Anda di halaman 1dari 14

I. 1.1.

Latar Belakang

PENDAHULUAN

Indonesia memiliki keanekaragaman sumberdaya alam yang sangat tinggi. Biodiversitas biota perairan yang terkandung di dalam laut nusantara merupakan salah satu yang terkaya di dunia. Masih banyak jenis biota yang belum

termanfaatkan dengan baik kerena potensinya yang belum diketahui oleh masyarakat. Hal itu merupakan tantangan yang seharusnya dapat mendorong upaya eksplorasi, sehingga sumber daya tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. Filum moluska adalah salah satu dari sekian banyak potensi sumberdaya perikanan di Indonesia yang diperkirakan mencapai sekitar 20.000 spesies. Namun, potensi yang begitu besar belum dimanfaatkan dengan optimal. Banyak diantaranya memiliki nilai ekomomis yang tinggi, bukan hanya dipasar domestik tetapi juga dipasar internasional. Hal ini didorong oleh semakin tingginya

permintaan akan produk akuatik dunia yang juga diikuti permintaan produkproduk dari jenis moluska. Di Indonesia sendiri, belum banyak jenis moluska yang telah dipasarkan ke luar negeri. Hal itu disebabkan karena budidaya

moluska belum banyak dilakukan di Indonesia, sehingga masih mengandalkan tangkapan dari alam yang disisi lain dapat berdampak pada penurunan populasi molluska di alam. Padahal peluang pasar komoditas moluska tidak kalah

dibandingkan dengan dengan komoditas dari jenis ikan, karena moluska memiliki pasarnya tersendiri terutama negara-negara kawasan asia dan eropa. Abalon (Haliotis sp.) adalah salah satu jenis moluska yang terdapatdi Indonesia. Distribusinya tersebar dibeberapa perairan Indonesia, mulai dari

Lampung, Sulawesi, Lombok, Bali, hingga Raja Ampat. Terdapat sekitar 100 spesies abalon yang tersebar diseluruh dunia, beberapa diantaranya terdapat di Indonesia (Setyono, 2006). Organisme ini merupakan salah satu potensi

sumberdaya laut yang memiliki nilai ekonomis, disamping harganya yang cukup tinggi, daging abalon memiliki rasa yang lezat dan lembut serta nilai gizi yang tinggi sehingga mampu merambah pasar internasional dengan harga jual yang tinggi. Di pasar internasional permintaan akan komoditas ini terus mengalami
Jenis-Jenis Abalone Di Indonesia yang Mempunyai Nilai Ekonomis Alfi Kusuma Admaja 1

peningkatan. Hal itu mendorong berkembangnya industri akuakultur abalon di dunia dengan produsen abalon terbesar adalah Cina, Taiwan, dan Jepang. Beberapa spesies penting abalon diantaranya North America: Haliotis rufescens, H. fulgens, H corrugata, H. sorenseni, H assimilis, H. cracherodii, H. walallensis, dan H. kamtschatkana; Jepang: H. discus hannai, H. discus, H. sieboldii, dan H. asinina; Korea; H. discus, H. discus hannai, H. sieboldii, dan H. gigantea; Australia: H. rubra, H. laevigata, dan H. roci; New Zealand: H. iris, dan H. australis; Prancis: H. tuberculate; dan Afrika Selatan: H. midae (HAHN, 1989 dalam Setyono, 1997). H. asinina merupakan spesies yang paling banyak terdapat di Indonesia. H. asinina merupakan salah satu jenis abalon tropis. Ukurannya lebih kecil

