Anda di halaman 1dari 26

BIMBINGAN KONSELING KELUARGA DEGRADASI NILAI, KONDISI KELUARGA MODERN KRISIS KELUARGA, MENANGANI KRISIS KELUARGA Tugas Ini

Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bimbingan Konseling Keluarga

Dosen Pengampu : Dra. Ni Made Setuti, M.Erg., Kons.

Disusun Oleh : Febrianti Hidayah Ramdayani Nyoman Gede Hadi Purnama Ni Wayan Winarni Tirta Dewi Ni Komang Yeni Rusita Dewi I Made Sumadiyasa ( 1111011001 ) ( 1111011002 ) ( 1111011004 ) ( 1111011005 ) ( 1011011103 )

JURUSAN BIMBINGAN KONSELING FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA 2013

KATA PENGANTAR Puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat beliaulah kami dapat menyelesaikan makalah ini. Terselesaikannya makalah ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan dari pihak-pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam proses penyusunan dan pembuatan makalah ini. Rasa terima kasih kami sampaikan kepada Ibu dosen pembimbing Dra. Ni Made Setuti, M.Erg., Kons. yang telah bersedia menuntun dan membantu kami dalam pembuatan makalah ini serta narasumber dan pihak-pihak lainnya yang turut serta membantu demi terselesaikannya makalah ini sesuai dengan apa yang telah diharapkan sebelumnya. Kami sebagai manusia yang banyak memiliki kekurangan menyadari bahwa apa yang kami sampaikan dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dalam proses penyampaiannya maupun isi atau hal-hal yang terkandung di dalamnya. Maka dari itu kami selaku penulis dan penyusun makalah ini sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca yang kami banggakan yang bersifat membangun sehingga dapat membantu kami untuk dapat lebih menyempurnakan lagi makalah yang kami buat ini. Kami sangat berharap apa yang kami sajikan dan apa yang kami sajikan dalam makalah ini dapat memberikan manfaat-manfaat yang sedianya dapat berguna pagi pembaca pada umumnya dan para calon konselor pada khususnya sehingga apa yang menjadi tujuan pendidikan di Indonesia serta tujuan Bangsa Indonesia dapat tercapai sebagaimana yang diharapkan.

Singaraja, 24 Februari 2013

Kelompok 1,

ii

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.............................................................................. DAFTAR ISI............................................................................................ BAB I PENDAHULUAN........................................................................ 1.1. Latar Belakang Masalah......................................................... 1.2. Rumusan Masalah................................................................... 1.3. Tujuan..................................................................................... 1.4. Manfaat.................................................................................. BAB II PEMBAHASAN......................................................................... 2.1. Degradasi Nilai-Nilai............................................................. 2.2. Kondisi Keluarga Modern..................................................... 2.3. Krisis Keluarga...................................................................... 2.4. Upaya Mengatasi Krisis Keluarga......................................... BAB III PENUTUP.................................................................................. 3.1. Kesimpulan............................................................................. 3.2. Saran....................................................................................... DAFTAR PUSTAKA............................................................................... ii iii 1 1 2 3 3 4 4 10 12 18 22 22 22 23

iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang UU Nomor 10 Tahun 1992, mendefinisikan keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-istri, atau suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya. Menurut Melson (1980), keluarga adalah kelompok dari individu-individu yang mencari pemaksimalan sumberdaya materi dan fisik agar mencapai tujuan personal dan kelompok. Saxton (1990) mengartikan keluarga sebagai hubungan antara dua atau lebih orang melalui kelahiran, adopsi, atau perkawinan dan hidup dalam satu rumah tangga. Keluarga masa kini berbeda dengan keluarga zaman dulu. Dalam ikatan keluarga, orang-orang mengalami pergolakan dan perubahan yang hebat khususnya meraka yang hidup di kota. Apabila ditinjau keluargakeluarga di daerah yang belum mengalami maupun menikmati hasil kemajuan teknologi, kemajuan dalam dunia industri dan sebagainya, maka gambaran mengenai ikatan dan fungsi keluarga adalah jauh berbeda jika dibandingkan dengan keluarga yang berada di tengah segala kemewahan materi. Sebenarnya keluarga mempunyai fungsi yang tidak hanya terbatas selaku penerus keturunan saja. Dalam bidang pendidikan, keluarga merupakan sumber pendidikan utama, karena segala pengetahuan dan kecerdasan intelektual manusia diperoleh pertama-tama dari orang tua dan anggota keluarganya sendiri. Keluarga merupakan produsen dan konsumen sekaligus, dan harus mempersiapkan dan menyediakan segala kebutuhan sehari-hari seperti sandang dan pangan. Setiap anggota keluarga dibutuhkan dan saling membutuhkan satu sama lain, supaya mereka dapat hidup lebih senang dan tenang. Hasil kerja mereka harus dinikmati bersama. Jelaslah bahwa keluarga zaman silam, yang belum terkena pengaruh penggantian tenaga manusia dengan tenaga mesin, atau sudah terpengaruh arus

globalisasi merupakan keluarga yang banyak fungsinya dan kuat ikatan keluarganya. Masing-masing anggota keluarga mempunyai peranan yang penting dalam roda kehidupan serta dibutuhkan oleh anggota lainnya. Sebaliknya keluarga masa kini sudah banyak kehilangan fungsi dan artinya. Fungsi pendidikan sudah diserahkan pada lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah-sekolah, sehingga tugas orang tua dalam hal memperkembangkan segi intelektual anak menjadi lebih ringan. Fungsi rekreasi juga telah berpindah dari pusatnya dalam keluarga ke tempattempat hiburan di luar rumah, baik bagi anak-anak maupun orang tua. Anakanak tidak senang bermai di rumah dan berkumpul dengan keluarga, hal ni disebabkan orang tua yang hanya sibuk memenuhi kebutuhan materil dan mengabiakan aspek keakraban dalam keluarga. Dengan pergesaran fungsi keluarga yang terjadi saat ini, fungsi keluarga menjadi sangat berkurang dan arti keluarga dan ikatanyya seolah-olah mengalami guncangan. Degradasi nilai agama, adat istiadat dan nilai sosial yang marak di mayarakat merasuk ke dalam keluarga. Maka tak heran banyak masalah-masalah timbul di keluarga pada masa kini, dan menjadi cikal bakal permasalahanpermasalahan sosial yang terjadi di masyarakat pada umumnya. Dengan banyaknya timbul permasalahan-permasalahan yang terjadi pada keluarga di masa kini, pelayanan konseling khususunya konseling keluarga (family counseling) sangat diharapkan eksistensinya sebagai sebagai salah satu cara dalam mengatasai permasalahan-permasalahan yang terjadi pada suatu keluarga.

