Anda di halaman 1dari 35

Acne Vulgaris Kasus : An.C laki-laki usia 16 tahun mengeluh terdapat bercak kemerahan di area wajah, leher, punggung.

Ditemukan lesi dengan bentuk bervariasi, ada yang mengeluarkan nanah, bintik hitam di permukaan lesi, ada bila ditekan mengeluarkan bentuk seperti margarine dan berbau tengik. Klien mengatakan sedang dalam persiapan UN dan klien mengatakan malu dengan kondisinya saat ini. Klien juga sering memencet lesinya tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Klien sudah menggunakan berbagai obat yang dijual bebas di pasaran, namun belum menunjukkan hasil. Klien tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah yang dialaminya. Soal : 1. Buatlah konsep dasar penyakit terkait kondisi klien di atas! (definisi, epidemiologi, etiologi/factor resiko, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan fisik & diagnostic, penatalaksanaan, pencegahan) 2. Buatlah pathway sesuai kasus klien di atas! 3. Buatlah asuhan keperawatan untuk kasus klien di atas (pengkajian, analisa data, diagnose keperawatan, perencanaan)! 4. Susunlah pendidikan kesehatan untuk kasus di atas (pilih 1 topik yang paling diperlukan oleh klien)!

Pembahasan : 1. Buatlah konsep dasar penyakit terkait kondisi klien di atas! (definisi, epidemiologi, etiologi/factor resiko, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan fisik & diagnostic, penatalaksanaan, pencegahan) A. Definisi/pengertian Akne vulgaris ( jerawat ) penyakit kulit akibat perdangan kronik folikel pilosebasea yang umunya terjadi pada masa remaja dengan gambaran klinis berupa komedo, papula, pustul, nodus, dan kista pada tempat predileksinya ( Arif Mansjoer, dkk. 2000) Akne vulgaris ( jerawat ) merupakan kelainan folikel umum yang mengenai pilosebasea ( polikel rambut ) yang rentan dan paling sering ditemukan di daerah

muka, leher, serta bagian atas. Akne ditandai dengan komedo tertutup ( white head ), komedo terbuka ( black head ), papula, pustul, nodus, dan kista ( Brunner & Suddarth, 2001 ) Akne vulgaris atau disebut juga common acne adalah penyakit radang menahun dari apparatus pilosebasea, lesi paling sering di jumpai pada wajah, dada dan punggung. Kelenjar yang meradang dapat membentuk papul kecil berwarna merah muda, yang kadang kala mengelilingi komedo sehingga tampak hitam pada bagian tengahnya, atau membentuk pustule atau kista; penyebab tak diketahui, tetapi telah dikemukakan banyak faktor, termasuk stress, faktor herediter, hormon, obat dan bakteri, khususnya Propionibacterium acnes, Staphylococcus albus, dan Malassezia furfur, berperan dalam etiologi (Dorland, 2002). Acne vulgaris adalah penyakit peradangan menahun folikel pilosebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri (Wasitaatmadja, 2007). Akne vulgaris atau yang sering dikenal dengan sebutan jerawat merupakan gangguan inflamatorik pada kelenjar sebasea dan masalah kulit yang paling umum dialami remaja, namun lesi juga bisa muncul saat penderita berusia 8 tahun. Walaupun lebih sering terjadi dan lebih parah dialami anak lelaki daripada anak perempuan, akne (jerawat) yang dialami perempuan biasanya muncul lebih awal dan cenderung berlangsung lebih lama, kadang-kadang hingga penderita menginjak masa dewasa. Jika ditangani dengan baik, prognosisnya baik. (William and Wilkins, 2008 hal.1). Jadi dapat disimpulkan, Akne vulgaris ( jerawat ) adalah penyakit kulit akibat perdangan kronik folikel pilosebasea yang umunya terjadi pada masa remaja dengan gambaran klinis berupa komedo, papula, pustul, nodus, dan kista. Yang rentan dan paling sering ditemukan di daerah muka, leher, dada dan punggung. B. Epidemiologi Akne merupakan kelainan kulit yang paling sering ditemukan pada remaja dan dewasa muda di antara usia 12 - 35 tahun. Laki laki dan perempuan terkena sama banyaknya, dengan insiden tertinggi antara usia 14 dan 17 tahun pada perempuan untuk anak perempuan, serta usia 16 dan 19 tahun untuk anak laki laki. Kelainan kulit ini semakin nyata pada pubertas dan usia remaja, dan kenyataan tersebut

mungkin terjadi karena fungsi kelenjar endokrin tertentu yang mempengaruhi sekresi kelenjar sebasea mencapai aktivitas puncaknya pada usia ini. Akne tampaknya berakar dari interaksi faktor genetic, hormonal dan bacterial. Pada sebagian besar kasus terdapat riwayat akne dalam keluarga. (Brunner & Suddart, 2002:1857) Walaupun demikian ada banyak juga orang setengah baya yang mengalami serangan akne. Akne tidak terdapat pada laki laki yang dikastrasi sebelum pubertas atau pada perempuan yang sudah diooforektomi. C. Etiologi / Faktor Resiko Penyebab pasti dari penyakit akne vulgaris sendiri masih belum diketahui. Beberapa penyebab pasti yang mungkin menurut Williams and Wilkins (2008, hal.1) yaitu; oklusi folikular, produksi sebum yang terstimulasi oleh androgen dan Propinibacterium acnes. Timbulnya jerawat juga dimungkinkan oleh beberapa hal berikut 1) Sebum, sebum merupakan faktor utama penyebab timbulnya akne. Akne yang keras selalu disertai pengeluaran sebore yang banyak 2) Bakteria, mikroba yang terlibat pada terbentuknya akne adalah corynebacterium acnes, Stafilococcus epidermidis, dan pityrosporum ovale. Dari ketiga mikroba ini yang terpenting yakni C. Acnes yang bekerja secara tidak langsung. 3) Herediter, faktor herediter yang sangat berpengaruh pada besar dan aktivitas kelenjar palit (glandula sebasea). Apabila kedua orang tua mempunyai parut bekas akne, kemungkinan besar anaknya akan menderita akne. 4) Hormon Hormon androgen. Hormon ini memegang peranan yang penting karena kelenjar palit sangat sensitif terhadap hormon ini. Hormon androgen berasal dari testes dan kelenjar anak ginjal (adrenal). Hormon ini menyebabkan kelenjar palit bertamabah besar dan produksi sebum meningkat. Pada penyelidikan Pochi, Frorstrom dkk. & Lim James didapatkan bahwa konsentrasi testosteron dalam plasma penderita akne pria tidak berbeda dengan yang tidak menderita akne. Berbeda dengan wanita, pada testosteron plasma sangat meningkat pada penderita akne.