dibandingkan dengan jenis abalon temperate. Oleh karena itu, harganya lebih rendah dibandingkan dengan spesies termperate. Namun demikian abalon jenis ini memiliki pasarnya tersendiri yang dikenal dengan cocktail abalon, sehingga beberapa negara seperti Filipina, Thailand, Myanmar, dan Australia telah mengambangkan budidayanya (Ungson et al., 2009). Pertumbuhannya relatif lebih cepat dibanding dengan abalon temperate dalam mencapai ukuran komersil. Jika spesies temperate dapat memerlukan waktu 3-5 tahun, jenis abalon tropis hanya memerlukan waktu 1-1,5 tahun untuk mencapai ukuran jual. Di Indonesia, karena nilai jualnya yang cukup tinggi dibandingkan dengan beberapa jenis akuatik lainnya, komoditas ini terus mengalami tekanan penangkapan. Tidaka hanya H. asinina, masih ada beberapa jenis abalon di Indonesia yang juga memiliki nilai ekonomis. Oleh karena itu, tulisan ini akan mencoba mengulas mengenai potensi dan jenis-jenis abalon ekonomis di Indonesia. 1.2. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan karya tulis ini antara lain: Mengetahui kondisi pasar abalon di dunia Mengetahui distribusi dan jenis-jenis abalon ekonomis di indonesia Mengetahui potensi ekonomi abalon diindonesia Mengetahui kondisi perikanan abalon di Indonesia

Jenis-Jenis Abalone Di Indonesia yang Mempunyai Nilai Ekonomis Alfi Kusuma Admaja

II.

METODE PENULISAN

Data dan informasi yang dihimpun dalam makalah ini merupakan data yang diperoleh dari berbagai bahan-bahan pustaka seperti laporan hasil penelitian, publikasi di jurnal internasional maupun nasional, buku teks, makalah dan informasi lainnya yang relevan dengan topik bahasan makalah ini. Data yang diperoleh disajikan secara deskriptif sehingga diharapkan dapat menjadi bahan informasi tentang ekonomis. jenis-jenis abalon di Indonesia yang mempunyai nilai

Jenis-Jenis Abalone Di Indonesia yang Mempunyai Nilai Ekonomis Alfi Kusuma Admaja

III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Kondisi Pasar Abalon Dunia Abalon merupakan salah satu jenis kerang yang menjadi komoditi perikanan dunia yang saat ini sedang mengalami peningkatan permintaan terutama dari pasar intenasional. Pasar utama abalon adalah China, Jepang,

Taiwan, Korea, Singapore, Jepang, Australia, Amerika Serikat, Spanyol, Netherlands, Canada, dan Thailand. Negara produsen abalon terbesar adalah Cina, Taiwan, dan Jepang (Cook dan Gordon, 2010). Production Statistics
30000 25000 20000 15000 10000 5000 0 1970 1989 2002 2007 Aquaculture Production Fishery landings

Gambar 1. Data Produksi Abalon di Dunia dari Sektor Akuakultur (Aquaculture Production) dan Penangkapan di Alam (Fishery Landings) (Cook dan Gordon, 2010) Munurunnya populasi abalon di alam akibat tekanan penangkapan terjadi dari tahaun ke tahun. Sementara jumlah tangkapan menurun, permintaan abalon terus mengalami peningkatan. Hal itu mendorong berkembangnnya budidaya akuakultur abalon. Sehingga saat ini kebutuhan abalon dunia lebih banyak

dipenuhi dari sektor budidaya.

Jenis-Jenis Abalone Di Indonesia yang Mempunyai Nilai Ekonomis Alfi Kusuma Admaja

World Aquaculture Production


China Taiwan Japan South Africa Korea Australia New Zealand Chile USA

Gambar 2. Produksi dari Sektor Akuakultur Abalon di Dunia (Cook dan Gordon, 2010) Cina merupakan negara produsen utama abalon dari sektor akuakultur dengan pelaku mencapai 300 usaha budidaya dan produksi mencapai 1.000 juta ton/ tahun. Spesies utama yang dibudidayakan adalah H. diversicolor

supertexta, dengan harga mencapai US$15/Kg. Harga ini memang lebih rendah dibandingkan dengan H. laevigata, dari Australia yang dapat mencapai

US$30/Kg. Perbedaan harga tersebut disebabkan karena ukuran H. laevigata yang jauh lebih besar. ukurannya. Pada umumnya harga abalon sangat ditentukan oleh

Oleh karena itu, harga abalon tropis lebih rendah dibandingkan

dengan harga abalon temperate.

