Anda di halaman 1dari 20

IMPLEMENTASI MANAJEMEN BANDWIDTH DENGAN MENGGUNAKAN MikroTik RouterOS

Tesis

untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana S-2

Program Studi Ilmu Komputer

mencapai derajat Sarjana S-2 Program Studi Ilmu Komputer diajukan oleh ANWAR 23617/I-4/1914/05 Kepada PROGRAM

diajukan oleh ANWAR

23617/I-4/1914/05

Kepada PROGRAM PASCASARJANA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA

2009

i

ii

ii

iii

iii

Kupersembahkan karya kecil ini untuk:

Ayahanda (Almarhum), Ibunda, Kakak dan Abangku Atas segala kasih sayang, cinta, perhatian dan do’a yang tak pernah berakhir

iv

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan

rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis

ini dengan judul : Implementasi Manajemen Bandwidth dengan Menggunakan

MikroTik RouterOS.

Tesis ini disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat

kesarjanaan Strata-2 pada Program Studi Ilmu Komputer, Program Pascasarjana

Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada. Penulis

menyadari sepenuhnya, bahwa tesis ini selesai karena adanya dukungan dan bantuan

dari

berbagai

pihak.

Untuk

itu

pada

kesempatan

ini,

penulis

menyampaikan

penghargaan dan ucapan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada:

1. Bapak Drs. Jazi Eko Istiyanto, M.Sc, Ph.D, selaku Dosen Pembimbing Utama

dan Bapak Drs. Retantyo

Wardoyo, M.Sc., Ph.D, selaku Ketua Pengelola

Program Magister Ilmu Komputer Universitas Gadjah Mada,

dengan segala

perhatian dan kesabaran telah memberikan bimbingan baik selama mengikuti

pendidikan maupun dalam penyelesaian tesis ini.

2. Bapak Drs. Retantyo Wardoyo, M.Sc., Ph.D, Bapak Drs. Agus Harjoko, M.Sc.,

Ph.D dan Bapak Dr. Ahmad Ashari, M.Kom, selaku dosen penguji atas segala

kritik dan sarannya.

3. Seluruh Dosen Pengajar Pascasarjana Program Studi Ilmu Komputer yang telah

memberikan bekal ilmu pengetahuan selama penulis mengikuti pendidikan.

4. Ayahanda (Almarhum) dan Ibunda tercinta, keluarga tercinta (Bang Fudin, Kak

Faridah, Bang Muhammad, Kak Hariza, Nyanyak, Dek Isan, Dek Bal dan Dek

Zhafif), atas doa restu dan motivasinya yang telah diberikan selama ini.

v

5. Direktur

Politeknik

Negeri

Lhokseumawe,

yang

selama

ini

telah

banyak

memberikan dukungan baik moril maupun materil kepada penulis.

 

6. Teman

-

teman

Staff

UPT

Komputer

dan

Multimedia

Politeknik

Negeri

Lhokseumawe (Pak Nanang, Pak Mahdi, Pak Anwar ST, Faisal dan Arman) yang

telah banyak membantu penulis selama penelitian.

7. Mas Sugeng Raharjo, Mbak Rini, Mas Hendro dan Mas Kuncoro

yang selalu

memberikan informasi dan pelayanan kepada penulis dengan tulus dan tak kenal

lelah terima kasih.

8. Bapak Zakarias Situmorang, MT dan keluarga, Bapak Ir. Ramli Usman, Bapak

Ir. Darmein, Bapak Ir. Ridwan dan Bapak Bahktiar, ST yang telah banyak

memberikan dukungan selama ini maupun dalam penyelesaian tesis ini.

9. Andre, teman seperjuangan yang telah banyak membantu penulis dalam dalam

penyelesaian tesis ini, akhirnya kita “lega” ya :).

10. Rekan-rekan seperjuangan pada program studi Ilmu Komputer: Ade, Dian, Pak

Guru, Hamidi, Mbak Inneke, Adi, Iwan, Pak Ganda, Yudi, Pak Edi, Nita, Dani,

Angel, Mbak Cyane, Mas Aji dan rekan-rekan lain yang tidak dapat disebutkan

satu persatu, yang telah banyak membantu selama perkuliahan maupun dalam

penyelesaian tesis ini.