Estrogen. Pada keadaan fisiologi, estrogen tidak berpengaruh terhadap produksi sebum. Estrogen dapat menurunkan kadar gonadotropin yang berasal dari kelenjar hipofisis. Hormon gonadotropin mempunyai efek menurunkan produksi sebum. Progesteron. Progesteron, dalam jumlah fisiologik tak mempunyai efek terhadap efektivitas terhadap kelenjar lemak. Produksi sebum tetap selama siklus menstruasi, akan tetapi kadang-kadang progesteron dapat menyebabkan akne premenstrual. Hormon-hormon dari kelenjar hipofisis. Pada tikus, hormon tirotropin, gonadotropin, dan kortikotropin dari kelenjar hipofisis diperlukan untuk aktivitas kelenjar palit. Pada kegagalan dari kelenjar hipofisis, sekresi sebum lebih rendah dibandingkan dengan orang normal. Penurunan sebum diduga disebabkan oleh adanya suatu hormon sebotropik yang berasal dari baga tengah (lobus intermediate) kelenjar hipofisis. 5) Diet, beberapa pengarang terlalu membesar-besarkan pengaruh makanan terhadap akne, akan tetapi dari penyidikan terakhir ternyata diet sedikit atau tidak berpengaruh terhadap akne. Pada penderita yang makan banyak karbohidrat dan zat lemak, tidak dapat dipastikan akan terjkadi perubahan pada pengeluaran sebum atau komposisinya karena kelenjar lemak bukan alat pengeluaran lemak yang kita makan. 6) Obat obatan tertentu, antara lain kortikosterodid, glukokortiroid, halogen, phenobarbital, phenhytoin (Dilantin), isoniazid (Laniazid), dan litium (William and Wilkins, 2008). Konsumsi obat kortikosteroid, baik oral (obat minum) maupun topical (obat oles), yang mengakibatkan daya tahan tubuh menurun, juga meningkatkan potensi timbulnya jerawat karena aktivitas bakteri patogen yang meningkat. 7) Kosmetik, Penyumbatan pori-pori seringkali terjadi oleh penggunaan kosmetik yang mengandung banyak minyak atau penggunaan bedak yang menyatu dengan foundation. Foundation yang terkandung pada bedak menyebabkan bubuk bedak mudah menyumbat pori-pori, pelembab (moisturiser), krem penahan sinar matahari (sunscreen), dan krem malam. Yang mengandung bahan-bahan, seperti lanolin, pektrolatum, minyak tumbuh-tumbuhan dan bahan-bahan kimia murni (butil stearat, lauril alcohol, dan bahn pewarna merah D &C dan asam oleic).

Jenis kosmetika yang dapat menimbulkan akne tidak tergantung pada harga, merk, dan kemurnian bahannya. Suatu kosmetika dapat bersifat lebih komedogenik tanpa mengandung suatu bahan istimewa, tetapi karena kosmetika tersebut memang mengandung campuran bahan yang bersifat komedogenik atau bahan dengan konsentrasi yang lebih besar. Penyelidikan terbaru diLeeds tidak berhasil menemukan hubungan antara lama pemakaian dan jumlah kosmetika yang diapakai dengan keparahan akne. 8) Stress emosional, sebenarnya, stres tidak secara langsung menyebabkan jerawat. Masalahnya, ada hormon tertentu yang keluar saat seseorang stres, yang memungkinkan tumbuhnya jerawat. Tak hanya itu, stres membuat orang tersebut mempunyai pola makan yang cenderung banyak mengkonsumsi makanan manis dan berlemak, sebagai "pelarian" dari stres. 9) Paparan senyawa industri, biasanya disebabkan oleh Dioksin yang merupakan produk sampingan utama dari proses-proses industri, tetapi juga dapat merupakan hasil dari proses alam, seperti letusan gunung berapi dan kebakaran hutan. Paparan jangka pendek dioksin kadar tinggi pada manusia dapat mengakibatkan lesi kulit, seperti chloracne (sejenis jerawat akibat paparan senyawa halogen, termasuk dioksin) dan penggelapan warna kulit, dan gangguan fungsi hati. 10) Trauma atau gesekan dengan pakaian ketat, Menurut Acne Resource Center ada beberapa penyebab lainnya dalam pertumbuhan jerawat di punggung antara lain, pakaian ketat, keringat yang berlebihan dan memakai ransel yang berat. Dengan perawatan yang teratur jerawat di punggung dapat di hilangkan 11) Iklim, di daerah yang mempunyai empat musim, biasanya akne bertambah hebat pada musim dingin, sebaliknya kebanyakan membaik pada musim panas. Sinar ultraviolet (UV) mempunyai efek membunuh bakteri pada permukaan kulit. Selain itu, sinar ini juga dapat menembus epidermis bagian bawah dan bagian atas dermis sehingga berpengaruh pada bakteri yang berada dibagian dalam kelenjar palit. Sinar UV juga dapat mengadakan pengelupasan kulit yang dapat membantu menghilangkan sumbatan saluran pilosebasea. Menurut Cunliffe, pada musim panas didapatkan 60% perbaikan akne, 20% tidak ada perubahan, dan 20% bertambah hebat. Bertambah hebatnya akne pada musim panas

tidak disebabkan oleh sinar UV melainkan oleh iklim tropis dan lembap membuat tubuh lebih mudah berkeringat. Kelenjar keringat bekerja super-aktif. Di usia yang sangat aktif usia remaja juga mengalami risiko berjerawat lebih tinggi. D. Patofisiologi Patogenesis akne vulgaris sangat kompleks dipengaruhi banyak faktor dan kadangkadang masih controversial. Asam lemak bebas yang terbentuk dari trigliserida dalam sebum menyebabkan kekentalan sebum bertambah dan menimbulkan sumbatan saluran pilosebasea serta reaksi radang disekitarnya (komedogenik). Pembentukan pus, nodus, dan kista terjadi sesudahnya. Ada empat hal penting yang berhubungan dengan terjadinya akne : 1. kenaikan sekresi sebum 2. Adanya keratinisasi folikel 3. Bakteri 4. Peradangan (inflamasi). 1. Kenaikan sekresi sebum Akne biasanya mulai timbul pada masa pubertas pada waktu kelenjar sebasea membesar dan mengeluarkan sebum lebih banyak. Terdapat korelasi antara hebatnya akne dan produksi sebum. Pertumbuhan kelenjar palit dan produksi sebum dibawah pengaruh hormon androgen. Pada penderita akne terdapat peningkatan konversi hormon androgen yang normal berada dalam darah (testosteron) kebentuk metabolit yang lebih aktif (5-alfa dihidrotestosteron). Hormon ini mengikat reseptor androgen di sitoplasma dan akhirnya menyebabkan proliferasi sel penghasil sebum. Meningkatnya produksi sebum pada penderita akne disebabkan oleh respon organ akhir yang berlebihan (end-organ hyperresponse) pada kelenjar palit terhadap kadar normal androgen dalam darah. Terbukti bahwa, pada kebanyakan penderita, lesi akne hanya ditemukan dibeberapa tempat yang kaya akan kelenjar palit. Akne mungkin juga berhubungan dengan komposisi lemak. Sebum bersifat komedogenik tersusun dari campuaran skualen, lilin (wax), ester dari sterol, kholesterol, lipid polar, dan trigliserida. Pada penderita akne terdapat kecenderungan mempunyai kadar skualen dan ester lilin (wax) yang tinggi, sedangkan kadar asam

lemak terutama asam leinoleik, rendah. Mungkin hal ini ada hubungan dengan terjadinya hiperkeratinisasi pada kelenjar sebasea. 2. Keratinisasi folikel Keratinisasi pada saluran pilosebasea disebabkan oleh adanya penumpukan korniosit dalam saluran pilosebasea. Hal ini dapat disebabkan : Bertambahnya erupsi korniosis pada saluran pilosebasea Pelepasan korniosit yang tidak adekuat Kombinasi kedua faktor diatas. Bertambahnya produksi korniosit dari sel keratinosit merupakan salah satu sifat komedo. Terdapat hubungan terbalik antara sekresi sebum dan konsentrasi asam linoleik dalam sebum. Menurut Downing, akibat dari meningkatnya sebum pada penderita akne, terjadi penurunan konsentrasi asam lenolik. Hal ini dapat menyebabkan defisiensi asam lenoleik pada epitel folikel, yang akan menimbulkan hiperkeratosis folikuler dan penurunan fungsi barier dari epitel. Dinding komedo lebih mudah ditembus bahan-bahan yang menimbulkan peradangan. Walaupun asam lenoleik merupakan unsur penting dalam seramaid-1, lemak lain mungkin juga berpengaruh pada patogenesis akne. Kadar sterol bebas juga menurun pada komedo sehingga terjadi ketidak seimbangan antara kholesterol bebas dengan kholesterol sulfat sehinggga adhesi korneosit pada akroinfundibulum bertambah dan terjadi hiperkeratosis folikel. 3. Bakteri Tiga macam mikroba yang terlibat dalam patogenesis akne adalah corynebakterium Acne, Stafylococcus epidermidis, dan pityrosporum ovale (malazzea furfur). Adanya sebore pada pubertas biasanya disertai dengan kenaikan jumlah corynebacterium acne, tetapi tidak ada hubungan dengan jumlah bakteri pada permukaan kulit atau dalam saluran pilosebasea dengan derajat hebatnya akne. Tampaknya ketiga macam bakteri ini bukanlah penyebab primer pada proses patologis akne. Beberapa lesi mungkin timbul tanpa ada mikroorganisme yang hidup, sedangkan pada lesi yang lain

