Anda di halaman 1dari 64

INDUKSI AUXIN TERHADAP AKTIVITAS AUTOTROFIK BIBIT ANGGREK BOTOL PADA LINGKUNGAN EX-VITRO

I Gede Ketut Adiputra Program Studi Biologi, FMIPA, Universitas Hindu Indonesia, Jl. Sangalangit, Tembau, Penatih, Denpasar.
ABSTRAK Auxin adalah zat pengatur tumbuh yang ditemukan pertama kali dan memegang peran kunci dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Dalam kultur jaringan, pemberian senyawa ini telah diketahui dapat meningkatkan perkembangan eksplant menjadi tanaman baru yang utuh. Auxin ditambahkan secara eksogen kedalam media yang mengandung sukrosa, mikro dan makro nutrien, vitamin dan mioinositol. Bagi explant, senyawa organik digunakan sebagai substrat untuk biosintesis molekul pertumbuhan. Akan tetapi, pada tanaman yang utuh, senyawa organik tersebut adalah produk dari aktivitas autotrofiknya. Oleh karena itu pertumbuhan explant menjadi callus dan akhirnya menjadi plantlet dapat dikatakan merupakan pertumbuhan heterotrofik, terutama pada fase awal morfogenesis. Dalam teknik kultur jaringan, sukrosa dan auxin tetap diberikan selama tanaman berada dalam botol kultur sehingga aktivitas heterotrofik dapat tetap berlangsung sampai tanaman ditransplantasi ke lingkungan ex-vitro. Kegiatan heterotrofik berkepanjangan tersebut dapat menjadi penyebab rendahnya aktivitas autotrofik plantlet setelah transplantasi ke lingkungan ex-vitro. Untuk mengembalikan pertumbuhan autotrofik, beberapa perlakuan perlu diberikan agar tanaman cukup kuat menghadapi lingkungan baru ex-vitro. Paper ini membahas beberapa perlakuan terutama kemungkinan perlunya pemberian auxin setelah plantlet dipindahkan ke lingkungan baru ex-vitro. Kata kunci: Auxin, autotrofik, anggrek, ex-vitro. ABSTRACTS Auxin is firstly invented growth regulator and plays a central role during plant growth and development. Addition of this growth regulator in cell and tissues culture has been known to enhance cell development. In this culture, the auxin is added exogenously into media containing sucrose, micro and macro nutrient, vitamin and myo-inositol. For the growth of explants, organic compounds added into the growth medium are used as nutrient. So, it is synthesized to produce macromolecules required during morphogenesis. In theory, an autotrophic organism synthesizes organic compounds from inorganic nutrient taken up via the root or leaves system. So, development of explants into callus and eventually plantlet is therefore can be viewed as heterotrophic activity, since it takes up sucrose as nutrient for growth rather than inorganic. In tissues or cell culture, media continuously contain organic compound, even after plantlet has produced chlorophyll. This media enable the plantlet to maintain it heterotrophic activity. However after transplantation, the prolonged heterotrophic activity can make the plants to have a low autotrophic activity. So, in order to resume autotrophic activity and enhanced viability, some treatments are required. This paper discuss some of the treatments particularly the possibility of auxin addition after transplantation of plantlet into a new ex-vitro environment. Key word; Auxin, autotrophic, orchid, ex-vitro

77

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

PENDAHULUAN Tumbuhan yang bernilai ekonomi tinggi tetapi sulit berkembang biak secara alami biasanya dikembangkan dengan teknik kultur jaringan. Anggrek adalah salah satu jenis tanaman yang sulit berkembang biak secara alami tetapi memiliki nilai ekonomi tinggi. Pengembangan tanaman ini menjadi bibit melalui tehnik kultur jaringan telah banyak berhasil, tetapi menumbuhkan bibit botol pada lingkungan ex-vitro menjadi tanaman dewasa masih menemukan banyak permasalahan. Bibit yang dikembangkan dengan teknik kultur jaringan ini biasanya memiliki kemampuan autotrofik yang rendah (Daisy dan Wijayani, 1994). Rendahnya kemampuan autotrofik menyebabkan tanaman tidak memiliki bahan organik yang cukup untuk pertumbuhan karena laju sintesis senyawa ini dari senyawa anorganik sangat rendah. Disamping kelemahan autotrofik, kondisi khusus yang digunakan untuk mengembangkan bibit dengan teknik kultur jaringan ini dapat menghasilkan tanaman yang abnormal, baik morfologi, anatomi maupun fisiologi. Kondisikondisi khusus tersebut antara lain, penggunaan botol yang tertutup rapat, pemberian zat pengatur tumbuh dan pemberian karbohidrat (Mineo, 1990, Deasy dan Wijayani, 1994). Menurut Pospisilova (1999), tanaman yang tumbuh dalam botol yang tertutup rapat mengakibatkan daun tidak memiliki lapisan pelindung yang cukup tebal. Apabila tanaman ini kemudian dipindahkan ke lingkungan ex-vitro maka penguapan yang berlebih tidak dapat ditahan. Selanjutnya dikatakan bahwa pemberian hormon untuk menumbuhkan bibit secara invitro dapat menghasilkan tanaman yang abnormal. Tanaman ini akan mudah rusak pada lingkungan ex-vitro. Disamping pemberian hormon, pemberian karbohidrat pada bibit botol juga dapat menghasilkan tanaman yang mudah rusak karena serangan bakteri. Kelemahan-kelemahan tanaman yang dikembangkan dengan teknik kultur jaringan, seperti yang dikemukakan oleh Pospisilova tersebut, menunjukkan bahwa
78

penelitian lanjutan perlu dilakukan agar hasil pengembangan bibit secara invitro dapat ditumbuhkan menjadi tanaman dewasa yang produktif. Hal ini terutama karena regenerasi sebuah sel atau jaringan tanaman menjadi tanaman utuh yang baru hampir tidak mungkin dilakukan tanpa pemberian kondisi-kondisi khusus. Teknik kultur jaringan merupakan upaya melakukan transformasi sistem yang ada pada tanaman sehingga sel atau jaringan yang terisolasi dapat tumbuh menjadi tanaman yang utuh (http:/ /www.oup.com/uk/orc/bin/9780199282616/ ch02.pdf). Karena sel atau jaringan tersebut terisolasi maka segala kebutuhan untuk pertumbuhannya mesti disediakan dalam media, termasuk karbohidrat, hormon, asam amino dan unsur hara anorganik. Pada proses transformasi ini terjadi pengubahan sel vegetatif sedemikian rupa sehingga terbentuk sel baru yang dapat berkembang menjadi tanaman utuh. Perbanyakan tumbuhan ini meniru mekanisme pembentukan embrio dari tubuh induk tanaman. Pengubahan sebuah sel vegetatif menjadi kumpulan sel yang terorganisir sebagai individu baru memerlukan adanya zat pengatur tumbuh yang berfungsi untuk mengubah jalur morfogenesis pada tanaman. Misalnya, sel yang tidak lagi melakukan differensiasi dirangsang untuk melakukan differensiasi kembali dengan pemberian sitokinin atau auksin. Sitokinin berfungsi untuk merangsang sintesis DNA dan mempercepat pembelahan sel, sedangkan auksin diperlukan untuk merangsang pemanjangan sel (Mineo, 1990). Pemberian gula juga perlu dilakukan karena sel yang terisolasi dan ditempatkan dalam botol belum mampu mensintesa karbohidrat karena beberapa faktor seperti tidak adanya penyediaan CO2 ataupun perangkat fotosintesis. Kondisi-kondisi khusus yang harus disediakan ini mengakibatkan tanaman memiliki variasi morfologi, anatomi maupun fisiologi (Papisilova 1999). Paper ini membahas beberapa perlakuan invitro untuk menumbuhkan bibit tanaman dan perlunya

Induksi Auxin Terhadap Aktivitas Autotrofik Bibit Anggrek ....

I Gede Ketut Adiputra

pemberian perlakuan khusus pada lingkungan exvitro agar bibit tersebut dapat tumbuh menjadi tanaman yang produktif PEMBAHASAN Peran auxin dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman Auxin adalah hormon tumbuhan yang ditemukan pertama kali. Senyawa ini memegang peran kunci dalam pertumbuhan, perkembangan dan respon tumbuhan terhadap perubahan lingkungan (Tromas & Perrot-Rechenmann, 2010). Menurut Vieten at al. (2007), pada proses morfogenesis, auxin melakukan pengaturan baik pada fase embryogenesis, organogenesis, differensiasi jaringan pengangkutan, pemeliharaan meristem akar maupun pertumbuhan trofik. Selanjutnya dikatakan bahwa peran yang dimiliki oleh auxin ini dijalankan dengan cara memicu perubahan program pembangunan melalui pemberian informasi vektorial pada jaringan. Secara lebih rinci, mekanisme yang dilakukan oleh auxin untuk mengubah program pembangunan diuraikan oleh Robert & Friml (2009). Menurut peneliti ini, auxin diproduksi pada bagian pucuk tanaman yaitu pada daun muda dan kuncup bunga. Senyawa ini selanjutnya ditransportasikan ke akar atau bagian lain tanaman melalui beberapa jalur translokasi, terutama sistem pembuluh dan jalur transport interselluler. Pada sel tujuan, akumulasi auxin differential kemudian terjadi dan diterima serta diinterpretasi oleh inti yang mengatur ekspresi gen dan perencanaan kembali nasib sel (Robert & Friml, 2009). Kemampuan auksin untuk melakukan perubahan ekspresi gen mengakibatkan senyawa ini menjadi sangat penting dalam upaya mengaktifkan kembali sel yang telah menghentikan proses differensiasi. Dalam teknik kultur jaringan, sel tanaman yang dikembangkan menjadi tanaman baru umumnya telah menghentikan proses differensiasi. Pada kondisi media yang sesuai, sel eksplant berkembang melalui beberapa tahap. Pada tahap

awal, sel eksplant tumbuh menjadi sel kalus setelah diinduksi oleh hormon pertumbuhan terutama auxin (Siwach et al. 2011). Kumpulan sel ini kemudian berkembang menjadi plantlet setelah pembentukan plb (protocorm like body). Plb ini memiliki tingkat perkembangan seperti embrio, sehingga disebut juga embrio somatik (Rianawati et al. 2009). Berbeda dengan embrio pada biji yang terbentuk melalui fusi sel telur dan sperma dan dirancang untuk berkembang menjadi embrio, embrio somatik ini berkembang dari sel somatik yang memperoleh kompetensi untuk dapat merespon signal embriogenik dan memulai pembangunan embrio (Pasternak et al. 2002). Pada teknik kultur jaringan, pertumbuhan embrio somatik diinduksi dengan penambahan auxin sintetik NAA (Utami et al. 2007). Dengan pemberian zat pengatur tumbuh BAP (sitokinin) dan 2,4-D (auxin), plb ini kemudian dapat tumbuh menjadi plantlet (Rianawati et al. 2009). Morphogenesis dalam kultur jaringan ini disebut juga dengan proses 3 langkah (Komal, 2011). Walaupun individu baru yang terbentuk (plantlet) telah memiliki organ yang lengkap, tetapi tanaman kecil ini masih memiliki aktivitas autotropik yang rendah (Daisy & Ari Wijayani, 1994) dan jaringan pengangkutan lemah (Robinson et al. 2009). Kelemahan sistem yang terjadi pada tanaman ini merupakan akibat samping dari kondisi yang digunakan untuk menumbuhkan tanaman secara invitro. Kondisi khusus ini sesungguhnya tidak sesuai dengan sistem yang autotrof yang mengubah senyawa anorganik menjadi senyawa organik. Secara skematis, sumber nutrisi untuk pertumbuhan embrio pada biji dan pertumbuhan sel somatik pada kultur jaringan digambarkan pada Gambar 1. Pada gambar ini nampak bahwa pertumbuhan invitro menggunakan sumber organik yang tidak dibuat sendiri (exogenous), sedangkan tanaman yang dikembangkan dari biji menggunakan senyawa organik yang dibuat sendiri (endogenous) untuk pertumbuhan. Sumber nutrisi yang berbeda ini dapat berpengaruh pada jalur metabolisme yang bekerja melalui
79

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

mekanisme keseimbangan substrat dan produk. Apabila pemberian substrat terlalu banyak maka tanaman utuh yang dihasilkan akan memiliki variasi dari tanaman normal baik anatomi, morfologi maupun fisiologi. Oleh karena itu, bibit tanaman hasil kultur jaringan masih memerlukan penyempurnaan, terutama setelah transplantasi ke lingkungan ex-vitro. Jadi, sebelum tanaman dapat dibudidayakan dalam lingkungan alami exvitro, hasil kultur jaringan masih memerlukan perlakuan yang memungkinkan proses fisiologis berjalan normal dalam kondisi yang sangat berbeda dengan lingkungan invitro.

Fisiologi dan morfologi bibit hasil kultur jaringan Pada fase awal pertumbuhan ex-vitro, tanaman hasil kultur jaringan nampaknya masih bersifat heterotrofit, yaitu lebih menyukai senyawa organik exogenous dari pada memproduksi sendiri secara autotrof. Sifat heterotrofit ini dapat terjadi karena kondisi pertumbuhan yang ada ketika masih berada dalam lingkungan kultur jaringan. Mulai dari menabur eksplant sampai terbentuknya plantlet, media tanam selalu mengandung senyawa organik yang seharusnya diproduksi oleh tumbuhan itu sendiri secara autotrofik (Gambar 1).

80

Induksi Auxin Terhadap Aktivitas Autotrofik Bibit Anggrek ....

I Gede Ketut Adiputra

Senyawa organik tersebut antara lain; vitamin, hormon, mioinositol dan sukrosa (Daisy & Ari Wijayani 1994). Pemberian senyawa organik eksogenous ini kemungkinan ikut berperan sebagai sinyal untuk mengarahkan kegiatan morfogenesis dan mengakibatkan terjadinya penurunan kemampuan daerah meristematik untuk menumbuhkan jaringan yang berfungsi untuk mengimpor hasil fotosintesis dari perangkat fotosintesis seperti kloroplas. Penurunan pertumbuhan jaringan ini selanjutnya mempengaruhi aktivitas enzim yang terdapat dalam perangkat fotosintesis. Secara teori, apabila produk suatu enzim melebihi titik kesetimbangan, maka aktivitas enzim tersebut akan mengalami hambatan umpan-balik. Mekanisme hambatan inilah yang kemungkinan terjadi pada tanaman ketika masih berada di dalam botol kultur. Oleh karena itu, setelah ditransplantasi ke lingkungan yang alami di luar botol, bibit ini memiliki kemampuan yang sangat rendah untuk menghasilkan senyawa organik secara autotrof. Masalahnya adalah bagaimana menginduksi tanaman ini agar perangkat fotosintesis dan jaringan pengangkutan cukup banyak tersedia agar biosintesis autotrofik menjadi meningkat. Mengingat pengaturan pertumbuhan ditentukan oleh auxin, yang memiliki peran kunci dalam pertumbuhan dan perkembangan terutama akibat perubahan lingkungan (Tromas & PerrotRechenmann, 2010), maka perbaikan aktivitas autotrofik bibit anggrek botol ini nampaknya masih memerlukan auxin eksogenous untuk menyempurnakan pertumbuhan autotrofiknya. Namun demikian, pemberian auxin juga bukan tanpa masalah. Senyawa ini diperlukan dalam jumlah yang sangat rendah dan harus memiliki proporsi yang sesuai dengan senyawa lain agar pertumbuhan autotrofik dapat berlangsung (Albert at al. 1983). Perbanyakan tanaman anggrek Tanaman angrek dapat dikembangkan baik secara tradisional (ex-vitro) maupun secara

modern (in-vitro). Pengembangan bibit secara tradisional umumnya tidak menggunakan senyawa organik eksogenous sebagai sumber nutrisi. Sebaliknya, penyediaan nutrisi baik organik, anorganik bahkan hormon pertumbuhan sangat penting jika ingin memperbanyak tanaman menggunakan teknik modern kultur jaringan (Daisy & Wijayani, 1994; Rianawati et al. 2009). Untuk perbanyakan tanaman anggrek dengan teknik kultur jaringan, bahan tanaman dapat berupa biji atau berupa bagian vegetatif tanaman. Biji dan bagian vegetatif sebagai bahan tanaman yang dikembangkan dengan cara modern ini memiliki perbedaan jalur morfogenesis. Biji telah memiliki embrio sedangkan bagian vegetatif tanaman tidak memiliki embrio. Oleh karena itu, jika bahan tanaman diambil dari bagian sel somatik maka pekerjaan yang diperlukan adalah mulai dari menumbuhkan kalus, embrio somatik dan akhirnya menumbuhkan plantlet (Gambar 1). Walaupun dapat menghasilkan banyak tanaman baru, setiap sel dapat menjadi tanaman baru, tetapi persyaratan teknis yang harus dipenuhi sangat tinggi. Keberhasilan teknik modern ini tergantung tidak hanya dari alat dan bahan laboratorium, tetapi juga ketrampilan teknisi yang menangani. Biji adalah alat reproduksi, memiliki embrio yang dihasilkan dari fusi sel telur dan spema. Oleh karena sel gamet, telur dan sperma, ini berasal dari dua organisme yang berbeda, maka tanaman yang dihasilkan memiliki sifat yang merupakan gabungan dari sifat induknya. Pada teknik kultur jaringan dikatakan bahwa tanaman yang dihasilkan dari biji ini biasanya tidak seragam (Rianawati et al. 2009). Untuk mendapatkan tanaman yang seragam maka pemakaian sel somatik lebih disukai dari pada menggunakan biji. Akan tetapi, untuk dapat menjadi tanaman utuh, sel somatik harus melakukan perubahan program pembangunan dari sel vegetatif, kalus, embrio somatik, plantlet hingga menjadi tanaman dewasa (Gambar 1). Dari segi praktis di lapangan, perubahan program memerlukan penanganan yang jauh lebih rumit, memerlukan pemberian
81

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

auxin, senyawa organik, anorganik dan kondisi yang aseptik. Kemampuan awal yang harus dimiliki sel somatik ekplant untuk dapat tumbuh menjadi kalus adalah kemampuan menggunakan nutrient yang disediakan dalam media kultur. Untuk tujuan ini, sel somatik tersebut kemungkinan mengarahkan differensiasi untuk pengembangan jaringan yang berfungsi untuk menyerap sumber nutrisi organik eksogenous. Tanpa kemampuan ini, sel tidak dapat tumbuh karena sumber karbon hanya berasal dari lingkungan yaitu media kultur. Akan tetapi, setelah terbentuk kloroplas, yaitu pada fase plb (Utami et al. 2007, Rianawati et al. 2009), morfogenesis mungkin masih tetap diarahkan untuk pengembangan jaringan yang memiliki fungsi sama, disamping karena jumlah kloroplast masih sedikit, senyawa organik eksogenous masih tersedia dan tidak ada lapisan yang menutup import senyawa organik eksogenous. Hal ini berbeda dengan biji (dikotil) yang dikembangkan secara ex-vitro, embrio berkembang dalam 2 kutub secara berimbang. Senyawa organik yang tersedia secara endogenous disiapkan untuk dapat mengembangkan pertumbuhannya ke kedua kutub tersebut dan ketika persediaan ini habis, tanaman telah memiliki jaringan yang berfungsi untuk menyerap senyawa anorganik dan jaringan yang berfungsi untuk menyalurkan hasil fotosintesis. Sebaliknya, pada tanaman yang dikembangkan secara invitro, kutub pertumbuhan dapat sangat bervariasi (Rao dan Narayanaswami 2006). Menurut peneliti ini, potensi pertumbuhan bervariasi menurut nutrisi yang diberikan, dapat membentuk akar, daun, embrio bipolar dan plantlet. Pada tanaman yang dikembangkan dengan medium MR yang diberi BAP 0.4 mg/l dan 2.4-D 0.2mg/l, sel-sel dapat diinduksi untuk menumbuhkan kotiledon, primordia tunas dan akar (Rianawati et al. 2009). Induksi tunas juga terjadi pada tanaman yang dikembangkan dengan media NP ditambah 2 mg/ L NAA (Utami et al. 2007). Penelitian yang dilakukan pada anggrek terrestrial Bletia
82

purpurea menemukan bahwa perkecambahan biji tidak tergantung pada nutrient, tetapi perkembangan lanjutan hanya dapat terjadi pada media Vacint-Went (Dutra et al 2008). Variasi pertumbuhan tanaman invitro ini kemudian menyebabkan bibit botol memiliki variasi kesiapan jaringan pengangkutan. Hal ini tidak terjadi pada pengembangan bibit secara ex-vitro karena sumber nutrisi organik telah disiapkan pada kotiledon dan redistribusinya diatur secara terprogram dalam DNA. Program ini sangat spesifik menurut spesies dan calon jaringan yang berfungsi untuk menyalurkan nutrisi organik telah terbentuk bahkan ketika masih dalam biji. Secara teori, jika persediaan makanan cadangan telah habis, tanaman telah memiliki akar yang cukup untuk memperoleh nutrient anorganik. Sebaliknya, perkembangan jaringan pengangkutan pada tanaman yang dikembangkan dengan kultur jaringan, nampaknya jauh lebih lambat dan sangat tergantung pada komposisi nutrient dan posisi explant terhadap nutrient. Mekanisme adaptasi struktur dengan demikian sangat diperlukan oleh bibit tanaman invitro karena pembentukan daun dan akar tidak diimbangi oleh peningkatan jaringan pengangkutan sehingga pengambilan nutrient anorganik untuk disintesa menjadi senyawa organik endogenous menjadi sangat sulit. Kesulitan adaptasi juga dapat terjadi karena pemanfaatan nutrient organik eksogenous tetap berlangsung walaupun akar dan daun telah terbentuk (Gambar 2). Akibatnya adalah akar menjadi tidak memiliki sink strength yang cukup tinggi bagi produks fotosintesis yang dibuat didaun. Produk fotosintesis kemudian tidak dapat mengalami floem loading dan menjadi penghambat umpan-balik bagi enzim fotosintesis. Kesulitan lain adalah bahwa tanaman yang dikembangkan secara invitro biasanya memiliki daun yang lemah secara anatomi (Robinson et al. 2009). Menurut peneliti ini, daun dari tanaman yang dikembangkan secara invitro memiliki jaringan floem yang sangat sedikit. Besar kemungkinan bahwa lambatnya pertumbuhan

Induksi Auxin Terhadap Aktivitas Autotrofik Bibit Anggrek ....

