Anda di halaman 1dari 5

ALVIANSYAH INDRA WIBOWO PASARIBU 4825072342 SOSIOLOGI PEMBANGUNAN METODE PENELITIAN SOSIAL II ETNOGRAFI

BUDAYA NONGKRONG DIBAWAH POHON RINDANG (DPR)


Etnografi merupakan sebuah tulisan mengenai sesuatu yang dianggap liyan. Deskripsi dari segala hal yang ada di luar diri sang etnografer itu sendiri. Segala hal tersebut bisa berbentuk interaksi, kebiasaan, pola pikir, tingkah laku yang umum kita sebut dengan budaya

Pengantar.
Kita terbiasa menyimpulkan sesuatu berdasarkan kepada hal-hal yang tertangkap oleh indera penglihatan semata, dengan kata lain kita terbiasa memandang sesuatu secara umum. Cara memandang seperti itu bukanlah akibat dari pola pikir kita yang berbeda atau terhalang oleh tembok besar rasa acuh kita terhadap sekeliling. Namun disinilah dibutuhkan kepekaan yang terlatih untuk mengupas sesuatu yang tersembunyi dibalik sebuah fenomena. Etnografi yang merupakan bagian dari metode kualitatif, dengan konsep emik epik menawarkan kepada kita untuk mengungkap sebuah sebab akibat dari sebuah kejadian sosial, karena lingkungan disekitar kita selalu menawakan banyak hal yang tidak kita ketahui sebelumnya. Tepatnya di jalan Rawamangun Muka berdiri tegak sebuah tugu berwarna hijau suram yang tertulis Bring the Future Leader. Ya, disitulah tepatnya lokasi dari Kampus Hijau atau yang dikenal dengan nama UNJ (Universitas Negeri Jakarta) setelah berganti nama dari IKIP. Sebagai salah satu Universitas tertua di ibukota, UNJ terkenal sebagai produsen para pengajar. Ini terlihat sampai sekarang bahwa dari delapan Fakultas yang tersedia, lebih dari setengahnya menawarkan program S1 Pendidikan (SPd). Selain itu, UNJ juga memiliki nama besar di ibukota sebagai salah satu barometer kegiatan kemahasiswaan di Jakarta. Dari delapan Fakultas yang ada di UNJ, penulis akan mencoba menguraikan beberapa hal mengenai FIS (Fakultas Ilmu Sosial). FIS berdiri di gedung K, letaknya bersebelahan dengan gedung Fakultas Teknik dan UT (Universitas Terbuka). Masih kuat berdiri dengan pondasi gedung tuanya, sementara gedung-gedung lain yang seangkatan dengan FIS sudah direnovasi, seperti Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik dan Perpustakaan. FIS menawarkan berbagai macam kegiatan perkuliahan, mulai dari para mahasiswa FIS itu sendiri, sampai mahasiswa lain yang harus mengambil mata kuliah MKU. Hal itu menyebabkan FIS selalu ramai oleh mahasiswa lintas jurusan. Namun kondisi ini tidak serta merta menjadikan FIS sebagai salah satu gedung yang diperhatikan oleh jajaran petinggi Universitas. Wajah tua gedung FIS terlihat nyata dari kondisi bangunannya yang kusam, fasilitas umum yang tak terawat. Sementara setiap tahunnya mahasiswa terus bertambah namun renovasi mempercantik FIS jauh dari realisasi. Akankah kondisi ini terus terjadi? Di luar kegiatan perkuliahan, FIS memberikan pemandangan yang umum layaknya di fakultas lain, yaitu budaya nongkrong mahasiswa. FIS memiliki sudut-sudut yang memungkinkan kelompok mahasiswa tersebut untuk nongkrong. Loby, pendopo, kantin dan DPR (dibawah pohon rindang) merupakan beberapa lokasi yang menjadi favorit untuk nongkrong. Masing-masing kelompok mahasiswa memiliki karakter tersendiri ketika mereka berkumpul. Ada yang produktif seperti belajar, diskusi, kegiatan positif lainnya, dan disisi lain banyak pula para mahasiswa yang nongkrong hanya sekedar untuk membunuh waktu.

