Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM BSN 2

Disusun oleh: Yunita Persiyawati 220110110052

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011

Praktikum 1 Pemeriksaan Aktivitas Listrik Jantung dan Interpretasi EKG Praktikum ini bertujuan untuk melakukan aktivitas listrik jantung dengan menggunakan alat EKG, lalu menginterpretasikannya setelah hasil EKG didapatkan, dan selanjutnya membuat kesimpulan data mengenai gambaran yang ada pada hasil EKG. Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah tempat tidur, mesin EKG, dan kertas EKG. Evaluasi 1. HR : 82 x/m 2. Gelombang P : berhubungan dengan sistol atrium (depolarisasi atrium), merupakan gelombang pertama siklus jantung. Setengah gelombang pertama terjadi karena stimulasi atrium kanan serta bentuk downslope berikutnya terjadi karena stimulasi atrium kiri. Waktu : normal 0,08 0,10 detik. Amplitudo : dalam keadaan normal adalah 2,5 mm. 3. P R interval : diukur dari awal gelombang P dan kompleks QRS. Panjangnya 100 200 ms, 3 5 kotak kecil. 4. QRS complex : lebar normal 0,06 0,10 detik. 5. ST segment : menghubungkan kompleks QRS dan gelombang T serta normalnya berdurasi 0,08 0,12 s (180 120 ms). 6. Gelombang T : posisinya di repolarisasi ventrikel. Amplitudo : dalam keadaan normal, kurang dari 5 mm pada sadapan ekstremitas atau 10 mm pada sadapan prekordial. Percobaan EKG ini dilakukan pada Tri Aji, 18 tahun, pada tanggal 14 Desember 2011, hasil percobaannya adalah sebagai berikut: I Sadapan I adalah dipol dengan elektrode negatif (putih) di lengan kanan dan elektrode positif (hitam) di lengan kiri. Hasil percobaan menunjukkan HR = 84 x/m. III Sadapan III adalah dipol dengan elektrode negatif (hitam) di lengan kiri dan elektrode positif (merah) di kaki kiri. Hasil percobaan menunjukkan HR = 84 x/m. II Sadapan II adalah dipol dengan elektrode negatif (putih) di lengan kanan dan elektrode positif (merah) di kaki kiri. Hasil percobaan menunjukkan HR = 82 x/m. AVR Sadapan aVR atau "vektor tambahan kanan" memiliki elektrode positif (putih) di lengan kanan. Elektrode negatif merupakan gabungan elektrode lengan kiri (hitam) dan elektrode kaki kiri (merah), yang "menambah" kekuatan sinyal elektrode positif di lengan kanan. Hasil percobaan menunjukkan HR = 80 x/m.

AVL Sadapan aVL atau "vektor tambahan kiri" mempunyai elektrode positif (hitam) di lengan kiri. Elektrode negatif adalah gabungan elektrode lengan kanan (putih) dan elektrode kaki kiri (merah), yang "menambah" kekuatan sinyal elektrode positif di lengan kiri. Hasil percobaan menunjukkan HR = 82 x/m. V1 Sadapan V1 ditempatkan di ruang intercostal IV di kanan sternum. Hasil percobaan menunjukkan HR = 78 x/m. V3 Sadapan V3 ditempatkan di antara sadapan V2 dan V4. Hasil percobaan menunjukan HR = 76 x/m. V5 Sadapan V5 ditempatkan secara mendatar dengan V4 di linea axillaris anterior. Hasil percobaan menunjukkan HR = 75 x/m.

AVF Sadapan aVF atau "vektor tambahan kaki" mempunyai elektrode positif (merah) di kaki kiri. Elektrode negatif adalah gabungan elektrode lengan kanan (putih) dan elektrode lengan kiri (hitam), yang "menambah" sinyal elektrode positif di kaki kiri. Hasil percobaan menunjukkan HR = 81 x/m.

V2 Sadapan V2 ditempatkan di ruang intercostal IV di kiri sternum. Hasil percobaan menunjukkan HR = 81 x/m. V4 Sadapan V4 ditempatkan di ruang intercostal V di linea (sekalipun detak apeks berpindah). Hasil percobaan menunjukkan HR = 70 x/m. V6 Sadapan V6 ditempatkan secara mendatar dengan V4 dan V5 di linea midaxillaris. Hasil percobaan menunjukkan HR = 73 x/m.