I Gede Ketut Adiputra

jaringan floem ini disebabkan oleh lemahnya induksi jalur pertumbuhan jaringan floem dari daun karena sukrosa didapat sebagian besar dari nutrient secara eksogenous (Gambar 2). Lambatnya pengembangan jaringan floem ini dapat menjadi penyebab lemahnya aktivitas autotrofik pada bibit anggrek botol. Struktur floem yang sedikit tidak memungkinkan terjadinya pengangkutan yang banyak sehingga organ fotosintesis tidak memproduksi hasil fotosintesis dalam jumlah yang besar. Produk fotosintesis yang rendah tidak cukup kuat untuk membantu induksi pertumbuhan floem yang ekstensif. Walaupun faktor yang menjadi penyebab atau menjadi akibat tidak jelas, upaya perbaikan aktivitas autotropik tanaman invitro setelah berada pada lingkungan ex-vitro dapat diupayakan melalui peningkatan aktivitas enzim fotosintesis dan peningkatan pertumbuhan jaringan pengangkutan. Hubungan Kerja Auxin, Sukrosa dan Unsur Hara Mineral Pada Pertumbuhan Tanaman Tumbuhan utuh adalah organisme autotrof, bekerja sebagai pengubah senyawa anorganik menjadi senyawa organik. Berbeda dengan eksplant yang harus ditumbuhkan dengan pemberian berbagai senyawa organik, pertumbuhan tanaman utuh hanya memerlukan unsur hara anorganik. Pada tanaman utuh ini sumber energi berasal dari matahari, bukan dari nutrient yang diserap dari lingkungan. Unsur hara anorganik ini, akan diserap melalui akar dan

disintesa menjadi senyawa organik sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan. Masalah penting pada pemberian senyawa anorganik ini adalah bahwa akumulasi mineral pada jaringan dapat menyebabkan hambatan fisiologis dan pada tingkat tertentu dapat mengakibatkan keracunan. Sebaliknya, apabila unsur hara ini tidak tersedia dalam jumlah yang cukup maka senyawa organik yang dibutuhkan tidak dapat disintesa. Unsur hara mineral telah lama dikenal mampu mempengaruhi aktivitas autotrofik yaitu menyusun senyawa organik dari senyawa anorganik (Gardner, Pearce dan Mitchell 1991). Penelitian yang dilakukan pada beberapa tanaman (yang dikembangkan secara ex-vitro) menunjukkan bahwa unsur hara sangat menentukan laju fotosinthesis maupun pertumbuhan. Misalnya, defisiensi unsur hara fosfor pada tanaman menyebabkan terjadinya penurunan aktivitas fotosintesis (Sawada et al. 1982, Terry dan Ulrich 1973). Kekurangan unsur hara N mengakibatkan terjadinya penurunan assimilasi carbon (Gastal dan Lemaire 2002). Pada tanaman tomat, Kanai et al. (2007) menemukan bahwa pengurangan ketersediaan unsur hara pottasium menyebabkan aktivitas fotosintesis menurun. Sedangkan pada tanaman barley ditemukan bahwa kekurangan unsur hara sulfur menyebabkan laju pertumbuhan menurun (Adiputra dan Anderson 1995). Hasil penelitian tersebut jelas membuktikan bahwa unsur hara anorganik menentukan aktivitas autotrofik pada tanaman. Permasalahannya adalah apakah

83

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

tanaman utuh yang dikembangkan secara kultur jaringan dan memiliki variasi perkembangan jaringan pengangkutan, memberi respon yang sama terhadap unsur hara anorganik yang diberikan. Berbeda dengan tanaman yang dikembangkan secara ex-vitro, bibit tanaman yang dikembangkan secara invitro ditemukan memiliki jaringan floem yang sedikit (Robinson et al 2009) dan aktivitas autotrofik yang rendah (Daisy dan Wijayani 1994). Kedua kelemahan yaitu struktur dan fisiologi ini kemungkinan memiliki hubungan sebab-akibat. Pada kondisi invitro, translokasi produk fotosintesis dari daun tidak banyak terjadi karena sumber karbon tersedia secara eksogenous. Sedikitnya ekspor hasil fotosintesis dari daun ini mengakibatkan pertumbuhan jaringan pengangkutan dari daun ke bagian tanaman lainnya tidak perlu memiliki daya angkut yang tinggi. Akibatnya adalah hasil fotosintesis yang diproduksi di daun sulit didistribusikan dan dapat menjadi penghambat umpan-balik bagi enzim fotosintesis. Hambatan, yang berlangsung lama dan menjadi represor bagi gen yang mengkode penghasilan enzim fotosintesis, akan mengubah prilaku morfogenesis. Perubahan prilaku ini terutama terjadi pada sistem penyerapan unsur hara. Misalnya akar pada tanaman invitro yang seharusnya berfungsi untuk menyerap nutrient anorganik, tetapi karena tidak memperoleh penyediaan hasil fotosintesis dari daun maka akan mengubah morfogenesis untuk dapat berfungsi sebagai jaringan penyerap nutrient organik eksogenous. Sumber organik eksogenous ini kemudian disintesa menjadi molekul struktural dan fungsional pada tumbuhan tersebut dan digunakan untuk pertumbuhan. Sebaliknya, daun yang seharusnya menjadi sumber senyawa organik bagi pertumbuhan akar akan berubah fungsi menjadi tempat penyerapan unsur hara karena akar tidak menyediakan unsur hara ini untuk disintesa menjadi senyawa organik di dalam daun. Kemungkinan ini, walaupun kecil, dapat terjadi terutama karena pada media tersedia
84

sukrosa dan hormon auxin yang bekerja sama sebagai signal morfogenesis (Hammond and White 2008). Pada biji anggrek, pertumbuhan embrio menjadi tanaman dewasa tergantung dari sukrosa eksogenous, yang terdapat pada media, karena biji anggrek tidak memiliki sediaan makanan cadangan. Pada proses penumbuhan biji anggrek ini menjadi tanaman utuh, senyawa organik eksogenous menjadi sinyal untuk mengarahkan pertumbuhan jaringan transport. Pada prakteknya, posisi biji anggrek terhadap media dapat sangat bervariasi dan hampir tidak mungkin untuk mengatur bahwa calon akar harus berada didalam media dan calon daun berada diluar media. Oleh karena itu, baik calon akar maupun calon daun memiliki peluang yang sama untuk bersentuhan dengan media dan menyerap nutrient eksogenous yang diperlukan, baik organik maupun anorganik untuk pertumbuhan. Pada tingkat ini terjadi permasalahan yaitu bagian mana dari embrio yang menyerap unsur hara anorganik dan bagian mana yang menyerap senyawa organik. Hal ini sangat berbeda dengan biji tanaman yang memiliki bahan makanan cadangan. Sebelum embrio mengambil unsur hara dari luar, bahan makanan disalurkan dari tempat penyimpanan untuk pertumbuhan akar, daun maupun jaringan pengangkutan. Topografi dari saluran penyedia makanan cadangan ini terletak antara calon akar dan calon daun. Walaupun berada didalam media (persemaian) calon akar maupun calon daun tidak pernah bersentuhan dengan sukrosa atau auxin eksogenous yang dapat mengubah program pembangunan jaringan apakah akar maupun daun. Jadi pada biji yang memiliki persediaan makanan cadangan, program pembangunan jaringannya tidak pernah terganggu oleh auxin ataupun sukrosa eksogenous. Hal yang sebaliknya terjadi pada tanaman yang dikembangkan menggunakan teknik kultur jaringan. Sukrosa dan auxin eksogenous memang sengaja diberikan untuk mengubah program pembangunan agar terjadi proses redifferensiasi.

Induksi Auxin Terhadap Aktivitas Autotrofik Bibit Anggrek ....

I Gede Ketut Adiputra

Tanpa proses ini, sel somatik dari explant tidak akan pernah tumbuh menjadi tanaman baru yang utuh. Secara skematis, perbedaan sumber nutrisi yang digunakan untuk pertumbuhan embrio biji dan embrio somatik (plb) dapat dilihat pada gambar 3. Gambar 3. A. Pemberian auxin dan sukrosa eksogenous akan mengubah program pembangunan jaringan dari sel somatis ke individu baru. B. Embrio yang tumbuh hanya dari sediaan makanan cadangan tidak mengalami perubahan program pembangunan yang telah dirancang secara genetis melalui fusi sel telur dan sperma. Persoalannya adalah bagaimana sukrosa dan auxin eksogenous tersebut memberi signal agar akar dan daun yang terbentuk memiliki jaringan penghubung (xylem dan floem) yang kuat. Jika hal ini dapat dilakukan, maka akar dengan mudah menyalurkan unsur hara dan daun juga tidak kesulitan menyalurkan hasil fotosintesis. Akan tetapi, penyediaan auxin dan sukrosa pada media tidak terjadi melalui mekanisme pengaturan produksi dan redistribusi yang terprogram secara genetik sehingga tidak tersedia aturan sampai tahap mana redifferensiasi harus dilakukan. Pada teknik invitro ini, jumlah auxin dan sukrosa yang tersedia hanya tergantung pada formula yang digunakan. Sebagai pembanding dapat dilihat mekanisme produksi dan distribusi auxin pada tanaman autotrof.

Dalam tubuh tanaman ini auxin diproduksi melalui mekanisme genetik dalam pucuk daun atau kuncup bunga sehingga sesuai dengan rencana pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Auxin ini selanjutnya didistribusikan ke sel tujuan, diterima dan diinterpretasi untuk memproduksi enzim juga melalui mekanisme genetik sehingga sesuai dengan rencana pertumbuhan dan perkembangan sel tujuan. Pada teknik kultur jaringan mekanisme genetik ini tidak ada terutama pada jumlah yang harus disediakan sebelum distribusi. Hampir tidak mungkin menyediakan auxin dan sukrosa pada media menggunakan mekanisme yang sama seperti pucuk tanaman menyediakan auxin atau sukrosa. Pengaturan produksi melalui mekanisme genetik ini dapat digambarkan sbb: Fase pucuk atau kuncup berlangsung pada periode tertentu sebelum memasuki fase dewasa. Dua fase ini memiliki mekanisme fisiologi yang berbeda yaitu mulamula menjadi pengimport sukrosa ketika masih dalam fase kuncup tetapi kemudian memproduksi sendiri setelah menjadi daun dewasa. Apabila daun memproduksi auxin hanya pada fase pucuk (Robert and Friml 2009), maka berarti bahwa produksi auxin hanya terjadi ketika daun mengimport sukrosa dan tidak terjadi setelah daun memproduksi sukrosa. Perubahan fisiologi daun dari produsen auxin ke produsen sukrosa tentu melalui mekanisme genetis karena enzim yang terlibat dalam proses fisiologi itu tidak dapat

85

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

dihasilkan tanpa melibatkan gen. Periode peralihan produksi auxin dan sukrosa pada pucuk ini akan berakibat pada perubahan waktu penyediaan auxin untuk pertumbuhan akar. Periode ini nampaknya cukup signifikan untuk mempengaruhi arah pembangunan jaringan dan dikenal sebagai apikal dominan (Suyitno 2006). Pada teknik kultur jaringan, mekanisme dominansi pucuk ini nampaknya belum banyak diperhatikan. Sukrosa dan auxin disediakan secara bersamaan sehingga ketika sel menjadi importir auxin dia juga importir sukrosa. Tanpa mekanisme genetik ini, morfogenesis dapat berlangsung tetapi banyak yang tidak sesuai dengan rencana dasar pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Mekanisme penyediaan sukrosa untuk pertumbuhan plb menjadi plantlet juga dapat berpengaruh pada rendahnya kapasitas jaringan transport pada bibit hasil kultur jaringan ini. Pada tanaman yang dikembangkan dengan biji, nutrient organik untuk pertumbuhan embrio diimport atas permintaan embrio itu sendiri. Embrio mengeluarkan hormon gibberelin untuk menginduksi enzim yang dapat memecah bahan makanan cadangan. Setelah menjadi molekul sederhana, bahan makanan diserap untuk pertumbuhan akar atau daun. Tanaman ini baru akan memproduksi auxin setelah pucuk tanaman terbentuk. Bersama sama hasil fotosintesis, auxin disalurkan untuk pengembangan sistem perakaran. Jadi sistem perakaran dikembangkan oleh auxin melalui saluran floem yang telah terbentuk dan fungsional. Jadi pada tanaman ini, tidak terjadi pengembangan akar tanpa saluran pengangkutan dari daun. Pada teknik kultur jaringan, perencanaan pembangunan jaringan ini menjadi agak kacau. Pada komposisi hormon yang diberikan, sel kalus hanya tumbuh menjadi akar dan pada komposisi lain hanya tumbuh menjadi daun (Albert et al. 1983). Sangat besar kemungkinan pada komposisi lainnya, kalus akan membentuk akar dan daun tetapi tidak memiliki jaringan pengangkutan yang menghubungkan akar dan daun secara fungsional. Keadaan ini
86

telah ditemukan oleh Robinson (2009) bahwa jaringan pengakutan pada tanaman yang dikembangkan dengan kultur jaringan sangat lemah. Hal ini diperkuat oleh temuan sebelumnya bahwa orientasi pertumbuhan jaringan dalam kultur sangat ditentukan oleh jenis nutrient (Rao dan Narayanaswami 2006). Jika auxin dan sukrosa eksogenous secara kontinu mengarahkan pembangunan jaringan (Hammond and white 2008) untuk dapat menyerap senyawa organik eksogenous, misalnya sampai melewati fase pembentukan organ fotosintetik, maka fungsi organ fotosintetik sebagai produsen senyawa organik akan menjadi sangat lemah. Penyebab utamanya adalah karena senyawa organik yang digunakan untuk pertumbuhan diserap dari media kultur dan tidak dari organ fotosintetik. Hal inilah yang menjadi persoalan ketika plantlet kemudian dipindahkan kelingkungan ex-vitro. Pada lingkungan ex-vitro ini, tempat penyerapan senyawa organik sukrosa segera tertutup sementara penyerapan dan pengangkutan senyawa anorganik melalui jaringan xylem sangat sedikit. Walaupun tanaman dapat memproduksi senyawa organik untuk mengganti senyawa organik yang sebelumnya diimport, tetapi karena jumlahnya tidak banyak dan jaringan penyalurannyapun masih lemah, maka bibit tanaman hasil kultur jaringan ini memerlukan penanganan khusus untuk dapat tumbuh menjadi tanaman dewasa. Penanganan ini terutama untuk memperbaiki jaringan pengangkutan agar hasil fotosintesis maupun unsur hara dapat tersalur sesuai dengan perencanaan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pemberian unsur hara yang sesuai kebutuhan sangat diperlukan, karena nutrient dapat mempengaruhi pertumbuhan jaringan (Rao dan Narayanaswami 1972). Pemberian auxinpun dapat dipertimbangkan karena senyawa ini dapat menginduksi enzim untuk mengarahkan pertumbuhan morfogenesis (Robert dan Friml 2009). Variasi pemberian unsur hara dan auxin pada lingkungan ex-vitro untuk memperbaiki

Induksi Auxin Terhadap Aktivitas Autotrofik Bibit Anggrek ....

I Gede Ketut Adiputra

pertumbuhan jaringan pengangkutan adalah sangat mungkin karena kedua senyawa ini termasuk molekul kecil dan dapat melakukan transport intercelluler. Dengan tidak tersedianya sukrosa eksogenous, perlakuan ini sangat mungkin dapat meningkatkan aktivitas fotosintesis yang diikuti oleh pengembangan jaringan floem dan diikuti oleh pengembangan jaringan xylem yang mengangkut unsur hara dari akar. Tergantung pada jenis tanaman dan kondisi lingkungan, perbaikan jaringan penghubung antara akar dan daun atau sebaliknya, perlu dilakukan untuk meningkatkan aktivitas autotrofik bibit dari kultur jaringan. Kajian tentang variasi pemberian senyawa anorganik (tanpa senyawa organik eksogenous) mungkin sangat bermanfaat, demikian juga modifikasi faktor lingkungan lainnya. Pada anggrek epifit, modifikasi fungsi dapat terjadi apabila tanaman menghadapi kondisi kekeringan. Pada tanaman ini terjadi mobilisasi senyawa glucomannan untuk mempertahankan metabolisme sehingga bahaya kekeringan dapat dikurangi (Stancato et al. 2001). Pada tanaman Arabidopsis thaliana, kekeringan diatasi dengan meningkatkan produksi aquaporin (Sade et al. 2010). Pada kondisi kekurangan unsur hara, tanaman biasanya merespon dengan peningkatan pertumbuhan akar baru (Cooper and Clarkson 1989, Hammond and White 2008). Pada mekanisme adaptasi ini, tanaman nampaknya meningkatkan pertumbuhan suatu struktur untuk mengatasi kekurangan baik air maupun unsur hara. Adaptasi struktur sangat mungkin juga terjadi pada daun apabila tanaman kekurangan produksi hasil fotosintesis. Tanaman akan meningkatkan pertumbuhan perangkat fotosintesis apabila keperluan akan sukrosa untuk pertumbuhan naik. Akan tetapi, untuk dapat terjadinya mekanisme adaptasi struktur ini, bahan bangunannya harus tersedia dalam jumlah yang cukup. Misalnya, untuk perbanyakan akar ketika unsur hara kurang maka pasokan sukrosa untuk pertumbuhan ini harus cukup. Sebaliknya,

apabila perangkat fotosintesis seperti klorofil harus diperbanyak karena keperluan hasil fotosintesis meningkat maka bahan penyusun klorofil seperti nitrogen harus tersedia dalam jumlah yang cukup. Faktor mana yang pertama harus diperbaiki agar masalah aktivitas autotrofik bibit kultur jaringan dapat diatasi. Apakah meningkatkan produksi sukrosa untuk meningkatkan pertumbuhan akar atau meningkatkan penyediaan unsur hara untuk perbaikan perangkat fotosintesis. Penulis menduga bahwa kedua hal ini dapat dilakukan secara bersamaan. Peningkatan produksi sukrosa untuk pertumbuhan akar dapat dilakukan melalui peningkatan supply air dan CO2. Pada anggrek yang tergolong tanaman CAM, produksi hasil fotosintesis ditemukan naik apabila tanaman ditumbuhkan dengan kadar CO2 yang dinaikkan dan dapat meningkatkan pertumbuhan terutama pertumbuhan akar (Sok Siam Gouk et al. 1999). Kenaikan aktivitas fotosintesis oleh pemberian CO2 yang tinggi pada anggrek CAM ini hampir sama dengan kenaikan fotosintesis yang terjadi pada tanaman Triticum aestivum yang ditumbuhkan secara ex-vitro (Mulholland et al. 1997). Apabila penyediaan unsur hara dinaikkan maka biosintesis perangkat fotosintesis akan naik. Akan tetapi hal ini baru akan terjadi apabila unsur hara tersebut bisa mencapai daun. Walaupun tidak sesuai dengan fungsi struktur pada organ tanaman, pemberian unsur hara lewat daun adalah alternatif karena jaringan pembuluh dari akar ke daun belum kuat. Pemberian unsur hara pada fase awal pertumbuhan diluar botol tentu harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena akumulasi ion yang terlalu tinggi dapat menjadi toksik bagi tanaman (Flower dan Yeo 1986), atau dapat terjadinya induksi abscisc acid yang mengakibatkan tanaman menghentikan pertumbuhan (Bensen et al.1988). Upaya perbaikan pertumbuhan jaringan pengangkutan dapat dilakukan melaui mekanisme seperti pada gambar 4.

87

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

KESIMPULAN Bibit tanaman yang dihasilkan melalui kultur jaringan memiliki variasi anatomi, morfologi dan fisiologi. Walaupun variasi ini tidak seluruhnya berakibat pada rendahnya viabilitas bibit, penyempurnaan perlu dilakukan baik anatomi maupun fisiologi. Penyempurnaan morfogenesis, sama seperti pertumbuhan invitro, dapat dilakukan melalui pemberian zat pengatur tumbuh auxin, sedangkan penyempurnaan fisiologis dapat dilakukan melalui pengaturan pemberian kondisi lingkungan. Dengan membaiknya struktur anatomi tanaman maka penyerapan unsur hara dan redistribusi hasil fotosintesis akan makin tinggi yang akhirnya akan mempertinggi aktivitas autotrofik pada tanaman. Hasil fotosintesis tersedia dalam jumlah yang lebih tinggi selanjutnya sangat penting untuk pertumbuhan tanaman sampai fase reproduksi. Akan tetapi karena kondisi lingkungan yang diperlukan untuk suatu

spesies adalah spesifik, maka perbaikan kondisi lingkungan hanya berlaku pada spesies tertentu saja. DAFTAR PUSTAKA Adiputra IGK and Anderson JW. 1995. Effect of sulphur nutrition on redistribution of sulphur in vegetative barley. Physiol. Plant. 95: 643-650. Albert B, Bray D, Lewis L, Raff M, Robert K, Watson JD. l983. Molecular Biology of the cell. Garland Publishing, Inc. New York and London. Bensen RJ, Boyer JS and Mullet JE. 1988. Water deficit-induced changes in Abscisic acid Growth, Polysomes, and Translatable RNA in Soybean hypocotyls. Plant Physiol 88, 289-294. Cooper HD and Clarkson DT 1989. Cycling of amino-nitrogen and other nutrients between shoots and roots in cereals-a possible mechanism integrating shoot and

88

Induksi Auxin Terhadap Aktivitas Autotrofik Bibit Anggrek ....

I Gede Ketut Adiputra

root in the regulation of nutrient uptake. J. Exp. Bot. 40:753-762. Daisy P. Sriyanti Hendaryono dan Ari Wijayani 1994. Teknik kultur jaringan, pengenalan dan petunjuk perbanyakan tanaman secara vegetatif- modern. Penerbit Kanisius. Dutra D, Johnson TR, Kauth PJ, Stewart SL, Kane ME and Richardson L. 2008. Asymbiotic seed germination, in vitro seedling development, and greenhouse acclimatization of the threatened terrestrial orchid Bletia purpurea. Plant Cell, Tissue and Organ Culture Volume 94, Number 1, 11-21, DOI: 10.1007/s11240-0089382-0 Flower TJ dan Yeo AR. 1986. Ion Relations of Plants Under Drought and Salinity. Australian Journal of Plant Physiology 13(1) 75. doi:10.1071/PP9860075 Gardner FP, Pearce RB, Mitchell RL. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Penerbit Universitas Indonesia. Gastal F and Lemaire G. 2002. N uptake and distribution in crops: an agronomical and ecophysiological perspective. J. Exp. Bot. 53, No. 370: 789-799. Hammond JP and White PJ. 2008. Sucrose transport in the phloem: integrating root responses to phosphorus starvation. Journal of Experimental Botany, vol. 59, No.1, pp. 93-109. Kanai S, Ohkura K, Adu-Gyamfi JJ, Mohapatra, PK, Nguyen NT, Saneoka H and Fujita K. 2007. Depression of sink activity precedes the inhibition of biomass production in tomato plants subjected to potassium deficiency stress. Journal of Experimental Botany 58(11):29172928 Komal R 2011. One step method of plantlet regeneration in Trichosanthes dioica Roxb.: An approach towards cost effective and shorter protocol. African Journal of Biotechnology Vol 10 (1), pp. 9-12).