mikroorganisme mungkin memegang peranan penting. Bakteri mungkin berperan pada lamanya masing-masing lesi. Apakah bakteri yang berdiam dalam folikel (residen bacteria) mengadakan eksaserbasi tergantung pada lingkungan mikro dalam folikel tersebut. Menurut hipotesis Saint-Leger skualen yang dihasilkan oleh kelenjar palit dioksidasi dalam kelenjar folikel dan hasil oksidasi ini dapat menyebabkan terjadinya komedo. Kadar oksigen dalam folikel berkurang dan akhirnya menjadi kolonisasi C.Acnes. Bakteri ini memproduksi porfirin, yang bila dilepaskan dalam folikel akan menjadi katalisator untuk terjadinya oksidasi skualen, sehingga oksigen dalam folikel tambah berkurang lagi. Penurunan tekanan oksigen dan tingginya jumlah bakteri ini dapat menyebabkan peradangan folikel. Hipotesis ini dapat menerangkan mengapa akne hanya dapat terjadi pada beberapa folikel, sedangkan folikel yang lain tetap normal. 4. Peradangan Faktor yang menyebabkan peradangan pada akne belumlah diketahui dengan pasti. Pencetus kemotaksis adalah dinding sel dan produk yang dihasilkan oleh C.Acnesseperti lipase, hialuronidase, protease, lesitinase dan nioranidase, memegang peranan penting dalam proses peradangan. Factor kemotaktik yang berberat molekul rendah (tidak memerlukan komplemen untuk bekerja aktif), bila keluar dari folikel, dapat menarik leukosit nucleus polimorfi (PMN) dan limfosit. Bila masuk kedalam folikel, PMN dapat mencerna C. Acnes dan mengeluarkan enzim hidrolitik yang bisa menyebabkan kerusakan dari folikel sebasea. Limfosit dapat merupakan pencetus terbentuknya sitokin. Bahan keratin yang sukar larut, yang terdapat di dalam sel tanduk serta lemak dari kelenjar palit dapat menyebabkan reaksi non spesifik, yang disertai makrofag dan selsel raksasa. Pada masa permulaan peradangan yang ditimbulkan oleh C.Acnes, juga terjadi aktivasi jalur komplemen klasik dan alternatif (classical and alternative complement pathways). Respon penjamu terhadap mediator juga amat penting. Selain itu antibody terhadap C.Acnes juga meningkat pada penderita akne hebat. Terdapat empat mekanisme utama kejadian jerawat :

1. 2.

Kelenjar minyak menjadi besar (hipertropi) dengan peningkatan penghasilan sebum (akibat rangsangan hormon androgen) Hiperkeratosis (kulit menjadi tebal) epitelium folikular (pertumbuhan sel-sel yang cepat dan mengisi ruang folikel polisebaceous dan membentuk plug).

3. Pertumbuhan kuman, propionibacterium acnes yang cepat (folikel pilosebaceous yang tersumbat akan memerangkap nutrien dan sebum serta menggalakkan pertumbuhan kuman. 4. Inflamasi (radang) akibat hasil sampingan kuman propionibacterium acnes. Proses terbentuknya dimulai dengan adanya radang saluran kelenjar minyak kulit, kemudian dapat menyebabkan sumbatan aliran sebum yang dikeluarkan oleh kelenjar sebasea di permukaan kulit, sehingga timbul erupsi ke permukaan kulit yang dimulai dengan komedo. Proses peradangan selanjutnya akan membuat komedo berkembang menjadi papul, pustul, nodus dan kista. Bila peradangan surut terjadi jaringan parut. E. Manifestasi Klinis Tempat predileksi akne vulgaris adalah di muka , bahu,dada bagian atas dan punggung bagian atas gejala predominan salah satunya ,komedo, papul yang tidak meradang dan pustule nodus dan kista yang meradang, isi komedo adalah sebum yang kental atau padat. Isi kista biasanya pus atau darah . Dapat disertai rasa gatal ,namun umumnya keluhan penderita adalah keluhan estetis. Selain itu manifestasi klinis lainnya, yaitu: Gejala lokal termasuk nyeri (pain) atau nyeri jika disentuh (tenderness). Biasanya tidak ada gejala sistemik pada acne vulgaris. Akne yang berat (severe acne) disertai dengan tanda dan gejala sistemik disebut sebagai acne fulminans. Acne dapat muncul pada pasien apapun sebagai dampak psikologis, tanpa melihat tingkat keparahan penyakitnya. Komedo tertutup (whitehead) merupakan lesi obstruktif yang terbentuk dari lipid atau minyak terjepit dan keratin yang menyumbat folikel yang melebar. Komedo tertutup merupakan papula kecil berwarna keputihan dengan lubang folikuler yang halus sehingga umumnya tidak terlihat. Komedo tertutup dapat menjadi komedo

terbuka, dimana isi saluran memiliki hubungan yang terbuka dengan dunia dunia luar. Komedo terbuka (blackhead) bukan terjadi karena kotoran atau bakteri melainkan karena akumulasi lipid, bakteri serta debris epitel. Meskipun penyebabnya yang pasti tidak diketahui, sebagai komedo tertutup dapat mengalami rupture dan menimbulkan reaksi inflamasi yang disebabkan karena perembesan isi folikel. Inflamasi yang ditimbulkan terlihat secara klinis papula eritematosa, pustule, dan kista inflamatorik. Papula serta kista yang ringan akan kempis dan sembuh sendiri. Papula dan kista yang lebih parah akan menimbulkan jaringan parut. Metode yang diajukan oleh Cook (1979) dan kemudian oleh Allen dan Smith (1982) memakai grading dari 0-8 sebagai berikut : Skala Grading Cook et al Grading Allen dan Smith

Kulit tak begitu bersih, ada Kulit tak begitu bersih, ada beberapa 0 beberapa (3) komedo dan komedo tersebar, hanya terlihat dari papul tersebar dekat

Beberapa pustul atau 3 lusin Hanya daerah muka terkena, dengan 2 komedo atau papul. Tak ada papul kecil dan komedo dan beberapa lesi yang besar pustul dan papul yang besar

Antara tingkat 2-6, dengan lesi daerah terkena berisi papul kecil, 4 inflamasi merah komedo besar dan kecil, dan beberapa pustul dan papul yang besar atau kurang dari daerah berisi lesi besar-besar Penuh 6 dengan komedo, daerah muka terkena dengan papul

beberapa papul dan pustul dan momedo besar atau kurang dari besar sehingga terlihat dari daerah berisi lesi besar-besar jarak 2,5 m

Konglobata, sinus atau kistik, Seluruh muka terkena dengan lesi besar 8 atau lesi inflamasi memenuhi meradang. hampir seluruh muka. Meluas ke leher dan bahu Konglobata, sinus dan kistik terlihat

