindah tempat tinggal dari suatu tempat ke tempat lain. Menurut ketentuan pasal 18 KUHPerdata, perpindahan tempat tingga akan terjadi karena : 1) rumah tempat tinggal dengan nyata pindah ke tempat lain, 2) terdapat maksud untuk memindahkan tempat tinggal pokok ke tempat lain dengan cara yang ditunjukkan oleh pasal 19 BW. Berpindahan tempat tinggal suami, wali atau pengampu menurut hukum juga mengakibatkan perpindahan tempat tinggal bagi seorang istri, anak atau anakanak yang masih minderjaring dan atau anak-anak yang berada di bawah pengampuan. Sedangkan rumah kematian bagi seseorang yang meninggal dunia adalah tempat tinggalnya yang terakhir.Rumah kematian dianggap penting dalam kaitannya dengan urusan-urusan pewarisan.Warisan dianggap jatuh pada rumah kematian.Menurut pasal 962 BW, bahwa setelah pewaris meninggal dunia, maka testamen rahasia harus disampaikan pada balai harta peninggalan yang mewilayahi rumah kematian pewaris.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 9

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

MACAM-MACAM BENDA
Pengertian Benda 1. Benda dapat dimengerti sebagai barang yang dapat terlihat saja. 2. Barang dapat dipakai dalam arti kekayaan seseorang.Pengertian ini lebih luas dari pengertian sebelumnya, yang hanya terbatas pada barang yang dapat terlihat saja.Pengertian barang dalam arti kekayaan seseorang meliputi juga barang yang tidak dapat terlihat, seperti hak-hak. Pengertian ini dapat dipahami melalui kalimat sebagai berikut; sebagaimana seseorang dapat menjual atau menggadaikan barang-barang yang dapat terlihat, ia juga dapat menjual dan menggadaikan hakhaknya. Misalnya: hak piutang atau penagihan. 3. Menurut paham undang-undang pada KUHPerdata Pasal 499, yang dinamakan kebendaan ialah tiap-tiapbarang dan tiap-tiap hak yang dapat dikuasai oleh hak milik (Subekti, 2004:157). Menurut KUHPerdata benda itu dapat dibedakan sebagai berikut: 1. Benda bertubuh dan tak bertubuh (KUHPerdata Pasal 503) Yang dimaksud dengan benda bertubuh ( lihamelijk zaak) adalah barang yang dapat ditangkap pancaindera. Sedangkan benda tak bertubuh ( onlichamelijk zaak) berupa hak-hak atas benda yang bertubuh. Pada pemahaman hukum adat, benda bertubuh dan hak atas benda yang bertubuh tidak dapat dipisahkan. Sementara dalam hukum perdata yang dipengaruhi oleh budaya Eropa, hak atas suatu benda seolah-olah terlepas dari bendanya, dan seolah-olah merupakan benda tersendiri. Hal ini, karena budaya Eropa cenderung menekankan pada hal yang berada pada dalam pikiran belaka (abstract denken). Benda yang dapat dihabiskan dan benda yang tak dapat dihabiskan (KUHPerdata Pasal 505) Benda yang dapat dihabiskan adalah benda yang ketika digunakan akan habis, dalam upaya memberikan manfaat. Contoh barang yang dapat habis ini antara lain: makanan dan minuman, serta kayu bakar. Benda yang tak dapat dihabiskan adalah benda-benda yang dalam pemakaiannya tidak mengakibatkan benda itu menjadi musnah, namun tetap memberi manfaat bagi si pemakai. Contohnya adalah piring, garpu, sendok, mangkok, mobil dan sepeda motor. Benda yang dapat diganti dan benda yang tidak dapat diganti Pembedaan benda ini terkait dengan perjanjian penitipan barang dalam hukum perdata (KUHPerdata Pasal 1694). Benda yang tidak dapat diganti adalah benda yang dititipkan, yang dalam perjanjian penitipan barang harus dikembalikan dalam wujud asalnya. Atau dengan kata lain, tidak boleh digantikan dengan benda lain. Sementara benda yang dapat diganti dalam kaitannya dengan perjanjian penitipan barang dalam KUH Pedata Pasal 1704 adalah berupa uang. Uang yang dititipkan dapat digantikan dengan uang dalam jumlah yang sama dalam mata uang yang sama tanpa memperhitungkan naik turunnya nilai uang. Page 10

2.

3.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

4.

Benda yang diperdagangkan dan benda yang tidak diperdagangkan Benda yang diperdagangkan adalah benda-benda yang dapat dijadikan objek (pokok) suatu perjanjian. Benda yang tidak diperdagangkan adalah benda-benda yang tidak dapat dijadikan objek (pokok) suatu perjanjian di lapangan harta kekayaan. Benda yang tidak diperdagangkan biasanya adalah benda-benda yang dipergunakan untuk kepentingan umum. Benda yang dapat dibagi dan benda yang tidak dapat dibagi Benda yang dapat dibagi adalah benda yang apabila wujudnya dibagi tidak dapat mengakibatkan hilangnya hakikat daripada benda itu sendiri. Misalnya: beras dan gula pasir. Benda yang tidak dapat dibagi adalah benda yang apabila wujudnya dibagi mengakibatkan hilangnya atau lenyapnya hakikat daripada benda itu sendiri. Misalnya: kuda, sapi dan uang. Benda bergerak dan tidak bergerak Pembedaan yang terpenting dan biasa/sering digunakan adalah pembedaan mengenai benda bergerak dan benda tidak bergerak. Suatu benda dapat dikategorikan sebagai benda bergerak apabila memenuhi salah satu syarat sebagai berikut, yaitu: a. Benda bergerak karena sifatnya (Pasal 509 KUHPerdata), baik itu karena dipindahkan atau yang dapat pindah sendiri. Contohnya adalah sepeda, meja, kursi, kapal, perahu tambang, gilingan, dan tempat pemandian yang dipasang di perahu atau yang berdiri dan benda-benda sejenis itu. b. Benda bergerak karena ditentukan oleh undang-undang sebagai benda bergerak adalah segala hak atas benda-benda bergerak. Rinciannya dapat dilihat pada Pasal 511 KUHPerdata sebagai berikut: hak pakai hasil dan hak pakai atas kebendaan bergerak, hak atas bunga-bunga yang diperjanjikan, hak menuntut di muka hakim atas uang tunai atau benda-benda bergerak, saham dari perseroan dagang, surat berharga lain. Suatu benda dapat dikategorikan sebagai benda tidak bergerak apabila memenuhi salah satu syarat sebagai berikut, yaitu: a. Benda tidak bergerak karena sifatnya, yang dibagi lagi menjadi 3 macam; tanah, segala sesuatu yang bersatu dengan tanah tanah karena tumbuh dan berakar di tanah, segala sesuatu yang bersatu dengan tanah karena didirikan di atas tanah itu. b. Benda tidak bergerak karena tujuannya atau tujuan pemakaiannya supaya bersatu dengan benda tidak bergerak pada poin 1, seperti: pada pabrik: segala mesin-mesin, ketel dan alat-alat lain yang dimaksudkan supaya terus menerus berada di situ untuk dipergunakan dalam menjalankan pabrik,

5.

6.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 11

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

pada suatu perkebunan: segala sesuatu yang dipergunakan sebagai pupuk bagi tanah, ikan dalam kolam, dan lain-lain, pada rumah kediaman: segala kaca, tulisan-tulisan dan lain-lain serta alatalat yang menggantungkan barang-barang itu sebagai bagian dari dinding barang-barang reruntuhan dari sesuatu bangunan apabila dimaksudkan untuk dipakai guna mendirikan lagi bangunan itu.

c. Benda tidak bergerak karena ditetapkan undang-undang sebagai benda tak bergerak, seperti: hak-hak atau penagihan mengenai suatu benda yang tidak bergerak, kapal-kapal yang berukuran 20 meter kubik ke atas (dalam hukum perniagaan). Ada empat hal penting untuk membedakan antara benda bergerak dengan benda tidak bergerak, yaitu: a. Mengenai bezit/kedudukan berkuasa Terhadap benda bergerak berlaku asas yang tercantum dalam pasal 1977 ayat 1 KUHPerdata yaitu bezitter dari benda bergerak adalah sebagai eigenaar dari barang tersebut (Bezit berlaku sebagai title yang sempurna/ Bezit geldt als volkomen title) (siapa yang menguasai benda tersebut dianggap sebagai pemiliknya). Sedang benda tidak bergerak tidak demikian. b. Mengenai levering/penyerahannya Penyerahan benda bergerak dapat dilakukan dengan penyerahan secara nyata (penyerahannya nyata dan langsung) sedangkan penyerahan benda tidak bergerak harus balik nama. Dulu penyerahan benda tidak bergerak berdasarkan Over schrijvings Ordonnantie S. 1834 No.27. Sekarang menurut UUPA penyerahan benda tidak bergerak harus dilakukan dan ditandatangani dihadapan PPAT/Pejabat Pembuat Akta Tanah dalam sertifikat. c. Mengenai verjaring/ kadaluarsa/lewat waktu Terhadap benda bergerak tidak mengenal kadaluarsa sebab berlaku asas yang tercantum dalam Pasal 1977 ayat 1 seperti telah dijelaskan dalam no. 1 di atas. Benda tidak bergerak mengenal adanya kadaluarsa yaitu 20 tahun dengan alasan hak yang sah dan 30 tahun tanpa alasan hak yang sah. d. Mengenai bezwaring/ pembebanannya Pembebanan terhadap benda bergerak harus dengan pand/gadai sedang pembebanan terhadap benda tidak bergerak dengan hipotek/fidusia.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 12

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

HAK-HAK KEBENDAAN
TENTANG KEBENDAAN DAN CARA MEMBEDA-BEDAKANNYA Kebendaan adalah tiap-tiap barang dan tiap-tiap hak yang dapat dikuasai oleh hak milik. Segala apa yang karena hukum perlekatan termasuk dalam sesuatu kebendaan, seperti segala hasil dari kebendaan itu, baik hasil karena alam, maupun hasil karena pekerjaan orang, selama yang akhir-akhir ini melekat pada kebendaan itu, kesemuanya adalah bagian dari kebendaan tersebut. Tiap-tiap hasil perdata adalah bagian dari suatu kebendaan, jika dan selama hasil itu belum dapat ditagih. Hasil karena alam; misalnya: 1. Segala apa yang tumbuh dari tanah sendiri; 2. Segala apa yang merupakan hasil dari atau dilahirkan oleh binatang-binatang. Hasil karena pekerjaan orang yang ditarik dari tanah ialah segala apa yang diperoleh karena penanaman di atasnya; yang dinamakan hasil perdata ialah: uang sewa, uang upeti, uang angsuran dan uang bunga. Kebendaan terdiri dari 2 macam: 1. Kebendaan tak bergerak 2. Kebendaan bergerak Kebendaan tak begerak adalah kebendaan yang bersifat sulit untuk dipindahkan secara fisik; misalnya: pekarangan, penggilingan, pohon-pohon dan tanaman ladang, kayu tebangan dari hutan (kayu gelondongan), pipa-pipa, dan lainnya. Hak-hak yang melekat atas kebendaan tak bergerak, antara lain: 1. Hak pakai hasil dan hak pakai atas kebendaan tak bergerak 2. Hak pengabdian tanah 3. Hak numpang-karang 4. Hak usaha 5. Bunga tanah, (uang/barang) 6. Bunga seperssepuluh 7. Pajak pekan/ pasar; yang diakui oleh pemerintah dan hak-hak istimewa yang melekat padanya 8. Gugatan guna menuntut pengembalian atau penyerahan kebendaan tak bergerak Kebendaan bergerak adalah kebendaan yang dapat dipindahkan. Misalnya: kapal, perahu-perahu tambang, gilingan. berpindah atau

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 13

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Yang termasuk hak kebendaan bergerak lainnya karena ketentuan UU: 1. Hak pakai hasil dan hak pakai atas kebendaan bergerak 2. Hak atas bunga-bunga yang diperjanjikan, baik yang diabadikan maupun bunga cagak hidup. 3. Perikatan-perikatan dan tuntutan-tuntutan mengenai jumlah uang yang dapat ditagi atau mengenai benda bergerak 4. Sero-sero atau andil dalam persekutuan perdagangan uang, persekutuan dagang atau persekutuan perusahaan (hanya terhadap pesertanya selama persekutuan berjalan). 5. Andil dalam perutangan atas beban Negara Indonesia 6. Sero-sero atau kupon obligasi dalam perutangan lain Pekarangan dan kebendaan tak bergerak lainnya yang tak terpelihara dan tiada pemiliknya, seperti kebendaan seseorang yang meninggal dunia tanpa ahli waris, atau yang warisannya telah ditinggalkan, adalah milik negara.(Pasal 520). Adapun hak-hak kebendaan, antara lain: 1. Hak kedudukan berkuasa 2. Hak milik 3. Hak waris 4. Hak pakai hasil 5. Hak pengabdian tanah 6. Hak gadai/ hipotik KEDUDUKAN BERKUASA (BEZIT) DAN HAK-HAK YANG TIMBULKARENANYA. Kedudukan berkuasa adalah kedudukan seseorang yang menguasai suatu kebendaan, baik dengan diri sendiri, maupun dengan perantaraan orang lain, dan yang mempertahankan dan menikmatinya selaku orang yang memiliki kebendaan itu. Kedudukan berkuasa atas suatu kebendaan diperoleh dengan caramelakukan perbuatan menarik kebendaan itu ke dalam kekuasaannya, dengan maksud mempertahankannya untuk diri sendiri. Kedudukan ini dapat diperoleh, baik dengan diri sendiri maupun dengan perantaraan orang lain, yang melakukan perbuatan tadi atas nama. Kedudukan berpindah/ berakhir, apabila:

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 14

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

1. 2. 3. 4.

Apabila telah diwariskan kepada ahli warisnya. Apabila telah diserahkan kepada orang lain; Apabila kebendaan yang dikuasainya; nyata telah ditinggalkannya; Orang lain, dengan tak mempedulikan kehendak si yang berkedudukan, menarik kebendaan-kebendaan itu ke dalam kekuasaannya, dan kemudian selama 1 tahun menikmatinya tanpa suatu gangguan apa pun juga. 5. Apabila sebidang pekarangan karena suatu peristiwa luar biasa telah tenggelam kebanjiran. 6. Apabila telah diambil oleh orang lain atau dicuri. 7. Apabila telah dihilangkan oleh pemiliknya dan tidak diketahui lagi di mana adanya. Tiap-tiap kedudukan berkuasa yang beritikad baik, memberi kepada si yang memangkunya, hak-hak atas kebendaan yang dikuasai sebagai berikut: 1. Bahwa ia sampai pada saat kebendaan itu dituntut kembali di muka Hakim, sementara harus dianggap sebagai pemilik kebendaan; 2. Bahwa ia karena daluwarsa dapat memperoleh hak milik atas kebendaan itu; 3. Bahwa ia sampai pada saat penuntutan kembali akan kebendaan itu di muka Hakim, berhak menikmati segala hasilnya; 4. Bahwa ia harus dipertahankan dalam kedudukannya, bilamana diganggu dalam memangkunya, ataupun dipulihkan kembali dalam itu, bilamana kehilangan kedudukannya. Tiap-tiap kedudukan berkuasa yang beritikad buruk, memberi kepada si yang memangkunya, hak-hak atas kebendaan yang dikuasai, sebagai berikut: 1. Bahwa ia sampai pada saat kebendaan itu dituntut kembali di muka hakim, sementara harus dianggap sebagai pemilik kebendaan; 2. Bahwa ia menikmati segala hasil kebendaan, namun dengan kewajiban akan mengembalikannya kepada yang berhak; 3. Bahwa ia harus dipertahankan dan dipulihkan dalam kedudukannya, HAK MILIK (EIGENDOM) Hak milik adalah hak untuk menikmati kegunaan suatu kebendaan dengan leluasa, dan untuk berbuat bebas terhadap kebendaan itu dengan kedaulatan sepenuhnya, asal tidak bertentangan dengan UU/ peraturan umum yang telah ditetapkan oleh penguasa dan tidak mengganggu hak-hak orang lain,(dengan tidak mengurangi kemungkinan akan pencabutan hak itu demi kepentingan umum berdasar UU dengan pembayaran ganti rugi). Hak milik atas suatu kebendaan diperoleh dengan pemilikan karenaperlekatan, daluwarsa, pewarisan, baik menurut UU maupun surat wasiat, dan karena penunjukan berdasar atas suatu peristiwa perdata untuk memindahkan hak milik, dilakukan oleh seorang yang berbuat bebas dengan kebendaan itu. PENGABDIAN PEKARANGAN

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 15

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Pengabdian Pekarangan adalah suatu beban yang diberikan kepada pekarangan milik orang yang satu, untuk digunakan bagi dan demi kemanfaatan pekarangan milik orang yang lain.(Baik sebagai beban, maupun sebagai kemanfaatan, pengabdian itu tak boleh diikat-hubungkan dengan diri seseorang.) Pengabdian pekarangan berakhir apabila kedua pekarangan telah demikian keadaannya, sehingga tak lagi dapat digunakan.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 16

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

HAK NUMPANG KARANG (recht v. Opstal) Hak numpang karang adalahsuatu hak kebendaan untuk mempunyai gedung-gedung, bangunan-bangunan dan penanaman di atas tanah orang lain.Seseorang yang memiliki hak menumpang karang atas sebidang pekarangan, diperbolehkan menyerahkannya kepada orang lain atau memberikannya dengan hipotik. Hak numpang karang berakhir antara lain: 1. Karena percampuran; 2. Karena musnahnya pekarangan; 3. Karena kadaluarsa dengan tenggang waktu 30 tahun 4. Setelah lewatnya waktu yang diperjanjikan atau ditentukan, tatkala hak numpang dilakukan.

HAK USAHA (erfpacht) Hak usaha adalah suatu hak kebendaan untuk menikmati sepenuhnya akan kegunaan suatu barang tak bergerak milik orang lain, dengan kewajiban akan membayar upeti tahunan kepada si pemilik sebagai pengakuan akan kepemilikannya, baik berupa uang, hasil atau pendapatan. Seorang pengusaha menikmati segala hak yang terkandung dalam hak milik atas tanah yang ada dalam usahanya, namun ia tak boleh berbuat sesuatu yang dapat menurunkan harga tanah tersebut. Pemilik tanah tak berkewajiban memperbaiki suatu kerusakan; Pengusaha berwajib memelihara tanah dalam usahanya dan melakukan perbaikan akan segala kerusakan biasa. (boleh mendirikan gedung-gedung, membuka/ menanaminya) Pengusaha berhak menyerahkan hak usahanya kepada orang lain, membebaninya dengan hipotik dan dengan pengabdian untuk waktu selama usahanya. Pengusaha harus membayar segala bea yang dikenakan pada tanah usahanya, baik bea biasa, maupun luar biasa, baik bea tahunan, maupun bea yang hanya 1 kali harus dibayar.

HAK PAKAI HASIL

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 17

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Hak pakai hasil adalah suatu hak kebendaan, dengan mana seorang diperbolehkan menarik segala hasil dari sesuatu kebendaan milik orang lain, seolaholah dia sendiri pemilik kebendaan itu, dan dengan kewajiban memeliharanya sebaik mungkin. Hak pakai hasil dapat diberikan kepada satu atau lebih yang tertentu, agar yang akhir ini menikmatinya baik bersama-sama, maupun berturut-turut. Hak pakai hasil diperoleh karena UU atau karena kehendak si pemilik. Hak pakai hasil berakhir apabila: 1. Karena meninggalnya pemakai; 2. Apabila tenggang waktu untuk mana, atau syarat-syarat dengan mana hak itu diberikan, telah lewat atau telah terpenuhkan; 3. Karena percampuran, ialah, apabila hak milik dan hak pakai hasil mengumpul di tangan orang satu; 4. Karena pelepasan hak oleh si pemakai kepada pemilik; 5. Karena kadaluarsa, ialah apabila si pemakai selama 30 tahun tidak mempergunakan haknya; 6. Karena pemusnahan kebendaan seluruhnya, atas mana hak itu diberikan.

PEWARISAN KARENA KEMATIAN Pewarisan hanya berlangsung karena kematian . Yang berhak menjadi ahli waris adalah para keluarga sedarah, baik sah maupun luar kawin dan si suami atau si istri yang hidup terlama, semua menurut peraturan berikut: Bilamana baik keluarga sedarah, maupun si yang hidup terlama antara suami dan istri, tidak ada, maka segala harta peninggalan menjadi milik negara, yang mana wajib melunasi segala utangnya, sekedar harga harta peninggalan mencukupi untuk itu. Ahli waris dengan sendirinya karena hukum memperoleh hak milik atas segala barang, segala hak dan segala piutang si yang meninggal. Tiap-tiap waris berhak mengajukan gugatan guna memperjuangkan hak warisnya, dan jangka waktu kadaluarsa adalah 30 tahun. Yang tidak patut menjadi ahli waris: 1. Mereka yang telah dihukum karena dipersalahkan telah membunuh, atau mencoba membunuh yang meninggal; 2. Mereka yang dengan putusan hakim pernah dipersalahkan karena secara fitnah pernah mengajukan pengaduan terhadap si yang meninggal, ialah suatu pengaduan telah melakukan suatu kejahatan yang terancam dengan hukuman penjara 5 tahun/ hukuman yang lebih berat.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 18

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

3. Mereka yang dengan kekerasan atau perbuatan telah mencegah si yang meninggal untuk membuat atau mencabut surat wasiatnya. 4. Mereka yang telah menggelapkan, merusak atau memalsukan surat wasiat si yang meninggal. Warisan dalam hal adanya anak-anak luar kawin: 1. Jika si meninggal meninggalkan anak-anak luar kawin yang telah diakui dengan sah, maka warisan harus dibagi dengan cara yang ditentukan sebagai berikut: 2. Jika yang meninggal meninggalkan keturunan yang sah atau seorang suami atau istri, maka anak-anak luar kawin mewarisi sepertiga dari bagian yang mereka sedianya harus mendapatnya andai mereka anak-anak yang sah. 3. Jika si meninggal tak meninggalkan keturunan maupun suami atau istri, akan tetapi meninggalkan keluarga sedarah, dalam garis ke atas, ataupun saudara laki dan perempuan atau keturunan mereka, maka mereka mewarisi setengah dari warisan, dan jika hanya ada sanak saudara dalam derajat yang lebih jauh, tiga perempat. 4. Jika para waris yang sah dengan si meninggal bertalian keluarga dalam lain-lain perderajatan, maka si yang terdekat derajatnya dalam garis yang satu, pun terhadap mereka yang dalam garis yang lain, menentukan besarnya bagian yang harus diberikan kepada si anak di luar kawin. 5. Jika si meninggal tak meninggalkan ahli waris yang sah, maka sekalian anak luar kawin mendapat seluruh warisan. Ketentuan di atas tak berlaku bagi anak yang dibenihkan dalam zinah atau dalam sumbang.

HIPOTIK Hipotik adalah suatu hak kebendaan atas benda-benda tak bergerak, untuk mengambil penggantian daripadanya bagi pelunasan suatu perikatan. Hak tersebut pada hakekatnya tak dapat dibagi-bagi, dan terletak di atas semua benda tak bergerak yang diikatkan dalam keseluruhannya, di atas masingmasing dari benda-benda tersebut, dan di atas tiap bagian dari padanya. Yang dapat dibebani dengan hipotik hanyalah: 1. Benda-benda tak bergerak yang dapat dipindahtangan, beserta segala perlengkapannya; 2. Hak pakai hasil atas benda-benda tersebut beserta segala perlengkapannya; 3. Hak numpang karang dan hak usaha 4. Bunga tanah, baik yang harus dibayar dengan uang maupun yang harus dibayar dengan hasil tanah dalam ujudnya; 5. Bunga sepersepuluh 6. Pasar-pasar yang diakui oleh Pemerintah beserta hak-hak istimewa yang melekat padanya. Hapusnya hipotik, karena: 1. Hapusnya perikatan pokok;

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 19

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

2. Pelepasan hipotik oleh si perpiutang 3. Penetapan tingkat oleh Hakim. Hipotik yang dengan hipotik harus suatu piutang hanya dapat diberikan dengan suatu akta otentik, kecuali dalam hal tegas, ditunjuk oleh UU.Begitu pula dengan kuasa untuk memberikan dibuat dengan akta otentik.Penjualan, penyerahan serta pemberian hipotik hanya dapat dilakukan dengan suatu akta otentik.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 20

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

HAK REKLAME Hak Reklame diatur dalam Buku II Burgerlijk Wetboek (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata) karena memiliki kemiripan dengan hak kebendaan. Menurut Pasal 1145 KUHPerdata, hak reklame adalah hak yang diberikan kepada penjual untuk menuntut kembali barang-barangnya selama barang tersebut masih berada di tangan pembeli. Penuntutan tersebut harus dilakukan palinglama 30 hari setelah penyerahan. Menurut undang-undang, hak si penjual ini gugur/tidak dapat dilaksanakan apabila: 1. Barang yang telah diterima pembeli, ternyata telah disewakan atau (Pasal 1146) 2. Barang-barang tersebut oleh pembeli telah dibeli pihak ketiga dengan itikad baik dan telah diserahkan kepada pihak ketiga tersebut. (Pasal 1146a) Kemiripan antara hak reklame dan hak kebendaan terletak pada keberadaan hak tersebut yang melekat pada bendanya dan dapat dipertahankan terhadap siapapun.