1.2. Rumusan Masalah. Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah sebagai berikut : 1. Apa saja degradasi nilai-nilai yang terjadi pada masyarakat yang sangat mempengaruhi kehidupan keluarga ? 2. Bagaimana kondisi keluarga modern saat ini ?

3. Menjelaskan mengenai krisis keluarga ? 4. Upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk mengatasi krisis keluarga yang terjadi ?

1.3. Tujuan Penulisan. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu: 1. Mendeskripsikan degradasi nilai-nilai yang terjadi pada masyarakat yang sangat berpengaruh pada kehidupan keluarga. 2. Mendeskripsikan keluarga modern saat ini. 3. Menjelaskan mengenai krisis keluarga. 4. Mendeskripsikan upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi krisis keluarga. 5. Untuk menyelesaikan tugas mata kuliah BK Keluarga.

1.4. Manfaat Penulisan. 1. Bagi pembaca Pembaca dapat mengetahui dan memahami materi yang disampaikan dalam makalah ini terkait dalam mata kuliah yang dibahas. 2. Bagi Penulis Penulis dapat mengetahui dan memahami kajian awal dalam paparan materi mata kuliah Bimbingan Konseling Keluarga, khususnya materi tentang Latar Belakang Kehidupan Keluarga. Dan

terselesaikannya tugas mata kuliah BK Keluarga.

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Degradasi Nilai-nilai. Kehidupan masyarakat khususnya keluarga tidak terlepas dari sistem nilai yang ada di masyarakat tersebut. Sistem nilai menentukan perilaku anggota masyarakat. Berbagai sistem nilai ada di masyarakat yaitu agama, adat istiadat, nilai-nilai sosial, dan nilai kesakralan. Degradasi Nilai-nilai Agama Degradasi nilai-nilai agama akhir-akhir ini sangat terasa dan kentara. Semua agama merasakan bahwa di era kebanyakan umatnya kurang setia terhadap agama yang dianutnya. Dengan kata lain, banyak umat saat ini kurang taat beribadah sebagaiman diperintahkan oleh agamanya. Hal ini juga terasa pada kehidupan keluarga. Keluarga memerankan peranan penting dalam pendidikan agama. Namun sebagian besar keadaan keluarga sangat rapuh sehingga tidak memenuhi syarat-syarat pendidikan, seperti tidak memiliki/menguasai pengertian, keyakinan dan ketrampilan agama, di samping tidak mempunyai cukup waktu dan energi untuk mendidik, serta pendidikannya masih rendah untuk menghadapi persoalan anak didiknya. Tak hanya itu, situasi dan kondisi keluarga tidak menunjang pendidikan agama, di samping masuknya pengaruh negatif yang datang melalui media komunikasi yang ada. Belum lagi keadaan perumahan dan ruang tinggal yang sangat tidak menunjang dalam pelaksanaan pendidikan agama. Di keluarga demikian pula, jarang anak-anak yang menjadikan ibadah sebagai suatu prioritas utama. Mereka lebih senang menonton TV atau asyik bermain game atau hal-hal lain yang lebih menarik untuk mereka lakukan. Orang tua pun tidak memberikan teladan dan contoh untuk anak-anak mereka. Di samping itu ada pula suatu

keluarga di mana orang tua yang aktif beragama, namun sangat sulit mengajak anaknya untuk berpartisipasi beribadah. Pengaruh

lingkungan yang materialistis telah menyebabkan kendala-kendala atau tantangan untuk beribadah sesuai tuntutan agamanya. Karena keluarga imannya minim, ketika menghadapi hidup yang sulit atau terjadi masalah, sering mereka cepat terganggu psikisnya atau kejiwaannya seperti mudah tersinggung, cepat marah, bertengkar, dan bahkan ada yang pula sampai mengamuk. Banyak kita saksikan dalam berita-berita di media massa, ada gangguan jiwa yang disebabkan oleh kesulitan ekonomi samapi seorang ayah beranak lima tega bunuh diri, sebab tak sanggup menghidupi keluarganya. Tak hanya di dunianya orang tua, di kalangan remaja pun demikian pula. Ada yang bunuh diri karena putus dengan pacar. Jika manusia memiliki iman yang kuat, lalu dihadapkan oleh suatu masalah yang hebat, maka iman yang kuat tersebut mampu menjadi tameng untuk tidak berbuat negatif terhadap orang lain. Kehidupan keluarga yang mengutamakan pencapaian harta dunia, tampak sibuk. Ibu dan bapak dalam satu keluarga sama-sama bekerja. Urusan anak diserahkan dengan mudahnya kepada pembantu rumah tangga ( PRT ) yang notabene rendah pendidikan dan agamanya. Nah, akibatnya anak-anak yang diasuh oleh pembantu rumah tangga ( PRT ) selama bertahun-tahun sering mengalami kemunduran di bidang akhlak. Bahkan tidak tertutup kemungkinan anak-anak yang diasuh oleh pembantu rumah tangga mengalami keterbelakangan mental dan kelainan perilaku akibat pola asuh yang salah. Degradasi Nilai Adat Istiadat. Di samping menurunnya nilai-nilai agama, ada pula degradasi nilai-nilai adat istiadat yang sering disebut tata susila atau kesopanan. Hal ini terlihat pada perilaku anak dan remaja akhir-akhir ini. Kekerasan remaja, pengeroyokan teman sebaya, dan lain sebagainya.