Gambar 3. Statistik Permintaan (Demand) dan Persediaan (Supply) Abalon di Dunia (Cook dan Gordon, 2010)
Jenis-Jenis Abalone Di Indonesia yang Mempunyai Nilai Ekonomis Alfi Kusuma Admaja 5

Produk abalon Bentuk produk abalon yang berada dipasaran saat ini adalah produk fillet segar dan beku (frozen), kering (dried), kering dan telah melalui proses penggaraman (salted), serta dalam bentuk produk dalam kemasan kaleng (canned). 3.2. Persebaran Abalon di Dunia dan di Indonesia Terdapat sekitar lebih dari 100 jenis abalon di dunia. Sebagian besar tersebar di perairan Samudera Pasifik, Atlantik, dan Hindia. Abalon ditemukan di sepanjang pantai wilayah subtropik dan tropik kecuali Amerika Selatan dan Timur Amerika Utara. Abalon ditemukan sepanjang pantai barat Amerika Utara (Baja California sampai Alaska) dan sepanjang timur dan selatan. Pantai di Asia (USSR, Korea, Jepang, Cina, Taiwan, Kalimantan, Malaysia Timur, Tournotus, Australia, New Zealand, Afrika, Mesir, Tanzania, Mosambika, Madagaskar, Tanjung Harapan, Gold Coast) dan Pulau-pulau di Madeira dan Eropa (Prancis, Spanyol, Italia, Yugoslavia dan Yunani) (Leighton et al., 2008). Populasi terbesar, baik dalam hal jumlah individu maupun jenis spesies, ditemukan pada perairan Australia, Jepang, dan bagian barat Amerika Utara. H. Rufescens merupakan jenis abalon yang terdapat di California yang diketahui memiliki ukuran paling besar, yaitu dapat mencapai 18-23 cm diameter cangkang (Cox, 1962). Pada umumnya abalon yang habitatnya di daerah temperate

memiliki ukuran yang jauh lebih besar dibandingkan dengan abalon pada daerah tropis. Abalon tropis umumnya hanya memiliki ukuran 7-10 cm, sedangkan

abalon temperate rata-rata dapat mencapai ukuran 15-20 cm (Estes et al., 2005). Hal itulah yang menyebabkan harga jual abalon temperate jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jenis abalon tropis. Walaupun demikian, dari segi

kecepatan pertumbuhan, abalon tropis memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan abalon temperate, sehingga lebih cepat mencapai ukuran komersil (ukuran pasar). Di indonesia terdapat tujuh spesies, yaitu H. asinina, H. varia, H. squamosa, H. ovina, H. glabra, H. planata, dan H. crebrisculpta (Dharma, 1988 dalam Setyono, 2006). H. asinina, H. ovina, H. squamata dan H. varia

merupakan jenis abalon tropis yang terdapat di Indonesia yang telah memiliki
Jenis-Jenis Abalone Di Indonesia yang Mempunyai Nilai Ekonomis Alfi Kusuma Admaja 6

pasar internasional, terutama China, Taiwan, dan Korea.

Bukan hanya di mencapai

Indonesia, persebaran spesies- spesies tersebut cukup besar, yaitu

perairan Indo-Malay, bagian timur samudera Hindia dan Barat Samudera Pasifik. Namun, dari keempat jenis abalon tersebut, jenis H. asinina dan H. squamata merupakan yang paling banyak ditemukan di perairan Indonesia. Kelebihan H. asinina dibading H. ovina dan H. varia adalah karena proporsi dagingnya lebih besar, yaitu H. asinina 85%, H. ovina 40%, dan H. varia 30% (Singhagraiwan dan Doi, 1993 dalam Praipue et al., 2010). Sehingga H. asinia memiliki potensi pasar untuk jenis cocktail size (40-70 mm) dengan ukurannya yang kecil dibandingkan dengan jenis temperate. Selain Indonesia, H. asinina juga banyak ditemukan, Thailand, Filipina, Malaysia Australia, Vilipinan, dan Myanmar. Budidaya H. asinina telah berhasil dilakukan di negera-negara tersebut dengan skala massal. Di Indonesia H. asinina banyak ditemukan di perairan Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara, Laut Flores, Karangasem Bali, Lombok, Madura, dan Lampung (Yuniarti et al., 2009: Hadijah et al., 2011). 3.3. Potensi Ekonomi Abalon Di Indonesia Indonesia memiliki potensi produksi abalon yang cukup besar. Selain distribusi habitat abalon cukup luas tersebar di beberapa perairan Indonesia, jenis abalon di Indonesia, H. asinina, merupakan jenis yang mengalami pemijahan sepanjang tahun dan merupakan organisme herbivora dengan makanan utama makroalga (Jarayabhand et al., 1998 ; Praipue et al., 2010; Tang et al., 2005), sehingga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai komoditas budidaya, karena sebagai daerah tropis, kelimpahan makroalga di alam selalu tersedia.