Setting.
DPR sebagai lahan interaksi produktif dan buang waktu mahasiswa FIS. Lima hari dalam seminggu mahasiswa menjalani aktivitas perkuliahan di FIS. Terkadang kita membutuhkan sebuah tempat transit untuk sekedar menunggu jam kuliah, atau untuk saling berdiskusi bersama teman. Ada banyak tempat di FIS yang menjadi favorit mahasiswa untuk melakukan kegiatan tersebut, salah satunya adalah DPR. DPR memberikan warna-warni tentang keseharian berbagai macam mahasiswa. Semua tidak hanya terbatas untuk salah satu jurusan saja yang biasa nongkrong di DPR (sosiologi), akan tetapi banyak dari jurusan lain seperti Sejarah, Geografi bahkan Ekonomi ikut memeberi warna di pelataran dekat parkiran ini. Dibawah pohon rindang ini, tanpa atap, tanpa tembok, seakan menjadi tempat bernaung ratusan mahasiswa yang silih berganti setiap harinya bahkan setiap jamnya. Letak DPR yang tepat di depan pintu FIS memeng memberikan suasana lain daripada tempat nongkrong yang lain di FIS. Biasanya orangorang disini duduk dan berinteraksi sambil menunggu jam kuliah, ditemani dengan secangkir kopi bang Agus, sambil merokok, atau menikmati jajanan yang dijual di Ekonomart. DPR dikelilingi oleh akses yang membuat siapa saja yang berada disitu menjadi nyaman. Ada pedangang kopi, rokok, permen, ekonomart, dan tempat print n fotokopi. Komunitas yang biasanya muncul di DPR pun beraneka ragam. Untuk sebagian orang mungkin menganggap kalau DPR hanyalah tempat nongkrong anak Sosiologi. Namun dalam kenyataannya, DPR juga menjadi tempat nongkrong anak Sejarah, Geografi, Ekonomi bahkan Bapak-bapak guru yang sedang berkuliah. Menurut beberapa senior saya, sejak dahulu DPR memang ramai. Ini tidak terlepas dari kondisi lingkungan fisiknya yang sangat terbuka. Sehingga siapapun dia, darimana jurusannya bisa ikut duduk dan menikmati suasana nongkrong di DPR. Terlebih tempat yang berada di luar gedung FIS ini jauh dari kesan kaku atau formal seperti di dalam kelas. Sehingga DPR menjadi lahan ekspresif para mahasiswa untuk sedikit berkegiatan. Mulai dari sarapan, menunggu jam kuliah, diskusi, bermain kartu, bermain gitar, tempat saling kenal dengan mahasiswa jurusan lain, dll.
... Nongkrong di DPR nggak kaku, gua merasa bebas ekspresi aja. Beda kalo di dalam gedung FIS, selalu merasa segan kalo mau ngapa-ngapain.

Namun bagi sebagian orang DPR dipandang sebagai tempat tongkrongannya mahasiswa malas. Sebagaian dari mereka enggan untuk duduk ,bahkan untuk lewat DPR pun merasa segan. Ini tidak menjadi masalah, tentunya hak setiap orang untuk menganggap sesuatu itu baik atau buruk. Kemudian untuk sebagian orang yang tidak biasa nongkrong di DPR akan terlihat canggung atau tidak betah. Mungkin karena situasi DPR yang terlihat ramai, berisik, banyak tawa, maka untuk sebagian orang yang tidak biasa akan merasa teralienasi. Oleh karena itu menurut saya omongan-omongan miring tentang mahasiswa yang nongkrong di DPR adalah wajar adanya. Warna-warni DPR tak akan lengkap tanpa adanya tukang kopi legendaris DPR, yaitu Bang Agus. Bang Agus menurut beberapa sumber sudah lama berdagang di UNJ, namun beliau tidak pernah mau menjawab sudah beberapa lama ia berdagang. Menurut Bang Agus lama kita berada di suatu lingkungan tidak menjamin keberadaan kita akan di terima, namun yang terpenting adalah adaptasi.
...buat saya mah mau berapa lama dagan g di UNJ gak penting. Mau sepuluh atau satu tahun gak ada bedanya. Yang penting kita pinter-pinter aja adaptasi. Kalo udah pinter adaptasi, walaupun baru tiga bulan dagang serasa paling senior, karena bisa mengenal banyak orang. Lain kalo yang ga bisa adaptasi, walaupun udah puluhan tahun dagang, tetep aja ga dikenal...

Awalnya Bang Agus tidak langsung berdagang di depan FIS. Beliau mengaku awalnya setiap hari harus muter-muter UNJ untuk menjajakan kopi dagangannya. Namun beberapa tahun terakhir Bang Agus melihat ada tempat yang hampir selalu ramai dari pagi hingga menjelang gelap. Ya, DPR menjanjikan pangsa pasar yang menggiurkan. Menurut Bang Agus, di DPR ada konsumen tetap dan selalu ramai oleh mahasiswa dari berbagai jurusan. Jadi bang Agus tidak pernah merasa sepi berdagang disitu. Bang Agus juga ditemani olah Babeh Jek, beliau adalah pedagan rokok yang berdagang tepat disamping Bang Agus. Alasan Babeh Jek berdagang di dekat DPR, hampir sama dengan alasan Bang Agus.
... Kalo di DPR saya punya pembeli tetap, lagian juga pembeli yang dari fakultas laen banyak. Jadi saya betah dagang disini... ...Gak kayak dulu waktu saya dagang muter-muter UNJ, DPR rame terus, udah gitu banyak mahasiswa pada nongkrong, jadinya saya milih mangkal aja disini..