Mereka berlaku tidak sopan terhadap orang tua, guru dan orang yang lebih tua yang lainnya. Di sekolah permasalahan ini juga terasa. Kebanyakan siswa jarang menyapa atau bahkan sekadar tersenyum jika lewat di depan guru. Atau ketika lewat di depan guru hendaknya mengucapkan permisi atau minta maaf. Padahal setiap masyarakat di setiap etnis di Indonesia oleh nenek-nenek zaman dulu selalu diajarkan jika kita lewat di depan orang tua agar membungkukkan badan, tangan kanan ke bawah, sambil mengucapkan maaf pak/bu. Saat ini semuanya berubah secara drastis. Yaitu lenyapnya nilainilai adat istiadat dan kesopanan tersebut. Apa sesungguhnya sumber penyebab dari menghilangnya nilai-nilai kesopanan tersebut? Banyak sumber penyebab yang dapat disebutkan. Pertama, menghilangnya kurikulum pendidikan kesopanan di sekolah. Atau dengan bahasa umum dapat dikatakan bahwa di setiap sekolah tidak berminat untuk menjadikan adat kesopanan atau adat tata susila sebagai mata pelajaran muatan lokal. Kedua, kurangnya teladan dari guru dan orang tua pada umumnya dalam hal adat kesopanan. Misalnya, merokok. Banyak guru dan orang tua melakukannya di depan anak dan remaja. Dampaknya adalah anak dan remaja ikut menjadi pecandu rokok. Dan harus kita akui bahwa merokok adalah jembatan menuju kecanduan narkoba. Sudah menjadi rahasia pula bahwa sebagian pecandu narkoba adalah anak muda. Kehancuran hidup anak dan remaja terlibat narkoba amat memprihatinkan. Yaitu putus sekolah atau kuliah, kerusakan otak, dan yang parah lagi akibat mengkonsumsi narkoba membawa efek sampingan penyakit lain seperti hepatitis C dan bahkan penyakit AIDS yang sampai saat ini belum ada obatnya itu. Dengan kata lain, penderita akibat kecanduan narkoba telah menghancurkan kehidupan mereka. Dari sekitar 5 juta pecandu narkoba di Indonesia, sebagian besar adalah pemuda dan remaja. Mereka kehilangan masa depan, dan bangsa Indonesia kehilangan potensi generasi muda. Akibat narkoba, yang berkepanjangan dan

terus meluas di kalangan generasi muda, bangsa ini terjadi lost generation atau kehilangan generasi penerus bangsa. Ketiga, melemahnya ekonomi sebagian besar rakyat sebagai akibat kesulitan ekonomi negara dan meluasnya korupsi. Hal ini membuat negara tidak mampu membuka lapangan kerja khususnya untuk generasi muda di kota dan pedesaan. Banyaknya pengangguran generasi muda sangat berdampak buruk terhadap keamanan dan ketentraman hidup di masyarakat. Banyak sekali terjadi pencopetan, pencurian, dan bahkan perampokan yang terjadi di masyarakat saat ini. Dampak negatif kelemahan ekonomi adalah banyaknya keluarga yang tidak lagi melanjutkan pendidikan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi atau para orang tua tidak dapat memberikan pendidikan yang tepat kepada anaknya. Akibatnya makin banyak anggota masyarakat yang berpendidikan rendah, dan itu berdampak akan daya saing masyarakat Indonesia di tingkat dunia. Degradasi Nilai-nilai Sosial. Telah umum diketahui dalam era Globalisasi ini sikap individualistik telah berkembang di masyarakat. Artinya banyak anggota masyarakat yang hanya mementingkan dirinya sendiri, dan enggan berbagi kepada orang tidak mampu. Beberapa ciri sikap individualistik yang berkembang di masyarakat, dapat dilukiskan sebagai berikut : Mementingkan diri sendiri dalam segala hal. Enggan berbagai harta, pikiran, saran dan pendapat. Tidak mau bergaul terutama dengan orang rendahan. Memutuskan tali silaturahmi dengan keluarga.

Sikap individualistik ini telah menyebar di masyarakat saat ini. Tidak ada lagi semangat kegotongroyongan. Yang ada kehidupan penuh persaingan tak sehat, keras dan saling jegal. Bahkan sikap individualistik ini merasuk dan terjadi di keluarga. Mulai dari sikap orang tua terhadap anak dan juga sikap anak terhadap orang tua. Sikap orang tua yang individualistik biasanya bersumber dari kesibukan sehingga tidak sempat mencurahkan perhatian dan kasih sayang. Apalagi jika orang tua bekerja jauh dari rumah dan terpisah. Anak-anak dibiarkan bersama pembantu tinggal sendiri. Jika anak telah tumbuh remaja maka timbullah sikap egoisme sebagai akibat tidak adanya perhatian orang tua. Apalagi jika orang tua hanya menunjukkan perhatiannya hanya lewat materi, sehingga anak terbiasa hidup berfoya-foya dengan uang yang banyak. Remaja tersebut terjun ke dunia hitam dengan bermain seks, ganja, alkohol, dan sebagainya, Lebih jauh lagi remaja itu terjun ke dunia narkoba, akhirnya tertular penyakit AIDS karena sering bergantung memakai jarum suntik. Setelah orang tua sadar akan sikapnya, dan ingin memperbaiki hubungan dengan anak remajanya, dan ternyata itu sudah terlambat. Sekarang peran orang tua tinggal mengobati penyakit anaknya karena menderita akibat narkoba dan tak kalah pentingnya memberikan kasih sayang serta memotivasi mereka agar tidak putus asa. Pertanyaan yang penting apakah gejala mementingkan diri sendiri di masyarakat bersumber dari pendidikan keluarga?