F. Pemeriksaan Fisik dan Diagnostik a. Pemeriksaan Fisik Acne vulgaris bercirikan adanya komedo, papula, pustula, dan nodul pada distribusi sebaceous. Komedo dapat berupa whitehead (komedo tertutup) atau blackhead (komedo terbuka) tanpa disertai tanda - tanda klinis dari peradangan apapun. Papula dan pustula terangkat membenjol (bumps) disertai dengan peradangan yang nyata. Wajah dapat menjadi satu-satunya permukaan kulit yang terserang jerawat, namun dada, punggung, dan lengan atas juga sering terkena jerawat. Pada akne komedo (comedonal acne), tidak ada lesi peradangan. Lesi komedo (comedonal lesions) merupakan lesi akne yang paling awal, sedangkan komedo tertutup (closed comedones) merupakan lesi precursor dari lesi peradangan (inflammatory lesions) Akne peradangan yang ringan (mildinflammatory acne) bercirikan adanya komedo dan papula peradangan. Akne peradangan yang sedang (moderate inflammatory acne) memiliki komedo, papula peradangan, dan pustula. Akne ini memiliki lebih banyak lesi dibandingkan dengan akne peradangan yang lebih ringan. Acne nodulocystic bercirikan komedo, lesi-lesi peradangan, dan nodul besar yang berdiameter lebih dari 5 mm. Seringkali tampak jaringan parut (scarring).

b. Pemeriksaan Diagnostik Diagnosis akne vulgaris ditegakkan atas dasar klinis dan pemeriksaan ekskokleasi sebum, yaitu pengeluaran sumbatan sebum dengan komedo ekstraktor (sendok Unna). Sebum yang menyumbat folikel tampak sebagai massa padat seperti lilin atau massa lebih lunak bagai nasi yang ujungnya kadang berwarna hitam.

1) Pemeriksaan Laboratorium Penegakan diagnosis acne vulgaris berdasarkan diagnosis klinis. Pada pasien wanita dengan nyeri haid ( dysmenorrhea) atau hirsutisme, evaluasi hormonal sebaiknya dipertimbangkan. Pasien dengan virilization haruslah diukur kadar testosteron totalnya. Banyak ahli juga mengukur kadar free testosterone, DHEA-S, luteinizing hormone (LH), dan kadar follicle-stimulating hormone (FSH). Kultur lesi kulit untuk me-rule out gram-negative folliculitis amat diperlukan ketika tidak ada respon terhadap terapi atau saat perbaikan tidak tercapai. 2) Pemeriksaan Histopatologis Microcomedo dicirikan oleh adanya folikel berdilatasi dengan a plug of loosely arranged keratin. Seiring kemajuan (progression) penyakit, pembukaan folikular menjadi dilatasi dan menghasilkan suatu komedo terbuka (open comedo). Dinding follicular tipis dan dapat robek (rupture). Peradangan dan bakteri terlihat jelas, dengan atau tanpa follicular rupture. Follicular rupture disertai reaksi badan asing (a foreign body reaction). Peradangan padat (dense inflammation) menuju dan melalui dermis dapat berhubungan dengan fibrosis dan jaringan parut (scarring). 3) Pemeriksaan mikrobiologis terhadap jasad renik yang mempunyai peran pada etiologi dan patogenesis penyakit dapat dilakukan laboratorium mikrobiologi yang lengkap untuk tujuan penelitian, namun hasilnya sering tidak memuaskan. 4) Pemeriksaan susunan dan kadar lipid permukaan kulit ( skin surface lipids) dapat pula dilakukan untuk tujuan serupa. Pada akne vulgaris kadar asam lemak bebas (free fatty acid) meningkat dan karena itu pada pencegahan dan pengobatan digunakan cara untuk menurunkannya. Menurut Andrianto dan Sukardi (1988), diagnosis akne sebagai berikut :

Harus dicari faktor penyebab atau pencetusnya termasuk umur penderita Klinis ditemukan adanya komedo dan lokalisasi yang khas.

G. Penatalaksaaan Tujuan pengobatan akne adalah mencegah timbulnya sikatrik serta mengurangi frekuensi dan kerasnya eksaserbasi akne, untuk itu, selain diperlukan obat-obatan juga diperlukan kerjasama yang baik antar si penderita dengan dokter yang merawatnya. 1. Nasehat Umum dan Dorongan Mental a. Penerangan pada penderita harus diterangkan bahwa akne disebabkan oleh tipe kulit dan perubahan hormon pada masa pubertas, yang menyebabkan timbulnya sebore dan bertambahnya produksi bahan tanduk di dalam saluran kelenjar palit karena reaksi kelenjar palit yang berlebihan terhadap kadar hormon sex yang normal. Sifat akne adalah kumat-kumatan dan kita hanya bisa mengurangi dan mengontrol aknenya dan bukan menyembuhkannya. Pengobatan akne didasrkan pada tipe, kerasnya, lokalisasi, dan macam lesi. Pengobatan membutuhkan waktu lama dan kemungkinan diseratai efek samping. 92% penderita akne akan memberikan respon terhadap pengobatan. b. Perawatan Perawatan di muka Pemakaian sabun bakteriostatik dan deterjen tidak dianjurkan, bahkan pemakaian sabun berlebihan bersifat aknegenik dan dapat menyebabkan akne bertambah hebat (akne venenata). Menurut Plewig Kligman tak terbukti bahwa muka kurang di cuci akan bertambah hebat atau terlalu seing mencuci muka ada gunanya. Mencuci muka hanya menghilangkan lemak yang ada dipermukaan kulit, tetapi tidak mempengaruhi lemak yang ada di dalam folikel. Perawatan kulit kepala dan rambut Seperti halnya membersihkan muka, perawatan kulit kepala juga tidak berpengaruh terhadap akne. Walaupun menurut banyak pengarang ketombe

dan dermatitis seboroik lebih banyak terdapat pada penderita akne, penyelidikan Plewig dan Kligman gagal membuktikan hal itu. Pemakaian sampo yang mengandung obat untuk penderita akne dengan ketombe, sebaiknya dilarang sebab dapat memperhebat akne dan ketombenya dapat kumat kembali dalam beberapa minggu. Kosmetika dan bahan-bahan lain Bahan-bahn yang bersifat aknegenik lebih berpengaruh pada penderita akne. Bahan ini dapat membentuk komedo lebih cepat dan lebih banyak pada kulit penderita akne. Sebaiknya pasien dianjurkan untuk menghentikan pemakaian kosmetik yang tebal dan hanya memakai kosmetik yang ringan, yang tidak berminyak serta tidak mengandung obat (non medicated). Diet Menurut teori yang baru efek makanan terhadap akne diragukan oleh banyak penyelidik maka diet khusus tidak dianjurkan pada penderita akne. Emosi dan faktor psikosomatik Pada orang-orang yang mempunyai predisposisi akne stress dan emosi dapat menyebabkan eksaserbasi atau aknenya bertambah hebat. Perlu pula dianjurkan untuk tidak memegang-megang, memijit dan menggosok akne, sebab dapat menyebabkan keadaan yang disebut akne mekanika. 2. Obat-obatan Ada tiga hal yang penting pada pengobatan akne: Mencegah timbulnya komedo : biasanya dipakai bahan-bahan pengelupasan kulit Mencegah pecahnya mikrokomedo atau meringankan reaksi keradangan.dalam hal ini, antibiotika mempunyai pengaruh. Mempercepat resolusi beradang. Tiap-tiap bahan kimia atau iritan fisik dapat menambah aliran darah, dapat mempercepat regresi lesi yang beradang, karena dapat mempercepat hilangnya mediator perradangan dan bahan-bahan toksik: Iritan fisik: Sinar UV