11. Rekan – rekan di base camp Smart Net dan seluruh pihak-pihak yang tak dapat

penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak memberikan bantuan selama ini.

Semoga untuk suatu waktu dan kesempatan, tesis ini dapat menjadi kebaikan

bagi siapapun.

Yogyakarta, 17 Maret 2009

vi

Penulis.

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL

i

HALAMAN PENGESAHAN

ii

HALAMAN PERNYATAAN

iii

HALAMAN PERSEMBAHAN

iv

KATA PENGANTAR

v

DAFTAR ISI

vii

DAFTAR GAMBAR

ix

DAFTAR LAMPIRAN

xi

INTISARI

xii

ABSTRACT

xiii

BAB I

PENDAHULUAN

1

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Perumusan Masalah

2

1.3 Batasan Masalah

3

1.4 Keaslian Penelitian

4

1.5 Manfaat Penelitian

4

1.6 Tujuan Penelitian

4

1.7 Metode Penelitian

5

1.8 Tinjauan Pustaka

6

1.9 Sistematika Penulisan

9

BAB II

DASAR TEORI

11

2.1 Bandwidth

11

 

2.1.1

Manajemen Bandwidth

11

2.2 Konsep Antrian

12

2.3 Quality of Service

13

2.4 Bandwidth Control dengan MikroTik RouterOS

14

 

2.4.1 Gambaran umum

14

2.4.2 Jenis-jenis Queue

23

2.4.3 Interface Default Queue

29

2.4.4 Simple Queue

30

2.4.5 Queue Tree

32

BAB III PERANCANGAN SISTEM

34

3.1 Analisa Sistem

34

3.2 Perancangan Sistem MikroTik RouterOS

36

3.3 Perangkat Keras Sistem

37

3.4 Rancangan Percobaan

39

3.5 Sistem Perangkat Lunak

40

3.6 Konfigurasi MikroTik RouterOS

43

 

3.6.1

Konfigurasi Router/gateway Staff

44

vii

3.6.2

Konfigurasi Router/Gateway Mahasiswa dan Kantor

52

 

3.7 Rancangan Sistem Secara Terinci

53

3.8 Implementasi Bandwidth Control dalam MikroTik RouterOS

56

3.8.1

Manajemen Bandwidth Simple Queue

56

 

3.8.1.1 Skenario Implementasi Bandwidth Control berdasarkan IP Address

57

3.8.1.2 Skenario Implementasi Bandwidth Control berdasarkan Scheduler

59

3.8.1.3 Skenario Implementasi Bandwidth Control berdasarkan Parameter “tidak meminjamkan bandwidth idle

61

3.8.1.4 Skenario Implementasi Bandwidth Control berdasarkan Parameter “mengutamakan client yang browsing”

62

 

3.8.2

Implementasi Bandwidth Control Queue Tree

63

3.9 Graphing

65

BAB IV IMPLEMENTASI DAN HASIL

67

 

4.1 Login Hotspot

67

4.2 Hasil Implementasi Bandwidth Control dalam MikroTik RouterOS

72

4.2.1

Analisa Implementasi Bandwidth Control Simple Queue

72

 

4.2.1.1 Analisa Skenario Implementasi Bandwidth Control berdasarkan IP Address

72

4.2.1.2 Analisa Skenario Implementasi Bandwidth Control berdasarkan Scheduler

81

4.2.1.3 Analisa Skenario Implementasi Bandwidth Control berdasarkan Parameter “tidak meminjamkan bandwidth idle

92

4.2.1.4 Analisa Skenario Implementasi Bandwidth

Control berdasarkan Parameter “mengutamakan client yang browsing”

95

 

4.2.2

Analisa Implementasi Bandwidth Control Queue Tree

98

BAB V

PENUTUP

104

5.1 Kesimpulan

104

5.2 Saran

107

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

 

108

viii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1

HTB (Hierarchical Token Bucket)

19

Gambar 2.2

Cara kerja Prioritas

22

Gambar 2.3 FIFO queue

24

Gambar 2.4 SFQ (Stochastic Fairness Queuing)