Jawabannya YA. Semua anggota masyarakat berasal dari keluarga. Aspek penting untuk membina anggota keluarga adalah agama dan pendidikan. Jika dua hal ini tidak berfungsi, maka dapat dipastikan anak-anak akan menjadi anggota masyarakat yang tidak diinginkan. Dia anak nakal, jahat, dan tidak bermoral dan berperikemanusiaan. Karena itu rumah tangga dengan pimpinan orang tua harus mendidik anak-anak dengan agama dan pendidikan kemanusiaan, kesopanan,

tanggung jawab, dan rasa belas kasihan kepada orang lain. Jangankan membunuh, menyakiti hati orang lain saja anak tidak tega. Di samping keluarga, lembaga pendidikan menjadi sumber pembentukan sikap dan nilai-nilai sosial. Karena di mana anak didik yang lama mendapatkan interaksi pendidikan selain di rumah. Di tempat ini peran guru sangatlah penting untuk mencapai tujuan tersebut. Karena guru adalah orang tua kedua bagi anak didik. Apabila guru tidak berperan membentuk pribadi siswa, maka dapat dipastikan tujuan dari pendidikan tidak tercapai. Sebab paling sedikit ada empat peran pembentukan sekolah terhadap anak didik. Pertama pembentukan pribadi yang mandiri, sosial, dan moral religius. Kedua, pembentukan akal dan intelegensi melalui teori dan latihan-latihan, misalnya mengasah kualitas kemampuan berpikir matematis, logis, sistematis, dan teknologis. Ketiga, pembentukan emosi dan karakter jiwa yang sabar, ikhlas, berani bertanggung jawab, serta berakhlak mulia, dan cinta damai. Sifat-sifat ini amat penting terutama untuk menghadapi perubahan zaman yang serba drastis tanpa adanya toleransi. Keempat, pembentukan keterampilan seperti teknis, bahasa, manajemen, dan sebagainya. Tujuan hal ini adalah agar pelajaran agama tidak hanya menjadi sekedar teori belaka. Hal ini tidak akan berkesan jika diberikan teori saja dan akan berakibat agama tidak mampu membentengi moral anak didik. Selain itu masyarakat juga berperan dalam membentuk sikap moral dan sosial siswa. Degradasi Nilai Kesakralan Keluarga. Terdapat kasus suami membunuh istri, dan sebaliknya. Karena sepele misalnya tidak terhidang makanan ketika suami pulang kerja, maka sang suami naik pitam dan langsung memukuli istrinya sampai mati. Dahulu kala jarang terjadi saling bunuh antara suami dan istri. Masyarakat dahulu lebih terbimbing prilakunya oleh adat dan agama. Saat ini masyarakat amat materialistis, egoistis, dan terimbas prilakunya dari kekejaman-kekejaman manusia yang ditayangkan di

TV, film dan video luar negeri. Padahal bangsa kita sesungguhnya adalah bangsa yang ramah, sabar, dan teratur. Jadi telah terjadi degradasi ( penurunan ) kemuliaan dan kesakralan institusi keluarga. Untuk mengembalikan kesakralan keluarga adalah mempererat basis pendidikan agama di keluarga terutama orang tua atau calon orang tua. Sebelum mereka dinikahkan harus ada upaya dari lembaga pernikahan bekerja sama dengan orang tua si calon mempelai untuk memberi bimbingan agama. Yaitu bagaimana menjalankan keluarga berdasarkan agama serta nanti mendidik anak-anaknya beragama. Berikut adalah beberapa fakta yang terjadi di masyarakat yang menunjukkan terjadinya degradasi kesakralan keluarga : a. Seringnya terjadi perceraian. b. Banyak terjadi perselingkuhan, baik oleh suami maupun istri. c. Banyak kasus kekejaman dalam keluarga ( KDRT ). d. Keluarga retak karena perselingkuhan maupun faktor ekonomi.

2.2. Kondisi Keluarga Modern Keluarga modern mempunyai ciri utama kemajuan dan perkembangan di bidang pendidikan, ekonomi, dan pergaulan. Kebanyakan keluarga modern berada di kota-kota. Mungkin juga ada keluarga modern yang tinggal di pedesaan, akan tetapi jarang berinteraksi dengan masyarakat pedesaan. Kelengkapan alat transportasi dan komunikasi memungkinkan mereka cepat berinteraksi di kota yaitu dengan keluarga atau dengan pihak lainnya. Pendidikan. Keluarga modern rata-rata minimal berpendidikan Sekolah Menengah Atas ( SMA ). Dengan modal pendidikan demikian, mereka lancar berinteraksi dengan menggunakan bahasa daerah terutama jika berhadapan dengan orang sekampungnya. Di rumah ada kemungkinan dua bahasa digunakan, bahasa daerah dan bahasa nasional ( Bahasa

10

Indonesia). Terutama jika anak-anaknya lahir di kota maka mereka sulit berbahasa daerah. Pendidikan menentukan perilaku seseorang, orang yang berpendidikan lumayan baik akan tampak pada sikap, ucapan, dan pergaulannya. Demikian pula dengan masyarakat yang berpendidikan rendah maka sikap, ucapan, dan perbuatannya hanya sesuai dengan kemampuan pendidikannya. Pada umumnya orang yang berpendidikan tinggi, pergaulannya akan elit dan luas. Karena pergaulan itu banyak peluang yang dapat dimanfaatkan asal kreatif dan produktif. Terutama di bidang ekonomi dan pekerjaan. Lain halnya dengan keluarga modern di kota-kota, mungkin di bidang ekonomi mereka berhasil, akan tetapi di bidang lain seperti moral, perilaku, dan memahami kemodernannya sering mereka lemah. Misalnya budaya barat yang ditayangkan di TV, video, dan internet, mereka anggap sebagai rujukan perilaku yang baik. Hal ini menyebabkan terjadinya krisis moral, penyimpangan perilaku seks, pecandu alkohol, dan narkoba. Kalau demikian dapat disimpulkan bahwa kekuatan ekonomi saja tidaklah cukup, seharusnya ada modal religius dan moral yang baik berdasarkan agama serta norma-norma yang berlaku. Agama mengajarkan bahwa seharusnya orang yang sudah berkecukupan ( kaya ) bisa membantu orang yang berekonomi rendah. Namun setelah zaman atau era reformasi berjalan, banyak timbul penyakit seperti tindak korupsi semakin marak. Dari gambaran di atas, keluarga modern mempunyai ciri-ciri yang nampak yaitu : cinta materi ( materialistis ), cenderung pada kebebasan, lemah bidang agama, sebagian mereka banyak yang terjerumus ke hal-hal negatif. Ciri-ciri yang nampak itu amat bertentangan dengan kemodernan yang sebenarnya. Yaitu kreatif, produktif, cinta bangsa sendiri, suka menolong orang yang sedang keadaan susah. Jadi modern dilihat dari segi intelektual dan keimanan.