HAK RETENTITIE Hak Reklame diatur dalam Buku II Burgerlijk Wetboek (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata) karena memiliki kemiripan dengan gadai. Hak Retentitie tidak diatur dalam suatu pasal khusus namun tercerai berai dalam berbagai Pasal, misalnya Pasal 567, 575, 576, dan lain-lain. Menurut Prof. Sri Soedewi Masjchoen Sofwan hak retentie adalah hak untuk menahan suatu benda, sampai suatu piutang yang berkaitan dengan benda tersebut dilunasi. Adapun sifat-sifat dari hak retentie adalah sebagai berikut:

1. Merupakan perjanjian accessoir, yaitu perjanjian yang mengikuti perjanjian pokok. Sehingga benda yang menjadi objek hak retentitie haruslah berhubungan dengan perjanjian pokoknya. 2. Tidak dapat dibagi-bagi. Sehingga apabila hutang hanya dibayar sebagian, tidak bolehlah bendanya dikembalikan sebagian. 3. Tidak membawa serta hak memakai. Sehingga pemegang hak retentitie hanya boleh menahan benda, ia tidak boleh memakai benda yang ditahan.
HAK KEBENDAAN MENURUT UNDANG-UNDANG POKOK AGRARIA Menurut Pasal 16 Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960, hak-hak atas tanah adalah sebagai berikut:

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Hak milik Hak guna usaha Hak guna bangunan Hak pakai Hak sewa untuk bangunan Hak membuka hutan dan memungut hasil hutan
Page 21

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

7. Hak guna air, pemeliharaan dan penangkapan ikan 8. Hak guna ruang angkasa 9. Hak-hak tanah untuk keperluan suci dan sosial

HAK TANGGUNGAN MENURUT UNDANG-UNDANG HAK TANGGUNGAN Mengenai hak tanggungan ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah, disingkat dengan Undang-Undang Hak Tanggungan (UUHT). Maksud hak tanggungan adalah hakjaminan atas tanah yang dibebankan pada hak atas tanah, berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk perlunasan utang tertentu yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur yang lain (Pasal 1 angka 1 UUHT).

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 22

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

PEROLEHAN DAN PENGALIHAN HAK ATAS BENDA


Cara perolehan hak kebendaan, antara lain: 1. Pengambilan, yaitu cara memperoleh hak milik dengan mengambil benda-benda bergerak yang sebelumnya tidak ada pemiliknya. Misalnya ketika seseorang memancing ikan, maka secara otomatis ikan yang didapat menjadi hak milik yang bersangkutan. 2. Perlekatan, maksudnya segala sesuatu yang melekat pada suatu barang maka akan menjadi hak milik yang bersangkutan. Contohnya spion pada mobil, buah pada pohon. 3. Lewat waktu (daluwarsa) Peraturan mengenai pembuktian dan daluwarsa tercantum dalam buku IV KUHPerdata.Seseorang dapat memperoleh suatu ha katas suatu benda dengan memberikan pembuktian yang nyata bahwa dia memiliki ha katas benda tersebut karena telah lewat waktu masa kepemilikan yang sebelumnya. 4. Pewarisan, yaitu cara memperoleh hak milik bagi para ahkli waris yang ditinggalkan oleh pewaris. Para ahli waris disini memperoleh hak milik menurut hukum tanpa adanya tindakan penerimaan. Ahli waris disini dapat karena menurut hukum maupun ahli waris wasiat. 5. Penyerahan(levering) berdasarkan suatu titel pemindahan hak yang berasal dari seorang yang berhak memindahkan hak milik. Penyerahan mempunyai dua arti, yaitu: a. Perbuatan yang berupa penyerahan kekuasaan belaka ( feitelijke levering) b. Perbuatan hukum yang bertujuan memindahkan hak milik atas benda yang tak bergerak, karena tidak cukup hanya dengan penyerahan saja, namun harus juga dibuat surat penyerahan (akte van transport). Menurut KUHPerdata, pemindahan hak terdiri dari dua bagian, yaitu: a. Obligatoire overenkomst, maksudnya memindahkan hak itu sendiri. tiap perjanjian yang bertujuan

b. Zakelijk overenkomst, merupakan pemindahan hak itu sendiri Pada perjanjian jual beli atau pertukaran. Obligatoire overenkomst tidak perlu berupa perjanjian tertulis, karena perjanjian jual beli secara lisan untuk suatu benda tak bergerak diperbolehkan. Hanya saja ketika penyerahan harus dibuat surat penyerahan (akte van transport) yang harus dibuat secara authentiek di hadapan notaris. Akte ini merupakan akte timbal balik yang ditandatangani bersama oleh si penjual dan si pembeli, berisi pihak penjual menyerahkan hak miliknya dan pihak lain sebagai pembeli menyatakan menerima hak milik atau benda yang bersangkutan.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 23

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Menurut macam benda, menurut KUHPerdata, ada tiga macam levering: a. Levering benda bergerak b. Levering benda tak bergerak c. Levering piutang atas nama Cara pengalihan hak kebendaan: 1. Gadai Menurut pasal 1150 KUHPerdata, suatu hak kebendaan atas suatu benda yang bergerak kepunyaan orang lain, yang semata-mata diperjanjikan dengan menyerahkan bezit atas benda tersebut, dengan tujuan untuk mengambil pelunasan suatu hutang dari pendapatan penjualan benda itu, lebih dahulu dari penagih-penagih lainnya. Objek Gadai adalah semua benda bergerak dan pada dasarnya bisa digadaikan untuk mendapatkan pembayaran uang, yang berwujud surat-surat piutang kepada pembawa, atas unjuk, dan atas nama, serta hak paten. Hak-hak pemegang gadai (pandnemer), sebagai berikut: a. Menahan barang yang dipertanggungjawabkan sampai hutang dilunasi, baik pokok maupun bunganya; b. Mengambil pelunasan hutang dari pendapatan penjualan barang tersebut, apabila orang yang berhutang tidak dapat melunasi hutangnya/ tidak memenuhi kewajibannya; c. Meminta penggantian atas biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan barang tanggungan tersebut; d. Menggadaikan lagi barang tanggungan tersebut. Kewajiban pemegang gadai: a. Bertanggung jawab akan hilangnya/ kemunduran harga barang tanggungan, karena kelalaiannya; b. Harus memberitahukan kepada debitur apabila hendak menjual barang tanggungan c. Harus memberikan perhitungan tentang pendapatan penjualan barang tanggungan, kemudian menyerahkan kelebihannya pada si berhutang; d. Harus mengembalikan barang tanggungan, apabila hutang pokok, bunga, dan biaya untuk menyelamatkan barnag tanggungan telah dibayar lunas. 2. Hipotik Merupakan suatu hak kebendaan atas suatu benda yang tidak bergerak, bertujuan untuk mengambil pelunasan suatu hutang dari (pendapatan penjualan) benda itu. Gadai dan hipotik merupakan hak yang serupa, namun memiliki beberapa perbedaan, sebagai berikut:

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 24

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

a. Pandrecht harus disertai dengan penyerahan kekuasaan atas barang yang dijadikan tanggungan, hypotheek tidak. b. Pandrecht hapus, jika barang yang dijadikan tanggungan berpindah ke tangan orang lain, tetapi hypotheek tetap terletak sebagai beban di atas benda yang dijadikan tanggungan meskipun benda ini dipindahkan pada orang lain c. Lebih dari satu pandrecht atas satu barang meskipun tidak dilarang oleh undang-undang, di dalam praktek hampir tak pernah terjadi, tetapi beberapa hypotheek yang bersama- sama dibebankan di atas satu rumah adalah suatu keadaan yang biasa. Hak-hak yang boleh diperjanjikan dalam perjanjian hipotik: a. Hak memberikan kuasa pada pemegang hipotik untuk menjual sendiri objek hipotik di depan umum dan mengambil pelunasan dari pendapatan tersebut; b. Pembatasan hak pemilik objek hipotik untuk menyewakan objek tersebut; c. Pemilik objek tetap berhak menjual objek hipotik kepada siapa saja dan hipotik akan tetap mengikuti bendanya; d. Pemegang hipotik berhak meminta diperjanjikan bahwa jika terjadi kebakaran sedangkan rumah yang menjadi tanggungan telah diasuransikan, maka uang asuransi dapat diterima oleh pemilik rumah. Perbedaan Gadai dan Hipotik a. Gadai harus disertai dengan penyerahan kekuasaan atas barang yang digadaikan, sedangkan hipotik tidak. b. Gadai hapus jika barang yang digadaikan berpindah ke tangan orang lain, sedangkan hipotik tidak, tetapi tetap mengikuti bendanya walaupun bendanya dipindahtangankan ke orang lain. c. Satu barang tidak pernah dibebani lebih dari satu gadai walaupun tidak dilarang, tetapi beberapa hipotik yang bersama-sama dibebankan di atas satu benda merupakan keadaan biasa. d. Adanya gadai dapat dibuktikan dengan segala macam pembuktian yang dipakai untuk membuktikan pejanjian pokok, sedangkan perjanjian hipotik dibuktikan dengan akta otentik 3. Fidusia Fidusia merupakan suatu perjanjian accesor antara debitor dan kreditor yang isinya penyerahan hak milik secara kepercayaan atas benda bergerak milik debitor kepada kreditur.Hubungan hukum antara pemberi fidusia (debitor) dengan penerima fidusia (kreditor) merupakan hukum yang berdasarkan kepercayaan. Lembaga jaminan fidusia telah diakui berdasarkan yurisprudensi Keputusan Hooggerechtsh tanggal 18 Agustus 1932 serta keputusan Mahkamah Agung tanggal 1 September 1971 Reg No. 372 K/Sip/1970. Menurut Pasal 1 angka 1 UU No 42 tahun 1999, fidusia merupakan pengalihan hak kepemilikan sesuatu atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa hak kepemilikannya dialihkan dan penguasaan tetap ada pada pemilik benda.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 25

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Menurut pasal 1 angka 2 UUJF, jaminan fidusia merupakan hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan. Berdasarkan pasal 4 UUJF, jaminan fidusia merupakan perjanjian ikutan (accessoir) dari suatu perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak di dalam memenuhi suatu prestasi untuk memberikan sesuatu atau tidak berbuat sesuatu yang dapat dinilai dengan uang. Menurut pasal 1 angka 4 UU Jaminan Fidusia objeknya yakni benda.Dalam pasal 3 benda tidak bergerak harus memenuhi persyaratan: a. Benda tersebut tidak dapat dibebani dengan hak tanggungan b. Benda tersebut tidak dibebani dengan hak hipotik, untuk benda bergerak tidak dibebani dengan hak gadai. Perjanjian yang harus dibuat dengan akta notaris dalam bahasa Indonesia dan merupakan akta jaminan fidusia. Berdasarkan pasal 14 ayat 3 UUJF pendaftaran fidusia adalah jaminan fidusia yang lahir pada tanggal dicatat dalam buku daftar fidusia dan merupakan bukti kreditor sebagai pemegang jaminan fidusia yang diberikan sertifikat jaminan fidusia.Untuk benda bergerak berlaku ketentuan pasal 1977 KUHPerdata yang mengatur, barang siapa menguasai benda bergerak dianggap sebagai pemiliknya. Tujuan pendaftaran fidusia : a. Untuk melahirkan jaminan fidusia bagi penerima fidusia dan menjamin pihak yang mempunyai kepentingan atas benda yang dijaminkan. b. Untuk memberikan perlindungan hukum kepada penerima dan pemberi fidusia serta pihak ketiga yang berkepentingan. c. Memberikan hak yang didahulukan (kreditur preferent). d. Memenuhi asas spesialitas dan publisitas. e. Memberi rasa aman kepada kreditur penerima jaminan fidusia dan pihak ketiga yang berkepentingan. Berdasarkan pasal 15 ayat 2 UUJF, jika debitor wansprestasi kreditor mempunyai hak untuk menjual benda yang menjadi objek jaminan atas kekuasaan sendiri. Berdasarkan pasal 39 UUJF, jika debitor cidera janji eksekusi terhadap benda yang menjadi objek jaminan fidusia dapat dilakukan dengan cara berikut. a. Pelaksanaan title eksekutorial sebagaimana dimaksud dalam pasal 15 ayat 2 oleh kreditor. b. Penjualan benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasaan debitor sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan. c. Penjualan di bawah tangan dilakukan berdasarkan kesepakatan debitor dan kreditor.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 26

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Berdasarkan pasal 23 ayat 2 UUJF, yakni pemegang hak fidusia dilarang untuk mengalihkan, menggadaikan, atau menyewakan kepada pihak lain. Berdasarkan pasal 25 UUJF, jaminan fidusia dihapus karena : a. Hapusnya utang yang dijamin dengan fidusia, b. Pelepasan ha katas jaminan fidusia oleh debitor, dan c. Musnahnya benda yang menjadi objek jaminan fidusia. 4. Cessie Cessie adalah pemindahan hak piutang, yang sebetulnya merupakan penggantian orang berpiutang lama, yang dalam hal ini dinamakan cedent, dengan seseorang berpiutang baru, yang dalam hubungan ini dinamakancessionaris.Pemindahan itu harus dilakukan dengan suatu akta otentik atau di bawah tangan, jadi tak boleh dengan lisan atau dengan penyerahan piutangnya saja.Agar pemindahan berlaku terhadap si berutang, aktacessie tersebut harus diberitahukan padanya secara resmi (betekend).Hak piutang dianggap telah berpindah pada waktu akta cessie itu dibuat, jadi tidak pada waktu akta itu diberitahukan pada si berutang.Secara singkat, cessie merupakan penggantian orang yang berpiutang lama dengan seseorang berpiutang baru. Sebagai contoh, misalnya A berpiutang kepada B, tetapi A menyerahkan piutangnya itu kepada C, maka C-lah yang berhak atas piutang yang ada pada B. Cessie dapat dilakukan melalui akta otentik atau akta bawah tangan.Syarat utama keabsahan cessie adalah pemberitahuan cessie tersebut kepada pihak terhutang untuk disetujui dan diakuinya.Pihak terhutang di sini adalah pihak terhadap mana si berpiutang memiliki tagihan. Pengaturan mengenai cessie diatur dalam Pasal 613 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia. 5. Subrogasi Subrogasi terjadi karena pembayaran yang dilakukan oleh pihak ketiga kepada kreditur (si berpiutang) baik secara langsung maupun secara tidak langsung yaitu melalui debitur (si berutang) yang meminjam uang dari pihak ketiga.Pihak ketiga ini menggantikan kedudukan kreditur lama, sebagai kreditur yang baru terhadap debitur.Subrogasi ini diatur dalam Pasal 1400 KUHPerdata.Disebutkan dalam pasal tersebut subrogasi adalah penggantian hakhak oleh seorang pihak ketiga yang membayar kepada kreditur.Subrogasi dapat terjadi baik melalui perjanjian maupun karena ditentukan oleh undangundang.Subrogasi harus dinyatakan secara tegas karena subrogasi berbeda dengan pembebasan utang.Tujuan pihak ketiga melakukan pembayaran kepada kreditur adalah untuk menggantikan kedudukan kreditur lama, bukan membebaskan debitur dari kewajiban membayar utang kepada kreditur. Pihak ketiga sebagai kreditur baru berhak melakukan penagihan utang terhadap debitur dan jika debitur wanprestasi, maka kreditur baru mempunyai

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 27

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

hak untuk melakukan eksekusi atas benda-benda debitur yang dibebani dengan jaminan seperti gadai, hipotek, dan hak tanggungan. Mengenai subrogasi yang terjadi karena perjanjian diatur dalam Pasal 1401 KUHPerdata dan subrogasi yang terjadi karena undang-undang diatur dalam Pasal 1402 KUHPerdata.Subrogasi menurut undang-undang artinya subrogasi terjadi tanpa perlu persetujuan antara pihak ketiga dengan kreditur lama, maupun antara pihak ketiga dengan debitur. Sebagai contoh, misalnya A berutang pada B, kemudian A meminjam uang pada C untuk melunasi utangnya pada B dan menetapkan bahwa C menggantikan hak-hak B terhadap pelunasan utang dari A.

Perbedaan Definisi

Subrogasi

Cessie

Penggantian hak-hak olehCara pengalihan piutangseorang pihak ketiga yangpiutang atas nama dan membayar kepada Kreditur barang-barang lain yang tidak bertubuh dilakukan dengan cara membuat akta otentik atau di bawah tangan yang melimpahkan hak-hak atas barang-barang itu kepada orang lain. Buku III KUHPerdata PasalBuku II KUHPerdata Pasal 613 1400 sampai dengan Pasalsampai dengan Pasal 624 1403 1. Harus ada lebih dari satu 1. Harusmenggunakan akta kreditur dan satu orang otentik maupun akta di debitur yang sama. bawah tangan. 2. Adanya pembayaran oleh 2. Terjadi pelimpahan hakkreditur baru kepada hak atas barang-barang kreditur lama. tersebut kepada orang lain.

Sumber Hukum Unsur-unsur

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 28

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

HUKUM PERJANJIAN PENGERTIAN PERJANJIAN


Perikatan (verbintenis) adalah aturan hukum yang menyangkut harta benda (kekayaan) antara dua orang atau lebih dengan pelaksanaan prestasi tertentu.Perjanjian/ persetujuan, menurut Buku III BW, yaitu perihal perikatan yang timbul dari perbuatan yang melanggar hukum (onrechtmatige daad) dan perihal perikatan yang timbul dari pengurusan kepentingan orang lain yang tidak berdasarkan persetujuan (zaakwaarneming). Jadi, perikatan mempunyai arti yang lebih luas daripada perjanjian. Perikatan merupakan suatu pengertian abstrak, sedangkan perjanjian adalah suatu peristiwa hukum yang konkrit. Buku III BW, sebagian besar membahas perikatan yang timbul dari persetujuan. Sedangkan definisi perjanjian menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) Pasal 1313, yaitu bahwa perjanjian atau persetujuan adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Kata persetujuan tersebut merupakan terjemahan dari perkataan overeekomst dalam bahasa Belanda. Kata overeekomst tersebut lazim diterjemahkan juga dengan kata perjanjian. Jadi persetujuan dalam Pasal 1313 KUH Perdata tersebut sama artinya dengan perjanjian. Perjanjian merupakan terjemahan dari oveereenkomst sedangkan perjanjian merupakan terjemahan dari toestemming yang ditafsirkan sebagai wilsovereenstemming (persesuaian kehendak/kata sepakat). Sedangkan pengertian perjanjian menurut para ahli hukum: a. R. Subekti Suatu perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal b. Wirjono Prodjodikoro Perjanjian adalah suatu perhubungan hukum mengenai harta benda antara dua pihak, dalam mana suatu pihak berjanji atau di anggap berjanji untuk melakukan suatu hal atau untuk tidak melakukan sesuatu hal, sedang pihak lain berhak menuntut pelaksanaan janji itu c. Abdul Kadir Muhammad

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 29

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Perjanjian adalah suatu persetujuan dengan mana dua orang pihak atau lebih mengikatkan diri untuk melaksanakan suatu hal dalam lapangan harta kekayaan d. R. Setiawan, menyebutkan bahwa perjanjian ialah suatu perbuatan hukum di mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. e. Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, berpendapat bahwa perjanjian merupakan perbuatan hukum dimana seseorang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap seorang lain atau lebih. Berdasarkan pengertian perikatan, dalam suatu perikatan terdapat hak pada satu pihak dan kewajiban pada pihak yang lain. Hak dan kewajiban tersebut muncul dari suatu hubungan hukum. Suatu hubungan hukum, dinyatakan suatu perikatan dalam pengertian hukum jika hak dan kewajiban yang ditimbulkan dapat dinilai dengan uang. Pengertian perjanjian mengandung unsur : a. Perbuatan Penggunaan kata Perbuatan pada perumusan tentang Perjanjian ini lebih tepat jika diganti dengan kata perbuatan hukum atau tindakan hukum, karena perbuatan tersebut membawa akibat hukum bagi para pihak yang memperjanjikan; b. Satu orang atau lebih terhadap satu orang lain atau lebih, Untuk adanya suatu perjanjian, paling sedikit harus ada dua pihak yang saling berhadap-hadapan dan saling memberikan pernyataan yang cocok/pas satu sama lain. Pihak tersebut adalah orang atau badan hukum. c. Mengikatkan dirinya, Di dalam perjanjian terdapat unsur janji yang diberikan oleh pihak yang satu kepada pihak yang lain. Dalam perjanjian ini orang terikat kepada akibat hukum yang muncul karena kehendaknya sendiri. Sebelum suatu perjanjian disusun perlu diperhatikan identifikasi para pihak, penelitian awal tentang masing-masing pihak sampai dengan konsekuensi yuridis yang dapat terjadi pada saat perjanjian tersebut dibuat. Setelah subjek hukum dalam perjanjian telah jelas, termasuk mengenai kewenangan hukum masing-masing pihak, maka pembuat perjanjian harus menguasai materi atas perjanjian yang akan dibuat oleh para pihak. Dua hal paling penting dalam perjanjian adalah objek dan hakikat daripada perjanjian serta syaratsyarat atau ketentuan yang disepakati.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 30

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Salah satu unsur dari suatu perikatan adalah prestasi. Prestasi adalah isi perikatan. Macam prestasi dalam perjanjian antara lain: 1. 2. Memberikan sesuatu Misalnya: membayar harga, menyerahkan barang, dll. Melakukan suatu perbuatan Misalnya: memperbaiki barang yang rusak, membongkar bangunan, menjadi kuasa, dll. 3. Tidak melakukan suatu perbuatan Misalnya tidak menggunakan merek dagang tertentu, tidak mendirikan bangunan, dll.

SYARAT SAHNYA PERJANJIAN


Perjanjian atau kontrak adalah suatu hal yang sudah lazim dilihat dan dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam praktek kehidupan sehari-hari. Perjanjian ini dapat berbentuk perjanjian jual-beli, perjanjian sewa menyewa, perjanjian ketenaga kerjaan ataupun bentuk-bentuk perjanjian lainnya. Ketentuan hukum yang mengatur tentang sah atau tidak-nya suatu perjanjian adalah Pasal 1320 Kitab Undang-undang Hukum Perdata ( burgerleijk wetboek) dimana terdapat empat unsur yang merupakan satu kesatuan sebagai syarat sahnya suatu perjanjian, yaitu: 1. Kata Sepakat Sepakat maksudnya adalah bahwa para pihak yang mengadakan perjanjian itu harus bersepakat, setuju untuk seia sekata mengenai segala sesuatu yang diperjanjikan. Kata sepakat ini harus diberikan secara bebas, artinya tidak ada pengaruh dipihak ketiga dan tidak ada gangguan. Apa yang dikehendaki oleh pihak satu juga dikehendaki oleh pihak yang lain. Proses terjadinya kesepakatan umumnya diawali dengan pemberitahuan tentang maksud oleh satu pihak kepada pihak yang lainnya (intent), kemudian pihak lainnya akan membalas dengan mengajukan penawaran (offer). Apabila penawaran tersebut disetujui maka pihak yang ditujuh penwaran tersebut akan menerimanya (acceptance). KUHPerdata Indonesia Pasal 1321 menyebutkan 3 (tiga) alasan untuk pembatalan perjanjian karena tidak adanya kesepakatan, yaitu : a. Kekhilafan/ kesesatan (dwaling), jo Pasal 1322 KUHPerdata Indonesia

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 31

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

b. Paksaan (dwang), jo Pasal 1323, 1324, 1325, 1326 dan 1327 KUHPerdata Indonesia c. Penipuan (bedrog), jo Pasal 1328 KUHPerdata Indonesia Terpenuhi atau tidaknya syarat kesepakatan ini semata-mata ditentukan oleh para pihak atau subjek perjanjian. Dengan demikian syarat kesepakatan ini disebut sebagai syarat subjektif. 2. Kecakapan Pada dasarnya setiap orang dianggap cakap atau mampu untuk membuat perjanjian kecuali ditentukan lain oleh Undang-undang ( general legal presumption). Prinsip ini tertuang dalam Pasal 1329 KUHPerdata Indonesia, yang menyatakan bahwa : Setiap orang adalah cakap untuk membuat perikatan-perikatan jika oleh Undang-undang tidak dinyatakan tak cakap. Selanjutnya dalam Pasal 1330 KUHPerdata disebutkan kualifikasi orang yang termasuk dalam kategori tidak cakap menurut hukum, yaitu :

a. Orang-orang yang belum dewasa (minderjarig); Kriteria dari orang-orang yang belum dewasa ini sendiri tergantung dari Undang-undang memaksa yang mengatur untuk setiap karakteristik perjanjian tertentu. Mengenai kedewasaan Undang-undang menentukan sebagai berikut: - Menurut Pasal 330 KUH Perdata, kecakapan diukur bila para pihak yang membuat perjanjian telah berumur 21 tahun atau kurang dari 21 tahun tetapi sudah menikah dan sehat pikirannya. - Menurut Pasal 47 Undang-undang No.1 tahun 1974 tertanggal 2 Januari 1974 tentang Undang-Undang Perkawinan (Undang-undang Perkawinan), usia dewasa adalah minimal berumur 18 tahun atau belum berumur 18 tahun tapi telah menikah. - Sedangkan menurut Pasal 39 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris menyatakan bahwa penghadap (untuk membuat akta perjanjian) harus berusia minimal 18 tahun atau telah menikah. b. Mereka yang ditaruh di bawah pengampuan (curatele); Menurut Pasal 433 KUHPerdata Indonesia, orang-orang yang diletakkan di bawah pengampuan adalah setiap orang dewasa yang selalu berada dalam keadaan dungu, sakit otak atau mata gelap dan boros. Dalam hal ini pembentuk Undang-undang memandang bahwa yang bersangkutan tidak