Simpulan Dapat disimpulkan dari hasil nadi dan hasil EKG meliputi gelombang P, Q, R, S, dan T dalam keadaan normal. Praktikum ini juga menghasilkan data yang menyatakan bahwa orang percobaan dalam keadaan sehat tanpa riwayat penyakit jantung.

Praktikum 2 Denyut Jantung (Ictus Cordis), Bunyi Jantung, Pengaruh Perubahan Posisi dan Aktivitas Terhadap Tekanan Darah dan Denyut Jantung. Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan denyut jantung serta mengidentifikasi bunyi jantung menggunakan stetoskop dan menjelaskan pengaruh aktivitas terhadap denyut jantung dan tekanan darah.

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah sphygmomanometer, stetoskop, dan bangku kayu. Tata kerja praktikum adalah sebagai berikut: 2.1 Denyut Jantung (Ictus Cordis) 1. Mintalah orang percobaan melepas bajunya dan perhatikan apa yang tampak pada ruang intercostal V sedikit medial dari garis medioclavicularis. Untuk lebih jelas suruh orang yang menjadi percobaan sedikit membungkuk. 2. Lihat dan raba lalu hitung denyut jantungnya. 3. Catat apa yang akan terjadi bila orang percobaan melakukan ekspirasi atau inspirasi dalam. 2.2 Bunyi Jantung Dengarkan bunyi jantung pada tempat tempat berikut: 1. Apex. 2. Sela iga II sebelah kanan dari sternum. 3. Sela iga II sebelah kiri dari sternum. 4. Sela iga IV sebalah kanan sternum. 5. Sela iga IV sebelah kiri sternum. 2.3 Pengaruh Perubahan Posisi dan Aktivitas Terhadap Tekanan Darah dan Denyut Jantung. 1. Mintalah orang percobaan untuk relax. 2. Hitunglah denyut nadi orang percobaan. 3. Pasang manset pada lengan atas. 4. Pompa karet berkali kali sampai air raksa pada manometer naik mencapai 20 40 mmHg diatas rata rata tekanan darah normal sambil meletakkan stetoskop pada arteri di bawah pemasangan manset. 5. Buka klep pengatur perlahan lahan. 6. Dengarkan dengan seksama suara yang terdengar melalui stetoskop. 7. Tentukan sistolik dan diastolik. 8. Lakukan pemeriksaan tekanan darah pada posisi tidur, duduk, dan berdiri. 9. Mintalah orang percobaan untuk naik turun tangga dengan kecepatan 60 kali per menit selama tiga menit tanpa istirahat. 10. Periksa kembali denyut nadi dan tekanan darah orang percobaan segera setelah satu menit, dua menit, tiga menit melakukan aktivitas. Hasil praktikum yang kelompok 12 lakukan adalah sebagai berikut: Bunyi jantung ditempat tempat berikut adalah: 1. 2. 3. 4. Apex Sela iga II sebelah kanan dari sternum Sela iga II sebelah kiri dari sternum Sela iga IV sebelah kanan sternum : bunyi dup 95 kali per menit. : bunyi dup 93 kali per menit. : bunyi dup 93 kali per menit. : bunyi dup 93 kali per menit.

5. Sela iga IV sebelah kiri sternum

: bunyi dup 91 kali per menit.