Gambar 4. Abalon Jenis H.ovina (http://www.diverosa.com)


Jenis-Jenis Abalone Di Indonesia yang Mempunyai Nilai Ekonomis Alfi Kusuma Admaja 7

Untuk pasaran domestik, sebagai salah satu contoh, di Kendari Sulawesi Tenggara, abalon dalam keadaan segar dijual dengan harga Rp. 40.000-50.000/kg (15-20 ind/kg). Jika cangkang dan organ dalamnya dibuang kemudian diolah menjadi salted abalon, harganya mencapai Rp. 200.000-300-000/kg tergantung ukurannya dan kualitasnya. Sementara di pasar internasional harga daging abalon berkisar antara Rp. 400.00700.000 atau 36-68 US$/kg , tergantung pada kualitas dan jenisnya. Harga tersebut tergantung pada ukuran dan kualitas

penggaramannya. Metode penggaraman yang baik akan mengahasilkan warna daging kuning keemasan dengan tekstur yang lunak, sedangkan penggaraman yang kurang baik akan menghasilkan warna daging kecoklatan dengan tekstur yang agak keras. Cara penggaraman ini sangat mempengaruhi kualitas produk abalon. Jenis abalon H. asinina merupakan jenis yang paling banyak ditangkap di Indonesia karena jumlahnya yang melimpah.

Gambar 5. Morfologi (A) dan Cangkang (B) Abalon H. asinina (1. Tentakel, 2. Mata, 3. Lubang Pernapasan (Tremata), 4. Cangkang, 5. Epipodial Tentakel, dan 6. Otot Kaki) Di Kubu, Karangasem, Bali terdapat abalon jenis lain yaitu jenis H. squamata atau yang lebih dikenal dengan tokobushi. Salah seorang pedagang tokobushi mengungkapkan bahwa telah melakukan jual usaha penangkapan tokobushi sejak tahun 1987. Pada saat itu, ia mengaku dapat mengumpulkan hingga 100 kg/hari namun saat ini hanya dapat mencapai 3 kg/hari. Hal ini diduga disebabkan oleh penangkapan yang terus menerus dilakukan. Harga abalon yang dijualnya Rp. 150.000/kg dalam bentuk beku, tanpa cangkang dan organ dalam. Sedangkan di Mataram, Nusa Tenggara Barat, seorang pedagang telah mengekspor hingga 3-5 ton pada tahun 2006-2007 ke Hongkong dengan harga
Jenis-Jenis Abalone Di Indonesia yang Mempunyai Nilai Ekonomis Alfi Kusuma Admaja 8

jual US$5/kg. Produk abalon di ekspor dalam bentuk produk kering (dried) dan produk salted (daging abalon yang terlebih dahulu melalui proses penggaraman dan pengeringan) (Fermin dan Encena, 2009).

