Anda di halaman 1dari 14

KULTUR EMBRIO

LAPORAN

OLEH

SITI KURNIA/090301007 AET-1

LABORATORIUM BIOTEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011

KULTUR EMBRIO

LAPORAN

OLEH

SITI KURNIA/090301007 AET-1

Laporan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mengikuti Praktikal Tes di Laboratorium Bioteknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan

Disetujui Oleh: Dosen Penanggung Jawab

Diperiksa Oleh: Asisten Korektor

(Prof.Dr.Ir.Rosmayati, MS) NIP. 198581017 198403 2 001

(Nida Wafiqah Nabila) NIM. 070307014

LABORATORIUM BIOTEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011

KULTUR EMBRIO

Praktikum dilaksanakan pada tanggal 9 Maret 2011 di Laboratorium Bioteknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Tujuan dari praktikum adalah untuk mengetahui cara pembuatan media serta bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan media tersebut. Terlebih dahulu disiapkan bahan serta alat yang akan digunakan. Alatnya berupa hotplate, erlenmeyer, botol kultur, dan lain sebagainya serta bahan-bahan yang terdiri atas unsur hara makro, unsur hara mikro, iron, vitamin, agar, sukrosa, myo-inositol serta NaOH jika larutan terlalu asam (pH di bawah 5,8). Cara kerjanya dimulai dengan memasukkan semua bahan satu per satu ke dalam erlenmeyer yang dipanasi di atas hot plate. Ditunggu larutan sampai mendidih. Setelah itu, angkat media dan tuangkan ke dalam botol kultur. Media yang terbentuk adalah media padat. Dari praktikum kultur embrio dihasilkan persentase pertumbuhan jagung sebesar 100%, durian sebesar 75%, dan jeruk sebesar 100%.

TINJAUAN PUSTAKA

Teknik kultur embrio dan embrio rescue pada dasarnya melibatkan 3 tahapan, yaitu pertama, sterilisasi eksplan embrio pada prinsipnya berada dalam keadaan steril. Hal ini disebabkan karena embrio berada di dalam buah (di dalam biji) terlindung oleh jaringan-jaringan buah dan biji yang berada di luar embrio, antara lain oleh kulit buah, daging buah dan kulit biji. Keberhasilan pertumbuhan embrio sangat tergantung dari kesterilan eksplan dan perlakuan saat pengerjaan (Nugroho dan Heru, 2005). Sterilisasi permukaan perlu dilakukan pada buah ataupun biji untuk mensterilkan permukaan buah/biji sehingga pada waktu isolasi embrio tidak terdapat sumber kontaminan. Karena embrio berada di dalam, sterilisasi dapat dilakukan dengan pembakaran buah/biji atau dengan sterilan kimia seperti sodium hypochlorite dengan konsentrasi cukup tinggi yaitu lebih besar dari 2 %. Embrio muda, embrio dengan endosperm kecil atau embrio kecil dan lemah seringkali tidak dapat berkecambah secara normal dalam kondisi biasa

(Mariska dan Purnamaningsih, 2001). Yang kedua adalah isolasi dan penanaman embrio seringkali masalah timbul saat isolasi embrio terutama untuk embrio berukuran kecil sehingga isolasinya harus dilakukan di bawah mikroskop. Untuk embrio berukuran besar, isolasi embrio tidak menjadi masalah. Isolasi harus dilakukan secara hati-hati agar embrio tidak rusak dan kehilangan salah satu atau lebih bagian-bagiannya (radicula, plumula, hypocotil, coleoptyl, dll). Selain itu harus tetap dijaga juga

agar isolasi dilakukan dalam kondisi tetap aseptis. Embrio yang telah diisolasi selanjutnya ditanam pada media yang telah dipersiapkan (Starling et al, 1986). Yang ketiga adalah aklimatisasi. Aklimatisasi dilakukan setelah embrio berkecambah dan diperoleh plantlet yang siap untuk dipindahkan ke lapangan. Teknik aklimatisasi untuk plantlet hasil regenerasi kultur embrio pada prinsipnya sama dengan aklimatisasi plantlet hasil regenerasi dari teknik kultur jaringan lainnya. Kultur embrio lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan

penyelamatan embrio, disebabkan karena embrio yang ditanam adalah embrio yang telah berkembang sempurna sehingga media tanaman yang digunakan juga sangat sederhana (http://www.fp.unud.ac.id, 2011). Perkembangan embrio muda perlu didukung pada awalnya sehingga radicula dan plumula dapat berkembang sempurna sebelum embrio ini berkecambah. Untuk itu, nutrisi yang lebih lengkap beserta vitamin seperti nicotinic acid, biotin, vitamin C, vitamin B perlu ditambahkan pada media kultur embrio muda ini. Hormon tanaman umumnya tidak ditambahkan dalam media kultur embrio karena penambahan hormon tanaman kemungkinan dapat merangsang terbentuknya kalus pada embrio. Kalus umumnya tidak diinginan pada kultur embrio mengingat tujuan kulturnya adalah untuk merangsang perkecambahan embrio. Pada beberapa kasus, terutama untuk embrio muda atau embrio yang mengalami dormansi, penambahan giberellin dalam media kultur dapat dilakukan. Untuk pengecambahan embrio umumnya digunakan media padat sehingga agar pada konsentrasi 0,8 sampai 1,6 % ditambahkan ke dalam media. Media cair kadangkala diperlukan untuk pengecambahan, misalnya pada embrio kelapa. Kondisi pengecambahan ini memodifikasi kondisi alamiah

perkecambahan buah kelapa dimana nutrisi tersedia dari endosperm yang cair yaitu berupa air kelapa. Apabila media cair digunakan untuk pengecambahan, umumnya kultur ditempatkan di atas shaker (alat penggojok) untuk menghindari kekurangan oksigen pada eksplan yang dapat menyebabkan eksplan mati (Hendaryono dan Wijayani, 2002 ). Media untuk pengecambahan embrio cukup sederhana. Kebutuhan nutrisi di dalam media untuk pengecambahan embrio juga lebih sederhana dibandingkan dengan media untuk tujuan teknik kultur yang lain. Pada prinsipnya media diperlukan untuk menggantikan peranan endosperm dalam mendukung

perkecambahan embrio dan perkembangan bibit muda mengingat embrio yang ditanam umumnya telah memiliki radicula dan plumula. Media yang umum digunakan untuk pengecambahan embrio adalah media Knudson dan Vacin Went (untuk anggrek), Media MS dalam konsentrasi garam-garamnya. Dalam pengecambahan embrio dewasa umumnya vitamin tidak ditambahkan dalam media, namun sumber karbon tetap diperlukan meskipun dalam konsentrasi yang lebih rendah (umumnya 20 g/l). Akan tetapi, dalam pengecambahan embrio muda diperlukan media yang lebih kompleks (Katuuk, 1989). Berdasarkan tujuan dan jenis embrio yang dikulurkan, kultur embrio digolongkan menjadi 3, yaitu: 1) Kultur embrio muda (immature embrio culture). Tujuan mengkulturkan embrio muda ini adalah menanam embrio yang terdapat pada buah muda sebelum buah tersebut gugur (mencegah kerusakan embrio akibat buah gugur) sehingga teknik ini disebut sebagai Embrio Rescue (Penyelamatan Embrio)

2) Kultur embrio dewasa (mature embrio culture). Kultur embrio dewasa dilakukan dengan membudidayakan embrio yang telah dewasa. 3) Kultur embrio non zigotik. Embrio non zigotik dihasilkan dari kultur organ yang melalui fase pertumbuhan kalus (Zulkarnain, 2009).