A. Denyut jantung (ictus cordis) dan bunyi jantung. Pencatatan yang dilakukan dari hasil auskultasi kelompok 12 adalah sebagai berikut: Waktu antara sistol ke diastol berikutnya : Waktu antara sistol ke sistol berikutnya : Waktu antara dua sistol : Waktu antara dua nadi arteri : 88/menit Denyut jantung rata rata berdasarkan hasil diatas adalah B. Pengaruh perubahan posisi dan aktivitas terhadap tekanan darah dan denyut jantung Hasil percobaan yang dilakukan, kelompok 12 mendapatkan hasil sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. Denyut jantung saat istirahat Tekanan darah pada posisi tiduran 124/111 nadi 101. Tekanan darah pada posisi duduk 127/89 nadi 109. Tekanan darah pada posisi berdiri 132/82 nadi 109. Denyut nadi setelah aktivitas a. Setelah 1 menit adalah 132. b. Setelah 2 menit adalah 123. c. Setelah 3 menit adalah 112. 6. Tekanan darah setelah aktivitas a. Setelah 1 menit adalah 167/85. b. Setelah 2 menit adalah 147/100. c. Setelah 3 menit adalah 134/66. Simpulan Praktikum ini menunjukkan adanya perbedaan tekanan darah dan denyut jantung oleh aktivitas dan posisi. Dalam buku Asisten Keperawatan Suatu Pendekatan Proses Keperawatan oleh Barbara Hegner menyebutkan bahwa tekanan darah dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu volume, kekuatan denyut jantung, keadaan arteri, dan jarak dari jantung dibuktikan dalam praktikum ini bahwa posisi dan jarak pun berpengaruh terhadap tekanan darah dan denyut jantung, dapat dilihat dari hasil praktikum bahwa tekanan darah saat berdiri lebih tinggi dibandingkan saat duduk atau pun beristirahat, hal ini disebabkan oleh posisi jantung yang lebih tinggi ketika berdiri sehingga harus melawan arah gravitasi dan terjadi vasokontriksi agar darah sampai ke bagian bawah; ketika duduk jarak jantung lebih rendah dibandingkan berdiri sehingga tekanan darah lebih rendah dibandingkan ketika berdiri dan posisi duduk inilah yang baik untuk mengukur tekanan darah; sedangkan ketika berbaring tekanan darah menjadi sangat rendah atau disebut tekanan darah basal hal ini disebabkan karena tubuh menjadi lebih rileks sehingga tidak ada vasokontriksi untuk menaikan volume darah agar sampai ke tempat tempat yang jauh dari jantung. Ketika beraktivitas jantung

1. 2. 3. 4.

memompa darah lebih cepat untuk menyuplai oksigen dan glukosa sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi, tekanan darah saat beraktivitas dinamakan tekanan darah kausal.

Praktikum 3 Pengaruh Cairan Hipotonis, Isotonis, dan Hipertonis Terhadap Jaringan Tubuh Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa dapat menjelaskan perubahan yang terjadi pada sel akibat adanya cairan hipotonis, isotonis, dan hipertonis yang berada dilingkungan sel. Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah: 1. Tabung reaksi tiga buah. 2. Berbagai cairan dengan kekuatan yang berbeda terdiri dari: a. Cairan hipotonis: NaCl 0,45%. b. Cairan isotonis: NaCl 0,9%. c. Cairan hipertonis: NaCl 3%. 3. Spuit disposible 5 ml. 4. Kapas alkohol. 5. Basin kidneys. Tata kerja dalam praktikum ini adalah sebagai berikut: 1. Siapkan tiga buah tabung reaksi yang masing masing diisi dengan 2 ml NaCl 0,45%, NaCl 0,9%, dan NaCl 3%. 2. Mintalah salah satu mahasiswa untuk secara sukarela diambil darah vena sejumlah 3 ml. 3. Masukkan darah volunteer kedalam tabung reaksi yang sudah berisi cairan yang disebutkan pada nomor 1 tadi. 4. Kocok campuran tadi secara perlahan. 5. Perhatikan perubahan yang terjadi pada ketiga tabung reaksi tersebut. 6. Jelaskan proses terjadinya perubahan tersebut. Praktikum yang kelompok 12 lakukan menunjukkan hasil sebagai berikut: 1. Campuran darah dengan cairan hipotonis, dalam praktikum ini hipotonis yang digunakan adalah NaCl 0,45% menghasilkan warna merah terang, ada endapan tetapi tidak ada buih. 2. Campuran darah dengan cairan isotonis, yang digunakan adalah NaCl 0,9% menghasilkan warna darah menjadi merah gelap, ada sedikit buih, dan ada sedikit endapan. 3. Campuran darah dengan cairan hipertonis, dalam praktikum ini menggunakan NaCl 3% menghasilkan warna darah menjadi merah keruh, buih yang dihasilkan banyak, dan endapan yang dihasilkan menjadi larut dan pecah.