Cryo Slush: CO2 padat, nitrogen cair, dan freon. Iritan Kimiawi : Resorsinol, sulfur, fenol, asam salisilat dan lain-lain. Pengobatan akne memerlukan waktu yang lama berbulan-bulan bahkan sampai bertahuntahun. Untuk mengontrol penyakitnya dan mencegah terjadinya sikatrik. Akne ringan hanya membutuhkan terapi topical, sedangkan penderita akne sedang dan berat membutuhkan terapi oral dan topical. Penderita mungkin membutuhkan antibiotika oral secara berkala selama 6 bulan, ssedangkan terapi topical diperlukan selama perjalanan penyakit. I. Pengobatan topikal Pengobatan topical yang paling banyak adalah benzoil peroksida, vitamin A asam, dan antibiotika topical. Sulfur dan resorsinol telah dipakai selama bertahun-tahun sebagai bahan yang mengadakan pengelupasan kulit (peeling) atau mengeringkan jerawat. Sulfur sampai sekarang masih dipakai. Zat dapat bersifat komedogenik dan komedolitik. Zat ini merupakan counter iritan yang efektif. Asam salisilat dalam propelen glikol dan etil laktat mungkin juga berguna. 1) Tretinoin (vitamin A asam) Tretinoin adalah suatu obat keras yang dapat menyebabkan eritema hebat dengan pengelupaan kulit, biasanya disertai rasa seperti tersengat atau terbakar, pada permulaan, penderita dianjurkan untuk memakai obat sekali sehari pada malam hari. Bila terjadi eritema dan diskuamasi setelah lima hari obat dpat dipakai untuk dua kali sehari. Efeknya tergantung pada konsentrasi, bahan dasar yang dipakai, jenis kulit yang diobati, dan umur penderita. Pada umumnya hasil terapi baru tampak setelah 8 minggu pengobatan

Cara kerja tretinoin : Komedolitik: mencegah sel-sel tanduk melekat satu sama lain dengan menghambat pembentukan tonofilamen dan mengurangi ikatan antara sel-sel keratin Mempercepat pergantian sel epitel folikel

Epitel folikel yang membentuk mikrokomedo menjadi lebih permiabel, sehingga bahan-bahan toksik dapat lebih mudah keluar dan komedo akan pecah. Sebagai counter-iritan, karena menyebabkan vaskularisasi bertambah dan membantu resorpsi papula dan nodul yang sukar hilang. Pada pemakaian tretinoin dianjurkan : a. Menghindar dari sinar matahari b. Tidak mencuci muka terlalu sering c. Tidak memakai obat terlalu banyak d. Hati-hati pemakaian disudut mulut, hidung, dan mukosa. Iso tretinoin. Dibandingkan dengan tretinoin, sifat komedogeniknya 80% dari tretinoin, anti-inflamasi lebih baik dan kurang ritatif. 2) Benzoil peroksida zat ini tidak saja membunuh bakteri, melainkan juga menyebabkan deskuamasi dan juga timbulnya gumpalan di ddalm folikel. Pada permulaan pengobatan, pasien merasa seperti terbakar. Gejala ini akan berkurang dalam beberapa minggu. Sebaiknya dimulai dari dosis rendah dahulu, kemudian lambat laun diganti dengan dosis tinggi. Efek samping pada pemakaian lama adalah sensitisasi secara kontak (2,5 % dari kasus). Cara kerja: Anti bakteri yang kuat Komedolitik counter-iritan Dibanding dengan vitamin A asam benzoil peroksida 1) 2) 3) 4) kurang menyebabkan iritasi dan rasa tak menyenangkan bagi penderita. Tidak menyebabkan bertambah hebatnya (flare-up) akne pada bulan pertama pengobatan. Mengeringkan pustula lebih tepat daripada tretinoin. Pada bentuk komedo, kurang efektif dibandingkan dengan tretinoin.

Kombinasi vitamin A asam dengan benzoil peroksida. Bila vitamin A asam dan benzoil peroksida digunakan bersama-sama, diperoleh efek sinergistik, tetapi sayang keduanya tak dapat dipakai bersama-sama dalam satu bahan dasar. Vitamin A asam dapat menyebabkan kulit lebih permiabel sehingga meningkatkan konsentrasi benzoil peroksida dalam jaringan. 3) Antibiotika topical Pemakaian bahan antimikroba dapat dibenarkan, bila mengurangi populasi C. Acnes atau hasil metabolismenya seperti lipase atau porfirin. Tetapi tak satupun bahanbahanyang memiliki efek seperti ini terdapat dalam bentuk krem, larutan, jel, dan sabun. Antibiotika yang sering dipakai : Clindamisin 1 %: relatif stabil, kecuali pada beberapa kasus terjadi colitis pseudomembranosa. Eritromisin 2 % : tidak mengadakan iritasi dan dapat menyebabkan suatu dermatitis kontak. Tetrasiklin 0,5 % -5 % : sekarang jarang dipakai karena menyebabkan kulit berwarna kuning. Aasam aseleik Suatu dikarbosilisik yang dapat mengurangi jumlah C. Acnes. Efeknya : Sama dengan benzoil peroksida, vitamin A asam, eritromisi topical, tetrasiklin oral. Mengurangi granula keratohialin pada saluran pilosebasea Sifat iritasinya lebih kecil dan dapt ditolelir dengan baik Mempunyai efek anti inflamasi Asam-asam alfa hidroksi (AAAH) Mekanisme kerja: Konsentrasi rendah : mengurangi kohesi korniosit berguna untuk lesi yang tidak beradang.

Konsentrasi tinggi : Epidermolisis subkorneal atap pustula pecah. Pada dermis mensintesa kolagen baru.

Efek asam alfa hodroksi tergantung pada macam, konsentrasi, vehikulum, waktu pajanan dan kondisi-kondisi lain. II. Pengobatan Oral a. Antibiotika Oral Karena obat-obat ini digunakan dalam jangka waktu yang lama, toksisitasnya harus rendah. Dalam hal ini, tetrasiklin merupakan antibiotika primer, sebab sudah diketahui aktivitas dan toksisitasnya. Nampaknya eritromisin juga mempunyai efek terapi yang sama dan cukup aman. Indikasi primer antibiotika oral adalah bentuk papulopustular sedang sampai berat akne konglobata. Antibiotika tak pernah dipakai sendiri, tetapi bersama-sama dengan obat yang mengadakan pengelupasan kulit. 1) Tetrasiklin Yang paling dikenal adalah tetrasiklin HCL, doksisiklin, minosiklin. Efektif terhadap Corynebakterium Acnes invitro Dapat menghambat lipase ekstra seluler yang dikeluarkan oleh bakteri. Terkonsentrasi pada tempat peradangan.

Dosis konvensional: tetrasiklin 1 gram per hari diberikan setengah jam sebelum makan. Minosiklin : diabsorbsi lebih bagus dan tidak dipengaruhi oleh makanan, akan tetapi mahal. Dosis 50-100 mg perhari. Dimiklosiklin 600 mg perhari 2) Eritromisin Eritromisin adalah obat pilihan untuk penderita yang sensitive terhadap tetrasiklin atau wanita hamil. Eritromisin dan eritromisin stearat adalah bentuk yang dapat diterima. Mempunyai efek bakterisida terhadap C. Acnes. Tak menghambat lipase C. Acnes. Dosis 1 gr / hari

3) Linkomisin dan Klindamisin Keduanya merupakan obat yang paling baru dan sama efektivitasnya. Sering menyebabka colitis pseudomembranosa. Efek klindamisin : Efektif untuk akne yang terbentuk kistik Absorbsinya tak berpengaruh makanan Dapat menghambat lipase C. Acnes. 4) Trimetoprim Obat ini sama efektif dengan tetrasiklin, dapat diberikan pada penderita yang tidak respon / toleran terhadap tetrasiklin dan eritromisin. Berguna untuk folikulitis gram negatif. b. D.DS (Diamino Difenil Sulfon) Seperti sulfonamida, DDS dapat menghambat pemakaian PABA (Para Amino Benzoid Asid) oleh bakteri. Obat ini hanya digunaka untuk akne dengan peradangan yang hebat, seperti akne konglobata dan papulo pustula yang sukar diobati. DDS tidak pernah dipakai sendiri, biasanya bersama-sama dengan antibiotika dan obat yang dapat mengadakan pengelupasan kulit. Cara kerja DDS : Anti inflamasi seperti kortikosteroid Mustabilir lisosom. Efek samping ; leukopeni, agranulositosis, nausea, muntah, kepala pusing dan reaksi pada kulit. c. Hormon 1). Kortikosteroid Kortikosteroid intra lesi berguna untuk lesi nodulokistik dan sinus pada akne konglobata. Cepat mengurangi peradangan dan mencegah timbulnya sikatrik. Dipakai larutan dengan konsentrasi 2,5 mg /ml dan menyuntikkan dapat diulangi tiap 1 sampai 2 minggu.

