Anda di halaman 1dari 18

BAB 1. PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Budidaya tebu adalah upaya menciptakan kondisi fisik lingkungan tanaman tebu, berdasarkan ketersediaan sumberdaya lahan, alat dan tenaga yang memadai agar sesuai dengan kebutuhan pada fase pertumbuhannya, sehingga menghasilkan produksi (gula) seperti yang diharapkan. Dewasa ini budidaya yang efisien adalah pengelolaan tanaman tertentu yang diusahakan menyesuaikan dengan lingkungan agroklimat (ketersediaan lahan). Karekteristik agroklimat terdiri dari iklim, kesuburan tanah dan topografi. Budidaya tebu hendaknya menyesuaikan dengan kondisi karakteristik agroklimat di lahan tegalan yang umumnya dijumpai untuk tanaman tebu. Produktifitas tebu ditentukan oleh karakteristik agroklimat yang paling minimum. Usaha budidaya tebu di Indonesia dilakukan pada lahan sawah berpengairan dan tadah hujan serta pada lahan kering/tegalan dengan rasio 65% pada lahan tegalan dan 35% pada lahan sawah. Sampai saat ini daerah/wilayah pengembangan tebu masih terfokus di Pulau Jawa yakni di Provinsi, Jawa Timur, Jawa Tengah, DI. Yogyakarta dan Jawa Barat yang diusahakan di lahan sawah dan tegalan. Sedangkan usahatani tebu pada lahan tegalan pengembangannya diarahkan ke Luar Jawa seperti di Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Selatan dan Gorontalo. Agar tanaman tebu mengandung kadar gula yang tinggi, harus diperhatikan musim tanamnya. Pada waktu masih muda tanaman tebu memerlukan banyak air dan ketika mulai tua memerlukan musim kemarau yang panjang. Pada kondisi fisik lingkungan yang ada, yaitu pada areal lahan kering atau tegalan, maka agar dapat dicapai produksi yang tinggi diperlukan bibit tebu dengan varietas tebu yang sesuai dengan kondisi lahan kering. Tinggi turnbuhan tebu berkisar 2-4 meter. Batang pohon tebu terdiri dari banyak ruas yang setiap ruasnya dibatasi oleh buku-buku sebagai tempat duduknya daun. Bentuk daun tebu berwujud belaian dengan pelepah. Panjang daun dapat mencapai

panjang 1-2 meter dan lebar 4-8 centimeter dengan permukaan kasar dan berbulu. Bunga tebu berupa bunga majemuk yangberbentuk m,-t 1 ai di puneak sebuah poros gelagah. Sedang akarnya berbentuk serabut. 1.2 Tujuan Mahasiswa memahami cara budidaya tebu yang baik dan benar sesuai dengan mekanisme dan syarat berlaku dalam mengembangkan budidaya tebu tersebut.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA Dalam budidaya tanaman tebu bibit merupakan salah satu modal (investasi) yang menentukan jumlah batang dan pertumbuhan selanjutnya hingga menjadi tebu giling beserta potansi hasil gulanya. Oleh karena itu penggunaan bibit unggul bermutu merupakan faktor produksi yang mutlak harus dipenuhi. Sehingga Pemerintah merasa perlu mengatur pengawasan peredaran bibit melalui sertifikasi yang merupakan satu proses pemberian sertifikat bibit setelah melalui pemeriksaan, pengujian dan pengawasan untuk persyaratan dapat disalurkan dan diedarkan. Sampai saat ini pusat Penelitian telah menghasilkan berbagai macam varietas unggul seperti PS851, PS862, PS863, PS864, PSBM901, PS921, Bululawang, PSCO902, PSJT941, Kidang Kencana, PS865, PS881, PS882 dan varietas Kentung yang merupakan varietas-varietas unggulan dengan kategori pengelompokan masak awal, masak tengah dan masak akhir sebagai salah satu penerapan manajemen pembibitan untuk menyelaraskan pelaksanaan tertib tanam dan panen (Hanum, 2008). Proses pembibitan tersebut melalui empat langkah, yang pertama, bibit ditanam di KBP (kebun bibit pokok) pada sekitar bulan Maret dengan luas 0,1 % dari luas lahan perkebunan tebu nantinya. Hasil penanaman ini diambil dan ditanam di KBN (kebun bibit nenek) pada sekitar bulan Oktober dengan luas 0,5 % dari luas lahan tebu nantinya. Bibit dari KBN ditanam di KBI (kebun bibit induk) pada sekitar bulan April tahun berikutnya dengan luas lahan 2,5% dari luas lahan tebu nantinya.Dari KBI dihasilkan bibit untuk ditanam di KBD (kebun bibit datar) pada sekitar bulan November dengan luas lahan 12,5 % dari luas lahan tebu nantinya. Persen luas lahan di atas dapat diterangkan sebagai berikut. Bibit dari 1 ha KBP dapat ditanam di KBN seluas 5 ha. Bibit dari 1 ha KBN dapat ditanam di KBI seluas 5 ha. Satu hektar KBI menghasilkan bibit yang dapat ditanam di KBD seluas 5 ha. Bibit dari 1 ha KBD untuk 8 ha kebun tebu giling (Wijayanti, 2008). Salah satu komoditas pertanian yang menjadi andalan ekspor Indonesia adalah tebu. Tebu merupakan tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula dan vetsin.