25

Gambar 2.5

Contoh cara kerja PCQ (Per Connection Queuing)

26

Gambar 2.6 RED (Random Early Detection)

27

Gambar 3.1

Topologi MikroTik sebagai gateway

39

Gambar 3.2 Skema lengkap perangkat keras dan perangkat lunak

 

dalam sistem bandwidth control simple queue dan sistem monitoring

42

Gambar 3.3 Skema lengkap perangkat keras dan perangkat lunak dalam sistem bandwidth control queue tree dan sistem monitoring

43

Gambar 3.4

Hotspot users Server Staff

52

Gambar 3.5 Diagram bandwidth control simple queue Server Staff, Server Mahasiswa dan Server Kantor

53

Gambar 3.6 Diagram bandwidth control queue tree Server Staff

55

Gambar 4.1 Tampilan user pada Server Staff

68

Gambar 4.2

Tampilan log status login user pada Server Staff

69

Gamabr 4.3

Lgin page user staff

71

Gambar 4.4 Status login page user staff

72

Gambar 4.5 Monitoring simple queue statistics pada pemakaian bandwidth sendiri oleh user darmein2

74

Gambar 4.6 Monitoring simple queue statistics pada pemakaian bandwidth sendiri oleh user bahktiar te

74

Gambar 4.7 Monitoring simple queue statistics pada pemakaian bandwidth bersama user darmein2

75

Gambar 4.8 Monitoring simple queue statistics pada pemakaian bandwidth bersama user bahktiar te

75

Gambar 4.9 Monitoring simple queue total statistics pada pemakaian bandwidth bersama (parent) oleh user darmein2 dan bahktiar te

76

Gambar 4.10 Grafik traffic user darmein2

77

Gambar 4.11 Grafik traffic user bahktiar te

77

Gambar 4.12 Proses scheduler perubahan bandwidth pagi hari pada Server Mahasiswa

83

Gambar 4.13 Proses scheduler perubahan bandwidth siang/malam hari pada Server Mahasiswa

84

Gambar 4.14 Monitoring simple queue statistics pemakaian bandwidth pagi hari pada Server Mahasiswa

85

Gambar 4.15 Monitoring simple queue statistics pemakaian bandwidth siang/malam hari pada Server Mahasiswa

86

ix

Gambar 4.16 Grafik traffic pemakaian bandwidth pagi hari pada Server Mahasiswa

bersama user deone2

87

Gambar 4.17 Grafik traffic pemakaian bandwidth siang/malam hari pada Server Mahasiswa

87

Gambar 4.18 Monitoring simple queue statistics pemakaian bandwidth sendiri oleh user darmein2 dengan tidak meminjamkan bandwidth idle

93

Gambar 4.19 Monitoring simple queue statistics pemakaian bandwidth sendiri oleh user bahktiar te dengan tidak meminjamkan bandwidth idle

93

Gambar 4.20 Monitoring simple queue statistics pemakaian bandwidth saat trafik maksimal oleh user deone1 penerapan mengutamakan browsing

96

Gambar 4.21 Monitoring simple queue statistics pemakaian bandwidth saat trafik menurun oleh user deone1 penerapan mengutamakan browsing

96

Gambar 4.22 Monitoring bandwidth meter pada pemakaian bandwidth sendiri oleh user deone1

99

Gambar 4.23 Monitoring bandwidth meter pada pemakaian bandwidth bersama user deone1

100

Gambar 4.24 Monitoring bandwidth meter pada pemakaian bandwidth

100

Gambar 4.25 Grafik traffic interface public Server Staff pada penerapan queue tree

101

Gambar 6.1

Booting dari CD MikroTik

110

Gambar 6.2

Paket yang disediakan MikroTik

110

Gambar 6.3

Konfirmasi untuk menyimpan konfigurasi lama

111

Gambar 6.4

Konfirmasi untuk melanjutkan instalasi

111

Gambar 6.5

Proses Instalasi MikroTik

112

Gambar 6.6 Pesan untuk check system disk

112

Gambar 6.7

Welcome screen MikroTik

113

Gambar 6.8 Hotspot user Server Mahasiswa

119

Gambar 6.9

Hotsopt user Server Kantor

120

Gambar 6.10 Arsitektur jaringan wireless untuk Server Staff

122

Gambar 6.11 Arsitektur jaringan wireless untuk Server Mahasiswa

123

x

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1

Proses Instalasi MikroTik RouterOS

110

Lampiran 2

Konfigurasi lengkap Router/gateway Mahasiswa dan Kantor.