Gambar 6. Abalon Jenis H. squamata (sumber: http://www.kp3k.kkp.go.id) Pada umumnya pedagang abalon di Indonesia terbagi menjadi beberapa tingkatan, yaitu pedagang pengumpul, pedagang pengumpul ke dua, dan pedagang besar. Pedagang pengumpul berlokasi di desa nelayan. Mereka mengumpulkan abalon darai hasil tangkapan nelayan, selanjutnya mereka akan menjualnya kepada pedagang pengumpul ke dua yang biasanya berdomisili di kota. Merekalah yang akan menjual kepada pedagang yang berada di luar daerah. Panjangnya rantai pemasaran abalon membuat semakin sedikitnya keuntungan yang diperoleh pada masing-masing rantai. Berbeda dengan di Indonesia, di negara-negara yang menjadi pengekspor abalon, para pembudidaya langsung berhubungan dengan pihak konsumen, sehingga harga jual menjadi lebih tinggi begitu juga dengan keuntungan yang diperoleh oleh pembudidaya.

Gambar 7.

Berbagai Bentuk Pemanfaatan Limbah Cangkang Abalon (sumber: http://casplabaliseashell.indonetwork.co.id)

Selain dagingnya dikonsumsi dagingnya, cangkang abalon juga dapat dimanfaatkan untuk diolah menjadi barang-barang hiasan ornamental, baik untuk perhiasan maupun benda-benda hiasan ruangan. Karakteristik warna cankang
Jenis-Jenis Abalone Di Indonesia yang Mempunyai Nilai Ekonomis Alfi Kusuma Admaja 9

yang indah dan unik membuat hasil-hasil olahan kreatifitas dari limbah cangkang abalon memiliki pasarnya tersendiri. 3.4. Kondisi Abalon Di Indonesia Saat Ini Terbukanya peluang pasar dunia merupakan kesempatan yang seharusnya dapat dimanfaatkan. Namun, hingga saat ini abalon dari Indonseia yang di ekspor keluar negeri sepenuhnya merupakan hasil tangkapan dari alam. Hal ini telah berlangsung sejak lama. Salah satu pelaku usaha penjualan abalon

mengungkapkan bahwa telah melakukan usaha pengumpulan abalon dari hasil tangkapan nelayan di Karangasem Bali sejak tahun 1987. Pada saat itu, ia

mengaku dapat mengumpulkan hingga 100 kg/hari. Namun, saat ini hanya dapat mencapai 3 kg/hari (Fermin dan Encena, 2009). Hal tersebut menunjukkan bahwa populasi abalon di daerah tersebut sedang mengalami tekanan akibat penangkapan dan terjadi penurunan populasi. Tidak hanya di Karangasem Bali, keadaan yang sama dipastikan juga terjadi hampir disemua lokasi habitat abalon di Indonesia. Harga pasar yang tinggi dibandingkan dengan beberapa komoditas perikanan lainnya, membuat banyak masyarakat yang terus-menerus melakukan

penangkapan. Selainitu, habitatnya yang mudah dijangkau, yaitu pada daerah karang-karang mati dengan kedalaman sekitar 2 m, serta tehnik penangkapan yang cukup mudah, membuat komoditas ini akan terus mengalami penurunan populasi. Selain itu, siklus hidup abalon tropis yang memerlukan waktu 1 tahun untuk mencapai ukuran pasar, tidak seimbang dengan laju penangkapan yang dilakukan terus menerus. Ditambah lagi dengan perilaku nelayan yang tidak memperhatikan ukuran dalam menangkap abalon. Dimana abalon yang masih ukuran kecil (juvenil) 3-4 cm juga tetap ditangkap. Padahal, abalon dengan ukuran tersebut memiliki nilai jual yang rendah. Kondisi ekonomi masyarakat pesisir yang lemah adalah salah satu penyebab perilaku tersebut. Hal itu tidak hanya terjadi pada komoditas abalon, tetapi juga pada hampir semua komoditas laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Belum adanya dukungan dari produksi sektor budidaya, merupakan salah satu penyebab utama terjadinya penuruan populasi abalon di alam. Hingga saat ini, abalon dari Indonesia yang diekspor sepenuhnya berasal dari hasil tangkapan di alam. Budidaya abalon di Indonesia saat inii masih pada tahap penelitian.
Jenis-Jenis Abalone Di Indonesia yang Mempunyai Nilai Ekonomis Alfi Kusuma Admaja 10