Tanaman ini hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Tanaman ini termasuk jenis rumput-rumputan. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih 1 tahun sehingga tergolong tanaman tahunan. Di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatra.Untuk pembuatan gula, batang tebu yang sudah dipanen diperas dengan mesin pemeras (mesin press) di pabrik gula. Sesudah itu, nira atau air perasan tebu tersebut disaring, dimasak, dan diputihkan sehingga menjadi gula pasir yang kita kenal. Dari proses pembuatan tebu tersebut akan dihasilkan gula 5%, ampas tebu 90% dan sisanya berupa tetes (molasse) dan air. Daun tebu yang kering (dalam bahasa Jawa, dadhok) adalah biomassa yang mempunyai nilai kalori cukup tinggi. Ibu-ibu di pedesaan sering memakai dadhok itu sebagai bahan bakar untuk memasak; selain menghemat minyak tanah yang makin mahal, bahan bakar ini juga cepat panas.Tidak hanya dadhok tetapi di daerah jawa timur Blotong ( ampas tebu ) juga dimanfaat kan untuk bahan bakar ( kayu bakar ). Daun tebu ( pucuk ) juga dimanfaatkan untuk makanan ternak oleh sebagian masyarakat pedesaan (Susila. 2005). Ada 4 hara esensial mikro yang ditengarai mulai menjadi masalah (terjadi kekahatan) pada lahan pertanaman tebu di Jawa yaitu : Fe, Zn, Cu, dan B. Besi dibutuhkan dalam sintesis kloropil dan protein. Oleh karena kloropil merupakan bahan yang terlibat di dalam proses fotosintesa, maka akibat akhir dari kekahatan Fe akan dapat menurunkan kadar gula di dalam tebu. Hara Zn ikut berperan untuk mengaktifkan ensim sucrose synthetase, ini berarti Zn ikut menentukan kadar gula yang dapat diperoleh. Kekahatan Zn juga akan menyebabkan penundaan saat kemasakan. Peranan Cu dan B yang berhubungan dengan kadar gula adalah keterlibatannya dalam proses metabolisme karbohidrat. dan transportasi gula melalui membran (Kabata-Pendias & Pendias, 1992; dan Romheld & Marsner, 1991). Langkah awal untuk peningkatan produksi tebu adalah pengelolaan bibit tebu dengan baik. Bibit adalah modal utama bagi keberhasilan usaha budidaya tebu. Pengetahuan manfaat pengelolaan bibit yang baik sangat diperlukan produsen gula untuk menciptakan dan mengusahakan bibit bermutu. Bibit tebu bermutu baik dan