2). Estrogen dan pil antihamil Diperlukan dosis estrogen relatif besar sehingga dapat menimbulkan efek feminisasi pada laki-laki dan gangguan menstruasi pada wanita. Hormon ini lebih baik diberikan dalam bentuk pil antihormon yang mengandung estrogen dan progesterone terutama untuk akne premenstrual. Kadang-kadang terlihat efek paradoksal dan terlihat pustula bertambah pada bulan-bulan pertama sampai bulan kedua. 3). Anti androgen Hormon ini dapat mencegah kelenjar palit mengadakan reaksi terhadap[ testosteron, siproteron asetat bersama-sama esrogen hanya digunakan pada wanita dengan akne dan sebore yang hebat. Akne papulopustula yang resisten dan akne konglobata yang refrakter. Akhir-akhir ini sudah diproduksi suatu pil antihamil dengan kadar estrogen rendah yang mengandung 2 mg siproteron asetat dan 35 mg etinilestradiol. Efek sampingnya berupa penurunan libido, lesu, nausea, peningkatan berat badan dan perdarahan tak teratur. d. Vitamin A Bila diberikan peroral bersama-sama dengan antibiotika oral dan topical, vitamin A asam sangat efektif untuk akne bentuk nodul dan kistik yang hebat. Diduga vitamin ini mempengaruhi produksi atau metabolisme androgen. Dosis : 50.000 100.000 Iu/hari e. Isoretinoit Suatu bentuk 13-cis/asam retinoat digunakan untuk pengobatan akne bentuk kistik dan konglobata. Pada kebanyakan kasus obat ini memberikan remisi sempurna selama berbulan bulan dan sampai bertahun-tahun. Dosis : 1 mg/kg/hari. Efek samping : gangguan selapu lendir dan kulit seperti keilitis, serosis dan perdarahan hidung. Isoretinoit bersifat keratogenik. f. Seng (Zink)

Efeknya belum diketahui dengan pasti, tetapi diduga mempunyai efek inflamasi. Unsure ini berpengaruh terhadap epitelisasi, aktiitas enzim pada metabolisme vitamin A, dan memperbaiki gangguan kemotaksis leukosit. Dosis : 3 x 200 mg/ hari. g. Diuretika Sering terjadi eksaserbasi akne 7-10 hari sebelum menstruasi. Hal ini mungkin disebabkan karena adanya retensi cairan sebelum menstruasi, yang disertai dengan hidrasi dermis dan juga edema pada keratin. Kebanyakan penyelidik memberikan diuretika satu minggu sebelum haid. Cuncliff dan William menganjurkan kuarng dari satu minggu sebelum haid, tetapi Kligman sama sekali tidak menganjurkan pemberian diuretika itu. 3. Tindakan Khusus a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Ekstraksi komedo Insisi dan drainase Eksisi Krioterapi Injeksi kolagen Suntikan kortikosteroid dan intralesi Laser CO2 Perbaikan jaringan parut Dermabrasi Pembedahan kimia

H. Pencegahan Akne Vulgaris Pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari jerawat adalah sebagai berikut: a) Menghindari terjadinya peningkatan jumlah lipid sebum dengan cara diet rendah lemak dan karbohidrat serta melakukan perawatan kulit untuk membersihkan

permukaan kulit dari kotoran , misalnya teratur mencuci muka setelah pulang dari bepergian b) Menghindari terjadinya faktor pemicu, misalnya : hidup teratur dan sehat, cukup berolahraga sesuai kondisi tubuh, hindari stres; penggunaan kosmetika secukupnya; menjauhi terpacunya kelenjar minyak, misalnya minuman keras, pedas, rokok, dan sebagainya. c) Memberikan informasi yang cukup pada penderita mengenai penyebab penyakit, pencegahan dan cara maupun lama pengobatannya serta prognosisnya. Hal ini penting terhadap usaha penatalaksanaan yang dilakukan yang membuatnya putus asa atau kecewa (Wasitaatmadja, 2007) 2. 3. Pathway terlampir Buatlah asuhan keperawatan untuk kasus klien di atas (pengkajian, analisa data, diagnose keperawatan, perencanaan)! A. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN Merupakan tahap awal dari pendekatan proses keperawatan dan dilakukan secara sistematika mencakup aspek bio, psiko, sosio dan spiritual. Langkah awal dari pengkajian ini adalah pengumpuln data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan klien dan keluarga, observasi pemeriksaan fisik, konsultasi dengan anggota tim kesehatan lainnya dan meninjau kembali catatan medis ataupun catatan keperawatan. Pengkajian fisik dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Pengkajian secara umum pada pasien yang mengalami akne vulgaris dapat menanyakan: a. Apakah klien menggunakan obat obatan, seperti isoisotretinoin? b. Apakah klien rutin mengkonsumsi makanan yang berlemak? c. Apakah klien sering berkeringat? Atau sering memakai baju yang teksturnya kasar saat bergesekan dengan kulit? d. Apakah klien pernah memencet komedo dengan kuku? e. Apakah klien menggunakan produk kosmetik tertentu? f. Apakah klien rajin berolahraga?

g. Apakah klien memiliki alergi terhadap sesuatu? Sedangkan pengkajian lebih dalam dapat menggunakan format seperti di bawah ini: 1. Identitas Klien - Nama, Umur, Jenis kelamin, Diagnosa, dll. 2. Status Kesehatan a. Status Kesehatan Saat Ini Keluhan utama Klien mengeluh adanya benjolan pada wajah Alasan masuk Rumah Sakit dan perjalanan Penyakit saat ini Klien datang dengan keluhan terdapat benjolan benjolan pada wajah yang nampak kemerahan. b. Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya Klien mengoleskan krim antijerawat Status kesehatan masa lalu Penyakit yang pernah dialami Pernah dirawat Riwayat transfusi Kebiasaan

3. Riwayat Penyakit Keluarga 4. Pola Fungsi Kesehatan Gordon : a. b. Pemeliharaan dan persepsi terhadap kesehatan Klien cukup mengerti tentang penyakitnya, Apabila sakit klien berobat ke poliklinik. Nutrisi/ metabolic Yang dikaji dalam nutrisi yaitu bagaimana nutrisi pada saat sebelum masuk rumah sakit maupun sesudah masuk rumah sakit. Dalam hal ini yang perlu dikaji adalah kuantitas dan jenis makanan atau formula yang dikinsumsi setiap hari ( gunakan pencatatan makanan per 24 jam), masalah dengan pemberian makanan, konsumsi suplemen vitamin, perilaku diet termasuk citra tubuh, jenis diet, frekuensi pertambahan berat badan, atau tindakan muntah yang disengaja. c. Pola eliminasi