Simpulan Sel darah merah yang digunakan dalam praktikum ini menujukkan hasil yang berbeda ketika dicampurkan dengan NaCl yang berbeda konsentrasinya. Sel darah merah yang dicampurkan dengan cairan hipotonis atau dalam praktikum ini adalah NaCl 0,45% hasilnya terjadi endapan dan warna terang hal ini disebabkan karena terjadi hemolisis pada sel darah merah, hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas ke dalam medium sekelilingnya (plasma). Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh, antara lain: penambahan larutan hipotonis atau hipertonis ke dalam darah, penurunan tekanan permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan atau pendinginan, serta rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah. Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan larutan NaCl hipotonis) medium tersebut (plasma dan larutan) akan masuk ke dalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung. Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu sendiri, maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam medium sekelilingnya. Sehingga diketahui dari hasil praktikum bahwa darah yang dicampur dengan NaCl 0,45% atau hipotonis menghasilkan larutan yang lebih terang dibandingkan dengan larutan yang lain. Ada pun sumber yang menyatakan bahwa larutan NaCl 0,45% membuat eritrosit mengalami hemolisis sebesar 5 45%. Sebaliknya bila eritrosit berada pada medium yang hipertonis, maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit (plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi). Keriput ini dapat dikembalikan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar eritrosit (plasma). Praktikum menunjukkan bahwa darah yang dicampurkan dengan cairan hipertonis dalam hal ini adalah NaCl 3% menghasilkan larutan yang endapannya pecah ini menunjukkan bahwa sel darah yang menjadi kecil ukurannya karena keriput. Hal seperti ini dapat digunakan ketika dilakukan diagnosa untuk pemberian infus pada pasien dengan memerhatikan kebutuhannya.

Praktikum 4 Pengaruh Kelebihan Cairan Hipotonis, Isotonis, dan Hipertonis Terhadap Pembentukan Urine Tujuan dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat menjelaskan perubahan jumlah urine dalam waktu tertentu sebagai dampak dari penambahan cairan hipotonis, isotonis dan hipertonis. Alat yang digunakan adalah sebagai berikut: 1. Gelas ukur. 2. Cairan untuk diminum yaitu: Aqua 1 liter, NaCl 0,9% 1 liter, dan Dextrose 10% 1 liter.

3. Kertas dan pulpen untuk mencatat. Tata kerja dari praktikum ini antara lain: 1. Mintalah 3 orang mahasiswa untuk menjadi orang percobaan. 2. Berikan kesempatan kepada ketiga orang percobaan untuk mengosongkan kandung kemihnya. 3. Orang percobaan 1 diminta untuk minum Aqua 1 liter, orang percobaan kedua meminum NaCl 0,9%, dan orang percobaan ketiga meminum dextrose 10%. 4. Tunggulah 30 menit, 60 menit, dan 120 menit kemudian untuk mengosongkan kandung kemihnya. 5. Catatlah jumlah masing masing urine yang dikeluarkan dan perbedaan berat jenis urin masing - masing ketiga orang percobaan, lalu jelaskan mekanismenya. Percobaan I di kelompok 12 dilakukan oleh Winda yang meminum Aqua satu liter, menujukkan hasil sebagai berikut: 1. 30 menit setelah minum, urine yang dihasilkan adalah 120 ml dengan berat jenis 1,09 berwarna kuning pudar. 2. 60 menit setelah minum, urine yang dihasilkan adalah 190 ml dengan berat jenis 1,05 berwarna kuning yang semakin pudar. 3. 120 menit setelah minum, urine yang dihasilkan adalah 340 ml dengan berat jenis 1,59 berwarna kuning yang semakin pudar. Selanjutnya, Yusni sebagai orang yang melakukan percobaan II meminum cairan yang mengandung NaCl 0,9% sejumlah satu liter dan menunjukkan hasil sebagai berikut: 1. 30 menit setelah minum, urine yang dihasilkan adalah 85 ml dengan berat jenis 1,11 berwarna kuning muda. 2. 60 menit setelah minum, urine yang dihasilkan adalah 150 ml dengan berat jenis 1,05 berwarna kuning pudar. 3. 120 menit setelah minum, urine yang dihasilkan adalah 460 ml dengan berat jenis 1,05 berwarna kuning semakin pudar. Orang ketiga di kelompok 12 yang meminum cairan yang mengandung dextrosa 10% adalah Tri Aji, menujukkan hasil sebagai berikut: 1. 30 menit setelah minum, urine yang dihasilkan adalah 28 ml dengan berat jenis tidak bisa diukur karena volume terlalu sedikit berwarna kuning sedikit pekat. 2. 60 menit setelah minum, urine yang dihasilkan adalah 45 ml dengan berat jenis jenis tidak bisa diukur karena volume terlalu sedikit berwarna kuning sedikit pekat. 3. 120 menit setelah minum, urine yang dihasilkan adalah 130 ml dengan berat jenis 1,11 berwarna kuning sedikit pekat.