Mineo L. 1990. Plant Tisssue culture techniques. Department of Biology, Lafayette College, Easton, Pennsylvania 18042. Mulholland BJ, Craigon J, Black CR, Colls JJ, Atherton J, Landon G. 1997. Impact of elevated atmospheric CO2 and O3 on gas exchange and chlorophyll content in spring wheat (Triticum aestivum L). Journal of experimental Botany, vol. 48, No. 315, pp. 1853-1863. Pospisilova J, Ticha I, Kadlecek P, Haisel D and Plzakova S. 1999. Acclimatization of micropropagated plants to ex-vitro condition. Biologia Plantarum 42 (4): 481497. Pasternak TP, Prinsen E, Ayaydin F, Miskolczi P, Potters G, Asard H, Onckelen HA, Dudits D, and Fehr A 2002. The role of auxin, pH, and stress in the activation of embryogenic cell division in leaf protoplastderived cells of alfalfa. Plant Physiol, Vol. 129, pp. 1807-1819. Rao, P. S. and Narayanaswami, S. 1972. Morphogenetic Investigations in callus cultures of Tylophora indica. Physiologia Plantarum, 27: 271276. doi: 10.1111/ j.1399-3054.1972.tb03613.x Rianawati S, Purwito A, Marwoto B, Kurniati R dan Suryanah. 2009. Embriogenesis Somatik dari Eksplan Daun Anggrek Phalaenopsis sp L. J. Agron. Indonesia 37 (3) : 240 248. Robert HS & Friml J 2009. Nature Chemical Biology 5, 325 332. doi:10.1038/ nchembio.170 Robinson JP, Britto SJ and Senthilkumar S. 2009. Comparative Anatomical Studies on Emilia zeylanica C. B. Clarke with in vitro Regenerated Plants. Middle-East Journal of Scientific Research 4 (3): 140-143 Sade N, Gebresadiks M, Seligmann R, Schwartz A, Wallach R andn Moshelion M. 2010. The role of tobacco aquaporin1
89

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

in improving water use efficiency, hydraulic conductivity, and yield production under salt stress. Plant Physiology, Vol. 152, pp. 245254, Sawada S, Igarashi T and Miyachi S. 1982. Effect of nutritional level of phosphate on photosynthesis and growth studied with single, rooted leaf of dwarf bean. Plant and Cell Physiology 23: 27-33. Siwach P, Grower K and Gill AR 2011. The influence of plant growth regulator, explant nature and sucrose concentration on in vitro callus growth of Thevetia peruviana. Asian Journal of Biotechnology 3 (3): 280-292. DOI: 10.3923/ ajbkr.2011.280292. Sok Siam Gouk, Jie He and Choy Sin Hew 1999. Changes in photosynthetic capability and carbohydrate production in an epiphytic CAM orchid plantlet exposed to superelevated CO2. Environmental and experimental Botany 41: 219-230. Stancato GC, Mazzafera P, Buckeridge MS. 2001. Effect of a droght period on the mobolisation of non-structural carbohydrates, photosynthetic efficiency

and water status in an epiphytic orchid. Plant Physiology and Biochemistry 39:1009-1016. Doi: 10.1016/S09819428(01)01321-3. Suyitno AI.2006. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan Lanjut. Program Studi Biologi-Jurdik Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Yogyakarta. Terry N and Ulrich A. 1973. Effect of phosphorus deficiency on the photosynthesis and respiration of leaves of sugar beet. Tromas A, Perrot-Rechenmann C 2010. Recent progress in auxin biology. C. R. Biologies 333 297306. Elsevier Masson SAS doi:10.1016/j.crvi.2010.01.005 Utami ESW, Sumardi I, Taryono, Semiarti E 2007. Pengaruh -naphtaleneacetic acid (NAA) terhadap embriogenesis somatik anggrek bulan Phalaenopsis amabilis (l.) bl. Biodiversitas,volume 8, nomor 4 : 295299 Vieten A, Sauer M, Brewer PB, Friml J.2007. Molecular and cellular aspects of auxintransport-mediated development. Trends Plant Sci.12(4):160-8

90

INVENTARISASI JENIS MOLUSCA DI DANAU TAMBLINGAN, BALI


Ni Made Suartini Jurusan Biologi FMIPA Universitas Udayana Email: madesuartini_risky@yahoo.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis Molusca di danau Tamblingan, Bali. Pengambilan sampel Molusca dilakukan pada bulan Pebruari 2004. Stasiun dibuat mengelilingi danau dan pengambilan sampel dilakukan dari pinggir menuju ke tengah danau sampai pada kedalaman 2 m. Identifikasi sampel dilakukan dengan acuan Butot (1955), Jutting (1956), Pennak (1989) dan membandingkan dengan koleksi yang ada di Laboratorium Malakologi, Puslit Biologi-LIPI Cibinong. Ditemukan enam spesies molusca dimana Anodonta woodiana merupakan spesies dengan kepadatan tertinggi dan dijumpai hampir di setiap stasiun. Kata kunci: jenis, moluska, danau Tamblingan, Anodonta woodiana ABSTRACT This research was aimed to investigate Mollusks species in Lake Tamblingan, Bali. For this research, samples were collected in February 2004 from sampling stations located between sites that close to the edge of the lake towards the centre part of the lake which is 2 m in depth. Samples were identified based on procedure by; Butot (1955), Jutting (1956), Pennak (1989) and it were also compared with specimens that available in Malacology Lab, Research Centre for Biology, Indonesian Institute of Science (LIPI), Cibinong. This study found 6 species of Mollusks in the lake. Among the species, Anodonta woodiana was found to have the highest density and was observed in almost all sampling stations. Key words: species, mollusk, Lake Tambingan, Anodonta woodiana

PENDAHULUAN Danau mempunyai manfaat penting bagi masyarakat yaitu sebagai sumber air untuk keperluan rumah tangga, usaha pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan. Selain itu, danau juga digunakan sebagai obyek wisata alam, tempat dilaksanakannya pendidikan dan penelitian. Bagi masyarakat Bali, selain fungsi tersebut di atas, danau juga mempunyai fungsi sosial budaya yaitu sebagai bagian dari ritus keagamaan yang sudah turun temurun (Bappedalwil II, 1998). Danau Tamblingan merupakan salah satu sumber perairan tawar yang terletak pada ketinggian 1100 m dari permukaan laut berada

di Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng, Bali. Danau ini merupakan danau vulkano tektonik dengan luas permukaan air 1,15 km2, kedalaman maksimum 40,5 m dan kedalaman rata-rata 23,5 m. Menurut Kayane (1992) dalam Delinom et al. (1997), fluktuasi air danau Tamblingan pada musim panas adalah 0,69 m dan pada musim hujan 0,3 m. Perairan tawar mempunyai beranekaragam jenis hayati, salah satunya adalah anggota dari phylum Molusca. Menurut Suwignyo et al (1998), Molusca merupakan hewan yang sangat berhasil menyesuaikan diri untuk hidup di beberapa tempat dan cuaca. Kebanyakan dijumpai di laut dangkal, beberapa pada kedalaman sampai 7000 m, beberapa di air payau, air tawar dan darat.
91

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

Berkaitan dengan hal di atas maka untuk menambah informasi keanekaragaman hayati di danau Tamblingan perlu kiranya dilakukan suatu penelitian untuk mengungkap lebih lanjut keberadaan Molusca yang merupakan salah satu sumber keanekaragaman hayati yang terdapat di danau tersebut. BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Pengambilan sampel moluska dilakukan di danau Tamblingan Provinsi Bali pada bulan Pebruari 2004. Identifikasi dilakukan di Laboratorium Malakologi, Puslit Biologi-LIPI Cibinong. Analisis kualitas air di Laboratorium Analitik Fakultas MIPA Universitas Udayana sedangkan analisis substrat dilakukan di Laboratorium Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Pengambilan Sampel Stasiun dibuat mengelilingi danau dan pengambilan sampel dilakukan dari pinggir (batas tepi air danau) menuju ke tengah danau sampai pada kedalaman 2 m. Pada daerah pinggir

sampai kedalaman 50 cm, pengambilan sampel dilakukan dengan kwadran ukuran 1 m x 1 m dan kedalaman berikutnya dengan Ekman grab (30 cm x 30 cm). Setiap habitat pada setiap stasiun diidentifikasi kondisi lingkungannya (terbuka atau tertutup), substrat (pasir, lumpur, batu, kerikil dan sebagainya) serta diukur faktor fisika kimiawi dan tekstur substrat lingkungan perairan. Sampel Molusca yang diambil dipisahkan dari substrat dengan menggunakan saringan bentos kemudian diawetkan dengan alkohol 70%. Pemilahan dan Pengamatan Morfologi Pemilahan Molusca dilakukan berdasarkan jenis yang diperoleh di setiap stasiun serta dihitung jumlah individunya. Identifikasi sampel dilakukan dengan acuan Butot (1955), Jutting (1956), Pennak (1989) serta membandingkan dengan koleksi yang ada di Laboratorium Malakologi, Puslit Biologi-LIPI Cibinong.

Da b au Ta mb l in g an
115 05' 30'' B r .Asa h m un d u k 9087 400 115 06 '00''

V II

9087 200

VIII
9087 000

VI
9086 800

IX
081 5 '3 0' ' 291000 291200 Dan a u P er m u k im an pen d u du P em u kim a n p e n d u du kk Jalan R aya Ja lan S etap ak S tasiu nP en g am b ilan S am p el 0 816 ' 00 '' 2896 00 28980 0 290000 290200 29 0400 290 600 2908 00

9086 600

lokasi

9086 400

X
9086 200

IV

9086 000

I II II I

S en go n

9085 800

9085 600

Gambar 1. Stasiun pengambilan sampel di danau Tamblingan

92

0 815 ' 00 ''

Inventarisasi Jenis Molusca Di Danau Tamblingan, Bali

Ni Made Suartini

HASIL DAN PEMBAHASAN Kisaran Parameter Fisika-Kimiawi Perairan Parameter fisika-kimiawi perairan pada umumnya berada pada kisaran yang diperlukan untuk kehidupan biota perairan (Tabel 1). Kisaran suhu di danau Tamblingan masih berada pada kisaran suhu untuk kehidupan plankton. Menurut Odum (1993), kisaran suhu untuk kehidupan plankton adalah 200 C-300 C. Secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa danau Tamblingan mempunyai suhu yang mendukung kehidupan Molusca karena di danau tersebut plankton masih dapat hidup. Secara umum diketahui bahwa plankton merupakan makanan Molusca. Kisaran suhu berada pada kisaran dimana Molusca masih dapat hidup tetapi suhu tersebut merupakan batas suhu minimum yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidupnya. Pada batas suhu minimum, reproduksi maupun pertumbuhan yang terjadi pada Molusca menjadi rendah. Rendahnya tingkat reproduksi dan pertumbuhan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kepadatan Molusca di danau tersebut menjadi rendah. Hart & Fuller (1974) menyatakan bahwa suhu berpengaruh terhadap kwalitas reproduksi Gastropoda air tawar. Pada umumnya pH masih berada pada kisaran pH yang disukai oleh biota perairan yaitu 7-8,5 (Effendi, 2003). Anggota kelompok

Molusca umumnya lebih menyukai perairan yang bersifat basa. Keong Lymnaeidae menyukai PH >7 (Pennak 1989), terlihat dari ditemukannya Lymnaea rubiginosa di danau Tamblingan sedangkan kerang memerlukan pH 5,6-8,3 (Hart & Fuller, 1974), terlihat dari ditemukannya Anodonta woodiana. Nilai kekeruhan dapat dikatakan cukup baik karena nilai kekeruhan 5-30 NTU masih baik untuk kehidupan biota perairan sedangkan nilai kekeruhan kurang dari 5 NTU akan lebih baik bila didukung faktor fisika dan kimiawi lainnya di perairan tersebut. Kandungan oksigen terlarut terlihat masih mampu mendukung kehidupan Molusca karena beberapa anggotanya seperti A. woodiana memerlukan kisaran oksigen terlarut untuk kehidupannya sekitar 3,8-12,5 mg/l (Suwignyo, 1975). Tekstur Substrat Tekstur substrat terdiri atas tipe lempung, lempung berdebu, lempung berpasir, lempung liat berdebu, lempung liat berpasir, liat, pasir berlempung dan pasir.. Dari semua tipe tekstur substrat tersebut sebagian besar mempunyai fraksi pasir dan debu lebih tinggi dibandingkan dengan fraksi liat. Kondisi tekstur substrat seperti di atas dapat dikatakan sesuai dengan kehidupan Molusca karena Molusca pada umumnya menyukai

Tabel 1. Kisaran parameter fisika-kimiawi di danau Tamblingan Parameter Nilai Suhu ( C) pH Kekeruhan (NTU) Oksigen terlarut (mg/l) Kebutuhan oksigen biokimiawi (mg/l)
o

22 - 24,5 7,99 - 8,30 0 - 14,86 7,40 - 8,08 3,50 - 4,85

93

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

substrat tersebut. Keong Melanoides tuberculata banyak ditemukan di perairan bagian tepi yang dangkal dan berlumpur (Duggan, 2002). Menurut Suwignyo (1975) A. woodiana menyukai perairan dengan substrat lumpur dengan sedikit pasir. Adanya substrat lumpur dan juga pasir merupakan salah satu faktor yang mendukung kehadiran A. woodiana. Jenis dan Kepadatan Moluska Ditemukan 6 jenis Molusca yang termasuk Kelas Gastropoda dan Bivalvia dengan jumlah individu yang berbeda pada setiap stasium seperti tercantum pada Tabel 2 dan Tabel 3. Jumlah individu tiap jenis yang diperoleh berkisar antara 1-59 (Tabel 3). StasiunVII jumlahnya paling sedikit karena stasiun tersebut

kurang mendukung untuk kehidupan Molusca terlihat dari kondisi stasiun yang kotor dengan sampah plastik, bekas botol air kemasan dan airnya kelihatan sedikit berbusa. Kondisi stasiun seperti itu karena daerah tersebut merupakan tempat memancing. Disamping itu, stasiun tersebut juga mendapat cukup naungan sehingga suhunya paling rendah dibandingkan dengan stasiun lainnya. Pada suhu rendah tingkat reproduksi serta perkembangan akan menurun. Hart & Fuller (1974) menyatakan bahwa suhu berpengaruh terhadap kualitas reproduksi Gastropoda air tawar. L. rubiginosa ditemukan hanya pada stasiun I dan II yang tumbuhan airnya lebih beragam termasuk di dalamnya adalah teratai. Menurut Marsetiyowati (1983) spesies tersebut sering

94

Inventarisasi Jenis Molusca Di Danau Tamblingan, Bali

Ni Made Suartini

ditemukan menempel pada daun teratai dan juga di dasar perairan. C. javanica hanya ditemukan di stasiun I dan III yang daerahnya terbuka dengan substrat lumpur. Hal tersebut disebabkan C. javanica menyukai perairan dengan substrat lumpur dan sedikit berpasir ( Djajasasmita, 1993) dan biasanya jenis tersebut hidup dengan cara membenamkan sebagian atau seluruh cangkangnya di dalam lumpur (Marsetiyowati, 1983). P. canaliculata ditemukan dengan telurnya yang menempel pada tumbuhan air. Ditemukannya jenis tersebut karena mempunyai adaptasi yang baik dan juga didukung oleh kemampuannya memakan semua yang ada di lingkungan atau bersifat polifagus (Ghesquiere, 2003). A. woodiana merupakan jenis dengan jumlah individu terbanyak karena jenis tersebut dapat melangsungkan siklus hidupnya dengan baik. Hal tersebut dipengaruhi oleh kesesuaian faktor lingkungan untuk kelangsungan hidupnya dan adanya ikan nila yang diperlukan sebagai inang untuk penempelan larvanya. Sistem hidrologi danau juga diduga mempengaruhi jumlah jenis yang ditemukan. Danau Tamblingan merupakan danau tertutup yaitu tidak mempunyai aliran air masuk (inlet) dan keluar (outlet) alami, berbeda dengan danau lain seperti danau Ranau (Sulastri et al., 1999) dan danau Poso (Marwoto, 2000) yaitu dikelilingi banyak sungai yang bermuara ke dalam pearairan danau. Aliran sungai yang masuk ke perairan danau biasanya mengandung detritus yang merupakan sumber makanan bagi hewan pemakan detritus. Dengan tidak adanya inlet di danau Tamblingan maka tidak ada masukan unsur hara dari luar danau. Disamping itu, daerah inlet maupun outlet umumnya lebih dangkal dan umum diketahui bahwa Molusca lebih menyukai perairan yang dangkal. Di danau Poso, genus Melanoides dan Thiara umumnya banyak ditemukan di daerah inlet, outlet dan perairan danau yang dangkal.

KESIMPULAN Ditemukan enam jenis Molusca yang termasuk kelas Gastropoda dan Bivalvia. Anodonta woodiana merupakan jenis dengan kepadatan tertinggi dan dijumpai hampir di setiap stasiun. SARAN Diperlukan kajian lebih luas tentang potensi danau sebagai kawasan konservasi maupun ekoturisme termasuk pemanfaatan sumber biota yang ada di danau tersebut. UCAPAN TERIMAKASIH Terimakasih diucapkan kepada Dr. Ir. M.F. Rahardjo, DEA dan Dra. Ristiyanti M. Marwoto, MSi yang telah memberikan banyak masukan dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA [Bappedalwil II] Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Wilayah II. 1998. Norma dan Program Danau Lestari Provinsi Dati I Bali. Butot LJM. 1955. The Mollusc Fauna of Panaitan (Prinseneiland). Land and Frehwater Molluscs. Treubia 23 (1) : 69135. Delinom RM, M Djuwansah , MS Siregar. 1997. Hydrological Behaviour of Lake Beratan, Lake Buyan and Lake Tamblingan:A Water Balance Approach. Di dalam: International Hydrology Programme. Proceeding Workshop on Ecosystem Approach to Lake and Reservoir Management; Kuta-Bali, 22-25 July 1997. Hlm. 37-46 Djajasasmita M. 1993. Catatan Tentang Moluska di Sawah-Sawah Sekitar Bogor: Komposisi Jenis, Potensi dan Peranannya. Jurnal Biologi Indonesia 1(1): 48-53. Duggan IC. 2002. First Record of a Wild Population of the Tropical Snail Melanoides tuberculata in New Zealand Natural Waters. New Zealand Journal of Marine and Freshwater Research. 36:825-829.
95

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

Effendi H. 2003. Telaah Kualitas Air. Bagi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Perairan . Kanisius. Yogyakarta. Ghesquiere S. 2003. Apple Snails (Ampullariidae). Ecology. http:// w w w. a p p l e s n a i l s . n e t / c o n t e n t / ecology.php [17 Apr 2004]. Hart Jr CW, SLH Fuller. 1974. Pollution Ecology of Freshwater Invertebrates. Academic Press. New York and London. Jutting BWSS. 1956. Systematic Studies on the Non-Marine Mollusca of the Indo-Australian Archipelago. Treubia 28 (2) : 259477 Marwoto RM dan M Djajasasmita. 1986. Moluska di Perairan Tepi Danau Singkarak Sumatra Barat: Komposisi dan Kepadatan Jenisnya. Berita Biologi. 3(6):292-295. Marsetiyowati R. 1983. Moluska di KolamKolam Kebun Raya Bogor. Buletin Kebun Raya. 6 (2):39-42.

Marwoto RM. 2000. Keong Air Tawar Suku Thiaridae di Danau Poso dan Studi Morfologi, Anatomi Marga Tylomelania dari Danau Poso, Sulawesi Tengah (Moluska:Gastropoda:Caenogastropoda) [tesis]. Program Studi Biologi, Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Jakarta. Odum EP. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Edisi Ketiga. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. Pennak RW. 1989. Fresh-Water Invertebrates of the United States. Protozoa to Mollusca. Third Edition. John Wiley & Sons, Inc. New York. Sulastri, M Badjoeri, Y Sudarso dan MS Stawal. 1999. Kondisi Fisik- Kimia dan Biologi Perairan Danau Ranau Sumatra Selatan. Limnotek. 6(1): 25-38. Suwignyo S, B Widigdo, Y Wardianto dan M Krisanti. 1998. Avertebrata Air. Jilid 2. Institut Pertanian Bogor, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan . Bogor. Suwignyo P. 1975. Kijing Taiwan Suatu Sumber Protein Baru di Indonesia. BIOTROP/TA/ 75/173.

96

PENGARUH SUPLEMENTASI SOMATOTROPIN TERHADAP PERUBAHAN BOBOT BADAN TIKUS BETINA USIA ENAM BULAN DAN SATU TAHUN
Ni Wayan Sudatri Jurusan Biologi, FMIPA Universitas Udayana, Kampus Bukit Jimbaran Bali Email : wayan_sudatri@yahoo.com

ABSTRAK Dengan bertambahnya usia, wanita biasanya mengalami perubahan komposisi tubuh yaitu bertambahnya lemak tubuh dan menurunnya masa otot. Hal ini dikarenakan menurunnya sekresi somatotropin yang berperan dalam lipolisis dan anabolisme protein. Rancangan percobaan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Faktorial dengan empat faktor yaitu dosis, lama penyuntikan, umur, dan waktu pembedahan. Dosis somatotropin yang digunakan adalah 0 mg, dan 9 mg/kg bobot badan. Lama penyuntikan adalah 3 minggu dan 6 minggu. Umur tikus terdiri atas enam bulan dan satu tahun, serta waktu pembedahan yaitu setelah akhir periode penyuntikan somatotropin dan 2 minggu setelah penghentian penyuntikan somatotropin. Kombinasi antarfaktor tersebut menjadi 2 x 2 x 2 x 2 = 16. Masingmasing kelompok terdiri atas 3 ulangan sehingga jumlah tikus coba menjadi 3 x 16 = 48 ekor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi somatotropin dosis 9 mg/kg bobot badan meningkatkan bobot badan tikus betina usia enam bulan dan satu tahun karena terjadinya peningkatan anabolisme protein. Kata kunci: bobot badan, tikus betina, somatotropin ABSTRACT When woman is getting older, chemical composition of her body is changed where fat deposit increased, while muscles masses decreased. These changes is believed to occur because of decreasing in somatotropin secretion. The somatotropin compound plays an important role in lipolysis and protein anabolism. In order to examine the effect of somatotropin, this present study used female rats as experimental organism. In this study, factorial design was employed which consisting of 4 factors, namely doses, duration of injection, age and dissection time. Somatotropin doses were 0 and 9 mg/kg body weight, duration of injection were 3 and 6 weeks, rats age were 6 and 12 months, dissections time were just after the termination of injection using somatotropin and 2 weeks afterward. Combinations of these factors generated 16 combinations and since replicate for each group was 3, total number of rat required for this study become 48 rats. This study showed that supplementation of 9 mg/kg body weight increased body weight of those 6 and 9 month female rat. It is concluded that the increased in body weight is attributed by increasing protein anabolism. Key words: body weight, female rats, somatotropin

PENDAHULUAN Pada wanita, semakin bertambahnya usia biasanya ditandai oleh semakin bertambahnya bobot badan dan perubahan komposisi tubuh.

Komposisi lemak tubuh cenderung meningkat dibandingkan komposisi otot tubuh. Hal ini terjadi akibat penurunan kadar somatotropin dalam tubuh yang berperan dalam anabolisme
97

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

protein dan liposilis lemak. Penurunan produksi hormon ini menyebabkan distribusi lemak di bagian perut pada wanita bertambah seiring dengan meningkatnya umur (Veldhuis et al. 2005). Hormon pertumbuhan atau growth hormone (GH) yang juga disebut somatotropin merupakan protein kecil yang mengandung sekitar 191 asam amino dalam satu rantai yang mempunyai berat molekul 22.005. Somatotropin merangsang pertumbuhan semua jaringan tubuh yang mampu tumbuh. Somatotropin meningkatkan pertambahan ukuran sel dan meningkatkan mitosis bersama peningkatan jumlah sel. Sebagai contoh adalah peningkatan pertambahan berat badan tikus yang disuntik dengan hormon pertumbuhan/somatotropin setiap hari, dibanding dengan yang sama sekali tidak mendapat hormon pertumbuhan (Guyton 1995). Somatotropin dihasilkan oleh pituitari anterior terutama oleh kelompok sel-sel asidofil khususnya sel-sel somatotrof. Pada tikus betina, sel somatotrof dan sel mammotrof jumlahnya berimbang, namun pada tikus jantan jumlah sel somatotrof jauh lebih banyak dari sel mammotrof (6:1). Ratio inilah mungkin yang menyebabkan ukuran jantan jauh lebih besar dari betina pada semua spesies (Bolander 1994). Pada masa pertumbuhan, ketika pertumbuhan berlangsung cepat, kadar somatotropin sangat tinggi. Sejalan dengan bertambahnya usia, kadar somatotropin dalam tubuh terus menurun. Keberadaan somatotropin ini setelah masa pertumbuhan diperlukan untuk menjaga kesehatan fisik dan mental secara umum seperti untuk perbaikan jaringan, penyembuhan, penggantian sel-sel yang rusak, untuk produksi enzim, untuk menjaga fungsi otak, menjaga kesehatan rambut, kuku, dan lain sebagainya. Setelah umur 20 tahun, produksi somatotropin menurun 14% setiap 10 tahun. Setelah umur 60 tahun, produksi somatotropin menurun 75% atau lebih (Bengtsson et al. 2000). Somatotropin atau hormon pertumbuhan diketahui mempunyai efek dasar pada berbagai
98

proses metabolisme tubuh. Somatotropin meningkatkan kecepatan sintesis protein dalam semua sel tubuh, menurunkan penggunaan karbohidrat di seluruh tubuh, meningkatkan mobilisasi lemak dan penggunaan lemak untuk energi serta merangsang produksi IGF-1 di hati untuk memacu pertumbuhan tulang (Guyton 1995). Pada babi yang disuntik dengan somatotropin, katabolisme protein dan efisiensi makanan meningkat serta daging yang dihasilkan mempunyai kadar lemak yang sangat rendah (Bush et al 2002; Davis et al . 2004). Sementara itu, pada manusia terapi dengan somatotropin dapat meningkatkan masa otot, kekuatan fisik, menurunkan kelelahan, menurunkan kadar lemak (terutama lemak perut), meningkatkan kekuatan tulang, membuat kulit tampak lebih muda, fungsi seks meningkat, fungsi hati, ginjal, limpa, dan otak menjadi lebih sehat (Klatz & Kahn 1998). Berdasarkan informasi di atas, maka penelitian pengaruh suplementasi sumatotropin pada dosis, waktu pemberian dan umur tikus yang berbeda perlu dipelajari lebih lanjut untuk untuk mengetahui perubahan bobot badan pada tikus betina. BAHAN DAN METODE Penelitian dilakukan di kandang percobaan FKH IPB, Laboratorium Fisiologi dan Farmakologi FKH IPB mulai bulan November 2005 sampai dengan Maret 2006. Hewan coba yang digunakan dalam penelitian ini adalah 48 ekor tikus betina strain Wistar yang terdiri atas kelompok umur enam bulan (24 ekor) dan satu tahun (24 ekor) yang dibeli dari Balai Pengujian Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan, Jakarta. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Faktorial dengan 4 faktor yaitu dosis, lama penyuntikan, umur dan waktu pembedahan. Dosis somatotropin yang digunakan adalah 0 mg, dan 9 mg/kg berat badan . Lama penyuntikan adalah 3 minggu dan 6 minggu. Umur tikus percobaan

Pengaruh Suplementasi Somatotropin Terhadap Perubahan ....