114

Lampiran 3

Konfigurasi Radius Server

121

Lampiran 4

Arsitektur Jaringan Wireless untuk Server Staff

122

Lampiran 5

Arsitektur Jaringan Wireless untuk Server Mahasiswa

123

Lampiran 6

Contoh Script Bandwidth Control Simple Queue dan

Penjelasannya

124

xi

IMPLEMENTASI MANAJEMEN BANDWIDTH DENGAN MENGGUNAKAN MikroTik RouterOS

INTISARI

Manajemen bandwidth diperlukan untuk menjamin para pengguna jaringan mendapatkan bandwidth yang adil dan memuaskan, menjaga lalu lintas data dalam jaringan agar tidak terjadi kemacetan akibat dari permintaan akses yang overload. Salah satu sistem operasi yang dapat digunakan untuk manajemen bandwidth adalah MikroTik RouterOS. Dengan MikroTik RouterOS dapat diterapkan berbagai teknik manajemen bandwidth. Dua diantara beberapa teknik manajemen bandwidth yang ditawarkan adalah bandwidth control jenis simple queue dan queue tree. Penelitian ini dilakukan dengan cara menerapkan bandwidth control simple queue dan queue tree pada router/gateway internet, kemudian mengatur aktifitas client/user dalam menggunakan bandwidth dan memberikan informasi bagaimana kualitas koneksi jaringan dengan menganalisa tingkat QoS (Quality of Service). Dari hasil peneletian dapat disimpulkan bahwa simple queue dapat menjamin bahwa client/user akan mendapatkan bandwidth minimum yang telah disediakan walaupun pada saat sumber daya bandwidth dalam jaringan sedang tinggi trafik pemakaiannya. Dan apabila bandwidth yang telah disediakan untuk client/user tertentu tersebut tidak digunakan (bandwidth idle), maka bandwidth idle tersebut dapat digunakan oleh client/user lainnya. Simple queue dengan sistem scheduler juga sangat cocok diterapkan pada jaringan yang menerapkan kebijakan pemakaian internet dengan sistem pambagian bandwidth yang berbeda pada waktu tertentu, dengan sistem scheduler jika ada bandwidth yang tidak terpakai pada waktu tertentu, maka bandwidth tersebut dapat dialokasikan untuk client/user yang membutuhkan sehingga dengan demikian bandwidth lebih optimal pemanfaatannya. Dan juga simple queue dengan penerapan parameter khusus (burst-limit, burst-threshold dan burst-time) dapat diterapkan pada jaringan yang mempunyai kebijakan lebih mengutamakan client/user yang melakukan browsing dibandingkan dengan download, sehingga seringkali jika client/user yang melakukan browsing akan memperoleh bandwidth burstable. Sedangkan queue tree dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa jika hanya satu user yang sedang online maka bandwidth dapat digunakan seluruhnya oleh user tersebut, jika ada dua user yang sedang aktif menggunakan internet maka secara otomatis bandwidth akan dibagi sama rata untuk masing-masing user tersebut, demikian berlaku seterusnya.

Kata kunci: bandwidth control, QoS (Quality of Service), simple queue, queue tree