11

Keterampilan Untuk memperoleh keterampilan hidup banyak peluang bagi keluarga modern. Hal ini disebabkan keadaan ekonomi yang memadai. Mereka dapat menyekolahkan anak-anaknya di sekolahsekolah seperti SMK ( Sekolah Menengah Kejuruan ). Atau yang ingin meneruskan anak-anaknya kuliah di perguruan tinggi ( PT ) baik negeri atau swasta, mereka dapat memilih kejuruan seperti teknik dan akuntansi. Sedangkan bagi keluarga yang masih terbelakang atau tertinggal, masih sulit menyekolahkan anak-anak ke tingkat menengah atas maupun PT. Faktor ekonomi dan pemahaman orang tua amat menentukan. Di samping itu peluang sekolah di pedesaan, amat sedikit pilihan yaitu SD dan paling tinggi SMP. Jika ingin ke SMA dan SMK mereka harus meneruskan pendidikan di kota yang jauh dari desa mereka. Pasti terbentur soal biaya. Karena itu banyak anak-anak desa yang hanya tamat SD dan banyak pula yang putus sekolah atau dropout. Remaja-remaja desa yang tidak memiliki keterampilan datang ke kota-kota untuk mencari pekerjaan. Akhirnya mereka menjadi pengangguran. Ada yang jadi pengamen, gelandangan minta-minta, dan banyak yang menjadi pencopet dan perampok. Bagaimana memberikan keterampilan kerja bagi anak-anak desa dari keluarga miskin? Ini pertanyaan amat sulit. Semestinya pendidikan 9 tahun dibebaskan dari biaya, disumbang buku-buku, dan pakaian seragam. Lalu setelah tamat SD 9 tahun, anak-anak itu diberi latihan latihan keterampilan seperti teknik-teknik untuk siap pakai, bahasa Inggris, dan komputer. Jika mereka telah terampil, maka mereka akan mendapatkan pekerjaan. Tapi sayang pemerintah cukup repot dengan pendidikan karena anggaran biaya pendidikan amat minim. Sehingga tidak mungkin membuat sekolah atau tempat pelatihan keterampilan di pedesaan.

12

2.3. Krisis Keluarga. Krisis keluarga artinya kehidupan keluarga dalam keadaan kacau, tak teratur dan terarah, orang tua kehilangan kewibawaan untuk mengendalikan kehidupan anak-anaknya terutama remaja, mereka melawan orang tua, dan terjadi pertengkaran terus menerus antara ibu dengan bapak terutama mengenai soal mendidik anak-anak. Bahkan keluarga krisis bisa membawa kepada perceraian suami - istri. Dengan kata lain krisis keluarga adalah suatu kondisi yang sangat labil di keluarga, di mana komunikasi dua arah dalam kondisi demokratis sudah tidak ada. Jika terjadi perceraian sebagai puncak dari krisis yang berkepanjangan, maka yang paling menderita adalah anak-anak. Sering perkara perceraian di pengadilan agama, yang paling rumit adalah siapakah yang akan mengurus anak-anak. Sering pengadilan memenangkan hak asuh kepada pihak laki-laki atau bapak. Dalam hal ini pengadilan agama hanya berdasarkan fakta hukum belaka. Akan tetapi melupakan faktor psikologis anak. Yaitu ibu memiliki kedekatan psikologis dengan ibu mulai dari menyusui hingga anak berusia dua tahun. Kemudian memberi makanan bergizi, memberi sentuhan sentuhan psikologis sehingga anak cepat tumbuh, cepat pintar berbicara, dan melakukan gerakan-gerakan fisik lainnya dengan terampil. Hal ini disebabkan ibu lebih banyak punya waktu untuk mengurus anak. Terutama jika ibu tidak bekerja. Lain halnya jika anak sering diurus oleh pembantu rumah tangga ( PRT ). PRT tidak merasa anak itu sebagai anaknya sendiri. Tugasnya hanyalah memberikan makan, memandikan, mengganti pakaian, dan mengajak bermain. Namun sentuhan-sentuhan PRT tidak sama dengan sentuhan ibu sendiri yang penuh kasih sayang. Jika saat ini banyak terjadi kenakalan anak dan remaja, salah satu faktor penyebab adalah kebanyakan bayi atau anak diurus oleh PRT. Berikut ini adalah faktor-faktor penyebab terjadinya krisis keluarga, yaitu: 1. Kurang atau putus komunikasi di antara anggota keluarga terutama ayah dan ibu. Sering dituding faktor kesibukan sebagai biang keladi. Dalam keluarga sibuk, di mana ayah dan ibu keduanya bekerja dari pagi