Yang dikaji adalah kebiasaan BAK dan BAB (frekuensi, jumlah, warna, bau, nyeri, kemampuan mengontrol air kecil, adanya perubahan-perubahan lain), kemampuan perawatan diri, penggunaan bantuan untuk ekskresi. d. Pola aktivitas dan latihan Pengkajian untuk aktivitas disini adalah kemampuan perawatan diri, makan/minum, mandi, toileting, berpakian , mobilisasi di tempat tidur , berpindah, ambulasi ROM. Dimana disini ada skor untuk tiap aktivitas yang dilakukan yaitu 0 :mandiri, 1: alat bantu, 2 : dibantu orang lain, 3 :dibantu orang lain dan alat, 4 : tergantung total. e. Pola tidur dan istirahat Pengkajian pola tidur dan istirahat harus mencakup waktu mulai tidur dan bangun, kualitas tidur, riwayat tidur siang, keyakinan budaya, penggunaan alat mempermudah tidur, jadwal istirahat dan relaksasi, gejala dari perubahan pola tidur, faktor-faktor yang mempengaruhi, misalnya: nyeri. f. Pola kognitif-perseptual Menggambarkan penginderaan khusus (penglihatan, pendengaran, rasa, sentuh, bau), penggunaan alat bantu (seperti: kacamata, alat bantu dengar), perubahan dalam penginderaan, persepsi akan kenyamanan, alat bantu untuk menurunkan rasa tidak nyaman, tingkat pendidikan, kemampuan membuat keputusan g. Pola persepsi diri Pola persepsi diri perlu dikaji, meliputi: Harga diri Ideal diri Identitas diri Gambaran diri

Di sini pasien mengaku malu dengan adanya benjolan benjolan akne yang muncul di wajahnya. h. Pola seksual dan reproduksi Masalah atau problem seksual, gambaran perilaku seksual seperti (perilaku seksual yang aman), pengetahuan tentang seksualitas dan reproduksi, dampak pada status kesehatan, riwayat menstruasi dan reproduksi. i. Pola peran-hubungan

Yang perlu dikaji, antara lain: j. Status perkawinan Pekerjaan

Pola manajemen koping stress Penyebab stress belakangan ini, penetapan tingkat stress, gambaran umum dan spesifik respon stress, strategi mengatasi stress yang biasa digunakan dan efektifitasnya, perubahan kehidupan dan kehilangan, strategi koping yang biasa digunakan, penilaian kemampuan pengendalian akan kejadian-kejadian yang dialami, pengetahuan dan penggunaan teknik manajemen stress, hubungan antara manajemen stress terhadap dinamika keluarga.

k.

Sistem nilai dan keyakinan Latar belakang budaya atau etnik status ekonomi, perilaku sehat yang berkaitan dengan kelompok budaya atau etnik, tujuan kehidupan, apa yang penting bagi klien dan keluarga, pentingnya agama, dampak masalah kesehatan pada spiritualitas

5. Riwayat Kesehatan Dan Pemeriksaan Fisik Keadaan umum : Baik Kesadaran: Composmentis Pemeriksaan fisik Tanda-tanda vital Inspeksi: Lihat kondisi kulit Kaji ukuran dan karakteristik benjolan Kaji adanya tanda tanda infeksi bakteri (seperti pembentukan pus) Palpasi: Meregangkan kulit klien dengan hati hati dan kemudian mengkaji lesi yang ada - Pemeriksaan Laboratorium B. ANALISA DATA TERLAMPIR C. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.

Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan factor mekanik (mis., gaya gunting tekanan pengekangan) ditandai dengan adanya kerusakan di lapisan kulit serta di permukaan kulit.

2.

Gangguan Citra Tubuh berhubungan dengan penyakit (Acne Vulgaris) di tandai dengan mengungkapkan malu terhadap keadaannya.

3. adekuat 4.

Risiko Infeksi berhubungan dengan pertahanan primer

tubuh tidak

Nyeri Akut berhubungan dengan agen injuri biologis ditandai dengan tingkah laku yang tidak ekspresif (merintih)

5.

Ansietas berhubungan dengan status kesehatan (banyaknya papul serta komedo) ditandai dengan klien tampak gelisah, klien selalu focus pada masalah yang dialami (acne vulgaris)

6.

Kurang Pengetahuan berhubungan dengan tidak familiarnya informasi yang ada ditandai dengan tingkah laku yang tidak sesuai(gelisah, cemas, selalu bertanya-tanya).

D. Diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas dan kasus 1. Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan factor mekanik (mis., gaya gunting tekanan pengekangan) ditandai dengan adanya kerusakan di lapisan kulit serta di permukaan kulit. 2. Gangguan Citra Tubuh berhubungan dengan penyakit (Acne Vulgaris) di tandai dengan mengungkapkan malu terhadap keadaannya. 3. 4. Risiko Infeksi Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurang pajanan ditandai dengan pengungkapan masalah.

E. Rencana Asuhan Keperawatan No 1. Diagnosa Kerusakan Kulit dengan gunting dengan kulit serta Tujuan Intervensi NIC Label >>> Skin treatments Beri antibiotic topikal pada area yang terkena Beri antiinflamasi topical pada area yang terkena Memeriksa kulit setiap hari untuk yang berisiko mengalami kerusakan Catat derajat kerusakan kulit untuk mengetahui tingkat keparahan keerusakan integritas kulit surveillance Periksa kulit dan membrane mukosa terkait adanya kemerahan, hangat, untuk mengetahui adanya gangguan pada membrane mukosa untuk mengetahui perubahan pada kulit Untuk membunuh bakteri pathogen di area yang terkena untuk mengurangi pembengkakan

Rasional

Integritas Setelah diberikan factor 24 jam, diharapkan tekanan kembali normal adanya Label>>>Tissue di Mucous Membranes Suhu kulit normal (skala 5) Jaringan parut tidak ada (skala 4) Integritas kulit normal (skala 5)

berhubungan perawatan selama 14 x care : topical

mekanik (mis., gaya integritas kulit klien pengekangan) ditandai NOC kerusakan di lapisan Integrity : Skin & permukaan kulit.

Lesi kulit tidak NIC Label>>>Skin ada (skala 5) Eritema tidak ada (skala 5)

edema, atau drainase Pantau warna dan suhu kulit untuk mengetahui temperature kulit dan mengidentifikasi gangguan pada kulit mendokumentasikan Catat perubahan kondisi kulit dan membrane mukosa 2. Gangguan Tubuh Vulgaris) dengan terhadap keadaannya. Citra Tujuan : Setelah Label NIC>>>Body Image Enhancement Tentukan harapan citra tubuh klien berdasarkan tingakat perkembangan Monitor frekuensi kalimat yang mengkritik diri sendiri Bantu klien untuk mengenali tindakan yang akan meningkatkan penampilannya Fasilitasi hubungan klien dengan individu yang Puas dengan mengalami Membantu klin untuk mengetahui tindakan yang dapat meningkatkan citra tubuh klien Memfasilitasi klien untuk dapat bersosialisasi dengan klien Menentukan citra tubuh yang ingin dicapai sesuai perkembangan klien Untuk mengetahui tingkat gangguan citra tubuh klien kondisi kulkit dan membrane mukosa

berhubungan diberikan asuhan di tandai 14 x 24 jam diharapkan gangguan teratasi dengan kriteria hasil: Label NOC>>>Adaptation to Physical Disability Mampu beradaptasi dengan keterbatasan fungsional (skala 4 dari 1 5) Label NOC>>>Body Image

dengan penyakit(Acne keperawatan selama

mengungkapkan malu citra tubuh klien

penampilan tubuh (skala 4 dari 1 5) Mampu menyesuaikan dengan perubahan fungsi tubuh (skala 4 dari 1 5) Label NOC>>>Self Esteem Menerima keterbatasan diri (skala 4 dari 1 5) Merasa dirinya berharga (skala 4 dari 1 5)

perubahan citra tubuh yang serupa

sebagai kegiatan untuk meningkatkan kepercayaan diri klien Untuk membantu klien meningkatkan kepercayaan diri klien