xii

A BANDWIDTH MANAGEMENT IMPLEMENTATION USING THE MikroTik RouterOS

ABSTRACT

A bandwidth management is needed in ensuring that the network users can get the appropriate and satisfactory bandwidth, keep straight on the data traffic in the network so that there is no stagnation caused by the overloading access demands. One of the operational systems can be used to the bandwidth management is MikroTik RouterOS. Using MikroTik RouterOS, we can apply several bandwidth management technics. Two of the offered bandwidth management technics are the simple queue and the queue tree bandwidth controls. This study was conducted using the two technics on the internet router/gateway, and then it organized the client’s or user’s activities in using bandwidth and gave the informations on how good was the quality of the network connection by analyzing the level of QoS (Quality of Service). From the study’s results, it could be concluded that the simple queue could ensure that the clients/users will get at least the available bandwidth although its sources in the networks was still high the graphic of use. And if the available bandwidth for the specified client/user was not used (bandwidth idle), it could be used by other client/user. The simple queue and the scheduler system also fitted in with the network applying the internet use policies with the different dividing system of bandwidth in a particular period, with the scheduler system if there was unused bandwidth in a particular period, the bandwidth could be allocated for the appropriate client/user so that it could be used more optimally. And so it was with the simple queue and the application of the specific parameter (burs-limit, burst- threshold and burst-time), it could be applied in the network having policies of giving priorities to the clients/users who would to browse than download, so that it was oftenly happened that the clients/users doing browsing got the bandwidth burstable. Whereas from the queue tree of the study’s results, it could be concluded that if there was only a client/user being online, he could use the bandwidth at all, and if there were two clients/users being online, it would be divided the bandwidth automatically to be two with the same portion and so on.

Keywords: bandwidth control, QoS (Quality of Service), simple queue, queue tree

xiii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pemanfaatan teknologi internet sebagai media informasi dan komunikasi

data hingga saat ini semakin meningkat. Kebutuhan atas penggunaan bersama

resources

yang ada dalam jaringan internet telah mengakibatkan timbulnya

berbagai pengembangan teknologi jaringan internet itu sendiri. Pengembangan itu

sendiri

seiring

dengan

semakin

tingginya

tingkat

kebutuhan

dan

semakin

banyaknya pengguna internet yang menginginkan suatu bentuk jaringan yang

dapat memberikan hasil maksimal, baik dari segi efisiensi maupun peningkatan

keamanannya.

Dalam

menggunakan

jasa

internet

setiap

pengguna

menginginkan

kecepatan akses internet yang maksimal. Kecepatan akses internet tentunya akan

berhubungan dengan besarnya kapasitas bandwidth yang tersedia dalam suatu

jaringan.

Untuk

mendapatkan

kecepatan

akses

yang

maksimal

dan

dengan

resource bandwidth yang terbatas, maka bandwidth diperlukan pengaturan yang

baik untuk menjaga lalu lintas data dalam suatu jaringan komputer agar tidak

terjadi kemacetan sebagai akibat dari adanya permintaan akses yang overload

dalam jaringan. Berlandaskan pada keinginan-keinginan tersebut, maka upaya -

upaya

penyempurnaan

terus

dilakukan

oleh

berbagai

pihak.

Dengan

memanfaatkan berbagai teknik khususnya dalam manajemen bandwidth pada

1

router/gateway internet. MikroTik RouterOS merupakan salah satu solusi tepat

yang dapat digunakan untuk keperluan tersebut.

MikroTik

RouterOS,

merupakan

sistem

operasi

Linux

base

yang

diperuntukkan sebagai network router. Dengan sistem operasi ini, dapat dibangun

router

dari

komputer

rumahan

(PC).

MikroTik

RouterOS

pertama

sekali

dikembangkan oleh John Trully dan Arnis Riekstins pada tahun 1996 di Latvia.

Dengan misinya “Routing the World”, sistem operasi ini merupakan solusi murah

untuk membangun sebuah router. Dengan berbagai fitur network yang lengkap,

canggih dan user friendly dengan winbox yang dimilikinya, sehingga hal ini akan

memberikan kemudahan bagi penggunanya dalam pengelolaan jaringan secara

umum dan manajemen bandwidth khususnya. Sehingga pada akhirnya diharapkan

pengaturan bandwidth untuk pengguna internet dapat lebih baik dan lebih optimal

pemanfaatannya.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalahnya adalah

bagaimana membuat sebuah sistem manajemen bandwidth yang dapat

mengatur

pemakaian bandwidth secara proporsional sesuai dengan alokasinya menurut

kebutuhan pengguna (client) masing-masing sehingga koneksi akses internet

dapat selalu stabil walaupun terjadinya permintaan akses yang overload pada

pengguna (client) tertentu. Dan juga terwujudya sebuah sistem

yang dapat

memudahkan

pihak

administrator

dalam

mengelola

jaringan,

sehingga

 

2

permasalahan

dan

kebutuhan

para

pengguna

lebih

mudah

termonitor

dan

terkendali.