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 32

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

mampu menyadari tanggung jawabnya dan karena itu tidak cakap bertindak untuk mengadakan perjanjian. Apabila seorang yang belum dewasa dan mereka yang diletakkan di bawah pengampuan itu mengadakan perjanjian, maka yang mewakilinya masing-masing adalah orang tuanya atau pengampunya. Mengenai penentuan cakap atau tidaknya para pihak yang mengikatkan dirinya dalam perjanjian, maka arus dilihat berdasarkan peraturan perundangundangan yang menaunginya. Dewasa ini pernyataan kecakapan harus disertai dengan pernyataan itikad baik. Pernyataan itikad baik yang dimaksud adalah dengan tegas menyebut dasar bertindak para pihak berdasarkan kualifikasi sahnya menjadi para pihak berdasarkan peraturan perundang-undangan di dalam perjanjian. Misalnya tanggal untuk perseroan terbatas, PT maka menurut perseroan hukum terbatas Indonesia, dalam nomor penyebutan para pihak harus secara jelas dan tegas menyebutkan mengenai pengesahannya menjadi pendaftarannya beserta notaris yang menjadi medianya. c. Orang-orang perempuan Mengenai hal ini tidak lagi masuk dalam kualifikasi orang yang tidak cakap melakukan perbuatan hukum. Di mana sejak tahun 1963 dengan dikeluarkannya Surat Edaran Mahkamah Agung No. 3 Tahun 1963 yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi di selutuh Indonesia, kedudukan wanita yang telah bersuami itu diangkat ke derajat yang sama dengan pria. Dengan demikian untuk mengadakan perbuatan hukum dan menghadap di depan pengadilan ia tidak memerlukan bantuan suaminya lagi. 3. Hal Tertentu Secara yuridis suatu perjanjian harus mengenai hal tertentu yang telah disetujui. Suatu hal tertentu disini adalah objek perjanjian dan isi perjanjian. Setiap perjanjian harus memiliki objek tertentu, jelas, dan tegas. Dalam perjanjian penilaian, maka objek yang akan dinilai haruslah jelas dan ada, sehingga tidak mengira-ngira. KUHPerdata Indonesia menentukan kualifikasi benda yang tidak dapat dijadikan objek perjanjian. Benda-benda itu adalah benda-benda yang dipergunakan untuk kepentingan umum. Objek suatu perjanjian sekurangkurangnya harus dapat ditentukan. KUHPerdata Pasal 1332 menyatakan bahwa hanya barang yang dapat diperdagangkan saja yang dapat menjadi objek perjanjian.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 33

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

KUHPerdata

Pasal

1333 menyatakan

bahwa

suatu

perjanjian

harus

mempunyai objek berupa suatu barang yang paling sedikit dapat ditentukan jenisnya. Jumlah barang tersebut tidak perlu pasti, asal saja jumlah itu kemudian dapat ditentukan atau dihitung. Selain itu, terkait dengan barang yang menjadi objek perjanjian ini, KUHPerdata Pasal 1334 menyatakan bahwa barang yang baru ada pada waktu yang akan datang, dapat menjadi pokok suatu Perjanjian. Akan tetapi seseorang tidak diperkenankan untuk metepaskan suatu warisan yang belum terbuka, ataupun untuk menentukan suatu syarat dalam perjanjian mengenai warisan itu, sekalipun dengan persetujuan orang yang akan meninggalkan warisan yang menjadi objek perjanjian itu. 4. Sebab yang Halal Sebab yang dimaksud adalah isi perjanjian itu sendiri atau tujuan dari para pihak yang mengadakan perjanjian, yaitu mempunyai dasar yang sah dan patut atau pantas. Halal adalah tidak bertentangan dengan undang-undang, ketertiban umum, dan kesusilaan. Menurut Pasal 1337 KUHPerdata, sebab yang tidak halal ialah jika ia dilarang oleh Undang Undang, bertentangan dengan tata susila atau ketertiban. Menurut Pasal 1335 KUHPerdata, perjanjian tanpa sebab yang palsu atau dilarang tidak mempunyai kekuatan atau batal demi hukum. Akibat Hukum Syarat Tidak Terpenuhi Dua syarat yang pertama yaitu kesepakatan dan kecakapan yang disebut syarat- syarat subyektif. Sedangkan dua syarat yang terakhir dinamakan syarat objektif, karena mengenai perjanjian itu sendiri atau obyek dari perbuatan hukum yang dilakukan. Dalam hal tidak terpenuhinya unsur pertama (kesepakatan) dan unsur kedua (kecakapan) maka kontrak tersebut dapat dibatalkan. Artinya salah satu pihak mempunyai hak untuk meminta supaya perjanjian tersebut dibatalkan. Pihak yang dapat meminta pembatalan tersebut adalah pihak yang tidak cakap atau pihak yang memberikan sepakatnya secara tidak bebas. Jadi perjanjian yang telah dibuat tetap bersifat mengikat selama tidak ada pembatalan (oleh hakim) berdasarkan permintaan pihak yang berhak (voidable). Sedangkan apabila tidak terpenuhinya unsur ketiga (suatu hal tertentu) dan unsur keempat (suatu sebab yang halal) maka kontrak tersebut adalah batal demi hukum. Artinya dari semula tidak pernah dilahirkan suatu perjanjian dan tidak pernah ada suatu perikatan. Tujuan para pihak yang mengadakan perjanjian tersebut untuk melahirkan suatu perikatan adalah gagal. Dengan demikian tidak ada dasar untuk saling menuntut di depan hakim (null and void).

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 34

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Contoh: Dalam melakukan perjanjian pengadaan barang, antara TPK (Tim Pelaksana Kegiatan) dengan supplier, maka harus memenuhi unsur-unsur: N o 1. Syarat Kata sepakat Penjelasan Contoh TPK sepakat untuk membeli sejumlah barang dengan biaya tertentu dan supplier sepakat untuk menyuplai barang dengan pembayaran tersebut. Tidak ada unsur paksaan 2. Kecakapan terhadap kedua belah pihak. TPK dan supplier telah dewasa, tidak dalam pengawasan atau karena perundangundangan, tidak dilarang untuk 3. 4. Suatu membuat perjanjian. Hal Barang yang akan dibeli/disuplai jelas, apa, berapa dan bagaimana. Tujuan perjanjian jual beli tidak dimaksudkan untuk rekayasa atau untuk kejahatan tertentu (contoh: TPK dengan sengaja bersepakat dengan supplier untuk membuat kuitansi dimana nilai harga lebih besar dari harga sesungguhnya).

Tertentu Sebab yang Halal

ASAS-ASAS HUKUM PERJANJIAN


1. Asas Kebebasan Berkontrak (freedom of contract) Asas kebebasan berkontrak dapat dianalisis dari ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUHPer, yang berbunyi: Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Asas ini merupakan suatu asas yang memberikan kebebasan kepada para pihak untuk:

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 35

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

a. b. c. d.

membuat atau tidak membuat perjanjian; mengadakan perjanjian dengan siapa pun; menentukan isis perjanjian, pelaksanaan, dan persyaratannya, serta menentukan bentuk perjanjiannya apakah tertulis atau lisan. Latar belakang lahirnya asas kebebasan berkontrak adalah adanya paham

individualisme yang secara embrional lahir dalam zaman Yunani, yang diteruskan oleh kaum Epicuristen dan berkembang pesat dalam zaman renaissance melalui antara lain ajaran-ajaran Hugo de Grecht, Thomas Hobbes, John Locke dan J.J. Rosseau.[18] Menurut paham individualisme, setiap orang bebas untuk memperoleh apa saja yang dikehendakinya. Dalam hukum kontrak asas ini diwujudkan dalam kebebasan berkontrak. Teori leisbet fair ini menganggap bahwa the invisible hand akan menjamin kelangsungan jalannya persaingan bebas. Karena pemerintah sama sekali tidak boleh mengadakan intervensi didalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Paham individualisme memberikan peluang yang luas kepada golongan kuat ekonomi untuk menguasai golongan lemah ekonomi. Pihak yang kuat menentukan kedudukan pihak yang lemah. Pihak yang lemah berada dalam cengkeraman pihak yang kuat sperti yang diungkap dalam exploitation de homme par lhomme. Pada akhir abad ke-19, akibat desakan paham etis dan sosialis, paham individualisme mulai pudar, terlebih-lebih sejak berakhirnya Perang Dunia II. Paham ini kemudian tidak mencerminkan keadilan. Masyarakat menginginkan pihak yang lemah lebih banyak mendapat perlindungan. Oleh karena itu, kehendak bebas tidak lagi diberi arti mutlak, akan tetapi diberi arti relatif dikaitkan selalu dengan kepentingan umum. Pengaturan substansi kontrak tidak semata-mata dibiarkan kepada para pihak namun perlu juga diawasi. Pemerintah sebagai pengemban kepentingan umum menjaga keseimbangan kepentingan individu dan kepentingan masyarakat. Melalui penerobosan hukum kontrak oleh pemerintah maka terjadi pergeseran hukum kontrak ke bidang hukum publik. Oleh karena itu, melalui intervensi pemerintah inilah terjadi pemasyarakatan (vermastchappelijking) hukum kontrak/perjanjian. 2. Asas Konsensualisme (concensualism) Asas konsensualisme dapat disimpulkan dalam Pasal 1320 ayat (1) KUHPer. Pada pasal tersebut ditentukan bahwa salah satu syarat sahnya perjanjian adalah adanya kata kesepakatan antara kedua belah pihak. Asas ini merupakan asas

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 36

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

yang menyatakan bahwa perjanjian pada umumnya tidak diadakan secara formal, melainkan cukup dengan adanya kesepakatan kedua belah pihak. Kesepakatan adalah persesuaian antara kehendak dan pernyataan yang dibuat oleh kedua belah pihak.Asas konsensualisme muncul diilhami dari hukum Romawi dan hukum Jerman. Didalam hukum Jerman tidak dikenal istilah asas konsensualisme, tetapi lebih dikenal dengan sebutan perjanjian riil dan perjanjian formal. Perjanjian riil adalah suatu perjanjian yang dibuat dan dilaksanakan secara nyata (dalam hukum adat disebut secara kontan). Sedangkan perjanjian formal adalah suatu perjanjian yang telah ditentukan bentuknya, yaitu tertulis (baik berupa akta otentik maupun akta bawah tangan). Dalam hukum Romawi dikenal istilah contractus verbis literis dan contractus innominat. Yang artinya bahwa terjadinya perjanjian apabila memenuhi bentuk yang telah ditetapkan. Asas konsensualisme yang dikenal dalam KUHPer adalah berkaitan dengan bentuk perjanjian. 3. Asas Kepastian Hukum (pacta sunt servanda) Asas kepastian hukum atau disebut juga dengan asas pacta sunt servanda merupakan asas yang berhubungan dengan akibat perjanjian. Asas pacta sunt servanda merupakan asas bahwa hakim atau pihak ketiga harus menghormati substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak, sebagaimana layaknya sebuah undang-undang. Mereka tidak boleh melakukan intervensi terhadap substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak. Asas pacta sunt servanda dapat disimpulkan dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPer. Asas ini pada mulanya dikenal dalam hukum gereja. Dalam hukum gereja itu disebutkan bahwa terjadinya suatu perjanjian bila ada kesepakatan antar pihak yang melakukannya dan dikuatkan dengan sumpah. Hal ini mengandung makna bahwa setiap perjanjian yang diadakan oleh kedua pihak merupakan perbuatan yang sakral dan dikaitkan dengan unsur keagamaan. Namun, dalam perkembangan selanjutnya asas pacta sunt servanda diberi arti sebagao pactum, yang berarti sepakat yang tidak perlu dikuatkan dengan sumpah dan tindakan formalitas lainnya. Sedangkan istilah nudus pactum sudah cukup dengan kata sepakat saja. 4. Asas Itikad Baik (good faith) Asas itikad baik tercantum dalam Pasal 1338 ayat (3) KUHPer yang berbunyi: Perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik. Asas ini merupakan asas bahwa para pihak, yaitu pihak kreditur dan debitur harus melaksanakan substansi kontrak berdasarkan kepercayaan atau keyakinan yang teguh maupun kemauan baik dari para pihak. Asas itikad baik terbagi menjadi dua macam, yakni itikad baik nisbi dan itikad baik mutlak. Pada itikad yang

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 37

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

pertama, seseorang memperhatikan sikap dan tingkah laku yang nyata dari subjek. Pada itikad yang kedua, penilaian terletak pada akal sehat dan keadilan serta dibuat ukuran yang obyektif untuk menilai keadaan (penilaian tidak memihak) menurut norma-norma yang objektif.Berbagai putusan Hoge Raad (HR) yang erat kaitannya dengan penerapan asas itikad baik dapat diperhatikan dalam kasus-kasus posisi berikut ini. Kasus yang paling menonjol adalah kasus Sarong Arrest dan Mark Arrest. Kedua arrest ini berkaitan dengan turunnya nilai uang (devaluasi) Jerman setelah Perang Dunia I.[19] Kasus Sarong Arrest: Pada tahun 1918 suatu firma Belanda memesan pada pengusaha Jerman sejumlah sarong dengan harga sebesar 100.000 gulden. Karena keadaan memaksa sementara, penjual dalam waktu tertentu tidak dapat menyerahkan pesanan. Setelah keadaan memaksa berakhir, pembeli menuntut pemenuhan prestasi. Tetapi sejak diadakan perjanjian keadaan sudah banyak berubah dan penjual bersedia memenuhi pesanan tetapi dengan harga yang lebih tinggi, sebab apabila harga tetap sama maka penjual akan menderita kerugian, yang berdasarkan itikad baik antara para pihak tidak dapat dituntut darinya. Pembelaan yang penjual ajukan atas dasar Pasal 1338 ayat (3) KUHPer dikesampingkan oleh HR dalam arrest tersebut. Menurut putusan HR tidak mungkin satu pihak dari suatu perikatan atas dasar perubahan keadaan bagaimanapun sifatnya, berhak berpatokan pada itikad baik untuk mengingkari janjinya yang secara jelas dinyatakan HR masih memberi harapan tentang hal ini denga memformulasikan: mengubah inti perjanjian atau mengesampingkan secara keseluruhan. Dapatkah diharapkan suatu putusan yang lebih ringan, jika hal itu bukan merupakan perubahan inti atau mengesampingkan secara keseluruhan. Putusan HR ini selalu berpatokan pada saat dibuatnya oleh para pihak Apabila pihak pemesan sarong sebanyak yang dipesan maka penjual harus melaksanakan isi perjanjian tersebut, karena didasarkan bahwa perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik. Kasus Mark Arrest: Sebelum Perang Dunia I, seorang warganegara Jerman memberi sejumlah pinjaman uang kepada seorang warganegara Belanda pada tahun 1924. dari jumlah tersebut masih ada sisa pinjaman tetapi karena sebagai akibat peperangan nilai Mark sangat menurun, maka dengan jumlah sisa tersebut hampir tidak cukup untuk membeli prangko sehingga dapat dimengerti kreditur meminta pembayaran jumlah yang lebih tinggi atas dasar devaluasi tersebut.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 38

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Namun, Pasal 1757 KUHPer menyatakan Jika saat pelunasan terjadi suatu kenakan atau kemunduran harga atau ada perubahan mengenai berlakunya mata uang maka pengembalian jumlah yang dipinjam harus dilakukan dalam mata uang yang berlaku pada saat itu. Hoge Raad menimbang bahwa tidak nyata para pihak pada waktu mengadakan perjanjian bermaksud untuk mengesampingkan ketentuan yang bersifat menambah dan memutuskan bahwa orang Belanda cukup mengembalikan jumlah uang yang sangat kecil itu. Menurut Hakim pada badan peradilan tertinggi ini, tidak berwenang atas dasar itikad baik atau kepatutan mengambil tindakan terhadap undang-undang yang bersifat menambah.Putusan Mark Arrest ini sama dengan Sarong Arrest bahwa hakim terikat pada asa itikad baik, artinya hakim dalam memutus perkara didasarkan pada saat terjadinya jual beli atau saat penjam-meminjam uang. Apabila orang Belanda meminjam uang sebanyak 1000 gulden, maka orang Belanda tersebut harus mengembalikan sebanyak jumlah uang diatas, walaupun dari pihak peminjam berpendapat bahwa telah terjadi devaluasi uang.Berbeda dengan kondisi di Indonesia pada tahun 1997 dimana kondisi negara pada saat itu mengalami krisis moneter dan ekonomi. Pihak perbankan telah mengadakan perubahan suku bunga bank secara sepihak tanpa diberitahu kepada nasabah. Pada saat perjanjian kredit dibuat, disepakati suku bunga bank sebesar 16 % per tahun, akan tetapi setelah terjadi krisis moneter, suku bunga bank naik menjadi 21-24 % per tahun. Hal ini menandakan bahwa pihak nasabah berada pada pihak yang dirugikan karena kedudukan nasabah berada pada posisi yang lemah (low bargaining posistion). Oleh karena itu, pada masa-masa yang akan datang pihak kreditur harus melaksanakan isi kontrak sesuai dengan yang telah disepakatinya, yang dilandasi pada asas itikad baik. 5. Asas Kepribadian (personality) Asas kepribadian merupakan asas yang menentukan bahwa seseorang yang akan melakukan dan/atau membuat kontrak hanya untuk kepentingan perseorangan saja. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal 1315 dan Pasal 1340 KUHPer. Pasal 1315 KUHPer menegaskan: Pada umumnya seseorang tidak dapat mengadakan perikatan atau perjanjian selain untuk dirinya sendiri. Inti ketentuan ini sudah jelas bahwa untuk mengadakan suatu perjanjian, orang tersebut harus untuk kepentingan dirinya sendiri. Pasal 1340 KUHPer berbunyi: Perjanjian hanya berlaku antara pihak yang membuatnya. Hal ini mengandung maksud bahwa perjanjian yang dibuat oleh para pihak hanya berlaku bagi mereka yang membuatnya.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 39

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Namun demikian, ketentuan itu terdapat pengecualiannya sebagaimana diintridusir dalam Pasal 1317 KUHPer yang menyatakan: Dapat pula perjanjian diadakan untuk kepentingan pihak ketiga, bila suatu perjanjian yang dibuat untuk diri sendiri, atau suatu pemberian kepada orang lain, mengandung suatu syarat semacam itu. Pasal ini mengkonstruksikan bahwa seseorang dapat mengadakan perjanjian/kontrak untuk kepentingan pihak ketiga, dengan adanya suatu syarat yang ditentukan. Sedangkan di dalam Pasal 1318 KUHPer, tidak hanya mengatur perjanjian untuk diri sendiri, melainkan juga untuk kepentingan ahli warisnya dan untuk orang-orang yang memperoleh hak daripadanya. Jika dibandingkan kedua pasal itu maka Pasal 1317 KUHPer mengatur tentang perjanjian untuk pihak ketiga, sedangkan dalam Pasal 1318 KUHPer untuk kepentingan dirinya sendiri, ahli warisnya dan orang-orang yang memperoleh hak dari yang membuatnya. Dengan demikian, Pasal 1317 KUHPer mengatur tentang pengecualiannya, sedangkan Pasal 1318 KUHPer memiliki ruang lingkup yang luas. 6. Asas Kesetaraan Asas ini menempatkan para pihak di dalam persamaan derajat, tidak ada perbedaan, walaupun ada perbedaan kulit, bangsa, kekayaan, kekuasaan, jabatan dan lain-lain. Masing-masing pihak wajib melihat adanya persamaan ini dan mengaharuskan kedua pihak untuk menghormati satu sama lain sebagai manusia ciptaan Tuhan. Asas ini dimaksudkan agar program kemitraan dapat memberikan keuntungan yang adil bagi semua pihak. Karena kemitraan pada hakikatnya adalah sebuah kerjasama bisnis untuk tujuan tertentu dan antara pihak yang bermitra harus mempunyai kepentingan dan posisi yang sejajar. Dengan ketentuan ini maka ditekankan pada adanya kesetaraan dalam posisi tawar atau posisi tawar menawar yang seimbang. 7. Asas Unconcionability Menurut Sutan Remy Sjahdeini, u nconscionable artinya bertentangan dengan hati nurani. Perjanjian-perjanjian unconscionable seringkali digambarkan sebagai perjanjian-perjanjian yang sedemikian tidak adil (unfair) sehingga dapat mengguncangkan hati nurani Pengadilan (Hakim) atau shock the conscience of the court. Sebenarnya terhadap asas ini tidak mungkin diberikan arti yang tepat, yang diketahui hanyalah tujuannya yaitu untuk mencegah penindasan dan kejutan yang tidak adil. Sedangkan menurut Mariam Darus Badrulzaman 16, unconscionability atau doktrin ketidakadilan adalah suatu doktrin dalam ilmu hukum kontrak yang

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 40

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

mengajarkan bahwa suatu kontrak batal atau dapat dibatalkan oleh pihak yang dirugikan manakala dalam kontrak tersebut terdapat klausula yang tidak adil dan sangat memberatkan salah satu pihak, sungguhpun kedua belah pihak telah menandatangani kontrak yang bersangkutan. Biasanya doktrin ketidakadilan (unconscionability) ini mengacu kepada posisi tawar menawar dalam kontrak tersebut yang sangat berat sebelah karena tidak terdapat pilihan dari pihak yang dirugikan disertai dengan klausula dalam kontrak yang sangat tidak adil sehingga memberikan keuntungan yang tidak wajar bagi pihak lain. 8. Asas Subsidaritas Asas subsidaritas mengandung pengertian bahwa pengusaha menegah atau pengusaha besar merupakan salah satu faktor dalam rangka memberdayakan usaha kecil tentunya sesuai kemampuan dan kompetensi yang dimiliki dalam mendukung mitra usahanya sehingga mampu dan dapat mengembangkan diri menuju kemandirian. 9. Asas Kebersamaan Kebersamaan atau rasa solidaritas dalam hubungan kemitraan hendaknya ditanamkan sehingga akan timbul rasa saling membutuhkan diantara kedua belah pihak, yaitu saling membutuhkan dalam kesatuan hubungan untuk melaksanakan selp dan otoaktiva guna kepentingan bersama. 10. Asas Sukarela Sebagai pemrakarsa atau mitra usaha dalam kemitraan usaha nasional bukanlah suatu kewajiban yang bersifat mutlak bagi setiap perusahaan, tetapi hal ini hanya dilandasi oleh rasa tanggung jawab sosial dari perusahaan besar terhadap lingkungan tempat berusahanya. 11. Asas Keuntungan Timbal Balik Kemitraan usaha nasional ini dibina dan dikembangkan untuk memberikan manfaat bagi kedua belah pihak yang bermitra. Keuntungan timbal balik sebagai dasar untuk menjalin kemitraan yang langgeng. 12. Asas Desentralisasi Pemerintah dalam hal ini memberikan wewenang dan kebebasan kepada setiap usaha besar ataupun usaha menengah bersama mitra usahanya untuk mendisain dan merancang sendiri pola kemitraan yang akan dilakukan sesuai dengan kesepakatan antara masing-masing pihak yang bermitra. Dari kesemua asas-asas hukum tersebut di atas terdapat asas-asas yangsifatnya lex generalis, yaitu asas-asas hukum perjanjian yang pada umumnya yaitu asas nomor 1 5, dan selebihnya merupakan asas-asas yang sifatnya lex spesialis dalam kemitraan.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 41

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 42

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

MACAM-MACAM PERIKATAN
A. Menurut Ilmu Pengetahuan Hukum Perdata Perikatan dapat dibedakan atas beberapa macam : 1. Menurut isi daripada prestasinya : a. Perikatan positif dan negative Ialah perikatan yang prestasinya berupa perbuatan positif yaitu memberi sesuatu dan berbuat sesuatu sedangkan positif negatif adalah perikatan yang prestasinya berupa sesuatu perbuatan yang negatif yaitu tidak berbuat sesuatu. b. Perikatan sepintas lalu dan berkelanjutan Perikatan sepintas lalu adalah perikatan yang pemenuhan prestasinya cukup hanya dilakukan dengan satu perbuatan saja dan waktu yang singkat tujuan perikatan telah tercapai sedangkan perikatan berkelanjutan adalah perikatan prestasinya berkelanjutan untuk beberapa waktu, misalnya perikatan yang timbul dari perjanjian-perjanjian sewa-menyewa dan perburuhan. c. Perikatan alternative Ialah perikatan dimana debitur dibebaskan untuk memenuhi satu dari dua atau lebih prestasi yang disebutkan dalam perjanjian. d. Perikatan fakultatif Ialah perikatam yang hanya mempunyai satu objek prestasi, dimana debitur mempunyai hak untuk mengganti dengan prestasi yang lain, bilamana debitur tidak mungkin memenuhi prestasi yang telah ditentukan semula. e. Perikatan generic dan specific Perikatan generic adalah perikatan dimana objeknya hanya ditentuka jenis dan jumlahnya berang yang harus diserahakan debitur kepada kreditur, misalnya penyerahan sebanyak beras sebanyak 10 ton. Sedangkan perikatan specifik adalah perikatan dimana objeknya ditentukan secara terperinci sehingga nampak ciri-ciri khususnya. Misalnya debitur diwajibkan menyerahkan beras sebnayak 10 ton dari cianjur kualitet ekspor nomor 1. f. Perikatan yang dapat dibagi dan yang tidak dapat dibagi. Perikatan yang dapat di bagi adalah perikatan yang prestasinya dapat dibagi, pembagian mana tidak boleh mengurangi hakikat prestasi itu. Sedangkan perikatan yang tidak dapat dibagi adalah perikatan yang prestasinya tidak dapat dibagi. 2. Menurut subjeknya : a. Perikatan tanggung-menanggung