Apa yang di ungkapkan oleh Bang Agus dan Bang Jek tentang DPR adalah benar. Karena sejak pagi pukul tujuh aktivitas DPR sudah dimulai. Mahasiswa sarapan, bicarakan tugas, ngopi, baca koran dll. Menjelang Siang tempat inisemakin penuh oleh mahasiswa yang menunggu perkuliahan. Karena untuk beberapa mahasiswa, jeda kuliah yang terlalu lama membuat mereka bingung untuk mencara tempat menunggu. Maka DPR menjadi salah satu tempat untuk menunggu. Aktivitas tersebut biasa diisi dengan bergai macam kegiatan mulai dari mengobrol, bercanda, makan, merokok, bahkan sampai bermain kartu dan catur. Suasana ramai ini hampir setiap hari kuliah dapat terlihat disini.

FENOMENA Nongkrong Produktif vs Nongkrong Buang Waktu Walaupun DPR adalah ruang publik, dalam artian semua orang bisa nongkrong disini. Namun Fenomena yang terjadi adalah mayoritas penghuni DPR adalah mahasiswa Sosiologi. Sebagai penyumbang mahasiswa terbanyak di DPR, Sosiologi memberikan budaya yang beda dan tidak umum di jumpai di tempat nongkrong lain. DPR sering kali dijadikan tempat untuk melakukan rapat kecil-kecilan, entah itu berhubungan dengan organisasi atau pun sekedar diskusi tugas. Contoh nyatanya adalah ketika baru tiga minggu yang lalu DPR menjadi tempat mahasiswa sosiologi melakukan rapat Aksi mendukung KPK. Mulai dari pembentukan konsep sampai pembuatan atribut aksi dilakukan di ruang terbuka tersebut. Selain itu, DPR sering kali menjadi ruang diskusi bagi sebgain mahasiswa yang haus akan ilmu. DPR memang tidak beratap seperti pendopo, namun banyak kegiatan positif bermulai disini. Bagi sebagian penghuni DPR, mahasiswa harusnya kreatif dalam menggunakan waktunya. Kondisi DPR yang selalu ramai seharusnya dapat dimanfaatkan mutlak olah para mahasiwa untuk menyalurkan beberapa ide positif. DPR sangat membantu mahasiswa untuk saling share dengan teman, untuk mengkonsepkan suatu kegiatan bahkan sampai membuat suatu acara resmi pun bisa ( ketika itu pernah ada acara band hiburan ketika buka puasa bersama di tahun 2008 ). Namun tidak semua kegiatan disini positif, beberapa kelompok mahasiswa juga ikut andil dalam memperburuk citra anak nongkrong DPR. Melakukan tidakan yang mengganggu mahasiswa lain pun terkadang dilakukan disini. Seperti berisik, mengejek, bermain gitar, bahkan terkadang ada yang mabuk ketika malam. Hal itu memang masih ada sampai sekarang, namun sejauh ini kontrol diri para mahasiswa itu masuh dominan. Sehingga tidak menjurus kearah yeng lebih mengganggu lagi.

Itu adalah sebagian dari deskripsi tentang dualisme budaya nongkrong di DPR. Mahasiswa tanpa sadar akan masuk kedalam suatu kelompok entah itu kelompok produktif atau kelompok buang waktu. Sejauh pengamatan saya, yang terjadi masih berimbang, namun yang lebih dipandang adalah kegiatan negatifnya. Mungkin itu berhubungan erat dengan intensitas nongkrong yang sangat tinggi, sehingga dipandang sebagai perilaku buang waktu. Fenomena nongkrong di DPR memang didominasi oleh mahasiswa Sosiologi, namun jurusan sejarah den geografi pun tak pernah absen setiap harinya untuk mengisi ruang-ruang kosong di DPR. Walau tidak memiliki kagiatan yang beragam seperti Sosiologi, namun mereka tetap bagian dari DPR yang memiliki cara nongkrong tersendiri. Saya mengamati beberapa karakteristik mahasiswa yang nongkrong di DPR.