Ni Wayan Sudatri

99

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

terdiri atas enam bulan dan satu tahun serta waktu pengambilan contoh yaitu satu hari dan 2 minggu setelah penyuntikan dihentikan. Kombinasi antarfaktor tersebut menjadi 2 x 2 x 2 x 2 = 16. Masing-masing kelompok terdiri atas 3 ulangan sehingga jumlah tikus coba menjadi :3 x 16 = 48 ekor. Pada kelompok yang disuntik dengan somatotropin selama 3 minggu setelah sinkronisasi disampling sebagian dan dibiarkan sebagian untuk disampling 2 minggu kemudian. Begitu juga dengan kelompok yang disuntik selama 6 minggu, setelah disinkronisasi disampling sebagian, setengahnya lagi disampling 2 minggu kemudian. Pada setiap pembedahan jumlah tikus yang dibedah adalah 12 ekor untuk pengambilan data yang lain. Sebelum diberi perlakuan, semua hewan coba diaklimatisasikan terlebih dahulu di dalam kandang percobaan selama satu minggu. Selama pemeliharaan hewan coba diberi makan pelet standar dan minum air keran secara ad libitum. Sebelum diberi perlakuan semua tikus betina ditimbang bobot awalnya. Penyuntikan somatotropin dilakukan secara intramuskuler (im) sesuai dengan rancangan percobaan. Selesai perlakuan semua tikus betina ditimbang bobot akhirnya, sehingga diperoleh perubahan bobot badan dengan mengurangkan bobot akhir dengan bobot awal hewan coba. Untuk

mengetahui perubahan bobot badannya, bobot badan tikus juga ditimbang setiap minggu selama perlakuan maupun yang dibiarkan selama dua minggu tanpa perlakuan baru dibedah. Data yang didapatkan dianalisis secara statistika dengan ANOVA GLM memakai program Minitab 11 for Windows dan bila terdapat perbedaan yang nyata atau sangat nyata akan dilanjutkan dengan uji Duncan HASIL DAN PEMBAHASAN Bobot badan awal tikus betina ini dipengaruhi oleh umur. Tikus betina yang berumur 1 tahun mempunyai bobot badan awal yang lebih besar dari tikus betina umur 6 bulan (Tabel 1). Tikus yang berumur 6 bulan maupun tikus yang berumur 1 tahun samasama memperlihatkan peningkatan bobot badan (P<0.01) selama penyuntikan somatotropin (Tabel 2 dan Gambar 1). Peningkatan bobot badan ini dipengaruhi oleh dosis somatropin dan lama penyuntikan. Dosis somatotropin dan lama penyuntikan serta antara dosis somatotropin dan waktu sampling setelah penghentian penyuntikan somatotropin ternyata saling berinteraksi dalam mempengaruhi penambahan bobot badan. Umur dan dosis somatotropin sangat signifikan (P=0.000) dalam meningkatkan bobot akhir tikus.

Gambar 1. Rataan bobot badan yang diamati selama 8 minggu


100

Pengaruh Suplementasi Somatotropin Terhadap Perubahan ....

Ni Wayan Sudatri

Peningkatan bobot badan tikus pada kelompok yang disuntik somatotropin baik yang berumur 1 tahun maupun 6 bulan disebabkan oleh peningkatan laju sintesis protein dan meningkatnya penggunaan lemak sebagai sumber energi yang terlihat dari analisis proksimat karkas bahwa kadar protein lebih tinggi dari kadar lemaknya (Eddy 2006). Hal senada juga telah dilaporkan oleh Davis et al. (2004) dan Bush et al. (2002) yang menyatakan bahwa pemberian somatotropin eksogen meningkatkan sintesis protein. Bartke (2005) juga melaporkan bahwa penurunan masa otot, peningkatan jaringan adiposa, dan tanda-tanda penuaan lainnya disebabkan oleh penurunan sekresi somatotropin dari pituitari. Beberapa perubahan tersebut dapat diperbaiki dengan terapi somatotropin/GH. KESIMPULAN Suplementasi somatotropin dosis 9 mg/kg bobot badan meningkatkan bobot badan tikus betina usia enam dan satu tahun karena terjadi peningkatan sintesis protein. SARAN Disarankan untuk melakukan penelitian dengan umur tikus lebih dari satu tahun (lebih tua) dan melakukan analisis kadar lemak dan kadar protein untuk mengetahui peningkatan kadar protein atau lemaknya. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Wasmen Manalu dan Ibu Dr. Nastiti Kusumorini yang telah banyak memberikan masukan sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan lancar. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Lemlit Unud atas bantuan dana yang diberikan melalui Dana Dosen Muda.

DAFTAR PUSTAKA Bartke A. 2005. Minireview: role of the growth hormone/insulin-like growth factor system in mammalian aging. Endocrinology 146: 37183723. Bengtsson BA, Gudmundur J, Stephen MS, Helen S, Peter HS. 2000 Treatment of growth hormone deficiency in adults . J Clin Endocrinol Metabol 85: 933-942. Bolander FF. 1994. Molecular Endocrinology. USA: Academic Press, Inc. Hlm 23-30 Bush JA, Guoyao Wu, Suryawan A, Hanh V, Nguyen, Teresa AD. 2002. Somatotropin induced amino acid conservation in pigs involves differential regulation of liver and gut urea cycle enzyme activity. J Nutr 132: 59-67. Davis TA, Bush JA, Vann RC, Suryawan A, Kimball SR, Burrin DG. 2004. Somatotropin regulation of protein metabolism in pigs. J Anim Sci 82: 207 210. Eddy L. 2006. Suplementasi somatotropin untuk memperbaiki tampilan fisiologis tikus jantan usia enam bulan dan satu tahun (Tesis). Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Guyton AC.1995. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Edisi III. Petrus A, penerjemah; Jakarta: EGC.Terjemahan dari: Text Book of Medical Physiology. Klatz R, Kahn C. 1998. Grow Young with hGH. New York, USA: Harper Perennial. Veldhuis JD , Erickson D, Mielke K, Farty SL, Daniel M. Keenal, Cyril YB. 2005. Distinctive inhibitory mechanisms of age and relative visceral adiposity on growth hormone secretion in pre and postmenopausal woman studied under hypogonal clamp. J Clin Endocrinol Metabol 87: 5160-5167.

101

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

EFEKTIVITAS TANAMAN HIAS Sansevieria lorentii DALAM MENYERAP POLUTAN TIMBAL (Pb)
Ni Luh Suriani Jurusan Biologi Fakultas MIPA Unud, Kampus Bukit Jimbaran-Bali niluhsurianisuriani@yahoo.com
ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas dan kandungan polutan timbal (Pb) pada tanaman Sanseviera Lorentii yang dipergunakan sebagai tanaman hias jalan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium analitik Universitas Udayana. Penentuan kandungan logam berat Pb pada tanaman Sanseviera lorentii ditentukan dengan teknik kurva kalibrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan logam berat Pb pada Sanseviera lorentii yang ditaruh pada lokasi yang berbeda selama 1 bulam semuanya mengalami peningkatan masing-masing daearah. Padangsambian (58.31 g/g) dengan efektifitas 19,22% kemudian disusul oleh daerah Sesetan ( 56.13 g/g ) dengan efektifitas 18,63% dan terendah daerah Tabanan (20.5 g/g) dengan efektifitas 7,72% . Adanya perbedaan kandungan Pb diketiga lokasi disebabkan oleh faktor kepadatan lalu lintas. Kata kunci:, Sanseviera lorentii, logam berat Pb.lalu lintas

ABSTRACT This research was aimed to see the effectiveness of Sansevieria plants to take up Pb emitted into the air by vehicles in highways Denpasar-Tuban and Denpasar-Tabanan by placing Sansevieria plants in Sesetan and Padangsambian. Other Sansevieria plants, as control, were placed in a remote area, i.e. Munduk Paku village, Penebel, Tabanan. Concentration of Heavy metal (Pb), in the leaves of Sanseviera plants, were measured in analitical laboratories, Udayana University. This study showed that the highest Pb content was found in plants located in Padangsambian (58.31 g/g), followed by plants located in Sesetan (56.13g/g) and the lowest Pb content was found in plants located in Munduk Paku village. Effectiveness of Sansevieria to take up Pb was 19.22%, 18.63% and 7.72% for Padangsambian, Sesetan and Munduk Paku, respectively. This study concluded that different content of Pb in plants is attributed by the level of traffic density. Key words, Sanseviera lorentii, heavy metal Pb, traffic

PENDAHULUAN Di Indonesia, nama sanseviera lebih dikenal dengan nama lidah mertua. Dulu tanaman hias ini hanya dipandang sebelah mata dan dianggap tidak bermanfaat kecuali sebagai tanaman pagar. Tetapi sejak ditemukan jenis-jenis baru yang memiliki variasi warna dan corak daun. S anseviera mulai diperhatikan orang (Purwanto.A.W, 2006) Sanseviera memiliki
102

keunggulan yang jarang ditemukan pada tanaman lain, yaitu sangat resisiten terhadap polutan dan bahkan mampu menyerapnya. Hal ini dikarenakan Sanseviera mengandung bahan aktif pregnane glikosid yang mampu mereduksi polutan menjadi asam organik, gula, dan beberapa senyawa asam amino. Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, menunjukkan bahwa daun Sanseviera mampu

Efektivitas Tanaman Hias Sansevieria Lorentii Dalam Menyerap Polutan Timbal (Pb)

Suriani

menyerap 107 jenis unsur berbahaya di udara; diantaranya karbon monoksida dan timbal. Timbal merupakan logam berat yang sangat berbahaya. Daya racunnya dapat menyebabkan peradangan pada mulut, diare, anemia, mual,sakit perut serta kelumpuhan (Saeni, 1999). Pb sering ditambahkan pada bensin yang berfungsi sebagai anti letup pada kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor sangat besar andilnya didalam menyumbang polutan Pb. Tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas dan kandungan polutan timbal (Pb) pada tanaman Sanseviera lorentii yang dipergunakan sebagai tanaman hias jalan. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah memberikan informasi kepada masyarakat bahwa tanaman hias Sanseviera lorentii selain digunakan sebagai tanaman hias juga dapat digunakan sebagai tanaman penyerap polutan Pb BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Analitik Universitas Udayana Kampus Bukit Jimbaran Bali selama 2 bulan. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini berupa tanaman Sansiviera lorentii, Asam sulfat pekat, asam nitrat, dan aquadest. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah oven, timbangan analitik, penumbuk, hot plate, labu takar , AAS, dan alat-alat lain yang diperlukan. Sampel diambil di daerah Renon sebanyak 15 pot. Kemudian ditaruh pada tiga lokasi penempatan sampel. Masing-masing lokasi ditaruh 5 pot. Masingmasing lokasi tersebut adalah: Lokasi pertama di Desa Munduk Paku , Penebel Tabanan merupakan kontrol karena sedikit kendaraannya. Lokasi kedua di Desa Padang Sambian, Denpasar Barat, yang merupakan daerah dengan lalu lintas kendaran padat, dan lokasi ketiga di daerah Sesetan, Denpasar Selatan yang juga dengan lalu lintas kendaraan padat. Sebelum sampel tanaman ditaruh di ketiga lokasi, sampel diambil secara komposit untuk dianalisis logam berat Pb-nya di Laboratorium untuk mengetahui kandungan Pb awal (Ho).

Kemudian sampel ditaruh selama 1 bulan di masing-masing lokasi yang telah ditentukan. Setelah satu bulan sampel di masing-masing lokasi dianalisis lagi kandungan logam Pb-nya untuk mengetahui kandungan logam berat Pb akhir. Sampel dipotong kecil-kecil masing-masing sebanyak 0,5 kg dimasukkan ke dalam kantong kertas. Kemudian dikeringkan dalam oven 110 o C, sampai beratnya konstan. Selanjutnya sampel ditumbuk dan ditimbang sebanyak 0,3 g dan dimasukkan ke dalam labu destruksi. Kemudian ditambahkan asam sulfat secara hati-hati. Larutan dipanasi secara perlahan-lahan sampai larutan berwarna hitam, lalu ditetesi larutan asam nitrat pekat sebanyak 10 sampai 20 tetes sampai larutan berwarna jernih (kekuningan) . Kemudian larutan didinginkan dan diencerkan dengan aquades sampai 25 ml kemudian dikocok. Lalu larutan disaring sehingga diperoleh filtrat. Filtrat tersebut dianalisis dengan AAS. Data kemudian disajikan dalam bentuk tabel, untuk melihat perbandingan efektifitas kandungan logam berat Pb pada masing-masing lokasi yang ditunjukkan oleh histogram. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan kandungan logam berat Pb setelah ditaruh selama sebulan di tiga lokasi yaitu lokasi yang kepadatan lalu lintasnya rendah yang dianggap kontrol (daerah Munduk Paku, Senganan, Penebel, Tabanan) dan lokasi yang kepadatan lalu lintasnya tinggi yaitu daerah Denpasar (Padangsambian dan Sesetan). Secara rinci mengenai hasil rata-rata Pb di tiga lokasi disajikan pada Tabel 1. Data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kandungan rata-rata Pb. Pb tertinggi terjadi di daerah Padangsambian (58.31 g/g), kemudian disusul oleh daerah Sesetan ( 56.13 g/g ) dan terendah daerah Tabanan (20.5 g/g). Hal ini disebabkan oleh faktor kepadatan lalu lintas. Mengingat daerah Padangsambian dan Sesetan merupakan daerah yang tergolong lalu lintas padat dan daerah Tananan tergolong lalu
103

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

lintas tidak padat. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Bumi Tunjungan (2011), bahwa pada daerah yang padat lalu lintas kandungan Pb di udara juga tinggi, karena adanya penambahan Pb pada bahan bakar premium yang berfungsi sebagai anti letup pada kendaraan dan sepeda motor. Tingginya penyerapan logam Pb pada tanaman Sansiviera lorentii, (Tabel 1) disebabkan karena tanaman Sansiviera lorentii, mampu menyerap polutan secara optimal. Kemampuan menyerap ini mungkin disebabkan oleh fakta morfologi ataupun fisiologi. Secara morfologi, Sansiviera memiliki tekstur daun yang kasar dan tebal sehingga sangat resisten terhadap polutan (Whika FD, 2010). Secara fisiologi, tanaman ini mengandung bahan aktif pregnane glikosid yang mampu mereduksi polutan menjadi asam organik, gula, dan beberapa senyawa asam amino (Trubus XXXVI, 2006). Namun demikian menurut Ekawati dkk (2009) masing-masing jenis tanaman Sansiviera memiliki daya serap terhadap racun yang berbeda-beda, dimana Sansiviera lorentii memiliki daya serap terhadap racun paling tinggi dan tidak menunjukkan kerusakan organ tanaman. Sansiviera juga

mampu menyerap ratusan racun di udara. Badan NASA international menggunakan tanaman Sansiviera sebagai tanaman peredam radiasi nuklir dengan cara menanam 100 hektar tanaman Sansiviera di sekitar badan nuklir (Bumi Tunjungan, 2011). Tanaman Sansiviera juga diminati oleh Negara Jepang yang menggunakan tanaman ini sebagai tanaman dalam ruangan yang dapat menetralisir racun-racun yang ada dalam ruangan. Kemampuan sansiviera ini merupakan keuntungan bagi Indonesia karena sampai saat ini Indonesia tercatat sebagai pengekspor terbesar Sansiviera ke Negara Jepang. Untuk melihat perbandingan efektifitas penyerapan logam berat Pb pada masing-masing lokasi penelitian maka data disajikan dalam bentuk grafik (Gambar 2). Data pada Gambar 2 memperlihatkan bahwa efektifitas penyerapan Pb tertinggi terdapat pada sampel yang diletakkan di daerah Padangsambian (19.22%). Karena di daerah ini berdasarkan hasil survey kepadatan lalu lintasnya tinggi dan peletakan sampel dekat sekali dengan jalan raya. Hal ini juga didukung oleh penelitian Ekawati dkk (2010) bahwa efektifitas penyerapan sansiviera terhadap logam Pb

104

Efektivitas Tanaman Hias Sansevieria Lorentii Dalam Menyerap Polutan Timbal (Pb)

Suriani

sangat dipengaruhi oleh kepadatan lalu lintas. Karena semakin padat lalu lintas maka Pb yang dilepas oleh kendaraan bermotor ke udara semakin tinggi. Sehingga efektifitas penyerapan sansiviera terhadap logam berat Pb semakin tinggi. Hal ini didukung oleh Novirina H (2007) dan Faizin (2005) bahwa semakin padat lalu lintas maka logam Pb yang diserap oleh tanaman dari udara juga semakin tinggi. Sansiviera dapat dijadikan sebagai filter udara, sehingga udara menjadi bersih dan sehat (Trubus XXXVI,2006). Bumi Tunjungan (2011) menyatakan bahwa 5 helai daun Sansiviera dapat membersihkan ruangan yang berukuran 100m3. KESIMPULAN Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan; terjadi peningkatan kandungan logam berat Pb pada tanaman hias Sansiviera lorentii setelah ditaruh selama 1 bulan di lokasi yang padat lalu lintas. Kandungan Pb tertinggi ditemukan di daerah Padangsambian (58.31 g/g), disusul daerah Sesetan (56,13 g/g) dan lokasi yang jarang lalu lintas yaitu daerah Tabanan (20,5 g/ g g/g ). Efektifitas Penyerapan logam berat Pb oleh tanaman Sansiviera lorentii tertinggi terdapat di daerah Padangsambian 19,22 % sisusul oleh daerah Sesetan 18,63 % dan terendah terdapat di daerah Tabanan 7,72 %. Efektifitas penyerapan logam berat Pb oleh tanaman Sansiviera lorentii sangat dipengaruhi oleh kepadatan lalu lintas. DAFTAR PUSTAKA Almatsier. 2000. Ilmu Gizi.PT. Gramedia. Bumi Tunjungan. 2011. Sanseivera Tanaman Penyerap Racun. Available at : http://www.bumi tunjungan.blogsport.com/2011/01 Darmono. 1995. Logam Dalam Sistem Makhluk Hidup. UI-PRES. Deny. 2011. Kandungan logam berat Pb dan Cd pada Sayuran Wortel dan Sawi Hijau. Hasil Penelitian.

Ekawati dkk.2009. Tanggapan Pertumbuhan Sanseivera Sanseivera spp Terhadap Logam berat Pb. Hasil Penelitian. Faizin. 2005. Kandungan Logam Berat Pb pada Tanaman Hias Sanseivera Hasil Penelitian Kohar dkk. 2004. Studi Kandungan Logam Berat Pada Taaman Kangkung. Jurnal MakaraSain Vol 8 no 3 Novirina.H.2007. Kajian Efektifitas Tanaman Dalam Menyerap Kandungan Pb di Udara. Jurnal Rekayasa Perencanaan. Vol.3.No 2. Saeni,M. 2000. Kimia Lingkungan.. Diktat. PAU IPB Bogor. Tidak Dipublikasikan. Sudarmaji dkk. 2006. Toksikologi Logam Berat B-3 dan Dampaknya terhadap Kesehatan. Jurnal Kesehatan Lingkungan.Vol.2 No 2. Suriani. 2008. Kualitas Air Mangrove Ditinjau Dari Sitaf Fisik-Kimia Di Hutan Mangrove Patung Ngurah Rai Tuban Denpasr Selatan Bali. Jurnal Ilmu Lingkungan. Ecotrophic. ISSN 1907-5626. Unud. Suriani dan Susun.2010. Uji Kandungan Logam Berat Pb dan Cd pada Buah Apel Lokal Rum Biuty dan Buah Apel Import Fuji yang Beredar di Kota Denpasar. Laporan Penelitian . Susun dan Suriani. 2010. Bioremediasi Logam Berat Pb dan Cd pada Limbah Pencelupan dengan Tanaman Air. Laporan Peneltian. Sutyawathi.2011. Kandungan Logam Berat Pada Bayam Cabut. Hasil Penelitian Trubus XXXVI. 2006. Sisk Building Syndrome. Tanaman Penyerap Racun. Jakarta. Whika FD. 2010. Uji Anatomi dan Molekuler Sanseivera trifasciata . Jurnal Matematika, Sains dan Teknologi Vol. 11. No.2.

105

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

EFEKTIVITAS HASIL FRAKSINASI EKSTRAK DAUN SEMBUNG DELAN (Sphaerantus indicus L.) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN Alternaria sp. dan Phytopthora sp.
Ida Bagus Gede Darmayasa Fakultas MIPA Jurusan Biologi Universitas Udayana
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas hasil fraksinasi ekstrak daun Sembung Delan (Sphaeranthus indicus L.) dalam menghambat pertumbuhan jamur Alternaria sp dan Phytopthora sp. Fraksi ekstrak diperoleh dengan menggunakan metode Kromatografi Kolom dan kromatografi lapis tipis. Untuk mendapatkan fraksi aktif dalam menghambat pertumbuhan kedua jenis jamur yang diujikan digunakan moteda modifikasi Kirby Bauer tahun 1986. Hasil penelitian menunjukkan, ekstrak kasar Sembung Delan dapat menghambat pertumbuhan jamur Alternaria sp. dan Phytopthora sp. Berdasarkan analisis statistik ada perbedaan yang signifikan (P<0,05) antara kontrol dengan perlakuan konsentrasi ekstrak yang diberikan. Rata-rata pertumbuhan koloni jamur yang diujikan mengalami penurunan dengan semakin meningkatnya konsentrasi. Dari 17 fraksi yang diperoleh melalui fraksinasi, hanya fraksi IX (dilarutkan dengan hexan : etil asetat) membentuk 3 spot dengan nilai Rf berturut-turut 0,7; 0,78; dan 0,86 dan fraksi X dengan pengembang yang sama dengan fraksi X membentuk 4 spot dengan masing-masing nilai Rf 0,58; 0,74; 0,78, dan 0,84. menunjukkan hasil positif dalam menghambat pertumbuhan kedua jenis jamur yang diujikan. Kata Kunci: Fraksinasi, Sembung Delan, Alternaria sp. dan Phytopthora sp. ABSTRACT This study was aimed to investigate the effectiveness of fractionized sembung delan leaf extract to inhibit the growth of 2 fungi species, Alternaria sp. and Phytophthora sp. Methods employed to fractionize the extract was column and thin layer chromatography and 17 fractions were obtained from leaf extract of sembung delan. Effect of this fractionized extract on fungi growth was measured using modification method by Kirby Bauer (1986). This study showed that the growth of both Alternaria sp. and Phytophthora sp. were inhibited by leaf extract of sembung delan. In this study, the growth of its colony was found decreasing when concentration of extract applied into media was increasing and relative to the growth of control, the growth of fungi treated with leaf extract was significantly lower (p<0.05). Among those 17 fractions, only 2 fractions were showing spots, i.e. fraction no. 9 and 10. Although fractions no. 9 and no.10 using a same solvent (Hexane: ethyl acetate), there was 3 spots found in fraction 9 and 4 sport was found in fraction 10. Rf values for the spots were 0.7, 0.78 and 0.86 for fraction no. 9 and 0.58, 0.74, 0.78 and 0.84 for fraction no. 10. These values indicated a positive effect of the extract in inhibiting growth for those two fungi species. Key words: Fractionation, Sembung Delan, Alternaria sp. dan Phytophthora sp.

106

Efektivitas Hasil Fraksinasi Ekstrak Daun Sembung Delan (Sphaerantus Indicus L.) ....