13

hingga sore hari. Mereka tidak punya waktu untuk makan siang bersama, beribadah bersama-sama anggota keluarga. Di meja makan dan di tempat ibadah, banyak hal yang bisa ditanyakan ayah atau ibu kepada anak anak. Seperti pelajaran sekolah, teman di sekolah, kesedihan dan kesenangan yang dialami anak. Dan anak-anak akan mengungkapkan pengalaman, perasaan, dan pemikiran - pemikirannya tentang kebaikan keluarga, termasuk kritik terhadap orang tua mereka. Yang sering terjadi adalah, kedua orang tua pulang hampir malam, karena jalanan macet. Badan capek, sampai di rumah mata sudah mengantuk dan tertidur. Tentu orang tua tidak punya kesempatan untuk berdiskusi dengan anak-anaknya. Lama kelamaan anak-anak menjadi remaja yang tidak terurus secara psikologis, mereka mengambil keputusan - keputusan tertentu yang membahayakan dirinya, seperti berteman dengan anak anak nakal, merokok, meminum minuman beralkohol, main kebut-kebutan di jalanan sehingga menyusahkan masyarakat. Dan bahayanya jika dia terlibat menjadi pemakai narkoba, akhirnya ditangkap polisi, dan orang tua baru sadar bahwa melepas tanggung jawab terhadap anak adalah amat berbahaya. Orang tua hanya berusaha mencari uang yang banyak untuk diberikan kepada anaknya, namun anak akan semakin dimanja dengan uang tersebut yang pada akhirnya menjerumuskan anak ke hal-hal yang negatif. 2. Sikap egosentrisme. Sikap egosentrisme masing-masing suami istri merupakan pertengkaran terus menerus. Egoisme adalah suatu sifat buruk

manusia yang mementingkan dirinya sendiri. Yang lebih berbahaya lagi adalah sifat egosentrisme, yaitu sifat yang menjadikan dirinya pusat perhatian yang diusahakan oleh seseorang dengan segala cara. Pada orang yang seperti ini, orang lain tidaklah penting. Dia mementingkan dirinya sendiri dan bagaimana menarik perhatian pihak lain agar mengikutinya minimal memperhatikannya. Akibat sifat egoisme atau egosentrisme ini sering orang lain tersinggung, dan tidak

14

mau mengikutinya. Misalnya ayah dan. Ibu bertengkar karena ayah tidak mau membantu mengurus anaknya yang kecil yang lagi menangis. Alasannya ayah akan pergi main badminton. Padahal ibu sedang sibuk di dapur. Ibu menjadi marah kepada ayah, dan ayah pun membalas kemarahan tersebut, terjadilah pertengkaran hebat di depan anak anaknya, suatu hal yang buruk yang diberi contoh oleh keduanya. Egoisme orang tua akan berdampak terhadap anak, yaitu timbulnya sikap membandel, sulit disuruh, dan suka bertengkar dengan saudaranya. Ada pun sikap membandel adalah aplikasi dari rasa marah terhadap orang tua yang egosentrisme. Seharusnya orang tua memberi contoh sikap yang baik seperti suka bekerja sama, saling membantu, bersahabat, dan ramah. Sifat-sifat ini adalah lawan dari egoisme atau egosentrisme. 3. Masalah ekonomi Dalam hal ini ada dua jenis penyebab krisis keluarga, yaitu kemiskinan dan gaya hidup. Keluarga miskin masih besar jumlahnya di negeri ini. Berbagai cara diusahakan pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan. Akan tetapi tetap saja kemiskinan tidak terkendali. Terakhir pemerintah memberikan bantuan langsung tunai ( BLT ) pada tahun 2007 dan 2008. Kemiskinan jelas berdampak terhadap kehidupan keluarga. Jika kehidupan emosional suami istri tidak dewasa, maka akan timbul pertengkaran. Sebab, istri banyak menuntut hal-hal di luar makan dan minum. Padahal dengan penghasilan suami sebagai buruh lepas, hanya dapat memberi makan dan rumah petak tempat berlindung yang sewanya terjangkau. Akan tetapi yang namanya manusia sering bernafsu ingin memiliki televisi, radio, dan sebagainya sebagaimana layaknya sebuah keluarga yang normal. Karena suami tidak sanggup memenuhi tuntutan istri dan anak-anaknya akan kebutuhan-kebutuhan yang disebutkan tadi, maka timbullah pertengkaran suami istri yang sering menjurus ke arah perceraian. Suami yang egois dan tidak dapat

15

menahan emosinya lalu menceraikan istrinya. Akibatnya terjadilah kehancuran sebuah keluarga sebagai dampak kekurangan ekonomi. Berbeda dengan keluarga miskin, maka keluarga kaya mengembangkan gaya hidup internasional yang serba luks. Mobil, rumah mewah, serta segala macam barang yang baru mengikuti mode dunia. Namun tidak semua suami suka hidup glamor atau sebaliknya. Di sinilah awal pertentangan suami istri, yaitu soal gaya hidup. Jika istri yang mengikuti gaya hidup dunia, sedangkan suami ingin biasa saja, maka pertengkaran dan krisis akan terjadi. Mungkin suami berselingkuh sebagai balas dendam terhadap istrinya yang sulit diatur. Hal ini jika ketahuan akan bertambah parah krisis keluarga kaya ini, dan dapat berujung pada perceraian, dan yang menderita adalah anakanak mereka. 7. Masalah Kesibukan Kesibukan, adalah satu kata yang telah melekat pada masyarakat modern di kota-kota. Kesibukannya terfokus pada pencarian materi yaitu harta dan uang. Mengapa demikian? Karena filsafat hidup mereka mengatakan uang adalah harga diri, dan waktu adalah uang. Jika telah kaya berarti suatu keberhasilan, suatu kesuksesan. Di samping itu kesuksesan lain adalah jabatan tinggi, kedudukan atau posisi yang basah yang bergelimang uang. Jika ternyata ada orang yang gagal dalam masalah ekonomi dan keuangan, maka dia menjadi frustrasi ( kecewa berat ), kadang terlihat banyak orang yang bunuh diri karena kegagalan ekonomi. Makna kesuksesan hidup tidaklah semata-mata berorientasi materi. Ajaran agama mempunyai filsafat atau makna sukses dalam hidup. Ada tiga ukuran kesuksesan hidup manusia menurut ajaran agama. Pertama, hidup bermanfaat bagi orang lain. Jika hidup hanya untuk kepentingan diri dan keluarga saja, sedangkan kepentingan masyarakat diabaikan, dan masyarakat merasa akan kehadirannya di dunia adalah tidak bermanfaat, maka orang tersebut tidak sukses sama sekali kehidupannya. Sebaliknya jika seorang sukses dirinya dapat