Simpulan Praktikum ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan jumlah urin yang dihasilkan setelah meminum berbagai jenis cairan, hasil praktikum menunjukkan bahwa yang meminum cairan yang mengandung NaCl 0,9% lebih banyak urinnya dibandingkan dengan yang meminum aqua atau pun dextrose 10% cairan gula. Hal ini disebabkan dextrose lebih pekat sehingga proses dalam ginjal lebih lama.

Praktikum 5 Pengaruh Berbagai Penutup Terhadap Penguapan Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa dapat mendemonstrasikan pengaruh lemak terhadap kehilangan panas. Alat yang digunakan untuk melakukan praktikum ini adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. Termometer air. Gelah ukuran 200 ml tiga buah. Minyak goreng 100 ml. Kain wool, kain tipis (katun) untuk penutup gelas. Panci berisi air dan kompor untuk memasak air. Tata praktikum yang dilakukan adalah: 1. Panaskan 500 ml air hingga mendidih. 2. Masukkan kedalam ketiga gelas masing masing sampai berisi 2/3 bagian. 3. Gelas 1 ditutup dengan kain tipis yang terbutat dari katun, gelas 2 ditutup dengan kain wool, dan gelas 3 ditambahkan minyak goreng 50 ml. 4. Selanjutnya, ukur masing masing gelas setiap menit selama 120 menit dan catatlah hasilnya. Hasil praktikum yang didapat kelompok 12 adalah sebagai berikut: 1. Gelas 1 yang ditutupi dengan kain tipis yang tebuat dari katun, pencatatan yang dilakukan setiap 15 menit menunjukkan hasil: I: 49C II: 39C III: 34C IV: 32,5C V: 30,5C VI: 28C VII: 27,1C VIII: 26,1C

2. Gelas 2 yang ditutupi dengan kain wool, pencatatan yang dilakukan setiap 15 menit menunjukkan hasil: I: 39C II: 39,5C III: 35C IV: 33,5C V: 31,5C VI: 28,8C VII: 27,8C VIII: 26,5C

3. Gelas 3 yang ditambahkan minyak goreng 50 ml, pencatatan yang dilakukan setiap 15 menit menunjukkan hasil: I: 40C II: 40,5C III: 34,8C IV: 34 C V: 32C VI: 29C VII: 28C VIII: 26,8C

Simpulan Hasil praktikum menunjukkan bahwa terdapat perbedaan penurunan suhu yang dipengaruhi berbagai penutup, disimpulkan gelas yang diisi oleh minyak lebih lambat penurunan suhunya dibandingkan dengan yang ditutup oleh kain katun dan kain wool. Hal ini disebabkan karena minyak sulit larut dengan air dan salah satu fungsi lemak dalam tubuh adalah mencegah penguapan, sehingga dapat disimpulan tubuh yang gemuk memiliki banyak bantalan lemak dalam tubuhnya sehingga saat beraktivitas biasanya orang gemuk lebih mudah lelah karena panas dalam tubuh tidak cepat dikeluarkan. Selanjutnya dari hasil praktikum, gelas yang ditutupi oleh kain wool lebih lambat penurunan suhunya dibandingkan dengan yang ditutupi kain katun karena kain wool lebih tebal sehingga menghambat penguapan dalam proses penurunan suhu, dapat disimpulkan bahwa ketika ada klien demam sebaiknya tidak dipakaikan pakaian berbahan tebal karena akan menghalangi proses konduksi kalor dari dalam tubuh.

Praktikum 6 Pernafasan dan Suhu Tubuh Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa dapat menjelaskan mekanisme pengaturan pernafasan dan menjelaskan perubahan suhu tubuh sebagai dampak dari perbedaan cara pengukuran. Alat yang diperlukan antara lain: 1. Stopwatch. 2. Kantung kertas.