Karakteristik Mahasiswa yang Nongkrong di DPR. Masing-masing kelompok mahasiswa memiliki warna tersendiri ketika berkumpul di DPR. Hal itu tidak terlepas dari latar belakang pembentukan kelompok mereka dan tipe pergaulan seperti apa yang sedang mereka jalani. Kelompok Sekelas ( geng kelas ) Biasanya mahasiswa yang nongkrong dengan latar belakang sekelas ini selalu menggerombol. Hal itu terjadi karena jam kuliah dan tugas mereka hampir selalu sama. Sehingga mereka akan merasa takut ketika ditinggal teman-temannya untuk masuk kelas lebih dulu. Mereka punya kecenderungan mengerjakan tugas bersama, ke kantin bersama, pulang bersama, hal ini terjadi karena mereka sedang menjalani kepentingan yang sama sebagai mahasiswa dari fakultas, jurusan dan kelas yang sama. Contohnya di DPR adalah mahasiswa kelas saya sendiri yang selalu bergerombol ketika mau kuliah dan menunggu kuliah di DPR Kelompok Sejurusan ( beda kelas ) Apabila kelompok sekelas cenderung bersama-sama kemanapun tujuannya. Berbeda dengan kelompok yang nongkrong berdasarkan persamaan jurusan. Biasa mereka datang ke tempat nongkrong secara sendiri-sendiri. Hal itu karena jam kuliah mereka yang berbeda-beda. Dari obrolannya pun mereka membicarakan hal-hal yang umum saja. Tidak membicarakan banyak tentang perkuliahan, tidak berbicara bayak tentang tugas. Biasanya kegiatan yang dilakuan oleh kelompok nongkrong tipe ini ada hanya sekedar menghabiskan waktu untuk ngobrol. Kelompok Memiliki Minat Sama ( hobi ) Kelompok tipe ini adalah kelompok yang paling jarang ditemui. Karena individu di dalam kelompok ini umumnya datang dari tempat yang berbeda-beda. Contohnya adalah mahasiswa hobi fotografi yang nongkrong di DPR. Mereka berasal tidak hanya dari Sosiologi, ada yang dari teknik, ekonomi dll. Kegiatan yang biasa mereka lakukan adalah membicarakan tentang hobi yang sedang mereka geluti, terkadang mereka membawa serta alat-alat penunjang hobi mereka (kamera, motor, alat musik ) ke tempat nongkrong (DPR). Walaupun tidak berasal dari kelas atau jurusan yang sama, namun kegiatan mereka cenderung lebih rutin dan produktif. Hal itu terjadi karena hobi yang mereka geluti membuat mereka melakukan banyak kegiatan bersama.Seperti: Latihan band, latihan futsal, hunting foto, dll.

Individu Keberadaan mahasiswa yang sendiri dan kemana-mana tanpa teman memang ada di lingkungan manapun, termasuk DPR. Mereka cenderung menyendiri, apabila ke DPR ketika ada kepentingan saja, seperti ingin membeli kopi, atau sekedar menunggu kuliah. Mereka cenderung penyendiri dan apabila keadaan DPR menjadi ramai, maka mereka akan langsung pergi. Biasanya keberadaan mereka diacuhkan oleh sebagian orang, hal itu terjadi karena para individu penyendiri ini tidak mau memulai untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Di DPR, para mahasiswa tersebut biasanya terlihat pada pagi hari ketika menunggu perkuliahan dimulai.

KESIMPULAN Bergaul adalah kebutuhan bagi semua manusia, untuk itu tidak ada yang mengatakan bahwa nongkrong itu adalah sebuah dosa. Nongkrong bersama teman-teman terkadang menjadi saat yang paling ditunggu, karena hanya bersama teman-teman kita bisa mengeluarkan segala perasaan tanpa terhalang tembok segan seperti kita kepada orang tua. Namun pergaulan seperti apa yang akan kita jalani itu akan menjadi kata kuncinya. Lingkungan menyediakan lahan untuk kita berinteraksi sehingga kita dapat bebas memilih tempat nongkrong yang tepat sesuai karakter kita. Apakah itu nongkrong produktif ataukah buang waktu saja. DPR memberikan banyak gambaran sebagai potret kegiatan mahasiswa. Pengaruh budaya luar sangat memberi warna dalam pergaulan di DPR. Budaya luar itu dapat masuk dengan mudahnya, karena DPR adalah ruang publik yang memungkinkan semua orang masuk dan memperkenalkan siapa jati diri dan latar belakangnya. Mereka yang datang ke DPR banyak memberikan warna-warni, seperti Bang Agus yang selalu setia menjadi teman ngobrol ketika pagi, mahasiswa jurusan lain yang berbagi informasi, ekonomart yang memberikan akses mudah untuk membeli makanan dan tentunya teman-teman saya di Sosiologi yang selalu menjadikan DPR sebagai tempat transit selepas perkuliahan.

*** 2009 ***