16

dimanfaatkan oleh orang banyak, berarti hidupnya sukses. Orang banyak sangat membutuhkan kehadirannya karena dengan cara demikian masyarakat banyak sangat tertolong terutama kaum tak mampu. Kedua, adanya keseimbangan hidup dunia dan akhirat. Artinya kesibukan dunia harus diimbangi dengan kegiatan akhirat yaitu ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka beranggapan bahwa dunia ini adalah akhir perjalanan manusia, sehingga harus dipuas-puaskan. Ketiga, akhir hidup yang baik yang diterima oleh Tuhan sebagai akhir yang membahagiakan di akhirat ( bersatu dengan-Nya ). Banyak orang yang pada akhir hidupnya mengalami hidup yang buruk. Hidup yang baik yang diberkati oleh Tuhan akan berakhir dengan membahagiakan. Sedangkan akhir hidup yang jelek disebabkan akhir hidupnya banyak berbuat kesalahan terhadap Tuhan dan masyarakat. Kembali kepada kesibukan orang tua dalam urusan ekonomi sudah menjadi kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Akan tetapi sah-sah saja setiap keluarga berusaha mengejar kebahagiaan materi. Akan tetapi bila tidak mampu, jangan stres, jangan bertengkar, dan jangan bercerai. Berusahalah sabar dan selalu usaha, mungkin nantinya akan berhasil. 7. Masalah Pendidikan. Masalah pendidikan sering merupakan penyebab terjadinya krisis di dalam keluarga. Jika tingkat pendidikan yang dimiliki suami istri lumayan maka wawasan tentang kehidupan keluarga dapat dipahami oleh mereka. Sebaliknya pada suami istri yang

pendidikannya rendah sering tidak dapat memahami liku liku keluarga. Karena itu sering salah menyalahkan jika terjadi persoalan dalam keluarga. Akibatnya selalu terjadi pertengkaran yang berujung perceraian. 6. Masalah perselingkuhan. Sering kita baca di surat kabar banyak permasalahan suami istri yang berujung perceraian salah satunya adalah masalah

17

perselingkuhan.

Ada

beberapa

faktor

penyebab

terjadinya

perselingkuhan. Pertama, hubungan suami istri yang sudah hilang kemesraan dan cinta kasih. Hal ini berhubungan dengan

ketidakpuasan seks, istri kurang berdandan di rumah kecuali jika pergi ke undangan atau pesta, cemburu baik secara pribadi ataupun atas hasutan pihak ketiga. Kedua, tekanan pihak ketiga seperti mertua dan lain-lain ( anggota keluarga lain ) dalam hal ekonomi, dan terakhir, adanya kesibukan masing-masing sehingga kehidupan kantor lebih nyaman dari kehidupan keluarga. 7. Jauh dari Agama Segala sesuatu keburukan perilaku manusia disebabkan dia jauh dari agama. Sebab agama mengajarkan manusia berbuat baik dan mencegah orang berbuat keji atau menjauhi nilai-nilai agama. 8. Ketidakberfungsian Sistem Keluarga. Ada beberapa ketidakberfungsian keluarga menurut Aponte dan Deusen ( 1980 ) yaitu : Tembusnya batasan-batasan dan aturan dalam keluarga. Pada keluarga yang fungsional batasan atau aturan keluarga dimengerti dan fleksibel. Akan tetapi pada keluarga tak fungsional akan terjadi sebaliknya, akibatnya akan campur aduk perilaku. Terjadi blok-blok dalam keluarga. Misalnya istri membentuk blok dengan ibunya, untuk melawan suaminya. Menurunnya kewibawaan. Jika kewibawaan suami/orang tua sudah hilang atau orang tua/suami otoriter, maka keluarga itu tidak akan berfungsi.

2.4. Upaya Mengatasi Krisis Keluarga. Setiap masalah seharusnya ada jalan keluar untuk penyelesaiannya. Demikian pula dengan krisis keluarga yang merupakan masalah keluarga yang sangat rumit. Karena harus dicari akar masalahnya, lalu ditemukan solusinya. Akar masalah dari krisis keluarga bersumber pada: 1) Suami, 2)
18

Istri, 3) Anak-anak. Jika persoalan keluarga bersumber dari internal ( Ayah, Ibu, Anak ), mungkin penyelesaiannya akan lebih jelas dan agak mudah. Akan tetapi jika sumber persoalan ini makin sulit untuk dipecahkan dan mencari solusinya. Sebagai contoh, adanya pihak ketiga antara suami istri yaitu orang yang mencintai suami/istri, yang dikenal dengan selingkuh. Hal ini sulit untuk dibicarakan dengan selingkuhannya itu, karena dapat dipastikan akan mengelak atau menghilang. Jika dia terus terang maka akan berbahaya bagi dirinya alias terancam sebagai pengacau rumah tangga orang lain. Banyak upaya yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan krisis keluarga. Ada dengan cara-cara tradisional dan ada pula dengan cara modern atau yang sering disebut dengan cara ilmiah. Cara pemecahan masalah keluarga dengan sifat tradisional terbagi dua bagian. Pertama kearifan kedua orang tua dalam menyelesaikan, terutama yang berhubungan dengan masalah anak dan istri. Istilah kearifan adalah cara-cara yang penuh dengan kasih sayang, kekeluargaan, memelihara jangan sampai yang terluka hatinya oleh sikap dan atau perubahan sikap orang tua. Dengan kata lain kearifan orang tua dapat terjadi jika : 1) mempunyai cukup waktu di rumah, 2) selalu menciptakan suasana rumah yang harmonis penuh kasih sayang dan perhatian, 3) kedua orang tua seharusnya memiliki pengetahuan psikologi anak dan remaja serta cara-cara membimbing anak. Kedua, bantuan orang bijak ( tokoh agama ), karena mereka cukup mempunyai kearifan dalam bimbingan agama dan akan langsung menasehati jika terjadi penyimpangan perilaku pada anak dan remaja. Cara ilmiah adalah cara konseling keluarga ( Family Counseling ). Konseling keluarga adalah upaya bantuan yang diberikan kepada individu anggota keluarga melalui sistem anggota keluarga ( pembenahan komunikasi anggota keluarga ) agar potensinya berkembang seoptimal mungkin dan masalahnya dapat diatasi atas dasar keinginan membantu dari semua anggota keluarga berdasarkan kerelaan dan kecintaan terhadap keluarga. Penanganan terhadap keluarga sebagai sistem bertujuan untuk