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 43

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Ialah perikatan dimana debitur dan / atau krediturnya terdiri dari beberapa orang. Selanjutnya mengenai perikatan tanggung-menaggung ini lihat pasal 1749 dan 1836 BW serta pasal 18 KUHDagang. b. Perikatan pokok dan tambahan Perikatan pokok adalah perikatan antara debitur dan kreditur yang berdiri sendiri tanpa tergantung pada adanya perikatan yang lain contohnya, perjajian peminjaman uang. Sedangkan perikatan tambahan ialah perikatan antara debitur dan kreditur yang diadakan sebagai perikata tambahan daripada perikatan pokok contohnya, perjanjian gadai, hipotik dan credietverband. 3. Menurut mulai berlakunya dan berakhirnya : a. Perikatan bersyarat Ialah perikatan yang lahirnya maupun berakhirnya (batalnya) digantungkan pada suatu peristiwa yang belum dan tidak tentu akan terjadi. Apa yang telah disebut syarat, telah ditentukan dalam pasal 1253 yaitu ; digantungkan pada suatu peristiwa yang akan datang dan belum pasti terjadi. Syarat itu ada dua macam yaitu : 1) Syarat yang menangguhkan bermaksud apabila syarat itu dipenuhi maka perikatan menjadi berlaku.contohnya ; A akam menjual rumah kepada B kalau A jadi dipindah atau tidak, tergantung dari jawatannya, jadi belum pasti terjadi. Kalau A jadi dipindah ke Jakarta, maka perikatan berlaku, yaitu A harus menjual rumahnya kepada B. 2) Syarat yang memutus (membatalkan) apabila syarat itu dipenuhi perikatan menjadi putus atau batal. Contohya : A akan menyewakan rumahnya kepada B asal tidak dipakai untuk gudang. Kalau B mempergunakan rumah itu untuk gudang berarti syarat itu telah dipenuhi dan perikatan menjadi putus dan pemuliahan dalam kedaan semula seperti tida pernah terjadi perikatan. Syarat-syarat yang tidak mungkin dan syarat-syarat bertentangan dengan kesusilaan .Pasal 1354 menentukan bahwa perikatan yang bertujuan melakukan yang tidak mungki terlaksana, bertentangan dengan kesusilaan dan yang dilarang oleh undang-undangadalah bartal. Syarat yang tidak mungkin terlaksana berarti secara objektif syarat itu tidak mungkin dipenuhi. Syarat-syarat dibedakan menurut isinya : 1) Syarat yang potestatif ialah syarat yang pemenuhannya tergantung dari kekuasaan salah satu pihak. Contohnya : dari pasal 1256, saya akan memeberi barang kepadamu kalau engkau maum, perikatan demikian adalah batal.sebetlnya contoh tersebut perikatan tidak terjadi, juga tidaka akan timbul perikatan bersyarat kalau dibaca ayat 2 pasal 1256 maka disitu agak jelas

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 44

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

maksudnya namun masihmenimbulkan keragu-raguan juga. Dinyatakn bahwa perikatan adala syath apabila tergantung dari perbuatan orang yang terikat. Contohnya : saya akan menjual barang ini kalau engkau membayar harganya Rp. 10.000, jadi tidak hanya tergantung pada kemauan saja, tetapi juga pada kemampuannnya untuk membayar. 2) Syarat yang kebetulan ialah syarat yang pemenuhannya tidak tergantung dari kekusaan kedua belah pihak. Contohnya : saya akan memberi rumah kepadamu, apabila tahun ini pecah perang. 3) Syarat yang campuran ialah syarat yang pemenuhannya tegantung dari kemauan salah satu pihak juga tergantung dari kemauan pihak ketiga bersamasama. Contohnya ; A akan memberi rumah kepada B, kalau B mau kawin dengan kemenakannya. Jadi syarat ini tergantung dari B juga tergantung dari kemenakannya. b. Perikatan dengan ketetapan waktu. Ialah perikatan yang pelaksaannya ditangguhkan sampai pada suatu waktu yang ditentukan yang pasti akan tiba, meskipun mungkin belum dapat dipastikan kapan waktu yang dimaksudkan akan tiba. Perikatan dengan ketentuan waktu apabila pelaksanaan dari perikatan ditangguhkan sampai waktu yang tertentu atau berlakunya perikatan sampai waktu yang tertentu atau berlakunya perikatan akan berakhir (terputus) samapai waktu yang ditentukan itu telah tiba. Ketentuan waktu dapat dibagi menjadi 2, yaitu: 1) ketentuan waktu yang menagguhkan 2) ketentuan waktu yang memutus yaitu perjanjian kerja untuk waktu I tahun atau sampai meninggalnya si buruh. Perikatan dengan ketentuan waktu adalah adanya kepastian bahwa waktu itu akan tiba. Ketentuan itu dapat tetap maksudnya adalah adanya penyerahan barang dilakukan tanggal 1 januari yang akan dating atau 14 hari lagi. Ketentuan waktu yang tidak tetap maksudnya adalah yaitu A akan memberikan rumah kepada B kalu A mati, kematian A adalah pasti, tetapi kapan rumah itu terjadi adalah tidak dapat ditetapkan. Akibat hokum dari perikatan dengan ketentuan waktu adalah bermacammacam . undang-undang mengatur bahwa ketentuan waktu itu adalah untuk keuntungan dari debitur, kecuali kalau ditentuka lain pasal 1270. B. Menurut undang-undang, perikatan dapat dibedakan atas beberapa macam sebagai berikut : 1. Perikatan bersyarat

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 45

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

2. Peikatan manasuka (alternatif) 3. Perikatan tanggung-menanggung 4. Perikatan yang dapat dibagi dan yang tidak dapat dibagi 5. Perikatan dengan ancaman hukum

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 46

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

BERAKHIRNYA PERIKATAN
Adapun beberapa sebab hapusnya suatu perikatan, antara lain: 1. Karena Pembayaran Ps. 1382 Tiap Perikatan dapat dipenuhi oleh siapa saja yang berkepentingan, misalnya seorang yang berutang atau seorang penanggung utang. Suatu perikatan bahkan dapat dipenuhi juga oleh pihak ketiga, yang tidak mempunyai kepentingan, asal pihak ketiga tersebut bertindak atas nama dan untuk melunasi utang si berutang, jika ia bertindak atas namanya sendiri asal ia tidak menggantikan hak-hak si berpiutang. Ps 1400 Subrogasi atau penggantian hak-hak si berpiutang oleh seorang pihak ketiga, yang membayar kepada si berpiutang itu , terjadi baik dengan persetujuan maupun demi UU. Ps 1401 Penggantian yang terjadi dengan persetujuan: a. Apabila si berpiutang, dengan menerima pembayaran itu dari pihak ketiga, menetapkan bahwa orang ini akan menggantikan hak-haknya, gugatangugatannya, hak-hak istimewanya dan hipotik-hipotik yang dipunyainya terhadap si berutang. Subrogasi ini harus dinyatakan secara tegas dan dilakukan tepat pada waktu pembayaran. b. Apabila si berutang meminjam sejumlah uang untuk melunasi utangnya, dan menetapkan bahwa orang yang meminjami itu akan menggantikan hak-hak si berpiutang, maka subrogasi ini sah, baik perjanjian pinjam uang atau tanda pelunasan harus dibuat dengan akta otentik. Subrogasi ini dilaksanakan tanpa bantuan si berpiutang. Ps 1402 Subrogasi terjadi demi UU a. Untuk seorang yang, sedang ia sendiri orang berpiutang, melunasi seorang berpiutang lain, yang berdasarkan hak-hak istimewanya atau hipotik, memiliki suatu hak yang lebih tinggi. b. Untuk seorang pembeli suatu benda tak bergerak, yang telah memakai uang harta benda tersebut untuk melunasi orang-orang berpiutang, kepada siapa benda itu diperikatkan dengan hipotik. c. Untuk seorang yang bersama-sama dengan orang lain, atau orang-orang lain, diwajibkan membayar suatu utang, berkepentingan untuk melunasi utang itu

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 47

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

d. Untuk seorang ahli waris yang, sedang ia menerima suatu warisan dengan hak istimewa untuk mengadakan pencatatan tentang keadaan harta peninggalan, telah membayar utang-utang warisan dengan uangnya sendiri. 2. Penawaran Pembayaran Tunai, Diikuti Oleh Penyimpanan/ Penitipan Ps 1404 Jika si berpiutang menolak pembayaran, maka si berutang dapat melakukan penawaran Ps 1405 Agar penawaran tersebut sah, maka perlu: a. Bahwa ia dilakukan kepada seorang yang berpiutang atau kepada seorang yang berkuasa menerimanya untuk dia. b. Bahwa ia dilakukan oleh seorang yang berkuasa membayar c. Bahwa ia mengenai semua uang pokok dan bunga yang dapat ditagih, beserta biaya yang ditetapkan, beserta sejumlah uang untuk biaya yang belum ditetapkan, dengan tidak mengurangi penetapan kemudian. d. Bahwa ketetapan waktu telah tiba, jika itu dibuat untuk kepentingan si berpiutang e. Bahwa syarat dengan mana utang telah dibuat, telah terpenuhi f. Bahwa penawaran dilakukan di tempat, di mana menurut perjanjian pembayaran harus dilakukan. g. Bahwa penawaran itu dilakukan oleh seorang notaris atau juru sita, keduanya disertai oleh 2 orang saksi. Ps 1406 Agar suatu penyimpanan sah, maka: a. Penyimpanan tersebut didahului oleh suatu keterangan, (hari, jam, tempat, di mana barang yang ditawarkan akan disimpan) b. Si berutang telah melepaskan barang yang ditawarkan, dengan menitipkannya pada kas penyimpanan atau penitipan di kepaniteraan Pengadilan c. Bahwa oleh notaries atau juru sita, keduanya disertai oleh 2 orang saksi, dibuat sepucuk pemberitaan d. Jika si berpiutang tidak datang untuk menerimanya, pemberitaan penyimpanan itu diberitahukan kepadanya, dengan peringatan untuk mengambil apa yang telah dititipkan itu. Ps 1407 pembayaran tunai apa yang diutangnya, dan jika si berpiutang menolaknya, menitipkan uang atau barangnya ke Pengadilan

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 48

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelenggarakan penawaran pembayaran tunai dan penyimpanan, harus dipikul oleh si berpiutang, jika perbuatan-perbuatan itu telah dilakukan menurut UU,

Ps 1410 Para kawan berutang dan para penanggung utang dibebaskan juga, jika si berpiutang, semenjak hari pemberitahuan penyimpanan, telah melampaukan 1 tahun, tanpa menyangkal sahnya penyimpanan itu. 3. Tentang Pembaharuan Utang Ps 1413 Ada 3 macam jalan pembaharuan utang: a. Apabila seorang yang berutang membuat suatu perikatan utang baru guna orang yang mengutangkannya kepadanya, yang menggantikan utang yang lama, yang dihapuskan karenanya. b. Apabila seorang berutang baru ditunjuk untuk menggantikan orang berutang lama, yang oleh si berpiutang dibebaskan dari perikatannya c. Apabila, sebagai akibat dari suatu perjanjian baru, seorang berpiutang baru ditunjuk untuk menggantikan orang berpiutang lama, terhadap siapa si berutang dibebaskan dari perikatannya. Ps 1414 Pembaharuan utang hanya dapat terlaksana antara orang-orang yang cakap untuk mengadakan perikatan-perikatan. 4. Tentang Kompensasi Atau Perjumpaan Utang Ps 1425 Jika 2 orang saling berutang satu pada yang lain, maka utang-utang antara kedua orang tersebut dihapuskan Ps 1427 Perjumpaan utang hanya terjadi antara 2 utang yang keduanya berpokok sejumlah uang, atau suatu jumlah barang yang dapat dihabiskan dari jenis yang sama, dan kedua-duanya dapat ditetapkan serta ditagih seketika 5. Tentang Percampuran Utang Ps 1436 Apabila kedudukan-kedudukan sebagai orang berpiutang dan berutang berkumpul pada satu orang, maka terjadilah demi hukum suatu percampuran utang, dengan mana piutang dihapuskan. 6. Tentang Pembebasan Utang

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 49

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Ps 1442 a. Pembebasan suatu utang atau pelepasan menurut perjanjian, yang diberikan kepada si berutang utama, membebaskan para penanggung utang. b. Pembebasan yang diberikan kepada si penanggung utang, tidak membebaskan si berutang utama. c. Pembebasan yang diberikan kepada salah seorang penanggung utang, tidak membebaskan para penanggung lainnya. 7. Tentang Musnahnya Barang yang Terutang Ps 1444 Jika barang tertentu yang menjadi bahan perjanjian, musnah, tidak lagi dapat diperdagangkan, atau hilang, maka hapuslah perikatannya, asala barang itu musnah di luar salahnya si berutang, dan sebelum ia lalai menyerahkannya. Si berutang diwajibkan membuktikan kejadian yang tak terduga, yang dimajukan itu. 8. Tentang Kebatalan dan Pembatalan Perikatan Ps 1446 Semua perikatan yang dibuat oleh orang-orang yang belum dewasa atau orangorang yang ditaruh di bawah pengampuan, adalah batal demi hukum. Ps 1449 Perikatan-perikatan yang dibuat dengan paksaan, kekhilafan, atau penipuan, menerbitkan suatu tuntutan untuk membatalkannya. 9. Berlakunya suatu syarat batal: Adalah suatu syarat yang bila dipenuhi akan menghapuskan perjanjian danmembawa segala sesuatu pada keadaan semula, seolah-olah tidak ada suatu perjanjian (Pasal 1265 KUHPerdata). Biasanya syarat batal berlaku pada perjanjian timbal balik. Seperti pada perjanjian jual beli, sewa-menyewa dan lain-lain. Ps 1265 Suatu syarat batal adalah syarat yang bila dipenuhi akan menghapuskan perikatan dan membawa segala sesuatu kembali pada keadaan semula, seolah-olah tidak pernah ada suatu perikatan. Syarat ini tidak menunda pemenuhan perikatan; ia hanya mewajibkan kreditur mengembalikan apa yang telah diterimanya, bila peristiwa yang dimaksudkan terjadi. 10. Lewatnya waktu: Adalah suatu upaya untuk memperoleh sesuatu atau untuk dibebaskan dari suatu perikatan dengan lewatnya suatu waktu tertentu dan atas syarat-syarat yang ditentukan oleh undang-undang (Pasal 1946 KUHPerdata); Ps 1946

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 50

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Lewat waktu ialah suatu sarana hukum untuk memperoleh sesuatu atau suatu alasan untuk dibebaskan dari suatu perikatan dengan lewatnya waktu tertentu dan dengan terpenuhinya syarat-syarat yang ditentukan dalam undang-undang. Setiap perjanjian yang dibuat oleh para pihak, baik kontrak yang dibuat melalui akta di bawah tangan maupun yang dibuat oleh atau di muka pejabat yang berwenang telah ditentukan secara tegas jangka waktu dan tanggal berakhirnya perjanjian; Penentuan jangka waktu dan tanggal berakhirnya perjanjian dimaksudkan bahwa salah satu pihak tidak perlu memberitahukan tentang berakhirnya perjanjian tersebut. Sedangkan penentuan jangka waktu dan tanggal berakhirnya kontrak adalah didasarkan pada kemauan dan kesepakatan para pihak. Yang termasuk berakhirnya perikatan karena undang-undang adalah: (1) (2) (3) Konsignasi; Musnahnya barang terutang, dan Daluwarsa.

Yang termasuk berakhirnya perikatan karena perjanjian, adalah: (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Pembayaran; Novasi (pembaruan utang); Kompensasi; Konfusio (percampuran utang); Pembebasan utang; Pembatalan; dan Berlaku syarat batal.

BENTUK-BENTUK KEGIATAN USAHA PENGERTIAN PERUSAHAAN

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 51

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Secara eksplisit istilah perusahaan tidak ada pada KUHD. Hal ini dikarenakan istilah perusahaan timbul setelah hukum dagang. Sebelumnya, lebih lazin digunakan kata perdagangan. Istilah perdagangan kemudian dihapus dengan dikeluarkannya S. 1938 276 yang mulai berlaku pada tanggal 17 Juli 1938. Pada saat tersebut mulai digunakan istilah perusahaan dalam hukum dagang, yaitu antara lain pada pasal 6, 16, 36 dan lain-lain. Arti perusahaan secara ilmiah antara lain sebagai berikut: 1. Menurut Pemerintah Belanda pada waktu membacakan memorie van toelichting rencana undang-undang Wetboek van Koophandel di muka Parlemen, menerangkan bahwa yang disebut perusahaan adalah keseluruhan perbuatan, yang dilakukan secara tidak terputusputus, dengan terang-terangan dalam kedudukan tertentu dan untuk mencari laba (bagi diri sendiri). 2. Menurut Prof. Mr. W.L.P.A. Molengraff Perusahaan adalah keseluruhan perbuatan yang dilakukan secara terus menerus, bertindak keluar, barang-barang, menyerahkan barang-barang, atau mengadakan perjanjian-perjanjian perdagangan. Di sini Molengraaff memandang perusahaan dari sudut ekonomi. 3. Menurut Mr. M. Polak Baru ada perusahaan, bila diperlukan adanya perhitungan-perhitungan tentang laba rugi yang dapat diperkirakan dan segala sesuati itu dicatat dalam pembukuan. Di sini Polak memandang perusahaan dari sudut komersil. Sudut pandang ini sama dengan Molengraaff, tetapi unsur pengertian perusahaan adalah lain. Pengerian perusahaan menurut Molengraaff mempunyai enam unsur, sedang menurut Polak cukup dua unsur. 4. Menurut Mahkamah Agung (Hoge Raad) Perusahaan adalah seseorang yang mempunyai perusahaan jika ia berhubungan dengan keuntungan keuangan dan secara teratur melakukan perbuatan-perbuatan yang bersangkut paut dengan perniagaan dan perjanjian. 5. Menurut Abdul Kadir Muhammad (Pengantar Hukum Perusahaan di Indonesia) Berdasarkan tinjauan hukum, istilah perusahaan mengacu pada badan hukum dan perbuatan badan usaha dalam menjalankan usahanya. Perusahaan adalah tempat terjadinya kegiatan produksi dan berkumpulnya semua faktor produksi. 6. Pasal 1 huruf b Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan Setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang tetap dan terus-menerus dan yang didirikan, bekerja serta berkedudukan dalam wilayah Negara Republik Indonesia untuk tujuan memperoleh keuntungan dan/atau laba Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)
Page 52

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Seseorang dapat dikatakan menjalankan perusahaan jika telah memenuhi unsur-unsur sebagai berikut: 1. Suatu badan usaha 2. Terang-terangan 3. Teratur bertindak/ terus-menerus 4. Bertujuan untuk memperoleh keuntungan materi 5. Ada pembukuan Perusahaan dapat dibedakan ke dalam beberapa kategori, yaitu: 1. Berdasarkan Jumah Pemiliknya a. Perusahaan dagang (perseorangan), adalah perusahaan yang jumlah pemiliknya satu orang. b. Perseroan (persekutuan), adalah adalah perusahaan yang jumlah pemiliknya lebih dari satu orang. 2. Berdasarkan Status Hukumnya a. Perusahaan yang berbadan hukum, yaitu sebuah subjek hukum yang mempunyai kepentingan sendiri yang terpisah dari kepentingan pribadi anggotanya, mempunyai harta sendiri yang terpisah dari harta anggotanya, mempunyai tujuan yang terpisah dari tujuan para anggotanya dan tanggung jawab pemegang saham terbatas kepada nilai saham. Yang termasuk jenis perusahaan ini adalah sebagai berikut: i. Perseroan Terbatas (PT), berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007; ii. Koperasi, berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012; dan iii. Yayasan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Thun 2004 jo UndangUndang Nomor 16 Tahun 2001. b. Perusahaan yang tidak berbadan hukum, yaitu perusahaan yang harta pribadi sekutunya juga akan terpakai untuk memenuhi kewajiban perusahaan terebut. Yang termasuk jenis perusahaan ini adalah sebagai berikut: i. Persekutuan Perdata, berdasarkan KUHPerdata; ii. Persekutuan Firma (Fa), berdasarkan KUHPerdata dan KUHD; dan iii. Persekutuan Comanditer (CV), berdasarkan KUHPerdata dan KUHD. 3. Berdasarkan Pemilik Modalnya

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 53

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

a. Perusahaan swasta, adalah seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki swasta. Swasta tersebut terdiri atas 3 (tiga) jenis, yaitu: i. Swasta nasional ii. Swasta asing iii. Swasta campuran (asing dengan nasional joint venture) b. Perusahaan negara atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN), adalah perusahaan yang seluruh atau sebagian besar sahamnya milik negara atau pemerintah.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 54

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

BENTUK-BENTUK PERUSAHAAN
Bentuk-bentuk perusahaan yang paling umum ditemui di Indonesia antara lain adalah sebagai berikut: 1. Perusahaan Perseorangan Adalah perusahaan yang dijalankan oleh satu orang pengusaha sehingga tanggung jawabnya pun dibebankan kepada satu orang saja. 2. Persekutuan Perdata Berdasarkan Pasal 1618 KUHD, persekutuan perdata suatu perjanjian, dengan mana dua orang atau lebih mengikatkan diri untuk memasukkan sesuatu ke dalam persekutuan dengan maksud untuk membagi keuntungan atau kemanfaatan yang diperoleh karenanya. 3. Persekutuan Firma Menurut Pasal 16 KUHD, persekutuan firma adalah persekutuan yang diadakan untuk menjalankan perusahaan dengan memakai nama bersama. 4. Persekutuan Komanditer Adalah persekutuan firma yang mempunyai satu atau beberapa orang sekutu komanditer. 5. Yayasan Yayasan adalah badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan, yang tidak mempunyai anggota. 6. Perseroan Terbatas Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007, Perseroan Terbatas adalah badan hukum yang merupakan persekutuan mdal dan didirikan berdasarkan perjanjian. 7. Koperasi Koperasi adalah badan hukum yang didirikan oleh orang perseorangan atau badan hukum Koperasi, dengan pemisahan kekayaan para anggotanya sebagai modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi aspirasi dan kebutuhan bersama di bidang ekonomi, sosial, dan budaya sesuai dengan nilai dan prinsip Koperasi. 8. Perusahaan Negara 9. Perusahaan Daerah

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 55

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

PERUSAHAAN PERSEORANGAN
Perusahaan perseorangan adalah suatu bisnis yang dimiliki oleh pemilik tunggal sedangkan pengusaha perorangan adalah pemilik dari suatu perusahaan perseorangan. Individu dapat membuat badan usaha perseorangan tanpa ijin dan tata cara tertentu. Semua orang bebas berkembang membuat bisnis personal tanpa ada batasan untuk mendirikannya. Dari segi permodalan pengusaha perseorangan dapat saja mendapatkan pinjaman dari kreditor untuk operasional perusahaan, tetapi tidak berarti pinjaman itu sebagai bukti kepemilikan lain dari orang tersebut. Akibat dari adanya utang tersebut pemilik bertanggung jawab langsung dalam pelunasaan utang tersebut dan apabila terjadi keuntungan, pengusaha tidak perlu membagi keuntungannya kepada kreditor. Dalam Pasal 5 ayat 1 UU Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan disebutkan bahwa Setiap perusahaan wajib didaftarkan dalam Daftar Perusahaan. Hal ini berarti perusahaan perorangan wajib pula didaftarkan dalam Daftar Perusahaan dikecualikan Perusahaan Perorangan yang berukuran kecil (pasal 6 UU No 13 Tahun 1982 ayat 1b dan ayat 2) Pasal 6 1. b. Setiap Perusahaan Kecil Perorangan yang dijalankan oleh pribadi pengusahanya sendiri atau dengan mempekerjakan hanya anggota keluarganya sendiri yang terdekat serta tidak memerlukan izin usaha dan tidak merupakan suatu badan hukum atau suatu persekutuan. 2. Perusahaan Kecil Perorangan yang dimaksud dalam huruf b ayat (1) pasal ini selanjutnya diatur oleh Menteri dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 8 Perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 Undang-undang ini berbentuk: 1. Badan Hukum, termasuk di dalamnya Koperasi; 2. Persekutuan; 3. Perorangan; 4. Perusahaan lainnya di luar yang tersebut pada huruf-huruf a, b, dan c pasal ini. Pasal 15 1. (1) Apabila perusahaan berbentuk perorangan hal-hal yang wajib didaftarkan adalah: a. 1. nama lengkap pemilik atau pengusaha dan setiap alias-aliasnya; 2. setiap namanya dahulu apabila berlainan dengan huruf a angka 1; 3. nomor dan tanggal tanda bukti diri. Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)
Page 56

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

b. 1. alamat tempat tinggal yang tetap; 2. alamat dan negara tempat tinggal yang tetap, apabila tidak bertempat tinggal tetap di wilayah Negara Republik Indonesia. c. 1. tempat dan tanggal lahir pemilik atau pengusaha 2. negara tempat lahir apabila dilahirkan di luar wilayah Negara Republik Indonesia. d. 1. kewarganegaraan pemilik atau pengusaha pada saat pendaftaran; 2. setiap kewarganegaraan pemilik atau pengusaha dahulu apabila berlainan dengan huruf d angka 1. e. nama perusahaan dan merek perusahaan apabila ada; f. 1. kegiatan pokok dan lain-lain kegiatan usaha; 2. izin-izin usaha yang dimiliki. g. 1. alamat kedudukan perusahaan; 2. alamat setiap kantor cabang, kantor pembantu, dan agen serta perwakilan perusahaan apabila ada. h. jumlah modal tetap perusahaan apabila ada; i. 1. tanggal dimulai kegiatan perusahaan; 2. tanggal pengajuan permintaan pendaftaran. 2. (2) Apabila perusahaan berbentuk usaha perorangan memiliki akta pendirian, pada waktu mendaftarkan wajib menyerahkan salinan-salinan resmi akta pendirian yang disahkan oleh pejabat yang berwenang untuk itu. Ciri-ciri perusahaan perseorangan 1. Dimiliki perseorangan (individu atau perusahaan keluarga) 2. Pengelolaannya sederhana 3. Modalnya relative tidak terlalu besar 4. Kelangsungan usahanya tergantung pada para pemiliknya 5. Nilai penjualannya dan nilai tambah yang diciptakan relative kecil
Keburukan Perusahaan Perseorangan