3. Termometer oral. 4. Termometer aksila. 5. Air es. Tata praktikumnya adalah sebagai berikut: 6.1 Pernafasan pada manusia. Pernafasan kuat dan apnoe. 1. Catat pernafasan normal selama 5 detik. Sekarang catat pernafasan kuat, capat dan dalam selama 2 3 menit. Kemudian bernafas biasa dan lupakan pernafasan tadi (jangan mengatur nafas dengan sengaja). Catat masa pemulihan ini sebaik baiknya. Jika ada masa apnoe maka hitung waktunya. 2. Ulangi percobaan di atas, tetapi gunakan kantung kertas untuk pernafasan kuat. 6.2 Titik Penghentian. 1. Catat lama penghentian (berhentilah bernafas) setelah hal hal berikut: istirahat selama lima menit setelah tiap mengerjakan ini. a. Ekspirasi biasa. b. Ekspirasi kuat. c. Inspirasi tunggal kuat. d. Inspirasi kuat setelah pernafasan kuat satu menit e. Inspirasi tunggal kuat dari sebuah kantong oksigen. f. Inspirasi tunggal kuat sesudah pernafasan selam tiga menit dengan tiga kali pernafasan yang terakhir dari sebuah kantung oksigen. g. Inspirasi tunggal kuat segera sesudah latihan (lari di tempat selama tiga menit). 2. Ulangi pernafasan nafas ini (nomor 7) tiap 40 detik kemudian, sampai nafas hampir normal. 6.3 Suhu tubuh dan tata panas. 1. Suhu pada ketiak. Orang percobaan berbaring dengan tubuh bagian atas terbuka (tidak memakai baju) dan bernafas melalui hidung (mulut sudah tertutup). Pasang termometer klinik ke dalam ketiak (ketiak harus kering dari keringat). Biarkan termometer selama 10 menit dan bacalah hasilnya. 2. Suhu mulut. Turunkan termometer, bersihkan termometer dengan air dan alkohol. Pasang termometer di bawah lidah orang percobaan yang sama. Biarkan selama 10 menit dan bacalah hasilnya. Bandingkan dengan (A). 3. Pengaruh penguapan. Orang percobaan berkumur-kumur dengan air es selama satu menit. Kemudian ukur suhu mulutnya. Baca suhu pada 5 menit pertama dan pada 5 menit kedua (suhu termometer tidak perlu diturunkan dahulu). Lakukan percobaan A, B, C, dan D pada orang percobaan yang lain. Catat nama, jenis kelamin, umur, dan suhu ruangan.

Praktikum yang dilakukan kelompok 12 menghasilkan data sebagai berikut: 1. Pernafasan pada manusia. Pernafasan kuat dan apnoe. Tanpa kantung plastik RR normal 3 per 5 deitk RR setelah nafas kuat cepat 210 kali per 2 menit Masa pemulihan 20 kali 15 ali Masa apnoe Dengan kantung plastik 3 per 5 detik 203 kali per 2 menit 25 kali 18 ali

2. Titik penghentian. Lama henti antara: a. Ekspirasi biasa 1,4 detik b. Ekspirasi tunggal kuat 0,2 detik. c. Inspirasi tunggal kuat 0,3 detik. d. Inspirasi kuat setelah pernafasan kuat satu menit 3 detik. e. Inspirasi tunggal kuat segera sesudah latihan (lari di tempat selam 3 menit) adalah 0,8 detik. 3. Suhu tubuh dan tata panas. a. Suhu tubuh pada ketiak 35,7C. b. Suhu mulut 37,3C. c. Suhu mulut dengan cara bernafas melalui mulut dalam 5 menit pertama 37,1C dan yang kedua 36,3C. d. Suhu mulut setelah berkumur dengan es 5 menit pertama 35,5C dan yang kedua 36,2C. Simpulan Praktikum ini menunjukkan jumlah inspirasi dan ekspirasi yang berbeda di setiap pola nafas yang berbeda pula. Selanjutnya, jumlah nafas per menitnya akan menurun bila oksigen yang didapatkan juga turun, terbukti dalam praktikum jumlah nafas per 2 menitnya walaupun dilakukan oleh orang yang sama, dan dengan cara yang sama tetapi hasilnya lebih rendah yang menggunakan kantung plastik hal ini disebabkan asupan oksigen kurang dalam kantung plastik. Masa pemulihan setelah bernafas dengan kantung plastik lebih lama dibandingkan dengan yang tidak menggunakan kantung plastik hal ini disebabkan hasil ekspirasi yaitu CO2 dan uap air bisa terhirup kembali sehingga paru paru menerima CO2 lebih banyak oleh karena itu ketika kantung plastik dibuka tubuh akan berusaha mendapatkan oksigen lebih banyak untuk menggantikan kekurangan asupan saat bernafas dengan kantung plastik dan hal ini membutuhkan proses penyesuaian beberapa saat oleh paru paru untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbondioksida agar darah dapat tetap menyuplai oksigen untuk sel sel tubuh.