sehat dapat diperoleh melalui kegiatan pembangunan kebun berjenjang dan pelaksanaan budidaya. Pembangunan kebun bibit berjenjang adalah penyelenggaraan kebun bibit secara bertahap yang memiliki ketentuan yang harus dipatuhi dan diikuti standarnya sehingga akan diperoleh bibit sesuai kebutuhan baik jumlah maupun kualitasnya (Mahendra dan Purwono, 2009). Jenis bibit tebu yang ditanam berubah-ubah mengikuti perkembangan inovasi bibit tebu yang dikembangkan pusat penelitian di Pasuruan. Kebun tebu Mangkunegaran yang termasuk dalam kelompok perkebunan tebu Sala sangat dipengaruhi oleh inovasi-inovasi tersebut. Pengaruh penanaman bibit dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor keterlambatan dalam penanaman bibit tebu, faktor ketersediaan tenaga kerja dalam penanaman bibit, dan juga faktor kesiapan bibit sehingga bibit tersebut belum layak untuk ditanam (Wasino, 2008). Pada pertanaman monokultur peningkatan produktivitas tebu dapat dilakukan dengan intensifikasi dan ekstensifikasi. Peningkatan produktivitas secara komersial dimaksudkan untuk meningkatkan produksi per satuan luas lahan.melalui peningkatan populasi dengan mempersempit jarak antarbaris tebu. Dengan peningkatan populasi ini ketersediaan lahan, lengas tanah, unsur hara, dan cahaya matahari dapat dimanfaatkan tebu semaksimal mungkin sehingga hasil hablur meningkat(Soejono, 2004) Tebu merupakan salah satu tanaman yang membiak secara vegetatif dengan umur relatif panjang dibandingkan dengan tanaman semusim dengan variabilitas genetik yang sempit dibandingkan dengan tanaman membiak secara generatif (Farid, dkk, 2006). Kondisi pergulaan Indonesia khususnya selama hampir satu dekade terakhir ini menunjukan kecenderungan semakin merosot. Merosotnya produksi gula ini tercatat hingga 45 %, beberapa diantaranya disebabkan oleh menurunnya produktivitas tanaman tebu dan berkurangnya luas areal tanaman tebu (Mulyono, 2009). Upaya pemantapan produksi gula dalam negeri dapat dilaksanakan dengan beberapa cara, antara lain dengan melaksanakan intensifikasi pada tanaman tebu yang sudah mapan, ekstensifikasi dengan memperluas pertanaman tebu ke areal

bukaan baru dengan sistem tegalan terutama di luar pulau Jawa, dan rehabilitasi pabrik-pabrik gula agar lebih efisien dalam menghasilkan gula (Mahendra dan Purwono, 2009). Perbaikan sistem produksi tebu di tingkat petani di Pulau Jawa memiliki arti yang sangat strategis, khususnya pada wilayah-wilayah yang secara teknis dan ekonomis mempunyai potensi untuk dikembangkan. Produktivitas tebu dan harga gula yang rendah serta biaya usahatani yang makin meningkat, telah mendorong terjadinya penurunan kualitas bahan baku yang disediakan petani. Berdasarkan beberapa hal tersebut, beberapa penelitian dilakukan bertujuan untuk mengkaji daya saing usahatani tebu petani di Propinsi Jawa Timur terutama dari segi tipe bibit yang digunakan, karena setiap jenis bibit memiliki jumlah mata tunasan yang pengaruhnya terhadap pertumbuhan tebu dikemudian hari (Ariani, Andi, dan Juni, 2008).