1. Tanggung jawab tidak terbatas Dalam perusahaan, tanggung jawab perusahaan terletak di tangan pemilik perusahaan, sehingga seluruh resiko atas perusahaan ditanggung oleh pemilik perusahaan. Jika perusahaan tidak dapat melunasi seluruh hutangnya maka kekayaan pribadi menjadi jaminannya. Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)
Page 57

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

2. Besarnya perusahaan terbatas Penanaman modal yang dijalankan oleh perusahaan perseorangan adalah terbatas, walaupun pemilik berusaha memperluas perusahaan, kredit yang diperolehpun terbatas pula. 3. Kelangsungan perusahaan tidak terjamin Meninggalnya pemimpin atau dipenjarakannya pemilik perusahaan atau sebab lain sehingga tidak bisa mengelola perusahaan menyebabkan berhentinya aktivitas perusahaan. 4. Sumber keuangan terbatas Karena pemiliknya hanya satu orang, maka usaha-usaha yang dilakukan untuk memperoleh sumber dana hanya bergantung pada kemampuan pemilik perusahaan. 5. Kesulitan dalam manajemen Dalam perusahaan semua kegiatan seperti pembelian, penjualan, pembelanjaan, pencarian kredit, pengaturan karyawan dan sebagainya, dipegang oleh seorang pemimpin. Ini lebih sulit dibandingkan apabila manajemen dipegang beberapa orang. 6. Kurangnya kesempatan pada karyawan Karyawan yang bekerja pada perusahaan perseorangan ini akan tetap menduduki posisinya dalam jangka waktu yang relatif lama. Kebaikan Perusahaan Perseorangan 1. Kebebasan bergerak Pemilik perusahaan perseorangan mempunyai kebebasan yang sepenuhnya pada setiap tindakannya. Segala keputusan adalah mutlak harus dilaksanakan sesuai keputusan. 2. Menerima seluruh keuntungan Hanya perusahaan perseorangan yang memungkinkan seluruh keuntungan diperuntukkan bagi seseorang. 3. Pajak yang rendah Bagi perusahaan perseorangan hingga saat ini pemerintah tidak memungut pajak dari perusahaan itu sendiri. Pemungutan pajak hanya dilakukan pada pemilik yaitu, pajak penghasilan. 4. Rahasia perusahaan terjamin Perusahaan perseorangan merupakan suatu jenis perusahaan dimana rahasia-rahasia dapat dijamin tidak akan bocor, lebih-lebih jika pemilik perusahaan itu sendirilah yang menjalankan segala tugas-tugas yang penting. Di beberapa perusahaan, keuntungan yang besar terletak atas dasar dipunyainya suatu proses atau formula rahasia yang tidak diketahui perusahaan lain. Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)
Page 58

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

5. Organisasi yang murah dan sederhana Pada perusahaan perseorangan bagian-bagiannya tidak banyak seperti halnya PT karenanya ongkos yang dibutuhkan untuk itu adalah relatif rendah. 6. Peraturan minim Jika pada persekutuan dengan firma, komanditer, PT, terdapat banyak peraturan-peraturan pemerintah yang harus dituruti maka perusahaan perseorangan hanya sedikit peraturan yang dikenakan. 7. Dorongan perusahaan Pengusaha perusahaan perseorangan selalu berusaha sekuat tenaga agar perusahaannya mendapatkan keuntungan tanpa memperhatikan lamanya waktu bekerja dalam perusahaan. 8. Keputusan dapat cepat diambil Keputusan-keputusan dalam perusahaan perseorangan akan dapat cepat diambil karena pemilik perusahaan dapat mengatur perusahaannya menurut kehendaknya yang sekiranya terbaik dan terefektif, juga karena tidak adanya perselisihan pendapat yang mengakibatkan perundingan yang berlarut-larut yang tentu saja merugikan apalagi dalam dunia bisnis. 9. Lebih mudah memperoleh kredit Perusahaan perseorangan lebih mudah mendapatkan kredit karena tanggung jawab atau jaminannya tidak terbatas pada modal usaha sendiri saja tetapi juga kekayaan pribadi dari pemilik maka resiko kreditnya lebih kecil. Contoh perusahaan perorangan adalah restoran local, pengusaha konstruksi lokal, laundry, toko pakaian lokal. Laba yang dihasilkan oleh perusahaan perseorangan adalah menjadi milik pribadi yang diterima oleh para pengusaha tersebut dan terkena pajak yang diwajibkan oleh Internal Revenue Service (IRS). Syarat mendirikan perusahaan perorangan Syarat pendirian perusahaan perseorangan bisa dikelompokkan menjadi 3 aspek penting, yaitu modal, pembukuan dan pembayaran pajak. 1. Pertama, harus menemukan sumber modal yang sesuai. 2. Kedua, untuk menyusun pembukuan, perlu mencantumkan poin-poin berikut ini: a. Keadaan kekayaan perusahaan b. Kebutuhan perusahaan c. Perjanjian kerja d. Surat, dokumen, korespondensi yang masuk dan keluar Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)
Page 59

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

e. Laporan per periode (bisa per bulan, kuartal, tahun) f. Arsip 3. Ketiga, pembayaran pajak juga harus diperhatikan. Jenis-jenis pajak yang dibayarkan kepada negara ialah: a. Pajak penghasilan b. Pajak pertambahan nilai barang dan jasa c. Pajak penjualan atas barang mewah d. Pajak bumi dan bangunan Tidak ada prosedur resmi untuk mendirikan Perusahaan Perseraongan. Namun, biasanya persyaratan administratif yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut: 1. Fotokopi KTP pemilik/penanggungjawab perusahaan; 2. Fotokopi NPWP perusahaan; 3. Fotokopi Surat Izin Tempat Usaha (SITU) dari Pemda setempat bagi kegiatan usaha perdagangan yang dipersyaratkan SITU berdasarkan Undang-Undang Gangguan (HO); 4. Neraca perusahaan.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 60

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

PERSEKUTUAN PERDATA
Persekutuan Perdata (maatschap) diartikan sebagai: Perjanjian antara dua orang atau lebih yang saling mengikatkan dirinya untuk memasukkan sesuatu ke dalam persekutuan dengan maksud untuk membagi keuntungan (manfaat) yang terjadi karenanya (pasal 1618 KUHPerdata). 1. PP merupakan perjanjian (kontrak) 2. Prestasi para pihak dengan memasukkan sesuatu ke dalam persekutuan 3. Tujuan untuk membagi keuntungan Persekutuan Perdata merupakan suatu perjanjian yang konsekuensinya dalam persekutuan perdata modalnya tidak selalu uang, akan tetapi dapat berupa barang, kerajinan atau keterampilan.Dalam persekutuan perdata harus ada pembagian keuntungan. Dalam persekutuan perdata tidak boleh ada perjanjian yang keuntungannya untuk 1 orang, walaupun hal tersebut telah disepakati mereka. Unsurnya haru membagi keuntungan, jika tidak maka batal demi hukum. Unsur Persekutuan Perdata 1. PP merupakan perjanjian (kontrak) 2. Prestasi para pihak dengan memasukkan sesuatu ke dalam persekutuan 3. Tujuan untuk membagi keuntungan Persekutuan Perdata merupakan suatu perjanjian yang konsekuensinya dalam persekutuan perdata modalnya tidak selalu uang, akan tetapi dapat berupa barang, kerajinan atau keterampilan. Dalam persekutuan perdata harus ada pembagian keuntungan. Dalam persekutuan perdata tidak boleh ada perjanjian yang keuntungannya untuk 1 orang, walaupun hal tersebut telah disepakati mereka. Unsurnya haru membagi keuntungan, jika tidak maka batal demi hukum. Cara Mendirikan Konsensual (pasal 1624 KUHPerdata) Pendirian persekutuan perdata didirikan melalui perjanjian yang sederhana, dan tidak ada pengajuan formal atau tidak diperlukan adanya persetujuan Pemerintah. Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)
Page 61

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Demikian pula pendiriannya cukup secara lisan, tetapi bisa juga. berdasarkan akta pendirian dari Notaris. Perjanjian bisa tertulis maupun lisan, atau bahkan bisa dinyatakan melalui tindakan-tindakan atau perbuatan para pihak. Akta pendirian dari Notaris dimaksudkan untuk menghindari dari persengketaan atau perselisihan di kemudian hari mengenai tanggung jawab, pembagian hal dan kewajiban masingmasing pihak. 1. Persekutuan Perdata Jenis Umum Dalam Persekutuan Perdata jenis umum diperjanjikan suatu pemasukan (in-breng) yang terdiri dari seluruh harta kekayaan masing-masing sekutu atau sebagian tertentu dari harta kekayaannya secara umum, tanpa adanya suatu perincian pun. Namun di dalam pasal 1621 KUHPer dilarang adanya Persekutuan Perdata macam ini: dengan rasio bahwa pemasukan seluruh atau sebagian harta kekayaan tanpa adanya perincian, mengakibatkan tidak akan dapat dibaginya keuntungan secara adil seperti yang ditetapkan di dalam ketentuan pasal 1633 KUHPer. Persekutuan Perdata jenis umum ini ada juga yang diperbolehkan, asalkan diperjanjikan terlebih dahulu bahwa masing-masing sekutu akan mencurahkan segala potensi kerjanya, agar mendapatkan keuntungan (laba) yang dapat dibagi-bagi di antara para sekutu. Dalam pasal 1622 KUHPer, Persekutuan Perdata jenis ini menurut H.M.N. Purwosutjipto, S.H. dinamakan "Persekutuan Perdata Keuntungan" (algehele maatschap van winst). 2. Persekutuan Perdata Jenis Khusus

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 62

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Dalam Persekutuan Perdata jenis khusus, para anggota (sekutu) masing-masing menjanjikan pemasukan benda-benda tertentu atau sebagian dari tenaga kerjanya (pasal 1623 KUHPer). Di atas telah diuraikan bahwa Persekutuan Perdata itu didirikan berdasarkan atas Perjanjian (pasal 1618 KUHPer). Karena dalam pasal 1618 KUHPer tersebut tidak mengharuskan adanya syarat tertulis, maka perjanjian yang dimaksudkan di situ sifatnya konsensuil yaitu cukup dengan persetujuan kehendak atau kesepakatan para pihak saja. Perjanjian itu sendiri mulai berlaku sejak saat perjanjian itu menjadi sempurna, atau sejak saat yang ditentukan di dalam perjanjian tersebut (pasal 1624 KUHPer). Unsur mutlak yang ada pada Persekutuan Perdata adalah: a. Adanya pemasukan (inbreng), sesuai ketentuan pasal 1619 ayat (2) KUHPer). b. Adanya Pembagian Keuntungan atau Kemanfaatan, sebagaimana diatur dalam pasal-pasal 1633, 1634 dan 1635 KUHPer. Ketentuan pasal 1619 ayat (2) KUHPer menetapkan bahwa tiap-tiap sekutu dari persekutuan perdata diwajibkan memasukkan ke dalam kas persekutuan perdata yang didirikan tersebut. Pemasukan ini dapat terdiri atas:

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 63

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

a. Uang, atau b. Barang atau benda-benda lain apa saja yang layak bagi pemasukan (inbreng), misalnya : rumah/gedung, kendaraan bermotor/truk, alat perlengkapan kantor, kredit, manfaat atau kegunaan atas sesuatu benda, good-will, hak pakai dan sebagainya. c. Tenaga kerja, baik tenaga fisik maupun tenaga fikiran. Terhadap pemasukan yang berupa uang diatur di dalam pasal 1626 KUHPer; di mana bila ketentuan waktu untuk pemasukan seperti halnya ditetapkan dalam perjanjian tidak ditepati oleh sekutu yang bersangkutan, maka dia harus membayar bunga selama dia belum setor. Sedangkan untuk pemasukan benda-benda atau barang, sekutu harus menjamin terhadap gugatan hak dari orang lain (benda tersebut dapat dimanfaatkan dengan secara tenteram) dan terhadap adanya cacat yang tersembunyi yaitu cacat yang tidak dapat dilihat oleh pemeriksa biasa dengan seksama dan teliti. Di samping itu, sekutu dapat pula memasukkan penggunaan atau manfaat (hak memakai) dari benda-benda tersebut ke dalam Persekutuan (pasal 1631 ayat (1) KUHPer). Apabila yang dimasukkan hanyalah kemanfaatan atau penggunaan (hak memakai) terhadap barang / benda tersebut, maka terhadap resiko yang terjadi pada benda / barang tersebut sekutu yang bersangkutan mempunyai kewajiban menanggung sendiri. Lain halnya bila benda / barang tersebut secara keseluruhan dan bulat ( hak pemilikannya ) dimasukkan kedalam Persekutuan, maka sekutu yang bersangkutan bebas menanggung resiko, sebab resiko tersebut sudah diambil alih oleh Persekutuan Perdata ( pasal 1631 ayat (2) KUHPer ). Pada pemasukan yang berwujud tenaga kerja, ini diatur didalam ketentuan pasal 1627 KUHPer. Disini sudah tentu tenaga tersebut harus sesuai dengan kebutuhan yang ada pada Persekutuan, sehingga tenaga tersebut benarbenar ada manfaatnya bagi Persekutuan. Biasanya sekutu tersebut tidak menyumbangkan seluruh tenaganya tetapi hanya untuk melakukan / menjalankan pekerjaan-pekerjaan tertentu sesuai dengan kebutuhan yang ada pada Persekutuan tersebut.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 64

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Dalam melakukan pekerjaan ini sekutu tidak boleh berada dibawah perintah sekutu lainnya, disini harus ada persamaan kedudukan antara para sekutu ( peserta ). Sekutu tersebut harus bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang dia lakukan dan harus sesuai dengan tujuan dari Persekutuan dimana hasil yang diperolehnya haruslah untuk Persekutuan Perdata tersebut. Hal ini akan sesuai dengan ketentuan dari pasal 1338 ayat (3) KUHPer bahwa segala perjanjian harus dilaksanakan secara jujur dan dengan itikad baik. Unsur yang kedua pada Persekutuan Perdata adalah adanya pembagian keuntungan. Mengenai pembagian keuntungan ditentukan didalam pasal 1633 sampai dengan pasal 1635 KUHPer. Seluruh keuntungan yang didapat Persekutuan tidak boleh diberikan kepada seseorang sekutu saja ( pasal 1635 ayat (1) KUHPer ), sebab hal tersebut melanggar tujuan "mengejar kemanfaatan bersama". Tetapi sebaliknya, dapat diperjanjikan sebelumnya bahwa seluruh kerugian yang terjadi akan dibebankan kepada seorang sekutu saja ( pasal 1635 ayat (2) KUHPer ). Apabila mengenai keuntungan dan kerugian ini tidak diatur di dalam perjanjian pendirian, maka berlakulah pasal 1633 ayat (1) KUHPer yang menetapkan bahwa pembagian tersebut harus berdasarkan asas keseimbangan pemasukan dengan pengertian: a. Pembagian harus dilakukan menurut harga nilai dari pemasukan masing-masing sekutu kepada Persekutuan. b. Sekutu yang hanya memasukan kerajinannya saja, bagiannya adalah sama dengan bagian sekutu yang nilai barang pemasukannya terendah, kecuali ditentukan lain. Misalnya : Nilai kerajinan yang dimasukkan sekutu-sekutu tertentu kemungkinan dapat lebih sangat berharga daripada barang-barang tertentu yang dimasukkan oleh sekutu lain. c. Semua sekutu yang hanya memasukkan tenaga kerjanya saja, akan mendapatkan bagian keuntungan yang sama rata kecuali ditentukan lain.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 65

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Menurut ketentuan pasal 1633 ayat (2) KUHPer, bagi sekutu yang hanyan memasukkan tenaga kerja-nya saja hanya dipersamakan dengan pemasukan uang atau benda yang terkecil. Hal ini menurut H.M.N. Purwosutjipto, S.H adalah tidak adil dan bertentangan dengan asas perikemanusiaan dan keadilan sosial. Menurut beliau, tenaga kerja ini merupakan faktor yang menonjol dalam bidang produksi, oleh karena itu ukuran untuk menilai tenaga kerja yang diberikan sebagai pemasukan adalah hasil karya tenaga tersebut terhadap kemajuan persekutuan khusunya sampai dimana tenaga kerja itu berpengaruh kepada keuntungan yang didapat. Sesuai dengan sifat persekutuan perdata yang tidak menghendaki terang-terangan, maka Bab Kedelapan, Buku Ketiga KUHPer tidak ada peraturan tentang pendaftaran dan pengumuman seperti halnya dalam ketentuan pasal 23 sampai dengan 28 KUHD bagi persekutuan dengan Firma. Mengenai perikatan antar para sekutu atau hubungan ke dalam antara para sekutu, ini diatur dalam Bagian Kedua, Bab Kedelapan, Buku Ketiga KUHPer, mulai dari pasal 1624 sampai dengan pasal 1641. Isi Perjanjian Pendirian Persekutuan Perdata Isi perjanjian pendirian Persekutuan perdata pada umumnya memuat mengenai : 1. Bagian yang harus dimasukkan ke dalam persekutuan berupa barang (Pasal 1625 KUH Perdata) 2. Bagian yang harus dimasukkan ke dalam persekutuan berupa uang (Pasal 1626 KUH Perdata) 3. Bagian yang harus dimasukkan ke dalam persekutuan berupa tenaga atau kerajinannya (Pasal 1627 KUH Perdata) 4. Pembagian keuntungan; apabila pembagian keuntungan tidak diatur, maka berlaku ketentuan menurut undang-undang (Pasal 1633 KUH Perdata) 5. Tujuan Perjanjian kerjasama pendirian perserikatan perdata (pasal 1619 KUH Perdata) 6. Jangka Waktu dan bubarnya perserikatan perdata (Pasal 1646 KUH Perdata)

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 66

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Bubar atau terhentinya Persekutuan Perdata ( Pasal 1646 1652 KUH Perdata) Berdasarkan pasal 1646 KUH Perdata ada 5 cara terhentinya Persekutuan Perdata: 1. lewat waktu 2. musnahnya barang atau selesaianya pekerjaan 3. kehendak satu orang atau beberapa sekutu 4. dinyatakan pailit 5. putusan hakim ( 1647 KUH Perdata)

FIRMA DAN PERSEKUTUAN KOMANDITER (CV)


Pengertian

Menurut KUHD Pasal 16, Perseroan Firma adalah suatu perseroan yang didirikan untuk melakukan suatu usaha di bawah satu nama bersama.
Penggunaan Nama Bersama

Perseroan Firma merupakan bentuk khusus dari persekutuan perdata. Kekhususan firma adalah dalam hal menjalankan perusahaan dan menggunakan nama bersama. Berikut adalah bentu-bentuk nama bersama dalam Firma: a. Menggunakan nama seorang sekutu, misalnya Fa Haji Tawi. b. Menggunakan nama seorang sekutu dengan tambahan yang menunjukan anggota keluarganya, misalnya Firma Ibrahim Aboud And Brothers, disingkat Fa Ibrahim Aboud & Bros. Artinya, perusahaan persekutuan ini beranggota Ibrahim dan saudara-saudaranya (adik beradik). c. Menggunakan nama bidang usaha perusahaan, misalnya Fa Ayam Buras yang kegiatan usahanya berternak ayam bukan ras. d. Menggunakan nama lain, misalnya Fa Serasan Sekate, Fa Musi Jaya, Fa Sumber Rejeki. Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)
Page 67

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Pengaturan

Pendirian, pengaturan dan pembubaran Firma diatur di dalam Kitab UndangUndang Hukum Dagang (KUHD) (Wetboek van Koophandel voor Indonesie) S.1847-23. Hukum mengenai Firma terdapat dalam bagian 2 dalam KUHD dengan judul Perseroan Firma Dan Perseroan Dengan Cara meminjamkan Uang Atau Disebut Perseroan Komanditer yang dimulai dari pasal 16 sampai 35.
Wewenang Pesero

Menurut Pasal 17, tiap-tiap pesero mempunyai wewenang untuk melakukan hal-hal sebagai berikut: 1. bertindak, 2. mengeluarkan dan menerima uang atas nama perseroan, 3. dan mengikat perseroan kepada pihak ketiga, dan pihak ketiga kepada perseroan.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 68

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Pengecualian kewenangan: 1. tindakan-tindakan yang tidak bersangkutan dengan perseroan, 2. atau yang bagi para pesero menurut perjanjian tidak berwenang untuk mengadakannya, tidak dimasukkan dalam ketentuan ini. (KUHPer 1632, 1636, 1639, 1642; KUHD 20, 26, 29, 32.)
Tanggung Jawab Pesero

1. Tanggung jawab untuk seluruhnya atas perikatan-perikatan perseroannya. Hal di atas sesuai dengan pasal 18 KUHD yang berbunyi: Dalam perseroan firma tiap-tiap pesero bertanggung jawab secara tanggung-renteng untuk seluruhnya atas perikatan-perikatan perseroannya. (KUHPer. 1282, 1642, 1811.) 2. Tanggung jawab pesero tidak terbatas pada bagian sumbangannya.
Isi Perjanjian

Perjanjian dilakukan dengan akte notaris sesuai pasal 22 dan 26 KUHD Isi dari perjanjian yang tertera dalam akte notaris antara lain: 1. Nama, tempat tinggal, pekerjaan para peserta 2. Sifat perseroan, yaitu umum atau untuk jenis usaha tertentu 3. Penunjukan peserta-peserta yang dikecualikan dari penandatanganan surat-surat firma 4. Jangka waktu berdirinya firma 5. Hak-hak peserta terhadap pihak ketiga 6. Hal-Hal lain yang perlu
Hubungan Intern Peserta

Hubungan hukum ke dalam (internal) antara sesame sekutu firma meliputi butir-butir yang ditentukan berikut ini: 1. Semua sekutu memutus dan menetapkan dalam anggaran dasar sekutu yang ditunjuk sebagai pengurus firma. 2. Semua sekutu berhak melihat atau mengontrol pembukuan firma (Pasal 12 KUHD). 3. Semua sekutu memberikan persetujuan jika firma menambah sekutu baru (Pasal 1641 KUHPer). Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)
Page 69

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

4. Penggantian kedudukan sekutu dapat diperkenankan jika diatur dalam anggaran dasar. 5. Seorang sekutu dapat menggugat firma apabila ia berposisi sebagai kreditor firma dan pemenuhannya disediakan dari kas firma.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 70

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Hubungan Ekstern Peserta

Hubungan hukum keluar (eksternal) antara sekutu firma dan pihak ketiga meliputi butir-butir yang ditentukan berikut ini: 1. Sekutu yang sudah keluar secara sah masih dapat dituntut oleh pihak ketiga atas dasar perjanjian yang belum dilunasi pembayarannya (Arrest Hoog gerechtshof 20 februari 1930). 2. Setiap sekutu wenang mengadakan perikatan dengan pihak ketiga bagi kepentingan firma, kecuali jika sekutu itu dikeluarkan dari kewenangannya (pasal 17 KUHD). 3. Setiap sekutu bertanggung jawab secara pribadi atas semua perikatan firma, yang dibuat oleh sekutu lain, termasuk juga perikatan karena melawan hukum (Pasal 18 KUHD). 4. Apabila seorang sekutu menolak penagihan dengan alasan firma tidak ada karena tidak ada akta pendirian, pihak ketiga itu dapat membuktikan adanya firma dengan segala macam alat pembuktian (Pasal 22 KUHD). Menurut van Ophuijsen (1936), seorang notaries di Batavia, tanggung jawab para sekutu terhadap pihak ketiga tidak dilaksanakan secara langsung, artinya segala utang firma dipenuhi lebih dahulu dari uang kas firma. Apabila uang kas tidak mencukupi, barulah diberlakukan pasal 18 KUHD bahwa kekayaan pribadi masing-masing sekutu dipertanggungjawabkan sampai utang terpenuhi semuanya. Demikianlah hasil penelitian yang dilakukan oleh van Ophuijsen terhadap praktik firma.
Syarat/ Prosedur Pendirian Firma

Firma harus didirikan dengan akta otentik (KUHD pasal 22) Akta otentik atau petikan akta otentik harus didaftarkan dalam register pada pengadilan negeri tempat kedudukan perseroan (KUHD Pasal 23 dan Pasal 24) 1. Petikan akta pendirian firma harus diumumkan dalam surat kabar resmi (Pasal 28) 2. Petikan aktapendirianyang disebut dalam pasal 24 harus memuat: 3. nama, nama kecil, pekerjaan dan tempat tinggal para persero firma;