1.3 Batasan Masalah

 

Untuk

mengoptimalkan

pengaturan

bandwidth

pada

penelitian

ini

digunakan bandwidth control jenis simple queue dengan penerapan antrian PFIFO

(Packets First-In First-Out) dan sebagai metode pembanding juga diterapkan

bandwidth

control

jenis

queue

tree

dengan

penerapan

antrian

PCQ

(Per

Connection Queue), kedua jenis bandwidth control ini dijalankan pada PC

router/gateway dengan sistem operasi MikroTik RouterOS TM . Jenis simple queue

hanya digunakan untuk membatasi trafik uplink dan downlink suatu jaringan

misalnya mengatur browsing,

email

serta sumberdaya internet

lainnya,

dan

mengatur

perbedaan

besarnya

kapasitas

bandwidth

antara

pagi

hari

dan

siang/malam hari dengan sistem scheduler serta penerapan fungsi parameter

tertentu yang dimiliki oleh simple queue untuk mempercepat client/user yang

hanya melakukan browsing. Sedangkan untuk bandwidth control queue tree

penerapannya hanya dilihat pada sistem pembagian bandwidth dengan sistem

pembagian

sama

rata

setiap

client/user

yang

online,

atau

jika

hanya

satu

client/user

yang

online

maka

bandwidth

seluruhnya

dapat

digunakan

oleh

client/user tersebut. Untuk analisis hasil (monitoring trafik jaringan) dengan

menggunakan simple queue statistics dan tool graphing yang running pada

router/gateway MikroTik RouterOS dan juga dengan bantuan tool bandwidth

meter.

3

1.4

Keaslian Penelitian

Berdasarkan pengamatan penulis sampai saat ini belum ada penelitian

yang membahas “Implementasi Manajemen Bandwidth dengan Menggunakan

MikroTik RouterOS”, namun penerapan aplikasi manajemen bandwidth dengan

desain dan implementasi yang berbeda sudah pernah dilakukan.

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu solusi yang

dapat

diterapkan

untuk

manajemen

bandwidth

pada

ISP

(Internet

Service

Provider), internet kampus, kantor, warnet, kafe, hotel dan penyedia layanan

internet

pada

fasilitas-fasilitas

umum

lainnya.

Dan

secara

khusus

dapat

memberikan

manfaat

bagi

administrator

jaringan

sebagai

rujukan

dalam

manajemen bandwidth sehingga dapat lebih mudah mengontrol dan mangatur

bandwidth yang terbatas. Sehingga pada akhirnya kecepatan akses internet pada

suatu jaringan dapat lebih terkontrol dan optimal pemanfaatannya.

1.6 Tujuan Penelitian

Tujuan

penelitian

ini

adalah

untuk

menganalisa,

mendesain

dan

mengimplementasikan manajemen bandwidth dengan menggunakan MikroTik

RouterOS.

Mengatur

aktifitas

client

dalam

menggunakan

bandwidth

dan

memberikan informasi bagaimana kualitas koneksi jaringan dengan menganalisa

tingkat QoS (Quality of Service) jaringan yang ada, seperti throughput, rate dari

setiap client. Sehingga diharapkan diperoleh kesimpulan-kesimpulan yang dapat

4

dijadikan

rekomendasi

kelayakan

penerapan

manajemen

bandwidth

di

ISP,

internet kampus, kantor, warnet, kafe, hotel dan penyedia layanan internet pada

fasilitas-fasilitas umum lainnya.

1.7 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Studi Kepustakaan

Mempelajari literatur tentang teori dasar yang mendukung penelitian ini yaitu

tentang konfigurasi router/gateway internet dan manajemen bandwidth.

2. Analisis dan perancangan sistem

Pada tahap ini dilakukan analisa kebutuhan sistem yang akan dibuat dan

menjadi dasar untuk perancangan sistem, seperti besarnya kapasitas bandwidth

yang tersedia, jumlah user/client serta proporsi alokasi bandwidth untuk

masing-masing

digunakan.