BAB 3. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Praktikum lapang atau fieldtrip ini dilakukan pada tanggal 14-15 November 2012 di PG. Madukismo Yogyakarta,Jawa Tengah. 3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat 1. Alat perekam 2. Alat tulis 3. Kamera 3.2.2 Bahan 1. Handout atau modul pelaksanaan fieldtrip 3.3 Cara Kerja 1. Melakukan kunjungan lapang ke tempat yang telah ditentukan. 2. Mengikuti serangkaian kegiatan kunjungan. 3. Mendengarkan, memperhatikan, mencatat dan atau merekam informasi yang disampaikan. 4. Melakukan diskusi berkaitan dengan lokasi dan informasi yang disampaikan. 5. Mengambil gambar objek yang menunjukkan hasil budidaya tebu yang dihasilkan. 6. Mendeskripsikan informasi yang di dapat. 7. Membuat laporan praktikum kunjungan lapang atau fieldtrip.

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Judul : Budidaya Tanaman Tebu (Saccaharum officinarum)
T E B U ( Saccharum officinarum ). 1. Teknik Budidaya 1.1 Penggarapan tanah. a. Penggarapan tanah. - Penggarapan tanah dengan sistem Reynoso, yaitu membuat got got ( Got giling, Got Mujur, Got malang, Jolangan/juringan ) untuk memperlancar draenase. - Ukuran Got. Macam Got Lebar Lebar Kedalaman atas bawah (cm) (cm) (cm) Keliling 60 50 90 Mujur 60 40 80 Jolangan/Juringan 40 40 30 b. Penanaman. - Waktu tanam : Berbeda-beda(tergantung waktu masak) - Cara tanam : Dengan overlaping dan menggunakan satu mata tunas. Penyulaman : Penyulaman I Penyulaman II : - Bibit rayungan umur 1 minggu - Bibit bagal umur 4 minggu. : 4 minggu setelah penyulaman 1 dederan:

c.

Bibit penyulaman diperoleh dari sumpingan atau Sumpingan. d. Penanaman

Jenis pupuk : ZA, Phonska, madros Dosis pupuk/jenis pupuk : Za 8 Kw/Ha, Phonska 5 Kw/Ha, madros 10 Kw/ ha Waktu Pemupukan :

Pupuk I Pupuk II

1 s/d 7 hari setelah tanam ; Madros, Za 4 Kw/Ha 1 bulan setelah pupuk 1 ; Phonska : 5Kw/Ha Za : 4Kw/Ha

Pemupukan dengan ditegal dan ditutup tanah. e. Pembumbunan/turun tanah Bumbun I Bumbun II Bumbun III Bumbun IV : : : : Setelah pupuk pertama Setelah pemupukan kedua 3 bulan setelah klentek Tidak ada

f. Pengairan dan penyiraman. - Pengairan Selama penggarapan tanah : dialirkan dari sungai menggunakan mesin diesel. Pada saat tanam : penyiraman tergantung umur tanaman. Setelah tanam s/d umur 200 hari 1 bulan sekali. - Penyiraman. Menjelang tanam Setelah tanam S/d umur 2 minggu Umur 2 - 4 minggu Umur 4 - 6 minggu Umur 6 - 16 minggu : : : : : : 2 hari sekali 2 hari sekali 2 hari sekali 2 kali seminggu 1 kali seminggu 1 bulan sekali

g. Kurasan - Untuk memelihara drainase/got - Waktu kurasan : Sebelum tanam ; Sesudah tanam ; Setelah turun tanah I, II, III, IV. ; Setelah turun hujan lebat / banjir ; h. Penyiangan - Dilakukan 4 kali mulai 3 minggu setelah tanam sampai umur 4 bulan.

i. Klentek - Merupakan pengelupasan daun kering atau daun yang tidak berguna untuk meringankan beban, tanaman, memperlancar sirkulasi udara dan photosynthesa. - Klenek I : Umur 4-5 bulan (sebelum gulud akhir) Klenek II : Umur tebu 7 bulan ; Klentek III : Umur tebu 11 bulan (1-2 bulan sebelum tebang) j. Pengendalian beberapa penyakit - Uret. dikendalikan dengan kultur teknik (pengaturan waktu tanam), kimiawi (dengan insektisida), mekanik (diambil, dicangkul dan dicari). Hama penggerek batang (Chilo supressalis) ; dikendalikan: Diroges ; Pelepasan Trichogramma nanun, T. minutun atau T Australian. ; Pelepasan Diatracophaga ( Lalat jatiroto ). ; Dengan insektisida.