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 71

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

4. sifat perseroan; yang menunjukkan apakah perseroan itu umum, ataukah terbatas pada suatu cabang khusus dari perusahaan tertentu, dan apabilakhususmakamenyebutkan cabang khusus itu; 5. penunjukan para persero, yang tidak diperkenankan bertanda tangan atas nama firma; 6. saat mulai berlakunya perseroan dan saat berakhirnya; 7. dan selanjutnya, pada umumnya, bagian-bagian dari perjanjiannya yang harus dipakai untuk menentukan hak-hak pihak ketiga terhadap para persero. Selama pendaftaran dan pengumuman belum terjadi, maka perseroan firma itu terhadap pihak ketiga dianggap sebagai perseroan umum untuk segala urusan, dianggap didirikan untuk waktu yang tidak ditentukan dan dianggap tiada seorang persero pun yang dilarang melakukan hak untuk bertindak dan bertanda tangan untuk firma itu. Dalam hal adanya perbedaan antara yang didaftarkan dan yang diumumkan, maka terhadap pihak ketiga berlaku ketentuanketentuan yang berkenaan dengan pasal yang lalu yang dicantumkan dalam surat kabar resmi. Menurut Munir Fuady proses pendirian firma terbagi ke dalam beberapa tahap sebagai berikut: a. Tahap Akta Otentik Suatu firma harus didirikan dengan suatu akta otentik, dalam hal ini dengan suatu akta otentik, maka hal tersebut tidak berpengaruh terhadap pihak ketiga. Artinya, ketidakadaan akta otentik tersebut tidak boleh dipergunakan sebagai alasan yang merugikan pihak ketiga. b. Tahap Pendaftaran Akta Firma Setelah akta firma dibuat dengan akta notaris, maka akta firma tersebut haruslah didaftarkan dalam suatu register khusus yang tersedia dikepanitraan Pengadilan Negeri diwilayahnya firma tersebut mempunyai tempat kedudukan. c. Tahap Pengumuman dalam Berita Negara Satu petikan akta firma harus pula diumumkan dalam Berita Negara agar pihak ketiga mengetahuinya dan agar perusahaan firma tersebut berlaku dan mengikat pihak ketiga

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 72

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Pendaftaran Firma

Dalam Pasal 23 KUHD disebutkan: Para persero firma diharuskan untuk mendaftarkan akta pendirian di kepanitraan pengadilan negeri yang dalam daerah hukumnya firma bertempat kedudukan. Yang perlu didaftarkan adalah ikhtisar pendirian firma. Dalam Pasal 29 KUHD ditegaskan, selama pendaftaran dan pengumuman belum dilaksanakan, perseroan firma dianggap sebagai: 1. Perseroan umum 2. Didirikan untuk waktu tidak terbatas; dan 3. Seolah-olah tidak ada seorang persero pun yang dikecualikan dari hak bertindak perbuatan hukum dan hak menendatangani untuk firma.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 73

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Berakhirnya Firma

Firma berakhir apabila jangka waktu yang ditetapkan dalam anggaran dasar (akta pendirian) telah berkhir. Firma juga dapat bubar sebelum berakhir jangka waktu yang ditetapkan dalam anggaran dasar akibat pengunduran diri atau pemberhentian sekutu (Pasal 26 dan 31 Pasal KUHD). Pembubaran firma harus dilakukan dengan akta otentik yang dibuat di muka notaris, didaftarkan di kepaniteraan pengadilan negri setempat, dan diumumkan dalam Tambahan Berita Negara. Kelalaian pendaftaran dan pengumuman ini mengakibatkan tidak berlakunya pembubaran firma, pengunduran diri, pemberhentian sekutu, atau perubahan anggaran dasar terhadap pihak ketiga (Pasal 31 KUHD).
Pemberesan

Setiap pembubaran firma memerlukan pemberesan. Untuk pemberesan tersebut, firma yang sudah bubar itu masih tetap ada (Pasal 32-Pasal 34 KUHD). Menurut ketentuan Pasal 32 KUHD, yang bertugas melakukan pemberesan adalah mereka yang ditetapkan dalam anggaran dasar. Apabila dalam anggaran dasar tidak ditentukan, sekutu pengurus harus membereskan atas nama firma. Akan tetapi, jika sekutu-sekutu dengan suara terbanyak menunjuk sekutu yang bukan pengurus untuk melakukan pemberesan, sekutu inilah yang bertugas melakukan pemberesan. Apabila suara terbanyak tidak tercapai, pengadilan negri menetapkan pihak pemberesnya. Hubungan hukum antara para sekutu dan pemberes adalah hubungan hukum pemberi kuasa. Tugas pemberes adalah menyelesaikan semua utang firma dengan menggunakan uang kas. Jika masih ada saldo, saldo itu dibagi diantara sekutu. Jika ada kekurangan, sekutu itu harus memenuhi dari kekayaan pribadi para sekutu. Jika ada kekayaan berupa barang, pembagian barang itu dilakukan seperti pembagian warisan (Pasal 1652 KUHPer).
Kelebihan FirmA

1. Kemampuan manajemen lebih besar karena ada pembagian kerja diantara para anggota 2. Pendirinya relatif mudah 3. Kebutuhan modal lebih mudah terpenuhi 4. Para sekutu firma memiliki kedudukan yang sama Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)
Page 74

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

5. Memiliki hak dan kewajiban yang sama 6. Semua sekutu pada hakekatnya merupakan pengurus firma walaupun ada pengurus firma

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 75

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Kekurangan fIRMa

1. Tanggung jawab pemilik tidak terbatas (internal) 2. Setiap sekutu dapat mengikat firma dengan pihak ketiga 3. Ada kemungkinan sekutu yang tidak memiliki integritas melakukan perbuatan hukum yang merugikan firma 4. Kerugian disebabkan oleh seorang sekutu harus ditanggung bersama

Persekutuan Komanditer (CV)


Pengertian

CV adalah perseroan yang didirikan untuk menjalankan suatu perusahaan yang dibentuk oleh satu orang atau lebih sebagai pihak yang bertanggung jawab renteng (solider) dan satu orang atau lebih sebagai pihak lain yang mempercayakan uangnya (Pasal 16+18+19 KUHD). Apa yang dimaksud dengan perseroan komanditer atau yang lebih populer dengan istilah CV yang selengkapnya berbunyi Commanditaire Vennnootscha. dalam berbagai literatur di jelaskan CV adalah perseroan dengan setoran uang dibeentuk oleh satu atau lebih anggota aktif yang bertanggung jawab secara renteng disatu pihak dengan satu atau lebih orang lain sebagai pelepas uang dilain pihak. Para pelepas uang ini disebut persero anggota pasif, commanditaris, sleeping partner, tidak bertanggung jawab lebih dari nilai sahamnya masing-masing. Sedangkan anggota persero yang mengurusi sehari-hari CV disebut persero aktif atau sering juga disebut dengan complementaris. Pendapat senada dikemukakan oleh R. Ali Rido, unsur-unsur perseroan komenditer yang terpenting adalah: pertama, unsurunsur yang lazim dalam persekutuan perdata, disebut demikian karena dasar hukum CV adalah persekutuan perdata. Untuk itu, dalam CV harus ada kerja sama, adanya pemasukan (inbreng) dan adanya tujuan membagi keuntungan. Kedua menyelenggarakan perusahaan. Ketiga, ada dua macam persero, yakni: a. Persero aktif (komplementer)

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 76

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Yaitu persero yang dapat mengikatkan perseroan komanditer dengan pihak ketiga dan bertanggung jawab secara tanggung menanggung sampai kekayaan pribadi. Persero jenis iini bertindak sebagai pengurus. b. Persero-persero pasif (komanditer) Yaitu persero yang hanya memberikan pemasukan (inbreng) dan tidak ikut dalam mengurus perseroan. Tanggung jawab sebatas modal yang dimasukan.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 77

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Jenis-Jenis CV

Persekutuan Komanditer terdapat 3 macam, yaitu : 1. Persekutuan komanditer Diam-diam Persekutuan komanditer Diam-diam yaitu persekutuan komanditer yang belum menyatakan dirinya dengan terang-terangan kepada pihak ketiga sebagai persekutuan komanditer. Kepada pihak ketiga persekutuan itu masih menyatakan dirinya sebagai persekutuan firma, tetapi ke dalam persekutuan itu sudah menjadi persekutuan komanditer, karena salah seorang atau beberapa orang sekutu sudah menjadi persekutuan komanditer. 2. Persekutuan Komanditer Terang-terangan Persekutuan Komanditer Terang-terangan yaitu persekutuan komanditer yang dengan terang-terangan menyatakan dirinya sebagai persekutuan komanditer pada pihak ketiga. Hal ini dinyatakan misalnya pada papan nama di depan kantornya. Juga kepada surat-surat yang keluar selalu menggunakan nama persekutuan komanditer. Jadi, istilah terang-terangan itu tertuju pada pernyataan diri sebagai persekutuan komanditer kepada pihak ketiga. 3. Persekutuan Komanditer dengan Saham Persekutuan Komanditer dengan Saham adalah persekutuan komanditer terangterangan, yang modalnya terdiri dari saham-saham. Persekutuan ini sama sekali tidak diatur dalam KUHD. Pembentukkan dan cara mendapatkan modal semacam ini dimungkinkan oleh pasal 1338 ayat 1, pasal 1337 KUHPerdata dan berdasarkan pasal 1 KUHD. Persekutuan ini sama seperti persekutuan biasa, maka ketentuan-ketentuan dalam KUHD berlaku juga pada persekutuan ini. Pada waktu pembentukkannnya kedudukan sekutu komanditer dapat ditentukan, bisa diperalihkan atau diwariskan sedangkan modalnya dapat dibagi dalam beberapa saham, tiap sekutu dapat memilikinya satu atau beberapa buah. Berdasarkan perkembangannya, bentuk perseroan komanditer adalah sebagai berikut: Persekutuan komanditer murni Bentuk ini merupakan persekutuan komanditer yang pertama. Dalam persekutuan ini hanya terdapat satu sekutu komplementer, sedangkan yang lainnya adalah sekutu komanditer. Persekutuan komanditer campuran Bentuk ini umumnya berasal dari bentuk firma bila firma membutuhkan tambahan modal. Sekutu firma menjadi sekutu komplementer sedangkan sekutu lain atau sekutu tambahan menjadi sekutu komanditer. Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)
Page 78

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Persekutuan komanditer bersaham Persekutuan komanditer bentuk ini mengeluarkan saham yang tidak dapat diperjualbelikan dan sekutu komplementer maupun sekutu komanditer mengambil satu saham atau lebih. Tujuan dikeluarkannya saham ini adalah untuk menghindari terjadinya modal beku karena dalam persekutuan komanditer tidak mudah untuk menarik kembali modal yang telah disetorkan.

Prinsip-prinsip cv

Prinsip-prinsip CV Kepentingan bersama lebih tinggi daripada kepentingan pribadi (Pasal 1628-1629 KUHPerdata) Prinsip tanggung menanggung (all for one, one for all) selain pesero yang dikecualikan Pasal 21 KUHD

Pengaturan

Pengaturan perseroan komanditer dalam KUHD pun sangat singkat, hanya 3 Pasal, yakni: Pasal 19 KUHD perseroan secara melepas uang yang juga dinamakan perseroan komanditer, didirikan antara satu orang atau beberapa persero yang secara tanggung menanggung bertanggung jawab untuk seluruhnya pada pihak satu, dan satu orang atau lebih sebagai pelepas uang pada pihak lain. Dengan demikian, bisa terjadi suatu perseroan itu pada suatu ketika yang sama merupakan perseroan firma terhadap para persero firma didalamnya dan merupakan perseroan komanditer terhadap pelepas uang. Pasal 20 KUHD Dengan tak mengurangi kekecualian tersebut dalam ayat kedua Pasal 30 nama persero pelepas uang tidak boleh dipakai dalam firma. Persero yang belakangan ini tak diperbolehkan melakukan perbuatan-perbuatan pengurusan atau bekerja dalam perusahaan perseroan, biar kiranya dikuasakan untuk itu sekalipun ia tidak usah menanggung kerugian yang lebih dari jumlah uang yang telah atau harus dimasukan olehnya sebagai model dalam perseroan, pula tak perlu mengembalikan segala keuntungan yang telah dinikmatinya. Pasal 21 KUHD Tiap tiap persero pelepas uang yang melanggar ketentuan-ketentuan Ayat kesatu atau kedua dari Pasal yang lalu adalah secara tanggung menanggung Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)
Page 79

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

bertanggung jawab untuk seluruhnya atas segala utang dan segala perikatan dari perseroan.
Tujuan Pendirian CV

1. Menjalankan perusahaan 2. Membagi keuntungan 3. Perbedaan tanggung jawab peserta pengurus dan peserta diam 4. Bersifat terbatas
Partisipasi Peserta

1. Tenaga kerja 2. Ketrampilan 3. Uang 4. Barang 5. Nama baik 6. Goodwill


Isi Perjanjian

Dalam Akta Pendirian CV akan memuat : 1. 2. 3. 4. 5. a. Nama, nama depan, pekerjaan dan tempat tinngal para Persero. Penyebutan sebagai persero umum atau sebagai sesuatu perusahaan khusus. Para Persero yang ditunjuk. Mulai berlaku dan berakhirnya perseroan. Hak pihak ketiga terhadap perseroan Sekutu Pimpinan Anggota yang aktif dan duduk sebagai pengurus dalam perseroan komanditer. Biasanya modal yang disetorkan lebih besar dari anggota lain dan pertanggungjawabannya tidak terbatas terhadap hutang-hutang perusahaan. b. Sekutu Terbatas

Keanggotaan

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 80

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Anggita yang bertangggungjawab terbatas terhadap hutuang perusahaan sebesar modal yang disetorkan dan mereka tidak perbolehkan untuk aktif dalam perusahaan. c. Sekutu Diam Tidak ikut aktif dalam kegiatan perusahaan, tetapi diketahui oleh umum bahwa mereka termasuk anggota CV dan tidak mempunyai kekuasaan dalam manajemen.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 81

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

d.

Sekutu Rahasia Aktif dalam perusahaan tetapi tidak diketahui umum bahwa mereka sebenarnya termasuk anggota CV.

e.

Sekutu Dormant Seseorang yang tidak berperan aktif dalam perusahaan dan tidak diketahui umum sebagai anggota.

f.

Sekutu Nominal Bukan pemilik perusahaan, tetapi memberikan saran kepada orang lain seperti partner, tidak berminat di dalam perusahaan dan laba yang diperoleh 0perusahaan itu.

g.

Sekutu Senior dan Junior Keanggotaan didasarkan pada lamanya investasi atau lamanya bekerja kepada perusahaan. Sekutu senior memiliki waktu yang lebih lama dalam bekerja dan lebih banyak modal yang diinvestasikan dibandingkan dengan sekutu junior

Hubungan Intern Peserta

Hubungan hukum antara sesama sekutu komplementer sama seperti pada firma. Hubungan hukum antara sekutu komplementer dan sekutu komenditer tunduk pada ketentuan Pasal 1624 sampai dengan Pasal 1641 KUHPer. Pemasukan modal diatur dalam Pasal 1625 KUHPer sedangkan pembagian keuntungan dan kerugian diatur dalam Pasal 1633 dan Pasal 1634 KUHPer. Pasal-pasal ini hanya berlaku apabila dalam anggaran dasar tidak diatur. Menurut ketentuan Pasal 1633 KUHPer, sekutu komanditer mendapat bagian keuntungan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar persekutuan jika dalam anggaran dasar tidak ditentukan, sekutu komanditer mendapat keuntungan sebanding dengan jumlah pemasukannya. Jika persekutuan menderita kerugian, sekutu komanditer hanya bertanggung jawab sampai jumlah pemasukannya itu saja. Bagi sekutu komplementer beban kerugian tidak terbatas, kekayaannya pun ikut menjadi jaminan seluruh kerugian persekutuan (Pasal 18 KUHD, Pasal 1131 dan Pasal 1132 KUHPer). Sekutu komenditer tidak boleh dituntut supaya menambah pemasukannya guna menutupi kerugian dan tidak dapat

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 82

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

diminta supaya mengembalikan keuntungan yang telah diterimanya (Pasal 1625 KUHPer dan Pasal 20 Ayat (3) KUHD). Dalam soal pengurusan persekutuan, sekutu komanditer dilarang melakukan pengurusan meskipun dengan surat kuasa. Dia hanya boleh mengawasi pengurusan jika ditentukan dalam anggaran dasar persekutuan. Apabila ketentuan ini dilanggar, Pasal 21 KUHD memberi sanksi bahwa tanggung jawab sekutu komanditer disamakan dengan tanggung jawab sekutu komplementer secara pribadi untuk keseluruhan. Untuk menjalankan perusahaan, persekutuan komanditer dapat menempatkan sejumlah modal atau barang sebagai harta kekayaan persekutuan, dan ini dianggap sebagai harta kekayaan yang dipisahkan dari harta kekayaan pribadi sekutu komplementer. Hal ini dibolehkan berdasarkan rumusan Pasal 33 KUHD mengenai pemberesan firma. Kekayaan terpisah ini dapat diperjanjikan dalam anggaran dasar (akta pendirian) walaupun bukan badan hukum.
Hubungan Ekstern Peserta

Hanya sekutu komplementer yang dapat mengadakan hubungan hukum dengan pihak ketiga hanya dapat menagih sekutu komplementer sebab sekutu inilah yang bertanggung jawab penuh. Sekutu komanditer hanya bertanggung jawab kepada sekutu komplementer dengan menyerahkan sejumlah pemasukan (Pasal 19 Ayat (1) KUHD) sedangkan yang bertanggung jawab pada pihak ketiga hanya sekutu komplementer. Dengan kata lain, sekutu komenditer hanya bertanggung jawab ke dalam, sedangkan sekutu komplementer bertanggung jawab ke luar dan ke dalam. Dalam Pasal 20 Ayat (1) KUHD ditentukan bahwa sekutu komanditer tidak boleh memakai namanya sebagai nama firma. Sedangkan dalam Ayat (2) ditentukan bahwa sekutu komanditer tidak boleh melakukan pengurusan walaupun dengan surat kuasa. Apabila sekutu komanditer melanggar pasal ini, menurut ketentuan Pasal 21 KUHD dia bertanggung jawab secara pribadi untuk keseluruhan. Ini berarti tanggung jawabnya sama dengan sekutu komplementer. Prof. Soekardono (1977) berpendapat: Adalah adil apabila sekutu yang melanggar Pasal 20 KUHD itu dibebani tanggung jawab hanya mengenai utang-utang yang berjalan dan yang akan timbul selama keadaan pelanggaran itu masih berlangsung. Jika pelanggaran itu sudah berhenti, tidak ada lagi tanggung jawab secara pribadi untuk keseluruhan.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 83

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Keterlibatan Komanditaris dalam Pengurusan

Tidak mencampuri pengurusan perusahaan atau tidak bekerja dalam CV tersebut; hanya menyediakan modal atau uang untuk mendapatkan keuntungan dari laba perusahaan, Kerugian CV yang ditanggung hanya terbatas pada sejumlah modal atau uang yang disetorkan atau ditanamkan (beperkte aansprakelijkheid, limited liability); dan Nama Sekutu Komanditer tidak boleh diketahui.

Proses Pendirian CV

CV didirikan minimal oleh 2 (dua) orang, di mana salah satunya bertindak selaku Persero Aktif (Persero Pengurus), sedangkan lainnya akan bertindak selaku Persero Komanditer (Persero Diam). Persero Aktif akan bertindak melakukan segala tindakan pengurusan atas perseroan. Dalam hal terjadi kerugian maka Persero Aktif akan bertanggung jawab secara penuh dengan seluruh harta pribadinya untuk mengganti kerugian yang dituntut oleh pihak ketiga. Persero Komanditer selaku Persero Diam (sleeping partners) adalah anggota yang pasif, hanya bertanggung jawab sebesar modal yang disetorkannya ke dalam perseroan. Di dalam CV tidak ditentukan jumlah modal minimal sehingga CV merupakan bentuk badan usaha yang dapat dijadikan sebagai alternatif pilihan bagi para pengusaha yang akan melakukan kegiatan usaha dengan modal terbatas. Jadi, misalnya seorang pengusaha ingin berusaha di percetakan, catering, biro jasa, dan lain-lain dengan modal yang tidak terlalu besar dapat memilih CV sebagai alternatif badan usaha. Pendirian CV tidak memerlukan formalitas. Syarat dan prosedur pendirian CV adalah pendiriannya dilakukan oleh minimal 2 (dua) orang dan dengan menggunakan Akta Notaris yang berbahasa Indonesia. Untuk pendirian CV tidak diperlukan adanya pengecekan nama CV terlebih dahulu, sehingga prosesnya lebih cepat dan mudah. Akan tetapi dengan tidak adanya pengecekan nama CV terlebih dahulu menyebabkan banyak nama CV yang sama antara satu dengan yang lainnya. Hal-hal pertama kali yang diperlukan pada pendirian CV adalah : Mempersiapkan nama yang akan digunakan oleh CV tersebut. Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)
Page 84

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Tempat kedudukan CV. Siapa yang akan bertindak selaku Persero Aktif dan Persero Komanditer. Maksud dan tujuan dari CV tersebut. Meskipun pendirian CV hanya menggunakan Akta Notaris, akan tetapi Akta tersebut harus didaftarkan pada Pengadilan Negeri di daerah hukumnya dimana CV tersebut berkedudukan dengan membawa kelengkapan berupa Surat Keterangan Domisili Perusahaan dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atas nama CV yang bersangkutan. Para Persero diwajibkan untuk menyelenggarakan pengumuman dalam Berita Negara.
JANgka wAKTU CV

Karena persekutuan firma sebenarnya adalah persekutuan perdata, maka mengenai bubarnya persekutuan firma berlaku ketentuan yang sama dengan persekutuan perdata, yakni Pasal 1646 sampai dengan 1652 KUHPerdata. Selain itu, berlaku juga aturan khusus yang terdapat Pasal 31 sampai dengan 35 KUHD. Apabila pembubaran tersebut berkaitan dengan pihak ketiga, Pasal 31 ayat (1) KUHD menentukan: Pembubaran suatu persekutuan dengan firma yang terjadi sebelum waktu yang ditentukan dalam perjanjian atau sebagai akibat pengunduran diri atau pemberhentian, begitu juga perpanjangan waktu akibat lampaunya waktu yang ditentukan, dan pengubahanpengubahan dalam perjanjian semula yang penting bagi pihak ketiga, semua itu harus dilakukan dengan akte otentik, didaftarkan dan diumumkan dalam Tambahan Berita Negara Republik Indonesia. Ayat (2) Pasal 31 KUHD menentukan bahwa kelalaian dalam pendaftaran dan pengumuman tersebut, berakibat tidak berlakunya pembubaran, pengunduran diri, atau pemberhentian, atau pengubahan tersebut terhadap pihak ketiga. Kemudian ayat (3) 31 KUHD menentukan pula bahwa apabila kelalaian itu mengenai perpanjangan waktu, maka berlaku ketentuan pasal 29 KUHD. Pasal 29 KUHD sendiri memuat ketentuan bahwa pihak ketiga dapat menganggap bahwa persekutuan itu: berlaku untuk jangka waktu yang tidak ditentukan; Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)
Page 85

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

mengenai semua jenis usaha perniagaan; dan tidak ada sekutu yang dikeluarkan dari kewenangan untuk bertindak ke luar. Di dalam Pasal 31 KUHD tidak disebutkan adanya persekutuan firma yang bubar karena lampaunya waktu yang ditetapkan dalam perjanjian pendirian persekutuan. Ini tidak berarti bahwa bubarnya persekutuan semacam itu tidak perlu diadakan pemberesan atau likuidasi. Bila suatu persekutuan firma bubar karena lampaunya waktu yang ditentukan dalam perjanjian pendirian persekutuan, maka hal itu harus memenuhi kewajiban-kewajiban yang ditentukan Pasal 31 ayat (1) KUHD.
Pembubaran CV

Aturan tentang pembubaran CV terdapat dalam pasal 1646 KUHPer sampai 1652 KUHPer.ditambah pasal 25 hingga 31 KUHD. 1. Berakhirnya Persekutuan Perdata 2. Suatu Persekutuan Perdata akan berakhir karena ; 3. Dengan lewatnya waktu untuk mana persekutuan telah diadakan. 4. Dengan musnahnya barang atau diselesaikannya perbuatan yang menjadi pokok persekutuan 5. Atas kehendak semata-mata dari beberapa atau seorang sekutu 6. Jika salah seorang sekutu meninggal atau ditaruh di bawah pengampuan, ataupun dinyatakan pailit. (Ps. 1646 KUHPer) Pasal 32 KUHD Pada pembubaran perseroan, para persero yang tadinya mempunyai hak mengurus harus membereskan urusan-urusan bekas perseroan itu atas nama firma itu juga, kecuali bila dalam perjanjiannya ditentukan lain , atau seluruh persero (tidak termasuk para persero komanditer) mengangkat seorang pengurus lain dengan pemungutan suara seorang demi seorang dengan suara terbanyak. Jika pemungutan suara macet, raad van justitie mengambil keputusan sedemikian yang menurut pendapatnya paling layak untuk kepentingan perseroan yang dibubarkan itu. (KUHPerd. 1652; KUHD 17, 20, 22, 31, 56; Rv. 6-50, 99.) Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)
Page 86