3. Implementasi

user/client,

topologi

jaringan,

serta

sistem

operasi

yang

Pada tahap ini dilakukan pembuatan sistem manajemen bandwidth sesuai

dengan

analisis

dan

perancangan

sistem.

Pada

langkah-langkah yang dilakukan adalah:

Instalasi

dan

konfigurasi

router/gateway

digunakan adalah MikroTik RouterOS).

tahap

implementasi

ini

(sistem

operasi

yang

Konfigurasi sistem hotspot dan radius server.

Konfigurasi bandwidth control simple queue.

5

Konfigurasi bandwidth control queue tree.

Konfigurasi tool graphing.

4.

Pengujian

Pada tahap ini dilakukan pengujian sistem apakah berjalan sesuai dengan

tujuan penelitian, yaitu:

Pengaturan bandwidth untuk dua router/gateway dengan menggunakan

bandwidth control simple queue. Dan setelah selesai pengujian simple

queue, selanjutnya dipilih salah satu router untuk penerapan bandwidth

queue tree sebagai metode pembanding.

Menganalisa hasilnya yaitu menggunakan tool monitoring bandwidth

MikroTik RouterOS (simple queue statistics dan graphing) dan tool

optional pengukuran bandwidth yang ada di internet yaitu bandwidth

meter. Ada dua monitoring yang dilakukan disini yaitu:

- Memantau

total penggunaan bandwidth untuk masing-masing

router/gateway.

- Memantau aktifitas penggunaan bandwidth tiap-tiap client pada

masing-masing

router/gateway

tersebut

sesuai

dengan

rancangan

percobaan.

1.8 Tinjauan Pustaka

Hero Wintolo (2003), dalam judul tesis Manajemen Bandwidth untuk

Meminimalkan Efek Leher Botol dalam Komputer Server Internet. Penelitian ini

menjelaskan:

Perbedaan kecepatan transfer data dalam jaringan internet lebih

rendah dari jaringan komputer jenis Local Area Network (LAN) sering mengalami

6

efek yang dikenal dengan nama efek leher botol (bottle neck). Efek leher botol

dalam komunikasi data adalah apabila ada banyak data yang ingin menggunakan

jalur

data

yang

terbatas

sehingga

menyebabkan

bertumpuknya

data

untuk

menggunakan jalur tersebut. Hal ini sering terjadi pada titik sambungan antara dua

jenis jaringan komputer yang mempunyai kecepatan berbeda. Besarnya kecepatan

aliran data dalam jaringan komputer jenis LAN yang mencapai ukuran Mega Bit

perdetik ternyata tidak seimbang dengan jaringan komputer jenis internet. Jika

kedua jenis jaringan ini disatukan maka akan terjadi efek leher botol pada titik

persambungan yaitu pada komputer internet server. Salah satu cara mengatasi

terjadinya bottle neck ini, yaitu dengan mengatur bandwidth yang tersedia dengan

melakukan pembatasan jumlah maksimum sumber daya internet yang sedang

diakses dari komputer client yang terhubung ke internet server. Implementasi

manajemen bandwidth ini dengan dibuatnya suatu perangkat lunak yang dapat

mendeteksi penggunaan client dalam mengakses sumber daya internet sehingga

dapat

memonitor

dan

membatasi

akses

sumber

daya

internet

apabila

telah

melampaui ketentuan maksimum akses internet oleh client, sehingga dengan

bandwidth yang ada laju data dapat merata pada setiap client.

Abas

Ali

Pangera

(2004),

dalam

judul

tesis

Perbandingan

HTB

(Hirarchical Token Bucket) dan CBQ (Class Based Queuing) untuk Mengatur

Bandwidth

menggunakan

Linux

.

Penelitian

ini

menjelaskan:

perbandingan

implementator

bandwidth

yaitu

CBQ

(Class

Based

Queuing)

dan

HTB

(Hirarchical

Token

Bucket)

dengan

menggunakan

Iperf

sebagai

generator

bandwidth. Pada setiap client, iperf dipasang untuk mengukur rate dan delay

7