4.2 Pembahasan
budidaya tebu adalah upaya menciptakan kondisi fisik lingkungan tanaman tebu, berdasarkan ketersediaan sumberdaya lahan, alat dan tenaga yang memadai agar sesuai dengan kebutuhan pada fase pertumbuhannya, sehingga menghasilkan produksi (gula) seperti yang diharapkan. Dewasa ini budidaya yang efisien adalah pengelolaan tanaman tertentu yang diusahakan menyesuaikan dengan lingkungan agroklimat (ketersediaan lahan). Karekteristik agroklimat terdiri dari iklim, kesuburan tanah dan topografi. Budidaya tebu hendaknya menyesuaikan dengan kondisi karakteristik agroklimat di lahan tegalan yang umumnya dijumpai untuk tanaman tebu. Produktifitas tebu ditentukan oleh karakteristik agroklimat yang paling minimum.

Budidaya tebu merupakan suatu kegiatan dalam usaha tebu mulai dari persiapan lahan, persiapan bahan tanam, penanaman dan pemeliharaan. Persiapan lahan merupakan kegiatan untuk mempersiapkan tanah tempat tumbuh tanaman tebu

sehingga kondisi fisik dan kimia tanah sesuai dengan media perkembangan perakaran tanaman tebu. Salah satu kegiatan yang dilakukan dalam persiapan lahan adalah penggarapan tanah. Penggarapan tanah untuk tanaman tebu dilakukan dengan sistem Reynoso, yaitu membuat got-got (Got giling, Got Mujur, Got malang, Jolangan/juringan ) untuk memperlancar draenase. Menurut data yang didapat ukuran got adalah sebagai berikut:
Macam Got Keliling Mujur Jolangan/Juringan Lebar atas (cm) 60 60 40 Lebar bawah (cm) 50 40 40 Kedalaman (cm) 90 80 30

Setelah persiapan lahan selesai

tahap selanjutnya adalah penananaman. Penanaman tebu, sebaiknya tanah dalam kondisi lembab tapi tidak terlalu basah dan cuaca cerah. Waktu tanam tanaman tebu berbeda-beda tergantung dari waktu masak tanaman karena penanaman tebu di lahan tertentu menggunakan 3 varietas yakni tebu masak awal, masak tengah dan masak akhir. Bahan tanam yang digunakan adalah sumpingan namun akhir-akhir ini PG Madukismo menggunakan bibit tebu yang diperbanyak menggunakan polybag dengan satu mata tunas (single bud planting). Metode ini diadopsi oleh PG madukismo dari Filipina. Saat ini metode ini dianggap cocok untuk diterapkan di PG Madukismo karena bibit yang berasal dari Singel bud planting memiliki pertumbuhan yang lebih cepat daripada bibit yang biasa dipakai. Namun single bud planting ini juga memiliki kekurangan yakni dibutuhkan biaya untuk membeli polibag dan polibag yang diguanakn cepat rusak. Penyulaman merupakan kegiatan penanaman untuk menggantikan bibit tebu yang tidak tumbuh, baik pada tanaman baru ataupun tanaman keprasan agar diperoleh populasi tebu yang optimal. Pelaksanaan penyulaman untuk bibit bagal dilakukan 2 minggu dan 4 minggu setelah tanam, sedangkan untuk bibit rayungan dilakukan 2 minggu setelah tanam. Penyulaman dilaksanakan pada baris bagal 23 mata sebanyak dua potong dan diletakkan pada baris tanaman yang telah dilubangi sebelumnya. Apabila penyulaman tersebut gagal, penyulaman ulang harus segera dilaksanakan.