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Pasal 33 KUHD Bila keadaan kas perseroan yang dibubarkan tidak mencukupi untuk membayar utang-utang yang telah dapat ditagih, maka mereka yang bertugas untuk membereskan keperluan itu dapat menagih uang yang seharusnya akan dimasukkan dalam perseroan oleh tiaptiap persero menurut bagiannya masing-masing. (KUHD 18, 22.) Pasal 34 KUHD Uang yang selama pemberesan dapat dikeluarkan perseroan, harus dibagikan sementara. (KUHD 33.) Pasal 35 KUHD Setelah pemberesan dan pembagian itu, bila tidak ada perjanjian yang menentukan lain, maka buku-buku dan surat-surat yang dulu menjadi milik perseroan yang dibubarkan itu tetap ada pada persero yang terpilih dengan suara terbanyak atau yang ditunjuk oleh raad van justitie karena macetnya pemungutan suara, dengan tidak mengurangi kebebasan para persero atau para penerima hak untuk melihatnya. (KUHPerd. 1801 dst., 1652, 1885; KUHD 12, 56.)
CV atas Saham

dari

kas

CV atas saham merupakan bentuk perusahaan antara CV dan PT. Diterapkan secara analogis ketentuan-ketentuan yang berlaku terhadap PT terutama yang berkenaan dengan bidang yang mengatur perusahaan. Awal mula terjadinya CV Atas Saham: Pembayaran saham dalam CV yang tidak dibayar penuh secara tunai, maka yang harus diberikan kepadanya atas nama (aandelen op naam, registered share). Nama Komanditer harus disebut di atas saham agar pemiliknya tertentu. Untuk mengalihkan kepemilikannya kepada pihak lain hanya dapat dilakukan Komanditaris yang bersangkutan/ penggantian persero dengan cara endosemen disertai dengan penyerahan saham tersebut. Cara mendirikan CV Atas Saham bebas atau tidak diperlukan formalitas pengesahan. Tapi dalam praktiknya, biasanya para pelaku usaha membuatnya dalam akta notaries. Perbedaan kedudukan pemegang saham antara PT dengan CV Atas Saham: Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)
Page 87

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

1. Anggota/ pemegang saham dalam CV yang bertindak sebagai pengurus (daden van beheer) yang disebut Sekutu Komplementaris memiliki tanggung jawab yang tidak terbatas (unlimited liability) sampai meliputi harta pribadinya. 2. Anggota Direksi dalam PT yang bertindak sebagai pengurus, tidak ikut memikul tanggung jawab pelaksanaan perjanjian maupun utang PT. Mereka hanya bertanggung jawab sebatas pelaksanaan tugas dan fungsi pengurusan/ sesuai dengan Anggaran Dasar.
Kelebihan Persekutuan Komanditer

Mudah proses pendiriannya. Kebutuhan akan modal dapat lebih dipenuhi. Persekutuan komanditer cenderung lebih mudah memperoleh kredit. Dari segi kepemimpinan, persekutuan komanditer relatif lebih baik. Sebagai tempat untuk menanamkan modal, persekutuan komanditer cenderung lebih baik, karena bagi sekutu diam akan lebih mudah untuk menginvestasikan maupun mencairkan kembali modalnya. Kemampuan manajemen lebih besar Terdapat sekutu komanditer yang memiliki peranan dalam pengembangan dan perusahaan Modal yang dikumpulkan dapat lebih besar karena ada peluang masuknya sekutu komanditer lain untuk bergabung

Kekurangan Persekutuan Komanditer

Kelangsungan hidup tidak menentu, karena banyak tergantung dari sekutu aktif yang bertindak sebagai pemimpin persekutuan. Tanggung jawab para sekutu komanditer yang terbatas mengendorkan semangat mereka untuk memajukan perusahaan jika dibandingkan dengan sekutu-sekutu pada persekutuan firma. Sebagian sekutu yang menjadi sekutu komplementer memiliki tanggung jawab tidak terbatas Sulit menarik kembali modal yang sudah ditanamkan Sekutu komanditer tidak memiliki akses untuk mengelola perusahaan

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 88

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Kemungkinan perusahaan salah urus bisa lebih besar, karena hak mutlak pengurusan berada ditangan sekutu komplementer

KAJIAN TENTANG PERUSAHAAN TERBATAS

Bagian 1 Pengertian Perseroan Terbatas

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 89

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

1. Pengertian Bentuk lain dari perusahaan persekutuan selain Firma dan CV yaitu perseroan terbatas. Perseroan Terbatas atau disingkat PT bukan hal yang asing lagi untuk didengar. Bahkan seperti yang kita ketahui, PT itu sendiri merupakan sebuah bentuk usaha yang saat ini paling banyak digunakan dalam melakukan kegiatan usaha. PT ini yang semula diatur oleh kitab undang undang hukum dagang (KUHD) yang dikenal dengan istilah naamloze vennootschap, Perseroan Terbatas adalah bentuk badan usaha yang dahulu diatur dalam Bagian III dari buku I KUHD dari pasal 36-56, yang kemudian diberlakukan lagi berdasarkan undang-undang No. 1/1995 dan sekarang telah diubah menurut UU Perseroan Terbatas yang baru, yaitu UU Nomor 40 Tahun 2007 yang mulai berlaku sejak diundangkan 16 agustus 2007. Bentuk ini menurut aslinya, sebagaimana ditetapkan dalam KUHD bernama Naamloze Vennootschap (disingkat N.V). Sesungguhnya tiada undang-undang yang secara khusus dan resmi memerintahkan untuk mengubah sebutan Naamloze Vennootschap hingga harus disebut sebagai Perseroan Terbatas, namun sebutan Perseroan Terbatas itu telah menjadi baku dalam masyarakat. Umumnya dalam kepustakaan klasik bentuk PT itu tidak didasarkan atas alasan asosiasi modal, melainkan bahkan cenderung atas alasanalasan lain (Rudhi Prasetya, 1995: 1-2). Menurut UU No.40 Tahun 2007 tentang perseroan terbatas yang mana menggantikan UU sebelumnya yaitu UU No.1 Tahun 1995, dalam pasal 1 ayat (1) menyebutkan: Perseroan terbatas, yang selanjutnya disebut perseroan, adalah badan hukum yang merupakan persekutan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persayaratan yang ditetapkan dalam Undang Undang ini serta peraturan pelaksanaannya. Dengan dijelaskannya Perseroan Terbatas dalam UU No. 40 tahun 2007, dapat dilihat beberapa karakteristiknya, yaitu: a. Berbadan hukum b. Dirikan berdasarkan perjanjian 1. Ada dua orang (perorangan atau badan hukum) atau lebih 2. Ada kesempatan para pihak yang mendirikan PT 3. Kewajiban mengambil bagian pada saat pendirian c. Melakukan kegiatan usaha yang modal dasarnya terdiri atas saham Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)
Page 90

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

d. Jangka waktu dapat tidak terbatas e. Tanggung jawab pemegang saham terbatas pada nilai saham yang telah diambilnya, ketentuan diatas tidak berlaku dalam hal: 1. persyaratan badan hukum belum terpenuhi; 2. pemegang saham memanfaatkan PT untuk kepentingan pribadi; 3. pemegang saham terlibat perbuatan melanggar hukum yang dilakukan PT; 4. pemegang saham secara melawan hukum, menggunakan kekayaan PT sehingga PT tidak dapat melunasi hutangnya Chatamarrasjid berpendapat, bahwa Perseroan Terbatas merupakan suatu artificial person , suatu badan hukum yang dengan sengaja diciptakan. Dengan demikian, PT adalah suatu subjek hukum yang mandiri, yang mempunyai hak dan kewajiban, yang pada dasarnya tidak berbeda dengan hak dan kewajiban subjek hukum manusia (Chatamarrasjid Ais, 2000: 25). Apabila dibandingkan dengan bentuk badan usaha lainnya (I.G. Rai Widjaya, 2002: 1-3), maka Perseroan Terbatas yang merupakan badan hukum, memiliki sifat dan ciri kualitas yang berbeda, dan dikenal sebagai karakteristik suatu Perseroan Terbatas, sebagaimana diungkap I.G. Rai Widjaya (I.G. Rai Widjaya, 2002: 142-143) sebagai berikut : a. Sebagai asosiasi modal b. Kekayaan dan utang Perseroan Terbatas adalah terpisah dari kekayaan dan utang pemegangsaham; c. Pemegang saham : d. Bertanggungjawab hanya pada apa yang disetorkan, atau tanggungjawab terbatas (limited liability); e. Tidak bertanggungjawab atas kerugian perseroan (PT) melebihi nilai saham yang telah diambilnya; f. Tidak bertanggungjawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama perseroan; g. Adanya pemisahan fungsi antara pemegang saham dan Pengurus atau Direksi; h. Memiliki komisaris yang berfungsi sebagai pengawas; i. Kekuasaan tertinggi berada pada Rapat Umum Pemegang Saham atau RUPS.

2. Pengklasifikasian Perseroan Terbatas Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)


Page 91

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

Pada UU No. 40 tahun 2007 pasal 1 ayat (7) dan (8), yaitu mengenai klasifikasi dari Perseroan Terbatas: 1. Perseroan Publik. Perseroan Publik adalah Perseroan yang memenuhi kriteria jumlah pemegang saham dan modal disetor sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal. Merujuk kepada UU No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (selanjutnya, UUPM) yang dalam hal ini pasal 1 ayat 22 dijelaskan bahwa agar Perseroan menjadi Perseroan publik, harus memenuhi kriteria sebagai berikut: Saham Perseroan yang bersangkutan, telah dimiliki sekurang kurangnya, 300 (tiga ratus) pemegang saham, Memiliki modal disetor (gestort capital, paid up capital ) sekurang kurangnya Rp3.000.000.000,- (tiga miliar rupiah), Atau suatu jumlah pemegang saham dengan jumlah modal disetor yang ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah. 2. Perseroan Terbuka. Perseroan Terbuka adalah Perseroan Publik atau Perseroan yang melakukan penawaran umum saham, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal yang mana telah memenuhi ketentuan pasal 1 ayat 22 UU No.8 Tahun 1995 yakni memiliki pemegang saham sekurang kurangnya 300 (tiga ratus) orang, modal disetor sekurang kurangnya Rp3.000.000.000,- (tiga miliar rupiah), Perseroan yang melakukan penawaran umum (public offering) saham di Bursa Efek yang berarti menjual atau menawarkan sahamnya kepada masyarakat umum. 3. Keuntungan dan Kelemahan Perseroan Terbatas Keuntungan utama membentuk perusahaan perseroan terbatas adalah: a. Kewajiban terbatas. Tidak seperti partnership, pemegang saham sebuah perusahaan tidak memiliki kewajiban untuk obligasi dan hutang perusahaan. Akibatnya kehilangan potensial yang "terbatas" tidak dapat melebihi dari jumlah yang mereka bayarkan terhadap saham. Tidak hanya ini mengijinkan perusahaan untuk melaksanakan dalam usaha yang beresiko, tetapi kewajiban terbatas juga membentuk dasar untuk perdagangan di saham perusahaan. b. Masa hidup abadi. Aset dan struktur perusahaan dapat melewati masa hidup dari pemegang sahamnya, pejabat atau direktur. Ini menyebabkan stabilitas modal, Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)
Page 92

PAPER PENGANTAR HUKUM BISNIS

yang dapat menjadi investasi dalam proyek yang lebih besar dan dalam jangka waktu yang lebih panjang daripada aset perusahaan tetap dapat menjadi subyek disolusi dan penyebaran. c. Efisiensi manajemen. Manajemen dan spesialisasi memungkinkan pengelolaan modal yang efisien sehingga memungkinkan untuk melakukan ekspansi. Dan dengan menempatkan orang yang tepat, efisiensi maksimum dari modal yang ada. Dan juga adanya pemisahan antara pengelola dan pemilik perusahaan, sehingga terlihat tugas pokok dan fungsi masing-masing. Sedangkan kelemahan dari PT yaitu kerumitan perizinan dan organisasi. Untuk mendirikan sebuah PT tidaklah mudah. Selain biayanya yang tidak sedikit, PT juga membutuhkan akta notaris dan izin khusus untuk usaha tertentu. Lalu dengan besarnya perusahaan tersebut, biaya pengorganisasian akan keluar sangat besar. Belum lagi kerumitan dan kendala yang terjadi dalam tingkat personel. Hubungan antar perorangan juga lebih formal dan berkesankaku.

Bentuk-Bentuk Kegiatan Usaha (Bagian 1)

Page 93

Bagian 2 Syarat Pendirian Perseroan Terbatas

1. Syarat Pendirian Perseroan Terbatas Secara Formal Berdasarkan UU No. 40/2007 Syarat pendirian perseroan sesuai dengan UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas adalah: 1. Pendiri minimal 2 orang atau lebih (pasal 7 ayat 1), 2. Akta Notaris yang berbahasa Indonesia, 3. Setiap pendiri harus mengambil bagian atas saham, kecuali dalam rangka peleburan (pasal 7 ayat 2 dan ayat 3), 4. Akta pendirian harus disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM dan diumumkan dalam BNRI (ps. 7 ayat 4), 5. Modal dasar minimal Rp. 50 juta dan modal disetor minimal 25% dari modal dasar (pasal 32 dan pasal 33), 6. Minimal 1 orang direktur dan 1 orang komisaris (pasal 92 ayat 3 & pasal 108 ayat 3), 7. Pemegang saham harus WNI atau badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia, kecuali PT PMA (Penanaman Modal Asing) 2. Mekanisme Pendirian Perseroan Terbatas Untuk mendirikan PT, harus dengan menggunakan akta resmi (akta yang dibuat oleh notaris) yang di dalamnya dicantumkan nama lain dari perseroan terbatas, modal, bidang usaha, alamat perusahaan, dan lain-lain. Akta ini harus disahkan oleh menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (dahulu Menteri Kehakiman). Untuk mendapat izin dari Menteri, harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. Perseroan terbatas tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan kesusilaan b. Akta pendirian memenuhi syarat yang ditetapkan Undang-Undang c. Paling sedikit modal yang ditempatkan dan disetor adalah 25% dari modal dasar. (sesuai dengan UU No. 40 Tahun 2007)

Setelah mendapat pengesahan, dahulu sebelum adanya UU mengenai Perseroan Terbatas (UU No. 1 tahun 1995) Perseroan Terbatas harus didaftarkan ke Pengadilan Negeri setempat, tetapi setelah berlakunya UU No. 1 tahun 1995 tersebut, maka akta pendirian tersebut harus didaftarkan ke Kantor Pendaftaran Perusahaan (sesuai UU Wajib Daftar Perusahaan tahun 1982) (dengan kata lain tidak perlu lagi didaftarkan ke Pengadilan negeri, tetapi selanjutnya sesuai UU No. 40 tahun 2007, kewajiban pendaftaran di Kantor Pendaftaran Perusahaan tersebut ditiadakan. Sedangkan tahapan pengumuman dalam Berita Negara Republik Indonesia (BNRI) tetap berlaku, hanya saja kewajiban tersebut menjadi kewenangan/kewajiban Menteri Hukum dan HAM. Setelah tahap tersebut dilalui maka perseroan telah sah sebagai badan hukum dan perseroan terbatas menjadi dirinya sendiri serta dapat melakukan perjanjian-perjanjian dan kekayaan perseroan terpisah dari kekayaan pemiliknya. Modal dasar perseroan adalah jumlah modal yang dicantumkan dalam akta pendirian sampai jumlah maksimal bila seluruh saham dikeluarkan. Selain modal dasar, dalam perseroan terbatas juga terdapat modal yang ditempatkan, modal yang disetorkan dan modal bayar. Modal yang ditempatkan merupakan jumlah yang disanggupi untuk dimasukkan, yang pada waktu pendiriannya merupakan jumlah yang disertakan oleh para persero pendiri.Modal yang disetor merupakan modal yang dimasukkan dalam perusahaan. Modal bayar merupakan modal yang diwujudkan dalam jumlah uang. 3. Prosedur Pendirian Perseroan Terbatas Bilamana seseorang akan mendirikan perseroan terbatas, maka para pendiri, yang biasanya terdiri dari 2 orang atau lebih, melakukan perbuatan hukum sebagai yang tersebut dibawah ini: a. Pertama, para pendiri datang di kantor notaris untuk diminta dibuatkan akta pendirian Perseroan Terbatas. Yang disebut akta pendirian itu termasuk di dalamnya anggaran dasar dari Perseroan Terbatas yang bersangkutan. Anggaran dasar ini sendiri dibuat oleh para pendiri, sebagai hasil musyawarah mereka. Kalau para pendiri merasa tidak sanggup untuk membuat anggaran

dasar tersebut, maka hal itu dapat diserahkan pelaksanaannya kepada notaris yang bersangkutan. b. Kedua, setelah pembuatan akta pendirian itu selesai, maka notaris mengirimkan akta tersebut kepada Kepala Direktorat Perdata, Departemen Kehakiman. Akta pendirian tersebut juga dapat dibawa sendiri oleh para pendiri untuk minta pengesahan dari Menteri Kehakiman, tetapi dalam hal ini Kepala Direktorat Perdata tersebut harus ada surat pengantar dari notaris yang bersangkutan. Kalau penelitian akta pendirian Perseroan Terbatas itu tidak mengalami kesulitan, maka Kepala Direktorat Perdata atas nama Menteri Kehakiman mengeluarkan surat keputusan pengesahan akta pendirian Perseroan Terbatas yang bersangkutan. Kalau ada hal-hal yang harus diubah, maka perubahan itu harus ditetapkan lagi dengan akta notaris sebagai tambahan akta notaris yang dahulu. Tambahan akta notaris ini harus mnedapat pengesahan dari Departemen Kehakiman. Setelah itu ditetapkan surat keputusan terakhir dari Departemen Kehakiman tentang akta pendirian Perseroan Terbatas yang bersangkutan. c. Ketiga, para pendiri atau salah seorang atau kuasanya, membawa akta pendirian yang sudah mendapat pengesahan dari Departemen Kehakiman beserta surat keputusan pengesahan dari Departemen Kehakiman tersebut ke kantor Kepaniteraan Pengadilan Negeri yang mewilayahi domisili Perseroan Terbatas untuk didaftarkan. Panitera yang berwenang mengenai hal ini mengeluarkan surat pemberitahuan kepada notaris yang bersangkutan bahwa akta pendirian PT sudah didaftar pada buku register PT. d. Keempat, para pendiri membawa akta pendirian PT beserta surat keputusan tentang pengesahan dari Departemen Kehakiman, serta pula surat dari Panitera Pengadilan negeri tentang telah didaftarnya akta pendirian PT tersebut ke kantor Percetakan Negara, yang menerbitkan Tambahan Berita Negara RI. Sesudah akta pendirian PT tersebut diumumkan dalam Tambahan Berita Negara RI,maka PT yang bersangkutan sudah sah menjadi badan hukum.

Bagian 3 Organ Perseroan Terbatas Dalam UU PT dengan tegas disebutkan organ perseroan terdiri atas : (1). Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), (2). Direksi dan (3) Komisaris. 1. Rapat umum Pemegang Saham (RUPS) RUPS adalah organ perseroan yang kmemegang kekuasaan tertinggi dalam perseroan dan memegang segala wewenang yang tidak diserahkan kepada direksi dan komisaris (Pasal 1 angka 3) Hal ini dipertegas lagi dalam pasal 63: 1. RUPS mempunyai segala wewenang yang tidak diberikan kepada Dereksi atau komisaris dalam batas yang ditentukan dalam UU ini dan atau Anggaran Dasar. 2. RUPS berhak memperoleh segala keterangan yang berkaitan dengan kepentingan perseroan dari direksi atau komisaris. Dari ketentuan ini, dapat diketahui RUPS sebagai organ tertinggi dari PT mempunyai wewenang yang cukup luas. Namun tidak berarti RUPS dalam menjalankan wewenangnya bertindak tanpa batas, dalam arti RUPS dalam menjalankan tugas harus tunduk kepada UU dan AD PT. Pada galibnya dalam AD disebutkan diselenggarakan setahun sekali yang dikenal dengan Rapat Tahunan dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa.Melihat kedudukan RUPS sebagai organ tertinggi dalam PT. RUPS mempunyai beberapa kewenangan eksklusif yang tidak dapat diserahkan kepada direksi dan komisaris. Beberapa contoh wewenang yang dimaksud antara lain: 1. Penetapan perubahan AD (Pasal 14); 2. Penetapan pengurangan modal (Pasal 37); 3. Memeriksa, menyetujui, dan mengesahkan laporan tahunan (Pasal 60); 4. Penetapan penggunaan laba (Pasal 62); 5. Pengangkatan dan pemberhentian Direksi dan Komisaris (Pasal 80, 91 dan 92); 6. Penetapan mengenai penggabungan, peleburan dan pengambilalihan (Pasal 105);

7. Penetapan pembubaran PT (Pasal 114). 2. Direksi Salah satu organ yang cukup penting dalam PT adalah Direksi, karena direksi inilah yang mengendalikan perusahaan dalam kegiatan sehari-hari.Prinsip pengelolaan suatu perusahaan dalam literatur[2] dikenal beberapa prinsip yakni : Pertama: Prinsip Kolegial. Menurut prinsip ini, kedudukan para direktur sama tingginya sehingga tidak ada yang menjadi Presiden Direktur, Perbedaan hanya terletak tugas, wewenang dan tanggung jawab. Kedua: Prinsip Derektorial. Menurut prinsip ini seorang direktur menjadi presiden direktur atau direktur utama. Sedangkan direktur lainnya, berada di bawahnya dan bertanggung jawab kepadanya. Sedangkan presiden direktur bertanggung jawab kepada dewan komisaris. Apabila dikaji secara seksama UU PT, kiranya dapat dikemukakan menganut prinsip kolegial. Hal terlihat dari pasal berikut: Pasal 1 angka 4 Direksi adalah organ pereroan yang bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan AD. Pasal 82 Direksi bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan. Pasal85 1. Dalam hal anggota direksi terdiri lebih dari 1(satu) orang, maka yang berwenang mewakili perseroan adalah setiap anggota direksi kecuali ditentukan lain dalam UU ini dan atau Anggaran Dasar. 2. Anggaran Dasar dapat menentukan pembatasan wewenang anggota direksi sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1). Pasal 86 1. Direksi wajib :

a. membuat dan memelihara daftar pemegang saham, risalah RUPS dan risalah rapat direksi; dan b. menyelenggaran pembukuan perseroan. 2. Daftar pemegang saham, risalah dan pembukuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disimpan di tempat kedudukan perseroan. 3. Atas permohonan tertulis dari pemegang saham, direksi memberi izin kepada pemegang sahamk untuk memriksa dan mendapatkan salinan daftar pemegang saham, risalah dan pembukuan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1). Apabila diperhatikan persyaratan yang ditentukan oleh UU untuk menjadi direksi cukup berat, karena harus memenuhi kualifikasi tertentu. Pembentuk UU, tampaknya mempunyai alasan mengapa untuk menjadi direksi harus memenuhi syarat tertentu.Disamping itu, tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh direksi pun cukup berat. Apabila salah dalam mengelola perusahaan dapat dituntut oleh pemegang saham. Untuk itu, jabatan direksi pasca berlakunya UU PT bukanlah pekerjaan ringan, tapi harus betul-betul profesional. Melihat besarnya risiko yang akan dihadapi oleh direksi dalam mengoperasikan perusahaan ada gagasan agar jabatan direksi diasuransikan. 3. Komisaris Perseroan memiliki Komisaris yang wewenang dan kewajibannya ditetapkan dalam Anggaran Dasar. Perseroan yang bidang usahanya mengerahkan dana masyarakat , Perseroan yang menerbitkan surat pengakuan utang, atau Perseroan Terbuka (Tbk.) wajib mempunyai paling sedikit 2 (dua) oarang Komisaris. (Ps. 94 UUPT) Komisaris diangkat oleh RUPS, dan untuk pertama kalinya pengangkatan Komisaris dicantumkan dengan mencantumkan susunan dan nama komisaris dalam Akta Pendirian. Komisaris diangkat untuk jangka waktu tertentu dan dapat diangkat kembali. Hal ini diatur dalam Anggaran Dasar yang mengatuir mengenai tata cara pencalonan, pengangkatan, dan pemberhentian komisaris tanpa mengurangi hak Pemegang Saham dalam pencalonan. Yang dapat diangkat menjadi Komisaris adalah orang perorangan yang mampu melaksanakan perbuatan hukum dan tidak pernah dinyatakan pailit atau

menjadi anggota Direksi atau menjadi anggota Komisaris yang dinyatakan bersalah menyebabkan perseroan dinyatakan pailit, atau orang yang pernah dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan negara dalam waktu 5 (lima) tahun sebelum pengangkatan. (ps. 96 UUPT). Komisaris bertugas mengawasi kebijakan Direksi dalam menjalankan Perseroan serta memberikan nasihat kepada Direksi.Komisaris berwenang Memeriksa semua pembukuan, surat dan alat bukti dan berhak mencocokkan keadaan keuangan, berhak mengetahui segala tindakan yang tekah dijalankan Direksi, dan Komisaris berhak memberhentikan untuk sementara seorang atau lebih anggota Direksi apabila anggota Direksi tersebut bertindak bertentangan dengan Anggaran Dasar atau perundang-undangan yang berlaku.