Identifikasi dukungan kelompok yang tersedia untuk klien

Label NIC>>>Self Esteem Enhancement Anjurkan klien untik menilai kekuatan pribadinya Anjurkan kontak mata dalam berkomunikasi dengan orang lain Bantu klien menerima ketergantungan terhadap orang lain dengan tepat Anjurkan klien untuk mengevaluasi kebiasaannya Untuk mengetahui kebiasaan klien yang mempengaruhi Untuk mengetahui tingkat kepercayaan diri klien terhadap diri sendiri Untuk meningkatkan kepercayaan diri klien Membantu klien untuk menerima kondisinya dengan cara yang benar

citra tubuhnya Bantu klien menerima perubahan baru tersebut Fasilitasi lingkungan dan aktifitas yang akan meningkatkan harga diri klien Monitor tingkat harga diri klien dari waktu ke waktu dengan tepat Buat pernyataan positif tentang 3. Risiko Infeksi NOC label>>> Risk control Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 14 x 24 jam diharapkan klien dapat: Mengetahui faktor resiko Monitor faktor resiko dari lingkungan Monitor faktor resiko dari klien NIC label>>>Infection control Membersihkan lingkungan setelah digunakan pasien Ajarkan cara cuci tangan untuk perawatan kesehatan pribadi Instruksikan pasien pentingnya teknik mencuci tangan yang bersih Agar cuci tangan yang dilakukan efektif untuk membersihkan tangan Mengontrol dan mengurangi factor pencetus infeksi Menurangi factor pencetus infeksi Memberi feedback positif pada klien Mengetahui perubahan pada citra tubuh klien Membantu klien menerima perubahan kondisinya Memfasilitasi klien untuk melakukan aktivitas

kebiasaan individu NOC label>>>Tissue Integrity: skin and mucous membrane Setelah diberikan asuhan keperawatan selama xjam diharapkan integritas kulit klien membaik dan luka pada kulit klien berkurang.
4. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pajanan ditandai dengan mengungkapkan masalah Knowledge: disease proses Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam, Pasien memperoleh informasi yang jelas dan benar tentang penyakitnya. Dengan criteria hasil : Pasien mengetahui tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatannya dan dapat menjelaskan kembali bila ditanya (skala 4) Pasien dapat melakukan perawatan diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang diperoleh (skala 4) Knowledge: Diet

Gunakan sabun anti bakteri untuk mencuci tangan, jika diperlukan

Antiseptik untuk membunuh bakteri

Promosikan pemasukan nutrisi yang dianjurkan

Untuk meningkatkan daya tahan tubuh

Dorong untuk istirahat

Menjaga daya tahan tubuh untuk tetap sehat

Teaching: DiseaseProcess Kaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang penyakit acne vulgaris Untuk memberikan informasi pada pasien/keluar ga, perawat perlu mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan yang diketahui pasien/keluar ga. Agar perawat dapat memberikan penjelasan dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang dapat dimengerti pasien sesuai tingkat pendidikan pasien.

Kaji latar belakang pendidikan pasien.

Klien mengetahui rekomendasi diet (skala 4) Klien mengetahui keuntungan dari diet yang dilakukan (skala 4)

Klien

mengetahui diet

tujuan dari (skala 4)

Klien mengetahui makanan yang diperbolehkan dalam dietnya (skala 4) Klien mengetahui minuman yang diperbolehkan dalam dietnya (skala 4) Klien mengetahui makanan yang dilarang dalam dietnya (skala 4) Klien mengetahui minuman yang dilarang dalam dietnya (skala 4) Klien mengetahui strategi untuk mengganti kebiasaan diet (skala 4)

Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan pada pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti. Jelasakan prosedur yang kan dilakukan, manfaatnya bagi pasien dan libatkan pasien didalamnya.

Gunakan gambar-gambar dalam memberikan penjelasan ( jika ada /memungkinkan) .

Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak menimbulkan kesalahpaham an. Dengan penjelasdan yang ada dan ikut secra langsung dalam tindakan yang dilakukan, pasien akan lebih kooperatif dan cemasnya berkurang. gambargambar dapat membantu mengingat penjelasan yang telah diberikan

Nutrition Management: Pastikan pilihan makanan pasien

Sesuaikan asupan kebutuhan kalori untuk tipe tubuh dan gaya hidup

Dengan menyesuaikan keinginan pasien maka pasien akan lebih tertarik makan. Dan tetap dapat kita control. Agar pasien bisa merubah gaya hidupnya menjadi lebih sehat dan berguna dalam

mengontrol penyakitnya

Evaluasi Subjektif : respon klien Objektif Analysis : data objektif yang dapat diamati : Menganalisa dan membandingkan data terhadap kriteria dan standar

Planning : Melaksanakan rencana tindakan yg sesuai berdasarkan kesimpulan 5. Susunlah pendidikan kesehatan untuk kasus di atas (pilih 1 topik yang paling diperlukan oleh klien)! 1. Menginformasikan kepada klien mengenai diet untuk penyakit acne vulgaris seperti mengurangi konsumsi makanan atau minuman yang dapat menyebabkan peningkatan intensitas acne, yakni cokelat, cola, gorengan, susu dan makanan tinggi lemak lainnya. 2. Memberitahukan kepada klien agar selalu menjaga hygiene kulit dan rambut untuk memperkecil resiko terinfeksi bakteri yang dapat menyebabkan acne vulgaris. Salah satu caranya adalah dengan membersihkan kulit wajah dengan menggunakan sabun wajah sebanyak minimal dua kali setiap harinya. 3. Memberitahukan kepada klien bahwa pemakaian alat-alat kosmetik dengan berbahan dasar minyak tidak dianjurkan seperti penggunaan bedak, lipstick, dan lain sebagainya. 4. Beritahukan kepada klien untuk berhati-hati dalam memilih sabun pembersih wajah yang dijual bebas di pasaran. Jika terjadi masalah setelah penggunaan sabun wajah tersebut, disarankan agar klien mengkonsultasikan hal tersebut ke pelayanan kesehatan. 5. Menginformasikan kepada klien agar tidak dengan sengaja memecahkan jerawat, karena dapat mengakibatkan jaringan parut pada kulit bekas pecahnya jerawat tersebut.

Kesimpulan Akne vulgaris ( jerawat ) adalah penyakit kulit akibat perdangan kronik folikel pilosebasea yang umunya terjadi pada masa remaja dengan gambaran klinis berupa komedo, papula, pustul, nodus, dan kista. Yang rentan dan paling sering ditemukan di daerah muka, leher, dada dan punggung. Akne merupakan kelainan kulit yang paling sering ditemukan pada remaja dan dewasa muda di antara usia 12 - 35 tahun. Penyebab belum diketahui pasti, tetapi telah dikemukakan banyak faktor, termasuk stress, faktor herediter, hormon, obat dan bakteri, khususnya Propionibacterium acnes, Staphylococcus albus, dan Malassezia furfur, berperan dalam etiologi. Acne vulgaris bercirikan adanya komedo, papula, pustula, dan nodul pada distribusi sebaceous. Komedo dapat berupa whitehead (komedo tertutup) atau blackhead (komedo terbuka) tanpa disertai tanda tanda klinis dari peradangan apapun. Pengobatan akne memerlukan waktu yang lama berbulanbulan bahkan sampai bertahun-tahun. Untuk mengontrol penyakitnya dan mencegah terjadinya sikatrik. Akne ringan hanya membutuhkan terapi topical, sedangkan penderita akne sedang dan berat membutuhkan terapi oral dan topical.

Daftar Pustaka Smeltzer, S C & Bare, B G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 Vol.3. Jakarta: EGC. Sylvia A. Price, dkk. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses Proses Penyakit, Edisi 6 Vol. 2. Jakarta : EGC. Djuanda, A., Hamzah, M., and Aisah, S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 5 . Jakarta : Balai Penerbitan FKUI Dochterman, Bulecheck. 2004. Nursing Intervention Classification. United States of America : Mosby. Moorhead S, Johnson M, Maas M, Swanson, E. 2006. Nursing Outcomes Classification. UnitedStates of America : Mosby. T. Heather Herdman. 2012. NANDA Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 20092011, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC Dorland, W.A Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta: EGC.