Penyulaman tebu dilakukan 2 kali yakni penyulaman pertama yang dilakukan 4 MST dan penyulaman 2 yang dilakukan 4 minggu setelah sulaman pertama. Bahan yang digunakan sebagai sulaman adalah sumpingan. Sumpingan merupakan tanaman yang dilebihkan dipinggir juringan. Pupuk yang digunakan dalam budidaya tebu adalah ZA, Phonska dan Madros. Pupuk Za biasa diberikan setelah dilakukan pembunbunan dengan cara memasukkan pupuk ke tanah dan ditutup. Dosis Za 8 Kw/Ha, Phonska 5 Kw/Ha dan Madros 19 Kw/Ha. Pupuk Za dipalikasikan 2 kali yakni sebagai pupuk awal dan pupuk susulan dengan dosis 4 Kw/ ha tiap pemupukan. Sedangkan phonska dan madros diaplikasikan 1 kali. Madros diberikan sebagai pupuk awal dengan dosis 4 Kw/ ha sedangkan phonska 5 Kw/Ha. Sistem pemupkan dapat dilakukan dengan disebar maupun ditutup tanah tergantung dari luasan lahan, jenis tanaman dan jenis pupuk. Pembumbunan bertujuan untuk menutup tanaman dan menguatkan batang sehingga pertumbuhan anakan dan pertumbuhan batang lebih kokoh. Di lahan sawah pembumbunan dilakukan tiga kali selama umur tanaman. Pelaksanaan pembumbunan dilakukan secara manual atau dengan semi mekanis. Di lahan kering pembumbunan sekaligus dilakukan dengan penggemburan yang merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengendalikan gulma, menggemburkan dan meratakan tanah, dan membantu aerasi pada daerah perakaran. Pembunbunan dilakukan 3 kali yakni bumbun 1 (setelah pupuk pertama), bumbun 2 (stelah pemupukan kedua), bumbun 3 (3 bulan setelah klentek). Pengairan tanaman tebu dilakukan dnegna cara mngalirkan air dari sungai menuju lahan atau arela pertyanamna tebu dengan menggunakan mesin diesel. Penyiraman ini tergantung dari umur tanaman. Setelah tanaman berumur 200 hari penyiraman dilakukan 1 bulan sekali dengan demikian kebutuhan air semakin dikurangi jika umur tanaman mulai dewasa. Dengan rincian sebagai berikut: Menjelang tanam Setelah tanam S/d umur 2 minggu : 2 hari sekali : 2 hari sekali : 2 hari sekali

Umur 2 - 4 minggu Umur 4 - 6 minggu Umur 6 - 16 minggu

: 2 kali seminggu : 1 kali seminggu : 1 bulan sekali

Penyiangan merupakan suatu kegiatan untuk menghilangkan gulma dari lahan tanaman tebu. Penyiangan dilakukan 4 kali mulai dari 3 minggu setelah tanam sampai tanaman umur 4 bulan. Klentek adalah suatu kegiatan membuang daun tua pada tanaman tebu yang dilakukan secara manual. Tujuan klentek adalah untuk merangsang pertumbuhan batang, memperkeras kulit batang, mencegah tebu roboh, dan mencegah kebakaran. Kegiatan ini umum dilakukan pada sistem reynoso di Jawa. Untuk tebu lahan kering tidak dilakukan klentek. Untuk itu dalam salah satu seleksi varietas dicari yang daun keringnya lepas jika terkena angin. Klentek dilakukan 3 kali dengan rincian sebagai berikut:
1. Klentek I 2. Klentek II : Umur 4-5 bulan (sebelum gulud akhir) : Umur tebu 7 bulan ;