Darmayasa

PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara agraris selalu berupaya untuk meningkatkan hasil usaha pertanian. Salah satu dari sektor pertanian yang cukup mendapatkan perhatian dari pemerintah adalah usaha perkebunan hortikultural, karena kebutuhan akan hasil tanaman tersebut terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Dalam meningkatkan produksi tanaman hortikultural, berbagai upaya telah dilakukan, diantaranya adalah mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman tersebut. Beberapa jenis jamur dapat menyebabkan penyakit pada tanaman hortikultur. Tanaman yang terserang oleh jamur dapat menunjukkan gejala tanaman menjadi tidak sehat sampai menimbulkan kematian. Diantara jenis jamur yang sering menyerang tanaman sayuran adalah dari genus Altenaria yang dapat menimbulkan bercak-bercak (nekrosis) pada daun (Semangun,1996). Tanaman yang diserang antara lain kacang tanah kedelai, sorgum, ubi jalar dan lain-lain (Agrios, 1996). Dan dari genus Phytoptora dapat menyebabkan Late blight pada beberapa jenis tanaman (Agrios, 1996). Phytopthora sp. dapat menyebabkan penyakit rebah semai yang sangat merugikan. Sebagian besar genotip kacang hijau koleksi Balitkabi rentan terhadap patogen ini, dan serangan tertinggi terlihat pada stadium awal pertumbuhan dan mampu mengurangi populasi tumbuhan (Hardaningsih, 2011). Beberapa species dari genus Phytopthora merupakan penyebab penyakit yang penting pada bidang kehutanan dan juga dapat menyerang tanaman hias (Sierra et all, 2010). Usaha pengendalain penyakit tanaman yang disebabkan oleh jamur yang dilakukan oleh petani masih bertumpu pada penggunaan fungisida sintetis. Penggunaan pestisida sisntetis yang kurang bijak dalam arti penggunaan yang tidak sesuai dengan aturan dan cara pemakaian yang tidak tepat dapat menyebabkan timbulnya berbagai dampak negatif, seperti keseimbangan mikroba dalam tanah terganggu, terjadinya

resistensi pada jamur patogen, terbunuhnya mikroba non target, kesuburan tanah lambat laun akan menurun dan residunya yang tidak mudah terurai sering mencemari air, udara, tanah dan manusia (Nordland dkk., 1981; Girsang, 2009). Untuk mengurangi penggunaan pestisida sintetis, dan dalam mengembangkan pertanian organik perlu dilakukan usaha untuk mencari tumbuhan yang memiliki potensi yang dapat dikembangkan sebagai pestisida nabati. Indonesia merupakan suatu negara yang terletak di daerah tropis, kaya akan berbagai jenis tumbuhan. Tumbuhan tersebut kemungkinan dapat digunakan sebagai bahan dalam pembuatan fungisida nabati. Data penelitian mengenai tumbuhan yang memiliki kemampuan sebagai pestisida nabati sangat terbatas. Oleh karena itu dalam penelitian ini dicoba, secara Invitro salah satu jenis gulma yaitu tumbuhan Sembung Delan (Sphaeranthus indicus L). untuk dilihat kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan Alternaria sp. dan Phytopthora sp. Sembung Delan (Sphaeranthus indicus L) sebagai salah satu jenis tumbuhan liar yang terdapat di areal persawahan, memiliki aroma yang khas dan dianggap sebagai gulma padi (Soerjani, dkk., 1987). Tumbuhan tersebut termasuk dalam famili Composittae (Robinson, 1995). Hasil penelitian yang pernah dilaporkan bahwa tanaman tersebut telah mampu menghambat pertumbuhan beberapa jenis bakteri seperti bakteri Pseudomonas solanacearum penyebab busuk layu pada tanaman tomat (Darmayasa, 2006). Darmayasa (2008) melaporkan ekstrak daun Sembung Delan juga memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan bakteri Eschericia coli dan Staphylococcus aureus. MATERI DAN METODE Metode Ekstraksi Daun Sembung Delan yang telah dikering anginkan, diblender sampai menjadi bentuk tepung, kemudian ditimbang sebanyak 200 g,
107

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

dan dimaserasi tiga kali dengan 2 L metanol. Maserasi pertama dilakukan selama 72 jam pada suhu kamar dan maserasi berikutnya selama 24 jam. Filtrat yang diperoleh melalui penyaringan hasil maserasi diuapkan dengan vaccum rotary evaporator pada suhu 40oC untuk memisahkan solven dan ekstrak (Harborne, 1996 ; Gunawan et all, 2008). Ekstrak kasar yang diperoleh diencerkan dengan methanol 99,9% sehingga didapat konsentrasi 100 ppm, 1000 ppm dan 10.000 ppm.

Bioasai Ekstrak Kasar Daun Sembung Delan terhadap Beberapa Jamur Patogen Pada Tanaman Penelitian ini menggunakan jamur Alternaria sp. dan Phytopthora sp. yang diperoleh dari stok kultur Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Jamur tersebut diremajakan dengan cara menginokulasikan masing-masing jamur dengan menggunakan ose steril ke dalam cawan petri yang telah berisi media Potato Dextrose Agar (PDA), dan diinkubasikan selama 6 hari pada suhu kamar. Koloni yang tumbuh siap digunakan untuk uji daya hambat. Potensi daya hambat ekstrak kasar Sembung Delan dilakukan dengan cara memipet 1 mL masing-masing konsentrasi ekstrak kasar dituangkan ke dalam masing-masing cawan petri yang telah diberi label, dituangkan 10 mL media PDA (suhu 40oC), digoyang secara simultan sampai merata, dan biarkan memadat. Koloni jamur uji yang telah disiapkan dengan diameter 0,5 mm diletakkan ditengah masing-masing cawan petri yang telah berisi campuran media dengan konsentarsi ekstrak daun Sembung Delan. Koloni jamur yang diinokulasi pada cawan petri yang berisi campuran media dengan pelarut methanol berperan sebagai kontrol. Semua cawan petri tersebut selanjutnya diinkubasi pada suhu kamar selama 4 hari. Daya hambat ekstrak daun sembung delan ditentukan dengan mengukur diameter koloni jamur yang
108

tumbuh pada cawan petri yang telah berisi campuran media dengan konsentrasi ekstrak. Dengan cara yang sama dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali dan hasilnya dirata-ratakan. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisys of variance(Steel dan Torrie, 1993). Kemampuan daya hambat masing-masing fraksi ekstrak kasar daun Sembung Delan dilakukan dengan menggunakan modifikasi metode Kirby Bauer tahun 1986, yaitu dengan cara hasil fraksi ekstrak kasar daun Sembung Delan didepositkan pada 2 kertas cakram kemudian diletakkan masing-masing dengan jarak 1 cm sisi kiri dan kanan dari koloni jamur uji (Hewitt and Stephenl. 1986; Anonim, 2011). Hasil positif ditujukkan oleh tidak tumbuhnya jamur disekitar kertas cakram setelah jamur diinkubasi selama 4 hari pada suhu kamar. Metode Fraksinasi Ekstrak kasar daun Sembung Delan difraksinasi menggunakan Kolom Kromatografi dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Sebanyak 11,47 g ekstrak kasar dilarutkan dalam 60 mL metanol : aceton (1 :1) ditambahkan 10 gr silica gel (Wako gel c 300, particel size 40 75m), lalu dievaporasi. Ekstrak kasar yang telah berbentuk kristal dimasukkan ke dalam colomn yang panjangnya mencapai 60 cm dengan diameter 3 cm, dimana colomn tersebut sebelumnya diisi 90 g silica gel dalam 300 mL n hexana. Untuk mendapatkan fraksi dari ekstrak kasar, selanjutnya colomn dilewati eluent dengan tingkat kepolaran yang berbeda yaitu hexan, 10% ethyl acetate dalam hexane, 30% acetate dalam hexane, 50% acetate dalam hexane, ethyl acetate, 5% methanol dalam ethyl acetate, 10% methanol dalam ethyl acetate, 20% metahol dalam ethyl acetate. Setiap evluent yang melewati colomn, ditampung sebanyak 50 mL. Tampungan I dianggap sebagai fraksi satu dan hasil tampungan berikutnya sebagai fraksi ke dua dan seterusnya. Berat masing-masing fraksi diperoleh setelah hasil tampungan I dan seterusnya dievaporasi.

Efektivitas Hasil Fraksinasi Ekstrak Daun Sembung Delan (Sphaerantus Indicus L.) ....

Darmayasa

Selanjutnya masing-masing fraksi dilarutkan dalam 2 mL metanol aceton lalu di KLT dengan plate KLT berukuran 10 cm x 10 cm (Keisel Gel 60 F245). Fraksi yang menunjukkan tanda pemisahan senyawa yang sama pada plate KLT, kemudian digabung menjadi satu fraksi . HASIL Berdasarkan uji In-vitro Ekstrak daun Sembung Delan terhadap pertumbuhan jamur Alternaria sp. dan Phytopthora sp. pada media PDA diperoleh hasil positif. Rata-rata diameter kedua koloni jamur yang diujikan mengalami penurunan dengan semakin meningkatnya konsentrasi ekstrak yang diberikan. Pada konsentrasi 10000 ppm diameter koloni jamur alternaria sp sebesar 1,13 cm jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kontrol yang hanya diberikan pelarut metanol yaitu sebesar 3,53 cm. Bahkan pada perlakuan dengan konsentrasi 10000 ppm ekstrak daun Sembung Delan tidak terjadi pertumbuhan jamur phytopthora sp. yang diujikan pada media PDA. Data selengkapnya disajikan pada tabel 1. Sebanyak 17 fraksi diperoleh dari fraksinasi ekstrak daun Sembung Delan dengan menggunakan metode kolom kromatograsi. Dari 17 fraksi tersebut, hanya fraksi IX dan X memberikan hasil positif (Tabel 2). Pemisahan

KLT dengan pengembang hexan : etil asetat terlihat fraksi IX membentuk 3 spot dengan nilai Rf berturut-turut sebesar 0,7; 0,78; dan 0,86 sedangkan fraksi X dengan pengembang yang sama dengan fraksi X membentuk 4 spot dengan masing-masing nilai Rf sebesar 0,58; 0,74; 0,78, dan 0,84. PEMBAHASAN Ekstrak kasar daun Sembung Delan memberikan hasil positif dalam menghambat kedua jenis jamur yang diujikan. Hal ini berarti bahwa ekstrak daun Sembung Delan mengandung bahan aktif yang mampu menghambat pertumbuhan baik jamur Altenaria sp maupun Phytopthora sp. Menurut Robinson (1995) Sembung Delan termasuk dalam famili Compositae mengandung senyawa ester asam asetilenat, hidrokarbon asetelina dan alkohol. Namun dalam hal ini belum dapat dipastikan senyawa mana yang berperan sebagai fungisida. Naim (2004) dan Sukaraga (2010) menyatakan tanaman yang mengandung Flavonoid seperti fenol dapat menyebabkan denaturasi protein dan apabila terjadi pada membran sel jamur dapat mengakibatkan terjadinya gangguan transport bahan-bahan baik dari luar maupun dari dalam sel. Berdasarkan hasil analisis statistik menunjukan jenis jamur dan konsentrasi memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05)

109

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

terhadap pertumbuhan diameter koloni jamur yang diujikan. Rata-rata diameter pertumbuhan koloni kedua jamur yang diujikan mengalami penurunan dengan semakin meningkatnya konsentasi ekstrak yang diberikan. Besar kecilnya daya hambat ekstrak tanaman sangat mungkin ditentukan oleh jenis senyawa aktif, konsentrasi bahan aktif dan jenis mikroorganisme uji. Menurut Mustika dan Racmat (1993) konsentrasi suatu bahan yang berfungsi sebagai antimikroba merupakan salah satu faktor penentu besar kecil kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan mikroba yang diuji. Lingga dan Rustama (2005) juga menyatakan semakin tinggi konsentrasi suatu bahan antimikroba maka semakin tinggi pula kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan mikroba tersebut. Pada tabel 1 dapat dilihat rata-rata diameter pertumbuhan koloni jamur Alternaria sp. lebih besar jika dibandingkan dengan pertumbuhan jamur Phythoptora sp. pada pemberian konsentrasi ekstrak yang sama. Perbedaan ini mengindikasikan Alternaria sp lebih resisten jika dibandingkan dengan jamur Phythoptora sp. Perbedaan struktur dan proses fisiologis mungkin merupakan penyebab terjadinya perbedaan
110

dalam merespon adanya senyawa aktif yang terkandung dalam daun Sembung Delan. Nester at all (2007) menyatakan bahwa respon jamur terhadap fungisida dipengaruhi oleh perbedaan species jamur yang diujikan. Bahan yang bersifat anti fungi dapat mengganggu fungsi membran plasma, sintesis dinding sel dan menggangu proses terjadinya pembelahan sel. Fraksi IX dan Fraksi X menunjukkan hasil positif dari 17 fraksi yang diperoleh. Hal ini berarti kedua fraksi tersebut mengandung senyawa fungitoksik yang mampu menghambat pertumbuhan Alternaria sp. dan Phytopthora sp. Hasil pemisahan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dari Fraksi IX dan X masing-masing membentuk 3 spot dan 4 spot. Perbedaan jarak spot dari hasil KLT baik pada fraksi IX dan X menunjukkan ada senyawa yang berbeda yang terkandung dalam masing-masing fraksi. Dalam penelitian ini belum diketahui senyawa mana dari hasil pemisahan tersebut mampu menghambat pertumbuhan jamur yang diujikan. Menurut Metreux dan Raskin (1993) bahwa salah satu senyawa yang dihasilkan oleh tumbuhan yang dapat bersifat sebagai fungitoksik yang mampu mengambat germinasi jamur adalah senyawa

Efektivitas Hasil Fraksinasi Ekstrak Daun Sembung Delan (Sphaerantus Indicus L.) ....

Darmayasa

fenolik. Senyawa tersebut secara alami diproduksi oleh tumbuhan akibat tanggapan umum tumbuhan terhadap serangan mikroorganisme. Suprapta (2001) menyatakan ada beberapa jenis senyawa yang dapat berfungsi sebagai antijamur yang dihasilkan oleh tumbuhan seperti: saponin, sianogenik glikosida dan glukosinolat. Dilimartha (2001) pernah melaporkan bahwa senyawa glikosida yang terkandung pada daun Sembung Besar (Blumea balsimifera) dapat berfungsi sebagai senyawa antijamur. Hal ini belum dipastikan apakah senyawa glikosida yang terkandung pada daun Sembung Besar juga terdapat pada daun Sembung Delan, sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui senyawa yang dapat berfungsi sebagai fungisida. KESIMPULAN Ekstrak kasar daun Sembung Delan yang diuji secara in vitro pada media PDA mampu menghambat pertumbuhan jamur Alternaria sp. dan jamur Phytopthora sp. Ada perbedaan yang signifikan antara kontrol dengan perlakuan konsentrasi ekstrak kasar yang diberikan. Hanya fraksi IX dan fraksi X dari 17 fraksi yang diperoleh mampu menghambat pertumbuhan kedua jenis jamur yang diujikan. UCAPAN TERIMA KASIH Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Prof. Dr. Ir. Dewa Ngurah Suprapta, MSc. dan Prof. Dr. Ir. Nyoman Arya, M.Agr.(Alm) atas bantuan fasilitas dan bimbingannya serta kepada Ir. Anak Agung Gede Raka Dalam, MSc. (Hort) atas koreksinya sehingga tulisan ini dapat diselesaikan. KEPUSTAKAAN Agrios, G.N. 1996. Plant Patology. Third Edition. Academic Press, INC. Santiago. California. Anonim, 2011. Sensitibilitas Test Metode KirbyBauer. http//eema-kharisma Blog spot.

Com/2011/senstibilitas-test metode Kirby-bauer.html. Dalimartha, S..2001. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Penerbit Trubus Agriwidya. Darmayasa, I.B.G. 2006. Daya Hambat Fraksinasi Ekstrak Daun Sembung Delan (Sphaeranthus indicus, L) Terhadap Pseudomonas solanacearum L. Penyebab Penyakit Layu pada Tanaman Tomat. J. Bumi Lestari.6. hal 24.. Darmayasa, I.B.G.. 2008. Daya Hambat Fraksinasi Ekstrak Daun Sembung Delan (Sphaeranthus indicus, L) Terhadap Bakteri Eschericia coli dan Staphylococcus aureus. J.Bio.12 hal. 74. Girsang, W.2009. Dampak Negatif Penggunaan Pestisida. At. http//usitani;wordpress com/2009/02/26/dampak-negatifpenggunaan-pestisida.Opened: 2882011 Harborne, J.B. 1996. Metode Fitokimia. Edisi ke dua. Terjemahan Kosasih padmawinata dan Inang Soedira. Penerbit ITB Bandung 1996. Hewitt, W., V. Stephen. 1989. Microbiological Assay. Academic Press. INC. SanDiago, New York. Hardaningsih, S. 2010. Patogenitas Phytopthora sp. Pada Beberapa Genotif Kacang Hijau dan Prospek Pengendaliannnya Menggunakan Trichoderma spp. at.http//www. Peiptikomdas sulsel,org/wp-content/up louds/ 2011/6/7/-Hardiningsih-phatogenitasphytopthora pdf. Lingga, M.A.,MM. Rustama. 2005. Uji Aktibakteri dari ekstrak Air dan Etanol Bawang Putih ( Allium sativum L.) Terhadap Bakteri Gram Negatif dan Gram Positif yang Diisolasi dari Udang Dodol ( Metapenaeus monoceros ), Udang Lobster (Panilirus sp), dan Udang Rebon (Mysis dan Acetes). Jurusan Biologi F MIPA Universitas Padjajaran Bandung.

111

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

Metraux, JP., I. Raskin. 1993. Rule of Phenoliccs in Plant Disease Resistance. Wiley- Liss . INC. Mustika, I., A.S. Rachmat. 1993. Efikasi Beberapa Macam Produk Cengkeh dan Tanaman Lain terhadap Nematoda Lada. Proceeding Seminar Hasil Penelitian Dalam Rangka Pemanfaatan Pestisida. Bogor. hal. 49. Naim, R. 2004. Senyawa Antimikroba dari Tanaman. Available at:http:// www.kompas.com.opened : 021210 Nester, E.W., Denise, G. A., C Evans, Jr. Martha T. N. 2007. Microbiology. Fifth Edition. Higher Education. Nordland, D.A., L.J. Richard, W. L. Joe. 1981. Smiochemicals Their Role in Pest Control. A Wiley-Interscience Publication New York . Robinson, T.. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi Edisi ke Dua. Penerjemah K. Padmawinata. Penerbit ITB Bandung. Semangun, H.. 1991. Penyakit-penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sierra, A.P., M. Len, L. A. lvarez, S. Alaniz, M. Berbegal, J. Garca-Jimnez, and P. Abad-Campos. 2010 Outbreak of a New Phytophthora sp. Associated with Severe Decline of Almond Trees in Eastern Spain. At. http//nature barkley edu/cotf/pdf/ montly report/May 2010/P/neiderhausseri 2010pdf. Soerjani, M., A.J.G.H. Kostermans T. Gembong. 1987. Weed of Rice in Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta. Stee, R.G.D. and J.H.Torrie.1993. Prinsip dan Prosedur Statistika Suatu Pendekatan Biometrik. Penerjemah Bambang Sumantri.PT. Gramedia Pustaka Utama:Jakarta. Sukaraga, I W. 2010. Aktivitas Antijamur Ekstrak Rimpang Lengkuas (Alpinia galanga ) Dalam Menghambat Pertumbuhan Mucor sp yang mengkontaminasi Produk Abalone Kering ( Haliotis asinina ) Tesis Program Magister. PS. Bioteknologi Universitas Udayana. hal. 70. Suprapta, D.N.. 2001. Senyawa Antimikroba dan Pertahanan Tumbuhan Terhadap Infeksi Jamur. Agritop 20. hal. 42 .

112

PENGARUH PAPARAN ASAP ROKOK TERHADAP KADAR KLOROFIL PADA DAUN TANAMAN CAM, Sansevieria trifasciata
I Gusti Ayu Made Dwi Lestari, I Gede Ketut Adiputra Program Studi Biologi, FMIPA, Universitas Hindu Indonesia, Jl. Sanggalangit, Tembau, Penatih, Denpasar ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh paparan asap rokok terhadap kadar klorofil daun tanaman CAM (Sansevieria trifasciata). Penelitian ini dilakukan menggunakan rancangan faktorial, dimana variabel bebas pertama adalah jumlah rokok dan variabel bebas kedua adalah waktu pemanenan sample. Pemberian paparan dilakukan menggunakan model percobaan pulse-chase yaitu pemberian asap rokok selama 30 menit (pulse) dan mengukur pengaruhnya setelah pemberian paparan (chase). Kadar klorofil diukur dengan spektrofotometer menggunakan metode Wintermans dan De Mots, dengan pelarut alkohol 96 %. Hasil pengukuran dianalisis dengan ANAVA dua arah kemudian diuji lanjut dengan uji HSD Tukey pada taraf signifikansi 5%. Segera setelah pulse, kadar klorofil ditemukan menurun, akan tetapi kadar klorofil ini kemudian meningkat dengan cepat pada periode selanjutnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tumbuhan CAM Sansevieria tidak banyak mengalami kerusakan oleh senyawa toksik yang dihasilkan oleh asap rokok karena periode penyerapan toksin tersebut terjadi ketika tanaman sedang tidak aktif melakukan fotosintesis. Kata kunci : Asap rokok, kadar klorofil, tanaman CAM ABSTRACT This research was aimed to see the effects of cigarette smoke on chlorophyll content in leaf of CAM plant (Sansevieria trifasciata). This research was designed using factorial design, where the first factor was the number of cigarette producing smoke and the second factor was sampling time. Experimental model employed for this research was pulse-chase experiment inwhich smoke of lited cigarette was exposed to Sansevieria plants (pulse) and the effect of this exposure on chlorophyll content were then observed after the pulse (chase). Chlorophyll content in the leaves was extracted using ethanol 96% ( Wintermans and De Mots) and its absorbances were measured using spectrophotometer. Data was analized using two way analysis of variant followed by HSD Tukey in 5% confidence level. Just after the pulse, chlorophyll content was decreased, but the chlophyll were then quickly increased in the ensuing period. This research concluded that CAM plant Sansevieria was only slightly affected by toxic compound produced by smoking because the period of toxin uptake was occurred when the plants was not active photosynthetically. Keyword: cigarette smoke, chlorophyll content, CAM plant

113

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

PENDAHULUAN Tanaman lidah mertua atau yang lebih dikenal dengan nama Sansevieria merupakan jenis tanaman CAM sukulen dari famili Agavaceae. Sebagai tanaman CAM, Sansevieria membuka stomata pada malam hari untuk menyerap CO2. Senyawa CO2 ini kemudian diubah menjadi asam malat dan disimpan dalam tanaman sampai keesokan harinya ketika fotosintesis mulai terjadi. Pada proses ini, CO2 dilepas kembali untuk disintesa menjadi senyawa organik dalam siklus Calvin. Tanaman Sansevieria memiliki kemampuan untuk menyerap polutan yang ada di sekitarnya. Menurut Pramono (2008), satu pohon tanaman S. trifasciata laurentii yang telah memiliki daun 4-5 helai dapat menyegarkan kembali udara dalam ruangan yang luasnya 20 m2. Disamping itu, menurut penelitian yang dilakukan oleh NASA (National Aeronautics and Space Administration) Sansevieria dikatakan mampu menyerap 107 unsur polutan berbahaya yang terdapat di udara (Anonim 2008). Oleh karena itu, Sansevieria dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi polusi udara yang terdapat pada ruangan. Misalnya, penempatan Sansevieria sangat bermanfaat pada ruang yang terkontaminasi asap rokok untuk menyerap racun yang terdapat pada asap rokok tersebut. Sebagaimana telah diketahui bahwa asap rokok mengandung bahan kimia yang sebagian besar bersifat toksik diantaranya adalah nikotin, tar, karbon monoksida, hidrogen sianida, formaldehida, ammonia, fenol, NO2 dan lain-lain (Kabo 2008). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), senyawa toksik ini dapat menyebabkan berbagai penyakit baik bagi perokok maupun bukan perokok (Susana et al., 2003). Walaupun Sansevieria dikatakan mampu menyerap polutan, tetapi mekanisme fisiologi yang menyebabkan tanaman ini tidak mengalami kerusakan akibat polutan masih belum jelas. Pada beberapa penelitian ditemukan bahwa

polusi udara dapat merusak proses fisiologi pada tanaman. Misalnya, Kadar klorofil pada tanaman ditemukan mengalami penurunan setelah ditempatkan pada daerah yang kadar polutannya tinggi (Anggarwulan dan Solichatun 2007; Rahayu 1995; Rantung 2006; Roziaty 2009). Oleh karena klorofil sangat penting bagi tanaman untuk melakukan aktivitas autotrofik, penurunan kadar klorofil ini pada tanaman dapat mengakibatkan menurunnya penghasilan bahan organik untuk pertumbuhan. Oleh karena itu, kemampuan menanggulangi polusi oleh tanaman Sansivieria menjadi pertanyaan, terutama apakah tanaman CAM Sansevieria ini memiliki perbedaan fisiologis sehingga mampu terhindar dari kerusakan yang diakibatkan oleh polutan tersebut. Berbeda dengan Sansevieria, jenis tanaman yang dilapokan mengalami kerusakan akibat polutan ini memiliki struktur daun yang berbeda. Pada penelitian yang dilakukan oleh Anggarwulan dan Solichatun (2007), tanaman yang digunakan adalah Plantago major dan Phaseolus vulgaris yang merupakan tanaman C3, memiliki struktur daun yang tipis. Demikian juga tanaman yang digunakan oleh Rahayu (1995), Roziaty (2009) dan Rantung (2006), memiliki struktur daun yang tipis (sengon dan angsana). Selain itu, tanaman yang dilaporkan mengalami kerusakan ini hampir semuanya mengambil CO2 pada siang hari yaitu ketika tanaman sedang aktif melakukan fotosintesis. Apabila pengambilan CO2 tersebut disertai dengan masuknya bahan toksik dari polutan, maka juga berarti bahwa bahan toksik memasuki tanaman ketika tanaman sedang aktif melakukan fotosintesis. Pada kondisi ini, klorofil mengalami degradasi karena polutan dapat secara langsung terlibat dalam proses fisiologi tanaman yang kemudian diekspresikan dalam gangguan pertumbuhan. Oleh karena itu pada tanaman tersebut, polutan menyebabkan perubahan pada tingkatan biokimia sel kemudian diikuti oleh perubahan fisiologi pada tingkat individu hingga tingkat komunitas tanaman (Siregar, 2005).