19

membantu anggota keluarga yang mengalami gangguan emosi melalui sistem keluarga. Yaitu setiap anggota memberikan kontribusi positif dan pemahaman yang mendalam akan hakikat gangguan tersebut. Dengan kata lain keluarga yang berjasa untuk membantu perkembangan anggotanya dan menyembuhkan anggota yang terganggu. Cara ini telah dilakukan oleh para ahli konseling di seluruh dunia. Ada dua pendekatan yang dilakukan dalam hal ini : 1. Pendekatan individual disebut juga individual konseling, yaitu upaya untuk menggali emosi, pengalaman dan pemikiran klien. 2. Pendekatan kelompok yaitu diskusi dalam keluarga yang dibimbing oleh konselor keluarga. Sebelum kita memasuki konseling keluarga yang amat sangat penting hendaknya kita mendekati secara individual dengan individual konseling, yang bertujuan agar : 1) klien dapat mengekspresikan perasaan-perasaan yang mengganjal, menyakitkan, menyedihkan dan yang melukai hatinya. Hal ini penting karena perasaan seperti inilah yang menyebabkan individu berprilaku salah seperti menjadi nakal, lari dari rumah, minum-minuman keras, dan lain-lain, sehingga akan menyebabkan kedua orang tua menjadi malu. Kalau hal ini terjadi maka remaja tersebut akan merasa puas. Jika perasaan-perasaan negatif itu dapat diungkapkan dalam konseling individual maka klien akan menjadi lega, puas dan agak tenang. 2) setelah muncul perasaan lega dan agak tenang maka tugas konselor adalah mengungkapkan pengalaman-pengalaman klien yang berhubungan dengan perasaan negatif dalam dirinya. Tujuannya adalah agar konselor memahami perilaku-perilaku apa yang ada di antara orang tua, saudara terhadap dirinya. Dengan demikian akan mudah konselor untuk memberikan pengarahan di dalam konseling keluarga nanti terutama terhadap sikap-sikap orang tua dan saudaranya terhadap diri klien. 3) selanjutnya konselor berusaha memunculkan pikiran-pikiran sehat klien agar tercipta suatu keluarga yang utuh. Konseling keluarga dilakukan setelah permasalahan anggota keluarga telah dapat diselesaikan oleh konselor secara konseling individu. Dengan

20

cara demikian tugas konselor keluarga akan lebih ringan dalam membantu keluarga menyelesaikan masalahnya dan menciptakan keluarga yang utuh setelah lancarnya komunikasi antara mereka. Di dalam proses konseling keluarga, konselor berupaya sekuat tenaga agar setiap anggota keluarga yang terlibat dapat berbicara bebas menyatakan perasaan, pengalaman dan pemikiran tentang ayah, ibu dan saudara-saudaranya.

21

BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: Dalam perkembangan era globalisasi ini telah menimbulkan berbagai gejolak di lingkungan masyarakat seperti salah satunya yaitu degradasi nilai, degradasi nilai ini menyangkut penurunan atau degradasi berbagai nilai yang ada di masyarakat seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Dan akibat pengaruh globalisasi ini juga mempengaruhi bagaimana kondisi keluarga modern saat ini, yang kemudian dapat berkembang ke arah yang negatif sehingga menimbulkan krisis dalam keluarga tersebut. Untuk mengatasi krisis keluarga yang telah terjadi tersebut maka dapat dilakukan dengan beberapa cara yang juga telah dijelaskan pada bab sebelumnya. 3.2. Saran. Melalui makalah ini, penulis menyarankan agar mahasiswa sebagai calon konselor hendaknya memahami paparan tentang Latar Belakang Kehidupan Keluarga, khususnya sebagai pemahaman awal terhadap realitas bahwa kehidupan keluarga pada masa kini sangat penuh tantangan dan betapa pentingnya konseling keluarga sebagai sebuah cara yang strategis dalam mengatasi problem-problem yang terjadi di keluarga.

22

DAFTAR PUSTAKA

Prayitno, Eiida & Erlamsyah. Bahan Ajar Program Semi-Que IV. Padang : Direktorat Jrnderal Pendidikan Tinggi. Pujosuwarno, Sayekti. 1994. Bimbingan dan Konseling Keluarga. Yogyakarta : Menara Mas Offset. Chatib, Munif. 2011. Gurunya Manusia. Bandung : Kaifa. Gunarsa, D.Singgih. 1981. Psikologi Untuk Keluarga. Jakarta : BPK Gunung Mulia. Willis, S. Sofyan. 2011. Konseling Keluarga ( Family Counseling ). Bandung : Alfabeta. Anonimous. 2012. Resume Buku Konseling Keluarga. Diakses pada 27 February 2013 dari http://aderahmatillahconseling.wordpress.com/bimbingankonseling-keluarga/. Anonimous. 2012. Review Buku Konseling Keluarga. Diakses pada 27 February 2013 dari http://ajenganjar.blogspot.com/2012/03/bagaimanakah-konselingkeluarga-itu.html.

23