3. Klentek III : Umur tebu 11 bulan (1-2 bulan sebelum tebang)

Pengendalian hama dan penyakit tanaman berkembang sangat cepat pada beberapa dekade terakhir. Disamping penggunaan pestisida, beberapa metode telah digunakan seperti penanaman varietas tahan, kultur teknis, dan pemanfaatan musuh alami hama. Konsep konvensional pengendalian Hama dengan pestisida telah diganti dengan konsep Pengendalian Hama Terpadu(PHT) yang lebih luas, yang didefinisikan sebagai strategi untuk menerapkan beberapa cara pengendalian yang sesuai, untuk mengendalikan populasi hama di bawah ambang merugikan. Pada umunya hama yang menyerang tanaman tebu cukup banyak namun yang akan dibahas disini hanya uret dan chilo Supressalis. Gejala serangan dan deskripsi Uret yaitu daun menguning di musim kemarau, tanaman mudah roboh karena akar habis dimakan uret, kadang uret menggerek bagian bawah batang di dalam tanah, larva/uret instar akhir 6-8 cm dan hidup di dalam tanah, punggung kumbang bersisik kecil coklat abu-abu, bagian belakang

elytra berbintik-bintik putih, kumbang hidup bebas, bergerombol di pohon di pinggir kebun, serangan berat (>4 ekor/rumpun) menurunkan hingga 50% bobot tebu dan 30% rendemen. Untuk pengendalian uret dilakukan dengan kultur teknis/mekanis yaitu dengan cara memanipulasi waktu tanam dan tebang. Pengolahan tanah secara intensif yang diikuti pekerja untuk mengambil larva secara manual, pengumpulan serangga dewasa saat musim penebangan di awal musim hujan dan pergiliran tanaman. PG Madukismo hanya menerapkan pengendalian kultur teknis, mekanis dan hayati, tidak menggunakan pengendalian kimiawi sehingga tanaman tidak rusak dan rendemen gula tidak menurun dan tanah lebih terjaga karena tidak adanya pencemaran bahan-bahan kimia yang berbahaya. pengendalian hayati hama uret yaitu burung jalak, kadal (Ameiva exsul) , tabuhan penggali (Campsomeris sp.) dapat memparasit uret didalam tanah dan jamur Metarhizium anisopliae. Pengendalian hama penggerek batang yaitu dengan cara hayati dapat menggunakan beberapa parasitoid untuk mengendalikan hama penggerek telah dapat dikembangbiakan dan dilepas ke lapangan seperti Cotesia flavipes, Trichogramma chilonis, T. Japonicum, T. Nanum, T. Minutum, Elasmus zehntneri, Diatraeophaga striatalis (lalat jatiroto), dan lain-lain, menggunakan varietas tahan yaitu beberapa varietas P3GI cukup tahan/toleran terhadap penggerek diantaranya PSJT 941, PS 851, PS 891, PS 921, dan PSBM 88-144 dan lain-lain. Dengan menggunakan pengendalian hayati dan penggunaan varietas tahan, dapat menyelamatkan kehidupan ekosistem karena tidak menyebabkan pencemaran seperti pestisida. RENDEMEN TEBU Proses kemasakan tebu merupakan proses yang berjalan dari ruas ke ruas yang tingkat kemasakannya tergantung pada ruas yang yang bersangkutan. Tebu yang sudah mencapai umur masak, keadaan kadar gula di sepanjang batang seragam, kecuali beberapa ruas di bagian pucuk dan pangkal batang. Diusahakan agar tebu ditebang saat rendemen pada posisi optimal yaitu sekitar bulan Agustus atau

tergantung jenis tebu. Tebu yang berumur 10 bulan akan mengandung saccharose 10 %, sedang yang berumur 12 bulan bisa mencapai 13 %. TEBU KEPRASAN Yaitu menumbuhkan kembali bekas tebu yang telah ditebang, baik bekas tebu giling atau tebu bibitan (KBD). Kebun yang akan dikepras harus dibersihkan dari kotoran bekas tebangan yang lalu. Sebelum mengepras , sebaiknya tanah yang terlalu kering di airi dulu. Kepras petak - petak tebu secara berurutan. Setelah dikepras disiramkan SUPER NASA. Lima hari atau seminggu setelah dikepras, tanaman diairi dan dilakukan penggarapan (jugaran) sebagai bumbun ke-1 dan pembersihan rumput - rumput. Lakukan penyemprotan POC NASA dan HORMONIK pada umur 1,2 dan 3 bulan dengan dosis seperti di atas.Pemeliharaan selanjutnya sama dengan tanam tebu pertama.