Bagian 4 Modal Dan Saham

1. Pendahuluan Modal dasar perseroan terdiri atas seluruh nilai nominal saham. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa peraturanperundang-undangan di bidang pasar modal mengatur modal Perseroan terdiri atas sahamtanpa nilai nominal.Modal dasar Perseroan paling sedikit Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).Untuk kegiatan usaha tertentu (usaha perbankan, asuransi, freight forwarding)dapat menentukan jumlah minimummodal Perseroan yang lebih besar dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) Perubahan besarnya modal dasar tersebut dapat dilakukan untuk mengantisipasi perubahan ekonomi dengan menetapkannya pada peraturan pemerintah.Paling sedikit 25% (dua puluh lima persen) dari modal dasar perusahaan harus ditempatkan dan disetor penuh yang dibuktikandengan bukti penyetoran yang sah (bukti setoran pemegang saham ke dalam rekening bank atas nama Perseroan, data dari laporan keuangan yang telah diaudit oleh akuntan, atau neraca Perseroan yang ditandatangani oleh Direksi dan Dewan Komisaris). Kemudian, untuk pengeluaran saham lebih lanjut yang dilakukan setiap kali untuk menambah modal yangditempatkan harus disetor penuh. Penyetoran atas modal saham dapat dilakukan dalam bentuk uang dan/atau dalam bentuklainnya (tidak dimungkinkan penyetoran atas saham dengan cara mengangsur).Dalam hal penyetoran modal saham dilakukan dalam bentuk lain, penilaian setoran modal saham ditentukan berdasarkan nilai wajar yangditetapkan sesuai dengan harga pasar atau oleh ahli yang tidak terafiliasi dengan Perseroan.Yang dimaksud dengan ahli yang tidak terafiliasi adalah ahli yang tidak mempunyai: a. hubungan keluarga karena perkawinan atau keturunan sampai derajat kedua, baik secara horizontal maupun vertikal dengan pegawai, anggota Direksi, Dewan Komisaris, atau pemegang saham dari Perseroan; b. hubungan dengan Perseroan karena adanya kesamaan satu atau lebih anggota Direksi atau Dewan Komisaris; c. hubungan pengendalian dengan Perseroan baik langsung maupun tidak langsung; dan/atau d. saham dalam Perseroan sebesar 20% (dua puluh persen) atau lebih.

Penyetoran saham dalam bentuk benda tidak bergerak harus diumumkan dalam 1 (satu) SuratKabar atau lebih, dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari setelah akta pendirianditandatangani atau setelah RUPS memutuskan penyetoran saham tersebut. Hal ini dimaksudkan agar diketahui umum dan memberikan kesempatan kepada pihak yang berkepentingan untuk dapat mengajukan keberatan atas penyerahan benda tersebut sebagai setoran modal saham, misalnya ternyata diketahui benda tersebut bukan milik penyetor. Pemegang saham dan kreditor lainnya yang mempunyai tagihan terhadap Perseroan tidakdapat menggunakan hak tagihnya sebagai kompensasi kewajiban penyetoran atas hargasaham yang telah diambilnya, kecuali disetujui oleh RUPS dengan memperhatikan ketentuan mengenai panggilan rapat, kuorum, dan jumlah suara untuk perubahan anggaran dasar sebagaimana diatur dalam undang-undang ini dan/atau anggaran dasar. Diperlukannya persetujuan RUPS tersebut adalah untuk menegaskan bahwa hanya dengan persetujuan RUPS dapat dilakukan kompensasi karena dengan disetujuinya kompensasi, hak didahulukan pemegang saham lainnya untuk mengambil saham baru dengan sendirinya dilepaskan.Hak tagih yang dapat dikompensasidengan setoran sahamadalah hak tagih atas tagihan terhadap Perseroan yang timbul karena hal-hal sebagai berikut: a. Perseroan telah menerima uang atau penyerahan benda berwujud atau benda tidakberwujud yang dapat dinilai dengan uang; b. pihak yang menjadi penanggung atau penjamin utang Perseroan telah membayar lunasutang Perseroan sebesar yang ditanggung atau dijamin; atau c. Perseroan menjadi penanggung atau penjamin utang dari pihak ketiga dan Perseroan telahmenerima manfaat berupa uang atau barang yang dapat dinilai dengan uang yanglangsung atau tidak langsung secara nyata telah diterima Perseroan. Perseroan dilarang mengeluarkan saham baik untuk dimiliki sendiri maupun dimiliki olehPerseroan lain, yang sahamnya secara langsung atau tidak langsung telah dimiliki olehPerseroan.Ketentuan larangan kepemilikan saham tersebut tidak berlakuterhadap kepemilikan saham yang diperoleh berdasarkan peralihan karena hukum, hibah, atau hibah wasiat namun dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah tanggal perolehan harus dialihkan kepada pihak lain yangtidak di larang memiliki saham dalam Perseroan. Pada prinsipnya, pengeluaran saham adalah suatu upaya pengumpulan modal, maka kewajiban penyetoran atas saham seharusnya dibebankan kepada pihak lain. Demi kepastian, UU PT menentukan bahwa Perseroan tidak boleh mengeluarkan saham untuk dimiliki sendiri. Larangan tersebut termasuk juga larangan kepemilikan silang (cross holding) yang terjadi apabila Perseroan memiliki saham yang dikeluarkan oleh Perseroan lain yang

memiliki saham Perseroan tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengertian kepemilikan silang secara langsung adalah apabila Perseroan pertama memiliki saham pada Perseroan kedua tanpa melalui kepemilikan pada satu Perseroan antara atau lebih dan sebaliknya Perseroan kedua memiliki saham pada Perseroan pertama. Pengertian kepemilikan silang secara tidak langsung adalah kepemilikan Perseroan pertama atas saham pada Perseroan kedua melalui kepemilikan pada satu Perseroan antara atau lebih dan sebaliknya Perseroan kedua memiliki saham pada Perseroan pertama. Kepemilikan saham yang mengakibatkan pemilikan saham oleh Perseroan sendiri atau pemilikan saham secara kepemilikan silang tidak dilarang jika pemilikan saham tersebut diperoleh berdasarkan peralihan karena hukum, hibah, atau hibah wasiat 2. Perlindungan Modal dan Kekayaan Perseroan Perseroan dapat membeli kembali saham yang telah dikeluarkan dengan ketentuan: a. pembelian kembali saham tersebut tidak menyebabkan kekayaan bersih Perseroanmenjadi lebih kecil dari jumlah modal yang ditempatkan ditambah cadangan wajib yangtelah disisihkan; dan b. jumlah nilai nominal seluruh saham yang dibeli kembali oleh Perseroan dan gadai sahamatau jaminan fidusia atas saham yang dipegang oleh Perseroan sendiri dan/atau Perseroanlain yang sahamnya secara langsung atau tidak langsung dimiliki oleh Perseroan, tidakmelebihi 10% (sepuluh persen) dari jumlah modal yang ditempatkan dalam Perseroan,kecuali diatur lain dalam peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal. Pembelian kembali saham, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang bertentangandengan ketentuan di atas batal karena hukum. Direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas kerugian yang diderita pemegangsaham yang beritikad baik, yang timbul akibat pembelian kembali yang batal karena hukum.Saham yang dibeli kembali Perseroan hanya bolehdikuasai Perseroan paling lama 3 (tiga) tahun. Ketentuan jangka waktu 3 (tiga) tahun pada ayat ini dimaksudkan agar Perseroan dapat menentukan apakah saham tersebut akan dijual atau ditarik kembali dengan cara pengurangan modal. Pembelian kembali saham ataupengalihannya lebih lanjut hanya boleh dilakukan berdasarkan persetujuan RUPS dengan memperhatikan ketentuan mengenai panggilan rapat, kuorum, dan persetujuanjumlah suara untuk perubahan anggaran dasar sebagaimana diatur dalam undang-undang inidan/atau anggaran dasar, kecualiditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.

RUPS dapat menyerahkan kewenangan kepada Dewan Komisaris guna menyetujui pelaksanaan keputusan RUPS tersebut untuk jangka waktupaling lama 1 (satu) tahun.Penyerahan kewenangantersebut setiap kali dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang sama dan sewaktu-waktu juga dapat ditarikkembali oleh RUPS. Saham yang dikuasai Perseroan karena pembelian kembali, peralihan karena hukum, hibahatau hibah wasiat, tidak dapat digunakan untuk mengeluarkan suara dalam RUPS dan tidakdiperhitungkan dalam menentukan jumlah kuorum yang harus dicapai sesuai denganketentuan undang-undang ini dan/atau anggaran dasar.Saham tersebut tidak berhak mendapat pembagian dividen. 3. Penambahan Modal Penambahan modal Perseroan (modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor) dilakukan berdasarkan persetujuan RUPS.RUPS dapat menyerahkan kewenangan kepada Dewan Komisaris guna menyetujuipelaksanaan berupa penentuan saat, cara, dan jumlah penambahan modal yang tidak melebihi batas maksimum yang telah ditetapkan oleh RUPS, tetapi tidak termasuk hal -hal yang menjadi tugas Direksi dalam penambahan modal, seperti menerima setoran saham dan mencatatnya dalam daftar pemegang saham terkait keputusan penambahan modal untuk jangka waktupaling lama1 (satu) tahun.Penyerahan kewenangan tersebut sewaktu-waktu dapat ditarikkembali oleh RUPS. Keputusan RUPS untuk penambahan modal dasar adalah sah apabila dilakukan denganmemperhatikan persyaratan kuorum dan jumlah suara setuju untuk perubahan anggaran dasarsesuai dengan ketentuan dalam undang-undang ini dan/atau anggaran dasar.Keputusan RUPS untuk penambahan modal ditempatkan dan disetor dalam batas modaldasar adalah sah apabila dilakukan dengan kuorum kehadiran lebih dari 1/2 (satu perdua)bagian dari seluruh jumlah saham dengan hak suara (jumlah seluruh saham dengan hak suara yang telah dikeluarkan oleh Perseroan) dan disetujui oleh lebih dari 1/2 (satuperdua) bagian dari jumlah seluruh suara yang dikeluarkan, kecuali ditentukan lebih besardalam anggaran dasar (kuorum yang ditetapkan dalam anggaran dasar lebih tinggi daripada kuorum yang ditentukan pada peraturan ini).Penambahan modal tesebut wajib diberitahukan kepada Menteriuntuk dilakukan pencatatan dalam daftar Perseroan. Seluruh saham yang dikeluarkan untuk penambahan modal harus terlebih dahulu ditawarkankepada setiap pemegang saham seimbang dengan pemilikan saham untuk klasifikasi sahamyang sama (preemptive right).Dalam hal saham yang akan dikeluarkan untuk penambahan modal merupakan saham yangklasifikasinya belum pernah dikeluarkan,

yang berhak membeli terlebih dahulu adalahseluruh pemegang saham sesuai dengan perimbangan jumlah saham yang dimilikinya.Penawaran tersebut tidak berlaku dalam hal pengeluaran saham: a. ditujukan kepada karyawan Perseroan (saham yang dikeluarkan dalam rangka ESOP (employee stocks option program) Perseroan dengan segenap hak dan kewajiban yang melekat padanya; b. ditujukan kepada pemegang obligasi atau efek lain yang dapat dikonversikan menjadisaham, yang telah dikeluarkan dengan persetujuan RUPS; atau c. dilakukan dalam rangka reorganisasi dan/atau restrukturisasi (penggabungan, peleburan, pengambilalihan, kompensasi piutang, atau pemisahan) yang telah disetujui olehRUPS. Dalam hal pemegang saham tidak menggunakan hak (preemptive right) untuk membeli dan membayar lunas saham yang dibeli dalam jangka waktu 14 (empat belas)hari terhitung sejak tanggal penawaran, Perseroan dapat menawarkan sisa saham yang tidakdiambil bagian tersebut kepada pihak ketiga. Dalam waktu tersebut termasuk batas waktu bagi pemegang saham untuk mengambil bagian dari pemegang saham lain yang tidak menggunakan haknya. 4. PenguranganModal Yang dimaksud dengan pengurangan modal adalah pengurangan modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor. Pengurangan modal ditempatkan dan modal disetor dapat terjadi dengan cara menarik kembali saham yang telah dikeluarkan untuk dihapus atau dengan cara menurunkan nilai nominal saham. Keputusan RUPS untuk pengurangan modal Perseroan adalah sah apabila dilakukan denganmemperhatikan persyaratan ketentuan kuorum dan jumlah suara setuju untuk perubahananggaran dasar sesuai ketentuan dan/atau anggaran dasar.Direksi wajib memberitahukan keputusan pengurangan modal kepadasemua kreditor dengan mengumumkan dalam 1 (satu) atau lebih surat kabar dalam jangkawaktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal keputusan RUPS.Dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal pengumuman, kreditor dapat mengajukan keberatan secara tertulisdisertai alasannya kepada Perseroan atas keputusan pengurangan modal dengan tembusankepada Menteri.Dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak keberatan diterima, Perseroan wajib memberikan jawaban secara tertulis atas keberatanyang diajukan.Dalam hal Perseroan:

a. menolak keberatan atau tidak memberikan penyelesaian yang disepakati kreditor dalamjangka waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal jawaban Perseroan diterima;atau b. tidak memberikan tanggapan dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari terhitung sejaktanggal keberatan diajukan kepada Perseroan, kreditor dapat mengajukan gugatan kepengadilan negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan Perseroan. Pengurangan modal Perseroan merupakan perubahan anggaran dasar yang harus mendapatpersetujuan Menteri.Persetujuan tersebut diberikan apabila: a. tidak terdapat keberatan tertulis dari kreditor dalam jangka waktu yang telah ditentukan; b. telah dicapai penyelesaian atas keberatan yang diajukan kreditor; atau c. gugatan kreditor ditolak oleh pengadilan berdasarkan putusan yang telah memperolehkekuatan hukum tetap. Keputusan RUPS tentang pengurangan modal ditempatkan dan disetor dilakukan dengan carapenarikan kembali saham atau penurunan nilai nominal saham. Penarikan kembali saham berarti saham tersebut ditarik dari peredaran dalam rangka pengurangan modal ditempatkan dan modal disetor sehingga mengakibatkan penghapusan saham dari peredaran. Penarikan kembali saham dilakukan terhadap sahamyang telah dibeli kembali oleh Perseroan atau terhadap saham dengan klasifikasi yang dapatditarik kembali. Penurunan nilai nominal saham tanpa pembayaran kembali harus dilakukan secara seimbangterhadap seluruh saham dari setiap klasifikasi saham.Keseimbangan tersebut dapat dikecualikan dengan persetujuansemua pemegang saham yang nilai nominal sahamnya dikurangi.Dalam hal terdapat lebih dari 1 (satu) klasifikasi saham, keputusan RUPS tentangpengurangan modal hanya boleh diambil setelah mendapat persetujuan terlebih dahulu darisemua pemegang saham dari setiap klasifikasi saham yang haknya dirugikan oleh keputusanRUPS tentang pengurangan modal tersebut. 5. Saham Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan menyertakan modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas asset perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Saham Perseroan dikeluarkan atas nama pemiliknya dan tidak boleh mengeluarkan saham atas tunjuk.Persyaratan kepemilikan saham dapat ditetapkan dalam anggaran dasar denganmemperhatikan persyaratan yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang sesuai

denganketentuan peraturan perundang-undangan.Yang dimaksud dengan instansi yang berwenang adalah instansi yang berdasarkan undang-undang berwenang mengawasi Perseroan yang melakukan kegiatan usahanya di bidang tertentu, misalnya Bank Indonesia berwenang mengawasi Perseroan di bidang perbankan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral berwenang mengawasi Perseroan di bidang energi dan pertambangan. Dalam hal persyaratan kepemilikan saham telahditetapkan dan tidak dipenuhi, pihak yang memperoleh kepemilikan saham tersebut tidakdapat menjalankan hak selaku pemegang saham dan saham tersebut tidak diperhitungkandalam kuorum yang harus dicapai sesuai dengan ketentuan undang-undang ini dan/atauanggaran dasar.Yang dimaksud dengan tidak dapat menjalankan hak selaku pemegang saham, misalnya hak untuk dicatat dalam daftar pemegang saham, hak untuk menghadiri dan mengeluarkan suara dalam RUPS, atau hak untuk menerima dividen yang dibagikan Nilai saham harus dicantumkan dalam mata uang rupiah.Saham tanpa nilai nominal tidak dapat dikeluarkan.Namun tidak menutup kemungkinan diaturnyapengeluaran saham tanpa nilai nominal dalam peraturan perundang-undangan di bidang pasarmodal. Direksi Perseroan wajib mengadakan dan menyimpan daftar pemegang saham, yang memuatsekurang-kurangnya: a. nama dan alamat pemegang saham; b. jumlah, nomor, tanggal perolehan saham yang dimiliki pemegang saham, danklasifikasinya dalam hal dikeluarkan lebih dari satu klasifikasi saham; c. jumlah yang disetor atas setiap saham; d. nama dan alamat dari orang perseorangan atau badan hukum yang mempunyai hak gadaiatas saham atau sebagai penerima jaminan fidusia saham dan tanggal perolehan hak gadaiatau tanggal pendaftaran jaminan fidusia tersebut; e. keterangan penyetoran saham dalam bentuk lain. Selain penyusunan daftar pemegang, Direksi Perseroan wajibmengadakan dan menyimpan daftar khusus yang memuat keterangan mengenai sahamanggota Direksi dan Dewan Komisaris beserta keluarganya (istri atau suami dan anak-anaknya) dalam Perseroan dan/atau padaPerseroan lain serta tanggal saham itu diperoleh.Dalam daftar pemegang saham dan daftar khusus dicatat juga setiap perubahan kepemilikan saham dan disediakan di tempat kedudukan Perseroan agar dapat dilihat oleh para pemegang saham.Dalam hal peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal tidak mengatur lain,ketentuan di atas berlaku juga bagiPerseroan Terbuka.

Pemegang saham diberi bukti pemilikan saham untuk saham yang dimilikinya.Saham memberikan hak kepada pemiliknya untuk: a. menghadiri dan mengeluarkan suara dalam RUPS; b. menerima pembayaran dividen dan sisa kekayaan hasil likuidasi; c. menjalankan hak lainnya berdasarkan undang- undang ini. Ketentuan di atas berlaku setelah saham dicatat dalam daftarpemegang saham atas nama pemiliknya dan tidak berlaku bagiklasifikasi saham tertentu sebagaimana ditetapkan dalam undang- undang ini.Setiap saham memberikan kepada pemiliknya hak yang tidak dapat dibagi.Dalam hal 1 (satu) saham dimiliki oleh lebih dari 1 (satu) orang, hak yang timbul dari sahamtersebut digunakan dengan cara menunjuk 1 (satu) orang sebagai wakil bersama. Anggaran dasar menetapkan 1 (satu) klasifikasi saham atau lebih.Setiap saham dalam klasifikasi yang sama memberikan kepada pemegangnya hak yang sama.Dalam hal terdapat lebih dari 1 (satu) klasifikasi saham, anggaran dasar menetapkan salahsatu di antaranya sebagai saham biasa.Yang dimaksud dengan klasifikasi saham adalah pengelompokan saham berdasarkan karakteristik yang sama. Yang dimaksud dengansaham biasa adalah saham yang mempunyai hak suara untuk mengambil keputusan dalam RUPS mengenai segala hal yang berkaitan dengan pengurusan Perseroan, mempunyai hak untuk menerima dividen yang dibagikan, dan menerima sisa kekayaan hasil likuidasi. Hak suara yang dimiliki oleh pemegang saham biasa dapat dimiliki juga oleh pemegang saham klasifikasi lain. Klasifikasi saham antara lain: a. saham dengan hak suara atau tanpa hak suara; b. saham dengan hak khusus untuk mencalonkan anggota Direksi dan/atau anggota Dewankomisaris; c. saham yang setelah jangka waktu tertentu ditarik kembali atau ditukar dengan klasifikasisaham lain; d. saham yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk menerima dividen lebih dahuludari pemegang saham klasifikasi lain atas pembagian dividen secara kumulatif ataunonkumulatif; e. saham yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk menerima lebih dahulu daripemegang saham klasifikasi lain atas pembagian sisa kekayaan Perseroan dalamlikuidasi. Anggaran dasar dapat menentukan pecahan nilai nominal saham.Pemegang pecahan nilai nominal saham tidak diberikan hak suara perseorangan, kecualipemegang pecahan nilai

nominal saham, baik sendiri atau bersama pemegang pecahan nilainominal saham lainnya yang klasifikasi sahamnya sama memiliki nilai nominal sebesar 1(satu) nominal saham dari klasifikasi tersebut. para pemegang saham tidak diperkenankan membagi-bagi hak atas 1 (satu) saham menurut kehendaknya sendiri. Dalam anggaran dasar Perseroan ditentukan cara pemindahan hak atas saham sesuai denganketentuan peraturan perundang-undangan.Pemindahan hak atas saham dilakukan dengan akta pemindahan hak.Yang dimaksud denganakta, baik berupa akta yang dibuat di hadapan notaris maupun akta bawah tangan. Akta pemindahan hak tersebut atau salinannya disampaikansecara tertulis kepada Perseroan.Direksi wajib mencatat pemindahan hak atas saham, tanggal, dan hari pemindahan haktersebut dalam daftar pemegang saham atau daftar khusus dan memberitahukan perubahan susunan pemegang sahamkepada Menteri untuk dicatat dalam daftar Perseroan paling lambat 30 (tiga puluh) hariterhitung sejak tanggal pencatatan pemindahan hak.Dalam hal pemberitahuan belum dilakukan, Menterimenolak permohonan persetujuan atau pemberitahuan yang dilaksanakan berdasarkansusunan dan nama pemegang saham yang belum diberitahukan tersebut. Ketentuan mengenai tata cara pemindahan hak atas saham yang diperdagangkan di pasarmodal diatur dalam peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.Dalam anggaran dasar dapat diatur persyaratan mengenai pemindahan hak atas saham, yaitu: a. keharusan menawarkan terlebih dahulu kepada pemegang saham dengan klasifikasitertentu atau pemegang saham lainnya; b. keharusan mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Organ Perseroan; dan/atau c. keharusan mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari instansi yang berwenang sesuaidengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Persyaratan di atas tidak berlaku dalam hal pemindahan hakatas saham disebabkan peralihan hak karena hukum (peralihan hak karena kewarisan atau peralihan hak sebagai akibat Penggabungan, Peleburan, atau Pemisahan), kecuali keharusan berkenaan dengan kewarisan.Dalam hal anggaran dasar mengharuskan pemegang saham penjual menawarkan terlebihdahulu sahamnya kepada pemegang saham klasifikasi tertentu atau pemegang saham lain,dan dalam jangka waktu 30 (tiga puluh hari) terhitung sejak tanggal penawaran dilakukanternyata pemegang saham tersebut tidak membeli, pemegang saham penjual dapatmenawarkan dan menjual sahamnya kepada pihak ketiga.Setiap pemegang saham penjual yang diharuskan menawarkan sahamnya berhak menarik kembali penawaran tersebut, setelah lewatnya jangkawaktu 30 (tiga puluh) hari.Kewajiban menawarkan kepada pemegang saham klasifikasi tertentu atau pemegang sahamlain hanya berlaku 1 (satu) kali.Pemberian

persetujuan pemindahan hak atas saham yang memerlukan persetujuan OrganPerseroan atau penolakannya harus diberikan secara tertulis dalam jangka waktu paling lama90 (sembilan puluh) hari terhitung sejak tanggal Organ Perseroan menerima permintaanpersetujuan pemindahan hak tersebut.Dalam hal jangka waktu telah lewat dan OrganPerseroan tidak memberikan pernyataan tertulis, Organ Perseroan dianggap menyetujuipemindahan hak atas saham tersebut.Dalam hal pemindahan hak atas saham disetujui oleh Organ Perseroan, pemindahan hakharus dilakukan sesuai dengan ketentuan dandilakukan dalam jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari terhitung sejak tanggalpersetujuan diberikan. Saham merupakan benda bergerak dan memberikan hak sebagaimana dimaksud dalam kepada pemiliknya. Kepemilikan atas saham sebagai benda bergerak memberikan hak kebendaan kepada pemiliknya. Hak tersebut dapat dipertahankan terhadap setiap orang. Saham dapat diagunkan dengan gadai atau jaminan fidusia sepanjang tidak ditentukan laindalam anggaran dasar.Gadai saham atau jaminan fidusia atas saham yang telah didaftarkan sesuai dengan ketentuanperaturan perundang-undangan wajib dicatat dalam daftar pemegang saham dan daftarkhusus. Ketentuan ini dimaksudkan agar Perseroan atau pihak lain yang berkepentingan dapat mengetahui mengenai status saham tersebut. Hak suara atas saham yang diagunkan dengan gadai atau jaminan fidusia tetap berada padapemegang saham. Ketentuan ini menegaskan kembali asas hukum yang tidak memungkinkan pengalihan hak suara terlepas dari kepemilikan atas saham. Sedangkan hak lain di luar hak suara dapat diperjanjikan sesuai dengan kesepakatan di antara pemegang saham dan pemegang agunan. Setiap pemegang saham berhak mengajukan gugatan terhadap Perseroan ke pengadilannegeri apabila dirugikan karena tindakan Perseroan yang dianggap tidak adil dan tanpa alasanwajar sebagai akibat keputusan RUPS, Direksi, dan/atau Dewan Komisaris. Gugatan yang diajukan pada dasarnya memuat permohonan agar Perseroan menghentikan tindakan yang merugikan tersebut dan mengambil langkah tertentu baik untuk mengatasi akibat yang sudah timbul maupun untuk mencegah tindakan serupa di kemudian hari. Gugatan sebagaimana imaksud pada ayat (1) diajukan ke pengadilan negeri yang daerahhukumnya meliputi tempat kedudukan Perseroan. Setiap pemegang saham berhak meminta kepada Perseroan agar sahamnya dibeli denganharga yang wajar apabila yang bersangkutan tidak menyetujui tindakan Perseroan yangmerugikan pemegang saham atau Perseroan, berupa: a. perubahan anggaran dasar;

b. pengalihan atau penjaminan kekayaan Perseroan yang mempunyai nilai lebih dari 50% (lima puluh persen) kekayaan bersih Perseroan; atau c. penggabungan, peleburan, pengambilalihan, atau pemisahan. Dalam hal saham yang diminta untuk dibeli melebihibatas ketentuan pembelian kembali saham oleh Perseroan, Perseroan wajib mengusahakan agar sisa saham dibeli oleh pihakketiga.