Suhu tubuh normal adalah 36,5C 37,5C, dari hasil praktikum menunjukan bahwa suhu tubuh normal yaitu 37,3. Pengukuran suhu tubuh ini dapat dilakukan pada ketiak, mulut, tetapi ada sumber yang menyatakan pengukuran suhu tubuh dilakukan di anus, karena hampir sama dengan suhu di dalam tubuh. Ketika berkumur dengan es suhu dalam mulut menjadi turun hal ini disebabkan karena es menurunkan suhu di dalam mulut dalam praktikum terlihat lima menit pertama menjadi 35,5C tetapi setelah esnya mencair dalam mulut, tubuh akan menyesuaikan ke suhu normal, terlihat dalam praktikum lima menit kedua suhu kembali naik yaitu 36,2C suhu ini akan terus naik menjadi normal sampai es dalam mulut mancair dan suhunya sama dengan suhu dalam mulut.

Praktikum 7 Tes Toleransi Glukosa Tujuan dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat menjelaskan perubahan kadar glukosa darah sebagai dampak dari asupan karbohidrat sederhana. Alat yang diperlukan antara lain: 1. 2. 3. 4. Gelas ukur. Cairan untuk diminum : Air gula (75 gram gula dilarutkan dalam 300 ml air minum. Alat pemeriksaan kadar gula darah. Kertas dan pulpen untuk mencatat. Tata praktikum yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Diet 3 hari cukup karbohidrat. 2. Puasa 12-14 jam kemudian diperiksa gula darah puasanya. 3. Minum air gula (75 gram gula dilarutkan dalam 300 ml air minum) selama 5 menit. 4. Gula darah diperiksa kembali setelah 30 menit, 1 jam dan setelah 2 jam). 5. Hasil akan menunjukan ada gangguan toleransi atau ada gangguan uptake glukosa apabila hasil pemeriksaan : Puasa > 120 mg/dL dan 2 jam setelah makan < 140 mg/dL. Hasil praktikum kelompok 12 menunjukkan kadar gula darah dalam beberapa keadaan adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. Sebelum minum glukosa 30 menit setelah minum glukosa 60 menit setelah minum glokusa 120 menit setelah minum glokusa : 93 : 103 : 128 : 89

Simpulan Praktikum ini menghasilkan data bahwa ketika tidak ada asupan glukosa ke dalam tubuh karena puasa terjadi penurunan hormon insulin dan peningkatan hormon glukagon. Di

hati, glikogen akan di ubah menjadi glukosa melalui proses glikogenolisis. Glukosa tersebut nantinya akan dioksidasi di jaringan, seperti otak dan sel darah merah. Selain itu, triasilgliserida juga akan dipecah menjadi asam lemak dan gliserol melalui proses lipolisis. Asam lemak kemudian akan dioksidasi di otot maupun hati. Oksidasi asam lemak di otot berlangsung sempurna dan menghasilkan CO2 dan H2O. Sementara di hati, oksidasi berlangsung sebagian, menghasilkan badan keton. CO2 dan H2O baru terbentuk setelah dilakukan oksidasi badan keton di jaringan, seperti otot dan ginjal. Jika keadaan puasa terus berlanjut, hati tidak hanya menghasilkan glukosa melalui proses glikogenolisis, tetapi juga dengan glukoneogenesis. Glukoneogenesis merupakan proses menghasilkan glukosa dari senyawa non karbohidrat, misalnya laktat, gliserol dan asam amino. Saat asam amino diubah menjadi glukosa, unsur nitrogennya akan berubah menjadi urea. Praktikum menunjukkan bahwa saat puasa kadar glukosa dalam darah 93, berdasarkan sumber yang didapat angka ini normal karena kadar glukosa darah puasa setelah puasa semalam adalah 70 110 mg/dl. 30 menit setelah meminum cairan gula sederhana kadar glukosa darah naik menjadi 103 ini wajar karena berarti glukosa yang diminum langsung menaikkan kadar glukosa darah. 60 menit setelah meminum cairan glukosa sederhana meningkat kembali menjadi 128 karena tubuh sudah memunyai glukosa lebih sehingga diedarkan oleh darah. Lalu 120 menit setelahnya menurun menjadi 89 disebabkan aktivitas yang dilakukan antara 60 menit setelah pemeriksaan kadar glukosa darah membuat glukosa dipakai oleh tubuh untuk mengeluarkan energi sesuai dengan sumber yang didapat yang menyatakan bahwa dua jam setelah makan kadar kembali ke rentang puasa antara 80 100 mg/dl, hal ini menyebabkan pankreas menurunkan sekresi insulinnya dan kadar insulin serum turun. Hati berespon terhadap sinyal hormon ini dengan memulai degradasi simpanan glikogen dan melepaskan glukosa ke dalam aliran darah.