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Kesimpulan yang di dapat dari kunjungan lapang di PG. Madukismo jogjakarta adalah: 1. Budidaya tebu merupakan suatu kegiatan dalam usaha tebu mulai dari persiapan lahan, persiapan bahan tanam, penanaman dan pemeliharaan. 2. Penggarapan tanah untuk tanaman tebu dilakukan dengan sistem Reynoso, yaitu membuat got-got (Got giling, Got Mujur, Got malang, Jolangan/juringan ) untuk memperlancar draenase. 3. PG Madukismo menggunakan bibit tebu yang diperbanyak menggunakan polybag dengan satu mata tunas (single bud planting). Metode ini diadopsi oleh PG madukismo dari Filipina. Ini di karenakan bibit yang berasal dari Singel bud planting memiliki pertumbuhan yang lebih cepat daripada bibit yang biasa dipakai. 4. Saat di serang hama seperti uret, PG Madukismo hanya menerapkan pengendalian kultur teknis, mekanis dan hayati, tidak menggunakan pengendalian kimiawi sehingga tanaman tidak rusak dan rendemen gula tidak menurun dan tanah lebih terjaga karena tidak adanya pencemaran bahanbahan kimia yang berbahaya. 5. Pupuk yang digunakan dalam budidaya tebu adalah ZA, Phonska dan Madros. 5.2 Saran Di harapkan para mahasiswa

DAFTAR PUSTAKA Ariani, M. Andi A dan Juni H. 2008. Analisis Daya Saing Usahatani Tebu Di Propinsi Jawa Timur. Jurnal Usaha Tani Vol. 14 No. 1: 1-19. Pusat Penelitian
dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.

Farid, M.B., dkk. 2006. Variasi Somaklonal Tebu Tahan Salinitas Melalui Mutagenesis In Vitro. Jurnal Agrivigor 5 (3) : 247 258. Hanum, C. 2008. Teknik Budidaya Tanaman 3. Departemen Pendidikan Nasional: Jakarta. Kabata-Pendias, A. dan H. Pendias. 1992. Trace element in soil and plants . CRC Press. Boca Raton Ann Arbor, London. Mulyono, D. 2009. Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Arahan Pemupukan N, P, dan K dalam Budidaya Tebu Untuk Pengembangan Daerah Kabupaten Tulungagung. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia 11 (1) : 47 53. Mahendra, B dan Purwono. 2009. Pengelolaan Tanaman Tebu (Saccharum Officinarum L.) Di Pg. Krebet Baru, Pt. Rajawali I, Malang, Jawa Timur (Dengan Aspek Khusus Pegelolaan Kebun Bibit Datar). Jurnal Departemen Agronomi dan Hortilkultura November 2009:1-5. Susila, W. R. 2005. Budidaya Tebu Populasi Tinggi (Hight Density Planting) untuk Meningkatkan Produktivitas. Disertasi S3, Institut Pertanian Bogor.

Soejono A.T. 2004. Kajian Jarak Antar Baris Tebu Dan Jenis Tanaman Palawija Dalam Pertanaman TumpangSari. Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta. Ilmu Pertanian Vol. 11 No. 1; 32 41. Wasino. 2008. Kapitalisme Bumiputra: Perubahan Masyarakat Mangkunegaran. Penerbit LkiS: Yogyakarta. Wijayanti, W A. 2008. Pengelolaan Tanaman Tebu (Saccharum Officinarum L.) Di, Pabrik Gula Tjoekir Ptpn X, Jombang, Jawa Timur; Studi Kasus Pengaruh Bongkar Ratoon Terhadap Peningkatan Produktivitas Tebu. Jurnal Agronomi dan Hortikultura Volume 4 Nomor 5 (2008): 25-29.