114

Pengaruh Paparan Asap Rokok Terhadap Kadar Klorofil ....

Dwi Lestari dan Adiputra

Diduga bahwa struktur daun dan mekanisme pengambilan CO 2 pada tanaman CAM menentukan kemampuan tanaman untuk resisten terhadap polutan. Oleh karena itu, pada penelitian ini kadar klorofil pada daun Sansevieria diukur setelah tanaman ini diberi paparan asap rokok pada malam hari. BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2011, di Laboratorium Biologi, FMIPA UNHI Denpasar. Penelitian dirancang menggunakan modifikasi rancangan eksperimen pulse-chase (Adiputra dan Anderson 1992; Budhi et al., 1990; Thorpe 1984). Metode pulse-chase yaitu memberikan sejumlah senyawa selama periode waktu ke dalam tumbuhan kemudian mengamati pengaruhnya setelah pemberian tersebut. Jumlah senyawa atau asap yang diberikan selama periode pulse bervariasi dari tanpa batang rokok (R0) , 1 batang rokok (R1), 3 batang rokok (R2), dan 5 batang rokok (R3).. Periode pulse adalah periode selama rokok masih menyala (mengeluarkan asap). Pengaruh dari paparan asap rokok kemudian diamati selama periode chase yaitu 30 menit setelah pemaparan (T0); 3 hari setelah pemaparan (T1), 6 hari setelah pemaparan (T2), dan 9 hari setelah pemaparan (T3). Dari kedua periode perlakuan tersebut diperoleh 16 kombinasi perlakuan antara lain: (T0R0, T0R1, T0R2, T0R3), (T1R0, T1R1, T1R2, T1R3), (T2R0, T2R1, T2R2, T2R3), (T3R0, T3R1, T3R2, T3R3) masing-masing diulang dua kali, sehingga diperoleh 32 satuan percobaan dengan pengukuran absorbans secara duplo (dua kali pengukuran). Sampel penelitian yang digunakan adalah Sansevieria trifasciata var. laurentii dengan warna daun, tinggi daun dan komposisi tanah yang seragam. Tanaman ini diperoleh di kawasan penjualan tanaman hias di Denpasar. Pemaparan asap rokok dilakukan pada pukul 21.00 wita, mengingat Sansevieria merupakan jenis tanaman CAM (Taiz dan Zeiger 2011). Rokok yang digunakan dalam pemaparan

asap rokok adalah rokok jenis kretek (nonfilter), merk tali jagat dengan kandungan nikotin sebanyak 2,7 mg dan tar sebanyak 43 mg. Pemaparan dilakuakan dengan menempatkan rokok yang menyala tepat di sisi tanaman. Selanjutnya, tanaman disungkup sesuai dengan kombinasi perlakuan. Penempatan tanaman di dalam sungkup plastik diberi jarak 15 cm antar tanaman. Sampel yang diambil setelah pemaparan adalah daun yang paling muda, ditimbang sebanyak 2 gram kemudian ditempatkan pada wadah plastik dan ditambahkan alkohol 96% sebanyak 20 ml. Keesokan harinya, rendaman daun digerus dengan mortal dan alu kemudian ditambahkan kembali alkohol 96% sebanyak 20 ml. Selanjutnya, dicentrifuge dengan kecepatan 1200 rpm selama 5 menit. Filtrat kemudian diukur absorbansinya pada 649 dan 665 nm dengan menggunakan spektrofotometer (Apel PD 303S) mengikuti metode yang dikemukakan Wintermans dan De Mots (Aminot dan Rey 2000; Anonim 2011). Nilai absorbansi yang diperoleh, dikonversikan dengan rumus yang dikemukakan Wintermans dan De Mots yang dikutip oleh Susiyanti dkk., (2007). Klorofil a = (13,7 x 665) (5,76 x 649) = g klorofil ml-1 Klorofil b = (25,8 x 649) (7,60 x 665) = g klorofil ml-1 Total klorofil = Klorofil a + klorofil b. Data yang diperoleh dianalisis dengan ANAVA dua arah dengan pengolahan data menggunakan program SPSS statistic versi 17.0. Kemudian diuji lanjut dengan uji HSD Tukey pada taraf signifikansi 5%. HASIL Pengukuran yang dilakukan, segera setelah pemaparan dengan 1, 3 dan 5 batang rokok, menunjukkan terjadinya penurunan kadar klorofil pada daun Sansevieria baik pada klorofil a, b maupun total klorofil (Gambar 1, 2 dan 3). Pada pengukuran ini, kadar klorofil a pada daun yang diberi paparan 1, 3 dan 5 batang rokok masing115

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

masing adalah 72,2, 69,8 dan 84,8 % relatif kontrol (Gambar 1). Sementara itu, klorofil b ditemukan sebanyak 63,3, 59,6 dan 73,7% relatif kontrol untuk R1, R2 dan R3 (Gambar 2). Sedangkan untuk klorofil total, kadar relatif kontrol ditemukan sebanyak 65,5, 64,0 dan 78,4%, masing-masing untuk R1, R2, R3 (Gambar 3). Kadar klorofil a pada daun yang diberi paparan asap rokok ini kemudian mengalami kenaikan, tetapi daun yang digunakan sebagai kontrol mengalami penurunan kadar klorofil. Relatif terhadap kadar yang ditemukan pada T0, kadar klorofil yang ditemukan pada T1 masingmasing naik sebanyak 18.0, 0.9 dan 5.3% untuk R1, R2 dan R3. Akan tetapi kadar klorofil yang ditemukan pada kontrol justru mengalami penurunan sebanyak 15% (Gambar 1). Kejadian seperti ini juga ditemukan pada klorofil b (Gambar 2) dan total klorofil (Gambar 3), yaitu kadar klorofil pada daun yang diberi paparan asap rokok mengalami kenaikan sedangkan pada kontrol justru terjadi penurunan kadar klorofil.

Pengukuran yang dilakukan 6 hari setelah pemaparan (T2) menunjukkan bahwa kadar klorofil pada daun yang diberi paparan terus naik sedangkan pada kontrol ditemukan kadar yang paling rendah diantara semua kadar yang diukur (Gambar 1,2,3). Daun yang diberi paparan 5 dan 1 batang rokok, pada T2 ditemukan memiliki kadar yang hampir sama dengan kadar klorofil yang mula-mula ditemukan pada kontrol. Akan tetapi pada T2, kadar klorofil pada kontrol ini hanya 68.3% dari kadar klorofil mula-mula pada T0. Jadi sampai hari ke-6 setelah pemaparan, perubahan kadar klorofil ditemukan berlawanan antara kontrol dan daun yang diberi paparan asap rokok. Berbeda dengan periode 3 hari pertama dan kedua, kadar klorofil pada periode 3 hari ketiga ditemukan mengalami kenaikan pada hampir semua perlakuan. Pada hari ke-9, kadar klorofil a pada R3 telah mencapai jumlah yang jauh melebihi kadar klorofil T0 pada kontrol yaitu sebanyak 125%. Untuk klorofil b, ditemukan kadar sebanyak 133% (relatif kadar klorofil pada

Gambar 1. Grafik hasil pengukuran kadar klorofil a (g klorofil ml-1). %, daun Sansevieria yang digunakan sebagai kontrol; %, daun Sansevieria yang diberi paparan 1 batang rokok;%, daun Sansevieria yang diberi paparan 3 batang rokok; *, daun Sansevieria yang diberi paparan 5 batang rokok; T0, pemanenan segera setelah paparan; T1, pemanenan 3 hari setelah paparan; T2, pemanenan 6 hari setelah paparan; T3, pemanenan 9 hari setelah paparan.
116

Pengaruh Paparan Asap Rokok Terhadap Kadar Klorofil ....

Dwi Lestari dan Adiputra

Gambar 2 Grafik hasil pengukuran kadar klorofil b (g klorofil ml-1). %, daun Sansevieria yang digunakan sebagai kontrol; %, daun Sansevieria yang diberi paparan 1 batang rokok;%, daun Sansevieria yang diberi paparan 3 batang rokok; *, daun Sansevieria yang diberi paparan 5 batang rokok; T0, pemanenan segera setelah paparan; T1, pemanenan 3 hari setelah paparan; T2, pemanenan 6 hari setelah paparan; T3, pemanenan 9 hari setelah paparan.

Gambar 3 Grafik hasil pengukuran kadar klorofil total (g klorofil ml-1). %, daun Sansevieria yang digunakan sebagai kontrol; %, daun Sansevieria yang diberi paparan 1 batang rokok;%, daun Sansevieria yang diberi paparan 3 batang rokok; *, daun Sansevieria yang diberi paparan 5 batang rokok; T0, pemanenan segera setelah paparan; T1, pemanenan 3 hari setelah paparan; T2, pemanenan 6 hari setelah paparan; T3, pemanenan 9 hari setelah paparan.
117

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

T0 dari kontrol), sedangkan untuk total klorofil ditemukan sebanyak 139%. Jadi walaupun kadar klorofil pada daun yang diberi paparan mula-mula lebih rendah dari kontrol, tetapi setelah 9 hari kadarnya menjadi jauh lebih tinggi PEMBAHASAN Pada kondisi penelitian yang dilakukan dan dengan asumsi bahwa kadar klorofil sebelum pemaparan adalah sama pada semua tanaman, maka hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kadar klorofil sangat sensitif terhadap pemberian paparan. Adanya penurunan kadar klorofil segera setelah pemaparan menunjukkan bahwa sebagian molekul klorofil yang ada pada daun mengalami penguraian menjadi suatu senyawa yang tidak memiliki warna yang dapat dideteksi secara spectrofotometri. Karakteristik dari hasil penguraian ini terutama adalah berbentuk suatu senyawa yang tidak dapat menyerap sinar pada panjang gelombang 665 atau 649 nm. Klorofil yang terurai ini kemungkinan berada pada suatu lokasi yang paling dekat dengan stomata. Sebagai mana telah diketahui bahwa tanaman CAM membuka stomata pada malam hari dan menutup stomatanya pada siang hari. Ketika daun tanaman ini diberi paparan pada malam hari, maka konsentrasi asap rokok dan senyawa toksik yang dikandungnya adalah paling tinggi pada lingkungan ekstra selluler dari sel-sel tanaman yang berlokasi dekat stomata. Konsentrasi yang tinggi ini akan menyebabkan perubahan kesetimbangan kimia antara lingkungan ekstra selluler dengan lingkungan intra selluler pada sel-sel tersebut. Baik CO2 maupun toksin kemudian masuk kedalam sel dan menyebabkan terurainya molekul klorofil menjadi senyawa yang tidak dapat menyerap sinar pada panjang gelombang 665 dan 649 nm. Akan tetapi karena paparan diberikan hanya selama 30 menit, kerusakan klorofil tidak terjadi pada sel-sel yang berlokasi didaerah yang lebih jauh. Hal ini dapat disebabkan oleh karena pada malam hari CO2 tidak langsung diangkut ke kloroplast, melainkan direduksi menjadi asam malat dan selanjutnya melalui transport pasif dibawa ke vakuola (Herrera 2009). Senyawa toksik yang
118

masuk kedalam daun bersama CO 2 ini kemungkinan juga diangkut kedalam vakuola. Pada saat CO2 kemudian dilepaskan ke siklus Calvin, senyawa toksik selanjutnya dapat mengalami reaksi dengan pregnane glikosid (Lingga 2008) untuk dapat berubah menjadi bahan yang dapat dimanfaatkan. Jadi walaupun klorofil pada daun Sansevieria juga dapat rusak akibat polusi, tetapi karena jalur metabolisme CO2 terjadi secara tidak langsung melalui vakuola maka kerusakan klorofil yang lebih luas dapat dihindarkan. Hal ini jelas nampak dari data penelitian yang dilaporkan (Gambar 1,2,3) yang menunjukkan bahwa kadar klorofil terus mengalami kenaikan. Data ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan pada tanaman yang melakukan penyerapan CO2 ketika fotosintesis sedang aktif. Misalnya, Anggarwulan dan Solichatun (2007), meneliti kadar klorofil pada tanaman Plantago major dan Phaseolus vulgaris menemukan bahwa kadar klorofil mengalami penurunan. Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh Rahayu (1995) yang menemukan bahwa kadar klorofil pada daun sengon ( Paraserianthes falcataria) juga menurun setelah ditempatkan di tepi jalan raya yang padat lalu lintas. Faktor lain yang juga dapat mengakibatkan perbedaan pengaruh polutan pada klorofil adalah perbedaan periode paparan. Penelitian, yang dilakukan baik oleh Anggarwulan dan Solichatun (2007) maupun oleh Rahayu (1995), menggunakan metode durasi paparan yang panjang yaitu sampai lebih dari satu bulan. Akan tetapi, penelitian yang dilakukan pada Sansevieria menggunakan metode paparan durasi pendek (pulse) yaitu hanya selama 30 menit. Klorofil pada daun yang terpapar polutan dalam jangka waktu yang lama dapat mengalami kerusakan yang luas baik pada penguraian molekul maupun pada luasnya jaringan yang dipengaruhi. Oleh karena itu, paparan yang panjang ini dapat terlihat secara visual berupa klorosis. Hal ini menunjukkan bahwa klorofil telah terurai menjadi senyawa lain dan tidak mengalami sintesa kembali menjadi klorofil pada sel yang sama. Sebaliknya, klorofil yang terpapar polutan dalam

Pengaruh Paparan Asap Rokok Terhadap Kadar Klorofil ....

Dwi Lestari dan Adiputra

jangka pendek akan terurai menjadi molekul lain tetapi molekul ini dapat disintesa kembali menjadi klorofil setelah effect toksik dari paparan tersebut dapat diatasi. Hal ini jelas terlihat pada daun Sansevieria yang diberi paparan asap rokok. Daun ini tidak menunjukkan gejala klorosis dan kadar klorofil segera naik setelah paparan tersebut dihentikan pada periode tanpa paparan asap rokok (chase). Disamping metode durasi paparan, perbedaan prilaku sintesis klorofil juga dapat terjadi akibat perbedaan struktur morfologis dan mekanisme fisiologis pada tanaman. Daun Sansevieria dan daun tanaman yang digunakan pada penelitian oleh Anggarwulan dan Solichatun (2007) maupun oleh Rahayu (1995) memiliki ketebalan yang sangat berbeda. Daun Phaseolus vulgaris, Plantago major ataupun Paraserianthes falcataria jauh lebih tipis dari pada daun Sansevieria. Disamping itu, sebagai tanaman CAM, daun Sansevieria memiliki mekanisme penyerapan CO2 yang berbeda. Tanaman ini membuka stomata pada malam hari tetapi menutup stomata pada siang hari. Penyerapan polutan pada malam hari dapat memiliki implikasi biokimia yang berbeda dengan penyerapan polutan pada siang hari. Pada siang hari, semua tanaman mengaktifkan enzim photosintesis untuk memanen energi sinar matahari. Untuk dapat berlangsungnya reaksi pemanenan energi matahari ini maka semua kondisi lingkungan harus sesuai dengan kondisi yang diperlukan agar enzim fotosintesis bisa aktif. Apabila pada siang hari ini terjadi penyerapan polutan maka kondisi yang diperlukan untuk aktivitas enzimatis dapat berubah dan selanjutnya menghambat pemanenan energi sinar matahari yang sangat diperlukan untuk mensintesa bahan penyusun klorofil. Hambatan ini selanjutnya menyebabkan hambatan sintesis klorofil dan pada kondisi yang lebih serius daun tanaman ini kemudian mengalami klorosis. Akan tetapi sebaliknya jika penyerapan polutan dilakukan pada malam hari, seperti pada tanaman Sansevieria, effect toksik tidak mempengaruhi aktivitas pemanenan energi karena fotosintesis

sedang tidak aktif. Effect toksik ini akan ditanggulangi oleh tanaman tanpa menggangu kondisi lingkungan yang seharusnya disediakan untuk aktivitas fotosintesis. Apabila gangguan tersebut dapat diatasi pada periode tanpa fotosintesis ini, maka aktivitas fotosintesis dapat berlangsung dengan normal. Oleh karena itu, sintesis bahan yang diperlukan untuk menyusun molekul klorofil menjadi tidak terganggu. Hal ini jelas nampak pada penelitian yang dilaporkan ini yaitu kadar klorofil pada periode chase dapat meningkat sampai 139% dari kadar klorofil awal. Hal ini berarti bahwa polutan yang diserap dapat menjadi nutrisi bagi tanaman Sansevieria dan bukan menghambat sintesis klorofil. Hal ini diperkuat juga oleh data (Gambar 1, 2, 3) bahwa tanaman yang disungkup tanpa pemberian asap rokok (kontrol) segera menguraikan klorofilnya dan klorofil ini tidak dapat disintesa kembali sampai periode 6 hari. Sungkup yang diberikan pada tanaman ini, menurut Gardner et al. (1991) menyebabkan terjadinya penurunan konsentrasi CO2 di udara. Sesuai dengan pendapat Gardner dkk (1991) ini, tanaman Sansevieria yang diberi sungkup akan mengalami kekurangan sumber karbon untuk sintesis bahan penyusun klorofil. Jadi, kadar CO2 yang tinggi pada tanaman yang diberi paparan asap rokok berpengaruh positif untuk biosintesis klorofil. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, maka dapat disimpulkan bahwa tanaman Sansevieria dapat menanggulangi polusi udara melalui mekanisme fisiologis tanaman CAM yaitu menyerap polutan pada saat fotosintesis tidak sedang aktif. SARAN Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui batas toksik daun tanaman CAM (Sansevieria trifasciata) terhadap paparan polutan asap rokok dan membandingkan respon fisiologisnya dengan tanaman yang membuka stomata pada siang hari seperti tanaman C3 dan C4.
119

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

DAFTAR PUSTAKA Adiputra, I.G.K. dan J.W. Anderson. 1992. Distribution and redistribution of sulphur taken up from nutrient solution during vegetative growth in barley. Physiologia Plantarum 85. Copenhagen. Aminot, A., dan F. Rey. 2000. Standard procedure for the determination of chlorophyll a by spectroscopic methods. ICES Techniques in Marine Environmental Sciences. Available from http:// www.google.com/. (Akses: 27 Februari 2011). Anggarwulan, E. dan Solichatun. 2007. Kajian Klorofil Dan Karotenoid Plantago Major L. Dan Phaseolus Vulgaris L. Sebagai Bioindikator Kualitas Udara. Jurnal Biodiversitas. Vol. 8. No. 4. Anonim 2008. Galeri Sansevieria. Cetakan ke1. Penebar Swadaya. Jakarta. Anonim. 2011. Pengukuran Kadar Klorofil Menggunakan spektrofotometer (Spektronik20). Available at: http:// www.scribd.com/doc4452625/laporanpengukuran-kadar-klorofil. (Akses: 18 Februari 2011). Budhi, I.M., I.M. Sumer, I.N.T. Wiartha dan I.G.M. Adioka. 1990. Ilmu Farmasi Kedokteran. Lab. Farmasi Kedokteran. Fakultas Kedokteran . Universitas Udayana. Gardner, P.F., R.B. Pearce dan R.L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Cetakan 1. Universitas Indonesia (UIPress).Terjemahan Susilo, H. Jakarta. Harrera A. 2009. Crassulacean acid metabolism and fitness under water deficit stress: if not for carbon gain, what is facultative CAM good for?. Annals of Botany 103: 645653, doi:10.1093/aob/mcn145. Kabo, P. 2008. Mengungkap pengobatan penyakit jantung koroner. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Lingga, L.W. 2008. Sansevieria. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
120

Pramono, S. 2008. Pesona Sansevieria. PT Agromedia Pustaka. Jakarta. Rahayu, W.F.L. 1995. Analisis Jumlah Klorofil dan Kandungan Logam Berat Pb dalam Jaringan Daun Akibat Pencemaran Lalu Lintas. Manusia dan Lingkungan Nomor 5 Th II. Rantung, J. L. 2006. Dampak Polusi Udara Pada Pohon Angsana (Pterocarpus indicus Willd). Eugenia 12 (2). Fakultas Pertanian UNSRAT. Manado. Available from: http://www.google.com/. (Akses: 18 Juli 2011). Roziaty, E. 2009. Kandungan Klorofil, Struktur Anatomi Daun Angsana (Pterocarpus indicus Willd.) dan Kualitas Udara Ambien di Sekitar Kawasan Industri Pupuk PT. PUSRI di Palembang. Institut Pertanian Bogor. Available from: http://repository.ipb.ac.id/handle/ 123456789/4373/. (Akses: 18 Juli 2011). Siregar E.B.M. 2005. Pencemaran Udara, Respon Tanaman dan Pengaruhnya Pada Manusia. Jurnal. Jurusan Pertanian. Medan. USU. Available from: http:// re p o s i t o r y. u s u . a c . i d / b i t s t re a m / 123456789/1095/3/05001255.pdf.txt. (Akses: 27 April 2011) . Susiyanti, G.A. Wattimena, M. Surahman, A. Purwito dan D.A. Santosa. 2007. Transformasi Tanaman Tebu (cv. PSJT 94-41) dengan Gen Fitase Menggunakan Agrobacterium tumefaciens GV 2260 (pBinPI-IIEC). Bul. Agron. (35) (3). Susanna, D., B. Hartono, H. Fauzan. 2003. Penentuan Kadar Nikotin Dalam Asap Rokok. Jurnal Kesehatan. Vol. 7, No.2. Taiz, L., E. Zeiger. 2011. Photorespiration in CAM plants. Plant Physiology Online, Fifth Edition. Available from: http:// 5e.plantphys.net/article.php? ch=8&id=400/. (Akses: 28 April 2011). Thorpe, N. O. 1984. Cell Biology. John Wiley & Sons Inc. Canada.

KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG AIR DI HUTAN MANGROVE SUWUNG KAUH DENPASAR


I Gusti Ngurah Bagus Ary Eka Putra, Ni Ketut Ayu Juliasih, I Nyoman Arsana Program Studi Biologi FMIPA UNHI, Jl. Sangalangit, Tembau Denpasar, Bali
ABSTRAK Telah dilakukan penelitian dengan judul Keanekaragaman Jenis burung Air di Hutan Mangrove Suwung Kauh Denpasar dengan tujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis burung air. Penelitian dilakukan dengan metode jelajah pada tiga jalur pengamatan. Sepanjang jalur pengamatan, diamati jenis burung air dengan membuat daftar seri jenis burung air yang tampak sepanjang jalur pengamatan. Setiap jenis baru dicatat hingga mencapai sepuluh jenis, kemudian dibuat daftar baru lagi. Jenis yang sama tidak boleh dicatat dua kali dalam satu daftar, tetapi dicatat dalam daftar jenis berikutnya. Dari hasil penelitian terdapat 21 jenis burung air yang termasuk ke dalam Famili Alcedinidae ada 4 jenis yaitu Alcedo coerulescens, Halcyon sancta, Halcyon chloris dan Halcyon cynoventris, Famili Ardeidae ada 8 jenis yaitu Ardeola speciosa,Ardea purpurea, Butorides striatus, Egretta garzetta, Egretta intermedia, Egretta alba, Bulbucus ibis dan Nycticorac nycticorax, Famili Anatidae, Phalacrocoracidae dan Rallidae masing-masing 1 jenis secara berurutan yaitu Anas superciliosa, Phalacrocorax melanoleucos dan Amaurornis phoenicurus, dan Famili Scolopacidae ada 6 jenis yaitu Actitis hypoleucos, Arenaria interpres, Tringa glareola, Tringa nebularia, Tringa totanus dan Xenus cinireus. Keanekaragaman jenis burung air tergolong rendah. Burung air didominasi oleh burung air pemakan ikan (piscivora), dengan aktivitas tertinggi yang dilakukan adalah mencari makan. Kata kunci : Keanekaragaman, Burung Air, Mangrove, Suwung Kauh. ABSTRACT A research was performed in Mangrove forest, located in Suwung Kauh Denpasar, to collect data on species of aquatic bird living or visiting the sites. Method employed was exploration in three observation pathways. Species of birds observed in the exploration pathways were documented using a list of serial bird species. A new observed species were collected until the number of species in the list was 10 new species. One species were not documented twice in one list of species, but were documented in the second list. This research found that total species of aquatic bird visiting the area was 21 and all of which were belong to 6 families i.e. Alcedinidae, Ardeidae, Anatidae, Phalacrocoracidae, Rallidae and Scolopacidae. The number of species found for each family was varied. There were 4 species belong to Alcedinidae; Alcedo coerulescens, Halcyon sancta, Halcyon chloris and Halcyon cynoventris, 8 species belong to Ardeidae; Ardeola speciosa, Ardea purpurea, Butorides striatus, Egretta garzetta, Egretta intermedia, Egretta alba, Bulbucus ibis and Nycticorac nycticorax. Only one species was found in each family of Anatidae, Phalacrocoracidae and Rallidae, i.e. Anas superciliosa, Phalacrocorax melanoleucos and Amaurornis phoenicurus. There were 6 species of birds found belong to Scolopacidae, i.e. Actitis hypoleucos, Arenaria interpres, Tringa glareola, Tringa nebularia, Tringa totanus and Xenus cinireus. This diversity of birds found in the sites is categorized as low, dominated by fish eating birds (piscivora) and it main activity was feeding. Key words: Diversity, Aquatic birds, Mangrove, Suwung Kauh.

121

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

PENDAHULUAN Indonesia dikenal sebagai salah satu negara megadiversitas burung bersama sembilan negara lainnya yaitu Kolombia, Peru, Brasil, Ekuador, Venezuela, Bolivia, India, Malaysia, dan Cina (Primack, 1998). Keanekaragaman jenis burung yang dimiliki Indonesia sebanyak 1519 jenis, merupakan negara urutan ke tiga di dunia (Primack, 1998), dan merupakan negara yang memiliki jenis burung endemik terbanyak di dunia yaitu 381 jenis (Sujatnika, 1995). Salah satu jenis burung adalah burung air. Burung air merupakan sekelompok burung yang secara ekologis bergantung kepada kawasan perairan (lahan basah) sebagai tempat mereka mencari makan dan atau berbiak, berukuran kecil atau sedang dengan berbagai bentuk dan ukuran paruh yang disesuaikan dengan keperluannya untuk mencari dan memakan mangsanya (Howes et al., 2003). Burung air dapat digunakan sebagai bioindikator perubahan kualitas lingkungan (Buckley & Buckley, 1976), karena burung air sangat peka terhadap polusi dan penurunan kondisi makanannya. Burung air memiliki peran ekologis yaitu berperan penting dalam pertukaran energi antara kehidupan daratan dan perairan, sehingga burung tersebut turut menentukan dinamika produktivitas pada lahan basah. Burung air menyediakan sejumlah pupuk alami bagi vegetasi pantai dan daerah-daerah yang lebih tinggi, dan vegetasi tersebut berfungsi sebagai stabilisator lingkungan pantai terhadap pengaruh erosi. Dengan cara demikian, kehadiran burung air tersebut juga dapat mempercepat suksesi yang terjadi di lahan basah. Burung air banyak ditemukan di kawasan hutan mangrove Suwung Kauh Denpasar. Kawasan ini sering dimanfaatkan sebagai habitat untuk mencari makan, berkembang biak atau beristirahat. Burung-burung yang dapat dijumpai di hutan mangrove umumnya burung yang tinggal dan bersarang di hutan mangrove serta burung yang berasal dari habitat lain yang mengunjungi kawasan mangrove untuk mencari makan ataupun beristirahat (Arifin, 2003).
122

Hutan mangrove Suwung Kauh, Pemogan Denpasar mempunyai luas sekitar 1.373,5 Ha dan telah ditetapkan sebagai Taman Hutan Raya (Tahura) berdasarkan SK Menteri Kehutanan pada tahun 1993 dengan nama Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai Bali. Tahura Ngurah Rai terletak pada muara sungai Tukad Badung dan Tukad Mati yang merupakan sungai utama di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Hutan mangrove di Taman Hutan Raya Ngurah Rai Bali ini menjadi kawasan hutan mangrove terbaik di Indonesia, bahkan sekawasan Asia (BPDAS, 2011). Namun demikian, kondisi hutan mangrove Tahura Ngurah Rai terus mengalami tekanan yang bersifat antropogenik seperti pemanfaatan kayu mangrove untuk keperluan kayu bakar masyarakat sekitar lokasi, alih fungsi lahan, adanya sampah (terutama sampah plastik) baik yang berasal dari pengunjung yang datang ke lokasi maupun sampah kiriman dari sungai Tukad Badung, serta polusi air terutama akibat aktivitas di Pelabuhan Benoa maupun Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Disamping itu sedimentasi yang dibawa bersama aliran sungai tukad badung dan Tukad Mati menjadikan kawasan ini terus mengalami tekanan. Tekanan terhadap kawasan tersebut pada gilirannya akan bermapak pula pada keberadaan burung air yang aktif di kawasan tersebut. Kondisi tersebut perlu dipantau secara berkesinambungan untuk mengetahui keberadaan burung air tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis burung air di Hutan Mangrove Suwung Kauh Denpasar. BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan di Hutan Mangrove Suwung Kauh Denpasar Bali. dari bulan Agustus sampai dengan September 2011. Pengamatan dilakukan pada waktu pagi hari dari pukul 06.00-08.00 WITA dan sore hari pada pukul 16.00-18.00 WITA. Secara arbitrary kawasan hutan mangrove dibagi menjadi tiga jalur penelitian yaitu; Jalur I

Keanekaragaman Jenis Burung Air Di Hutan Mangrove Suwung Kauh Denpasar ...

Ary Eka Putra et al

mulai dari kantor MIC menuju Pond Heron, kemudian menuju King Fisher Road sampai di Redshank Hut, dilanjutkan menuju Whimbrel Hut kembali ke kantor MIC melewati Mucronata Trail. Waktu yang dibutuhkan sekitar 2 jam dan pada setiap titik dilakukan pengamatan selama 20 menit. Jalur II dimulai dari kantor MIC menuju Pond Heron Hut, kemudian menuju Little Eggret Tower melalui Sesbania Road dan Lumnitzera Trail, kemudian kembali ke kantor MIC melalui Mucronata Trail. Waktu yang dibutuhkan sekitar 2 jam dan pada setiap titik dilakukan pengamatan selama 20 menit. Jalur III dimulai dari kantor MIC menuju Pond Heron Hut terus ke Mucronata Trail, Thespesia Trail, Aegiceras Trail, dan sampai di Tern Hut dan kembali ke kantor MIC. Waktu yang dibutuhkan sekitar 2,5 jam dan pada setiap titik dilakukan pengamatan selama 25 menit. Pada tiap jalur pengamatan, data diambil ketika dalam penjelahan pengamat milihat objek yang diamati dengan mendokumentasikan, mencatat jenis burung yang tampak serta jumlahnya. Pengamatan dilakukan serentak di ketiga jalur dengan melibatkan masing-masing 2 orang pengamat. Pencatatan hasil pengamatan dilakukan dengan menggunakan metode sensus Mackinnon et al., (1994) yaitu dengan membuat suatu seri daftar jenis burung air yang tampak/ berada di lokasi atau disepanjang jalan menuju lokasi berikutnya selama waktu pengamatan. Setiap jenis baru dicatat hingga mencapai 10 jenis, kemudian dibuat daftar baru lagi. Jenis yang sama tidak boleh dicatat dua kali dalam satu daftar, tetapi dicatat dalam daftar jenis berikutnya. Identifikasi burung air merujuk pada Howes et al. (2003) dan Mackinnon et al. (1994). Pengamatan dilakukan meliputi morfologi burung air seperti; bentuk dan ukuran tubuh, paruh, dan kaki, warna bulu pada tubuh, paruh, dan kaki, ciri-ciri khas yang tampak, serta suara yang dihasilkan. Data yang dicatat meliputi jenis burung, jumlah individu dan aktivitas.

Data yang diperoleh kemudian dianlisis untuk menentukan komposisi jenis (melalui pendekatan jenis dominan, subdominan dan tidak dominan), status keberadaan jenis burung berdasarkan PP No 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, Indeks keanekaragaman jenis (H) yang dihitung berdasarkan formula Shannon-Wiener ( Ludwig & Reynolds, 1988), indeks kemerataan (Index of Evennes) yang dihitung menggunakan formula Pielou ( Ludwig & Reynolds,1988) dan Index dominansi yang dihitung dengan formula simpsons (Odum, 1993). Kriteria dominansi yakni : dominansi 0 2% termasuk dalam katagori jenis tidak dominan, 2 5% katagori jenis sub-dominan, dan >5% termasuk dalam katagori jenis dominan. Penggolongan burung berdasarkan jenis pakannya didasarkan pada MacKinnon (1993) yang menggolongkan jenis burung menjadi tujuh kelompok yaitu pemakan serangga (insectivora), pemakan buah (frugivora), pemakan daging (carnivora), biji (granivora), ikan (piscivora), nektar (nectarivora) dan bagian tumbuhan lain seperti daun, kuncup, bunga dan/atau batang (herbivora). HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil penelitian ditemukan sebanyak 21 jenis burung air yang mencakup 6 famili di kawasan Hutan Mangrove Suwung Kauh Denpasar. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa 4 jenis yang termasuk dalam anggota Famili Alcedinidae, Famili Ardeidae ditemukan paling banyak yakni 8 jenis, enam jenis merupakan anggota Famili Scolopacidae sedangkan yang termasuk anggota Famili Anatidae, Phalacrocoracidae, Rallidae diwakili oleh masing-masing hanya satu jenis. Jenis-jenis burung air yang ditemukan di lokasi penelitian dicantumkan pada Tabel 1. Famili Alcedinidae dan Ardeidae dari Genus Egretta merupakan burung yang dilindungi menurut PP No. 7 Tahun 1999, dan famili yang lain belum diketahui. Burung jenis Halcyon
123

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

sancta dari Famili Alcedinidae merupakan jenis burung migran dari Australia (Sarwa et al., 2005) dan kelompok burung dari Famili Scolopacidae seluruhnya merupakan burung migran ( Howes et al., 2003; Hiroyuki & Trisia, 2003). Burung melakukan migrasi karena keadaan lingkungan sekitarnya yang tidak cocok. Pada musim dingin, selain suhu udara yang turun drastis juga makanan bagi burung-burung tersebut mulai habis dan menghilang. Untuk itu burung-burung tersebut harus mencari daerah baru jika ingin tetap bertahan hidup (Anonim, 2007). Berdasarkan kehadirannya pada saat pengamatan, jenis burung air yang selalu dijumpai adalah anggota Famili Alcedinidae, Ardeidae, dan Scolopacidae (Tabel 2, Tabel 3 dan Tabel 4). Burung tersebut merupakan burung air yang sering ditemukan di lokasi pengamatan, jenis Egretta garzetta dari Famili Ardeidae merupakan burung air dengan jumlah relatif lebih banyak dibandingkan jenis burung air lain yang terdapat di lokasi pengamatan. Anggota Famili Ardeidae dan Scolopacidae serta Rallidae umumnya dijumpai di sekitar aliran sungai hutan mangrove dan tepi pantai saat mencari makan. Sedangkan anggota Famili Alcedinidae, Phalacrocoracidae dijumpai saat bertengger (istirahat) di atas pohon mangrove. Jenis burung yang hanya satu kali terlihat dari tiga kali pengamatan di seluruh jalur adalah Cangak Merah (Ardea purpurea), Itik Gunung ( Anas superciliosa ) dan Cekakak Jawa (Halcyon cynoventris). Ardea purpurea dan Halcyon cynoventris terlihat sedang bertengger di atas pohon mangrove, masing-masing dijumpai pada lokasi yang berbeda, sedangkan Anas superciliosa sedang berenang di tepi pantai. Jenis burung air terbanyak dari tiga jalur penelitian adalah dari jenis Egretta garzetta dengan jumlah 70 ekor dan terkecil adalah dari jenis Halcyon chloris dan Ardea purpurea masing-masing 1 ekor (Tabel 2, Tabel 3 dan Tabel 4). Hal ini dikarenakan burung Egretta garzetta memiliki kebiasaan mencari makan secara berkelompok. Hal ini merupakan salah satu upaya perlindungan
124

diri saat mencari makan. Pembentukan kelompok pada saat makan bertujuan untuk mengusik mangsa yang bersembunyi di dalam lumpur (Sibuea et al., 1995). Ancaman yang paling besar terhadap keberadaan burung air adalah adanya konversi lahan atau pengalihfungsian habitat burung air menjadi tempat lain. Sebagian kawasan hutan mangrove telah mengalami konversi lahan untuk pembangunan, misalnya di Pelabuhan Benoa dan Bandara Ngurah Rai. Pengalihfungsian lahan akan sangat berpengaruh terhadap ketersediaan makanan serta perubahan fungsi ekosistem. Hilangnya habitat alami akan mengakibatkan hilangnya keanekaragaman makanan yang merupakan pendukung kehidupan burung air ( Howes et al., 2003). Berdasarkan hasil yang diperoleh pada saat penelitian, jumlah jenis burung air paling banyak adalah pada Jalur III, sebanyak 16 jenis burung air dari 6 famili, Jalur I sebanyak 11 jenis burung air dari 4 famili dan Jalur II sebanyak 9 jenis burung air dari 4 famili (Gambar 1). Famili dengan jumlah jenis burung yang paling banyak adalah dari Famili Ardeidae sejumlah 8 jenis, kemudian Famili Scolopacidae ( 6 jenis ), Alcedinidae ( 4 jenis ), Anatidae, Rallidae dan Phalacrocoracidae masing-masing sebanyak 1 jenis (Gambar 2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indeks Keanekaragaman Jenis (H) burung air tertinggi di Hutan Mangrove Suwung Kauh Denpasar adalah pada Jalur I sebesar 2,25 dan terkecil pada Jalur II sebesar 1,70. Sedangkan Indeks Kemerataan (E) tertinggi juga terdapat pada Jalur I sebesar 0,96 dan terendah pada Jalur III sebesar 0,77. Sedangkan nilai Indeks Dominansi tertinggi adalah pada Jalur II dengan nilai sebesar 0,3145 (Tabel 5). Tingginya nilai Indeks Keanekaragaman pada Jalur I, karena daerah ini memiliki spesies yang beragam dengan jumlah masing-masing spesies merata serta lingkungan yang mendukung seperti memiliki aliran sungai, variasi pohon beragam, pada saat surut terendah

Keanekaragaman Jenis Burung Air Di Hutan Mangrove Suwung Kauh Denpasar ...

Ary Eka Putra et al

125

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

Gambar 1. Grafik Perbandingan Jumlah Jenis dan Famili Burung Air Pada Setiap Jalur Penelitian

Gambar 2 Jumlah Jenis Burung Air Pada Setiap Famili

126

Keanekaragaman Jenis Burung Air Di Hutan Mangrove Suwung Kauh Denpasar ...

Ary Eka Putra et al

masih tergenangi oleh dibandingkan 2 jalur yang lainnya. Menurut Barus (2004) menyatakan suatu komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman spesies yang tinggi apabila terdapat banyak spesies dengan jumlah individu masing-masing spesies yang relatif merata. Menurut indeks keanekaragaman jenis ShannonWiener (Krebs, 1978) dengan katagori nilai indeks keanekaragaman 0<H<2,302 adalah rendah, 2,302<H<6,907 adalah sedang dan H>6,907 adalah tinggi, maka keanekaragaman yang diperoleh pada tiga jalur penelitian yang berkisar antara 1,70 sampai 2,25 dapat digolongkan rendah. Rendahnya keanekaragaman jenis burung air pada ketiga

jalur karena kelimpahan individu tiap jenis tidak merata. Menurut Odum (1993) keanekaragaman jenis tidak hanya berarti banyaknya jenis, tetapi juga kemerataan dari kelimpahan individu tiap jenis. Dari data pada Tabel 4.8, Indeks Kemerataan (E) tertinggi pada Jalur I sebesar 0,96 dan terendah pada Jalur III sebesar 0,77. Indeks kemerataan pada Jalur III terendah karena ditemukan spesies yang mendominasi yaitu Egretta garzetta sebesar 41,38%. Burung ini mendominasi pada Jalur I karena pada saat penelitian burung jenis Egretta garzetta sering ditemui mencari makan secara berkelompok.

127

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

Indeks Kemerataan (E) yang diperoleh dari 3 jalur penelitian berkisar antara 0,77 sampai 0,96 dengan Indeks Kemerataan (E) tertinggi pada Jalur I sebesar 0,96 dan terendah pada Jalur III sebesar 0,77. Rendahnya nilai kemerataan pada Jalur III karena ditemukan spesies yang mendominansi yaitu Egretta garzetta. Menurut Krebs (1985), menyatakan Indeks Kemerataan (E) berkisar 0 1. Indeks Kemerataan yang tinggi menunjukkan bahwa pembagian jumlah individu pada masing-masing spesies merata dan sebaliknya jika Indeks Kemerataan semakin kecil maka kemerataan suatu populasi akan semakin kecil Komposisi jenis burung yang termasuk dalam katagori dominan, sub-dominan dan tidak dominan pada setiap jalur penelitian ditunjukkan pada Tabel 6. Sedangkan jenis-jenis burung air yang termasuk dalam kategori dominan, subdominan dan tidak dominan dapat ditampilkan pada Tabel 7. Terlihat bahwa jenis yang paling dominan dari ketiga jalur adalah Kuntul Kecil ( Egretta garzetta) dari Famili Ardeidae. Terdapat 7 kelompok burung berdasarkan jenis pakannya yaitu burung pemakan serangga (insectivora ), pemakan biji (granivora), pemakan daging (carnivora), pemakan buah (frugivora), pemakan nektar (nectarivora), pemakan ikan (piscivora) dan pemakan bagian tumbuhan lainnya (herbivora) (Mackinnon, 1993).
128

Secara umum jenis burung air dilokasi penelitian didominasi oleh jenis burung air pemakan ikan (piscivora) sebesar 85%, jenis lain yaitu pemakan serangga (insectivora) sebesar 15%. Adanya ketersediaan bahan makanan merupakan penyebab kemelimpahan burung air pada suatu lokasi penelitian. Beberapa kelompok burung air dapat hidup bersama dan lestari hingga saat ini disebabkan karena telah berhasil menciptakan relung yang khusus bagi dirinya sendiri untuk mengurangi kompetisi atas kebutuhan sumber daya dan sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi lingkungan. Pada lokasi yang sama tampak burung air dari jenis yang berbeda mencari makan bersama, ini dapat terjadi karena perbedaan pola dan cara memperoleh mangsa seperti Egretta alba yang mencari makan di pantai ketika surut dengan cara berjalan mengamati mangsa lalu menangkapnya sedangkan Arenaria interpres mencari makan ketika pantai surut dengan cara membalikbalikkan batu mencari mangsanya. Kelompok burung dari Famili Alcedinidae memiliki kebiasaan tersendiri dalam hal mencari makan. Burung dari Famili Alcedinidae biasanya bertengger di akar, dahan atau ranting pohon mangrove dekat sungai mengawasi mangsanya, dan ketika mangsa terlihat, dengan cepat burung tersebut akan terbang dan menukik ke dalam air menangkap mangsanya. Sedangkan jenis Arenaria interpres dari Famili Scolopacidae,

Keanekaragaman Jenis Burung Air Di Hutan Mangrove Suwung Kauh Denpasar ...

Ary Eka Putra et al

129

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

sesuai dengan nama Inggrisnya Ruddy Tunrston mencari makan dengan membalik-balikan batu di tepi pantai. Besarnya peranan Hutan Mangrove Suwung Kauh Denpasar sebagai tempat mencari makan bagi berbagai jenis burung air, maka perlu adanya perlindungan atau usaha konservasi lainnya terhadap kawasan tersebut dari semua ancaman yang dapat mengganggu atau merusak kawasan ini. KESIMPULAN Terdapat 21 jenis burung air yang termasuk ke dalam Famili Alcedinidae, Ardeidae, Anatidae, Phalacrocoracidae, Rallidae dan Scolopacidae. Famili Alcedinidae ada 4 jenis yaitu Alcedo coerulescens, Halcyon sancta, Halcyon chloris dan Halcyon cynoventris, Famili Ardeidae ada 8 jenis yaitu Ardeola speciosa,Ardea purpurea, Butorides striatus, Egretta garzetta, Egretta intermedia, Egretta alba, Bulbucus ibis dan Nycticorac nycticorax, Famili Anatidae ada 1 jenis yaitu Anas superciliosa , Famili Phalacrocoracidae ada 1 jenis yaitu Phalacrocorax melanoleucos, Famili Rallidae ada 1 jenis yaitu Amaurornis phoenicurus, dan Famili Scolopacidae ada 6 jenis yaitu Actitis hypoleucos, Arenaria interpres, Tringa glareola, Tringa nebularia, Tringa totanus dan Xenus cinireus. Keanekaragaman jenis burung air di Hutan Mangrove Suwung Kauh Denpasar tergolong rendah. Burung air didominasi oleh burung air pemakan ikan (piscivora), dengan aktivitas tertinggi yang dilakukan adalah mencari makan. UCAPAN TERIMA KASIH Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak I Komang Sumerta dan Ibu Ida Ayu Komang Yuliasih dari staff Mangrove Information Center (MIC), yang telah membimbing pelaksanaan penelitian di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2007. Mengenal Satwa Migran. Available at: http://www.slideshare.net/ khatulistiwa/ mengenal-satwa-migran. (Diakses tanggal 6 September 2011). Arifin.A. 2003. Hutan Mangrove Fungsi dan Manfaatnya. Kanisius. Yogyakarta. Balai Pengeloalaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS). 20011. Denpasar. Barus, T.A. 2004. Pengantar Limnologi Studi Tentang ekosistem Air Daratan. USU Press. Medan. Buckley, P.A, and Buckley, F.G. 1976. Guidelines for Protection and Management of Colonially Nesting Waterbirds. Boston Massachusetts: North Atlantic Regional Office National Park Service Hiroyuki, H., dan Trisia W. 2003. Study on Bird in The Mangrove Information Center. Mangrove Information Project. JICA Bali. Indonesia. Howes, J., D. Bakewell, dan Y. Rusila-Noor. 2003. Panduan Studi Burung Pantai. Bogor: Wetlands International-Indonesia Programme. Krebs, C.J. 1978. Ecology: The experimental Analysis of Distribution and Abundance. Second Edition. Institute of Animal Resource Ecology. The Univercity of Britrish Columbia. Krebs, C.J. 1985. Ecology. Third Edition. New York: Harper & Row Publisher. Hlm: 523. Ludwig, T.A. dan J.F. Reynolds. 1988. Statistical Ecology. A Primer on Methods and Computing. John Wiley and Sons. New York. MacKinnon, J. 1993. Panduan Lapangan Pengenalan Burung-Burung di Jawa dan Bali. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

130

Keanekaragaman Jenis Burung Air Di Hutan Mangrove Suwung Kauh Denpasar ...