Praktikum 8 Pengaruh Aktivitas pada Kadar Glukosa Darah Praktikum ini bertujuan untuk menjelaskan perubahan kadar glukosa darah sebagai dampak dari aktivitas fisik. Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut: 1. Stopwatch. 2. Alat pemeriksaan kadar gula darah. 3. Kertas dan pulpen untuk mencatat. Tata praktikumnya adalah sebagai berikut: 1. Mintalah orang percobaan untuk relax, periksa glukosa darah sewaktu

2. Mintalah orang percobaan untuk naik-turun tangga dengan kecepatan 60 x / menit selama 12 menit tanpa istirahat. 3. Periksa glukosa darah segera setelah aktivitas, menit ke-30, menit ke-60, dan menit ke120 setelah melakukan aktivitas. Hasil praktikum kelompok 12 menunjukkan kadar gula darah dalam beberapa keadaan adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. Sebelum lari 12 menit Setelah lari 30 menit setelah lari 12 menit 60 menit setelah lari 12 menit 120 menit setelah lari 12 menit : 109 : 74 : 121 : 99 : 98

Simpulan Glukosa dalam darah dipertahankan keseimbangannya dengan kebutuhan tubuh oleh hati dengan bantuan hormon insulin dan hormon glukagon. Ketika beraktivitas glukosa akan dibutuhkan oleh sel sel untuk menghasilkan energi, sehingga glukosa setelah diedarkan langsung masuk ke dalam sel sel untuk diubah menjadi energi terlihat dari hasil praktikum yang dilakukan bahwa sebelum lari kadar glukosa sejumlah 109 langsung menurun menjadi 74 setelah lari 12 menit ini menunjukkan glukosa sudah dipakai oleh sel sel dalam tubuh ketika berlari. 30 menit setelahnya kadar glukosa darah naik menjadi 121, ini menunjukkan bahwa hati beserta hormon glukagon langsung memroduksi glukosa ketika kadar glukosa menurun. Lalu setelah 60 120 menit setelah lari angka kadar glukosa turun lagi menjadi 99 98 hal ini menunjukkan bahwa tubuh sudah bertoleransi untuk menyeimbangkan glukosa dan menjadi turun dikarenakan tubuh dipakai untuk beraktivitas lain sesudah lari tadi dan untuk menyuplai sel sel yang memerlukan glukosa lebih. Dan angka ini dalam batas normal.

Referensi 1. Buku Seluk Beluk Pemeriksaan oleh R. Darmanto Djojodibroto. 2. Buku Asisten Keperawatan Suatu Pendekatan Keperawatan oleh Barbara Hegner. 3. Buku Sistematika Interpretasi EKG Pedoman Praktis oleh Dr. Surya Dharma, SpJp., FIHA. 4. Buku Fisiologi Kardiovaskular Berbasis Masalah Keperawatan oleh Ronny Setiawan, dr., M.Kes., AIFO. Dan Sari Fatimah, Ners. 5. Buku Klien Gangguan Endokrin oleh Mary Baradoro, SPC., MN., dkk. 6. Buku Biologi oleh Oman Karman. 7. Buku Biokimia Kedokteran oleh Dawn B. Marks, PhD., dkk.