Produksi yang dihasilkan oleh balai-balai budidaya, belum sampai pada output komersil. Tingginya mortalitas pada kegiatan pembenihan merupakan

penyebabnya. Mortalitas dapat mencapai 90-95% pada fase larva-post larva. Tidak hanya di Indonesia, rendahnya angka kelangsungan hidup (survival rate) pada fase tersebut juga merupakan masalah utama pada hampir semua kegiatan budidaya abalon di dunia. Faktor lingkungan yang sangat mempengaruhi

keberhasilan pembenihan abalon antara lain salinitas, suhu, jenis pakan bentik diatom yang tepat, serta photoperiod (SEAFDEC, 2000; Steven, 2003; Setyono, 2005; Heasman dan Savva, 2007; Leighton et al., 2008). Meningkatnya populasi manusia dan semakin banyaknya permintaan akan produk-produk akuakultur sebagai sumber protein hewani, menunjukkan bahwa peluang dikembangkannya budidaya abalon di Indonesia terutama spesies H. asinina yang telah memiliki pasar internasiaonal adalah sangat menjanjikan. Hal tersebut didukung oleh jenis abalon H. asinina yang merupakan jenis abalon tropis yang hanya membutuhkan waktu 1 tahun untuk mencapai ukuran komersil. Sedangkan abalon temperate memerlukan waktu 3-4 tahun untuk

mencapai ukuran ekonomis. Selain itu, hal tersebut juga didukung oleh luasnya pesisir Indonesia yang potensial untuk area budidaya abalon, makroalga yang melimpah sebagai pakan alami (natural food), serta tenaga kerja yang murah.

Jenis-Jenis Abalone Di Indonesia yang Mempunyai Nilai Ekonomis Alfi Kusuma Admaja

11

IV. KESIMPULAN Berdasarkan penjelasan tang telah dipaparkan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: Permintaan akan abalon terus mengalami peningkatan yang diikuti berkembangnya industri akuakultur abalon diberbagai negara seperti, China, Taiwan, dan Jepang. Di indonesia terdapat tujuh spesies, yaitu H. asinina, H. varia, H. squamosa, H. ovina, H. glabra, H. planata, dan H. crebrisculpta, yang tersebar di perairan Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara, Laut Flores, Karangasem Bali, Lombok, Madura, dan Lampung , dimana spesies yang paling besar distribusinya adalah H. asinina. H. asinina, H. squamata, dan H. varia merupakan spesies yang memiliki potensi ekonomi untuk dikembangkan. Produk abalon yang berasal dari Indonesia merupakan abalon yang berasal dari tangkapan di alam, sehingga dikhawatirkan akan mengancam populasinya jika terus dilakukan. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk mendorong dan mengambangkannya ke arah budidaya.

Jenis-Jenis Abalone Di Indonesia yang Mempunyai Nilai Ekonomis Alfi Kusuma Admaja

12

DAFTAR PUSTAKA Cook, P. A. dan Gordon, H.R. 2010. World Abalone Supply, Markets, And Pricing. Journal of Shellish Research. Vol. 29, No. 3:569-571. Cox. K.W. 1962. California Abalones, Family Haliotidae. The Resources Agency Of California Department Of Fish And Game. Fish Bulletin No. 118. University of California. http://www.calisphere. universityofcalifornia.edu/. Diakses pada tanggal 31 Mei 2012. Dharma, B. 1988. Siput dan Kerang Indo-nesia I (Indonesian shells). PT. Sarana Graha, Jakarta: 111 pp. Estes, J.A., D.R. Lindberg., and C. Wray. 2005. Evolution of Large Body Size in Abalones (Haliotis): Patterns and Implications. Journal Paleobiology 31: 591606. Fermin, A.C. dan Encena, V.C. 2009. Enhancement in Eastern Indonesia. ACIAR. Australia. 19 p. Final Report: Abalone Industry SADI-ACIAR Research Report.