Ary Eka Putra et al

MacKinnon, J.,K. Phillips dan B. van Ballen. 1998. Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Sarawak dan Brunei Darussalam) [LIPI-Seri Panduan Lapangan]. Bogor: Puslitbang BiologiLIPI. Odum, E.P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Edisi Ketiga. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta. Primack, R.B. 1998. Essentials of Conservation Biology. ed. Sinauer Associates, Sunderland: xii + 660 hlm.

Sarwa, I.Nym., I.A.Km.Yuliasih, I.Nym.Sumerta.I.Wyn.Suparta. 2005. Pedoman Pengamatan Burung di MIC. Penerbit MIC. Denpasar. Sibuea, T.Th, Y. Rusila-Noor, M.J. Silvius, dan A. Susmianto. 1995. Burung Bangau, Pelatuk Besi dan Paruh Sendok di Indonesia. Panduan untuk Jaringan Kerja . Jakarta: PHPA & Wetlands International-Indonesia Programme. Sujatnika, P. Jepson., T.R. Soehartono, M.J. Crosby, Ani Mardiastuti. 1995. Conserving Indonesian Biodiversity: The Endemic Bird Area Approach. BirdLife International Indonesia Programme. Bogor.

131

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

PEMANFAATAN EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum) DAN KAYU MANIS (Cinnamomum burmanii Bl.) SEBAGAI SUPLEMEN RAGI DALAM PROSES FERMENTASI TAPE
Ni Made Susun Parwanayoni Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana, Kampus Bukit Jimbaran Bali
ABSTRAK Penelitian pemanfaatan ekstrak bawang putih dan kayu manis sebagai suplemen ragi dalam proses fermentasi tape telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak bawang putih (Allium sativum) dan kayu manis (Cinnamomum burmanii Bl.) sebagai suplemen ragi terhadap kadar gula dan produksi alkohol pada tape. Serta untuk mendapatkan konsentrasi ekstrak bawang putih dan kayu manis yang paling tepat sebagai suplemen ragi untuk menghasilkan kadar gula dan alkohol paling tinggi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari kombinasi perlakuan 4% ekstrak kayu manis dan 2 % ekstrak bawang putih (BA1), 4% ekstrak kayu manis dan 4 % ekstrak bawang putih (BA2), 4% ekstrak kayu manis dan 6 % ekstrak bawang putih (BA3), dan kontrol yaitu tanpa penambahan ekstrak (B0A0). Masing-masing kombinasi perlakuan ditambahkan ragi NKL. Pelaksanaan penelitian meliputi : Pembuatan ekstrak bawang putih dan kayu manis. Pembuatan ragi dengan berbagai konsentrasi ekstrak bawang putih dan kayu manis, pengujian ragi dalam fermentasi tape dan pengamatan kadar gula reduksi, kadar alkohol, pH serta rasa tape pada hari ke 3 dan 13. Hasil penelitian menunjukkan penambahan ekstrak bawang putih dan kayu manis sebagai suplemen ragi dapat mempengaruhi kadar gula dan alkohol pada tape. Penambahan 4% ekstrak bawang putih dan 4% ekstrak kayu manis dapat menghasilkan kadar gula dan alkohol paling tinggi yaitu masingmasing 6,62% dan 10,02%. Kata kunci : Ekstrak bawang putih dan kayu manis, fermentasi, gula, ethanol. ABSTRACT A study was conducted to examine the effect of garlic and cinnamon extract on fermentation. Aims of this study were to find out whether these two extract increase sugar and ethanol production during fermentation. Experimental design employed in this study was completely randomized design with 4 combinations: BA1, 4 % Cinnamon extract: 2 % Garlic extract; BA2, 4% Cinnamon extract: 4% Garlic extract; BA3, 4% Cinnamon extract: 6% Garlic extract and B0A0, Control without extract. Combination of these extract were then added NKL yeast separately. This study found that addition of garlic and Cinnamon extract increased sugar and ethanol production during fermentation. The highest sugar and alcohol content produced in this study was 6.62% and 10.02%. This sugar and alcohol content were found in tape that was fermented with NKL yeast containing 4% Cinnamon and 4% Garlic extract. Key words: Cinnamon and Garlic extract, fermentation, sugar, ethanol

PENDAHULUAN Masyarakat Indonesia telah lama mengenal ragi yang biasanya dimanfaatkan dalam pembuatan tape. Ragi tape dibuat dari tepung
132

beras, ditambah rempah-rempah tertentu sebagai suplemen yang berfungsi untuk menstimulasi dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme tertentu dalam ragi. Kualitas ragi sulit

Pemanfaatan Ekstrak Bawang Putih (Allium Sativum) Dan Kayu Manis ....

Susun Parwanayoni

dipertahankan selama produksi dan dalam jangka waktu yang lama, karena perbedaan kondisi bahan suplemen dan faktor lingkungan saat pembuatan ragi. Penggunaan suplemen rempah-rempah dalam bentuk serbuk yang konsentrasinya tidak tepat dan konstan dapat menyebabkan kualitas ragi yang dibuat tidak pasti atau tetap sehingga mempengaruhi rasa dan kualitas tape. Ketetapan daya peragian akan lebih terjamin, bila pada ragi digunakan suplemen rempah-rempah dalam bentuk ekstrak dengan konsentrasi yang tepat dan konstan. Pemanfaatan bawang putih dan kayu manis sebagai suplemen ragi dalam bentuk ekstrak dengan konsentrasi yang berbeda, dapat mempengaruhi kadar gula dan alkohol pada tape (Kasmidjo, 1990). Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak bawang putih dan kayu manis sebagai suplemen ragi terhadap kadar gula dan produksi alkohol pada tape, serta untuk mendapatkan konsentrasi ekstrak bawang putih dan kayu manis yang paling tepat sebagai suplemen ragi untuk menghasilkan kadar gula dan alkohol paling tinggi. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat pembuat tape atau industri kecil, sehingga kualitas tape dapat lebih ditingkatkan. Peningkatan kualitas tape akan dibarengi dengan peningkatan nilai jual, sehingga tape tradisional daerah Bali mampu bersaing dengan jenis makanan dari daerah lain. Disamping itu hasil penelitian ini juga dapat dimanfaatkan oleh pabrik ragi agar lebih memperhatikan dalam penambahan suplemen pada proses pembuatan ragi, sehingga ragi yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih tinggi. BAHAN DAN METODE Penelitian dilakukan di Laboratorium Analitik Universitas Udayana Kampus Bukit Jimbaran Bali, dari bulan Juni sampai Agustus 2008. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL), dengan perlakuan sebagai berikut: konsentrasi ekstrak bawang putih (A) dengan 3 level

konsentrasi yaitu 2% (A1), 4% (A2) dan 6% (A3) yang dikombinasikan dengan konsentrasi ekstrak kayu manis (B) dengan 1 level konsentrasi yaitu 4%, dan sebagai kontrol atau pembanding digunakan ragi komersial NKL tanpa ada penambahan ekstrak bawang putih dan kayu manis. Kombinasi perlakuan dalam penelitian adalah : BA1, BA2, BA3 dan B0A0 (kontrol untuk pembanding). Dengan demikian terdapat 4 kombinasi perlakuan dengan 4 pengulangan, sehingga dalam penelitian ini terdapat 16 unit percobaan. Masing-masing kombinasi perlakuan ditambahkan atau dicampur dengan ragi NKL (berat 5 gr), kemudian dicetak dan diinkubasi selama 3 hari pada suhu kamar, setelah itu dikeringkan. Ragi yang telah kering masingmasing ditaburkan pada beras ketan hitam yang telah dimasak, dengan perbandingan 1 kg beras ketan hitam : 1 butir ragi (berat 5 gr), dan masingmasing dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diinkubasi pada suhu kamar. Pengamatan dilakukan pada hari ke 3 dan 13 setelah diinokulasi dengan ragi, meliputi : kadar gula reduksi, kadar alkohol, pH dan rasa tape Data dianalisis secara statistik dengan ANOVA (Analisis of Variance ) dan diaplikasikan dengan program MINITAB for windows versi 12. Apabila dari uji ANOVA diperoleh hasil yang berbeda nyata (p < 0,05), maka uji dilanjutkan dengan uji perbandingan berganda pada taraf uji 5% (Gomez dan Gomez, 1995). HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan kadar gula antar perlakuan baik pada pengamatan hari ke 3 maupun hari ke 13. Ratarata kadar gula hasil pengamatan pada hari ke 3 lebih tinggi dibandingkan dengan kadar gula pada pengamatan hari ke 13. Analisis statistik menunjukkan penambahan ekstrak bawang putih dan kayu manis sebagai suplemen ragi memberikan pengaruh yang berbeda nyata antar perlakuan (p<0,05). Pada pengamatan hari
133

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

ke 3 kadar gula tertinggi 6,62 % terdapat pada perlakuan BA2, yang menunjukkan hasil berbeda nyata dengan perlakuan BA1, BA3 maupun dengan kontrol. Sedangkan pada pengamatan hari ke 13 kadar gula tertinggi hanya 0,26% terdapat pada perlakuan yang sama (Tabel 1 ). Tabel 1. Rata-rata kadar gula reduksi (%) tape yang diamati pada hari ke 3 dan 13. Tingginya kadar gula reduksi pada perlakuan BA2 disebabkan karena pada perlakuan (kombinasi antara 4 % ekstrak kayu manis dan 4% ekstrak bawang putih) dapat menstimulir mikroorganisme yang diinginkan pada ragi yaitu jamur atau kapang amilolitik yang berperanan di dalam pembentukan gula, sehingga pertumbuhannya pada perlakuan ini lebih optimal dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Dengan demikian konversi gula dari pati akan berlangsung secara lancar (Anonim, 2008 ; Atmodjo, 2006). Ekstrak bawang putih dan kayu manis mengandung senyawa aktif dan bersifat bakteriostatis dapat menghambat mikroorganisme tertentu yang tidak diinginkan dan menstimulir mikroorganisme yang diinginkan pada ragi (Sumanti, 2008). Menurut Lestario (1998) dalam Siswanto (2000), penambahan kombinasi rempah-rempah dalam konsentrasi tertentu dapat menghambat dan memacu jamur amilolitik maupun khamir sehingga gula dan alkohol yang dihasilkan berbeda-beda. Selama proses fermentasi, jamur atau kapang akan menghasilkan enzim alfa amilase, beta amilase

dan glukoamilase yang dapat mengubah amillum atau pati menjadi gula. Tingginya kadar gula pada perlakuan BA2 terutama pada hari ke 3 ditunjukkan juga dengan rasa tape yang sangat manis, pada perlakuan BA1 dan BA0 memiliki rasa asam agak manis, dan pada perlakuan BA3 rasanya pahit asam. Sedangkan pada pengamatan hari ke 13 semua tape memiliki rasa pahit dan asam Analisa statistik menunjukkan terdapat perbedaan kadar alkohol antar perlakuan. Ratarata kadar alkohol pada pengamatan hari ke 13 lebih tinggi dari pengamatan hari ke 3. Pada hari ke 3 kadar alkohol tertinggi hanya 4,50% yang terdapat pada perlakuan BA3, sedangkan pada pengamatan hari ke 13 kadar alkohol tertinggi 10,02% terdapat pada perlakuan yang berbeda (BA2) (Tabel 2). Tingginya kadar alkohol pada perlakuan BA2 terutama pada pengamatan hari ke 13 disebabkan oleh adanya aktivitas sel-sel khamir yang pada perlakuan ini dapat tumbuh secara optimal dibandingkan dengan perlakuan yang lain, sehingga gula dapat dirubah lewat jalur metabolisme sel-sel khamir menjadi alkohol. Pada Tabel 2 dapat dilihat pengamatan hari ke 3 pada perlakuan BA2 memiliki kadar alkohol paling rendah dengan kadar gula paling tinggi. Tingginya kadar gula pada hari ke 3 ini juga menyebabkan alkohol yang terbentuk pada hari ke 13 menjadi paling tinggi. Sedangkan rendahnya kadar alkohol pada hari ke 3 disebabkan karena alkohol pada hari ke 3 belum terbentuk secara

134

Pemanfaatan Ekstrak Bawang Putih (Allium Sativum) Dan Kayu Manis ....

Susun Parwanayoni

maksimal dan baru akan terbentuk lebih maksimal setelah hari ke 5 (Sumanti, 2008 ; Toharisma, 1999) Atmodjo (2006) menyatakan dalam fermentasi tape suhu merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap produksi alkohol. Pada suhu kamar (30oC) selsel khamir akan mengkonversi gula secara maksimal menjadi alkohol, sehingga semakin lama waktu fermentasi alkohol yang terbentuk semakin banyak dan kadar gulanya semakin menurun. Tetapi pada suhu yang lebih tinggi atau lebih rendah dari suhu kamar tidak semua gula yang tersedia dirubah menjadi alkohol. Penurunan kadar gula pada pengamatan hari 13 disebabkan oleh terhambatnya pertumbuhan jamur atau kapang amilolitik yang disebabkan oleh semakin tingginya kandungan alkohol dan asam-asam organik yang terbentuk, serta semakin rendahnya pH.

Hasil penelitian menunjukkan pH pada perlakuan BA3 berbeda nyata dengan perlakuan BA2, BA1 dan B0A0 (kontrol) baik pada pengamatan hari ke 3 maupun hari ke 13). Ph terendah terjadi pada perlakuan BA3 baik pada pengamatan hari ke 3 maupun hari ke 13 (Tabel 3). Berdasarkan data hasil penelitian pada Tabel 3 semakin lama waktu fermentasi nilai pH semakin menurun. Hal ini disebabkan karena pada proses fermentasi umumnya akan terjadi peningkatan ion hidrogen di dalam medium. Peningkatan ion hidrogen secara alami terjadi oleh adanya pembentukan senyawa asam, seperti asam asetat dan asam piruvat lewat jalur perubahan metabolisme amilum ke gula dan akhirnya menjadi alkohol (Anonim, 2008).

135

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

KESIMPULAN Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1. Penambahan ekstrak bawang putih (Allium sativum) dan kayu manis (Cinnamomum burmanii Bl.) sebagai suplemen ragi dalam fermentasi tape dapat mempengaruhi kadar gula dan alkohol pada tape. 2. Penambahan 4% ekstrak bawang putih (Allium sativum) dan 4% ekstrak kayu manis (Cinnamomum burmanii Bl.) dapat menghasilkan kadar gula dan alkohol paling tinggi yaitu masing-masing 6,62% dan 10,02%. SARAN Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan suplemen rempah dan sumber pati yang berbeda terutama terhadap produksi alkohol, mengingat prospek produksi alkohol secara fermentasi di masa yang akan datang sangat baik dikarenakan alkohol banyak dibutuhkan untuk pabrik farmasi, petro kimia dan bahkan saat ini dikembangkan bioetanol atau bioalkohol sebagai bahan bakar nabati. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Penelitian Universitas Udayana yang telah mendanai keseluruhan penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada staf di Laboratorium Analitik yang telah banyak memberi petunjuk dan membantu dalam analisis sampel.

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2008. Mikrobiologi dan Biokimia Tape. Available at : http : // Permimalang, wordprees.com / 2008 / 04 / 11/ Mikrobiologi dan Biokimia Tape Atmodjo, P.K. 2006. Pengaruh Variasi Beras Ketan (Oryza sativa Var. Glutinosa L.) dan Suhu Fermentasi Terhadap Produksi Alkohol. Jurnal Biota.Fakultas Biologi Universitas Atmajaya. Yogyakarta. Vol. XI (III) : 152-158. Gomez, K.A. dan Gomez, A.A. 1995. Prosedur Statistik untuk Pertanian. Diterjemahkan oleh Syamsuddin, E. dan Baharsyah, J.S. Universitas Indonesia Prees. Jakarta. Kasmidjo, R.B. 1999. Pembuatan dan Pemanfaatan Ragi. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Sumanti, 2008. Fermentasi. http : // endick, wordprees.com. Siswanto. 2000. Aktivitas Mikroflora dalam Fermentasi Tape. Fakultas Biologi UGM. Yogyakarta. Tesis Tidak Dipublikasikan. Toharisman, A. 1999. Biokonversi fraksi Gula Reduksi menjadi Etanol Menggunakan S. cerevisiae. Jurnal Biosains Vol IV : 110.

136

137

Widya Biologi Vol. 02 No. 02 Oktober 2011

ISSN : 2086-5783

PEDOMAN PENULISAN NASKAH JURNAL BIOLOGI


1. Naskah dapat berupa hasil penelitian atau kajian pustaka yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. 2. Penulisan dapat dilakukan dalam bahasa Indonesia maupun bahasa inggris. Tiap artikel antara 10 sampai 15 halaman termasuk Tabel dan Gambar (foto, bagan, peta, grafik, histogram, sketsa atau diagram). 3. Penyerahan naskah publikasi kepada redaksi dilakukan dalam bentuk hard copy (cetakan) rangkap dua ( 2 eksemplar) dan CD Drive. 4. Abstrak dibuat dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, tidak lebih dari 200 kata. Apabila penulisan dilakukan dalam Bahasa Indonesia maka abstrak dalam Bahasa Indonesia ditulis terlebih, kemudian abstrak dalam Bahasa Inggris, dan sebaliknya. 5. Setelah penulisan abstrak, harap disertakan kata kunci (key word) maksimum lima kata. 6. Nama penulis tanpa gelar akademik dan alamat instansi ditulis lengkap. 7. Penulisan naskah publikasi dilakukan menurut uraian sebagai berikut: a. Program : MS window (windows) b. Font : Time New Roman size 12. c. Abstrak ditulis dengan huruf italic dalam satu spasi. d. Isi publikasi ditulis dengan huruf tegak dalam 1,5 spasi. e. Daftar pustaka ditulis dengan huruf biasa dalam satu spasi. f. Margin: kiri 3,5 cm; kanan, atas dan bawah masing-masng 3 cm, ukuran kertas HVS A4. 8. Penulisan dibuat dengan format sebagai berikut: a. Naskah hasil penelitian terdiri atas: Judul, nama penulis, alamat penulis, Abstrak, Abstract, Pendahuluan, Bahan dan Metode, Hasil dan Pembahasan, Kesimpulan, Saran dan Ucapan Terima Kasih (jika ada) serta Daftar Pustaka. b. Naskah kajian pustaka terdiri atas; Judul, Nama Penulis, Abstrak, Abstract, Pendahuluan. Pembahasan, Kesimpulan, Saran, dan Ucapan Terima Kasih (jika ada) serta Daftar Pustaka. 9. Dalam mengutif pendapat orang lain, dipakai sistem nama penulis dan tahun. 10. Kepustakaan disusun menurut abjad nama penulis tanpa nomor urut. contoh penulisan kepustakaan : a. Buku : Ludwig, T.A. dan J.F. Reynolds. 1988. Statistical Ecology. A Primer on Methods and Computing. John Wiley and Sons. New York. b. Karangan dalam buku (bab dalam buku): Myers, N. 1995. Tropical Deporestration: Population, Proverty and Biodiversity. In: Swanson. T.M.(ed.). The Economic and Ecology of Biodiversity Decline. UK. Cambridge University Press. c. Jurnal : McGuinness, K.A. 1997. Seed Predation in a Tropical Mangrove Forest: a test of The Dominance-Predation Model in Northern Australia. Journal of Tropical Ecology 13: 293 302. d. Prosiding : Arsana, I.N. 2003. Kesesuaian Habitat komunitas Kepiting (Brachyura : Ocypodidae dan Sesarmidae) di Kawasan Teluk Lembar, Lombok Barat. Prosiding Seminar Nasional Limnologi, Perhimpunan Biologi Indonesia Cabang Jogjakarta. Hal.133- 138 e. Skripsi, tesis atau disertasi : Tolangara, A. 2002. Analisis Gradien pada Komunitas mangrove di Segara Anakan Cilacap Jawa Tengah. (Tesis). Universitas Gadjah Mada. Jogjakarta. 11. Setiap grafik, histogram, sketsa dan gambar agar diberi nomor urut, judul yang singkat tetapi jelas dan satuan yang dipakai. 12. Hasil yang sudah ditulis dalam tabel tidak perlu diulang dalam bentuk lain (grafik atau histogram).
138

Vol. 02 No.02 Oktober 2011

ISSN No.2086-5783

WIDYA BIOLOGI
DEWAN REDAKSI

Ketua I Nyoman Arsana

Sekretaris I Putu Sudiartawan

Anggota Euis Dewi Yuliana, Ni Ketut Ayu Juliasih, Ni Luh Gede Sudaryati, I Wayan Suarda, Israil Sitepu Redaktur Ahli (Peer Riview) Prof. Dr. I Dewa Made Tantera Keramas,MSc (Program Pasca Sarjana UNHI) Dr. I Gede Ketut Adiputra (Program Studi Biologi UNHI) Dr. I Wayan Suana, S.Si.,M.Si ( Program Studi Biologi UNRAM) Jurnal Widya Biologi, (ISSN No. 2086-5783) diterbitkan oleh Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam Universitas Hindu Indonesia Denpasar, sebagai wadah informasi ilmiah bidang biologi baik yang berupa hasil penelitian ataupun kajian pustaka Jurnal Widya Biologi menerima naskah dari dosen, peneliti, mahasiswa maupun praktisi yang belum pernah diterbitkan dalam publikasi lain dengan ketentuan seperti tercantum pada bagian belakang jurnal ini. Langganan Jurnal Widya Biologi terbit dua nomor dalam satu tahun (Maret dan Oktober). Langganan untuk satu tahun (termasuk ongkos kirim) sebagai berikut: 1. Lembaga.Institusi : Rp. 150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah) 2. Individu/Pribadi : Rp. 75.000,- (tujuh puluh Lima ribu rupiah) 3. Mahasiswa : Rp. 30.000,- (tiga puluh ribu rupiah) Pembayaran dapat dilakukan dengan cara: a) Pembayaran langsung, b) wesel pos. Salinan bukti pembayaran (b) harap dikirimkan ke redaksi.

Alamat Redaksi
Program Studi Biologi FMIPA UNHI Jl Sangalangit, Tembau-Penatih, Denpasar, Bali E-mail : widyabiologi@yahoo.co.id
139

Vol. 02 No 02 Oktober 2011

ISSN No.2086-5783

DAFTAR ISI
WIDYA BIOLOGI
INDUKSI AUXIN TERHADAP AKTIVITAS AUTOTROFIK BIBIT ANGGREK BOTOL PADA LINGKUNGAN EX-VITRO I Gede Ketut Adiputra ..................................................................................................... 77-90 INVENTARISASI JENIS MOLUSCA DI DANAU TAMBLINGAN, BALI Ni Made Suartini ............................................................................................................. 91-96 PENGARUH SUPLEMENTASI SOMATOTROPIN TERHADAP PERUBAHAN BOBOT BADAN TIKUS BETINA USIA ENAM BULAN DAN SATU TAHUN Ni Wayan Sudatri .......................................................................................................... 97-101 EFEKTIVITAS TANAMAN HIAS Sansevieria lorentii DALAM MENYERAP POLUTAN TIMBAL (Pb) Ni Luh Suriani ............................................................................................................. 102-105 EFEKTIVITAS HASIL FRAKSINASI EKSTRAK DAUN SEMBUNG DELAN (Sphaerantus indicus L.) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN Alternaria sp. dan Phytopthora sp. Ida Bagus Gede Darmayasa ......................................................................................... 106-112 PENGARUH PAPARAN ASAP ROKOK TERHADAP KADAR KLOROFIL PADA DAUN TANAMAN CAM, Sansevieria trifasciata I Gusti Ayu Made Dwi Lestari, I Gede Ketut Adiputra .................................................. 113-120 KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG AIR DI HUTAN MANGROVE SUWUNG KAUH DENPASAR I Gusti Ngurah Bagus Ary Eka Putra, Ni Ketut Ayu Juliasih, I Nyoman Arsana .............. 121-131 PEMANFAATAN EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum) DAN KAYU MANIS (Cinnamomum burmanii Bl.) SEBAGAI SUPLEMEN RAGI DALAM PROSES FERMENTASI TAPE Ni Made Susun Parwanayoni ....................................................................................... 132-136