BAHAN DAN ALAT

Bahan Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah embrio jagung, durian dan jeruk sebagai bahan praktikum, media MS + GA3 0,5 ppm sebagai media tumbuh embrio, benlate 2 g/l + dithane M-45 2 g/l, tween-20, chlorox digunakan sebagai bahan sterilisasi eksplan, alkohol 96 % digunakan untuk mensterilkan LAF, dan aquadest steril digunakan sebagai bahan pencuci eksplan setelah direndam. Alat Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah petridish digunakan sebagai tempat eksplan yang sudah steril, Laminar Air Flow digunakan sebagai meja kerja steril, botol kultur sebagai tempat media tumbuh dan eksplan, pinset digunakan untuk memindahkan eksplan, erlenmeyer digunakan sebagai wadah larutan fungisida maupun aquadest, scalpel digunakan untuk membelah biji saat akan mengambil embrionya, pipet digunakan untuk meneteskan larutan fungisida, dan handsprayer digunakan sebagai alat penyemprot alkohol.

PROSEDUR PERCOBAAN

a. Sterilisasi Eksplan Dicuci eksplan dengan detergen selama 30 menit sambil terus digojok kemudian dibilas dengan air mengalir Dilakukan pengerjaan selanjutnya di Laminar Air Flow (LAF) yang sudah dibersihkan/disterilkan dengan alkohol 96 % Direndam eksplan yang sudah bersih dalam larutan fungisida Benlate 2 gl + dithane M-45 2 g/l + tween-20 sebanyak 2-3 tetes, kemudian digojok selama 30 menit. Selanjutnya dibilas dengan aquades steril minimal sebanyak 3x Direndam eksplan dalam larutan Clorox 20 % + tween-20 selama 10 menit sambil digojok kemudian dibilas kemudian dengan aquadest steril minimal sebanyak 3x Direndam eksplan dalam larutan Clorox 10 % + tween-20 selama 15 menit sambil digojok kemudian dibilas dengan aquadest steril minimal sebanyak 3x Direndam eksplan dalam larutan Betadine 5 % selama 10 menit sambil digojok kemudian dibilas dengan aquadest steril minimal sebanyak 3x b. Penanaman Eksplan Dipindahkan eksplan yang sudah steril ke dalam petridish Dibuka polong buncis kemudian diambil embrionya lalu ditanam pada media MS, diinkubasi pada suhu 250C pada keadaan terang Diamati perkembangannya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil a. Jagung % Tumbuh =


( )

100%

100%

= 100 %

b. Durian % Tumbuh =
( )

100%

= = 75 % c. Jeruk Manis % Tumbuh =

100%

100%

100%

= 100 % Pembahasan Salah satu tujuan dari penanaman embrio secara aseptis di dalam media adalah untuk menyelamatkan embrio itu sendiri. Sering terjadi permasalahan yang dijumpai setelah terjadi persilangan buatan antara lain buah yang terbentuk gugur

saat embrio belum matang, terbentuk buah dengan endosperm yang kecil atau terbentuk buah dengan embrio yang kecil dan lemah. Kondisi tersebut dapat menghambat program pemuliaan tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur Mariska dan Purnamaningsih (2001) yang menyatakan bahwa embrio muda, embrio dengan endosperm kecil atau embrio kecil dan lemah seringkali tidak dapat berkecambah secara normal dalam kondisi biasa. Pada percobaan ini digunakan bahan berupa embrio durian, embrio jagung dan embrio jeruk manis. Embrio yang paling sulit untuk diambil yaitu embrio jeruk manis karena kulit bijinya yang berlendir dan licin. Hal ini dipersulit lagi dengan pengambilan embrio yang dilakukan dengan menggunakan pinset dan scalpel karena kondisi embrio harus dalam keadaan steril. Hal ini sesuai dengan literatur Nugroho dan Heru (2005) yang menyatakan bahwa keberhasilan pertumbuhan embrio sangat tergantung dari kesterilan eksplan dan perlakuan saat pengerjaan. Berdasarkan tujuan dan jenis embrio yang dikulturkan, kultur embrio digolongkan menjadi 3 bagian. Pertama, kultur embrio muda (immature embrio culture). Kedua, yaitu kultur embrio dewasa (mature embrio culture) dan yang ketiga adalah kultur embrio non zigotik. Terdapat kelebihan kultur embrio dewasa dibandingkan kultur embrio muda, karena embrio yang ditanam adalah embrio yang telah berkembang sempurna sehingga media tanaman yang digunakan juga sangat sederhana. Hal ini sesuai dengan literatur http://www.fp.unud.ac.id (2011) yang menyatakan bahwa kultur embrio lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan penyelamatan embrio, disebabkan karena embrio yang ditanam adalah