Hadijah., A. Tuwo., M.I. Djawad., and M. Litaay. 2011. The Biological aspects of Tropical Abalone (Haliotis asinina) in Tanakeke Island Waters, South Sulawesi. Disampaiakan pada proceeding of Internationnla Seminar on Indonesian Fisheries Development: Enhancing Indonesian Fish Production and Competitiveness in International Market. Universitas Hasanuddin Makassar. Hahn, K.O. 1989. Survey of commercially important abalone species in the world. In : Handbook of culture of abalone and other marine gastropods (HAHN, K.O. ed.). CRC Press, Inc. Boca Raton, Florida: 3-12. Heasman, M and Savva, N. 2007. Manual for Intensive Hatchery Production of Abalone: Theory and Practice for Year-Round, High Density Seed Production of Blacklip Abalone (H. rubra). Australian Government Fisheries and Development Corporations. Australia. 108 pp. Jarayabhand. P., R. Yom-La., dan A. Popongviwat. 1998. Karyotypes Of Marine Molluscs In The Family Haliotidae Found In Thailand. Journal of Shellfish Research. Vol. 17, No. 3. 761-764. Leighton, P., G. Robinson., and N. McGowan. 2008. Aquaculture Explained: Abalone Hatchery Manual. Aquaculture Development Division, Ireland. 95 pp. Praipue, P., S. Klinbunga., dan P. Jarayabhand., 2010. Genetic Diversity of Wild and Domesticated Stocks of Thai Abalone, Haliotis asinina (Haliotidae),
Jenis-Jenis Abalone Di Indonesia yang Mempunyai Nilai Ekonomis Alfi Kusuma Admaja 13

Analyzed by Single-Strand Conformational Polymorphism of AFLPDerived Markers. Genetics and Molecular Research 9 (2): 1136-1152. Singhagraiwan, T dan Doi, M. 1993. Seed Production and Culture of a Tropical Abalone Haliotis asininaLinne. The Research Project of Fishery Resource Development in the Kingdom of Thailand. Ministry of Agriculture and Cooperatives, Thailand. SEAFDEC. 2000. Research and Development: Abalone Seed Production and Culture. Aquaculture Department Southeast Asian Fisheries Development Center. Tigbauan, Iloilo, Philippines. 6 pp Setyono, D.E.D. 1997. Culture Techniques On The Farming Of Abalone (Haliotis sp.), A Perspective Effort For Aquaculture In Indonesia. Oseana, Volume 22, Nomor 1:1-8. _______________. 2005. Abalone (H. asinina L): Early Juvenile Rearing And Ongrowing Culture. Oseana 30: 1-10. _______________. 2006. Reproductive Aspects of The Tropical Abalone, H. asinina, From Southern Lombok Waters, Indonesia. Marine Research in Indonesia No. 30:1-14. Stevens, M.M. 2003. Seafood Watch, Seafood Report Cultured Abalone (Haliotis spp.) Fisheries Research Analyst Monterey Bay Aquarium. Amerika Serikat. 14 pp. Tang, S., A. Popongviwat., S. Klinbunga., A. Tassanakajon., P. Jarayabhand., dan P. Menasveta., 2005. Genetic Heterogeneity of the Tropical Abalone (Haliotis asinina) Revealed by RAPD and Microsatellite Analyses. Journal of Biochemistry and Molecular Biology, Vol. 38, No. 2:182-190. Ungson, J., Yin, Y. M., Vannsereyvuth S., Yii S.H., Doris AU., 2002. Towards Sustainable Abalone Culturein Thailand. Monthon Ganmanee (2): 1-10. Yuniarti. A., Y. Kilawati., A.M. Hariati., 2009. Kajian Heterogenitas Genetik Abalon (Haliotis asinina) Di Perairan Indonesia Melalui Metode Restriction Fragment Length Polymorphism (RFLP) mtDNA. Laporan Penelitian Hibah Penelitian Strategis Nasional. Universitas Brawijaya. http://www.diverosa.com di akses pada tanggal 25 Mei 20012. http://www.kp3k.kkp.go.id) di akses pada tanggal 25 Mei 20012 http://casplabaliseashell.indonetwork.co.id di akses pada tanggal 25 Mei 20012

Jenis-Jenis Abalone Di Indonesia yang Mempunyai Nilai Ekonomis Alfi Kusuma Admaja

14