Anda di halaman 1dari 3

Tantangan Utama Pemenuhan Kecukupan

Laju peningkatan kebutuhan pangan lebih cepat dibandingkan dengan laju peningkatan kemampuan produksi. Disamping itu peningkatan produktivitas tanaman di tingkatpetani relatif stagnan, karena terbatasnya kemampuan produksi, penurunan kapasitas kelembagaan petani, serta kualitas penyuluhan pertanian yang jauh dari memadai. Semakin terbatasnya kapasitas produksi pangan nasional, disebabkan oleh: (i) berlanjutnya konversi lahan pertanian ke penggunaan non pertanian; (ii) menurunnya kualitasdan kesuburan lahan akibat kerusakan lingkungan; (iii) semakin terbatas dan tidak pastinya ketersediaan air untuk produksi pangan akibat kerusakan hutan; (iv) rusaknya sekitar 30 persen prasarana pengairan, dimana seharusnya dilakukan rehabilitasi sebanyak 2 kali dalam 25 tahun terakhir; (v) persaingan pemanfaatan sumber daya air dengan sektor industri dan pemukiman; (vi) kerusakan yang disebabkan oleh kekeringan maupun banjir semakin tinggi karena fungsi perlindungan alamiah telah sangat berkurang; (vii) masih tingginya proporsi kehilangan hasil panen pada proses produksi, penanganan hasil panen dan pengolahan pasca panen, masih menjadi kendala yang menyebabkan penurunan kemampuan penyediaan pangan dengan proporsi yang cukup tinggi; (viii) perubahan iklim; dan (ix) persaingan antara pangan untuk konsumsi danproduksi biofuel.

Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi di Indonesia menjadi tantangan lain yang perlu dihadapi dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Tahun 2015 penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 247,6 juta jiwa. Apabila kebutuhan pangan untuk penduduk ini tidak dapat terpenuhi maka akan mengakibatkan Indonesia menjadi negara pengimpor pangan.

Strategi untuk meningkatkan ketersediaan pangan


Kebijakan ketersediaan pangan secara nasional tahun 2005-2009 diarahkan kepada beberapa hal yaitu: (i) Meningkatkan kualitas sumberdaya alam dan lingkungan; (ii) Mengembangkan infrastruktur pertanian dan pedesaan; (iii) Meningkatkan produksi pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri; dan (iv) Mengembangkan kemampuan pengelolaan cadangan pangan pemerintah dan masyarakat.

Di bawah ini adalah kegiatan operasional kunci yang dilakukan untuk menjamin dan meningkatkan ketersediaan pangan adalah: 1. Pengembangan lahan abadi 15 juta ha lahan sawah beririgasi dan 15 juta ha lahan kering. 2. Pengembangan konservasi dan rehabilitasi lahan.

3. Pelestarian sumberdaya air dan pengelolaan daerah aliran sungai. 4. Pengembangan dan penyediaan benih, bibit unggul, dan alat mesin pertanian. 5. Pengaturan pasokan gas untuk memproduksi pupuk. 6. Pengembangan skim permodalan bagi petani/nelayan. 7. Peningkatan produksi dan produktivitas (perbaikan genetik & teknologi budidaya). 8. Pencapaian swasembada 5 komoditas strategs: padi (swasembada berkelanjutan), jagung (2008), kedelai (2011), gula (2009), dan daging (2010). 9. Penyediaan insentif investasi di bidang pangan termasuk industri gula, peternakan, dan perikanan. 10. Penguatan penyuluhan, kelembagaan petani/nelayan dan kemitraan.

Selain itu juga dilakukan kebijakan lain, yaitu: 1. Menata Pertanahan dan Tata Ruang dan Wilayah, melalui:

Pengembangan reformasi agraria Penyusunan tata ruang daerah dan wilayah Perbaikan administrasi pertanahan dan sertifikasi lahan Pengenaan sistem perpajakan progresif bagi pelaku konversi lahan pertanian subur dan yang mentelantarkan lahan pertanian

2. Mengembangkan Cadangan Pangan

Pengembangan cadangan pangan pemerintah (nasional, daerah dan desa) sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan PanganPasal 5

Pengembangan lumbung pangan masyarakat

3. Menjaga Stabilitas Harga Pangan

Pemantauan harga pangan pokok secara berkala untuk mencegah jatuhnya harga gabah/beras di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP)

Pengelolaan pasokan pangan dan cadangan penyangga untuk stabilitas harga pangan seperti yang tercantum dalam Inpres Nomor 13 Tahun 2005 tentang Kebijakan Perberasan; SKB Men Koordinator Bidang Perekonomian dan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat No. KEP-46/M.EKON/08/2005 dan Nomor 34/KEP-34/

KEP/MENKO/KESRA/VIII/2005 tentang Pedoman Umum Koordinasi Pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah; Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 22 Tahun 2005 tentang Penggunaan Cadangan pangan Pemerintah untuk Pengendalian Harga, dan Surat menteri Pertanian kepada Gubernur dan Bupati Walikota se-Indonesia Nomor 64/PP.310/M/3/2006 tanggal 13 maret 2006 tentang Pengelolaan Cadangan Pangan) 4. Meningkatkan Aksesibilitas Rumah Tangga terhadap Pangan

Pemberdayaan masyarakat miskin dan rawan pangan Peningkatan efektivitas program Raskin

5. Melakukan Diversifikasi Pangan

Peningkatan diversifikasi konsumsi pangan dengan gizi seimbang (Perpres No. 22 Tahun 2009)

Pemberian makanan tambahan untuk anak sekolah (PMTAS) Pengembangan teknologi pangan Diversifikasi usaha tani dan pengembangan pangan lokal