embrio yang telah berkembang sempurna sehingga media tanaman yang digunakan juga sangat sederhana. Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa persentase pertumbuhan jagung dan jeruk sebesar 100%. Ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pun eksplan yang terkontaminasi sehingga seluruh eksplan dapat tumbuh. Hal ini sesuai dengan literatur dari Mariska dan Purnamaningsih (2001) bahwa sterilisasi merupakan hal penting yang harus dilakukan dalam kegiatan kultur embrio karena sterilisasi dapat menghindari timbulnya kontaminan baik eksternal maupun internal. Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa persentase pertumbuhan durian sebesar 75%. Hal ini disebabkan sterilisasi tidak dilakukan dengan sebaiknya sehingga menimbulkan kontaminasi. Hal ini sesuai dengan literatur dari Mariska dan Purnamaningsih (2001) bahwa sterilisasi permukaan perlu dilakukan pada buah ataupun biji untuk mensterilkan permukaan buah/biji sehingga pada waktu isolasi embrio tidak terdapat sumber kontaminan. Percobaan kultur embrio ini menggunakan media MS+GA3. Media ini merupakan media yang paling cocok bagi kultur embrio. Hal ini sesuai dengan literatur dari Katuuk (1989) yang menyatakan bahwa kebutuhan nutrisi di dalam media untuk pengecambahan embrio lebih sederhana dibandingkan dengan media untuk tujuan teknik kultur yang lain pada prinsipnya media diperlukan untuk menggantikan peranan endosperm dalam mendukung perkecambahan embrio dan perkembangan bibit muda mengingat embrio yang ditanam umumnya telah memiliki radicula dan plumula.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan 1. Kultur embrio pada percobaan ini menggunakan media GA3. 2. Tujuan mengkulturkan embrio muda adalah menanam embrio yang terdapat pada buah muda sebelum buah tersebut gugur. 3. Dari praktikum kultur embrio dihasilkan persentase pertumbuhan jagung sebesar 100%, durian sebesar 75%, dan jeruk sebesar 100%. 4. Embrio kultur dewasa diambil dari buah yang telah masak penuh dengan tujuan merangsang perkecambahan dan menumbuhkan embrio tersebut secara invitro. 5. Teknik untuk menanam embrio muda dikenal dengan sebutan

penyelamatan embrio, yang juga menjadi salah satu tujuan dari kultur embrio. Saran Sebaiknya embrio yang digunakan dalam kultur kalus ini harus dalam keadaan utuh dan tidak terluka agar dapat tumbuh dengan baik saat dikulturkan.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.fp.unud.ac.id/biotek/kultur-jaringan-tanaman/5-pembentukan-kultur aseptik/. Diakses tanggal 12 Maret 2011. Hendaryono, D. P. S. dan A Wijayani. 2002. Teknik Kultur Jaringan. Kanisius. Yogyakarta. Katuuk,J.R.P.1989. Teknik Kultur Jaringan dalam Mikropropagasi Tanaman. Jakarta : Depdikbsud,Direktorat Jenderal Pendidikan. Mariska, I. dan R. Purnamaningsih. 2001. Perbanyakan vegetatif tanaman tahunan melalui kultur in vitro. Jurnal Litbang Pertanian 20 (1) : 1-8. Nugroho, A dan Heru. S., 2005. Pedoman Pelaksanaan Teknik Kultur Jaringan. Penebar Swadaya. Jakarta. Starling, R.J., H.J. Newburry, dan J.A . Callow, 1986. Putative Auxin Receptors in Tobacco Callus. University of Birmingham. UK. Zulkarnain. 2009. Kultur Jaringan Tanaman. Bumi Aksara, Jakarta.